EMPIRE: Dunia Tanpa Pusat: Bagaimana Kekuasaan Global Mengubah Hidup Kita - Hardt & Negri



Pengantar.

Hardt dan Negri membuka Empire dengan sebuah gambaran, bahwa dunia sedang berubah. Kolonialisme runtuh dan globalisasi ekonomi serta budaya bergerak tanpa bisa dihentikan. Dari situ lahirlah sebuah tatanan baru yang mereka sebut Empire, sebuah bentuk kedaulatan global yang tidak lagi bergantung pada pusat teritorial, melainkan hadir sebagai jaringan kuasa yang meresap ke seluruh aspek kehidupan.

Banyak orang menyangka globalisasi berarti hilangnya politik, seolah pasar bebas beroperasi tanpa kendali. Ada yang merayakannya, ada yang meratapinya. Tapi bagi Hardt dan Negri, kedaulatan tidak lenyap, ia justru bertransformasi.

Negara bangsa melemah, tapi kekuasaan baru muncul dalam bentuk struktur supranasional. Empire berbeda dengan imperialisme klasik: jika dulu kekuasaan Eropa diperluas lewat koloni, kini Empire tidak punya pusat tunggal, tidak mengenal batas, dan bersifat de-teritorialisasi. Ia mengatur arus modal, orang, informasi, dan bahkan kehidupan sosial itu sendiri.

Produksi juga berubah. Buruh pabrik tak lagi dominan; yang kini utama adalah kerja komunikatif, kooperatif, dan afektif—apa yang mereka sebut produksi biopolitik, yakni produksi kehidupan sosial. Ekonomi, politik, dan budaya saling melebur, sehingga kekuasaan menyentuh langsung tubuh, pikiran, bahkan relasi sehari-hari.

Sebagian orang menunjuk Amerika Serikat sebagai pusat Empire, baik untuk dipuji sebagai pemimpin dunia maupun dikutuk sebagai penindas. Hardt dan Negri menolak pandangan itu. AS memang punya posisi istimewa, tetapi Empire tidak lagi bisa dipersonifikasi dalam satu negara. Ia adalah tatanan global baru, yang justru memanfaatkan model jaringan terbuka dan frontier luas sebagaimana pernah diimajinasikan para pendiri Amerika.

Empire tampil seolah abadi, total, dan menjanjikan perdamaian universal, meski praktiknya penuh kekerasan. Namun, Hardt dan Negri menekankan: kita tidak boleh hanya bernostalgia pada bentuk lama imperialisme. Empire juga membuka peluang baru, sebab kekuatan yang menopangnya—multitude, keragaman subjek global—dapat pula membangun counter-Empire, sebuah alternatif demokratis yang lahir dari dalam jaringan global itu sendiri.

Buku ini menawarkan kerangka teoritis untuk memahami transisi dari imperialisme ke Empire, serta menelusuri kemungkinan resistensi yang bisa membawa kita melewati batasnya.

 

 

Part 1 – The Political Constitution of the Present

Bagian pertama buku ini berangkat dari satu premis: bahwa saat ini sudah ada tatanan dunia. Empire bukan sekadar wacana, melainkan realitas yang terwujud lewat hukum, institusi, dan mekanisme kuasa global. Hardt dan Negri menolak dua pandangan ekstrem tentang globalisasi. Pertama, bahwa tatanan dunia muncul begitu saja dari interaksi bebas pasar global. Kedua, bahwa ia digerakkan oleh satu pusat konspirasi yang serba mengatur. Bagi mereka, Empire terbentuk dari proses sejarah yang kompleks: melemahnya kedaulatan negara, munculnya lembaga supranasional seperti PBB, serta berkembangnya mekanisme hukum internasional yang makin menyatu.

Mereka menelusuri pemikiran Hans Kelsen yang pernah membayangkan hukum internasional sebagai dasar dari semua hukum nasional. Meski awalnya tampak utopis, gagasan ini menemukan bentuknya dalam PBB dan berbagai struktur global lain. Namun, berbeda dari model negara, Empire tidak dibangun atas kontrak antarnegara saja. Ia tumbuh melalui situasi krisis dan intervensi, di mana “hak intervensi” dan konsep “just war” (perang yang sah secara moral) kembali menjadi dasar legitimasi. Perang tak lagi dilihat sebagai agresi antarnegara, melainkan sebagai operasi polisi global untuk menjaga ketertiban.

Empire bekerja melalui logika pengecualian permanen: keadaan darurat selalu bisa dijadikan alasan intervensi. Kekuasaan global ini tak sekadar mengatur hubungan antarnegara, tetapi juga meresap ke dalam hukum domestik tiap negara, mengatur kehidupan masyarakat, bahkan menentukan batas-batas etika dan keadilan. Dengan demikian, Empire berfungsi layaknya polisi dunia—menentukan siapa yang dianggap sah, siapa yang disebut “barbar,” dan kapan kekerasan bisa dijalankan demi “perdamaian.”

Di sisi lain, Hardt dan Negri melihat tanda-tanda transisi ke bentuk produksi baru: bukan sekadar produksi barang, melainkan produksi kehidupan sosial itu sendiri—biopolitical production. Di sinilah Empire menunjukkan wajah paling dalam: ia tidak hanya mengatur ruang dan hukum, tetapi juga mengorganisasi kehidupan, tubuh, dan pikiran. Maka, konstitusi politik zaman ini adalah konstitusi biopower global—suatu kekuasaan yang mencakup totalitas hidup, namun sekaligus membuka ruang bagi resistensi di dalamnya.

 

 

Part 2 – Passages of Sovereignty

Hardt dan Negri menelusuri sejarah panjang bagaimana kedaulatan terbentuk, berubah, lalu melahirkan Empire. Bagian ini berfokus pada genealogi kedaulatan dari Eropa modern hingga era global sekarang.

Awalnya, Eropa punya dua wajah modernitas: satu yang revolusioner, menjanjikan kebebasan dan demokrasi; yang lain penuh kekerasan, menundukkan dunia lewat kolonialisme. Dari sinilah lahir konsep negara-bangsa berdaulat, yang sejak abad ke-17 menjadi pilar utama tatanan internasional. Negara berdaulat membangun identitasnya dengan membatasi diri secara teritorial, sekaligus memperluas kuasa ke luar lewat kolonialisme. Imperialisme modern, bagi Hardt dan Negri, adalah ekstensi kedaulatan nasional ke wilayah lain—peta dunia yang diwarnai Inggris, Prancis, Spanyol, dan sebagainya.

Namun, bentuk ini sejak awal rapuh. Kolonialisme menghasilkan dialektika yang penuh kontradiksi: di satu sisi membawa “peradaban,” di sisi lain menciptakan perlawanan keras dari rakyat terjajah. Perang kemerdekaan, revolusi, dan gerakan antikolonial akhirnya melemahkan legitimasi imperialisme. Setelah Perang Dunia II, logika lama ini tidak lagi memadai.

Muncul transisi: kedaulatan negara mulai kehilangan daya penuh. Peran PBB, lembaga internasional, hingga rezim hukum global perlahan menyalip otoritas negara. Tetapi Empire tidak berarti ketiadaan kedaulatan; ia adalah bentuk baru kedaulatan yang terdesentralisasi, di mana banyak entitas—negara, organisasi internasional, korporasi, bahkan LSM—terhubung dalam jaringan kekuasaan yang satu logika.

Dalam jaringan ini, Amerika Serikat memang memiliki posisi istimewa. Namun, berbeda dari Eropa dulu, AS tidak memimpin dengan cara kolonial klasik. Ia menjadi model karena sejak awal berdiri dengan konstitusi yang berorientasi pada imperium tanpa batas: frontier yang terus berkembang, kekuasaan yang terdistribusi lewat jaringan, bukan pusat teritorial. Model inilah yang kini direplikasi pada skala global.

Empire, dengan demikian, bukan sekadar kelanjutan imperialisme, melainkan pergeseran paradigma kedaulatan. Dari negara yang berkuasa di atas wilayah tertentu, kini kita berhadapan dengan sistem global yang mengatur semua ruang, semua populasi, bahkan kehidupan itu sendiri.

 

 

Intermezzo – Counter-Empire

Di tengah analisis tentang lahirnya Empire, Hardt dan Negri menambahkan sebuah jeda penting: intermezzo tentang Counter-Empire. Jika Empire adalah bentuk baru kedaulatan global yang tampak total, maka Counter-Empire adalah potensi untuk melampauinya.

Empire muncul sebagai jaringan kuasa yang menyatukan ekonomi, hukum, dan budaya dunia. Namun, justru di dalam jaringan itu terdapat kekuatan kreatif yang menopangnya: kerja sama manusia, mobilitas, komunikasi, dan produksi sosial. Subjek yang menghidupkan semua itu mereka sebut multitude—keragaman rakyat global, yang bukan massa homogen, melainkan kumpulan perbedaan yang mampu bekerja bersama.

Multitude adalah sumber daya sejati Empire, tetapi juga bisa menjadi benih perlawanan. Karena Empire tidak berpusat pada satu negara atau institusi, maka perlawanan pun tak bisa hanya berupa perebutan negara seperti pada abad ke-20. Bentuk baru resistensi harus sama globalnya, sama terbukanya, dan sama lenturnya dengan Empire itu sendiri.

Counter-Empire, bagi Hardt dan Negri, bukan sekadar “melawan dari luar.” Tidak ada lagi “luar” murni, karena Empire sudah menyelimuti seluruh dunia. Resistensi hanya bisa lahir dari dalam jaringan itu sendiri, dengan memanfaatkan kekuatan produktif multitude: kreativitas, solidaritas, dan kemampuan membangun hubungan baru.

Dalam intermezzo ini, mereka menekankan pentingnya membayangkan demokrasi global baru—bukan demokrasi representatif yang terbatas pada negara, tetapi bentuk partisipasi yang lahir dari hubungan sosial langsung. Counter-Empire adalah proyek konstitusional alternatif, lahir dari tuntutan kehidupan sehari-hari, dari perjuangan migran, pekerja, perempuan, dan kelompok-kelompok yang selama ini terpinggirkan.

Dengan kata lain, Counter-Empire bukan sekadar reaksi terhadap Empire, melainkan daya cipta yang mengimajinasikan dunia lain. Ia hadir sebagai kemungkinan nyata: bahwa di tengah hegemoni global, terdapat celah untuk membangun tatanan baru yang lebih adil, egaliter, dan benar-benar demokratis.

 

 

Part 3 – Passages of Production

Jika bagian sebelumnya membahas pergeseran kedaulatan, di sini Hardt dan Negri mengalihkan fokus ke produksi—bagaimana cara kapitalisme bertransformasi, dan bagaimana itu melahirkan bentuk baru kekuasaan.

Imperialisme lama bertumpu pada buruh industri dan ekspansi kolonial. Produksi dipahami sebagai pabrik, mesin, dan tenaga kerja yang menghasilkan barang. Namun sejak akhir abad ke-20, pola itu bergeser. Kini, yang utama bukan lagi produksi barang material, melainkan produksi imaterial: informasi, komunikasi, pengetahuan, bahkan afek dan relasi sosial. Mereka menyebutnya produksi biopolitik—karena yang dihasilkan bukan sekadar komoditas, tetapi kehidupan sosial itu sendiri.

Perubahan ini berarti kapitalisme semakin masuk ke ranah kehidupan sehari-hari. Tubuh, pikiran, bahasa, dan hubungan antarindividu semua menjadi medan produksi. Michel Foucault pernah menyebut ini sebagai biopower, kekuasaan yang mengatur hidup dari dalam. Hardt dan Negri melihat bahwa Empire adalah bentuk global dari biopower: ia mengorganisasi kehidupan secara total, namun juga mengandalkan kreativitas yang tak bisa sepenuhnya dikendalikan.

Dalam kerangka ini, mereka juga membedakan masyarakat disipliner dan masyarakat kontrol. Pada era lama, kekuasaan beroperasi melalui institusi seperti sekolah, pabrik, penjara. Kini, kekuasaan lebih menyebar: lewat jaringan, teknologi, dan mekanisme yang merasuk ke tubuh dan pikiran. Kontrol bekerja bukan dengan memaksa dari luar, tapi dengan membuat individu secara sukarela menyesuaikan diri.

Empire juga berfungsi sebagai masyarakat administrasi global: bukan hanya negara, tetapi korporasi, organisasi internasional, dan media menjadi bagian dari mesin yang sama. Namun, di balik kekuasaan ini, ada kerentanan. Karena jika produksi bersumber dari kerja imaterial dan sosial, maka kekuatan kreatif multitude selalu berpotensi keluar dari logika kapital—mengubah jaringan, menolak, atau menciptakan hubungan baru.

Dengan demikian, Part 3 menunjukkan bahwa kekuasaan Empire sekaligus rapuh: ia tumbuh dari produksi biopolitik yang tak bisa sepenuhnya dikontrol. Justru di ranah inilah, dalam kehidupan sehari-hari dan kerja sosial, terdapat kemungkinan lahirnya resistensi dan alternatif.

 

Part 4 – The Decline and Fall of Empire

Setelah menelusuri kelahiran Empire, Hardt dan Negri menutup buku dengan pertanyaan besar: apakah Empire abadi, atau justru sudah menyimpan benih kejatuhannya sendiri?

Empire tampak seperti sistem total: ia melingkupi seluruh dunia, mengatur hukum, ekonomi, budaya, bahkan kehidupan sehari-hari. Ia tampil seolah-olah permanen—“akhir sejarah.” Namun, seperti semua imperium sebelumnya, ia sarat kontradiksi. Kekuatannya justru bergantung pada kreativitas multitude, pada produksi sosial yang tidak bisa sepenuhnya ditundukkan. Di sinilah letak kerentanannya.

Mereka membahas konsep virtualities—kemungkinan-kemungkinan laten dalam dunia sosial yang bisa melampaui Empire. Kapitalisme global menciptakan integrasi, migrasi, dan komunikasi lintas batas; tapi aliran yang sama bisa menjadi sarana untuk solidaritas dan resistensi. Empire membuka jalan bagi kekuatan yang ingin dikekangnya.

Lalu muncul tema generation and corruption. Dalam istilah klasik, setiap bentuk kekuasaan yang lahir (generation) pada saat yang sama membawa potensi pembusukan (corruption). Empire, yang lahir dari klaim perdamaian universal, justru menebarkan perang permanen. Ia menjanjikan keteraturan, tetapi menciptakan ketidakpastian. Kontradiksi ini membuatnya rapuh dari dalam.

Akhirnya, mereka menyoroti multitude versus Empire. Multitude bukan massa pasif, melainkan jaringan subjek yang beragam—pekerja, migran, perempuan, minoritas, semua yang hidup dalam produksi biopolitik. Justru karena mereka yang menopang Empire, mereka juga punya daya untuk menggoyang dan melampauinya. Bentuk perjuangan kini bukan lagi perebutan negara, tetapi penciptaan bentuk demokrasi baru: partisipasi langsung, kerja sama tanpa hierarki, jaringan global solidaritas.

Bagi Hardt dan Negri, tanda-tanda kejatuhan Empire sudah ada. Ia hidup dalam krisis permanen, dipertahankan lewat keadaan darurat, tetapi tak pernah bisa benar-benar menutup ruang resistensi. Maka, akhir Empire bukan kehancuran total dunia, melainkan lahirnya kemungkinan politik baru—sebuah demokrasi global yang lahir dari kreativitas multitude.

 

Kesimpulan

Hardt dan Negri membawa kita menelusuri lahirnya Empire sebagai bentuk baru kedaulatan global. Buku ini menunjukkan bahwa dunia sudah bergeser dari imperialisme klasik menuju tatanan kuasa yang tak lagi punya pusat teritorial, tetapi hadir sebagai jaringan global yang merasuk ke dalam setiap aspek kehidupan.

  • Preface menegaskan bahwa Empire lahir dari runtuhnya kolonialisme dan blok Soviet, serta menguatnya globalisasi. Berbeda dari imperialisme, Empire bersifat tanpa batas, de-teritorialisasi, dan mengatur bukan hanya ruang politik, tetapi juga kehidupan sosial. Produksi kini bersifat biopolitik: yang dihasilkan adalah kehidupan itu sendiri. Di sinilah muncul potensi multitude—keragaman subjek global—sebagai kekuatan yang juga bisa menciptakan counter-Empire.

  • Part 1 membongkar fondasi hukum dan politik dari tatanan baru ini. Empire tampil sebagai konstitusi global yang lahir lewat krisis, perang, dan intervensi. Konsep “just war” dihidupkan kembali sebagai legitimasi kekerasan demi perdamaian. Kekuasaan bekerja dengan logika pengecualian permanen, seolah-olah selalu ada keadaan darurat yang membenarkan intervensi. Empire bukan hanya hukum internasional, melainkan hukum kehidupan global.

  • Part 2 menelusuri perjalanan kedaulatan. Dari dua wajah modernitas Eropa, lahir negara-bangsa berdaulat dan kolonialisme. Imperialisme adalah perpanjangan kedaulatan nasional ke luar. Namun, bentuk itu runtuh bersama gerakan antikolonial. Kini, kedaulatan bukan lagi milik negara tunggal, melainkan sebuah jaringan supranasional. Amerika Serikat punya posisi khusus, tetapi bukan pusat mutlak—melainkan bagian dari logika imperial global yang tak lagi berbatas.

  • Intermezzo memperkenalkan ide Counter-Empire. Karena Empire sudah melingkupi seluruh dunia, resistensi tak mungkin datang dari “luar.” Perlawanan hanya bisa lahir dari dalam jaringan, dengan memanfaatkan kekuatan kreatif multitude. Counter-Empire bukan sekadar melawan, tapi membayangkan bentuk demokrasi global baru yang lebih egaliter dan partisipatif.

  • Part 3 memusatkan perhatian pada produksi. Kapitalisme bergeser dari produksi barang ke produksi imaterial: informasi, komunikasi, afek. Kekuasaan kini bersifat biopower, mengatur tubuh, pikiran, bahkan relasi sosial. Empire adalah masyarakat kontrol global: kuasa menyebar lewat jaringan, bukan lagi hanya institusi disipliner. Namun, di sinilah kerentanannya: produksi biopolitik bergantung pada kreativitas manusia yang tak bisa sepenuhnya ditundukkan. Resistensi bisa muncul justru dari kehidupan sehari-hari.

  • Part 4 membahas keruntuhan Empire. Ia tampak total, tapi sarat kontradiksi. Ia lahir dengan klaim perdamaian universal, tetapi justru menebarkan perang permanen. Ia mengklaim keteraturan, tetapi hidup dari krisis. Multitude, yang menjadi tenaga penggeraknya, juga menjadi sumber potensial kejatuhannya. Karena itu, kejatuhan Empire bukanlah kehancuran dunia, melainkan lahirnya peluang untuk demokrasi global yang lebih radikal, lahir dari solidaritas dan kreativitas multitude.



Refleksi Penutup

Empire, sebagaimana digambarkan Hardt dan Negri, bukan sekadar analisis politik global; ia adalah cermin dari dunia yang kita jalani. Kita hidup dalam jaringan kuasa yang tak lagi bisa dipetakan dengan peta kolonial lama. Kekuasaan kini hadir dalam aliran uang, informasi, hukum internasional, dan bahkan dalam cara kita berkomunikasi atau bekerja sehari-hari.

Namun, justru di titik inilah harapan muncul. Karena jika Empire menguasai kehidupan, maka setiap denyut kehidupan pun adalah kemungkinan untuk melawan. Setiap kerja sama, setiap solidaritas, setiap bentuk kreativitas adalah retakan kecil dalam dinding yang tampak kokoh itu. Multitude bukan massa tanpa wajah; ia adalah kita—dengan keragaman, perbedaan, dan imajinasi kita.

Buku ini mengajak kita tidak hanya memahami bagaimana dunia diatur, tetapi juga membayangkan bagaimana ia bisa diubah. Bahwa sejarah tidak berakhir di Empire, melainkan sedang menunggu ditulis ulang oleh keberanian kolektif.

Di tengah rasa putus asa atas dominasi global, Hardt dan Negri memberi kita undangan: untuk melihat Empire bukan sebagai takdir, melainkan sebagai medan perjuangan. Dari dalam jaringan yang sama yang mengekang, kita bisa menenun dunia baru—dunia yang lebih adil, lebih bebas, dan lebih manusiawi.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar Filsafat - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Filsafat Kontemporer - Bambang I. Sugiharto

Apa Itu Filsafat?... - Pengantar Filsafat 01 - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Pemikiran Modern - Bambang I. Sugiharto

METAFISIKA KEBUDAYAAN - Bambang I. Sugiharto

Filsafat Ilmu - Bambang I. Sugiharto

Nietzsche & Keberanian Jadi Diri Sendiri

Postmodernisme

HERMENEUTIK - Bambang I. Sugiharto

Écrits dan Arsitektur Kajian Subjek - Lacan