INDIAN PHILOSOPHY (01) oleh Sarvapelli Radhakrishnan

 






Kata Pengantar

Walaupun dunia telah banyak berubah dalam hal-hal lahiriah dan material—seperti kemajuan alat komunikasi dan penemuan ilmiah—sesungguhnya tidak banyak yang berubah dalam sisi batin dan spiritual manusia. Dorongan dasar seperti rasa lapar dan cinta, juga kegembiraan sederhana serta ketakutan yang hidup di dalam hati manusia, tetap menjadi bagian abadi dari sifat manusia. Begitu pula kepentingan terdalam umat manusia, semangat keagamaan, dan pertanyaan-pertanyaan besar filsafat tidak pernah benar-benar tergantikan oleh perkembangan materi.

Pemikiran India merupakan salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan pikiran manusia, dan memiliki makna yang sangat berharga bagi kita. Gagasan para pemikir besar tidak pernah menjadi usang. Justru gagasan-gagasan itu terus menghidupkan kemajuan, bahkan ketika kemajuan itu tampak seolah menyingkirkannya. Kadang-kadang, pemikiran yang sangat kuno justru terasa mengejutkan karena begitu dekat dengan cara berpikir modern. Sebab, kedalaman pemahaman tidak selalu bergantung pada zaman modern.

Sayangnya, pengetahuan tentang pemikiran India masih sangat minim. Bagi banyak orang modern, filsafat India sering kali hanya dipahami sebagai beberapa gagasan yang dianggap “aneh”, seperti maya—anggapan bahwa dunia hanyalah ilusi; karma—kepercayaan tentang nasib; dan tyaga—keinginan asketis untuk melepaskan diri dari kenikmatan duniawi. Bahkan gagasan-gagasan sederhana ini sering dianggap dibungkus dengan istilah-istilah yang rumit dan membingungkan, penuh kata-kata yang tidak jelas, lalu dipandang oleh masyarakat setempat sebagai sesuatu yang luar biasa cerdas.

Tidak jarang seseorang yang baru melakukan perjalanan singkat selama enam bulan dari Kalkuta hingga Cape Comorin kemudian dengan mudah menyimpulkan bahwa seluruh kebudayaan dan filsafat India hanyalah perdebatan kosong yang tidak bernilai—sekadar permainan kata-kata, dan dianggap tidak memiliki kedalaman seperti pemikiran para filsuf besar Barat seperti Plato, Aristoteles, Plotinus, atau Bacon.

Namun, bagi pelajar yang sungguh-sungguh tertarik pada filsafat, pemikiran India menawarkan kekayaan gagasan yang luar biasa luas dan beragam, yang sulit ditemukan tandingannya di bagian dunia lain. Hampir setiap pencapaian besar dalam pemikiran spiritual maupun filsafat rasional di dunia memiliki padanannya dalam tradisi panjang pemikiran India, mulai dari para resi Weda kuno hingga para filsuf Naiyayika modern.

Meminjam ungkapan Profesor Gilbert Murray dalam konteks lain, India kuno memiliki keistimewaan besar—meskipun penuh tragedi—karena memulai dari tingkat paling dasar lalu terus berjuang, meski dengan penuh ketidakpastian, menuju puncak-puncak pemikiran tertinggi. Ungkapan polos para penyair Weda, kedalaman makna dalam Upanishad, analisis psikologis yang mengagumkan dari para pemikir Buddha, hingga sistem filsafat besar karya Shankara, semuanya sama menarik dan berharganya untuk dipelajari dari sudut pandang kebudayaan sebagaimana pemikiran Plato, Aristoteles, Kant, atau Hegel—asal kita mempelajarinya dengan sikap ilmiah yang terbuka, tanpa meremehkan masa lalu ataupun memandang rendah tradisi yang berbeda dari diri kita.

Istilah-istilah khas dalam filsafat India sering kali sulit diterjemahkan secara tepat ke dalam bahasa Inggris. Karena itu, dunia pemikiran India kerap terasa asing dan rumit bagi pembaca luar. Namun, jika kesulitan awal itu dapat dilewati, kita akan menemukan denyut kemanusiaan yang sama—suara hati manusia yang universal, yang pada dasarnya tidak bisa disebut semata-mata sebagai “India” ataupun “Eropa”. Bahkan jika pemikiran India dianggap tidak terlalu penting dari sudut pandang kebudayaan, tetap saja ia layak dipelajari, setidaknya karena perbedaannya dengan sistem pemikiran lain dan pengaruh besarnya terhadap kehidupan intelektual masyarakat Asia.

Karena kurangnya data kronologi yang akurat, sebenarnya agak keliru jika menyebut pembahasan ini sebagai sebuah “sejarah”. Dalam kajian pemikiran India, kesulitan untuk menemukan bukti sejarah yang benar-benar dapat dipercaya sangatlah besar. Menentukan tanggal pasti lahirnya sistem-sistem pemikiran India kuno adalah persoalan yang sekaligus menarik dan hampir mustahil diselesaikan. Hal ini telah melahirkan berbagai dugaan liar, rekonstruksi yang menakjubkan, hingga spekulasi yang sangat berani. Kesulitan lain muncul karena sumber-sumber yang tersedia sering kali tidak lengkap dan terpecah-pecah. Oleh sebab itu, penulis merasa ragu untuk menyebut karya ini sebagai Sejarah Filsafat India.

Dalam menjelaskan ajaran dari setiap aliran filsafat, penulis berusaha tetap dekat dengan sumber-sumber asli. Jika memungkinkan, penulis juga mencoba memberikan gambaran tentang kondisi yang melahirkan pemikiran tersebut, menelusuri pengaruh masa lalu terhadapnya, sekaligus menilai sumbangannya bagi perkembangan pemikiran manusia. Penulis berusaha menonjolkan hal-hal yang paling penting agar makna keseluruhan tidak tenggelam dalam rincian-rincian kecil, dan sebisa mungkin menghindari penilaian yang berangkat dari teori tertentu. Meski begitu, penulis sadar bahwa karyanya tetap mungkin disalahpahami.

Tugas seorang sejarawan memang tidak mudah, terutama dalam bidang filsafat. Seberapa pun seseorang mencoba bersikap hanya sebagai pencatat peristiwa dan membiarkan sejarah berbicara dengan alurnya sendiri—menunjukkan kesinambungan makna, mengkritik kesalahan, dan menilai keterbatasan suatu pemikiran—pandangan pribadi serta kecenderungan penulis pada akhirnya akan tetap terlihat. Dalam filsafat India, ada kesulitan tambahan lain: kita memiliki banyak kitab komentar yang ditulis lebih dekat dengan masa lahirnya teks asli. Karena lebih dekat secara waktu, komentar-komentar itu dianggap lebih mampu menjelaskan makna teks. Namun, ketika para penafsir berbeda pendapat satu sama lain, seseorang tidak mungkin hanya diam tanpa memberikan penilaian terhadap perbedaan tafsir tersebut.

Ungkapan pendapat pribadi seperti itu memang berisiko, tetapi hampir tidak mungkin dihindari. Penjelasan yang baik selalu melibatkan kritik dan penilaian. Menurut penulis, bersikap kritis tidak berarti kehilangan keadilan atau objektivitas. Penulis hanya berharap bahwa pembahasan dalam buku ini dilakukan dengan tenang dan tanpa emosi berlebihan, serta tidak ada usaha memutarbalikkan fakta demi mendukung pendapat yang sudah ditentukan sebelumnya. Tujuan utama penulis bukan sekadar menceritakan pandangan-pandangan filsafat India, melainkan menjelaskannya agar dapat dipahami dalam kerangka tradisi pemikiran Barat.

Perbandingan atau kesamaan yang ditunjukkan antara filsafat India dan filsafat Barat juga tidak boleh dipaksakan terlalu jauh. Kita harus ingat bahwa pemikiran filsafat India dirumuskan berabad-abad yang lalu, jauh sebelum berkembangnya pencapaian besar ilmu pengetahuan modern.

Berbagai bagian dari filsafat India sebenarnya telah dipelajari secara mendalam oleh banyak sarjana hebat di India, Eropa, dan Amerika. Beberapa karya filsafat juga telah diteliti secara kritis. Namun, belum banyak upaya untuk melihat sejarah pemikiran India sebagai satu kesatuan utuh dan sebagai perkembangan yang berkesinambungan. Padahal, hanya dengan melihatnya secara menyeluruh, berbagai tokoh dan gagasan di dalamnya dapat dipahami secara lengkap.

Menggambarkan perkembangan filsafat India sejak masa awal sejarah yang masih samar hingga menjadi jelas dalam perspektif yang utuh merupakan pekerjaan yang sangat besar dan berat. Tugas seperti itu bahkan melampaui kemampuan satu orang, sekalipun ia sangat rajin dan berilmu luas. Untuk menyusun sebuah ensiklopedia filsafat India yang benar-benar lengkap dibutuhkan bukan hanya bakat khusus dan pengabdian penuh, tetapi juga wawasan budaya yang luas serta kerja sama yang cerdas dari banyak pihak.

Buku ini tidak dimaksudkan lebih dari sekadar sebuah tinjauan umum tentang pemikiran India—sebuah gambaran singkat mengenai bidang yang sangat luas. Bahkan tugas seperti itu pun sebenarnya tidak mudah. Kebutuhan untuk merangkum materi yang begitu besar membuat penulis memikul tanggung jawab yang berat. Kesulitan itu semakin terasa karena tidak mungkin satu orang benar-benar menjadi ahli dalam semua bidang yang beragam ini. Akibatnya, penulis sering kali harus mengambil kesimpulan berdasarkan bukti-bukti yang bahkan tidak selalu dapat ia teliti secara mendalam sendiri.

Dalam persoalan kronologi, penulis hampir sepenuhnya bergantung pada hasil penelitian para sarjana yang dianggap kompeten di bidangnya. Penulis menyadari bahwa dalam upaya meninjau bidang yang begitu luas ini, masih banyak hal menarik yang tidak sempat dibahas, dan lebih banyak lagi yang hanya dijelaskan secara sangat singkat. Karena itu, karya ini sama sekali tidak mengklaim dirinya lengkap dalam arti apa pun. Tujuannya hanyalah memberikan gambaran umum mengenai hasil-hasil utama pemikiran India, agar dapat menjadi pengantar bagi mereka yang belum mengenalnya, sekaligus—jika memungkinkan—membangkitkan minat terhadap bidang yang memang layak mendapatkan perhatian besar. Bahkan jika buku ini dianggap belum berhasil sepenuhnya, setidaknya penulis berharap karya ini dapat membantu atau mendorong usaha-usaha lain di masa depan.

Rencana awal penulis sebenarnya adalah menerbitkan kedua jilid buku ini secara bersamaan. Namun, beberapa sahabat seperti Profesor J. S. Mackenzie menyarankan agar jilid pertama segera diterbitkan. Karena penyusunan jilid kedua masih membutuhkan waktu, sementara jilid pertama sudah cukup utuh untuk berdiri sendiri, penulis akhirnya memutuskan untuk menerbitkannya secara terpisah.

Salah satu ciri khas dari banyak pemikiran yang dibahas dalam buku ini adalah bahwa gagasan-gagasan tersebut tidak semata-mata lahir dari dorongan logis untuk menjawab teka-teki keberadaan manusia, melainkan juga dari kebutuhan praktis manusia akan pegangan hidup. Oleh sebab itu, sulit untuk menghindari pembahasan yang mungkin tampak lebih bersifat keagamaan daripada filosofis bagi sebagian pembaca. Hal ini terjadi karena dalam pemikiran India awal, hubungan antara agama dan filsafat memang sangat erat.

Meski demikian, jilid kedua nantinya akan lebih bersifat filosofis murni. Dalam berbagai darshana atau sistem filsafat India, minat teoritis mulai menjadi lebih dominan, walaupun hubungan erat antara pengetahuan dan kehidupan tetap tidak diabaikan.

Penulis juga menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih kepada banyak sarjana besar kajian Timur yang karya-karyanya sangat membantu proses penelitiannya. Tidak mungkin menyebutkan seluruh nama mereka satu per satu karena banyak di antaranya disebut di berbagai bagian buku ini. Namun beberapa tokoh penting yang perlu disebutkan antara lain adalah Max Müller, Paul Deussen, Arthur Berriedale Keith, Hermann Jacobi, Richard Garbe, Bal Gangadhar Tilak, Ramakrishna Gopal Bhandarkar, T. W. Rhys Davids, Caroline A. F. Rhys Davids, Hermann Oldenberg, Louis de La Vallée-Poussin, D. T. Suzuki, dan Sogen.

Beberapa karya penting yang baru terbit, seperti History of Indian Philosophy karya Surendranath Dasgupta dan Hinduism and Buddhism karya Charles Eliot, baru diterima penulis setelah naskah buku ini selesai dan dikirim ke penerbit pada Desember 1921, sehingga tidak sempat digunakan sebagai rujukan. Daftar pustaka yang dicantumkan di akhir setiap bab juga tidak dimaksudkan sebagai daftar yang lengkap, melainkan terutama untuk membantu pembaca berbahasa Inggris menemukan bahan bacaan lanjutan.

Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada J. S. Mackenzie dan V. Subrahmanya Aiyar yang telah meluangkan waktu membaca sebagian besar naskah dan koreksi cetak buku ini. Banyak manfaat diperoleh dari saran dan masukan mereka yang penuh perhatian. Penulis juga sangat berutang budi kepada Arthur Berriedale Keith karena telah membaca naskah cetak dan memberikan banyak komentar berharga.

Namun, rasa terima kasih terbesar penulis ditujukan kepada J. H. Muirhead, editor seri Library of Philosophy, atas bantuan besar dan kemurahan hatinya dalam mempersiapkan buku ini untuk diterbitkan. Ia bersedia melakukan pekerjaan berat membaca keseluruhan naskah sebelum diterbitkan, dan berbagai saran serta kritiknya sangat membantu penulis.

Penulis juga berterima kasih kepada Asutosh Mookerjee atas dukungan yang terus-menerus diberikan, serta fasilitas yang disediakan bagi pengembangan studi tingkat lanjut di Departemen Pascasarjana University of Calcutta.

November 1922


Filsafat India

Bab 1 — Pendahuluan

1. Keadaan Alamiah India

Agar pemikiran yang mendalam dapat berkembang, dan seni serta ilmu pengetahuan dapat tumbuh dengan baik, syarat pertama yang diperlukan adalah masyarakat yang stabil—masyarakat yang memberikan rasa aman dan waktu luang. Kebudayaan yang tinggi tidak mungkin lahir di tengah kehidupan kaum pengembara yang setiap hari harus berjuang hanya untuk bertahan hidup dan sering mati karena kekurangan. India, seolah-olah oleh takdir, ditempatkan di wilayah yang sangat kaya akan anugerah alam dan memiliki lingkungan yang mendukung kehidupan.

Pegunungan Himalaya yang sangat luas dan tinggi di satu sisi, serta lautan di sisi-sisi lainnya, membantu melindungi India dari serangan bangsa luar selama waktu yang panjang. Alam yang subur menyediakan makanan berlimpah sehingga manusia tidak harus terus-menerus bergulat keras demi mempertahankan hidupnya. Karena itu, orang India pada masa kuno tidak memandang dunia sebagai medan pertempuran tempat manusia saling berebut kekuasaan, kekayaan, dan dominasi.

Ketika tenaga manusia tidak habis digunakan untuk mengatasi persoalan hidup sehari-hari—seperti menaklukkan alam atau mengendalikan kekuatan dunia—perhatian manusia secara alami akan beralih kepada kehidupan yang lebih tinggi: bagaimana menjalani hidup yang lebih sempurna secara batin dan spiritual.

Mungkin juga iklim yang menenangkan membuat masyarakat India cenderung menyukai ketenangan dan kehidupan yang lebih menyendiri. Hutan-hutan luas dengan lorong-lorong pepohonan yang rindang memberi kesempatan besar bagi jiwa-jiwa yang tekun mencari kedamaian untuk berjalan dalam keheningan, tenggelam dalam renungan, dan melahirkan nyanyian-nyanyian penuh sukacita. Banyak orang yang lelah oleh kehidupan dunia pergi berziarah ke tempat-tempat alami seperti itu. Di sana mereka menemukan ketenangan batin dengan mendengarkan suara angin, gemuruh aliran air, kicauan burung, dan desir dedaunan. Setelah itu mereka kembali dengan hati yang lebih damai dan jiwa yang terasa segar kembali.

Di tempat-tempat pertapaan seperti ashrama dan tapovana—yakni pertapaan yang berada di tengah hutan—para pemikir India merenungkan persoalan-persoalan terdalam tentang kehidupan dan keberadaan manusia. Kehidupan yang aman, kekayaan alam yang melimpah, kebebasan dari rasa cemas, jarak dari kesibukan duniawi, serta tidak adanya dorongan praktis yang terlalu menekan, semuanya mendorong berkembangnya kehidupan spiritual dan intelektual di India.

Karena itulah, sejak awal sejarahnya, India memperlihatkan semangat pencarian batin yang kuat, kecintaan pada kebijaksanaan, dan gairah besar terhadap kegiatan-kegiatan intelektual yang lebih luhur.

Didukung oleh keadaan alam yang menguntungkan dan diberi ruang untuk merenungkan makna kehidupan secara mendalam, masyarakat India berhasil menghindari sesuatu yang oleh Plato dianggap sebagai bencana terbesar bagi manusia: kebencian terhadap akal dan pemikiran rasional. Dalam dialog Phaedo, Plato berkata, “Di atas segalanya, marilah kita berhati-hati agar satu kemalangan tidak menimpa kita: jangan sampai kita menjadi pembenci akal, sebagaimana sebagian orang menjadi pembenci manusia. Tidak ada kejahatan yang lebih besar bagi manusia selain menjadi pembenci nalar.”

Bagi manusia, kenikmatan memahami sesuatu adalah salah satu kebahagiaan paling murni. Dan hasrat orang India terhadap pencarian pemahaman itu menyala kuat dalam semangat intelektual mereka.

Di banyak negara lain, pemikiran tentang hakikat kehidupan sering dianggap hanya sebagai kemewahan atau kegiatan sampingan. Saat-saat penting lebih banyak diberikan untuk tindakan dan urusan praktis, sementara filsafat hanya menjadi selingan. Namun di India kuno, filsafat tidak dipandang sebagai pelengkap bagi ilmu atau seni lain. Filsafat justru menempati posisi penting yang berdiri sendiri dan dihormati sebagai bidang utama dalam kehidupan intelektual.

Di dunia Barat, bahkan pada masa kejayaannya sekalipun—seperti pada zaman Plato dan Aristotle—filsafat biasanya bergantung pada bidang lain sebagai penopangnya, misalnya politik atau etika. Pada Abad Pertengahan, filsafat banyak bertumpu pada teologi. Pada masa Francis Bacon dan Isaac Newton, filsafat dipengaruhi oleh ilmu alam. Sementara pada abad ke-19, filsafat banyak berkaitan dengan sejarah, politik, dan sosiologi.

Berbeda dengan itu, di India filsafat berdiri dengan kekuatannya sendiri. Semua bidang pengetahuan lain justru mencari inspirasi dan dasar pemikiran dari filsafat. Filsafat dipandang sebagai ilmu utama yang membimbing ilmu-ilmu lain; tanpa filsafat, ilmu-ilmu tersebut dianggap dapat kehilangan arah dan menjadi kosong makna. Dalam Mundaka Upanishad disebutkan bahwa Brahma-vidya—ilmu tentang Yang Abadi—merupakan dasar dari seluruh ilmu pengetahuan (sarva-vidya-pratishtha). Bahkan Kautilya mengatakan bahwa filsafat adalah “pelita bagi semua ilmu, sarana untuk menjalankan segala pekerjaan, dan penopang bagi semua kewajiban manusia.”

Karena filsafat merupakan usaha manusia untuk memahami alam semesta dan kehidupan, maka filsafat tidak dapat dilepaskan dari pengaruh ras dan kebudayaan tempat ia berkembang. Setiap bangsa memiliki cara berpikir dan kecenderungan intelektual yang khas. Dalam perjalanan sejarah India yang panjang, meskipun negeri itu mengalami banyak perubahan dan pergolakan, tetap terlihat adanya identitas tertentu yang kuat dan berkesinambungan.

India mempertahankan ciri-ciri psikologis tertentu yang menjadi warisan khasnya. Selama bangsa India tetap mempertahankan keberadaannya sebagai masyarakat yang berbeda, ciri-ciri itu akan terus menjadi tanda khas mereka.

Kepribadian suatu bangsa berarti kebebasan untuk berkembang dengan caranya sendiri, bukan berarti harus sepenuhnya berbeda dari bangsa lain. Tidak mungkin ada perbedaan yang mutlak, karena manusia di seluruh dunia pada dasarnya memiliki sifat yang sama, terutama dalam hal kehidupan batin dan spiritual. Perbedaan-perbedaan yang muncul biasanya berasal dari perbedaan sejarah, pengalaman, usia peradaban, dan watak masyarakatnya. Justru perbedaan-perbedaan itu memperkaya kebudayaan dunia, sebab tidak ada satu jalan tunggal menuju perkembangan filsafat, sebagaimana tidak ada satu jalan tunggal menuju pencapaian besar lainnya.

Sebelum membahas ciri khas pemikiran India, penulis merasa perlu menyinggung secara singkat tentang pengaruh Barat terhadap pemikiran India.

Sering muncul pertanyaan: apakah pemikiran India meminjam gagasan dari bangsa lain, terutama dari Yunani? Memang, beberapa gagasan para pemikir India tampak mirip dengan ajaran yang berkembang di Yunani kuno. Karena kemiripan itu, orang yang ingin meremehkan suatu sistem pemikiran dapat dengan mudah menuduh bahwa gagasan tersebut hanyalah hasil pinjaman. Namun menurut penulis, perdebatan mengenai asal-usul suatu ide sering kali tidak terlalu berguna.

Bagi pikiran yang objektif, kemiripan itu lebih tepat dipahami sebagai perkembangan yang berjalan sejajar dalam sejarah. Pengalaman manusia yang serupa dapat melahirkan pemikiran yang serupa pula di tempat yang berbeda. Tidak ada bukti nyata yang menunjukkan bahwa India secara langsung meminjam gagasan filsafat dari Barat. Dari keseluruhan perkembangan pemikiran India dapat dilihat bahwa filsafat India merupakan hasil pencarian mandiri dari akal manusia. Persoalan-persoalan filsafat dibahas secara independen, tanpa bergantung pada pengaruh Barat.

Walaupun India kadang memiliki hubungan dengan dunia Barat, negeri itu tetap memiliki kebebasan untuk mengembangkan kehidupan ideal, filsafat, dan agamanya sendiri. Apa pun asal-usul bangsa Arya yang datang ke wilayah India, setelah menetap mereka segera terputus dari hubungan dengan kerabat mereka di Barat maupun di Utara, lalu berkembang menurut jalannya sendiri.

Memang benar bahwa India berkali-kali diserang oleh pasukan yang datang melalui jalur barat laut. Namun, kecuali ekspedisi Alexander the Great, serangan-serangan itu hampir tidak membawa pertukaran spiritual atau intelektual antara India dan dunia luar. Hubungan yang lebih dekat baru mulai berkembang pada masa kemudian, terutama ketika jalur laut membuka hubungan yang lebih intensif antara India dan bangsa-bangsa lain. Namun dampak penuh dari hubungan itu belum dapat dipastikan, karena prosesnya masih terus berlangsung.

Karena itu, untuk tujuan pembahasan ini, pemikiran India dapat dipandang sebagai suatu sistem yang berkembang secara mandiri—sebuah pertumbuhan intelektual yang lahir dari kekuatan dan pengalaman batinnya sendiri.


2. Ciri-Ciri Umum Pemikiran India

Dominasi Spiritualitas dalam Filsafat India

Filsafat di India pada dasarnya bersifat spiritual. Kekuatan utama peradaban India bukanlah pada sistem politik yang besar ataupun organisasi sosial yang kuat, melainkan pada kedalaman spiritualitasnya. Justru kekuatan batin inilah yang membuat India mampu bertahan menghadapi kerasnya perjalanan sejarah dan berbagai perubahan zaman.

Sepanjang sejarahnya, peradaban India berkali-kali hampir hancur akibat serangan dari luar maupun konflik dari dalam. Bangsa Yunani, Scythia, Persia, Mogul, Prancis, hingga Inggris pernah mencoba menaklukkan dan menekan peradaban India. Namun, India tetap bertahan dan tidak pernah benar-benar kehilangan jati dirinya. Api spiritual yang telah lama menyala di dalam dirinya terus hidup hingga sekarang.

Sejak dahulu, kehidupan India digerakkan oleh satu tujuan utama: mencari kebenaran dan melawan kesesatan. Mungkin dalam perjalanannya bangsa ini pernah melakukan kesalahan, tetapi mereka selalu berusaha menjalankan apa yang diyakini benar dan menjadi panggilan hidup mereka. Karena itu, sejarah pemikiran India menunjukkan pencarian tanpa akhir dari pikiran manusia—selalu tua namun selalu baru.

Semangat spiritual sangat mendominasi kehidupan di India. Filsafat India tidak lahir jauh dari kehidupan manusia sehari-hari, melainkan tumbuh dari pengalaman hidup manusia itu sendiri dan kembali memberi arah bagi kehidupan setelah melalui proses pemikiran yang mendalam.

Karya-karya besar filsafat India tidak ditulis dengan gaya yang kaku dan jauh dari masyarakat umum, sebagaimana sering terlihat dalam komentar-komentar akademis di masa belakangan. Kitab-kitab seperti Bhagavad Gita dan Upanishads sangat dekat dengan keyakinan dan kehidupan masyarakat. Karya-karya itu bukan hanya teks filsafat tinggi, tetapi juga bagian dari sastra besar bangsa India yang hidup di tengah rakyat.

Sementara itu, Puranas menyampaikan kebenaran filosofis melalui cerita-cerita dan mitos agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas. Dengan cara itu, India berhasil melakukan sesuatu yang sulit dilakukan di banyak tempat lain: membuat gagasan metafisika yang rumit dapat menarik perhatian masyarakat umum.

Para pendiri aliran filsafat di India tidak hanya ingin membangun teori pemikiran, tetapi juga ingin melakukan pembaruan sosial dan spiritual dalam masyarakat. Ketika peradaban India disebut sebagai peradaban Brahmanis, maksudnya bukan sekadar bahwa ia dipimpin oleh kaum Brahmana berdasarkan keturunan, melainkan bahwa arah dan semangat utama peradaban itu dibentuk oleh para pemikir filsafat dan tokoh spiritualnya.

Gagasan Plato bahwa para filsuf seharusnya menjadi pembimbing dan pengarah masyarakat tampaknya benar-benar diwujudkan dalam tradisi India. Kebenaran tertinggi dipandang sebagai kebenaran spiritual, dan kehidupan manusia harus disempurnakan berdasarkan pemahaman terhadap kebenaran tersebut.



Hubungan antara Agama dan Filsafat

Agama di India tidak bersifat kaku atau dogmatis. Ia berkembang sebagai perpaduan rasional yang terus menyerap gagasan-gagasan baru seiring berkembangnya filsafat. Agama dipandang sebagai sesuatu yang terbuka untuk diuji dan dikembangkan, selalu berusaha mengikuti kemajuan pemikiran manusia.

Sering kali muncul kritik bahwa pemikiran India terlalu menekankan akal sehingga filsafat seolah menggantikan posisi agama. Namun sebenarnya hal itu justru menunjukkan bahwa agama di India memiliki sifat rasional. Hampir tidak ada gerakan keagamaan di India yang muncul tanpa disertai dasar pemikiran filosofis yang kuat.

E. B. Havell pernah mengatakan bahwa di India agama bukanlah sekadar kumpulan dogma, melainkan sebuah hipotesis praktis tentang bagaimana manusia harus hidup, yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan spiritual dan kondisi kehidupan yang berbeda-beda.

Ketika agama mulai membeku menjadi keyakinan yang kaku, biasanya akan muncul kebangkitan spiritual dan reaksi filosofis yang menguji kembali keyakinan-keyakinan lama itu. Melalui kritik dan perenungan, ajaran yang benar dipertahankan, sedangkan yang salah ditolak.

Berulang kali dalam sejarah India kita melihat bahwa ketika keyakinan lama tidak lagi memadai bagi zaman baru, muncullah tokoh-tokoh besar yang membawa pembaruan spiritual. Tokoh-tokoh seperti Gautama Buddha, Mahavira, Vyasa, atau Adi Shankaracharya hadir mengguncang kehidupan batin masyarakat dan membuka jalan pemikiran baru.

Momen-momen seperti itu merupakan saat-saat penting dalam sejarah pemikiran India—masa ketika manusia melakukan perenungan mendalam dan memperoleh visi baru tentang kehidupan. Pada saat-saat seperti itu, jiwa manusia seakan memulai perjalanan baru menuju pemahaman yang lebih tinggi.

Hubungan yang sangat dekat antara filsafat dan kehidupan sehari-hari inilah yang membuat agama di India tetap hidup dan terasa nyata bagi masyarakat.

Persoalan-persoalan agama juga menjadi pendorong utama berkembangnya filsafat. Sejak lama, pikiran masyarakat India dipenuhi pertanyaan-pertanyaan besar: apa hakikat Tuhan, apa tujuan hidup manusia, dan bagaimana hubungan jiwa individu dengan jiwa universal.

Memang, filsafat India sering kali tidak sepenuhnya melepaskan diri dari spekulasi keagamaan. Namun pembahasan filosofisnya tetap tidak dibatasi oleh bentuk-bentuk keagamaan yang sempit. Agama dan filsafat saling berkaitan erat, tetapi keduanya tidak dicampuradukkan begitu saja.

Karena hubungan yang sangat dekat antara teori dan praktik, antara ajaran dan kehidupan nyata, sebuah filsafat yang tidak mampu diterapkan dalam kehidupan tidak akan bertahan lama. Bukan dalam arti pragmatis sempit, melainkan dalam arti bahwa pemikiran itu harus benar-benar memberi makna bagi kehidupan manusia.

Bagi mereka yang memahami hubungan mendalam antara pemikiran dan kehidupan, filsafat menjadi jalan hidup—sebuah cara untuk mencapai kesadaran spiritual.

Di India, tidak ada ajaran filsafat yang hanya menjadi teori kosong atau sekadar dogma sekolah pemikiran, bahkan aliran seperti Samkhya sekalipun. Setiap ajaran dihayati sebagai keyakinan yang sungguh-sungguh, yang mampu menggugah hati manusia dan memberi semangat baru bagi kehidupannya.


Kebebasan Berpikir dalam Tradisi India

Tidak benar jika dikatakan bahwa filsafat di India tidak pernah berkembang menjadi pemikiran yang kritis dan sadar akan dirinya sendiri. Bahkan sejak tahap awal perkembangannya, pemikiran rasional sudah mulai digunakan untuk meninjau dan memperbaiki keyakinan keagamaan. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan pemikiran yang terjadi antara nyanyian-nyanyian suci dalam Vedas hingga pemikiran yang lebih mendalam dalam Upanishads.

Ketika memasuki masa Buddhism, semangat filsafat di India telah berkembang menjadi sikap intelektual yang sangat percaya diri. Dalam persoalan pemikiran, sikap ini tidak tunduk pada otoritas luar dan tidak membatasi pencarian kebenaran, kecuali oleh tuntutan logika itu sendiri. Akal digunakan untuk menguji segala sesuatu, mempertanyakan segala keyakinan, dan mengikuti argumentasi sampai ke mana pun ia membawa.

Ketika berbagai darshana atau sistem filsafat India berkembang, tampak usaha besar dan terus-menerus untuk membangun pemikiran yang sistematis. Betapa bebasnya sistem-sistem itu dari tekanan tradisi agama dapat dilihat dari berbagai contohnya.

Aliran Samkhya, misalnya, hampir tidak membahas keberadaan Tuhan dan bahkan menganggap keberadaan Tuhan tidak dapat dibuktikan secara teoritis. Aliran Vaisheshika dan Yoga memang menerima adanya Tuhan tertinggi, tetapi tidak menganggap-Nya sebagai pencipta alam semesta. Sementara Jaimini hanya menyebut Tuhan untuk menolak gagasan bahwa Tuhan mengatur dunia secara moral.

Sistem-sistem awal Buddhisme bahkan dikenal tidak terlalu mempersoalkan keberadaan Tuhan. Selain itu, ada pula kaum materialis Charvaka yang secara terang-terangan menolak Tuhan, mengejek para pendeta, mengkritik Vedas, dan menganggap kenikmatan hidup sebagai jalan keselamatan.

Menariknya, meskipun agama dan tradisi sosial memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat India, hal itu tidak menghambat kebebasan berpikir dalam filsafat. Ada semacam paradoks yang unik: dalam kehidupan sosial seseorang mungkin terikat ketat oleh sistem kasta, tetapi dalam urusan pemikiran ia memiliki kebebasan yang luas.

Akal bebas mempertanyakan dan mengkritik keyakinan yang diwariskan sejak lahir. Karena itulah, di India dapat tumbuh berbagai macam pemikir: kaum skeptis, penentang ajaran umum, rasionalis, pemikir bebas, materialis, hingga pencari kenikmatan hidup. Dalam Mahabharata bahkan dikatakan, “Tidak ada seorang muni atau pertapa yang tidak memiliki pendapatnya sendiri.”

Semua ini menunjukkan kuatnya tradisi intelektual dalam pemikiran India. Pikiran India selalu berusaha memahami kebenaran terdalam dan hukum yang mengatur berbagai sisi kehidupan manusia.

Dorongan intelektual ini tidak hanya terbatas pada filsafat dan teologi, tetapi juga meluas ke bidang logika, tata bahasa, retorika, bahasa, kedokteran, astronomi, hingga berbagai seni dan ilmu lainnya—mulai dari arsitektur sampai ilmu tentang hewan. Segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan atau menarik bagi pikiran manusia dijadikan objek penelitian dan kritik.

Bahkan hal-hal yang tampak kecil, seperti cara membiakkan kuda atau melatih gajah, memiliki kitab dan ilmu khususnya sendiri. Hal ini menunjukkan betapa luas dan menyeluruhnya kehidupan intelektual dalam tradisi India.


Psikologi dan Etika dalam Filsafat India

Usaha filsafat untuk memahami hakikat kenyataan bisa dimulai dari dua arah: dari diri manusia yang berpikir, atau dari objek yang dipikirkan. Dalam tradisi India, perhatian utama filsafat lebih diarahkan pada diri manusia itu sendiri.

Jika perhatian diarahkan keluar, pikiran manusia akan terseret oleh arus peristiwa dunia yang terus berubah. Namun di India berkembang ajaran: Atmanam viddhi — “kenalilah dirimu sendiri.” Ajaran ini menjadi inti dari banyak pemikiran spiritual India. Di dalam diri manusia dipercaya terdapat roh atau jiwa yang menjadi pusat dari seluruh keberadaan.

Karena itu, psikologi dan etika menjadi dasar penting dalam filsafat India. Kehidupan batin manusia dipelajari dengan sangat rinci—dengan segala perubahan, gerak halus, dan kerumitan perasaannya.

Psikologi India menyadari pentingnya konsentrasi pikiran dan menganggapnya sebagai jalan untuk mencapai kebenaran. Mereka percaya bahwa melalui latihan kehendak dan pengetahuan yang teratur, manusia dapat mencapai tingkat-tingkat kesadaran yang lebih tinggi.

Tradisi India juga melihat adanya hubungan erat antara pikiran dan tubuh. Pengalaman-pengalaman psikis seperti telepati atau kemampuan melihat sesuatu di luar penglihatan biasa tidak dianggap sebagai sesuatu yang aneh atau mukjizat semata. Pengalaman semacam itu dipandang sebagai kemampuan alami manusia yang dapat muncul dalam kondisi tertentu melalui latihan dan disiplin batin.

Menurut pandangan ini, pikiran manusia memiliki tiga tingkat: alam bawah sadar, kesadaran biasa, dan kesadaran yang lebih tinggi atau superconscious. Berbagai pengalaman yang sering dianggap “tidak biasa”—seperti ekstase spiritual, ilham besar, kejeniusannya seseorang, bahkan kegilaan—dipandang sebagai aktivitas dari tingkat kesadaran yang lebih tinggi tersebut.

Sistem Yoga secara khusus membahas pengalaman-pengalaman batin seperti itu, walaupun sistem filsafat India lainnya juga mengakuinya dan memanfaatkannya dalam ajaran mereka.

Berbagai teori metafisika dalam filsafat India banyak dibangun berdasarkan pengamatan terhadap pengalaman psikologis manusia. Karena itu muncul kritik terhadap metafisika Barat yang dianggap terlalu terbatas karena hanya berfokus pada keadaan sadar saat manusia terjaga.

Menurut pemikiran India, ada bentuk-bentuk kesadaran lain yang sama pentingnya untuk dipelajari. Kesadaran saat terjaga, saat bermimpi, dan saat tidur tanpa mimpi semuanya perlu diperhitungkan untuk memahami kenyataan secara utuh.

Jika manusia hanya menganggap kesadaran saat terjaga sebagai satu-satunya kenyataan, maka akan muncul pandangan metafisika yang realistis, dualistis, atau pluralistis. Jika yang dipelajari hanya pengalaman mimpi, maka pemikiran akan cenderung menjadi subjektif. Sedangkan pengalaman tidur tanpa mimpi dapat mendorong lahirnya pandangan mistik dan abstrak.

Karena itu, menurut filsafat India, kebenaran sejati hanya dapat dipahami jika semua bentuk kesadaran manusia diperhitungkan bersama-sama.


Sains dan Logika dalam Tradisi India

Dominannya perhatian filsafat India pada dunia batin dan pengalaman subjektif bukan berarti India tidak memberikan sumbangan dalam ilmu-ilmu objektif atau sains. Justru jika kita melihat pencapaian nyata India dalam bidang ilmu pengetahuan, akan tampak bahwa peradaban India memiliki kontribusi yang sangat besar.

Masyarakat India kuno meletakkan dasar-dasar penting bagi perkembangan matematika dan ilmu mekanika. Mereka melakukan pengukuran tanah, membagi perhitungan tahun, memetakan langit, menelusuri pergerakan matahari dan planet-planet di sepanjang jalur zodiak, meneliti susunan materi, serta mempelajari sifat-sifat burung, hewan, tumbuhan, dan benih-benih tanaman.

Apa pun perdebatan mengenai asal-usul awal ilmu astronomi di dunia, banyak ahli menganggap bahwa bangsa India memiliki peranan penting dalam penemuan aljabar serta penerapannya dalam astronomi dan geometri. Dari India pula bangsa Arab menerima dasar-dasar analisis aljabar serta sistem angka dan notasi desimal yang kemudian digunakan luas di Eropa dan memberikan sumbangan besar bagi perkembangan ilmu hitung modern.

Pergerakan bulan dan matahari diamati dengan sangat teliti oleh para ilmuwan India kuno. Bahkan perhitungan mereka mengenai siklus peredaran bulan dianggap lebih akurat dibandingkan pencapaian bangsa Yunani pada masa itu. Mereka juga membagi jalur peredaran matahari (ekliptika) menjadi dua puluh tujuh atau dua puluh delapan bagian, yang tampaknya didasarkan pada siklus harian bulan.

Orang India kuno juga memiliki pengetahuan yang mendalam tentang planet-planet utama. Mereka memasukkan siklus planet Jupiter, bersama siklus matahari dan bulan, ke dalam sistem kalender mereka dalam bentuk siklus enam puluh tahunan—sebuah sistem yang juga dikenal oleh bangsa Chaldea kuno.

Kini banyak ahli mengakui bahwa bangsa India sejak masa awal telah mengembangkan dua bidang ilmu penting: logika dan tata bahasa. Horace Hayman Wilson pernah menulis bahwa dalam bidang kedokteran, astronomi, dan metafisika, bangsa India pernah sejajar dengan bangsa-bangsa paling maju di dunia. Mereka mencapai tingkat kemampuan tinggi dalam ilmu pengobatan dan bedah, sejauh yang mungkin dicapai sebelum ilmu anatomi modern berkembang melalui penelitian ilmiah di kemudian hari.

Memang benar bahwa India tidak menghasilkan banyak penemuan mesin besar seperti yang muncul di Eropa pada masa modern. Namun menurut penulis, hal ini sebagian disebabkan oleh kondisi alam India yang sangat subur dan kaya sumber daya alam. Sungai-sungai besar dan persediaan makanan yang melimpah membuat masyarakat tidak terlalu terdorong untuk menciptakan teknologi mekanis demi bertahan hidup.

Selain itu, banyak penemuan mekanis besar baru berkembang setelah abad ke-16, pada masa ketika India telah kehilangan kemerdekaannya dan mulai berada di bawah pengaruh bangsa-bangsa asing. Penulis bahkan berpendapat bahwa ketika India kehilangan kebebasannya dan mulai bergantung pada bangsa lain, perkembangan kreatifnya menjadi terhambat. Sebelum masa itu, India mampu berdiri sejajar dalam bidang seni, kerajinan, industri, matematika, astronomi, kimia, kedokteran, bedah, dan berbagai cabang ilmu alam lainnya.

Bangsa India kuno memiliki kemampuan tinggi dalam memahat batu, melukis, memoles emas, dan menenun kain-kain mewah. Mereka mengembangkan berbagai seni rupa dan industri yang menjadi dasar kehidupan masyarakat beradab.

Kapal-kapal India berlayar melintasi lautan, sementara kekayaan negeri itu mengalir hingga ke wilayah Judaea, Egypt, dan Roman Empire. Gagasan mereka tentang manusia, masyarakat, moralitas, dan agama juga sangat maju untuk zamannya.

Karena itu, tidak adil jika mengatakan bahwa masyarakat India hanya tenggelam dalam puisi dan mitologi sambil mengabaikan sains dan filsafat. Memang benar bahwa mereka lebih tertarik mencari kesatuan mendasar di balik segala sesuatu daripada menekankan perbedaan dan pemisahan antarhal.

Penulis kemudian membedakan antara cara berpikir spekulatif dan cara berpikir ilmiah. Pikiran spekulatif cenderung bersifat sintetis—berusaha melihat keseluruhan realitas dalam satu gambaran besar yang menyatukan asal-usul dunia, perjalanan zaman, hingga kehancuran alam semesta.

Sebaliknya, pikiran ilmiah lebih bersifat analitis. Ia cenderung memusatkan perhatian pada rincian-rincian khusus dari dunia dan terkadang kehilangan pandangan tentang kesatuan dan keutuhan dari seluruh kenyataan.


Perbandingan Pendekatan Filsafat India dan Barat

Pemikiran India cenderung berusaha memahami kehidupan melalui pandangan yang luas, menyeluruh, dan tidak terlalu berpusat pada kepentingan pribadi. Karena itu, para pengkritiknya sering menuduh filsafat India terlalu idealistis dan terlalu tenggelam dalam perenungan—seolah-olah hanya menghasilkan para pemimpi yang jauh dari kenyataan hidup sehari-hari. Sebaliknya, pemikiran Barat sering dipandang lebih praktis, lebih terfokus pada hal-hal konkret dan khusus.

Pemikiran Barat banyak bergantung pada apa yang ditangkap oleh pancaindra, sedangkan pemikiran India lebih mengandalkan pengalaman batin atau “indra jiwa” dalam usaha memahami kenyataan.

Sekali lagi, menurut penulis, kondisi alam India turut membentuk kecenderungan kontemplatif ini. Kehidupan yang relatif tenang dan tersedianya waktu luang memungkinkan masyarakat India menikmati keindahan dunia dan mengekspresikan kehidupan batin mereka melalui lagu, cerita, musik, tarian, ritual, dan agama—tanpa terlalu terganggu oleh pergulatan keras dunia luar.

Istilah “Timur yang termenung” (the brooding East), yang sering digunakan secara merendahkan, sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Cara pandang India yang menyeluruh dan sintetis membuat filsafat di sana mencakup banyak bidang ilmu yang pada zaman modern kemudian dipisahkan menjadi disiplin tersendiri.

Di Barat, selama sekitar seratus tahun terakhir, banyak cabang ilmu yang sebelumnya masih termasuk dalam filsafat—seperti ekonomi, politik, moral, psikologi, dan pendidikan—secara bertahap dipisahkan menjadi bidang ilmu mandiri.

Pada masa Plato, filsafat mencakup semua ilmu yang berkaitan dengan sifat manusia dan menjadi inti dari pencarian intelektual manusia. Hal yang sama juga ditemukan dalam kitab-kitab kuno India, di mana filsafat mencakup hampir seluruh bidang pemikiran penting manusia.

Namun dalam perkembangan berikutnya di Barat, filsafat semakin dipersempit hingga sering dianggap hanya berarti metafisika—yakni pembahasan abstrak tentang pengetahuan, keberadaan, dan nilai. Karena itu muncul kritik bahwa metafisika Barat menjadi terlalu teoritis dan terputus dari sisi imajinatif maupun praktis kehidupan manusia.

Jika kecenderungan subjektif dalam pemikiran India digabungkan dengan dorongannya untuk melihat segala sesuatu secara menyeluruh, maka muncullah pandangan yang disebut idealisme monistik—pandangan bahwa seluruh kenyataan pada dasarnya merupakan satu kesatuan.

Menurut penulis, seluruh perkembangan pemikiran dalam Vedas mengarah pada pandangan ini. Agama-agama besar India, baik tradisi Brahmanis maupun Buddhism, juga dibangun di atas dasar pemikiran tersebut. Bagi India, inilah bentuk kebenaran tertinggi yang pernah dicapai.

Bahkan sistem-sistem filsafat yang secara terbuka menyebut dirinya dualistis atau pluralistis tetap tampak dipengaruhi oleh semangat monisme yang kuat. Jika kita mengabaikan perbedaan-perbedaan detail antaraliran dan melihat semangat umumnya, maka tampak bahwa pemikiran India memiliki kecenderungan besar untuk memahami kehidupan dan alam semesta sebagai suatu kesatuan yang mendasar.

Kecenderungan ini sangat lentur dan kaya bentuk. Ia dapat muncul dalam berbagai ajaran yang berbeda, bahkan dalam ajaran-ajaran yang saling bertentangan sekalipun.

Penulis kemudian menyebutkan empat bentuk utama idealisme monistik dalam pemikiran India, tanpa membahas rincian dan kritiknya secara mendalam. Penjelasan ini dimaksudkan untuk membantu memahami bagaimana filsafat dipandang dalam tradisi India.

Empat bentuk tersebut adalah:

  1. Non-dualisme (Advaita) — pandangan bahwa pada akhirnya tidak ada perbedaan sejati antara diri individu dan realitas tertinggi.

  2. Monisme murni — pandangan bahwa seluruh kenyataan berasal dari satu hakikat tunggal.

  3. Monisme yang dimodifikasi — pandangan bahwa realitas adalah satu, tetapi tetap mengandung perbedaan-perbedaan tertentu di dalamnya.

  4. Monisme implisit — pandangan yang tidak secara langsung menyatakan kesatuan mutlak, tetapi tetap mengarah pada gagasan tentang kesatuan dasar dari segala sesuatu.



Metode Filsafat dalam Pemikiran India

Filsafat berangkat dari fakta-fakta pengalaman manusia. Namun pengalaman saja tidak cukup. Diperlukan pemikiran logis untuk memastikan apakah pengalaman yang dialami seseorang benar-benar dapat diterima secara umum atau hanya bersifat pribadi dan subjektif. Sebuah teori dianggap benar apabila mampu menjelaskan fakta-fakta pengalaman secara memadai.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, para pemikir India mempelajari pengalaman batin dan kesadaran manusia dengan ketelitian yang sama besarnya seperti para ilmuwan modern mempelajari dunia luar. Karena itu, kesimpulan-kesimpulan filsafat dalam ajaran monisme Advaita banyak dibangun di atas pengamatan psikologis terhadap kesadaran manusia.


Konsep Monisme dalam Pemikiran India

Dalam filsafat India, aktivitas diri atau jiwa manusia dipahami melalui tiga keadaan kesadaran: keadaan terjaga, bermimpi, dan tidur tanpa mimpi.

Ketika bermimpi, manusia mengalami dunia yang terasa nyata dan konkret. Saat berada di dalam mimpi, dunia itu tampak benar-benar ada. Namun ketika terbangun, kita menyadari bahwa dunia mimpi tidak sesuai dengan dunia nyata yang kita alami saat sadar. Karena itu, mimpi dianggap kurang nyata dibandingkan kehidupan saat terjaga.

Tetapi menurut pemikiran India, hal ini menunjukkan sesuatu yang penting: kita menganggap mimpi tidak nyata bukan karena kita memiliki pengetahuan mutlak tentang kenyataan sejati, melainkan karena mimpi tidak cocok dengan standar pengalaman dalam kehidupan sadar sehari-hari. Dengan kata lain, realitas mimpi tetap nyata selama seseorang berada di dalam keadaan bermimpi itu sendiri.

Lalu filsafat India melangkah lebih jauh. Dunia yang kita alami saat terjaga pun dianggap hanya memiliki kenyataan yang relatif. Dunia ini tidak memiliki keberadaan yang mutlak dan tetap, karena ia hanya berkaitan dengan keadaan sadar manusia. Dunia sadar menghilang ketika kita bermimpi atau tertidur lelap.

Hubungan antara kesadaran saat terjaga dan dunia yang dialami dalam keadaan sadar dianggap serupa dengan hubungan antara kesadaran mimpi dan dunia mimpi. Keduanya saling bergantung satu sama lain.

Adi Shankaracharya menjelaskan bahwa dunia mimpi “dibatalkan” setiap hari ketika kita bangun, sedangkan dunia sadar juga dapat “dibatalkan” dalam keadaan-keadaan tertentu. Artinya, baik mimpi maupun dunia sadar sama-sama bukan kenyataan yang mutlak.

Dalam keadaan tidur tanpa mimpi, kesadaran biasa seakan berhenti. Beberapa pemikir India berpendapat bahwa dalam keadaan ini sebenarnya masih ada kesadaran, tetapi tanpa objek apa pun untuk disadari.

Yang jelas, tidur tanpa mimpi bukanlah keadaan ketiadaan total. Jika benar-benar tidak ada apa-apa, maka manusia tidak mungkin setelah bangun dapat mengingat rasa damai dan nyaman dari tidur nyenyak. Karena itu, filsafat India menyimpulkan bahwa diri atau jiwa tetap ada, meskipun pada saat itu tidak mengalami objek apa pun.

Dalam tidur yang sangat nyenyak, tidak ada objek yang dirasakan oleh kesadaran. Namun keberadaan diri tetap berlanjut.

Dari sini muncul gagasan tentang “diri murni” — suatu inti diri yang tidak berubah meskipun berbagai pikiran, emosi, dan pengalaman datang dan pergi mengikuti perubahan keadaan batin manusia.

Segala sesuatu yang berubah dianggap berbeda dari sesuatu yang tetap. Diri sejati dipahami sebagai sesuatu yang terus ada dan tidak berubah di tengah perubahan pengalaman hidup.

Keadaan-keadaan kesadaran berubah, tetapi diri yang menjadi dasar dari semua pengalaman itu tetap sama.

Dalam pandangan ini, ada suatu kesadaran yang bersinar dengan sendirinya, yang tidak lahir dan tidak lenyap meskipun waktu terus berjalan.

Filsafat India kemudian sampai pada gagasan tentang suatu kenyataan mutlak—keadaan tanpa batas ruang dan waktu, tempat segala objek dan perubahan menghilang. Kenyataan inilah yang dianggap benar-benar nyata.

Diri sejati dipandang sebagai saksi yang tidak terpengaruh oleh seluruh drama pikiran dan pengalaman yang terus berubah dalam keadaan sadar, mimpi, maupun tidur.

Manusia juga diyakini memiliki sesuatu yang melampaui suka dan duka, baik dan buruk, kebajikan dan kejahatan.

Diri sejati tidak pernah lahir dan tidak pernah mati. Ia bersifat abadi.

Dalam Bhagavad Gita disebutkan bahwa jika seseorang mengira dirinya membunuh atau dibunuh, maka ia belum memahami kebenaran. Diri sejati tidak membunuh dan tidak dapat dibunuh.

Di samping adanya diri yang tetap dan tidak berubah itu, manusia juga mengalami dunia yang penuh dengan berbagai objek dan perubahan.

Diri sejati bersifat tetap, abadi, dan tidak berubah. Sebaliknya, dunia pengalaman sehari-hari bersifat sementara dan terus berubah mengikuti keadaan.

Yang pertama bersifat mutlak dan tidak bergantung pada apa pun. Yang kedua bergantung pada kondisi dan selalu berubah sesuai keadaan kesadaran manusia.


Lalu muncul pertanyaan besar: bagaimana kita harus memahami dunia ini?

Di hadapan kita ada dunia yang penuh dengan beragam benda dan peristiwa. Dunia ini terikat oleh ruang, waktu, dan hubungan sebab-akibat. Namun jika diri sejati atau self dipahami sebagai sesuatu yang satu, universal, dan tidak berubah, maka bagaimana mungkin muncul dunia yang penuh dengan keberagaman dan pertentangan?

Dalam filsafat India, dunia yang beragam ini sering dipahami sebagai “bukan-diri” (not-self)—yakni sesuatu yang menjadi objek bagi kesadaran subjek. Dunia ini tidak dianggap sepenuhnya nyata dalam arti mutlak.

Konsep-konsep utama yang membentuk pengalaman manusia—seperti waktu, ruang, dan sebab-akibat—dipandang memiliki sifat yang saling bergantung dan tidak dapat berdiri sendiri. Karena bergantung pada hubungan-hubungan tertentu, konsep-konsep itu dianggap tidak memiliki keberadaan mutlak. Namun pada saat yang sama, dunia juga tidak bisa disebut tidak ada sama sekali.

Dunia tetap ada. Manusia hidup di dalamnya dan bertindak melaluinya. Tetapi manusia tidak mampu sepenuhnya memahami mengapa dunia ini ada seperti sekarang.

Keberadaan dunia yang sulit dijelaskan inilah yang dalam filsafat India disebut maya—sebuah istilah yang menunjuk pada kenyataan dunia yang tampak ada tetapi tidak memiliki keberadaan mutlak.

Ketika seseorang bertanya bagaimana hubungan antara diri mutlak dan dunia yang berubah-ubah, atau mengapa yang satu bisa tampak menjadi banyak, pertanyaan itu sebenarnya sudah mengandaikan bahwa segala sesuatu pasti memiliki sebab dan penjelasan rasional. Padahal menurut pandangan ini, tidak semua hal dapat dijelaskan dengan cara seperti itu.

Mengatakan bahwa Yang Tak Terbatas berubah menjadi yang terbatas dianggap sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Sesuatu yang tanpa batas tidak mungkin benar-benar diwujudkan secara penuh dalam sesuatu yang terbatas. Jika Yang Tak Terbatas masuk sepenuhnya ke dalam yang terbatas, maka ia tidak lagi tak terbatas.

Karena itu, gagasan bahwa Yang Mutlak turun atau merosot menjadi dunia empiris dianggap bertentangan dengan sifat kemutlakannya sendiri. Sesuatu yang sempurna tidak mungkin mengalami kemunduran atau kekurangan.

Perubahan sendiri dianggap sebagai tanda adanya kebutuhan atau ketidaklengkapan. Sesuatu berubah karena menginginkan keadaan lain. Maka jika Yang Mutlak benar-benar sempurna, ia tidak mungkin berubah.

Selain itu, Yang Mutlak juga dianggap tidak mungkin menjadi objek pengetahuan biasa. Segala sesuatu yang dapat diketahui manusia melalui pikiran selalu bersifat terbatas dan relatif.

Pikiran manusia bekerja di dalam batas ruang, waktu, dan sebab-akibat. Bahkan ketika manusia mencoba menjelaskan ruang, waktu, atau sebab-akibat itu sendiri, ia tetap menggunakan konsep-konsep tersebut dalam penjelasannya. Karena itu manusia tidak pernah benar-benar bisa melampaui batas-batas itu melalui akal biasa.

Melalui pikiran yang merupakan bagian dari dunia relatif, manusia tidak dapat sepenuhnya mengetahui diri mutlak.

Pengalaman hidup manusia sehari-hari dipandang seperti mimpi ketika terjaga—nyata dalam pengalaman, tetapi bukan kenyataan tertinggi.

Ilmu pengetahuan dan logika juga termasuk bagian dari dunia pengalaman relatif itu. Karena itu, kegagalan metafisika untuk menjelaskan Yang Mutlak secara penuh tidak perlu disesali ataupun diejek. Hal itu hanya perlu dipahami sebagai keterbatasan alami pikiran manusia.

Dengan kerendahan hati intelektual, tokoh-tokoh besar seperti Plato, Nagarjuna, Immanuel Kant, dan Adi Shankaracharya sama-sama menyatakan bahwa pikiran manusia hanya mampu bekerja pada wilayah yang relatif, bukan pada Yang Mutlak itu sendiri.

Namun meskipun Yang Mutlak tidak dapat diketahui sepenuhnya melalui logika, ia tetap dapat disadari atau dialami oleh mereka yang sungguh-sungguh mencari kebenaran.

Yang Mutlak dipahami sebagai kenyataan dasar tempat manusia hidup, bergerak, dan ada. Hanya melalui keberadaan-Nya segala sesuatu lain dapat diketahui.

Ia adalah saksi abadi dari seluruh pengalaman dan pengetahuan manusia.

Kaum non-dualis atau penganut Advaita Vedanta berpendapat bahwa pandangan mereka bukan sekadar khayalan, melainkan didasarkan pada kenyataan pengalaman manusia sendiri.

Diri sejati dipandang sebagai kenyataan terdalam yang ada dalam setiap makhluk. Ia adalah dasar dari semua yang diketahui maupun yang belum diketahui.

Dan karena diri sejati itu sendiri adalah subjek paling mendasar, tidak ada “pengetahu” lain di luar dirinya yang dapat mengetahui dirinya sepenuhnya selain dirinya sendiri.

Ia adalah kenyataan yang sejati dan abadi, dan tidak ada apa pun yang benar-benar terpisah darinya.

Mengenai keberadaan dunia empiris yang penuh perubahan dan keberagaman, para penganut Advaita Vedanta pada dasarnya mengatakan: dunia itu memang ada, tetapi kita tidak benar-benar tahu mengapa ia ada seperti itu. Dunia tampak penuh kontradiksi, namun tetap nyata dalam pengalaman manusia. Inilah posisi filsafat non-dualisme yang dikembangkan oleh Gaudapada dan Adi Shankaracharya.

Namun, tidak semua penganut Advaita merasa puas dengan penjelasan tersebut. Sebagian merasa bahwa penggunaan istilah maya saja tidak cukup untuk menjelaskan hubungan antara kenyataan mutlak yang sempurna dan dunia yang terus berubah.

Mereka mencoba memberikan penjelasan yang lebih positif tentang hubungan antara Yang Mutlak—yang sempurna, tidak berubah, dan bebas dari segala kekurangan—dengan dunia yang dipenuhi perubahan dan proses menjadi.

Karena Yang Mutlak dianggap sebagai satu-satunya kenyataan yang ada, maka dunia yang berubah tidak mungkin muncul karena adanya sesuatu dari luar diri-Nya. Tidak ada “sesuatu di luar” Yang Mutlak yang bisa ditambahkan kepadanya.

Karena itu, perubahan dijelaskan sebagai semacam pengurangan atau penurunan dari kesempurnaan asli. Untuk menjelaskan hal ini, digunakan gagasan tentang unsur negatif—mirip dengan konsep “ketiadaan” dalam pemikiran Plato atau konsep materi dalam filsafat Aristotle.

Melalui prinsip negatif inilah, kenyataan yang sebenarnya tidak berubah tampak tersebar menjadi banyak hal yang bergerak dan berubah.

Ibarat cahaya matahari yang memancar ke mana-mana, dunia keberagaman tampak muncul dari Yang Mutlak. Dalam konteks ini, maya dipahami sebagai prinsip negatif yang memungkinkan munculnya dunia perubahan, kegelisahan, dan ketidakstabilan yang terus berlangsung.

Perubahan di alam semesta dipandang sebagai semacam “penurunan tampak” dari kenyataan yang sebenarnya tetap dan tidak berubah.

Yang nyata dan mutlak dianggap sebagai sumber dari segala hal positif dalam dunia perubahan ini. Semua makhluk di dunia seolah terus berusaha kembali kepada kenyataan sejatinya—berusaha melengkapi kekurangan yang ada dalam diri mereka, melepaskan keterpisahan dan individualitas yang membatasi mereka.

Namun usaha itu terhambat oleh kekosongan batin atau kekurangan mendasar yang disebut maya. Kekurangan ini muncul dari jarak antara keadaan makhluk saat ini dan keadaan sempurna yang seharusnya mereka capai.

Jika maya dapat diatasi—jika kecenderungan menuju keterpisahan dan dualitas dihentikan, jika jarak dan kekurangan itu dihapus—maka ruang, waktu, dan perubahan akan kembali menyatu ke dalam keberadaan murni.

Selama kekurangan dasar yang disebut maya itu masih ada, segala sesuatu akan tetap terikat dalam dunia ruang, waktu, dan sebab-akibat.

Maya tidak dipandang sebagai ciptaan pikiran manusia. Ia dianggap sudah ada sebelum pikiran manusia muncul dan berdiri terlepas dari intelek manusia.

Bahkan maya dipahami sebagai sumber munculnya dunia dan juga pikiran manusia itu sendiri—semacam potensi besar yang melahirkan seluruh alam semesta.

Dalam beberapa ajaran, maya juga disebut Prakriti, yaitu prinsip dasar yang melahirkan dunia fenomena.

Segala proses lahir dan hancur, perubahan kosmis yang terus berulang, dipandang sebagai akibat dari kekurangan mendasar yang menjadi dasar dunia ini.

Dunia perubahan dianggap sebagai gangguan atau penyimpangan dari keberadaan murni. Maya dipandang sebagai pantulan dari kenyataan sejati.

Proses dunia bukanlah penjelmaan sempurna dari Yang Mutlak, melainkan semacam pembalikan atau distorsi dari-Nya.

Namun dunia maya tetap tidak bisa berdiri sendiri tanpa keberadaan mutlak. Tidak mungkin ada gerakan tanpa sesuatu yang tetap. Gerakan hanya bisa dipahami jika ada sesuatu yang menjadi dasar kestabilannya.

Karena itu, di balik seluruh perubahan alam semesta terdapat keberadaan yang tidak bergerak dan tidak berubah.

Sebagaimana dunia perubahan dipandang sebagai penyimpangan dari keberadaan sejati, demikian pula avidya—ketidaktahuan atau kebodohan spiritual—dipandang sebagai penyimpangan dari vidya, yaitu pengetahuan sejati.

Untuk memahami kebenaran, manusia harus membebaskan diri dari avidya beserta pola-pola pikiran yang membatasi kenyataan ke dalam konsep-konsep sempit.

Menurut pandangan ini, konsep-konsep intelektual sering kali gagal menangkap kenyataan sejati karena kenyataan terlalu luas untuk dipenjarakan dalam bentuk-bentuk pikiran manusia.

Namun hal ini bukan berarti manusia harus berhenti berpikir. Filsafat tetap penting. Melalui logika dan pemikiran kritis, filsafat membantu manusia menyadari keterbatasan konsep-konsep intelektual yang selama ini dipakai untuk kebutuhan praktis dalam dunia yang relatif dan terus berubah.


Filsafat mengajarkan bahwa selama manusia masih terikat pada intelek dan tenggelam dalam dunia yang penuh keberagaman, ia akan terus gagal menemukan kembali kesederhanaan dari Yang Satu—kenyataan tunggal yang menjadi dasar segala sesuatu.

Ketika manusia bertanya mengapa avidya (ketidaktahuan spiritual) atau maya bisa muncul hingga menyebabkan manusia jatuh dari pengetahuan sejati (vidya) atau dari keberadaan yang murni, filsafat tidak mampu memberikan jawaban yang pasti. Dalam titik ini, filsafat—sebagai kerja logika—lebih berfungsi secara negatif: ia menunjukkan keterbatasan semua kategori intelektual yang digunakan manusia untuk memahami kenyataan.

Filsafat memperlihatkan bahwa benda-benda di dunia hanya memiliki arti dalam hubungan dengan pikiran yang memikirkannya. Mereka tidak memiliki keberadaan yang benar-benar mandiri dan mutlak.

Namun filsafat tidak dapat memberi penjelasan pasti tentang kenyataan mutlak yang tidak berubah, yang dikatakan berada di balik segala peristiwa dunia, ataupun tentang maya yang dianggap melahirkan dunia pengalaman ini. Filsafat juga tidak dapat langsung membawa manusia mencapai kenyataan tertinggi.

Sebaliknya, filsafat justru menyadarkan bahwa setiap kali manusia mencoba mengukur atau memahami kenyataan mutlak dengan pikiran biasa, ia sebenarnya sedang mengubah dan membatasi kenyataan itu sendiri.

Meski begitu, filsafat tetap memiliki peran penting. Setelah kebenaran diperoleh melalui pengalaman batin atau kesadaran yang lebih dalam, filsafat dapat membantu manusia memikirkannya secara rasional, membelanya dengan logika, dan menyebarkan pemahaman itu kepada orang lain.

Para pendukung monisme murni percaya bahwa ada kemampuan yang lebih tinggi daripada intelek biasa—suatu kekuatan batin yang memungkinkan manusia merasakan sentuhan langsung dari kenyataan sejati.

Untuk mencapai hal itu, manusia harus meleburkan dirinya ke dalam kesadaran universal dan menyadari dirinya sebagai bagian dari seluruh keberadaan. Dalam keadaan seperti itu, manusia tidak lagi sekadar “memikirkan” kenyataan, tetapi menghayatinya secara langsung. Ia tidak hanya mengetahui kenyataan, melainkan menjadi satu dengan kenyataan itu sendiri.

Pandangan monisme yang sangat radikal seperti ini—yang membedakan antara logika dan intuisi, antara kenyataan sejati dan dunia pengalaman—dapat ditemukan dalam beberapa bagian Upanishads, dalam pemikiran Nagarjuna, Adi Shankaracharya ketika berada pada sisi pemikirannya yang paling filosofis, Sri Harsha, serta para pemikir Advaita Vedanta lainnya.

Gagasan serupa juga dapat ditemukan dalam pemikiran para filsuf Barat seperti Parmenides, Plato, Baruch Spinoza, Plotinus, F. H. Bradley, dan Henri Bergson, belum lagi para mistikus di Barat.

Namun bagi intelek manusia, “keberadaan murni” yang dipahami melalui intuisi itu tampak hanya sebagai sesuatu yang sangat abstrak. Ia dianggap tetap ada bahkan ketika seluruh bentuk dan fakta keberadaan dihapuskan. Ia menjadi semacam sisa terakhir setelah seluruh dunia disingkirkan melalui proses abstraksi.

Tetapi bagi pikiran manusia, hal ini sangat sulit dibayangkan. Sulit bagi manusia untuk membayangkan dunia tanpa laut dan bumi, tanpa matahari dan bintang-bintang, tanpa ruang dan waktu, bahkan tanpa manusia dan Tuhan.

Ketika manusia mencoba menghapus seluruh alam semesta dalam pikirannya—menghilangkan semua bentuk keberadaan—pikiran seolah tidak menemukan apa pun yang tersisa.

Pikiran manusia yang terbatas dan selalu bekerja melalui hubungan-hubungan tertentu akhirnya merasa putus asa ketika menyadari bahwa jika segala sesuatu dihapuskan, maka tampaknya tidak ada apa-apa lagi.

Bagi pikiran konseptual, pernyataan intuitif bahwa “hanya keberadaan yang ada” justru terdengar seperti mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada apa-apa sama sekali.

Georg Wilhelm Friedrich Hegel mengatakan bahwa pikiran hanya dapat bekerja dengan kenyataan yang konkret dan memiliki bentuk tertentu. Dalam pemikiran rasional, setiap penegasan selalu mengandung penyangkalan, dan sebaliknya.

Segala sesuatu yang konkret selalu merupakan proses “menjadi”—gabungan antara ada dan tiada, antara unsur positif dan negatif.

Karena itu, sebagian pemikir merasa tidak puas dengan gagasan tentang “keberadaan murni” yang hanya bisa dipahami lewat intuisi. Mereka menginginkan suatu sintesis yang juga dapat dipahami oleh pikiran rasional manusia yang secara alami tertarik pada hal-hal konkret.

Dari sinilah muncul pandangan yang disebut idealisme objektif.

Para idealis konkret mencoba menyatukan dua gagasan—keberadaan murni dan dunia perubahan—ke dalam satu konsep besar tentang Tuhan.

Bahkan para penganut monisme ekstrem pun mengakui bahwa dunia perubahan bergantung pada keberadaan mutlak, meskipun keberadaan mutlak tidak bergantung pada dunia perubahan itu.

Dalam pandangan ini muncul konsep tentang Tuhan sebagai bentuk dari Yang Mutlak yang “terpantul” ke dalam dunia.

Tuhan dipahami sebagai keberadaan yang di dalam diri-Nya terdapat kemungkinan munculnya dunia. Ia memuat sekaligus hakikat keberadaan dan perubahan, kesatuan dan keberagaman, ketidakterbatasan dan keterbatasan.

Keberadaan murni kini dipahami sebagai subjek yang mengubah dirinya menjadi objek, lalu kembali menyerap objek itu ke dalam dirinya sendiri.

Dengan menggunakan istilah Georg Wilhelm Friedrich Hegel, proses ini berlangsung melalui gerakan terus-menerus antara penetapan, pertentangan, dan penyatuan.

Hegel melihat bahwa dunia konkret selalu membutuhkan dua unsur: subjek dan objek. Kedua hal yang tampak berlawanan ini selalu bersatu dalam setiap kenyataan konkret.

Dengan demikian, Tuhan sendiri dipahami mengandung dua sifat yang saling bertentangan, tetapi justru saling membutuhkan dan saling melengkapi.

Ketika Tuhan dipahami sebagai kekuatan dinamis yang terus bergerak dalam proses abadi, maka seluruh tingkatan keberadaan—dari kesempurnaan ilahi sampai benda paling rendah—ikut tercakup di dalamnya.

Dengan menerima keberadaan Tuhan seperti ini, manusia sekaligus menerima seluruh tingkatan kenyataan yang berada antara “keberadaan penuh” dan “ketiadaan”.

Akhirnya terbentuklah suatu pandangan tentang alam semesta sebagai dunia pikiran yang dibangun oleh pikiran, dipahami oleh pikiran, dan dipertahankan oleh pikiran.

Dalam pandangan ini, subjek dan objek tidak lagi dipisahkan secara mutlak, melainkan dipahami sebagai bagian-bagian dari satu proses besar yang sama.

Ruang, waktu, dan sebab-akibat tidak lagi dipandang sekadar bentuk subjektif dalam pikiran manusia, tetapi sebagai prinsip universal yang bekerja dalam keseluruhan realitas.

Dan dibandingkan dengan monisme murni yang sulit menjelaskan hubungan antara kesatuan dan perbedaan, pandangan ini dianggap memberi dasar penjelasan yang lebih kuat dan lebih mudah dipahami.


Dunia dapat dipahami sebagai kesatuan yang berubah menjadi keberagaman. Kesatuan dan perbedaan bukanlah dua hal yang sepenuhnya terpisah; keduanya saling berkaitan dan tidak dapat dipahami secara terpisah satu sama lain.

Dalam pandangan ini, Tuhan dipahami sebagai dasar terdalam dari segala kesatuan—landasan yang menyatukan semua hal. Sementara dunia adalah perwujudan luar dari kesadaran itu, ekspresi nyata dari kesadaran diri yang menampakkan dirinya dalam berbagai bentuk.

Namun menurut pandangan monisme murni, Tuhan dalam bentuk seperti ini sebenarnya sudah merupakan “penurunan” dari Yang Mutlak. Ia masih sangat dekat dengan keberadaan absolut, hanya dipisahkan oleh jarak yang sangat kecil dan hampir tak terbayangkan.

Tuhan sebagai sosok yang konkret dipandang sebagai hasil dari avidya—ketidaktahuan atau keterbatasan—yang hanya berbeda sedikit sekali dari vidya, yaitu pengetahuan sejati.

Dengan kata lain, Tuhan yang dapat dipahami oleh pikiran manusia ini dianggap sebagai hasil tertinggi yang dapat dicapai oleh kecerdasan manusia. Tetapi tetap saja, ia masih merupakan “hasil pemikiran”. Dan selama sesuatu masih merupakan hasil dari kerja intelek, ia belum sepenuhnya mencapai kebenaran mutlak.

Tuhan dalam bentuk ini memiliki keberadaan yang hampir sempurna dan hanya sedikit kekurangan. Namun sekecil apa pun kekurangan itu tetaplah sebuah kekurangan.

Sentuhan pertama dari maya—pengurangan sekecil apa pun dari keberadaan absolut—sudah cukup untuk membawa kenyataan ke dalam ruang dan waktu. Meski ruang dan waktu itu mungkin sangat dekat dengan keadaan tanpa batas dan kekekalan mutlak, tetap saja ia sudah bukan lagi Yang Absolut sepenuhnya.

Yang Esa dan Mutlak kemudian dipahami berubah menjadi Tuhan Pencipta yang berada dalam suatu bentuk keberadaan tertentu, hadir di suatu tempat, dan menggerakkan segala sesuatu dari dalam tanpa harus berpindah dari dirinya sendiri.

Tuhan dipandang sebagai Yang Mutlak yang diwujudkan dalam bentuk yang dapat dipahami sebagai sesuatu yang hadir di suatu tempat—roh yang menembus dan menggerakkan seluruh alam semesta.

Ia sekaligus dipahami sebagai:

  • keberadaan dan bukan-keberadaan,

  • Brahman dan maya,

  • subjek dan objek,

  • kekuatan abadi,

  • “penggerak yang tidak bergerak” seperti dalam filsafat Aristotle,

  • roh absolut dalam pemikiran Georg Wilhelm Friedrich Hegel,

  • serta konsep Vishishtadvaita dari Ramanuja yang memandang kesatuan dan keberagaman sebagai satu kenyataan yang saling terkait.

Tuhan juga dipahami sebagai penyebab yang menciptakan alam semesta sekaligus tujuan akhir dari seluruh keberadaan.

Dunia dianggap tidak memiliki awal maupun akhir, sebab aktivitas Tuhan tidak mungkin benar-benar dimulai pada suatu waktu tertentu dan tidak mungkin pula berhenti. Gerak dan perubahan menjadi bagian dari sifat dasarnya.

Menurut pandangan ini, inilah bentuk pemahaman tertinggi yang dapat dicapai oleh pikiran manusia.

Jika intelek manusia mengikuti kecenderungan alaminya untuk menyatukan segala sesuatu dan mendamaikan berbagai pertentangan, maka pada akhirnya manusia akan sampai pada gagasan tentang suatu prinsip yang bukan sekadar “ada” dan bukan pula “tidak ada”, melainkan sesuatu yang mencakup keduanya sekaligus.

Konsep seperti ini terbentuk melalui usaha menyatukan seluruh kenyataan ke dalam satu keseluruhan besar.

Karena itu, filsafat dalam pandangan ini bersifat membangun dan menyusun. Ia mencoba menciptakan pemahaman yang menyeluruh dan menyatukan berbagai bagian realitas ke dalam satu sistem.

Namun bahkan di sini masih ada kesulitan. Pemikiran logis sering bermain dengan konsep-konsep abstrak dan justru menjauhkan manusia dari kenyataan konkret tempat konsep-konsep itu sebenarnya hidup dan memperoleh makna.

Akal yang lebih mendalam berusaha mengatasi keterbatasan logika abstrak ini.

Manusia memulai dari pengalaman sehari-hari, lalu naik menuju gagasan tentang Tuhan sebagai prinsip tertinggi. Setelah memperoleh gambaran tentang keseluruhan itu, manusia kemudian kembali melihat rincian dunia dan mencoba memahami bagian-bagiannya berdasarkan keseluruhan tersebut.

Hampir semua sistem filsafat yang sangat percaya pada kemampuan akal akhirnya sampai pada pandangan seperti ini tentang dunia.

Namun masalah muncul ketika manusia mulai meragukan apakah pikiran benar-benar mampu memahami kenyataan secara mutlak.

Mungkin saja pengetahuan manusia sebenarnya hanya sesuai dengan cara kerja pikiran manusia sendiri—pikiran yang selalu menyatukan dan membedakan segala sesuatu.

Bisa jadi jika ada makhluk dengan bentuk kesadaran yang berbeda, maka bentuk pengetahuannya pun akan berbeda.

Karena manusia hanya mengenal cara berpikirnya sendiri, ia cenderung menganggap semua pengetahuan harus mengikuti pola pikir manusia. Tetapi ketika muncul para pemikir yang mempertanyakan anggapan ini, menjadi sulit untuk mempertahankan keyakinan bahwa akal manusia adalah ukuran mutlak bagi kenyataan.

Bahkan jika kita mengakui bahwa gambaran realitas yang dibentuk oleh pikiran itu benar, tetap saja muncul keberatan bahwa pikiran tidak identik dengan kenyataan itu sendiri.

Dengan menyatukan semua konsep menjadi satu konsep besar, manusia sebenarnya masih tetap berada di dalam dunia konsep.

Hubungan-hubungan yang dipahami pikiran hanyalah bagian dari cara kerja pikiran itu sendiri.

Bahkan jika ada pikiran yang jauh lebih tinggi daripada pikiran manusia, selama ia masih merupakan “pikiran”, maka ia tetap bekerja dengan pola dasar yang serupa.

Pandangan yang disebut monisme yang dimodifikasi ini dapat ditemukan dalam beberapa bagian Upanishads dan Bhagavad Gita, dalam sebagian ajaran Buddhism, serta dalam pemikiran Ramanuja—dan mungkin juga Badarayana.

Di dunia Barat, pemikiran seperti ini dapat ditemukan terutama dalam filsafat Aristotle dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel.


Menurut pandangan pertama, keberadaan yang sempurna dan mutlak adalah satu-satunya kenyataan sejati. Sementara dunia perubahan yang kita alami sehari-hari memang tampak nyata, tetapi pada dasarnya tidak memiliki kenyataan mutlak. Dunia itu tetap ada dalam pengalaman manusia, meskipun kita tidak benar-benar tahu mengapa ia ada.

Menurut pandangan kedua, dunia yang terus berubah ini muncul sebagai semacam “pengendapan” atau penampakan dari keberadaan murni ke dalam ruang dan waktu. Proses itu terjadi karena adanya maya atau pengurangan dari kesempurnaan mutlak.

Sedangkan menurut pandangan ketiga, bentuk tertinggi yang dapat dipahami manusia adalah sintesis antara keberadaan murni dan bukan-keberadaan yang diwujudkan dalam konsep tentang Tuhan.

Dari pandangan ketiga ini, manusia secara logis terdorong untuk mengakui adanya berbagai tingkatan kenyataan di antara Yang Mutlak dan dunia pengalaman sehari-hari.

Namun jika keberadaan murni dianggap hanya sebagai konsep abstrak yang tidak berguna untuk menjelaskan dunia nyata, dan jika gagasan tentang Tuhan sebagai Pencipta juga ditolak karena dianggap tidak logis, maka yang tersisa hanyalah dunia perubahan yang terus mengalir tanpa henti.

Dalam pandangan ini, segala sesuatu selalu bergerak menjadi sesuatu yang lain dan tidak pernah benar-benar tetap. Dari sinilah muncul prinsip utama dalam Buddhism.

Dalam dunia pengalaman sehari-hari, menurut pandangan monisme yang dimodifikasi, berbagai tingkatan kenyataan dibedakan berdasarkan seberapa jauh mereka dari kenyataan yang paling sempurna dan utuh.

Semua tingkatan itu memiliki kesamaan: mereka sama-sama berada dalam ruang dan waktu. Namun semakin diperhatikan dengan lebih mendalam, semakin tampak perbedaan dan ciri khusus dari masing-masing tingkat kenyataan tersebut.

Jika kita menerima perbedaan antara makhluk yang berpikir dan benda-benda yang tidak berpikir, maka muncullah filsafat dualisme seperti yang diajarkan oleh Madhvacharya.

Namun bahkan dualisme ini masih memiliki unsur monisme, karena semua kenyataan selain Tuhan tetap dianggap bergantung kepada Tuhan. Hanya Tuhan yang benar-benar mandiri (svatantra), sedangkan semua makhluk lain bergantung kepada-Nya (paratantra).

Jika perhatian lebih diarahkan pada kemandirian makhluk berpikir, maka muncullah pandangan pluralisme seperti dalam filsafat Samkhya—terutama jika persoalan tentang keberadaan Tuhan dianggap tidak dapat dibuktikan dan karena itu diabaikan.

Jika kemudian ditambahkan bahwa benda-benda dunia juga memiliki keberadaan yang berdiri sendiri, maka lahirlah pluralisme realistis. Dalam pandangan ini, bahkan Tuhan hanya dipandang sebagai salah satu realitas di antara banyak realitas lainnya—meskipun Ia mungkin dianggap paling besar dan paling kuat.

Dalam perdebatan mengenai berbagai tingkatan kenyataan ini, batas tentang apa yang disebut sebagai individu atau kesatuan sering kali bergantung pada cara pandang masing-masing filsuf.

Apakah suatu sistem filsafat menjadi ateistik atau teistik banyak ditentukan oleh seberapa besar perhatian diberikan kepada Yang Mutlak yang dianggap menjadi dasar dari seluruh drama alam semesta.

Kadang-kadang Yang Mutlak tampil jelas dalam bentuk Tuhan yang sangat kuat dan nyata. Pada kesempatan lain, perannya memudar dan hampir menghilang.

Semua itu menunjukkan berbagai cara pikiran manusia menanggapi persoalan dunia sesuai dengan sifat dan kecenderungannya masing-masing.

Dalam pemikiran India, umumnya terdapat hubungan yang harmonis antara Tuhan dan manusia. Sebaliknya, dalam tradisi Barat sering kali terlihat hubungan yang lebih penuh pertentangan antara keduanya.

Hal ini bahkan dapat dilihat dari berbagai mitologi Barat.

Kisah Prometheus, misalnya, menggambarkan seorang tokoh yang membela manusia melawan Zeus. Prometheus mencuri api dari para dewa demi membantu umat manusia, sementara Zeus digambarkan ingin menghancurkan manusia dan menggantikannya dengan makhluk yang lebih baik.

Demikian juga kisah tentang Hercules yang berusaha menebus dunia melalui perjuangan-perjuangannya.

Bahkan konsep tentang Jesus Christ sebagai “Anak Manusia” menunjukkan bahwa manusia menjadi pusat perhatian dalam banyak tradisi Barat.

Memang benar bahwa Kristus juga disebut sebagai “Anak Tuhan”, sosok yang harus dikorbankan untuk meredakan murka Tuhan yang adil.

Namun inti yang ingin ditunjukkan penulis adalah bahwa dalam banyak unsur budaya Barat terdapat kecenderungan melihat hubungan antara manusia dan Tuhan sebagai hubungan yang penuh ketegangan.

Manusia sering digambarkan melawan kekuasaan Tuhan, menentang-Nya, atau bahkan mengambil sesuatu dari-Nya demi kepentingan umat manusia.


Dalam pandangan India, manusia dipahami sebagai hasil dari keberadaan Tuhan. Bahkan seluruh alam semesta dianggap lahir dari pengorbanan ilahi. Dalam Purusha Sukta digambarkan adanya pengorbanan kosmis yang abadi—sebuah pengorbanan yang menopang keberadaan manusia dan seluruh dunia.

Di dalam himne itu, alam semesta digambarkan sebagai satu keberadaan besar yang luar biasa luas dan agung, dihidupkan oleh satu roh yang sama, dan mencakup seluruh bentuk kehidupan di dalam dirinya.

Ciri paling menonjol dari cara berpikir India—yang mewarnai kebudayaan dan membentuk seluruh tradisi pemikirannya—adalah kecenderungan spiritualnya.

Pengalaman spiritual menjadi dasar utama dari sejarah kebudayaan India yang kaya. Namun spiritualitas di sini tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang penuh kekuatan gaib atau misteri aneh. Yang dimaksud adalah latihan dan pendisiplinan diri manusia yang mengarah pada kesadaran akan kenyataan spiritual yang lebih dalam.

Jika kitab-kitab suci dalam tradisi Ibrani dan Kristen lebih menekankan aspek agama dan moralitas, maka kitab-kitab suci Hindu lebih bersifat spiritual dan kontemplatif.

Bagi kehidupan India, kenyataan paling mendasar adalah keberadaan Tuhan yang abadi.

Dalam filsafat terdapat suatu anggapan dasar bahwa sesuatu yang benar-benar nyata tidak mungkin mengandung pertentangan di dalam dirinya sendiri.

Namun dalam sejarah pemikiran manusia, butuh waktu lama sampai manusia menyadari pentingnya prinsip ini dan mulai menggunakannya secara sadar dalam filsafat.

Dalam Rigveda, penerimaan terhadap pengetahuan sehari-hari masih berlangsung secara alami tanpa banyak dipertanyakan.

Ketika pemikiran berkembang hingga masa Upanishads, mulai muncul persoalan-persoalan dialektis dan keraguan mengenai kemampuan manusia untuk mengetahui kenyataan secara pasti.

Dalam teks-teks itu terlihat usaha untuk menentukan batas-batas pengetahuan manusia dan membuka ruang bagi intuisi atau pengalaman batin sebagai jalan menuju kebenaran. Namun usaha ini masih dilakukan dalam bentuk yang belum sepenuhnya sistematis secara filosofis.

Ketika kepercayaan terhadap kemampuan akal mulai goyah, muncullah skeptisisme. Pada masa itu muncul pula kaum materialis dan nihilis yang mempertanyakan dasar-dasar keyakinan lama.

Dengan menerima pandangan Upanishad bahwa kenyataan sejati tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh intelek logis, Buddhism kemudian menekankan bahwa dunia yang kita alami sebenarnya tidak memiliki hakikat yang tetap.

Bagi Buddhisme, pertentangan merupakan bagian dari sifat dasar dunia itu sendiri. Dunia pengalaman hanyalah ketegangan terus-menerus antara hal-hal yang saling berlawanan.

Manusia tidak dapat mengetahui apakah ada sesuatu di luar dunia pengalaman yang terus berubah ini. Namun dunia pengalaman sendiri juga tidak bisa dianggap benar-benar nyata, karena ia penuh dengan kontradiksi.

Pandangan seperti inilah yang menjadi titik akhir perkembangan pemikiran Buddhis tertentu.

Dalam filsafat Nagarjuna, kita menemukan perumusan filosofis yang sangat kuat terhadap gagasan utama dalam Upanishad.

Menurut pandangan ini, memang ada suatu kenyataan sejati, tetapi manusia tidak dapat mengetahuinya secara penuh. Sebaliknya, apa yang manusia ketahui melalui pikiran justru bukan kenyataan sejati, sebab setiap usaha menjelaskan dunia sebagai sistem yang sepenuhnya rasional pada akhirnya selalu mengalami kegagalan.

Semua perkembangan pemikiran ini kemudian membuka jalan bagi kritik yang lebih sadar terhadap kemampuan akal manusia.

Pikiran manusia sendiri mulai dianggap mengandung pertentangan dan keterbatasan di dalam dirinya.

Lalu muncul pertanyaan penting: mengapa akal manusia tidak mampu memahami kenyataan sepenuhnya?

Apakah karena pikiran hanya mampu melihat bagian-bagian kecil dan tidak pernah dapat menangkap keseluruhan? Ataukah karena struktur dasar pikiran manusia sendiri memang terbatas dan mengandung kontradiksi bawaan sehingga tidak mungkin memahami kenyataan mutlak secara utuh?


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ada para pemikir yang percaya bahwa kenyataan pada dasarnya bersifat rasional dan dapat dipahami oleh akal. Namun mereka juga memberi catatan penting: kenyataan tidak bisa disamakan begitu saja dengan pikiran atau logika manusia.

Karena itu, pemikiran rasional dianggap tidak mampu menangkap seluruh kenyataan secara utuh. Meminjam ungkapan F. H. Bradley, “apa yang ada” selalu lebih besar daripada “apa yang dapat dijelaskan”.

Pikiran memang dapat memberi manusia pengetahuan tentang kenyataan, tetapi pengetahuan itu tetap hanya pengetahuan—bukan kenyataan itu sendiri.

Di sisi lain, ada pula pemikir yang beranggapan bahwa kenyataan sejati sebenarnya bersifat utuh dan bebas dari pertentangan, sedangkan pikiran manusia justru selalu bekerja melalui pertentangan.

Pikiran selalu membagi pengalaman menjadi subjek dan objek, “aku” dan “yang diketahui”. Padahal kenyataan mutlak dianggap berada di luar semua pertentangan itu.

Bahkan bentuk pemikiran yang paling rumit sekalipun tetap dianggap abstrak, karena ia masih mencoba menyatukan banyak hal ke dalam satu konsep dan dengan demikian tetap mengandung pertentangan di dalam dirinya.

Karena itu, menurut pandangan ini, jika manusia ingin memahami kenyataan sejati, maka ia harus melampaui cara berpikir biasa.

Pandangan pertama mengatakan bahwa apa yang diungkapkan oleh pikiran tidak bertentangan dengan kenyataan, tetapi hanya menunjukkan sebagian kecil dari kenyataan itu.

Pandangan-pandangan yang berbeda tampak saling bertentangan hanya karena masing-masing melihat sebagian saja dari keseluruhan.

Setiap pandangan mungkin benar sejauh jangkauannya, tetapi tidak ada yang sepenuhnya mencakup seluruh kebenaran.

Sementara itu, pandangan kedua berpendapat bahwa kenyataan sejati hanya bisa dipahami melalui suatu bentuk pengalaman batin, perasaan mendalam, atau intuisi.

Namun bahkan pandangan pertama pun mengakui bahwa pemikiran saja tidak cukup. Jika manusia ingin memahami kenyataan secara penuh, maka pikiran harus dilengkapi dengan unsur lain—yakni pengalaman batin atau perasaan.

Gagasan ini tercermin dalam istilah darshana, istilah yang digunakan di India untuk menyebut sistem filsafat, ajaran, atau shastra.

Kata darshana berasal dari kata yang berarti “melihat”.

“Melihat” di sini bisa memiliki beberapa makna:

  • pengamatan langsung melalui indra,

  • pemahaman melalui konsep dan pemikiran,

  • atau pengalaman intuitif yang mendalam.

Ia bisa berarti mengamati fakta, melakukan penyelidikan logis, atau memperoleh penglihatan batin dari jiwa.

Secara umum, darshana dipahami sebagai penjelasan kritis, kajian logis, atau sistem pemikiran yang tersusun.

Menariknya, istilah ini tidak ditemukan dalam tahap-tahap awal perkembangan filsafat India, ketika pemikiran masih lebih bersifat intuitif dan pengalaman langsung lebih diutamakan.

Hal ini menunjukkan bahwa darshana bukan sekadar intuisi murni, walaupun sangat dekat dengannya.

Kemungkinan istilah itu sengaja dipakai untuk menunjukkan suatu sistem pemikiran yang lahir dari pengalaman intuitif tetapi kemudian dipertahankan dan dijelaskan melalui argumen logis.

Dalam sistem-sistem monisme ekstrem, filsafat berfungsi mempersiapkan manusia menuju pengalaman intuitif dengan menunjukkan keterbatasan dan kelemahan pikiran rasional.

Sementara dalam sistem monisme yang lebih moderat—yang memandang kenyataan sebagai suatu keseluruhan konkret—filsafat paling jauh hanya mampu memberikan rekonstruksi ideal tentang kenyataan.

Kenyataan sejati tetap melampaui kategori-kategori sempit yang dibuat oleh pikiran manusia. Ia lebih luas daripada semua konsep yang mencoba menjelaskannya.

Dalam monisme ekstrem, pengalaman intuitif dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk menyadari kepenuhan kenyataan.

Sedangkan dalam monisme konkret, yang lebih penting adalah semacam wawasan batin (insight)—yakni keadaan ketika pengetahuan dipenuhi oleh perasaan dan pengalaman emosional yang mendalam.

Konstruksi konsep dan teori semata tidak pernah memiliki kepastian yang sama seperti pengalaman yang benar-benar dialami secara langsung.

Selain itu, suatu pendapat atau teori logis baru dapat dianggap benar apabila ia mampu bertahan dalam ujian kehidupan nyata.


Istilah darshana memiliki makna yang luas dan agak sulit dibatasi secara tepat. Kata ini dapat merujuk sekaligus pada pembelaan logis terhadap ajaran monisme ekstrem maupun pada kebenaran intuitif yang menjadi dasar ajaran tersebut.

Dalam pengertian filosofis, darshana berarti usaha untuk menguji pengalaman intuitif melalui pemikiran rasional dan menjelaskannya secara logis kepada orang lain.

Dalam sistem-sistem filsafat lain pun, darshana digunakan untuk menunjukkan penjelasan logis tentang kebenaran yang dapat dipahami melalui konsep-konsep pikiran—baik dengan bantuan pengalaman intuitif maupun tanpa itu.

Karena itu, darshana pada dasarnya mencakup semua cara manusia memandang kenyataan.

Dan jika kenyataan pada dasarnya satu, maka berbagai pandangan yang mencoba menjelaskan kenyataan itu seharusnya memiliki hubungan satu sama lain.

Perbedaan antar pandangan tidak dianggap sebagai sesuatu yang sepenuhnya kebetulan atau terpisah, melainkan sebagai sudut pandang yang berbeda terhadap satu kenyataan yang sama.

Dengan menelaah berbagai pandangan itu secara mendalam—seolah-olah mengambil banyak foto dari kenyataan yang sama dari sudut yang berbeda—pikiran manusia perlahan bergerak menuju pemahaman yang lebih lengkap tentang kenyataan dalam bentuk yang dapat dijelaskan secara logis.

Namun ketika manusia mulai menyadari bahwa penjelasan konseptual tidak pernah mampu sepenuhnya menangkap kenyataan, muncullah usaha untuk memahami kenyataan melalui intuisi.

Dalam pengalaman intuitif itu, konsep-konsep intelektual seakan larut dan kehilangan batas-batasnya.

Pada tahap inilah manusia diyakini mengalami “keberadaan murni” seperti yang diajarkan dalam monisme ekstrem.

Dari pengalaman itu manusia kemudian kembali ke dunia pemikiran logis dan mencoba menjelaskan kenyataan sedikit demi sedikit melalui berbagai sistem filsafat.

Dalam arti yang terakhir ini, darshana berarti setiap usaha ilmiah dan filosofis untuk menjelaskan kenyataan.

Keindahan istilah ini justru terletak pada keluasannya. Dengan sifatnya yang terbuka dan tidak kaku, kata darshana mampu mencakup seluruh inspirasi dan pencarian besar dalam filsafat.

Sebuah darshana bukan sekadar teori intelektual. Ia adalah suatu penglihatan spiritual—pandangan menyeluruh tentang kehidupan yang disingkapkan kepada kesadaran batin manusia.

Kemampuan melihat dengan “mata jiwa” inilah yang dianggap sebagai tanda seorang filsuf sejati.

Dan kemampuan seperti itu hanya mungkin muncul ketika filsafat tidak sekadar dipikirkan, tetapi benar-benar dijalani dalam kehidupan.

Karena itu, pencapaian tertinggi dalam filsafat hanya dapat diraih oleh mereka yang telah mengembangkan kemurnian batin dalam dirinya.

Kemurnian batin ini lahir dari penerimaan yang mendalam terhadap pengalaman hidup. Ia muncul ketika manusia menemukan suatu kekuatan tersembunyi di dalam dirinya—suatu pusat batin yang memungkinkan manusia bukan hanya mengamati kehidupan, tetapi juga memahami maknanya secara mendalam.

Dari sumber batin inilah seorang filsuf dapat mengungkapkan kebenaran tentang kehidupan—kebenaran yang tidak mampu ditemukan oleh intelek biasa semata.

Penglihatan batin itu tumbuh secara alami, seperti buah yang muncul dari bunga, dari suatu pusat misterius tempat seluruh pengalaman hidup akhirnya diperdamaikan.

Menurut Adi Shankaracharya, seseorang yang ingin mencari kebenaran harus memenuhi beberapa syarat penting sebelum memulai pencarian filosofisnya.

Dalam komentarnya atas Brahma Sutras, Shankara menyebutkan empat syarat utama bagi seorang pelajar filsafat.

Syarat pertama adalah memahami perbedaan antara yang abadi dan yang tidak abadi.

Ini tidak berarti seseorang harus langsung memiliki pengetahuan sempurna tentang kenyataan tertinggi. Pengetahuan penuh baru dapat dicapai di akhir perjalanan.

Yang diperlukan terlebih dahulu adalah sikap batin yang mempertanyakan—kesadaran bahwa tidak semua yang terlihat di dunia ini merupakan kenyataan mutlak.

Seorang pencari kebenaran harus memiliki semangat untuk menyelidiki segala sesuatu secara mendalam.

Ia membutuhkan imajinasi yang kuat untuk menemukan kebenaran di balik fakta-fakta yang tampaknya terpisah-pisah, serta kebiasaan bermeditasi agar pikirannya tidak mudah tercerai-berai oleh gangguan dunia luar.

Syarat kedua adalah kemampuan mengendalikan keinginan terhadap hasil dari tindakan—baik hasil yang ingin diperoleh dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan setelah mati.

Ini berarti seseorang harus melepaskan keinginan-keinginan kecil, kepentingan pribadi, dan motif-motif praktis yang sempit.

Bagi pikiran yang benar-benar reflektif, pencarian pengetahuan bukanlah alat untuk memperoleh keuntungan lain. Pencarian itu sendiri sudah menjadi tujuan.

Penggunaan akal yang benar berarti berusaha memahami kenyataan apa adanya—baik sisi yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan.

Seorang filsuf harus bersikap seperti pengamat alam: mengikuti jalannya kehidupan tanpa melebih-lebihkan kebaikan ataupun meremehkan keburukan hanya karena prasangka pribadi.

Ia harus mampu mengambil jarak dari kehidupan dan memandangnya dengan jernih.

Karena itu dikatakan bahwa seorang filsuf tidak boleh terlalu terikat pada harapan terhadap masa kini maupun masa depan.

Hanya dengan sikap seperti itu seseorang dapat sepenuhnya mengabdikan dirinya pada pemikiran yang jernih, penilaian yang jujur, dan pandangan yang luas serta tidak egois terhadap kehidupan dan kenyataan.


Untuk mencapai sikap batin yang diperlukan dalam pencarian filsafat, seseorang harus mengalami perubahan hati dan pembentukan diri yang mendalam. Inilah yang ditekankan dalam syarat ketiga.

Dalam tahap ini, seorang pencari kebenaran diminta untuk mengembangkan ketenangan batin, pengendalian diri, kemampuan melepaskan keterikatan, kesabaran, kedamaian pikiran, dan keyakinan yang teguh.

Hanya pikiran yang telah terlatih dan mampu mengendalikan tubuh serta dorongan-dorongan duniawi yang dapat terus menyelidiki dan bermeditasi tanpa henti selama hidupnya. Pikiran seperti itu tidak mudah kehilangan fokus terhadap tujuan tertinggi dan tidak mudah tergoda oleh godaan-godaan duniawi.

Seorang pencari kebenaran juga harus memiliki keberanian untuk mempertaruhkan segalanya demi tujuan tertingginya.

Karena itu, ia dituntut menjalani disiplin hidup yang berat: menolak kesenangan yang berlebihan, sanggup menghadapi penderitaan dan penghinaan, serta tetap teguh dalam pencariannya.

Disiplin spiritual semacam ini mencakup pemeriksaan diri yang keras dan jujur. Melalui proses itu, seorang pencari diyakini dapat mencapai kebebasan sejati.

Syarat keempat adalah adanya kerinduan yang mendalam untuk mencapai moksha—pembebasan atau kebebasan spiritual.

Seseorang yang memiliki kecenderungan metafisis, yang telah melepaskan berbagai keinginan duniawi dan melatih pikirannya dengan disiplin, pada akhirnya hanya memiliki satu hasrat besar: mencapai tujuan tertinggi dan menyatu dengan yang abadi.

Masyarakat India memiliki penghormatan yang sangat besar kepada para filsuf dan pencari kebenaran seperti ini—orang-orang yang mengabdikan hidup mereka pada kekuatan pengetahuan dan kejernihan intelek.

Karena itulah mereka dihormati, bahkan dipandang dengan rasa hormat yang mendekati pemujaan.

Para jiwa besar yang dengan semangat luhur mengejar kebenaran, berusaha memahami misteri kehidupan, lalu mengungkapkannya kepada manusia lain—dengan pengorbanan hari-hari penuh kerja keras dan malam-malam tanpa tidur—itulah yang benar-benar layak disebut filsuf dalam arti yang sesungguhnya.

Mereka berusaha memahami pengalaman hidup bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi demi seluruh umat manusia.

Dan karena itu, manusia akan selalu berutang rasa terima kasih kepada mereka.



Kearifan Kuno dan Keabadian Tradisi India

Salah satu ciri khas bangsa India adalah penghormatan yang sangat besar terhadap masa lalu. Ada semacam keteguhan watak dan kesetiaan yang kuat untuk tidak kehilangan warisan lama yang telah dibangun sepanjang perjalanan sejarah yang panjang.

Ketika berhadapan dengan kebudayaan baru atau perluasan pengetahuan yang tiba-tiba, masyarakat India umumnya tidak mudah terbawa oleh arus perubahan sesaat. Mereka cenderung tetap berpegang pada tradisi yang telah diwariskan, sambil berusaha memasukkan unsur-unsur baru ke dalam kerangka lama sebanyak mungkin.

Sikap yang sekaligus konservatif namun tetap terbuka inilah yang menjadi salah satu rahasia bertahannya kebudayaan dan peradaban India.

Di antara berbagai peradaban besar dunia yang sangat tua usianya, hanya peradaban India yang masih terus hidup hingga sekarang dalam bentuk yang tetap dapat dikenali.

Kemegahan peradaban Ancient Egypt kini hanya dapat dipelajari melalui laporan para arkeolog dan pembacaan tulisan hieroglif.

Kekaisaran Babylonian Empire yang dahulu terkenal dengan sistem irigasi dan kemampuan tekniknya kini tinggal reruntuhan.

Begitu pula kebudayaan besar Roman Empire dengan lembaga politik, hukum, dan gagasan kesetaraannya kini sebagian besar telah menjadi bagian dari masa lalu.

Namun peradaban India—yang bahkan menurut perkiraan paling rendah sudah berusia sekitar empat ribu tahun—masih bertahan dalam ciri-ciri dasarnya.

Peradaban yang berakar sejak masa Vedas itu sekaligus terasa tua dan muda pada saat yang sama.

India terus memperbarui dirinya setiap kali sejarah menuntut perubahan.

Menariknya, perubahan itu sering tidak dirasakan sebagai sesuatu yang benar-benar baru. Perubahan dilakukan sambil tetap dianggap sebagai kelanjutan atau penafsiran baru dari cara berpikir lama.

Dalam Rigveda terlihat bagaimana kesadaran religius bangsa Arya yang datang ke India mulai menyerap gagasan-gagasan dari penduduk asli setempat.

Dalam Atharva Veda, dewa-dewa kosmis yang lebih abstrak mulai ditambahkan ke dalam pemujaan terhadap dewa langit, matahari, api, dan angin yang sebelumnya disembah oleh bangsa Arya dari wilayah Sungai Gangga hingga Hellespont.

Upanishads dipandang bukan sebagai sesuatu yang sepenuhnya baru, melainkan sebagai kebangkitan kembali atau perwujudan lebih mendalam dari gagasan-gagasan yang sebenarnya sudah ada dalam himne-himne Weda.

Demikian pula Bhagavad Gita menganggap dirinya sebagai rangkuman dari ajaran-ajaran Upanishad.

Dalam kisah-kisah epik India, terlihat pertemuan antara gagasan-gagasan religius yang sangat mendalam dengan bentuk-bentuk awal pemujaan alam.

Menghormati rasa hormat manusia terhadap tradisi lama ternyata justru membantu keberhasilan lahirnya hal-hal baru.

Semangat lama dipertahankan, meskipun bentuk luarnya bisa berubah.

Kecenderungan untuk menjaga kesinambungan inilah yang membuat sebagian orang menganggap India sebagai peradaban yang tidak bergerak atau tidak berubah.

Namun sebenarnya pikiran manusia tidak pernah benar-benar berhenti berkembang, meskipun perkembangan itu tidak selalu berarti memutus hubungan sepenuhnya dengan masa lalu.

Penghormatan terhadap tradisi inilah yang menciptakan kesinambungan yang kuat dalam pemikiran India.

Setiap zaman terhubung dengan zaman sebelumnya melalui rasa hormat dan kesadaran akan warisan yang diwariskan.

Kebudayaan Hindu terbentuk melalui perubahan panjang selama berabad-abad, dibangun oleh banyak generasi manusia.

Ada masa-masa yang panjang dan penuh kesedihan, ada pula masa-masa singkat yang penuh semangat dan kegembiraan.

Namun setiap generasi menambahkan sesuatu pada tradisi besar yang terus hidup hingga sekarang—tradisi yang masih membawa jejak masa lalu, tetapi tetap hidup dan berkembang.

Perjalanan filsafat India sering dibandingkan dengan aliran sebuah sungai besar. Sungai itu bermula dari pegunungan tinggi di utara, mengalir deras dengan penuh semangat dari sumbernya, lalu melintasi lembah-lembah gelap dan dataran luas.

Dalam perjalanannya, sungai itu menyerap aliran-aliran kecil lain ke dalam arusnya yang kuat dan tak terbendung. Semakin jauh mengalir, semakin besar dan agung kekuatannya. Ia bergerak dengan ketenangan yang penuh wibawa melewati negeri-negeri dan masyarakat yang kehidupannya dipengaruhi oleh arusnya, sambil membawa ribuan kapal di atas permukaannya.

Begitulah filsafat India berkembang: terus bergerak, menyerap berbagai gagasan, memperluas pengaruhnya, dan membentuk kehidupan banyak manusia sepanjang sejarah.

Dan siapa yang tahu kapan atau apakah suatu hari sungai besar ini—yang hingga kini masih terus mengalir dengan kekuatan dan semangatnya—akan akhirnya bermuara ke samudra, sumber dan tujuan dari semua sungai?


Sistem Filsafat India: Harmoni dalam Keragaman

Ada banyak pemikir India yang memandang seluruh filsafat India bukan sebagai kumpulan ajaran yang saling terpisah, melainkan sebagai satu kesatuan besar—sebuah proses pewahyuan yang terus berkembang sepanjang sejarah.

Mereka percaya bahwa setiap peradaban sedang berusaha mewujudkan suatu gagasan ilahi yang khas bagi dirinya. Ada semacam tujuan batin yang bekerja dari dalam dan mengarahkan perkembangan setiap bangsa menuju bentuk pencapaian tertentu.

Karena itu, berbagai sistem filsafat yang muncul di India dipandang bukan sebagai lawan satu sama lain, melainkan sebagai cabang-cabang dari pohon yang sama.


Kesimpulan: Intuisi, Logika, dan Realitas

Bahkan jalan-jalan pemikiran yang tampak menyimpang atau buntu pada akhirnya dianggap tetap memiliki tempat dalam perjalanan besar menuju kebenaran.

Salah satu cara terkenal yang digunakan untuk mendamaikan enam sistem filsafat ortodoks India adalah melalui sebuah perumpamaan sederhana.

Ketika seorang ibu ingin menunjukkan bulan kepada anak kecilnya, ia mungkin berkata bahwa bulan adalah lingkaran bercahaya di atas pohon. Penjelasan itu cukup bagi si anak, meskipun sang ibu tidak menjelaskan jarak luar biasa jauh antara bumi dan bulan—sesuatu yang justru akan membingungkan anak itu.

Demikian pula, berbagai sistem filsafat dianggap diberikan sesuai dengan tingkat pemahaman manusia yang berbeda-beda.

Karya Prabodhacandrodaya, sebuah drama filosofis, menyatakan bahwa enam sistem filsafat Hindu sebenarnya tidak saling bertentangan. Masing-masing hanya menjelaskan kemuliaan Tuhan yang sama dari sudut pandang yang berbeda.

Semua sistem itu bersama-sama membentuk pusat hidup yang menyatukan berbagai sinar yang dipantulkan oleh kemanusiaan yang beraneka ragam dari satu matahari kebenaran yang agung.

Dalam Sarvadarshanasamgraha yang ditulis sekitar tahun 1380 M, Madhava menggambarkan enam belas sistem filsafat sebagai tahapan yang berkembang secara bertingkat dan akhirnya mencapai puncaknya dalam Advaita Vedanta.

Dengan semangat yang mirip dengan pemikiran Georg Wilhelm Friedrich Hegel, ia memandang sejarah filsafat India sebagai usaha bertahap manusia untuk mencapai pemahaman yang semakin lengkap tentang dunia.

Menurut pandangan ini, kebenaran terungkap sedikit demi sedikit melalui berbagai sistem filsafat yang muncul secara berurutan. Kebenaran yang utuh baru tampak ketika seluruh rangkaian pemikiran itu dipahami bersama.

Dalam Advaita Vedanta, berbagai cahaya pemikiran itu dianggap akhirnya berkumpul dalam satu titik pusat.

Sementara itu, Vijnanabhikshu berpendapat bahwa semua sistem filsafat memiliki nilai dan otoritasnya sendiri. Ia mencoba mendamaikan semuanya dengan membedakan antara kebenaran praktis dan kebenaran metafisis, sambil menganggap Samkhya sebagai bentuk akhir dari kebenaran.

Madhusudana Sarasvati dalam karyanya Prasthanabheda menulis bahwa tujuan utama para pemikir besar yang menciptakan berbagai sistem filsafat sebenarnya sama: mendukung gagasan tentang maya dan menegaskan keberadaan satu Tuhan tertinggi sebagai hakikat tunggal dari segala sesuatu.

Menurutnya, para filsuf besar itu tidak mungkin salah karena mereka dianggap memiliki pengetahuan yang sangat tinggi. Namun mereka memahami bahwa manusia yang terlalu terikat pada dunia luar tidak akan mampu langsung memahami kebenaran tertinggi.

Karena itu, mereka menyampaikan berbagai macam ajaran dan teori agar manusia tidak jatuh ke dalam ateisme.

Sayangnya, banyak orang kemudian salah memahami maksud para pemikir tersebut. Mereka mengira setiap sistem filsafat benar-benar bertentangan satu sama lain dan akhirnya hanya memilih satu ajaran tertentu sambil menolak yang lain.

Usaha untuk mendamaikan berbagai sistem filsafat seperti ini dilakukan oleh hampir semua penafsir dan komentator India.

Perbedaannya hanya terletak pada sistem mana yang mereka anggap paling mendekati kebenaran tertinggi.

Para pendukung Nyaya seperti Udayana menganggap Nyaya sebagai jalan yang benar. Para pemikir teistik seperti Ramanuja menganggap teisme sebagai bentuk kebenaran tertinggi.

Namun secara umum, semangat budaya India cenderung melihat bahwa berbagai aliran pemikiran yang berkembang di tanah India pada akhirnya akan mengalir menuju satu sungai besar yang sama—sungai yang mengarah kepada “Kota Tuhan”.

Sejak awal, masyarakat India merasa bahwa kebenaran memiliki banyak sisi. Tidak ada satu pandangan pun yang mampu sepenuhnya mengungkap seluruh kebenaran.

Karena itu, mereka cenderung bersikap toleran dan terbuka terhadap pandangan lain.

Mereka bahkan tidak takut menerima ajaran-ajaran yang tampak berbahaya selama ajaran itu memiliki dasar logis yang kuat.

Masyarakat India juga berusaha mempertahankan warisan tradisi sebanyak mungkin. Mereka tidak mudah membuang ajaran lama, melainkan mencoba menyesuaikan dan menggabungkannya ke dalam pemahaman baru.

Dalam perjalanan mempelajari filsafat India, banyak contoh sikap toleran seperti ini akan ditemukan.

Tentu saja, sikap yang sangat luas dan terbuka ini juga memiliki bahaya.

Kadang-kadang hal itu membuat sebagian pemikir India jatuh ke dalam pemikiran yang terlalu kabur, menerima berbagai gagasan tanpa kritik yang cukup tajam, atau mencampuradukkan berbagai ajaran secara dangkal tanpa ketelitian yang mendalam.



3. Beberapa Kritik terhadap Filsafat India

Beberapa kritik yang paling sering ditujukan kepada filsafat India adalah bahwa filsafat ini dianggap pesimistis, terlalu dogmatis, kurang peduli terhadap etika, dan tidak berkembang.

Tuduhan bahwa Filsafat India Bersifat Pesimistis

Hampir semua pengkritik filsafat dan kebudayaan India menyoroti apa yang mereka anggap sebagai sifat pesimistis dalam pemikiran India.

Namun sebenarnya sulit membayangkan bagaimana pikiran manusia dapat berpikir bebas, melakukan perenungan mendalam, dan bahkan membentuk kembali kehidupan jika sepenuhnya dikuasai oleh keputusasaan dan rasa lelah terhadap hidup.

Secara logis, keluasan dan kebebasan pemikiran India justru bertentangan dengan pesimisme yang benar-benar mutlak.

Filsafat India bisa disebut pesimistis hanya jika yang dimaksud dengan pesimisme adalah rasa ketidakpuasan terhadap keadaan dunia sebagaimana adanya.

Dalam pengertian itu, hampir semua filsafat sebenarnya bersifat pesimistis.

Penderitaan manusia dan ketidaksempurnaan dunia justru menjadi alasan mengapa manusia mulai bertanya dan mencari jawaban melalui filsafat dan agama.

Banyak sistem keagamaan yang menekankan keselamatan atau pembebasan juga pada dasarnya mencari jalan keluar dari kehidupan duniawi seperti yang dialami manusia sekarang.

Namun dalam filsafat India, kenyataan sejati pada dasarnya tidak dianggap jahat.

Menariknya, dalam tradisi filsafat India kata sat digunakan sekaligus untuk berarti “kenyataan” dan “kesempurnaan”.

Dengan kata lain, kenyataan sejati dan kebaikan dipandang sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan.

Apa yang benar-benar nyata juga merupakan sesuatu yang paling bernilai. Dari sinilah dasar optimisme filsafat India sebenarnya muncul.

Bernard Bosanquet pernah menulis bahwa ia percaya pada optimisme, tetapi optimisme yang sejati harus berani melewati pesimisme terlebih dahulu dan melampauinya.

Menurutnya, pemahaman hidup yang mendalam memang harus mengakui adanya penderitaan dan kejahatan dalam dunia.

Dan meskipun pandangan seperti itu mungkin dianggap berbahaya karena dapat membuat orang menerima kejahatan begitu saja, setiap kebenaran yang benar-benar mendalam selalu memiliki risiko semacam itu.

Dengan demikian, para pemikir India dapat disebut pesimistis karena mereka melihat dunia yang berubah-ubah ini penuh penderitaan, ketidakstabilan, dan ilusi.

Namun mereka juga optimistis karena percaya bahwa manusia dapat keluar dari keadaan itu dan mencapai dunia kebenaran—dan kebenaran itu sekaligus merupakan kebaikan tertinggi.


Tuduhan bahwa Filsafat India Bersifat Dogmatis

Kritik lain mengatakan bahwa filsafat India terlalu dogmatis, padahal filsafat sejati seharusnya tidak bergantung pada dogma.

Namun menurut penulis, perjalanan sejarah filsafat India sendiri sebenarnya sudah cukup untuk membantah tuduhan ini.

Banyak sistem filsafat India justru memulai pembahasannya dengan menyelidiki persoalan pengetahuan: dari mana pengetahuan berasal, bagaimana validitasnya, dan sejauh mana manusia dapat mempercayainya.

Memang benar bahwa Vedas atau shruti sering dianggap sebagai sumber pengetahuan yang memiliki otoritas.

Namun sebuah filsafat baru bisa disebut benar-benar dogmatis jika ajaran kitab suci diterima begitu saja tanpa mempertimbangkan pengalaman indrawi maupun penalaran rasional.

Dalam tradisi India, pernyataan-pernyataan Weda dipandang sebagai aptavacana—yakni ucapan para bijak atau orang-orang yang dianggap memiliki pengetahuan lebih dalam mengenai kenyataan.

Manusia diminta menerima ajaran itu bukan secara buta, tetapi karena diyakini bahwa para bijak tersebut memiliki kemampuan memahami kenyataan yang lebih tinggi dibandingkan kebanyakan orang.

Secara umum, ajaran-ajaran dalam Weda berkaitan dengan pengalaman spiritual para resi atau orang suci.

Dan pengalaman semacam itu dianggap harus diperhitungkan dalam setiap usaha rasional untuk memahami kenyataan.

Pengalaman intuitif tersebut tidak dipandang sebagai sesuatu yang hanya dimiliki segelintir orang pilihan.

Sebaliknya, filsafat India percaya bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki kemungkinan untuk mencapai pengalaman itu jika sungguh-sungguh berusaha mencapainya.

Karena itu, merujuk kepada Weda tidak berarti menggunakan standar di luar filsafat atau menolak pemikiran rasional.

Apa yang bagi orang biasa tampak sebagai dogma, bagi mereka yang telah mengalami pengalaman spiritual secara langsung justru merupakan pengalaman nyata.

Memang benar bahwa ketika perkembangan filsafat India memasuki masa komentar-komentar filsafat yang lebih belakangan, muncul keadaan yang lebih ortodoks. Pada tahap ini, filsafat sering berubah menjadi pembelaan akademis terhadap ajaran-ajaran yang sudah diterima sebelumnya.

Sistem-sistem filsafat awal di India sebenarnya juga sering menyebut diri mereka sebagai penafsiran atau komentar atas teks-teks kuno. Namun pemikiran mereka tidak berubah menjadi skolastik yang kaku, karena Upanishads—yang menjadi sumber inspirasi utama mereka—sendiri memiliki banyak sisi dan terbuka terhadap berbagai penafsiran.

Setelah abad ke-8, perdebatan filsafat mulai menjadi semakin tradisional dan skolastik sifatnya. Kebebasan berpikir yang kuat pada masa-masa sebelumnya mulai berkurang.

Para pendiri aliran filsafat mulai dipandang hampir seperti tokoh suci. Akibatnya, mempertanyakan pendapat mereka dianggap hampir sama dengan tindakan tidak hormat atau bahkan penghinaan terhadap ajaran suci.

Pokok-pokok ajaran dianggap sudah ditetapkan untuk selamanya. Tugas seorang guru bukan lagi mencari kebenaran baru, melainkan menyampaikan ajaran sekolahnya dengan sedikit penyesuaian sesuai kemampuan pribadi dan tuntutan zaman.

Akibatnya, yang muncul sering kali hanyalah argumen-argumen baru untuk mempertahankan kesimpulan lama, atau cara-cara baru untuk menjawab kesulitan baru tanpa benar-benar mengubah dasar pemikiran lama.

Pemikiran filsafat menjadi lebih sibuk memperdebatkan persoalan-persoalan teknis dan buatan daripada merenungkan persoalan besar kehidupan manusia.

Warisan tradisi yang begitu kaya justru terkadang menjadi beban yang menghambat gerak filsafat itu sendiri. Filsafat kehilangan daya hidupnya, bahkan kadang-kadang terasa seolah sulit bernapas.

Kritik bahwa filsafat India tidak berguna mungkin memiliki sedikit dasar jika ditujukan kepada sebagian komentar filsafat yang terlalu penuh permainan kata dan perdebatan teknis.

Para komentator belakangan ini sering kali berbeda dengan para filsuf generasi awal yang penuh semangat hidup dan visi spiritual. Banyak dari mereka lebih menjadi ahli debat profesional daripada pencari kebenaran yang hidup.

Namun demikian, meskipun tradisi lama kadang membeku menjadi keras seperti kerak usia, jiwa di dalamnya tetap bisa hidup dan muda.

Sesekali muncul tokoh-tokoh besar seperti Adi Shankaracharya atau Madhava yang meskipun menyebut diri mereka hanya sebagai komentator, sebenarnya mampu menangkap kembali prinsip spiritual yang menggerakkan kehidupan dan dunia.


Sering pula dikatakan bahwa filsafat India kurang memiliki perhatian terhadap etika.

Bahkan ada yang berpendapat bahwa hampir tidak ada filsafat etika dalam tradisi pemikiran Hindu.

Namun tuduhan ini sebenarnya sulit dipertahankan.

Dalam tradisi India terdapat banyak usaha untuk memenuhi seluruh kehidupan manusia dengan kekuatan spiritual.

Selain gagasan tentang kenyataan (reality), konsep Dharma merupakan salah satu gagasan paling penting dalam pemikiran India.

Jika dilihat dari isi ajaran etikanya, Buddhism, Jainism, maupun tradisi Hindu sama sekali tidak lebih rendah dibandingkan tradisi lain di dunia.

Bahkan kesempurnaan moral dipandang sebagai langkah pertama menuju pengetahuan ilahi.


Kritik lain mengatakan bahwa filsafat India tidak berkembang dan hanya mengulang-ulang pemikiran lama tanpa kemajuan nyata.

Pandangan tentang “Timur yang tidak berubah” sering menggambarkan India seolah-olah berada di luar arus waktu dan tetap diam selamanya.

Namun jika yang dimaksud adalah bahwa filsafat India terus membahas persoalan-persoalan yang sama, maka hal itu sebenarnya berlaku bagi hampir semua tradisi filsafat di dunia.

Pertanyaan tentang Tuhan, kebebasan manusia, dan keabadian jiwa terus muncul sepanjang sejarah filsafat, begitu pula berbagai jawaban yang sering kali tidak pernah benar-benar memuaskan.

Memang bentuk pertanyaannya tetap sama, tetapi isi dan cara memahaminya berubah dari zaman ke zaman.

Ada perbedaan yang sangat besar antara dewa-dewa dalam himne Vedas yang meminum soma dan konsep Yang Mutlak dalam filsafat Adi Shankaracharya.

Situasi kehidupan yang melahirkan filsafat selalu muncul kembali di setiap generasi, dan karena itu usaha manusia untuk menjawabnya juga terus diperbarui.

Jika kritik itu berarti bahwa pemikiran India tidak jauh berbeda dari pemikiran dalam karya-karya Plato atau tulisan-tulisan Kristen kuno, maka hal itu justru menunjukkan bahwa roh universal yang sama terus berbicara kepada manusia dalam berbagai zaman dan budaya.

Tema-tema besar tentang kehidupan dan kebenaran diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi selalu diberi warna baru sesuai ras, budaya, dan tradisi masing-masing masyarakat.

Jika yang dimaksud adalah bahwa pemikir India sangat menghormati masa lalu sehingga mereka cenderung menuangkan “anggur baru ke dalam botol lama”, maka itu memang salah satu ciri khas pemikiran India.

Bagi mereka, perkembangan bukan berarti menghancurkan masa lalu, melainkan menerima hal-hal baik dari warisan lama lalu menambahkan sesuatu yang baru ke dalamnya.

Artinya, seseorang mewarisi keyakinan para pendahulunya lalu menyesuaikannya dengan semangat zamannya sendiri.

Ada pula kritik bahwa filsafat India menjadi tidak relevan karena tidak memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Namun menurut penulis, kritik seperti itu sebenarnya juga bisa ditujukan kepada banyak pemikiran lama lainnya.

Perkembangan ilmu pengetahuan modern ternyata tidak mengubah inti filsafat sedrastis yang sering dibayangkan orang.

Teori-teori ilmiah besar seperti evolusi biologis atau relativitas fisika memang revolusioner dalam ilmu pengetahuan, tetapi tidak sepenuhnya menghancurkan sistem filsafat yang sudah ada. Dalam beberapa hal, teori-teori itu justru memberi dukungan baru dari sudut pandang yang berbeda.

Meski demikian, kritik tentang kemandekan memang memiliki dasar ketika filsafat India memasuki masa setelah para komentator besar pertama.

Pada masa itu, pengaruh masa lalu menjadi terlalu berat. Kreativitas mulai terhambat, dan berkembanglah tradisi skolastik yang mirip dengan para pemikir skolastik abad pertengahan di Barat—dengan penghormatan yang sangat besar terhadap otoritas dan tradisi, serta masuknya prasangka-prasangka teologis ke dalam filsafat.

Seorang filsuf India sebenarnya mungkin dapat menghasilkan pemikiran yang lebih besar lagi jika ia memiliki kebebasan yang lebih luas untuk berpikir dan berkembang.

Agar filsafat tetap hidup dan terus berkembang secara kreatif, diperlukan hubungan yang terus-menerus dengan gerakan-gerakan kehidupan yang nyata dan dinamis—gerakan yang mampu menumbuhkan kebebasan berpikir yang sejati.

Tanpa kebebasan semacam itu, aliran energi kreatif dalam filsafat perlahan dapat melemah.

Penulis tampaknya melihat bahwa filsafat India mulai kehilangan kekuatan dan vitalitasnya ketika keadaan politik India mengalami kemunduran dan kekalahan.

Namun ia juga berharap bahwa zaman baru yang sedang mulai muncul bagi India dapat memberikan dorongan dan inspirasi baru bagi kebangkitan pemikiran India.

Jika para pemikir India mampu memadukan kecintaan terhadap warisan lama dengan semangat mencari kebenaran yang sejati, maka filsafat India mungkin masih memiliki masa depan yang sama agungnya dengan masa lalunya.



4. Nilai Mempelajari Filsafat India

Pemikiran India layak dipelajari bukan hanya sebagai bahan penelitian tentang masa lampau atau sekadar peninggalan sejarah kuno.

Gagasan-gagasan para pemikir terdahulu dan pemikiran dari zaman lampau tetap memiliki nilai penting. Apa pun yang pernah menyentuh dan menarik perhatian manusia tidak akan pernah sepenuhnya kehilangan daya hidupnya.

Dalam pemikiran bangsa Arya pada masa Vedas, kita dapat melihat bagaimana pikiran-pikiran besar manusia bergulat dengan persoalan-persoalan paling mendasar yang selalu menghantui kehidupan manusia.

Georg Wilhelm Friedrich Hegel pernah mengatakan bahwa sejarah filsafat pada hakikatnya bukanlah sekadar cerita tentang masa lalu.

Sejarah filsafat berbicara tentang sesuatu yang abadi dan selalu hadir dalam kehidupan manusia. Karena itu, sejarah filsafat bukanlah museum berisi kesalahan-kesalahan pikiran manusia, melainkan semacam “kuil besar” yang dipenuhi tokoh-tokoh agung yang mewakili tahap-tahap perkembangan pemikiran manusia.

Begitu pula sejarah pemikiran India.

Pada pandangan pertama, sejarah itu mungkin tampak hanya sebagai rangkaian gagasan abstrak yang saling berganti dengan cepat. Namun sebenarnya di baliknya terdapat usaha panjang manusia untuk memahami kenyataan hidup.

Memang mudah untuk mengejek filsafat.

Bagi orang yang hanya puas hidup dalam dunia indrawi dan berpikir secara dangkal, persoalan-persoalan filsafat sering tampak tidak nyata atau bahkan terdengar lucu.

Para pengkritik filsafat sering menganggap perdebatan filosofis hanya sebagai permainan logika yang tidak berguna—perdebatan tentang persoalan-persoalan seperti “mana yang lebih dulu, ayam atau telur?”

Namun persoalan-persoalan yang dibahas dalam filsafat India sebenarnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang telah membingungkan manusia sejak awal sejarah.

Meskipun belum pernah ditemukan jawaban yang memuaskan semua orang, manusia selalu memiliki kebutuhan mendalam untuk memahami hakikat jiwa, Tuhan, dan kehidupan.

Setiap orang yang benar-benar berpikir, ketika menyadari bahwa hidup manusia terus bergerak tanpa henti dari kelahiran menuju kematian—terbawa arus kehidupan dan perubahan yang terus mengalir—pasti akan bertanya:

Apa sebenarnya tujuan dari semua ini?

Apa makna keseluruhan kehidupan, di luar kejadian-kejadian kecil sehari-hari yang sering mengalihkan perhatian manusia?

Karena itu, filsafat bukanlah kebiasaan khusus bangsa India semata. Filsafat adalah kebutuhan dan kepentingan manusia secara universal.

Jika kita mengabaikan filsafat profesional yang kadang memang bisa berubah menjadi permainan akademis yang kering, kita akan menemukan bahwa India telah menghasilkan salah satu perkembangan logika dan pemikiran paling penting dalam sejarah manusia.

Usaha para pemikir India sangat berharga bagi perkembangan pengetahuan manusia. Karena itu karya-karya mereka tetap layak dipelajari, meskipun di dalamnya mungkin terdapat kesalahan-kesalahan yang jelas.

Jika kesalahan-kesalahan dalam filsafat masa lalu dijadikan alasan untuk menolak seluruh filsafat, maka bukan hanya filsafat India yang harus ditinggalkan, tetapi seluruh tradisi filsafat manusia.

Lagipula, bahkan dalam karya para filsuf Barat terbesar seperti Plato dan Aristotle, bagian dari pemikiran mereka yang benar-benar bertahan sebagai kebenaran tetap juga sebenarnya tidak terlalu besar.

Orang bisa saja menertawakan ungkapan-ungkapan indah Plato, dogmatisme kaku René Descartes, empirisme kering David Hume, atau paradoks membingungkan Georg Wilhelm Friedrich Hegel.

Namun meskipun demikian, manusia tetap memperoleh manfaat besar dari mempelajari karya-karya mereka.

Demikian pula dengan filsafat India.

Walaupun mungkin hanya sebagian kecil gagasan para pemikir India yang benar-benar membentuk sejarah pemikiran manusia, tetap ada sintesis besar dan sistem pemikiran luar biasa yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Gautama Buddha dan Adi Shankaracharya.

Pemikiran mereka akan tetap menjadi penanda penting dalam sejarah intelektual manusia dan menjadi bukti keagungan kemampuan berpikir manusia.

Bagi pelajar India sendiri, mempelajari filsafat India sangat penting untuk memahami masa lalu bangsanya secara lebih tepat.

Pada masa kini, banyak orang Hindu memandang berbagai sistem pemikiran lama—seperti Buddhism, Advaita Vedanta, dan Dvaita Vedanta—sebagai sama-sama benar dan layak diterima oleh akal.

Para pendiri sistem-sistem itu bahkan sering dihormati seperti tokoh ilahi.

Mempelajari filsafat India dapat membantu menjernihkan keadaan ini.

Kajian yang serius dapat membantu orang memiliki pandangan yang lebih seimbang dan membebaskan pikiran dari anggapan bahwa segala sesuatu yang kuno pasti sempurna.

Kebebasan dari ketergantungan buta pada otoritas masa lalu adalah sesuatu yang sangat penting untuk diperjuangkan.

Sebab hanya ketika pikiran terbebas dari belenggu seperti itu, pemikiran yang benar-benar asli dan kreatif dapat muncul kembali.

Bagi masyarakat India modern, mempelajari sejarah awal bangsanya mungkin juga memberikan semacam penghiburan yang pahit namun bermakna.

Seperti orang tua yang sering menemukan hiburan dalam kenangan masa mudanya, manusia kadang mencoba melupakan kesulitan masa kini dengan mengenang masa lalu yang dianggap lebih baik.


5. Periode-Periode Pemikiran India

Ketika menggunakan istilah “Filsafat India”, sebenarnya perlu dijelaskan mengapa istilah itu dipakai untuk membahas filsafat kaum Hindu secara khusus, padahal di India juga terdapat banyak komunitas lain dengan tradisi pemikirannya sendiri.

Alasan paling sederhana adalah karena penggunaan umum istilah tersebut.

Bahkan hingga sekarang, India sebagian besar masih didominasi oleh tradisi Hindu. Selain itu, pembahasan ini terutama berfokus pada sejarah pemikiran India sampai sekitar tahun 1000 M atau sedikit sesudahnya—masa ketika perjalanan sejarah kaum Hindu mulai semakin berkaitan dengan komunitas-komunitas non-Hindu di India.

Dalam perkembangan panjang pemikiran India, berbagai bangsa dan kelompok manusia dari berbagai zaman memang turut memberikan sumbangan mereka masing-masing.

Namun semangat khas India tetap memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk semua unsur tersebut.

Memang sulit untuk menentukan secara pasti urutan perkembangan sejarah pemikiran India. Meski demikian, usaha untuk memahami filsafat India tetap perlu dilakukan dari sudut pandang sejarah.

Ajaran setiap aliran filsafat sebenarnya sangat berkaitan dengan lingkungan sosial dan zamannya. Karena itu, sistem-sistem filsafat harus dipahami bersama konteks sejarahnya.

Jika tidak, filsafat hanya akan menjadi tradisi mati tanpa makna hidup bagi manusia masa kini.

Setiap sistem filsafat pada dasarnya lahir sebagai jawaban atas pertanyaan penting yang muncul pada zamannya sendiri.

Dan jika dipahami dari sudut pandangnya sendiri, setiap sistem biasanya mengandung sebagian kebenaran.

Filsafat bukan sekadar kumpulan pernyataan yang bisa langsung dinilai benar atau salah.

Filsafat adalah ungkapan perkembangan pikiran manusia—cara manusia memahami hidup dan dunia pada masa tertentu.

Karena itu, untuk memahami suatu sistem filsafat, kita perlu mencoba hidup di dalam cara berpikir yang melahirkannya.

Kita juga harus menyadari bahwa filsafat memiliki hubungan yang erat dengan sejarah dan kondisi sosial masyarakatnya.

Kehidupan intelektual tidak pernah sepenuhnya terpisah dari keadaan masyarakat tempat ia berkembang.

Metode sejarah menuntut kita untuk tidak memihak salah satu aliran filsafat ketika mempelajarinya.

Sebaliknya, kita harus mengikuti perkembangan pemikiran itu dengan sikap yang setenang dan seobjektif mungkin.

Walaupun sudut pandang sejarah sangat penting, ada kesulitan besar dalam mempelajari filsafat India: hampir tidak ada perhatian yang serius pada pencatatan kronologi pada masa kuno.

Karena itu, sangat sulit menentukan secara tepat kapan berbagai sistem filsafat muncul dan berkembang.

Orang India kuno tampaknya kurang tertarik pada pencatatan sejarah secara rinci—atau mungkin mereka terlalu terfokus pada persoalan filsafat dan spiritualitas sehingga sejarah pribadi para pemikir dianggap tidak terlalu penting.

Akibatnya, kita sering mengetahui lebih banyak tentang ajaran filsafat mereka daripada tentang kehidupan para filsuf itu sendiri.

Baru sejak masa Gautama Buddha kronologi sejarah India mulai memiliki dasar yang lebih jelas.

Kebangkitan Buddhism terjadi pada masa ketika kekuasaan Achaemenid Empire meluas hingga Sungai Indus.

Hubungan antara India dan Persia pada masa itu juga menjadi salah satu sumber awal pengetahuan dunia Barat tentang India.

Melalui hubungan tersebut, tokoh-tokoh Yunani kuno seperti Hecataeus of Miletus dan Herodotus mulai memperoleh informasi awal mengenai India.


Berikut adalah pembagian besar dalam filsafat India:

  1. Periode Weda (1500 SM – 600 SM)
    Periode ini mencakup masa ketika bangsa Arya mulai menetap serta secara bertahap memperluas penyebaran budaya dan peradaban Arya. Pada masa inilah muncul universitas-universitas hutan, tempat berkembangnya benih-benih idealisme luhur India. Dalam periode ini dapat dikenali beberapa lapisan pemikiran yang berkembang secara berturut-turut, yaitu Mantra atau himne-himne suci, Brahmana, dan Upanishad.

    Gagasan-gagasan yang muncul pada zaman ini belum dapat disebut sebagai filsafat dalam pengertian teknis yang sepenuhnya matang. Masa ini lebih merupakan zaman pencarian, ketika takhayul dan pemikiran rasional masih saling berbenturan. Namun demikian, untuk memberikan keteraturan dan kesinambungan dalam pembahasan, penting untuk memulai dengan meninjau pandangan hidup yang tercermin dalam himne-himne Rig-Veda, lalu dilanjutkan dengan pembahasan mengenai ajaran-ajaran Upanishad.

  2. Periode Epik (600 SM – 200 M)
    Periode ini meliputi perkembangan pemikiran yang berlangsung di antara masa Upanishad awal dan lahirnya darshana atau sistem-sistem filsafat India. Epos besar seperti Ramayana dan Mahabharata menjadi sarana penyampaian pesan baru mengenai kepahlawanan dan ketuhanan dalam hubungan antarmanusia.

    Pada masa ini juga terjadi proses demokratisasi besar-besaran terhadap gagasan-gagasan Upanishad, terutama melalui ajaran Buddha dan Bhagavad Gita, sehingga pemikiran yang sebelumnya terbatas pada kalangan tertentu menjadi lebih luas dan dapat dijangkau oleh masyarakat umum. Sistem-sistem keagamaan seperti Buddhisme, Jainisme, Shaivisme, dan Vaishnavisme berkembang pada zaman ini.

    Selain itu, perkembangan pemikiran abstrak yang kemudian mencapai puncaknya dalam berbagai aliran filsafat India—yang dikenal sebagai darshana—juga berlangsung pada periode ini. Sebagian besar sistem tersebut mulai tumbuh pada masa kebangkitan Buddhisme dan berkembang berdampingan selama berabad-abad. Namun, karya-karya yang benar-benar sistematis dari masing-masing aliran baru muncul pada masa yang lebih kemudian.

  3. Periode Sutra (mulai sekitar 200 M)
    Seiring berjalannya waktu, jumlah dan keragaman bahan pemikiran filsafat India berkembang begitu luas dan rumit sehingga diperlukan suatu cara yang lebih ringkas untuk merumuskan ajaran-ajarannya. Dari kebutuhan inilah lahir bentuk penyajian filsafat yang disebut Sutra—ungkapan-ungkapan singkat dan padat yang merangkum pokok-pokok ajaran filsafat.

    Namun, Sutra sering kali sangat singkat dan padat sehingga sulit dipahami tanpa bantuan penjelasan tambahan. Karena itu, lahirlah berbagai komentar dan penafsiran atas Sutra, dan dalam banyak kasus komentar-komentar tersebut bahkan menjadi lebih penting daripada teks Sutra itu sendiri.

    Pada periode ini, sikap kritis dalam filsafat mulai berkembang dengan lebih jelas. Memang, pada periode-periode sebelumnya sudah terdapat diskusi-diskusi filosofis; pikiran manusia tidak sekadar menerima begitu saja apa yang diajarkan, melainkan juga mempertanyakan, mengajukan keberatan, dan mencoba memberikan jawaban. Para pemikir masa awal, melalui intuisi yang tajam, berusaha menemukan prinsip-prinsip umum yang mereka yakini mampu menjelaskan seluruh aspek alam semesta.

    Namun, sintesis-sintesis filsafat yang mereka hasilkan—betapapun mendalam dan tajamnya—masih memiliki kelemahan mendasar: pemikiran tersebut belum bersifat kritis dalam pengertian yang dikemukakan oleh Immanuel Kant. Sebelum melakukan kritik terhadap kemampuan manusia sendiri dalam memecahkan persoalan-persoalan filsafat, akal langsung memandang dunia dan menarik kesimpulan darinya. Upaya-upaya awal untuk memahami dan menafsirkan dunia belum sepenuhnya dapat disebut sebagai usaha filsafat yang ketat, sebab para pemikir saat itu belum terlalu mempersoalkan apakah pikiran manusia benar-benar mampu memahami kenyataan, atau apakah alat serta kriteria yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan itu dapat dipercaya.

    Sebagaimana dikatakan oleh Edward Caird, pikiran manusia saat itu “terlalu sibuk dengan objek sehingga tidak sempat memperhatikan dirinya sendiri.” Karena itu, ketika memasuki periode Sutra, pemikiran dan refleksi mulai menjadi sadar akan dirinya sendiri. Filsafat tidak lagi hanya berupa imajinasi kreatif dan kebebasan religius, melainkan juga menjadi suatu refleksi kritis terhadap cara berpikir itu sendiri.

    Di antara berbagai sistem filsafat India, sulit untuk menentukan secara pasti mana yang lebih awal dan mana yang muncul belakangan, karena masing-masing saling merujuk satu sama lain. Sistem Yoga menerima ajaran Samkhya; Vaisheshika mengakui baik Nyaya maupun Samkhya; Nyaya merujuk pada Vedanta dan Samkhya; sementara Mimamsa, baik secara langsung maupun tidak langsung, mengakui keberadaan sistem-sistem lainnya sebelumnya. Hal yang sama juga ditemukan dalam Vedanta.

    Menurut Richard Garbe, aliran Samkhya merupakan sistem filsafat yang paling tua. Setelah itu muncul Yoga, kemudian Mimamsa dan Vedanta, dan yang terakhir adalah Vaisheshika serta Nyaya.

    Periode Sutra sendiri tidak dapat dipisahkan secara tegas dari periode skolastik para komentator yang menafsirkan teks-teks tersebut. Kedua periode ini saling berkaitan dan terus berlanjut hingga masa kini.

    1. Periode Skolastik (mulai abad ke-2 M)

    Tidak mudah untuk menarik batas yang tegas antara periode ini dan periode sebelumnya. Meski demikian, periode inilah yang melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Kumarila Bhatta, Adi Shankara, Ramanuja, Madhvacharya, dan sejumlah pemikir penting lainnya seperti Sridhara, Vachaspati, Udayana, Bhaskara, Jayanta, Vijnanabhiksu, serta Raghunatha.

    Dalam periode ini, karya-karya filsafat lambat laun menjadi sangat bersifat polemis. Muncul banyak sarjana skolastik dan ahli debat yang gemar terlibat dalam perdebatan rumit dengan teori-teori yang sangat halus dan argumen-argumen yang berbelit-belit, terutama mengenai persoalan konsep-konsep universal dalam logika. Banyak sarjana India sendiri merasa enggan membuka karya-karya besar mereka karena tulisan-tulisan tersebut sering kali lebih membingungkan daripada mencerahkan.

    Tidak ada yang dapat menyangkal ketajaman intelektual dan semangat mereka. Namun, sering kali yang ditemukan bukan lagi pemikiran yang hidup, melainkan permainan kata-kata; bukan filsafat yang mendalam, melainkan perdebatan logis yang terlalu teknis. Kekaburan pemikiran, kerumitan logika, dan sikap tidak toleran menjadi ciri dari tipe komentator yang paling buruk.

    Meski begitu, para komentator terbaik tetap memiliki nilai yang sangat tinggi, bahkan setara dengan para pemikir kuno itu sendiri. Tokoh-tokoh seperti Adi Shankara dan Ramanuja tidak sekadar mengulang ajaran lama, tetapi menyusunnya kembali dengan cara yang begitu mendalam sehingga penafsiran mereka sendiri dapat dianggap sebagai suatu penemuan spiritual yang baru.

    Terdapat pula sejumlah karya sejarah filsafat India yang ditulis oleh para pemikir India sendiri. Hampir semua komentator pada masa-masa berikutnya, dari sudut pandang aliran masing-masing, membahas dan mengkritik doktrin-doktrin lain. Dengan cara demikian, setiap komentator secara tidak langsung memberikan gambaran tentang sistem-sistem filsafat lainnya. Kadang-kadang bahkan dilakukan usaha sadar untuk membahas berbagai sistem filsafat secara berkesinambungan dalam satu karya.

    Salah satu karya penting semacam itu adalah Saddarshanasamuccaya (“Ringkasan Enam Sistem Filsafat”) karya Haribhadra.

    Seorang Jain Digambara abad ke-6 bernama Samantabhadra dikatakan menulis karya berjudul Aptamimamsa, yang berisi tinjauan terhadap berbagai aliran filsafat. Seorang Buddhis Madhyamika bernama Bhavaviveka dikenal sebagai penulis Tarkajvala, sebuah kritik terhadap aliran Mimamsa, Samkhya, Vaisheshika, dan Vedanta.

    Seorang Jain Digambara lainnya, Vidyananda, dalam karyanya Aptasahasri, serta Merutunga dalam karyanya Saddarshanavichara (1300 M), juga dikatakan memberikan kritik terhadap sistem-sistem filsafat Hindu.

    Salah satu uraian paling terkenal mengenai filsafat India adalah Sarvadarshanasamgraha, karya Madhavacharya, seorang filsuf Vedanta terkenal yang hidup di India Selatan pada abad ke-14. Selain itu, Sarvasiddhantasamgraha, yang dikaitkan dengan Adi Shankara, serta Prasthanabheda karya Madhusudana Sarasvati, juga memuat uraian yang penting mengenai berbagai sistem filsafat India.



:::

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar Filsafat - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Filsafat Kontemporer - Bambang I. Sugiharto

Apa Itu Filsafat?... - Pengantar Filsafat 01 - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Pemikiran Modern - Bambang I. Sugiharto

METAFISIKA KEBUDAYAAN - Bambang I. Sugiharto

Filsafat Ilmu - Bambang I. Sugiharto

Nietzsche & Keberanian Jadi Diri Sendiri

Postmodernisme

HERMENEUTIK - Bambang I. Sugiharto

Écrits dan Arsitektur Kajian Subjek - Lacan