Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2013

Dari Substansi ke Kebudayaan: Rekonstruksi Pemikiran Aristoteles tentang Manusia dan Kehidupan Bersama.

Gambar
Pembahasan mengenai pemikiran Aristoteles hampir tidak mungkin dilepaskan dari klarifikasi awal mengenai perbedaan fundamental antara dirinya dan gurunya, Plato. Keduanya bergerak dalam tradisi yang sama—filsafat Yunani klasik—namun menghasilkan konsepsi metafisika yang secara struktural bertolak belakang. Jika Plato menempatkan realitas sejati pada dunia ide yang bersifat universal, abadi, dan terpisah dari dunia fisik, Aristoteles justru melakukan manuver intelektual yang radikal: ia memindahkan pusat realitas kembali ke dunia konkret. Bagi Aristoteles, yang benar-benar ada adalah entitas individual, bukan bentuk-bentuk abstrak yang berdiri sendiri. Dalam kerangka ini, Aristoteles mengembangkan teori substansi yang kemudian menjadi salah satu fondasi metafisika Barat. Setiap entitas tersusun atas materi (hylē) dan bentuk (morphē/form). Materi menyediakan potensi, sementara bentuk memberikan aktualitas dan identitas. Aristoteles menegaskan bahwa substansi primer bukanlah materi, melai...