Konstruksi Pengetahuan dalam Fenomenologi Husserl: Dari Deskripsi Fenomenal hingga Reduksi Transendental





Kita beralih kepada Edmund Husserl dengan fenomenologinya. Fenomenologi yang dikembangkan Husserl bukan hanya menentukan perkembangan pemikiran Husserl sendiri di kemudian hari, tetapi juga membentuk kecenderungan besar filsafat abad ke-20 secara keseluruhan. Apa pun coraknya—baik eksistensialisme, strukturalisme, hermeneutika, dan seterusnya—semuanya sangat dipengaruhi oleh pondasi awal yang diletakkan oleh Husserl. Karena itu, memahami apa itu fenomenologi sangat penting agar lebih mudah memahami konsekuensi-konsekuensi pemikiran yang muncul setelahnya. Bahkan dalam dunia sains, psikologi, sosiologi, dan berbagai bidang lainnya, pemikiran Husserl ikut mempengaruhi cara berpikir yang baru—terutama pada persoalan kesadaran, yang kelak mengubah cara berpikir abad ke-20 dan 21.


Edmund Husserl sendiri lahir di Ceko pada tahun 1859 dan wafat pada tahun 1938. Ia tidak langsung menekuni filsafat; awalnya ia menekuni sains. Latar belakang akademiknya adalah fisika, astrofisika, dan matematika, sebelum akhirnya berpindah ke filsafat. Latar belakang ilmiah ini penting karena sangat mempengaruhi gaya berpikirnya yang ketat, dan kemudian berpengaruh pula pada cara sains memandang persoalan tertentu. Husserl pernah mengajar di berbagai universitas—Berlin, London, Paris, dan Praha—dan reputasinya berkembang di sana.


Tiga karya penting Husserl dalam perkembangan fenomenologi adalah: Logical Investigations, Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, dan Cartesian Meditations—yang merupakan renungan kartesian versi Husserl. Dari karya-karya inilah inti pemikirannya berkembang.


Obsesi Husserl adalah menjadikan filsafat sebagai ilmu yang ketat, suatu sistem pengetahuan yang memiliki kepastian apodiktik—yakni kepastian yang tidak dapat diragukan lagi—dan bersifat absolut, dalam arti tidak berubah. Ia ingin menghidupkan kembali ambisi kartesian untuk menghasilkan pengetahuan yang tidak bisa disangkal. Untuk mencapai kepastian pengetahuan seperti itu, Husserl menekankan pentingnya kembali pada das Ding selbst—“benda itu sendiri”—atau back to the things themselves: kembali kepada realitas sebagaimana adanya, realitas murni yang menampakkan diri kepada kesadaran.


Husserl mengatakan bahwa objek harus menampakkan dirinya sendiri kepada kita. Penampakan ini disebut phenomenon, dari bahasa Yunani phainomai. Fenomena adalah realitas yang menampakkan diri kepada kesadaran. Istilah ini berbeda dari penggunaan Kant, yang membedakan fenomena dan noumena. Pada Husserl, fenomena bukan realitas terselubung; ia adalah realitas sebagaimana ia hadir dalam kesadaran.


Tugas fenomenologi adalah mendeskripsikan fenomena sebagaimana ia tampil kepada kita. Maka, langkah awal fenomenologi adalah deskripsi fenomenologis: mencatat apa yang tampak, tanpa terburu-buru melakukan analisis atau interpretasi. Misalnya ketika melihat sebuah gelas, kita cukup mendeskripsikan bentuk, warna, atau tampilannya, tanpa bertanya dari bahan apa ia dibuat, pabrik mana yang memproduksinya, atau fungsi sosialnya. Dari deskripsi inilah nantinya kita sampai pada hakikat (essence) fenomena. Hakikat ini ditangkap melalui intuisi, yaitu penangkapan langsung terhadap esensi fenomena.


Untuk menemukan hakikat, Husserl menyusun dua proses besar.


1. Variasi Eidetis

Kita mencoba melihat objek dari berbagai sudut dan dalam berbagai kemungkinan. Gelas dilihat dari samping, atas, bawah; gelas sebagai pajangan, sebagai alat minum, atau dipakai sebagai alat permainan. Semua variasi ini dideskripsikan. Dari sekian banyak variasi, kita menemukan unsur-unsur yang tetap dalam berbagai kondisi. Unsur-unsur yang tetap itu adalah esensi.


2. Reduksi

Proses berikutnya adalah reduksi, yaitu menyingkirkan berbagai hal yang menghalangi objek tampil sebagaimana adanya. Reduksi dilakukan untuk menangguhkan segala asumsi, opini, dan pengetahuan natural yang kita bawa.


Husserl menyebut tiga bentuk reduksi:


a. Reduksi Fenomenologis

Menyingkirkan segala pandangan—adat, agama, pendapat umum, ilmu, maupun pandangan pribadi—yang mengganggu tampilnya objek secara murni. Semua hal itu ditangguhkan agar objek tampil sebagai dirinya sendiri.


b. Reduksi Eidetis

Menyingkirkan hal-hal yang bukan inti dari objek. Pada gelas, misalnya, handle, tatakan, atau bahan bukanlah bagian dari esensi gelas, karena tidak selalu ada pada semua gelas. Yang tidak esensial disisihkan agar inti objeknya ditemukan.


c. Reduksi Transendental

Yang paling radikal: menyingkirkan segala hal sampai kita menemukan kesadaran murni. Namun dalam prosesnya, Husserl menemukan bahwa tidak ada kesadaran yang berdiri sendiri. Ia selalu kesadaran tentang sesuatu—dan dunia luar menjadi korelat dari kesadaran. Sebaliknya, kesadaran tidak pernah ada tanpa sesuatu yang disadarinya.


Dari sini, Husserl sampai pada gagasannya mengenai fenomenologi transendental, dan menyimpulkan bahwa dasar pengetahuan adalah ego transendental—kesadaran murni yang menjadi dasar segala pengetahuan. Dalam kerangka inilah fenomenologi bergerak menuju filsafat kesadaran, yang kelak menjadi akar bagi berbagai pemikiran besar berikutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar Filsafat - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Filsafat Kontemporer - Bambang I. Sugiharto

Apa Itu Filsafat?... - Pengantar Filsafat 01 - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Pemikiran Modern - Bambang I. Sugiharto

METAFISIKA KEBUDAYAAN - Bambang I. Sugiharto

Filsafat Ilmu - Bambang I. Sugiharto

Nietzsche & Keberanian Jadi Diri Sendiri

Postmodernisme

HERMENEUTIK - Bambang I. Sugiharto

Écrits dan Arsitektur Kajian Subjek - Lacan