Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2012

Heidegger dalam Sejarah Filsafat Modern: Analisis atas Pergeserannya dari Ontologi Fundamentalis ke Pemikiran Bahasa

Gambar
Martin Heidegger adalah salah satu filsuf paling berpengaruh pada abad ke-20 dan awal abad ke-21. Meskipun sering disebut sebagai eksistensialis, ia sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai seorang fenomenolog yang memakai metode fenomenologi untuk mempertanyakan kembali makna “ada” (being) secara radikal. Hampir seluruh filsafatnya berputar pada satu pertanyaan besar: apa arti Ada itu sendiri?—pertanyaan yang sudah memikat dirinya sejak masa SMA, ketika ia membaca disertasi Franz Brentano tentang bermacam-macam makna “ada” dalam pemikiran Aristoteles. Momen itulah yang kemudian membentuk arah seluruh perjalanan intelektualnya. Heidegger lahir pada tahun 1889 dan meninggal pada tahun 1976, di kota yang sama: Messkirch. Masa kuliahnya dimulai dari teologi, meski hanya bertahan beberapa semester sebelum ia pindah ke filsafat di Universitas Freiburg. Di sana ia menyelesaikan disertasinya tentang filsuf abad pertengahan Duns Scotus. Tahun 1916, Edmund Husserl—pendiri fenomenologi—mengajar d...

Heidegger dan Reorientasi Ontologis: Dari Eksistensi Manusia Menuju Penyingkapan Ada

Gambar
Pemikiran Heidegger biasanya dibagi ke dalam dua fase besar. Fase pertama banyak membahas keberadaan manusia (Dasein) yang dijelaskan dalam Being and Time. Karena fokusnya pada eksistensi manusia, periode ini sering membuat Heidegger disalahpahami sebagai filsuf eksistensialis. Padahal, orientasi terpentingnya bukan berhenti di situ. Pada fase kedua, Heidegger memperluas cakupannya. Ia tidak lagi membatasi diri pada eksistensi manusia, tetapi bertanya lebih jauh: apa sebenarnya makna “Ada”? Apa yang memungkinkan segala sesuatu hadir? Pertanyaan ini mendorongnya masuk ke wilayah ontologi yang lebih radikal, melampaui psikologi, etika, atau teori pengetahuan. Tulisan-tulisan Heidegger pada periode ini tersebar dalam bentuk esai, kuliah, dan renungan filosofis mengenai metafisika, seni, teknologi, kebenaran, dan bahasa. Gaya tulisannya semakin puitis dan tidak sistematis, seolah ia sengaja menjauh dari gaya filosofis tradisional yang menurutnya terlalu konseptual dan membatasi. Kumpulan s...

Konstruksi Pengetahuan dalam Fenomenologi Husserl: Dari Deskripsi Fenomenal hingga Reduksi Transendental

Gambar
Kita beralih kepada Edmund Husserl dengan fenomenologinya. Fenomenologi yang dikembangkan Husserl bukan hanya menentukan perkembangan pemikiran Husserl sendiri di kemudian hari, tetapi juga membentuk kecenderungan besar filsafat abad ke-20 secara keseluruhan. Apa pun coraknya—baik eksistensialisme, strukturalisme, hermeneutika, dan seterusnya—semuanya sangat dipengaruhi oleh pondasi awal yang diletakkan oleh Husserl. Karena itu, memahami apa itu fenomenologi sangat penting agar lebih mudah memahami konsekuensi-konsekuensi pemikiran yang muncul setelahnya. Bahkan dalam dunia sains, psikologi, sosiologi, dan berbagai bidang lainnya, pemikiran Husserl ikut mempengaruhi cara berpikir yang baru—terutama pada persoalan kesadaran, yang kelak mengubah cara berpikir abad ke-20 dan 21. Edmund Husserl sendiri lahir di Ceko pada tahun 1859 dan wafat pada tahun 1938. Ia tidak langsung menekuni filsafat; awalnya ia menekuni sains. Latar belakang akademiknya adalah fisika, astrofisika, dan matematika...

Kierkegaard dan Kritik atas Hegemoninya Totalitas: Individu sebagai Dasar Eksistensi dalam Masyarakat Massa

Gambar
Kierkegaard mengawali arah berfilsafat yang baru sebagai reaksi keras terhadap Hegel. Hegel dianggap hampir tidak memberi tempat bagi individu. Dalam sistem Hegel, seluruh perjalanan sejarah dan peradaban hanyalah “siasat” dari Ruh Absolut untuk berkembang dan menemukan dirinya. Individu—bahkan tokoh-tokoh besar dan negara—sekadar menjadi alat dalam proses perkembangan si Ruh Besar ini. Maka, kehidupan manusia yang konkret menjadi tidak terasa penting. Menurut Hegel, seluruh alam semesta bergerak sebagai evolusi diri sang Absolut. Setiap kebudayaan hanyalah tahapan perkembangan ruh tersebut. Secara sederhana, kita bisa membayangkan Ruh Absolut sebagai semacam rasionalitas kosmis—bukan rasionalitas manusia. Alam semesta menjadi rasional, tetapi ia menyadari rasionalitasnya melalui peradaban manusia, berkembang secara dialektis dari berbagai sisi. Ia mulai menampakkan diri melalui seni—di mana Absolute masih digambarkan secara intuitif. Lalu berkembang dalam agama—di mana Absolute dip...