HASAN MUSTAPA - Cangkang Suluk dan Puisi-puisi Haji Hasan Hasan Mustapa - Hawe Setiawan
Hasan Mustapa: Sastrawan Sufi Sunda dan Warisan yang Terlupakan
Haji Hasan Mustapa adalah tokoh penting dalam sejarah sastra dan spiritualitas Sunda yang hidup pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Ia dikenal sebagai penghulu besar di Bandung dan memiliki latar belakang pendidikan Islam yang mendalam sejak usia dini, termasuk pengalamannya belajar dan mengajar di Mekkah. Karya-karyanya terbagi dalam bentuk puisi dan prosa, sebagian besar ditulis dalam bahasa Sunda dengan aksara Arab Pegon. Gaya bahasanya khas, menggabungkan istilah Arab dengan bahasa Sunda secara harmonis, serta penuh dengan simbolisme mistis yang dalam. Melalui bentuk-bentuk puisi seperti dangding dan pupuh, ia menghadirkan renungan-renungan sufistik dengan struktur yang rumit dan kaya makna.
Sayangnya, banyak karya asli Hasan Mustapa tidak terselamatkan, dan sebagian besar hanya dikenal dalam bentuk salinan yang dikumpulkan oleh para peneliti. Penerjemahan puisinya ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris menghadapi tantangan besar karena keketatan bentuk dan kedalaman maknanya. Dalam konteks pendidikan modern, budaya berguru dan penghormatan terhadap karya-karya lokal seperti milik Hasan Mustapa semakin terpinggirkan. Padahal, nilai-nilai spiritual dan intelektual dalam karyanya sangat relevan untuk pengayaan karakter dan identitas budaya. Upaya pelestarian, pengarsipan, serta penerjemahan yang serius sangat dibutuhkan agar warisan ini tetap hidup dan bermakna di tengah zaman yang terus berubah.
PEMBICARA: HAWE SETIAWAN
S1 Jurnalistik FikomUNPAD. S2 dan S3-nya di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Sehari-harinya menjadi anggota Dewan Redaksi Majalah Cupumanik, dan dosen Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Unpas.
Contents:
00:00:07: Pendahuluan Pembicara dan Topik
00:02:15: Kehidupan dan Latar Belakang Haji Hasan Mustapa
00:04:30: Anekdot dan Karakteristik Hasan Mustapa
00:08:42: Karya-karya Hasan Mustapa dan Pelestariannya
00:12:29: Upaya Mengkompilasi dan Menerjemahkan Karya Hasan Mustapa
00:15:47: Tantangan dalam Menerjemahkan Puisi Hasan Mustapa
00:29:29: Dangding sebagai Bentuk Puisi
00:56:00: Diskusi tentang Pengaruh dan Pendidikan
01:00:00: Kontribusi Hasan Mustapa terhadap Dangding
01:42:51: Konsep Mistik dan Filosofis dalam Puisi Hasan Mustapa
:::
Sosok Haji Hasan Mustapa
Haji Hasan Mustapa hidup pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, wafat sekitar tahun 1930-an. Ia dikenal sebagai penghulu besar di Bandung dan berasal dari Garut, Jawa Barat. Ia pernah bertugas di Aceh dan turut membantu Snouck Hurgronje mempelajari Islam serta budaya masyarakat Aceh. Besar kemungkinan, karya Snouck banyak dipengaruhi oleh wawasan dan pengetahuan keislaman Hasan Mustapa yang mumpuni. Sejak usia 9 tahun, ia telah dibawa ayahnya ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan menetap di sana untuk belajar serta mengajar.
Ia dikenal sebagai pribadi yang eksentrik, atau dalam istilah Sunda disebut "mahiwal." Misalnya, saat putranya yang seniman keroncong wafat dalam kecelakaan lalu lintas di Nagreg, beliau mengundang grup musik keroncong untuk memainkan musik saat penguburan sebagai penghormatan terakhir.
Anekdot dan Pemikiran
Kisah-kisah tentang Hasan Mustapa banyak berbentuk anekdot. Salah satunya, ketika ia diangkat menjadi penghulu besar Bandung, ia mengundang para ulama dan bertanya, "Apa itu syahadat?" Para ulama tersinggung karena merasa pertanyaan tersebut terlalu mendasar. Namun maksud Hasan Mustapa adalah menekankan bahwa kesaksian tanpa pengalaman langsung adalah kesaksian palsu. Sejak itu, hanya sedikit ulama yang menghadiri undangan rapatnya, salah satunya Kiai Kurdi dari Garut. Dari hubungan inilah lahir korespondensi sastra dalam bentuk dangding.
Karya dan Warisan Sastra
Karya Hasan Mustapa dapat dibagi menjadi dua bentuk: puisi dan prosa. Puisi-puisinya mengikuti aturan persajakan yang sangat ketat, sementara prosa lebih leluasa. Hampir semua tulisannya ditulis dalam bahasa Sunda menggunakan aksara Arab Pegon, walau ada juga yang dalam bahasa Melayu, Jawa, bahkan Arab.
Sayangnya, tulisan asli beliau banyak yang tidak terselamatkan. Yang tersisa umumnya merupakan hasil penyalinan oleh sekretarisnya, seperti Wangsa Diharja dan Wangsa Atmaja. Beberapa koleksi juga ditemukan di Universitas Leiden, dan telah ditelusuri oleh Ayip Rosidi, Prof. Iskandar Wasid, Ibu Ruhaliah, Edi Ekajati, serta Pak Yosep dari Cicalengka. Hasil-hasil ini diterbitkan oleh Pustaka Salman dalam kompilasi yang cukup lengkap.
Kesulitan dalam Penerjemahan
Puisi Hasan Mustapa sulit diterjemahkan karena bentuknya yang ketat (misalnya bentuk pupuh Kinanti, Asmarandana, dan Sinom yang masing-masing punya aturan guru lagu dan guru wilangan). Penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia atau Inggris sangat menantang. Bahkan, saat Pa Hawe dan Julian Millie mencoba menerjemahkan salah satu karyanya, kami mengalami banyak kesulitan karena kekayaan metafor dan kosakata lokal yang tidak memiliki padanan langsung.
Gaya Bahasa dan Inovasi Hasan Mustapa
Hasan Mustapa memperkaya bahasa Sunda dengan memasukkan istilah Arab secara alami dan plastis ke dalam struktur kalimat Sunda. Ia menciptakan banyak variasi baru seperti "umaing" (aku yang memadat), "gumelis," dan lainnya. Puisinya juga menampilkan repetisi seperti wirid, memberikan efek mistik mendalam.
Kedalaman Mistisisme dan Simbolisme
Banyak sajaknya mengandung konsep-konsep seperti hakekat, jati, kawitining jadi, alam pasti, dan alam sirna. Semua ini merujuk pada lapisan makna mistis dalam Islam. Bahkan, ia dijuluki "Bagawan Sirna Dirasa" karena diyakini telah mencapai fase penghapusan ego.
Ia juga menggunakan simbol-simbol lokal (seperti Tangkal Tanjung untuk Sidratul Muntaha atau caruluk untuk proses spiritual) dengan makna universal. Kepekaannya dalam memetaforakan pengalaman mistik membuat puisi-puisinya menyentuh, meski sulit dipahami.
Tradisi dan Tantangan Pendidikan Bahasa dan Sastra Sunda
Sayangnya, banyak karya Hasan Mustapa belum diterjemahkan dan tidak dikenal luas, terutama karena bahasa Sunda semakin tersisih dari kurikulum pendidikan formal. Di masa sekarang, proses berguru sudah mulai hilang, digantikan dengan pembelajaran berbasis pengetahuan saja tanpa pendalaman nilai atau karakter.
Padahal, sosok seperti Hasan Mustapa hanya mungkin lahir dalam sistem pendidikan yang memungkinkan proses berguru dan penghayatan, bukan sekadar belajar.
Penutup dan Harapan
Diskusi ini menegaskan bahwa Hasan Mustapa adalah figur penting dalam sastra dan spiritualitas Sunda. Namun, pengenalan dan pelestarian karya-karyanya menghadapi tantangan besar dalam konteks pendidikan dan budaya saat ini. Upaya penerjemahan, pengarsipan, dan studi mendalam perlu terus dilakukan agar warisan ini tidak hilang begitu saja.
Komentar
Posting Komentar