Dromologi dan Dunia yang Dilipat: Sebuah Refleksi tentang Percepatan Budaya
Diskusi ini berkaitan erat dengan gagasan utama dalam buku berjudul Dunia yang Dilipat. Salah satu tema yang paling menonjol di dalamnya adalah percepatan kehidupan, atau yang dapat disebut sebagai percepatan budaya. Tanpa disadari, tempo kehidupan pada masa kini semakin padat dan menekan.
Gagasan tersebut dirangkum dalam istilah Dromologi Budaya. Istilah dromologi memang terdengar asing dan tidak lazim, namun para pemikir di Eropa kerap menggunakan istilah-istilah baru semacam ini untuk memaksa bahasa agar mampu menjelaskan situasi mutakhir yang tidak lagi tertampung dalam kamus konvensional. Cara berpikir semacam ini menunjukkan bahwa bahasa dan kamus memiliki keterbatasan, sementara fenomena kehidupan terus berkembang dan bergerak melampaui kata-kata yang tersedia.
Apa itu Dromologi?
Secara etimologis, dromologi berasal dari bahasa Yunani. Kata dromos berarti berlari kencang atau sesuatu yang bergerak sangat cepat, sedangkan logos dapat dimaknai sebagai ilmu, fenomena, atau kondisi. Dengan demikian, dromologi dapat dipahami sebagai ilmu atau kajian tentang kondisi sesuatu yang bergerak dengan kecepatan tinggi. Jika seorang atlet pelari cepat disebut dromos, maka dalam konteks sosial istilah ini digunakan untuk menjelaskan fenomena kehidupan sehari-hari yang berlangsung serba cepat.
Konsep ini bahkan merambah ke ranah politik melalui istilah dromokrasi, yakni suatu sistem pemerintahan yang diatur oleh kecepatan. Dalam dromokrasi, pihak yang berkuasa adalah pihak yang paling cepat bertindak. Fenomena ini dapat diamati dalam praktik yang dikenal sebagai serangan fajar; pihak yang lebih cepat menyebarkan bantuan, seperti mi instan, kepada pemilih cenderung memperoleh kemenangan. Akibatnya, demokrasi tidak lagi digerakkan oleh gagasan atau ideologi, melainkan oleh kecepatan.
Teknologi dan Pemadatan Waktu
Namun, fokus pembahasan kali ini adalah Dromologi Kebudayaan, yakni bagaimana efek percepatan yang dihasilkan oleh teknologi mengubah cara manusia menjalani hidup. Kemunculan teknologi, seperti telepon seluler, secara tidak sadar membentuk kebiasaan untuk menuntut segala sesuatu terjadi dengan segera. Dorongan untuk membalas SMS atau pesan singkat pada saat itu juga, bahkan ketika sedang mengendarai motor, menjadi bukti bagaimana logika kecepatan teknologi telah meresap ke dalam kehidupan sehari-hari.
Sejarah percepatan ini dapat ditelusuri melalui perkembangan teknologi transportasi. Antara abad ke-16 hingga abad ke-18, kecepatan kereta kuda hanya berkisar sekitar 10 mil per jam. Pada dekade 1930-an, kecepatan tersebut meningkat menjadi sekitar 36 mil per jam. Memasuki tahun 1950-an dan 1960-an, kecepatan melonjak drastis hingga mencapai 300–700 mil per jam melalui pesawat terbang.
Lonjakan kecepatan ini menimbulkan dampak yang signifikan, yakni dunia yang terasa semakin mengecil. Pengecilan ini tidak berarti ukuran fisik Bumi menyusut, melainkan waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak dari satu tempat ke tempat lain menjadi semakin singkat. Inilah awal dari konsep pemadatan waktu (time compression). Inovasi dalam bidang transportasi menciptakan kondisi di mana ruang semakin ditiadakan oleh waktu; ruang seolah menjadi nol karena durasi tempuh yang terus memendek.
Real Time dan Matinya Geografi
Perkembangan selanjutnya terjadi pada teknologi informasi—internet, satelit, dan cyberspace—yang memungkinkan terjadinya komunikasi secara real time. Real time adalah kondisi ketika komunikasi dengan seseorang di benua lain, misalnya Amerika, dapat berlangsung hampir bersamaan tanpa jeda waktu yang berarti.
Paul Virilio, salah satu pemikir utama dromologi, menyebut kondisi ini sebagai Zero Space (ruang nol) atau Matinya Geografi (The Death of Geography). Jarak fisik tidak lagi menjadi kendala utama. Jika pada masa lalu seseorang di Bandung tidak mungkin menonton pertandingan sepak bola antar-kampung di Klaten, kini pertandingan liga Inggris dapat disaksikan secara langsung (real time) melalui internet atau televisi.
Namun, matinya geografi ini membawa konsekuensi lain, yakni tumpang tindih waktu. Secara geografis, waktu di Inggris dan Indonesia berbeda. Pertandingan sepak bola di Inggris berlangsung pada sore hari, waktu yang relatif nyaman untuk menonton. Akan tetapi, karena disaksikan secara real time di Indonesia, pertandingan yang sama berlangsung pada pukul dua dini hari. Pola hidup dan perilaku pun berubah; ritme waktu lokal yang alamiah tergeser demi mengikuti ritme global.
Dromotariat: Diperbudak Kecepatan
Ketika kehidupan dikendalikan oleh kebutuhan untuk mempercepat segalanya, manusia berubah menjadi apa yang oleh Virilio disebut sebagai **dromotariat**—golongan yang menganggap segala sesuatu harus berlangsung cepat. Lama-kelamaan, kondisi ini membentuk *habitus*, yakni kebiasaan yang mengakar dan mendarah daging. Ibadah dipercepat, makan dipercepat, bahkan tindakan membunuh pun dipercepat.
Dalam teknologi perang modern, prinsip “lebih cepat lebih baik” berlaku secara ekstrem. Kehadiran fisik di medan perang tidak lagi diperlukan. Dengan menekan tombol dari jarak jauh—seperti sedang bermain gim—sebuah target dapat dilenyapkan. Contoh nyata adalah pembunuhan Syekh Ahmed Yassin, pemimpin Palestina, yang tewas akibat serangan rudal yang dikendalikan dari jarak jauh. Operator yang menekan tombol berada dalam ruang aman, seolah hanya menembak musuh dalam permainan video, sementara dampak nyata dari tindakan tersebut adalah hilangnya nyawa manusia.
Implosi dan Budaya Sekali Pakai
Percepatan juga terjadi dalam ranah konsumsi dan gaya hidup. Frekuensi pergantian barang menjadi semakin tinggi. Jika pada masa lalu jam tangan dibeli untuk digunakan belasan tahun hingga rusak, kini jam tangan atau telepon genggam diganti setiap beberapa bulan mengikuti tren dan mode. Kehidupan bergerak dalam budaya “sekali pakai, lalu buang”.
Teknologi memadatkan waktu dan informasi. Pada masa sebelumnya, riset tentang Indonesia menuntut perjalanan panjang menyusuri berbagai wilayah. Kini, data yang sama dapat diakses melalui laptop dengan beberapa sentuhan jari. Informasi menjadi semakin padat, namun muncul pertanyaan mendasar: apakah seluruh kemudahan dan kecepatan ini benar-benar meningkatkan kualitas hidup? Apakah kebahagiaan bertambah seiring dengan semakin seringnya mengganti mobil dan gawai?
Kondisi ini dapat disebut sebagai implosi, yakni sebuah ledakan ke dalam. Bukan ledakan ke luar sebagaimana eksplosi, melainkan runtuhnya keseimbangan batin akibat beban kecepatan dan limpahan informasi yang berlebihan.
Penutup: Peran Sebagai Mediator
Menghadapi fenomena yang rumit seperti dromologi, teori-teori dari pemikir seperti Jean Baudrillard atau Jacques Derrida memang tidak mudah dipahami. Oleh karena itu, diperlukan peran penulis atau pemikir yang dapat bertindak sebagai mediator—seperti peran yang dijalankan Anand Krishna dalam tradisi spiritual—untuk menjelaskan gagasan-gagasan tersebut dengan bahasa yang lebih mudah diakses.
Tujuan penulisan buku ini dan penyampaian gagasan-gagasan di dalamnya bukanlah untuk langsung menawarkan jalan keluar atau solusi instan, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran (awareness) bahwa terdapat persoalan yang sedang dihadapi. Sebuah bangsa berada dalam kondisi yang paling berbahaya ketika tidak menyadari bahwa dirinya sedang bermasalah. Jalan tol dibangun, gawai canggih dibeli, dan puluhan saluran televisi disediakan tanpa pemahaman yang memadai mengenai persoalan-persoalan yang menyertainya.
Peran pemikiran kritis berhenti pada tahap penyadaran. Pencarian solusi merupakan tanggung jawab bersama yang hanya dapat dilakukan setelah kesadaran tersebut tumbuh dan diakui secara kolektif.
Komentar
Posting Komentar