Merawat Pertanyaan: Perjalanan Filsafat Prof. Bambang Sugiharto









Perjalanan intelektual Prof. Bambang Sugiharto bukan sekadar rangkaian gelar akademis, melainkan sebuah ziarah batin—sebuah pencarian yang lahir dari sifat alaminya sebagai perenung dan jiwa yang diam-diam “pemberontak”. Sejak masa SMA, beliau merasakan kegelisahan yang sulit dijinakkan oleh satu kerangka pikir saja. Ada dorongan kuat untuk tidak sekadar menerima, tetapi memahami. Keresahan inilah yang akhirnya menuntunnya memilih filsafat—bukan seni murni, bukan pula imamat—melainkan jalan yang memungkinkan manusia bertanya lebih dalam tentang makna keberadaannya sendiri.

Langkah awalnya dimulai di seminari, sebuah ruang yang membentuk disiplin batin sekaligus membuka cakrawala refleksi. Namun, panggilan untuk menyelami filsafat secara lebih mendalam membawanya melangkah lebih jauh, hingga ke Roma. Di sana, beliau bersentuhan dengan pemikiran Thomas Aquinas dalam tradisi Dominikan yang pada zamannya cukup terbuka dan reflektif. Dari titik ini, perhatiannya semakin terarah pada hermeneutika—sebuah kesadaran bahwa realitas yang kita jalani bukanlah sesuatu yang hadir begitu saja, melainkan sesuatu yang senantiasa kita tafsirkan. Bagi Pa Bambang, manusia adalah makhluk penafsir. Kita hidup bukan hanya dengan bernapas, tetapi dengan memberi makna. Bahkan, mungkin, setiap napas adalah sebuah tafsir diam-diam atas dunia.

Dari hermeneutika, langkahnya mengalir secara alami menuju postmodernisme. Namun, beliau tidak melihatnya sebagai gerakan untuk meruntuhkan segalanya, melainkan sebagai kelanjutan paling jujur dari semangat kritis modernitas itu sendiri. Ketika banyak orang masih berpegang pada kepastian-kepastian lama, beliau justru berani memperkenalkan dekonstruksi di Indonesia—sebuah cara berpikir yang mengajak kita untuk melihat kembali fondasi yang selama ini dianggap kokoh. 

Memang, tidak semua orang menyambutnya. Ada yang meragukan, bahkan menuduh bahwa pendekatan ini hanya pandai membongkar tanpa mampu membangun. Namun, bagi beliau, membuka ruang pertanyaan adalah bagian penting dari merawat kebebasan berpikir. Ia percaya bahwa di balik narasi-narasi besar yang dominan, selalu ada suara-suara kecil yang menunggu untuk didengar—suara-suara yang selama ini terpinggirkan oleh logika sains, industri, dan kekuasaan.

Ketertarikannya pun tidak berhenti pada teks-teks filsafat. Beliau menemukan bahwa seni dan filsafat sebenarnya berbicara tentang hal yang sama, hanya dengan bahasa yang berbeda. Jika filsafat adalah logika pikiran, maka seni adalah logika rasa. Seni mampu menjangkau kedalaman pengalaman manusia yang sering kali luput dari jangkauan rasio. Di sana, manusia tidak hanya memahami, tetapi juga mengalami. Tidak hanya mengetahui, tetapi juga merasakan.

Menjelang masa purna tugas, pemikiran Pa Bambang justru semakin terasa relevan. Di tengah dunia yang dipenuhi kecerdasan buatan, algoritma, dan banjir data, beliau melihat sesuatu yang lebih sunyi sekaligus lebih mendasar: manusia sedang menghadapi krisis identitasnya sendiri. Mesin semakin cerdas, tetapi manusia justru semakin asing terhadap dirinya. Kita tahu semakin banyak hal, tetapi belum tentu semakin memahami siapa diri kita sebenarnya.

Dalam konteks Indonesia, beliau melihat identitas tidak lagi bisa dipahami sebagai sesuatu yang tetap dan pasti. Identitas kini menjadi cair—terus berubah, terus bernegosiasi dengan zaman. Menjadi manusia Indonesia bukan lagi sekadar soal asal-usul atau wilayah, tetapi tentang bagaimana kita tetap utuh di tengah dunia yang rapuh, tak menentu, dan sering kali membingungkan. Dunia yang bergerak terlalu cepat, sementara jiwa manusia tetap membutuhkan ruang untuk diam dan mengerti.


Pada akhirnya, perjalanan intelektual Pa Bambang bermuara pada satu kesadaran yang sederhana, tetapi mendalam: bahwa di era yang semakin dikelola oleh mesin, filsafat bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Filsafat menjaga kita tetap terjaga sebagai manusia—makhluk yang tidak hanya mampu menjawab, tetapi juga berani bertanya. Dan mungkin, puncak dari seluruh pencarian itu bukanlah menemukan jawaban yang pasti, melainkan memiliki keberanian untuk menatap diri sendiri dengan jujur, dan tetap setia merawat pertanyaan tentang siapa kita—di tengah dunia yang terus berubah, dan di tengah sunyi yang diam-diam selalu memanggil kita pulang.


00:00 Pendahuluan: Profil Prof. Bambang Sugiharto
Wawancara dibuka dengan pengenalan Prof. Bambang sebagai tokoh penting dalam studi filsafat di Indonesia, khususnya postmodernisme, serta latar belakang perpustakaan Fakultas Filsafat UNPAR tempat diskusi berlangsung.


03:16 Latar Belakang Memilih Filsafat
Prof. Bambang menceritakan awal ketertarikannya pada filsafat sejak SMA karena sifatnya yang perenung dan sedikit memberontak terhadap kemapanan berpikir, serta pengaruh gurunya yang menyarankannya belajar filsafat.


07:00 Perjalanan Studi ke Roma dan Ketertarikan pada Ordo Dominikan
Penjelasan mengenai masa studi S2 dan S3 di Roma, ketertarikannya pada pemikiran Thomas Aquinas yang berani keluar dari dogma, serta bagaimana ia mulai mendalami hermeneutika dan metafor.


11:14 Memahami Hermeneutika dan Fenomenologi
Pembahasan mengenai akar pemikiran Prof. Bambang, di mana realitas dianggap sebagai pengalaman konkret yang perlu ditafsirkan. Ia menekankan bahwa tidak ada hidup yang tidak ditafsirkan.


16:51 Pintu Masuk ke Postmodernisme
Uraian tentang transisi dari hermeneutika menuju postmodernisme, termasuk pengaruh pemikir seperti Lyotard dan Foucault mengenai rezim kebenaran serta unsur kekuasaan dalam sebuah wacana.


23:07 Tantangan Memperkenalkan Postmodernisme di Indonesia
Prof. Bambang berbagi pengalamannya menghadapi resistensi dari kalangan akademisi klasik dan modernis saat memperkenalkan pemikiran dekonstruktif yang dianggap merelatifkan kebenaran absolut.


27:11 Relevansi Postmodernisme bagi Bangsa Indonesia
Analisis mengapa Indonesia memerlukan perspektif postmodern sebagai alat evaluasi atas modernitas, serta bagaimana pemikiran ini memberi ruang bagi narasi lokal dan tradisi yang sebelumnya terpinggirkan.


40:54 Hubungan Erat antara Filsafat dan Seni
Pembahasan mengenai estetika sebagai persepsi. Prof. Bambang menjelaskan bahwa seni dan filsafat sama-sama merupakan perenungan mendalam untuk membuka kemungkinan-kemungkinan persepsi baru terhadap realitas.


50:46 Sinkronisasi Sains, Agama, dan Filsafat
Diskusi mengenai tiga kutub pengetahuan. Prof. Bambang berargumen bahwa sains kuat di wilayah fakta, namun manusia tetap membutuhkan agama dan filsafat untuk mencari makna di wilayah yang misterius dan batiniah.


01:05:03 Sejarah Pendidikan Filsafat di Lingkungan Katolik
Penjelasan historis mengenai mengapa pendidikan filsafat di Indonesia banyak tumbuh di lingkungan seminari atau institusi Katolik sebagai upaya memahami dunia untuk mewartakan nilai-nilai spiritual.


01:13:23 Fungsi Penting Filsafat di Era Digital dan AI
Argumen bahwa filsafat tidak akan pernah hilang. Di tengah dominasi mesin, filsafat diperlukan untuk mempertanyakan asumsi dasar dan mencari kembali apa yang sebenarnya manusiawi.


01:22:26 Menjadi Indonesia: Antara Modernitas dan Postmodernitas
Dekonstruksi terhadap proyek "Menjadi Indonesia". Prof. Bambang menyoroti identitas bangsa yang kini semakin cair, plural, dan hibrida akibat banjir informasi serta perkembangan teknologi global.


01:35:36 Penutup: Masa Depan Indonesia dan Sikap Kritis
Wawancara diakhiri dengan kesimpulan bahwa di tengah situasi dunia yang kompleks dan tak terprediksi, kemampuan berpikir reflektif dan sikap kritis adalah kunci utama bagi masa depan Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar Filsafat - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Filsafat Kontemporer - Bambang I. Sugiharto

Apa Itu Filsafat?... - Pengantar Filsafat 01 - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Pemikiran Modern - Bambang I. Sugiharto

METAFISIKA KEBUDAYAAN - Bambang I. Sugiharto

Filsafat Ilmu - Bambang I. Sugiharto

Nietzsche & Keberanian Jadi Diri Sendiri

Postmodernisme

HERMENEUTIK - Bambang I. Sugiharto

Écrits dan Arsitektur Kajian Subjek - Lacan