Video Kuliah
BAMBANG I. SUGIHARTO
PENGANTAR FILSAFAT
Dalam perkuliahan ini, Pa Bambang menampilkan filsafat sebagai upaya radikal untuk mempertanyakan dasar-dasar kehidupan sekaligus sebagai latihan pembentukan diri—sebuah disiplin yang menghubungkan nalar, spiritualitas, dan pengalaman manusia sehari-hari. Melalui tradisi membaca dan refleksi yang mendalam, filsafat membentuk kejernihan berpikir, keberanian meragukan, serta kepekaan untuk melihat kompleksitas hidup.
COGNITIVE SCIENCE
Dalam kuliah Cognitive Science, Pa Bambang menelusuri evolusi ilmu pengetahuan dari fisika, biologi, hingga revolusi sosial dan informasi, menunjukkan pergeseran fokus dari aspek luar manusia menuju kedalaman batin dan kesadaran.
BUDAYA KEMATIAN
Kuliah ini menegaskan bahwa kematian, meski disingkirkan dari budaya modern, justru menjadi cermin eksistensial yang penting. Melalui perspektif filsafat, psikologi, dan spiritualitas—dari Heidegger dan Sartre hingga Michael Newton—kematian dipahami bukan hanya sebagai akhir biologis, tetapi sebagai sumber refleksi yang mendorong manusia hidup lebih otentik dan menemukan kembali makna hidup.
PAEDAGOGI
Kuliah ini menyoroti ketegangan antara pendidikan fundamentalis yang menekankan nilai, keterampilan dasar, dan otoritas guru, dan pendidikan progresif yang menonjolkan pengalaman serta kebebasan belajar. Dalam konteks Indonesia—yang masih terjebak orientasi ujian dan ketimpangan sekolah—ditekankan perlunya model pendidikan seimbang yang menggabungkan dasar kognitif kuat dengan ruang kreativitas dan refleksi.
POSTMODERNISME
Kuliah ini memaparkan postmodernisme sebagai respons terhadap kegagalan proyek modernitas, yang menolak narasi besar dan klaim kebenaran universal sambil menyoroti peran bahasa, simulasi, dan fragmentasi dalam membentuk realitas. Fenomenanya tampak dalam budaya dan identitas yang cair, namun juga memicu krisis subjek dan reaksi fundamentalis. Meski penuh paradoks, postmodernisme membuka ruang bagi kerendahan hati epistemologis, kreativitas, dan dialog dalam menghadapi dunia yang kompleks dan ambigu.
PENGANTAR FILSAFAT KEBUDAYAAN
Kuliah ini menyajikan peta awal pemikiran kebudayaan dari berbagai sudut: moralitas, struktur sosial, psikoanalisis, hingga kritik ideologi. Pa Bambang memfokuskan pembahasan pada tokoh-tokoh penting—Matthew Arnold, Talcott Parsons, Sigmund Freud, Jacques Lacan, Karl Marx, dan Sekolah Frankfurt—yang mewakili spektrum pendekatan dalam memahami kebudayaan.
FILSAFAT KEBUDAYAAN
Kuliah ini menguraikan bahwa budaya bukan kumpulan tradisi, tetapi proses penafsiran berkelanjutan atas pengalaman dasar manusia (Lebenswelt). Dengan fenomenologi, hermeneutika, serta wawasan strukturalisme dan pasca-strukturalisme, budaya dipahami sebagai medan makna yang selalu berubah dan dibentuk oleh bahasa serta simbol. Sejarah gagasannya—dari Cicero hingga antropologi modern—menunjukkan pergeseran dari kultivasi jiwa menuju pemetaan keragaman praksis manusia, sekaligus kritik terhadap pandangan budaya yang statis. Di tengah globalisasi dan dinamika identitas, budaya tampil sebagai ruang negosiasi hidup di mana agama, pendidikan, dan kebebasan berperan etis.
FILSAFAT BUDAYA
Kuliah ini menunjukkan bahwa globalisasi menggeser budaya dari akar historisnya menuju komodifikasi dan representasi media, membuat identitas makin cair dan moralitas mudah dinegosiasikan. Pa Bambang lalu menyoroti ketegangan antara pelestarian dan kebebasan: budaya bukan sekadar warisan, tetapi ruang kemungkinan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan. Kematangan manusia, karenanya, terletak pada kemampuan menyeimbangkan “akar” dan “sayap”—menghargai tradisi tanpa terbelenggu, serta memanfaatkan kebebasan tanpa kehilangan makna.
Extension Course: ALAIN BADIOU
Pemikiran kontemporer lahir dari krisis modernitas yang meruntuhkan narasi kemajuan dan membuka kritik atas identitas, representasi, dan kekuasaan. Dalam konteks ini, Alain Badiou menawarkan ontologi kejamakan dan gagasan kebenaran sebagai “event” yang meretakkan tatanan serta menuntut kesetiaan subjek. Melalui empat medan kebenaran—politik, sains, seni, dan cinta—ia menegaskan bahwa kebudayaan adalah konstruksi rapuh yang selalu menyisakan yang tak terwakili dan karenanya terus terbuka bagi transformasi.
FILSAFAT ILMU
Filsafat ilmu mengajak manusia bersikap dewasa dalam berpikir dengan kembali pada pertanyaan paling mendasar tentang pengetahuan dan makna hidup, bukan sebagai kumpulan teori kaku, melainkan latihan keberanian intelektual untuk meragukan, mengkritik, dan menelusuri batas-batas rasionalitas. Sejak peralihan dari mitos ke logos, filsafat melahirkan sains sekaligus menyadarkan bahwa rasio memiliki keterbatasan dalam memahami dimensi terdalam manusia. Sepanjang sejarah—dari keyakinan modern akan kemajuan hingga kritik tajam dari Kant, Darwin, Freud, dan Marx—terungkap bahwa pengetahuan selalu bersifat terbatas, manusiawi, dan terikat konteks. Filsafat ilmu kemudian menempatkan sains secara proporsional sebagai salah satu cara mengetahui yang berkembang melalui kritik dan perubahan paradigma. Pada akhirnya, nilai utamanya terletak pada sikap mental yang dibentuk: kerendahan hati intelektual, keberanian berpikir mandiri, dan kesediaan hidup dalam pertanyaan sebagai jalan menuju kebijaksanaan.
18 Pertemuan Seri Kuliah mengenai Philosophy of Sciences. Mata Kuliah Mahasiswa S3-ITB Bandung. Rekaman Tahun 2011-2014
METAFISIKA KEBUDAYAAN
7 Pertemuan Seri Kuliah mengenai renungan spekulatif yang lebih jauh dan mendalam tentang kebudayaan yang cenderung bersifat abstrak. Berisikan uraian dari beberapa Tokoh Filsafat terkemuka. Mata Kuliah Mahasiswa S1-Universitas Parahyangan
HERMENEUTIKA
10 Pertemuan Seri Kuliah mengenai Hermeneutik. Sebuah disiplin ilmu yang bukan sekedar filsafat mengenai penafsiran; melainkan menjadi paradigma jaman; yang mengubah secara substansif konsep atau asumsi dasar dari segala bidang. Mata Kuliah Mahasiswa S1-Universitas Parahyangan
ESTETIKA
24 Video Seri Kuliah mengenai Apresiasi tentang Seni. Mata Kuliah Mahasiswa S1-Unpar. Rekaman Tahun 2011-2015
UNTUK APA SENI - YT
3 Video pengantar dan Diskusi Buku dari Buku "Untuk Apa Seni."
HERMENEUTIKA
10 Pertemuan Seri Kuliah mengenai Hermeneutik. Sebuah disiplin ilmu yang bukan sekedar filsafat mengenai penafsiran; melainkan menjadi paradigma jaman; yang mengubah secara substansif konsep atau asumsi dasar dari segala bidang. Mata Kuliah Mahasiswa S1-Universitas Parahyangan
24 Video Seri Kuliah mengenai Apresiasi tentang Seni. Mata Kuliah Mahasiswa S1-Unpar. Rekaman Tahun 2011-2015
3 Video pengantar dan Diskusi Buku dari Buku "Untuk Apa Seni."
SEJARAH PEMIKIRAN MODERN
22 Video mengenai Gambaran Umum Sosio-Kultural dari awal mula lahirnya dunia kultural modern, dampak dan renungan dari Modernitas. Mata Kuliah Mahasiswa S1-Unpar. Rekaman Tahun 2012.
SEJARAH FILSAFAT KONTEMPORER
24 pertemuan mengenai perkembangan Filsafat sesudah Hegel. Perubahan paradigmatik dari pola berfikir modern ke pola berfikir kontemporer. Dan berisikan uraian beberapa filsuf kontemporer. Mata Kuliah Mahasiswa S1-Unpar. Rekaman Tahun 2012
SEJARAH PEMIKIRAN MODERN
22 Video mengenai Gambaran Umum Sosio-Kultural dari awal mula lahirnya dunia kultural modern, dampak dan renungan dari Modernitas. Mata Kuliah Mahasiswa S1-Unpar. Rekaman Tahun 2012.
HUMANISME & HUMANIORA
Video Pengantar Buku "Humanisme dan Humaniora". Rekaman Tahun 2013
Video Pengantar Buku "Humanisme dan Humaniora". Rekaman Tahun 2013
Acara Bedah Buku Rekaman Tahun 2011
Rekaman Kuliah Program Magister Seni Rupa ITB Bandung- Tahun 2011 Bersama Pemateri: Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto.
YASRAF AMIR PILIANG
BAYANG-BAYANG TUHAN: AGAMA & IMAJINASI
Kuliah ini menelaah hubungan agama, imajinasi, dan budaya populer dalam era digital, menunjukkan bagaimana imajinasi membentuk representasi atas yang transenden sekaligus dapat memicu fundamentalisme atau pembacaan kritis. Budaya populer mengomodifikasi simbol suci, menampilkan selebritisasi otoritas religius, dan mengestetisasi dakwah, sehingga identitas keagamaan terbelah antara komitmen spiritual dan logika hiburan. Teknologi virtual kemudian menggugat batas tempat suci dan keabsahan ritual. Karena itu, diperlukan respons keagamaan yang lebih mendalam agar spiritualitas tetap terjaga di tengah transformasi budaya dan digital.
MEMAHAMI BAHASA AGAMA:
Menembus Huruf, Menyelami Makna: Tafsir Keagamaan Melalui Semiotika
SEMIOTIKA & BAHASA AGAMA - YT
Membahas buku karya Bapak Komarudin yang berjudul "Memahami Bahasa-bahasa Agama," yang mengadopsi dua pendekatan utama: semiotika dan hermeneutika. Fokus utama terletak pada pendekatan hermeneutik, yang merupakan ilmu tentang interpretasi teks. Sementara itu, semiotika, ilmu tentang tanda, juga dibahas sebagai alat untuk memahami makna dari tanda-tanda yang kita temui sehari-hari. Video ini juga mengeksplorasi bagaimana semiotika dapat diterapkan dalam memahami teks-teks agama, termasuk Al-Qur'an. Hermeneutika membuka peluang untuk berbagai kemungkinan makna teks. Pendekatan semiotika ini relevan tidak hanya untuk gambar atau tanda visual, tetapi juga untuk teks dan ucapan, dengan konsep-konsep seperti ikon, indeks, dan simbol yang dapat diterapkan dalam memahami bahasa agama.
SEMIOTIKA & BAHASA AGAMA - YT
Membahas buku karya Bapak Komarudin yang berjudul "Memahami Bahasa-bahasa Agama," yang mengadopsi dua pendekatan utama: semiotika dan hermeneutika. Fokus utama terletak pada pendekatan hermeneutik, yang merupakan ilmu tentang interpretasi teks. Sementara itu, semiotika, ilmu tentang tanda, juga dibahas sebagai alat untuk memahami makna dari tanda-tanda yang kita temui sehari-hari. Video ini juga mengeksplorasi bagaimana semiotika dapat diterapkan dalam memahami teks-teks agama, termasuk Al-Qur'an. Hermeneutika membuka peluang untuk berbagai kemungkinan makna teks. Pendekatan semiotika ini relevan tidak hanya untuk gambar atau tanda visual, tetapi juga untuk teks dan ucapan, dengan konsep-konsep seperti ikon, indeks, dan simbol yang dapat diterapkan dalam memahami bahasa agama.
Extension Course: JACQUES RANCIERE
Pemikiran Rancière yang dipaparkan Yasraf Amir Piliang menegaskan bahwa kebudayaan adalah wilayah inderawi yang selalu diatur oleh relasi kuasa melalui mekanisme partisi dan framing—menentukan siapa yang boleh tampil, bersuara, dan diakui. Terhadap tatanan ini, disensus muncul sebagai tindakan estetis-politis yang menampilkan apa yang sebelumnya dibungkam dan membuka ruang bagi subjek-subjek yang tak diakui.
TRANSESTETIKA YT
Perkembangan seni selalu terkait dengan semangat zaman yang membingkainya melalui berbagai frame seperti antropologi, sosiologi, ekonomi, dan kultural. Di era modern, seni dipisahkan menjadi high culture yang rasional dan universal serta low culture yang dianggap irasional. Modernisme kultural menciptakan budaya tunggal melalui homogenisasi, yang seringkali melibatkan represi kultural. Namun, dekade terakhir menunjukkan upaya mendekonstruksi ini melalui posmodernisme estetik, yang mendorong demokratisasi kultural dan dialog antar budaya, mengakui pluralisme dan heterogenitas. Kuliah ini membahas TRANS-ESTETIKA I: Realitas dan Virtualitas Budaya, mencakup Seni dan Budaya Massa; Tradisi, Repetisi, Transformasi; Globalitas dan Etnisitas; Lokalitas dan Kapitalisme.
TRANSPOLITIKA
Politik memiliki wajah ganda: ia dapat menjadi kekuasaan yang mengerikan ketika dijalankan tanpa nurani—penuh manipulasi, kekerasan simbolik, dan pengingkaran kemanusiaan—namun juga berpotensi menjadi ruang yang membebaskan ketika berakar pada pengabdian, keberanian moral, dan orientasi etis. Dalam konteks globalisasi dan demokrasi prosedural yang kerap gagal menghadirkan kemanusiaan, politik hari ini lebih sering terjebak pada kegelapan makna dan manajemen kekuasaan yang hampa. Di sinilah transpolitika penting sebagai cara pandang yang melihat politik sebagai proses hidup yang menembus seluruh ranah kehidupan melalui gagasan, diskursus, simbol, dan praktik sehari-hari. Menghidupkan kembali politik berarti mengembalikannya pada pertarungan nilai—tentang keadilan, martabat, dan masa depan bersama—sebuah proses yang tak pernah selesai, namun justru di sanalah politik menemukan daya hidup dan kemungkinan untuk menjadi lebih adil dan manusiawi.
POST REALITAS YT
Pada milenium ketiga, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir menciptakan definisi baru mengenai realitas, menghasilkan kondisi post-realitas di mana tanda-tanda, representasi, dan informasi tidak lagi berkaitan dengan realitas, kebenaran, dan objektivitas. Post-realitas adalah dunia yang dibangun melalui distorsi realitas dan penyimpangan makna, menggantikan prinsip-prinsip konvensional tentang yang nyata. Ini merupakan pembalikan dunia realitas Platonisme, memandang dunia penampakan indera sebagai realitas sejati dan dunia suprasensual sebagai realitas palsu. Menurut Heidegger, kemerosotan klaim ontologi metafisika membuka peluang bagi terbentuknya realitas-realitas baru berbasis klaim posmetafisika, yang tidak lagi bergantung pada substansi, esensi, atau Tuhan, tetapi pada Yang Ada. Kuliah publik ini akan membahas keadaan post-realitas tersebut dengan berbagai contohnya.
SETELAH DUNIA DILIPAT YT
Kuliah ini membahas empat isu besar yang terkait dengan kehidupan kontemporer, yaitu perkembangan teknologi, pertanyaan tentang humanitas, komunalitas di era media sosial, dan politik dalam konteks modern. Setelah era postmodernisme, pemateri mengusulkan konsep plastisitas sebagai wacana baru yang menggabungkan rigiditas modernisme dan fluiditas postmodernisme. Fenomena lainnya yang dibahas termasuk parasitisme dalam budaya, dimana manusia mengambil lebih banyak dari alam dan budaya tanpa memberi imbal balik yang setara. Isu humanitas dijelaskan melalui konsep animalitas, yang menunjukkan degradasi manusia menjadi homo economicus, di mana semua aspek kehidupan, termasuk seni, sains, politik, dan cinta, direduksi menjadi ekonomi. Kuliah ini juga membahas bagaimana subjektivitas individu dipengaruhi oleh masyarakat dan teknologi, serta bagaimana konsep pertemanan berubah di era digital, menciptakan paradoks antara singularitas dan pluralitas, serta antara individualitas dan komunalitas.
DROMOLOGI BUDAYA
Kuliah pengantar Buku "Dunia Yang Dilipat. Menjelaskan fragmen-fragmen dunia yang mengalami perubahan budaya cepat akibat globalisasi, yang mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan. Yasraf Amir Pilliang menggambarkan dunia yang telah dilipat, di mana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat manusia melihat dunia sebagai realitas yang sederhana. Teknologi canggih dalam transportasi, telekomunikasi, dan informasi telah mengecilkan jarak dan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk bergerak, menciptakan pelipatan ruang-waktu. Manusia kini dapat melakukan banyak hal sekaligus, seperti menyetir sambil menelepon dan mendengarkan musik. Selain itu, miniaturisasi ruang-waktu melalui media seperti gambar, televisi, dan internet juga menjadi bagian dari realitas yang dilipat ini.
Perkembangan seni selalu terkait dengan semangat zaman yang membingkainya melalui berbagai frame seperti antropologi, sosiologi, ekonomi, dan kultural. Di era modern, seni dipisahkan menjadi high culture yang rasional dan universal serta low culture yang dianggap irasional. Modernisme kultural menciptakan budaya tunggal melalui homogenisasi, yang seringkali melibatkan represi kultural. Namun, dekade terakhir menunjukkan upaya mendekonstruksi ini melalui posmodernisme estetik, yang mendorong demokratisasi kultural dan dialog antar budaya, mengakui pluralisme dan heterogenitas. Kuliah ini membahas TRANS-ESTETIKA I: Realitas dan Virtualitas Budaya, mencakup Seni dan Budaya Massa; Tradisi, Repetisi, Transformasi; Globalitas dan Etnisitas; Lokalitas dan Kapitalisme.
Politik memiliki wajah ganda: ia dapat menjadi kekuasaan yang mengerikan ketika dijalankan tanpa nurani—penuh manipulasi, kekerasan simbolik, dan pengingkaran kemanusiaan—namun juga berpotensi menjadi ruang yang membebaskan ketika berakar pada pengabdian, keberanian moral, dan orientasi etis. Dalam konteks globalisasi dan demokrasi prosedural yang kerap gagal menghadirkan kemanusiaan, politik hari ini lebih sering terjebak pada kegelapan makna dan manajemen kekuasaan yang hampa. Di sinilah transpolitika penting sebagai cara pandang yang melihat politik sebagai proses hidup yang menembus seluruh ranah kehidupan melalui gagasan, diskursus, simbol, dan praktik sehari-hari. Menghidupkan kembali politik berarti mengembalikannya pada pertarungan nilai—tentang keadilan, martabat, dan masa depan bersama—sebuah proses yang tak pernah selesai, namun justru di sanalah politik menemukan daya hidup dan kemungkinan untuk menjadi lebih adil dan manusiawi.
Pada milenium ketiga, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir menciptakan definisi baru mengenai realitas, menghasilkan kondisi post-realitas di mana tanda-tanda, representasi, dan informasi tidak lagi berkaitan dengan realitas, kebenaran, dan objektivitas. Post-realitas adalah dunia yang dibangun melalui distorsi realitas dan penyimpangan makna, menggantikan prinsip-prinsip konvensional tentang yang nyata. Ini merupakan pembalikan dunia realitas Platonisme, memandang dunia penampakan indera sebagai realitas sejati dan dunia suprasensual sebagai realitas palsu. Menurut Heidegger, kemerosotan klaim ontologi metafisika membuka peluang bagi terbentuknya realitas-realitas baru berbasis klaim posmetafisika, yang tidak lagi bergantung pada substansi, esensi, atau Tuhan, tetapi pada Yang Ada. Kuliah publik ini akan membahas keadaan post-realitas tersebut dengan berbagai contohnya.
Kuliah ini membahas empat isu besar yang terkait dengan kehidupan kontemporer, yaitu perkembangan teknologi, pertanyaan tentang humanitas, komunalitas di era media sosial, dan politik dalam konteks modern. Setelah era postmodernisme, pemateri mengusulkan konsep plastisitas sebagai wacana baru yang menggabungkan rigiditas modernisme dan fluiditas postmodernisme. Fenomena lainnya yang dibahas termasuk parasitisme dalam budaya, dimana manusia mengambil lebih banyak dari alam dan budaya tanpa memberi imbal balik yang setara. Isu humanitas dijelaskan melalui konsep animalitas, yang menunjukkan degradasi manusia menjadi homo economicus, di mana semua aspek kehidupan, termasuk seni, sains, politik, dan cinta, direduksi menjadi ekonomi. Kuliah ini juga membahas bagaimana subjektivitas individu dipengaruhi oleh masyarakat dan teknologi, serta bagaimana konsep pertemanan berubah di era digital, menciptakan paradoks antara singularitas dan pluralitas, serta antara individualitas dan komunalitas.
Kuliah pengantar Buku "Dunia Yang Dilipat. Menjelaskan fragmen-fragmen dunia yang mengalami perubahan budaya cepat akibat globalisasi, yang mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan. Yasraf Amir Pilliang menggambarkan dunia yang telah dilipat, di mana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat manusia melihat dunia sebagai realitas yang sederhana. Teknologi canggih dalam transportasi, telekomunikasi, dan informasi telah mengecilkan jarak dan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk bergerak, menciptakan pelipatan ruang-waktu. Manusia kini dapat melakukan banyak hal sekaligus, seperti menyetir sambil menelepon dan mendengarkan musik. Selain itu, miniaturisasi ruang-waktu melalui media seperti gambar, televisi, dan internet juga menjadi bagian dari realitas yang dilipat ini.
SEMIOTIKA & HIPERSEMIOTIKA YT
Kuliah ini membahas empat isu besar yang terkait dengan kehidupan kontemporer, yaitu perkembangan teknologi, pertanyaan tentang humanitas, komunalitas di era media sosial, dan politik dalam konteks modern. Setelah era postmodernisme, pemateri mengusulkan konsep plastisitas sebagai wacana baru yang menggabungkan rigiditas modernisme dan fluiditas postmodernisme. Fenomena lainnya yang dibahas termasuk parasitisme dalam budaya, dimana manusia mengambil lebih banyak dari alam dan budaya tanpa memberi imbal balik yang setara. Isu humanitas dijelaskan melalui konsep animalitas, yang menunjukkan degradasi manusia menjadi homo economicus, di mana semua aspek kehidupan, termasuk seni, sains, politik, dan cinta, direduksi menjadi ekonomi. Kuliah ini juga membahas bagaimana subjektivitas individu dipengaruhi oleh masyarakat dan teknologi, serta bagaimana konsep pertemanan berubah di era digital, menciptakan paradoks antara singularitas dan pluralitas, serta antara individualitas dan komunalitas.
Kuliah ini membahas empat isu besar yang terkait dengan kehidupan kontemporer, yaitu perkembangan teknologi, pertanyaan tentang humanitas, komunalitas di era media sosial, dan politik dalam konteks modern. Setelah era postmodernisme, pemateri mengusulkan konsep plastisitas sebagai wacana baru yang menggabungkan rigiditas modernisme dan fluiditas postmodernisme. Fenomena lainnya yang dibahas termasuk parasitisme dalam budaya, dimana manusia mengambil lebih banyak dari alam dan budaya tanpa memberi imbal balik yang setara. Isu humanitas dijelaskan melalui konsep animalitas, yang menunjukkan degradasi manusia menjadi homo economicus, di mana semua aspek kehidupan, termasuk seni, sains, politik, dan cinta, direduksi menjadi ekonomi. Kuliah ini juga membahas bagaimana subjektivitas individu dipengaruhi oleh masyarakat dan teknologi, serta bagaimana konsep pertemanan berubah di era digital, menciptakan paradoks antara singularitas dan pluralitas, serta antara individualitas dan komunalitas.
KULIAH SEMIOTIKA YT
Seri Kuliah mengenai Semiotika.
CULTURAL STUDIES YT
10 Video Pertemuan Kuliah lepas Seri Filsafat Tahun 2011.
Studi budaya sebagai sebuah disiplin tidak hanya berlandaskan pada pemikiran abstrak, teoretis, dan filosofis, tetapi juga erat kaitannya dengan praktik kebudayaan. Ini berarti bahwa studi budaya berkembang tidak hanya karena tuntutan teoretis (ilmu murni), tetapi juga atas dasar kebutuhan ideologis. Studi budaya ini bertumbuh dari pertanyaan-pertanyaan praktis/ideologis yang mempertanyakan dan menginterogasi makna kebudayaan serta sifat universalitasnya; mengangkat isu-isu tentang formasi sosial, kekuasaan budaya, hegemoni budaya, dominasi, dan regulasi; yang mendorong resistensi, subversi, dan perjuangan kultural. Meskipun tujuan utama perkembangan studi budaya adalah tuntutan praksis kebudayaan, yaitu kebutuhan akan berbagai bentuk tindakan, perjuangan, dan perlawanan, pada perkembangan selanjutnya studi budaya menemukan bentuknya sebagai gerakan intelektual yang menggabungkan teori dan praksis secara mutual, meskipun teori dan metode yang dikembangkan lebih banyak merupakan pinjaman atau kombinasi dari berbagai metode dan teori secara eklektik. Teori dan metode studi budaya ini menjadi landasan ideologis dari berbagai gerakan pembacaan kultural, seperti gerakan feminisme, subkultur, tribalisme, etnisitas, dan multikulturalisme, yang umumnya mencoba mengembangkan model-model pembacaan ulang terhadap kebudayaan secara umum. Dalam seri kuliah ini, Dr. Yasraf Amir Piliang, seorang pakar semiotika dan studi budaya serta staf pengajar di FSRD ITB, memaparkan seluk beluk dan berbagai teori yang digunakan dalam studi budaya, disertai pointer-pointer penting dari berbagai teori serta contoh-contoh visual yang dapat memudahkan para peminat kajian studi budaya untuk mendalami lebih lanjut.
STUDI GAYA HIDUP YT
Video 8 Pertemuan mengenai Mata Kuliah "Studi Gaya Hidup." Mahasiswa S1-Unpar Bandung. Rekaman Tahun 2012. Silabus & Praktik, Style & Lifestyle, Habitus & Capital, Sign, DIferensiasi, Selera, Psychoanalysis & Culture, Subjectivity.
Seri Kuliah mengenai Semiotika.
10 Video Pertemuan Kuliah lepas Seri Filsafat Tahun 2011. Studi budaya sebagai sebuah disiplin tidak hanya berlandaskan pada pemikiran abstrak, teoretis, dan filosofis, tetapi juga erat kaitannya dengan praktik kebudayaan. Ini berarti bahwa studi budaya berkembang tidak hanya karena tuntutan teoretis (ilmu murni), tetapi juga atas dasar kebutuhan ideologis. Studi budaya ini bertumbuh dari pertanyaan-pertanyaan praktis/ideologis yang mempertanyakan dan menginterogasi makna kebudayaan serta sifat universalitasnya; mengangkat isu-isu tentang formasi sosial, kekuasaan budaya, hegemoni budaya, dominasi, dan regulasi; yang mendorong resistensi, subversi, dan perjuangan kultural. Meskipun tujuan utama perkembangan studi budaya adalah tuntutan praksis kebudayaan, yaitu kebutuhan akan berbagai bentuk tindakan, perjuangan, dan perlawanan, pada perkembangan selanjutnya studi budaya menemukan bentuknya sebagai gerakan intelektual yang menggabungkan teori dan praksis secara mutual, meskipun teori dan metode yang dikembangkan lebih banyak merupakan pinjaman atau kombinasi dari berbagai metode dan teori secara eklektik. Teori dan metode studi budaya ini menjadi landasan ideologis dari berbagai gerakan pembacaan kultural, seperti gerakan feminisme, subkultur, tribalisme, etnisitas, dan multikulturalisme, yang umumnya mencoba mengembangkan model-model pembacaan ulang terhadap kebudayaan secara umum. Dalam seri kuliah ini, Dr. Yasraf Amir Piliang, seorang pakar semiotika dan studi budaya serta staf pengajar di FSRD ITB, memaparkan seluk beluk dan berbagai teori yang digunakan dalam studi budaya, disertai pointer-pointer penting dari berbagai teori serta contoh-contoh visual yang dapat memudahkan para peminat kajian studi budaya untuk mendalami lebih lanjut.
STUDI GAYA HIDUP YT
Video 8 Pertemuan mengenai Mata Kuliah "Studi Gaya Hidup." Mahasiswa S1-Unpar Bandung. Rekaman Tahun 2012. Silabus & Praktik, Style & Lifestyle, Habitus & Capital, Sign, DIferensiasi, Selera, Psychoanalysis & Culture, Subjectivity.
HARYATMOKO
EPISTEMOLOGI:
Berpikir Ulang Tentang Pengetahuan: Antara Fakta, Bahasa, dan Nilai
Kuliah ini menjelaskan epistemologi sebagai refleksi kritis atas hubungan subjek, objek, dan metode, serta menegaskan bahwa teori dan fakta selalu bersifat konstruktif dan tidak netral. Dengan membahas intensionalitas, semiosis, teori kebenaran, dan model ilmu sosial, kuliah menunjukkan keragaman cara memahami realitas. Melalui pemikiran Bourdieu, Giddens, dan Ricoeur, peserta diajak mengembangkan disposisi intelektual yang reflektif dan sadar konteks, serta melihat pengetahuan sebagai proses dialogis yang terus dinegosiasikan.
EPISTEMOLOGI:
Berpikir Ulang Tentang Pengetahuan: Antara Fakta, Bahasa, dan Nilai
Kuliah ini menjelaskan epistemologi sebagai refleksi kritis atas hubungan subjek, objek, dan metode, serta menegaskan bahwa teori dan fakta selalu bersifat konstruktif dan tidak netral. Dengan membahas intensionalitas, semiosis, teori kebenaran, dan model ilmu sosial, kuliah menunjukkan keragaman cara memahami realitas. Melalui pemikiran Bourdieu, Giddens, dan Ricoeur, peserta diajak mengembangkan disposisi intelektual yang reflektif dan sadar konteks, serta melihat pengetahuan sebagai proses dialogis yang terus dinegosiasikan.
Extension Course: PIERRE BOURDIEU:
Struktur, Habitus, dan Kekuasaan Simbolik: Membaca Ulang Pemikiran Pierre Bourdieu dalam Konteks Sosial Modern
Bourdieu memahami hubungan struktur dan agensi melalui habitus, kapital, arena, dan distinction: habitus membentuk cara bertindak, kapital menentukan posisi sosial, arena menjadi ruang pertarungan legitimasi, dan distinction menjelaskan bagaimana selera mereproduksi kelas. Budaya dan bahasa berperan sebagai modal sekaligus kekerasan simbolik yang membuat dominasi tampak wajar, terutama melalui sekolah. Meski menekankan reproduksi sosial, Bourdieu tetap membuka kemungkinan perubahan lewat transformasi habitus dan pergeseran kapital.
A. SETYO WIBOWO
PLATON - A. Setyo Wibowo
Pemikiran Platon lahir dari luka sejarah dan kegelisahan terdalam manusia tentang bagaimana hidup seharusnya dijalani agar sungguh bermakna. Di tengah runtuhnya Athena, kegagalan politik, dan kematian Socrates, Platon menyimpulkan bahwa kesuksesan sejati tidak terletak pada kekuasaan, harta, atau pengakuan publik, melainkan pada keutuhan jiwa. Melalui gagasan arete, ia menunjukkan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang berfungsi secara utuh: ketika rasio membimbing hasrat dan emosi, ketika manusia setia pada kebaikan yang lebih tinggi daripada kepentingan sesaat. Dunia idea bukanlah dunia benda-benda ideal yang jauh dari realitas, melainkan struktur dasar yang memungkinkan manusia memahami, menilai, dan memberi makna pada pengalaman hidupnya. Keadilan, bagi Platon, bukan beban moral atau aturan eksternal, melainkan kondisi batin yang tertata, harmoni internal yang melahirkan kebahagiaan sejati. Karena itu, filsafat baginya bukan sekadar teori, melainkan latihan hidup: keberanian untuk meninggalkan ilusi, mendidik jiwa dengan sabar, dan terus bergerak menuju kebenaran, meski tanpa jaminan kepastian akhir.
GAYA FILSAFAT NIETZSCHE - A. Setyo Wibowo
Serial ini merangkum pemikiran Friedrich Nietzsche sebagai ajakan berani menghadapi hidup apa adanya. Nietzsche tidak menawarkan makna siap pakai, melainkan menantang kita menciptakan makna sendiri di tengah kekosongan, ketidakpastian, dan runtuhnya pegangan lama. Hidup, baginya, bukan sesuatu yang rapi dan final, tetapi proses yang penuh ketegangan—antara penderitaan dan keberanian, kehancuran dan penciptaan kembali makna. Melalui pembacaan yang jernih bersama Pa Setyo Wibowo, “kematian Tuhan” dipahami bukan sebagai seruan ateisme, melainkan sebagai momen ketika manusia harus bertanggung jawab penuh atas nilai dan makna hidupnya. Nihilisme bukan akhir, melainkan tantangan: apakah kita menyerah pada kekosongan, atau berani mengatakan “ya” pada kehidupan dan menjalaninya secara kreatif, jujur, dan lebih manusiawi.
Membaca Ulang Marx: Melampaui Reduksi, Menembus Realitas.
Marx, bila dibaca secara historis, menawarkan ontologi materialis berlapis yang melihat realitas material sebagai dasar bagi kesadaran, institusi, dan budaya tanpa jatuh pada determinisme. Dipengaruhi Hegel, Aristoteles, naturalisme, dan ekonomi politik Inggris, ia menekankan analisis stratifikatif serta realisme kritis: esensi tidak selalu tampak, dan pengetahuan harus menembus ilusi ideologis. Dengan demikian, Marx tampil sebagai pemikir multidisipliner yang merumuskan kerangka kuat untuk memahami dan mengkritik dunia modern.
THOMAS KRISTIATMO
Extension Course: Slavoj Žižek dan Cultural Studies: Antara Kritik dan Kesadaran Kultural
Žižek menggabungkan Hegel, Marx, dan Lacan untuk membaca budaya sebagai medan ideologi dan hasrat, sekaligus mengkritik Cultural Studies yang kerap jatuh pada relativisme dan abai terhadap kondisi material. Baginya, ideologi bekerja tidak hanya di tingkat kesadaran, tetapi juga dalam cara manusia menikmati hidup, membuat kebebasan terasa semu. Karena itu, kajian budaya harus membongkar relasi antara hasrat, simbol, dan kekuasaan serta mengembalikan perhatian pada struktur material, demi memahami kompleksitas realitas tanpa mencari jawaban final.
Membaca Žižek: Filsafat, Psikoanalisis, dan Manusia Zaman Sekarang
Kuliah ini akan mencoba memperkenalkan kepada publik terbuka secara fasih dan renyah pemikiran Slavoj Zizek itu. Thomas Kristiatmo adalah orang pertama di Indonesia yang menuliskan sebuah buku utuh tentang pemikiran Slavoj Zizek dan telah diterbitkan untuk publik pembaca di Indonesia. Di lingkungan orang-orang yang mengenalnya, Atmo, begitu dia biasa dipanggil, dikenal memiliki artikulasi yang baik dalam mempresentasikan berbagai pemikiran filsafat yang rumit melalui analogi-analogi yang mudah dimengerti. Begitu juga uraian-uraiannya dalam buku pertama karyanya "Redefinisi Subjek dalam Kebudayaan: Pengantar Memahami Subjektivitas Modern Menurut Perspektif Slavoj Zizek".
MUHAMMAD AL-FAYYADL
Membaca Derrida: Dekonstruksi di Tengah Krisis Filsafat Modern.
Derrida memandang dekonstruksi sebagai praktik pembacaan kritis yang menggugat klaim kemurnian dan kestabilan makna dalam tradisi filsafat Barat. Melalui gagasan différance, jejak, dan tulisan, ia menunjukkan bahwa makna selalu tertunda, identitas tidak pernah utuh, dan oposisi biner menyembunyikan hierarki serta marginalisasi. Dekonstruksi bukan metode teknis atau upaya destruktif, melainkan sikap etis-politis yang membuka ruang bagi suara yang terpinggirkan dan menjaga filsafat dari dogmatisme, dengan menolak penutupan makna dan mempertahankan keterbukaan berpikir.
M. SUBHI IBRAHIM
Hidup sebagai Proses: Menyelami Cara Pandang Eksistensial Mulla Shadra.
Tradisi filsafat Islam pasca-Baghdad berpusat di Persia dan mencapai puncaknya pada Mulla Sadra, yang melalui Hikmah Muta‘aliyah mensintesis paripatetisme dan iluminasionisme. Ia menegaskan keaslian wujud, gradasi eksistensi, dan gerak substansial sehingga realitas dipahami sebagai proses bertingkat. Dari sini Sadra merumuskan epistemologi pengetahuan representasional dan presensial, dengan tesis bahwa mengetahui adalah bentuk wujud. Konsekuensinya mencakup teori jiwa yang bertumbuh menuju spiritualitas, dunia imajinatif sebagai perantara, dan kebangkitan sebagai kemunculan tubuh imajinatif. Filsafat baginya menjadi praktik ontologis-spiritual yang menuntun transformasi eksistensial.
HAWE SETIAWAN
HASAN MUSTAPA - Sastrawan Sufi Sunda dan Warisan yang Terlupakan.
Haji Hasan Mustapa adalah tokoh penting sastra dan sufisme Sunda yang memadukan pendidikan Islam mendalam dengan kreativitas estetis dalam dangding dan pupuh berbahasa Sunda beraksara Arab Pegon. Karyanya menampilkan sintesis unik kosakata Arab–Sunda, simbolisme mistik, dan inovasi istilah, meski banyak naskah asli hilang dan penerjemahannya sulit karena keketatan bentuk pupuh dan kedalaman metafor sufistik. Di tengah budaya modern yang makin jauh dari tradisi penghayatan, warisan Mustapa kerap terpinggirkan, padahal pelestariannya penting bagi kesinambungan intelektual dan spiritual Sunda.
AHMAD BASO
YUSUF AL-MAKASSARI
- Sejarah, Memori dan Jaringan Anti Kolonial
Syekh Yusuf al-Makassari adalah ulama kosmopolit dan pejuang antikolonial yang berperan penting dalam perkembangan intelektual Islam Nusantara. Berasal dari bangsawan Makassar dan terdidik hingga Haramain, ia menjadi mufti Banten serta penghubung antara pusat-pusat Islam di Makassar, Banten, dan Mataram. Lebih dari dua puluh karyanya menunjukkan corak tasawuf rekonsiliatif pasca-perdebatan Fansuri–Raniri, sementara pengaruhnya menjangkau hingga Sri Lanka dan Afrika Selatan. Keteguhan spiritual dan komitmen politiknya menjadikannya simbol perlawanan sekaligus bukti kematangan tradisi keilmuan Islam Nusantara.
M. IKBAL ARIFYANTO
Studi Astronomi: Mencari Keluarga dan Tempat Kelahiran Matahari

