Kehidupan Pikiran - Hannah Arendt
The Life Of
The Mind -
Hannah Arendt.
Detail isi buku bisa diperiksa disini: https://a.co/d/fNCglkm
“Ia tidak pernah lebih banyak melakukan sesuatu selain
ketika tampaknya tidak melakukan apa-apa; dan tidak pernah merasa kurang
sendirian selain ketika ia sedang sendiri.”
— Cato
“Setiap dari kita bagaikan seorang yang melihat sesuatu
dalam mimpi dan mengira bahwa ia memahaminya dengan sempurna, lalu terbangun
dan mendapati bahwa ia tidak mengetahui apa-apa.”
— Plato, Statesman
[Overview]
Pendahuluan.
Berpikir tidaklah menghasilkan pengetahuan seperti halnya ilmu-ilmu pengetahuan. Ia juga tidak melahirkan kebijaksanaan praktis yang bisa langsung digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Berpikir tidak memberikan jawaban pasti atas teka-teki besar alam semesta, dan tidak pula secara langsung membekali kita dengan kemampuan untuk bertindak.
Demikianlah yang diungkapkan oleh Martin Heidegger—sebuah
pengingat bahwa aktivitas berpikir memiliki wilayahnya sendiri: bukan untuk
menghasilkan kepastian, melainkan untuk membuka ruang pemahaman yang lebih
dalam.
Judul yang saya berikan untuk rangkaian kuliah ini, The Life of the Mind, mungkin terdengar agak berlebihan. Bahkan, berbicara tentang “berpikir” sendiri terasa begitu berani, sehingga saya merasa perlu memulainya bukan sekadar dengan permintaan maaf, melainkan dengan suatu penjelasan. Sebenarnya, topik ini tidak memerlukan pembenaran—terlebih dalam konteks kehormatan yang melekat pada Gifford Lectures. Yang justru mengusik saya adalah kenyataan bahwa saya mencoba membahasnya, sementara saya tidak pernah mengklaim diri sebagai seorang filsuf, apalagi termasuk dalam apa yang oleh Kant, dengan sedikit ironi, disebut sebagai “pemikir profesional.”
Maka pertanyaannya adalah: bukankah seharusnya persoalan ini
saya serahkan saja kepada para ahli? Jawabannya terletak pada dorongan yang
membuat saya meninggalkan wilayah yang relatif aman—yakni ilmu dan teori
politik—untuk memasuki persoalan-persoalan yang jauh lebih mendalam dan
menggetarkan ini.
Secara faktual, ketertarikan saya pada aktivitas mental
memiliki dua sumber yang berbeda. Dorongan yang paling langsung muncul ketika
saya menghadiri persidangan Adolf Eichmann di Yerusalem. Dalam laporan saya
tentang peristiwa itu, saya menggunakan ungkapan “banalitas kejahatan.”
Ungkapan ini bukanlah sebuah doktrin atau teori, meskipun saya samar-samar
menyadari bahwa ia bertentangan dengan tradisi panjang pemikiran kita—baik
dalam sastra, teologi, maupun filsafat—tentang hakikat kejahatan.
Selama ini kita memahami kejahatan sebagai sesuatu yang
bersifat iblis: diwujudkan dalam figur seperti Setan atau Lucifer, malaikat
yang jatuh karena kesombongannya. Kita diajarkan bahwa pelaku kejahatan
digerakkan oleh iri hati, kebencian, kelemahan, atau bahkan hasrat jahat
terhadap kebaikan itu sendiri. Namun apa yang saya temui di hadapan saya sangat
berbeda, dan tetap merupakan kenyataan yang tak terbantahkan. Saya mendapati
suatu kedangkalan yang mencolok pada diri pelakunya—kedangkalan yang membuat mustahil
menelusuri kejahatan besar yang ia lakukan kepada motif atau akar yang dalam.
Tindakannya memang mengerikan, tetapi pelakunya sendiri
tampak biasa saja: tidak iblis, tidak luar biasa. Ia tidak menunjukkan
keyakinan ideologis yang kuat maupun niat jahat yang jelas. Yang tampak justru
sesuatu yang sepenuhnya negatif: bukan kebodohan, melainkan ketiadaan berpikir.
Dalam sistem yang terstruktur—baik dalam rezim Nazi maupun dalam prosedur
pengadilan—ia dapat berfungsi dengan baik. Namun ketika dihadapkan pada situasi
yang menuntut penilaian mandiri, ia menjadi tak berdaya. Bahasa klise yang
digunakannya menghasilkan kesan yang hampir absurd.
Kita sendiri sebenarnya sering menggunakan klise, ungkapan
baku, dan pola pikir standar untuk melindungi diri dari kenyataan—dari tuntutan
untuk benar-benar memikirkan apa yang terjadi di sekitar kita. Jika kita harus
menanggapi setiap peristiwa dengan kesadaran penuh, kita mungkin akan
kelelahan. Perbedaan Eichmann dengan kita bukan pada jenisnya, melainkan pada
tingkatnya: ia tampaknya sama sekali tidak menyadari adanya tuntutan untuk
berpikir.
Dari sinilah muncul pertanyaan yang mengusik saya:
mungkinkah kejahatan terjadi bukan karena motif jahat, melainkan karena
ketiadaan berpikir? Apakah kemampuan kita membedakan yang benar dan yang salah
berkaitan dengan kemampuan kita untuk berpikir? Tentu bukan dalam arti bahwa
berpikir secara langsung menghasilkan tindakan baik—kebajikan tidak bisa
diajarkan seperti keterampilan. Yang dapat diajarkan hanyalah kebiasaan, dan
kita tahu betapa cepat kebiasaan itu bisa hilang ketika keadaan berubah.
Ketiadaan berpikir yang saya temui tidak berasal dari lupa
akan nilai-nilai, bukan pula dari ketidakmampuan intelektual. Ia bahkan tampak
dalam hal-hal yang sama sekali tidak berkaitan dengan moralitas. Maka
pertanyaan yang lebih mendalam pun muncul: apakah aktivitas berpikir itu
sendiri—kebiasaan untuk menelaah segala sesuatu—dapat menjadi kondisi yang
mencegah manusia melakukan kejahatan?
Dari sinilah perhatian saya pada kehidupan pikiran bermula.
Namun ada juga sumber kedua: keraguan yang muncul setelah saya menyelesaikan
karya tentang vita activa—kehidupan aktif. Saya menyadari bahwa konsep
tersebut sejak awal dirumuskan oleh mereka yang justru mengutamakan kehidupan
kontemplatif. Dalam tradisi ini, kehidupan aktif dianggap penuh kerja dan
kesibukan, sementara kehidupan kontemplatif dipandang sebagai keadaan tenang,
bahkan sebagai bentuk tertinggi kehidupan manusia.
Sejak zaman Plato dan Aristoteles, berpikir dipahami sebagai
jalan menuju kontemplasi—yakni suatu keadaan diam, di mana aktivitas mental
mencapai puncaknya dan berhenti. Dalam tradisi Kristen, berpikir berubah
menjadi meditasi, dan meditasi menuju kontemplasi sebagai pengalaman rohani. Di
zaman modern, berpikir menjadi alat ilmu pengetahuan. Namun sekalipun menjadi
sangat aktif, ia tetap diarahkan pada pengetahuan.
Yang menarik bagi saya adalah pertanyaan: jika benar bahwa
seseorang bisa paling aktif justru ketika ia “tidak melakukan apa-apa,” seperti
dikatakan Cato, maka apa sebenarnya yang kita lakukan ketika kita berpikir? Dan
di mana kita berada ketika kita sendirian bersama diri kita sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita ke wilayah yang dulu
disebut metafisika—sebuah bidang yang kini sering dianggap tidak relevan. Namun
sebenarnya, krisis metafisika bukan hanya datang dari kritik luar, melainkan
juga dari para filsuf sendiri yang menyatakan “akhir filsafat.” Yang berakhir
bukanlah pertanyaan-pertanyaan itu sendiri, melainkan cara lama dalam
merumuskannya.
Apa yang runtuh adalah pembedaan lama antara dunia indrawi
dan dunia suprindrawi—gagasan bahwa yang tak terlihat lebih nyata daripada yang
tampak. Ketika dunia “yang benar” dihapus, seperti dikatakan Nietzsche, dunia
“yang tampak” pun ikut kehilangan makna. Dengan runtuhnya kerangka ini, cara
kita memahami dunia pun ikut goyah.
Namun situasi ini juga membawa kemungkinan baru. Kita dapat
melihat kembali masa lalu tanpa beban tradisi, dan memahami
pengalaman-pengalaman lama dengan cara yang segar. Di sisi lain, kita juga
menghadapi risiko: kehilangan kemampuan untuk memahami hal-hal yang tidak
terlihat—dan bahkan kehilangan hubungan dengan masa lalu itu sendiri.
Dalam konteks ini, satu hal menjadi jelas: kemampuan
berpikir bukan milik segelintir orang. Jika berpikir berkaitan dengan kemampuan
membedakan baik dan buruk, maka ia harus menjadi tuntutan bagi setiap manusia
yang waras, tanpa memandang kecerdasan atau pendidikan.
Di sinilah pentingnya pembedaan yang dibuat oleh Kant antara
rasio (reason) dan intelek (intellect). Yang satu berkaitan
dengan pencarian makna, yang lain dengan pengetahuan. Keduanya berbeda secara
mendasar. Kebutuhan berpikir bukanlah kebutuhan akan kebenaran, melainkan
kebutuhan akan makna. Dan makna tidak sama dengan kebenaran.
Kesalahan terbesar dalam tradisi metafisika adalah
memperlakukan makna seolah-olah sama dengan kebenaran. Padahal, berpikir tidak
bertujuan menghasilkan kebenaran seperti ilmu pengetahuan, melainkan memahami
makna dari pengalaman manusia.
I. Penampakan (Appearance)
Apakah Tuhan pernah menilai kita berdasarkan apa yang
tampak di permukaan? Saya menduga—ya, demikian adanya.
Demikian ungkapan W. H. Auden, yang secara halus menggugah
kita untuk mempertanyakan kembali anggapan umum bahwa penampakan hanyalah
sesuatu yang dangkal. Bisa jadi, justru melalui apa yang tampak, sesuatu yang
lebih dalam sedang disingkapkan.
1. Sifat Fenomenal Dunia
Dunia tempat manusia dilahirkan dipenuhi oleh berbagai
hal—yang alami maupun buatan, yang hidup maupun yang mati, yang sementara
maupun yang seolah abadi. Namun semua itu memiliki satu kesamaan: semuanya menampakkan
diri. Artinya, semuanya hadir untuk dilihat, didengar, disentuh, dirasakan,
dan dicium—untuk dipersepsi oleh makhluk hidup yang memiliki indra.
Tidak ada sesuatu pun yang dapat “menampak” jika tidak ada
yang menerimanya. Kata “penampakan” tidak akan bermakna bila tidak ada makhluk
hidup yang mampu mengenali, memahami, dan merespons apa yang hadir di
hadapannya—baik dengan menjauh atau mendekat, menerima atau menolak, memuji
atau mencela. Dalam dunia ini, tempat kita datang dari ketiadaan dan pergi
kembali ke ketiadaan, yang ada (Being) dan yang tampak (Appearing)
adalah satu kesatuan.
Segala sesuatu—baik benda mati maupun makhluk
hidup—bergantung dalam keberadaannya pada kehadiran makhluk yang hidup. Tidak
ada sesuatu pun yang benar-benar ada tanpa adanya “penonton.” Dengan kata lain,
tidak ada yang hadir secara tunggal; segala sesuatu selalu hadir bagi
seseorang. Bukan “manusia” secara tunggal, melainkan manusia-manusia
yang mendiami bumi ini. Keberagaman (pluralitas) adalah hukum dasar kehidupan
di dunia.
Makhluk yang memiliki indra—manusia dan hewan—bukan hanya
penerima penampakan, tetapi juga merupakan penampakan itu sendiri. Mereka bisa
melihat dan dilihat, mendengar dan didengar, menyentuh dan disentuh. Karena
itu, mereka tidak pernah hanya menjadi subjek semata; mereka juga objek bagi
yang lain. Apa yang kita sebut sebagai “kesadaran diri” tidak cukup untuk
menjamin kenyataan. Bahkan pernyataan terkenal Descartes—aku berpikir, maka
aku ada—tidak sepenuhnya memadai, karena pikiran itu sendiri tidak “tampak”
kecuali jika diwujudkan dalam kata-kata yang dapat didengar atau dibaca oleh
orang lain.
Dilihat dari sudut pandang dunia, setiap makhluk hidup lahir
dengan kesiapan untuk hidup dalam dunia di mana keberadaan dan penampakan tidak
terpisahkan. Makhluk hidup bukan sekadar berada di dalam dunia, tetapi bagian
dari dunia itu sendiri—karena mereka sekaligus melihat dan dilihat.
Mungkin tidak ada yang lebih menakjubkan di dunia ini selain
keragaman penampakannya yang hampir tak terbatas—warna, suara, aroma—yang
memberi pengalaman estetis luar biasa, meskipun hal ini jarang dibahas oleh
para filsuf. Setiap spesies hewan bahkan hidup dalam dunia yang berbeda-beda,
karena perbedaan indra yang mereka miliki. Namun, semua makhluk hidup berbagi
satu hal: mereka hidup dalam dunia yang menampak, dan mereka sendiri adalah
makhluk yang muncul dan menghilang. Dunia sudah ada sebelum mereka lahir, dan
akan tetap ada setelah mereka pergi.
Hidup berarti berada dalam dunia yang mendahului kelahiran
kita dan akan melampaui kematian kita. Dalam kerangka ini, muncul dan lenyapnya
sesuatu menjadi peristiwa paling mendasar—yang sekaligus membentuk pengalaman
kita tentang waktu. Rentang hidup yang terbatas menentukan bagaimana kita
merasakan waktu itu sendiri. Bagi seorang anak kecil, satu tahun terasa sangat
panjang; namun bagi orang dewasa, waktu terasa semakin cepat berlalu—hingga
pada masa tua, ia kembali terasa melambat karena kita mulai menyadari batas
akhir kehidupan.
Di samping waktu subjektif ini, ada waktu “objektif”—waktu
dunia—yang tidak berubah. Dunia seolah tidak memiliki awal maupun akhir, karena
selalu ada sebelum dan sesudah kita.
Berbeda dengan benda mati yang hanya “ada,” makhluk hidup
memiliki dorongan untuk menampakkan diri. Mereka hadir seperti aktor di
atas panggung. Dunia adalah panggung bersama bagi semua makhluk hidup, meskipun
setiap makhluk mengalaminya secara berbeda. Segala sesuatu yang tampak selalu
“tampak bagi seseorang”—dan karena itu, selalu membawa perspektif tertentu.
Setiap penampakan, karena dilihat oleh banyak sudut pandang,
selalu memiliki semacam “selubung”—sesuatu yang bisa saja menyembunyikan atau
mengubah hakikatnya. Dengan kata lain, apa yang tampak tidak pernah sepenuhnya
tunggal; ia selalu dipersepsi secara beragam oleh banyak pengamat.
Dorongan untuk menampilkan diri ini dimiliki baik oleh
manusia maupun hewan. Seperti aktor yang membutuhkan panggung, sesama aktor,
dan penonton, setiap makhluk hidup membutuhkan dunia sebagai tempat tampil,
makhluk lain untuk berinteraksi, dan pengamat untuk mengakui keberadaannya.
Dari sudut pandang penonton, kehidupan setiap individu
tampak sebagai proses: berkembang menuju puncak, mencapai masa kejayaan, lalu
perlahan menurun hingga akhirnya lenyap. Dalam kehidupan sehari-hari maupun
dalam ilmu pengetahuan, kita cenderung memahami makhluk hidup berdasarkan momen
ketika ia “paling tampak”—ketika sifat-sifatnya paling jelas terlihat. Hal ini
menunjukkan bahwa realitas, pada dasarnya, bersifat fenomenal—yakni berkaitan
dengan penampakan.
Pemahaman ini sangat penting untuk membahas aktivitas
mental—seperti berpikir—yang justru menarik diri dari dunia penampakan dan
kembali ke dalam diri. Namun ini menimbulkan persoalan: kita bukan sekadar
pengamat seperti makhluk ilahi yang berdiri di luar dunia. Kita adalah bagian
dari dunia itu sendiri. Kita muncul dan menghilang seperti segala sesuatu
lainnya.
Maka, ketika kita berpikir—ketika kita “menutup mata
indrawi” untuk membuka “mata pikiran”—kita tidak benar-benar keluar dari dunia.
Seperti yang pernah dikatakan Merleau-Ponty, kita hanya bisa melarikan diri
dari keberadaan ke dalam keberadaan itu sendiri. Karena itu, kita juga tidak
bisa benar-benar melarikan diri dari penampakan.
Di sinilah masalahnya muncul: apakah aktivitas berpikir—yang
tidak terlihat dan tidak bersuara—memang dimaksudkan untuk “menampak”? Ataukah
ia memang tidak pernah bisa sepenuhnya menemukan tempatnya dalam dunia yang
serba tampak ini?
2. (Ada) yang Sejati dan (Sekadar) Penampakan: Teori Dua
Dunia
Kita mungkin bisa menemukan petunjuk awal yang menenangkan
jika menoleh pada pembedaan metafisik lama antara Ada yang sejati dan penampakan
semata. Menariknya, pembedaan ini sendiri sebenarnya tetap bertumpu pada
keutamaan penampakan. Untuk menemukan apa yang sungguh-sungguh ada, seorang
filsuf harus meninggalkan dunia penampakan—dunia yang sebenarnya menjadi tempat
asal dan kediaman alaminya. Seperti Parmenides yang digambarkan terangkat
melampaui batas siang dan malam menuju jalan ilahi yang jauh dari kehidupan
manusia, atau seperti Plato dalam alegori guanya, filsuf berbalik dari dunia
yang tampak menuju sesuatu yang dianggap lebih benar.
Namun, dunia penampakan tetaplah yang pertama. Justru karena
dunia ini menampak, pikiran manusia terdorong untuk menganggap bahwa
pasti ada sesuatu yang tidak tampak di baliknya. Seperti dikatakan Kant, jika
kita memandang dunia sebagai penampakan, maka itu sendiri menunjukkan adanya
sesuatu yang bukan penampakan. Dengan kata lain, ketika filsuf meninggalkan
dunia indrawi dan berbalik ke dalam kehidupan pikiran, ia tetap mengambil
petunjuk dari dunia penampakan itu sendiri—ia mencari sesuatu yang dapat
menjelaskan dasar kebenarannya.
Kebenaran ini—yang oleh tradisi Yunani disebut aletheia,
sesuatu yang tersingkap—pada akhirnya tetap dipahami sebagai suatu “penampakan
lain”: sesuatu yang sebelumnya tersembunyi, tetapi kini hadir dalam bentuk yang
lebih tinggi. Dengan demikian, penampakan tetap mendominasi. Pikiran manusia,
meskipun dapat menarik diri dari apa yang tampak saat ini, tetap terarah pada
penampakan. Ia selalu mengharapkan bahwa sesuatu akan “menampakkan diri”
kepadanya.
Hal serupa juga berlaku dalam ilmu pengetahuan, terutama
ilmu modern. Sains berangkat dari asumsi bahwa “yang ada” dan “yang tampak”
tidak selalu sama, sehingga perlu usaha untuk menemukan kebenaran di balik
penampakan. Namun, ilmuwan pun tetap bergantung pada penampakan—baik dengan
membedah tubuh untuk melihat bagian dalamnya, maupun dengan menggunakan alat
canggih untuk menangkap sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh indra biasa.
Baik dalam filsafat maupun sains, gagasan dasarnya sama:
penampakan pasti memiliki dasar yang bukan penampakan. Ini sebenarnya merupakan
perluasan dari pengalaman sederhana bahwa segala sesuatu tumbuh dari sesuatu
yang tersembunyi—dari kegelapan menuju cahaya. Namun kemudian diasumsikan bahwa
“dasar” ini memiliki tingkat realitas yang lebih tinggi daripada apa yang
tampak di permukaan.
Tak heran jika para filsuf sering meremehkan penampakan
sebagai sesuatu yang “sekadar tampak.” Demikian pula, keberhasilan sains dalam
menyingkap apa yang tersembunyi sering kali justru mengorbankan nilai dari apa
yang tampak itu sendiri.
Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, penampakan memiliki
kedudukan yang tak tergoyahkan. Baik filsuf maupun ilmuwan tidak pernah bisa
sepenuhnya melepaskan diri darinya. Mereka selalu harus kembali ke dunia yang
tampak ini, yang tidak pernah berubah oleh apa pun yang mereka temukan dalam
refleksi atau eksperimen. Bahkan konsep-konsep aneh dalam fisika modern tidak
mengubah cara kita sehari-hari memahami dunia.
Namun, tradisi filsafat telah lama menempatkan “yang ada”
dan “kebenaran” di atas penampakan. Dasar yang tersembunyi dianggap lebih nyata
daripada permukaan yang terlihat. Pertanyaan klasiknya adalah: mengapa sesuatu
muncul sebagaimana adanya? Apa yang membuatnya tampil dalam bentuk tertentu?
Tradisi filsafat kemudian mengubah “dasar” ini menjadi
“sebab,” dan sebab tersebut dianggap lebih tinggi daripada akibatnya. Dari
sinilah muncul kecenderungan untuk meremehkan apa yang tampak, karena dianggap
hanya hasil dari sesuatu yang lebih mendasar. Ini mungkin salah satu kekeliruan
metafisik yang paling tua dan paling bertahan lama.
Namun, ini bukan sekadar kesalahan sewenang-wenang. Memang
benar bahwa penampakan tidak pernah sepenuhnya menyingkap apa yang ada di
baliknya. Bahkan, penampakan tidak hanya mengungkap, tetapi juga
menyembunyikan. Seperti dikatakan, tidak ada sesuatu pun yang memperlihatkan
dirinya tanpa sekaligus menyembunyikan sisi lainnya.
Penampakan membuka sekaligus melindungi—dan bagi makhluk
hidup, perlindungan ini justru sangat penting, karena permukaan tubuh
menyembunyikan organ-organ vital di dalamnya.
Kelemahan logis dari teori dua dunia ini sebenarnya sudah
lama disadari. Filsuf Gorgias pernah merumuskannya dengan tajam: jika sesuatu
benar-benar “ada” tetapi tidak tampak, maka ia tidak dapat diketahui; sementara
jika sesuatu tampak tetapi tidak benar-benar “ada,” maka ia pun kehilangan
kekuatannya.
Perkembangan sains modern memperkuat persoalan ini. Memang,
sains berhasil menyingkap apa yang tersembunyi di balik penampakan. Namun
hasilnya justru membingungkan: manusia ternyata tidak bisa hidup dalam dunia
“sebab-sebab” semata. Kita tidak bisa sepenuhnya menjelaskan realitas ilmiah
dalam bahasa sehari-hari, apalagi hidup di dalamnya.
Seolah-olah, ketika “yang ada” benar-benar disingkap, ia
justru menyingkirkan dunia penampakan. Namun pada kenyataannya, tidak seorang
pun dapat hidup dalam dunia yang tidak menampakkan dirinya.
3. Pembalikan Hierarki Metafisika: Nilai dari Permukaan
Dunia keseharian—yang tidak pernah benar-benar dapat
ditinggalkan oleh ilmuwan maupun filsuf—memang mengenal kesalahan dan ilusi.
Namun, menghilangkan kesalahan atau membongkar ilusi tidak pernah membawa kita
keluar dari wilayah penampakan. Ketika suatu ilusi runtuh, yang terjadi
bukanlah kita mencapai sesuatu di luar penampakan, melainkan munculnya
penampakan baru yang menggantikannya. Kehilangan satu “kebenaran semu” selalu
berarti memperoleh “kebenaran” lain. Tidak ada ilusi tanpa penampakan; setiap ilusi
selalu berpasangan dengan suatu bentuk penampakan.
Dalam konteks ini, sulit membayangkan bahwa sains
modern—meskipun begitu gigih mencari kebenaran di balik penampakan—akan mampu
sepenuhnya mengatasi persoalan ini. Sebab ilmuwan sendiri tetap merupakan
bagian dari dunia penampakan, walaupun sudut pandangnya mungkin berbeda dari
pandangan sehari-hari.
Secara historis, keraguan ini sebenarnya telah melekat sejak
awal perkembangan ilmu modern. Salah satu gagasan penting yang muncul sejak
abad ke-17 adalah keyakinan akan kemajuan tanpa batas—sebuah keyakinan yang
kemudian menjadi semacam “dogma” dalam dunia ilmiah. Namun, meskipun kita
percaya bahwa pengetahuan akan terus berkembang, hampir tidak ada yang
benar-benar yakin bahwa kita akan mencapai kebenaran mutlak.
Kesadaran akan keterbatasan ini paling terasa dalam
ilmu-ilmu yang mempelajari manusia secara langsung—seperti biologi, sosiologi,
dan psikologi. Pendekatan umum dalam bidang-bidang ini adalah memahami segala
penampakan sebagai fungsi dari proses kehidupan. Pendekatan ini, yang disebut
fungsionalisme, memiliki keunggulan karena menawarkan pandangan dunia yang
utuh. Namun, secara tidak langsung, ia tetap mempertahankan warisan lama
metafisika: bahwa ada sesuatu yang lebih “esensial” di balik penampakan.
Hanya saja, kini penampakan tidak lagi diremehkan sebagai
sesuatu yang sekunder, melainkan dianggap sebagai kondisi yang diperlukan bagi
proses-proses kehidupan yang lebih mendasar di dalam organisme.
Namun, pandangan ini belakangan mulai dipertanyakan dengan
cara yang sangat menarik. Bagaimana jika justru sebaliknya? Bagaimana jika
penampakan bukanlah untuk melayani proses kehidupan, melainkan proses
kehidupanlah yang ada demi penampakan? Jika kita hidup dalam dunia yang
menampak, bukankah lebih masuk akal bahwa makna justru terletak pada apa yang
tampak di permukaan?
Seorang ahli biologi dan zoologi Swiss, Adolf Portmann,
melalui berbagai penelitiannya tentang bentuk-bentuk kehidupan hewan,
menunjukkan bahwa fakta-fakta justru tidak mendukung pandangan fungsional yang
sederhana. Ia menemukan bahwa penampakan tidak bisa dijelaskan hanya sebagai
alat untuk bertahan hidup atau melestarikan spesies. Sebaliknya, tampaknya
organ-organ internal justru ada untuk menghasilkan dan mempertahankan
penampakan luar. Sebelum semua fungsi biologis, ada fakta dasar: makhluk hidup menampakkan
diri.
Portmann juga menunjukkan betapa kayanya bentuk dan warna
dalam dunia makhluk hidup—sesuatu yang sering kali tampak “berlebihan” jika
dilihat dari sudut pandang fungsi semata. Misalnya, bulu burung yang tidak
hanya berfungsi untuk melindungi tubuh, tetapi juga membentuk keindahan visual
yang nilai utamanya justru terletak pada penampilannya.
Secara umum, bentuk yang murni fungsional justru jarang
ditemukan di alam. Karena itu, keliru jika kita hanya berfokus pada proses
internal dan menganggap apa yang tampak sebagai sesuatu yang sekunder.
Pandangan yang dominan selama ini menganggap bahwa bentuk luar hanya berfungsi
melindungi bagian dalam, membantu gerak, mencari makan, menghindari musuh, dan
menemukan pasangan. Namun Portmann justru mengusulkan pembalikan: yang penting
bukanlah apa sesuatu itu, melainkan bagaimana ia tampak.
Ini berarti bahwa bentuk luar makhluk hidup harus dipahami
sebagai sesuatu yang berhubungan dengan mata yang melihatnya. Yang melihat dan
yang dilihat membentuk satu kesatuan. Dengan cara pandang ini, Portmann
membedakan antara penampakan “asli” (yang muncul dengan sendirinya) dan
penampakan “tidak asli” (yang hanya terlihat jika kita membongkar atau
merusaknya, seperti organ dalam).
Ada dua hal utama yang memperkuat pembalikan ini. Pertama,
perbedaan yang sangat mencolok antara bagian luar dan bagian dalam makhluk
hidup. Bagian luar sangat beragam, indah, dan teratur—bahkan sering simetris.
Kita dapat membedakan satu individu dari individu lainnya berdasarkan
penampilan luar. Sebaliknya, bagian dalam tampak seragam, tidak menarik, dan
sulit dibedakan. Jika organ dalam terlihat, mereka tampak seperti susunan acak
yang tidak memiliki keindahan. Bahkan antar spesies pun sering sulit dibedakan
hanya dari organ dalamnya.
Ini menunjukkan bahwa bagian dalam sebenarnya tidak pernah
benar-benar “menampak.” Ia justru disembunyikan oleh bagian luar, yang
berfungsi melindungi dan menutupinya. Jika bagian dalam benar-benar tampak,
mungkin semua makhluk akan terlihat sama.
Kedua, terdapat dorongan alami dalam makhluk hidup yang
disebut Portmann sebagai dorongan untuk menampilkan diri. Dorongan ini
tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh kebutuhan bertahan hidup atau
reproduksi. Ia melampaui kebutuhan biologis dasar.
Temuan ini menunjukkan bahwa apa pun yang dapat melihat,
ingin dilihat; yang dapat mendengar, ingin didengar; yang dapat menyentuh,
ingin disentuh. Seolah-olah semua yang hidup tidak hanya mampu menampak, tetapi
juga ingin menampak—ingin hadir dalam dunia penampakan sebagai individu
yang unik.
Dorongan untuk menampilkan diri ini mencapai puncaknya dalam
diri manusia.
Pembalikan yang diajukan Portmann ini memiliki implikasi
yang sangat besar. Ia menunjukkan adanya apa yang disebut sebagai “nilai
permukaan”—bahwa penampakan memiliki kekuatan ekspresi yang jauh lebih besar
dibandingkan proses internal yang tersembunyi.
Namun di sini muncul kesulitan bahasa. Kata “ekspresi”
biasanya mengacu pada sesuatu yang berasal dari dalam—pikiran, perasaan, atau
ide. Padahal, dalam konteks ini, penampakan tidak “mengungkapkan” sesuatu yang
tersembunyi di dalam. Ia hanya menampilkan dirinya sendiri.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa standar penilaian kita
selama ini—yang diwarisi dari metafisika—mungkin keliru. Kita terbiasa
menganggap bahwa yang penting adalah apa yang tersembunyi di dalam, sementara
yang tampak hanyalah permukaan yang dangkal. Namun kenyataannya bisa jadi
sebaliknya: apa yang tampak justru memiliki makna yang lebih mendasar.
Sayangnya, ketika kita mencoba mengoreksi cara berpikir ini,
kita justru terbentur oleh keterbatasan bahasa kita sendiri.
4. Tubuh dan Jiwa; Jiwa dan Pikiran
Kesulitan yang kita hadapi di sini ternyata bukan sekadar
masalah istilah. Ia berkaitan erat dengan keyakinan kita tentang kehidupan
batin—tentang hubungan antara tubuh dan jiwa. Kita cenderung sepakat bahwa
bagian dalam tubuh tidak pernah benar-benar “menampak” dengan sendirinya. Namun
ketika kita berbicara tentang kehidupan batin yang tampak melalui penampilan
luar, yang kita maksud sebenarnya adalah kehidupan jiwa.
Hubungan antara “dalam” dan “luar” yang berlaku bagi tubuh
tidak sepenuhnya berlaku bagi jiwa, meskipun kita sering menggunakan bahasa
yang sama—mengatakan bahwa kehidupan psikis berada “di dalam” diri kita. Bahasa
yang kita gunakan untuk memahami pikiran pun sebenarnya bersifat metaforis:
kata-kata yang kita pakai dalam filsafat berasal dari pengalaman indrawi, lalu
“dipindahkan” maknanya untuk menjelaskan sesuatu yang tidak tampak.
Seperti yang dikatakan John Locke, hanya melalui pemindahan
makna semacam ini manusia dapat memahami aktivitas dalam dirinya yang tidak
memiliki penampakan lahiriah. Dalam hal ini, Locke masih berpegang pada asumsi
lama bahwa jiwa dan pikiran adalah hal yang sama—keduanya tidak terlihat dan
berlawanan dengan tubuh.
Namun, jika diperiksa lebih dalam, ternyata apa yang berlaku
bagi pikiran tidak berlaku bagi jiwa. Aktivitas pikiran memang hanya bisa
“muncul” melalui bahasa—bahkan ketika kita diam, berpikir tetap berlangsung
sebagai dialog batin tanpa suara. Tetapi kehidupan jiwa justru lebih tepat
diungkapkan melalui tatapan, suara, atau gerak tubuh, bukan melalui kata-kata.
Ketika kita berbicara tentang perasaan atau pengalaman
batin, yang muncul bukanlah pengalaman itu sendiri, melainkan apa yang kita
pikirkan tentang pengalaman tersebut. Perasaan, emosi, dan hasrat tidak pernah
benar-benar menjadi bagian dari dunia penampakan seperti halnya pikiran. Yang
tampak hanyalah hasil dari refleksi kita atas perasaan tersebut.
Misalnya, ketika seseorang menunjukkan kemarahan, itu bukan
kemarahan murni yang ia rasakan, melainkan kemarahan yang telah “dipilih” untuk
ditampilkan. Dengan kata lain, ekspresi emosi adalah bentuk presentasi
diri—kita memutuskan apa yang pantas ditampakkan.
Emosi yang kita rasakan tidak dimaksudkan untuk tampil dalam
bentuk aslinya, sama seperti organ dalam tubuh yang tidak dimaksudkan untuk
terlihat. Memang, emosi mendorong kita untuk menampakkannya, tetapi cara ia
muncul—melalui gerak, suara, atau ekspresi—tidak berbeda jauh dari cara hewan
mengekspresikan perasaannya.
Berbeda dengan itu, aktivitas pikiran sejak awal sudah
terbentuk dalam bahasa. Pikiran tidak bisa dipisahkan dari kata-kata, dan
kata-kata pada dasarnya ditujukan untuk dipahami oleh orang lain. Pikiran dan
bahasa saling mendahului dan saling mengandaikan satu sama lain.
Meskipun semua aktivitas mental tampak menarik diri dari
dunia penampakan, penarikan ini bukan menuju “bagian dalam” jiwa atau diri.
Pikiran tetap membutuhkan metafora untuk menjembatani dunia indrawi dengan
dunia makna yang tidak dapat langsung ditangkap oleh indra.
Sebaliknya, pengalaman jiwa sangat terkait dengan tubuh.
Berbicara tentang “kehidupan batin” jiwa sebenarnya tidak lebih metaforis
daripada berbicara tentang sensasi tubuh. Setiap emosi adalah pengalaman
jasmani: hati terasa sakit saat sedih, hangat saat berempati, atau berdebar
saat marah atau cemas.
Bahasa jiwa, dalam bentuk paling murninya, tidak bersifat
metaforis. Ia langsung berakar pada pengalaman indrawi tubuh.
Beberapa filsuf, seperti Maurice Merleau-Ponty, mencoba
memahami hubungan ini dengan menyatakan bahwa pikiran adalah “sisi lain dari
tubuh.” Namun pandangan ini tetap terjebak dalam penyamaan antara jiwa dan
pikiran. Padahal, perbedaan antara keduanya justru terletak pada tidak adanya
persilangan langsung di antara keduanya.
Pikiran bersifat “tanpa dasar”—ia tidak bertumpu pada apa
pun dan dapat bergerak bebas. Sebaliknya, jiwa tidak demikian. Jiwa melekat
pada tubuh, berakar di dalamnya, dan bahkan bergantung padanya.
Pandangan semacam ini sebenarnya sudah ada sejak zaman
Aristoteles. Ia menunjukkan bahwa banyak aktivitas jiwa—seperti emosi dan
persepsi—tidak dapat dipisahkan dari tubuh. Namun pikiran, terutama dalam
bentuk murninya, tampak berbeda: ia tidak sepenuhnya bergantung pada tubuh
seperti halnya jiwa.
Dengan kata lain, tidak ada sensasi tubuh yang secara
langsung berkaitan dengan aktivitas berpikir. Sementara itu, pengalaman jiwa
selalu dirasakan melalui tubuh.
Selain dorongan alami untuk menampakkan diri, manusia juga
memiliki kemampuan untuk menampilkan diri secara sadar—melalui tindakan
dan kata-kata. Di sini terdapat unsur pilihan: kita dapat menentukan bagaimana
kita ingin terlihat oleh orang lain.
Kemampuan ini bersifat khas manusia. Kita dapat memilih apa
yang akan kita tampilkan dan apa yang akan kita sembunyikan. Penampilan kita
bukan sekadar cerminan dari keadaan batin, melainkan hasil keputusan.
Aristoteles menjelaskan bahwa bahasa dan tindakan
memungkinkan manusia mengekspresikan dirinya secara unik. Perasaan mungkin sama
pada semua manusia, tetapi cara kita mengungkapkannya berbeda-beda.
Ilmu psikologi modern, yang mencoba menelusuri “bagian
dalam” manusia, sering kali hanya menemukan sesuatu yang monoton dan kurang
bermakna—sekadar perubahan suasana hati dan dorongan emosional. Sebaliknya,
keunikan manusia justru tampak pada perilaku luar—pada apa yang kita lakukan
dan bagaimana kita menampilkan diri.
Emosi, seperti halnya organ tubuh, memiliki fungsi dasar
bagi kehidupan. Misalnya, dorongan seksual memungkinkan adanya cinta, tetapi
bentuk cinta yang tampak sangat beragam. Demikian pula rasa takut penting untuk
bertahan hidup, tetapi keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan
keputusan untuk tidak menampakkannya.
Pilihan-pilihan semacam ini membentuk karakter manusia. Kita
memilih bagaimana ingin terlihat—kadang untuk menyenangkan orang lain, kadang
untuk memenuhi nilai diri sendiri, atau bahkan untuk memberi teladan.
Namun karena penampakan selalu mengandung unsur “tampak bagi
orang lain,” maka kemungkinan kepura-puraan dan penipuan selalu ada. Perbedaan
antara menampilkan diri dan sekadar menampakkan diri terletak
pada kesadaran dan pilihan.
Kemampuan untuk menampilkan diri inilah yang memungkinkan
adanya kemunafikan. Namun kemunafikan pada akhirnya akan terlihat dari
ketidakkonsistenannya. Ukurannya sederhana: jadilah seperti yang ingin kamu
tampakkan—bahkan ketika tidak ada orang lain yang melihat.
Dari pilihan-pilihan sadar inilah terbentuk apa yang kita
sebut sebagai karakter atau kepribadian—sekumpulan sifat yang relatif stabil
dan dapat dikenali. Namun, meskipun kita dapat membentuk diri melalui pilihan,
bukan berarti kita sepenuhnya “menciptakan” diri kita sendiri.
Keberadaan kita tetap lebih mendasar daripada segala bentuk
penampilan yang kita pilih.
5. Penampakan dan Kesan Semu (Semblance)
Karena pilihan merupakan faktor penentu dalam cara kita
menampilkan diri, dan karena penampakan selalu memiliki fungsi ganda—yakni
menyembunyikan sesuatu yang ada di dalam sekaligus menyingkap apa yang ada di
permukaan—maka selalu ada kemungkinan bahwa apa yang tampak pada akhirnya
hanyalah kesan semu. Misalnya, kita dapat menyembunyikan rasa takut dengan
menampilkan keberanian; yang tampak adalah keberanian, sementara ketakutan
tetap tersembunyi.
Kesenjangan antara bagian dalam dan bagian luar—antara dasar
dari penampakan dan penampakan itu sendiri—membuat setiap penampilan selalu
mengandung unsur kesemuan. Betapapun uniknya kita tampil, dan betapapun sadar
kita memilih penampilan itu, tetap benar bahwa “di dalam, kita semua sama.”
Perbedaan sejati hanya terjadi jika ada perubahan dalam fungsi tubuh atau
kondisi psikis yang mendasar.
Namun dari sini tidak berarti bahwa semua penampakan adalah
semu. Justru sebaliknya: kesan semu hanya mungkin ada dalam dunia penampakan,
sebagaimana kesalahan hanya mungkin ada jika ada kebenaran. Kesalahan adalah
harga yang kita bayar untuk memperoleh kebenaran, dan kesan semu adalah harga
yang kita bayar untuk keajaiban dunia yang tampak.
Kesan semu merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia yang
ditandai oleh kenyataan bahwa segala sesuatu tampak bagi banyak makhluk yang
masing-masing memiliki cara pandang berbeda. Tidak ada satu pun yang dapat
menampakkan dirinya secara utuh kepada satu pengamat saja. Dunia selalu hadir
dalam bentuk “menurutku tampak seperti ini”—tergantung pada posisi, sudut
pandang, dan kemampuan indra masing-masing.
Cara ini memang dapat menimbulkan kesalahan—yang bisa kita
koreksi dengan mendekat, mengubah sudut pandang, menggunakan alat bantu, atau
membayangkan perspektif lain. Namun ia juga melahirkan kesan semu yang lebih
mendalam—yang tidak bisa kita koreksi begitu saja, karena melekat pada kondisi
kita sebagai makhluk yang hidup di dunia ini.
Seperti yang dikatakan Xenophanes, kesan semu menyelimuti
segala sesuatu. Bahkan jika seseorang berhasil mengatakan kebenaran sepenuhnya,
ia tetap tidak akan tahu bahwa itu benar.
Dengan mengikuti pembedaan antara penampakan “asli” dan
“tidak asli,” kita bisa membedakan pula antara kesan semu yang bisa dihilangkan
dan yang tidak. Kesan semu seperti fatamorgana dapat lenyap ketika diperiksa
lebih dekat. Namun ada pula kesan semu yang tidak dapat dihapus—seperti
matahari yang tampak terbit dan terbenam setiap hari. Meskipun kita tahu secara
ilmiah bahwa bumi yang berputar, pengalaman indrawi kita tetap menunjukkan
sebaliknya. Ini adalah ilusi yang alami dan tak terhindarkan.
Menurut Kant, ilusi semacam ini melekat pada cara kerja akal
manusia. Bahkan setelah kita mengetahui kesalahannya, ilusi itu tetap muncul
kembali dan terus menyesatkan kita.
Fakta bahwa kesan semu tidak dapat dihindari dalam dunia
penampakan menjadi argumen kuat terhadap pandangan positivisme yang terlalu
sederhana—yang menganggap bahwa kita bisa mencapai kepastian hanya dengan
berpegang pada fakta-fakta yang dapat diamati dan mengabaikan fenomena mental.
Semua makhluk hidup—yang dapat menerima penampakan dan juga
menampilkan diri—terikat pada ilusi semacam ini. Bahkan banyak hewan mampu
menciptakan kesan semu, misalnya melalui perubahan warna untuk menyamarkan
diri. Baik manusia maupun hewan memiliki kemampuan alami untuk memanipulasi
penampakan demi menipu.
Namun ketika kita membongkar suatu penipuan—misalnya
mengungkap kemunafikan—yang kita temukan bukanlah “diri sejati” yang
tersembunyi di dalam. Yang kita lakukan hanyalah menghilangkan penipuan, bukan
menemukan sesuatu yang benar-benar tampak secara otentik.
Jika memang ada “diri batin,” ia tidak pernah benar-benar
muncul dalam penampakan. Kita hanya memiliki sensasi batin yang terus berubah
dan tidak pernah stabil. Tidak ada “diri tetap” yang bisa ditangkap dalam arus
pengalaman batin ini.
Bahkan istilah “penampakan batin” sebenarnya menyesatkan.
Apa yang kita alami hanyalah sensasi yang terus berubah—tidak pernah cukup
stabil untuk dikenali sebagai sesuatu yang tetap. Karena itu, pengalaman batin
tidak memiliki sifat utama dunia penampakan: yakni kemampuan untuk bertahan dan
dikenali.
Menurut Kant, waktu adalah bentuk dari pengalaman batin.
Namun waktu sendiri tidak memiliki sesuatu yang tetap. Segala sesuatu dalam
pengalaman batin terus berubah.
Akibatnya, satu-satunya cara kita bisa menangkap sesuatu
yang menyerupai kestabilan adalah melalui pengulangan. Namun jika suatu
perasaan menjadi terlalu tetap—tidak berubah—justru itu menandakan gangguan,
seperti euforia berlebihan atau depresi yang mendalam.
6. Ego yang Berpikir dan Diri: Kant
Dalam karya tidak ada filsuf lain, konsep penampakan—dan
dengan itu juga kesan semu—memainkan peran yang sedemikian sentral
seperti dalam pemikiran Immanuel Kant. Gagasannya tentang “benda pada dirinya
sendiri” (thing in itself), yaitu sesuatu yang ada tetapi tidak pernah
tampak, sering dijelaskan berdasarkan tradisi teologis: Tuhan adalah
sesuatu—bukan ketiadaan—tetapi tidak pernah tampak dalam pengalaman kita.
Namun penafsiran ini tidak sepenuhnya memadai. Bagi Kant,
Tuhan adalah “ide rasio,” sesuatu yang tidak dapat diketahui melalui
pengalaman, tetapi tetap hadir dalam pikiran manusia karena rasio secara alami
melampaui batas pengetahuan. Kita hanya dapat mengetahui apa yang tampak dalam
pengalaman, tetapi kita tetap berpikir tentang hal-hal yang tidak pernah
tampak—seperti Tuhan, kebebasan, dan keabadian. Hal-hal ini tidak dapat
diketahui, tetapi tetap “ada” bagi kita karena pikiran tidak dapat menghindari
memikirkannya.
Karena itu, perlu dipertanyakan: apakah gagasan tentang
sesuatu yang tidak tampak ini memang berasal dari kebutuhan pikiran, ataukah
sudah tersirat dalam cara kita memahami dunia sebagai dunia penampakan?
Dalam kehidupan sehari-hari, kita memang menemukan bahwa
segala sesuatu yang tampak memiliki dasar yang tidak tampak—misalnya organ
dalam tubuh. Namun ketika Kant menyimpulkan bahwa semua penampakan pasti
memiliki dasar yang sepenuhnya berbeda secara ontologis—sesuatu yang tidak
pernah tampak sama sekali—ia tampaknya melangkah terlalu jauh.
Keyakinan ini sebenarnya lebih dipengaruhi oleh keinginannya
untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu di luar dunia penampakan yang lebih tinggi
tingkat realitasnya. Namun jika kita berpegang pada pengalaman kita sendiri,
kita justru bisa menyimpulkan sebaliknya: bahwa apa pun yang menjadi dasar dari
penampakan hanya bermakna sejauh ia menghasilkan penampakan itu sendiri.
Dengan kata lain, tradisi filsafat memang benar bahwa ada
“dasar” di balik penampakan, tetapi keliru ketika menganggap dasar itu lebih
penting daripada penampakan itu sendiri. Hierarki ini tidak berasal dari
pengalaman sehari-hari, melainkan dari pengalaman khusus: pengalaman ego
yang berpikir.
Kant sendiri mengakui bahwa dasar dari gagasan “benda pada
dirinya sendiri” adalah pengalaman berpikir itu sendiri. Ketika kita berpikir,
kita menyadari diri kita sebagai sesuatu yang “ada,” tetapi tidak pernah tampil
sebagai objek yang dapat diamati. Dalam aktivitas berpikir, “aku” hadir sebagai
sesuatu yang tidak tampak, tetapi juga bukan ketiadaan.
Ego yang berpikir ini tidak memiliki sifat-sifat seperti
usia, jenis kelamin, atau riwayat hidup. Ia murni aktivitas. Seorang filsuf
bahkan pernah mengatakan bahwa jika seseorang hanya hidup sebagai pemikir, ia
tidak akan memiliki “masa lalu” dalam arti pengalaman hidup yang konkret.
Di sinilah pentingnya membedakan antara ego yang berpikir
dan diri (self). Ego yang berpikir bukanlah diri yang kita kenal dalam
kehidupan sehari-hari. Ia tidak muncul dalam pengalaman indrawi, bahkan tidak
muncul bagi dirinya sendiri.
Kant menjelaskan bahwa dalam kesadaran diri, kita hanya tahu
bahwa kita ada—tetapi tidak tahu bagaimana kita ada. Tidak ada sesuatu yang
tetap dalam pengalaman batin kita; semuanya terus berubah. Waktu, sebagai
bentuk pengalaman batin, tidak memiliki sesuatu yang stabil untuk dijadikan
pegangan.
Dalam tulisan-tulisan awalnya, Kant mencoba menggambarkan
pengalaman berpikir ini dengan membedakan antara manusia sebagai makhluk yang
hidup di dunia tampak, dan sebagai “pikiran” yang berada di dunia tak tampak.
Ia bahkan menyamakan keadaan berpikir dengan kondisi seperti tidur nyenyak—di
mana indra-indra berhenti bekerja.
Meskipun gambaran ini terdengar aneh, ia menunjukkan satu
hal penting: berpikir adalah aktivitas yang menarik diri dari dunia nyata.
Dalam berpikir, kita tidak berhadapan dengan resistensi materi seperti dalam
tindakan nyata. Pikiran bergerak dengan sangat cepat—“secepat pikiran,” seperti
kata Homer—karena ia tidak terikat pada dunia fisik.
Dari sini muncul gagasan tentang “spiritualitas”: bahwa
pikiran bersifat tak berwujud. Namun pengalaman ini juga menjelaskan mengapa
banyak filsuf bersikap seolah tubuh adalah penghalang bagi pikiran.
Namun, menyimpulkan dari pengalaman ini bahwa ada dunia lain
yang sepenuhnya terpisah dari dunia penampakan adalah sebuah kekeliruan
metafisik. Kekeliruan ini bukan sekadar kesalahan logika, melainkan kesan
semu yang muncul dari pengalaman nyata ego yang berpikir.
Kesalahan ini mirip dengan anggapan bahwa karena kita dapat
memahami kebenaran yang abadi, maka kita sendiri juga bersifat abadi. Padahal,
kemampuan memahami sesuatu yang tidak berubah tidak berarti bahwa kita sendiri
tidak berubah.
Kesalahan-kesalahan dalam filsafat seperti ini bukanlah
akibat kebodohan, melainkan akibat kondisi manusia itu sendiri: kita adalah
makhluk yang hidup dalam dunia penampakan, tetapi sekaligus memiliki kemampuan
untuk berpikir melampaui dunia itu.
Karena itu, pertanyaan yang paling penting bukanlah apakah
kesan semu itu ada atau tidak, melainkan apakah ia bersifat semu semata—yang
dapat dihilangkan—atau justru merupakan bagian tak terpisahkan dari kondisi
manusia.
Dengan kata lain: apakah ilusi tersebut hanyalah kesalahan
yang bisa diperbaiki, ataukah ia merupakan konsekuensi alami dari kenyataan
bahwa kita adalah makhluk yang sekaligus hidup dalam dunia penampakan dan mampu
berpikir melampauinya?
7. Realitas dan Ego yang Berpikir: Keraguan Cartesian dan
Sensus Communis
Dalam dunia penampakan, realitas pertama-tama ditandai oleh
kemampuannya untuk bertahan—untuk tetap ada cukup lama sehingga dapat
dikenali dan diakui oleh subjek. Edmund Husserl menunjukkan bahwa setiap
tindakan kesadaran selalu memiliki objek: bahkan jika objek itu ilusi, ia tetap
menjadi objek bagi kesadaran tersebut. Dengan kata lain, subjektivitas selalu
mengandung objektivitas.
Sebaliknya, setiap objek yang tampak juga mengandaikan
adanya subjek yang melihatnya. Segala sesuatu yang menampak selalu ditujukan
kepada pengamat—seperti yang dikatakan Adolf Portmann, setiap penampakan adalah
“pesan bagi penerima.”
Karena itu, penampakan selalu membutuhkan pengakuan.
Realitas—baik diri kita sendiri maupun dunia—bergantung pada pengakuan bersama.
Keyakinan kita bahwa apa yang kita lihat itu nyata tidak hanya berasal dari
persepsi kita sendiri, tetapi juga dari fakta bahwa orang lain melihatnya dan
mengakuinya.
Tanpa pengakuan diam-diam dari orang lain, kita bahkan tidak
akan percaya pada apa yang kita alami sendiri.
Inilah sebabnya teori solipsisme—yang menganggap hanya diri
sendiri yang benar-benar ada—bertentangan dengan pengalaman paling dasar
manusia. Namun, meskipun keliru, pandangan ini memiliki akar yang kuat dalam
pengalaman berpikir itu sendiri.
Ketika seseorang tenggelam dalam aktivitas berpikir, ia
hidup dalam kesendirian total—seolah-olah hanya ada “Manusia” tunggal, bukan
banyak manusia. Keadaan ini telah lama menjadi ciri khas kehidupan filsuf sejak
zaman Parmenides dan Plato: menarik diri dari keramaian menuju kesunyian
pikiran.
René Descartes, menghadapi keraguan besar akibat
perkembangan ilmu modern, mencoba menemukan kepastian dengan menarik diri
sepenuhnya dari dunia. Ia mencari sesuatu yang tidak dapat diragukan—dan
menemukannya dalam aktivitas berpikir itu sendiri: aku berpikir, maka aku
ada.
Namun di sinilah letak masalahnya. Pengalaman berpikir yang
begitu kuat membuat Descartes lupa bahwa kesadaran akan realitas tidak mungkin
muncul tanpa dunia dan tanpa orang lain. Jika seseorang benar-benar hidup
sendirian tanpa tubuh, tanpa indra, dan tanpa orang lain, ia bahkan tidak akan
memahami apa itu “realitas.”
Seperti dikatakan Maurice Merleau-Ponty, upaya Descartes
untuk mengamankan kepastian justru membuat kita kehilangan dunia itu sendiri.
Lebih jauh lagi, aktivitas berpikir justru dapat menimbulkan
keraguan terhadap realitas. Pikiran dapat meragukan segala sesuatu—termasuk
keberadaan dirinya sendiri. Rumusan cogito ergo sum tidak sepenuhnya
aman dari keraguan, karena berpikir hanya dapat membuktikan bahwa ada aktivitas
berpikir, bukan bahwa “aku” sebagai keberadaan benar-benar pasti.
Dengan kata lain, realitas tidak bisa diturunkan dari
pikiran. Pikiran hanya bisa menerima atau menolak realitas—tetapi tidak dapat
membuktikannya.
Namun, meskipun penampakan selalu terbuka terhadap kesalahan
dan ilusi, ia tetap membawa tanda awal realitas. Setiap pengalaman indrawi
biasanya disertai oleh perasaan bahwa sesuatu itu “nyata.”
Perasaan ini tidak berasal dari satu indra saja, melainkan
dari dua hal:
- kesesuaian
antara berbagai indra kita (melihat, menyentuh, mendengar, dll.), dan
- pengakuan
dari orang lain yang mengalami hal yang sama.
Di sinilah pentingnya apa yang disebut sebagai sensus
communis—akal sehat bersama. Ini adalah semacam “indra keenam” yang
menyatukan semua pengalaman indrawi kita dan menghubungkannya dengan dunia
bersama.
Indra ini tidak memiliki organ fisik tertentu, tetapi
berfungsi untuk memastikan bahwa apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan
adalah objek yang sama. Ia juga menghubungkan pengalaman pribadi kita dengan
pengalaman orang lain.
Dengan demikian, realitas muncul dari tiga kesamaan:
- kesatuan
objek bagi lima indra kita,
- kesamaan
konteks dunia bagi sesama manusia,
- pengakuan
dari makhluk lain yang juga mengalami dunia tersebut.
Dari ketiga hal inilah lahir perasaan akan realitas.
Setiap indra kita berkaitan dengan sifat tertentu dari
dunia: kita melihat karena ada yang terlihat, mendengar karena ada yang
terdengar. Namun “realitas” sendiri tidak dapat ditangkap seperti sifat-sifat
ini. Ia bukan sekadar sensasi, melainkan sesuatu yang menyertai semua sensasi.
Realitas adalah “ada”-nya sesuatu—kehadiran yang tidak bisa
sepenuhnya dijelaskan, tetapi selalu kita rasakan.
Karena itu, meskipun pikiran dapat memahami banyak hal, ia
tidak dapat menangkap realitas dalam arti paling dasar ini. Pikiran justru
sering meragukannya. Keraguan Descartes sendiri muncul dari aktivitas berpikir.
Ketika kita berpikir, kita menarik diri dari dunia
penampakan—dan dengan itu juga dari perasaan akan realitas. Fenomena ini
sebenarnya biasa kita alami, misalnya ketika kita terlalu tenggelam dalam
pikiran dan menjadi “tidak hadir” dalam dunia sekitar.
Karena itu, kehilangan rasa realitas bukanlah sesuatu yang
hanya dialami oleh filsuf, tetapi oleh siapa saja yang sedang berpikir secara
mendalam.
Namun keadaan ini bersifat sementara. Ego yang berpikir
tidak pernah sepenuhnya menggantikan diri kita sebagai makhluk yang hidup di
dunia. Setiap pemikir, betapapun dalamnya, tetaplah manusia biasa—bagian dari
dunia penampakan, yang memiliki indra, akal sehat, dan hubungan dengan orang
lain.
Dan justru karena itulah, kita dapat kembali dari dunia
pikiran ke dunia nyata.
8. Sains dan Akal Sehat; Pembedaan Kant antara Intelek
dan Rasio; Kebenaran dan Makna
Sekilas, tampak bahwa ilmuwan modern berada dalam situasi
yang mirip: ia terus-menerus membongkar kesan semu dalam penampakan, tetapi
tanpa kehilangan rasa realitas yang sama seperti kita—misalnya keyakinan bahwa
matahari terbit di pagi hari dan terbenam di sore hari. Kemampuan untuk
menembus penampakan dan mengungkapnya sebagai kesan semu berasal dari aktivitas
berpikir; akal sehat biasa tidak akan berani mengguncang keyakinan indrawi
secara radikal seperti itu.
Perdebatan klasik antara pemikiran kuno dan modern
sebenarnya berpusat pada satu pertanyaan: apakah tujuan pengetahuan adalah
“menyelamatkan fenomena” sebagaimana diyakini oleh para filsuf kuno, atau
menemukan mekanisme tersembunyi yang membuat fenomena itu tampak? Para pemikir
kuno sebenarnya juga telah meragukan keandalan indra—seperti Demokritos dengan
atom-atomnya yang tak terlihat, atau Aristarchus dengan gagasan heliosentris.
Namun gagasan-gagasan ini tidak berkembang menjadi ilmu karena tidak ada usaha
sistematis untuk membuktikannya.
Berpikir memang berperan besar dalam sains, tetapi hanya
sebagai sarana. Tujuan akhirnya adalah pengetahuan (cognition), yang
setelah ditemukan kembali menjadi bagian dari dunia penampakan. Sains tidak
pernah sepenuhnya meninggalkan dunia ini; bahkan ketika ia menarik diri untuk
berpikir, itu hanya untuk menemukan metode yang lebih baik untuk kembali
kepadanya.
Dengan demikian, sains pada dasarnya adalah perpanjangan
yang sangat halus dari akal sehat. Baik dalam sains maupun kehidupan
sehari-hari, kesalahan dan ilusi terus diperbaiki melalui bukti baru. Namun
tidak ada jaminan bahwa bukti baru itu lebih benar daripada yang lama—ia hanya
menggantikannya.
Gagasan tentang “kemajuan tanpa batas” dalam sains
sebenarnya menunjukkan bahwa kebenaran tidak pernah benar-benar final.
Kebenaran berubah menjadi serangkaian “kebenaran sementara” yang terus
diperbarui. Jika suatu ilmu benar-benar mencapai kebenaran mutlak, maka
pencarian pengetahuan akan berhenti—sesuatu yang tampaknya tidak mungkin
terjadi.
Akibatnya, konsep kebenaran itu sendiri berubah. Ia tidak
lagi dipahami sebagai sesuatu yang tetap, melainkan sebagai proses yang terus
berkembang. Bahkan bisa dikatakan bahwa sains bergerak dalam ilusi kemajuan
tanpa akhir—sebuah kesan semu yang lahir dari aktivitasnya sendiri.
Hal ini terjadi karena sains tetap terikat pada akal sehat.
Berbeda dengan berpikir yang dapat sepenuhnya menarik diri dari dunia
penampakan, sains hanya melakukan penarikan sementara demi tujuan tertentu.
Pada akhirnya, ia selalu harus kembali ke dunia yang dapat diamati.
Menariknya, sains modern yang berusaha menemukan hal-hal tak
terlihat—seperti atom, molekul, atau gen—justru menghasilkan banyak hal baru
yang dapat dilihat. Ini karena untuk membuktikan teorinya, sains harus
“memaksa” yang tak tampak menjadi tampak, misalnya melalui alat-alat
laboratorium. Dengan cara ini, sains tetap bergantung pada pengalaman indrawi.
Teknologi kemudian membawa hasil-hasil ini kembali ke dunia
sehari-hari. Namun hal ini hanya mungkin karena ilmuwan sendiri tetap
bergantung pada akal sehat dan pengalaman dunia nyata.
Berbeda dengan sains, kemampuan berpikir—yang oleh Immanuel
Kant disebut Vernunft (rasio)—memiliki sifat yang sama sekali berbeda
dari Verstand (intelek), yaitu kemampuan untuk mengetahui. Intelek
bertujuan memahami apa yang diberikan oleh indra, sedangkan rasio mencari makna
dari apa yang ada.
Pengetahuan berurusan dengan kebenaran, dan kebenaran
didasarkan pada bukti indrawi. Namun pencarian makna tidak bergantung pada
indra. Ia tidak bertanya apakah sesuatu itu ada atau tidak, melainkan apa arti
keberadaan itu.
Di sinilah perbedaan mendasar antara kebenaran dan makna.
Kebenaran dapat diverifikasi melalui pengalaman dan bukti; makna tidak.
Keinginan untuk mengetahui lahir dari rasa ingin tahu
terhadap dunia. Semua pertanyaan ilmiah pada prinsipnya dapat dijawab, meskipun
jawabannya bisa berubah. Namun pertanyaan tentang makna—yang muncul dari
aktivitas berpikir—tidak dapat dijawab oleh akal sehat maupun sains.
Sains mencari kebenaran yang memaksa kita untuk
menerimanya—baik berupa kebenaran logis maupun fakta empiris. Tetapi makna
tidak memaksa. Ia tidak dapat dibuktikan, tetapi tetap memiliki arti yang
mendalam.
Misalnya, pernyataan “aku memang ditakdirkan untuk ada”
bukanlah kebenaran ilmiah, tetapi memiliki makna yang kuat bagi manusia.
Dengan demikian, tidak ada kebenaran di luar kebenaran
faktual. Pernyataan ilmiah dapat diuji dan diverifikasi, sedangkan pernyataan
filosofis sering kali tidak benar dalam arti ilmiah, tetapi tetap bermakna.
Masalah muncul ketika kita mengharapkan kebenaran dari
aktivitas berpikir. Ini berarti kita mencampuradukkan dua hal yang berbeda:
keinginan untuk mengetahui dan kebutuhan untuk memahami makna.
Berpikir memang dapat membantu dalam proses mengetahui,
tetapi bukan tujuan akhirnya. Ia adalah aktivitas yang berdiri sendiri.
Kant sendiri sebenarnya telah membuka jalan bagi pemahaman
ini dengan membedakan rasio dan intelek. Namun ia tidak sepenuhnya menyadari
konsekuensi dari pemikirannya sendiri. Ia masih menganggap bahwa tujuan akhir
berpikir adalah pengetahuan.
Padahal, berpikir tidak menghasilkan sesuatu yang konkret
seperti pengetahuan. Ia tidak meninggalkan hasil yang dapat disimpan atau
diwariskan. Kebutuhan untuk berpikir tidak pernah benar-benar terpenuhi.
Berbeda dengan pengetahuan yang terus bertambah, berpikir
adalah aktivitas yang selalu dimulai kembali. Ia tidak menghasilkan jawaban
final, melainkan membantu kita menghilangkan kesalahpahaman dan membuka ruang
bagi pemahaman.
Kant sendiri pernah mengatakan bahwa rasio murni sebenarnya
hanya berurusan dengan dirinya sendiri. Ia tidak memiliki tujuan lain selain
berpikir itu sendiri.
II. Aktivitas Mental dalam Dunia Penampakan
9. Ketakterlihatan dan Penarikan Diri
Berpikir, menghendaki, dan menilai merupakan tiga aktivitas
mental yang paling mendasar. Ketiganya tidak dapat diturunkan satu sama lain,
dan meskipun memiliki beberapa kesamaan, tidak mungkin direduksi ke dalam satu
prinsip tunggal. Jika kita bertanya, apa yang membuat manusia berpikir, maka
pada akhirnya tidak ada jawaban lain selain apa yang oleh Immanuel Kant sebut
sebagai “kebutuhan rasio”—yakni dorongan batin dari akal itu sendiri untuk
mewujudkan dirinya dalam aktivitas spekulatif.
Hal yang sebanding berlaku pula pada kehendak. Kehendak
tidak digerakkan oleh rasio maupun oleh dorongan keinginan, melainkan oleh
dirinya sendiri. Sebagaimana dirumuskan secara tajam oleh Duns Scotus, kehendak
adalah sebab total dari tindak kehendak itu sendiri—ia “menghendaki dirinya
untuk menghendaki.” Bahkan para pemikir yang tidak terlalu menekankan kehendak
pun mengakui kenyataan ini.
Sementara itu, penilaian (judgment) merupakan
kemampuan yang khas dan tidak dapat direduksi pada intelek. Ia menjembatani
yang umum—yang merupakan konstruksi mental—dengan yang partikular, yang
diberikan dalam pengalaman indrawi. Namun, tidak ada aturan umum yang dapat
menentukan bagaimana aturan itu harus diterapkan pada kasus konkret. Kemampuan
ini, menurut Kant, merupakan semacam bakat alami; kekurangannya sering disebut
sebagai kebodohan, dan tidak ada cara untuk memperbaikinya.
Ketiga aktivitas ini disebut mendasar karena bersifat
otonom. Masing-masing mengikuti hukum internalnya sendiri. Namun semuanya
memerlukan suatu kondisi batin tertentu, yakni ketenangan yang bebas dari
gejolak hasrat—suatu keadaan yang oleh Georg Wilhelm Friedrich Hegel disebut
sebagai “ketenangan tanpa hasrat.”
Akan tetapi, otonomi ini sekaligus menimbulkan persoalan.
Bagaimana mungkin satu subjek yang sama dapat berpikir, menghendaki, dan
menilai, sementara ketiganya tidak saling menentukan? Ketidakmampuan rasio
untuk menggerakkan kehendak, serta fakta bahwa berpikir hanya dapat memahami
masa lalu tanpa mampu mengubahnya, telah melahirkan berbagai doktrin tentang
kelemahan akal dan kekuatan unsur irasional. Salah satu contohnya adalah
pandangan David Hume yang menyatakan bahwa rasio hanyalah “budak dari hasrat.”
Namun yang menarik, hampir semua teori semacam ini bertumpu
pada asumsi tersembunyi bahwa di balik keragaman fenomena—termasuk keragaman
kemampuan manusia—pasti ada satu prinsip tunggal yang mengaturnya. Arendt
justru menolak asumsi ini. Ia menegaskan bahwa kehidupan mental bersifat
majemuk dan tidak dapat disatukan dalam satu sumber tunggal.
Lebih jauh lagi, otonomi aktivitas mental menunjukkan bahwa
ia tidak ditentukan secara langsung oleh kondisi kehidupan maupun dunia.
Manusia memang terikat oleh batas-batas eksistensial—ia lahir, hidup, bekerja,
dan mati dalam dunia tertentu—namun secara mental ia mampu melampaui semua itu.
Ia dapat memikirkan hal yang tidak diketahui, menghendaki sesuatu yang
mustahil, dan menilai realitas yang ia alami. Namun semua ini hanya berlangsung
dalam ranah mental; ia tidak secara langsung mengubah realitas.
Meskipun demikian, justru dari aktivitas mental inilah
prinsip-prinsip tindakan manusia terbentuk. Cara kita bertindak dan menilai
dunia pada akhirnya bergantung pada kehidupan batin ini—meskipun aktivitas
tersebut tampak tidak menghasilkan apa-apa dan tidak memberi kekuatan langsung
untuk bertindak, sebagaimana pernah ditegaskan oleh Martin Heidegger.
Ironisnya, dalam kehidupan sehari-hari, yang lebih dominan
justru adalah ketiadaan berpikir. Tuntutan praktis kehidupan memaksa manusia
untuk bertindak cepat, bergantung pada kebiasaan dan prasangka. Dalam kondisi
seperti ini, refleksi mendalam menjadi jarang terjadi.
Jika dilihat dari sudut pandang dunia penampakan, ciri utama
aktivitas mental adalah ketakterlihatannya. Ia tidak pernah benar-benar
“muncul,” meskipun kita sadar bahwa kita sedang berpikir, menghendaki, atau
menilai. Dalam hal ini, pikiran berbeda secara mendasar dari jiwa.
Jiwa—tempat munculnya emosi dan perasaan—meskipun tidak
terlihat secara langsung, tetap memiliki ekspresi. Kita dapat melihat
kemarahan, ketakutan, atau kebahagiaan melalui tubuh. Sebaliknya, pikiran tidak
memiliki ekspresi semacam itu. Satu-satunya tanda dari aktivitas berpikir
adalah ketidakhadiran dari dunia sekitar—seperti seseorang yang tampak melamun
atau tidak memperhatikan lingkungannya.
Dengan demikian, jika bertindak berarti tampil dalam dunia
penampakan, maka berpikir justru berarti menarik diri darinya.
Berpikir hanya mungkin terjadi melalui penarikan diri dari
dunia penampakan—bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, melainkan menjauh
dari kehadiran langsungnya bagi indra. Setiap aktivitas mental bergantung pada
kemampuan pikiran untuk menghadirkan sesuatu yang tidak hadir. Kemampuan ini
disebut oleh Kant sebagai imajinasi: kemampuan untuk mengintuisi sesuatu bahkan
tanpa kehadiran objeknya.
Melalui kemampuan ini, manusia dapat mengingat masa lalu,
membayangkan masa depan, dan memikirkan hal-hal yang tidak pernah hadir secara
langsung. Namun semua itu hanya mungkin jika pikiran terlebih dahulu menarik
diri dari dunia saat ini.
Dengan demikian, setiap aktivitas mental menuntut jarak.
Kehendak menjauh dari dorongan langsung keinginan; penilaian menjauh dari
kepentingan pribadi; dan berpikir menjauh dari kehadiran langsung objeknya.
Karena itu, berpikir selalu merupakan refleksi—sesuatu yang datang setelah
pengalaman.
Proses ini melibatkan transformasi bertahap: objek indrawi
diubah menjadi gambaran mental, dan gambaran mental kemudian menjadi objek
pikiran. Melalui proses ini, pikiran mampu melampaui pengalaman indrawi dan
menjangkau hal-hal yang tidak pernah dapat ditangkap oleh indra.
Namun di sinilah letak ketegangan yang mendalam. Aktivitas
berpikir sering terasa tidak alami, seolah-olah bertentangan dengan kehidupan
sehari-hari. Ia menghentikan tindakan, mengganggu alur aktivitas, dan menuntut
jeda untuk refleksi. Seperti yang dikatakan oleh Heidegger, berpikir itu “tidak
pada tempatnya.”
Pengalaman ini bahkan menimbulkan kesan adanya pertentangan
antara berpikir dan keberadaan. Paul Valéry pernah merumuskannya dengan tajam:
“Kadang aku berpikir, kadang aku ada.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa semakin
kita tenggelam dalam berpikir, semakin kita menjauh dari dunia yang nyata.
Tidak mengherankan jika dalam sejarah filsafat muncul
anggapan bahwa berpikir memiliki kedekatan dengan kematian. Sejak Plato,
filsafat sering dipahami sebagai latihan untuk “meninggalkan dunia”—seolah-olah
berpikir adalah bentuk kehidupan yang menarik diri dari kehidupan itu sendiri.
Pandangan ini terus berlanjut hingga pemikir modern seperti Arthur Schopenhauer
dan bahkan dalam refleksi awal Heidegger.
10. Pergulatan Batin antara Pemikiran dan Akal Sehat
Ungkapan “mengambil warna orang mati” dengan tepat
menggambarkan bagaimana kehidupan seorang filsuf tampak di mata akal sehat.
Ketika seseorang sepenuhnya mengabdikan diri pada aktivitas
berpikir—seolah-olah menjadikan satu kemampuan manusia sebagai yang mutlak—ia
akan terlihat seperti orang yang menjauh dari kehidupan. Hal ini wajar, sebab
dalam pengalaman sehari-hari, “menghilang” secara paling radikal berarti mati,
dan menarik diri dari dunia penampakan tampak serupa dengan proses menuju
kematian.
Namun kenyataan bahwa sejak zaman Parmenides selalu ada
orang yang secara sadar memilih kehidupan berpikir—tanpa keinginan untuk bunuh
diri—menunjukkan bahwa kesan kedekatan antara berpikir dan kematian bukan
berasal dari aktivitas berpikir itu sendiri. Justru sebaliknya, kesan ini
muncul dari akal sehat sang filsuf sebagai manusia biasa. Ia tetap berbagi
dunia yang sama dengan orang lain, sehingga ia menyadari bahwa ketika berpikir,
ia sedang berada dalam keadaan yang “tidak biasa.”
Karena filsuf tidak kebal terhadap akal sehat, ia pun
merasakan keraguan terhadap aktivitas berpikirnya sendiri. Dan karena berpikir
tidak mampu menjawab tuntutan akal sehat—terutama tuduhan bahwa pencarian makna
itu sia-sia—maka filsuf sering merespons dengan cara membalik logika akal sehat
itu sendiri. Jika akal sehat menganggap kematian sebagai kejahatan terbesar,
maka filsuf, seperti dalam tradisi Plato, justru menyatakan sebaliknya:
kematian adalah pembebasan, karena memisahkan jiwa dari tubuh dan memungkinkan
pikiran terbebas dari gangguan indrawi.
Sepanjang sejarah filsafat, ketegangan ini terus hadir
sebagai semacam “perang batin” antara akal sehat—yang menyatukan pengalaman
indrawi kita dalam dunia bersama—dan kemampuan berpikir yang justru mendorong
kita untuk menjauh dari dunia tersebut.
Sering kali konflik ini ditafsirkan sebagai pertentangan
antara “yang banyak” (masyarakat umum) dan “yang sedikit” (para filsuf).
Peristiwa seperti pengadilan Socrates sering dijadikan contoh bahwa masyarakat
memusuhi para pemikir. Namun, jika dilihat secara historis, bukti-bukti untuk
pandangan ini sangat terbatas. Justru sering terjadi sebaliknya: para filsuflah
yang terlebih dahulu menarik diri dari kehidupan bersama, lalu mengkritik
masyarakat yang mereka tinggalkan—menganggap mereka tertipu oleh indra, oleh
opini umum, atau bahkan hidup hanya untuk kesenangan.
Karena itu, konflik antara pemikiran dan akal sehat lebih
tepat dipahami sebagai konflik internal, bukan konflik sosial. Para filsuf
sendirilah yang pertama menyadari keberatan-keberatan akal sehat terhadap
aktivitas berpikir.
Reaksi yang paling umum dari masyarakat terhadap filsuf
bukanlah permusuhan, melainkan tawa. Kisah terkenal yang diceritakan oleh Plato
tentang seorang gadis Thracia yang menertawakan Thales—karena ia jatuh ke dalam
sumur saat memandangi bintang—menjadi ilustrasi yang kuat. Filsuf, yang
berusaha memahami hal-hal tinggi dan jauh, justru tidak melihat apa yang ada di
hadapannya.
Menariknya, hanya sedikit filsuf yang mampu menerima tawa
ini dengan ringan. Immanuel Kant adalah salah satu pengecualian. Ia bahkan
mengakui bahwa kemampuan berpikir spekulatif mungkin menuntut pengorbanan atas
kepekaan terhadap dunia nyata. Ia juga menceritakan kisah serupa tentang Tycho
Brahe, yang ditegur kusirnya: meskipun ahli tentang bintang, ia tetap bodoh
dalam urusan dunia nyata.
Jika kita menerima bahwa konflik ini terjadi dalam diri
filsuf sendiri, maka kita dapat memahami mengapa berpikir sering dikaitkan
dengan kematian. Dari sudut pandang dunia penampakan—dunia tempat kita lahir
dan akan mati—keinginan untuk memahami dunia adalah sesuatu yang wajar. Namun
berpikir melampaui dunia ini; ia menarik kita keluar darinya. Dalam arti
metaforis, ini tampak seperti bentuk awal dari “kepergian,” yakni kematian.
Dalam dialog Phaedo, Plato menggambarkan bahwa bagi
orang banyak, para filsuf tampak seperti orang yang mengejar kematian. Bahkan
ia sendiri mengakui bahwa anggapan ini tidak sepenuhnya salah—hanya saja
maknanya berbeda. Filsuf sejati menginginkan dua hal: terbebas dari urusan duniawi,
terutama dari tubuh yang selalu menuntut perhatian, dan hidup dalam suatu
keadaan di mana kebenaran, keadilan, dan keindahan hadir secara langsung.
Pandangan serupa juga muncul dalam pemikiran Aristotle, yang
membayangkan suatu kehidupan ideal di mana manusia tidak lagi membutuhkan apa
pun selain berpikir dan berkontemplasi—suatu kehidupan yang bebas dari
kebutuhan praktis.
Namun semua ini bersifat metaforis. Para filsuf tidak
benar-benar mengejar kematian. Yang terjadi adalah pembalikan makna: apa yang
dalam kehidupan biasa disebut “hidup” tampak seperti kematian bagi pikiran, dan
sebaliknya.
Hal ini menjadi lebih jelas jika kita memahami sifat
berpikir itu sendiri. Berpikir menyingkirkan apa yang dekat dan hadir bagi
indra, untuk memberi ruang bagi apa yang jauh dan tidak hadir. Dalam keadaan
berpikir, dunia sekitar seolah menghilang; bahkan tubuh kita sendiri tidak kita
sadari. Dari pengalaman inilah muncul gagasan bahwa jiwa bersifat abadi dan
dapat berpikir tanpa tubuh, sebagaimana dikemukakan oleh Plato maupun René
Descartes.
Dalam aktivitas berpikir, ingatan memainkan peran utama.
Seperti dalam mitologi Yunani, Mnemosyne—ibu para Muse—melambangkan bahwa
berpikir selalu berkaitan dengan apa yang tidak lagi hadir. Apa yang kita
pikirkan adalah sesuatu yang telah hilang dari indra kita, yang dihadirkan
kembali melalui imajinasi.
Namun apa yang dihadirkan kembali itu tidak lagi sama dengan
pengalaman aslinya. Ia telah mengalami proses “penghilangan indra”—menjadi
citra mental. Tanpa kemampuan ini, tidak mungkin ada proses berpikir.
Karena itu, berpikir tidak hanya menghentikan aktivitas
sehari-hari, tetapi juga membalik hubungan dasar dalam pengalaman kita: yang
dekat menjadi jauh, yang jauh menjadi hadir. Dalam berpikir, kita tidak lagi
berada di tempat kita berada secara fisik; kita berada di dunia citra yang
tidak terlihat oleh orang lain.
Dengan cara ini, berpikir seolah-olah menghapus jarak ruang
dan waktu. Kita dapat mengingat masa lalu seolah masih hadir, atau membayangkan
masa depan seolah sudah terjadi.
Semua ini menunjukkan bahwa berpikir berakar pada
pengalaman, tetapi tidak pernah berhenti pada pengalaman itu sendiri. Tidak ada
pengalaman yang memiliki makna tanpa melalui proses berpikir. Namun sebaliknya,
dari sudut pandang kehidupan sehari-hari, berpikir justru tampak seperti
sesuatu yang asing, bahkan seperti “kematian dalam hidup.”
Akhirnya, perlu disadari bahwa berpikir tidak menghasilkan
kepastian yang tetap. Seperti dicatat oleh Kant, pikiran selalu cenderung
meragukan hasilnya sendiri. Aktivitas berpikir terus membongkar apa yang telah
dibangunnya—seperti kain tenunan Penelope yang dibuka kembali setiap malam.
Dengan demikian, berpikir bukanlah proses yang menghasilkan
kebenaran final, melainkan aktivitas yang terus berlangsung. Ia tidak pernah
selesai, dan hanya dapat dipenuhi dengan terus berpikir kembali.
11. Berpikir dan Bertindak: Sang Penonton
Dalam pembahasan sebelumnya, telah ditunjukkan bahwa
aktivitas berpikir memiliki kecenderungan untuk menarik diri secara radikal
dari dunia. Berbeda dengan itu, aktivitas mental lain seperti menghendaki dan
menilai—meskipun bergantung pada refleksi awal dari berpikir—tidak sepenuhnya
terjebak dalam penarikan tersebut. Objek dari kehendak dan penilaian tetaplah
hal-hal konkret yang memiliki tempat dalam dunia penampakan. Pikiran memang
menjauh darinya untuk sementara, tetapi selalu dengan maksud untuk kembali.
Hal ini terutama tampak dalam kehendak, yang dalam bentuk
reflektifnya paling kuat justru “berbalik” pada dirinya sendiri—suatu gerak
batin yang membuat kehendak menghendaki dirinya sendiri. Namun demikian, baik
berpikir, menghendaki, maupun menilai memiliki satu kesamaan mendasar: semuanya
menuntut suatu keadaan tenang, bebas dari keterlibatan langsung dalam dunia,
serta terbebas dari kepentingan-kepentingan praktis yang biasanya mengikat kita
pada realitas sehari-hari. Penarikan diri ini merupakan syarat dasar bagi
setiap penilaian.
Secara historis, gagasan tentang penarikan diri dari
aktivitas praktis ini merupakan salah satu kondisi paling awal yang dikaitkan
dengan kehidupan pikiran. Ia berakar pada suatu penemuan mendasar: bahwa hanya
penonton—bukan pelaku—yang dapat memahami apa yang terjadi dalam suatu
peristiwa. Penemuan ini sangat memengaruhi keyakinan para filsuf Yunani bahwa
kehidupan kontemplatif lebih unggul daripada kehidupan aktif.
Dalam pemikiran Aristotle, kondisi dasar dari kehidupan
kontemplatif ini disebut scholē. Istilah ini tidak berarti “waktu luang”
dalam arti modern, melainkan suatu tindakan sadar untuk menahan diri dari
aktivitas sehari-hari yang didorong oleh kebutuhan hidup. Scholē adalah
keadaan di mana seseorang secara sengaja menjauh dari kesibukan, agar dapat
menjalani kehidupan kontemplatif—yang justru dipandang sebagai tujuan tertinggi
dari semua aktivitas lain.
Berbeda dengan pemahaman modern tentang rekreasi atau
hiburan, bagi Aristoteles kegiatan semacam itu justru masih termasuk dalam
keadaan “tidak memiliki waktu luang,” karena tetap terkait dengan kebutuhan
hidup. Sebaliknya, kehidupan kontemplatif adalah tujuan itu sendiri—seperti
halnya perdamaian adalah tujuan dari perang.
Gagasan ini tercermin dengan jelas dalam perumpamaan yang
dikaitkan dengan Pythagoras, sebagaimana diceritakan oleh Diogenes Laertius.
Kehidupan diibaratkan seperti sebuah festival: ada yang datang untuk
berkompetisi, ada yang berdagang, tetapi yang terbaik datang sebagai penonton.
Demikian pula dalam kehidupan, sebagian orang mengejar kehormatan atau
keuntungan, sementara para filsuf mencari kebenaran.
Yang menarik, keunggulan penonton di sini bukan karena ia
mengakses kebenaran yang tersembunyi atau berada di dunia yang lebih tinggi,
melainkan karena ia tidak terlibat langsung dalam peristiwa yang terjadi. Ia
tetap berada di dunia yang sama, tetapi mengambil jarak darinya.
Dari kata Yunani theatai (penonton) kemudian lahir
istilah “teori,” yang pada mulanya berarti memandang atau mengamati dari luar.
Seorang penonton memiliki posisi yang memungkinkan ia melihat keseluruhan
peristiwa—sesuatu yang tidak mungkin bagi pelaku yang hanya menjalankan perannya
dalam keseluruhan tersebut.
Di sinilah muncul perbedaan penting: pelaku terikat pada
tindakan dan pada bagaimana ia dilihat oleh orang lain, sementara penonton
bebas dari keterikatan tersebut. Pelaku bergantung pada opini publik—pada
bagaimana ia “tampak” bagi orang lain—sedangkan penonton tidak.
Namun, penarikan diri seorang penonton berbeda dari
penarikan diri seorang filsuf. Penonton tidak meninggalkan dunia penampakan,
melainkan hanya mengambil jarak dari keterlibatan langsung untuk memahami
keseluruhan. Selain itu, penonton tidak sendirian; ia merupakan bagian dari
suatu komunitas pengamat. Penilaiannya tidak sepenuhnya independen, karena
tetap mempertimbangkan pandangan orang lain.
Dalam hal ini, pemikiran Immanuel Kant menjadi sangat
penting. Ia menekankan bahwa penilaian yang baik memerlukan apa yang ia sebut
sebagai “cara berpikir yang diperluas”—yakni kemampuan untuk mempertimbangkan
sudut pandang orang lain.
Perbedaan antara berpikir dan menilai menjadi semakin jelas
dalam filsafat politik Kant. Dalam tindakan moral, individu bertindak secara
otonom berdasarkan prinsip rasio. Namun dalam penilaian, terutama terhadap
peristiwa sejarah seperti French Revolution, justru para penonton—yang tidak
terlibat langsung—memegang peran penting dalam menentukan maknanya.
Kant bahkan berpendapat bahwa makna suatu peristiwa sejarah
tidak ditentukan oleh para pelaku, melainkan oleh penilaian para penonton yang
menyaksikannya. Dalam hal ini, refleksi memiliki kedudukan yang lebih tinggi
daripada tindakan.
Pemikiran ini membuka pertanyaan yang lebih dalam: apakah
makna dari tindakan manusia justru muncul bukan dari tindakan itu sendiri,
melainkan dari cara ia dipahami? Seperti yang juga disadari oleh Georg Wilhelm
Friedrich Hegel, hasil dari suatu tindakan sering kali berbeda dari apa yang
dimaksudkan oleh pelakunya.
Dalam perspektif ini, hanya penonton yang dapat memahami
keseluruhan makna dari suatu peristiwa. Namun terdapat perbedaan penting antara
Kant dan Hegel: bagi Kant, penonton selalu bersifat jamak—banyak orang yang
menilai bersama. Sementara bagi Hegel, penonton cenderung tunggal—yakni filsuf
itu sendiri.
Perbedaan ini sangat menentukan. Karena Kant mengakui
pluralitas manusia, ia mampu mengembangkan filsafat politik. Sebaliknya, Hegel
lebih cenderung melihat sejarah sebagai sesuatu yang dipahami dari sudut
pandang tunggal.
Akhirnya, pembahasan ini membawa kita pada pertanyaan
mendasar: ke mana sebenarnya kita “pergi” ketika kita menarik diri untuk
berpikir atau menghendaki? Dalam kasus penilaian, tempat itu masih dapat
ditemukan—yakni dalam dunia yang sama, tetapi dari posisi sebagai penonton.
Namun dalam berpikir dan menghendaki, tempat itu menjadi jauh lebih sulit
ditentukan.
Berbeda dengan kehendak yang dalam tradisi Kristen sering
dipahami sebagai sesuatu yang “berada di dalam diri,” aktivitas berpikir tidak
memiliki lokasi yang jelas. Bahkan Plato sendiri pernah mengajukan pertanyaan
tentang “tempat” bagi filsuf, tetapi tidak pernah memberikan jawaban yang
pasti.
Kemungkinan besar, hal ini menunjukkan bahwa aktivitas
berpikir memang tidak memiliki “tempat” dalam arti biasa. Ia bukan bagian dari
dunia penampakan, tetapi juga tidak sepenuhnya berada di luar dunia tersebut.
12. Bahasa dan Metafora
Aktivitas mental—yang pada dasarnya tidak tampak dan
berurusan dengan hal-hal yang tidak tampak—hanya dapat menjadi nyata melalui
bahasa. Sebagaimana segala sesuatu yang hidup di dunia penampakan memiliki
dorongan untuk menampilkan diri, demikian pula makhluk yang berpikir memiliki
dorongan untuk berbicara, agar apa yang semula tak terlihat dapat hadir dalam
dunia yang tampak.
Namun, berbeda dengan penampakan yang selalu membutuhkan
kehadiran pengamat, aktivitas berpikir tidak selalu membutuhkan pendengar.
Komunikasi memang mungkin terjadi tanpa bahasa yang kompleks; bahkan bahasa
sederhana seperti bunyi, isyarat, atau gerakan—seperti yang digunakan
hewan—sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan, termasuk
mengekspresikan emosi. Tetapi yang menuntut bahasa bukanlah jiwa dengan
perasaan-perasaannya, melainkan pikiran.
Di sinilah pentingnya pembedaan antara jiwa dan pikiran,
sebagaimana telah dirumuskan oleh Aristotle. Jiwa berkaitan dengan emosi dan
pengalaman indrawi, sedangkan pikiran berkaitan dengan makna. Dalam karya De
Interpretatione, Aristoteles menunjukkan bahwa bahasa tidak terutama
berkaitan dengan kebenaran atau kesalahan, melainkan dengan makna. Kata-kata
pada dirinya sendiri tidak benar atau salah; mereka hanya menjadi demikian
ketika disusun dalam pernyataan.
Dengan demikian, dorongan untuk berbicara pada dasarnya
adalah dorongan untuk mencari makna, bukan semata-mata kebenaran. Pikiran dan
bahasa memiliki hubungan yang sangat erat: sebagaimana kata-kata membawa makna,
pikiran pun bergerak dalam makna. Karena itu, makhluk yang berpikir terdorong
untuk berbicara, dan makhluk yang berbicara terdorong untuk berpikir.
Kebutuhan akan makna ini tidak dapat dipenuhi tanpa berpikir
dalam bentuk diskursif—yakni berpikir melalui kata-kata. Bahkan ketika kita
berpikir dalam diam, kita tetap berbicara kepada diri sendiri. Karena itu,
berpikir tidak mungkin terjadi tanpa bahasa, meskipun tidak selalu membutuhkan
komunikasi dengan orang lain.
Namun bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi.
Ia juga merupakan cara manusia “mengambil alih” dunia—memberi nama pada
sesuatu, sehingga yang semula asing menjadi akrab. Dengan menamai, manusia
menjadikan dunia sebagai bagian dari dirinya.
Menariknya, hubungan antara bahasa dan pikiran tidak selalu
sama dalam semua kebudayaan. Dalam tradisi Tiongkok, misalnya, tulisan tidak
sekadar melambangkan bunyi, melainkan menghadirkan makna secara visual. Di
sana, berpikir lebih dekat dengan pengolahan citra daripada rangkaian kata.
Sebuah tanda dapat langsung mewakili suatu konsep secara konkret, tanpa melalui
abstraksi seperti dalam bahasa alfabet.
Sebaliknya, dalam tradisi Barat, konsep bersifat abstrak dan
tidak pernah sepenuhnya dapat direpresentasikan oleh gambar. Seperti dijelaskan
oleh Immanuel Kant, konsep seperti “anjing” bukanlah gambar tertentu, melainkan
aturan umum yang memungkinkan kita mengenali berbagai bentuk anjing. Dengan
demikian, pikiran bekerja melalui abstraksi, bukan representasi langsung.
Namun baik dalam bentuk visual maupun verbal, terdapat satu
kesamaan mendasar: keduanya mengandaikan kemampuan pikiran untuk berhubungan
dengan sesuatu yang tidak hadir secara langsung. Pikiran mampu menangani yang
tak terlihat—dan di sinilah bahasa memainkan peran penting.
Bahasa menyediakan sarana bagi pikiran untuk menjembatani
kesenjangan antara yang tak tampak dan dunia penampakan. Namun bahasa tidak
memiliki kosakata khusus untuk aktivitas mental. Ia meminjam istilah dari
pengalaman indrawi dan kehidupan sehari-hari, lalu menggunakannya secara
metaforis.
Karena itu, bahasa filsafat pada dasarnya bersifat
metaforis. Metafora bukan sekadar gaya bahasa, melainkan cara fundamental bagi
pikiran untuk memahami sesuatu yang tidak dapat dilihat. Ia menghubungkan dua
hal yang berbeda melalui kesamaan relasi.
Sebagaimana dijelaskan oleh Aristoteles, metafora bukanlah
kesamaan objek, melainkan kesamaan hubungan. Misalnya, sebagaimana perisai
berhubungan dengan Ares, demikian pula cawan berhubungan dengan Dionysus.
Dengan demikian, metafora memungkinkan kita memahami sesuatu melalui analogi.
Menurut Kant, metafora adalah satu-satunya cara bagi rasio
spekulatif untuk menampakkan dirinya. Ia membawa konsep abstrak kembali ke
dunia penampakan, sehingga dapat dipahami. Tanpa metafora, pikiran tidak
memiliki sarana untuk mengungkapkan dirinya.
Semua istilah filsafat pada dasarnya adalah metafora yang
telah “membeku.” Jika kita melacak asal-usulnya, kita akan menemukan bahwa
konsep-konsep tersebut berasal dari pengalaman konkret. Misalnya, istilah
“jiwa” awalnya berarti “napas kehidupan,” dan “ide” berarti bentuk atau
rancangan yang dimiliki oleh seorang pengrajin sebelum membuat sesuatu.
Dengan demikian, bahasa filsafat tidak pernah sepenuhnya
lepas dari dunia penampakan. Bahkan ketika berbicara tentang hal-hal yang
paling abstrak, ia tetap bergantung pada pengalaman indrawi.
Peran metafora ini telah disadari sejak awal oleh para
penyair. Dalam karya-karya Homer, misalnya, pengalaman batin sering dijelaskan
melalui gambaran alam. Ketakutan dan kesedihan digambarkan seperti badai di
laut. Metafora semacam ini tidak dimaksudkan untuk menjelaskan alam, melainkan
untuk menjelaskan pengalaman batin yang tidak tampak.
Metafora bekerja secara satu arah: ia membawa kita dari yang
terlihat menuju yang tidak terlihat. Ia tidak dapat dibalik begitu saja. Dari
badai kita dapat memahami kesedihan, tetapi dari kesedihan kita tidak dapat
memahami badai.
Dengan demikian, metafora menjadi jembatan antara dua ranah:
dunia penampakan dan dunia pikiran. Ia memungkinkan kita untuk memahami yang
tak terlihat melalui yang terlihat.
Akhirnya, dapat dikatakan bahwa tidak ada dua dunia yang
benar-benar terpisah—dunia yang tampak dan dunia yang tidak tampak. Keduanya
terhubung melalui bahasa, khususnya melalui metafora. Pikiran tidak pernah
sepenuhnya meninggalkan dunia penampakan; ia selalu kembali kepadanya melalui
bahasa.
Dengan kata lain, justru melalui metafora, dunia yang tidak
tampak menjadi dapat dipahami—dan dunia yang tampak memperoleh makna yang lebih
dalam.
13. Metafora dan Yang Tak Terkatakan (Ineffable)
Aktivitas mental, yang hanya dapat menampakkan diri melalui
bahasa, masing-masing meminjam metaforanya dari indra tubuh yang berbeda.
Kekuatan metafora ini bergantung pada adanya kesesuaian mendasar antara
pengalaman indrawi tertentu dan aktivitas mental tertentu. Sejak awal filsafat
formal, berpikir hampir selalu dipahami melalui metafora penglihatan. Karena
berpikir merupakan aktivitas mental yang paling mendasar, tidak mengherankan
jika penglihatan kemudian menjadi model utama bagi persepsi secara umum.
Dominasi penglihatan ini begitu dalam tertanam dalam bahasa
Yunani—dan karenanya dalam bahasa konseptual kita—sehingga sering kali dianggap
begitu jelas hingga tidak lagi dipertanyakan. Namun sebenarnya, jika kita
mempertimbangkan sifat penglihatan yang dapat “menutup diri” dari dunia luar,
atau mengingat tradisi penyair buta yang kisahnya didengar, kita bisa saja
bertanya: mengapa bukan pendengaran yang menjadi model utama bagi berpikir?
Meski demikian, metafora berpikir tidak sepenuhnya berasal
dari penglihatan. Dalam teori tentang kehendak, misalnya, metafora sering kali
diambil dari dorongan keinginan atau bahkan dari pendengaran—terutama dalam
tradisi religius di mana Tuhan tidak dilihat, melainkan didengar. Dalam
filsafat modern, Martin Heidegger bahkan menggambarkan bahwa ego yang berpikir
“mendengar” panggilan Ada.
Sementara itu, kemampuan menilai (judgment), yang
berkembang paling akhir di antara aktivitas mental, menggunakan metafora dari
indra perasa atau “rasa” (taste). Tidak mengherankan jika Immanuel Kant awalnya
merancang karyanya sebagai Critique of Taste. Penilaian, seperti rasa,
bersifat pribadi dan subjektif, tetapi tetap menuntut persetujuan umum—dan di
sinilah letak problem utamanya.
Filsuf Hans Jonas menunjukkan keunggulan penglihatan sebagai
model bagi pikiran. Penglihatan memungkinkan adanya jarak antara subjek dan
objek—syarat utama bagi objektivitas. Melalui penglihatan, kita dapat memahami
sesuatu “sebagaimana adanya,” terpisah dari bagaimana ia memengaruhi kita.
Selain itu, penglihatan memberikan pengalaman yang serentak dan utuh, berbeda
dengan indra lain seperti pendengaran yang bergantung pada urutan waktu.
Namun, meskipun bahasa menjadi sarana utama bagi pikiran
untuk menampakkan diri, ia tidak sepenuhnya memadai. Di sinilah metafora
berperan sebagai jembatan. Ia membantu pikiran mengungkapkan yang tak terlihat
melalui yang terlihat. Akan tetapi, metafora juga membawa risiko: ia dapat
memberikan kesan seolah-olah sesuatu yang sebenarnya belum terbukti menjadi
tampak jelas dan meyakinkan.
Hal ini tampak dalam berbagai teori pseudo-ilmiah, seperti
teori kesadaran dalam psikoanalisis yang menggunakan metafora gunung es. Dalam
metafora ini, kesadaran hanya dianggap sebagai puncak kecil dari keseluruhan
jiwa yang tersembunyi. Meskipun belum pernah terbukti secara ilmiah, metafora
ini begitu kuat sehingga tampak meyakinkan tanpa perlu pembuktian.
Bahaya semacam ini tidak hanya mengancam ilmu semu, tetapi
juga filsafat. Para filsuf besar sepanjang sejarah sering kali menyadari bahwa
ada sesuatu yang tidak dapat diungkapkan sepenuhnya dalam bahasa—sesuatu yang
tetap “tak terkatakan.” Mereka memahami bahwa apa yang mereka sampaikan
bukanlah pengetahuan yang pasti, melainkan pemikiran yang berusaha mendekati
sesuatu yang melampaui kata-kata.
Sejak Plato, telah disadari bahwa kebenaran tertinggi tidak
dapat sepenuhnya dituliskan. Pemikiran yang paling dalam hanya dapat muncul
sebagai pencerahan tiba-tiba—seperti kilatan cahaya dalam jiwa—yang tidak dapat
sepenuhnya ditangkap dalam bahasa.
Pandangan ini terus berlanjut hingga filsuf modern. Friedrich
Nietzsche bahkan menyatakan bahwa pemikirannya tidak lagi dapat dikomunikasikan
sepenuhnya. Sementara itu, Ludwig Wittgenstein melihat filsafat sebagai
perjuangan melawan keterbatasan bahasa itu sendiri.
Ketegangan utama di sini terletak pada hubungan antara
melihat (theōria) dan berbicara (logos). Kebenaran dalam tradisi
metafisika sering dipahami sebagai sesuatu yang “terlihat” secara
langsung—jelas dan tak terbantahkan. Namun bahasa bekerja secara berurutan,
melalui kalimat dan penjelasan, sehingga tidak pernah mampu sepenuhnya
menangkap keutuhan pengalaman tersebut.
Dalam tradisi Barat, kebenaran sering dipahami melalui
metafora penglihatan—sebagai sesuatu yang jelas terlihat. Sebaliknya, dalam
tradisi Ibrani, kebenaran dipahami melalui pendengaran: Tuhan tidak dilihat,
tetapi didengar. Karena itu, kebenaran menuntut ketaatan, bukan sekadar
penglihatan.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa cara kita memahami kebenaran
sangat bergantung pada metafora yang kita gunakan.
Namun bagi aktivitas berpikir itu sendiri, tidak ada
metafora yang benar-benar memadai. Semua metafora berasal dari indra, sementara
berpikir justru berurusan dengan hal-hal yang tidak dapat ditangkap oleh indra.
Karena itu, setiap metafora selalu membawa keterbatasan.
Berpikir tidak menghasilkan sesuatu yang tetap atau final.
Ia tidak seperti pengetahuan yang dapat disimpan. Sebaliknya, berpikir adalah
aktivitas yang terus berlangsung, tanpa akhir yang pasti. Dalam arti ini, ia
lebih mirip dengan kehidupan itu sendiri.
Sebagaimana tubuh tanpa napas adalah mayat, demikian pula
pikiran tanpa aktivitas berpikir adalah mati. Aristotle bahkan menyatakan bahwa
aktivitas berpikir adalah kehidupan itu sendiri—suatu gerak yang tidak menuju
tujuan akhir, melainkan berputar dalam dirinya sendiri.
Gerak melingkar ini menunjukkan bahwa berpikir bukanlah
proses menuju hasil, melainkan aktivitas yang menyertai kehidupan manusia
sepanjang hidupnya.
Namun dari sini muncul pertanyaan yang sulit dijawab:
mengapa kita berpikir?
Ludwig Wittgenstein pernah mengajukan pertanyaan serupa:
apakah manusia berpikir karena berpikir itu berguna? Jawabannya tidak
sederhana. Kita memang kadang berpikir karena manfaatnya, tetapi itu bukan
alasan utama.
Karena itu, alih-alih bertanya mengapa kita berpikir,
mungkin lebih tepat untuk bertanya:
apa yang membuat kita berpikir?
III. Apa yang membuat kita berpikir?
14. Asumsi Pra-Filosofis dalam Filsafat Yunani
Pertanyaan kita—apa yang membuat manusia berpikir?—tidak
dimaksudkan untuk mencari sebab ataupun tujuan. Dengan mengandaikan bahwa
manusia memang memiliki kebutuhan untuk berpikir, pertanyaan ini berangkat dari
anggapan bahwa aktivitas berpikir termasuk dalam jenis aktivitas (energeia)
yang tujuannya berada di dalam dirinya sendiri. Seperti halnya bermain musik,
aktivitas ini tidak menghasilkan sesuatu yang dapat dilihat sebagai hasil akhir
di dunia luar.
Kita tidak dapat menentukan kapan kebutuhan untuk berpikir
itu mulai muncul. Namun keberadaan bahasa, serta pengetahuan kita tentang masa
prasejarah dan mitologi, memberi dasar yang cukup untuk menganggap bahwa
kebutuhan ini telah hadir sejak manusia pertama kali ada. Yang dapat kita
tentukan secara historis adalah munculnya filsafat dan metafisika, beserta
berbagai jawaban yang diberikan terhadap pertanyaan ini dalam perjalanan
sejarah.
Sebagian dari jawaban Yunani terletak pada keyakinan bahwa
filsafat memungkinkan manusia yang fana untuk hidup dekat dengan hal-hal yang
abadi. Dengan demikian, manusia dapat memperoleh—atau setidaknya
mendekati—suatu bentuk keabadian sejauh yang mungkin bagi kodratnya. Dalam
momen-momen tertentu, aktivitas berfilsafat bahkan dianggap mampu mengangkat
manusia menjadi “seperti dewa,” sebagaimana dikatakan oleh Cicero: manusia fana
menjadi semacam “dewa fana.”
Namun di sini terdapat ketegangan. Istilah “filsafat”
sendiri berarti cinta akan kebijaksanaan, bukan kepemilikan kebijaksanaan.
Seperti yang ditegaskan oleh Plato, para dewa tidak berfilsafat, karena mereka
sudah memiliki kebijaksanaan itu.
Salah satu gagasan penting dalam tradisi Yunani adalah
konsep athanatizein—yakni usaha untuk “menjadi abadi.” Gagasan ini
sangat memengaruhi seluruh tradisi metafisika Barat. Dalam pandangan awal,
keabadian dapat dicapai melalui tindakan besar dan kata-kata agung yang
dikenang oleh orang lain. Namun dalam perkembangan filsafat, gagasan ini
mengalami perubahan mendasar.
Dalam kebudayaan Yunani, para dewa tidak dipahami sebagai
makhluk yang sepenuhnya melampaui dunia. Mereka memiliki sifat yang serupa
dengan manusia, hanya saja mereka tidak mati dan hidup tanpa beban kebutuhan.
Karena itu, mereka dapat menghabiskan waktu untuk menyaksikan dunia—sebagai
penonton dari segala peristiwa manusia.
Pandangan ini mencerminkan sikap dasar orang Yunani terhadap
dunia: dunia adalah sesuatu yang layak dilihat. Segala sesuatu yang
ada—alam, keteraturan kosmos, karya manusia, bahkan tindakan moral—hadir
terutama untuk ditampilkan dan dikagumi. Keindahan (kalon) menjadi daya
tarik utama yang mendorong manusia untuk berhenti dari aktivitas praktis dan
beralih pada kontemplasi.
Dalam konteks ini, keutamaan manusia tidak dinilai dari niat
atau hasil, melainkan dari bagaimana tindakan itu tampak saat dilakukan.
Keutamaan adalah semacam virtuositas—kemampuan untuk tampil dengan baik
di hadapan dunia.
Dari sinilah muncul peran penting para penyair dan
sejarawan. Mereka tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi memberi makna dan
keabadian pada tindakan manusia melalui kata-kata. Sebuah tindakan akan lenyap,
tetapi cerita tentangnya dapat bertahan. Dengan demikian, yang menentukan
keabadian bukan hanya pelaku, tetapi juga penutur.
Namun filsafat Yunani kemudian mengambil arah yang berbeda.
Para filsuf mulai mempertanyakan apakah keabadian harus bergantung pada ingatan
orang lain. Mereka mencari jalan lain—yakni dengan berhubungan langsung dengan
sesuatu yang benar-benar abadi.
Di sinilah muncul gagasan tentang Being—Ada—sebagai
sesuatu yang tidak hanya tidak mati, tetapi juga tidak pernah lahir. Berbeda
dengan para dewa dalam mitologi yang memiliki awal, Being dipahami
sebagai sesuatu yang sepenuhnya abadi: tanpa awal dan tanpa akhir.
Pemikiran ini berkembang dalam karya Parmenides, yang
menyatakan bahwa berpikir dan Ada adalah satu. Dalam aktivitas berpikir,
manusia berhubungan langsung dengan yang abadi. Dengan menarik diri dari dunia
yang berubah, manusia dapat “mendekati” yang ilahi.
Kemampuan ini disebut nous—akal budi atau pikiran
murni. Dalam pandangan Aristotle, nous adalah sesuatu yang ilahi dalam
diri manusia. Melalui nous, manusia dapat berpartisipasi dalam yang
abadi.
Namun manusia tidak hanya memiliki nous, tetapi juga logos—kemampuan
berbicara dan bernalar. Berbeda dengan nous yang berhubungan dengan yang
abadi, logos berkaitan dengan dunia manusia: opini, peristiwa, dan
hal-hal yang berubah.
Masalah muncul ketika hasil kontemplasi harus diungkapkan
dalam bahasa. Apa yang ditangkap oleh nous tidak selalu dapat
diterjemahkan secara memadai oleh logos. Bahasa berurutan dan terbatas,
sementara intuisi bersifat langsung dan menyeluruh.
Meskipun demikian, filsafat tetap berusaha menjembatani
keduanya. Bahasa filsafat berusaha “menyerupai” apa yang dilihat oleh pikiran,
meskipun tidak pernah sepenuhnya berhasil.
Dalam tradisi Yunani, tujuan akhir filsafat adalah
keabadian. Namun seiring waktu, tujuan ini berubah. Dalam filsafat modern,
terutama sejak Georg Wilhelm Friedrich Hegel, fokus beralih dari keabadian
menuju keniscayaan—usaha untuk memahami hukum-hukum yang mengatur dunia.
Sementara itu, munculnya agama Kristen membawa perubahan
besar. Keabadian tidak lagi dicapai melalui berpikir, melainkan melalui iman.
Dunia tidak lagi dianggap abadi, tetapi manusia dijanjikan kebangkitan setelah
kematian.
Namun meskipun tujuan berubah, tema-tema metafisika tetap
bertahan: yang abadi, yang tetap, dan yang tidak berubah tetap menjadi pusat
perhatian filsafat.
Akibatnya, hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia
sehari-hari—yang bersifat berubah dan tidak pasti—sering kali dikesampingkan
sebagai tidak layak untuk dipikirkan secara filosofis.
Dengan demikian, warisan filsafat Yunani tidak hanya
terletak pada jawabannya, tetapi juga pada pertanyaan-pertanyaan yang terus
diwariskan: apa yang layak untuk dipikirkan, dan bagaimana manusia dapat
memahami tempatnya dalam dunia yang berubah ini.
15. Jawaban Plato dan Gema-Gemanya
Dalam tradisi filsafat Yunani, terdapat satu jawaban atas
pertanyaan apa yang membuat manusia berpikir? yang tidak bergantung pada
asumsi-asumsi pra-filosofis sebelumnya. Jawaban ini berasal dari Plato, yang
menyatakan bahwa asal mula filsafat adalah kekaguman (wonder).
Menurut Arendt, jawaban ini tetap memiliki kekuatan hingga sekarang.
Kekaguman ini tidak berkaitan dengan keinginan akan
keabadian. Bahkan dalam penafsiran Aristotle, yang memahami kekaguman sebagai
kebingungan akibat ketidaktahuan, tidak terdapat unsur dorongan untuk
“mengabadi.” Sebaliknya, kekaguman adalah pengalaman yang berdiri sendiri.
Dalam dialog Theaetetus, Plato secara singkat tetapi
kuat menyatakan bahwa kekaguman adalah ciri khas filsuf dan merupakan awal dari
filsafat. Kekaguman ini bukan sekadar rasa heran biasa, melainkan suatu
pengalaman mendalam yang menggugah pikiran.
Jika diperhatikan lebih dekat, kekaguman yang dimaksud Plato
bukanlah kebingungan, keterkejutan, atau rasa tidak tahu semata. Ia adalah kekaguman
yang penuh penghormatan. Apa yang menimbulkan kekaguman ini bukanlah
sesuatu yang asing, melainkan sesuatu yang sebenarnya sudah akrab—namun
biasanya tidak terlihat.
Dengan kata lain, kekaguman muncul ketika sesuatu yang
tersembunyi tiba-tiba menjadi tampak dalam apa yang biasa kita lihat.
Dalam tradisi Yunani awal, pengalaman ini sering dikaitkan
dengan penampakan ilahi. Dalam kisah-kisah Homer, para dewa kerap hadir dalam
wujud manusia biasa, dan hanya mereka yang “dipilih” yang mampu mengenalinya.
Kekaguman yang muncul bukanlah sesuatu yang kita ciptakan sendiri, melainkan
sesuatu yang “menimpa” kita—sebuah pengalaman yang harus diterima.
Dari sini jelas bahwa kekaguman bukanlah tindakan aktif,
melainkan suatu keadaan batin yang dialami. Ia membuka manusia terhadap sesuatu
yang lebih dalam dari sekadar apa yang tampak.
Kekaguman ini kemudian melahirkan bahasa. Apa yang mula-mula
dialami sebagai pengalaman batin, berkembang menjadi ungkapan dalam
kata-kata—biasanya dalam bentuk pujian atau pengagungan. Namun yang dipuji
bukanlah benda tertentu, melainkan keteraturan yang tidak terlihat di balik
segala penampakan.
Seperti dikatakan oleh Anaxagoras, apa yang tampak hanyalah
sekilas dari yang tidak tampak. Dunia penampakan memberi petunjuk tentang suatu
keteraturan tersembunyi yang tidak dapat dilihat secara langsung.
Dalam pemikiran Heraclitus, keteraturan yang tidak terlihat
ini bahkan dianggap lebih tinggi daripada yang tampak. Ia menyebutnya sebagai
“harmoni yang tersembunyi,” yang justru lebih kuat daripada harmoni yang
terlihat.
Dengan demikian, filsafat bermula dari kesadaran bahwa di
balik dunia yang tampak terdapat suatu keteraturan yang tidak tampak—dan bahwa
dunia yang kita lihat hanya memberikan petunjuk samar tentangnya.
Namun Plato sendiri tidak menjelaskan secara rinci bagaimana
kekaguman ini berkembang menjadi aktivitas berpikir yang sistematis. Di sinilah
pemikir lain seperti Heraclitus memberikan petunjuk tambahan.
Heraclitus menunjukkan bahwa manusia tidak dapat memahami
dunia hanya dengan indra. Tanpa logos—yakni kemampuan berpikir dan
bernalar—indra justru dapat menyesatkan. Karena itu, kekaguman harus
diterjemahkan ke dalam bahasa dan pemikiran agar dapat dipahami.
Yang penting di sini adalah bahwa kekaguman tidak pernah
diarahkan pada sesuatu yang khusus. Ia selalu menyangkut keseluruhan—sesuatu
yang tidak pernah sepenuhnya tampak. Harmoni yang dimaksud bukanlah milik satu
objek tertentu, melainkan hasil dari hubungan antara banyak hal.
Sejak Parmenides, keseluruhan yang tak terlihat ini disebut
sebagai Being—Ada. Meskipun tampak sebagai konsep yang sangat umum dan
abstrak, pengalaman akan Being sebenarnya sangat kuat.
Pengalaman ini digambarkan secara menarik oleh Samuel Taylor
Coleridge. Ia mengajak kita untuk merenungkan keberadaan itu sendiri—bukan
benda tertentu, tetapi fakta bahwa sesuatu ada. Dalam pengalaman ini,
manusia merasakan sesuatu yang misterius sekaligus menakjubkan: bahwa
“ketiadaan” tidak dapat dipikirkan, sementara “ada” tidak dapat sepenuhnya
dipahami.
Pengalaman semacam ini menunjukkan bahwa berpikir membawa
manusia pada batasnya sendiri—pada sesuatu yang tidak dapat dijelaskan
sepenuhnya.
Pertanyaan yang muncul dari pengalaman ini kemudian
dirumuskan ulang dalam filsafat modern oleh Martin Heidegger: mengapa ada
sesuatu, dan bukan ketiadaan? Pertanyaan ini disebutnya sebagai pertanyaan
paling dasar dalam metafisika.
Pertanyaan serupa sebenarnya telah diajukan sebelumnya oleh Gottfried
Wilhelm Leibniz, yang mencoba menjawabnya dengan konsep sebab pertama, yaitu
Tuhan. Namun Immanuel Kant menunjukkan bahwa upaya semacam ini pada akhirnya
membawa pikiran ke dalam kebuntuan: kita tidak dapat memahami asal mula
keberadaan itu sendiri.
Dalam perkembangan selanjutnya, pertanyaan ini semakin
berubah arah. Jika dalam tradisi Yunani ia menimbulkan kekaguman, dalam
filsafat modern ia sering kali menimbulkan kegelisahan, bahkan keputusasaan.
Hal ini tampak jelas dalam karya Jean-Paul Sartre, khususnya
dalam novel Nausea. Di sana, pengalaman akan keberadaan tidak lagi
dirasakan sebagai sesuatu yang indah atau mengagumkan, melainkan sebagai
sesuatu yang berat, bahkan menjijikkan. Keberadaan tampak sebagai sesuatu yang
tanpa alasan dan tanpa makna.
Perubahan ini menunjukkan pergeseran mendalam: dari
kekaguman menuju penolakan, dari afirmasi menuju kegelisahan.
Namun, dalam sejarah filsafat modern juga muncul upaya untuk
kembali menegaskan keberadaan. Friedrich Nietzsche, misalnya, mengembangkan
gagasan amor fati—cinta terhadap nasib—dan konsep “kekekalan yang
berulang” sebagai bentuk afirmasi total terhadap kehidupan.
Dalam pandangan ini, berpikir tidak lagi mencari penjelasan,
melainkan menerima keberadaan sebagaimana adanya.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang apa yang membuat manusia
berpikir membawa kita pada ketegangan yang tidak pernah sepenuhnya
terselesaikan: antara ada dan ketiadaan, antara makna dan ketiadaan
makna.
Dalam perspektif ini, berpikir bukan sekadar aktivitas
intelektual, melainkan pengalaman eksistensial yang mendalam—yang dapat
melahirkan kekaguman, kebingungan, bahkan keputusasaan.
Namun, sebagaimana disarankan oleh Heidegger, mungkin
berpikir juga berkaitan dengan sesuatu yang lebih sederhana: bersyukur.
Dalam akar katanya, “berpikir” dan “berterima kasih” memiliki hubungan yang
sama. Dengan demikian, berpikir dapat dipahami sebagai bentuk penerimaan
terhadap kenyataan bahwa kita ada.
Meski demikian, kesulitan tetap ada. Kekaguman sebagai awal
filsafat cenderung mengabaikan kenyataan pahit seperti kejahatan, keburukan,
dan ketidakharmonisan.
Dalam dialog Parmenides, Plato sendiri menyadari
masalah ini ketika ditanya apakah hal-hal remeh dan menjijikkan—seperti lumpur
atau kotoran—juga memiliki bentuk ideal. Ia tidak memberikan jawaban yang
memuaskan, dan persoalan ini tetap terbuka.
Dengan demikian, meskipun filsafat berusaha memahami yang
tidak tampak melalui yang tampak, tidak semua hal dalam dunia dapat dengan
mudah dimasukkan ke dalam kerangka tersebut.
Namun satu hal tetap jelas: baik dalam pemikiran Plato
maupun tradisi setelahnya, aktivitas berpikir selalu berhubungan dengan sesuatu
yang tidak tampak—sesuatu yang hanya dapat ditangkap melalui refleksi, tetapi
ditunjukkan oleh dunia penampakan.
16. Jawaban Romawi
Dalam upaya menelusuri sumber dasar dari aktivitas berpikir
yang tidak bersifat kognitif, sebelumnya telah ditekankan unsur-unsur seperti
kekaguman, peneguhan, dan afirmasi—yang sangat kuat dalam tradisi Yunani.
Namun, pandangan umum tentang filsafat yang berkembang kemudian justru dibentuk
oleh pengalaman Romawi, yang dalam banyak hal berbeda secara mendasar.
Orang Romawi mewarisi kebudayaan Yunani, tetapi membentuk
pandangan mereka sendiri tentang filsafat, terutama pada masa kemunduran
Republik. Pada masa itu, ketika res publica—urusan publik—mulai runtuh,
filsafat tidak lagi dipandang sebagai pencarian makna, melainkan sebagai sarana
praktis untuk menghadapi kehidupan.
Filsafat, yang awalnya merupakan warisan Yunani, berubah
menjadi semacam “ilmu” yang berfungsi sebagai pengobatan bagi jiwa,
sebagaimana disebut oleh Cicero. Tujuannya bukan lagi untuk memahami dunia,
melainkan untuk mengatasi keputusasaan dengan cara menjauh dari dunia melalui
pikiran.
Semboyan yang mencerminkan perubahan ini adalah nil
admirari—tidak mengagumi apa pun, tidak terkejut oleh apa pun. Jika dalam
tradisi Yunani filsafat berawal dari kekaguman, dalam tradisi Romawi justru
dimulai dari upaya untuk meniadakan kekaguman itu.
Pengaruh Romawi ini bahkan terlihat dalam filsafat modern. Georg
Wilhelm Friedrich Hegel, misalnya, menyatakan bahwa filsafat muncul ketika
suatu bentuk kehidupan telah menua dan mulai runtuh. Dengan kata lain, berpikir
lahir bukan dari kebutuhan rasio semata, melainkan dari pengalaman keterpecahan
dan krisis.
Dalam pandangan ini, berpikir menjadi sarana
rekonsiliasi—upaya untuk memulihkan kesatuan yang telah hilang. Dunia yang
retak dan tidak lagi bermakna mendorong manusia untuk mencari makna melalui
pikiran.
Pandangan ini tampak masuk akal. Sering kali dorongan untuk
berpikir memang muncul ketika dunia terasa tidak dapat ditanggung. Namun
menariknya, pengalaman semacam ini hampir tidak ditemukan dalam filsafat Yunani
awal. Ia baru menjadi dominan pada masa kemunduran, ketika pemikiran Yunani
diadaptasi ke dalam konteks Romawi.
Perkembangan ini mencapai bentuk sistematis dalam Stoisisme,
khususnya dalam pemikiran Epictetus. Baginya, filsafat bukanlah pencarian
kebenaran, melainkan seni hidup—cara mengelola kehidupan agar tetap
dapat ditanggung.
Dalam kerangka ini, berpikir menjadi semacam keterampilan (technē).
Tujuannya bukan lagi memahami dunia, melainkan mengendalikan
diri. Yang terpenting bukanlah teori, melainkan penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari.
Epictetus menekankan bahwa yang harus dikuasai bukanlah
berpikir itu sendiri, melainkan cara yang benar dalam menghadapi kesan-kesan (impressions).
Apa yang memengaruhi kita tidak ditentukan oleh realitas itu sendiri, melainkan
oleh cara kita memaknainya.
Dengan demikian, manusia dapat “meniadakan” realitas dengan
cara tidak mengakuinya sebagai nyata. Dunia luar tidak lagi memiliki kekuasaan
atas kita jika kita menolak untuk memberinya makna.
Pandangan ini mengubah fungsi berpikir secara radikal. Jika
dalam tradisi Yunani berpikir adalah upaya memahami yang tidak tampak, dalam
Stoisisme berpikir menjadi alat untuk melindungi diri dari dunia.
Dalam konteks ini, kesadaran mengalami perubahan penting. Ia
tidak lagi sekadar kesadaran diri yang menyertai tindakan, melainkan menjadi
pusat pengalaman itu sendiri. Dunia luar seolah ditarik ke dalam kesadaran, dan
realitas direduksi menjadi sekadar “kesan.”
Dengan cara ini, manusia menciptakan dunia batin yang
mandiri—sebuah tempat perlindungan dari realitas luar yang tidak pasti dan
sering kali menyakitkan.
Namun, pendekatan ini memiliki konsekuensi besar. Dengan
meniadakan realitas melalui pikiran, manusia berisiko kehilangan hubungan
dengan dunia. Apa yang semula merupakan penarikan diri sementara berubah
menjadi penolakan terhadap realitas itu sendiri.
Dalam perkembangan selanjutnya, kecenderungan ini semakin
menguat. Filsafat tidak lagi sekadar menarik diri dari dunia, tetapi berusaha
menjelaskan seluruh dunia sebagai fenomena kesadaran, sebagaimana terlihat
dalam sistem pemikiran Hegel.
Di sini terlihat bahwa penarikan diri dari dunia, yang
merupakan ciri dasar berpikir, dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih
ekstrem: bukan hanya menjauh dari dunia, tetapi menggantinya dengan dunia
pikiran.
Namun perlu dicatat bahwa kemampuan ini bukan semata-mata
hasil kehendak, melainkan berasal dari sifat dasar berpikir itu sendiri.
Pikiran memiliki kemampuan untuk mengubah fokus—dari objek ke pengalaman
terhadap objek—sehingga realitas kehilangan kekuatannya atas kita.
Dalam arti tertentu, berpikir memungkinkan manusia untuk
menciptakan jarak dari dunia, bahkan ketika ia tetap berada di dalamnya.
Meskipun demikian, efektivitas pendekatan ini memiliki
batas. Penolakan terhadap realitas mungkin memberikan ketenangan psikologis,
tetapi tidak mengubah kenyataan itu sendiri. Ia hanya meredakan kecemasan,
bukan menghapus sumbernya.
Sejarah menunjukkan bahwa pemikiran semacam ini berkembang
terutama dalam kondisi ekstrem—ketika dunia tidak lagi memberikan harapan.
Dalam situasi seperti itu, berpikir menjadi satu-satunya cara untuk bertahan.
Namun, jika dibandingkan dengan tradisi Yunani, terlihat
perbedaan yang tajam. Di satu sisi, berpikir lahir dari kekaguman terhadap
dunia; di sisi lain, ia muncul dari keinginan untuk melarikan diri dari dunia.
Meskipun demikian, kedua tradisi ini memiliki satu kesamaan
mendasar: berpikir selalu melibatkan penarikan diri dari dunia penampakan.
Justru karena sifat inilah, berpikir dapat menjadi sarana
pelarian. Ia memungkinkan manusia untuk menjauh dari realitas—baik untuk
memahaminya maupun untuk menghindarinya.
Selain itu, berpikir juga memberikan pengalaman yang khas:
ia membebaskan manusia dari kesadaran akan tubuh dan dari ketergantungan pada
dunia luar. Dalam aktivitas berpikir, manusia mengalami suatu bentuk kebebasan
yang tidak bergantung pada apa pun selain dirinya sendiri.
Seperti yang telah dicatat oleh Aristotle, berpikir adalah
satu-satunya aktivitas yang tidak memerlukan apa pun di luar dirinya. Aktivitas
lain selalu membutuhkan sesuatu—alat, objek, atau kondisi tertentu—sedangkan
berpikir cukup dengan dirinya sendiri.
Karena itu, tidak mengherankan jika berpikir sering dianggap
sebagai bentuk kehidupan tertinggi. Namun pada saat yang sama, sifat ini juga
menjelaskan mengapa berpikir dapat digunakan sebagai sarana untuk menjauh dari
dunia.
Pada akhirnya, terdapat dua sumber utama dari aktivitas
berpikir dalam sejarah:
- kekaguman
terhadap dunia, sebagaimana dalam tradisi Yunani,
- dan
keinginan untuk melarikan diri dari dunia, sebagaimana dalam tradisi
Romawi.
Keduanya tampak bertentangan, tetapi keduanya sama-sama
berakar pada pengalaman manusia yang mendasar.
Dengan demikian, berpikir selalu berada di antara dua kutub:
antara keterlibatan dengan dunia dan penarikan diri darinya—antara memahami dan
melarikan diri.
17. Jawaban Socrates
Dalam menjawab pertanyaan apa yang membuat manusia
berpikir, sebelumnya telah disajikan berbagai jawaban yang berasal dari
para filsuf profesional. Namun justru karena berasal dari kalangan profesional,
jawaban-jawaban tersebut sering kali terasa kurang memadai.
Pertanyaan itu tidak lahir dari pengalaman langsung saat
seseorang benar-benar sedang berpikir, melainkan diajukan dari luar—baik dari
kepentingan teoretis maupun dari akal sehat yang mempertanyakan aktivitas yang
tampak “tidak pada tempatnya” dalam kehidupan sehari-hari.
Akibatnya, jawaban yang diberikan cenderung terlalu umum dan
abstrak. Jika kita menyingkirkan perbedaan doktrinalnya, yang tersisa hanyalah
pengakuan akan adanya kebutuhan: kebutuhan untuk mengembangkan kekaguman
(seperti pada Plato), kebutuhan rasio untuk melampaui batas pengetahuan (pada Immanuel
Kant), kebutuhan untuk berdamai dengan kenyataan (pada Georg Wilhelm Friedrich
Hegel), atau kebutuhan untuk mencari makna. Namun semua ini tetap terlalu umum
dan tidak cukup menjelaskan pengalaman konkret berpikir dalam kehidupan
sehari-hari.
Kesulitan utama terletak pada sifat dari “ego yang berpikir”
itu sendiri. Ia tidak memiliki dorongan untuk tampil dalam dunia penampakan. Ia
tidak hanya tidak terlihat oleh orang lain, tetapi juga sulit ditangkap oleh
diri kita sendiri.
Sebagaimana dikatakan oleh Hegel, ego ini bersifat
abstrak—terlepas dari semua ciri khusus individu—dan hanya bergerak dalam ranah
yang umum.
Karena itu, dari sudut pandang dunia sehari-hari, aktivitas
berpikir seolah berlangsung dalam keadaan tersembunyi. Pertanyaan apa yang
membuat kita berpikir pada dasarnya adalah usaha untuk “menarik keluar”
aktivitas tersembunyi ini agar dapat dipahami.
Untuk itu, Arendt mengusulkan pendekatan yang berbeda: bukan
mencari jawaban teoretis, melainkan melihat contoh konkret. Ia mencari sosok
yang tidak hanya berpikir, tetapi juga hidup di tengah dunia—seseorang yang
mampu menjembatani antara berpikir dan bertindak.
Sosok itu adalah Socrates.
Socrates bukanlah filsuf dalam arti biasa. Ia tidak
meninggalkan doktrin, tidak mengajarkan teori, dan tidak mengklaim memiliki
pengetahuan. Ia hidup sebagai warga biasa, berbicara dengan orang lain di ruang
publik, dan tidak mengasingkan diri dari kehidupan sehari-hari. Namun ia juga
tidak tunduk begitu saja pada opini umum. Ia berada di antara—bukan bagian dari
“yang banyak,” tetapi juga bukan bagian dari “yang sedikit.”
Apa yang membuat Socrates istimewa bukanlah ajarannya,
melainkan cara hidupnya. Ia mengabdikan hidupnya pada satu aktivitas: memeriksa
pendapat orang lain dan mendorong mereka untuk berpikir.
Dalam dialog-dialog Plato, percakapan Socrates hampir selalu
berakhir tanpa kesimpulan. Argumen berputar-putar atau berakhir dalam kebuntuan
(aporia). Ketika seseorang mencoba mendefinisikan konsep seperti
keadilan, keberanian, atau kesalehan, definisi itu segera runtuh di bawah
pemeriksaan lebih lanjut.
Hal ini menunjukkan sesuatu yang penting: konsep-konsep yang
kita gunakan sehari-hari—seperti “keadilan” atau “kebahagiaan”—sebenarnya tidak
kita pahami secara jelas. Kita menggunakannya tanpa benar-benar mengetahui
maknanya.
Dengan kata lain, berpikir dimulai ketika kita
mempertanyakan hal-hal yang tampaknya sudah kita ketahui.
Socrates tidak memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
ini. Sebaliknya, ia justru memperdalam kebingungan. Namun kebingungan ini bukan
kegagalan, melainkan inti dari aktivitas berpikir itu sendiri.
Untuk menjelaskan perannya, Socrates menggunakan beberapa
perumpamaan:
Pertama, ia menyebut dirinya sebagai lalat pengganggu
(gadfly). Ia menggugah orang-orang dari keadaan “tidur” mereka—yakni
hidup tanpa refleksi. Ia tidak memberi pengetahuan baru, tetapi membangunkan
kesadaran.
Kedua, ia menyebut dirinya sebagai bidan. Ia membantu
orang lain “melahirkan” pemikiran mereka sendiri. Namun seperti bidan yang
tidak melahirkan anak, Socrates sendiri tidak menghasilkan ajaran. Ia hanya
membantu orang lain menemukan bahwa apa yang mereka pikir sebagai pengetahuan
sering kali hanyalah ilusi.
Ketiga, ia diibaratkan sebagai ikan pari listrik (electric
ray), yang melumpuhkan siapa pun yang bersentuhan dengannya. Namun
kelumpuhan ini bukan kelemahan, melainkan kondisi di mana seseorang berhenti
dari rutinitas dan mulai berpikir.
Apa yang tampak sebagai kelumpuhan dari luar—diam, ragu,
tidak bertindak—justru merupakan bentuk aktivitas paling intens dari dalam.
Dari sini terlihat bahwa berpikir memiliki sifat yang khas:
ia mengganggu, mengguncang, dan membongkar apa yang tampak pasti. Ia
“mencairkan” konsep-konsep yang telah membeku dalam bahasa sehari-hari.
Akibatnya, berpikir memiliki efek yang bersifat destruktif.
Ia meruntuhkan nilai, aturan, dan keyakinan yang selama ini dianggap pasti.
Namun ia tidak menggantinya dengan sesuatu yang baru.
Di sinilah letak bahaya berpikir. Tanpa hasil yang pasti,
berpikir dapat mengarah pada nihilisme—penolakan terhadap semua nilai. Hal ini
terlihat dalam sejarah, misalnya pada pembalikan nilai yang dilakukan oleh Friedrich
Nietzsche atau reinterpretasi oleh Karl Marx.
Namun Arendt menegaskan bahwa nihilisme bukanlah hasil
berpikir itu sendiri, melainkan penyalahgunaan hasilnya. Bahaya terbesar
bukanlah berpikir, melainkan keinginan untuk berhenti berpikir setelah
menemukan “jawaban.”
Sebaliknya, ketiadaan berpikir juga memiliki bahaya. Tanpa
refleksi, manusia mudah mengikuti aturan tanpa memahami maknanya. Dalam kondisi
seperti ini, perubahan nilai dapat terjadi dengan sangat mudah—sebagaimana
terlihat dalam sejarah modern.
Berpikir, meskipun berbahaya, justru menjadi perlindungan
terhadap bahaya tersebut. Ia memaksa manusia untuk mempertimbangkan kembali
setiap tindakan, setiap keputusan, dan setiap nilai.
Bagi Socrates, berpikir bukanlah sarana untuk mencapai
kebenaran final. Ia adalah aktivitas yang harus terus dilakukan. Hidup tanpa
berpikir adalah hidup yang tidak sepenuhnya hidup.
Berpikir, dalam pengertian ini, tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan itu sendiri.
Socrates menggambarkan aktivitas berpikir sebagai sesuatu
yang tak terlihat, seperti angin. Kita tidak dapat melihatnya, tetapi kita
dapat merasakan efeknya. Angin berpikir ini menggerakkan, mengguncang, dan
sekaligus membongkar apa yang tampak tetap.
Namun angin ini juga dapat melumpuhkan. Ketika kita kembali
ke kehidupan sehari-hari setelah berpikir, kita mungkin merasa ragu terhadap
hal-hal yang sebelumnya kita anggap pasti.
Karena itu, berpikir tidak memberikan kepastian, tetapi
justru membuka kemungkinan.
Pada akhirnya, bagi Socrates, berpikir berkaitan dengan
cinta—eros. Manusia berpikir karena ia mencintai kebijaksanaan,
keindahan, dan keadilan—sesuatu yang belum ia miliki sepenuhnya.
Cinta ini mengarahkan pikiran pada hal-hal yang “layak
dicintai.” Sebaliknya, hal-hal seperti kejahatan atau keburukan tidak memiliki
“hakikat” yang dapat dipikirkan. Ia dipahami sebagai kekurangan, bukan sebagai
sesuatu yang berdiri sendiri.
Karena itu, Socrates berpendapat bahwa tidak ada manusia
yang dengan sengaja melakukan kejahatan. Kejahatan terjadi karena ketiadaan
pemahaman—karena kurangnya keterlibatan dalam aktivitas berpikir.
Dengan demikian, berpikir bukan hanya aktivitas intelektual,
tetapi juga memiliki dimensi etis. Ia tidak memberi aturan moral, tetapi
membentuk kesadaran yang membuat tindakan tertentu menjadi tidak mungkin
dilakukan.
18. Dua-dalam-Satu (The Two-in-One)
Di titik ini, kita kembali pada salah satu persoalan utama:
apakah terdapat hubungan antara ketiadaan berpikir dan kejahatan? Jawaban yang
muncul tampaknya mengarah pada kesimpulan bahwa hanya mereka yang digerakkan
oleh eros Socratic—cinta akan kebijaksanaan, keindahan, dan
keadilan—yang benar-benar mampu berpikir dan layak dipercaya. Dengan kata lain,
kita seolah kembali pada gagasan Plato tentang “kodrat mulia,” yakni segelintir
orang yang mungkin benar-benar tidak melakukan kejahatan secara sengaja.
Namun kesimpulan ini berbahaya. Fakta yang lebih menyedihkan
adalah bahwa sebagian besar kejahatan justru dilakukan oleh orang-orang yang
tidak pernah secara sadar memutuskan untuk menjadi baik ataupun jahat. Mereka
bertindak tanpa benar-benar berpikir.
Karena itu, jika berpikir memiliki kekuatan untuk mencegah
kejahatan, maka kekuatan itu tidak boleh bergantung pada objek yang dipikirkan
atau pada kualitas pribadi tertentu. Ia harus berasal dari sifat dasar
aktivitas berpikir itu sendiri.
Dalam hal ini, Socrates memberikan petunjuk penting.
Meskipun ia jarang membuat pernyataan positif, ada dua gagasan yang saling
terkait yang dapat membantu memahami persoalan ini.
Pertama, Socrates menyatakan bahwa lebih baik menderita
ketidakadilan daripada melakukannya. Kedua, ia menyatakan bahwa lebih
baik berbeda pendapat dengan banyak orang daripada bertentangan dengan diri
sendiri.
Kedua pernyataan ini tampak paradoksal, bahkan sulit
diterima oleh akal sehat. Namun keduanya tidak lahir dari teori moral,
melainkan dari pengalaman berpikir itu sendiri.
Pernyataan pertama bersifat subjektif: ia berbicara tentang
apa yang lebih baik bagi diri sendiri. Dari sudut pandang dunia, yang
terpenting adalah bahwa suatu kejahatan telah terjadi—siapa yang lebih
diuntungkan menjadi tidak relevan. Namun Socrates tidak berbicara sebagai warga
negara, melainkan sebagai individu yang hidup dalam aktivitas berpikir.
Bagi seseorang yang berpikir, melakukan kejahatan berarti
harus hidup bersama pelaku kejahatan itu—yakni dirinya sendiri. Di sinilah
muncul makna pernyataan kedua: seseorang tidak boleh bertentangan dengan
dirinya sendiri.
Untuk memahami ini, kita perlu melihat lebih dalam sifat
dari kesadaran diri. Ketika kita berpikir, kita tidak lagi satu secara
sederhana. Kita menjadi dua-dalam-satu: ada “aku” yang bertanya dan
“aku” yang menjawab. Berpikir adalah dialog diam antara diri dengan dirinya
sendiri.
Dalam keadaan ini, kesatuan diri tidak lagi sederhana,
melainkan hasil dari hubungan antara dua pihak dalam diri yang sama.
Keselarasan antara keduanya menjadi sangat penting.
Jika seseorang melakukan kejahatan, ia harus hidup bersama
dirinya sebagai pelaku kejahatan itu. Ia harus berdialog dengan dirinya sendiri
dalam kondisi ketidakharmonisan. Inilah yang ingin dihindari oleh Socrates.
Berpikir, dalam pengertian ini, bukan sekadar aktivitas
intelektual, melainkan pengalaman eksistensial yang melibatkan hubungan dengan
diri sendiri.
Keadaan ini berbeda dengan kesepian. Berpikir adalah
kesendirian yang tidak sepi, karena dalam kesendirian itu kita “menemani” diri
sendiri. Sebaliknya, kesepian terjadi ketika seseorang tidak mampu berdialog
dengan dirinya sendiri—ketika ia benar-benar sendirian.
Dalam aktivitas berpikir, dualitas ini menjadi nyata.
Manusia tidak hanya hidup di antara orang lain, tetapi juga hidup bersama
dirinya sendiri. Kemampuan untuk “berbicara dengan diri sendiri” inilah yang
menjadikan berpikir sebagai aktivitas khas manusia.
Dialog batin ini tidak mengikuti kriteria kebenaran seperti
dalam ilmu pengetahuan. Kriterianya adalah konsistensi dengan diri sendiri.
Seseorang tidak boleh bertentangan dengan dirinya sendiri, karena itu berarti
menjadi lawan bagi dirinya sendiri.
Dalam tradisi filsafat, prinsip ini kemudian dirumuskan
secara lebih abstrak, misalnya dalam logika sebagai prinsip non-kontradiksi.
Namun asal-usulnya bukanlah teori, melainkan pengalaman konkret dari berpikir.
Dengan demikian, berpikir tidak menghasilkan kebenaran
final, tetapi menuntut keselarasan batin.
Dari sini kita dapat memahami kembali hubungan antara
berpikir dan moralitas. Berpikir tidak memberi aturan tentang apa yang harus
dilakukan, tetapi menciptakan kondisi di mana tindakan tertentu menjadi tidak
mungkin dilakukan tanpa menimbulkan konflik batin.
Kesadaran moral—yang kemudian disebut sebagai “hati
nurani”—dapat dipahami sebagai efek samping dari aktivitas berpikir. Ia bukan
suara eksternal atau hukum tetap, melainkan hasil dari dialog internal yang
terus berlangsung.
Seseorang yang tidak berpikir tidak akan mengalami konflik
semacam ini. Ia tidak akan merasa perlu mempertanggungjawabkan tindakannya
kepada dirinya sendiri.
Karena itu, bahaya terbesar bukanlah berpikir, melainkan
ketiadaan berpikir.
Dalam konteks ini, hati nurani bukanlah sesuatu yang selalu
hadir. Ia muncul ketika seseorang “pulang ke dirinya sendiri” dan mulai
berpikir tentang apa yang telah ia lakukan.
Sebaliknya, seseorang dapat menghindari hati nurani dengan
cara sederhana: tidak pernah berpikir, tidak pernah berhenti untuk
merefleksikan tindakan.
Inilah sebabnya mengapa kejahatan besar sering dilakukan
oleh orang-orang yang tampak “normal.” Mereka tidak kekurangan kecerdasan,
tetapi tidak menjalankan aktivitas berpikir dalam arti yang mendalam.
Berpikir, dalam arti ini, bukanlah hak istimewa segelintir
orang. Ia adalah kemampuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Namun demikian,
setiap orang juga memiliki kemungkinan untuk tidak menggunakannya.
Berpikir menyertai kehidupan itu sendiri. Ia bukan sarana
untuk mencapai tujuan tertentu, melainkan bagian dari proses hidup. Hidup tanpa
berpikir tetap mungkin, tetapi kehidupan semacam itu kehilangan kedalamannya—ia
menjadi dangkal, bahkan seperti berjalan dalam keadaan tidur.
Akhirnya, hubungan antara berpikir dan tindakan menjadi
jelas. Berpikir tidak menghasilkan pengetahuan atau aturan, tetapi menghasilkan
kemampuan untuk membedakan yang benar dan yang salah.
Kemampuan ini tidak selalu tampak dalam kehidupan
sehari-hari. Namun dalam situasi tertentu—terutama ketika norma-norma runtuh—ia
dapat menjadi penentu yang mencegah kehancuran.
Dengan demikian, berpikir tidak menjamin kebaikan, tetapi
tanpa berpikir, kejahatan menjadi jauh lebih mungkin terjadi.
IV. Di Manakah Kita Ketika Kita Berpikir?
19. “Kadang Aku Berpikir, Kadang Aku Ada” (Valéry): “Yang
Tanpa-Tempat”
Menjelang akhir pembahasan ini, tidak ada maksud untuk
menyajikan kesimpulan yang bersifat final. Justru, upaya untuk merumuskan
kesimpulan seperti itu akan bertentangan dengan seluruh uraian sebelumnya. Jika
berpikir adalah suatu aktivitas yang tujuannya berada di dalam dirinya sendiri,
dan jika satu-satunya metafora yang memadai untuk menggambarkannya—yang diambil
dari pengalaman indrawi kita—adalah sensasi “hidup,” maka pertanyaan tentang
tujuan atau maksud berpikir sama tidak terjawabnya dengan pertanyaan tentang
tujuan hidup itu sendiri.
Pertanyaan “di manakah kita ketika kita berpikir?”
ditempatkan di akhir bukan karena ia mampu memberikan jawaban penutup,
melainkan karena pertanyaan itu sendiri hanya dapat dipahami dalam kerangka
seluruh refleksi sebelumnya. Oleh karena itu, beberapa pokok pemikiran berikut
dirangkum secara singkat—bukan sebagai pernyataan dogmatis, melainkan sebagai
penegasan sementara.
Pertama, berpikir selalu berada di luar keteraturan
kehidupan sehari-hari. Ia mengganggu aktivitas biasa, sekaligus mudah terganggu
oleh aktivitas tersebut.
Gambaran klasiknya adalah kebiasaan Socrates yang tiba-tiba
menghentikan segala aktivitas, menarik diri dari percakapan, dan tenggelam
dalam pikirannya sendiri, seolah-olah tidak mendengar panggilan dari
sekitarnya. Bahkan pernah diceritakan bahwa ia berdiri diam selama dua puluh
empat jam di sebuah kamp militer, sepenuhnya terserap dalam pemikiran.
Kedua, pengalaman ego yang berpikir memiliki berbagai
bentuk. Ia dapat muncul sebagai kesalahan metafisik—misalnya teori dua
dunia—atau dalam gambaran non-teoretis seperti pemahaman berpikir sebagai
semacam “kematian,” atau sebaliknya sebagai kehidupan dalam dunia lain yang
tidak tampak. Pengalaman yang sama juga tercermin dalam keraguan Cartesian
terhadap realitas dunia, dalam ungkapan Paul Valéry: “Kadang aku berpikir,
kadang aku ada,” seolah-olah berpikir dan menjadi nyata adalah dua hal yang
bertentangan, atau dalam refleksi Maurice Merleau-Ponty bahwa kesendirian
sejati justru terjadi ketika kita tidak menyadari bahwa kita sendiri tidak
sendirian.
Memang benar bahwa ego yang berpikir, sejauh apa pun ia
melangkah, tidak pernah dapat sepenuhnya mencapai realitas sebagai realitas,
atau meyakinkan dirinya bahwa sesuatu benar-benar ada. Kecurigaan bahwa
kehidupan mungkin hanyalah mimpi merupakan ciri khas dari pengalaman berpikir
itu sendiri.
Bahkan dalam filsafat Asia, gagasan ini muncul berulang
kali—seperti dalam kisah filsuf Taois Zhuangzi yang bermimpi menjadi kupu-kupu,
lalu bertanya apakah ia manusia yang bermimpi menjadi kupu-kupu, atau kupu-kupu
yang bermimpi menjadi manusia.
Namun, di sisi lain, intensitas pengalaman berpikir juga
memungkinkan pembalikan: seolah-olah hanya pikiran yang benar-benar nyata,
sementara apa yang ada tampak begitu sementara sehingga hampir seperti tidak
ada. Tetapi yang menentukan di sini adalah bahwa semua keraguan ini segera
hilang begitu kesendirian berpikir terganggu oleh kehadiran dunia dan orang
lain. Ketika kita kembali pada dunia, dualitas dalam
diri—dua-dalam-satu—kembali menjadi satu.
Ketiga, keanehan aktivitas berpikir ini berasal dari sifat
dasarnya: penarikan diri. Berpikir selalu berurusan dengan apa yang tidak
hadir, dan menjauh dari apa yang ada di depan kita. Namun hal ini tidak
membuktikan adanya dunia lain yang terpisah, melainkan menunjukkan bahwa
realitas—yang kita pahami melalui ruang dan waktu—dapat untuk sementara
“ditangguhkan” dalam pengalaman berpikir.
Dalam keadaan ini, yang menjadi bermakna bukan lagi hal-hal
konkret, melainkan hasil dari proses “penghilangan indra”—yakni esensi. Esensi
ini tidak dapat dilokalisasi. Ketika berpikir, manusia meninggalkan dunia
partikular dan bergerak menuju sesuatu yang bersifat umum—meskipun tidak selalu
universal.
Berpikir selalu bersifat generalisasi. Ia mengekstraksi
makna dari banyak pengalaman partikular, menggabungkannya, dan memadatkannya
agar dapat dipahami. Apa yang disebut sebagai “esensial” adalah sesuatu yang
dapat berlaku di mana saja. Namun “di mana saja” ini, jika dilihat secara
ruang, justru berarti “tidak di mana pun.”
Dengan demikian, ego yang berpikir bergerak di dalam wilayah
yang tidak memiliki tempat. Ia berada dalam “ketiadaan tempat” yang sangat
mendasar—suatu kondisi tanpa rumah. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa para
filsuf sejak awal cenderung bersifat kosmopolitan.
Salah satu pemikir yang secara sadar memahami kondisi “tanpa
tempat” ini adalah Aristotle. Ia menegaskan perbedaan antara bertindak dan
berpikir, serta menolak nasib yang menimpa Socrates dengan meninggalkan Athena
ketika menghadapi tuduhan.
Dalam karya awalnya, ia bahkan memuji kehidupan kontemplatif
karena tidak membutuhkan alat maupun tempat khusus. Di mana pun seseorang
berpikir, ia dapat mencapai kebenaran seolah-olah kebenaran itu hadir di sana.
Para filsuf mencintai “ketiadaan tempat” ini seolah-olah itu adalah sebuah
negeri.
Hal ini mungkin karena berpikir tidak berurusan dengan
hal-hal partikular, melainkan dengan yang universal—yang tidak dapat
ditempatkan dalam ruang tertentu. Sebaliknya, dalam bidang praktis seperti
etika dan politik, yang selalu berkaitan dengan hal-hal konkret, pernyataan
umum justru menjadi kosong dan tidak bermakna.
Dengan demikian, mungkin pertanyaan kita sejak awal kurang
tepat. Ketika kita bertanya di mana kita berada saat berpikir, kita
sebenarnya menggunakan kerangka ruang—padahal berpikir tidak berada dalam
ruang.
Dari sudut pandang dunia sehari-hari, “di mana saja” dari
pikiran—yang dapat menghadirkan apa pun dari jarak mana pun dalam waktu dan
ruang—sebenarnya adalah “tidak di mana pun.”
Namun keadaan ini tidak sama dengan ketiadaan mutlak. Ia
bukan kekosongan absolut, melainkan batas dari pengalaman kita sebagai makhluk
yang terbatas.
Keterbatasan manusia—hidup dalam waktu yang singkat di
antara masa lalu dan masa depan yang tak terbatas—menjadi dasar bagi semua
aktivitas mental. Ketika berpikir menarik diri dari dunia penampakan, ia
kehilangan rasa realitas yang biasanya diberikan oleh sensus communis.
Jika kita hanya memahami realitas secara ruang, maka
ungkapan Valéry benar: ketika kita berpikir, kita “tidak ada.” Namun manusia
tidak hanya hidup dalam ruang, tetapi juga dalam waktu. Kita mengingat masa
lalu, mengumpulkan pengalaman, dan merencanakan masa depan.
Kemungkinan besar, kesalahan kita terletak pada cara kita
mengajukan pertanyaan. Dengan menanyakan “di mana,” kita terjebak pada dimensi
ruang, seolah melupakan bahwa waktu adalah bentuk pengalaman batin, sebagaimana
dijelaskan oleh Immanuel Kant.
Dalam kerangka ini, berpikir tidak berkaitan dengan bentuk
atau posisi, melainkan dengan bagaimana representasi mental saling berhubungan
dalam waktu.
Representasi ini adalah “objek pikiran”—hal-hal yang tidak
hadir secara indrawi tetapi dihadirkan kembali oleh pikiran. Melalui proses
generalisasi, mereka kehilangan sifat ruangnya dan menjadi bagian dari alur
berpikir.
Waktu kemudian menyusun representasi ini dalam urutan
tertentu, yang kita kenal sebagai “rangkaian pikiran.” Semua pemikiran bersifat
diskursif—bergerak dalam urutan, seperti garis yang terus memanjang tanpa
batas.
Untuk membentuk alur ini, pengalaman yang awalnya hadir
secara bersamaan harus diubah menjadi rangkaian kata-kata tanpa
suara—satu-satunya medium berpikir. Dalam proses ini, pengalaman tidak hanya
kehilangan sifat indrawinya, tetapi juga sifat ruangnya.
20. Celah antara Masa Lalu dan Masa Depan: Nunc Stans
Untuk memahami di mana ego yang berpikir berada dalam waktu,
serta apakah aktivitasnya yang tak henti-henti dapat ditentukan secara
temporal, kita dapat menengok sebuah perumpamaan dari Franz Kafka. Perumpamaan
ini secara puitis menggambarkan pengalaman waktu dalam aktivitas berpikir.
Dalam kisah itu, seorang manusia berhadapan dengan dua
kekuatan yang saling bertentangan. Yang pertama mendorongnya dari
belakang—yakni masa lalu, asal-usulnya. Yang kedua menghalanginya dari
depan—yakni masa depan. Ia harus berjuang melawan keduanya sekaligus. Secara
paradoks, masing-masing kekuatan itu sekaligus membantu dan menghambat
perjuangannya. Namun ia sendiri juga berada di antara keduanya, dan tidak
sepenuhnya mengetahui arah atau maksudnya. Mimpinya adalah suatu saat dapat
keluar dari medan pertempuran itu dan menjadi penilai—seorang wasit yang
mengamati pertarungan tersebut dari luar.
Perumpamaan ini menggambarkan pengalaman batin kita tentang
waktu ketika kita berpikir. Saat kita menarik diri dari dunia penampakan,
aktivitas mental kita berbalik ke dalam dirinya sendiri. Dalam keadaan ini,
masa lalu dan masa depan hadir sekaligus—bukan karena keduanya benar-benar ada,
melainkan justru karena keduanya tidak hadir secara indrawi.
Masa lalu yang “tidak lagi” kita alami berubah menjadi
sesuatu yang seolah berada di belakang kita, sementara masa depan yang “belum
ada” tampak seperti sesuatu yang datang dari depan. Dalam gambaran Kafka, kedua
arah ini menjadi dua kekuatan yang saling bertabrakan, dan manusia berdiri di
tengah-tengahnya sebagai medan pertempuran.
Dengan demikian, waktu—yang secara biasa kita pahami sebagai
aliran yang terus bergerak—dipecah menjadi tiga dimensi: masa lalu, masa kini,
dan masa depan. Namun pemisahan ini hanya mungkin karena kehadiran manusia,
yang hidup di antara kelahiran dan kematian. Manusia adalah titik pertemuan di
mana masa lalu dan masa depan saling berhadapan.
Dari sudut pandang ini, masa kini bukanlah sekadar titik
yang berlalu begitu saja, melainkan ruang pertempuran antara dua kekuatan
waktu. Manusia hidup di dalam “antara” ini—sebuah rentang yang terus
berlangsung sepanjang hidupnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, masa kini tampak sebagai
sesuatu yang paling singkat dan sulit ditangkap. Ketika kita menunjuk pada
“sekarang,” ia sudah berlalu. Namun dalam pengalaman berpikir, masa kini
menjadi sesuatu yang lebih dalam: ia adalah titik benturan antara masa lalu dan
masa depan.
Manusia hidup dalam ketegangan ini. Ia didorong oleh masa
lalu, dengan ingatan dan beban yang menyertainya, sekaligus ditarik oleh masa
depan, dengan harapan dan ketakutan. Kehidupan manusia menjadi perjuangan
terus-menerus di antara keduanya.
Namun perlu disadari bahwa pemahaman ini berbeda dari
pengalaman waktu dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan praktis, waktu
tersusun secara berurutan: kemarin, hari ini, dan esok. Urutan ini dimungkinkan
oleh kesinambungan aktivitas kita—kita melanjutkan apa yang telah dimulai dan
merencanakan apa yang akan datang.
Sebaliknya, dalam berpikir, kesinambungan ini terputus.
Aktivitas berpikir tidak bergantung pada ruang dan situasi konkret. Ia menarik
diri dari dunia praktis, sehingga waktu tidak lagi dipahami sebagai urutan,
melainkan sebagai ketegangan.
Celah antara masa lalu dan masa depan ini hanya terbuka
dalam refleksi. Ia muncul ketika kita memikirkan sesuatu yang tidak hadir—baik
yang sudah berlalu maupun yang belum terjadi. Dalam keadaan ini, berpikir dapat
dipahami sebagai perjuangan melawan waktu itu sendiri.
Yang dihadapi oleh ego yang berpikir bukanlah peristiwa
konkret, melainkan waktu itu sendiri—perubahan yang terus-menerus, yang
mengubah segala sesuatu menjadi “menjadi” (becoming) dan menghancurkan
keberadaannya yang tetap.
Dalam kondisi ini, waktu menjadi “musuh” bagi pikiran.
Aktivitas berpikir membutuhkan keheningan, sementara waktu terus mengganggunya
melalui gerak yang tak terhentikan.
Makna terdalam dari perumpamaan Kafka muncul ketika manusia
bermimpi dapat keluar dari pertarungan itu—mencapai suatu keadaan diam, di mana
ia dapat menjadi pengamat dan penilai. Di sini kita menemukan gema dari tradisi
metafisika Barat: gagasan tentang suatu wilayah di luar waktu, di mana
keheningan dan keabadian hadir.
Namun kita tidak perlu membayangkan bahwa untuk berpikir,
manusia harus benar-benar “keluar” dari dunia. Sebaliknya, kita dapat memahami
bahwa ruang berpikir justru berada di dalam celah itu sendiri—di antara masa
lalu dan masa depan.
Jika kedua kekuatan waktu itu kita bayangkan sebagai dua
garis, maka aktivitas berpikir dapat diibaratkan sebagai garis diagonal yang
muncul dari pertemuan keduanya. Garis ini tidak keluar dari dunia, tetapi tetap
berada di dalamnya, sekaligus memiliki arah yang melampaui keduanya.
Garis diagonal ini memiliki sifat yang unik: ia berawal dari
pertemuan masa lalu dan masa depan, tetapi mengarah ke suatu yang tidak
terbatas. Dalam arti ini, ia menjadi metafora yang tepat untuk aktivitas
berpikir.
Jika manusia dapat “berjalan” di sepanjang garis ini, ia
tidak perlu keluar dari dunia untuk berpikir. Ia tetap berada di dalam dunia,
tetapi menemukan keheningan di tengah-tengahnya—seperti titik tenang di pusat
badai.
Dengan demikian, lokasi berpikir dalam waktu dapat dipahami
sebagai “antara”—celah di antara masa lalu dan masa depan.
Di sinilah manusia menemukan tempatnya ketika ia berpikir:
suatu masa kini yang bukan sekadar momen yang berlalu, melainkan ruang refleksi
yang melampaui waktu.
Namun perlu ditekankan bahwa gambaran ini hanya berlaku
dalam ranah aktivitas mental. Ia tidak dapat diterapkan pada waktu historis
atau biografis, yang berjalan secara nyata.
Celah ini bukanlah fakta historis, melainkan pengalaman yang
selalu hadir bersama keberadaan manusia. Ia dapat disebut sebagai “ruang roh,”
atau lebih tepatnya sebagai jalur yang dibentuk oleh aktivitas berpikir di
dalam arus waktu.
Setiap generasi, bahkan setiap individu, harus menemukan
jalur ini sendiri. Ia tidak dapat diwariskan, meskipun karya-karya besar
filsafat dan pemikiran dapat menunjuk ke arahnya.
Karya-karya besar tersebut bertahan bukan karena tradisi
semata, melainkan karena lahir dari ruang tanpa-waktu ini—ruang di mana manusia
mampu melampaui keterbatasannya.
Namun ruang ini bukanlah keabadian. Ia bukan sesuatu yang
sepenuhnya di luar waktu, melainkan lahir dari pertemuan masa lalu dan masa
depan. Ia adalah “masa kini yang berdiri” (nunc stans)—suatu kehadiran
yang mengumpulkan apa yang sudah tidak ada dan yang belum ada ke dalam satu
kesadaran.
Dalam pengertian ini, aktivitas berpikir memungkinkan
manusia untuk memahami kehidupannya sebagai suatu keseluruhan—sesuatu yang
tidak dapat sepenuhnya dipahami dalam kehidupan sehari-hari yang terus berubah.
Akhirnya, refleksi ini berangkat dari satu asumsi dasar:
bahwa tradisi filsafat yang diwariskan sejak Yunani telah terputus. Yang
tersisa bagi kita bukanlah kesinambungan yang utuh, melainkan fragmen-fragmen
masa lalu.
Fragmen-fragmen ini, seperti yang diungkapkan oleh William
Shakespeare, telah mengalami “perubahan laut”—menjadi sesuatu yang asing namun
berharga. Tugas berpikir bukanlah menghancurkan fragmen ini, melainkan memahami
dan menghidupkannya kembali.
Dengan demikian, berpikir bukanlah usaha untuk menemukan
kepastian mutlak, melainkan perjalanan dalam ruang antara—di mana manusia, di
tengah keterbatasannya, berusaha memahami makna keberadaannya.
21. Postscriptum
Dalam jilid kedua karya ini, pembahasan akan beralih pada
dua aktivitas mental lainnya, yakni menghendaki (willing) dan menilai (judging).
Jika dilihat dari sudut pandang refleksi tentang waktu, kedua aktivitas ini
sama-sama berurusan dengan hal-hal yang tidak hadir—baik karena belum terjadi
maupun karena telah berlalu. Namun, berbeda dari aktivitas berpikir yang
cenderung bergerak pada hal-hal tak tampak dan bersifat umum, menghendaki dan
menilai selalu berhubungan dengan hal-hal yang konkret dan partikular. Dalam
hal ini, keduanya jauh lebih dekat dengan dunia penampakan.
Dari sudut pandang akal sehat, yang sering merasa terganggu
oleh kecenderungan rasio untuk mengejar makna tanpa tujuan praktis, muncul
godaan untuk membenarkan aktivitas berpikir dengan cara tertentu: bahwa
berpikir hanyalah persiapan untuk mengambil keputusan dan untuk menilai apa
yang telah terjadi. Dalam kerangka ini, masa lalu menjadi objek penilaian, dan
penilaian pada gilirannya menjadi persiapan bagi kehendak.
Pandangan ini memang masuk akal, dan sampai batas tertentu
sah—terutama jika manusia dipahami sebagai makhluk yang bertindak. Namun,
pembelaan semacam ini pada akhirnya tidak memadai. Keputusan yang dihasilkan
oleh kehendak tidak dapat diturunkan begitu saja dari keinginan maupun dari
pertimbangan rasional yang mendahuluinya. Kehendak, dalam arti yang
sesungguhnya, adalah suatu kemampuan spontan yang memutus rangkaian
sebab-akibat yang mengikatnya. Jika tidak demikian, maka kehendak hanyalah
ilusi.
Sebagaimana dikatakan oleh Henri Bergson, kehendak bertindak
seperti semacam “kudeta kecil” dalam diri manusia. Ia muncul secara tiba-tiba,
dan tindakan yang benar-benar bebas justru merupakan pengecualian, bukan
kebiasaan.
Karena itu, tidak mungkin membahas kehendak tanpa menyentuh
persoalan kebebasan.
Dalam pendekatan ini, pengalaman batin—apa yang disebut
Bergson sebagai “data langsung kesadaran”—perlu dipandang secara serius. Banyak
pemikir berpendapat bahwa pengalaman ini tidak dikenal dalam filsafat Yunani
kuno. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kehendak sebagai kemampuan khas
manusia “ditemukan” dalam sejarah, bersamaan dengan munculnya kesadaran akan
kehidupan batin sebagai suatu wilayah tersendiri.
Dengan demikian, analisis tentang kehendak harus dilakukan
secara historis—melalui pengalaman manusia terhadap kemampuan yang tampak
paradoksal ini. Setiap kehendak, karena berbicara kepada dirinya sendiri dalam
bentuk perintah, selalu menghasilkan kehendak tandingan. Di sinilah letak
kontradiksi internalnya.
Perjalanan ini dapat ditelusuri sejak Paul the Apostle, yang
mengungkapkan kelemahan kehendak dalam kalimat terkenal: “Aku tidak melakukan
apa yang aku kehendaki, tetapi justru melakukan apa yang aku benci.” Pemikiran
ini kemudian dikembangkan dalam tradisi Abad Pertengahan, terutama oleh Augustine
of Hippo, yang menyatakan bahwa konflik utama bukanlah antara jiwa dan tubuh,
melainkan antara kehendak dengan dirinya sendiri—antara diri terdalam manusia
dengan dirinya sendiri.
Dalam filsafat modern, perkembangan ini berlanjut dengan
perubahan penting: munculnya gagasan tentang kemajuan. Fokus yang sebelumnya
diberikan pada masa kini bergeser ke masa depan. Dalam pandangan Georg Wilhelm
Friedrich Hegel, masa depan menjadi kekuatan yang tidak dapat dilawan oleh masa
kini. Berpikir pun dipahami sebagai negasi terhadap apa yang langsung hadir.
Gagasan ini mencapai puncaknya dalam pemikiran Friedrich
Wilhelm Joseph Schelling, yang menyatakan bahwa pada akhirnya tidak ada
keberadaan selain kehendak, dan kemudian dalam konsep “kehendak untuk berkuasa”
(will to power) dari Friedrich Nietzsche.
Di samping itu, terdapat perkembangan lain dalam pemahaman
tentang kehendak. Kehendak dipandang sebagai kemampuan internal manusia untuk
menentukan “siapa” dirinya—yakni bagaimana ia ingin tampil dalam dunia
penampakan. Dengan demikian, kehendak bukan sekadar berkaitan dengan tindakan,
tetapi juga dengan pembentukan diri.
Dalam perspektif ini, kehendak menciptakan pribadi yang
dapat dipuji atau disalahkan—yang bertanggung jawab bukan hanya atas
tindakannya, tetapi juga atas keseluruhan keberadaannya.
Pandangan ini memengaruhi pemikiran modern, termasuk dalam
tradisi Marxis dan eksistensialis, yang melihat manusia sebagai pembentuk
dirinya sendiri. Namun pandangan ini juga mengandung kesalahan: tidak ada
manusia yang benar-benar “menciptakan” dirinya sendiri dari nol. Ini merupakan
salah satu kekeliruan metafisis terakhir dalam tradisi modern—yakni menjadikan
kehendak sebagai pengganti berpikir.
Pada bagian akhir jilid kedua, pembahasan akan beralih pada
kemampuan menilai (judgment). Di sini kesulitan utama adalah kelangkaan
sumber yang otoritatif. Baru dalam karya Critique of Judgment, Immanuel
Kant menjadikan kemampuan ini sebagai tema utama.
Penilaian tidak dapat dijelaskan melalui logika deduktif
maupun induktif. Ia tidak bekerja seperti silogisme logika. Penilaian
berhubungan dengan hal-hal konkret dan membutuhkan suatu kemampuan khusus—apa
yang oleh Kant disebut sebagai “bakat yang hanya dapat dilatih, tetapi tidak
dapat diajarkan.”
Dalam tradisi sebelumnya, kemampuan ini sering dipahami
sebagai “rasa” (taste) dalam bidang estetika, atau sebagai “hati nurani”
dalam bidang moral.
Namun hati nurani bukanlah penilaian dalam arti sebenarnya.
Ia lebih merupakan suara yang memberi perintah—apa yang harus dilakukan atau
dihindari—berdasarkan otoritas tertentu, baik ilahi maupun rasional.
Sebaliknya, penilaian adalah kemampuan yang otonom. Ia
memiliki cara kerjanya sendiri dan tidak dapat direduksi pada kemampuan mental
lainnya.
Masalah ini menjadi sangat penting dalam pemikiran modern,
terutama dalam hubungan antara teori dan praktik, serta dalam usaha merumuskan
etika yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sejak Georg Wilhelm Friedrich Hegel dan Karl Marx,
persoalan-persoalan ini sering dibahas dalam kerangka sejarah dan gagasan
kemajuan. Dalam pandangan ini, sejarah seolah menjadi hakim terakhir.
Namun terdapat alternatif lain. Kita dapat mengikuti Hegel
dan menyerahkan penilaian akhir kepada keberhasilan sejarah, atau mengikuti
Kant dengan menegaskan otonomi pikiran manusia—kemampuannya untuk menilai
secara independen dari hasil-hasil sejarah.
Dalam konteks ini, penting untuk kembali pada makna awal
kata “sejarah” dalam bahasa Yunani, yang berarti penyelidikan. Sejarawan adalah
orang yang menyelidiki dan menceritakan kembali, dan dengan demikian juga
menilai.
Jika penilaian adalah kemampuan kita untuk memahami masa
lalu, maka sejarawan adalah sosok yang, melalui penceritaan, mengambil posisi
sebagai penilai. Dengan cara ini, manusia dapat merebut kembali
martabatnya—tanpa menolak pentingnya sejarah, tetapi juga tanpa menjadikannya
sebagai hakim tertinggi.
Seperti yang diungkapkan oleh Cato the Elder:
“Perkara yang menang disukai para dewa, tetapi yang kalah disukai oleh Cato.”
Ungkapan ini merangkum sikap independen terhadap sejarah:
bahwa penilaian tidak harus tunduk pada kemenangan atau keberhasilan.
II. Menghendaki (Willing)
Pengantar
Jilid kedua dari The Life of the Mind akan dipusatkan
pada kemampuan kehendak (will), dan dengan itu secara implisit pada
persoalan kebebasan. Seperti pernah dikatakan oleh Henri Bergson, persoalan
kebebasan bagi pemikiran modern memiliki kedudukan yang setara dengan paradoks
kaum Eleatik dalam filsafat kuno. Fenomena yang akan dibahas di sini sangat
sering tertutup oleh lapisan argumentasi teoretis—yang memang tidak
sewenang-wenang dan karenanya tidak dapat diabaikan—namun kerap menjauh dari
pengalaman konkret ego yang menghendaki, dan lebih mengarah pada doktrin serta
teori yang tidak selalu berupaya “menyelamatkan fenomena.”
Salah satu penyebab kesulitan ini cukup sederhana: kemampuan
kehendak tidak dikenal dalam filsafat Yunani kuno. Ia baru “ditemukan” sebagai
hasil dari pengalaman-pengalaman batin yang hampir tidak kita temukan sebelum
abad pertama era Kristen. Bagi pemikiran di kemudian hari, masalah utamanya
adalah bagaimana mendamaikan kemampuan ini dengan prinsip-prinsip utama
filsafat Yunani. Para pemikir tidak lagi bersedia meninggalkan filsafat
sepenuhnya dan, seperti Paul the Apostle, hanya menyatakan iman tanpa upaya
rasional. Sikap semacam itu, sebagaimana akan terlihat, pada dasarnya hanya
mungkin bagi Paulus sendiri.
Namun berakhirnya era Kristen tidak berarti berakhirnya
kesulitan ini. Persoalan khas Kristen—bagaimana mendamaikan iman kepada Tuhan
yang mahakuasa dan mahatahu dengan kebebasan kehendak manusia—terus bertahan
hingga jauh ke zaman modern. Bahkan ketika kepentingan teologis dan metafisis
mulai memudar, persoalan ini tetap muncul dalam bentuk lain: kehendak bebas
sering kali dipandang bertentangan dengan hukum sebab-akibat, atau dengan hukum
sejarah yang dianggap bergerak menuju kemajuan atau perkembangan yang niscaya.
Kesulitan ini bahkan tetap ada ketika kerangka tradisional
telah ditinggalkan. John Stuart Mill, misalnya, merangkum persoalan ini dengan
mengatakan bahwa kesadaran batin kita memberi kesan bahwa kita memiliki
kebebasan, sementara pengalaman manusia secara umum menunjukkan bahwa kebebasan
itu hampir tidak pernah benar-benar digunakan. Dalam bentuk yang lebih ekstrem,
Friedrich Nietzsche menyebut seluruh doktrin tentang kehendak sebagai salah
satu pemalsuan paling fatal dalam sejarah psikologi—sebuah konsep yang
diciptakan demi kepentingan penghukuman.
Kesulitan terbesar dalam membahas kehendak terletak pada
fakta bahwa hampir tidak ada kemampuan mental lain yang keberadaannya begitu
sering diragukan dan ditolak oleh para filsuf besar. Yang terbaru, Gilbert Ryle,
menganggap kehendak sebagai konsep buatan yang tidak merujuk pada sesuatu yang
nyata, melainkan hanya menciptakan persoalan-persoalan yang tidak perlu—seperti
banyak kekeliruan metafisis lainnya.
Ia bahkan berusaha membantah doktrin bahwa ada suatu
kemampuan khusus yang disebut “kehendak,” beserta proses mental yang
menyertainya, yang disebut sebagai tindakan kehendak (volition). Ia
mengingatkan bahwa Plato dan Aristotle tidak pernah menyebut konsep semacam itu
dalam pembahasan mereka tentang jiwa dan tindakan manusia—karena mereka memang
belum mengenalnya.
Memang, pembahasan tentang kehendak hampir selalu dilakukan
oleh para “pemikir profesional,” sebagaimana disebut oleh Immanuel Kant. Hal
ini menimbulkan kecurigaan bahwa penolakan terhadap kehendak—yang muncul dalam
berbagai sistem pemikiran yang berbeda—mungkin berasal dari konflik mendasar
antara pengalaman ego yang berpikir dan pengalaman ego yang menghendaki.
Meskipun pikiran yang sama melakukan keduanya—berpikir dan
menghendaki—tidak berarti bahwa penilaian dari sudut pandang berpikir dapat
sepenuhnya objektif ketika menilai aktivitas mental lainnya. Yang jelas,
gagasan tentang kehendak bebas bukan hanya merupakan dasar bagi etika dan
hukum, tetapi juga merupakan pengalaman langsung dalam kesadaran, sebagaimana
“aku berpikir” dalam Kant atau cogito dalam René Descartes.
Yang menimbulkan kecurigaan para filsuf terhadap kehendak
adalah hubungannya yang tak terpisahkan dengan kebebasan. Seperti yang
dikatakan oleh Augustine of Hippo: jika kehendak itu niscaya, maka tidak perlu
lagi berbicara tentang kehendak.
Tanda paling jelas dari kebebasan adalah kesadaran bahwa
kita sebenarnya bisa saja tidak melakukan apa yang kita lakukan. Hal ini tidak
berlaku bagi keinginan atau dorongan biologis, yang sering kali memaksa kita
tanpa ruang pilihan.
Dengan demikian, kehendak tampak memiliki kebebasan yang
jauh lebih besar daripada berpikir, yang bahkan dalam bentuk paling
spekulatifnya tetap terikat pada hukum logika seperti prinsip non-kontradiksi.
Namun kebebasan ini tidak selalu dianggap sebagai berkah; bagi banyak pemikir,
ia justru terasa sebagai beban.
Dalam pembahasan ini, pengalaman batin dari “aku
menghendaki” akan diperlakukan sebagai bukti yang cukup untuk mengakui realitas
fenomena tersebut. Jika disepakati bahwa kehendak tidak dikenal dalam filsafat
Yunani, maka harus diakui pula bahwa ia memang “ditemukan” dalam sejarah dan
dapat ditelusuri secara historis.
Namun di sini muncul persoalan lain: bukankah kemampuan
manusia seharusnya sudah ada sejak awal kemunculannya? Jika tidak, bagaimana
kita bisa memahami pemikiran masa lalu?
Memang, ada yang disebut sebagai “sejarah ide.” Kita dapat
melacak perubahan makna kebebasan—dari status politik (bebas sebagai warga
negara, bukan budak), menjadi kondisi fisik (tubuh yang tidak terbelenggu),
hingga akhirnya menjadi kondisi batin (merasa bebas bahkan dalam keadaan
terbelenggu).
Namun sebelum munculnya kekristenan, tidak ditemukan konsep
tentang kemampuan mental yang secara langsung berkaitan dengan kebebasan. Tidak
ada “fakultas kehendak” sebagaimana intelek berkaitan dengan kebenaran, atau
rasio dengan makna.
Oleh karena itu, pembahasan tentang kehendak harus dimulai
dari pengalaman-pengalaman yang melatarbelakangi penemuannya. Analisis ini akan
menelusuri perkembangan historisnya—dari surat Paul the Apostle kepada jemaat
Roma, hingga refleksi Duns Scotus terhadap pemikiran Thomas Aquinas.
Namun sebelum itu, pembahasan akan diawali dengan Aristotle—baik
karena pengaruhnya yang besar pada Abad Pertengahan, maupun karena konsep proairesis
(pilihan) dalam pemikirannya dapat dipahami sebagai pendahulu dari konsep
kehendak.
Selanjutnya, akan dibahas pula berbagai teori modern sejak
abad ke-17, yang meskipun sering menutupi pengalaman asli tentang kehendak,
juga sekaligus menafsirkannya kembali.
Pada bagian akhir, perhatian akan diberikan pada pemikiran Friedrich
Nietzsche dan Martin Heidegger, yang mencoba kembali pada filsafat kuno setelah
mengkritik konsep kehendak.
Akhirnya, akan diajukan pertanyaan penting: apakah para
pelaku tindakan—bukan para pemikir—justru lebih mampu memahami kehendak? Sebab
kehendak, sebagai sumber tindakan, berkaitan dengan kemampuan manusia untuk
memulai sesuatu yang baru.
Sebagaimana dikatakan oleh Kant, kehendak adalah kekuatan
untuk memulai rangkaian peristiwa secara spontan. Setiap manusia, melalui
kelahirannya, adalah suatu awal baru. Maka kemampuan untuk memulai sesuatu yang
baru mungkin merupakan cerminan dari kondisi dasar manusia itu sendiri.
Namun persoalan tetap ada: bagaimana kemampuan ini dapat
bekerja dalam dunia penampakan—dunia yang selalu mengubah setiap awal baru
menjadi sesuatu yang telah terjadi?
Dengan kata lain, bagaimana kebebasan dapat bertahan dalam
dunia yang terus mengubah setiap kemungkinan menjadi fakta?
I. Para Filsuf dan Kehendak
1. Waktu dan Aktivitas Mental
Pada bagian penutup jilid pertama The Life of the Mind,
telah diajukan sejumlah refleksi tentang waktu. Refleksi tersebut merupakan
upaya untuk menjawab sebuah pertanyaan klasik yang pertama kali diajukan oleh Plato
namun tidak pernah ia selesaikan: di manakah topos noētos, yakni wilayah
pikiran tempat sang filsuf “berdiam”? Pertanyaan ini kemudian dirumuskan
kembali menjadi: di manakah kita ketika kita berpikir? Ke mana kita
menarik diri ketika kita meninggalkan dunia penampakan, menghentikan aktivitas
sehari-hari, dan memulai apa yang sejak awal tradisi filsafat, melalui Parmenides,
dianjurkan dengan tegas—yakni memandang apa yang, meskipun tidak hadir bagi
indra, tetap hadir secara pasti bagi pikiran.
Jika pertanyaan ini diajukan dalam kerangka ruang,
jawabannya justru negatif. Ego yang berpikir—meskipun selalu terikat pada tubuh
yang hidup di dunia penampakan—sebenarnya tidak berada di mana pun. Ia telah
menarik diri dari dunia, termasuk dari tubuhnya sendiri, bahkan dari dirinya
sebagai makhluk yang tampak. Dalam kondisi ini, ia kehilangan kesadaran akan
realitas sebagaimana dialami dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mengherankan
jika Plato secara ironis menyebut filsuf sebagai “pecinta kematian,” dan Paul
Valéry dapat berkata, “Kadang aku berpikir, kadang aku ada,” seolah-olah
berpikir dan keberadaan nyata tidak pernah berlangsung bersamaan.
Dari sini tampak bahwa pertanyaan “di mana kita ketika
berpikir?” sebenarnya diajukan dari luar pengalaman berpikir itu sendiri,
sehingga kurang tepat. Namun ketika perhatian dialihkan pada pengalaman waktu
dalam berpikir, pertanyaan ini menjadi lebih bermakna.
Dalam konteks ini, ingatan memainkan peran penting. Ingatan
adalah kemampuan pikiran untuk menghadirkan kembali apa yang telah berlalu dan
tidak lagi hadir bagi indra. Melalui ingatan, pikiran tampak memiliki kekuatan
yang melampaui realitas itu sendiri: ia menyelamatkan apa yang seharusnya
hilang dalam perubahan dan kehancuran.
Wilayah waktu di mana proses ini berlangsung adalah masa
kini dari ego yang berpikir—suatu “kini” yang tidak sekadar lewat, melainkan
bertahan. Augustine of Hippo menyebutnya sebagai “hari ini yang kekal,” tradisi
Abad Pertengahan menyebutnya nunc stans (kini yang berdiri), sementara Henri
Bergson menyebutnya sebagai “masa kini yang berlangsung.” Dalam pembahasan
sebelumnya, hal ini juga dijelaskan sebagai “celah antara masa lalu dan masa
depan.”
Namun jika pengalaman ini ditafsirkan sebagai petunjuk
menuju keabadian ilahi, kita berisiko menjadikannya terlalu mistis dan
melupakan bahwa pengalaman ini sebenarnya sangat biasa. Setiap refleksi—baik
tentang hal-hal sehari-hari maupun tentang hal-hal yang paling abstrak—selalu
menciptakan suatu “masa kini yang bertahan.”
Dari sudut pandang kehidupan sehari-hari, pengalaman ini
tampak aneh. Dalam dunia praktis, waktu mengalir tanpa henti: masa kini
hanyalah titik peralihan yang segera menjadi masa lalu atau belum menjadi masa
depan. Namun dalam berpikir, masa kini justru “melebar” seolah-olah menjadi
ruang tempat pikiran berdiam.
Kesan ini sebenarnya muncul karena kita menggunakan metafora
ruang untuk menjelaskan waktu. Seperti ditunjukkan oleh Bergson, bahasa kita
tentang waktu hampir seluruhnya dipinjam dari bahasa ruang: masa lalu dianggap
“di belakang,” masa depan “di depan,” dan durasi dipahami sebagai semacam
perpanjangan.
Hal ini wajar, karena dalam kehidupan sehari-hari kita
mengukur waktu melalui ruang—misalnya melalui pergerakan atau jarak. Namun
dalam pengalaman berpikir, pemahaman ini menjadi tidak memadai.
Refleksi ini penting untuk memahami kehendak. Jika ingatan
adalah kemampuan mental yang berkaitan dengan masa lalu, maka kehendak dapat
dipahami sebagai kemampuan mental yang berkaitan dengan masa depan.
Namun di sinilah muncul kesulitan mendasar: kehendak tidak
hanya berurusan dengan hal-hal yang tidak hadir, tetapi juga dengan hal-hal
yang belum pernah ada sama sekali. Ketika kita memikirkan masa depan, kita
tidak lagi berhadapan dengan “objek,” melainkan dengan “proyek”—kemungkinan
yang belum terwujud.
Berbeda dengan masa lalu yang hadir dalam kepastian, masa
depan ditandai oleh ketidakpastian. Kita berurusan dengan sesuatu yang belum
ada, mungkin tidak akan pernah ada, dan tidak dapat dipastikan.
Contoh yang jelas adalah wasiat terakhir (last will and
testament), yang mengatur satu-satunya masa depan yang pasti bagi
kita—yakni kematian. Dalam hal ini terlihat bahwa kehendak memiliki dorongan
yang sama kuatnya dengan rasio: keduanya melampaui batas pengalaman. Rasio
mengajukan pertanyaan yang tak terjawab, sementara kehendak memproyeksikan diri
ke masa depan yang tidak pasti.
Dalam sejarah filsafat, Aristotle memberikan dasar bagi
sikap terhadap kehendak. Ia membedakan antara apa yang niscaya dan apa yang
bersifat kebetulan (kontingen). Segala sesuatu yang bisa terjadi atau
tidak terjadi termasuk dalam kategori kebetulan—yakni sesuatu yang tidak
melekat pada esensi.
Tindakan manusia, dalam kerangka ini, termasuk dalam
kategori kebetulan. Sesuatu disebut sebagai tindakan karena bisa saja terjadi
sebaliknya. Dengan demikian, tindakan manusia memiliki status ontologis yang
lebih rendah dibandingkan dengan apa yang bersifat niscaya.
Aristoteles memang mengakui satu pengecualian: kegiatan
membuat atau memproduksi (poiesis), di mana manusia menggabungkan bahan
dan bentuk untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Namun bahkan di sini, sesuatu
yang dihasilkan tidak benar-benar baru, karena telah ada secara potensial
sebelumnya.
Pandangan ini mengarah pada kesimpulan bahwa masa depan
bukanlah sesuatu yang benar-benar terbuka, melainkan hanya kelanjutan dari masa
lalu. Dalam kerangka seperti ini, tidak ada ruang bagi kehendak sebagai
kemampuan untuk memulai sesuatu yang benar-benar baru.
Karena itu, tidak mengherankan jika dalam bahasa Yunani
tidak terdapat istilah yang setara dengan konsep kehendak seperti yang kita
pahami sekarang. Istilah-istilah yang ada—seperti thelein (bersedia), boulesthai
(menganggap sesuatu diinginkan), atau proairesis (pilihan)—tidak
sepenuhnya mencerminkan konsep kehendak sebagai kekuatan otonom.
Ketiadaan ini bukan kebetulan, melainkan sesuai dengan
pandangan waktu dalam dunia Yunani, yang bersifat siklik. Waktu dipahami
sebagai perputaran yang berulang—siang dan malam, musim, kelahiran dan
kematian.
Dalam kerangka ini, segala sesuatu kembali berulang. Bahkan
pendapat manusia pun dianggap berputar dalam siklus yang sama. Sejarah dipahami
sebagai pola yang berulang, bukan sebagai peristiwa unik.
Namun pandangan ini berubah dengan munculnya tradisi
Ibrani-Kristen. Di sini waktu dipahami sebagai garis lurus: memiliki awal,
titik balik, dan akhir. Peristiwa-peristiwa dalam sejarah dianggap unik dan
tidak dapat diulang.
Dalam konteks ini, muncul gagasan baru tentang manusia
sebagai makhluk yang mampu memulai sesuatu yang baru. Augustine of Hippo
merumuskannya dengan jelas: manusia diciptakan agar ada suatu awal.
Dengan demikian, konsep kehendak sebagai kemampuan untuk
memulai sesuatu yang baru muncul dalam kerangka waktu yang tidak lagi siklik,
melainkan linier.
Namun di sini juga muncul paradoks: meskipun tradisi ini
membuka ruang bagi kehendak, banyak filsuf tetap menolak atau meragukan
keberadaannya.
Akhirnya, satu perbedaan penting dapat dirumuskan: dalam
dunia Yunani, kebebasan dipahami sebagai aku dapat (I can), yakni
kemampuan untuk bertindak tanpa hambatan. Dalam tradisi kemudian, kebebasan
bergeser menjadi aku menghendaki (I will), yakni kemampuan batin
untuk memilih dan memulai tindakan.
Peralihan ini menandai perubahan mendasar dalam cara manusia
memahami dirinya—dari makhluk yang bergerak dalam dunia, menjadi makhluk yang
menentukan dirinya dari dalam.
2. Kehendak dan Zaman Modern
Dalam kerangka pertimbangan awal ini, kita dapat melewati
kompleksitas Abad Pertengahan dan langsung meninjau titik balik penting
berikutnya dalam sejarah intelektual kita, yakni munculnya zaman modern. Pada
masa ini, kita seharusnya mengharapkan perhatian yang jauh lebih besar terhadap
kehendak sebagai “organ mental bagi masa depan,” karena konsep utama yang
benar-benar baru dalam zaman modern—yakni gagasan tentang kemajuan (progress)
sebagai kekuatan penggerak sejarah—menempatkan masa depan pada posisi yang
sangat menentukan.
Namun, spekulasi Abad Pertengahan tetap memberikan pengaruh
kuat, setidaknya hingga abad ke-16 dan ke-17. Kecurigaan terhadap kemampuan
kehendak masih sangat besar. Terdapat keengganan yang mendalam untuk mengakui
bahwa manusia, tanpa perlindungan ilahi, memiliki kuasa penuh atas nasibnya
sendiri—sebuah kuasa yang sekaligus membebani manusia dengan tanggung jawab
besar atas sesuatu yang keberadaannya sepenuhnya bergantung pada dirinya.
Sebagaimana dikatakan oleh Immanuel Kant, rasio spekulatif
mengalami kesulitan besar dalam menghadapi persoalan kebebasan kehendak—yakni
kemampuan untuk secara spontan memulai suatu rangkaian peristiwa. Kesulitan ini
berbeda dari sekadar kemampuan memilih di antara beberapa alternatif yang sudah
ada (liberum arbitrium).
Baru pada tahap akhir zaman modern, kehendak mulai
menggantikan rasio sebagai kemampuan mental tertinggi manusia. Perubahan ini
terjadi bersamaan dengan fase terakhir dari pemikiran metafisika klasik.
Setelah Parmenides menyamakan Ada dengan berpikir, kini muncul kecenderungan
baru: menyamakan Ada dengan kehendak.
Misalnya, Friedrich Schiller menyatakan bahwa tidak ada
kekuatan lain dalam diri manusia selain kehendak, dan bahwa kehendak menjadi
dasar realitas itu sendiri—menguasai baik rasio maupun hasrat. Dalam pandangan
ini, kebebasan lahir dari pertentangan antara kebenaran dan dorongan.
Lebih jauh lagi, Arthur Schopenhauer mengidentifikasi
kehendak sebagai hakikat terdalam dunia—sesuatu yang berada di balik semua
penampakan. Dunia yang tampak hanyalah ekspresi luar dari kehendak tersebut.
Pandangan ini mencapai bentuk paling radikal dalam pemikiran
Friedrich Wilhelm Joseph Schelling, yang menyatakan bahwa pada tingkat paling
dasar, tidak ada Ada selain kehendak itu sendiri.
Perkembangan ini mencapai puncaknya dalam filsafat sejarah Georg
Wilhelm Friedrich Hegel, namun juga berakhir relatif cepat menjelang akhir abad
ke-19.
Pada pandangan pertama, filsafat Friedrich Nietzsche tampak
sebagai puncak dominasi kehendak, terutama melalui konsep kehendak untuk
berkuasa (will to power). Namun penafsiran ini sebenarnya keliru.
Nietzsche memang memberikan wawasan penting tentang sifat
kehendak, tetapi banyak pernyataannya justru menunjukkan sikap kritis terhadap
doktrin kebebasan kehendak. Ia bahkan menyebutnya sebagai salah satu kesalahan
paling fatal dalam sejarah pemikiran—sebuah konsep yang terus bertahan justru
karena selalu dapat diperdebatkan.
Penolakan Nietzsche terhadap kehendak mencapai bentuk paling
jelas dalam gagasan tentang kembalinya yang abadi (eternal recurrence).
Gagasan ini merupakan bentuk afirmasi total terhadap keberadaan, sekaligus
penolakan terhadap konsep waktu linear yang menjadi ciri khas zaman modern.
Dengan demikian, Nietzsche justru kembali pada pandangan siklik tentang waktu
yang pernah dominan dalam filsafat Yunani.
Namun yang membedakan Nietzsche dari para filsuf Yunani
adalah nada emosionalnya. Jika dalam tradisi Yunani kekaguman (thaumazein)
muncul secara alami sebagai awal filsafat, dalam pemikiran Nietzsche afirmasi
terhadap kehidupan membutuhkan usaha kehendak yang sangat kuat—hampir seperti
pengalaman konversi.
Meskipun pemikirannya sangat berpengaruh secara luas,
Nietzsche tidak melahirkan “mazhab” filsafat dalam arti yang sama seperti Immanuel
Kant atau Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Pengaruhnya lebih terasa dalam gerakan
yang kemudian dikenal sebagai eksistensialisme.
Tokoh-tokoh seperti Karl Jaspers dan Martin Heidegger
memberikan pembacaan serius terhadap Nietzsche, tetapi tidak menjadikannya
sebagai pusat pemikiran mereka.
Bagi Jaspers, kebebasan manusia justru terletak pada
ketidaktahuan. Manusia bebas karena tidak mengetahui kebenaran terakhir. Jika
kebenaran sepenuhnya diketahui, maka ia akan memaksa, dan kebebasan pun hilang.
Dalam hal ini, kehendak muncul sebagai respons terhadap ketidaktahuan.
Sementara itu, Martin Heidegger dalam karya awalnya
menempatkan masa depan sebagai dimensi utama eksistensi manusia, dan
memperkenalkan konsep Sorge (kepedulian atau kecemasan) sebagai ciri
dasar keberadaan manusia.
Namun kemudian Heidegger berbalik arah. Ia menyadari bahwa
seluruh filsafat modern—termasuk kehidupan modern itu sendiri—terlalu
didominasi oleh kehendak. Dalam refleksi akhirnya, ia bahkan mengajukan gagasan
paradoksal tentang “menghendaki untuk tidak menghendaki.”
Perubahan arah ini menunjukkan sesuatu yang penting: pada
akhir zaman modern, para pemikir besar justru kembali pada sumber-sumber awal
filsafat Yunani. Seolah-olah mereka mencari tempat di mana persoalan khas
modern—tentang kehendak, masa depan, dan kebebasan—belum muncul.
Dengan demikian, sejarah pemikiran tentang kehendak
memperlihatkan suatu gerak yang khas: dari ketiadaan konsep kehendak dalam
filsafat Yunani, menuju dominasi kehendak dalam filsafat modern, lalu kembali
pada upaya untuk melampauinya.
Hal ini menunjukkan bahwa kehendak, meskipun tampak sebagai
pusat pengalaman modern, tetap merupakan masalah yang belum pernah sepenuhnya
terselesaikan dalam filsafat.
3. Keberatan Utama terhadap Kehendak dalam Filsafat
Pasca-Abad Pertengahan
Tujuan dari uraian pendahuluan ini adalah untuk memudahkan
kita memasuki kompleksitas ego yang menghendaki. Dalam upaya metodologis ini,
kita tidak dapat mengabaikan fakta sederhana bahwa setiap filsafat tentang
kehendak pada dasarnya merupakan hasil dari aktivitas ego yang berpikir,
bukan dari ego yang menghendaki itu sendiri. Memang benar bahwa pikiran yang
sama melakukan keduanya—berpikir dan menghendaki—namun, seperti telah kita
lihat, tidak dapat begitu saja diasumsikan bahwa penilaian dari sudut pandang
berpikir akan tetap bebas dari bias ketika menilai aktivitas mental lainnya.
Fakta bahwa para pemikir dengan sistem filsafat yang sangat
berbeda justru mengajukan keberatan yang sama terhadap kehendak patut
menimbulkan kecurigaan. Oleh karena itu, sebelum membahas posisi Georg Wilhelm
Friedrich Hegel, kita perlu meninjau secara singkat keberatan-keberatan utama
terhadap kehendak dalam filsafat pasca-Abad Pertengahan.
Keberatan pertama adalah keraguan terhadap keberadaan
kehendak itu sendiri. Kehendak sering dianggap sebagai ilusi, semacam bayangan
kesadaran, bahkan sebagai kesalahan bawaan dalam struktur kesadaran itu
sendiri. Thomas Hobbes menggambarkan hal ini melalui analogi sederhana: sebuah
gasing yang diputar oleh anak-anak mungkin akan mengira bahwa geraknya berasal
dari kehendaknya sendiri—jika saja ia memiliki kesadaran—padahal ia digerakkan
oleh kekuatan luar.
Pandangan serupa dikemukakan oleh Baruch Spinoza. Ia
membayangkan sebuah batu yang dilempar oleh kekuatan eksternal. Jika batu itu
memiliki kesadaran, ia akan mengira bahwa ia bergerak karena keinginannya
sendiri. Demikian pula manusia: mereka merasa bebas karena sadar akan tindakan
mereka, tetapi tidak sadar akan sebab-sebab yang menentukan tindakan tersebut.
Dengan demikian, manusia bebas secara subjektif, tetapi ditentukan secara
objektif.
Ketika ditanya apakah pandangan ini tidak berarti bahwa
semua kejahatan dapat dimaafkan, Spinoza tidak terganggu. Ia menjawab bahwa
orang jahat tetap berbahaya, meskipun kejahatannya bersifat niscaya.
Baik Hobbes maupun Spinoza tidak sepenuhnya menyangkal
keberadaan kehendak. Mereka mengakui bahwa kehendak dirasakan secara subjektif,
tetapi menolak kebebasannya. Hobbes, misalnya, menyatakan bahwa kita memang
dapat melakukan sesuatu jika kita menghendakinya, tetapi tidak masuk akal untuk
mengatakan bahwa kita dapat menghendaki sesuka kita. Dalam pandangannya,
kebebasan hanyalah ketiadaan hambatan eksternal terhadap gerak. Jika hambatan
berasal dari dalam, maka yang hilang bukan kebebasan, melainkan kemampuan.
Namun Hobbes melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa
kebebasan dan keniscayaan tidak saling bertentangan. Tindakan manusia, meskipun
dilakukan secara sukarela, tetap merupakan bagian dari rantai sebab-akibat yang
tak terputus. Dengan demikian, setiap tindakan pada akhirnya bersifat niscaya.
Menariknya, argumen serupa juga muncul dalam pemikiran Arthur
Schopenhauer, meskipun sistem filsafatnya sangat berbeda. Ia juga tidak
menyangkal kehendak, tetapi menolak kebebasannya. Ia menggambarkan ilusi
kebebasan melalui perumpamaan air yang mengira dirinya bebas memilih untuk
mengalir, padahal sebenarnya mengikuti hukum alam.
Pandangan ini diringkas dengan baik oleh John Stuart Mill:
kesadaran batin kita memberi kesan bahwa kita memiliki kebebasan, tetapi
pengalaman manusia secara keseluruhan menunjukkan bahwa kebebasan itu hampir
tidak pernah digunakan.
Yang menarik dari keberatan-keberatan ini adalah bahwa
semuanya berangkat dari konsep modern tentang kesadaran—sebuah konsep yang
tidak dikenal dalam filsafat Yunani kuno. Dalam tradisi Yunani, kesadaran diri
lebih dekat dengan hati nurani daripada dengan kesadaran reflektif seperti yang
dipahami modern.
Selain itu, keberatan-keberatan ini sebenarnya dapat
diterapkan pula pada aktivitas berpikir, tetapi hampir tidak pernah dilakukan.
Hanya sedikit filsuf, seperti Friedrich Nietzsche dan Ludwig Wittgenstein, yang
berani meragukan keberadaan aktivitas berpikir itu sendiri.
Kesulitan kedua berkaitan dengan hubungan kehendak dan
kebebasan. Konsep kehendak tanpa kebebasan tampak sebagai kontradiksi. Seperti
dikatakan oleh René Descartes, bagi setiap orang yang merenungkan dirinya,
kehendak dan kebebasan adalah hal yang sama.
Ukuran dari tindakan bebas adalah kesadaran bahwa kita
sebenarnya dapat tidak melakukan apa yang kita lakukan. Kehendak, dalam hal
ini, tampak memiliki kebebasan yang lebih besar daripada berpikir, yang tetap
terikat pada hukum logika. Namun kebebasan ini tidak selalu dianggap sebagai
berkah; ia juga dapat menjadi beban.
Descartes sendiri mengakui bahwa kehendak manusia tampak
tidak terbatas, dan dalam hal ini mencerminkan sifat ilahi. Namun ia juga
menyadari bahwa kebebasan ini hanya berarti ketiadaan paksaan eksternal, bukan
ketiadaan batas sepenuhnya.
Kesulitan ketiga berkaitan dengan status ontologis dari
tindakan manusia. Dalam pandangan filsafat klasik, dunia manusia—yang penuh
dengan kemungkinan dan kebetulan—memiliki kedudukan yang lebih rendah
dibandingkan dengan dunia yang bersifat niscaya.
Dalam filsafat Yunani, para filsuf dapat “melarikan diri”
dari dunia ini melalui kehidupan kontemplatif, yang memungkinkan mereka
berhubungan dengan hal-hal yang abadi. Dalam tradisi Kristen, pelarian ini
diperkuat oleh keyakinan akan penyelenggaraan ilahi dan kehidupan setelah
kematian, di mana segala sesuatu akan menjadi jelas.
Namun dalam dunia modern, dengan semakin melemahnya pengaruh
agama dan meningkatnya penekanan pada masa depan dan kemajuan, manusia
dihadapkan secara langsung pada ketidakpastian dan kebetulan dalam sejarah.
Dunia tidak lagi memiliki makna yang pasti.
Situasi ini digambarkan dengan kuat dalam ungkapan William
Shakespeare: kehidupan adalah “kisah yang penuh kegaduhan dan amarah… yang
tidak berarti apa-apa.” Dalam konteks ini, kehendak tampak sebagai sumber
keputusan yang acak, tidak dipandu oleh rasio maupun keinginan.
Filsafat sejarah abad ke-19 mencoba mengatasi masalah ini
dengan menyatakan bahwa di balik peristiwa-peristiwa yang tampak acak terdapat
rasio tersembunyi yang mengarah pada tujuan tertentu. Dalam sistem Georg
Wilhelm Friedrich Hegel, kehendak manusia yang tampak bebas sebenarnya
digerakkan oleh logika sejarah menuju tujuan yang tidak disadari oleh
pelakunya.
Dengan demikian, melalui refleksi filosofis, makna dan
keniscayaan dapat dipulihkan. Apa yang tampak kebetulan dalam pengalaman
sehari-hari dapat dipahami sebagai bagian dari keseluruhan yang rasional.
Pada akhirnya, dalam kerangka ini, aktivitas berpikir
kembali disatukan dengan Ada. Pikiran, melalui refleksi, “membersihkan”
realitas dari unsur kebetulan dan mengungkap struktur yang niscaya di baliknya.
4. Masalah tentang Yang Baru
Jika kita meninjau kembali keberatan-keberatan para filsuf
terhadap kehendak—baik terhadap keberadaannya, terhadap gagasan kebebasan
manusia yang terkandung di dalamnya, maupun terhadap sifat kebetulan (kontingensi)
yang melekat pada kehendak bebas—akan tampak bahwa keberatan-keberatan tersebut
sebenarnya lebih sedikit ditujukan pada apa yang secara tradisional disebut liberum
arbitrium (kebebasan memilih), dan lebih banyak diarahkan pada kehendak
sebagai “organ masa depan,” yakni sebagai kemampuan untuk memulai sesuatu yang
benar-benar baru.
Kebebasan memilih (liberum arbitrium) bekerja di
antara kemungkinan-kemungkinan yang sudah ada—opsi-opsi yang tersedia bagi kita
sebagai potensi. Sebaliknya, kemampuan untuk memulai sesuatu yang benar-benar
baru tidak dapat dijelaskan sebagai aktualisasi dari potensi yang sudah ada
sebelumnya. Jika sesuatu benar-benar baru, ia tidak dapat didahului oleh
kemungkinan yang sudah terdefinisi, karena hal itu justru akan menjadikannya
bagian dari rantai sebab-akibat yang sudah ada.
Masalah ini telah disadari oleh Immanuel Kant, yang merasa
kesulitan menghadapi gagasan tentang “kemampuan untuk secara spontan memulai
suatu rangkaian peristiwa.” Ia memberi contoh sederhana: jika pada saat ini
saya bangkit dari kursi, maka tampaknya saya memulai suatu rangkaian baru.
Namun, ia segera menambahkan bahwa dari sudut pandang waktu, peristiwa itu
tetap merupakan kelanjutan dari rangkaian sebelumnya.
Kesulitan utama di sini terletak pada gagasan tentang
“permulaan absolut.” Dalam dunia pengalaman, setiap peristiwa selalu didahului
oleh peristiwa lain. Bahkan diri kita sendiri, sebagai makhluk yang berpikir,
tetap merupakan bagian dari dunia penampakan, meskipun secara mental kita dapat
menarik diri darinya.
Gagasan tentang permulaan absolut sering dikaitkan dengan
doktrin penciptaan dalam tradisi keagamaan. Namun, dalam bentuk yang
ketat—penciptaan dari ketiadaan (ex nihilo)—gagasan ini sebenarnya
merupakan hasil perkembangan teologis kemudian, bukan bagian asli dari tradisi
awal.
Secara logis, peralihan dari “ketiadaan” ke “keberadaan”
memang sangat sulit dipahami. Oleh karena itu, mungkin gagasan tentang
permulaan absolut tidak berasal dari spekulasi metafisis semata, melainkan dari
pengalaman ego yang menghendaki—yakni pengalaman merancang sesuatu yang belum
pernah ada sebelumnya.
Dalam konteks ini, contoh Kant sebenarnya kurang tepat.
Tindakan bangkit dari kursi hanya dapat dianggap sebagai awal dari rangkaian
baru jika didorong oleh suatu tujuan baru. Jika tindakan itu dilakukan secara
kebiasaan, maka ia hanyalah kelanjutan dari rangkaian sebelumnya.
Solusi tradisional terhadap masalah ini adalah dengan
menggunakan pembedaan Aristotelian antara potensi dan aktualitas. Dalam
kerangka ini, setiap peristiwa baru dianggap telah ada secara potensial
sebelumnya. Namun penjelasan ini tidak memadai. Sulit untuk mengatakan bahwa
sebuah karya musik, misalnya, telah “ada secara potensial” sebelum
diciptakan—kecuali jika kita hanya bermaksud mengatakan bahwa ia tidak
mustahil.
Di sisi lain, terdapat perspektif lain yang sangat penting,
sebagaimana ditunjukkan oleh Henri Bergson. Dari sudut pandang ingatan—yakni
ketika kita melihat ke belakang—tindakan yang awalnya tampak bebas dan
kontingen berubah menjadi sesuatu yang tampak niscaya. Setelah terjadi, suatu
peristiwa menjadi bagian dari realitas yang tidak dapat kita “hapus” dari
pikiran.
Kekuatan realitas begitu besar sehingga kita cenderung
menganggap bahwa apa yang telah terjadi seolah-olah memang harus terjadi.
Bahkan kita sering merasa bahwa peristiwa itu telah “ada sebelumnya” dalam
bentuk kemungkinan—padahal sebenarnya tidak demikian.
Fenomena ini sangat jelas dalam tindakan manusia, yang tidak
dapat dibatalkan setelah terjadi. Namun hal yang sama juga berlaku pada dunia
yang kita ciptakan: karya seni, teknologi, dan seluruh peradaban manusia.
Setelah ada, semua itu menjadi bagian dari realitas yang tak terpisahkan.
Bergson menyatakan bahwa realitas, melalui fakta
keberadaannya, “memproyeksikan bayangannya ke masa lalu,” sehingga tampak
seolah-olah ia telah ada sebelumnya sebagai kemungkinan.
Dari sudut pandang ini, bukan kebebasan yang tampak ilusif,
melainkan keniscayaan. Apa yang kita anggap sebagai “harus terjadi” sebenarnya
adalah hasil dari cara kita memandang ke belakang.
Menariknya, gagasan ini jarang mendapat perhatian dalam
perdebatan klasik tentang kebebasan dan keniscayaan. Sebelum Bergson, gagasan
serupa hanya muncul dalam pemikiran Duns Scotus, yang menekankan peran
kontingensi dalam segala sesuatu.
Bagi Scotus, jika ada sesuatu yang tidak kontingen, maka
tidak ada ruang bagi kebebasan. Ia bahkan secara radikal menyatakan bahwa
mereka yang menyangkal kemungkinan kontingensi harus dipaksa untuk mengakui
bahwa mereka sendiri mungkin tidak mengalami apa yang mereka alami.
Dalam konteks ini, muncul pertanyaan penting: apakah konsep
kontingensi dalam filsafat berkembang karena pengaruh tradisi keagamaan, atau
karena pengalaman historis manusia yang semakin kompleks? Jawaban pasti mungkin
tidak tersedia.
Namun yang jelas adalah bahwa kecenderungan filsafat
klasik—yang mengutamakan keniscayaan, universalitas, dan intelek—bertahan
sangat lama, bahkan hingga zaman modern. Baik filsafat religius maupun sekuler
berusaha mengintegrasikan kehendak ke dalam kerangka lama ini.
Akibatnya, kebaruan yang radikal—kemampuan untuk memulai
sesuatu yang benar-benar baru—sering kali diabaikan atau direduksi menjadi
sekadar pilihan di antara kemungkinan yang sudah ada.
Sebagaimana ditegaskan oleh Bergson, sebagian besar filsuf
tidak mampu benar-benar memahami kebaruan yang radikal dan ketakterdugaan.
Bahkan mereka yang mengakui kebebasan kehendak sering kali mereduksinya menjadi
pilihan antara opsi-opsi yang sudah tersedia, seolah-olah semuanya telah
“diberikan” sebelumnya.
Padahal tindakan yang benar-benar bebas bukanlah memilih di
antara kemungkinan yang ada, melainkan menciptakan sesuatu yang belum pernah
ada.
Namun, dalam perdebatan antara determinisme dan kebebasan,
argumen deterministik hampir selalu tampak lebih meyakinkan. Ia sederhana,
jelas, dan sesuai dengan pengalaman dunia yang teratur.
Secara teoretis, kesulitan utama adalah bahwa kehendak bebas
tampak tidak kompatibel dengan hukum sebab-akibat. Kebebasan dapat dirasakan
secara batin, tetapi tidak dapat dibuktikan secara objektif.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita jarang benar-benar memulai
sesuatu yang baru. Sebagian besar tindakan kita diatur oleh kebiasaan,
sebagaimana banyak penilaian kita dipengaruhi oleh prasangka.
Bahkan Henri Bergson mengakui bahwa tindakan yang
benar-benar bebas sangat jarang terjadi. Kita hanya benar-benar bebas ketika
kita kembali ke dalam diri kita—dan hal ini tidak sering kita lakukan.
Salah satu filsuf yang secara tegas menolak untuk tunduk
pada keraguan ini adalah René Descartes. Ia menyatakan bahwa tidak masuk akal
meragukan sesuatu yang kita alami secara langsung dalam diri kita, hanya karena
kita tidak dapat memahaminya secara rasional.
Namun tetap muncul pertanyaan: mengapa pengalaman “aku
berpikir” lebih mudah diterima daripada pengalaman “aku menghendaki”? Mengapa
berpikir dianggap lebih pasti daripada kehendak, bahkan oleh para filsuf yang
mengakui kehendak?
Kemungkinan besar, hal ini berkaitan dengan kecenderungan
para filsuf untuk lebih nyaman dengan keniscayaan daripada dengan kebebasan.
Kebebasan, dengan segala ketidakpastiannya, selalu menjadi sesuatu yang sulit
diterima.
Kecurigaan ini semakin kuat jika kita melihat bagaimana
teori-teori tentang kehendak sering kali berkaitan dengan persoalan kejahatan.
Sejak Augustine of Hippo, pertanyaan tentang kehendak tidak dapat dipisahkan
dari pertanyaan tentang asal-usul kejahatan.
Para filsuf berusaha menjelaskan kejahatan dengan berbagai
cara: sebagai kekurangan dari kebaikan, sebagai ilusi, atau sebagai akibat dari
keterbatasan pengetahuan manusia. Dalam sistem Georg Wilhelm Friedrich Hegel,
bahkan diasumsikan bahwa hanya keseluruhan yang benar-benar nyata, sehingga
kejahatan kehilangan status ontologisnya.
Namun, seperti halnya kebebasan, kejahatan tampaknya
termasuk dalam hal-hal yang paling sulit dipahami oleh manusia.
5. Pertentangan antara Berpikir dan Menghendaki: Nada
Dasar Aktivitas Mental
Jika kita meninjau keseluruhan pembahasan ini tanpa
dibayangi oleh teori-teori dan tradisi—baik religius maupun sekuler—akan sulit
untuk menghindari kesimpulan bahwa para filsuf tampaknya secara mendasar
mengalami kesulitan dalam memahami beberapa fenomena tertentu dari kehidupan
mental manusia, khususnya mengenai posisi pikiran dalam dunia. Kita tidak dapat
sepenuhnya mempercayai para pemikir untuk memberikan penilaian yang adil
terhadap kehendak, sama seperti kita juga tidak dapat sepenuhnya mengandalkan mereka
dalam menilai tubuh.
Permusuhan para filsuf terhadap tubuh telah lama dikenal,
setidaknya sejak Plato. Permusuhan ini bukan terutama disebabkan oleh
ketidakandalan pengalaman indrawi—karena kesalahan indra dapat diperbaiki—atau
oleh sifat liar dari hasrat—karena hasrat dapat dikendalikan oleh rasio. Yang
menjadi masalah adalah sifat dasar tubuh itu sendiri: kebutuhan dan
keinginannya yang terus-menerus muncul dan tidak dapat dihilangkan.
Tubuh, seperti yang ditegaskan Plato, selalu menuntut
perhatian. Bahkan dalam kondisi terbaik—ketika manusia sehat, memiliki waktu
luang, dan hidup dalam masyarakat yang tertata—tubuh tetap mengganggu aktivitas
berpikir melalui tuntutannya yang berulang. Dalam alegori gua, tubuh memaksa
filsuf untuk kembali dari dunia ide menuju dunia urusan manusia.
Namun, pertentangan antara ego yang berpikir dan kehendak
memiliki sifat yang berbeda. Di sini, konflik terjadi antara dua aktivitas
mental yang tampaknya tidak dapat hidup berdampingan secara harmonis. Ketika
kita membentuk suatu kehendak—yakni ketika kita memusatkan perhatian pada suatu
proyek masa depan—kita sama-sama menarik diri dari dunia penampakan,
sebagaimana ketika kita berpikir. Namun meskipun keduanya sama-sama
menghadirkan sesuatu yang tidak hadir secara langsung, arah geraknya berbeda.
Berpikir menarik ke dalam masa kini sesuatu yang telah ada
atau setidaknya pernah ada. Sebaliknya, menghendaki bergerak menuju masa
depan—suatu wilayah yang penuh ketidakpastian. Dalam menghadapi wilayah yang
belum pasti ini, jiwa manusia merespons melalui dua bentuk utama: harapan dan
ketakutan.
Kedua perasaan ini saling terkait erat. Setiap harapan
selalu mengandung ketakutan, dan setiap ketakutan dapat berubah menjadi
harapan. Karena ketidakpastian masa depan, perubahan ini terjadi hampir secara
otomatis. Justru karena sifatnya yang tidak stabil dan mengganggu inilah, dalam
tradisi Yunani kuno, harapan dan ketakutan dianggap sebagai bagian dari “hadiah
buruk” dalam kotak Pandora.
Dalam kondisi yang tidak menenangkan ini, jiwa tidak terlalu
membutuhkan kemampuan untuk meramalkan masa depan, melainkan membutuhkan
ketenangan. Yang sering kali lebih menenangkan daripada ramalan-ramalan semu
adalah keyakinan bahwa segala sesuatu sudah ditentukan sebelumnya—bahwa apa
yang akan terjadi “memang sudah seharusnya terjadi.”
Pandangan fatalistik ini, meskipun jarang dipertahankan
secara serius oleh para filsuf besar, memiliki daya tarik besar dalam pemikiran
sehari-hari.
Sebagaimana dikatakan oleh Gilbert Ryle, kita semua memiliki
momen-momen fatalistik.
Alasannya sederhana: tidak ada teori lain yang mampu
menenangkan dorongan untuk bertindak seefektif fatalisme. Ia meredakan
kebutuhan untuk membuat rencana, untuk menghendaki, untuk memulai sesuatu.
Contoh klasik dapat ditemukan dalam karya Cicero. Ia
menunjukkan bahwa jika segala sesuatu telah ditentukan—misalnya apakah
seseorang akan sembuh dari sakit atau tidak—maka tindakan seperti memanggil
dokter menjadi tidak relevan. Pandangan ini mengarah pada regresi tak berujung
dan pada akhirnya menghapus makna tindakan itu sendiri.
Daya tarik utama dari pandangan ini terletak pada
kemampuannya untuk membebaskan pikiran dari kebutuhan untuk bergerak—dari
kebutuhan untuk menghendaki. Ia menghapus masa depan dengan cara menyamakannya
dengan masa lalu: apa yang akan terjadi dianggap sudah “ditetapkan.”
Ketenangan yang dihasilkan oleh pandangan ini berasal dari
sifat masa lalu yang tidak dapat diubah. Seperti yang dikatakan Georg Wilhelm
Friedrich Hegel, masa lalu memiliki “ketenangan” tersendiri. Kehendak tidak
dapat mengubah masa lalu; ia tidak dapat “menghendaki ke belakang.”
Namun yang sebenarnya menjadi masalah bukanlah masa depan
itu sendiri, melainkan masa depan sebagai proyek kehendak. Kehendak, melalui
proyeknya, menegasikan keadaan yang ada—baik masa kini maupun masa lalu. Dalam
filsafat Karl Marx dan Hegel, kekuatan negasi inilah yang mendorong sejarah
bergerak maju.
Bagi ego yang berpikir, hal ini menjadi ancaman. Berpikir
berusaha menyatukan masa lalu dan masa depan dalam suatu masa kini yang
bertahan—nunc stans, celah antara keduanya. Ia mampu menyerap masa lalu
tanpa gangguan. Namun ia tidak dapat menerima dengan tenang proyek kehendak
yang mengarah ke masa depan.
Setiap kehendak, meskipun merupakan aktivitas mental, selalu
berhubungan dengan dunia penampakan, karena proyeknya harus diwujudkan di sana.
Berbeda dengan berpikir, kehendak tidak pernah menjadi tujuan pada dirinya
sendiri. Ia selalu mengarah pada sesuatu yang harus dilakukan.
Karena itu, suasana dasar dari kehendak adalah kegelisahan:
ketidaksabaran, ketegangan, dan kecemasan (Sorge). Ini bukan hanya
karena jiwa bereaksi terhadap masa depan dengan harapan dan ketakutan, tetapi
juga karena setiap proyek kehendak bergantung pada kemampuan—aku bisa (I
can)—yang tidak pernah pasti.
Kegelisahan ini hanya dapat diakhiri ketika kehendak berubah
menjadi tindakan—ketika “aku menghendaki” menjadi “aku melakukan.”
Dengan demikian, kehendak secara implisit meremehkan
aktivitas berpikir, yang tampak sebagai “tidak melakukan apa-apa.” Tidak
mengherankan bahwa hampir tidak ada filsuf yang memuji pengalaman menghendaki
sebagaimana mereka memuji pengalaman berpikir.
Ada pengecualian penting, seperti Duns Scotus dan Friedrich
Nietzsche, yang memahami kehendak sebagai bentuk kekuatan. Dalam pandangan ini,
kehendak mengalami kepuasan ketika ia membayangkan bahwa “aku menghendaki” akan
menjadi “aku mampu.”
Namun secara umum, kehendak memiliki sifat yang berlawanan
dengan ingatan. Ingatan memiliki kedekatan alami dengan berpikir; semua
pemikiran pada dasarnya adalah refleksi atas sesuatu yang telah terjadi. Dalam
tradisi Plato, ini tercermin dalam konsep anamnesis—bahwa belajar adalah
mengingat kembali.
Ingatan mungkin menimbulkan kerinduan atau kesedihan, tetapi
tidak mengganggu ketenangan pikiran, karena ia berhubungan dengan hal-hal yang
tidak dapat diubah.
Sebaliknya, kehendak berhubungan dengan masa depan—dengan
hal-hal yang berada dalam kekuasaan kita, tetapi belum tentu dapat kita
wujudkan. Di sinilah muncul ketegangan yang lebih dalam: antara keinginan dan
kemampuan.
Sebagaimana dirumuskan oleh Augustine of Hippo, menghendaki
(velle) dan mampu (posse) tidaklah sama. Ketegangan ini dapat
menjadi sangat berat, bahkan mendekati kekacauan batin.
Satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah dengan
bertindak—yakni mengakhiri aktivitas kehendak itu sendiri. Beralih dari
kehendak ke berpikir hanya menghasilkan penundaan, sebagaimana beralih dari
berpikir ke kehendak dapat melumpuhkan aktivitas berpikir.
Jika kita melihat dari sudut “nada dasar” aktivitas
mental—yakni bagaimana pikiran memengaruhi jiwa—maka suasana utama dari
berpikir adalah ketenangan. Ia adalah kenikmatan dari suatu aktivitas yang
tidak perlu menghadapi perlawanan dunia material.
Karena hubungannya dengan ingatan, suasana ini sering kali
cenderung melankolis—sebagaimana dicatat oleh Immanuel Kant dan Aristotle.
Sebaliknya, suasana utama dari kehendak adalah ketegangan,
yang merusak ketenangan pikiran. Gottfried Wilhelm Leibniz menyebut ketenangan
ini sebagai animi tranquillitas—ketenangan jiwa—yang menjadi tujuan para
filsuf.
Dalam pandangan Leibniz, jika dunia ini adalah yang terbaik
dari semua kemungkinan dunia, maka peran kehendak menjadi terbatas: ia
seharusnya “tidak menghendaki untuk menghendaki,” karena setiap tindakan dapat
mengganggu harmoni universal.
Pandangan ini bahkan membawa pada kesimpulan yang radikal.
Leibniz berpendapat bahwa kesalahan terbesar Judas Iscariot bukanlah
pengkhianatannya, melainkan bunuh dirinya—karena dengan mengutuk dirinya
sendiri, ia secara tidak langsung mengutuk seluruh ciptaan.
Gagasan serupa muncul dalam pemikiran Meister Eckhart, yang
bahkan menyatakan bahwa seseorang seharusnya tidak menghendaki agar
dosa-dosanya tidak pernah terjadi—karena itu berarti menolak keseluruhan
tatanan keberadaan.
Pandangan ekstrem ini mungkin berasal dari keyakinan
religius yang sangat kuat—bahwa manusia harus menerima dirinya sepenuhnya.
Namun dalam kasus Leibniz, hal ini juga dapat dipahami sebagai kemenangan ego
yang berpikir atas ego yang menghendaki—karena usaha kehendak untuk “mengubah
masa lalu” pada akhirnya hanya akan berujung pada kehancuran segala sesuatu
yang ada.
6. Solusi Hegel: Filsafat Sejarah
Tidak ada filsuf yang menggambarkan ego yang
menghendaki—dalam pertentangannya dengan ego yang berpikir—dengan lebih
simpatik, mendalam, dan berpengaruh dalam sejarah pemikiran daripada Georg
Wilhelm Friedrich Hegel. Namun pembahasan ini tidak sederhana. Selain karena
istilah-istilah Hegel yang khas dan sering kali sulit, ia juga tidak membahas
persoalan kehendak secara langsung, melainkan menyelipkannya dalam refleksinya
tentang waktu dan sejarah.
Menurut penafsiran penting yang dikembangkan oleh Alexandre
Koyré, keaslian terbesar Hegel terletak pada penekanannya terhadap masa
depan—yakni pemberian prioritas pada masa depan dibandingkan masa lalu. Sekilas
hal ini mungkin tidak tampak mengejutkan, mengingat Hegel hidup di abad ke-19,
ketika gagasan tentang kemajuan sangat dominan. Namun dalam sistemnya,
penekanan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Di satu sisi, Hegel tetap mempertahankan gagasan klasik
bahwa filsafat bertugas memahami apa yang ada—bahwa yang nyata adalah rasional,
dan yang rasional adalah nyata. Namun di sisi lain, ia juga mengembangkan
sesuatu yang baru: filsafat sejarah. Di sini, masa lalu tidak sekadar dicatat,
tetapi diinternalisasi oleh pikiran melalui refleksi. Masa lalu menjadi bagian
dari pikiran, dan melalui proses ini tercapai suatu rekonsiliasi antara pikiran
dan dunia.
Dalam pengertian ini, kita melihat kemenangan besar ego yang
berpikir. Pikiran tidak lagi terasing dari dunia, tetapi mampu menyerap makna
dari pengalaman dan menjadikannya bagian dari dirinya sendiri. Segala sesuatu
yang bermakna dapat diambil, sementara yang tidak bermakna ditinggalkan sebagai
kebetulan yang tidak relevan.
Namun ketika Hegel berbicara tentang waktu, perspektif ini
berubah secara radikal. Perhatian pikiran tidak lagi tertuju pada masa lalu,
melainkan pada masa depan. Masa depan, sebagai sesuatu yang “datang menuju
kita,” justru menjadi dimensi utama waktu.
Dalam pengalaman ini, masa depan memiliki kekuatan untuk
meniadakan masa kini. Masa kini tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang tetap,
melainkan sebagai sesuatu yang akan segera menjadi “tidak lagi.” Dengan
demikian, urutan waktu yang biasa—masa lalu, kini, dan masa depan—dibalik: masa
depan menjadi yang utama.
Perubahan ini terjadi karena manusia tidak sekadar menerima
masa kini, tetapi menolaknya. Ia berkata “tidak” terhadap apa yang ada, dan
melalui penolakan itu menciptakan masa depan. Di sini terlihat bahwa yang
bekerja bukanlah semata-mata berpikir, melainkan kehendak.
Ego yang menghendaki hidup dalam proyek-proyeknya. Ia
mengarahkan diri ke masa depan, dan melalui proyek tersebut meniadakan apa yang
ada sekarang. Masa kini menjadi sesuatu yang kosong—sesuatu yang hanya
menemukan realitasnya dalam masa depan.
Dalam perspektif ini, manusia hidup dalam proses yang
terus-menerus mengubah masa depan menjadi masa kini. Ia ada selama masih
memiliki masa depan. Ketika masa depan hilang—ketika tidak ada lagi yang dapat
diharapkan atau direncanakan—maka kehidupannya secara eksistensial berakhir.
Dengan demikian, kematian bukan hanya akhir biologis, tetapi
juga hilangnya masa depan. Namun pada saat yang sama, kematian juga memberikan
sesuatu yang baru: ia mengubah seluruh kehidupan menjadi sesuatu yang telah
selesai—sesuatu yang kini dapat dipandang sebagai keseluruhan.
Di sinilah ego yang berpikir kembali muncul. Ketika
kehidupan telah mencapai akhirnya, ia memasuki “ketenangan masa lalu.”
Kehidupan yang sebelumnya berada dalam arus perubahan kini dapat dipahami
secara utuh melalui refleksi.
Dari sudut pandang ini, usia tua bukan sekadar kemunduran,
tetapi saat refleksi. Seperti dikatakan oleh Martin Heidegger, ia adalah waktu
untuk merenung; atau dalam ungkapan Sophocles, ia adalah waktu kedamaian dan
kebebasan.
Namun keadaan ini hanya mungkin ketika gerak kehidupan
berhenti. Kehidupan itu sendiri ditandai oleh kegelisahan—oleh gerak yang
terus-menerus. Bagi Hegel, kegelisahan ini adalah dasar dari keberadaan.
Menariknya, kegelisahan ini tidak berasal dari dunia luar,
tetapi dari pikiran manusia sendiri. Manusialah yang menciptakan waktu. Tanpa
manusia, mungkin ada gerak, tetapi tidak ada waktu dalam arti yang kita pahami.
Hal ini terjadi karena manusia tidak hanya berpikir, tetapi
juga menghendaki. Jika manusia hanya berpikir—hanya merefleksikan apa yang
ada—ia akan hidup dalam masa kini yang abadi. Ia tidak akan menyadari bahwa ia
pernah tidak ada dan suatu saat tidak akan ada lagi.
Namun karena manusia menghendaki, ia hidup dalam ketegangan
antara masa kini dan masa depan. Ia menciptakan waktu melalui proyek-proyeknya.
Dalam kerangka ini, masa lalu sendiri muncul dari masa
depan. Masa lalu adalah apa yang sebelumnya merupakan masa depan, tetapi kini
telah menjadi “yang telah terjadi.” Dengan demikian, masa depan memiliki peran
utama dalam membentuk pengalaman waktu.
Pada titik paling ekstrem, kesadaran akan kematian memainkan
peran penting. Dalam menghadapi kematian—sebagai akhir dari semua proyek—ego
yang berpikir terbentuk. Manusia mampu memahami hidupnya justru karena ia
menyadari bahwa hidup itu akan berakhir.
Dalam pandangan ini, kehidupan mental manusia muncul dari
dua hal: kegelisahan kehendak dan kesadaran akan kematian. Kehendak menciptakan
gerak ke masa depan, sementara kematian mengubah masa depan menjadi masa lalu
yang dapat dipahami.
Namun, meskipun tampak sangat kuat, solusi Hegel tidak
sepenuhnya berhasil. Ia mencoba menyatukan dua aktivitas mental yang
berbeda—berpikir dan menghendaki—beserta dua konsep waktu yang berbeda: masa
kini yang bertahan dan masa depan yang dominan.
Untuk mengatasi masalah ini, Hegel memperkenalkan gagasan
tentang “Roh Dunia” (World Spirit), suatu entitas yang melampaui
individu. Melalui Roh Dunia ini, sejarah manusia dipahami sebagai suatu proses
yang bergerak maju secara rasional.
Dalam kerangka ini, waktu tidak lagi sekadar siklus atau
garis lurus, melainkan spiral—menggabungkan pengulangan dan kemajuan. Setiap
generasi memulai kembali, tetapi pada tingkat yang lebih tinggi, karena ia
mewarisi pengalaman dari generasi sebelumnya.
Namun solusi ini memiliki kelemahan mendasar. Ia tidak
berasal dari pengalaman konkret manusia, melainkan merupakan konstruksi
teoretis. Ia mengorbankan pengalaman nyata baik dari berpikir maupun dari
menghendaki demi suatu kesatuan sistem.
Selain itu, gagasan ini bergantung pada asumsi bahwa ada
satu rasio universal yang mengarahkan sejarah menuju tujuan tertentu. Ini pada
akhirnya mencerminkan kebutuhan manusia untuk hidup dalam dunia yang bermakna.
Menariknya, pemikiran serupa juga muncul dalam bentuk lain
pada Martin Heidegger, yang menyatakan bahwa manusia bukanlah sumber kehendak,
melainkan “dikehendaki” oleh kehendak itu sendiri.
Pada akhirnya, meskipun sistem Hegel sangat canggih dan
berpengaruh, ia tetap gagal sepenuhnya mendamaikan ketegangan antara berpikir
dan menghendaki.
Namun satu hal tetap jelas: melalui refleksi tentang sejarah
dan waktu, Hegel menunjukkan bahwa kehidupan mental manusia tidak dapat
dipahami tanpa mempertimbangkan hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa
depan—serta peran kehendak dalam membentuk hubungan tersebut.
II. Penemuan Manusia Batiniah
7. Fakultas Memilih: Proairesis, Pendahulu
Kehendak
Dalam pembahasan sebelumnya tentang aktivitas berpikir,
telah digunakan istilah “kesalahan metafisis” bukan untuk sekadar membantahnya
sebagai kekeliruan logis, melainkan untuk menunjukkan bahwa ia berakar pada
pengalaman nyata ego yang berpikir dalam hubungannya dengan dunia penampakan.
Ego yang berpikir memang menarik diri dari dunia tersebut, tetapi tidak pernah
dapat sepenuhnya meninggalkannya, karena ia tetap terikat pada tubuh—pada
keberadaannya sebagai sesuatu yang juga tampil di dunia.
Kesulitan dalam memahami kehendak memiliki kemiripan dengan
hal ini. Banyak persoalan yang muncul bukan semata karena kesalahan teori,
melainkan karena sifat dari kemampuan itu sendiri. Namun berbeda dengan
rasio—yang ditemukan bersamaan dengan lahirnya filsafat—kehendak sebagai suatu
kemampuan mental baru disadari jauh kemudian. Oleh karena itu, pertanyaan utama
kita adalah: pengalaman apa yang membuat manusia menyadari bahwa mereka mampu menghendaki?
Menelusuri sejarah suatu kemampuan mental sering kali
disalahpahami sebagai menelusuri sejarah suatu ide. Seolah-olah kita hanya
berbicara tentang konsep “kebebasan,” atau bahkan menganggap kehendak sebagai
sekadar ide buatan. Namun hal ini keliru. Ide adalah hasil pikiran, sedangkan
kemampuan mental adalah kondisi yang memungkinkan pikiran itu sendiri.
Memang benar bahwa alat-alat fisik manusia—seperti
tangan—tidak berubah meskipun kita menciptakan berbagai alat baru. Demikian
pula otak sebagai “alat” pikiran tidak berubah. Namun pikiran manusia itu
sendiri—cara kerjanya, perhatiannya, dan kemampuannya—dapat berkembang seiring
perubahan dunia dan aktivitasnya sendiri.
Masalah ini dapat dijelaskan melalui analogi dalam sejarah
seni: meskipun manusia secara biologis tidak berubah, cara mereka
merepresentasikan dunia berubah secara drastis dari satu zaman ke zaman lain.
Hal ini menunjukkan bahwa yang berubah adalah pikiran manusia, bukan alat
biologisnya.
Dengan latar belakang ini, kita dapat menelusuri bagaimana
filsafat Yunani memahami fenomena yang kemudian kita kaitkan dengan kehendak.
Untuk itu, kita beralih pada Aristotle—bukan hanya karena pengaruhnya yang
besar, tetapi juga karena ia hampir menyadari kekosongan konsep kehendak dalam
pemikiran Yunani.
Titik awal pemikiran Aristoteles adalah penolakannya
terhadap pandangan Plato bahwa rasio dapat menggerakkan tindakan. Bagi
Aristoteles, rasio sendiri tidak menggerakkan apa pun. Maka pertanyaan
mendasarnya adalah: apa yang sebenarnya menggerakkan manusia untuk bertindak?
Ia mengakui bahwa rasio dapat memberi perintah—menunjukkan
apa yang baik untuk dikejar dan apa yang harus dihindari—namun perintah ini
tidak selalu ditaati. Contohnya adalah orang yang tidak mampu mengendalikan
diri: ia mengetahui apa yang benar, tetapi tetap mengikuti hasratnya.
Di sisi lain, hasrat juga tidak sepenuhnya menentukan
tindakan. Hasrat dapat ditahan. Dengan demikian, baik rasio maupun hasrat tidak
memiliki kekuatan mutlak untuk menggerakkan tindakan.
Di sini Aristoteles berhadapan dengan fenomena yang
kemudian, dalam filsafat modern, dikenal sebagai perbedaan antara kehendak dan
kecenderungan. Namun ia belum memiliki konsep kehendak. Ia masih bekerja dalam
kerangka dua kekuatan: rasio dan hasrat.
Menurutnya, tindakan manusia muncul dari kerja sama antara
keduanya. Hasrat mendorong kita menuju sesuatu, sementara rasio menghitung cara
untuk mencapainya. Ia menyebut rasio ini sebagai nous praktikos—rasio
praktis—yang berbeda dari rasio teoretis.
Namun model ini masih belum memadai. Ia masih terlalu
bergantung pada dikotomi Plato antara rasio dan hasrat. Karena itu, Aristoteles
memperkenalkan sesuatu yang baru: proairesis.
Proairesis adalah kemampuan memilih—bukan sekadar
memilih secara spontan, melainkan memilih secara sadar di antara berbagai
kemungkinan. Ia menjadi semacam jembatan antara rasio dan hasrat.
Dalam tindakan manusia, selalu ada tujuan (telos)
yang ingin dicapai. Rasio membantu kita memahami tujuan itu, sementara proairesis
menentukan cara mencapainya—memilih di antara berbagai kemungkinan yang
tersedia.
Berbeda dengan dorongan atau emosi (pathos), yang
datang dari luar dan “menimpa” kita, proairesis adalah keputusan yang
kita ambil secara sadar. Ia memungkinkan kita bertindak dengan tujuan.
Namun penting dicatat: kita tidak memilih tujuan akhir itu
sendiri. Semua manusia menginginkan kebahagiaan (eudaimonia), dan tujuan
ini tidak dipilih, melainkan diterima sebagai sesuatu yang sudah diberikan oleh
kodrat manusia.
Yang kita pilih hanyalah sarana untuk mencapainya.
Di sinilah batas dari kebebasan dalam pemikiran Aristoteles.
Kebebasan tidak berarti menciptakan tujuan baru, melainkan memilih di antara
sarana yang tersedia.
Dengan demikian, proairesis membuka ruang kecil bagi
kebebasan manusia. Ia membebaskan manusia dari dominasi penuh rasio maupun
hasrat. Namun ruang ini tetap terbatas.
Dalam tradisi Latin, proairesis diterjemahkan sebagai
liberum arbitrium—kebebasan memilih. Namun ini bukan kehendak dalam arti
modern. Ia bukan kemampuan untuk memulai sesuatu yang benar-benar baru,
melainkan kemampuan untuk memilih di antara kemungkinan yang sudah ada.
Contoh ekstrem dari keterbatasan ini dapat dilihat dalam
kisah terkenal tentang “keledai Buridan”—yang mati kelaparan karena tidak dapat
memilih antara dua pilihan yang sama baiknya.
Bahkan dalam filsafat modern, jejak pemikiran ini masih
terlihat. Dalam etika Immanuel Kant, kehendak sering kali masih dipahami
sebagai rasio praktis—yakni sebagai kemampuan untuk mengikuti hukum rasional.
Namun di titik ini muncul pertanyaan yang lebih dalam:
apakah semua yang berada dalam kekuasaan kita benar-benar dapat kita lakukan?
Apakah “yang harus” (thou shalt) selalu berarti “yang dapat” (thou
canst)?
Pertanyaan inilah yang akhirnya membuka jalan bagi penemuan
kehendak sebagai kemampuan yang otonom—sebagai sesuatu yang tidak lagi sekadar
memilih di antara kemungkinan, tetapi mampu memulai sesuatu yang baru.
8. Rasul Paulus dan Ketidakberdayaan Kehendak
Jawaban pertama dan paling mendasar atas pertanyaan—pengalaman
apa yang membuat manusia menyadari bahwa mereka mampu menghendaki?—adalah
bahwa pengalaman tersebut tidak berasal dari ranah politik atau dunia
penampakan, melainkan dari pengalaman batin manusia itu sendiri.
Pengalaman yang melahirkan kesadaran akan kehendak bukanlah
pengalaman tentang dunia luar, melainkan pengalaman yang terjadi di dalam
diri manusia.
Pengalaman semacam ini sebenarnya tidak sepenuhnya asing
bagi dunia Yunani. Dalam pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan bagaimana Socrates
menemukan apa yang disebut sebagai “dua-dalam-satu”—yakni kesadaran diri yang
terwujud dalam dialog diam antara diri dengan dirinya sendiri. Dialog ini
terjadi dalam kesendirian, ketika manusia menarik diri dari dunia penampakan.
Namun dalam pengalaman berpikir ala Socrates, dua unsur
dalam diri itu bukanlah musuh. Keduanya adalah mitra yang hidup dalam harmoni.
Tujuan utama berpikir adalah menjaga keselarasan ini—agar manusia tidak
bertentangan dengan dirinya sendiri.
Berbeda dengan itu, pengalaman yang diungkapkan oleh Paul
the Apostle menunjukkan sesuatu yang jauh lebih dramatis. Ia juga menemukan
“dua-dalam-satu,” tetapi bukan dalam bentuk persahabatan, melainkan dalam
bentuk konflik yang terus-menerus.
Paulus menggambarkan pengalaman ini dengan sangat tajam:
ketika ia ingin melakukan yang baik, justru kejahatan hadir di dekatnya. Ia
tidak melakukan apa yang ia kehendaki, melainkan melakukan apa yang ia benci.
Dalam dirinya terdapat dua kecenderungan yang saling bertentangan, dan konflik
ini tidak pernah benar-benar terselesaikan.
Hukum—yang seharusnya membimbing manusia menuju
kebaikan—justru memiliki fungsi yang ambivalen. Di satu sisi, hukum menunjukkan
apa itu dosa; di sisi lain, justru dengan adanya perintah, hasrat untuk
melanggar muncul. Perintah “jangan mengingini” justru membangkitkan keinginan
itu sendiri.
Akibatnya, manusia terjebak dalam situasi yang paradoksal:
ia mengetahui apa yang baik, menghendaki yang baik, tetapi tidak mampu
melakukannya. Kehendak menjadi tidak berdaya di hadapan dirinya sendiri.
Bagi Paulus, konflik ini tidak dapat diselesaikan oleh
manusia. Ia hanya dapat diatasi melalui anugerah ilahi. Di sinilah muncul
pergeseran besar dari dunia Yunani ke dunia Kristen: dari penekanan pada
tindakan menuju penekanan pada iman, dari dunia luar menuju dunia batin.
Jika dalam tradisi Yunani keabadian dicapai melalui tindakan
dan ingatan, dalam tradisi baru ini perhatian beralih pada keselamatan individu
dan kehidupan kekal. Pertanyaan utama tidak lagi “apa yang harus dilakukan,”
melainkan “bagaimana menjadi layak untuk hidup kekal.”
Dalam ajaran Jesus Christ, sebenarnya sudah terdapat
penekanan pada kehidupan batin. Ia tidak hanya menuntut tindakan, tetapi juga
niat batin: seseorang yang memandang dengan nafsu sudah melakukan perzinahan
dalam hatinya. Namun dalam ajaran Yesus, tuntutan ini masih disampaikan dalam
kerangka tindakan—“lakukanlah ini.”
Pada Paulus, penekanan ini berubah secara radikal. Yang
utama bukan lagi melakukan, melainkan menghendaki. Hukum tidak lagi
berkata “lakukan,” melainkan “hendakilah.”
Di sinilah kehendak sebagai kemampuan mental muncul dengan
jelas. Kehendak bukan sekadar mengikuti perintah, melainkan memberikan
persetujuan atau penolakan. Ia memungkinkan manusia berkata “ya” atau “tidak”
terhadap apa yang dihadapi—bahkan terhadap dirinya sendiri.
Namun di sinilah paradoks terbesar muncul. Kehendak tidak
hanya mengatakan “aku mau,” tetapi juga melahirkan “aku tidak mau.” Setiap
kehendak selalu disertai oleh kehendak tandingan.
Dengan demikian, konflik batin bukan lagi antara rasio dan
hasrat, seperti dalam filsafat Yunani, melainkan antara kehendak dan kehendak
itu sendiri—antara aku mau dan aku tidak mau.
Fenomena ini sebenarnya telah dikenal dalam sastra kuno. Euripides
dan Ovid telah menggambarkan bagaimana manusia mengetahui yang baik tetapi
melakukan yang buruk. Namun mereka menjelaskan hal ini sebagai kelemahan rasio
di hadapan hasrat, bukan sebagai konflik dalam kehendak itu sendiri.
Paulus melangkah lebih jauh: ia menunjukkan bahwa konflik
ini terjadi di dalam kehendak itu sendiri. Kehendak terpecah dan melahirkan
perlawanan terhadap dirinya sendiri.
Akibatnya, kehendak tidak hanya lemah, tetapi juga tidak
berdaya. Ia tidak gagal karena hambatan luar, melainkan karena konflik
internalnya sendiri.
Berbeda dengan berpikir, yang juga melibatkan dualitas
tetapi dalam bentuk dialog yang harmonis, kehendak menghasilkan pertentangan
yang tidak dapat didamaikan.
Dari sini muncul kebutuhan akan “penyembuhan”—yakni
penyatuan kembali kehendak. Namun dalam pandangan Paulus, penyembuhan ini tidak
dapat dicapai oleh manusia. Ia hanya mungkin melalui anugerah Tuhan.
Lebih jauh lagi, pengalaman kehendak ini berkaitan dengan
tubuh. Dalam pemikiran Paulus, konflik antara kehendak dan kehendak tandingan
sering dipahami sebagai konflik antara roh dan daging. Tubuh menjadi simbol
dari perlawanan terhadap kehendak.
Berbeda dengan sikap filsafat Yunani yang hanya mencurigai
tubuh sebagai gangguan terhadap berpikir, di sini muncul sikap yang lebih
radikal: tubuh dipandang sebagai sumber perlawanan yang harus ditundukkan.
Dengan demikian, penemuan kehendak membuka serangkaian
persoalan baru yang sangat mendalam:
tentang kebebasan, tentang dosa, tentang tanggung jawab, dan tentang hubungan
manusia dengan dirinya sendiri.
Paulus sendiri menyadari bahwa ajarannya menimbulkan
pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab. Misalnya: jika manusia tidak mampu
melakukan yang baik, bagaimana mungkin ia dimintai pertanggungjawaban? Jika
segala sesuatu bergantung pada kehendak Tuhan, mengapa manusia masih
disalahkan?
Jawaban Paulus terhadap pertanyaan ini tidak bersifat
filosofis, melainkan bersifat iman. Ia menolak untuk menjelaskan secara
rasional, dan menegaskan bahwa manusia tidak berada dalam posisi untuk
mempertanyakan kehendak Tuhan.
Jawaban ini mengingatkan pada kisah Job, yang juga
dihadapkan pada misteri ilahi yang tidak dapat dijelaskan. Dalam kedua kasus,
manusia diminta untuk menerima keterbatasannya.
Namun dalam sejarah filsafat, sikap ini tidak bertahan lama.
Para pemikir kemudian berusaha mendamaikan pengalaman iman dengan rasio, dan
dari sinilah lahir berbagai upaya untuk memahami kehendak secara filosofis.
Dengan demikian, penemuan kehendak bukan hanya membuka
pemahaman baru tentang manusia, tetapi juga membuka serangkaian persoalan yang
hingga kini tetap menjadi pusat refleksi filosofis.
9. Epiktetos dan Kemahakuasaan Kehendak
Dalam Surat kepada Jemaat Roma, Paul the Apostle
menggambarkan pengalaman batin yang sangat kuat: pengalaman aku menghendaki
tetapi tidak mampu. Pengalaman ini begitu mendalam sehingga ia
mengaitkannya dengan anugerah ilahi, dan dari sana ia membangun kerangka awal
pemikiran Kristen tentang sejarah dan keselamatan. Namun, penting dicatat bahwa
Paulus tidak menyusun argumen filosofis; ia berbicara berdasarkan pengalaman
yang ia alami.
Berbeda dengan itu, Epictetus—yang hidup hampir sezaman dan
dalam lingkungan budaya yang sama—mengambil pendekatan yang sangat berbeda.
Jika Paulus menekankan kelemahan kehendak, Epiktetos justru menegaskan
kekuatannya yang luar biasa.
Keduanya memiliki banyak kesamaan: keduanya hidup dalam
dunia Kekaisaran Romawi yang telah terhelenisasi, berbicara dalam bahasa Yunani
umum (koine), dan menunjukkan ketegasan moral yang tinggi. Keduanya juga
mengecam kemunafikan—baik kaum Farisi dalam kasus Paulus maupun para filsuf
dalam kasus Epiktetos—yang tidak hidup sesuai dengan ajaran mereka.
Namun perbedaan mereka menjadi sangat jelas dalam cara
mereka memahami kehidupan batin. Bagi Paulus, kehendak adalah lemah dan
terpecah. Bagi Epiktetos, kehendak adalah pusat kekuatan manusia.
Ia merumuskan dengan tegas: kebaikan berada dalam kehendak,
kejahatan juga berada dalam kehendak, dan segala sesuatu yang berada di luar
kendali kehendak tidak memiliki nilai moral. Dengan demikian, dunia luar
kehilangan kepentingannya; yang utama adalah dunia batin manusia.
Sekilas, pandangan ini tampak sebagai kelanjutan dari
Stoisisme klasik. Namun Epiktetos tidak lagi mendasarkan ajarannya pada
metafisika alam seperti para Stoik sebelumnya. Ia tidak berbicara tentang
harmoni kosmos atau tatanan alam semesta. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada
bagaimana manusia menjalani hidupnya.
Bagi Epiktetos, filsafat adalah seni menjalani hidup.
Tugasnya adalah membekali manusia dengan cara berpikir yang mampu menghadapi
penderitaan. Ia berangkat dari keyakinan bahwa semua manusia ingin bahagia,
tetapi kehidupan, sebagaimana adanya, tidak menjamin kebahagiaan. Karena itu,
diperlukan usaha kehendak.
Namun “kebahagiaan” di sini tidak lagi berarti hidup baik (eudaimonia),
melainkan keadaan batin yang bebas dari gangguan—ketenangan, ketentraman, dan
ketidaktersentuhan oleh penderitaan. Kebahagiaan menjadi sesuatu yang negatif:
bukan menikmati hidup, melainkan tidak menderita.
Untuk mencapainya, manusia harus memahami bahwa yang
membuatnya menderita bukanlah peristiwa itu sendiri, melainkan kesan
atau penilaian terhadap peristiwa tersebut. Bukan kematian yang
menakutkan, melainkan ketakutan terhadap kematian. Bukan rasa sakit yang
menyiksa, melainkan ketakutan terhadap rasa sakit.
Dengan demikian, tugas filsafat adalah melatih pikiran untuk
mengelola kesan-kesan ini—untuk menguji dan menilai apa yang masuk ke dalam
kesadaran. Dunia luar hanya memiliki arti sejauh ia hadir sebagai “kesan” dalam
pikiran.
Di titik ini, terjadi perubahan besar: manusia tidak lagi
berurusan langsung dengan realitas, melainkan dengan representasi mentalnya.
Dan karena representasi ini berada dalam dirinya, ia memiliki kendali atasnya.
Dari sini muncul gagasan kebebasan yang radikal. Dalam ranah
batin, tidak ada yang dapat memaksa manusia. Tidak ada yang dapat memaksa
seseorang menerima sesuatu sebagai benar jika ia tidak menghendakinya. Di
sinilah kehendak menjadi sepenuhnya bebas.
Namun kebebasan ini memiliki konsekuensi yang sangat jauh.
Manusia tidak hanya diminta untuk tidak terikat pada dunia luar, tetapi juga
untuk menerima segala sesuatu yang terjadi. Ia harus menghendaki apa yang
memang terjadi.
Dengan kata lain, bukan dunia yang harus menyesuaikan diri
dengan kehendak kita, melainkan kehendak kita yang harus menyesuaikan diri
dengan dunia.
Pada titik ini, kehendak mencapai bentuk yang paling
radikal: ia menjadi mahakuasa bukan karena dapat mengubah dunia, tetapi karena
dapat menyetujui dunia sepenuhnya. Ia tidak lagi melawan kenyataan,
tetapi menyelaraskan diri dengannya.
Namun di balik gagasan ini terdapat asumsi penting: bahwa
realitas hanya menjadi nyata bagi kita sejauh kita menyetujuinya. Jika kita
menolak memberikan persetujuan, maka realitas kehilangan kekuatannya atas kita.
Pandangan ini menuntut latihan yang terus-menerus. Manusia
harus melatih dirinya untuk mengalihkan perhatian dari dunia luar dan
memusatkan diri pada dunia batin. Ia harus mampu, bahkan di tengah penderitaan,
mempertahankan sikap batin yang bebas.
Epiktetos memberikan contoh ekstrem: seseorang dapat
dipenjara, disiksa, atau diasingkan, tetapi selama kehendaknya tetap bebas, ia
tidak benar-benar terikat. Bahkan jika tubuhnya dikekang, kehendaknya tetap
tidak dapat dipaksa.
Namun di sini muncul batas yang tidak dapat dihindari: tubuh
manusia sendiri bukan bagian dari kehendak. Ia tetap rentan. Untuk mengatasi
hal ini, Stoisisme bahkan membuka kemungkinan bunuh diri sebagai jalan keluar
terakhir—sebuah gagasan yang menunjukkan betapa radikalnya kebebasan yang
dibayangkan.
Dalam pandangan ini, kebebasan batin mencapai titik ekstrem:
manusia dapat menolak dunia sepenuhnya. Namun Epiktetos tidak melihat ini
sebagai pemberontakan terhadap dunia, melainkan sebagai penerimaan total
terhadap kenyataan.
Ia tidak berusaha menjelaskan dunia atau mempertanyakannya.
Ia menerima bahwa segala sesuatu terjadi sebagaimana mestinya, dan tugas
manusia adalah menyesuaikan kehendaknya dengan kenyataan tersebut.
Namun, di balik ketenangan yang dijanjikan, terdapat konflik
yang mendalam. Kehendak, sebagaimana telah terlihat sebelumnya, selalu
melahirkan kehendak tandingan. Dalam diri manusia, selalu ada pertarungan
antara “aku mau” dan “aku tidak mau.”
Epiktetos menggambarkan ini sebagai perjuangan yang
terus-menerus. Manusia harus selalu waspada terhadap dirinya sendiri,
seolah-olah ia adalah musuh bagi dirinya sendiri.
Dengan demikian, harga dari kemahakuasaan kehendak adalah
konflik internal yang tidak pernah berhenti. Apa yang dalam berpikir merupakan
harmoni, dalam kehendak menjadi pertentangan.
Akhirnya, meskipun ajaran Epiktetos tampak memberikan
kebebasan yang mutlak, ia juga mengungkap sisi gelap dari kehendak: bahwa
kebebasan itu dicapai dengan cara menarik diri dari dunia dan hidup dalam dunia
batin yang sepenuhnya dikendalikan.
Namun ada satu penemuan penting yang tidak dapat diabaikan:
bahwa setiap persetujuan (ya) selalu mengandung kemungkinan penolakan (tidak).
Kebebasan kehendak terletak pada kemampuan ini—untuk menerima atau menolak.
Inilah inti dari pengalaman kehendak: kemampuan manusia
untuk mengatakan “ya” atau “tidak” terhadap dunia, terhadap dirinya sendiri,
dan terhadap keberadaannya.
Namun kemampuan ini juga membuka kemungkinan konflik, ilusi,
dan bahkan penderitaan yang mendalam.
10. Agustinus: Filsuf Pertama tentang Kehendak
Sebagaimana pernah dikatakan oleh Étienne Gilson, jika
keberadaan filsafat Kristen berutang pada Kitab Suci, maka keberadaan filsafat
dalam Kekristenan berutang pada tradisi Yunani. Dalam konteks ini, Augustine of
Hippo menempati posisi yang sangat istimewa: ia bukan hanya filsuf Kristen
pertama, tetapi juga salah satu pemikir pertama yang beralih kepada agama
karena persoalan-persoalan filosofis yang tak terselesaikan.
Sejak muda, Agustinus telah diperkenalkan pada Kekristenan.
Namun pengalaman “pertobatannya”—yang ia ceritakan dalam Confessions—berbeda
jauh dari pengalaman Paul the Apostle. Jika Paulus mengalami perubahan mendadak
dan radikal, Agustinus menempuh jalan panjang yang dipenuhi pencarian
intelektual.
Ia sendiri mengakui bahwa minatnya pada filsafat pertama
kali dibangkitkan oleh karya Cicero berjudul Hortensius. Dari sana ia
terdorong untuk mencari kebahagiaan melalui filsafat. Namun pada akhirnya ia
beralih ke agama, bukan karena menolak filsafat, melainkan karena filsafat
tidak mampu memberinya jawaban yang memadai.
Berbeda dengan tradisi Yunani, yang berfilsafat karena
dorongan untuk memahami kebenaran, tradisi Romawi—yang sangat memengaruhi
Agustinus—memandang filsafat sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan. Bagi
mereka, manusia berfilsafat agar dapat hidup dengan baik.
Dalam diri Agustinus, pencarian kebahagiaan ini berpadu
dengan penemuan kehidupan batin. Ia menyadari sesuatu yang sangat penting:
bahwa manusia menjadi pertanyaan bagi dirinya sendiri—“aku menjadi sebuah
pertanyaan bagi diriku sendiri.” Ini adalah titik awal dari refleksi yang
mendalam tentang waktu, kehendak, dan keberadaan manusia.
Namun Agustinus bukanlah pemikir sistematis. Pemikirannya
berkembang secara bertahap, penuh pengulangan, dan sering kali tidak
diselesaikan secara final. Meski demikian, ada satu tema yang terus-menerus ia
kembalii: kebebasan kehendak (liberum arbitrium voluntatis).
Awalnya, ia mendekati masalah ini melalui pertanyaan klasik:
dari mana asal kejahatan? Jika Tuhan itu baik, maka Ia tidak mungkin menjadi
penyebab kejahatan. Maka, penyebab kejahatan harus dicari di tempat lain.
Dari sini muncul pertanyaan penting: apakah kehendak bebas
adalah sumber kejahatan? Jika manusia tidak memiliki kehendak bebas, maka ia
tidak akan dapat berbuat dosa. Namun jika kehendak bebas adalah anugerah Tuhan,
apakah ini berarti Tuhan secara tidak langsung menjadi penyebab kejahatan?
Pertanyaan ini tidak segera dijawab oleh Agustinus. Ia
menyimpannya selama bertahun-tahun, hingga akhirnya menemukan jawabannya
melalui pembacaan mendalam terhadap tulisan-tulisan Paulus.
Seperti Paulus, Agustinus menyadari bahwa manusia dapat
menghendaki sesuatu tetapi tidak mampu melaksanakannya. Namun ia melangkah
lebih jauh dengan merumuskan secara konseptual: menghendaki dan mampu
bukanlah hal yang sama.
Ini adalah penemuan yang sangat penting. Kehendak memang
berada dalam diri kita, tetapi kemampuan untuk mewujudkan kehendak tidak selalu
menyertainya. Kehendak dan tindakan tidak identik.
Namun Agustinus juga menegaskan bahwa kehendak tetap
merupakan sesuatu yang bebas. Tidak seperti rasio, yang tunduk pada kebenaran,
atau hasrat, yang muncul secara otomatis, kehendak memiliki kemampuan untuk
mengatakan “ya” atau “tidak.”
Di sinilah muncul konsep penting tentang dua kehendak: velle
(menghendaki) dan nolle (tidak menghendaki). Keduanya bukanlah ketiadaan
satu sama lain, melainkan dua kekuatan aktif dalam diri manusia.
Setiap tindakan kehendak selalu melibatkan keduanya. Ketika
kita menghendaki sesuatu, kita sekaligus menolak sesuatu yang lain. Dengan
demikian, kehendak selalu mengandung konflik di dalam dirinya.
Agustinus menggambarkan pengalaman ini secara sangat hidup:
ia merasa dirinya terbelah. Ia adalah orang yang menghendaki, tetapi sekaligus
juga orang yang tidak menghendaki. Konflik ini bukan antara rasio dan hasrat,
melainkan antara kehendak dan kehendak itu sendiri.
Berbeda dengan pandangan Manikeisme yang menganggap konflik
ini sebagai pertarungan antara dua prinsip—baik dan jahat—Agustinus menegaskan
bahwa konflik ini terjadi dalam satu diri yang sama.
Ia bahkan menunjukkan bahwa konflik ini tidak hanya terjadi
dalam persoalan moral. Bahkan ketika seseorang harus memilih antara dua hal
yang sama-sama baik atau sama-sama buruk, konflik kehendak tetap muncul.
Dari sini jelas bahwa kehendak, pada dasarnya, adalah
kemampuan yang terbelah. Ia tidak pernah sepenuhnya utuh.
Namun pertanyaan besar tetap ada: bagaimana konflik ini
akhirnya diselesaikan? Bagaimana kehendak yang terpecah dapat menjadi satu dan
menghasilkan tindakan?
Jawaban Agustinus tidak ditemukan dalam kehendak itu
sendiri, melainkan dalam sesuatu yang lebih dalam: cinta (amor).
Ia menyatakan bahwa cinta adalah “berat” jiwa—kekuatan yang
mengarahkan gerak jiwa dan memberinya arah. Seperti benda yang jatuh karena
beratnya, jiwa bergerak menuju apa yang dicintainya.
Cinta inilah yang menyatukan kehendak yang terpecah. Ia
memberikan arah yang stabil, sehingga kehendak tidak lagi terombang-ambing di
antara berbagai kemungkinan.
Dengan demikian, penyelesaian konflik kehendak bukanlah
melalui penalaran atau kekuatan kehendak itu sendiri, melainkan melalui
transformasi kehendak menjadi cinta.
Cinta tidak hanya menghendaki, tetapi juga bertahan dalam
apa yang dikehendakinya. Ia memberikan ketenangan yang tidak dapat diberikan
oleh kehendak semata.
Lebih jauh lagi, Agustinus mengembangkan pemikiran ini dalam
kerangka yang lebih luas tentang struktur pikiran manusia. Ia melihat bahwa
pikiran terdiri dari tiga unsur utama: ingatan, pemahaman, dan kehendak.
Ketiganya saling terkait dan membentuk satu kesatuan. Namun
yang menyatukan ketiganya adalah kehendak—yang dalam bentuk tertingginya adalah
cinta.
Kehendak, melalui perhatian, mengarahkan pikiran, menentukan
apa yang diingat, dan apa yang dipahami. Tanpa kehendak, tidak ada kesatuan
dalam kehidupan mental.
Dengan demikian, kehendak tidak lagi dipahami sebagai
kemampuan yang terisolasi, melainkan sebagai pusat penggerak seluruh kehidupan
mental.
Akhirnya, Agustinus mengaitkan kehendak dengan waktu dan
keberadaan manusia. Ia berpendapat bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk
yang memiliki awal—sebuah permulaan baru dalam dunia.
Berbeda dengan makhluk lain, manusia adalah individu yang
unik, dan keunikannya terletak pada kehendaknya. Kehendaklah yang membuat
setiap manusia berbeda satu sama lain.
Dalam konteks ini, kebebasan tidak lagi sekadar kemampuan
memilih, tetapi kemampuan untuk memulai sesuatu yang baru. Setiap manusia,
melalui kelahirannya, membawa kemungkinan untuk memulai sesuatu yang belum
pernah ada sebelumnya.
Inilah makna terdalam dari kehendak: sebagai sumber kebaruan
dalam dunia.
III. Kehendak dan Intelek
11. Thomas Aquinas dan Primasi Intelek
Lebih dari empat puluh tahun yang lalu, Étienne Gilson—tokoh
penting dalam kebangkitan kembali filsafat Kristen—dalam kuliah Gifford di
Aberdeen membahas kebangkitan besar pemikiran Yunani pada abad ke-13. Ia
merumuskannya sebagai prinsip dasar dari seluruh spekulasi abad pertengahan,
yaitu fides quaerens intellectum—iman yang mencari pemahaman,
sebagaimana dikemukakan oleh Anselm of Canterbury. Dalam kerangka ini, filsafat
ditempatkan sebagai pelayan teologi (ancilla theologiae).
Namun, selalu ada risiko bahwa “pelayan” ini justru menjadi
“tuan,” sebagaimana pernah diperingatkan oleh Pope Gregory IX. Artinya, rasio
bisa mengambil alih dan mendominasi iman. Meskipun demikian, hubungan antara
iman dan rasio tetap menjadi inti dari filsafat abad pertengahan.
Delapan abad memisahkan Thomas Aquinas dari Augustine of
Hippo. Dalam rentang waktu ini, Agustinus telah menjadi otoritas besar—hampir
setara dengan Aristotle dan bahkan mendekati otoritas Paul the Apostle. Dalam
dunia abad pertengahan, otoritas semacam ini sangat menentukan. Sebuah gagasan
baru jarang diterima jika tidak didukung oleh otoritas sebelumnya.
Karena itu, karya-karya para pemikir skolastik—termasuk
Thomas—dipenuhi kutipan dari berbagai sumber: Kristen, Yahudi, maupun Islam.
Mereka hidup dalam dunia buku, di lingkungan biara, dan pemikiran mereka sangat
dipandu oleh tradisi tertulis.
Hal ini sangat berbeda dengan Agustinus, yang menulis dari
pengalaman pribadi. Bagi Agustinus, pengalaman batin menjadi sumber refleksi.
Sementara bagi para skolastik, pengalaman lebih sering digunakan hanya sebagai
contoh untuk mendukung argumen yang sudah disusun.
Karya besar Thomas, Summa Theologica, disusun sebagai
buku ajar. Di dalamnya, ia merumuskan hampir semua pertanyaan yang mungkin
diajukan, menyajikan berbagai argumen, dan memberikan jawaban yang sistematis.
Struktur ini sangat khas: setiap persoalan diawali dengan pertanyaan, diikuti
oleh keberatan-keberatan, kemudian pandangan yang berlawanan, dan akhirnya
jawaban Thomas sendiri.
Pendekatan ini mencerminkan keyakinan mendalam pada kekuatan
rasio. Kebenaran, bagi Thomas, memiliki kekuatan yang memaksa—bukan dalam arti
memaksa secara eksternal, tetapi memaksa secara rasional. Ia membedakan tiga
jenis keharusan: keharusan rasional, keharusan praktis, dan paksaan eksternal.
Hanya paksaan eksternal yang bertentangan dengan kehendak; sedangkan kebenaran
rasional justru diterima secara bebas karena sifatnya yang meyakinkan.
Dalam kerangka ini, Thomas membedakan dua kemampuan kognitif
utama: intelek dan rasio. Intelek berhubungan dengan kebenaran universal dan
prinsip-prinsip dasar yang tidak memerlukan pembuktian, sedangkan rasio bekerja
secara diskursif—menarik kesimpulan dari prinsip-prinsip tersebut.
Di sisi lain, terdapat kemampuan kehendak dan pilihan bebas
(liberum arbitrium), yang berhubungan dengan tindakan. Namun, di sini
jelas bahwa kehendak tidak berdiri sendiri. Ia bergantung pada intelek, karena
manusia tidak dapat menghendaki sesuatu yang tidak diketahuinya.
Dengan demikian, urutan tindakan manusia adalah sebagai
berikut: pertama, intelek memahami tujuan; kemudian rasio mempertimbangkan
sarana; dan akhirnya kehendak memilih serta menginginkan sarana tersebut. Dalam
setiap tahap, intelek selalu mendahului kehendak.
Dasar konseptual dari semua ini adalah gagasan bahwa “yang
ada” (being) dan “yang baik” (good) pada dasarnya sama. Segala
sesuatu sejauh ia ada adalah baik. Kejahatan bukanlah sesuatu yang memiliki
keberadaan sendiri, melainkan kekurangan atau ketiadaan kebaikan.
Pandangan ini merupakan pengembangan dari pemikiran
Agustinus. Namun Thomas merumuskannya secara lebih sistematis. Ia membedakan
antara kekurangan yang sekadar netral dan kekurangan yang merupakan kejahatan.
Misalnya, manusia yang tidak bisa berlari secepat kuda bukanlah sesuatu yang
jahat, tetapi kebutaan pada manusia adalah kekurangan yang bersifat buruk.
Dari sini ia menyimpulkan bahwa kejahatan tidak memiliki
keberadaan mandiri. Ia tidak dapat berdiri sendiri, karena jika ia sepenuhnya
tanpa kebaikan, ia justru tidak akan ada sama sekali.
Selanjutnya, Thomas menjelaskan bahwa semua makhluk secara
alami cenderung mempertahankan keberadaannya. Intelek manusia, yang mampu
memahami keberadaan secara universal, membuat manusia memiliki dorongan untuk
terus ada. Inilah tujuan akhir kehendak: keberadaan yang berkelanjutan.
Namun, kehendak hanya bebas dalam memilih hal-hal yang
bersifat partikular. Tujuan akhir—yakni kebaikan tertinggi atau
kebahagiaan—tidak dipilih secara bebas, karena ia sudah ditentukan oleh kodrat
manusia.
Di titik ini muncul pertanyaan penting: mana yang lebih
tinggi, intelek atau kehendak?
Sekilas, keduanya tampak setara, karena keduanya berhubungan
dengan realitas yang sama—yang benar bagi intelek, dan yang baik bagi kehendak.
Bahkan keduanya saling berkaitan: intelek memahami bahwa kehendak menghendaki,
dan kehendak menghendaki agar intelek memahami.
Namun Thomas berpendapat bahwa intelek lebih tinggi.
Alasannya sederhana tetapi mendasar: kehendak selalu bergantung pada
pengetahuan. Tidak ada kehendak tanpa pemahaman, tetapi pemahaman dapat terjadi
tanpa kehendak.
Dengan kata lain, intelek mendahului kehendak.
Pandangan ini berbeda dengan Agustinus, yang menekankan
peran kehendak—terutama dalam bentuk perhatian—sebagai penggerak utama
aktivitas mental. Bagi Thomas, justru intelek yang memiliki primasi.
Namun alasan terdalam dari posisi ini bukan semata-mata
logis, melainkan berkaitan dengan tujuan akhir manusia. Jika bagi Agustinus
tujuan tertinggi adalah cinta, maka bagi Thomas tujuan tertinggi adalah
pengetahuan tentang Tuhan.
Ia berpendapat bahwa kebahagiaan tertinggi manusia terletak
pada kontemplasi—yakni memahami Tuhan melalui intelek. Cinta memang penting,
tetapi cinta dianggap belum sempurna sebelum objeknya benar-benar dimiliki
melalui pengetahuan.
Dengan demikian, aktivitas tertinggi manusia bukanlah
menghendaki atau mencintai, melainkan mengetahui.
Pandangan ini sejalan dengan tradisi Albertus Magnus, guru
Thomas, dan juga tercermin dalam karya Dante Alighieri, yang menempatkan
kebahagiaan tertinggi pada penglihatan intelektual terhadap Tuhan.
Konsekuensi dari pandangan ini sangat jauh. Kehendak
dipahami sebagai sesuatu yang pada akhirnya berhenti ketika tujuan tercapai. Ia
bersifat sementara—bergerak menuju sesuatu, lalu berhenti ketika sesuatu itu
dimiliki.
Sebaliknya, intelek tetap aktif dalam kontemplasi. Ia tidak
berhenti, karena aktivitasnya adalah melihat dan memahami, bukan mencapai
sesuatu di luar dirinya.
Dengan demikian, dalam sistem Thomas, kehendak pada akhirnya
“beristirahat” dalam intelek. Kebahagiaan tertinggi bukanlah tindakan,
melainkan ketenangan dalam kontemplasi.
Namun pandangan ini juga memiliki keterbatasan. Ia tidak
memberikan ruang bagi aktivitas yang tujuannya ada dalam dirinya
sendiri—seperti tindakan manusia yang tidak sekadar menjadi sarana, tetapi
memiliki nilai intrinsik.
Di sinilah perbedaan mendasar antara Thomas dan tradisi
lain, termasuk Aristotle, yang membedakan antara aktivitas produktif dan
aktivitas yang bernilai pada dirinya sendiri.
Pada akhirnya, dalam pemikiran Thomas, kehendak tidak
memiliki peran utama. Ia selalu berada di bawah intelek, dan tujuan akhirnya
adalah berhenti—berdiam dalam kebahagiaan kontemplatif.
12. Duns Scotus dan Primasi Kehendak
Ketika kita beralih kepada Duns Scotus, kita sebenarnya
masih berada dalam dunia yang sama dengan Thomas Aquinas—yakni tradisi
skolastik abad pertengahan. Ia hidup hanya satu generasi setelah Thomas, dan
metode berpikirnya pun tampak serupa: pertanyaan diajukan, argumen dikumpulkan
dari berbagai otoritas, lalu diakhiri dengan jawaban yang sistematis.
Namun di balik kesamaan bentuk ini, terdapat perbedaan yang
sangat mendasar. Jika Thomas menempatkan intelek sebagai yang utama, Scotus
justru menempatkan kehendak sebagai pusat dan puncak kehidupan mental.
Menurut Thomas, kehendak hanyalah pelaksana dari apa yang
dipahami oleh intelek. Sebaliknya, Scotus membalik hubungan ini: intelek justru
melayani kehendak. Intelek menyediakan objek dan pengetahuan, tetapi hanya
kehendak yang menentukan arah perhatian dan memberikan persetujuan akhir. Tanpa
kehendak, intelek tidak benar-benar berfungsi.
Perbedaan ini bukan sekadar teknis, melainkan mencerminkan
perubahan cara memahami manusia. Jika dalam sistem Thomas manusia terutama
adalah makhluk yang mengetahui, maka dalam sistem Scotus manusia adalah makhluk
yang menghendaki.
Meskipun demikian, Scotus bukan sekadar penerus Aristotle
atau Augustine of Hippo. Ia memang mengambil dari keduanya, tetapi
mengembangkan pemikiran yang sangat orisinal. Ia hidup di masa peralihan—antara
abad pertengahan dan awal zaman modern—dan pemikirannya mencerminkan ketegangan
zaman tersebut.
Salah satu gagasan paling penting dalam filsafat Scotus
adalah tentang keterbatasan rasio manusia. Ia menolak keyakinan bahwa rasio
dapat memahami segala sesuatu. Dalam hal-hal yang menyangkut tujuan akhir
manusia dan keberadaan kekal, rasio tidak mampu memberikan kepastian.
Namun keterbatasan ini tidak membuat Scotus jatuh pada
irasionalitas. Ia tetap percaya pada rasio, tetapi juga menyadari batasnya.
Manusia adalah makhluk yang terbatas—ia tidak menciptakan dirinya sendiri—dan
karena itu pengetahuannya pun terbatas.
Di sinilah muncul pertanyaan yang sangat penting: bagaimana
mungkin manusia yang terbatas dapat memahami sesuatu yang tak terbatas, seperti
Tuhan?
Jawaban Scotus terletak pada kehendak. Kehendak memiliki
kemampuan untuk melampaui batas-batas yang mengikat intelek. Ia tidak terikat
sepenuhnya oleh apa yang diberikan oleh dunia atau oleh rasio.
Berbeda dengan intelek, yang harus menerima apa yang tampak
benar, kehendak memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak. Ia dapat
mengatakan “ya” atau “tidak” terhadap hal yang sama.
Inilah inti kebebasan manusia menurut Scotus: kemampuan
untuk memilih di antara kemungkinan yang bertentangan. Manusia tidak hanya
mengikuti dorongan atau pengetahuan, tetapi dapat mengambil jarak darinya.
Namun kebebasan ini tidak berarti bahwa kehendak mahakuasa.
Kehendak tetap memiliki batas. Ia tidak dapat meniadakan keberadaan itu
sendiri.
Manusia tidak dapat benar-benar membayangkan “ketiadaan
mutlak.”
Meski demikian, dalam batas-batas tersebut, kehendak tetap
bebas. Ia dapat menolak apa yang diinginkan oleh hasrat, bahkan menolak apa
yang disarankan oleh rasio. Kebebasan ini tampak jelas dalam pengalaman batin
manusia.
Scotus menekankan bahwa dalam setiap tindakan kehendak, kita
menyadari bahwa kita juga dapat tidak menghendaki. Kesadaran ini menjadi
bukti langsung dari kebebasan.
Berbeda dengan hasrat yang hanya tertarik atau menolak
secara otomatis, dan berbeda dengan intelek yang hanya dapat menerima atau
menolak berdasarkan kebenaran, kehendak memiliki kemampuan unik: ia dapat
memilih secara bebas.
Ia bahkan dapat menangguhkan dirinya sendiri—menunda
keputusan, atau memilih untuk tidak memilih.
Dari sini, Scotus membedakan dua jenis kehendak: kehendak
alami (ut natura), yang mengikuti kecenderungan alami manusia, dan
kehendak bebas (ut libera), yang benar-benar otonom.
Kehendak alami cenderung menuju kebaikan dan kebahagiaan.
Namun kehendak bebas dapat melampaui kecenderungan ini. Manusia bahkan dapat
memilih sesuatu yang tidak mengarah pada kebahagiaan.
Di sinilah kebebasan menjadi sesuatu yang radikal. Ia tidak
hanya memilih sarana, tetapi juga dapat menentukan tujuan. Kehendak tidak lagi
sekadar mengikuti, tetapi mencipta arah.
Namun kebebasan ini memiliki harga: yaitu kontingensi.
Bagi Scotus, segala sesuatu yang terjadi tidaklah harus terjadi. Segala sesuatu
bisa saja tidak terjadi.
Kontingensi bukanlah kelemahan, melainkan ciri dasar dari
keberadaan. Ia adalah kondisi yang memungkinkan kebebasan. Jika segala sesuatu
bersifat niscaya, maka tidak ada ruang bagi kebebasan.
Dengan demikian, dunia tidak bergerak menurut rantai
sebab-akibat yang kaku. Peristiwa terjadi karena pertemuan berbagai sebab yang
bersifat independen. Dunia menjadi terbuka, tidak sepenuhnya dapat diprediksi.
Namun di sisi lain, setelah sesuatu terjadi, ia menjadi
tetap. Masa lalu tidak dapat diubah. Apa yang telah terjadi menjadi “niscaya”
dalam arti bahwa ia tidak dapat dibatalkan.
Di sinilah muncul ketegangan antara kebebasan dan kenyataan.
Kehendak bebas dalam bertindak, tetapi hasil tindakan itu menjadi bagian dari
dunia yang tidak dapat diubah.
Kehendak tidak dapat “menghendaki ke belakang.”
Dalam situasi ini, intelek mencoba memahami apa yang telah
terjadi, mencari sebab dan makna. Sementara kehendak mendorong tindakan,
intelek mencoba menjelaskan hasilnya.
Dengan demikian, konflik antara kehendak dan intelek tidak
dapat sepenuhnya diselesaikan. Keduanya bergerak dalam arah yang berbeda.
Namun Scotus memberikan solusi yang menarik terhadap konflik
dalam kehendak itu sendiri. Ia menyatakan bahwa kehendak yang terpecah—antara
“aku mau” dan “aku tidak mau”—akan menemukan penyelesaiannya dalam tindakan.
Selama kehendak hanya berada pada tahap kemungkinan, konflik
tetap ada. Tetapi ketika manusia bertindak, ia memilih satu kemungkinan dan
meninggalkan yang lain. Dalam tindakan, kehendak menjadi satu.
Lebih jauh lagi, Scotus membedakan antara aktivitas mental
murni dan tindakan yang menghasilkan sesuatu di dunia. Aktivitas mental—seperti
berpikir dan menghendaki—tidak memiliki tujuan di luar dirinya. Ia memiliki
nilai dalam dirinya sendiri.
Sebaliknya, tindakan yang menghasilkan sesuatu memiliki
tujuan eksternal. Ia berakhir ketika hasilnya tercapai.
Namun dalam pengalaman manusia, keduanya saling berkaitan.
Kehendak, sebagai kekuatan batin, mendorong tindakan di dunia.
Pada titik tertinggi, kehendak dapat berubah menjadi cinta.
Cinta bukan lagi keinginan untuk memiliki, melainkan kehendak agar yang lain ada.
Dalam ungkapan Scotus: “Aku mencintai: aku menghendaki
agar engkau ada.”
Di sini kehendak mencapai bentuk paling murni. Ia tidak lagi
didorong oleh kekurangan atau kebutuhan, tetapi menjadi afirmasi murni terhadap
keberadaan.
Cinta semacam ini tidak berhenti, karena tidak bergantung
pada pencapaian sesuatu. Ia adalah aktivitas yang memiliki tujuan dalam dirinya
sendiri.
Dengan demikian, puncak dari kehendak bukanlah tindakan,
melainkan cinta—sebuah aktivitas yang stabil, tenang, dan tidak terpecah.
Dalam cinta, kehendak menemukan kesatuan yang sebelumnya
tidak dimilikinya.
IV. Kesimpulan
13. Idealisme Jerman dan “Jembatan Pelangi Konsep”
Sebelum memasuki bagian akhir dari keseluruhan pembahasan
ini, perlu dijelaskan terlebih dahulu mengapa kita melakukan lompatan besar
melintasi berabad-abad dalam uraian yang bersifat ringkas dan terpilah
ini—yang, dengan segala keterbatasannya, mencoba disajikan sebagai suatu
sejarah tentang kehendak.
Sejak awal telah dinyatakan keraguan terhadap kemungkinan
adanya “sejarah ide” dalam arti yang ketat—yakni gagasan bahwa ide-ide
berkembang secara linear, saling melahirkan satu sama lain dalam urutan waktu.
Pandangan semacam ini hanya benar-benar masuk akal dalam kerangka dialektika Georg
Wilhelm Friedrich Hegel. Namun di luar sistem tersebut, yang kita miliki
hanyalah jejak pemikiran para filsuf besar—kesaksian-kesaksian yang kadang
menegaskan, kadang menolak, keberadaan kehendak.
Dalam konteks ini, pemikiran René Descartes dan Gottfried
Wilhelm Leibniz berada di satu sisi, sementara Thomas Hobbes dan Baruch Spinoza
berada di sisi lain. Menariknya, satu-satunya pemikir besar yang relatif tidak
relevan dalam konteks ini adalah Immanuel Kant, karena baginya kehendak
bukanlah kemampuan mental yang terpisah, melainkan bentuk dari rasio praktis.
Yang lebih menantang untuk dijelaskan adalah mengapa
pembahasan ini melompati perkembangan besar setelah Kant—yakni Johann Gottlieb
Fichte, Friedrich Wilhelm Joseph Schelling, dan Hegel—yang secara spekulatif
merangkum seluruh dinamika zaman modern.
Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat perubahan besar
yang terjadi dalam dunia modern. Perubahan ini bukan sekadar perkembangan ide,
melainkan peristiwa historis nyata: penemuan dunia secara global, munculnya
sains modern dan teknologi, melemahnya otoritas Gereja, serta proses
sekularisasi dan pencerahan.
Dalam konteks ini, perkembangan yang paling menentukan
adalah apa yang dapat disebut sebagai subjektivisasi pemikiran. Manusia
menjadi pusat perhatian, baik dalam sains maupun filsafat. Namun hal ini baru
benar-benar terjadi ketika sains modern menunjukkan bahwa indra manusia tidak
hanya bisa keliru, tetapi juga tidak pernah dapat memberikan kepastian mutlak.
Akibatnya, pikiran manusia berbalik ke dalam dirinya
sendiri. Dimulai dengan Descartes, manusia mencari kepastian bukan di dunia
luar, melainkan dalam kesadaran dirinya. Kepastian “aku ada” ditemukan dalam
aktivitas berpikir itu sendiri—aku berpikir, maka aku ada.
Namun kepastian ini segera dipertanyakan. Blaise Pascal,
misalnya, menunjukkan bahwa kesadaran semacam itu tidak cukup untuk membedakan
antara mimpi dan kenyataan. Bahkan mungkin seluruh kehidupan kita hanyalah
mimpi.
Keraguan semacam ini berkembang lebih jauh. Friedrich
Nietzsche kemudian menggambarkan zaman modern sebagai “sekolah kecurigaan,” di
mana manusia tidak lagi yakin akan apa pun—bahkan tidak yakin akan
keberadaannya sendiri.
Di titik ini, filsafat mulai mengalami pembalikan radikal.
Apa yang sebelumnya dianggap pasti kini diragukan. Namun pada saat yang sama,
muncul perkembangan lain yang sangat penting: kemajuan ilmu pengetahuan.
Kemajuan ini melahirkan gagasan tentang kemajuan (progress)
sebagai proses kolektif umat manusia. Untuk pertama kalinya, seperti terlihat
dalam pemikiran Francis Bacon, muncul keyakinan bahwa pengetahuan berkembang
secara bertahap, dari generasi ke generasi.
Dengan demikian, masa depan mulai menggantikan masa kini dan
masa lalu sebagai pusat perhatian. Manusia tidak lagi melihat dunia sebagai
sesuatu yang tetap, melainkan sebagai sesuatu yang terus berkembang.
Dalam kerangka ini, muncul gagasan tentang “umat manusia”
sebagai suatu kesatuan—bukan sekadar kumpulan individu, melainkan semacam
“subjek” yang bertindak dalam sejarah.
Gagasan ini kemudian berkembang menjadi konsep-konsep
seperti “tangan tak terlihat” dalam pemikiran Adam Smith, “tipu daya alam”
dalam Kant, “kelicikan rasio” dalam Hegel, dan “materialisme dialektis” dalam Karl
Marx.
Semua konsep ini memiliki satu ciri yang sama: mereka
mempersonifikasikan kekuatan abstrak, seolah-olah konsep-konsep tersebut
memiliki kehendak dan bertindak dalam sejarah.
Perkembangan ini mencapai puncaknya setelah peristiwa besar
seperti French Revolution, yang menunjukkan bahwa ide-ide seperti kebebasan,
persaudaraan, dan kesetaraan dapat diwujudkan dalam kenyataan.
Sejak saat itu, para filsuf mulai memusatkan perhatian pada
sejarah sebagai bidang utama refleksi. Mereka mulai percaya bahwa sejarah
memiliki arah dan makna.
Namun di sinilah muncul masalah besar. Tindakan manusia
tidak pernah sepenuhnya mencapai tujuannya. Sejarah tampak sebagai campuran
antara kekacauan, kekerasan, dan kebetulan.
Seperti dikatakan oleh Johann Wolfgang von Goethe, sejarah
adalah campuran antara kesalahan dan kekerasan. Immanuel Kant sendiri
menggambarkannya sebagai alur yang tampak tanpa makna.
Makna baru muncul hanya ketika kita melihat ke
belakang—ketika kita menceritakan apa yang telah terjadi. Seolah-olah ada rasio
tersembunyi yang membimbing peristiwa-peristiwa tersebut.
Dalam situasi inilah para filsuf idealis Jerman
mengembangkan spekulasi mereka. Mereka mengubah aktivitas manusia menjadi
aktivitas konsep-konsep yang dipersonifikasikan.
Dalam pemikiran Friedrich Wilhelm Joseph Schelling,
misalnya, kehendak tidak lagi dipahami sebagai kemampuan manusia, melainkan
sebagai dasar dari seluruh keberadaan. Kehendak menjadi prinsip metafisis yang
menggerakkan segala sesuatu.
Martin Heidegger kemudian menafsirkan hal ini dengan
menyatakan bahwa kehendak bukan berasal dari manusia, melainkan manusia justru
“dikehendaki” oleh kehendak itu sendiri.
Dengan demikian, kita memasuki dunia spekulasi murni—apa
yang disebut sebagai “jembatan pelangi konsep.” Dunia ini terdiri dari
konsep-konsep abstrak yang bertindak seolah-olah memiliki kehidupan sendiri.
Namun di balik semua itu, Friedrich Nietzsche melihat
sesuatu yang lebih dalam: sebuah kerinduan akan dunia yang telah
hilang—kerinduan akan dunia Yunani kuno, tempat di mana pikiran manusia merasa
“di rumah.”
Filsafat Jerman, menurut Nietzsche, adalah usaha untuk
kembali ke dunia tersebut—meskipun hanya melalui konsep-konsep abstrak.
Pada akhirnya, seluruh spekulasi ini menunjukkan puncak
sekaligus akhir dari metafisika Barat. Filsafat mencapai tingkat abstraksi
tertinggi, tetapi sekaligus menjauh dari pengalaman konkret manusia.
Karena itu, dalam pembahasan ini, jalur tersebut sengaja
tidak diikuti. Fokus tetap pada kehendak sebagai pengalaman manusia—bukan
sebagai konsep metafisis yang dipersonifikasikan.
Terutama dalam pemikiran Nietzsche dan Heidegger, penolakan
terhadap kehendak sebagai kemampuan manusia justru mendorong mereka kembali
pada dunia konsep-konsep abstrak.
Namun di sini menjadi jelas: pemahaman tentang kehendak
hanya dapat diperoleh jika kita tetap berpegang pada pengalaman manusia itu
sendiri—bukan dengan melarikan diri ke dalam dunia spekulasi murni.
14. Penolakan Nietzsche terhadap Kehendak
Dalam pembahasan mengenai kehendak, telah berulang kali
disebutkan bahwa ada dua cara utama untuk memahaminya. Di satu sisi, kehendak
dipahami sebagai kemampuan untuk memilih di antara berbagai tujuan—liberum
arbitrium—yang menimbang sarana dan menentukan pilihan secara bebas. Di
sisi lain, kehendak dipahami sebagai kemampuan manusia untuk memulai sesuatu
secara spontan dalam waktu, sebagaimana dirumuskan oleh Immanuel Kant, atau
seperti yang dikatakan oleh Augustine of Hippo, bahwa manusia diciptakan
sebagai permulaan—sebuah makhluk yang mampu memulai.
Dalam zaman modern, terutama dengan munculnya gagasan
tentang kemajuan, perhatian beralih dari masa depan sebagai sesuatu yang
“datang kepada kita” menjadi sesuatu yang kita bentuk melalui proyek-proyek
kehendak. Dengan demikian, kekuatan kehendak sebagai penggerak menjadi semakin
menonjol.
Namun, tidak ada yang lebih khas dari awal pemikiran yang
kemudian dikenal sebagai eksistensialisme selain hilangnya optimisme ini. Friedrich
Nietzsche menolak gagasan kemajuan dengan tegas. Baginya, keyakinan bahwa
segala sesuatu bergerak menuju perbaikan hanyalah ilusi yang lahir dari
kurangnya kesadaran historis. “Manusia,” katanya, “tidak berkembang; bahkan
tidak ada sesuatu seperti ‘kemanusiaan’ itu sendiri.”
Dengan demikian, optimisme modern—yang sebelumnya didukung
oleh gagasan kemajuan dan diperkuat oleh peristiwa seperti French Revolution—pada
akhirnya runtuh. Pemikiran Nietzsche dapat dipahami sebagai kelanjutan dari
keraguan radikal yang telah dimulai sejak René Descartes dan Blaise Pascal.
Manusia selalu tergoda untuk mengetahui masa depan—melalui
berbagai cara, dari ramalan hingga teknologi. Namun usaha ini hampir selalu
gagal. Bahkan seorang penyair seperti John Donne, jauh sebelum filsuf modern,
telah menangkap kegelisahan ini dalam puisinya: dunia tampak tercerai-berai,
kehilangan keteraturan dan makna.
Dalam konteks inilah pemikiran Nietzsche harus dipahami. Ia
tidak menulis sebuah sistem filsafat yang utuh tentang kehendak. Apa yang
dikenal sebagai The Will to Power sebenarnya hanyalah kumpulan catatan
dan aforisme yang disusun setelah kematiannya. Pemikirannya lebih tepat
dipahami sebagai serangkaian eksperimen pemikiran.
Salah satu gagasan penting Nietzsche adalah bahwa kehendak
bukanlah keinginan atau dorongan. Kehendak selalu mengandung unsur perintah.
Menghendaki berarti memberi perintah—dan perintah itu ditujukan kepada diri
sendiri.
Dalam diri manusia, terdapat situasi yang unik: kita
sekaligus adalah yang memerintah dan yang diperintah. Ketika kita menghendaki
sesuatu, kita mengalami ketegangan antara dua sisi ini. Di satu sisi, ada
dorongan untuk menaati; di sisi lain, ada perasaan tertekan dan kecenderungan
untuk menolak.
Namun biasanya konflik ini tidak disadari sepenuhnya. Kita
cenderung mengidentifikasi diri dengan pihak yang memerintah, sehingga merasa
bahwa kita bertindak secara bebas. Di sinilah muncul ilusi kebebasan kehendak:
perasaan bahwa “aku bebas” sebenarnya berasal dari dominasi satu bagian diri
atas bagian lainnya.
Bagi Nietzsche, kehendak adalah semacam “osilasi” antara
“ya” dan “tidak.” Ia selalu bergerak di antara dua kutub: perintah dan
perlawanan, kesenangan dan ketegangan. Justru dalam mengatasi perlawanan
internal inilah kehendak merasakan kekuatannya.
Dengan demikian, kekuatan kehendak tidak terletak pada hasil
tindakan, melainkan pada pengalaman mengatasi hambatan. Tanpa perlawanan,
kehendak tidak akan menyadari kekuatannya.
Di sini Nietzsche memperkenalkan dimensi baru: hubungan
antara kehendak dan pengalaman kesenangan serta penderitaan. Ia menunjukkan
bahwa kesenangan sering kali muncul sebagai pelepasan dari penderitaan. Semakin
besar hambatan yang diatasi, semakin besar pula perasaan kekuatan yang muncul.
Namun Nietzsche juga membedakan antara kesenangan dan
kegembiraan (joy). Kegembiraan tidak berasal dari kekurangan atau
kebutuhan, melainkan dari kelimpahan hidup. Ia adalah ekspresi dari kehidupan
yang meluap.
Dalam kerangka ini, kehendak berkaitan erat dengan kehidupan
itu sendiri. Kehendak bukan sekadar kemampuan mental, melainkan ekspresi dari
energi hidup yang terus-menerus mencipta dan menghancurkan.
Inilah yang ia sebut sebagai prinsip Dionysian: kegembiraan
dalam penciptaan dan penghancuran, dalam perubahan yang terus berlangsung.
Dari sini muncul pergeseran penting: dari “aku menghendaki”
menjadi “aku mampu.” Kehendak tidak lagi dilihat sebagai upaya mencapai tujuan
tertentu, melainkan sebagai ekspresi kekuatan yang melampaui kebutuhan.
Namun di sisi lain, Nietzsche juga menunjukkan keterbatasan
mendasar dari kehendak: ia tidak dapat menghendaki ke masa lalu. Ia tidak dapat
mengubah apa yang telah terjadi.
Dari ketidakberdayaan inilah muncul berbagai emosi negatif
seperti penyesalan, dendam, dan keinginan untuk membalas. Manusia ingin
mengubah masa lalu, tetapi tidak mampu melakukannya.
Sebagai respons terhadap keterbatasan ini, Nietzsche
mengembangkan gagasan tentang “kekekalan berulang” (eternal recurrence).
Ini bukanlah teori ilmiah, melainkan eksperimen pemikiran.
Bayangkan, katanya, jika seluruh hidup kita harus diulang
kembali—persis sama, tanpa perubahan sedikit pun. Apakah kita akan menolak atau
justru menerimanya?
Pertanyaan ini menguji sikap kita terhadap kehidupan. Jika
kita mampu mengatakan “ya” terhadap pengulangan tanpa akhir, maka kita
benar-benar menerima kehidupan sepenuhnya.
Gagasan ini membawa konsekuensi radikal. Ia menghapus
gagasan tentang tujuan akhir, sebab, dan makna yang tetap. Dunia tidak bergerak
menuju sesuatu; ia hanya menjadi—tanpa arah dan tanpa tujuan.
Dalam pandangan ini, tidak ada “tatanan moral” yang mengatur
dunia. Tidak ada kesalahan atau dosa dalam arti metafisis. Semua yang terjadi
adalah bagian dari proses yang tidak memiliki tujuan akhir.
Dengan demikian, struktur waktu linear—masa lalu, kini, dan
masa depan—kehilangan maknanya. Waktu dipahami sebagai siklus yang terus
berulang.
Akhirnya, dari seluruh refleksi ini, Nietzsche sampai pada
suatu kesimpulan yang radikal: kehendak, sebagai kemampuan yang mengandaikan
tujuan, sebab, dan makna, adalah ilusi.
Apa yang selama ini dianggap sebagai kekuatan kehendak
ternyata hanya merupakan konstruksi kesadaran manusia.
Untuk mengatasi ilusi ini, manusia harus melampaui
kehendaknya sendiri. Ia harus menjadi seseorang yang mampu mengatakan “ya”
terhadap segala sesuatu yang ada—tanpa syarat, tanpa penyesalan.
Dalam sikap ini, kehendak tidak lagi berusaha mengubah
dunia, melainkan menerima dunia sepenuhnya.
Inilah yang disebut Nietzsche sebagai penebusan: bukan
mengubah masa lalu, tetapi mengafirmasi seluruh keberadaan.
Manusia yang mencapai tahap ini tidak lagi terjebak dalam
konflik kehendak. Ia tidak lagi hidup dalam “aku mau” dan “aku tidak mau,”
melainkan dalam penerimaan total terhadap kehidupan.
Dengan demikian, penolakan Nietzsche terhadap kehendak
bukanlah penolakan terhadap kehidupan, melainkan justru penegasan paling
radikal terhadap kehidupan itu sendiri.
15. Heidegger dan “Tidak Menghendaki untuk Menghendaki”
Dalam karya awal Martin Heidegger, istilah “kehendak” maupun
“berpikir” hampir tidak muncul secara eksplisit. Baru setelah apa yang ia sebut
sebagai Kehre—“pembalikan” atau “peralihan” dalam pemikirannya pada
pertengahan 1930-an—ia mulai memberi perhatian besar pada persoalan kehendak.
Perubahan ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan
sangat berkaitan dengan pembacaannya yang mendalam terhadap Friedrich Nietzsche.
Puncak dari refleksi ini adalah gagasan yang tampak
paradoksal: kehendak yang sejati justru adalah tidak menghendaki untuk
menghendaki. Gagasan ini tidak berkaitan dengan konflik klasik antara velle
(menghendaki) dan nolle (tidak menghendaki), melainkan merupakan upaya
untuk melampaui kehendak itu sendiri.
Perubahan arah pemikiran Heidegger ini tidak hanya bersifat
filosofis, tetapi juga historis dan personal. Ia merupakan reaksi terhadap
konsep kehendak untuk berkuasa yang ia tafsirkan sebagai kecenderungan
mendominasi dan menguasai—sesuatu yang, dalam refleksi kritisnya, ia hubungkan
dengan pengalaman zamannya.
Sejak saat itu, fokus pemikirannya bergeser dari manusia
sebagai pusat ke arah Being (Ada). Jika sebelumnya ia berusaha memahami
Ada melalui analisis keberadaan manusia, kini ia melihat bahwa justru Ada-lah
yang “memanggil” manusia untuk berpikir.
Dengan demikian, berpikir bukan lagi aktivitas subjektif
manusia, melainkan respons terhadap panggilan Ada. Manusia tidak lagi menjadi
sumber makna, melainkan tempat di mana Ada menyingkapkan dirinya. Bahasa, dalam
kerangka ini, menjadi “rumah Ada,” tempat di mana kebenaran tentang Ada dapat
diungkapkan.
Perubahan ini membawa dua konsekuensi besar. Pertama,
berpikir tidak lagi dianggap sebagai aktivitas yang berasal dari inisiatif
manusia. Ia menjadi semacam ketaatan—suatu mendengarkan terhadap apa yang
datang dari luar diri manusia. Kedua, dunia fenomenal—dunia yang tampak—tidak
lagi menjadi pusat perhatian, karena ia justru menyembunyikan Ada yang lebih
mendasar.
Heidegger menyebut kondisi ini sebagai “kelupaan terhadap
Ada.” Manusia, dalam keterlibatannya dengan dunia sehari-hari, melupakan
dimensi yang lebih dalam dari keberadaan itu sendiri.
Dalam kerangka ini, ia tidak hanya menolak kehendak sebagai
pusat kehidupan mental, tetapi juga “mendesubjektivasi” berpikir itu sendiri.
Berpikir tidak lagi milik manusia, melainkan bagian dari proses yang lebih
besar—sejarah Ada (Seinsgeschichte).
Di sini muncul gagasan bahwa sejarah manusia bukan semata
hasil tindakan manusia, melainkan bagian dari proses yang lebih luas yang
berlangsung “di balik punggung” manusia. Berpikir menjadi satu-satunya cara
untuk berpartisipasi dalam proses ini.
Namun, penting untuk dicatat bahwa “berpikir” dalam arti ini
bukanlah aktivitas biasa. Ia bukan sekadar menganalisis atau memahami,
melainkan suatu bentuk “membiarkan ada”—letting be. Sikap ini kemudian
dirumuskan Heidegger sebagai Gelassenheit, yaitu ketenangan yang
membiarkan segala sesuatu menjadi sebagaimana adanya.
Dalam sikap ini, kehendak tidak lagi mendominasi. Ia
digantikan oleh sikap menerima, membiarkan, dan mendengarkan. Berpikir menjadi
aktivitas yang berada di luar kategori aktif dan pasif—ia bukan tindakan dalam
arti biasa, tetapi juga bukan ketidakaktifan.
Dalam refleksi lebih lanjut, Heidegger melihat bahwa
kehendak, terutama dalam bentuk modernnya, bersifat destruktif. Kehendak yang
berorientasi pada masa depan cenderung mengabaikan masa lalu, bahkan berusaha
menghancurkannya. Karena segala sesuatu yang ada selalu memiliki masa lalu,
maka kecenderungan ini pada akhirnya mengarah pada penghancuran realitas itu
sendiri.
Di sinilah kritiknya terhadap modernitas mencapai puncaknya:
teknologi, sebagai ekspresi kehendak untuk menguasai, berpotensi membawa dunia
menuju kehancuran total.
Sebagai alternatif, Heidegger menawarkan sikap “membiarkan
ada.” Ini bukan sikap pasif, melainkan bentuk keterbukaan terhadap Ada. Dalam
sikap ini, manusia tidak lagi mencoba mengendalikan dunia, tetapi membuka diri
terhadap makna yang datang dari luar dirinya.
Lebih jauh lagi, ia mengaitkan berpikir dengan rasa syukur.
Berpikir yang sejati adalah bentuk “berterima kasih” atas fakta bahwa kita ada.
Dalam pengalaman ini, manusia tidak lagi mempertanyakan keberadaan, tetapi
menerimanya dengan penuh pengakuan.
Sikap ini memiliki kemiripan dengan pengalaman kagum (wonder)
yang sejak zaman Yunani dianggap sebagai awal filsafat. Namun dalam konteks
modern, ia juga menjadi jawaban terhadap krisis makna dalam dunia yang telah
kehilangan fondasi religiusnya.
Dalam perkembangan selanjutnya, Heidegger bahkan melangkah
lebih jauh dengan menafsirkan ulang hubungan antara Ada dan yang ada (beings).
Ia menunjukkan bahwa segala sesuatu yang tampak sebenarnya muncul dari suatu
dasar yang tersembunyi. Yang tampak selalu berada di antara dua ketidakhadiran:
sebelum muncul dan setelah lenyap.
Dengan demikian, keberadaan manusia dipahami sebagai
“singgah sementara” di antara dua ketiadaan. Dalam kondisi ini, kesalahan atau
“penyimpangan” (errancy) bukanlah sesuatu yang dapat dihindari,
melainkan bagian dari struktur dasar keberadaan manusia.
Berpikir, dalam konteks ini, menjadi cara untuk melampaui
keterbatasan tersebut—bukan dengan mengubah dunia, tetapi dengan memahami
tempat kita di dalamnya.
Akhirnya, Heidegger sampai pada posisi yang sangat radikal:
tindakan manusia dalam arti biasa bukanlah pusat dari makna. Justru
berpikir—dalam arti mendalam sebagai keterbukaan terhadap Ada—adalah
satu-satunya bentuk “tindakan” yang benar-benar bermakna.
Namun posisi ini juga membawa konsekuensi yang problematis.
Dengan menempatkan makna di luar tindakan manusia, ia berisiko mengabaikan
dimensi konkret kehidupan manusia—tindakan, tanggung jawab, dan sejarah.
Meski demikian, pemikirannya tetap menunjukkan sesuatu yang
sangat penting: bahwa kehendak dan berpikir bukan hanya dua kemampuan yang
berbeda, tetapi dua arah yang berlawanan. Kehendak cenderung menguasai dan
mengubah, sementara berpikir—dalam pengertian Heidegger—cenderung menerima dan
memahami.
Dalam ketegangan antara keduanya, Heidegger memilih
berpikir—dan dengan itu, menolak kehendak sebagai dasar kehidupan manusia.
16. Jurang Kebebasan dan Novus Ordo Seclorum
Sejak awal pembahasan tentang kehendak, telah diingatkan
bahwa ada kelemahan mendasar dalam setiap upaya filsafat untuk memahami
kehendak: hampir semua teori tentang kehendak dirumuskan bukan oleh manusia
yang bertindak, melainkan oleh para filsuf—para “pemikir profesional” dalam
istilah Immanuel Kant—yang lebih cenderung menafsirkan dunia daripada
mengubahnya.
Di antara para pemikir yang telah dibahas, hanya Duns Scotus
yang bersedia menerima konsekuensi penuh dari kebebasan: bahwa setiap tindakan
manusia bersifat kontingen—dapat terjadi, tetapi juga bisa tidak terjadi. Para
filsuf lainnya cenderung lebih menyukai gagasan keniscayaan, karena ia
memberikan ketenangan batin, suatu tranquillitas animae, yang hanya
mungkin jika manusia menerima dunia sebagaimana adanya.
Namun di sinilah muncul masalah besar. Kehendak, yang
membentuk identitas individu—yang menjadikan seseorang sebagai “aku” yang
khas—justru membuka kemungkinan konflik. Individu yang sadar bahwa ia bisa
menjadi lain dari dirinya sekarang, akan cenderung memisahkan diri dari yang
lain, dari “mereka.” Kebebasan menjadi pengalaman yang menakutkan: kesadaran
bahwa segala sesuatu bergantung pada diri sendiri, tanpa ada yang dapat
disalahkan selain diri sendiri.
Dalam situasi ini, kebebasan dapat tampak bukan sebagai
anugerah, melainkan sebagai keterasingan. Lebih mudah menerima bahwa segala
sesuatu terjadi sebagaimana mestinya, daripada menghadapi kemungkinan bahwa
segala sesuatu bisa saja berbeda.
Kecemasan ini tidak hanya dialami oleh para filsuf, tetapi
juga oleh ilmuwan modern. Tokoh-tokoh seperti Albert Einstein dan Werner
Heisenberg, ketika berhadapan dengan temuan-temuan ilmiah mereka sendiri, mulai
meragukan apakah dunia benar-benar dapat dipahami secara pasti. Dunia tampak
semakin tidak terduga, bahkan acak.
Namun refleksi semacam ini bukanlah bagian dari sains itu
sendiri, melainkan bentuk pemikiran filosofis. Ia muncul ketika pikiran tidak
lagi sekadar mengetahui, tetapi mulai mencari makna. Di sinilah terjadi krisis
dalam fondasi ilmu pengetahuan modern.
Di sisi lain, muncul pula kecenderungan spekulatif yang
ekstrem—baik dalam bentuk idealisme maupun materialisme—yang berusaha
menggantikan kebebasan manusia dengan konsep-konsep besar seperti “umat
manusia” atau sistem global yang menyerupai organisme hidup. Dalam semua ini,
kebebasan individu cenderung dihapus, dianggap sebagai ilusi.
Padahal, kebebasan adalah inti dari tindakan manusia. Oleh
karena itu, untuk memahami kebebasan secara lebih konkret, kita perlu beralih
dari filsafat ke dunia politik—dari kebebasan sebagai konsep abstrak ke
kebebasan sebagai pengalaman bersama.
Dalam konteks ini, Montesquieu membuat pembedaan penting
antara kebebasan filosofis dan kebebasan politik. Kebebasan filosofis berkaitan
dengan kehendak individu, sedangkan kebebasan politik berkaitan dengan keamanan
dan kemampuan bertindak dalam masyarakat.
Kebebasan politik bukanlah “aku menghendaki,” melainkan “aku
dapat.” Ia bergantung pada kemampuan untuk bertindak bersama orang lain dalam
suatu komunitas. Kebebasan ini hanya mungkin dalam kondisi pluralitas—ketika
manusia hidup bersama dan berinteraksi melalui hukum, kebiasaan, dan institusi.
Dalam dunia politik, tidak ada tindakan yang sepenuhnya
individual. Setiap tindakan membutuhkan kerja sama. Mereka yang mencoba
bertindak sendiri—seperti tiran atau penjahat—akhirnya bergantung pada
kekerasan, bukan kekuasaan sejati. Dan kekuasaan yang didasarkan pada kekerasan
selalu terbatas.
Dengan demikian, kebebasan politik selalu terbatas, tetapi
justru di situlah realitasnya. Ia tidak bersifat absolut, melainkan muncul
dalam hubungan antar manusia.
Dari sini, perhatian beralih pada pertanyaan yang lebih
mendasar: bagaimana sebuah komunitas politik bermula? Bagaimana “kita” (We)
pertama kali terbentuk?
Pertanyaan ini membawa kita pada kisah-kisah
pendirian—legenda-legenda tentang awal mula masyarakat. Dalam tradisi Barat,
terdapat dua kisah besar: kisah eksodus bangsa Israel dari Mesir, dan kisah
perjalanan Aeneas yang berujung pada pendirian Roma.
Kedua kisah ini menunjukkan bahwa kebebasan tidak muncul
secara otomatis setelah pembebasan. Ada jeda—sebuah hiatus—antara keluar
dari penindasan dan pembentukan tatanan baru. Kebebasan harus dibangun, tidak
sekadar diperoleh.
Kesadaran akan jeda ini menjadi sangat penting dalam zaman
modern, terutama dalam revolusi-revolusi besar seperti American Revolution dan French
Revolution. Para pelaku revolusi menyadari bahwa mereka tidak hanya mengubah
sistem lama, tetapi juga memulai sesuatu yang benar-benar baru.
Namun di sinilah muncul “jurang kebebasan”: setiap permulaan
benar-benar tidak memiliki dasar yang pasti. Ia tidak dapat dijelaskan oleh
sebab-sebab sebelumnya. Ia adalah tindakan spontan yang tidak dapat diprediksi.
Untuk mengatasi kegelisahan ini, para pemikir modern sering
kembali pada bahasa religius—berbicara tentang Tuhan, hukum alam, atau
legislator ilahi—sebagai cara untuk memberi dasar pada tindakan awal tersebut.
Namun ada juga jalan lain, yang lebih halus dan mendalam.
Dalam tradisi Romawi, pendirian tidak dipahami sebagai penciptaan dari nol,
melainkan sebagai “kelahiran kembali” (renaissance) dari sesuatu yang
telah ada sebelumnya. Roma sendiri dipandang sebagai kelanjutan dari Troya.
Dengan demikian, permulaan baru tidak benar-benar memutus
masa lalu, melainkan mengolah dan melanjutkannya. Ini memberikan semacam
jembatan antara kebaruan dan kontinuitas.
Namun pada akhirnya, semua upaya ini tidak sepenuhnya
menyelesaikan masalah. Kebebasan tetap mengandung unsur ketidakpastian yang
tidak dapat dihilangkan.
Di titik ini, Augustine of Hippo menawarkan pemikiran yang
sangat penting. Ia menyatakan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang
mampu memulai. Setiap kelahiran manusia adalah awal baru.
Dengan kata lain, kemampuan untuk memulai sesuatu tidak
berasal dari kehendak semata, melainkan dari fakta bahwa manusia dilahirkan.
Kebebasan berakar pada kelahiran (natality), bukan sekadar pada
kehendak atau kreativitas.
Ini adalah gagasan yang sangat radikal: bahwa setiap manusia
membawa kemungkinan awal baru ke dalam dunia.
Namun pemikiran ini juga membawa kita kembali pada sebuah
kebuntuan. Jika kebebasan adalah kemampuan untuk memulai, maka ia tetap tidak
dapat dijelaskan sepenuhnya. Ia tetap misterius.
Untuk memahami kebebasan secara lebih utuh, kita memerlukan
kemampuan lain—yakni kemampuan untuk menilai (judgment). Hanya melalui
penilaian kita dapat memahami apa arti dari tindakan kita, apa yang patut
dihargai atau ditolak.
Dengan demikian, pembahasan tentang kehendak berakhir bukan
dengan jawaban pasti, melainkan dengan pembukaan menuju pertanyaan baru:
bagaimana manusia menilai dunia dan tindakannya sendiri.
Catatan Penutup Editor (Editor’s Postface)
Hannah Arendt wafat secara mendadak pada 4 Desember 1975,
pada suatu malam Kamis ketika ia sedang menjamu teman-temannya. Beberapa hari
sebelumnya, tepatnya pada hari Sabtu, ia baru saja menyelesaikan bagian kedua
dari The Life of the Mind, yaitu bagian tentang kehendak (Willing).
Karya ini, seperti pendahulunya The Human Condition, dirancang dalam
tiga bagian. Jika karya sebelumnya membahas kerja, karya, dan tindakan, maka The
Life of the Mind direncanakan mencakup tiga aktivitas dasar kehidupan
mental: berpikir (Thinking), menghendaki (Willing), dan menilai (Judging).
Perbedaan klasik antara kehidupan aktif (vita activa)
dan kehidupan kontemplatif (vita contemplativa) tentu hadir dalam
pemikirannya. Namun bagi Arendt, manusia yang berpikir, menghendaki, dan
menilai bukanlah sosok yang terpisah dari dunia seperti seorang pertapa,
melainkan setiap manusia sejauh ia mampu sesekali menarik diri dari dunia yang
tampak ke dalam wilayah batin yang tak terlihat.
Arendt sendiri tidak pernah secara eksplisit menyatakan
apakah kehidupan mental lebih tinggi daripada kehidupan aktif. Namun jelas
bahwa pada tahun-tahun terakhir hidupnya, ia mencurahkan dirinya sepenuhnya
pada proyek ini—seolah-olah itu adalah panggilan intelektual tertinggi yang
harus ia penuhi.
Di tengah berbagai aktivitasnya sebagai pengajar, pembicara,
dan tokoh publik, ia tetap tenggelam dalam pengerjaan buku ini. Bahkan ketika
pada tahun 1972 ia diundang untuk menyampaikan Kuliah Gifford di
Aberdeen—sebuah kehormatan besar yang sebelumnya diberikan kepada tokoh-tokoh
seperti William James, Alfred North Whitehead, John Dewey, dan Karl Barth—ia
memanfaatkan kesempatan itu untuk menguji dan mengembangkan bagian-bagian dari
bukunya.
Ia menyampaikan bagian tentang berpikir pada tahun 1973, dan
kembali pada tahun 1974 untuk membahas kehendak. Namun, kuliah tersebut
terhenti karena serangan jantung. Ia berencana melanjutkannya pada tahun 1976,
tetapi takdir berkata lain.
Bagian ketiga, tentang penilaian (Judging), belum
sempat ia tulis. Setelah kematiannya, ditemukan selembar kertas kosong di mesin
ketiknya, hanya berisi judul “Judging” dan dua epigraf. Seolah-olah ia baru
saja bersiap untuk memulai bagian terakhir itu.
Tentang Penyuntingan
Sebagaimana diketahui, hampir semua tulisan Arendt mengalami
proses penyuntingan sebelum diterbitkan. Ia menulis dalam bahasa Inggris
sebagai bahasa kedua—yang ia pelajari setelah dewasa—dan sering menyebut proses
penyuntingan ini secara jenaka sebagai “Englishing.”
Kalimat-kalimatnya, yang dipengaruhi oleh struktur bahasa
Jerman, sering kali panjang dan kompleks, sehingga perlu diurai agar lebih
sesuai dengan gaya bahasa Inggris. Ia juga kerap mengalami kesulitan dalam
penggunaan preposisi dan idiom.
Namun proses penyuntingan ini bukan sekadar teknis. Ia
merupakan dialog intelektual. Editor dan penulis saling bertukar pikiran,
berdebat, dan mencari bentuk terbaik bagi gagasan yang ingin disampaikan.
Setelah kematian Arendt, tugas penyuntingan ini jatuh
sepenuhnya kepada Mary McCarthy. Tanpa dapat lagi berkonsultasi langsung dengan
penulis, ia harus menebak maksud Arendt dalam setiap keputusan
editorial—seolah-olah berdialog dengan “kehadiran” Arendt yang tak terlihat.
Ia berusaha menjaga keseimbangan: memperjelas bahasa tanpa
mengubah makna. Dalam beberapa kasus, ia menghapus pengulangan atau memperbaiki
ungkapan yang kurang jelas. Dalam kasus yang sangat terbatas, ia menambahkan
penjelasan kecil demi kejelasan.
Namun secara keseluruhan, teks tetap setia pada pemikiran
asli Arendt.
Tentang Kutipan dan Terjemahan
Salah satu tantangan terbesar dalam penyuntingan ini adalah
masalah kutipan. Arendt sering mengutip dari berbagai sumber—bahasa Yunani,
Latin, Jerman, dan Prancis—kadang dari terjemahan standar, kadang dari ingatan,
kadang dari terjemahannya sendiri.
Hal ini menciptakan situasi yang kompleks. Dalam beberapa
kasus, kutipan disesuaikan dengan terjemahan standar; dalam kasus lain,
dipertahankan sesuai dengan versi Arendt, terutama jika terdapat nuansa makna
yang penting.
Demikian pula dengan kutipan Alkitab, yang menunjukkan
campuran berbagai versi. Setelah pertimbangan yang cermat, dipilih satu versi
utama, dengan beberapa pengecualian demi keindahan bahasa atau kesesuaian
konteks.
Refleksi Akhir
Proses penyuntingan ini bukan hanya pekerjaan teknis,
melainkan pengalaman intelektual yang mendalam. Ia melibatkan pembacaan ulang
karya-karya klasik—dari Plato hingga Immanuel Kant—serta usaha terus-menerus
untuk memahami dan menjaga integritas pemikiran Arendt.
Lebih dari itu, proses ini menjadi semacam dialog yang
berkelanjutan dengan seorang pemikir yang telah tiada, tetapi tetap hadir
melalui karyanya.
Pada akhirnya, teks yang dihasilkan diharapkan tetap menjadi
milik Arendt—bukan sekadar hasil penyuntingan, melainkan bentuk yang
memperlihatkan dengan lebih jernih apa yang sejak awal telah ada dalam dirinya.
Seperti yang pernah dikatakan oleh Michelangelo tentang seni
pahat: tugasnya bukan menambahkan, melainkan mengungkap bentuk yang sudah
tersembunyi dalam batu.
Lampiran: Penilaian (Judging)
Kutipan dari Kuliah tentang Filsafat Politik Kant
Dalam kesaksiannya sendiri, Immanuel Kant menyebut bahwa
titik balik dalam hidupnya terjadi ketika ia menemukan kemampuan kognitif
manusia beserta batas-batasnya, sekitar tahun 1770. Penemuan ini begitu
menentukan sehingga memakan waktu lebih dari sepuluh tahun untuk dirumuskan dan
akhirnya diterbitkan sebagai Critique of Pure Reason. Selama periode
itu, proyek-proyek lain yang ingin ia selesaikan seakan tertahan—seperti
bendungan yang menghalangi arus, atau batu besar yang menghambat langkahnya.
Sebelum peristiwa tersebut, Kant sebenarnya berniat menulis Metaphysics
of Morals, yang pada saat itu bahkan sempat direncanakan dengan judul Critique
of Moral Taste. Namun ketika ia akhirnya menulis Critique of Judgment,
ia masih menggunakan istilah “taste” (rasa) untuk menyebut bidang yang sedang
ia teliti. Di balik konsep “rasa” ini, Kant menemukan sesuatu yang jauh lebih
mendasar: sebuah kemampuan baru dalam diri manusia, yaitu kemampuan untuk menilai
(judgment).
Namun pada saat yang sama, ia memisahkan persoalan moral
dari kemampuan ini. Pertanyaan tentang benar dan salah tidak lagi ditentukan
oleh rasa atau penilaian, melainkan oleh rasio praktis. Dengan kata lain,
penilaian berkembang menjadi lebih dari sekadar rasa estetis, tetapi tidak
mencakup wilayah moral.
Penilaian dan Dunia Manusia
Berbeda dengan karya-karya Kant sebelumnya, dalam Critique
of Judgment manusia tidak dipahami sebagai makhluk rasional abstrak,
melainkan sebagai makhluk yang hidup bersama orang lain dalam masyarakat. Di
sini tidak dibahas “kebenaran” dalam arti ilmiah, melainkan pengalaman manusia
dalam dunia bersama.
Kemampuan menilai berurusan dengan hal-hal
partikular—hal-hal yang tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh aturan umum.
Misalnya, ketika kita mengatakan “bunga ini indah,” kita tidak menarik
kesimpulan dari prinsip umum bahwa semua bunga itu indah. Penilaian semacam ini
tidak berasal dari konsep, melainkan dari pengalaman langsung terhadap sesuatu
yang unik.
Demikian pula, dalam memahami alam, kita sering tidak mampu
menjelaskan secara menyeluruh bagaimana sesuatu terjadi hanya melalui
sebab-sebab umum. Kita mungkin dapat menjelaskan secara ilmiah, tetapi tidak
selalu dapat memahami secara mendalam mengapa sesuatu ada sebagaimana
adanya.
Penilaian, Rasa, dan Jarak
Penilaian berbeda dari rasio praktis. Rasio praktis memberi
perintah—mengatakan apa yang harus kita lakukan. Penilaian, sebaliknya, muncul
dari apa yang disebut Kant sebagai “kesenangan kontemplatif,” yaitu kenikmatan
yang tidak terkait langsung dengan tindakan.
Pada pandangan pertama, hal ini tampak tidak berkaitan
dengan kehidupan praktis. Namun kenyataannya, sikap kontemplatif ini memainkan
peran penting dalam cara kita memahami peristiwa-peristiwa dunia.
Misalnya, dalam menilai French Revolution, Kant tidak
menilai dari sudut pandang pelaku, melainkan dari sudut pandang penonton.
Justru dari posisi “tidak terlibat” inilah muncul antusiasme—sebuah partisipasi
emosional yang tidak diwujudkan dalam tindakan, tetapi tetap memiliki makna
historis yang besar.
Tanpa partisipasi simpatik dari para penonton ini, peristiwa
tersebut mungkin tidak memiliki makna sama sekali. Harapan akan masa depan umat
manusia justru lahir dari cara peristiwa itu dinilai, bukan semata dari apa
yang dilakukan.
Perluasan Pikiran dan Imajinasi
Salah satu konsep kunci dalam penilaian adalah “perluasan
pikiran” (enlarged mentality). Ini berarti kemampuan untuk membayangkan
sudut pandang orang lain—menempatkan diri kita dalam posisi mereka.
Kemampuan ini tidak berarti kita benar-benar mengetahui isi
pikiran orang lain, melainkan bahwa kita melatih imajinasi untuk melampaui
keterbatasan sudut pandang kita sendiri. Dengan demikian, penilaian menjadi
aktivitas yang bersifat publik, meskipun dilakukan secara individu.
Berpikir secara kritis, dalam pengertian ini, selalu
melibatkan keterbukaan terhadap perspektif orang lain. Ia bukan sekadar
aktivitas soliter, melainkan bentuk dialog imajiner dengan dunia.
Namun penting untuk ditekankan: berpikir untuk diri sendiri
tetap menjadi prinsip utama. Kita tidak sekadar mengadopsi pandangan orang
lain, tetapi menguji dan memperluas sudut pandang kita melalui imajinasi.
Penonton dan Dunia Bersama
Dalam refleksi Kant, penonton memiliki peran yang sangat
penting. Dunia tidak akan bermakna tanpa mereka yang menilai dan memahami apa
yang terjadi.
Dalam seni, misalnya, seorang jenius dapat menciptakan
karya, tetapi nilai karya tersebut hanya muncul melalui penilaian. Tanpa
penonton, karya itu tidak memiliki tempat dalam dunia bersama.
Penilaian menciptakan ruang publik—ruang di mana makna dapat
muncul dan dibagikan. Dalam ruang ini, manusia tidak hanya bertindak, tetapi
juga memahami dan menilai tindakan.
Sensus Communis: Rasa Bersama
Penilaian bergantung pada apa yang disebut Kant sebagai sensus
communis—rasa bersama. Ini bukan sekadar kemampuan inderawi yang dimiliki
semua orang, melainkan kemampuan mental untuk mempertimbangkan pandangan orang
lain.
Melalui kemampuan ini, kita tidak terjebak dalam sudut
pandang pribadi. Kita belajar menilai dari perspektif yang lebih luas, yang
memungkinkan komunikasi dan kesepahaman.
Tanpa sensus communis, manusia akan terisolasi dalam
“rasa privat” masing-masing. Dalam kondisi ekstrem, hal ini bahkan dapat
dianggap sebagai bentuk kegilaan—ketika seseorang tidak lagi mampu berbagi
dunia dengan orang lain.
Penilaian dan Komunikabilitas
Kriteria utama dalam penilaian adalah komunikabilitas.
Suatu penilaian memiliki nilai sejauh ia dapat dibagikan dan dipahami oleh
orang lain.
Berbeda dengan kebenaran ilmiah yang bersifat
memaksa—seperti “dua tambah dua sama dengan empat”—penilaian tidak dapat
dipaksakan. Ia hanya dapat diajukan, ditawarkan, dan diharapkan mendapat
persetujuan.
Dalam hal ini, penilaian memiliki sifat persuasif. Kita
“mengundang” orang lain untuk setuju dengan kita, bukan memaksa mereka.
Semakin tidak bersifat pribadi suatu penilaian, semakin
besar kemungkinan ia diterima secara luas. Di sinilah pentingnya sikap tidak
memihak (disinterestedness), yaitu kemampuan untuk menilai tanpa
kepentingan pribadi.
Dari Penilaian ke Kemanusiaan
Pada akhirnya, penilaian tidak hanya berkaitan dengan
estetika, tetapi juga dengan kehidupan bersama manusia. Melalui penilaian, kita
memilih apa yang kita hargai, siapa yang kita dukung, dan bagaimana kita
memahami dunia.
Dalam proses ini, manusia menjadi makhluk sosial yang
sesungguhnya. Ia tidak hanya hidup bersama orang lain, tetapi juga berbagi
dunia dengan mereka.
Kant bahkan membayangkan bahwa kemampuan ini dapat menjadi
dasar bagi suatu “kesepakatan awal” umat manusia—sebuah fondasi bagi kehidupan
bersama yang damai.
Kesimpulan: Penilaian sebagai Jembatan
Penilaian adalah kemampuan yang menghubungkan yang
partikular dengan yang umum. Ia tidak bekerja melalui aturan tetap, tetapi
melalui refleksi, imajinasi, dan komunikasi.
Ia memungkinkan kita memahami dunia tanpa harus mereduksinya
menjadi konsep-konsep abstrak. Ia juga memungkinkan kita hidup bersama orang
lain tanpa kehilangan kebebasan berpikir.
Dengan demikian, penilaian menjadi jembatan antara pikiran
dan dunia—antara individu dan komunitas—antara pengalaman pribadi dan makna
bersama.
Tentang Penulis
Hannah Arendt (1906–1975) merupakan salah satu pemikir
politik paling cemerlang dan orisinal pada abad kedua puluh. Sepanjang
hidupnya, ia dikenal sebagai penulis esai dan filsuf yang sangat produktif,
dengan karya-karya yang memberi pengaruh besar dalam filsafat politik modern.
Ia menempuh studi filsafat di Universitas Heidelberg di
bawah bimbingan Karl Jaspers, yang menjadi salah satu tokoh penting dalam
perkembangan intelektualnya. Dalam perjalanan karier akademiknya, Arendt
menjabat sebagai Profesor Universitas dalam bidang Filsafat Politik pada
program pascasarjana di New School for Social Research selama bertahun-tahun.
Selain itu, ia juga pernah menjadi Visiting Fellow di Committee
on Social Thought di University of Chicago—sebuah posisi yang mencerminkan
pengakuan luas terhadap kedalaman dan orisinalitas pemikirannya di dunia
akademik internasional.
Komentar
Posting Komentar