Apa Itu Filsafat?... - Pengantar Filsafat 01 - Bambang I. Sugiharto
Seri Kuliah mengenai Pengantar Filsafat bersama narasumber Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto. Mata Kuliah Mahasiswa S1-Universitas Parahyangan
Apa Itu Filsafat?
Ketika berbicara tentang filsafat, kita tidak perlu langsung sibuk mencari definisi resmi yang baku. Definisi itu banyak sekali, dan setiap filsuf biasanya punya rumusan sendiri. Ada yang bahkan menolak definisi filsafat sebelumnya. Karena itu, lebih baik kita memulai dengan sebuah Working definition (definisi kerja) – sebuah pengertian sementara, yang bisa kita gunakan sebagai pegangan dalam percakapan kita.
Sebagai titik berangkat, filsafat bisa dipahami sebagai perenungan mendasar tentang hal-hal pokok dalam hidup manusia. Kata “mendasar” di sini bukan berarti sekadar sederhana, melainkan sesuatu yang radikal, total, dan rasional.
Radikal berarti menggali sampai ke akar, menelusuri pertanyaan-pertanyaan yang sering kali tampak naif, namun sebenarnya mendalam.
Total berarti menyangkut keseluruhan kehidupan, bukan hanya bagian kecil atau pengalaman pribadi saja.
Rasional berarti perenungan itu menggunakan akal budi, bukan semata-mata intuisi atau praktik asketis seperti tapa, kungkum, atau berpuasa yang sering dilakukan dalam tradisi-tradisi tertentu.
Pertanyaan Anak-Anak dan Hilangnya Rasa Ingin Tahu
Kalau kita perhatikan, anak-anak sering kali melontarkan pertanyaan yang justru sangat filosofis. Misalnya ketika disuruh makan, mereka bisa bertanya: “Kenapa harus makan?” Lalu dijawab: “Supaya sehat.” Mereka akan lanjut: “Kenapa harus sehat?” Dijawab: “Supaya bisa sekolah.” Masih belum puas: “Kenapa harus sekolah?” Dijawab: “Supaya pintar.” Lalu muncul lagi: “Kenapa harus pintar?” Hingga akhirnya orang tua kewalahan, mungkin marah, atau menutup pembicaraan dengan: “Udahlah, nanti kamu akan paham sendiri.”
Pertanyaan-pertanyaan anak ini sesungguhnya bersifat radikal, karena terus menggali sampai ke dasar. Namun sayangnya, ketika manusia bertambah usia, rasa ingin tahu itu semakin pudar. Orang dewasa sering kali berhenti bertanya. Mungkin karena takut salah, takut dianggap aneh, sibuk dengan urusan hidup, atau karena norma sosial membuat mereka malu mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar.
Padahal, sikap bertanya itu adalah akar dari filsafat. Tanpa pertanyaan, tidak ada perenungan. Dan tanpa perenungan, hidup sering kali dijalani begitu saja, tanpa kesadaran mendalam.
Situasi Batas: Saat Hidup Mengguncang
Meskipun rasa ingin tahu sering memudar, pada titik-titik tertentu manusia akan dipaksa kembali menghadapi pertanyaan mendasar. Biasanya ini muncul dalam situasi batas, istilah yang dipakai filsuf Karl Jaspers.
Situasi batas adalah pengalaman ekstrem yang membuat seseorang seakan “mentok” dengan hidup: Orang tua yang menanti anak selama bertahun-tahun, lalu kehilangan anak itu hanya beberapa tahun setelah lahir. Seorang yang kariernya cemerlang tiba-tiba dipecat tanpa alasan yang jelas. Pasangan yang penuh cinta dikhianati begitu saja.
Dalam saat-saat itu, hidup tiba-tiba kehilangan kepastian. Pertanyaan seperti “Apa arti semua ini?” atau “Apa maunya Tuhan?” menyeruak begitu saja. Semua yang tadinya terasa jelas, mendadak menjadi kabur.
Filsafat lahir dari situasi semacam ini: dari benturan manusia dengan misteri terdalam kehidupan. Misteri tentang hidup, mati, kebahagiaan, penderitaan, Tuhan, cinta, dan identitas diri. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang disebut ultimate questions – pertanyaan pamungkas yang tidak pernah benar-benar selesai dijawab.
Pertanyaan-Pertanyaan Paling Mendasar
Pertanyaan yang muncul dari hidup sering kali sederhana di permukaan, tetapi sebenarnya sangat mendasar:
Apa itu hidup? Mengapa kita harus mati? Apa arti kebahagiaan? Apakah ia tujuan akhir, atau justru syarat awal bagi hidup yang bermakna? Siapa saya? Siapakah orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak pernah memiliki jawaban yang mutlak. Misalnya tentang kebahagiaan: ada filsuf yang melihat kebahagiaan sebagai tujuan akhir — sesuatu yang baru tercapai setelah kita berjuang keras. Namun ada juga yang menekankan bahwa kebahagiaan justru adalah sumber awal — ketika hati bahagia, segala hal terasa lebih ringan, meskipun sederhana.
Dengan demikian, filsafat tidak pernah berhenti pada satu jawaban. Ia justru membuka ruang untuk melihat berbagai kemungkinan, membiarkan manusia terus menelusuri misteri hidup.
Radikal, Total, dan Rasional
Seperti disebut di awal, perenungan filosofis itu radikal, total, dan rasional. Radikal berarti pertanyaan ditelusuri sampai ke akar-akarnya. Sama seperti anak kecil yang tidak pernah puas dengan jawaban singkat, filsafat menolak berhenti pada jawaban dangkal.
Total berarti cakupan pertanyaannya menyeluruh, tidak hanya terbatas pada pengalaman pribadi atau budaya tertentu. Filsafat memandang manusia secara universal: siapakah manusia dibandingkan binatang, dibandingkan Tuhan, atau dibandingkan makhluk lain yang mungkin ada?
Rasional berarti filsafat tidak berhenti pada mitos atau keyakinan buta, melainkan berusaha ditopang dengan penalaran yang masuk akal. Rasional bukan berarti menolak agama, melainkan mencari pemahaman yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan siapa pun.
Karena itu, filsafat tidak tabu terhadap pertanyaan apa pun. Tentang Tuhan, seksualitas, iman, dosa — semua bisa dipertanyakan. Justru keberanian untuk mempertanyakan itulah yang membuat filsafat hidup.
Kompleksitas dan Ambiguitas Kehidupan
Namun, keberanian untuk bertanya juga punya risiko: kepastian-kepastian lama bisa runtuh. Belajar filsafat bisa membuat orang merasa “kehilangan pegangan”. Apa yang tadinya dianggap jelas, tiba-tiba menjadi kabur.
Di satu sisi, ini bisa menakutkan. Orang yang mencari kepastian absolut mungkin akan merasa filsafat berbahaya, karena justru memperlihatkan betapa rapuhnya dasar-dasar keyakinan kita. Tapi di sisi lain, bagi mereka yang berjiwa petualang, filsafat menjadi dunia yang penuh daya tarik. Ia seperti sebuah permainan intelektual: membuka lapisan demi lapisan, memperlihatkan wajah baru dari kenyataan yang sama.
Filsafat pada akhirnya bukan memberikan jawaban final, melainkan membuka kemungkinan-kemungkinan. Dari wajah orang lain saja, misalnya, ada filsuf yang berkata: “Orang lain adalah neraka bagiku, karena selalu mengawasi dan membatasi kebebasanku.” Tapi ada juga filsuf lain yang berkata: “Wajah orang lain adalah wajah Ilahi, sapaan yang memanggil kita keluar dari egoisme kita.” Dua pandangan yang sangat berbeda, tapi sama-sama terasa benar.
Dari sinilah kita belajar bahwa hidup memang kompleks, penuh ambiguitas. Dan justru dengan menyadari ambiguitas itu, kita bisa memahami realitas secara lebih dalam dan lebih jujur.
Filsafat dan Teologi
Dalam sejarah, filsafat sering disebut sebagai ancilla theologiae — pelayan bagi teologi. Artinya, filsafat berfungsi menyiapkan jalan bagi pemahaman iman. Sebab iman itu sendiri penuh kerumitan: berbicara tentang Tuhan, tentang roh, tentang pengalaman batin yang dalam dan tidak pernah sederhana.
Iman bukanlah sesuatu yang selalu indah dan tenang. Banyak orang beriman justru melewati masa krisis. Para mistikus besar pernah mengalami “malam gelap jiwa” — saat-saat ketika mereka merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Bahkan sosok seperti Bunda Teresa pernah mengaku ada masa di mana ia merasa kehilangan kehadiran Tuhan sama sekali.
Filsafat membantu agar iman tidak berhenti pada hitam putih: dosa–tidak dosa, boleh–tidak boleh. Ia mengajak kita memahami kompleksitas pengalaman manusia, sehingga iman tidak menjadi naif atau dangkal. Dengan filsafat, iman diperdalam, dimurnikan, dan diuji.
Krisis, Pertumbuhan, dan Petualangan Hidup
Belajar filsafat memang bisa memunculkan krisis. Ada mahasiswa yang tadinya bercita-cita menjadi pastor, lalu di tengah studi filsafat justru merasa ateis. Namun sering kali, krisis itu hanyalah fase — seperti pubertas. Setelah melewati masa penuh pertanyaan, banyak orang justru kembali menemukan iman dengan cara yang lebih matang, lebih dalam, dan lebih dewasa.
Kisah nyata pernah terjadi: seorang mahasiswa filsafat yang sempat jatuh dalam ateisme, akhirnya setelah bertahun-tahun kembali menjadi pastor dan bahkan melayani di pedalaman. Krisis yang dialaminya bukan akhir, melainkan bagian dari pertumbuhan.
Inilah pelajaran penting: filsafat mengajarkan bahwa hidup adalah sebuah perjalanan, bukan sekadar tujuan. Yang berharga bukan hanya “sampai di mana”, tetapi bagaimana kita menapaki jalan itu. Seperti kata Socrates: “Hidup yang tidak dikaji tidak layak dijalani.” Maka, mengkaji, mempertanyakan, dan mencari — itulah bagian dari hidup itu sendiri.
Menjadi Filsuf: Siapa dan Bagaimana?
Lalu siapa sebenarnya yang bisa disebut filsuf?
Dalam bahasa Indonesia, istilah “filsuf” biasanya dipakai untuk para pemikir besar: Plato, Aristoteles, Kant, Heidegger, dan lain-lain — orang-orang yang gagasannya mengubah arah pemikiran manusia. Namun dalam arti luas, setiap orang yang berani mempertanyakan hal-hal mendasar, menuliskan gagasan, dan membuka cara pandang baru, bisa disebut filsuf.
Yang penting bukan gelarnya, tetapi keberanian untuk bertanya secara radikal, berpikir secara total, dan menimbang secara rasional. Filsafat bukan sekadar koleksi teori, melainkan sebuah sikap hidup: keberanian untuk tidak puas dengan jawaban dangkal, dan kesediaan untuk terus menggali misteri.
Penutup
Filsafat bukan jalan yang mudah. Ia bisa mengguncang kepastian, menggiring pada krisis, bahkan membuat kita merasa tersesat. Namun bagi mereka yang berani bertualang, filsafat adalah sebuah perjalanan yang indah. Ia membuka kemungkinan-kemungkinan baru, memperlihatkan wajah lain dari realitas, dan menolong kita memahami kedalaman hidup manusia.
Filsafat, pada akhirnya, bukan sekadar ilmu, melainkan latihan untuk hidup dengan sadar — hidup yang dikaji, dipertanyakan, dan dimaknai.
Komentar
Posting Komentar