Kierkegaard dan Kritik atas Hegemoninya Totalitas: Individu sebagai Dasar Eksistensi dalam Masyarakat Massa
Kierkegaard mengawali arah berfilsafat yang baru sebagai reaksi keras terhadap Hegel. Hegel dianggap hampir tidak memberi tempat bagi individu. Dalam sistem Hegel, seluruh perjalanan sejarah dan peradaban hanyalah “siasat” dari Ruh Absolut untuk berkembang dan menemukan dirinya. Individu—bahkan tokoh-tokoh besar dan negara—sekadar menjadi alat dalam proses perkembangan si Ruh Besar ini. Maka, kehidupan manusia yang konkret menjadi tidak terasa penting.
Menurut Hegel, seluruh alam semesta bergerak sebagai evolusi diri sang Absolut. Setiap kebudayaan hanyalah tahapan perkembangan ruh tersebut. Secara sederhana, kita bisa membayangkan Ruh Absolut sebagai semacam rasionalitas kosmis—bukan rasionalitas manusia. Alam semesta menjadi rasional, tetapi ia menyadari rasionalitasnya melalui peradaban manusia, berkembang secara dialektis dari berbagai sisi.
Ia mulai menampakkan diri melalui seni—di mana Absolute masih digambarkan secara intuitif. Lalu berkembang dalam agama—di mana Absolute dipersonifikasikan, bukan hanya digambarkan. Puncaknya adalah filsafat—di mana Ruh Absolut “menalar” dirinya secara konseptual melalui pikiran manusia. Seni, agama, dan filsafat semuanya berkembang melalui gerak dialektika.
Dalam seluruh proses besar yang abstrak ini, individu justru “hilang”. Hidup manusia nyata tidak dianggap penting. Di sinilah Kierkegaard melancarkan kritik kerasnya. Ia menyatakan bahwa filsafat seharusnya berbicara tentang kehidupan individu konkret—tentang eksistensi yang dijalani manusia secara personal, bukan tentang abstraksi impersonal yang seolah-olah menghapus manusia.
Kritik kedua Kierkegaard—yang menjadi latar penting pemikirannya—ditujukan kepada masyarakat industri modern. Masyarakat industri ditandai oleh budaya massa, yang membuat individu menjadi seragam. Semua diarahkan untuk berpikir sama, bertindak sama, dan menikmati hal yang sama. Ini bahkan semakin terasa hari ini: pusat rekreasi dan kehidupan sosial kini berkumpul di mall dan ruang-ruang massal serupa. Ini menjadi ironis karena isu tentang budaya massa sebenarnya sudah lama dibahas para sosiolog, namun dalam kenyataan justru semakin menguat.
Budaya massa menciptakan penyeragaman dan membuat individu terasing dari dirinya sendiri. Ia terpaksa menyatu dalam arus besar yang homogen, kehilangan keunikan, kehilangan kedalaman personal.
Selain itu, budaya ilmiah modern juga mendapat kritik dari Kierkegaard. Menurutnya, budaya ilmiah adalah bentuk resmi dari budaya massa. Mengapa? Karena dalam tradisi ilmiah, kebenaran dianggap sebagai sesuatu yang objektif—sesuatu yang disepakati bersama. Objektivitas itu sendiri sering kali berarti konsensus umum. Bila kebenaran ditentukan oleh konsensus, maka ia mudah berubah menjadi “pendapat massa”. Kebenaran ilmiah dapat mengarah pada produksi kebenaran massal: intersubjektivitas berubah menjadi tekanan homogenis.
Di masyarakat industri, budaya massa dan budaya ilmiah membuat opini publik sangat mudah dimobilisasi. Media massa—baik televisi, koran, radio, maupun internet—menjadi alat efektif untuk membentuk pendapat umum. Di sinilah aliansi antara sains dan industri menemukan kekuatannya: media massa menjadi instrumen manipulasi dan mobilisasi konsensus.
Contoh hidupnya banyak. Lihat peristiwa-peristiwa viral: seorang anak muda yang menamakan diri sebagai bagian dari komunitas tertentu di media sosial, atau yang dianggap melecehkan agama, sangat cepat dipersekusi secara opini. Sebelum proses hukum berlangsung, opini massa sudah telanjur membentuk citra: “penghujat”, “penista”, “ateis tidak bermoral”, dan seterusnya. Opini massa terasa objektif, seolah-olah kebenaran sudah diputuskan, padahal masih sangat mungkin diperdebatkan.
Inilah yang disebut “tirani massa”. Objektivitas berubah menjadi aneh: apa yang disepakati banyak orang dianggap benar, meski sesungguhnya sangat rapuh. Massa mudah dimanipulasi dan mudah diarahkan.
Media bahkan bisa menghancurkan seseorang tanpa alasan yang layak. Kita sering melihat bagaimana isu-isu penting terabaikan, sementara hal-hal sensasional dibesar-besarkan. Kasus-kasus skandal selebritas, misalnya, diberi ruang yang sangat tidak proporsional. Ini hanyalah contoh bagaimana media massa bekerja: bukan pada kepentingan publik, tetapi pada sensasi.
Lebih jauh, budaya massa menghasilkan demoralisasi. Media massa menyeragamkan suara hati. Dalam atmosfer massa, suara hati individu nyaris tidak terdengar. Contoh ekstrem terjadi pada kerusuhan dalam pertandingan sepak bola atau fenomena holiganisme: satu orang memulai kekerasan, dan massa bergerak mengikuti. Ketika korban jatuh, tidak ada satu pun individu yang merasa bertanggung jawab karena semua bersembunyi di balik kerumunan.
Massa membuat kita merasa kuat padahal sebenarnya tidak ada kekuatan personal di sana. Dalam kerumunan, identitas menjadi semu; orang yang sebenarnya pemalu atau “culun” dapat merasa gagah hanya karena bergerak bersama ribuan orang. Namun begitu ia sendirian, ia kembali menjadi “nobody”.
Budaya massa juga muncul dalam komunitas kecil, bahkan dalam kelompok religius atau asrama. Selalu ada kecenderungan untuk mengorbankan seseorang sebagai “maskot” atau “kambing hitam”. Massa itu hanya berbeda kuantitasnya; sifat dasarnya sama: tidak matang, tidak reflektif. Kierkegaard menyamakan ini dengan “perkawinan di bawah umur”: ada komitmen, tetapi tanpa kedewasaan.
Dalam kultur massa, heroisme moral makin hilang. Dulu, kita mengenal pahlawan yang berkorban demi sesuatu yang lebih besar—Sudirman, Tan Malaka, Gandhi, tokoh-tokoh revolusioner yang menjadikan moralitas sebagai orientasi hidup. Sekarang, heroisme digantikan oleh “prestasi populer”: selebritas, figur viral, pemecahan rekor yang absurd. Ketika prestasi moral tidak lagi dihargai, masyarakat diarahkan untuk mengagumi hal-hal dangkal.
Bangsa-bangsa yang minder sering menutupi kelemahannya dengan membuat rekor yang tidak penting. Padahal rekor semacam itu tidak mengangkat martabat apa pun. Jauh lebih bernilai bila energi itu dipakai untuk menciptakan temuan bermanfaat—seperti kompetisi inovasi sederhana di beberapa negara Eropa, yang menghasilkan alat-alat efisien yang kemudian dipatenkan. Itu benar-benar membangun masyarakat, bukan sekadar kebanggaan kosong.
Karena itu, bagi Kierkegaard, revolusi sosial sejati tidak terjadi melalui mobilisasi massa, tetapi melalui transformasi individu. Individu tidak boleh tenggelam dalam massa. Perubahan sosial dimulai dari keberanian personal seseorang untuk berubah.
Contohnya sangat banyak. Dalam bidang teknologi, satu inovator dapat mengubah pola komunikasi seluruh dunia. Dalam bidang moral dan spiritual, para nabi adalah contoh luar biasa: satu orang, melalui pencerahan pribadi, dapat menggerakkan gelombang perubahan besar yang bertahan berabad-abad.
Demikian pula dengan para filsuf besar. Nietzsche, misalnya, hidup dalam kesepian dan dianggap gila pada masanya. Namun seratus tahun kemudian, pemikirannya melahirkan gelombang postmodernisme yang mempengaruhi seluruh dunia. Ini menunjukkan bahwa transformasi individu jauh lebih kuat daripada mobilisasi massa.
Namun, dalam masyarakat industri yang masif, individu makin kehilangan nyali. Ia terbiasa berlindung di balik pendapat umum dan memilih menjadi anonim. Pendapat umum sangat manipulatif: yang tolol dapat dianggap hebat, yang hebat dapat dianggap tolol. Banyak tokoh moral dihina dan dikecilkan karena tidak sejalan dengan arus umum.
Munir, misalnya, secara moral sangat penting, namun dalam atmosfer politik tertentu ia digambarkan sebagai sosok mengada-ada, bahkan “mengganggu”. Ia menjadi korban, tetapi hanya sedikit yang berani berdiri membelanya. Contoh ini memperlihatkan betapa pendapat massa dapat membalikkan nilai moral.
Karena itu, transformasi individu, menurut Kierkegaard, adalah persoalan keberanian memilih nilai hidup dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Hidup adalah soal pilihan eksistensial. Dari sinilah kemudian muncul uraian Kierkegaard tentang tiga jenis cara menghayati hidup—yang kadang disebut “tahap-tahap kehidupan”—sebagai proses pembelajaran tanggung jawab.
Semua kritik ini terangkum dalam karya-karyanya seperti The Works of Love, yang kadang disebut sebagai semacam “Manifesto Komunis” versi Kierkegaard—tetapi melawan kapitalisme budaya. Tekanan terbesarnya adalah pada keberanian menjadi individu yang tidak biasa: individu yang berani memilih, berani bertanggung jawab, dan berani melawan arus massa.
Dalam kenyataannya, banyak pengikut Kierkegaard kemudian justru memakai ide-idenya untuk membangun kekuatan massal baru—baik dalam agama maupun ideologi. Fenomena ini menunjukkan betapa mudahnya manusia kembali jatuh pada pola lama. Maka, selalu diperlukan “renaissance” individu—kebangkitan kembali refleksi personal.
Di Indonesia, misalnya, agama sering menjadi kekuatan massa yang besar; begitu satu orang dianggap menghina agama, massa bergerak tanpa refleksi. Individu tidak berpikir, hanya mengikuti arus. Ini sangat mengerikan. Karena itu, keberanian individu untuk berpikir, merefleksikan, dan bertanggung jawab menjadi sangat penting.
:::
Komentar
Posting Komentar