Penelusuran Filsafat - Ludwig Wittgenstein


 









Philosophical Investigations

Ludwig Wittgenstein.

Untuk isi detail buku bisa diperiksa disini: 

https://books.google.co.id/books?id=XN9yyyhYMDoC&printsec=frontcover&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false


:::
[Ringkasan]

PENGANTAR: JEJAK PEMIKIRAN YANG TIDAK PERNAH SELESAI

Buku ini tidak lahir dari satu gagasan tunggal yang matang, melainkan dari perjalanan panjang pemikiran yang penuh keraguan, revisi, dan penemuan kembali. Selama bertahun-tahun—lebih dari satu dekade—Wittgenstein bergulat dengan berbagai persoalan filosofis: tentang makna, pemahaman, logika, matematika, hingga psikologi. Namun alih-alih menghasilkan suatu sistem yang rapi dan tertutup, yang muncul justru adalah kumpulan refleksi yang tersebar, bergerak, dan kadang tampak tidak saling terhubung.

Pada awalnya, ia memang berusaha menyusun pemikirannya secara sistematis. Ia ingin menghadirkan sebuah karya yang tertata, yang mengalir dari satu prinsip ke prinsip lain secara logis. Tetapi upaya itu berulang kali gagal. Setiap kali ia mencoba memaksakan keteraturan, ia justru kehilangan sesuatu yang penting: kejujuran terhadap cara kerja pikirannya sendiri. Dari kegagalan itulah ia sampai pada suatu kesadaran yang menentukan—bahwa filsafat tidak selalu tunduk pada bentuk sistematis. Justru, dalam banyak hal, filsafat harus mengikuti gerak persoalannya, bukan memaksakan bentuk yang sudah ditentukan sebelumnya.

Maka buku ini pun tampil sebagaimana adanya: bukan sebagai bangunan teori, melainkan sebagai semacam “album” pemikiran. Di dalamnya terdapat potongan-potongan refleksi—kadang pendek, kadang panjang—yang masing-masing menangkap suatu sudut pandang tertentu. Wittgenstein mengibaratkannya seperti sketsa lanskap: bukan satu gambar utuh yang lengkap, tetapi serangkaian gambaran yang, jika dilihat bersama-sama, memberi kesan tentang keseluruhan medan.

Namun bentuk yang terkesan terpecah-pecah ini bukan tanpa maksud. Justru di situlah letak pendekatan filosofisnya. Ia tidak ingin memaksa pembaca untuk mengikuti satu jalur argumentasi yang kaku. Sebaliknya, ia mengajak pembaca untuk bergerak bersamanya—melompat dari satu persoalan ke persoalan lain, melihat berbagai kemungkinan, dan pada akhirnya menemukan sendiri keterkaitan di antara semuanya.

Di balik cara penulisan ini, tersimpan pula sikap kritis Wittgenstein terhadap dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa dalam karya sebelumnya, ia telah membuat sejumlah kesalahan mendasar. Ia pernah percaya bahwa bahasa memiliki struktur logis yang dapat menggambarkan dunia secara tepat. Kini ia melihat bahwa pandangan itu terlalu sederhana. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai cermin realitas; ia hidup dalam praktik manusia, dalam kebiasaan, dalam tindakan sehari-hari. Perubahan cara pandang ini bukan sekadar revisi kecil, melainkan pergeseran mendasar dalam cara memahami filsafat itu sendiri.

Perjalanan menuju pemahaman baru ini tidak ia tempuh sendirian. Ia mengakui peran penting diskusi-diskusi dengan rekan-rekannya, terutama Frank Ramsey, yang membantunya melihat kembali kelemahan dalam pemikirannya terdahulu. Dari sini tampak bahwa filsafat, meskipun sering tampak sebagai kegiatan individual, sesungguhnya juga merupakan dialog—sebuah pertukaran gagasan yang terus menerus.

Menariknya, Wittgenstein tidak menempatkan bukunya sebagai sumber kebenaran yang harus diterima begitu saja. Ia bahkan meragukan apakah tulisannya akan dipahami dengan baik. Namun keraguan itu tidak membuatnya berhenti. Ia justru berharap bahwa apa yang ia tulis dapat memicu pembaca untuk berpikir sendiri. Baginya, nilai sebuah karya filosofis tidak terletak pada kemampuannya memberikan jawaban, tetapi pada kemampuannya membuka jalan bagi pemikiran baru.

Dengan demikian, membaca buku ini bukanlah pengalaman yang pasif. Ia menuntut keterlibatan aktif. Pembaca tidak cukup hanya mengikuti, tetapi juga harus ikut bekerja—menguji, mempertanyakan, dan kadang menentang apa yang dibaca. Dalam proses itu, filsafat tidak lagi menjadi kumpulan teori, melainkan suatu aktivitas: usaha terus-menerus untuk menjernihkan pikiran dari kekacauan yang sering kali disebabkan oleh cara kita menggunakan bahasa.

Pada akhirnya, pengantar ini memberi kita sebuah petunjuk penting: bahwa filsafat bukanlah upaya untuk menemukan jawaban akhir, melainkan perjalanan untuk memahami pertanyaan dengan lebih jernih. Dan dalam perjalanan itu, yang terpenting bukanlah mencapai suatu titik akhir, melainkan kemampuan untuk melihat dengan cara yang baru.




BAGIAN I (§1–§10): BAHASA, PENAMAAN, DAN ILUSI MAKNA

Wittgenstein membuka penyelidikannya dengan sebuah gambaran klasik tentang bahasa—sebuah gambaran yang tampak sederhana, bahkan masuk akal pada pandangan pertama. Ia mengutip deskripsi dari Santo Agustinus tentang bagaimana manusia belajar bahasa: anak-anak mendengar orang dewasa menyebut nama-nama benda, lalu mengaitkan kata-kata itu dengan objek yang ditunjuk. Dengan cara ini, kata-kata dianggap sebagai “nama”, dan bahasa sebagai sistem penamaan.

Sekilas, gambaran ini terasa begitu alami sehingga hampir tidak kita ragukan. Bukankah memang demikian cara kita belajar berbicara? Kita menunjuk sesuatu, menyebut namanya, dan orang lain memahami. Namun justru di sinilah Wittgenstein mulai bekerja: bukan dengan menolak secara langsung, tetapi dengan mengajak kita melihat lebih dekat—lebih teliti—apa yang sebenarnya terjadi.

Ia mengusulkan sebuah eksperimen sederhana. Bayangkan suatu bahasa yang sangat terbatas, digunakan oleh seorang pembangun dan asistennya. Dalam bahasa ini hanya ada beberapa kata: “balok”, “pilar”, “lempeng”, dan “balok panjang”. Ketika sang pembangun mengucapkan salah satu kata, asistennya mengambil benda yang sesuai. Dalam konteks ini, tampaknya teori Agustinus bekerja dengan baik: kata memang tampak seperti nama benda.

Namun Wittgenstein tidak berhenti di situ. Ia mengajukan pertanyaan yang halus tetapi mengguncang: apakah semua bahasa bekerja seperti ini? Apakah semua kata berfungsi sebagai nama benda? Atau, lebih jauh lagi, apakah makna kata selalu ditentukan oleh objek yang dirujuknya?

Pertanyaan ini mulai membuka retakan dalam gambaran awal kita. Sebab jika kita memperhatikan bahasa sehari-hari, kita akan menemukan banyak kata yang tidak “menamai” apa pun secara langsung. Kata seperti “tolong”, “ya”, “tidak”, atau bahkan angka dan perintah—tidak mudah dipahami hanya sebagai nama benda. Namun kita tetap mengerti dan menggunakannya tanpa kesulitan.

Di sinilah Wittgenstein memperkenalkan ide yang akan menjadi pusat seluruh bukunya: bahwa bahasa bukan sekadar sistem penamaan, melainkan bagian dari suatu aktivitas. Ia menyebutnya sebagai permainan bahasa (language-game). Dalam permainan ini, kata-kata mendapatkan maknanya bukan dari hubungan langsung dengan objek, tetapi dari cara mereka digunakan dalam suatu praktik.

Kembali ke contoh pembangun tadi: kata “balok” bukan hanya nama benda, tetapi juga bagian dari sebuah tindakan—sebuah perintah. Maknanya tidak dapat dipisahkan dari situasi di mana kata itu digunakan. Jika kita memindahkan kata itu ke konteks lain, maknanya pun bisa berubah.

Dari sini, Wittgenstein mulai menunjukkan bahwa pemahaman kita tentang bahasa sering kali terlalu disederhanakan. Kita cenderung mencari sesuatu yang tetap—suatu esensi makna yang melekat pada kata. Namun kenyataannya, bahasa jauh lebih dinamis. Ia hidup dalam penggunaan, dalam kebiasaan, dalam interaksi manusia.

Ia juga menyoroti bagaimana kita belajar bahasa. Kita mungkin membayangkan bahwa belajar bahasa adalah soal menghafal nama-nama benda. Tetapi dalam praktiknya, belajar bahasa berarti belajar menggunakan kata dalam berbagai situasi. Kita belajar kapan harus berkata “ini”, kapan harus berkata “itu”, kapan harus bertanya, memerintah, atau menjawab. Dengan kata lain, kita belajar bermain dalam suatu permainan yang aturannya tidak selalu dinyatakan secara eksplisit.

Pada titik ini, Wittgenstein mulai menggeser fokus filsafat. Alih-alih bertanya “apa makna kata ini?”, ia mengajak kita bertanya “bagaimana kata ini digunakan?”. Perubahan ini tampak sederhana, tetapi konsekuensinya sangat besar. Ia mengubah cara kita memahami bahasa, pikiran, bahkan filsafat itu sendiri.

Namun perubahan ini juga menuntut kita untuk melepaskan kebiasaan lama. Kita terbiasa berpikir bahwa setiap kata harus memiliki sesuatu yang “sesuai” dengannya di dunia—seolah-olah makna adalah hubungan antara kata dan objek. Wittgenstein menunjukkan bahwa cara berpikir ini sering kali menyesatkan. Ia membuat kita mencari sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dicari.

Sebagai gantinya, ia mengajak kita untuk melihat bahasa sebagaimana adanya: sebagai bagian dari kehidupan manusia. Bahasa bukan sekadar alat untuk menggambarkan dunia, tetapi juga untuk bertindak di dalamnya. Ia adalah bagian dari cara kita hidup, berinteraksi, dan memahami satu sama lain.

Dengan demikian, bagian awal ini tidak hanya mengkritik teori bahasa tradisional, tetapi juga membuka cara baru dalam berfilsafat. Ia tidak memberikan definisi baru tentang makna, melainkan mengubah cara kita melihat persoalan makna itu sendiri.

Dan di sinilah perjalanan Philosophical Investigations benar-benar dimulai: bukan dengan jawaban, tetapi dengan perubahan cara pandang.



BAGIAN I (§11–§25): BAHASA SEBAGAI KEGIATAN HIDUP

Setelah menggoyahkan gagasan bahwa bahasa hanyalah sistem penamaan, Wittgenstein melangkah lebih jauh. Ia mulai memperlihatkan bahwa bahasa tidak bisa dipahami sebagai sesuatu yang tunggal dan seragam. Sebaliknya, bahasa terdiri dari beragam bentuk penggunaan—beragam cara kerja—yang tidak dapat direduksi menjadi satu pola saja.

Ia mengajak kita melihat bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita menggunakan kata dengan cara yang sangat beragam. Kita memberi perintah, bertanya, menjawab, bercanda, menceritakan sesuatu, menghitung, berspekulasi, bahkan berdoa. Semua ini adalah bagian dari apa yang ia sebut sebagai permainan bahasa—suatu aktivitas yang memiliki aturan, tujuan, dan konteksnya sendiri.

Dengan demikian, bahasa bukan sekadar kumpulan kata, melainkan suatu praktik yang hidup. Kata-kata tidak memiliki makna secara terpisah dari penggunaannya; makna muncul dalam tindakan. Kita tidak memahami kata dengan “melihat” sesuatu di dalam pikiran, tetapi dengan mengetahui bagaimana kata itu digunakan dalam situasi tertentu.

Wittgenstein kemudian kembali ke contoh sederhana: seorang anak yang belajar bahasa. Kita mungkin membayangkan bahwa anak belajar dengan cara mengasosiasikan kata dengan objek. Namun sebenarnya, proses itu jauh lebih kompleks. Anak tidak hanya belajar menunjuk dan menamai, tetapi juga belajar bagaimana menggunakan kata dalam konteks yang tepat—kapan suatu kata digunakan sebagai perintah, kapan sebagai pertanyaan, dan kapan sebagai deskripsi.

Ia menekankan bahwa proses ini sering kali melibatkan apa yang disebut sebagai “pengajaran ostensive”—yakni menunjuk suatu objek sambil menyebutkan namanya. Tetapi Wittgenstein menunjukkan bahwa metode ini tidak sesederhana yang kita kira. Ketika seseorang menunjuk sesuatu dan berkata “ini merah”, apakah yang sedang diajarkan adalah warna, bentuk, atau nama objek itu sendiri? Tanpa konteks yang jelas, penunjukan itu bisa diartikan dengan berbagai cara.

Di sinilah terlihat bahwa makna tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bergantung pada jaringan praktik yang lebih luas. Kita memahami kata bukan karena kita memiliki definisi yang tepat di kepala, tetapi karena kita telah dilatih dalam suatu cara hidup tertentu—cara menggunakan bahasa dalam berbagai situasi.

Lebih jauh lagi, Wittgenstein memperingatkan bahwa filsafat sering kali tersesat karena mencoba mencari esensi tunggal dari bahasa. Kita cenderung berpikir bahwa semua kata harus memiliki satu jenis makna yang sama—misalnya, sebagai nama objek. Namun kenyataannya, fungsi kata sangat beragam. Kata dapat berfungsi seperti alat yang berbeda-beda: palu, obeng, atau penggaris. Kita tidak akan memahami alat-alat ini jika kita memaksakan satu fungsi yang sama untuk semuanya.

Analogi alat ini sangat penting. Seperti halnya alat memiliki fungsi yang berbeda sesuai penggunaannya, demikian pula kata-kata dalam bahasa. Tidak ada satu “hakikat makna” yang berlaku untuk semua kata. Yang ada adalah berbagai cara penggunaan yang saling terkait, tetapi tidak identik.

Pada titik ini, Wittgenstein juga mulai memperkenalkan gagasan bahwa bahasa selalu terikat pada bentuk kehidupan (form of life). Artinya, bahasa tidak berdiri di luar kehidupan manusia, tetapi merupakan bagian dari aktivitas manusia itu sendiri. Untuk memahami bahasa, kita harus melihat bagaimana ia digunakan dalam kehidupan nyata, bukan dalam abstraksi teoritis.

Ia juga mengkritik kecenderungan kita untuk berpikir bahwa memahami bahasa berarti memiliki gambaran mental tertentu. Kita sering membayangkan bahwa ketika kita memahami suatu kata, ada sesuatu di dalam pikiran kita yang “sesuai” dengan kata itu. Namun Wittgenstein menunjukkan bahwa pemahaman tidak selalu berupa gambar mental. Kita bisa memahami suatu perintah tanpa membayangkan apa pun; kita cukup tahu apa yang harus dilakukan.

Dengan demikian, pemahaman bukanlah keadaan mental tersembunyi, melainkan kemampuan untuk bertindak dengan benar dalam suatu permainan bahasa. Memahami berarti tahu bagaimana melanjutkan—bagaimana menggunakan kata dalam konteks yang tepat.

Menjelang akhir bagian ini, Wittgenstein mulai merumuskan salah satu tesis paling terkenal dalam filsafat bahasa:

Makna sebuah kata adalah penggunaannya dalam bahasa.

Pernyataan ini bukan definisi dalam arti tradisional, melainkan perubahan cara pandang. Ia menggeser fokus dari “apa makna itu?” menjadi “bagaimana kata itu digunakan?”. Dengan perubahan ini, banyak masalah filosofis yang sebelumnya tampak rumit mulai kehilangan pijakan. Kita tidak lagi perlu mencari entitas misterius bernama “makna”, karena makna sudah hadir dalam praktik penggunaan itu sendiri.

Namun perubahan ini juga menuntut kita untuk melihat bahasa dengan cara yang baru. Kita harus meninggalkan keinginan untuk menemukan satu esensi yang tetap, dan mulai menerima keragaman penggunaan sebagai sesuatu yang fundamental.



BAGIAN I (§26–§43): DARI PENAMAAN MENUJU PENGGUNAAN

Pada bagian ini, Wittgenstein membawa kita lebih dalam ke inti revolusi pemikirannya. Ia mulai dari sesuatu yang tampak sederhana: gagasan bahwa belajar bahasa berarti “memberi nama pada benda”. Ini adalah cara berpikir yang sangat umum—bahkan hampir otomatis. Kita cenderung percaya bahwa kata adalah label, dan dunia adalah kumpulan objek yang diberi label tersebut.

Namun perlahan, Wittgenstein menunjukkan bahwa pandangan ini menyesatkan.

Ia mengajak kita melihat kembali apa sebenarnya yang terjadi ketika kita “memberi nama”. Misalnya, ketika seseorang menunjuk suatu objek dan mengatakan, “ini disebut ‘dua’” atau “ini merah”. Apakah kita benar-benar memahami apa yang dimaksud hanya dari tindakan menunjuk itu? Tidak selalu. Penunjukan semacam itu bisa diartikan dengan berbagai cara—apakah yang dimaksud adalah warna, bentuk, jumlah, atau bahkan fungsi?

Di sini kita mulai menyadari sesuatu yang penting: bahwa penamaan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu membutuhkan konteks—suatu kerangka penggunaan yang membuatnya bermakna. Tanpa konteks itu, tindakan menunjuk menjadi ambigu, bahkan kosong.

Wittgenstein kemudian mengkritik gagasan bahwa setiap kata memiliki makna karena ia menunjuk pada sesuatu. Ia menunjukkan bahwa kita sering tergoda untuk membayangkan makna sebagai sesuatu yang tersembunyi di balik kata—seolah-olah ada entitas yang “diwakili” oleh kata tersebut. Padahal, dalam banyak kasus, tidak ada sesuatu seperti itu.

Ambil contoh kata “lima”. Kita mungkin berpikir bahwa kata ini menunjuk pada suatu “objek” bernama lima. Tetapi apakah benar demikian? “Lima” bukanlah benda yang bisa kita tunjuk seperti meja atau kursi. Ia adalah bagian dari suatu sistem—cara kita menghitung, mengklasifikasikan, dan beroperasi dalam praktik tertentu.

Dengan kata lain, makna tidak berasal dari hubungan langsung antara kata dan objek, melainkan dari peran kata itu dalam suatu aktivitas.

Di titik ini, Wittgenstein mulai menegaskan kembali gagasan kuncinya, yang kini semakin jelas bentuknya: bahwa makna sebuah kata tidak terletak pada sesuatu yang diwakilinya, tetapi pada bagaimana ia digunakan.

Namun ia tidak menyajikan ini sebagai definisi yang kaku. Sebaliknya, ia mengajak kita melihat berbagai contoh penggunaan bahasa—seperti kita melihat berbagai permainan. Dalam setiap permainan, aturan dan tujuan berbeda. Demikian pula dalam bahasa: penggunaan kata dalam satu konteks bisa sangat berbeda dari penggunaannya dalam konteks lain.

Ia kemudian memperingatkan kita tentang kecenderungan filosofis yang berbahaya: keinginan untuk menemukan esensi tunggal dari makna. Kita sering bertanya, “Apa sebenarnya makna kata ini?” seolah-olah ada jawaban yang pasti dan universal. Tetapi Wittgenstein menunjukkan bahwa pertanyaan semacam itu sering kali keliru sejak awal.

Alih-alih mencari esensi, kita seharusnya memperhatikan keragaman penggunaan. Makna bukan sesuatu yang tetap dan tersembunyi, melainkan sesuatu yang tampak dalam praktik.

Pada bagian ini, ia juga mengkritik gagasan bahwa memahami kata berarti memiliki sesuatu di dalam pikiran—seperti gambaran mental. Kita sering berpikir bahwa ketika kita memahami kata “kubus”, misalnya, kita memiliki gambar kubus di kepala kita. Tetapi Wittgenstein menunjukkan bahwa hal ini tidak selalu benar. Kita bisa memahami kata tanpa memiliki gambaran tertentu, atau dengan memiliki gambaran yang berbeda-beda.

Ini berarti bahwa pemahaman tidak dapat direduksi menjadi keadaan mental tertentu. Ia lebih merupakan kemampuan—kemampuan untuk menggunakan kata dengan benar dalam berbagai situasi.

Lebih jauh lagi, Wittgenstein menunjukkan bahwa bahkan definisi pun tidak selalu memberi kepastian. Kita mungkin berpikir bahwa definisi akan mengakhiri kebingungan. Tetapi definisi sendiri menggunakan kata-kata yang membutuhkan pemahaman. Pada akhirnya, kita selalu kembali pada penggunaan.

Di bagian akhir (§43), Wittgenstein merumuskan secara eksplisit gagasan yang telah ia bangun sejak awal: Makna sebuah kata adalah penggunaannya dalam bahasa.

Pernyataan ini bukan sekadar kesimpulan, melainkan perubahan paradigma. Ia menggeser seluruh cara kita memahami bahasa. Makna bukan lagi sesuatu yang berada di luar bahasa, bukan sesuatu yang harus dicari di dunia atau di dalam pikiran. Makna ada dalam penggunaan itu sendiri—dalam cara kita hidup dan berinteraksi.




BAGIAN I (§44–§88): KEMIRIPAN KELUARGA DAN RUNTUHNYA ESENSI

Setelah menegaskan bahwa makna terletak pada penggunaan, Wittgenstein kini menghadapi konsekuensi yang jauh lebih radikal. Jika makna tidak lagi bergantung pada sesuatu yang tetap—seperti objek atau representasi mental—maka apa yang menyatukan berbagai penggunaan sebuah kata? Apa yang membuat kita tetap menggunakan satu kata untuk berbagai hal yang berbeda?

Pertanyaan ini menjadi pintu masuk ke salah satu gagasan paling terkenal dalam buku ini: kemiripan keluarga (family resemblance).

Wittgenstein mengajak kita melihat contoh sederhana: kata “permainan”. Kita menggunakan kata ini untuk menyebut berbagai aktivitas—catur, sepak bola, teka-teki, permainan kartu, bahkan permainan anak-anak. Namun jika kita mencoba mencari satu ciri yang sama pada semua aktivitas ini, kita akan kesulitan. Tidak semua permainan melibatkan kompetisi, tidak semua memiliki aturan yang sama, tidak semua bertujuan menang atau kalah.

Namun demikian, kita tetap memahami apa yang dimaksud dengan “permainan”.

Mengapa? Karena aktivitas-aktivitas itu saling berhubungan melalui jaringan kemiripan—seperti anggota keluarga yang memiliki kesamaan wajah, cara berjalan, atau ekspresi, tetapi tidak satu pun ciri yang dimiliki oleh semua anggota secara identik.

Di sinilah Wittgenstein menghancurkan salah satu asumsi paling kuat dalam filsafat: bahwa setiap konsep harus memiliki esensi yang jelas dan definisi yang tegas. Ia menunjukkan bahwa banyak konsep dalam bahasa kita justru bekerja tanpa esensi semacam itu. Yang ada bukanlah inti tunggal, melainkan jalinan kemiripan yang saling tumpang tindih.

Dengan demikian, upaya untuk mencari definisi yang kaku sering kali justru menyesatkan. Kita mencoba memaksakan keteraturan pada sesuatu yang pada dasarnya cair dan beragam.

Wittgenstein kemudian memperluas gagasan ini ke bahasa secara keseluruhan. Bahasa bukanlah sistem yang seragam, melainkan kumpulan berbagai permainan bahasa yang saling berkaitan. Tidak ada satu aturan tunggal yang mengatur semuanya. Setiap permainan memiliki logika dan tujuannya sendiri.

Pada titik ini, ia juga mulai mengkritik kecenderungan kita untuk berpikir bahwa pemahaman harus selalu bersifat eksplisit—bahwa untuk memahami sesuatu, kita harus mampu memberikan definisi atau aturan yang jelas. Namun dalam praktiknya, kita sering memahami tanpa mampu merumuskan aturan tersebut.

Misalnya, kita tahu bagaimana melanjutkan suatu pola, atau bagaimana menggunakan kata dalam situasi tertentu, tanpa harus menyadari aturan yang mendasarinya. Pemahaman kita bersifat praktis, bukan teoretis.

Wittgenstein juga menyoroti bagaimana filsafat sering kali menciptakan kebingungan dengan cara mengabstraksikan bahasa dari konteks penggunaannya. Kita mengambil kata dari kehidupan sehari-hari, lalu mencoba menganalisisnya dalam ruang hampa—seolah-olah maknanya dapat dipahami tanpa melihat bagaimana kata itu digunakan.

Akibatnya, kita mulai melihat masalah yang sebenarnya tidak ada. Kita terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan seperti: “Apa esensi waktu?”, “Apa hakikat pikiran?”, atau “Apa makna sejati dari kata ini?”—padahal pertanyaan-pertanyaan ini sering kali muncul karena kita salah memahami cara kerja bahasa.

Di bagian ini, Wittgenstein tidak memberikan jawaban langsung terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa banyak dari pertanyaan itu sendiri perlu dipertanyakan kembali. Ia mengajak kita untuk melihat bagaimana kata-kata seperti “waktu”, “pikiran”, atau “permainan” benar-benar digunakan dalam kehidupan sehari-hari, alih-alih mencari definisi abstrak yang terlepas dari praktik.

Ia juga memperkenalkan gagasan bahwa mengikuti aturan (rule-following) bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh interpretasi mental semata. Ketika kita mengikuti suatu aturan, kita tidak selalu merujuk pada definisi eksplisit di dalam kepala kita. Kita hanya melanjutkan praktik yang telah kita pelajari—kita “tahu bagaimana” melanjutkan.

Dengan demikian, pemahaman bukanlah proses internal yang misterius, melainkan bagian dari aktivitas yang dapat diamati. Ia terletak dalam cara kita bertindak, bukan dalam sesuatu yang tersembunyi di dalam pikiran.

Semua ini mengarah pada satu kesimpulan yang semakin jelas: bahwa filsafat tidak seharusnya mencari teori tentang esensi, tetapi harus kembali pada deskripsi penggunaan bahasa. Tugas filsafat adalah menunjukkan bagaimana bahasa bekerja, sehingga kita tidak lagi terjebak dalam ilusi yang diciptakan oleh cara berpikir kita sendiri.


BAGIAN I (§89–§133): FILSAFAT SEBAGAI TERAPI

Pada titik ini, penyelidikan Wittgenstein mencapai kedalaman baru. Ia tidak lagi hanya membahas bahasa sebagai praktik, tetapi mulai menyingkap mengapa filsafat sering kali tersesat. Pertanyaan yang kini muncul bukan lagi “apa itu makna?”, melainkan: mengapa kita terus-menerus bingung tentang makna, pikiran, dan realitas?

Wittgenstein melihat bahwa kebingungan filosofis bukan berasal dari kurangnya informasi, melainkan dari cara kita berpikir tentang bahasa. Kita cenderung terpesona oleh bentuk bahasa, lalu menganggap bahwa struktur bahasa mencerminkan struktur realitas. Dari sini, kita mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan metafisik yang tampak dalam, tetapi sebenarnya lahir dari kesalahpahaman.

Filsafat, dalam pandangan tradisional, sering dianggap sebagai upaya untuk menemukan hakikat terdalam dari sesuatu. Kita bertanya: “Apa itu waktu?”, “Apa itu kesadaran?”, “Apa itu makna?”—seolah-olah di balik kata-kata itu terdapat suatu esensi tersembunyi yang menunggu untuk ditemukan.

Namun Wittgenstein justru melihat bahwa pendekatan ini adalah sumber masalah.

Ia mengatakan bahwa filsafat sering kali “membeku” karena kita mengambil bahasa dari konteks penggunaannya dan mencoba memaksanya menjawab pertanyaan yang tidak sesuai dengan cara kerjanya. Kita memperlakukan kata-kata seolah-olah mereka menunjuk pada objek misterius, padahal sebenarnya mereka hanyalah bagian dari praktik kehidupan.

Akibatnya, kita terjebak dalam ilusi. Kita merasa ada sesuatu yang harus dijelaskan, padahal yang kita hadapi hanyalah kebingungan yang diciptakan oleh cara kita menggunakan bahasa.

Di sinilah Wittgenstein memperkenalkan gagasan radikal: filsafat bukanlah teori, melainkan terapi.

Filsafat tidak bertugas menjelaskan dunia, tetapi menyembuhkan kebingungan konseptual. Ia bekerja seperti terapi—membantu kita keluar dari jebakan cara berpikir yang salah.

Alih-alih memberikan jawaban, filsafat menunjukkan kepada kita bahwa pertanyaan yang kita ajukan sering kali keliru. Ia membongkar ilusi yang membuat kita merasa ada masalah, lalu memperlihatkan bahwa masalah itu sebenarnya tidak perlu ada.

Wittgenstein menggambarkan ini sebagai usaha untuk “menunjukkan jalan keluar dari botol lalat”. Kita seperti lalat yang terperangkap dalam botol kaca—terus-menerus terbang dan menabrak dinding, tanpa menyadari bahwa jalan keluar sebenarnya sederhana. Filsafat membantu kita melihat jalan itu.

Namun untuk melakukan ini, kita harus mengubah cara kita melihat bahasa. Kita harus berhenti mencari sesuatu yang tersembunyi di balik kata, dan mulai memperhatikan bagaimana kata itu digunakan dalam kehidupan nyata.

Wittgenstein juga mengkritik kecenderungan kita untuk mengidealkan bahasa—membayangkan bahwa ada bentuk bahasa yang sempurna, logis, dan bebas dari ambiguitas. Ia menunjukkan bahwa idealisasi semacam ini justru menjauhkan kita dari kenyataan. Bahasa sehari-hari, dengan segala kerumitannya, bukanlah sesuatu yang cacat, melainkan sesuatu yang bekerja dengan baik dalam konteks kehidupan.

Ia menolak gagasan bahwa kita perlu “membersihkan” bahasa untuk memahami dunia. Sebaliknya, kita perlu memahami bahasa sebagaimana adanya.

Pada bagian ini, ia juga membahas bagaimana aturan bekerja dalam bahasa. Kita mungkin berpikir bahwa mengikuti aturan berarti selalu merujuk pada definisi atau prinsip yang jelas. Tetapi Wittgenstein menunjukkan bahwa dalam praktiknya, kita mengikuti aturan tanpa selalu menyadari atau merumuskannya.

Mengikuti aturan adalah bagian dari kebiasaan—dari cara kita dilatih dalam suatu bentuk kehidupan. Kita tidak terus-menerus menafsirkan aturan; kita hanya melanjutkan praktik.

Ini membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang makna dan pemahaman. Keduanya bukanlah sesuatu yang tersembunyi di dalam pikiran, melainkan sesuatu yang tampak dalam tindakan. Untuk memahami seseorang, kita tidak perlu melihat ke dalam pikirannya; kita cukup melihat bagaimana ia menggunakan bahasa.

Menjelang akhir bagian ini, Wittgenstein semakin menegaskan bahwa tugas filsafat adalah deskriptif, bukan eksplanatif. Filsafat tidak membangun teori, tetapi menggambarkan bagaimana bahasa bekerja. Dengan deskripsi yang tepat, kebingungan filosofis akan larut dengan sendirinya.



BAGIAN I (§134–§184): MENGIKUTI ATURAN DAN BATAS PEMAHAMAN

Pada bagian ini, Wittgenstein membawa kita ke jantung persoalan yang sebelumnya hanya disinggung: apa artinya memahami sesuatu? Dan lebih tajam lagi: apa artinya mengikuti suatu aturan?

Selama ini, kita cenderung berpikir bahwa memahami berarti memiliki sesuatu di dalam pikiran—sebuah gambaran, rumus, atau definisi yang membimbing kita. Misalnya, ketika kita memahami suatu deret angka, kita merasa bahwa kita “tahu” bagaimana melanjutkannya karena kita memiliki aturan di kepala kita.

Namun Wittgenstein mulai meragukan gambaran ini.

Ia mengajak kita mempertimbangkan: ketika kita mengikuti suatu aturan, apakah kita benar-benar merujuk pada sesuatu yang jelas dan tetap di dalam pikiran kita? Ataukah kita hanya bertindak sesuai dengan kebiasaan yang telah kita pelajari?

Bayangkan seseorang yang diminta melanjutkan deret angka: 2, 4, 6, 8... Kita akan mengatakan bahwa ia memahami pola tersebut jika ia melanjutkan dengan benar: 10, 12, dan seterusnya. Tetapi apa yang menjamin bahwa ia akan melanjutkan dengan cara itu? Apakah ada “aturan” yang secara pasti menentukan langkah berikutnya?

Di sinilah Wittgenstein mengungkap sesuatu yang mengejutkan: tidak ada aturan yang, dengan sendirinya, menentukan semua penerapannya.

Setiap aturan masih terbuka terhadap berbagai interpretasi. Kita bisa selalu membayangkan seseorang yang memahami aturan secara berbeda. Maka pertanyaannya menjadi: apa yang membuat satu cara melanjutkan dianggap “benar”, dan yang lain “salah”?

Jawaban Wittgenstein tidak terletak pada sesuatu yang tersembunyi di dalam pikiran individu. Ia justru menunjuk pada praktik bersama—pada cara kita, sebagai bagian dari suatu komunitas, menggunakan dan menerapkan aturan.

Dengan kata lain, mengikuti aturan bukanlah tindakan privat, melainkan praktik sosial.

Kita belajar mengikuti aturan melalui pelatihan, melalui kebiasaan, melalui partisipasi dalam suatu bentuk kehidupan. Kita tidak terus-menerus menafsirkan aturan; kita hanya melanjutkan sebagaimana kita telah diajarkan. Pada titik tertentu, penjelasan berhenti, dan praktik dimulai.

Di sinilah Wittgenstein memperkenalkan batas penting: bahwa tidak semua pemahaman dapat dijelaskan lebih lanjut. Ada titik di mana kita hanya bisa berkata, “begitulah kita melakukannya.”

Ini bukan kelemahan, melainkan fondasi. Bahasa dan pemahaman kita berdiri di atas praktik yang tidak selalu dapat dibenarkan secara teoritis.

Ia juga menolak gagasan bahwa pemahaman adalah suatu kejadian mental yang terjadi secara tiba-tiba—seperti “aha moment” yang sepenuhnya menentukan makna. Meskipun pengalaman semacam itu bisa terjadi, ia bukanlah dasar dari pemahaman. Yang menentukan adalah kemampuan kita untuk melanjutkan dengan benar dalam praktik.

Dengan demikian, memahami bukanlah memiliki sesuatu, tetapi mampu melakukan sesuatu.

Wittgenstein kemudian memperdalam analisisnya dengan menunjukkan bahwa kita sering tergoda untuk mencari sesuatu yang “mengiringi” tindakan kita—seolah-olah setiap penggunaan bahasa harus disertai oleh suatu keadaan mental tertentu. Namun ia menunjukkan bahwa ini adalah ilusi.

Kita bisa mengikuti aturan tanpa memikirkan aturan itu secara eksplisit. Kita bisa berbicara tanpa memikirkan arti kata-kata secara sadar. Bahasa bekerja bukan karena kita selalu menyadari maknanya, tetapi karena kita telah dilatih untuk menggunakannya.

Pada bagian ini, Wittgenstein juga mulai membuka jalan menuju salah satu argumen paling terkenal dalam filsafat: kritik terhadap bahasa privat. Jika mengikuti aturan bergantung pada praktik bersama, maka gagasan tentang bahasa yang sepenuhnya privat—yang hanya dapat dipahami oleh satu individu—menjadi sangat problematis.

Sebab bagaimana kita bisa mengatakan bahwa kita mengikuti aturan secara benar, jika tidak ada standar eksternal yang membedakan antara “benar” dan “tampak benar”?

Ini membawa kita pada kesadaran yang mendalam: bahwa makna, pemahaman, dan aturan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bersama manusia. Mereka bukan sesuatu yang tersembunyi di dalam pikiran individu, melainkan sesuatu yang hidup dalam praktik sosial.




BAGIAN I (§185–§242): BAHASA PRIVAT DAN BATAS PENGALAMAN BATIN

Setelah menunjukkan bahwa mengikuti aturan adalah praktik sosial, Wittgenstein kini mengarahkan perhatiannya pada suatu keyakinan yang sangat kuat dalam tradisi filsafat: bahwa pengalaman batin—seperti rasa sakit, pikiran, atau perasaan—adalah sesuatu yang sepenuhnya privat, hanya dapat diketahui oleh individu yang mengalaminya.

Dari keyakinan ini, muncul gagasan yang tampak masuk akal: bahwa mungkin ada suatu bahasa yang sepenuhnya privat—bahasa yang hanya bisa dipahami oleh satu orang, karena hanya ia yang memiliki akses langsung terhadap pengalaman yang dirujuk oleh kata-kata dalam bahasa itu.

Sekilas, gagasan ini tampak tak terbantahkan. Bukankah hanya saya yang benar-benar merasakan sakit saya sendiri? Bukankah pengalaman batin saya tidak dapat diakses oleh orang lain?

Namun Wittgenstein mengajak kita untuk melihat lebih dekat.

Ia membayangkan seseorang yang mencoba membuat bahasa untuk sensasi pribadinya. Misalnya, setiap kali ia merasakan sensasi tertentu, ia mencatatnya dengan simbol “S”. Ia bermaksud menggunakan simbol ini untuk merujuk pada sensasi tersebut di masa depan.

Pertanyaannya: bagaimana ia tahu bahwa ia menggunakan simbol “S” dengan benar?

Tidak ada standar eksternal yang dapat ia rujuk. Ia tidak bisa membandingkan penggunaan saat ini dengan sesuatu yang objektif. Ia hanya bisa mengatakan, “ini terasa sama seperti sebelumnya.” Tetapi apa arti “sama” di sini, jika tidak ada kriteria yang dapat memverifikasinya?

Di sinilah Wittgenstein mengungkap sesuatu yang sangat radikal: dalam bahasa yang sepenuhnya privat, perbedaan antara “benar” dan “tampak benar” runtuh.

Jika tidak ada cara untuk membedakan antara penggunaan yang benar dan yang keliru, maka konsep “mengikuti aturan” kehilangan maknanya. Dan jika tidak ada aturan, maka tidak ada bahasa dalam arti yang sebenarnya.

Dengan kata lain, gagasan tentang bahasa privat—bahasa yang hanya dapat dipahami oleh satu individu—tidak dapat dipertahankan.

Namun Wittgenstein tidak mengatakan bahwa pengalaman batin tidak ada. Ia tidak menyangkal bahwa kita merasakan sakit, atau memiliki pikiran. Yang ia tolak adalah gagasan bahwa makna kata-kata yang merujuk pada pengalaman itu berasal dari hubungan langsung antara kata dan sensasi privat.

Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa bahkan kata-kata untuk pengalaman batin—seperti “sakit”—dipelajari dalam konteks sosial. Seorang anak belajar menggunakan kata “sakit” bukan dengan mengamati sensasi internalnya secara terpisah, tetapi melalui interaksi dengan orang lain: melalui ekspresi, reaksi, dan situasi tertentu.

Dengan demikian, bahasa tentang pengalaman batin tetap berakar pada praktik publik. Ia bukan bahasa privat, melainkan bagian dari permainan bahasa yang kita pelajari bersama.

Wittgenstein juga mengkritik kecenderungan kita untuk membayangkan bahwa kata-kata “menunjuk” pada objek batin, seolah-olah ada sesuatu di dalam diri kita yang diberi nama. Ia menunjukkan bahwa cara berpikir ini adalah hasil dari analogi yang menyesatkan—kita memperlakukan pengalaman batin seolah-olah seperti objek fisik.

Padahal, penggunaan kata-kata seperti “sakit” tidak berfungsi seperti penamaan objek. Ia lebih berkaitan dengan ekspresi, reaksi, dan bentuk kehidupan. Ketika seseorang berkata “saya sakit”, ia tidak sedang menunjuk suatu objek tersembunyi, tetapi mengekspresikan suatu kondisi dalam konteks tertentu.

Di bagian ini, Wittgenstein juga memperkenalkan gagasan penting tentang kriteria. Untuk mengatakan bahwa seseorang mengalami sesuatu—misalnya sakit—kita tidak perlu mengakses pengalaman batinnya secara langsung. Kita menggunakan kriteria yang tampak dalam perilaku, konteks, dan penggunaan bahasa.

Ini tidak berarti bahwa pengalaman batin direduksi menjadi perilaku. Tetapi makna kata-kata yang merujuk pada pengalaman itu tidak berasal dari sesuatu yang sepenuhnya privat.

Dengan demikian, batas antara “dalam” dan “luar” menjadi kabur. Apa yang kita anggap sebagai dunia batin ternyata tidak sepenuhnya terpisah dari praktik kehidupan bersama.




BAGIAN I (§243–§315): PIKIRAN, EKSPRESI, DAN ILUSI “DUNIA BATIN”

Pada bagian ini, Wittgenstein melanjutkan pembongkarannya terhadap gagasan bahwa pengalaman batin adalah sesuatu yang sepenuhnya privat dan terpisah dari dunia luar. Namun kali ini ia melangkah lebih jauh: ia mulai mempertanyakan cara kita memahami pikiran itu sendiri.

Kita sering membayangkan bahwa pikiran adalah semacam “ruang dalam”—sebuah dunia internal yang berisi ide, perasaan, dan makna. Dalam gambaran ini, bahasa berfungsi sebagai alat untuk “mengungkapkan” apa yang sudah ada di dalam ruang tersebut.

Namun Wittgenstein menunjukkan bahwa gambaran ini menyesatkan.

Ia mengajak kita melihat bahwa banyak kata yang kita gunakan untuk menggambarkan keadaan batin—seperti “berpikir”, “memahami”, “mengharapkan”, atau “mengingat”—tidak bekerja seperti nama objek. Kita tidak menunjuk sesuatu di dalam diri kita ketika menggunakan kata-kata itu. Sebaliknya, kita menggunakannya dalam konteks tertentu, dalam situasi tertentu, dengan aturan tertentu.

Dengan kata lain, bahasa tentang pikiran bukanlah deskripsi dunia batin, melainkan bagian dari praktik kehidupan.

Wittgenstein kemudian membahas perbedaan antara ekspresi dan deskripsi. Ketika seseorang berkata “saya sakit”, apakah ia sedang mendeskripsikan suatu objek internal? Tidak. Dalam banyak kasus, ia sedang mengekspresikan kondisinya—seperti seseorang yang mengerang atau menangis.

Ini berarti bahwa tidak semua penggunaan bahasa bertujuan untuk menggambarkan sesuatu. Kadang-kadang, bahasa adalah bagian dari tindakan itu sendiri.

Ia juga menunjukkan bahwa kita sering tergoda untuk mencari sesuatu yang “mendasari” penggunaan kata-kata ini—seolah-olah harus ada suatu keadaan mental tertentu yang selalu menyertai setiap penggunaan. Namun kenyataannya, penggunaan kata bisa sangat beragam, dan tidak selalu terkait dengan satu jenis pengalaman internal.

Sebagai contoh, kita bisa mengatakan bahwa seseorang “mengerti” suatu kalimat. Tetapi apa yang terjadi ketika seseorang mengerti? Apakah ada suatu peristiwa mental tertentu yang selalu sama dalam setiap kasus pemahaman? Wittgenstein menunjukkan bahwa tidak ada jawaban tunggal untuk pertanyaan ini. Pemahaman tidak selalu memiliki ciri internal yang tetap.

Sebaliknya, pemahaman terlihat dalam kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dengan benar—untuk melanjutkan, menjawab, atau bertindak sesuai dengan konteks.

Di bagian ini, Wittgenstein juga memperdalam kritiknya terhadap ide bahwa makna adalah sesuatu yang “menyertai” kata, seperti bayangan yang selalu ada. Ia menunjukkan bahwa kita sering membayangkan bahwa ketika kita mengucapkan suatu kata, ada sesuatu di dalam pikiran kita yang memberi makna pada kata itu. Tetapi dalam praktiknya, kita bisa menggunakan kata tanpa memikirkan maknanya secara eksplisit.

Makna tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang kita sadari. Ia bekerja dalam latar belakang—dalam kebiasaan, dalam praktik, dalam bentuk kehidupan.

Wittgenstein kemudian memperkenalkan refleksi yang sangat penting tentang hubungan antara bahasa dan kepastian. Ia menunjukkan bahwa dalam banyak hal, kita tidak meragukan penggunaan bahasa kita. Kita tidak terus-menerus bertanya apakah kita menggunakan kata dengan benar. Kita hanya melanjutkan praktik yang telah kita pelajari.

Ini menunjukkan bahwa bahasa berdiri di atas sesuatu yang lebih dasar daripada pengetahuan teoritis: kepercayaan praktis—sesuatu yang tidak selalu kita sadari, tetapi menjadi dasar dari semua aktivitas kita.

Ia juga menolak gagasan bahwa pikiran adalah sesuatu yang tersembunyi dan hanya dapat diketahui melalui introspeksi. Kita tidak selalu mengetahui keadaan batin kita dengan cara yang istimewa. Bahkan, dalam banyak kasus, kita memahami diri kita sendiri melalui bahasa yang kita pelajari dari orang lain.

Dengan demikian, batas antara “dalam” dan “luar” semakin kabur. Pikiran bukanlah dunia tertutup yang terpisah dari dunia luar, melainkan sesuatu yang terjalin dengan praktik bahasa dan kehidupan sosial.

Menjelang akhir bagian ini, Wittgenstein semakin menegaskan bahwa banyak masalah filosofis muncul karena kita salah memahami tata bahasa (grammar) dari kata-kata kita. Kita memperlakukan kata-kata seolah-olah mereka berfungsi dengan cara tertentu, padahal sebenarnya tidak demikian.

Filsafat, sekali lagi, tidak bertugas menemukan fakta baru, tetapi meluruskan cara kita melihat bahasa.



BAGIAN I (§316–§693): BAHASA, PIKIRAN, DAN KEHIDUPAN SEBAGAI SATU JALINAN

Memasuki bagian ini, Wittgenstein tidak lagi membangun argumen secara bertahap seperti sebelumnya. Ia bergerak dari satu refleksi ke refleksi lain—seperti seseorang yang berjalan mengitari sebuah lanskap, melihat dari berbagai sudut, tanpa pernah memaksakan satu jalur tunggal.

Namun di balik bentuk yang tampak tersebar ini, ada satu gerak yang konsisten:
ia terus membongkar ilusi bahwa pikiran, makna, dan pengalaman adalah sesuatu yang tersembunyi di balik bahasa.


1. Pikiran bukan “sesuatu di dalam”

Wittgenstein kembali dan kembali lagi pada kecenderungan kita untuk membayangkan pikiran sebagai ruang batin. Kita merasa bahwa ketika seseorang berpikir, ada sesuatu yang terjadi “di dalam dirinya”, dan bahasa hanya menjadi alat untuk mengungkapkannya.

Namun ia menunjukkan bahwa gambaran ini menyesatkan.

Ketika kita mengatakan seseorang “berpikir”, “mengerti”, atau “berniat”, kita tidak sedang menunjuk pada objek tersembunyi. Kita sedang menggunakan konsep yang hidup dalam praktik. Kita mengenali “berpikir” bukan dengan melihat ke dalam kepala seseorang, tetapi melalui cara ia bertindak, berbicara, dan merespons.

Dengan demikian, pikiran bukanlah dunia tersembunyi di balik bahasa—
melainkan sesuatu yang terlihat dalam penggunaan bahasa itu sendiri.


2. Pemahaman tidak memiliki “momen inti”

Wittgenstein juga mengkritik ide bahwa memahami sesuatu selalu melibatkan satu momen khusus—sebuah pengalaman batin yang menentukan.

Kita sering berkata, “Sekarang saya mengerti!” seolah-olah ada titik pasti di mana pemahaman terjadi. Tetapi Wittgenstein menunjukkan bahwa pemahaman tidak selalu memiliki momen seperti itu. Kita bisa memahami sesuatu tanpa menyadari kapan tepatnya kita mulai memahaminya.

Pemahaman bukanlah kejadian tunggal, melainkan kemampuan yang terwujud dalam tindakan. Ia tampak dalam cara kita melanjutkan, menjawab, atau menggunakan sesuatu dengan tepat.


3. Makna tidak melekat, tetapi mengalir dalam praktik

Di bagian ini, Wittgenstein terus menegaskan bahwa makna bukan sesuatu yang “menempel” pada kata. Kita sering membayangkan bahwa setiap kata membawa makna seperti bayangan tetap. Namun kenyataannya, makna berubah sesuai konteks penggunaan.

Ia mengajak kita melihat bahwa bahasa adalah sesuatu yang hidup. Kata-kata tidak memiliki makna di luar penggunaannya. Mereka mendapatkan maknanya dari jaringan praktik, dari cara mereka digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, mencari makna di luar penggunaan adalah seperti mencari bayangan tanpa objek.


4. Melihat-as (seeing-as) dan cara kita memahami dunia

Salah satu refleksi menarik dalam bagian ini adalah tentang bagaimana kita melihat sesuatu. Wittgenstein menunjukkan bahwa melihat bukan hanya soal menerima data visual, tetapi juga soal cara kita menginterpretasikan apa yang kita lihat.

Kita bisa melihat gambar yang sama sebagai dua hal yang berbeda—misalnya sebagai bebek atau kelinci. Ini menunjukkan bahwa pemahaman tidak hanya terjadi di tingkat pikiran, tetapi juga dalam cara kita melihat dunia. Dunia yang kita lihat sudah selalu terjalin dengan cara kita memahaminya.


5. Kepastian, kebiasaan, dan dasar kehidupan

Wittgenstein juga menyentuh sesuatu yang sangat mendasar: bahwa banyak hal dalam kehidupan kita tidak dipertanyakan. Kita tidak terus-menerus meragukan arti kata, atau cara kita menggunakan bahasa. Kita hanya melanjutkan praktik.

Ini menunjukkan bahwa bahasa berdiri di atas dasar yang tidak selalu dapat dijelaskan—dasar berupa kebiasaan, pelatihan, dan bentuk kehidupan. Kita tidak memulai dari keraguan total, tetapi dari kepastian praktis yang tidak selalu kita sadari.


6. Filsafat sebagai pembebasan

Menjelang akhir, menjadi semakin jelas bahwa seluruh proyek Wittgenstein bukanlah membangun teori, tetapi membebaskan kita dari ilusi.

Masalah filosofis, dalam pandangannya, bukanlah masalah tentang dunia, melainkan masalah tentang cara kita berpikir. Kita terjebak oleh bahasa kita sendiri—oleh kecenderungan kita untuk menyederhanakan, mengabstraksikan, dan mencari esensi.

Filsafat membantu kita keluar dari jebakan itu.

Ia tidak memberi jawaban baru, tetapi membuat kita melihat bahwa banyak pertanyaan kita sebenarnya tidak perlu diajukan.


7. Akhir yang terbuka

Buku ini tidak berakhir dengan kesimpulan besar. Tidak ada teori yang dirangkum, tidak ada sistem yang ditutup. Sebaliknya, ia berakhir seperti ia dimulai: sebagai kumpulan refleksi.

Namun justru di situlah kekuatannya.

Wittgenstein tidak ingin kita menghafal hasil, tetapi mengubah cara kita melihat. Jika kita benar-benar mengikuti penyelidikannya, kita tidak hanya mendapatkan pemahaman baru tentang bahasa, tetapi juga tentang diri kita sendiri—tentang bagaimana kita berpikir, berbicara, dan hidup.


Kesimpulan Bagian 1:

Dari awal hingga akhir, Philosophical Investigations menunjukkan satu hal yang konsisten:

  • Bahasa bukan cermin dunia, tetapi bagian dari kehidupan
  • Makna bukan sesuatu yang tersembunyi, tetapi tampak dalam penggunaan
  • Pikiran bukan ruang privat, tetapi terjalin dalam praktik sosial
  • Filsafat bukan teori, tetapi terapi

Dan mungkin yang paling penting: banyak masalah filosofis bukanlah masalah nyata,
melainkan ilusi yang lahir dari cara kita salah memahami bahasa.

Jika kita membaca buku ini dengan harapan menemukan jawaban pasti, kita akan kecewa.

Tetapi jika kita membacanya sebagai latihan untuk melihat—untuk memperhatikan bahasa dan kehidupan dengan lebih jernih—maka buku ini menjadi sangat kuat.

Ia tidak memberi kita sesuatu untuk dipegang, tetapi mengajarkan kita cara melepaskan apa yang tidak perlu dipegang.




:::

PART II

MELIHAT, MEMAHAMI, DAN DUNIA YANG SELALU SUDAH BERMAKNA

Jika pada bagian pertama Wittgenstein membongkar ilusi tentang bahasa, maka pada bagian kedua ini ia membawa kita masuk lebih dalam—ke wilayah yang terasa paling pribadi: cara kita melihat, membayangkan, dan memahami dunia.

Namun alih-alih mengukuhkan gagasan bahwa semua itu terjadi “di dalam” diri kita, ia justru menunjukkan sesuatu yang lebih mengejutkan: bahwa bahkan pengalaman paling intim pun tidak dapat dipisahkan dari cara kita hidup dan menggunakan bahasa.


MELIHAT YANG TIDAK PERNAH NETRAL

Kita biasanya menganggap bahwa melihat adalah aktivitas yang sederhana. Mata kita terbuka, cahaya masuk, dan kita menerima gambar dunia sebagaimana adanya. Seolah-olah melihat adalah proses pasif—kita hanya menerima apa yang sudah ada di luar sana.

Namun Wittgenstein mengajak kita berhenti sejenak dan memperhatikan pengalaman kita sendiri.

Apakah benar kita hanya “melihat”?
Ataukah kita selalu melihat sesuatu sebagai sesuatu?

Bayangkan sebuah gambar sederhana—yang bisa terlihat sebagai bebek, tetapi juga bisa terlihat sebagai kelinci. Pada satu momen, kita melihatnya sebagai bebek. Lalu, tanpa ada perubahan pada gambar itu sendiri, kita tiba-tiba melihatnya sebagai kelinci.

Apa yang berubah?

Bukan objeknya.
Melainkan cara kita melihatnya.

Dari sini Wittgenstein menunjukkan bahwa melihat bukanlah proses yang murni visual. Ia selalu melibatkan suatu bentuk pemahaman. Kita tidak hanya menerima dunia; kita menginterpretasikannya.

Dengan demikian, persepsi tidak pernah benar-benar netral. Dunia yang kita lihat selalu sudah “diterangi” oleh cara kita memahaminya.


“MELIHAT SEBAGAI”: TITIK TEMU PERSEPSI DAN PIKIRAN

Fenomena ini—melihat sesuatu sebagai sesuatu—menjadi kunci penting dalam bagian ini.

Ketika kita melihat gambar sebagai bebek, lalu sebagai kelinci, kita tidak sedang menemukan dua objek berbeda. Kita sedang mengalami pergeseran perspektif.

Dan yang menarik, pergeseran ini sering terasa seperti pencerahan kecil—sebuah “aha moment”. Namun Wittgenstein mengingatkan bahwa tidak ada penemuan objek baru di sini. Yang terjadi hanyalah perubahan dalam cara kita mengaitkan apa yang kita lihat.

Di sinilah batas antara melihat dan berpikir mulai kabur.

Kita biasanya memisahkan keduanya:

  • melihat sebagai aktivitas inderawi
  • berpikir sebagai aktivitas mental

Namun pengalaman ini menunjukkan bahwa keduanya tidak terpisah. Cara kita melihat sudah selalu dipengaruhi oleh cara kita berpikir. Dan sebaliknya, cara kita berpikir sering berakar pada cara kita melihat.

Dunia, dengan demikian, bukan hanya sesuatu yang kita hadapi, tetapi sesuatu yang kita hidupi melalui cara melihat tertentu.


IMAJINASI TANPA “GAMBAR DI KEPALA”

Dari pembahasan tentang melihat, Wittgenstein beralih ke imajinasi.

Kita sering membayangkan bahwa ketika kita “membayangkan” sesuatu, kita melihat gambar di dalam pikiran—seolah-olah ada layar di dalam kepala kita tempat semua pengalaman mental diproyeksikan.

Namun Wittgenstein menunjukkan bahwa ini hanyalah metafora yang menyesatkan.

Kita bisa memahami sebuah kalimat tanpa membayangkan apa pun.
Kita bisa membayangkan sesuatu tanpa memiliki gambar yang jelas.
Kita bisa menggunakan kata dengan tepat tanpa “melihat” maknanya di dalam kepala.

Ini berarti bahwa pikiran tidak bekerja seperti teater yang memutar gambar-gambar internal.

- Imajinasi bukanlah soal melihat gambar di dalam, tetapi bagian dari cara kita menggunakan bahasa dan memahami dunia.


BAHASA SEBAGAI EKSPRESI, BUKAN CERMIN BATIN

Salah satu titik paling penting dalam bagian ini adalah perubahan cara kita memahami bahasa tentang pengalaman batin.

Kita sering berpikir bahwa ketika seseorang berkata, “Saya sakit”, ia sedang melaporkan suatu fakta internal—seolah-olah ia melihat sesuatu di dalam dirinya dan kemudian menggambarkannya dengan kata-kata.

Namun Wittgenstein menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, pernyataan seperti itu lebih mirip ekspresi daripada laporan.

Ketika seseorang berteriak kesakitan, ia tidak sedang mendeskripsikan sesuatu—ia mengekspresikannya. Dan kalimat “Saya sakit” sering kali merupakan bentuk ekspresi yang lebih terstruktur, bukan laporan objektif tentang suatu objek batin.

Ini berarti bahwa bahasa tentang pengalaman tidak selalu berfungsi sebagai cermin dari dunia internal. Ia sering kali merupakan bagian dari pengalaman itu sendiri.


PEMAHAMAN YANG TERLIHAT DALAM TINDAKAN

Kita juga cenderung berpikir bahwa pemahaman adalah sesuatu yang tersembunyi—sesuatu yang terjadi di dalam pikiran seseorang, yang hanya bisa diketahui melalui introspeksi.

Namun Wittgenstein mengajak kita melihat bagaimana kita sebenarnya mengenali pemahaman dalam kehidupan sehari-hari.

Kita tahu seseorang mengerti lelucon bukan karena kita melihat isi pikirannya, tetapi karena ia tertawa pada saat yang tepat.
Kita tahu seseorang memahami instruksi bukan karena kita mengakses pikirannya, tetapi karena ia melakukan apa yang diminta.

Dengan kata lain, pemahaman tidak tersembunyi di balik tindakan—
ia terlihat dalam tindakan itu sendiri.


KRITIK TERHADAP “TEATER BATIN”

Seluruh refleksi ini mengarah pada satu kritik besar: terhadap gambaran bahwa pikiran adalah semacam teater batin.

Dalam gambaran ini, kita membayangkan bahwa:

  • ada dunia internal di dalam diri kita
  • berisi gambar, ide, dan makna
  • dan bahasa berfungsi untuk mengungkapkan isi dunia itu

Wittgenstein menunjukkan bahwa gambaran ini tidak sesuai dengan cara bahasa dan pikiran benar-benar bekerja.

Pikiran bukanlah tempat tersembunyi.
Ia bukan ruang yang terpisah dari dunia.

Sebaliknya, pikiran adalah sesuatu yang:

  • terjalin dengan bahasa
  • tampak dalam tindakan
  • dan hidup dalam hubungan dengan orang lain

DUNIA YANG SELALU SUDAH DIPAHAMI

Pada akhirnya, Part II membawa kita pada kesadaran yang halus tetapi mendalam:

- kita tidak pernah berhadapan dengan dunia yang “mentah”
- kita selalu sudah berada dalam dunia yang kita pahami

Cara kita melihat, berbicara, dan berpikir tidak berdiri sendiri. Semuanya merupakan bagian dari satu jaringan kehidupan yang utuh.


PENUTUP

Bagian ini tidak memberikan teori baru, tetapi mengubah cara kita melihat pengalaman kita sendiri.

Ia menunjukkan bahwa:

  • melihat adalah memahami
  • membayangkan bukan melihat gambar internal
  • berbicara bukan melaporkan isi batin
  • dan berpikir bukan aktivitas tersembunyi


Semua itu adalah bagian dari kehidupan—
bagian dari cara kita berada di dunia bersama orang lain.

Jika Part I membongkar ilusi tentang bahasa,
maka Part II membongkar ilusi tentang diri kita sendiri.

Dan mungkin di situlah kekuatan terbesar buku ini:
ia tidak hanya mengubah cara kita berpikir,
tetapi juga cara kita melihat—
dan pada akhirnya, cara kita hidup.



-

[Overview]

Pengantar

Gagasan-gagasan yang saya terbitkan dalam tulisan berikut ini merupakan hasil pengendapan dari penyelidikan-penyelidikan filosofis yang telah menyibukkan saya selama enam belas tahun terakhir. Penyelidikan tersebut mencakup berbagai bidang: konsep makna, pemahaman, proposisi, logika, dasar-dasar matematika, keadaan kesadaran, dan sejumlah persoalan lainnya. Seluruh pemikiran ini saya tuangkan dalam bentuk catatan-catatan singkat, berupa paragraf-paragraf pendek; kadang-kadang tersusun sebagai rangkaian yang cukup panjang mengenai satu tema tertentu, namun pada kesempatan lain berubah secara tiba-tiba, meloncat dari satu topik ke topik yang lain.

Pada mulanya, saya bermaksud untuk menghimpun seluruh pemikiran ini ke dalam sebuah buku yang utuh—suatu bentuk yang, dalam bayangan saya, berubah-ubah dari waktu ke waktu. Akan tetapi, hal yang esensial bagi saya adalah bahwa gagasan-gagasan tersebut harus bergerak dari satu pokok persoalan ke pokok lainnya secara alami, tanpa terputus atau dipaksakan.

Setelah berbagai upaya yang tidak berhasil untuk menyatukan hasil-hasil pemikiran tersebut ke dalam suatu keseluruhan yang padu, saya akhirnya menyadari bahwa usaha semacam itu tidak akan pernah berhasil. Apa yang terbaik yang dapat saya tulis tidak akan lebih dari sekadar catatan-catatan filosofis. Pikiran-pikiran saya menjadi kaku dan terhambat setiap kali saya mencoba memaksanya bergerak dalam satu arah tertentu yang bertentangan dengan kecenderungan alaminya. Hal ini, tentu saja, berkaitan dengan hakikat penyelidikan itu sendiri, yang menuntut kita untuk menjelajahi wilayah pemikiran yang luas, saling bersilangan ke segala arah.

Dengan demikian, catatan-catatan filosofis dalam buku ini dapat dipahami sebagai serangkaian sketsa lanskap, yang dibuat sepanjang perjalanan panjang dan berliku tersebut.

Titik-titik yang sama—atau hampir sama—senantiasa didekati kembali dari berbagai arah yang berbeda, dan dari situ lahirlah sketsa-sketsa baru. Banyak di antara sketsa tersebut yang buruk atau tidak representatif, memperlihatkan segala kelemahan seorang penggambar yang belum matang. Setelah disisihkan, tersisa sejumlah sketsa yang cukup layak; sketsa-sketsa inilah yang kemudian harus disusun dan, pada beberapa bagian, dipadatkan, sehingga apabila dilihat secara keseluruhan, dapat menghadirkan gambaran tentang lanskap yang dimaksud. Dengan demikian, buku ini pada hakikatnya tidak lain adalah sebuah album.

Sampai beberapa waktu yang lalu, saya sebenarnya telah meninggalkan gagasan untuk menerbitkan karya ini selama masa hidup saya. Namun, gagasan tersebut sesekali muncul kembali—terutama karena saya menyadari bahwa hasil-hasil pemikiran saya (yang telah saya sampaikan melalui kuliah, naskah ketikan, dan diskusi) beredar dalam bentuk yang sering disalahpahami, dipelintir, atau disederhanakan secara berlebihan. Hal ini melukai kesombongan saya, dan saya pun mengalami kesulitan untuk meredamnya.

Empat tahun yang lalu, saya berkesempatan untuk membaca kembali buku pertama saya (Tractatus Logico-Philosophicus) dan menjelaskan gagasan-gagasannya kepada seseorang. Tiba-tiba saya merasa bahwa sebaiknya saya menerbitkan pemikiran-pemikiran lama tersebut bersama dengan yang baru; sebab, yang terakhir hanya dapat dipahami secara tepat jika dilihat dalam kontras dan latar belakang cara berpikir saya yang terdahulu.

Sejak kembali menekuni filsafat enam belas tahun yang lalu, saya terpaksa mengakui adanya kesalahan-kesalahan serius dalam apa yang saya tuliskan dalam buku pertama tersebut. Dalam menyadari kesalahan-kesalahan ini, saya sangat terbantu—hingga tingkat yang bahkan sulit saya ukur sendiri—oleh kritik yang diarahkan terhadap gagasan-gagasan saya oleh Frank Ramsey, dengan siapa saya mendiskusikannya dalam percakapan yang tak terhitung jumlahnya selama dua tahun terakhir hidupnya. Lebih dari itu, saya juga sangat berutang kepada rangsangan intelektual yang terus-menerus diberikan oleh seorang pengajar di universitas ini, Tn. P. Sraffa, yang selama bertahun-tahun tanpa henti menguji pemikiran saya. Kepada dorongan inilah saya berutang atas gagasan-gagasan paling penting dalam buku ini.

Dalam lebih dari satu hal, apa yang saya terbitkan di sini akan memiliki titik-titik persinggungan dengan apa yang sedang ditulis oleh orang lain pada masa kini. Namun, jika catatan-catatan saya tidak memperlihatkan ciri khas yang menandainya sebagai milik saya, maka saya tidak lagi hendak mengklaimnya sebagai kepunyaan pribadi.

Saya mempublikasikan tulisan ini dengan perasaan yang ragu-ragu. Bukan tidak mungkin bahwa karya ini—dalam segala keterbatasannya dan di tengah kegelapan zaman ini—dapat membawa sedikit terang ke dalam pikiran seseorang atau yang lain; meskipun, tentu saja, hal itu tidak terlalu mungkin.

Saya tidak berharap tulisan saya dapat menghemat usaha orang lain dalam berpikir. Sebaliknya, jika mungkin, saya berharap tulisan ini dapat merangsang seseorang untuk melahirkan pemikiran-pemikirannya sendiri.

Saya sebenarnya ingin menghasilkan sebuah buku yang baik. Hal itu tidak terwujud. Dan kini, waktunya telah lewat bagi saya untuk memperbaikinya.

Cambridge,
Januari 1945.


Bagian 1


1.

“Ketika mereka (orang-orang dewasa) menyebut sesuatu dengan suatu nama, dan ketika, seiring dengan ucapan itu, mereka menggerakkan tubuh ke arah sesuatu, aku memperhatikan hal itu dan memahami bahwa benda itu dinamai demikian oleh mereka melalui bunyi yang mereka ucapkan ketika mereka hendak menunjukkannya. Maksud mereka itu tampak dari gerak tubuh: seolah-olah melalui bahasa alami yang dimiliki oleh semua bangsa—yang terwujud dalam ekspresi wajah, gerakan mata, anggota tubuh lainnya, serta nada suara yang menandakan keadaan batin dalam keinginan, kepemilikan, penolakan, atau penghindaran terhadap sesuatu. Dengan demikian, melalui kata-kata yang ditempatkan dalam berbagai konteks kalimat dan berulang kali terdengar, aku sedikit demi sedikit mengumpulkan pemahaman tentang hal-hal yang ditandainya; dan setelah lidahku terlatih dalam tanda-tanda itu, aku mulai mengungkapkan kehendakku melalui kata-kata tersebut.”
(Agustinus, Confessiones, I.8)

Kutipan ini, menurut saya, menyajikan suatu gambaran tertentu mengenai hakikat bahasa manusia. Gambaran itu adalah sebagai berikut: kata-kata individual dalam bahasa menamai objek-objek—dan kalimat merupakan gabungan dari nama-nama tersebut. Dalam gambaran bahasa seperti ini, kita menemukan akar dari gagasan berikut: setiap kata memiliki makna; makna ini berkorelasi dengan kata tersebut; dan makna itu adalah objek yang diwakili oleh kata itu.

Agustinus tidak membicarakan adanya perbedaan antara jenis-jenis kata. Jika seseorang menggambarkan proses pembelajaran bahasa dengan cara seperti ini, maka saya kira ia terutama memikirkan kata benda seperti “meja”, “kursi”, “roti”, serta nama-nama orang; dan hanya secara sekunder memikirkan nama-nama tindakan dan sifat; sementara jenis-jenis kata lainnya dianggap sebagai sesuatu yang akan dengan sendirinya terurus.

Sekarang, bayangkan penggunaan bahasa berikut ini: saya menyuruh seseorang pergi berbelanja. Saya memberinya secarik kertas bertuliskan “lima apel merah”. Ia membawa kertas itu kepada penjual, yang kemudian membuka laci bertanda “apel”; lalu ia mencari kata “merah” dalam suatu tabel dan menemukan contoh warna yang bersesuaian; setelah itu ia menyebutkan deret bilangan kardinal—yang saya anggap ia hafal—hingga kata “lima”, dan untuk setiap bilangan ia mengambil satu apel yang warnanya sesuai dengan contoh tersebut dari laci.

Dengan cara inilah, dan dalam cara-cara serupa, orang beroperasi dengan kata-kata. Namun, bagaimana ia mengetahui di mana dan bagaimana ia harus mencari kata “merah”, dan apa yang harus ia lakukan dengan kata “lima”? Saya berasumsi bahwa ia bertindak sebagaimana telah saya gambarkan. Penjelasan pada akhirnya harus berhenti di suatu titik.

Tetapi, apakah makna dari kata “lima”?—Hal itu tidak sedang dipersoalkan di sini; yang menjadi perhatian hanyalah bagaimana kata “lima” digunakan.


2.

Konsep filosofis tentang makna tersebut memiliki tempatnya dalam suatu gagasan yang masih sederhana mengenai cara kerja bahasa. Namun demikian, dapat pula dikatakan bahwa gagasan itu mencerminkan suatu bentuk bahasa yang lebih primitif daripada bahasa kita sekarang.

Marilah kita bayangkan suatu bahasa yang sepenuhnya sesuai dengan deskripsi yang diberikan oleh Agustinus. Bahasa ini dimaksudkan sebagai sarana komunikasi antara seorang tukang bangunan (A) dan asistennya (B). A sedang membangun dengan menggunakan batu-batu bangunan: ada balok, pilar, lempeng, dan balok penyangga. B bertugas menyerahkan batu-batu tersebut sesuai dengan urutan yang dibutuhkan oleh A. Untuk tujuan ini, mereka menggunakan suatu bahasa yang hanya terdiri dari kata-kata: “balok”, “pilar”, “lempeng”, “balok penyangga”. A menyebutkan kata-kata tersebut—dan B membawa batu yang telah ia pelajari untuk dibawa ketika mendengar seruan tertentu. Bayangkanlah ini sebagai suatu bahasa primitif yang lengkap.


3.

Kita dapat mengatakan bahwa Agustinus memang menggambarkan suatu sistem komunikasi; hanya saja, tidak semua yang kita sebut “bahasa” merupakan sistem seperti itu. Hal ini perlu ditegaskan dalam banyak kasus ketika muncul pertanyaan: “Apakah ini merupakan deskripsi yang tepat atau tidak?” Jawabannya adalah: “Ya, deskripsi ini tepat, tetapi hanya untuk wilayah yang terbatas secara sempit, bukan untuk keseluruhan dari apa yang Anda maksudkan.”

Keadaannya seolah-olah seseorang berkata: “Permainan terdiri atas memindahkan benda-benda di atas suatu permukaan menurut aturan-aturan tertentu.” Dan kita menjawab: “Tampaknya Anda sedang memikirkan permainan papan; tetapi ada juga jenis permainan lain.” Definisi tersebut dapat dibuat benar, asalkan secara eksplisit dibatasi hanya pada jenis permainan itu.



4.

Bayangkan suatu sistem tulisan di mana huruf-huruf digunakan untuk mewakili bunyi, sekaligus juga berfungsi sebagai tanda penekanan dan tanda baca. (Sebuah sistem tulisan dapat dipahami sebagai semacam bahasa untuk menggambarkan pola-pola bunyi.) Sekarang bayangkan seseorang menafsirkan sistem tulisan tersebut seolah-olah hanya terdapat korespondensi sederhana antara huruf dan bunyi, seakan-akan huruf-huruf itu tidak memiliki fungsi lain yang sama sekali berbeda.

Konsepsi bahasa yang diajukan oleh Agustinus menyerupai cara pandang yang terlalu sederhana terhadap sistem tulisan semacam itu.


5.

Jika kita meninjau contoh pada bagian 2, barangkali kita mulai memperoleh gambaran tentang sejauh mana pengertian umum mengenai makna sebuah kata menyelimuti cara kerja bahasa dengan semacam kabut yang menghalangi kejernihan pandangan. Untuk menyingkirkan kabut tersebut, kita perlu mempelajari gejala-gejala bahasa dalam bentuk-bentuk penggunaannya yang paling sederhana, di mana tujuan dan fungsi kata-kata dapat diamati dengan jelas.

Seorang anak menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang demikian sederhana ketika ia belajar berbicara. Dalam situasi ini, pengajaran bahasa bukanlah penjelasan, melainkan pelatihan.


6.

Kita dapat membayangkan bahwa bahasa pada contoh bagian 2 merupakan keseluruhan bahasa yang digunakan oleh A dan B; bahkan seluruh bahasa suatu suku. Anak-anak dibesarkan untuk melakukan tindakan-tindakan tersebut, menggunakan kata-kata itu sambil melakukannya, serta merespons kata-kata orang lain dengan cara yang demikian.

Bagian penting dari pelatihan ini terdiri atas tindakan guru yang menunjuk pada objek-objek, mengarahkan perhatian anak kepada objek tersebut, dan pada saat yang sama mengucapkan suatu kata; misalnya, kata “lempeng” ketika ia menunjuk pada bentuk itu. (Saya tidak ingin menyebut ini sebagai “definisi ostentif”, karena pada tahap ini anak belum dapat menanyakan apa nama sesuatu. Saya lebih memilih menyebutnya sebagai “pengajaran ostentif”.) Kita dapat mengatakan bahwa pengajaran ostentif ini membentuk bagian penting dari pelatihan—bukan karena tidak mungkin dibayangkan sebaliknya, melainkan karena memang demikianlah yang terjadi pada manusia.

Pengajaran ostentif terhadap kata-kata dapat dikatakan membentuk suatu asosiasi antara kata dan sesuatu. Tetapi, apa arti dari hal itu? Maknanya bisa bermacam-macam; namun, yang pertama-tama terlintas dalam pikiran adalah bahwa suatu gambaran tentang objek muncul dalam benak anak ketika ia mendengar kata tersebut. Tetapi jika hal ini memang terjadi—apakah itu tujuan dari kata tersebut? Bisa jadi memang demikian. Saya dapat membayangkan penggunaan kata-kata (atau rangkaian bunyi) yang seperti itu. (Mengucapkan sebuah kata seolah-olah seperti menekan sebuah nada pada papan tuts imajinasi.) Namun, dalam bahasa seperti pada contoh bagian 2, bukanlah tujuan kata-kata untuk membangkitkan gambaran mental. (Meskipun, tentu saja, dapat ditemukan bahwa hal itu membantu mencapai tujuan yang sebenarnya.)

Namun, jika pengajaran ostentif memiliki efek semacam itu—haruskah kita mengatakan bahwa itu menghasilkan pemahaman terhadap kata tersebut? Tidakkah Anda memahami seruan “Lempeng!” jika Anda bertindak sesuai dengan perintah itu? Tidak diragukan lagi, pengajaran ostentif membantu mewujudkan hal tersebut; tetapi hanya jika disertai dengan pelatihan tertentu. Dengan pelatihan yang berbeda, pengajaran ostentif yang sama terhadap kata-kata ini dapat menghasilkan pemahaman yang sama sekali berbeda.

“Saya memasang tuas rem dengan menghubungkan batang dan seluruh mekanisme lainnya.” Hanya dalam kaitannya dengan keseluruhan sistem itulah sesuatu menjadi tuas rem; terpisah dari penopangnya, ia bahkan bukan lagi sebuah tuas—ia bisa menjadi apa saja, atau bahkan tidak berarti apa-apa.


7.

Dalam praktik penggunaan bahasa seperti pada contoh (2), satu pihak menyerukan kata-kata, sementara pihak lainnya bertindak berdasarkan seruan tersebut. Dalam proses pengajaran bahasa, akan terjadi proses berikut: pembelajar menyebut nama-nama objek; yaitu, ia mengucapkan kata tertentu ketika guru menunjuk pada batu tersebut.—Dan ada pula latihan yang lebih sederhana lagi: murid mengulangi kata-kata setelah guru—keduanya merupakan proses yang menyerupai penggunaan bahasa.

Kita juga dapat memandang seluruh proses penggunaan kata-kata dalam contoh (2) sebagai salah satu dari permainan-permainan yang melaluinya anak-anak mempelajari bahasa ibu mereka. Permainan-permainan ini akan saya sebut sebagai “permainan bahasa” (language-games), dan kadang-kadang saya juga akan menyebut suatu bahasa primitif sebagai sebuah permainan bahasa.

Proses penamaan batu-batu dan pengulangan kata-kata setelah seseorang juga dapat disebut sebagai permainan bahasa. Bayangkan pula berbagai penggunaan kata dalam permainan anak-anak, seperti permainan berima dan berulang-ulang yang menyertai gerak tubuh.

Saya juga akan menyebut keseluruhan—yang terdiri dari bahasa serta tindakan-tindakan yang terjalin di dalamnya—sebagai “permainan bahasa”.


8.

Sekarang marilah kita memperhatikan suatu pengembangan dari bahasa pada contoh (2). Selain empat kata “balok”, “pilar”, “lempeng”, dan “balok penyangga”, bahasa tersebut juga mencakup serangkaian kata yang digunakan seperti halnya penjual dalam contoh (1) menggunakan bilangan (misalnya, dapat berupa deret huruf alfabet). Selain itu, terdapat pula dua kata—misalnya “ini” dan “di sana” (karena keduanya secara kasar menunjukkan fungsinya)—yang digunakan bersamaan dengan gerakan menunjuk; dan akhirnya tersedia pula sejumlah contoh warna.

A memberikan perintah seperti: “lempeng d merah di sana.” Pada saat yang sama ia memperlihatkan kepada asistennya suatu contoh warna; dan ketika ia mengatakan “di sana”, ia menunjuk pada suatu tempat di lokasi pembangunan. Dari persediaan lempeng, B mengambil satu untuk setiap huruf alfabet hingga “d”, dengan warna yang sama seperti contoh tersebut, lalu membawanya ke tempat yang ditunjukkan oleh A.

Pada kesempatan lain, A memberikan perintah: “ini—di sana.” Dalam hal ini, ia menunjuk pada sebuah batu bangunan, dan seterusnya.


9.

Ketika seorang anak mempelajari bahasa ini, ia harus menghafal deret “numeral” a, b, c, dan seterusnya. Selain itu, ia juga harus mempelajari penggunaannya.—Apakah pelatihan ini mencakup pengajaran ostentif terhadap deret tersebut? Tentu saja, misalnya, seseorang akan menunjuk pada lempeng-lempeng sambil menghitung: “a, b, c lempeng”.

Namun, sesuatu yang lebih menyerupai pengajaran ostentif terhadap kata-kata seperti “balok”, “pilar”, dan sebagainya adalah pengajaran ostentif terhadap numeral yang tidak digunakan untuk menghitung, melainkan untuk merujuk pada kelompok objek yang dapat dikenali secara langsung dalam satu pandangan. Anak-anak memang mempelajari penggunaan lima atau enam bilangan kardinal pertama dengan cara seperti ini.

Apakah kata “ini” dan “di sana” juga diajarkan secara ostentif?—Bayangkan bagaimana seseorang mungkin mengajarkan penggunaannya. Seseorang akan menunjuk pada tempat-tempat dan benda-benda—namun dalam hal ini, tindakan menunjuk tidak hanya terjadi dalam proses belajar, melainkan juga menjadi bagian dari penggunaan kata-kata tersebut.


10.

Sekarang, apa yang ditunjukkan oleh kata-kata dalam bahasa ini mengenai apa yang mereka maknai, jika bukan jenis penggunaannya? Dan penggunaan itu telah kita uraikan sebelumnya. Dengan demikian, kita sebenarnya sedang berusaha menjadikan ungkapan “kata ini berarti ini” sebagai bagian dari deskripsi tersebut. Dengan kata lain, deskripsi itu seharusnya mengambil bentuk: “kata ini berarti …”

Tentu saja, deskripsi mengenai penggunaan kata “lempeng” dapat direduksi menjadi pernyataan bahwa kata tersebut menunjuk pada objek ini. Hal ini dilakukan, misalnya, ketika tujuannya hanyalah untuk menyingkirkan kesalahpahaman bahwa kata “lempeng” merujuk pada bentuk tertentu dari batu bangunan yang kebetulan kita sebut demikian. Namun, jenis “perujukan” seperti ini—yakni bagaimana kata-kata itu digunakan dalam praktik—pada dasarnya telah diketahui sebelumnya.

Demikian pula, kita dapat mengatakan bahwa tanda-tanda seperti “a”, “b”, “c” menandakan bilangan; misalnya, ketika pernyataan ini dimaksudkan untuk menyingkirkan kesalahpahaman bahwa “a”, “b”, “c” memainkan peran yang sama seperti kata “balok”, “lempeng”, atau “pilar” dalam bahasa. Kita juga dapat mengatakan bahwa “c” berarti bilangan ini dan bukan yang itu; misalnya, ketika hal ini digunakan untuk menjelaskan bahwa huruf-huruf tersebut harus digunakan dalam urutan a, b, c, d, dan seterusnya, bukan dalam urutan a, b, d, c.

Namun, dengan menyeragamkan deskripsi penggunaan kata-kata dengan cara seperti ini, kita tidak membuat penggunaan-penggunaan tersebut menjadi lebih serupa satu sama lain. Sebab, sebagaimana dapat kita lihat, penggunaan-penggunaan itu pada kenyataannya sangat berbeda satu sama lain.


11.

Bayangkan berbagai alat dalam sebuah kotak perkakas: ada palu, tang, gergaji, obeng, penggaris, wadah lem, lem, paku, dan sekrup.—Fungsi kata-kata sama beragamnya dengan fungsi benda-benda tersebut. (Dan dalam kedua kasus itu juga terdapat kesamaan-kesamaan tertentu.)

Tentu saja, yang sering membingungkan kita adalah keseragaman tampilan kata-kata ketika kita mendengarnya diucapkan, atau ketika kita menjumpainya dalam tulisan dan cetakan. Padahal, penggunaannya tidak disajikan kepada kita dengan cara yang begitu jelas. Terlebih lagi ketika kita sedang berfilsafat!


12.

Keadaannya serupa dengan ketika kita melihat ke dalam kabin sebuah lokomotif. Kita melihat berbagai tuas yang tampak kurang lebih sama. (Hal ini wajar, karena semuanya memang dirancang untuk dioperasikan.) Namun, salah satunya adalah tuas engkol yang dapat digerakkan secara terus-menerus (yang mengatur bukaan katup); yang lain adalah tuas sakelar, yang hanya memiliki dua posisi efektif—mati atau hidup; yang ketiga adalah tuas rem, yang semakin kuat ditarik, semakin besar daya pengeremannya; dan yang keempat adalah tuas pompa, yang hanya bekerja selama digerakkan bolak-balik.


13.

Ketika kita mengatakan: “Setiap kata dalam bahasa memiliki makna,” sejauh ini kita sebenarnya belum mengatakan apa pun—kecuali jika kita menjelaskan secara tepat perbedaan apa yang hendak kita buat. (Mungkin saja kita ingin membedakan kata-kata dalam bahasa seperti pada contoh (8) dari kata-kata “tanpa makna”, seperti yang muncul dalam puisi-puisi Lewis Carroll, atau kata-kata seperti “Lilliburlero” dalam lagu.)


14.

Bayangkan seseorang berkata: “Semua alat berfungsi untuk mengubah sesuatu. Dengan demikian, palu mengubah posisi paku, gergaji mengubah bentuk papan, dan seterusnya.”—Namun, apa yang diubah oleh penggaris, wadah lem, atau paku itu sendiri?—“Pengetahuan kita tentang panjang suatu benda, suhu lem, dan kekokohan sambungan.”—Apakah sesuatu benar-benar diperoleh dari penyamaan ungkapan-ungkapan seperti ini?


15.

Kata “menandakan” (to signify) barangkali digunakan dalam cara yang paling langsung ketika objek yang ditandai benar-benar diberi tanda. Misalnya, bayangkan alat-alat yang digunakan A dalam pembangunan diberi tanda tertentu. Ketika A menunjukkan tanda tersebut kepada asistennya, maka asistennya membawa alat yang memiliki tanda itu.

Dengan cara inilah—dan dalam cara-cara yang kurang lebih serupa—sebuah nama memiliki makna dan diberikan kepada suatu benda. Dalam filsafat, sering kali berguna untuk mengatakan kepada diri sendiri bahwa menamai sesuatu adalah seperti menempelkan label pada suatu benda.


16.

Bagaimana dengan contoh warna yang ditunjukkan A kepada B: apakah itu merupakan bagian dari bahasa? Jawabannya: terserah bagaimana kita memandangnya. Contoh warna itu bukanlah kata; namun ketika saya berkata kepada seseorang: “Ucapkan kata ‘ini’,” Anda akan menghitung “ini” yang kedua sebagai bagian dari kalimat. Meskipun demikian, ia memiliki peran yang serupa dengan contoh warna dalam permainan bahasa (8); yaitu, sebagai contoh dari apa yang dimaksudkan untuk diucapkan oleh orang lain.

Adalah paling wajar—dan paling sedikit menimbulkan kebingungan—untuk memasukkan contoh-contoh tersebut sebagai bagian dari perangkat atau instrumen bahasa.

((Catatan mengenai kata ganti refleksif dalam ungkapan “kalimat ini”.))


17.

Dapat saja dikatakan: dalam bahasa pada contoh (8) kita memiliki berbagai jenis kata. Sebab, fungsi kata “lempeng” dan “balok” lebih mirip satu sama lain daripada fungsi kata “lempeng” dan “d”. Namun, bagaimana kita mengelompokkan kata-kata ke dalam jenis-jenis tertentu akan bergantung pada tujuan klasifikasi tersebut—serta pada kecenderungan kita sendiri.

Bayangkan berbagai sudut pandang yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan alat-alat, atau bidak-bidak dalam permainan catur.


18.

Janganlah merasa terganggu oleh kenyataan bahwa bahasa pada contoh (2) dan (8) hanya terdiri atas perintah-perintah. Jika Anda ingin mengatakan bahwa hal ini menunjukkan bahwa bahasa-bahasa tersebut tidak lengkap, tanyakanlah kepada diri Anda sendiri apakah bahasa kita sendiri sudah lengkap—atau apakah ia pernah lengkap sebelum simbolisme kimia dan notasi kalkulus infinitesimal dimasukkan ke dalamnya; karena keduanya, dapat dikatakan, merupakan semacam “pinggiran kota” dari bahasa kita.

(Dan berapa banyak rumah atau jalan yang diperlukan sebelum suatu pemukiman dapat disebut sebagai sebuah kota?)

Bahasa kita dapat dipandang sebagai sebuah kota tua: suatu labirin jalan-jalan kecil dan alun-alun, rumah-rumah lama dan baru, serta bangunan-bangunan yang telah mengalami berbagai penambahan dari masa ke masa; dan semua itu dikelilingi oleh kawasan-kawasan baru dengan jalan-jalan yang lurus, teratur, serta rumah-rumah yang seragam.


19.

Mudah untuk membayangkan suatu bahasa yang hanya terdiri dari perintah dan laporan dalam peperangan.—Atau suatu bahasa yang hanya terdiri dari pertanyaan serta ungkapan untuk menjawab “ya” dan “tidak”. Dan masih tak terhitung banyaknya kemungkinan lainnya.—Dan membayangkan suatu bahasa berarti membayangkan suatu bentuk kehidupan.

Namun, bagaimana dengan hal berikut: apakah seruan “Lempeng!” dalam contoh (2) merupakan sebuah kalimat atau sebuah kata?—Jika ia sebuah kata, jelas ia tidak memiliki makna yang sama dengan kata yang bunyinya serupa dalam bahasa kita sehari-hari, karena dalam bahasa (2) ia adalah sebuah seruan. Tetapi jika ia sebuah kalimat, tentu ia bukanlah kalimat eliptis seperti “Lempeng!” dalam bahasa kita.—Sejauh menyangkut pertanyaan pertama, Anda dapat menyebut “Lempeng!” sebagai sebuah kata sekaligus sebagai sebuah kalimat; mungkin juga tepat disebut sebagai “kalimat yang terdegenerasi” (sebagaimana kita berbicara tentang hiperbola yang terdegenerasi); bahkan, ia dapat dianggap sebagai kalimat “eliptis” kita—namun hal itu tentu hanya merupakan bentuk yang dipersingkat dari kalimat “Bawakan saya sebuah lempeng”, dan tidak ada kalimat seperti itu dalam contoh (2). Mengapa saya tidak justru mengatakan sebaliknya, bahwa kalimat “Bawakan saya sebuah lempeng” merupakan perluasan dari kalimat “Lempeng!”?

Ketika Anda berteriak “Lempeng!”, apakah yang sebenarnya Anda maksud adalah: “Bawakan saya sebuah lempeng”? Tetapi bagaimana cara Anda melakukan hal itu—bagaimana Anda memaksudkan sesuatu yang demikian ketika Anda hanya mengucapkan “Lempeng!”? Apakah Anda mengucapkan kalimat lengkap itu dalam hati? Dan mengapa saya harus menerjemahkan seruan “Lempeng!” ke dalam ungkapan lain hanya untuk menjelaskan apa yang dimaksud oleh seseorang? Jika keduanya memang bermakna sama, mengapa saya tidak mengatakan: “Ketika ia mengatakan ‘Lempeng!’, ia memaksudkan ‘Lempeng!’”? Lagi pula, jika Anda dapat memaksudkan “Bawakan saya sebuah lempeng”, mengapa Anda tidak dapat memaksudkan—ketika Anda berseru “Lempeng!”—bahwa yang Anda inginkan adalah agar seseorang membawa sebuah lempeng kepada Anda?—Tentu saja bisa. Namun, apakah “menginginkan ini” berarti memikirkan, dalam bentuk tertentu, suatu kalimat lain yang berbeda dari yang Anda ucapkan?


20.

Namun sekarang tampaknya seolah-olah ketika seseorang mengatakan “Bawakan saya sebuah lempeng”, ia dapat memaksudkan ungkapan tersebut sebagai satu kata panjang yang setara dengan kata tunggal “Lempeng!”. Apakah mungkin seseorang kadang memaksudkannya sebagai satu kata, dan kadang sebagai empat kata? Dan bagaimana biasanya kita memaksudkannya?

Kita mungkin cenderung mengatakan: kita memaksudkan kalimat itu sebagai empat kata ketika kita menggunakannya dalam kontras dengan kalimat lain seperti “Serahkan saya sebuah lempeng”, “Bawakan dia sebuah lempeng”, “Bawakan dua lempeng”, dan sebagainya; yakni, dalam kontras dengan kalimat-kalimat yang mengandung kata-kata yang sama dalam kombinasi yang berbeda.—Namun, apa arti menggunakan satu kalimat dalam kontras dengan yang lain? Apakah kalimat-kalimat lain itu “melayang” dalam pikiran kita? Semuanya? Dan apakah itu terjadi saat kita mengucapkan kalimat tersebut, atau sebelum, atau sesudahnya?

Tidak. Meskipun penjelasan semacam itu tampak menggoda, cukup dengan merenungkan sejenak apa yang sebenarnya terjadi untuk melihat bahwa kita telah tersesat. Kita mengatakan bahwa kita menggunakan suatu perintah dalam kontras dengan kalimat lain karena bahasa kita memang memuat kemungkinan kalimat-kalimat lain tersebut. Seseorang yang tidak memahami bahasa kita—seorang asing—yang cukup sering mendengar perintah “Bawakan saya sebuah lempeng!” mungkin akan mengira bahwa seluruh rangkaian bunyi itu adalah satu kata, yang mungkin setara dengan kata “batu bangunan” dalam bahasanya. Jika ia kemudian mencoba memberi perintah itu sendiri, ia mungkin akan mengucapkannya secara berbeda, dan kita akan mengatakan: ia mengucapkannya dengan aneh karena ia menganggapnya sebagai satu kata.

Namun, apakah tidak ada sesuatu yang berbeda yang terjadi dalam dirinya ketika ia mengucapkannya—sesuatu yang sesuai dengan kenyataan bahwa ia memahami kalimat itu sebagai satu kata? Bisa saja hal yang sama terjadi, atau sesuatu yang berbeda. Sebab, apa yang sebenarnya terjadi dalam diri Anda ketika Anda memberikan perintah seperti itu? Apakah Anda sadar bahwa kalimat itu terdiri dari empat kata ketika Anda mengucapkannya? Tentu saja Anda menguasai bahasa tersebut—yang mencakup kemungkinan kalimat-kalimat lain itu—tetapi apakah penguasaan ini merupakan sesuatu yang terjadi pada saat Anda mengucapkan kalimat itu?

Saya memang mengakui bahwa orang asing tersebut mungkin akan mengucapkan kalimat itu secara berbeda jika ia memahaminya secara berbeda; namun apa yang kita sebut sebagai “kesalahpahamannya” tidak harus terletak pada sesuatu yang menyertai pengucapan perintah itu.

Kalimat tersebut disebut “eliptis” bukan karena ia menghilangkan sesuatu yang kita pikirkan ketika mengucapkannya, melainkan karena ia merupakan bentuk yang dipersingkat—dibandingkan dengan suatu paradigma tertentu dalam tata bahasa kita. Tentu saja, seseorang dapat mengajukan keberatan: “Anda mengakui bahwa kalimat yang dipersingkat dan yang tidak dipersingkat memiliki makna yang sama. Lalu, apakah makna itu? Bukankah ada ungkapan verbal untuk makna tersebut?”—Namun, bukankah fakta bahwa dua kalimat memiliki makna yang sama justru terletak pada kesamaan penggunaannya? (Dalam bahasa Rusia, orang mengatakan “batu merah” alih-alih “batu itu merah”; apakah mereka merasa ada kopula yang hilang dalam makna, ataukah mereka menambahkannya dalam pikiran?)


21.

Bayangkan suatu permainan bahasa di mana A bertanya dan B melaporkan jumlah lempeng atau balok dalam suatu tumpukan, atau warna dan bentuk batu-batu bangunan yang tersusun di suatu tempat tertentu.—Sebuah laporan semacam itu bisa berbunyi: “Lima lempeng.” Sekarang, apa perbedaan antara laporan atau pernyataan “Lima lempeng” dan perintah “Lima lempeng!”?

Perbedaannya terletak pada peran yang dimainkan oleh pengucapan kata-kata tersebut dalam permainan bahasa. Tidak diragukan bahwa intonasi suara, ekspresi wajah, dan banyak hal lain juga akan berbeda. Namun, kita juga dapat membayangkan bahwa intonasinya sama saja—sebab perintah dan laporan dapat diucapkan dalam berbagai nada suara dan ekspresi wajah—dan perbedaannya hanya terletak pada penggunaannya. (Tentu saja, kita dapat menggunakan istilah “pernyataan” dan “perintah” untuk menunjuk pada bentuk gramatikal kalimat dan intonasinya; kita bahkan menyebut “Bukankah cuacanya indah hari ini?” sebagai sebuah pertanyaan, meskipun digunakan sebagai pernyataan.)

Kita dapat membayangkan suatu bahasa di mana semua pernyataan berbentuk dan bernada seperti pertanyaan retoris; atau setiap perintah berbentuk pertanyaan seperti “Maukah Anda…?” Mungkin kemudian akan dikatakan: “Apa yang ia katakan berbentuk pertanyaan, tetapi sebenarnya adalah perintah”, yakni memiliki fungsi sebagai perintah dalam teknik penggunaan bahasa tersebut. (Demikian pula, kita mengatakan “Kamu akan melakukan ini” bukan sebagai ramalan, melainkan sebagai perintah. Apa yang menjadikannya yang satu atau yang lain?)


22.

Gagasan Gottlob Frege bahwa setiap pernyataan mengandung suatu asumsi—yakni sesuatu yang dinyatakan—sebenarnya bertumpu pada kemungkinan dalam bahasa kita untuk menuliskan setiap pernyataan dalam bentuk: “Dinyatakan bahwa demikian dan demikian halnya.” Namun, ungkapan “bahwa demikian dan demikian halnya” bukanlah sebuah kalimat dalam bahasa kita—sejauh ini ia bukanlah suatu langkah dalam permainan bahasa. Dan jika saya menulis bukan “Dinyatakan bahwa demikian dan demikian halnya”, melainkan langsung “demikian dan demikian halnya”, maka kata-kata “dinyatakan” menjadi tidak diperlukan.

Kita juga dapat saja menuliskan setiap pernyataan dalam bentuk pertanyaan yang diikuti oleh jawaban “Ya”; misalnya: “Apakah sedang hujan? Ya!” Apakah ini menunjukkan bahwa setiap pernyataan mengandung suatu pertanyaan?

Tentu saja, kita berhak menggunakan tanda penegasan (assertion sign) sebagai lawan dari tanda tanya, misalnya, atau jika kita ingin membedakan pernyataan dari fiksi atau dugaan. Namun, akan menjadi kesalahan jika kita menganggap bahwa pernyataan terdiri atas dua tindakan: memikirkan dan kemudian menyatakan (misalnya, menetapkan nilai kebenaran), seolah-olah dalam melakukan tindakan-tindakan ini kita mengikuti tanda proposisional sebagaimana kita menyanyikan lagu dari partitur. Membaca kalimat tertulis dengan suara keras atau pelan memang dapat dibandingkan dengan menyanyikan dari partitur musik; tetapi “memaknai” (atau memikirkan) kalimat yang dibaca tidaklah demikian.

Tanda penegasan menurut Frege menandai awal suatu kalimat. Dengan demikian, fungsinya mirip dengan tanda titik. Ia membedakan keseluruhan kalimat dari suatu klausa di dalamnya. Jika saya mendengar seseorang mengatakan “sedang hujan”, tetapi saya tidak tahu apakah saya telah mendengar awal dan akhir kalimat tersebut, maka sejauh itu kalimat tersebut belum memberikan informasi apa pun kepada saya.



23.

Namun, ada berapa banyak jenis kalimat? Misalnya: pernyataan, pertanyaan, dan perintah?—Sesungguhnya, jumlahnya tak terhitung: ada begitu banyak ragam penggunaan dari apa yang kita sebut “simbol”, “kata”, dan “kalimat”. Dan keragaman ini bukanlah sesuatu yang tetap, yang sekali untuk selamanya telah diberikan; melainkan jenis-jenis bahasa yang baru, atau apa yang dapat kita sebut sebagai permainan bahasa, terus muncul, sementara yang lain menjadi usang dan terlupakan. (Kita dapat memperoleh gambaran kasar mengenai hal ini dari perubahan-perubahan dalam matematika.)

Istilah “permainan bahasa” di sini dimaksudkan untuk menonjolkan kenyataan bahwa penggunaan bahasa merupakan bagian dari suatu aktivitas, atau dari suatu bentuk kehidupan.

Perhatikanlah keragaman permainan bahasa dalam contoh-contoh berikut, dan dalam banyak contoh lainnya:

Memberi perintah dan mematuhinya—
Mendeskripsikan penampakan suatu objek, atau menyebutkan ukurannya—
Membangun suatu objek berdasarkan deskripsi (gambar)—
Melaporkan suatu peristiwa—
Berspekulasi tentang suatu peristiwa—
Membentuk dan menguji hipotesis—
Menyajikan hasil eksperimen dalam tabel dan diagram—
Menciptakan cerita dan membacanya—
Bermain peran—
Menyanyikan lagu-lagu berulang—
Menebak teka-teki—
Membuat lelucon dan menceritakannya—
Menyelesaikan persoalan aritmetika praktis—
Menerjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain—
Bertanya, berterima kasih, mengumpat, memberi salam, berdoa.

—Menarik untuk membandingkan keragaman alat dalam bahasa dan cara penggunaannya, keragaman jenis kata dan kalimat, dengan apa yang telah dikatakan oleh para ahli logika tentang struktur bahasa (termasuk penulis Tractatus Logico-Philosophicus).


24.

Jika kita tidak mempertahankan dalam pandangan kita keragaman permainan bahasa, kita mungkin akan terdorong untuk mengajukan pertanyaan seperti: “Apa itu pertanyaan?”—Apakah ia merupakan pernyataan bahwa saya tidak mengetahui sesuatu? Ataukah pernyataan bahwa saya menginginkan orang lain memberi tahu saya sesuatu? Atau mungkin ia adalah deskripsi dari keadaan mental saya? Dan apakah teriakan “Tolong!” juga merupakan deskripsi semacam itu?

Pikirkanlah betapa beragamnya hal-hal yang disebut sebagai “deskripsi”: deskripsi posisi suatu benda melalui koordinatnya; deskripsi ekspresi wajah; deskripsi sensasi sentuhan; deskripsi suasana hati.

Memang, kita dapat mengganti bentuk pertanyaan yang lazim dengan bentuk pernyataan atau deskripsi: “Saya ingin tahu apakah …” atau “Saya ragu apakah …”—namun hal ini tidak membuat berbagai permainan bahasa tersebut menjadi lebih seragam atau lebih dekat satu sama lain.

Makna dari kemungkinan-kemungkinan transformasi semacam ini—misalnya, mengubah semua pernyataan menjadi kalimat yang diawali dengan “Saya pikir” atau “Saya percaya” (dan dengan demikian, seolah-olah menjadikannya sebagai deskripsi kehidupan batin saya)—akan menjadi lebih jelas di tempat lain (misalnya dalam pembahasan tentang solipsisme).


25.

Kadang-kadang dikatakan bahwa hewan tidak berbicara karena mereka tidak memiliki kapasitas mental yang memadai. Dan ini berarti: “mereka tidak berpikir, dan karena itu mereka tidak berbicara.” Namun—kenyataannya mereka memang tidak berbicara. Atau lebih tepatnya: mereka tidak menggunakan bahasa—jika kita mengecualikan bentuk-bentuk bahasa yang paling primitif.

Memberi perintah, bertanya, melaporkan, berbincang—semuanya merupakan bagian dari sejarah alamiah kita, sama halnya seperti berjalan, makan, minum, dan bermain.


26.

Sering kali orang berpikir bahwa mempelajari bahasa terdiri atas memberi nama pada benda-benda: yakni pada manusia, bentuk, warna, rasa sakit, suasana hati, bilangan, dan sebagainya. Dengan kata lain—penamaan dipandang sebagai sesuatu yang menyerupai menempelkan label pada suatu benda. Kita dapat mengatakan bahwa hal ini merupakan persiapan bagi penggunaan kata. Namun, persiapan untuk apa?


27.

“Kita menamai benda-benda, dan kemudian kita dapat membicarakannya; kita dapat merujuk kepadanya dalam percakapan”—seolah-olah apa yang kita lakukan selanjutnya sudah sepenuhnya ditentukan oleh tindakan memberi nama itu sendiri. Seakan-akan hanya ada satu jenis kegiatan yang disebut “membicarakan sesuatu”. Padahal, dalam kenyataannya kita melakukan berbagai macam hal dengan kalimat-kalimat kita.

Perhatikan saja seruan-seruan berikut, dengan fungsi-fungsinya yang sangat berbeda:

“Air!”
“Pergi!”
“Aduh!”
“Tolong!”
“Bagus!”
“Tidak!”

Apakah Anda masih cenderung menyebut kata-kata ini sebagai “nama-nama objek”?

Dalam bahasa pada contoh (2) dan (8), tidak ada praktik menanyakan nama sesuatu. Praktik ini, beserta pasangannya yaitu definisi ostentif, dapat dikatakan sebagai sebuah permainan bahasa tersendiri. Artinya, kita dibesarkan dan dilatih untuk bertanya: “Apa nama ini?”—dan kemudian nama itu diberikan.

Ada pula permainan bahasa yang melibatkan penciptaan nama bagi sesuatu, dan kemudian mengatakan: “Ini adalah …” lalu menggunakan nama baru tersebut. (Sebagai contoh, anak-anak memberi nama pada boneka mereka, lalu berbicara tentang boneka itu dan bahkan berbicara kepadanya. Dalam kaitan ini, perhatikan betapa khasnya penggunaan nama seseorang untuk memanggilnya!)


28.

Kita dapat memberikan definisi ostentif terhadap nama diri, nama warna, nama bahan, bilangan, nama arah mata angin, dan sebagainya. Definisi bilangan dua, misalnya, “Ini disebut ‘dua’”—sambil menunjuk pada dua buah kacang—tampak sepenuhnya tepat. Namun, bagaimana mungkin “dua” didefinisikan dengan cara seperti itu? Orang yang menerima definisi tersebut belum tentu mengetahui bahwa yang hendak kita sebut “dua” adalah bilangan; ia mungkin mengira bahwa “dua” adalah nama bagi kelompok kacang itu sendiri.

Memang, ia bisa saja mengira demikian; tetapi mungkin juga tidak. Ia bisa melakukan kesalahan yang berlawanan: ketika saya bermaksud memberi nama pada kelompok kacang tersebut, ia justru memahaminya sebagai bilangan. Demikian pula, ia dapat menafsirkan nama seseorang—yang saya definisikan secara ostentif—sebagai nama warna, ras, atau bahkan arah mata angin. Dengan kata lain, definisi ostentif selalu terbuka terhadap berbagai kemungkinan penafsiran dalam setiap kasus.


29.

Mungkin Anda akan mengatakan: bilangan dua hanya dapat didefinisikan secara ostentif dengan cara seperti ini: “Bilangan ini disebut ‘dua’.” Sebab, kata “bilangan” di sini menunjukkan tempat kata tersebut dalam bahasa, dalam tata bahasanya. Namun, ini berarti bahwa kata “bilangan” harus sudah dijelaskan terlebih dahulu agar definisi ostentif itu dapat dipahami.

Kata “bilangan” dalam definisi tersebut memang menunjukkan posisi itu; ia menunjukkan tempat di mana kita menempatkan kata tersebut. Dan kita dapat mencegah kesalahpahaman dengan mengatakan: “Warna ini disebut demikian”, “Panjang ini disebut demikian”, dan seterusnya. Artinya, dalam beberapa kasus, kesalahpahaman dapat dihindari dengan cara ini.

Namun, apakah hanya ada satu cara untuk memahami kata “warna” atau “panjang”? Tentu saja tidak; keduanya juga memerlukan definisi. Dan definisi itu diberikan melalui kata-kata lain! Lalu, bagaimana dengan definisi terakhir dalam rangkaian itu? (Jangan mengatakan: “Tidak ada definisi terakhir.” Pernyataan itu serupa dengan mengatakan: “Tidak ada rumah terakhir di jalan ini; kita selalu bisa membangun satu lagi.”)

Apakah kata “bilangan” diperlukan dalam definisi ostentif bergantung pada apakah tanpa kata tersebut orang lain akan memahami definisi itu dengan cara yang berbeda dari yang kita maksudkan. Dan hal ini akan bergantung pada keadaan di mana definisi itu diberikan, serta pada siapa definisi itu diberikan.



30.

Dengan demikian, kita dapat mengatakan: definisi ostentif menjelaskan penggunaan—yakni makna—sebuah kata ketika peran keseluruhan kata tersebut dalam bahasa sudah jelas. Maka, jika saya tahu bahwa seseorang bermaksud menjelaskan kepada saya suatu kata warna, definisi ostentif seperti “Itu disebut ‘sepia’” akan membantu saya memahami kata tersebut.—Dan Anda dapat mengatakan demikian, selama Anda tidak melupakan bahwa berbagai persoalan melekat pada kata-kata seperti “mengetahui” atau “menjadi jelas”.

Seseorang harus sudah mengetahui sesuatu (atau mampu melakukan sesuatu) agar dapat menanyakan nama suatu hal. Namun, apa sebenarnya yang harus sudah ia ketahui?


31.

Ketika seseorang menunjukkan kepada kita raja dalam permainan catur dan berkata: “Ini adalah raja”, hal itu tidak memberi tahu kita bagaimana cara menggunakan bidak tersebut—kecuali jika kita sudah mengetahui aturan permainan hingga pada titik ini: bentuk raja itu sendiri. Kita dapat membayangkan seseorang telah mempelajari aturan permainan tanpa pernah diperlihatkan bidak yang sebenarnya. Dalam hal ini, bentuk bidak catur berkorespondensi dengan bunyi atau bentuk sebuah kata.

Kita juga dapat membayangkan seseorang mempelajari permainan tanpa pernah mempelajari atau merumuskan aturan secara eksplisit. Ia mungkin terlebih dahulu mempelajari permainan papan yang sederhana dengan cara mengamati, lalu beralih ke permainan yang semakin kompleks. Kepadanya pun dapat diberikan penjelasan “Ini adalah raja”—misalnya, jika ia diperlihatkan bidak catur dengan bentuk yang tidak biasa baginya. Dalam hal ini, penjelasan tersebut hanya memberitahukan penggunaan bidak itu karena, sebagaimana dapat kita katakan, tempatnya sudah dipersiapkan sebelumnya. Atau bahkan: kita hanya dapat mengatakan bahwa penjelasan itu menjelaskan penggunaannya jika tempat itu memang sudah tersedia.

Dan dalam hal ini, bukan karena orang yang diberi penjelasan sudah mengetahui aturan secara eksplisit, melainkan karena dalam arti lain ia sudah menguasai suatu permainan.

Perhatikan kasus berikut: saya sedang menjelaskan permainan catur kepada seseorang, dan saya mulai dengan menunjuk pada sebuah bidak sambil berkata: “Ini adalah raja; ia dapat bergerak seperti ini …” Dalam situasi ini kita akan mengatakan bahwa kata-kata “Ini adalah raja” (atau “Ini disebut ‘raja’”) merupakan sebuah definisi hanya jika pembelajar sudah mengetahui apa itu bidak dalam suatu permainan. Artinya, ia telah bermain permainan lain, atau telah mengamati orang lain bermain dan “memahami” apa yang terjadi—dan hal-hal sejenis lainnya. Hanya dalam kondisi seperti itu ia dapat secara relevan bertanya dalam proses belajar: “Apa nama bidak ini?”

Kita dapat mengatakan: hanya seseorang yang sudah tahu bagaimana melakukan sesuatu dengan suatu objek yang dapat secara bermakna menanyakan namanya.

Dan kita juga dapat membayangkan bahwa orang yang ditanya menjawab: “Tentukan saja namanya sendiri”—dan kini orang yang bertanya harus mengurus semuanya sendiri.

Dan bagaimana seseorang “memahami” definisi tersebut terlihat dari bagaimana ia menggunakan kata yang telah didefinisikan itu.



32.

Seseorang yang datang ke negeri asing kadang-kadang mempelajari bahasa penduduk setempat melalui definisi-definisi ostentif yang mereka berikan; dan ia sering harus menebak makna dari definisi-definisi tersebut—kadang-kadang tebakannya benar, kadang-kadang keliru.

Dan kini, saya kira, kita dapat mengatakan: Agustinus menggambarkan proses belajar bahasa manusia seolah-olah seorang anak datang ke negeri asing dan tidak memahami bahasa di sana; yakni, seolah-olah ia sudah memiliki suatu bahasa, hanya saja bukan bahasa itu. Atau dengan kata lain: seolah-olah anak itu sudah dapat berpikir, hanya belum dapat berbicara. Dan “berpikir” di sini berarti sesuatu seperti “berbicara kepada dirinya sendiri”.

33.

Namun, bayangkan seseorang mengajukan keberatan: “Tidak benar bahwa seseorang harus sudah menguasai bahasa untuk memahami definisi ostentif; yang diperlukan hanyalah—tentu saja—mengetahui atau menebak apa yang sedang ditunjuk oleh orang yang memberi penjelasan. Yakni, apakah ia menunjuk pada bentuk benda, atau warnanya, atau jumlahnya, dan sebagainya.”——Tetapi, apa sebenarnya arti dari “menunjuk pada bentuk”, “menunjuk pada warna”?

Tunjuklah selembar kertas.—Sekarang tunjuk pada bentuknya—lalu pada warnanya—lalu pada jumlahnya (ini terdengar aneh).—Bagaimana Anda melakukannya? Anda mungkin akan mengatakan bahwa Anda “memaksudkan” hal yang berbeda setiap kali Anda menunjuk. Dan jika saya bertanya bagaimana hal itu dilakukan, Anda mungkin akan menjawab bahwa Anda memusatkan perhatian pada warna, bentuk, dan sebagainya.

Namun saya bertanya lagi: apakah benar demikian yang terjadi?

Bayangkan seseorang menunjuk sebuah vas dan berkata: “Lihat biru yang indah itu—bentuknya tidak penting.” Atau: “Lihat bentuk yang indah itu—warnanya tidak penting.” Tidak diragukan bahwa Anda akan melakukan sesuatu yang berbeda ketika menanggapi dua ajakan tersebut. Tetapi apakah Anda selalu melakukan hal yang sama ketika Anda mengarahkan perhatian pada warna?

Bayangkan berbagai situasi berikut:

“Apakah biru ini sama dengan biru yang di sana? Apakah kamu melihat perbedaannya?”
“Kamu sedang mencampur cat dan berkata: ‘Sulit mendapatkan biru seperti ini.’”
“Sudah mulai bagus, sekarang langit biru mulai tampak lagi.”
“Lihat betapa berbeda efek kedua warna biru ini.”
“Apakah kamu melihat buku biru di sana? Ambilkan.”
“Lampu sinyal biru ini berarti …”
“Warna biru ini disebut apa? Apakah ‘indigo’?”

Kadang-kadang Anda memperhatikan warna dengan menutup garis bentuknya menggunakan tangan; atau dengan menghindari melihat kontur benda; kadang dengan menatapnya dan mencoba mengingat di mana Anda pernah melihat warna itu sebelumnya.

Anda memperhatikan bentuk, kadang dengan menelusurinya, kadang dengan menyipitkan mata agar warna tidak terlihat jelas, dan dengan banyak cara lainnya. Saya ingin mengatakan: inilah jenis-jenis hal yang terjadi ketika seseorang “mengarahkan perhatiannya” pada sesuatu. Namun, bukan hal-hal ini sendiri yang membuat kita mengatakan bahwa seseorang sedang memperhatikan bentuk, warna, dan sebagainya. Sama seperti dalam permainan catur: suatu langkah tidak hanya terdiri dari memindahkan bidak dengan cara tertentu di atas papan—dan juga bukan sekadar pikiran atau perasaan yang menyertai tindakan itu—melainkan terletak dalam keseluruhan situasi yang kita sebut “bermain catur”, “memecahkan masalah catur”, dan sebagainya.


34.

Namun, bayangkan seseorang berkata: “Saya selalu melakukan hal yang sama ketika memperhatikan bentuk: mata saya mengikuti garis luarnya dan saya merasakan …” Lalu orang ini memberikan definisi ostentif “Itu disebut ‘lingkaran’”, sambil menunjuk pada suatu objek berbentuk lingkaran dan mengalami semua hal tersebut—apakah pendengarnya tetap tidak dapat menafsirkan definisi itu secara berbeda, meskipun ia melihat mata orang itu mengikuti garis luar dan bahkan merasakan hal yang sama?

Artinya, “penafsiran” itu juga dapat terletak pada bagaimana ia kemudian menggunakan kata tersebut; misalnya, pada apa yang ia tunjuk ketika diperintahkan: “Tunjukkan sebuah lingkaran.” Dengan demikian, baik ungkapan “memaksudkan definisi dengan cara tertentu” maupun “menafsirkan definisi dengan cara tertentu” tidak menunjuk pada suatu proses batin yang menyertai pemberian atau penerimaan definisi tersebut.


35.

Memang, terdapat apa yang dapat disebut sebagai “pengalaman khas” ketika seseorang menunjuk, misalnya, pada bentuk. Sebagai contoh, mengikuti garis luar dengan jari atau dengan mata ketika menunjuk.—Namun, hal ini tidak terjadi dalam semua kasus ketika saya “memaksudkan bentuk”, dan demikian pula tidak ada satu proses khas tertentu yang selalu muncul dalam semua kasus tersebut.—Selain itu, sekalipun sesuatu yang serupa selalu berulang dalam setiap kasus, tetap saja akan bergantung pada keadaan—yakni pada apa yang terjadi sebelum dan sesudah tindakan menunjuk—apakah kita akan mengatakan: “Ia menunjuk pada bentuk, bukan pada warna.”

Sebab, ungkapan seperti “menunjuk pada bentuk”, “memaksudkan bentuk”, dan sebagainya, tidak digunakan dengan cara yang sama seperti ungkapan: “menunjuk pada buku ini (bukan yang itu)”, “menunjuk pada kursi, bukan meja”, dan seterusnya.—Coba perhatikan betapa berbeda cara kita mempelajari penggunaan ungkapan “menunjuk pada benda ini”, “menunjuk pada benda itu”, dibandingkan dengan “menunjuk pada warna, bukan bentuk”, dan sebagainya.

Sekali lagi: dalam kasus-kasus tertentu, terutama ketika seseorang menunjuk pada “bentuk” atau “jumlah”, memang terdapat pengalaman-pengalaman khas dan cara-cara menunjuk tertentu—disebut “khas” karena sering (meskipun tidak selalu) muncul ketika bentuk atau jumlah “dimaksudkan”. Namun, apakah Anda juga mengetahui adanya suatu pengalaman khas ketika seseorang menunjuk pada suatu bidak dalam permainan sebagai bidak dalam permainan?

Meski demikian, kita tetap dapat mengatakan: “Yang saya maksud adalah bahwa bidak ini disebut ‘raja’, bukan sekadar potongan kayu tertentu yang sedang saya tunjuk.” (Hal ini berkaitan dengan aktivitas seperti mengenali, menginginkan, mengingat, dan sebagainya.)


36.

Dan di sini kita melakukan hal yang sama seperti dalam banyak kasus serupa lainnya: karena kita tidak dapat menunjukkan suatu tindakan jasmani tunggal yang secara khas kita sebut sebagai “menunjuk pada bentuk” (berbeda dari, misalnya, menunjuk pada warna), kita kemudian mengatakan bahwa suatu aktivitas mental (spiritual, intelektual) bersesuaian dengan kata-kata tersebut.

Di mana bahasa kita seolah-olah menuntut adanya suatu “badan”, tetapi tidak menemukannya—di sanalah kita cenderung mengatakan: di situ ada “roh”.


37.

Apakah hubungan antara nama dan benda yang dinamai?—Baiklah, apakah hubungan itu? Lihatlah permainan bahasa (2) atau yang lain: di sana Anda dapat melihat seperti apa hubungan itu. Hubungan ini, di antara banyak hal lainnya, dapat berupa kenyataan bahwa ketika kita mendengar suatu nama, kita membayangkan gambaran dari apa yang dinamai; dan juga bahwa nama itu dituliskan pada benda tersebut atau diucapkan ketika benda itu ditunjuk.


38.

Namun, misalnya, kata “ini” dalam permainan bahasa (8), atau kata “itu” dalam definisi ostentif “itu disebut …”, merupakan nama dari apa?—Jika Anda ingin menghindari kebingungan, sebaiknya Anda tidak menyebut kata-kata ini sebagai “nama” sama sekali.—Namun anehnya, kata “ini” pernah disebut sebagai satu-satunya nama yang sejati; sehingga segala sesuatu yang biasa kita sebut “nama” hanyalah nama dalam arti yang tidak tepat atau mendekati saja.

Pandangan yang ganjil ini muncul dari kecenderungan untuk mengagungkan logika bahasa kita—demikian kira-kira dapat dikatakan. Jawaban yang tepat adalah: kita menyebut berbagai hal yang sangat berbeda sebagai “nama”; kata “nama” digunakan untuk menandai berbagai jenis penggunaan kata yang saling berhubungan dalam banyak cara—dan jenis penggunaan yang dimiliki oleh kata “ini” tidak termasuk di dalamnya.

Memang benar bahwa ketika kita memberikan definisi ostentif, kita sering menunjuk pada objek dan mengucapkan namanya. Demikian pula, kita sering mengucapkan kata “ini” sambil menunjuk sesuatu. Selain itu, kata “ini” dan suatu nama sering menempati posisi yang sama dalam kalimat. Namun justru merupakan ciri khas dari sebuah nama bahwa ia didefinisikan melalui ungkapan demonstratif seperti “Itu adalah N” (atau “Itu disebut ‘N’”). Tetapi, apakah kita juga memberikan definisi seperti: “Itu disebut ‘ini’” atau “Ini disebut ‘ini’”?

Hal ini berkaitan dengan konsepsi penamaan sebagai suatu proses yang seolah-olah tersembunyi. Penamaan tampak sebagai suatu hubungan misterius antara kata dan objek.—Dan kesan misterius ini memang muncul ketika seorang filsuf mencoba memahami hubungan antara nama dan benda dengan menatap suatu objek di hadapannya sambil mengulangi suatu nama, atau bahkan kata “ini”, berkali-kali. Sebab, masalah-masalah filosofis muncul ketika bahasa “sedang berlibur” (yakni digunakan di luar konteks praktisnya). Dalam keadaan demikian, kita cenderung membayangkan penamaan sebagai suatu tindakan mental yang istimewa—seolah-olah semacam “pembaptisan” terhadap objek. Bahkan kita dapat mengucapkan kata “ini” kepada objek itu, seolah-olah kita sedang menyapanya. Ini adalah penggunaan yang aneh dari kata tersebut, yang barangkali hanya muncul dalam aktivitas berfilsafat.


39.

Namun, mengapa seseorang terdorong untuk justru menjadikan kata ini sebagai nama, padahal jelas ia bukan nama?—Justru itulah alasannya. Sebab, kita tergoda untuk mengajukan keberatan terhadap apa yang biasa disebut sebagai “nama”. Keberatan itu dapat dirumuskan sebagai berikut: sebuah nama seharusnya benar-benar menunjuk pada sesuatu yang sederhana.

Untuk mendukung gagasan ini, mungkin diajukan alasan seperti berikut: kata “Excalibur”, misalnya, adalah sebuah nama diri dalam pengertian biasa. Pedang Excalibur terdiri dari bagian-bagian yang tersusun dengan cara tertentu. Jika susunannya berubah, maka Excalibur tidak lagi ada. Namun jelas bahwa kalimat “Excalibur memiliki mata pisau yang tajam” tetap bermakna, entah Excalibur masih utuh atau telah terpecah.

Tetapi, jika “Excalibur” adalah nama suatu objek, maka objek itu tidak lagi ada ketika Excalibur hancur; dan karena tidak ada lagi objek yang bersesuaian dengan nama itu, maka nama tersebut tidak memiliki makna. Jika demikian, kalimat “Excalibur memiliki mata pisau yang tajam” akan mengandung kata yang tidak bermakna, dan karenanya kalimat itu akan menjadi tidak bermakna. Namun, kenyataannya kalimat itu tetap bermakna; maka harus selalu ada sesuatu yang bersesuaian dengan kata-kata yang menyusunnya.

Dengan demikian, kata “Excalibur” harus “menghilang” ketika maknanya dianalisis, dan tempatnya digantikan oleh kata-kata yang menamai hal-hal yang sederhana. Kata-kata inilah yang secara wajar dapat disebut sebagai nama-nama yang sebenarnya.



40.

Marilah kita terlebih dahulu membahas bagian dari argumen ini: bahwa sebuah kata tidak memiliki makna jika tidak ada sesuatu yang bersesuaian dengannya.—Penting untuk diperhatikan bahwa kata “makna” digunakan secara tidak tepat apabila dipakai untuk menunjuk pada sesuatu yang “bersesuaian” dengan kata tersebut. Hal ini mencampuradukkan makna suatu nama dengan pembawa nama itu.

Ketika Tuan N. N. meninggal, kita mengatakan bahwa pembawa nama itu yang meninggal, bukan bahwa maknanya yang meninggal. Dan akan menjadi tidak masuk akal untuk mengatakan bahwa maknanya mati; sebab jika nama itu kehilangan maknanya, maka pernyataan “Tuan N. N. telah meninggal” justru tidak akan lagi memiliki arti.


Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar Filsafat - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Filsafat Kontemporer - Bambang I. Sugiharto

Apa Itu Filsafat?... - Pengantar Filsafat 01 - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Pemikiran Modern - Bambang I. Sugiharto

METAFISIKA KEBUDAYAAN - Bambang I. Sugiharto

Filsafat Ilmu - Bambang I. Sugiharto

Nietzsche & Keberanian Jadi Diri Sendiri

Postmodernisme

HERMENEUTIK - Bambang I. Sugiharto

Écrits dan Arsitektur Kajian Subjek - Lacan