Perkembangan Performance Art: Dari Tubuh, Aksi, hingga Gerakan Sosial
Perkembangan seni rupa pascaperang Dunia II tidak berhenti pada seni instalasi. Seni instalasi memang masih membutuhkan benda-benda tertentu, tetapi ia sudah keluar dari dunia dua dimensi. Dari sini, para seniman—sebagai kelanjutan semangat Dada—mulai mempertanyakan satu hal yang lebih radikal: mengapa tidak menggunakan tubuh manusia itu sendiri sebagai medium berkesenian? Bukan lagi kanvas, patung, atau objek, melainkan tindakan-tindakan simbolik yang dilakukan oleh tubuh. Inilah yang kemudian dikenal sebagai performance art. Seorang seniman performance di Bandung bahkan menyebutnya sebagai “puisi aksi”: puisi yang tidak ditulis, melainkan dilakukan melalui tindakan.
Dalam performance art, gerak-gerik simbolik tubuh diperlakukan sebagai karya seni. Karya semacam ini sering kali sulit dipahami secara langsung, tetapi yang terpenting justru bukan makna literalnya, melainkan suasana yang tercipta: gerak tubuh, mimik wajah, dan keseluruhan atmosfer yang muncul. Semua itu menuntut penafsiran. Penting juga untuk membedakan performance art dengan performing art. Performing art merujuk pada seni panggung seperti tari, teater, musik, atau konser. Sementara performance art adalah mazhab tertentu dalam seni rupa, di mana tubuh digerakkan secara puitis dan simbolik untuk menyampaikan gagasan.
Sebagai contoh, ada seorang seniman besar bernama Monica yang membuat karya tentang nasib para imigran di Italia. Banyak imigran bekerja sebagai pedagang kaki lima dan hidup dalam situasi penuh ketakutan karena selalu terancam razia. Monica ingin menarik perhatian publik terhadap fenomena ini. Caranya sangat sederhana namun kuat: ia berpura-pura menjadi pedagang kaki lima selama beberapa hari. Ketika ditanya, “Di mana karya seninya?”, jawabannya justru ada pada tindakan itu sendiri—ia duduk, menunggu, dan hidup dalam ketegangan yang sama seperti para imigran. Itulah karya seninya.
Contoh lain adalah seniman performance yang menjilati tanah dan memberi judul karyanya “Komunikasi”. Lewat tindakan ekstrem namun sederhana itu, ia ingin mengajak manusia berkomunikasi lebih intens dengan bumi, terutama dalam konteks krisis ekologi. Isyaratnya sangat padat: sebuah gestur kecil yang membawa pesan besar. Tak jarang, karya seni yang kuat memang menimbulkan sensasi—mendebarkan, mengganggu, bahkan membuat orang bertanya-tanya apakah pelakunya “gila”.
Ada pula performance artist lain yang muncul tiba-tiba di tengah hutan kota Jakarta dalam keadaan telanjang, lalu hanya berkata, “Siapa yang mau foto bareng saya?” Banyak orang mengantre. Aksi ini berbicara tentang fenomena menonton dan ditonton. Di ruang publik modern—mal, media sosial, atau pusat keramaian—manusia tidak hanya ingin melihat, tetapi juga ingin dilihat. Cara berpakaian yang mencolok, terutama di ruang-ruang tertentu, adalah bentuk dari dorongan itu. Performance tersebut mengungkap kondisi sosial kita tanpa perlu kata-kata panjang.
Perkembangan paling mutakhir dari seni performance bahkan tidak lagi berhenti pada aksi individual, melainkan menjelma menjadi gerakan sosial. Di Indonesia, ada seniman yang melakukan kerja-kerja pemberdayaan masyarakat—misalnya melalui kesenian tradisional di kawasan Gunung Merapi—dan seluruh proses itu disebut sebagai performance art. Di Bandung, ada pula seniman yang mengubah Desa Cigondewah, yang semula dikenal sebagai pusat penampungan sampah plastik, menjadi kampung budaya. Dalam konteks ini, karya seninya bukan instalasi atau objek visual, melainkan seluruh rangkaian gerakan sosial: mengorganisasi warga, mengubah pola hidup, dan membangun kesadaran kolektif.
Dari sini terlihat jelas bahwa seni rupa telah mengalami pergeseran besar. Perspektif dan konsepnya berubah total: bukan lagi bertumpu pada benda, melainkan pada gerakan. Gerakan itu sendiri adalah karya seni. Dengan pemahaman ini, pembahasan seni rupa dapat kita akhiri, dan pada pertemuan berikutnya kita akan masuk ke dunia musik—di mana kita akan melihat bahwa musik pun memiliki mazhab-mazhab yang sejajar dengan seni rupa, mulai dari romantik hingga minimalis.
00:00:00 - Konsep Seni Instalasi dan Performance Art
Seni instalasi dijelaskan sebagai perkembangan yang keluar dari dimensi dua dimensi namun masih menggunakan benda tertentu
00:00:49 - Karakteristik Performance Art (Puisi Aksi)
Seorang seniman di Bandung menyebut performance art sebagai "puisi aksi"
00:01:21 - Perbedaan Performance Art dan Performing Art
Dijelaskan perbedaan mendasar antara keduanya: performing art adalah seni panggung seperti tari, teater, atau konser musik, sedangkan performance art adalah mazhab khusus yang berfokus pada gerak tubuh puitis dan simbolik untuk menyampaikan pesan tertentu
00:01:50 - Kasus Monica: Fenomena Imigran
Seniman bernama Monica melakukan aksi berpura-pura menjadi pedagang kaki lima (PKL) di Italia selama beberapa hari
00:03:07 - Simbolisme Menjilati Bumi dan Isu Ekologi
Terdapat seniman yang melakukan aksi menjilati bumi sebagai bentuk komunikasi intens terhadap alam
00:03:57 - Fenomena Menonton dan Ditonton
Aksi performance art yang melibatkan ketelanjangan di Jakarta digunakan untuk mengkritik budaya modern di mana manusia memiliki obsesi untuk menonton dan ditonton, mirip dengan tren berpakaian di Harajuku atau mal
00:05:55 - Seni Sebagai Gerakan Sosial di Indonesia
Bentuk seni rupa paling mutakhir adalah gerakan sosial
00:07:17 - Penutup dan Rencana Kuliah Musik
Sesi seni rupa diakhiri dengan kesimpulan bahwa perspektif seni telah berubah dari benda ke arah gerakan
Full Season: Kuliah "ESTETIKA" bersama Pa Bambang Sugiharto: https://ytpustakamatahari.blogspot.com/2026/02/estetika-bambang-i-sugiharto.html
Komentar
Posting Komentar