Membaca Žižek: Filsafat, Psikoanalisis, dan Manusia Zaman Sekarang

 


Episode 01: 
Ngopi Bareng Zizek: Tentang Hasrat, Ideologi, dan Dunia yang Nggak Pernah Selesai


Membaca Žižek bersama Romo Thomas Kristiatmo seperti diajak nonton film yang absurd tapi bikin mikir panjang setelahnya. Ia memulai dari kisah lucu tentang dirinya sebagai “pastor muda” sebelum perlahan mengajak pendengarnya menyelami dunia Slavoj Žižek—filsuf Slovenia yang eksentrik, kacau, tapi jenius. Bagi Romo Thomas, Žižek adalah cermin dari zaman kita yang serba kabur antara benar dan salah, antara serius dan parodi. Ia tidak membangun sistem besar seperti Kant atau Hegel, melainkan mengguncang kebiasaan berpikir yang mapan. Dengan gaya seperti stand-up filosofis, Žižek menjelaskan teori rumit lewat film The Matrix atau Titanic, seolah mengatakan: filsafat bukan cuma untuk ruang kuliah, tapi juga untuk bioskop, iklan, dan percakapan di kafe.

Di balik keanehannya, Žižek menggabungkan tiga dunia besar: logika Hegel yang dialektis, kritik ideologi Marx yang tajam, dan psikoanalisis Lacan yang dalam. Dari sana, ia menunjukkan bahwa manusia modern hidup dalam paradoks: tahu sistemnya menipu, tapi tetap menikmatinya. Kita membeli bukan karena butuh, tapi karena ingin — dan hasrat itu sendiri tak pernah selesai. Bagi Žižek, luka dan kekurangan justru adalah sumber kehidupan. Itulah sebabnya Romo Thomas menutup kuliahnya dengan kalimat yang menggugah: “Filsafat sejati bukan yang membuatmu tenang, tapi yang membuatmu tak bisa lagi hidup dengan cara lama.” Lewat Žižek, kita diajak untuk berani berpikir, menertawakan diri, dan menghadapi kenyataan tanpa topeng ideologi — sebab di sanalah, kata Romo Thomas, filsafat tetap hidup.

Catatan tambahan: https://ytpustakamatahari.blogspot.com/2025/11/membaca-zizek-filsafat-psikoanalisis.html


:::



Dalam sesi kuliah ini, kita diajak memahami bahwa manusia modern hidup di zaman patahan—zaman percepatan, fragmentasi, dan ketidakpastian—di mana hidup tak lagi terasa sebagai kisah utuh, melainkan rangkaian kepingan pengalaman yang cepat berlalu. Dalam perjalanan panjang filsafat, subjek manusia terus berubah: dari dunia yang sepenuhnya dijamin dewa, menuju manusia sebagai pusat rasionalitas, lalu kembali diguncang oleh kritik yang menunjukkan bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya utuh, sadar, atau berdaulat atas dirinya sendiri. 

Melalui pembacaan pemikiran kontemporer: Slavoj Žižek, subjek dipahami bukan sebagai penguasa makna, tetapi sebagai makhluk yang “retak”—terbentuk justru dari kegagalan, ketegangan, dan ketidaklengkapan. Namun, retakan ini bukan kelemahan, melainkan sumber kemungkinan: karena tidak pernah sepenuhnya menyatu dengan dunia dan struktur yang membentuknya, manusia tetap mampu mengambil jarak, berpikir kritis, dan mencipta makna. 

Di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat dan tak memberi jaminan, subjektivitas manusia justru menemukan martabatnya—bukan dalam keutuhan yang sempurna, tetapi dalam keberanian untuk hidup, berpikir, dan bertanggung jawab di tengah ketidaktuntasan.


Uraian lebih lanjut: https://ytpustakamatahari.blogspot.com/2025/12/subjektivitas-dalam-zaman-patahan.html


:::

Episode 03:
Subjek sebagai Retakan Ontologis: Tafsir Slavoj Žižek tentang Subjektivitas, Hasrat, dan Realitas Kontemporer



Dalam pemikiran Slavoj Žižek, subjek manusia bukanlah pusat kesadaran yang utuh dan berdaulat, melainkan sebuah retakan dalam tatanan realitas—sebuah kekosongan yang justru memungkinkan makna, hasrat, dan refleksi muncul. Manusia selalu hidup dalam jarak antara dirinya dan dunia, terbelah oleh bahasa, struktur simbolik, serta kehilangan awal yang melahirkan hasrat tak pernah selesai. Di tengah teknologi dan realitas virtual yang menjanjikan kehadiran tanpa batas, keterpecahan ini justru semakin dalam, membuat manusia semakin jauh dari dirinya sendiri. Namun, di balik kerapuhan itu, Žižek menunjukkan bahwa kebebasan tetap ada—bukan sebagai kendali penuh, melainkan sebagai keberanian untuk menghadapi kekosongan, menerima keterbatasan, dan tetap bertanggung jawab atas pilihan-pilihan hidup di dunia yang tak pernah sepenuhnya bisa kita kuasai.

Catatan : https://ytpustakamatahari.blogspot.com/2025/12/subjek-sebagai-retakan-ontologis-tafsir.html


:::


Ngulik Zizek: Filsafat, Ideologi, dan Budaya yang Bikin Kita Nggak Nyadar Sedang Ditipu


Slavoj Žižek adalah filsuf nyentrik asal Slovenia yang sering bikin orang penasaran. Gaya bicaranya cepat, penampilannya sederhana, tapi pikirannya luar biasa tajam. Ia memadukan pemikiran Hegel, Marx, dan Lacan untuk memahami dunia modern—termasuk film, musik, dan budaya pop. Buat Žižek, hal-hal sehari-hari seperti film Hollywood atau lagu di radio bukan sekadar hiburan, tapi cermin dari cara manusia berpikir, berhasrat, dan menjalani hidupnya.

Meski dekat dengan kajian budaya, Žižek juga sering mengkritiknya. Ia menilai banyak Cultural Studies sekarang terlalu sibuk bermain teori dan melupakan kenyataan hidup. Ia menolak pandangan bahwa semua makna itu relatif, karena menurutnya, kalau semua dianggap sama, kita jadi kehilangan keberanian untuk menantang ketidakadilan. Ia juga menyoroti fenomena “korban yang narsistik”—orang yang merasa tertindas secara simbolik, padahal mereka hidup nyaman, sementara mereka yang benar-benar menderita justru tak terdengar.

Melalui cara berpikir yang penuh paradoks dan humor, Žižek mengingatkan bahwa di balik kebebasan modern, ideologi tetap bekerja diam-diam. Kita merasa bebas memilih, padahal pilihan itu sering sudah diarahkan. Karena itu, menurut Žižek, tugas filsafat dan kajian budaya bukan cuma menafsirkan dunia, tapi juga membantu kita sadar bagaimana dunia membentuk cara kita berpikir, menikmati, dan bahkan mempercayai sesuatu.

Catatan Kuliah: https://ytpustakamatahari.blogspot.com/2025/11/slavoj-zizek-dan-cultural-studies.html


_________________________


THE SUBLIME OBJECT OF IDEOLOGY
- Slavoj Zizek - Cara Ideologi Bekerja di Zaman Sekarang



"The Sublime Object of Ideology" karya Slavoj Žižek mengupas bagaimana ideologi beroperasi dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar sebagai kumpulan gagasan, tetapi sebagai struktur yang membentuk realitas kita tanpa kita sadari. Dengan menggabungkan teori psikoanalisis Lacan dan pemikiran Marxis, Žižek menjelaskan bagaimana fantasi berperan dalam mempertahankan sistem ideologi serta bagaimana ‘sublime object’ menjadi titik ketertarikan yang mengikat kita pada ilusi tersebut. Video ini membahas konsep-konsep kunci dalam buku ini, termasuk bagaimana ideologi justru bekerja paling efektif ketika tampak tak ada ideologi sama sekali, serta bagaimana kita bisa mulai membongkar mekanismenya dalam dunia modern.


Contents:
00:00 Intro.
01:03 Pengantar: Kemandekan Gagasan?
06:57 Pendahuluan.
11:39 The Symptom
16:07 Dari Symptom ke Sinthome
19:57 Lack in The Other (Kekurangan dalam Liyan)
24:41 You Only Die Twice
30:18 The Subject
35:17 Bukan Hanya sebagai Substansi, tetapi Juga sebagai Subjek
41:48 Kesimpulan Buku

:::

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar Filsafat - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Filsafat Kontemporer - Bambang I. Sugiharto

Apa Itu Filsafat?... - Pengantar Filsafat 01 - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Pemikiran Modern - Bambang I. Sugiharto

METAFISIKA KEBUDAYAAN - Bambang I. Sugiharto

Filsafat Ilmu - Bambang I. Sugiharto

Nietzsche & Keberanian Jadi Diri Sendiri

Postmodernisme

HERMENEUTIK - Bambang I. Sugiharto

Écrits dan Arsitektur Kajian Subjek - Lacan