Kubisme dan Redefinisi Cara Melihat Dunia


 


Abstraksi dalam seni lukis tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui proses pemikiran yang terus berkembang. Para seniman pada masa itu benar-benar “dipaksa” untuk berpikir ulang: sebenarnya, apa yang sedang kita lukis? Dengan pertanyaan itu, seni kemudian didefinisikan kembali, bahkan berulang kali. Salah satu tokoh penting dalam proses redefinisi ini adalah Georges Braque bersama Pablo Picasso.

Sebelumnya, melukis hampir selalu dipahami sebagai menghadirkan figur yang jelas di tengah kanvas—figur dan latar dipisahkan secara tegas. Namun Braque dan Picasso mulai mempertanyakan: mengapa perhatian harus selalu terpusat pada figur? Mengapa figur tidak dilebur saja ke dalam keseluruhan bidang kanvas? Dari sini muncul pendekatan analitis: objek dipilih, diurai, dibelah-belah, lalu dibiarkan menyatu dengan bidang lukisan secara utuh.

Cara berpikir ini sejajar dengan perkembangan di bidang sains dan filsafat pada masa itu, termasuk munculnya kesadaran ekologis awal. Manusia tidak lagi dipandang sebagai pusat segalanya, melainkan sebagai bagian dari jejaring besar alam—sejajar dengan pohon, gunung, awan, dan elemen lain. Suasana “de-centering” ini, ketika manusia tidak lagi menjadi pusat, meresap ke berbagai disiplin ilmu dan akhirnya memengaruhi seni rupa. Maka seniman pun bertanya: mengapa objek harus berada di tengah kanvas, dan bukan dilebur menjadi bagian dari keseluruhan bidang visual?

Selain itu, Picasso juga mendapat inspirasi kuat dari patung-patung Afrika yang bersifat “primitif”. Patung-patung ini tidak meniru bentuk alam secara realistis, melainkan menstilisasi dan menyederhanakannya—sering kali dalam bentuk geometris. Pendekatan ini membuka kemungkinan baru: bentuk tidak harus akurat, tetapi bisa diringkas, digayakan, dan disederhanakan.

Dua gagasan ini—de-centering dan stilisasi primitif—bertemu dan memicu keberanian Picasso untuk “merusak” bentuk. Sejak sekitar tahun 1907, bentuk-bentuk figur mulai diurai, disederhanakan, dan dipecah. Objek tidak lagi dipandang dari satu sudut, melainkan dicacah menjadi bidang-bidang geometris, terutama kubus. Dari sinilah istilah kubisme berasal: objek diurai menjadi struktur kubik yang membutuhkan kemampuan analitik visual yang sangat tinggi.

Pada tahap awal, bentuk masih dapat dikenali meskipun telah dirusak. Namun perlahan, objek semakin menyatu dengan bidang kanvas. Dalam karya-karya tertentu, seperti figur perempuan yang menangis atau tiga pemain musik, Picasso menunjukkan ketangkasan luar biasa dalam mengacak bentuk secara geometris, sambil tetap menjaga komposisi warna dan keseimbangan visual. Hampir seluruh bentuk diurai, tetapi jejak objeknya masih terasa.


00:00:04 — Redefinisi Seni dan Pemikiran Abstrak
Seni terus berkembang melalui proses redefinisi diri oleh para seniman yang terus berpikir tentang hakikat melukis. Tokoh utama seperti Braque dan Picasso mulai mempertanyakan pemisahan antara figur dan latar belakang bidang kanvas.


00:01:04 — Kesadaran Ekologis dan Suasana Disentering
Lahirnya Kubisme dipengaruhi oleh suasana berpikir sains dan kesadaran ekologis awal, di mana manusia tidak lagi dipandang sebagai pusat (disentering), melainkan bagian dari jejaring elemen alam seperti pohon dan gunung. Hal ini memicu seniman untuk meleburkan objek ke dalam keseluruhan bidang kanvas.


00:02:35 — Inspirasi dari Patung Afrika dan Stilisasi
Selain pengaruh ekologi, Picasso mendapatkan inspirasi dari kesederhanaan bentuk pada patung-patung primitif Afrika. Teknik stilisasi atau penyederhanaan bentuk secara geometris ini menjadi elemen kunci dalam karya-karyanya.


00:03:51 — Kelahiran Kubisme dan Analisis Bentuk
Objek-objek dalam lukisan mulai "dirusak" dan dicacah ke dalam bentuk-bentuk kubik geometris, sehingga aliran ini disebut Kubisme. Proses ini membutuhkan kemampuan analitik yang tinggi untuk menyusun kembali potongan objek tersebut di atas kanvas.


00:05:02 — Karya Masterpiece Picasso: Three Musicians
Lukisan ini dianggap sebagai salah satu pencapaian luar biasa karena ketangkasan analitik Picasso dalam mengacak bentuk secara geometris namun tetap memiliki komposisi dan distribusi warna yang enak dinikmati.


00:06:11 — Guernica: Simbol Perlawanan terhadap Totalitarianisme
Karya monumental ini melukiskan kepanikan dan kekejaman perang serta kesewenang-wenangan kekuasaan totaliter di kota Guernica, Spanyol. Picasso menggunakan warna monokrom (hitam, putih, abu-abu) serta simbol seperti kuda yang menjerit untuk memperkuat suasana mencekam tersebut.

Full Season: Kuliah "ESTETIKA" bersama Pa Bambang Sugiharto: https://ytpustakamatahari.blogspot.com/2026/02/estetika-bambang-i-sugiharto.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar Filsafat - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Filsafat Kontemporer - Bambang I. Sugiharto

Apa Itu Filsafat?... - Pengantar Filsafat 01 - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Pemikiran Modern - Bambang I. Sugiharto

METAFISIKA KEBUDAYAAN - Bambang I. Sugiharto

Filsafat Ilmu - Bambang I. Sugiharto

Nietzsche & Keberanian Jadi Diri Sendiri

Postmodernisme

HERMENEUTIK - Bambang I. Sugiharto

Écrits dan Arsitektur Kajian Subjek - Lacan