Dari Tonal ke Atonal: Jejak Eksplorasi Musik Modern

 









Dalam musik, kadang satu nada saja bisa menjadi dasar. Satu nada itu bukan sekadar dibunyikan sekali, melainkan dijadikan sebuah pola—pola yang diulang-ulang. Dalam film, misalnya, kita sering mendengar gelas atau terompet yang dimainkan bukan sebagai satu nada tunggal, tetapi sebagai satu motif. Motif itu kemudian diulang dengan berbagai variasi: sedikit mengembang, lalu kembali lagi, seminimal mungkin.

Pendekatan seperti ini sebenarnya merupakan reaksi yang cukup ekstrem terhadap kecenderungan musik klasik, yang selama berabad-abad mengeksplorasi segala sesuatu secara maksimal. Musik klasik benar-benar “menghabiskan” potensinya: melodi dieksplorasi habis-habisan, menjadi berbaris-baris, masing-masing punya lini sendiri, jalur sendiri. Satu suara, dua suara, tiga suara tidak pernah cukup—bisa sampai sangat banyak. Bayangkan saja, sampai enam belas jalur sekaligus; itu berarti ada enam belas melodi berjalan bersamaan.

Semua itu adalah eksplorasi tonalitas. Tonalitas sendiri adalah konstruksi dalam musik: komposisi yang menata nada sedemikian rupa dengan “menganakemaskan” nada tertentu. Nada-nada itu membentuk kontur melodi. Musik tonal inilah yang dieksplorasi habis-habisan oleh musik klasik. Bisa dibilang, buku besar eksplorasi tonalitas itu sudah selesai ditulis oleh tradisi klasik.

Lalu, di abad ke-20, muncul reaksi yang berlawanan dalam musik modern. Bukan lagi tonal, melainkan atonal. Dalam musik atonal, tidak ada satu nada pun yang diistimewakan. Tidak ada kontur tonal yang diprioritaskan. Semua nada memiliki posisi dan nilai yang sama. Akibatnya, ketika kita mendengarnya, konstruksi melodinya terasa seperti kacau, acak-adut, seolah-olah siapa saja bisa langsung menekan nada apa saja.

Namun jangan salah. Musik atonal itu ditulis dengan sangat rapi dan perhitungan yang rumit. Walaupun terdengar tidak nyaman dan sulit dinikmati, ia bukanlah musik sembarangan. Atonal berarti memang tidak ada melodi yang “ramah” bagi telinga, karena pergerakan nadanya bebas dari satu pusat ke pusat lain. Tetapi justru di situlah kompleksitasnya.

Contoh atonal yang cukup ekstrem bisa kita dengar dari karya berjudul Étude pour piano. Musiknya terasa heboh, pelit, dan sulit dinikmati—dan memang begitu adanya. Di Indonesia sendiri, ada komposer-komposer yang mengolah musik atonal, tetapi kemudian memadukannya dengan khazanah lokal. Ini juga menjadi ciri musik modern: eksplorasi, termasuk eksplorasi karakter lokal.

Salah satu komposer terkemuka Indonesia adalah Selamat Abdul Syukur, tokoh musik kontemporer yang telah lama berkarya. Ia mengeksplorasi musik modern dengan akar lokal. Salah satu muridnya yang sangat menarik adalah Tony Prabowo. Awalnya ia belajar jalur musik modern Barat, lalu berkembang menjadi komposer yang sangat menonjol dan piawai, hingga mendapat banyak pesanan dari berbagai penjuru dunia. Karyanya sering dipentaskan, termasuk di Juilliard School of Music di New York.

Ada semacam “aturan tak tertulis”: seorang seniman dari Indonesia harus lebih dulu membuktikan bahwa ia menguasai musik Barat. Setelah itu, ketika ia membawa gamelan atau unsur Indonesia, dunia Barat justru akan berebut mendengarkan. Tony Prabowo adalah contoh tipe seperti ini.

Selain eksplorasi tonalitas dan karakter lokal, musik modern juga mengeksplorasi karakter sonorik—karakter bunyi. Nada hanyalah bunyi yang sudah dimodifikasi, tetapi bunyi sendiri jauh lebih luas. Musik modern tidak lagi hanya bermain dengan nada, melainkan dengan bunyi dalam arti yang paling luas: ritme, benda-benda, bahkan bunyi elektronik.

Bunyi bisa dikaitkan dengan ritme, dengan objek, dengan tubuh. Nanti kita bisa melihat contoh eksplorasi ritme dan benda, juga eksplorasi bunyi elektronik—memadukan DJ, komputer, dan teknologi. Di Bandung, misalnya, ada beberapa kelompok yang mengeksplorasi musik elektronik dengan karakter berbeda-beda.

Eksplorasi bunyi juga mencakup vokal. Teknik vokal dalam musik modern bisa sangat canggih dan rumit, tetapi bukan vokal Barat klasik. Cara menyanyi seperti seriosa tidak berlaku di sini. Di Indonesia, kita punya teknik vokal luar biasa: dari Minangkabau, Aceh, sampai tradisi mengaji—semuanya memiliki kompleksitas musikal yang tinggi dan khas. Inilah potensi musikal manusia yang dieksplorasi oleh musik modern.

Karena itu, Tony Prabowo tidak ragu menggunakan hampir segala hal sebagai sumber bunyi. Instrumen dimainkan dengan cara lain, benda apa pun bisa digunakan. Indonesia, dalam konteks ini, sebenarnya sangat kaya—asal tahu cara mengolahnya.

Eksplorasi sonorik ini bisa berupa bunyi, vokal, ritme, dan benda. Salah satu contoh lain adalah eksplorasi ritme menggunakan benda-benda sehari-hari, dengan titik berat pada ritme. Di dunia Barat modern, bahkan hal yang sederhana pun harus dikemas secara canggih. Etos kecanggihan ini belum sepenuhnya hadir di Indonesia, tetapi dalam konteks musik modern, eksplorasi tradisi tetap perlu dikemas dengan kompleksitas dan pemikiran yang matang.

Selain itu, ada juga kecenderungan lain: recycle atau hibrid. Menggunakan bahan lama dalam konteks baru. Banyak grup rock yang memakai nyanyian Gregorian, misalnya—baik dipadukan dengan rock maupun diolah menjadi musik new age. Dunia klasik masuk ke dunia pop, dan sebaliknya.

Setelah itu, kita beralih ke urusan UAS. UAS ada dua. Pertama, refleksi atas perkuliahan ini. Bukan sekadar resume bahan kuliah, tetapi penelusuran kesadaran dan pengalaman: apa yang kamu dapatkan, bagian mana yang paling mengesankan, tugas mana yang paling berarti, dan kenapa. Refleksi ini bisa ditulis dengan menelusuri perjalanan dari awal perkuliahan sampai akhir. Panjangnya bebas.

Yang kedua adalah karya seni. Bentuknya bebas: musik, foto, video klip, cerpen, puisi, lukisan, apa pun. Yang penting adalah mengalami proses kreatif—mengolah tema, mengekspresikannya secara simbolik, dan menjalani penciptaan itu sendiri.

Contents: 

[00:00] - Musik Modern vs Musik Klasik
Penjelasan mengenai perbedaan mendasar antara musik klasik yang cenderung eksplosif dan maksimal dengan musik abad ke-20 yang justru mencari sisi minimalis serta repetisi motif yang sederhana.

[02:32] - Eksplorasi Musik Atonal
Pembahasan mengenai reaksi terhadap musik tonal klasik melalui musik atonal, di mana tidak ada nada yang diutamakan (di-anakemaskan), sehingga menciptakan struktur yang terdengar kacau namun sebenarnya ditulis dengan perhitungan yang sangat rumit.

[04:10] - Musik Kontemporer dan Karakter Lokal Indonesia
Mengulas bagaimana komposer Indonesia seperti Slamet Abdul Sjukur memadukan tradisi modern dengan khazanah lokal, seperti karya "Tabuhan Sungut".

[05:36] - Sosok Tony Prabowo dan Pengakuan Global
Profil Tony Prabowo sebagai komposer yang piawai dalam teknik musik Barat namun tetap memasukkan unsur keindonesiaan, serta keberhasilannya menembus panggung internasional seperti di Juilliard School.

[07:04] - Eksplorasi Karakter Sonorik dan Bunyi
Penjelasan bahwa musik modern tidak hanya fokus pada nada, tetapi juga mengeksplorasi karakter sonorik atau bebunyian yang lebih luas, termasuk penggunaan teknologi elektronik dan bunyi benda sehari-hari.

[13:35] - Teknik Vokal dan Instrumen Unik
Demonstrasi penggunaan vokal yang tidak lazim (bukan seriosa klasik) serta cara memainkan instrumen tradisional (seperti kecapi) dengan teknik yang baru dan eksperimental.

[20:12] - Eksplorasi Ritme dan Benda (Stomp)
Pembahasan mengenai penggunaan benda apa pun sebagai instrumen musik dengan menitikberatkan pada kecanggihan ritme, seperti yang dilakukan oleh kelompok "Stomp".

[22:33] - Fenomena Recycle dan Musik Hibrida
Uraian tentang tren daur ulang (recycle) bahan lama ke dalam konteks baru, serta munculnya musik hibrida yang mencampurkan elemen musik religius (Gregorian) dengan genre modern seperti New Age atau Rock.

[25:03] - Penjelasan Tugas Akhir (UAS) Mahasiswa
Bambang I. Sugiharto memberikan arahan mengenai tugas akhir yang terdiri dari refleksi pengalaman belajar dan pembuatan karya seni orisinal dari berbagai medium (musik, foto, cerpen, dll).

[27:18] - Apresiasi Maestro: Wolfgang Amadeus Mozart 
Penutup sesi dengan menonton film dokumenter/biografi mengenai kejeniusan Mozart dan perbandingannya dengan kakaknya yang juga brilian namun kurang dikenal secara historis.


Full Season: Kuliah "ESTETIKA" bersama Pa Bambang Sugiharto: https://ytpustakamatahari.blogspot.com/2026/02/estetika-bambang-i-sugiharto.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar Filsafat - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Filsafat Kontemporer - Bambang I. Sugiharto

Apa Itu Filsafat?... - Pengantar Filsafat 01 - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Pemikiran Modern - Bambang I. Sugiharto

METAFISIKA KEBUDAYAAN - Bambang I. Sugiharto

Filsafat Ilmu - Bambang I. Sugiharto

Nietzsche & Keberanian Jadi Diri Sendiri

Postmodernisme

HERMENEUTIK - Bambang I. Sugiharto

Écrits dan Arsitektur Kajian Subjek - Lacan