Kebahagiaan, Kebenaran, dan Resistensi: Kritik Byung-Chul Han terhadap Masyarakat Digital
Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Platon Academy yang telah menyediakan ruang ini, dan juga kepada Anda semua yang telah datang. Saya juga berterima kasih kepada Profesor Han Seoung-Soo dan Profesor Tae-soon Jang yang hadir di sini, serta kepada Korea University dan College of Liberal Arts.
Saya sudah tidak berbicara bahasa Korea selama 40 tahun, jadi kemampuan bahasa Korea saya tidak terlalu baik. Mohon pengertiannya.
Dulu, saya belajar teknik metalurgi di College of Engineering, Korea University, angkatan 1978, dan kemudian saya pergi ke Jerman untuk melanjutkan studi. Rasanya sangat baru dan emosional bagi saya untuk kembali mengunjungi Korea University setelah meninggalkannya selama 40 tahun. Saya merasa sangat terhormat bisa memberikan kuliah di College of Liberal Arts.
Ada ironi yang manis di sini. Ketika dulu saya masih menjadi mahasiswa teknik, seseorang dari College of Liberal Arts pernah mengundang saya, dan sekarang, setelah menjalani perjalanan hidup yang panjang, saya berdiri di sini, memberi kuliah di fakultas tersebut. Ini adalah kehormatan yang sangat indah.
Saya masih ingat suatu hari, ketika saya berada di tahun terakhir kuliah teknik. Di kampus ada sebuah taman kecil di atas bukit. Suatu hari, saya naik ke sana dan memandang langit. Langit itu begitu indah. Saat itu, sebuah pikiran muncul dalam diri saya: langit ini terlalu indah untuk dihadapi dengan mempelajari teknik metalurgi.
Saya merasa ingin menjalani kehidupan yang bermakna dan indah di bawah langit yang indah itu. Tetapi saya juga menyadari sesuatu: kehidupan yang indah dan bermakna seperti itu tidak mungkin saya capai melalui teknik metalurgi. Saya menjadi yakin bahwa kehidupan yang indah dan bermakna adalah kehidupan yang filosofis—kehidupan yang merenungkan apa itu hidup, siapa diri kita, dan apa arti keberadaan ini.
Jika hidup ini panjang, mungkin kita bisa mencoba banyak hal. Saya sebenarnya juga menyukai sekolah teknik. Tetapi hidup ini singkat. Sangat singkat. Dan karena hidup ini singkat, kita harus menjalaninya dengan makna.
Saya menjadi yakin bahwa saya tidak bisa menjalani kehidupan yang benar-benar bermakna jika saya tetap berada di jalur teknik metalurgi.
Saya bahkan tidak lulus. Pada awal semester kedua di tahun terakhir, tanpa bisa berbicara bahasa Jerman, tanpa benar-benar mengenal filsafat, bahkan tanpa membaca banyak buku filsafat, saya pergi ke Jerman secara membabi buta. Saya hanya memiliki satu keyakinan: jika saya tetap tinggal di Korea, saya tidak akan bisa menjalani kehidupan yang berbeda. Saya merasa hanya dengan meninggalkan negara ini saya bisa menemukan kehidupan yang lain.
Saya pergi tanpa banyak berpikir. Saya berbohong kepada orang tua saya. Saya berbohong kepada teman-teman saya. Saya berbohong kepada profesor saya. Saya mengatakan bahwa saya pergi ke Jerman untuk melanjutkan studi teknik metalurgi. Dan memang, saya diterima di sebuah universitas teknik di Jerman dan melanjutkan studi itu—tetapi sebenarnya, saya melarikan diri. Saya pergi untuk mencari kehidupan yang lain.
Sekarang, saya mendengar bahwa banyak mahasiswa di Korea hanya memikirkan pekerjaan dan uang setelah lulus. Ini membuat hati saya sangat sedih. Ilmu pengetahuan seharusnya tidak menjadi sarana untuk menghasilkan uang. Berpikir seharusnya bukan alat untuk tujuan lain. Berpikir adalah tujuan itu sendiri. Mencari kebenaran adalah tujuan itu sendiri.
Namun sekarang, bahkan ketika seseorang masuk ke universitas yang baik, hal pertama yang dipikirkan adalah pekerjaan. Ini membuat hati saya sakit.
Saya percaya bahwa kita harus bebas untuk belajar demi belajar itu sendiri. Bebas untuk mencari kebenaran.
Suatu hari, saya melihat sebuah tulisan di bangku:
“Segala sesuatu berubah, tetapi kebenaran tetap abadi.”
Kalimat itu sangat menyentuh saya.
Hari ini, kita hidup dalam masyarakat informasi. Informasi muncul seketika, menggairahkan kita sejenak, lalu menghilang. Informasi tidak memiliki durasi. Ia tidak bertahan. Ia tidak memberi kontinuitas.
Kebenaran berbeda. Kebenaran tidak berubah. Kebenaran bertahan. Kebenaran memberi arah dan makna bagi hidup kita.
Namun dalam masyarakat informasi, yang kita miliki bukan lagi kebenaran—hanya informasi. Informasi datang dan pergi. Karena itu, arah hidup kita pun menghilang. Makna pun menghilang. Nilai-nilai pun menghilang.
Tanpa kebenaran, kita kehilangan orientasi. Kita tidak lagi tahu ke mana kita harus pergi. Kita menjadi kosong. Kita menjadi nihilistik.
Informasi memang merangsang kita, tetapi ia tidak memberi makna.
Karena itu, saya telah lama merenungkan pertanyaan ini: apa itu informasi? Untuk memahami zaman kita, kita harus memahami informasi.
Digitalisasi tidak hanya mengubah dunia luar kita—ia mengubah cara kita merasakan, cara kita berpikir, cara kita melihat dunia, bahkan cara kita berhubungan dengan orang lain. Ia mengubah struktur kesadaran kita, sering kali tanpa kita sadari.
Ini sangat menakutkan. Karena perubahan ini tidak terlihat. Ia terjadi diam-diam.
Jika ada api, kita bisa melihatnya dan memadamkannya. Tetapi perubahan dalam kesadaran tidak terlihat. Kita tidak menyadarinya, namun kita berubah. Pikiran kita menjadi terfragmentasi. Persepsi kita menjadi terpecah-pecah.
Hari ini, saya ingin berbicara tentang hubungan antara digitalisasi dan kebahagiaan.
Saya pernah menulis sebuah aforisme:
“Kebahagiaan datang melalui tangan.”
Kebahagiaan adalah kerja tangan.
Kebahagiaan adalah sesuatu yang diciptakan dengan tangan.
Dulu, kebahagiaan adalah sesuatu yang asing bagi saya. Saya lebih mengenal kegembiraan daripada kebahagiaan. Kegembiraan berbeda dari kebahagiaan.
Kegembiraan bisa muncul ketika sebuah gagasan datang kepada saya—ketika saya mendapatkan wawasan baru. Saya tersenyum. Saya tertawa. Saya merasa hidup.
Kegembiraan juga bisa ditemukan dalam hal-hal kecil—misalnya melihat tetes hujan yang perlahan jatuh di jendela. Itu memberi kegembiraan eksistensial.
Tetapi kebahagiaan berbeda. Kebahagiaan lebih bersifat fisik. Lebih bersifat tubuh.
Saya mulai merasakan kebahagiaan ketika saya mulai menggunakan tangan saya.
Selama bertahun-tahun, saya memiliki sebuah taman rahasia. Saya mengolah tanah itu dengan tangan saya sendiri. Saya menggali tanah, bekerja keras, meskipun kaki saya sakit dan tubuh saya lelah. Saya ingin menciptakan taman di mana bunga bisa mekar bahkan di musim dingin.
Musim dingin sangat keras. Dingin. Gelap. Lembap. Tidak ramah bagi kehidupan.
Tetapi saya ingin melawan musim dingin itu. Saya ingin menciptakan kehidupan di tengah kegelapan.
Ketika saya menggali tanah, saya merasakan sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Tanah itu berat. Tanah itu melawan. Ada akar-akar yang menghalangi. Ada resistensi.
Tanah tidak tunduk begitu saja. Ia menolak.
Namun justru dalam perlawanan itu, dalam usaha untuk mengatasi resistensi itu, saya merasakan kebahagiaan yang mendalam.
Ketika saya menggali tanah dengan penuh perhatian dan cinta, kebahagiaan memasuki tubuh saya.
Saya menyebutnya sebagai “perasaan tanah”—a feeling of the land.
Hari ini, kita semakin menjauh dari tanah. Kita hidup di dunia digital, menatap layar sepanjang waktu. Kita kehilangan hubungan dengan realitas fisik.
Namun mungkin, tanah adalah sumber kebahagiaan. Jika tanah adalah kebahagiaan, maka dengan menjauh dari tanah, kita menjauh dari kebahagiaan.
Kembali ke tanah berarti kembali ke kebahagiaan.
Hal lain yang memberi saya kebahagiaan adalah bermain piano. Selama tujuh tahun terakhir, saya bermain piano setiap hari. Jika saya tidak bermain piano, saya merasa seperti kehilangan sesuatu dalam diri saya—seolah-olah saya menjadi lumpuh secara batin.
Bermain piano adalah cara saya membersihkan diri. Cara saya memulihkan diri.
Bahkan ketika saya tiba di hotel, hal pertama yang saya inginkan adalah bermain piano. Karena tanpa itu, saya merasa kehilangan hubungan dengan diri saya sendiri.
Dunia terasa kotor. Bermain piano bagi saya adalah sebuah ritual—ritual untuk membersihkan diri dari kekotoran itu. Karena itu, keesokan harinya saya membawa sebuah keyboard ke kamar hotel. Sekarang, selama berada di Seoul, saya menyimpan piano di kamar hotel saya. Tanpa bermain piano, saya tidak bisa merasakan kebahagiaan. Saya harus menggerakkan tangan saya.
Di rumah, saya memiliki sebuah grand piano. Setiap hari, saya bolak-balik antara meja kerja dan piano itu sekitar sepuluh hingga dua puluh kali. Ketika pikiran saya buntu, saya pergi ke piano, memainkan beberapa nada, lalu kembali ke meja. Kemudian kembali lagi ke piano. Begitulah ritme hari saya.
Setiap pagi, saya memulai hari dengan memainkan aria pembuka dari Goldberg Variations karya Johann Sebastian Bach. Itu telah menjadi ritual pagi saya. Ketika saya bangun tidur, rambut saya berantakan, tubuh terasa belum sepenuhnya hadir. Tetapi setelah memainkan musik itu, saya merasa seperti dipulihkan. Seolah-olah diri saya kembali utuh.
Saya tidak memainkan piano hanya dengan jari. Piano dimainkan dengan tangan—bahkan lebih tepat lagi, dengan seluruh tubuh. Ketika tubuh terlibat sepenuhnya, kebahagiaan masuk ke dalam tubuh itu sendiri.
Sebaliknya, jika sepanjang hari kita hanya menyentuh layar smartphone dengan ujung jari, kita tidak akan pernah benar-benar bersentuhan dengan kebahagiaan. Kebahagiaan tidak datang hanya melalui ujung jari. Kebahagiaan datang melalui keterlibatan tubuh, melalui tangan yang bekerja, melalui perjumpaan dengan sesuatu yang nyata.
Kebahagiaan selalu berkaitan dengan resistensi—dengan sesuatu yang tidak langsung tunduk pada kita.
Bayangkan sebuah pintu kayu tua di istana kuno Korea, seperti di Gyeongbokgung atau Changdeokgung. Pintu itu berat. Sulit dibuka. Kita harus mendorongnya dengan tenaga. Kita harus melangkahi ambang yang tinggi. Tetapi justru setelah melewati ambang itu, kita memasuki ruang yang indah, ruang yang berbeda, ruang yang bermakna.
Ambang itu adalah bagian dari kebahagiaan. Tanpa usaha, tanpa resistensi, tanpa ambang yang harus dilampaui, tidak ada kebahagiaan.
Sekarang bandingkan dengan pintu otomatis modern. Pintu itu terbuka dengan sendirinya. Kita tidak perlu menyentuhnya. Tidak perlu berusaha. Kita hanya berjalan, dan pintu terbuka. Semuanya mudah. Tetapi di sana tidak ada kebahagiaan. Hanya kenyamanan.
Untuk menjadi bahagia, kita membutuhkan resistensi. Kita membutuhkan sesuatu yang melawan kita. Sesuatu yang tidak langsung tunduk.
Namun smartphone menghilangkan resistensi itu. Di sana hanya ada “like”. Like. Like. Like. Semuanya menyenangkan. Semuanya nyaman. Tetapi kenyamanan bukanlah kebahagiaan.
Tanpa resistensi, kita tidak pernah benar-benar bertemu dengan dunia. Kita hanya bertemu dengan diri kita sendiri—pantulan diri kita sendiri. Dan ketika seseorang hanya berhadapan dengan dirinya sendiri, ia jatuh ke dalam kesepian dan depresi.
Hari ini, kita memiliki lebih banyak koneksi daripada sebelumnya—Facebook, smartphone, KakaoTalk—tetapi justru kita semakin kesepian. Karena yang hilang adalah yang lain—yang sungguh lain—yang menantang kita, yang melawan kita, yang berdiri di hadapan kita sebagai sesuatu yang berbeda.
Smartphone menghilangkan yang lain. Ia membuat kita menjadi konsumen yang nyaman. Ia menghilangkan resistensi, karena resistensi menghambat konsumsi.
Saya tidak menolak smartphone sepenuhnya. Smartphone bisa menjadi alat yang sangat berguna. Misalnya, ketika saya melihat bunga yang tidak saya kenal, saya bisa memotretnya dan mengetahui namanya. Dalam arti itu, smartphone adalah alat.
Tetapi masalah muncul ketika smartphone bukan lagi alat, melainkan menjadi kekuatan yang menguasai kita.
Jika kita terus-menerus menatap layar, kita tidak lagi menggunakan smartphone—smartphone yang menggunakan kita. Kita menjadi seperti ternak yang mengonsumsi informasi tanpa henti.
Ini sangat berbahaya.
Saya tidak menolak teknologi digital itu sendiri. Teknologi digital, seperti palu, bisa digunakan untuk membangun rumah—tetapi juga bisa digunakan untuk membunuh. Masalahnya bukan pada alatnya, tetapi pada bagaimana kita menggunakannya.
Di rumah, saya memiliki dua grand piano. Dalam bahasa Jerman, grand piano disebut Flügel, yang berarti “sayap”. Jadi, saya sering mengatakan bahwa saya memiliki dua sayap.
Ketika saya bermain piano, saya merasa seperti memiliki sayap. Saya merasa seperti bisa terbang. Piano bukan hanya alat musik. Ia adalah pasangan. Ia adalah sesuatu yang berdiri di hadapan saya, sesuatu yang menuntut saya, sesuatu yang melawan saya, sesuatu yang mengangkat saya.
Kebahagiaan membutuhkan pasangan seperti itu—sesuatu yang berdiri di hadapan kita, sesuatu yang lebih besar dari kita, sesuatu yang bisa kita hormati.
Digitalisasi menghilangkan pasangan itu. Ia menghilangkan perlawanan. Ia menghilangkan kehadiran yang lain.
Tanpa yang lain, kita tidak bisa menjadi diri kita sendiri.
Kata “objek” berasal dari bahasa Latin yang berarti “sesuatu yang dilemparkan ke hadapan kita”—sesuatu yang berdiri melawan kita, sesuatu yang menentang kita. Objek bukan hanya sesuatu yang kita kuasai. Ia adalah sesuatu yang juga melawan kita.
Namun dunia digital menghilangkan perlawanan itu. Segalanya menjadi halus. Segalanya menjadi nyaman. Tidak ada lagi gesekan.
Dan tanpa gesekan, kita kehilangan kebebasan.
Kata “digital” sendiri berasal dari kata Latin digitus, yang berarti “jari”. Manusia digital adalah manusia yang hanya menggunakan jarinya. Tetapi tindakan sejati membutuhkan tangan—bahkan seluruh tubuh.
Tanpa tindakan, tidak ada kebebasan.
Ketika kita hanya menyentuh layar, kita tidak bertindak. Kita hanya mengonsumsi.
Dan manusia yang hanya mengonsumsi kehilangan kebebasannya. Ia menjadi seperti ternak.
Budak masih bisa memberontak. Budak masih memiliki resistensi. Tetapi ternak tidak memberontak. Ternak tidak melihat pagar sebagai penjara.
Dan itulah bahaya terbesar dunia digital: ia tidak menindas kita secara langsung—ia membuat kita nyaman, sampai kita tidak lagi menyadari bahwa kita telah kehilangan kebebasan kita.
Misalnya, seorang budak tahu bahwa pagar adalah penjara. Ia sadar bahwa dirinya terkurung, dan karena itu, di dalam dirinya masih ada kemungkinan perlawanan. Tetapi ternak tidak melihat pagar sebagai penjara. Ia tetap tinggal di dalamnya, karena di sana ada makanan. Ia tidak ingin pergi. Ia tidak melawan.
Dan justru itulah bentuk kekuasaan yang paling efektif—bukan kekuasaan yang menindas secara langsung, tetapi kekuasaan yang membuat kita tidak lagi ingin melawan.
Gerakan sederhana seperti mengetuk dan menggeser layar smartphone ternyata memiliki dampak yang sangat besar terhadap hubungan kita dengan dunia dan dengan orang lain. Informasi yang tidak kita sukai kita singkirkan dengan satu gerakan jari. Informasi yang kita sukai kita perbesar dengan sentuhan. Dunia menjadi sesuatu yang sepenuhnya berada di ujung jari kita.
Smartphone membuat dunia tunduk pada keinginan kita. Segalanya menjadi sesuatu yang bisa kita pilih, kita kendalikan, kita konsumsi. Dunia kehilangan keasingannya. Dunia tidak lagi berdiri di hadapan kita sebagai sesuatu yang lain. Ia menjadi sekadar objek konsumsi.
Dan ketika dunia menjadi objek konsumsi, kita kehilangan hubungan dengannya.
Hubungan sejati dengan dunia seharusnya bersifat dialogis—sebuah perjumpaan antara diri dan sesuatu yang lain. Tetapi ketika dunia hanya menjadi objek konsumsi, dialog itu menghilang. Kita tidak lagi bertemu dunia—kita hanya mengonsumsi citranya.
Akibatnya, kita kehilangan dunia itu sendiri.
Dan ketika seseorang kehilangan dunia, ia jatuh ke dalam depresi.
Depresi adalah keadaan di mana dunia menghilang. Yang tersisa hanyalah diri sendiri, terperangkap di dalam dirinya sendiri. Ia tidak lagi bertemu sesuatu yang lain—hanya dirinya sendiri, berulang-ulang, tanpa jalan keluar.
Digitalisasi berkontribusi pada keadaan ini.
Ibu jari kita, yang kita gunakan untuk memesan makanan, membeli barang, atau menggeser layar, secara perlahan membentuk cara kita memandang dunia. Segalanya menjadi sesuatu yang bisa dipesan. Segalanya menjadi produk.
Bahkan manusia lain pun mulai diperlakukan dengan cara yang sama.
Di Eropa, misalnya, ada aplikasi kencan seperti Tinder. Di sana, seseorang hanya perlu menggeser layar untuk menerima atau menolak orang lain. Dengan satu gerakan jari, orang lain menjadi objek pilihan. Mereka tidak lagi hadir sebagai pribadi yang lain, tetapi sebagai objek konsumsi—objek untuk memuaskan keinginan.
Dengan cara ini, dunia kehilangan “yang lain”.
Dan ketika yang lain menghilang, kita menjadi sendirian. Kita kehilangan dunia. Kita jatuh ke dalam kesepian dan depresi.
Smartphone membuat segalanya menjadi halus, licin, tanpa resistensi. Layar sentuhnya tidak melawan. Ia selalu patuh. Ia selalu menyenangkan. Ia selalu berkata “ya”.
Tetapi justru karena itu, ia menghilangkan pengalaman perjumpaan yang sejati.
Digitalisasi menghilangkan resistensi. Ia menghilangkan tubuh. Ia menghilangkan perlawanan yang sebenarnya diperlukan agar kita bisa menjadi diri kita sendiri.
Tanpa resistensi, tanpa yang lain, diri kita tidak bisa terbentuk.
Kebebasan bukanlah keadaan tanpa yang lain. Kebebasan justru lahir dari hubungan dengan yang lain—dari perjumpaan dengan sesuatu yang melawan kita, menantang kita, membentuk kita.
Jika yang lain dihilangkan, maka kebebasan pun menghilang.
Hari ini, untuk memahami masyarakat kita, kita harus memahami apa itu informasi.
Informasi muncul secara instan. Ia merangsang kita, lalu menghilang. Ia tidak bertahan. Ia tidak memiliki durasi. Ia tidak memberi kita sesuatu untuk tinggal bersamanya.
Kebahagiaan, sebaliknya, membutuhkan durasi. Kebahagiaan membutuhkan kemampuan untuk tinggal—untuk berhenti, untuk memperhatikan, untuk mengalami sesuatu secara mendalam.
Sebuah taman adalah ruang untuk tinggal. Ketika saya bekerja di taman, saya tinggal di sana. Ketika saya bermain piano, saya tinggal di sana. Tetapi masyarakat informasi membuat kita tidak lagi mampu tinggal. Kita menjadi pemburu informasi.
Kita berjalan di jalan, dan smartphone berbunyi: pesan masuk, notifikasi, pesan lagi. Pikiran kita terus ditarik ke tempat lain. Kita tidak pernah benar-benar hadir di mana kita berada.
Informasi membuat kita gelisah. Ia membuat kita curiga. Kita tidak tahu lagi mana yang benar. Kita hidup dalam masyarakat ketidakpercayaan.
Selain itu, informasi bergerak terlalu cepat.
Demokrasi, sebaliknya, membutuhkan waktu. Ia membutuhkan diskusi. Ia membutuhkan pertimbangan. Ia membutuhkan kesabaran. Tetapi komunikasi digital—seperti Twitter—terjadi secara instan. Ia tidak memberi ruang bagi refleksi. Ia merangsang reaksi cepat, bukan pemikiran mendalam. Karena itu, digitalisasi mengancam demokrasi.
Informasi juga menghancurkan stabilitas waktu. Ia memecah waktu menjadi fragmen-fragmen pendek. Segalanya menjadi sementara. Tidak ada lagi durasi yang panjang.
Padahal hal-hal paling penting dalam hidup—kepercayaan, janji, komitmen—membutuhkan waktu.
Janji, misalnya, menghubungkan masa kini dengan masa depan. Ia memberi stabilitas pada hidup kita. Tetapi dalam masyarakat informasi, janji kehilangan maknanya. Segalanya bisa dibatalkan kapan saja. Akibatnya, hidup menjadi tidak stabil.
Kita kehilangan kemampuan untuk tinggal. Kita kehilangan kemampuan untuk mengalami.
Pengalaman sejati membutuhkan waktu. Ia membutuhkan kehadiran yang penuh. Tetapi ketika kita terus berpindah dari satu informasi ke informasi lain, kita tidak benar-benar mengalami apa pun.
Kita mengetahui banyak hal, tetapi kita tidak mengalami apa pun secara mendalam.
Kita memiliki banyak koneksi, tetapi tidak memiliki komunitas. Kita memiliki banyak pengikut, tetapi tidak memiliki pertemuan sejati.
Inilah yang saya sebut sebagai nihilisme baru—nihilisme informasi.
Ini bukan nihilisme lama, seperti yang dibicarakan Nietzsche, di mana nilai-nilai lama runtuh. Ini adalah nihilisme di mana segala sesuatu menjadi informasi—sesuatu yang instan, sementara, dan tidak bisa menjadi dasar bagi makna.
Informasi tidak memiliki kekuatan untuk menyatukan masyarakat. Ia justru memecah. Ia menciptakan gaya sentrifugal—gaya yang mendorong segala sesuatu menjauh, terpisah, terfragmentasi.
Dalam masyarakat seperti ini, bahkan perbedaan antara kebenaran dan kebohongan mulai menghilang.
Kebohongan tradisional masih mengandaikan adanya kebenaran. Seseorang hanya bisa berbohong jika kebenaran masih ada sebagai acuan.
Tetapi fenomena seperti fake news berbeda.
Fake news bukan sekadar kebohongan. Ia adalah gejala dunia di mana perbedaan antara kebenaran dan kebohongan itu sendiri mulai runtuh. Dunia di mana informasi menggantikan kebenaran.
Dan ketika kebenaran menghilang, manusia kehilangan arah. Ia kehilangan dunia. Ia kehilangan dirinya sendiri.
Ketika Donald Trump dengan berani membuat klaim apa pun yang sesuai dengan kepentingannya, ia tampak seperti seorang pembohong klasik—seseorang yang secara sadar memutarbalikkan kenyataan. Namun sebenarnya, ia bahkan tidak bisa disebut pembohong dalam arti klasik. Mengapa? Karena ia adalah sosok yang tidak lagi peduli pada kebenaran itu sendiri.
Ia adalah figur khas dari masyarakat yang didominasi oleh informasi—sebuah masyarakat di mana kebenaran tidak lagi menjadi pusat, dan digantikan oleh arus informasi yang terus berubah.
Seperti yang telah saya katakan, kebenaran memiliki waktu yang berbeda dari informasi. Informasi hidup dalam momen yang sangat singkat. Ia muncul, lalu menghilang. Tetapi kebenaran memiliki kesinambungan. Ia bertahan. Ia memberi stabilitas pada hidup kita.
Hannah Arendt menekankan hal ini dengan sangat jelas. Ia mengatakan: kebenaran memberi kita tempat untuk berpijak. Kebenaran adalah tanah tempat kita berdiri, dan langit yang terbentang di atas kita. Tanah dan langit itulah yang memungkinkan manusia untuk hidup.
Namun hari ini, tatanan dunia yang kokoh itu digantikan oleh tatanan digital. Informasi tidak memiliki kestabilan eksistensial seperti kebenaran. Ia tidak memberi pijakan. Ia tidak memberi arah.
Akibatnya, kehidupan menjadi tidak stabil. Kita kehilangan orientasi. Kita kehilangan makna.
Saya pernah mengatakan bahwa informasi seperti sebuah bom. Tetapi ini adalah bom tanpa suara. Ia tidak meledak dengan dentuman. Ia meledak dalam keheningan. Ia perlahan menghancurkan hidup kita, persepsi kita, dan hubungan kita dengan dunia—tanpa kita sadari.
Kita berubah, tetapi kita tidak merasakan perubahan itu.
Kita menjadi seperti ternak, tetapi kita tidak menyadarinya.
Dan itulah bahaya terbesar dari masyarakat informasi.
Di akhir kuliah, saya ingin mengatakan ini:
Kebenaran diusir oleh kebisingan informasi.
Kebenaran diterbangkan oleh angin digital yang berputar tanpa henti.
Kebenaran menjadi sesuatu dari masa lalu.
:::
Moderator: Kuliah yang baru saja kita dengarkan sangat mengesankan. Menunjukkan dengan tajam masalah masyarakat modern. Profesor Han menjelaskan bahwa kegembiraan dan kebahagiaan bukanlah hal yang sama. Kegembiraan lebih bersifat mental, sementara kebahagiaan bersifat fisik—ia datang melalui tangan, melalui tindakan tubuh.
Informasi dan peradaban digital dapat memberi kegembiraan sesaat, tetapi itu hanyalah fragmen waktu. Ia tidak menciptakan waktu yang utuh. Sebaliknya, tindakan yang memberi kebahagiaan adalah tindakan yang membutuhkan waktu—tindakan yang melibatkan tubuh, kesabaran, dan kehadiran.
Selain itu, Profesor Han menekankan bahwa informasi dan kebenaran bukanlah hal yang sama. Kita harus mencari kebenaran, karena melalui kebenaran—dan melalui tubuh—kita dapat menemukan kebahagiaan.
Kemudian, seorang profesor lain menanggapi dengan mengingat kata-kata Heidegger:
“Berpikir adalah kerja tangan.”
Ia mengatakan bahwa ini sulit dipahami oleh generasi sekarang, karena banyak orang tidak lagi bekerja dengan tangan mereka. Mereka tidak lagi membuat sesuatu secara fisik. Namun ketika tangan bergerak, pikiran menjadi hidup.
Ada hubungan yang mendalam antara tangan dan pikiran.
Profesor Han menambahkan bahwa hal ini juga berlaku dalam seni. Seni sejatinya adalah kerja tangan. Tetapi di era digital, bahkan seni mulai kehilangan tangan. Orang menjadi seniman tanpa menyentuh material. Mereka kehilangan hubungan dengan dunia fisik.
Dan ketika kita kehilangan tangan, kita juga kehilangan kebahagiaan.
Ia juga mengutip penyair Paul Celan, yang mengatakan bahwa tekanan tangan memiliki makna. Ketika kita berjabat tangan dengan seseorang, kita tidak hanya menyentuh kulit mereka—kita menyentuh keberadaan mereka. Ada kerinduan di sana. Ada hubungan.
Namun dunia modern, terutama setelah pandemi, semakin menghilangkan sentuhan itu. Kita memiliki lebih banyak koneksi, tetapi lebih sedikit pertemuan. Kita berkomunikasi tanpa benar-benar bertemu.
Kita hidup dalam dunia tanpa sentuhan.
Dan dunia tanpa sentuhan adalah dunia yang kehilangan puisi, kehilangan hubungan, kehilangan kemanusiaannya.
Itulah tragedi masyarakat digital: kita semakin terhubung, tetapi semakin kehilangan dunia.
Apa itu distancing—menjaga jarak?
Hari ini, tanpa kita sadari, kita terus menjaga jarak satu sama lain. Ketika dunia semakin terdigitalisasi, jarak itu menjadi semakin dalam. Kita masih berkomunikasi, tetapi kita tidak lagi benar-benar bersentuhan. Pandemi coronavirus memperparah keadaan ini, tetapi sebenarnya proses itu sudah dimulai jauh sebelumnya—digitalisasi telah lebih dulu menjauhkan kita dari satu sama lain.
Kita hidup dalam masyarakat yang penuh komunikasi, tetapi tanpa kontak. Kita berbicara, mengirim pesan, dan berbagi informasi tanpa henti, tetapi kita jarang benar-benar menyentuh, benar-benar hadir, benar-benar bertemu.
Padahal, sentuhan memiliki makna yang sangat dalam.
Ada hormon bernama oksitosin—hormon kebahagiaan—yang dilepaskan ketika kita bersentuhan. Ketika seorang ibu menyentuh anaknya, ketika dua orang berjabat tangan, ketika seseorang memeluk orang lain, oksitosin dilepaskan. Hormon ini menciptakan rasa kepercayaan, kedekatan, dan kebahagiaan.
Namun dalam masyarakat digital, sentuhan semakin menghilang. Komunikasi tetap ada, tetapi kontak menghilang. Dan bersama hilangnya kontak, kebahagiaan pun perlahan memudar.
Dulu, kehidupan dipenuhi oleh pertemuan nyata. Keluarga besar berkumpul. Tetangga saling membantu. Misalnya, ketika membuat kimchi, itu bukan hanya pekerjaan rumah tangga—itu adalah perayaan bersama. Orang-orang berkumpul, berbicara, tertawa, dan bekerja bersama.
Hari ini, semua itu menghilang.
Orang-orang hidup sendiri. Mereka menatap smartphone. Mereka berbicara melalui aplikasi. Tetapi mereka tidak lagi benar-benar hidup bersama.
Ekonomi berkembang pesat. Orang menghasilkan lebih banyak uang daripada sebelumnya. Tetapi kebahagiaan justru semakin berkurang.
Depresi meningkat. Kesepian meningkat.
Masalahnya adalah kita kehilangan apa yang dalam bahasa Jerman disebut presence—kehadiran sejati.
Smartphone hanya memberi kita representasi—gambar, informasi, simbol. Tetapi representasi bukanlah kehadiran.
Kehadiran adalah sesuatu yang menyentuh kita secara langsung.
Ketika saya berada di taman, menggali tanah, mencium aroma bunga, saya merasakan kehadiran dunia. Kehadiran itu memasuki tubuh saya. Ia memberi kebahagiaan.
Ketika saya melihat bunga secara langsung, kebahagiaan itu hidup.
Tetapi ketika kita melihat bunga melalui smartphone, kita tidak lagi mengalami kehadirannya. Kita hanya menerima informasi tentang bunga itu—namanya, spesiesnya, klasifikasinya. Informasi menggantikan pengalaman.
Dan sesuatu yang penting hilang.
Kita tidak lagi benar-benar melihat. Kita tidak lagi benar-benar mengalami.
Hari ini, ketika seseorang melihat bunga, ia segera mengambil smartphone, memotretnya, dan membagikannya. Ia mengubah bunga menjadi informasi.
Tetapi kebahagiaan tidak datang dari informasi. Kebahagiaan datang dari kehadiran.
Hal yang sama berlaku pada foto.
Saya memiliki album foto analog. Foto-foto itu bukan sekadar informasi bagi saya. Mereka adalah objek yang hidup. Ketika saya melihat foto lama, saya tidak hanya melihat gambar—saya merasakan kembali waktu itu. Saya merasakan kembali hubungan itu. Seolah-olah masa lalu menjadi hidup kembali.
Tetapi selfie berbeda. Selfie adalah informasi. Ia diambil, dibagikan, lalu dilupakan. Ia tidak memiliki kedalaman waktu.
Kehidupan seperti itu tidak bisa menjadi kehidupan yang benar-benar bahagia.
Hari ini, orang bahkan memotret makanan sebelum memakannya. Mereka tidak lagi mengalami makanan itu secara langsung. Mereka mengubahnya menjadi gambar, menjadi informasi.
Mereka tidak hidup. Tetapi mereka tidak menyadarinya.
Solusinya, sebenarnya, sangat sederhana—meskipun sulit.
Berjalanlah. Lihatlah langit. Lihatlah pohon. Hadirlah sepenuhnya di dunia.
Tetapi hari ini, bahkan seorang ibu yang berjalan dengan bayinya sering lebih memperhatikan smartphone daripada anaknya. Padahal, seorang anak menjadi manusia melalui perhatian. Melalui tatapan ibunya, ia merasakan cinta. Melalui cinta itu, ia menjadi diri yang utuh.
Tanpa perhatian, tanpa kehadiran, manusia menjadi kosong.
Karena itu, kita harus kembali ke dunia nyata. Kita harus kembali ke tangan kita. Kita harus kembali ke tubuh kita. Kita harus kembali ke pertemuan nyata dengan dunia dan dengan orang lain.
Beberapa gerakan kecil sudah mulai muncul. Misalnya, budaya menyalin buku dengan tangan—menulis ulang teks secara manual. Ini mungkin tampak sederhana, bahkan mekanis. Tetapi tindakan itu memiliki makna. Ia mengembalikan tangan ke dalam pengalaman berpikir.
Ketika tangan bergerak, pikiran menjadi hidup.
Manusia tidak bisa hidup sepenuhnya tanpa tangan. Kita tidak bisa hidup sepenuhnya tanpa sentuhan. Kita tidak bisa hidup sepenuhnya tanpa kehadiran.
Karena kebahagiaan tidak hidup dalam informasi. Kebahagiaan hidup dalam kehadiran.
Dalam sentuhan.
Dalam perlawanan.
Dalam dunia yang nyata.
Sekarang, mari kita ambil contoh pendidikan.
Jika kita ingin mengubah masyarakat, maka pendidikan harus berubah. Kita harus memperkenalkan kembali pengalaman yang nyata—pengalaman analog—sejak usia dini. Anak-anak perlu memiliki waktu untuk berkebun, waktu untuk bernyanyi, waktu untuk memainkan alat musik, waktu untuk bekerja dengan tangan mereka. Semua itu harus dimulai sejak taman kanak-kanak, dan dilanjutkan di sekolah dasar dan menengah.
Jika kita hanya mencoba melarang smartphone tanpa mengubah pendidikan, itu tidak akan berhasil. Kita harus memperkenalkan dunia yang lain—dunia pengalaman nyata—dan itu harus dimulai sejak masa kanak-kanak.
Namun masalahnya, para politisi tidak benar-benar peduli pada kebahagiaan manusia. Mereka berbicara tentang digitalisasi hanya dalam kaitannya dengan produktivitas, kekuasaan, dan kapital. Mereka mempercepat digitalisasi demi efisiensi dan keuntungan, bukan demi kehidupan manusia yang bermakna.
Itulah sebabnya kita membutuhkan perlawanan filosofis.
Bagi saya, menulis buku adalah bentuk perlawanan. Saya ingin menunjukkan bahwa dunia modern bukanlah masyarakat yang benar-benar bebas, tetapi dunia di mana manusia mengeksploitasi dirinya sendiri. Dunia di mana manusia menyalahkan dirinya sendiri, memaksa dirinya sendiri, dan perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Saya tidak memiliki solusi yang sederhana. Tidak ada solusi yang mudah.
Tetapi langkah pertama adalah kesadaran.
Banyak orang yang membaca buku saya menulis kepada saya dan mengatakan bahwa mereka ingin hidup secara berbeda. Itu adalah awal. Itu adalah pencerahan. Lebih banyak orang harus mulai menyadari apa yang sedang terjadi.
Kita juga membutuhkan dialog—antara filsuf, seniman, dan bahkan politisi. Kita membutuhkan kembali ruang-ruang pertemuan intelektual, seperti salon-salon filsafat di masa lalu, di mana orang bertemu, berbicara, berpikir bersama.
Hari ini, ruang seperti itu hampir menghilang.
Filsafat pernah menjadi bentuk perlawanan terhadap kapitalisme—terutama melalui para pemikir seperti Walter Benjamin, Theodor Adorno, dan para filsuf teori kritis Jerman. Gerakan mahasiswa tahun 1968 adalah salah satu bentuk perlawanan terakhir yang besar.
Tetapi hari ini, perlawanan itu semakin melemah.
Manusia tidak lagi merasa seperti budak yang ingin memberontak. Mereka telah menjadi seperti ternak—dan ternak tidak memberontak.
Itulah situasi kita sekarang.
Namun masih ada harapan—terutama dalam seni.
Seniman masih memiliki kemampuan untuk tinggal bersama sesuatu, untuk melihatnya dengan sabar, untuk mengalami dunia secara mendalam. Seorang seniman bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk menggambar satu objek. Dalam proses itu, ia benar-benar bertemu dunia.
Itulah sesuatu yang semakin hilang dari kehidupan modern: kemampuan untuk tinggal, untuk melihat, untuk mengalami.
Filsafat, seperti seni, membutuhkan keberanian.
Banyak orang berpikir bahwa menjadi filsuf adalah soal kecerdasan. Tetapi sebenarnya, yang paling penting adalah keberanian. Keberanian untuk hidup secara berbeda. Keberanian untuk meninggalkan keamanan. Keberanian untuk menghadapi ketidakpastian.
Saya sendiri hidup dalam kemiskinan selama bertahun-tahun. Saya tinggal di ruangan kecil tanpa pemanas. Saya tidur di atas kasur tipis. Saya kelaparan. Tetapi saya memilih hidup seperti itu, karena saya ingin menjadi seorang filsuf.
Bukan bakat yang paling penting. Yang paling penting adalah keberanian.
Jika Anda takut, Anda akan tetap berada di dalam pagar. Anda akan menjadi bagian dari sistem. Anda akan menjadi seperti ternak.
Tetapi jika Anda memiliki keberanian, Anda bisa melangkah keluar dari pagar itu.
Itulah awal dari kebebasan.
Pada akhirnya, masalah ini bukan hanya masalah Korea atau Jerman. Ini adalah masalah global. Di seluruh dunia, manusia menghadapi situasi yang sama—dunia yang didominasi oleh informasi, dunia yang kehilangan kedalaman, dunia yang kehilangan kehadiran.
Namun kesadaran adalah awal dari perubahan.
Perubahan dimulai ketika seseorang berhenti sejenak. Ketika ia meletakkan smartphone. Ketika ia menggunakan tangannya. Ketika ia kembali menyentuh dunia.
Karena kebahagiaan tidak ditemukan dalam layar.
Kebahagiaan ditemukan dalam dunia yang nyata—dalam tangan, dalam tubuh, dalam perjumpaan, dan dalam keberanian untuk hidup secara sungguh-sungguh.
:::
Komentar
Posting Komentar