Zizek: Tentang Hasrat, Ideologi, dan Dunia yang Nggak Pernah Selesai
Membaca Žižek: Filsafat, Psikoanalisis, dan Manusia Zaman Sekarang -Thomas Kristiatmo
Pengantar: Dari Filsafat Modern ke Filsafat Kontemporer
Kuliah ini dibuka dengan perkenalan singkat dari Romo Thomas Kristiatmo, seorang Pastor Gereja Katolik Roma yang saat ini bertugas di Gereja Kristus Raja, Cigugur—wilayah paling luar dari Keuskupan Bandung. Romo Thomas ditahbiskan sebagai pastor pada Februari tahun yang sama ketika kuliah ini disampaikan. Ia dengan nada bercanda menyebut dirinya “pastor muda”, karena umumnya orang membayangkan sosok pastor sebagai figur tua dan serius.
Dari perkenalan sederhana itu, Romo Thomas lalu membawa para pendengarnya pada tema utama: pemikiran Slavoj Žižek, seorang filsuf kontemporer asal Slovenia yang unik, eksentrik, sekaligus sulit dikategorikan. Ia mengatakan, Žižek adalah “orang gila yang menarik”, sosok yang berada di antara kebesaran dan keanehan. Dalam dunia filsafat, nama Žižek tidak sebesar para raksasa seperti Kant atau Hegel, tetapi juga tidak kecil. Ia berada di posisi ganjil—penting, berpengaruh, namun tetap sulit untuk dipahami secara utuh.
Menurut Romo Thomas, filsafat modern telah mencapai puncaknya pada masa Kant, Hegel, dan para filsuf besar lainnya yang berupaya memikirkan “segala sesuatu secara utuh.” Filsafat pada masa itu adalah proyek besar—usaha untuk menjelaskan dunia secara menyeluruh, dari realitas, pengetahuan, sampai nilai. Namun, setelah Nietzsche, tidak ada lagi filsuf yang membangun sistem sebesar itu.
Setelah filsafat modern berakhir, dunia berpindah ke era filsafat kontemporer atau postmodernisme, yang lebih bersifat fragmentaris. Romo Thomas menggambarkannya dengan perumpamaan yang jenaka: para filsuf kontemporer seperti anak-anak kecil yang menemukan seekor semut, lalu memandangnya lewat kaca pembesar. Mereka begitu terpesona oleh satu hal kecil, menganalisisnya secara mendalam, memanggil teman-temannya, dan menganggap temuan itu luar biasa—padahal hanya semut. Begitulah, kata Romo Thomas, filsafat kontemporer cenderung hanya membahas potongan-potongan kecil dari kenyataan, bukan keseluruhan.
Akibatnya, filsafat kontemporer sering kehilangan arah. Ia sibuk membongkar, mengkritik, dan menganalisis, tetapi jarang menghasilkan sesuatu yang konkret. Berbeda dengan filsafat modern yang melahirkan konsep besar seperti demokrasi, keadilan, atau rasionalitas, filsafat kontemporer lebih sering hanya menjadi refleksi yang “mengoreksi” pemikiran sebelumnya.
Meski begitu, Romo Thomas menegaskan bahwa pemikiran-pemikiran semacam itu tetap penting. Filsafat, betapapun fragmentarisnya, membantu manusia mempertanyakan kembali apa yang selama ini dianggap benar. Žižek, menurutnya, termasuk dalam barisan filsuf yang “menyegarkan” kesadaran—bukan karena ia membangun sistem besar, tetapi karena ia mengguncang kebiasaan berpikir yang mapan.
Mengenal Slavoj Žižek: Filsuf Gila dari Slovenia
Žižek lahir di Slovenia, wilayah Eropa Timur yang beriklim dingin. Romo Thomas bercerita bahwa ia mengenal beberapa pastor dari Eropa Timur, dan kesan yang ia tangkap adalah: mereka orang-orang yang dingin, tertutup, dan menjaga jarak—berbeda dengan pastor Italia atau Amerika Latin yang hangat dan penuh ekspresi. Ia menduga, karakter masyarakat di wilayah itu ikut membentuk kepribadian Žižek: cenderung kaku, dingin, dan tidak banyak basa-basi.
Žižek belajar filsafat hingga meraih gelar doktor, namun sempat menganggur. Ia kemudian mempelajari psikoanalisis di Prancis, bukan dari tradisi Freud langsung, tetapi melalui penerusnya yang lebih kompleks, yaitu Jacques Lacan.
Romo Thomas menyebut bahwa ketika ia meneliti pemikiran Žižek pada awal 2000-an, ia memilih fokus pada gagasan Žižek tentang subjek, bukan pada politik. Ia mengaku kurang tertarik pada politik, dan lebih ingin memahami bagaimana Žižek memandang manusia sebagai “subjek yang terbentuk oleh ketidaksadaran.”
Salah satu hal yang membuat Žižek menarik adalah penampilannya yang aneh. Dalam banyak seminar atau kuliah yang bisa disaksikan di internet, ia selalu tampil apa adanya—berkaus lusuh, berbicara cepat, sering menyentuh hidungnya, gugup, bahkan seperti orang yang canggung di depan kamera. Namun justru di situlah pesonanya. Ia tampak tidak peduli pada kesan formal, seolah ingin menunjukkan bahwa isi lebih penting daripada gaya.
Dalam hal seni dan budaya, Žižek menolak pemisahan antara “seni tinggi” (high art) dan “seni rendah” (low art). Baginya, film populer dan karya sastra klasik sama-sama bisa menjadi bahan refleksi filsafat. Pandangan ini mengikuti jejak budaya pasca-1960-an yang dipelopori seniman seperti Andy Warhol, di mana batas antara seni elitis dan budaya populer menjadi kabur.
Žižek dengan bebas mengutip film, musik, dan iklan untuk menjelaskan teori rumit seperti dekonstruksi atau hasrat tak sadar. Ia bisa berbicara tentang dekonstruksi Derrida sambil menjelaskan lewat film The Matrix, atau menguraikan konsep agama dan iman dengan membandingkannya dengan film Hollywood. Bagi sebagian orang, cara ini dianggap tidak serius, bahkan mengada-ada. Namun bagi Romo Thomas, justru di situlah kekuatan Žižek: ia membawa filsafat kembali ke ranah kehidupan sehari-hari.
Gaya menulis Žižek juga khas. Ia tidak pernah menulis buku dengan struktur yang tuntas. Setiap tulisannya seperti ajakan berdialog—writerly text, meminjam istilah Roland Barthes. Teks-teks Žižek membuat pembaca ingin ikut menulis, berpikir, dan menafsirkan ulang. Ia membuka ruang, bukan menutupnya.
Namun, gaya ini juga membuatnya sulit dikategorikan sebagai “filsuf sistematis.” Tulisan-tulisannya seperti serpihan, berloncatan dari topik satu ke topik lain: dari agama ke film, dari politik ke seksualitas, dari Lacan ke Hegel. Akibatnya, banyak yang menyebutnya anti-deskriptivis—tidak pernah memberikan definisi yang jelas dan final. Ia mengaburkan persoalan alih-alih menjelaskannya, hingga beberapa kritikus menyebutnya obskurantis (pengabur makna).
Romo Thomas mengutip pengantar buku Pak Bambang, yang menyebut Žižek sebagai sosok “nekat melawan arus”—figur eksentrik, genit secara intelektual, dan suka memadukan teori rumit dengan budaya pop. Misalnya, ia bisa membahas dekonstruksi Derrida lewat film Titanic. Itu seperti, kata Romo Thomas, “membicarakan musik klasik dengan contoh dari dangdut”—aneh, tapi menyegarkan.
Menurut Romo Thomas, fenomena Žižek mencerminkan kondisi zaman kita: dunia yang kabur batasnya, di mana segala hal tidak lagi bisa dijelaskan secara mutlak benar atau salah, boleh atau tidak. Kita hidup dalam era ambiguitas, di mana sistem besar filsafat modern tidak lagi dipercaya.
Itulah latar dunia yang melahirkan Žižek—seorang filsuf yang tidak membangun sistem baru, tetapi mengolah sisa-sisa pemikiran lama menjadi cermin bagi zaman sekarang.
Psikoanalisis: Dari Freud ke Lacan
Sebelum memahami pemikiran Žižek, kita perlu menelusuri akar yang sangat kuat membentuknya, yaitu psikoanalisis.
Žižek tidak mungkin dipahami tanpa mengenal Freud dan Lacan, dua tokoh yang mengubah cara manusia memahami dirinya sendiri — dari makhluk rasional menjadi makhluk yang didorong oleh ketidaksadaran (the unconscious).
1. Awal Psikoanalisis: Freud dan Ketidaksadaran
Sigmund Freud, seorang neurolog asal Wina, adalah pendiri psikoanalisis. Ia bukan hanya menciptakan metode terapi, tetapi juga membuka cara pandang baru terhadap manusia.
Freud berpendapat bahwa perilaku manusia tidak sepenuhnya dikendalikan oleh kesadaran. Di bawah permukaan pikiran sadar, ada wilayah luas yang tak terlihat — ketidaksadaran — yang menyimpan hasrat, trauma, dan dorongan terdalam kita.
Ketidaksadaran inilah yang menentukan pilihan, perilaku, bahkan jalan hidup seseorang.
Misalnya, seseorang mungkin memilih profesi tertentu, menjadi guru atau pastor, bukan semata-mata karena panggilan moral, tetapi karena ada pengalaman tak sadar di masa lalu yang mendorongnya ke arah itu.
Romo Thomas memberi contoh sederhana dari dunia pastoral.
Di seminari, setiap calon imam biasanya menjalani proses pemeriksaan batin: “Mengapa kamu ingin menjadi pastor?” Pertanyaan ini tidak hanya menilai motivasi spiritual, tetapi juga mencoba menggali apakah ada motif tak sadar di balik pilihan itu — mungkin pengalaman trauma, kehilangan figur ayah, atau pencarian kasih yang tidak terpenuhi di masa kecil.
Inilah keunggulan sekaligus kelemahan psikoanalisis: ia bisa “membedah” segala hal, tetapi tidak bisa “dibedah” balik. Ia seperti pisau yang tajam memotong realitas, tapi tidak bisa dipotong oleh siapa pun. Karena itu, psikoanalisis sering dituduh tidak ilmiah, tapi juga sulit disangkal kebenarannya.
2. Ketidaksadaran, Represi, dan Masa Kanak-Kanak
Freud menegaskan bahwa sebagian besar perilaku manusia bersumber dari masa kanak-kanak — periode 0 hingga 5 tahun (atau kadang 6 tahun).
Pada masa ini, anak belum bisa berbicara, tetapi sudah mengalami dan merekam peristiwa secara emosional. Luka batin di masa kecil, seperti melihat pertengkaran atau kekerasan antara orang tua, bisa menetap dalam jiwa tanpa disadari.
Romo Thomas menceritakan pengalamannya di lapangan: banyak pasangan suami-istri yang bermasalah ternyata tumbuh dari keluarga yang penuh kekerasan. Anak yang setiap hari menyaksikan ayahnya memukul ibu, akan tumbuh dengan gambaran bahwa “pernikahan itu adalah kekerasan.”
Ketika ia dewasa dan menikah, ia cenderung mengulang pola yang sama — bukan karena ingin, tetapi karena ketidaksadarannya membentuknya demikian.
Dalam skala sosial, mekanisme ini juga terjadi.
Institusi atau negara pun bisa mengalami “trauma masa kecil.” Misalnya, bangsa yang lahir dari sejarah penjajahan atau kekerasan akan membawa luka kolektif yang membentuk perilaku sosialnya.
Romo Thomas mengutip Gunawan Mohammad yang menyebut negara Indonesia “berdiri di atas tungkai yang luka.” Luka itu — trauma kolektif — bisa membuat institusi sosial terus-menerus mengulang kekeliruan yang sama.
3. Dorongan Hidup dan Dorongan Mati (Eros dan Thanatos)
Freud menemukan dua dorongan utama dalam diri manusia:
Eros, dorongan untuk hidup, mencintai, dan berkembang.
Thanatos, dorongan untuk mati, menghancurkan, dan kembali ke keadaan nol.
Keduanya selalu hadir berdampingan dalam diri manusia.
Dorongan hidup mendorong kita untuk mencipta, mencintai, dan memperjuangkan sesuatu. Tapi dorongan mati membuat kita ingin merusak, menantang bahaya, atau menghancurkan diri sendiri.
Romo Thomas menyebut contoh dari dunia seni dan sastra: Ernest Hemingway, penulis yang hidupnya penuh gairah, petualangan, dan bahaya — tetapi akhirnya bunuh diri. Dalam diri Hemingway, Eros dan Thanatos bekerja bersama, saling menegangkan.
Dorongan ini juga tampak dalam kehidupan beragama.
Banyak tradisi spiritual menekan Eros (hasrat hidup) dan justru memuliakan Thanatos (penyangkalan diri). Puasa, tapa, selibat, bahkan praktik menyakiti diri seperti Silas dalam film Angels and Demons, semuanya menunjukkan bahwa manusia beragama sering merayakan “dorongan mati.”
Bagi psikoanalisis, agama sering menjadi cara budaya untuk “menjinakkan” Eros — menahan kehidupan agar tidak meledak.
4. Struktur Jiwa: Id, Ego, dan Superego
Freud membagi struktur psikis manusia menjadi tiga bagian:
Id → sumber dorongan dasar, tempat bersemayamnya hasrat dan naluri primitif.
Ego → bagian sadar yang mencoba menyeimbangkan dorongan Id dengan kenyataan.
Superego → suara moral, aturan sosial, dan nilai yang ditanamkan masyarakat.
Konflik antara ketiganya adalah sumber utama ketegangan batin.
Ketika dorongan Id (misalnya hasrat) ditekan oleh Superego (aturan moral), timbullah rasa bersalah, cemas, atau perilaku kompulsif.
Inilah yang menjelaskan kenapa banyak orang hidup “dalam konflik batin,” bahkan tanpa tahu penyebabnya.
Romo Thomas menyebut bahwa masyarakat kita pun bekerja dengan mekanisme yang sama.
Kita belajar sejak kecil mana yang “boleh” dan “tidak boleh.” Bahkan tanpa pengawasan, kita tetap menahan diri karena Superego telah tertanam dalam diri.
Istilah ini mengingatkan pada gagasan panoptikon dari Foucault — sistem pengawasan yang membuat orang selalu merasa diawasi, bahkan tanpa penjaga nyata.
5. Kompleks Oedipus dan Relasi dengan Ayah
Salah satu konsep paling terkenal dari Freud adalah kompleks Oedipus, diambil dari mitos Yunani tentang anak yang jatuh cinta pada ibunya dan membunuh ayahnya.
Freud menggunakan kisah ini untuk menjelaskan dinamika keinginan manusia: setiap anak secara tak sadar ingin memiliki kasih ibunya secara total, tapi kehadiran ayah membuatnya sadar bahwa ada batas.
Bapak adalah “yang memisahkan,” simbol hukum, larangan, dan norma.
Romo Thomas menunjukkan bahwa banyak kisah rakyat di berbagai budaya menggambarkan tema serupa — anak yang mencintai ibunya, lalu dihukum.
Pada laki-laki, konflik ini diselesaikan dengan menerima bahwa ia tidak bisa memiliki ibunya seperti ayah memiliki ibu. Ia belajar batas dan jarak — inilah awal pembentukan kesadaran moral dan sosial.
6. Dari Freud ke Lacan: Bahasa dan Simbol
Jacques Lacan, psikoanalis Prancis yang hidup di abad ke-20, merevisi Freud dengan cara yang lebih filosofis.
Ia setuju bahwa manusia ditentukan oleh ketidaksadaran, tetapi menambahkan gagasan penting: “ketidaksadaran terstruktur seperti bahasa.”
Artinya, manusia menjadi subjek bukan hanya karena dorongan biologis, tetapi karena ia masuk ke dalam tatanan simbol — dunia bahasa, hukum, dan budaya.
Bagi Lacan, ada tiga ranah utama dalam kehidupan psikis manusia:
The Imaginary (Yang Imajer) – dunia citra, bayangan, ego, dan identifikasi.
The Symbolic (Yang Simbolik) – tatanan bahasa, hukum, dan norma sosial.
The Real (Yang Riil) – wilayah yang tak bisa disimbolkan; sesuatu yang selalu mengganggu keteraturan simbolik.
Manusia menjadi subjek ketika ia masuk ke ranah simbolik, tetapi dalam proses itu ia kehilangan sebagian dari dirinya — kehilangan keutuhan imajiner masa bayi.
Sejak saat itu, manusia selamanya dikejar oleh sesuatu yang hilang, oleh hasrat yang tak pernah selesai.
Itulah sebabnya, bagi Lacan (dan nanti bagi Žižek), hidup manusia selalu diliputi kekurangan (lack). Kita mencari kepuasan, tapi objek yang dicari itu sebenarnya tidak ada. Pencarian itu sendiri — bukan hasilnya — yang membuat kita hidup.
Jacques Lacan dan Warisannya bagi Slavoj Žižek
1. Lacan: Filsafat Bahasa dan Ketidaksadaran
Jacques Lacan adalah tokoh yang luar biasa berpengaruh bagi pemikiran abad ke-20.
Ia dikenal sebagai pembaca ulang Freud yang membawa psikoanalisis ke wilayah bahasa dan simbol. Kalau Freud meneliti mimpi dan trauma individu, Lacan menelusuri struktur simbolik yang melahirkan subjek itu sendiri.
Ia mengatakan bahwa the unconscious is structured like a language — ketidaksadaran memiliki tata bahasa, logika, dan aturan seperti bahasa.
Dengan kata lain, manusia tidak hanya “punya ketidaksadaran,” tetapi justru hidup di dalam ketidaksadaran itu.
Kita dibentuk oleh bahasa, oleh simbol-simbol sosial yang sudah ada sebelum kita lahir. Kita tidak memilih bahasa — bahasa yang memilih kita.
Begitu bayi belajar bicara, ia sudah masuk ke dunia simbolik: dunia hukum, larangan, dan makna. Ia bukan lagi makhluk alami yang utuh, tapi sudah menjadi “subjek yang terbelah.”
2. Tiga Ranah: Imajer, Simbolik, dan Riil
Lacan membagi struktur psikis manusia ke dalam tiga ranah besar yang selalu saling berinteraksi:
The Imaginary (Yang Imajer): dunia citra, bayangan, ego, dan identitas semu.
Di sinilah manusia belajar mengenali dirinya di cermin. Anak kecil yang melihat bayangannya merasa “itu aku”, padahal yang ia lihat hanyalah refleksi, bukan diri sebenarnya.
Inilah asal mula ego — kesadaran yang terbentuk dari kesalahan persepsi.
The Symbolic (Yang Simbolik): dunia bahasa, hukum, dan norma sosial.
Di sini manusia belajar bahwa dunia tidak bebas; ada aturan dan tanda yang mengatur makna. Ketika seseorang berkata “aku,” ia sebenarnya hanya memakai posisi dalam bahasa yang sudah tersedia sebelum dirinya.
The Real (Yang Riil): sesuatu yang berada di luar simbolisasi, tak dapat dijelaskan atau direpresentasikan.
“Yang Riil” bukan realitas fisik, melainkan sesuatu yang selalu lolos dari bahasa — pengalaman yang tak bisa diucapkan, tetapi terasa. Trauma, kehilangan, dan hasrat yang tak tersentuh logika berada di wilayah ini.
Ketiganya membentuk ketegangan terus-menerus dalam diri manusia.
Kita hidup dalam dunia simbolik dan imajer, tetapi selalu diganggu oleh yang Riil — sesuatu yang menolak untuk dimaknai sepenuhnya.
Menurut Lacan, di sinilah asal mula penderitaan dan kreativitas manusia: kita terus berusaha menamai, memaknai, dan menjinakkan yang tak bisa dijelaskan.
3. The Name of the Father dan Fungsi Ayah
Dalam teori Lacan, sosok “Ayah” tidak selalu berarti ayah biologis.
Yang penting bukan orangnya, tetapi fungsi simbolik yang diwakilinya — hukum, larangan, aturan, dan batas.
Lacan menyebutnya the Name of the Father — nama, bukan orang.
Ketika anak menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak boleh (misalnya larangan memiliki ibu seperti ayah memilikinya), ia belajar masuk ke tatanan simbolik.
Dengan menerima hukum ini, anak menjadi manusia sosial.
Tapi di sisi lain, ia juga kehilangan sesuatu: kehilangan kepenuhan dan kebebasan total yang dulu ia rasakan bersama ibu.
Dari kehilangan itulah muncul hasrat — keinginan untuk mencari sesuatu yang hilang, meski tak akan pernah menemukannya kembali.
4. Suralisme dan Imajinasi Manusia
Romo Thomas menjelaskan, Lacan sangat terpesona oleh suralisme, gerakan seni yang menggabungkan hal-hal yang tampak tak masuk akal: jam yang meleleh, mobil terbang, langit di bawah tanah.
Menurut Lacan, pikiran manusia secara alami memang bersifat suralis.
Mimpi, fantasi, dan hasrat tidak tunduk pada logika rasional, tetapi justru mengikuti asosiasi bebas yang melintasi batas logika.
Romo Thomas menambahkan refleksi menarik: “Kalau dipikir-pikir, dunia kita sekarang justru semakin suralis.”
Telepon, televisi, kamera, peta, dan komputer kini bersatu dalam satu alat kecil di genggaman kita — ponsel. Sesuatu yang dulu tidak nyambung, kini menyatu. Imajinasi manusia yang “suralis” ternyata menjadi motor inovasi teknologi.
5. Lacan dan Kritik terhadap Modernitas
Lacan menolak pandangan modern yang menuhankan rasionalitas.
Ia menegaskan bahwa manusia bukan makhluk rasional, melainkan makhluk yang dikuasai hasrat.
Hasrat itu sendiri bukan milik individu, melainkan berasal dari “yang lain” — masyarakat, bahasa, dan simbol yang membentuk kita.
Karena itu, manusia selalu merasa “kurang.” Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan, karena keinginannya dibentuk oleh pandangan orang lain.
Kita tidak pernah menginginkan objek secara langsung; kita menginginkan objek sebagaimana diinginkan oleh yang lain.
Inilah mengapa dalam masyarakat modern, manusia terus mengejar sesuatu yang tak pernah memuaskan: barang, status, pengakuan — padahal yang ia kejar hanyalah bayangan dari hasrat orang lain.
Žižek dan Pembacaan atas Lacan
1. Žižek: Dari Klinik ke Politik dan Budaya
Žižek membawa teori Lacan keluar dari ruang klinik menuju dunia sosial dan politik.
Ia membaca fenomena ideologi, agama, dan budaya pop dengan kacamata psikoanalisis.
Baginya, ideologi bekerja seperti ketidaksadaran — bukan dengan memaksa, tetapi dengan membuat kita menikmati penindasan itu sendiri.
Contohnya sederhana: kita tahu kapitalisme eksploitatif, tapi kita menikmatinya. Kita tahu media penuh manipulasi, tapi kita tetap menontonnya.
Kita tahu konsumerisme dangkal, tapi kita tetap belanja.
Inilah yang disebut Žižek sebagai “the cynical reason” — kesadaran sinis modern, di mana orang tahu bahwa sistem salah, tapi terus memainkannya karena ada kenikmatan tersembunyi di dalamnya.
2. Hasrat, Ideologi, dan “Yang Riil”
Žižek membaca ideologi dengan konsep Lacanian tentang the Real.
Ideologi bukan sekadar sistem ide atau propaganda, melainkan struktur simbolik yang menutupi kekosongan dasar dalam realitas sosial.
Kita butuh ideologi karena tanpanya, kita akan berhadapan langsung dengan “Yang Riil” — sesuatu yang menakutkan, chaos, tak terkatakan.
Bagi Žižek, tugas filsafat bukan membongkar ideologi untuk menemukan kebenaran murni, tetapi menyadarkan kita akan jarak antara realitas dan simbol yang menutupinya.
Kita tak bisa hidup tanpa ilusi, tapi kita bisa sadar bahwa itu ilusi.
Dengan kesadaran itu, kita bisa menertawakan sistem yang menindas kita — dan di situlah kebebasan kecil bisa muncul.
3. Film dan Budaya Pop sebagai Cermin Hasrat
Salah satu ciri khas Žižek adalah keberaniannya menggunakan film-film populer untuk menjelaskan teori filsafat.
Ia membahas The Matrix, Titanic, They Live, The Dark Knight, dan banyak film lain sebagai teks filsafat yang hidup.
Menurutnya, film adalah “mimpi kolektif” masyarakat — tempat di mana ketidaksadaran sosial muncul dalam bentuk cerita.
Misalnya, dalam The Matrix, manusia hidup dalam ilusi yang dikendalikan mesin. Dunia virtual itu adalah simbol ideologi: kita tahu dunia ini palsu, tapi kita memilih tetap di dalamnya karena nyaman.
Begitu pula dalam kapitalisme — kita tahu sistemnya menipu, tapi kita menikmatinya, bahkan membelanya.
Žižek menolak anggapan bahwa budaya pop adalah “rendahan.”
Baginya, di dalam film, iklan, dan humor justru tersembunyi struktur hasrat dan ideologi yang paling jujur.
Ia menulis dengan cara yang mengaburkan batas antara filsafat dan hiburan, antara akademik dan komedi, antara analisis serius dan lelucon sinis.
Itulah mengapa banyak orang menyebutnya “badut filsafat” — tapi juga mengakuinya sebagai salah satu pemikir paling tajam di zaman ini.
Marxisme dan Kritik Ideologi
1. Marx dan Kesadaran Kelas
Karl Marx memandang manusia sebagai makhluk historis yang hidup dalam struktur sosial tertentu.
Dalam setiap masyarakat, selalu ada hubungan produksi antara mereka yang memiliki alat produksi dan mereka yang menjual tenaga kerja.
Dari hubungan ini muncul dua kelas utama: kelas borjuis (pemilik modal) dan kelas proletar (pekerja).
Menurut Marx, kesadaran manusia dibentuk oleh posisi ekonominya.
Bukan pikiran yang menentukan keberadaan sosial, tetapi sebaliknya — keberadaan sosial yang menentukan pikiran.
Artinya, ide, nilai, dan bahkan moralitas yang kita anggap universal sebenarnya adalah hasil dari kondisi material yang spesifik.
Romo Thomas menjelaskan ini dengan cara sederhana:
“Kalau kamu setiap hari lapar, yang kamu pikirkan bukan keadilan atau demokrasi, tapi roti.”
Pikiran selalu mengikuti perut. Dalam situasi konkret, nilai-nilai luhur sering kali kalah oleh kebutuhan material.
2. Ideologi: Ilusi yang Diperlukan
Salah satu sumbangan besar Marx adalah gagasannya tentang ideologi — sistem gagasan yang membuat tatanan sosial yang timpang tampak wajar dan alami.
Ideologi membuat orang yang tertindas tetap patuh, bukan dengan paksaan fisik, tetapi dengan keyakinan bahwa keadaan mereka adalah “hal yang seharusnya.”
Marx menyebut agama sebagai “candu masyarakat.”
Bukan karena agama itu jahat, tapi karena ia sering berfungsi menenangkan penderitaan tanpa menyentuh akar persoalan sosial.
Romo Thomas memberi penjelasan yang halus:
“Agama menjadi penghibur di tengah penderitaan, tapi kalau tidak hati-hati, ia bisa menjadi pembius.”
Agama yang menenangkan tapi tidak membebaskan akhirnya hanya memperpanjang struktur ketidakadilan.
Žižek menghidupkan kembali kritik ini dalam konteks dunia modern.
Menurutnya, ideologi sekarang tidak lagi berbentuk dogma yang memaksa, melainkan kenikmatan yang halus.
Kita tahu bahwa iklan menipu, tapi kita menikmatinya. Kita tahu sistem kapitalis tidak adil, tapi kita menikmati kenyamanannya.
Inilah bentuk ideologi paling kuat: ideologi yang kita sadari, tapi tetap kita ikuti.
3. Dari Marx ke Žižek: Ideologi sebagai Ketidaksadaran Sosial
Žižek membaca Marx dengan kacamata Lacan.
Bagi Marx, ideologi adalah “kesadaran palsu” — ilusi yang membuat orang tidak sadar bahwa mereka tertindas.
Bagi Žižek, ideologi justru bekerja di dalam ketidaksadaran.
Kita tahu sistem ini palsu, tapi kita terus mengulangnya — karena ada kenikmatan (jouissance) di dalamnya.
Ia menyebut ini sebagai ideological enjoyment: kesenangan aneh yang muncul justru dari penindasan itu sendiri.
Kita tertawa atas korupsi, tapi tetap memilih pemimpin korup; kita mencemooh kapitalisme, tapi terus membeli produk yang sama.
Hasrat kita sudah diatur oleh sistem — bahkan ketika kita mengkritiknya, kita tetap menjadi bagiannya.
Žižek memberi contoh menarik lewat film They Live (1988).
Dalam film itu, tokoh utama menemukan kacamata yang memungkinkan dia melihat pesan tersembunyi di balik iklan: “Consume,” “Obey,” “Sleep.”
Itulah dunia ideologi: kita hidup di tengah perintah-perintah yang tak kita sadari, tapi kita patuhi dengan sukarela.
4. Ideologi Kapitalisme: Menjual Keinginan
Dalam kapitalisme modern, ideologi bekerja lewat pasar dan konsumsi.
Kita tidak lagi dipaksa untuk patuh, tetapi diajak untuk menikmati.
Setiap produk menjanjikan identitas dan kebahagiaan — minuman yang “menguatkan persahabatan,” mobil yang “menunjukkan jati diri,” atau ponsel yang “menghubungkan dunia.”
Žižek menyebut, kapitalisme bukan hanya menjual barang, tapi juga menjual makna.
Ia memanfaatkan hasrat manusia yang tak pernah selesai.
Kita tidak membeli kopi karena butuh kafein, tapi karena ingin merasakan “gaya hidup Starbucks.”
Kita membeli pakaian bukan karena butuh kain, tapi karena ingin tampil seperti citra dalam iklan.
Dengan kata lain, kapitalisme tidak menjual produk, melainkan fantasi.
Romo Thomas menekankan:
“Inilah ironi dunia modern — kita bukan lagi makhluk yang dikuasai oleh kebutuhan, tapi oleh keinginan yang diproduksi.”
Kita hidup bukan untuk memenuhi kebutuhan, tapi untuk mempertahankan keinginan agar tidak pernah selesai.
Dan di situlah kapitalisme tumbuh subur.
5. Agama dan Ideologi: Dari Opium ke Spiritualitas Pasar
Romo Thomas kemudian menyinggung bagaimana agama juga bisa terjerat logika pasar.
Ia menyebut fenomena “agama gaya hidup” — di mana spiritualitas berubah menjadi komoditas.
Ada seminar motivasi rohani, pelatihan meditasi berbayar, atau merchandise bertema iman.
Semua ini menunjukkan bahwa bahkan hal paling sakral pun bisa dipasarkan.
Žižek melihat fenomena ini dengan sinis:
“Agama hari ini tidak lagi menawarkan keselamatan, tapi ketenangan batin instan.”
Doa menjadi seperti yoga, dan Tuhan menjadi seperti terapis pribadi.
Inilah bentuk baru dari “opium” — candu spiritual yang menenangkan tetapi menumpulkan kritik sosial.
Namun, Romo Thomas tidak menolak agama.
Ia justru mengajak pendengarnya untuk menghidupkan kembali iman yang membebaskan, iman yang menyadarkan manusia akan struktur ketidakadilan dan memanggil mereka untuk bertindak.
Agama yang sejati bukan yang membuat tenang, tetapi yang mengguncang hati agar berani melihat kenyataan.
Hegel dan Dialektika Realitas
1. Dialektika sebagai Gerak Kesadaran
Hegel, filsuf Jerman abad ke-19, adalah figur penting lain dalam bangunan pemikiran Žižek.
Jika Freud berbicara tentang individu dan Lacan tentang struktur simbolik, maka Hegel berbicara tentang kesadaran sejarah.
Bagi Hegel, realitas bukan sesuatu yang statis, melainkan proses yang terus bergerak melalui pertentangan (dialektika).
Setiap tesis akan melahirkan antitesis, dan dari benturan itu lahir sintesis — bentuk baru yang lebih tinggi.
Namun sintesis itu sendiri akan menjadi tesis baru yang kelak berhadapan dengan antitesis lain.
Dengan demikian, sejarah manusia adalah perjalanan roh (Geist) menuju kesadaran diri yang semakin utuh.
Žižek menghidupkan kembali cara berpikir dialektis ini, tapi ia memutarnya dengan sentuhan Lacan.
Bagi Žižek, dialektika Hegel bukan tentang harmoni, melainkan tentang kekurangan yang tak bisa dihapus.
Gerak sejarah bukan menuju kesempurnaan, melainkan justru karena tidak sempurna itulah sejarah terus berjalan.
Ia menyebut: The wound is the cure — luka adalah penyembuhnya.
Kekurangan adalah tenaga penggerak realitas.
Tanpa kekosongan, tidak akan ada gerak, tidak akan ada sejarah.
2. Hegel dan Yang Riil
Di sinilah Žižek menggabungkan Hegel dan Lacan:
Yang disebut “Yang Riil” (the Real) dalam Lacan bisa dibaca sebagai “negativitas” dalam Hegel.
Keduanya menunjuk pada aspek realitas yang tidak bisa dijelaskan atau disatukan.
Kita hidup dalam tatanan simbolik (bahasa, ideologi), tapi selalu ada “lubang” — sesuatu yang tidak bisa ditangkap, dan karena itulah kita terus berpikir.
Žižek menyebutnya sebagai “negativitas produktif.”
Tanpa kekurangan, kita tidak akan mencipta.
Tanpa absurditas, tidak ada filsafat.
Bahkan Tuhan dalam tradisi Hegelian bukanlah sosok sempurna yang statis, tetapi Roh yang mengalami penderitaan, kematian, dan kebangkitan — proses menjadi, bukan keberadaan tetap.
Žižek: Sintesis Gila antara Hegel, Marx, dan Lacan
Žižek adalah contoh langka dari filsuf yang berhasil memadukan tiga tradisi besar yang tampaknya tak cocok:
Hegelianisme (dialektika dan negativitas),
Marxisme (kritik ideologi dan ekonomi),
Lacanianisme (psikoanalisis dan hasrat).
Ia tidak membangun sistem baru, tapi mengolah ketiganya seperti koki gila yang mencampur bahan berlawanan untuk menciptakan rasa baru.
Ia membahas Tuhan dengan teori hasrat, membahas cinta dengan logika ideologi, dan membahas kapitalisme dengan humor film Hollywood.
Bagi Žižek, tugas filsafat bukan memberi jawaban, tapi mengajukan pertanyaan yang membuat nyaman menjadi tidak nyaman.
Ia menolak filsafat yang hanya menenangkan hati; baginya, berpikir harus mengguncang.
Ia berkata:
“Filsafat sejati bukan yang membuat hidup mudah, tapi yang membuatmu tak bisa lagi hidup dengan cara lama.”
Romo Thomas menutup kuliah dengan refleksi:
“Mungkin kita tidak perlu menjadi Žižek, tapi kita perlu berani seperti dia — berani berpikir, berani meragukan, berani menertawakan diri sendiri, dan berani menghadapi kenyataan sebagaimana adanya.”
Penutup: Filsafat di Zaman yang Patah
Filsafat zaman ini, kata Romo Thomas, bukan lagi proyek besar yang ingin menyatukan semuanya.
Kita hidup di dunia yang tercerai-berai, di mana ide besar sering gagal menjawab realitas kecil.
Namun justru karena itu, filsafat menjadi penting — bukan untuk menguasai dunia, tapi untuk menghidupkan kesadaran.
Žižek, dengan segala keanehannya, mengingatkan kita bahwa berpikir adalah tindakan spiritual yang radikal.
Ia mengajarkan bahwa di balik kelucuan dan absurditas dunia modern, selalu ada peluang untuk menemukan kebenaran kecil — kebenaran yang lahir dari keberanian menghadapi “Yang Riil.”
Dan di situ, filsafat tetap hidup.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar