Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2012

Slavoj Zizek dan Cultural Studies: Antara Kritik dan Kesadaran Kultural

Gambar
Slavoj Žižek dan Cultural Studies Pada kesempatan ini kita akan membahas sebagian kecil dari pemikiran Slavoj Žižek, salah satu filsuf kontemporer yang paling berpengaruh dan eksentrik. Ketertarikan pada Žižek sering muncul karena sosoknya yang unik—namanya sulit dieja, tampilannya sederhana, dan cara bicaranya tidak biasa. Namun di balik penampilan itu, pemikirannya menjadi salah satu yang paling banyak dibicarakan di dunia filsafat dan kajian budaya masa kini. Bila kita membaca esai-esai Catatan Pinggir karya Gunawan Muhammad, banyak rujukannya datang dari tradisi psikoanalisis dan pemikiran pasca-struktural yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Žižek. Di Indonesia sendiri, pengaruh pemikirannya terasa dalam diskursus filsafat, sastra, dan cultural studies. Filsafat dan Cara Pandang terhadap Realitas Sebelum memahami posisi Žižek, penting untuk diingat bahwa setiap cabang ilmu lahir dari asumsi tertentu tentang realitas. Matematika, fisika, manajemen, maupun kedokteran, semuanya...

Relasi, Kebebasan, dan Moralitas dalam Eksistensialisme Sartre.

Gambar
  1. Eksistensi sebagai Proyek Pribadi Dalam kerangka filsafat eksistensialisme Jean-Paul Sartre, hidup manusia dipahami sebagai sebuah proyek pribadi yang terus-menerus dibentuk dan diperbarui . Sartre menolak gagasan bahwa manusia memiliki esensi bawaan—bahwa ada “natur” atau “hakikat” yang sudah menentukan siapa kita bahkan sebelum kita bertindak. Yang ada justru kebalikannya: eksistensi mendahului esensi . Artinya, manusia pertama-tama hadir sebagai makhluk yang “ada begitu saja,” dan justru melalui pilihan-pilihan serta tindakan-tindakannya ia membangun esensinya sendiri. Dengan demikian, hidup yang otentik menurut Sartre adalah hidup yang diarahkan oleh komitmen subjektif , bukan oleh norma eksternal, tradisi, atau dogma moral yang dianggap objektif. Hidup adalah proyek yang sepenuhnya individual, namun sekaligus rapuh, karena setiap pilihan selalu membawa konsekuensi bagi definisi diri kita. 2. Kebebasan dan Relasi Antarmanusia 2.1 Kebebasan sebagai Konflik Konsekuensi...

Eksistensialisme Sartre: Ontologi, Kebebasan, dan Ketidakotentikan dalam Kehidupan Manusia

Gambar
Dalam eksistensialisme ada banyak pemikir seperti Albert Camus dan Karl Jaspers. Tetapi tokoh yang paling eksplisit menyebut filsafatnya sebagai “eksistensialisme” adalah Jean-Paul Sartre. Nama Sartre sering diplesetkan dalam pengucapan—orang Prancis menyebutnya dengan aksen khas; orang Indonesia menyebut “Sartre”; bahkan ada candaan tentang orang Sunda dan Flores yang melafalkannya secara berbeda. Sartre wafat pada akhir tahun 1970-an. Ia adalah mahasiswa brilian di Sorbonne. Pasangan intelektualnya, Simone de Beauvoir, juga sama cerdasnya. Sejak awal, keduanya tertarik pada Marxisme dan pada fenomenologi Husserl. Sartre mempelajari fenomenologi secara mendalam, termasuk belajar di Jerman. Marxisme dan fenomenologi inilah yang menjadi kerangka dasar berpikirnya. Sejak kecil Sartre ingin menjadi sastrawan—menulis novel, drama, dan puisi. Dan memang, ia menghasilkan banyak karya drama, novel, kritik sastra, bahkan kritik seni rupa. Bagi Sartre, sastra adalah salah satu cara berfilsafat...

Struktur, Habitus, dan Kekuasaan Simbolik: Membaca Ulang Pemikiran Pierre Bourdieu dalam Konteks Sosial Modern

Gambar
  Pemikiran Pierre Bourdieu menjadi salah satu sumbangan penting dalam tradisi sosiologi modern karena mampu menjembatani dikotomi antara struktur sosial dan tindakan individu. Bourdieu menolak pandangan bahwa strategi kekuasaan hanya dapat dipahami pada tingkat makro—seperti politik negara atau sistem pemerintahan—dan mengajak kita untuk melihat kekuasaan pada tingkat mikro, yaitu dalam relasi antarindividu maupun antar kelompok sosial. Dalam hubungan sosial, selalu ada dinamika dominasi dan subordinasi: siapa yang mendominasi, siapa yang didominasi, serta faktor-faktor apa yang menentukan posisi tersebut. Untuk memahami mekanisme dominasi tersebut, Bourdieu memperkenalkan dua konsep kunci, yakni habitus dan kapital , yang kemudian berkembang menjadi empat konsep utama dalam keseluruhan teorinya: habitus , kapital , arena (field) , dan distinction . Keempat konsep ini membentuk kerangka berpikir Bourdieu dalam menjelaskan struktur kekuasaan dan reproduksi sosial. Pendekatan Bou...