Apa Itu Filsafat?.. - Deleuze & Guattari
Deleuze and Guattari’s
What is Philosophy?
A Critical Introduction and Guide
JEFFREY A. BELL
Detail buku bisa diperiksa disini: https://a.co/d/7Y8f6zq
[Overview]
Pendahuluan
Karya What is Philosophy? dari Gilles
Deleuze dan Félix Guattari merupakan sebuah refleksi mendalam tentang apa
artinya menjalani kehidupan yang baik. Dalam hal ini, buku tersebut berdiri
dalam tradisi panjang filsafat yang sejak dahulu berusaha menjawab pertanyaan
tentang kehidupan yang bernilai. Bagi Deleuze dan Guattari, nilai dari
kehidupan yang baik tidak terletak pada tujuan eksternal atau hasil akhir
tertentu, melainkan justru pada hakikat kehidupan itu sendiri.
Untuk memahami gagasan ini, kita dapat merujuk pada
Aristoteles, yang menyatakan bahwa kehidupan yang baik—atau kehidupan yang
mandiri—adalah kehidupan yang lengkap dalam dirinya sendiri. Kehidupan semacam
ini dipilih bukan sebagai sarana menuju sesuatu yang lain, melainkan karena
nilainya yang intrinsik. Dengan demikian, ukuran kehidupan yang baik tidak
berasal dari standar di luar kehidupan, melainkan dari kehidupan itu sendiri.
Namun, jika tidak ada standar eksternal yang tetap,
bagaimana kita menentukan cara hidup yang baik? Aristoteles menawarkan gagasan
bahwa kita perlu mengembangkan semacam “selera” atau kepekaan terhadap apa yang
tepat—yakni dengan menjaga keseimbangan, sebagaimana seorang seniman yang
menciptakan karya sedemikian rupa sehingga tidak ada yang perlu ditambah atau
dikurangi. Kehidupan yang baik, dengan demikian, menyerupai sebuah improvisasi:
ia harus dimainkan dengan baik, tetapi tanpa partitur yang sudah ditentukan
sebelumnya.
Pertanyaan tentang bagaimana menjalani kehidupan yang baik
inilah yang menjadi inti dari pemikiran Aristoteles dalam Etika
Nikomakea, dan juga menjadi dorongan utama bagi Deleuze dan Guattari dalam
memahami hakikat filsafat.
Filsafat dan Nilainya: Melampaui Kepraktisan
Menariknya, terdapat kesamaan tertentu antara pandangan
Deleuze–Guattari dan Bertrand Russell dalam The Problems of Philosophy.
Keduanya sepakat bahwa nilai filsafat tidak dapat diukur dari kegunaannya
secara praktis. Russell menegaskan bahwa untuk menghargai filsafat secara utuh,
kita harus melepaskan diri dari prasangka orang-orang yang hanya menilai
sesuatu dari segi manfaat praktis.
Bagi pandangan praktis semacam itu, filsafat sering dianggap
tidak berguna karena tidak secara langsung menyelesaikan masalah seperti
kemiskinan atau penyakit. Bahkan, dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain yang
menghasilkan pengetahuan pasti, filsafat tampak lemah karena tidak menghasilkan
“kumpulan kebenaran yang definitif”.
Namun, justru di sinilah letak nilai filsafat menurut
Russell: dalam ketidakpastiannya. Filsafat membebaskan kita dari kepentingan
sempit pribadi dan membuka kita pada dunia yang lebih luas dan objektif. Ia
mengajak kita melihat dunia tanpa membaginya secara kaku menjadi lawan dan
kawan, baik dan buruk.
Akan tetapi, Deleuze dan Guattari mengkritik pandangan ini.
Mereka menolak anggapan bahwa filsafat bernilai karena “tidak berguna”. Bagi
mereka, filsafat bukan sekadar kontemplasi terhadap objek-objek besar,
melainkan suatu aktivitas kreatif yang tidak bergantung pada objek yang sudah
ada sebelumnya.
Filsafat Bukan Kontemplasi, Melainkan Penciptaan
Deleuze dan Guattari secara tegas menyatakan bahwa filsafat
bukanlah kontemplasi, refleksi, atau komunikasi. Alasannya, ketiga aktivitas
tersebut selalu mengandaikan adanya objek yang sudah ada sebelumnya—sesuatu
yang direnungkan, dipikirkan, atau dikomunikasikan.
Sebaliknya, filsafat tidak berangkat dari objek yang sudah
ada. Ia justru menciptakan. Di sinilah muncul prinsip penting yang mereka
warisi dan modifikasi dari tradisi filsafat klasik, yaitu Prinsip Alasan
yang Cukup (Principle of Sufficient Reason / PSR): segala sesuatu harus
memiliki alasan atau penjelasan.
Namun, bagi Deleuze dan Guattari, prinsip ini tidak
digunakan untuk menjelaskan fakta-fakta yang sudah tetap, melainkan untuk
menggali kondisi yang memungkinkan sesuatu muncul. Mereka mengikuti jejak
Spinoza dan Leibniz, tetapi dengan modifikasi penting: jika tradisi klasik
menekankan kesatuan (unity), maka Deleuze menekankan keberagaman
(multiplicity).
Alih-alih melihat dunia sebagai satu kesatuan yang harmonis,
Deleuze melihatnya sebagai “chaosmos”—yakni dunia yang terdiri dari rangkaian
perbedaan yang saling menyimpang. Tugas filsafat bukan menyatukan perbedaan itu
ke dalam satu sistem, melainkan memahami bagaimana kesatuan justru muncul dari
perbedaan.
“A LIFE”: Immanensi Murni sebagai Dasar
Dalam esai terakhirnya, Deleuze memperkenalkan konsep
penting: A LIFE (sebuah kehidupan). Ini bukan kehidupan
individu tertentu, melainkan kehidupan sebagai immanensi murni—kehidupan yang
tidak bergantung pada apa pun di luar dirinya.
“A LIFE” adalah sumber dari segala fenomena yang kita alami.
Ia bukan kesatuan yang sudah jadi, melainkan medan kemungkinan yang penuh
dengan perbedaan. Dari medan inilah muncul berbagai bentuk kehidupan konkret.
Dengan demikian, kehidupan yang baik bukanlah kehidupan yang
mengikuti aturan tetap atau pengetahuan yang sudah mapan, melainkan kehidupan
yang terus belajar—yang mampu mengekstrak “A LIFE” dari pengalaman hidup
sehari-hari.
Filsafat sebagai Penciptaan Konsep
Bagi Deleuze dan Guattari, filsafat pada dasarnya
adalah penciptaan konsep. Mereka menyatakan secara eksplisit bahwa
filsafat adalah seni membentuk, menemukan, dan menciptakan konsep.
Namun, konsep di sini bukan sekadar alat untuk
merepresentasikan realitas, seperti dalam sains. Konsep adalah sesuatu yang
hidup, yang muncul dari “ruang masalah” tertentu—yakni kondisi-kondisi yang
menuntut pemikiran baru.
Dalam konteks ini, filsafat berbeda dari sains dan juga dari
aktivitas lain seperti pemasaran atau komunikasi, yang juga mengklaim
“menciptakan konsep”. Bagi Deleuze dan Guattari, aktivitas-aktivitas tersebut
hanya menggunakan konsep untuk tujuan praktis, sedangkan filsafat menciptakan
konsep sebagai respons terhadap masalah mendasar kehidupan dan pemikiran.
Belajar sebagai Proses Eksperiensial
Salah satu gagasan penting yang mereka tekankan adalah bahwa
belajar bukanlah sekadar memahami aturan atau meniru contoh. Belajar adalah
proses menghadapi “tanda-tanda” (signs) dalam pengalaman.
Misalnya, belajar berenang bukan berarti meniru gerakan
instruktur di darat, melainkan berinteraksi langsung dengan air—merasakan arus,
tekanan, dan keseimbangan. Demikian pula, belajar dalam filsafat berarti
menghadapi problem secara langsung dan menciptakan konsep sebagai respons
terhadapnya.
Belajar, dengan demikian, bersifat eksperimental, penuh
risiko, dan tidak pernah sepenuhnya dapat diprediksi.
Tiga Bentuk Besar Pemikiran
Pada akhirnya, Deleuze dan Guattari mengidentifikasi tiga
bentuk utama pemikiran manusia:
- Filsafat →
menciptakan konsep
- Sains →
menciptakan fungsi (fungsi matematis/ilmiah)
- Seni →
menciptakan persepsi dan afeksi
Ketiganya berakar pada medan yang sama, yaitu “A LIFE”
sebagai realitas imanen. Namun, masing-masing mengolahnya dengan cara yang
berbeda.
Kehidupan yang baik, menurut mereka, adalah kehidupan yang
mampu bergerak di antara ketiga ranah ini—yang terbuka pada perbedaan dan terus
belajar dari pengalaman.
Penutup Pendahuluan
Dengan demikian, What is Philosophy? bukan
sekadar buku tentang filsafat sebagai disiplin akademik, melainkan sebuah
refleksi mendalam tentang kehidupan itu sendiri. Filsafat dipahami sebagai
aktivitas kreatif yang tidak hanya menghasilkan konsep, tetapi juga membuka
kemungkinan baru bagi cara kita hidup.
Menjalani kehidupan yang baik berarti terlibat dalam proses
belajar yang terus-menerus, menghadapi ketidakpastian, dan berani menciptakan
makna dari pengalaman. Dalam proses inilah, kita tidak hanya memahami dunia,
tetapi juga menciptakan cara baru untuk berada di dalamnya.
:::
Bab 1: Apa itu Konsep?
Jika tugas khas filsafat adalah menciptakan konsep—atau
sebagaimana ditegaskan oleh Deleuze dan Guattari bahwa “konsep adalah milik
filsafat, dan hanya filsafat”—maka pertanyaan paling mendasar yang harus kita
ajukan adalah: apa yang sebenarnya terlibat dalam penciptaan konsep, dan
mengapa konsep hanya menjadi ranah filsafat?
Untuk mulai menjawabnya, mari kita kembali pada contoh
tukang kayu (joiner) yang telah dibahas sebelumnya. Seorang tukang kayu
mengklaim dirinya sebagai “sahabat kayu.” Ia mengenal kayu: memahami berbagai
teknik penyambungan, jenis kayu yang sesuai untuk kondisi tertentu, jenis
sambungan, lem, dan seterusnya. Seorang tukang kayu yang baik bukan hanya
mengetahui aturan, tetapi mengetahui bagaimana bekerja dengan kayu secara
tepat dalam situasi konkret.
Hal yang sama berlaku bagi profesi lain seperti penjaga
hutan atau penebang kayu. Mereka juga “mengklaim” kayu dalam arti memiliki
pengetahuan praktis yang memadai untuk menjalankan pekerjaannya. Namun, muncul
pertanyaan penting: apa yang diketahui oleh seorang filsuf yang “mengklaim
konsep”? Apa yang membuat klaim filsuf atas konsep menjadi khas dan
eksklusif?
Belajar Bukan Sekadar Mengetahui
Di sinilah Deleuze dan Guattari mengingatkan kita agar
berhati-hati. Fokus utama mereka bukan pada pengetahuan sebagai kumpulan
aturan, melainkan pada proses belajar yang memungkinkan pengetahuan
itu muncul.
Ambil contoh belajar mengemudi mobil manual. Aturannya
sederhana: tekan kopling, pindahkan gigi, lalu lepas kopling sambil menekan
gas. Namun, pengalaman nyata jauh lebih kompleks. Menemukan titik transisi yang
tepat antara kopling dan gas bukanlah hal mudah—terlebih saat mobil berada di
tanjakan.
Proses belajar melibatkan interaksi berbagai elemen: kaki,
tangan, pedal, kemiringan jalan. Pada awalnya, pengemudi akan tersentak-sentak
atau bahkan mematikan mesin. Namun seiring waktu, ia mulai terbiasa dengan
“titik-titik kritis” tersebut. Dari kebiasaan inilah lahir keterampilan.
Di titik ini, seseorang dapat mengatakan bahwa ia “tahu”
cara mengemudi. Namun bagi Deleuze, belajar tidak boleh direduksi menjadi
sekadar jalan menuju pengetahuan. Ia menegaskan:
- Belajar adalah
proses subjektif ketika kita berhadapan dengan objektivitas suatu
masalah
- Pengetahuan hanyalah
hasil akhir berupa aturan yang stabil
Dengan kata lain, belajar adalah proses hidup yang
dinamis, sementara pengetahuan adalah hasil yang statis.
Masalah Lebih Mendasar daripada Solusi
Sering kali kita menganggap bahwa masalah hanya penting
karena ia memiliki solusi. Namun Deleuze justru membalik pandangan ini.
Dalam belajar mengemudi, kita sudah tahu tujuan akhirnya:
mengemudi dengan lancar. Karena itu, proses belajar sering dianggap hanya
sebagai tahap sementara. Setelah berhasil, kita melupakan proses
tersebut—seolah-olah ia tidak penting.
Deleuze menyebut ini sebagai “penutupan yang menutupi
masalah”: solusi menggantikan gerak dinamis dari masalah dengan stabilitas yang
kaku.
Untuk memahami kedalaman gagasan ini, kita dapat melihat
contoh dari Leibniz tentang pahatan marmer. Seorang pemahat tidak sekadar
memaksakan bentuk pada batu. Ia mengikuti urat-urat dalam marmer—titik-titik
potensial yang sudah ada. Bentuk patung muncul dari interaksi antara pemahat
dan struktur internal batu.
Namun, berbeda dengan Leibniz, Deleuze menekankan
bahwa masalah tidak menentukan hasil akhir secara pasti. Masalah adalah
struktur objektif yang nyata, tetapi tidak mengunci kemungkinan hasilnya. Ia
tetap hidup bahkan setelah solusi tercapai.
Dengan demikian, masalah bukan sekadar hambatan,
melainkan sumber kreativitas dan pembelajaran.
Konsep sebagai Struktur Problematis
Dari sini kita mulai memahami bahwa konsep tidak dapat
dipisahkan dari “struktur problematis”—yakni ruang masalah tempat konsep itu
lahir.
Konsep bukan representasi sederhana dari realitas. Ia adalah
respons terhadap suatu medan masalah yang nyata dan objektif. Justru karena
berasal dari masalah inilah konsep mampu memicu pemikiran baru.
Untuk menjelaskan hal ini, Deleuze dan Guattari mengajak
kita melihat kembali pemikiran David Hume tentang ide abstrak.
Hume dan Ide Abstrak: Peran Kebiasaan
Hume berpendapat bahwa ide abstrak sebenarnya berasal dari
pengalaman konkret. Ketika kita memikirkan “pohon”, kita sebenarnya
membayangkan pohon tertentu, lalu memperluasnya melalui bahasa untuk mencakup
pohon-pohon lain.
Anak kecil, misalnya, bisa menyebut rakun sebagai “kucing”
karena kemiripan tertentu. Seiring pengalaman, mereka belajar membedakan.
Menurut Hume, kemampuan ini bergantung pada kebiasaan
(habit). Kita terbiasa mengaitkan objek-objek tertentu dengan nama tertentu.
Namun di sinilah muncul masalah:
Jika pengetahuan kita berasal dari kebiasaan, bagaimana kita bisa yakin
bahwa kebiasaan itu benar?
Hume menyadari bahwa tidak ada jaminan. Bahkan keyakinan
kita bisa saja keliru atau ilusif. Ia menggambarkan kondisi ini sebagai berada
di tengah “samudra tak terbatas” pengalaman, tanpa kepastian.
Kritik Deleuze: Konsep Bukan Soal Representasi
Deleuze dan Guattari tidak menerima pendekatan yang hanya
melihat konsep sebagai representasi (ekstensi). Mereka juga menolak reduksi
konsep menjadi proposisi logis.
Menurut mereka:
- Konsep
bukan proposisi
- Konsep
tidak bisa direduksi ke aturan bahasa
- Konsep
adalah struktur intensional—yakni terkait dengan makna dan problem, bukan
sekadar referensi
Kesalahan besar dalam tradisi logika modern adalah
mencampuradukkan konsep dengan proposisi. Akibatnya, filsafat direduksi menjadi
analisis bahasa, kehilangan dimensi kreatifnya.
Peran Intensitas dan Perbedaan
Bagi Deleuze, realitas tidak didasarkan pada identitas
tetap, melainkan pada perbedaan (difference). Perbedaan ini bersifat
intensif—bukan sekadar perbedaan antar objek, tetapi kondisi yang memungkinkan
objek itu ada.
Ia menggunakan analogi kalkulus: relasi diferensial tetap
ada bahkan ketika variabelnya mendekati nol. Artinya, yang paling mendasar
bukan objek, melainkan relasi dan perbedaan yang mendasarinya.
Dari sini muncul gagasan penting:
- Realitas adalah multiplicity (kejamakan), bukan kesatuan
tunggal
- Konsep adalah bagian dari multiplicity tersebut, bukan
representasi luarnya
Konsep sebagai Multiplicity
Deleuze dan Guattari menegaskan:
- Tidak
ada konsep yang sederhana
- Setiap
konsep terdiri dari berbagai komponen
- Konsep
adalah sebuah multiplicity
Komponen-komponen ini tidak berdiri sendiri, tetapi
terhubung melalui “zona ketakterbedaan” (area di mana batas antar elemen
menjadi kabur). Justru di sinilah konsistensi internal konsep terbentuk.
Belajar, Masalah, dan Penciptaan Konsep
Akhirnya, kita sampai pada inti gagasan:
- Belajar
adalah menghadapi problem
- Problem
adalah multiplicity
- Konsep
adalah hasil penciptaan dalam medan problem tersebut
Dalam proses ini, filsafat bukanlah diskusi atau debat.
Bahkan Deleuze dan Guattari secara provokatif mengatakan bahwa filsuf “lari”
dari diskusi, karena diskusi sering kali hanya mempertahankan posisi yang sudah
ada.
Sebaliknya, filsafat adalah penciptaan.
Mengkritik bukan berarti menolak, tetapi menciptakan konsep baru yang
mampu memberi kehidupan baru pada pemikiran.
Penutup Bab: Hidup sebagai Sumber Konsep
Pada akhirnya, yang dipertaruhkan dalam filsafat bukan
sekadar teori, melainkan kehidupan itu sendiri. Konsep bukan benda mati,
melainkan sesuatu yang hidup—terhubung dengan apa yang disebut Deleuze
sebagai “A LIFE”, realitas imanen yang menjadi sumber semua pemikiran.
Filsuf sejati bukanlah penjaga konsep lama, melainkan
pencipta—yang mampu memberi energi baru pada konsep, sehingga ia kembali hidup
dan relevan.
:::
Bab 2: Mengapa Filsafat?
Pada bab sebelumnya, kita mulai melihat bagaimana Deleuze
dan Guattari merumuskan suatu teori tentang konsep yang berusaha menghindari
dua kecenderungan besar dalam filsafat modern. Di satu sisi, mereka menolak
pemahaman ekstensional tentang konsep—seperti yang ditemukan dalam
tradisi Gottlob Frege dan Bertrand Russell—yang menganggap
konsep sekadar merujuk pada objek yang sudah ada. Di sisi lain, mereka juga
menghindari idealisme absolut ala Georg Wilhelm Friedrich Hegel, yang
melihat konsep sebagai gerak reflektif diri yang kembali kepada dirinya sendiri
dalam bentuk totalitas universal.
Masalah utama dari kedua pendekatan ini, menurut Deleuze dan
Guattari, adalah bahwa keduanya sama-sama mengandaikan identitas yang
sudah ada sebelumnya—baik berupa objek yang siap dirujuk maupun kesatuan
universal yang menentukan segalanya. Padahal, persoalan yang lebih mendasar
justru adalah: bagaimana identitas itu sendiri muncul dan terindividuasi
sejak awal?
Alih-alih menerima identitas sebagai sesuatu yang sudah
diberikan, Deleuze dan Guattari mendorong prinsip rasio yang cukup (Principle
of Sufficient Reason) sampai pada titik di mana identitas itu sendiri
harus dijelaskan, bukan diasumsikan begitu saja sebagai fakta metafisik yang
mentah. Untuk melakukan ini, mereka mengembangkan apa yang mereka sebut
sebagai “pedagogi konsep”, dan melalui proses belajar inilah kita mulai
memahami bagaimana identitas terbentuk.
Multiplicitas sebagai Dasar Segala Fenomena
Dalam perkembangan argumen mereka, kita sampai pada salah
satu konsep kunci Deleuze: multiplicity (kejamakan). Multiplicitas ini
bukan sekadar kumpulan banyak hal, melainkan struktur dasar yang menjadi alasan
cukup bagi semua fenomena. Ia adalah “substansi sejati”—sesuatu yang mendasari
segala sesuatu yang tampak.
Multiplicitas ini juga merupakan apa yang disebut
sebagai “realitas hidup transendental”—atau A LIFE. Ia bukan
kehidupan individu tertentu, melainkan medan imanen yang memungkinkan segala
bentuk kehidupan dan pemikiran muncul.
Namun, agar pemikiran benar-benar terjadi, tidak cukup hanya
memiliki multiplicitas. Harus ada proses belajar yang berhasil
menghindari kekacauan (chaos) dan mampu menyusun elemen-elemen yang
tersebar ke dalam suatu bidang konsistensi (plane of consistency).
Inilah tantangan mendasar kehidupan: bagaimana medan yang
penuh perbedaan dan potensi (chaosmos) dapat diorganisasi sehingga melahirkan
fenomena yang terstruktur dan terindividuasi.
Filsafat sebagai Respons terhadap Masalah Kehidupan
Dari sini, kita memahami bahwa filsafat tidak dapat
dipisahkan dari persoalan kehidupan itu sendiri. Filsafat bukan sekadar
refleksi abstrak, melainkan respons terhadap masalah nyata: bagaimana kita
belajar, bagaimana kita berpikir, dan bagaimana kita memberi bentuk pada
pengalaman.
Sebagaimana proses belajar yang sulit dipahami sebelum kita
benar-benar mengalaminya, filsafat juga merupakan aktivitas yang menuntut usaha
untuk menghubungkan berbagai elemen dalam menghadapi tuntutan pemikiran.
Dengan kata lain, filsafat adalah usaha untuk:
- Menarik
pengalaman hidup ke dalam bidang konsistensi
- Menyaring
opini menjadi pemikiran
- Menemukan
makna dalam kerumitan kehidupan
Kafka dan Pentingnya Mengajukan Pertanyaan yang Tepat.
Untuk memahami struktur problematis ini, Deleuze dan
Guattari merujuk pada karya Franz Kafka, khususnya novel The Trial.
Tokoh utama, Joseph K., tiba-tiba ditangkap tanpa mengetahui
alasan apa pun. Ia tidak tahu tuduhan terhadap dirinya, tidak tahu otoritas apa
yang menuduhnya, dan tidak tahu bagaimana membela diri.
Yang menarik, K. tidak berusaha membuktikan dirinya tidak
bersalah—karena ia bahkan tidak tahu apa kesalahannya. Sebaliknya, ia mencoba
menemukan kondisi yang memungkinkan penangkapannya terjadi. Namun setiap
kali ia menemukan satu kondisi, ia justru dihadapkan pada kondisi lain yang
lebih dalam.
Akibatnya, cerita menjadi tak berujung—sebuah proses
pencarian tanpa akhir.
Menurut Deleuze dan Guattari, ini mencerminkan sesuatu yang
sangat penting:
- Masalah tidak selalu mengarah pada solusi yang jelas
- Masalah dapat menjadi medan tak terbatas dari pencarian dan diferensiasi
Perbandingan: Belajar vs. Ketidaktahuan Radikal
Jika dibandingkan dengan seseorang yang belajar berenang
atau mengemudi, perbedaannya menjadi jelas:
- Dalam
belajar berenang, kita tahu tujuan akhirnya
- Kita
dapat mengorganisasi elemen (air, tubuh, gerakan)
- Kita
bergerak menuju keterampilan yang jelas
Namun dalam kasus K., bahkan tujuan awal pun tidak
diketahui. Ia tidak tahu apa yang harus dipelajari. Ia terjebak
dalam proses problematis tanpa titik awal yang pasti.
Assemblage dan Bidang Imanensi
Dari sini muncul konsep penting: assemblage
(perakitan/jejaring dinamis).
Assemblage adalah sistem dinamis yang:
- Menghubungkan
berbagai elemen
- Berfungsi
dalam realitas
- Selalu
berada di antara dua ekstrem: kekacauan dan stagnasi
Assemblage bukan sistem tetap, melainkan proses yang terus
berubah. Ia hanya dapat bertahan selama mampu menjaga keseimbangan antara:
- Chaos (ketiadaan
struktur)
- Stasis (struktur
yang terlalu kaku)
Dengan demikian, assemblage adalah sistem yang hidup di
tepi kekacauan—selalu bereksperimen, selalu belajar.
Pertanyaan Filsafat yang Tepat
Dalam menghadapi assemblage, Deleuze menolak pertanyaan
klasik ala Socrates: “Apa itu X?”
Sebaliknya, ia mengusulkan pertanyaan yang lebih dinamis:
- Siapa?
- Bagaimana?
- Di
mana dan kapan?
- Dalam
kondisi apa?
Pertanyaan-pertanyaan ini memungkinkan kita
memahami fungsi dan dinamika suatu fenomena, bukan sekadar esensinya.
Mesin Abstrak dan Realitas sebagai Chaosmos
Deleuze dan Guattari menjelaskan bahwa realitas terdiri
dari:
- Mesin
abstrak (dua kutub: chaos dan stasis)
- Assemblage
konkret (yang beroperasi di antara keduanya)
Assemblage adalah “bagian kerja” dari mesin abstrak karena
ia mampu menghindari kedua ekstrem tersebut.
Realitas sendiri bukan keteraturan mutlak atau kekacauan
total, melainkan chaosmos—perpaduan keduanya.
Perbedaan sebagai Dasar Realitas
Dalam kerangka ini, perbedaan (difference) menjadi
prinsip dasar. Perbedaan bukan sesuatu yang muncul dari identitas, melainkan
justru identitas lahir dari perbedaan.
Perbedaan ini:
- Tidak
sepenuhnya dapat dijelaskan
- Bersifat
imanen
- Menjadi
alasan cukup bagi semua fenomena
Karena itu, filsuf berada dalam posisi seperti Joseph K.:
- Tidak pernah menemukan alasan akhir yang pasti
- Selalu bergerak dalam medan problematis
Ilusi Transendental dan Kritik terhadap Representasi
Deleuze mengembangkan kritik terhadap apa yang disebut
sebagai ilusi transendental—yakni kecenderungan untuk menganggap bahwa
struktur pemikiran kita mencerminkan struktur realitas itu sendiri.
Ia mengidentifikasi empat bentuk utama representasi:
- Identitas
- Analogi
- Oposisi
- Kemiripan
Keempatnya cenderung menyembunyikan peran perbedaan sebagai
dasar realitas.
Ide sebagai Sistem Relasi Diferensial
Bagi Deleuze, Ide bukanlah bentuk tetap,
melainkan: Sistem relasi diferensial antar elemen
Sebagai contoh, perkembangan larva lalat buah ditentukan
oleh relasi genetik yang kompleks. Perubahan kecil dalam relasi ini dapat
menghasilkan bentuk tubuh yang berbeda.
Artinya:
- Individu
adalah hasil proses
- Proses
didorong oleh relasi intensif
- Relasi
ini membentuk struktur problematis
Konsep, Bahasa, dan Kehidupan
Pada bagian akhir, Deleuze dan Guattari menegaskan bahwa:
- Konsep bukanlah proposisi
- Filsafat bukan sekadar bahasa atau argumen
Konsep adalah:
- Assemblage
- Multiplicitas
- Respons
terhadap masalah
Bahasa hanya menjadi medium untuk mengekspresikan proses
ini, tetapi bukan esensinya.
Belajar berbicara, seperti belajar jazz improvisasi, bukan
sekadar mengikuti aturan, melainkan mengembangkan sensitivitas terhadap
dinamika yang hidup.
Penutup: Filsafat sebagai Cara Hidup
Pada akhirnya, filsafat bukanlah upaya untuk menyelesaikan
masalah secara definitif, melainkan:
- Hidup dalam respons terus-menerus terhadap masalah
- Menghadapi kompleksitas tanpa mereduksinya
- Menciptakan konsep sebagai bentuk kehidupan pemikiran
Berpikir, dalam arti terdalamnya, bukanlah menemukan jawaban
final—
melainkan terus bergerak dalam medan problematis kehidupan itu sendiri.
:::
Bab 3: Bagaimana Menjadi Seorang Filsuf
Pada bab sebelumnya, kita telah menelusuri implikasi
metafisis dari gagasan Gilles Deleuze bahwa belajar merupakan
perjumpaan dengan objektivitas suatu masalah—yakni sesuatu yang tidak dapat
direduksi pada, dan tidak pernah sepenuhnya habis oleh, solusi-solusi yang
mungkin dihasilkannya. Contoh awal seperti belajar berenang atau mengemudi
hanyalah titik masuk; pada akhirnya, Deleuze memperluas makna belajar jauh
melampaui pengalaman subjektif individual.
Belajar, dalam kerangka ini, bukanlah mengikuti seperangkat
aturan yang telah ditentukan sebelumnya. Sebaliknya, ia adalah proses membangun
dan mempertahankan jejaring hubungan yang dinamis—suatu plane of
consistency—yang memungkinkan proses itu sendiri berlangsung. Yang mendasar
dalam belajar bukanlah tujuan akhirnya, melainkan kemampuan untuk menjaga
keseimbangan antara kekacauan dan kekakuan: antara kondisi di mana hubungan
tidak mungkin terbentuk, dan kondisi di mana aturan yang terlalu kaku justru
mematikan dinamika belajar.
Proses ini bersifat autopoietik—menciptakan dan
mempertahankan dirinya sendiri. Ia membentuk suatu keadaan keseimbangan dinamis
antara dua kutub ekstrem: chaos dan stratifikasi kaku. Inilah yang disebut
sebagai bidang konsistensi, yang memungkinkan belajar menjadi mungkin.
Lebih jauh lagi, bidang ini tidak berdiri sendiri. Ia
terkait erat dengan bidang imanensi (plane of immanence)—ruang problematis
yang merupakan objektivitas masalah itu sendiri, yang oleh Deleuze disebut
sebagai A LIFE: kehidupan dalam arti paling fundamental dan imanen.
Filsafat dan Penciptaan Konsep
Dalam bab ini, fokus kita dipersempit pada satu pertanyaan
utama:
Apa yang sebenarnya dilakukan seorang filsuf ketika ia menciptakan konsep?
Menurut Deleuze dan Félix Guattari, filsafat memiliki
tugas khusus yang tidak dimiliki disiplin lain, yaitu menciptakan konsep.
Konsep bukan sekadar alat berpikir, melainkan produk khas filsafat itu sendiri.
Namun, terdapat dua kesalahpahaman umum tentang filsuf:
1. Filsuf hanya mengajukan pertanyaan untuk menemukan
jawaban
Pandangan ini menganggap bahwa pertanyaan hanyalah langkah
menuju solusi. Deleuze dan Guattari menolak anggapan ini.
Bagi mereka:
- Masalah
tidak pernah habis oleh solusi
- Masalah
memiliki realitasnya sendiri
- Pertanyaan
bukan sekadar alat, tetapi bagian dari medan problematis
Dengan demikian, filsafat bukan sekadar aktivitas mencari
jawaban, melainkan menghadapi dan mempertahankan problematik itu sendiri.
2. Filsuf adalah pengikut doktrin atau aliran tertentu
Banyak orang memahami filsafat melalui label: Platonisme,
Aristotelianisme, Hegelianisme, dan seterusnya. Namun bagi Deleuze dan
Guattari, pendekatan ini justru mereduksi filsafat menjadi sekadar kumpulan
ajaran tetap.
Filsafat sejati bukanlah:
- Menghafal
doktrin
- Mengikuti
guru atau aliran
Melainkan: mengembangkan “selera filosofis” terhadap
masalah dan penciptaan konsep
Heidegger dan Pertanyaan Fundamental
Dalam memahami hakikat filsafat, Deleuze dan Guattari
sejalan dengan Martin Heidegger, yang menekankan pentingnya pertanyaan
paling mendasar:
“Mengapa ada sesuatu daripada tidak ada sama sekali?”
Pertanyaan ini mengguncang dasar pemikiran kita, karena ia:
- Mengganggu
hubungan stabil antara pikiran dan objek
- Membuka
kemungkinan bahwa semua makna dapat dipertanyakan
Baik dalam agama maupun sains, pertanyaan ini memiliki
implikasi radikal:
- Iman
harus menghadapi kemungkinan ketidakiman
- Sains
harus membuka diri terhadap pembongkaran asumsi dasarnya
Filsafat, dengan demikian, adalah bentuk berpikir
yang: melampaui fakta-fakta determinatif menuju yang “luar biasa”
(extra-ordinary)
Menjadi Filsuf: Memasuki Medan Problematis
Seseorang menjadi filsuf ketika ia tidak lagi menerima dunia
sebagaimana adanya, melainkan melihatnya sebagai medan masalah yang
terbuka.
Karena itu, pertanyaan klasik seperti:
- “Apa
itu X?”
dianggap tidak memadai.
Sebaliknya, Deleuze mengusulkan pertanyaan:
- Siapa?
- Bagaimana?
- Di
mana dan kapan?
- Dalam
kondisi apa?
Pertanyaan ini mengungkap dimensi ruang-waktu dan kondisi
yang membentuk suatu fenomena.
Tiga Dimensi Filsafat: Trinitas Filosofis
Mengikuti tradisi Stoa dan Immanuel Kant, Deleuze dan
Guattari mengembangkan apa yang mereka sebut:
Trinitas filosofis, yang terdiri dari:
- Bidang
imanensi (immanence) → ruang masalah
- Persona
konseptual (imagination) → agen pemikiran
- Konsep
(understanding) → hasil penciptaan
Ketiganya tidak dapat direduksi satu sama lain, tetapi harus
bekerja bersama.
Untuk menyatukan ketiganya, diperlukan satu hal
penting: selera filosofis (philosophical taste)
Persona Konseptual: Agen Misterius dalam Filsafat
Salah satu gagasan paling khas Deleuze adalah persona
konseptual.
Persona ini bukan:
- Tokoh
fiksi biasa
- Representasi
langsung dari filsuf
Melainkan: kekuatan pemikiran yang menggerakkan proses
penciptaan konsep
Contoh:
- Friedrich
Nietzsche → Dionysus, Zarathustra
- René
Descartes → “Si Idiot”
- David
Hume → “Sang Penyelidik”
Persona ini:
- Membongkar
asumsi lama (deterritorialization)
- Membantu
membangun konsep baru (reterritorialization)
Proses Menjadi: Filsuf dan Persona
Hubungan antara filsuf dan persona bersifat timbal balik:
- Nietzsche menjadi Dionysus
- Dionysus menjadi konsep dalam Nietzsche
Ini bukan representasi, melainkan proses menjadi
(becoming).
Dalam proses ini:
- Identitas
menjadi cair
- Pemikiran
menjadi gerak
- Konsep
menjadi peristiwa
Peran Selera Filosofis
Tidak ada aturan baku dalam filsafat. Tidak ada metode pasti
yang menjamin keberhasilan.
Karena itu, yang menentukan adalah: selera (taste)
Selera ini:
- Tidak
rasional sepenuhnya
- Tidak
ditentukan sebelumnya
- Bersifat
hampir “instingtif”
Ia menentukan:
- Masalah
apa yang dipilih
- Persona
apa yang digunakan
- Konsep
apa yang diciptakan
Filsafat sebagai Cara Hidup (Stoikisme yang Diperbarui)
Mengikuti tradisi Stoa (misalnya Seneca), filsafat
dipahami sebagai: cara hidup yang selaras dengan “alam”
Namun, Deleuze mengubah makna “alam”:
- Bukan
hukum tetap
- Melainkan A
LIFE — kehidupan sebagai medan problematis tanpa batas
Sejarah Filsafat sebagai Medan Kreatif
Sejarah filsafat bukanlah arsip mati. Ia adalah: ladang
masalah yang belum selesai
Konsep lama harus:
- Dibangkitkan
kembali
- Diinterpretasi
ulang
- Bahkan
dibalikkan
Seperti kata Deleuze dan Guattari: Filsafat hanya bermakna
jika mampu “membangunkan konsep yang tertidur”
Contoh: “Si Idiot” dalam Descartes dan Dostoevsky
Dalam kasus Fyodor Dostoevsky, tokoh “idiot” muncul
sebagai sosok yang:
- Tidak
tunduk pada norma sosial
- Tampak
absurd
- Namun
membuka kemungkinan pemikiran baru
Pada Descartes:
- “Idiot”
adalah pemikir privat yang meragukan segalanya
Pada Dostoevsky:
- “Idiot”
adalah figur eksistensial yang menantang rasionalitas sosial
Perbedaannya:
- Descartes
mencari kepastian
- Dostoevsky
merayakan absurditas sebagai kekuatan kreatif
Eksistensialisme: Eksistensi Mendahului Esensi
Dalam pemikiran Jean-Paul Sartre: eksistensi
mendahului esensi
Artinya:
- Manusia
tidak ditentukan sebelumnya
- Nilai
muncul dari kehidupan itu sendiri
Pada Søren Kierkegaard:
- “lompatan
iman” tidak memiliki dasar rasional
- iman
menjadi tindakan eksistensial
Menuju Kesimpulan: Apa Artinya Menjadi Filsuf?
Menjadi filsuf bukan berarti:
- Menguasai
teori
- Mengikuti
aliran
- Menemukan
jawaban pasti
Melainkan:
- Mengembangkan selera terhadap masalah
- Berani memasuki ketidakpastian
- Menciptakan konsep dari dalam kehidupan
Pada akhirnya: Filsafat adalah praktik hidup
dalam medan problematis yang tak pernah selesai
:::
Bab 5: Filsafat dan Sains
Salah satu langkah paling kontroversial dalam karya What
is Philosophy? adalah pembedaan tajam yang dibuat oleh Gilles
Deleuze dan Félix Guattari antara filsafat, sains, dan
seni—terutama antara filsafat dan sains. Mereka berpendapat bahwa
keduanya menghadapi chaos dengan cara yang sangat berbeda, bahkan hampir
berlawanan.
Di satu sisi, filsafat berusaha mempertahankan
kecepatan tak hingga (infinite speeds) dari chaos. Di sisi lain, sains
justru melepaskan kecepatan tak hingga tersebut, dengan cara menetapkan
batas-batas yang memungkinkan dunia dipahami secara terukur.
Meskipun demikian, keduanya memiliki kesamaan mendasar. Baik
filsafat maupun sains:
- melakukan eksperimen
pemikiran (thought experiment)
- menuntut
kreativitas dalam menghadapi masalah
- membutuhkan
apa yang disebut sebagai “selera tingkat tinggi” (higher taste)
Selera ini memungkinkan keduanya untuk menyelaraskan
elemen-elemen yang masih dalam proses penentuan, sehingga dapat membentuk suatu
struktur pemahaman yang koheren.
Sebagaimana dalam filsafat diperlukan selera untuk:
- membangun
bidang imanensi
- menciptakan
persona konseptual
- menghasilkan
konsep
maka dalam sains, selera ini digunakan untuk:
- memilih
variabel yang tepat
- menetapkan
pengamat parsial
- menyusun
koordinat fungsi atau persamaan
Dengan kata lain, baik filsafat maupun sains
merupakan cara belajar—yakni cara menghadapi objektivitas suatu masalah.
Keduanya bahkan berangkat dari sikap yang sama:“Saya tidak tahu”
Namun, ketidaktahuan ini bukan kelemahan,
melainkan: kondisi positif dan kreatif bagi penciptaan.
Perbedaan Fundamental: Konsep vs Fungsi
Perbedaan utama antara filsafat dan sains bukan terletak
pada metode awalnya, melainkan pada apa yang mereka ciptakan.
- Filsafat →
menciptakan konsep
- Sains →
menciptakan fungsi
Sains bekerja melalui apa yang disebut sebagai: bidang
referensi (plane of reference)
Bidang ini terdiri dari:
- batas
(limits)
- parameter
- koordinat
Melalui struktur ini, sains dapat:
- memetakan
variabel
- membangun
hubungan matematis
- menghasilkan
hukum atau fungsi
Sebaliknya, filsafat bekerja dalam: bidang imanensi
(plane of immanence)
Di sini, konsep lahir dari relasi internal yang tidak
bergantung pada sistem koordinat eksternal.
Chaos: Dasar dari Segalanya
Untuk memahami hubungan antara filsafat dan sains, kita
harus terlebih dahulu memahami apa itu chaos.
Chaos tidak sekadar berarti kekacauan. Ia
adalah: kecepatan tak hingga di mana segala bentuk muncul dan lenyap
seketika
Chaos adalah:
- bukan
kehampaan
- tetapi ruang
virtual penuh kemungkinan
- tempat
semua bentuk potensial muncul lalu hilang tanpa jejak
Dalam chaos:
- tidak
ada konsistensi
- tidak
ada referensi
- tidak
ada akibat
Analogi: Cairan Superjenuh
Untuk menjelaskan ini, Deleuze dan Guattari menggunakan
contoh ilmiah dari Ilya Prigogine dan Isabelle Stengers.
Bayangkan cairan superjenuh:
- kristal
kecil muncul
- lalu
langsung larut kembali
- tanpa
meninggalkan efek
Namun, ketika kondisi tertentu tercapai:
- elemen-elemen
mulai berhubungan
- terbentuk
konsistensi
- muncullah
kristalisasi
Inilah analogi bagi: proses individuasi (pembentukan
entitas nyata)
Belajar sebagai Proses Individuasi
Belajar terjadi ketika:
- elemen-elemen
mulai terhubung
- hubungan
menjadi konsisten
- struktur
terbentuk
Jika hubungan gagal terbentuk:
- elemen
akan “muncul lalu lenyap”
- tidak
ada pengetahuan yang terbentuk
Dengan demikian: belajar adalah proses menarik chaos ke
dalam konsistensi.
Filsafat: Menyaring Chaos tanpa Menghilangkan Kecepatan
Dalam filsafat:
- chaos tidak
diperlambat
- tetapi disaring
Bidang imanensi bertindak seperti: saringan (sieve)
Hasilnya:
- elemen-elemen
langsung membentuk konsistensi
- tanpa
perantara eksternal
- bersifat autopoietik
(self-organizing)
Komponen konsep: tidak dapat dipisahkan (inseparable)
Karena:
- mereka
muncul bersama secara simultan
- dalam
kecepatan tak hingga
Sains: Memperlambat Chaos
Berbeda dengan filsafat, sains: memperlambat chaos
Deleuze dan Guattari menggambarkannya sebagai:“freeze-frame”
Dengan memperlambat chaos:
- batas
dan parameter muncul
- koordinat
dapat dibuat
- variabel
dapat diukur
Contoh:
- kecepatan
cahaya sebagai batas
- suhu
absolut sebagai batas bawah
Dengan demikian: sains menciptakan dunia yang dapat
diukur
Peran Batas dalam Sains
Batas sangat penting dalam sains karena:
- menentukan
kerangka pengamatan
- memungkinkan
variasi diukur
- membentuk
sistem koordinat
Namun batas ini: bukan realitas mutlak, melainkan hasil
konstruksi.
Kritik terhadap Kesatuan Ilmiah
Mengacu pada Mark Wilson, sains tidak memiliki satu
sistem yang benar-benar utuh.
Sebaliknya, ia terdiri dari: “lapisan teori” (theory
façades)
Setiap lapisan:
- berlaku
dalam kondisi tertentu
- bisa
gagal di kondisi lain
- tidak
selalu konsisten satu sama lain
Artinya: tidak ada teori universal tunggal
Disparitas: Dasar Fenomena
Di balik semua fenomena terdapat: disparitas (perbedaan
intensif)
Disparitas adalah:
- alasan
mengapa fenomena muncul
- sekaligus
alasan mengapa teori gagal
Semakin detail analisis: semakin terlihat
ketidaksesuaian teori
Sains sebagai Proses Historis
Sejarah sains menunjukkan: perubahan paradigma
Contoh:
- teori
phlogiston → digantikan
- mekanika
Newton → direvisi oleh relativitas
Mengacu pada Thomas Kuhn: sains
bersifat paradigmatik
Setiap paradigma:
- bersifat
parsial
- tidak
lengkap
- selalu
menghadapi masalah baru
Observer Parsial dalam Sains
Dalam filsafat ada persona konseptual.
Dalam sains ada: pengamat parsial (partial observer)
Fungsinya:
- memilih
- menyaring
- mengamati
Pengamat ini:
- tidak
netral sepenuhnya
- bekerja
dalam batas tertentu
- bersifat
terbatas
Perbandingan dengan Filsafat Analitik
Tokoh seperti Bertrand Russell menekankan fakta
empiris sebagai dasar ilmu.
Namun Deleuze menolak bahwa fakta berdiri sendiri.
Sebaliknya: fakta bergantung pada kondisi yang memungkinkan kemunculannya
Contoh Modern: Realisme Struktural
Dalam karya James Ladyman dan Don Ross,
realitas dipahami sebagai:pola-pola relasi (real patterns)
Bukan objek yang fundamental, melainkan:
- struktur
hubungan
- pola
matematis
Namun Deleuze mengkritik: struktur ini masih hasil
pembatasan, bukan realitas terdalam
Peran Filsafat dan Sains
Akhirnya, hubungan keduanya dapat dirangkum:
Sains
- menetapkan
batas
- menciptakan
fungsi
- memetakan
dunia aktual
Filsafat
- mempertahankan
chaos
- menciptakan
konsep
- memahami
kondisi kemungkinan
Kesimpulan: Dua Cara Menghadapi Realitas
Baik filsafat maupun sains: adalah cara belajar, dan
adalah respon terhadap masalah
Namun:
- Sains
→ menstabilkan dunia
- Filsafat
→ membuka kemungkinan dunia
Keduanya saling melengkapi.
Jika sains kehilangan kreativitas: ia menjadi kaku
Jika filsafat kehilangan kedalaman: ia menjadi sekadar
opini
Maka: pemikiran yang utuh membutuhkan keduanya
:::
Bab 6: Filsafat dan Logika
Dalam bab sebelumnya, telah dibahas bagaimana Gilles
Deleuze dan Félix Guattari memahami sains sebagai suatu praktik
yang merespons chaos dengan cara melepaskan kecepatan tak hingga, lalu
membangun bidang referensi melalui batas, parameter, dan koordinat.
Dengan demikian, sains memungkinkan terbentuknya hubungan fungsional antara
variabel-variabel.
Dalam karya James Ladyman dan Don Ross,
bidang referensi ini didasarkan pada apa yang mereka sebut
sebagai “struktur dunia universal” (universal world structure). Struktur
ini berfungsi sebagai landasan ontologis bagi berbagai ilmu—mulai dari ekonomi,
biologi, hingga teori musik—yang memperoleh legitimasi sejauh mampu melacak
pola-pola fenomena secara konsisten dengan struktur tersebut.
Dengan demikian, sains berupaya menetapkan apa yang oleh
Deleuze dan Guattari disebut sebagai: “alasan niscaya” (necessary reason) yakni
relasi fungsional antara variabel bebas dan variabel terikat. Jika suatu pola
tidak dapat direduksi pada struktur dunia universal ini, maka ia kehilangan
referensinya—menjadi kosong secara ontologis. Contohnya, praktik membaca isi
perut (entrails) tidak lagi dianggap merujuk pada realitas karena tidak
memiliki hubungan dengan pola fundamental.
Filsafat dan Prinsip Alasan Cukup
Berbeda dari sains, filsafat memiliki tugas
utama: menciptakan konsep sebagai respons terhadap objektivitas masalah
Dalam kerangka ini, Deleuze dan Guattari tetap mengafirmasi
suatu bentuk dari Prinsip Alasan Cukup (Principle of Sufficient Reason /
PSR), namun dengan makna yang berbeda dari tradisi klasik.
Jika sains mencari:
- alasan
determinatif
- fakta
yang menjelaskan fenomena
maka filsafat mencari: alasan kontingen yang tidak
dapat direduksi pada fakta tertentu
Di sini, Deleuze menegaskan bahwa: disparitas
(difference-in-itself) adalah alasan cukup bagi segala yang tampak
Namun, alasan ini:
- tidak
dapat dijelaskan secara determinatif
- tidak
identik dengan fenomena aktual
Dengan kata lain: realitas terdalam tidak pernah sepenuhnya
tertangkap oleh fakta yang teramati.
Filsafat Analitik dan Penolakan PSR
Pada awal abad ke-20, filsafat analitik berkembang dengan
tokoh seperti Bertrand Russell dan G. E. Moore.
Tujuan utama mereka: menyelaraskan filsafat dengan metode
sains.
Untuk itu, mereka:
- menolak
Prinsip Alasan Cukup
- menerima
bahwa beberapa fakta “begitu saja benar” tanpa penjelasan
Langkah ini diambil untuk menghindari kesimpulan F. H.
Bradley, yang menyatakan bahwa relasi tidak nyata dan hanya “Yang Absolut” yang
benar-benar ada.
Namun, Deleuze dan Guattari menolak baik:
- idealisme
absolut Bradley
- maupun
empirisme faktual Russell dan Moore
Mereka menempuh jalan ketiga: alasan cukup itu
ada, tetapi bersifat tak terjelaskan dan non-determinatif.
Logika sebagai Reduksi Konsep
Menurut Deleuze dan Guattari: logika modern bersifat
reduksionis
Hal ini karena, sejak Gottlob Frege dan Russell:
konsep direduksi menjadi fungsi proposisional
Contoh:
- “x
adalah manusia” → fungsi
- menjadi
benar jika x diisi nilai tertentu
Dalam kerangka ini:
konsep = fungsi yang menghasilkan nilai benar/salah
Frege bahkan menyatakan: konsep adalah fungsi yang nilainya
selalu berupa nilai kebenaran.
Ontologi Variabel: Quine
Pemikiran ini dilanjutkan oleh Willard Van Orman
Quine dengan prinsip terkenal:
“To be is to be the value of a variable”
(“Ada berarti menjadi nilai dari suatu variabel”)
Artinya:
- sesuatu
dianggap ada jika dapat mengisi variabel dalam proposisi benar
Konsekuensinya: realitas direduksi menjadi himpunan
nilai yang memenuhi fungsi.
Masalah Referensi dan Nama Diri
Namun pendekatan ini menghadapi masalah serius, seperti
dalam teka-teki Frege:
- “Hesperus
adalah Hesperus” → tampak jelas
- “Hesperus
adalah Phosphorus” → informatif
Padahal keduanya merujuk pada objek yang sama (planet
Venus).
Masalah ini berkembang dalam teori nama diri, terutama dalam
karya Saul Kripke.
Kripke menunjukkan bahwa: dua nama dengan referensi sama
tidak selalu memiliki makna kognitif yang sama
Contoh:
- seseorang
bisa percaya “Paderewski adalah musisi”
- tapi
tidak tahu bahwa Paderewski juga seorang politisi
Batas Logika: Teorema Gödel
Krisis lebih dalam muncul melalui Kurt Gödel.
Teorema ketidaklengkapan Gödel menunjukkan bahwa:
- sistem
tidak bisa membuktikan konsistensinya sendiri
- ada
kebenaran yang tidak dapat dibuktikan
Artinya: tidak ada sistem logis yang sepenuhnya lengkap dan
konsisten.
Kritik Deleuze–Guattari terhadap Logika
Bagi Deleuze dan Guattari, semua masalah ini menunjukkan
satu hal:
Logika mengandaikan bahwa elemen-elemen:
- terpisah
- independen
- dapat
ditentukan secara jelas
Padahal dalam filsafat: komponen konsep bersifat tak
terpisahkan (inseparable)
Akibatnya: ketika konsep direduksi menjadi fungsi, ia
kehilangan:
- referensi
diri
- konsistensi
internal
- kekuatan
kreatif
Menuju Logika Transendental
Sebagai alternatif, Deleuze dan Guattari
mengusulkan: logika transendental
Logika ini:
- tidak
berangkat dari fakta yang sudah jadi
- tetapi
dari kondisi yang memungkinkan fakta muncul
Alih-alih menganalisis dunia yang sudah terbentuk, ia
menelusuri proses pembentukan dunia itu sendiri.
Zona Ketakterbedaan (Zone of Indiscernibility)
Dalam pendekatan ini, kondisi referensi tidak dipahami
sebagai:
- kumpulan
elemen terpisah
melainkan sebagai: zona ketakterbedaan
(indiscernibility)
Di sini:
- batas
antar elemen kabur
- relasi
bersifat internal dan dinamis
Logika vs Filsafat
Perbedaan mendasar:
Logika
- bekerja
pada keadaan yang sudah terbentuk
- berfokus
pada kebenaran proposisi
- bersifat
pengenalan (recognition)
Filsafat
- bekerja
pada kondisi pembentukan
- menciptakan
konsep
- memicu
pemikiran baru
Deleuze dan Guattari bahkan menyebut: pengenalan sebagai
bentuk berpikir paling dangkal.
Masalah Opini (Doxa)
Opini muncul dari:
- persepsi
bersama
- afeksi
bersama
Ia bersifat: sosial dan politis
Namun, opini:
- menstabilkan
dunia
- menghambat
pemikiran kreatif
Diskusi biasa: hanya memperkuat opini, tidak
menyentuh akar masalah
Peran Filsafat: Melampaui Opini
Tugas filsafat adalah: menentang opini (doxa), menciptakan
para-doxa (melampaui opini)
Filsafat:
- tidak
mencari konsensus
- tetapi
menciptakan kemungkinan baru
Peristiwa (Event) sebagai Kunci
Deleuze dan Guattari memperkenalkan konsep: event
(peristiwa)
Event:
- bukan
keadaan aktual
- tetapi
kondisi virtual yang memungkinkan keadaan itu
Ia:
- tak
berwujud
- tak
dapat dialami langsung
- namun
menentukan realitas
Hubungan Filsafat dan Sains
Akhirnya:
- Sains
→ turun ke dunia aktual (fungsi)
- Filsafat
→ naik ke kondisi virtual (konsep)
Keduanya diperlukan.
Seperti dikatakan: kita harus naik ke event dan turun ke
fakta
Kesimpulan: Logika, Filsafat, dan Pembelajaran
Deleuze dan Guattari menyimpulkan bahwa:
filsafat, sains, dan seni adalah tiga cara belajar
- Filsafat
→ menciptakan konsep
- Sains
→ menciptakan fungsi
- Seni
→ menciptakan sensasi
Ketiganya: tidak terpisah tetapi saling terkait
dalam proses memahami realitas
Buku What is Philosophy? sendiri: adalah
upaya membangun “pedagogi konsep” yakni cara belajar berpikir melalui
penciptaan konsep.
:::
Bab 7: Filsafat dan Seni
Memasuki bab terakhir ini, pembahasan mengenai filsafat seni
dalam pemikiran Gilles Deleuze dan Félix Guattari menjadi
titik temu dari berbagai gagasan utama yang telah dikembangkan sebelumnya.
Salah satu gagasan penting yang kembali muncul adalah “rasa”
(taste) sebagai kemampuan fundamental dalam penciptaan konsep.
Gagasan ini tidak muncul secara kebetulan. Ia berakar pada
pengaruh kuat David Hume, yang menempatkan “rasa” sebagai kemampuan untuk
membuat penilaian estetis. Bagi Hume, penilaian estetis:
- tidak
dapat direduksi menjadi reaksi emosional semata
- tidak
pula tunduk pada aturan universal yang kaku
Dengan demikian, rasa adalah kemampuan menilai yang
unik, yang berada di antara subjektivitas murni dan objektivitas universal.
Dalam konteks filsafat Deleuze dan Guattari, fungsi “rasa”
serupa: ia memungkinkan berbagai proses berpikir diselaraskan tanpa
direduksi menjadi hubungan fungsional seperti dalam logika Frege. Dengan kata
lain: konsep tidak dapat dipahami hanya sebagai fungsi yang menghasilkan nilai
benar/salah.
Konsep: Antara Fakta dan Hak
Sepanjang buku ini, telah ditunjukkan bahwa konsep memiliki
dua dimensi penting:
- Quid
facti (apa faktanya?)
→ berkaitan dengan elemen konkret yang membentuk konsep - Quid
juris (apa haknya?)
→ berkaitan dengan legitimasi konsep tersebut
Deleuze dan Guattari menegaskan bahwa konsep tidak bisa
direduksi hanya pada elemen faktualnya, namun juga tidak berdiri sebagai
entitas abstrak yang terpisah dari realitas. Untuk menjelaskan hal ini, mereka
beralih ke seni.
Seni sebagai Penyimpanan (Preservation)
Salah satu klaim paling mengejutkan dalam bab ini
adalah: “Seni adalah satu-satunya yang bertahan (preserved)”
Pernyataan ini tampak bertentangan dengan gagasan Deleuze
sebelumnya tentang:
- perubahan
terus-menerus
- becoming
(menjadi)
- ketidakstabilan
Namun, yang dimaksud “bertahan” di sini bukanlah identitas
tetap atau keabadian bentuk, melainkan sesuatu yang tetap ada
sebagai kekuatan hidup (A LIFE).
Nominalisme vs Realisme dalam Seni
Untuk memahami hal ini, Deleuze dan Guattari mengkaji dua
posisi klasik:
1. Nominalisme
- hanya
individu yang nyata
- konsep
hanyalah nama
Dalam seni: sesuatu disebut “seni” karena konteks sosial
Contoh:
- karya Marcel
Duchamp (urinal sebagai seni)
- karya Andy
Warhol
2. Realisme
- ada
konsep universal (keindahan, bentuk, dll.)
- objek
dianggap seni jika memenuhi kategori tersebut
Namun kedua posisi ini ditolak.
Apa yang Sebenarnya Dipertahankan?
Menurut Deleuze dan Guattari: yang dipertahankan dalam seni
bukan objek bukan pula konsep universal, melainkan “blok sensasi” (bloc of
sensations), yaitu:
- percept
(persepsi yang dibebaskan dari subjek)
- affect
(afeksi yang dibebaskan dari emosi personal)
Karya seni adalah: “makhluk sensasi” (being of
sensation)
Peran Seniman
Tugas seniman bukan:
- merepresentasikan
realitas
- meniru
dunia
Melainkan: mengekstrak A LIFE dari kehidupan yang
dialami
Artinya:
- dari
pengalaman → menjadi sensasi murni
- dari
emosi → menjadi affect
- dari
persepsi → menjadi percept
Konsep Saturasi (Virginia Woolf)
Untuk menjelaskan proses ini, Deleuze dan Guattari
mengutip Virginia Woolf: “Saturate every atom”
Saturasi berarti:
- mencapai
intensitas maksimum
- berada
di ambang chaos
- membuka
kemungkinan baru
Dalam seni: saturasi menciptakan kondisi munculnya affect
baru.
Perbandingan dengan Metafisika (Sider)
Berbeda dengan pendekatan Theodore Sider yang
melihat saturasi sebagai: kesesuaian bahasa dengan struktur realitas
Deleuze dan Guattari melihatnya sebagai: kondisi
sebelum realitas terbentuk
Zona Ketakterbedaan
Seni bekerja dalam: zona ketakterbedaan (zone of
indiscernibility)
Di sini:
- manusia
↔ hewan
- subjek
↔ objek
- bentuk
↔ materi
menjadi tidak terpisahkan.
Contoh:
- karya Francisco
Goya
- karya Auguste
Rodin
Seni vs Opini
Deleuze dan Guattari menegaskan: “Seni tidak memiliki
opini”
Karena:
- opini
berasal dari pengalaman bersama
- seni
melampaui pengalaman tersebut
Seni: mengguncang bahasa dan menciptakan “bahasa asing dalam
bahasa”
Refrain (Ritornello): Awal Seni
Konsep kunci dalam bab ini adalah:refrain (ritornello)
Contoh sederhana: anak yang bernyanyi dalam gelap untuk
menenangkan diri
Refrain:
- menciptakan
pusat stabil dalam chaos
- membentuk
“rumah” dari ketidakpastian
Seni dan Hewan
Deleuze dan Guattari bahkan menyatakan: seni mungkin dimulai
dari hewan
Contoh:
- burung
membuat wilayah dengan suara
- burung
Australia menyusun daun untuk kontras visual
Di sini muncul “kualitas sensori murni” yang menjadi
dasar seni
Tiga Bentuk Pemikiran
Pada akhirnya, mereka membedakan tiga bentuk utama:
1. Filsafat
- menciptakan
konsep
- mempertahankan
infinitas
2. Sains
- menciptakan
fungsi
- membatasi
infinitas
3. Seni
- menciptakan
sensasi
- mengembalikan
infinitas dalam bentuk terbatas
Mengapa Seni Satu-satunya yang “Bertahan”?
- Konsep
→ selalu berubah (tidak bertahan)
- Fungsi
→ hanya representasi (tidak bertahan)
- Seni
→ menghadirkan infinitas dalam bentuk konkret sehingga ia dapat “bertahan”
Refrain dan Pembelajaran
Belajar adalah menciptakan stabilitas dalam chaos
Seperti:
- melodi
dalam musik
- pola
dalam perilaku
Seni, Musik, dan Chaos
Dalam contoh akhir, Deleuze dan Guattari mengaitkan musik
dengan pemikiran Friedrich Nietzsche.
Musik:
- bersifat
dinamis
- tidak
dapat direduksi ke konsep
mampu mengekspresikan hal yang tidak bisa diungkapkan bahasa
Struktur Musik (Refrain)
Mereka membedakan:
- Air
(melodi utama)
- Motif
(pola berulang)
- Tema
(struktur komposisi)
Contoh bentuk:
- sonata
(struktur klasik)
Namun musik modern (misalnya Arnold Schoenberg):
membongkar struktur ini kembali ke chaos
Kesimpulan: Belajar sebagai Kehidupan
Pada akhirnya: hidup yang baik adalah hidup yang belajar
Belajr berarti:
- mengekstrak A
LIFE dari kehidupan sehari-hari
- bergerak
antara:
- opini
- chaos
Namun selalu ada risiko:
- kembali
ke opini
- tenggelam
dalam chaos
Penutup Inti
Filsafat, sains, dan seni bukanlah kategori terpisah,
melainkan: tiga dimensi dari satu proses: belajar
Dan inti dari semuanya adalah: A LIFE — kehidupan murni
yang melampaui pengalaman biasa.
:::
Kesimpulan: Filsafat sebagai Seni Hidup
“Terdapat retakan dalam segala sesuatu.
Dari situlah cahaya masuk.”
— Leonard Cohen
Dalam menutup karya What is Philosophy?, Gilles
Deleuze dan Félix Guattari menghadirkan suatu pembacaan yang
dapat disebut bersifat Aristotelian mengenai konteks di mana tiga bentuk
besar pemikiran—seni, sains, dan filsafat—harus ditempatkan. Mereka
mengaitkannya dengan gagasan klasik tentang hidup yang baik, sebagaimana
dirumuskan oleh Aristotle.
Bagi Aristoteles, hidup yang baik adalah hidup yang:
- menjaga
keseimbangan
- menghindari
kelebihan (excess)
- menghindari
kekurangan (deficiency)
Dengan kata lain, hidup yang baik adalah hidup yang berjalan
di antara dua ekstrem. Deleuze dan Guattari mengadopsi prinsip ini dalam
konteks pemikiran, dengan menyatakan bahwa: hidup yang berpikir
(thoughtful life) harus menghindari dua kutub ekstrem: chaos dan opini.
Antara Chaos dan Opini
Pada satu sisi terdapat chaos, yang bukan sekadar
kekacauan biasa, melainkan: kecepatan tak hingga yang mengganggu bahkan
kemungkinan berpikir itu sendiri.
Dalam kondisi ini:
- ide
muncul lalu hilang seketika
- pemikiran
tidak sempat terbentuk
- kesadaran
terfragmentasi
Sebagaimana dikatakan Deleuze dan Guattari: pemikiran dapat
“melarikan diri dari dirinya sendiri”
Di sisi lain terdapat opini (doxa), yang:
- memberikan
stabilitas
- membentuk
aturan
- melindungi
kita dari chaos
Opini berfungsi seperti: payung yang melindungi kita
dari hujan chaos
Namun, perlindungan ini memiliki harga: opini dapat
membekukan pemikiran dan menghambat kreativitas.
Tiga Bentuk Pemikiran sebagai Jalan Tengah
Di antara dua ekstrem ini, hadir tiga bentuk pemikiran:
- Filsafat
- Sains
- Seni
Ketiganya: berusaha membuka “retakan” dalam struktur opini,
sekaligus tidak tenggelam dalam chaos.
Mereka tidak menolak chaos sepenuhnya,
tetapi: membentuk chaos menjadi sesuatu yang dapat ditangani.
Konsep “Chaoid”
Deleuze dan Guattari memperkenalkan
istilah: chaoid yaitu: chaos yang telah diberi konsistensi
Dalam masing-masing bidang:
- Filsafat →
menciptakan konsep sebagai chaoid pemikiran
- Seni →
menciptakan sensasi sebagai chaoid inderawi
- Sains →
menciptakan fungsi sebagai chaoid referensial
Dengan demikian: ketiganya adalah cara berbeda untuk
“mengolah chaos”.
Vitalisme: Kehidupan sebagai Proses
Pada tahap ini, pemikiran Deleuze dan Guattari mengarah
pada vitalisme—pandangan bahwa kehidupan adalah kekuatan kreatif yang
mendasari segala sesuatu.
Namun vitalisme ini memiliki dua bentuk:
- Kehidupan
sebagai kekuatan yang bertindak
- Kehidupan
sebagai kesadaran internal
Deleuze dan Guattari lebih condong pada bentuk kedua:
kehidupan sebagai proses kontemplasi internal.
Kontemplasi dan Sintesis Pasif
Mengikuti David Hume, mereka berpendapat bahwa: sebelum
tindakan sadar terjadi, terdapat proses “kontemplasi diam”.
Proses ini:
- menyatukan
pengalaman
- membentuk
pola
- menghasilkan
“tanda”
Contoh:
- rasa
haus → hasil kontraksi pengalaman
- tindakan
mencari air → hasil sintesis aktif
Dengan demikian: tindakan berasal dari proses yang lebih
dalam dan tidak sadar.
Otak sebagai Bidang Imanensi
Dalam kerangka ini, “otak” tidak dipahami sebagai organ
biologis semata, melainkan bidang imanensi tempat kontemplasi terjadi.
Karena itu: “bukan manusia yang berpikir, melainkan otak
yang berpikir”
Manusia hanyalah: kristalisasi dari proses tersebut.
Kehidupan Inorganik dan “Microbrains”
Deleuze dan Guattari melangkah lebih jauh: tidak semua
kehidupan bersifat organik dan tidak semua organisme memiliki otak.
Namun: di mana pun ada proses, di situ ada “mikro-otak”
Ini berarti realitas penuh dengan proses kontemplasi kecil:
seluruh dunia adalah medan kehidupan.
Pembelajaran sebagai Inti Kehidupan
Kembali ke tema utama buku ini: belajar adalah inti
dari kehidupan yang berpikir
Namun belajar di sini bukan:
- menerima
pengetahuan
- menghafal
konsep
Melainkan: proses menciptakan hubungan dalam chaos.
Pedagogi Konsep
Deleuze dan Guattari menyebut ini sebagai: pedagogi
konsep
Yang berarti:
- filsafat
→ mengajarkan kita berpikir
- seni
→ mengajarkan kita merasakan
- sains
→ mengajarkan kita mengetahui
Namun semuanya: terjadi pada batas dengan chaos.
“Non-Pemikiran” sebagai Dasar Pemikiran
Paradoks penting muncul: pemikiran lahir dari
“non-pemikiran” Artinya:
- dari
sesuatu yang belum terdefinisi
- dari
wilayah yang tidak dapat dipastikan
Di titik ini: konsep, fungsi, dan sensasi menjadi tidak
terbedakan.
Hidup sebagai Proses Kreatif
Hidup yang baik, dalam kerangka ini, bukanlah:
- stabil
- pasti
- terstruktur
sepenuhnya
Melainkan hidup sebagai proses kreatif yang terus
belajar.
Hidup seperti ini:
- membuka
diri terhadap chaos
- tetapi
tidak tenggelam di dalamnya
- melampaui
opini tanpa sepenuhnya meninggalkannya.
Penutup Akhir: Menuju “Manusia yang Akan Datang”
Pada akhirnya, Deleuze dan Guattari menyarankan bahwa: hidup
yang berpikir dapat membuka kemungkinan baru bagi umat manusia.
Mereka menyebutnya: “people to come” (manusia yang akan
datang)
Ini bukan sekadar konsep utopis, tetapi kemungkinan nyata
dari transformasi cara hidup.
Sebagaimana pernah ditegaskan oleh Socrates: tujuan
hidup bukan sekadar hidup, tetapi hidup dengan baik.
Inti Kesimpulan
Seluruh buku ini dapat diringkas dalam satu gagasan
utama: hidup yang baik adalah hidup yang belajar berpikir. Dan
berpikir berarti:
- menciptakan
konsep (filsafat)
- membangun
fungsi (sains)
- merasakan
sensasi (seni)
Semua itu terjadi:
- di antara chaos dan opini
- dalam proses yang tak pernah selesai.
:::
Komentar
Posting Komentar