Buku Sadhana karya Rabindranath Tagore lahir dari upaya menafsirkan kembali spiritualitas India dalam menghadapi krisis makna manusia modern. Tagore tidak memahami agama sebagai dogma atau pelarian dari dunia, melainkan sebagai pengalaman hidup yang menyatu dengan tindakan, cinta, keindahan, dan tanggung jawab sosial. Melalui pembacaan kreatif atas ajaran Upanishad, ia menegaskan bahwa Tuhan bukan realitas yang jauh dan abstrak, tetapi kehadiran yang hidup dalam relasi manusia dengan alam, sesama, dan dirinya sendiri. Sadhana dengan demikian adalah refleksi tentang bagaimana manusia dapat menemukan makna terdalam hidup tanpa memutuskan diri dari dunia nyata.
Secara etimologis, sādhana berasal dari akar Sanskerta √sādh, yang berarti mencapai atau mewujudkan, sehingga menunjuk pada jalan atau proses aktif menuju realisasi kebenaran. Dalam kerangka ini, spiritualitas bukan hasil akhir yang dimiliki, melainkan perjalanan hidup yang terus dijalani. Tagore menegaskan bahwa manusia menjadi utuh bukan dengan menarik diri dari kehidupan, tetapi dengan menghidupi kehidupan secara penuh, ketika kesadaran pribadi meluas menuju kesatuan dengan yang universal. Sadhana adalah ajakan untuk menjadikan hidup itu sendiri sebagai jalan realisasi—sebuah proses “menjadi” yang tak pernah selesai, di mana kebenaran tidak sekadar dipahami, melainkan dihidupi.
SĀDHANĀ: Perwujudan Kehidupan
Oleh Rabindranath Tagore - pengarang Gitanjali
Kata Pengantar Penulis
Mungkin perlu dijelaskan sejak awal bahwa pokok bahasan dalam buku ini tidak dibahas dengan cara filsafat yang rumit, juga bukan dari sudut pandang seorang sarjana akademis. Penulis tumbuh dalam keluarga yang menjadikan teks-teks Upanishad sebagai bagian dari ibadah sehari-hari. Ia juga belajar dari teladan ayahnya, yang menjalani hidup dalam kedekatan yang mendalam dengan Tuhan, tanpa pernah mengabaikan tanggung jawabnya terhadap dunia, dan tanpa kehilangan minatnya yang tajam pada persoalan-persoalan kemanusiaan. Karena itu, melalui tulisan-tulisan ini, para pembaca—terutama di Barat—diharapkan dapat merasakan langsung roh kuno India sebagaimana hidup dalam teks-teks suci kami, dan sekaligus hadir nyata dalam kehidupan masa kini.
Semua ungkapan besar umat manusia seharusnya dinilai bukan dari huruf-hurufnya, melainkan dari rohnya—dari roh yang terus menyingkapkan diri seiring pertumbuhan kehidupan dalam sejarah. Kita memahami makna sejati Kekristenan bukan dengan membandingkan teks-teks lama, melainkan dengan melihat bagaimana ia hidup dan berwujud pada masa kini, meskipun bentuknya sering kali berbeda, bahkan secara mendasar, dari Kekristenan pada masa lalu.
Namun bagi banyak sarjana Barat, kitab-kitab suci besar India kerap dipandang hanya sebagai peninggalan masa silam, bernilai arkeologis dan retrospektif semata. Bagi kami, kitab-kitab itu justru memiliki makna yang hidup. Bahkan, sulit untuk tidak merasa bahwa maknanya perlahan menghilang ketika ia dipamerkan dalam kotak-kotak berlabel—seperti spesimen pikiran dan cita-cita manusia yang telah dimummikan, diawetkan selamanya dalam balutan erudisi, tetapi kehilangan denyut kehidupannya.
Makna kata-kata yang lahir dari pengalaman batin yang mendalam tidak pernah bisa dihabiskan oleh satu sistem penafsiran logis apa pun. Kata-kata semacam itu justru terus meminta penjelasan baru melalui pengalaman hidup tiap individu. Setiap kali disingkap kembali, ia tidak menjadi lebih sederhana, melainkan justru bertambah kaya dan penuh misteri.
Bagi saya, syair-syair Upanishad dan ajaran Buddha selalu merupakan perkara roh. Karena itu, keduanya memiliki daya hidup yang terus bertumbuh tanpa batas. Saya menggunakannya, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam khotbah-khotbah saya, sebagai sumber makna yang bersifat sangat personal—sebagaimana juga bagi orang lain.
Makna itu saya hayati dan saya tawarkan untuk diuji melalui kesaksian hidup saya sendiri, yang justru memperoleh nilainya karena keunikannya sebagai pengalaman individual.
Perlu saya tambahkan bahwa tulisan-tulisan dalam buku ini disusun secara saling terhubung dan disesuaikan khusus untuk penerbitan ini. Gagasan-gagasan di dalamnya berasal dari sejumlah ceramah berbahasa Bengali yang biasa saya sampaikan kepada para murid di sekolah saya di Bolpur, Bengal.
Pada beberapa bagian, saya menggunakan terjemahan yang dikerjakan oleh sahabat-sahabat saya, Babu Satish Chandra Roy dan Babu Ajit Kumar Chakravarti. Tulisan terakhir dalam rangkaian ini, Perwujudan dalam Tindakan, diterjemahkan dari ceramah Bengali saya tentang Karma-yoga oleh keponakan saya, Babu Surendra Nath Tagore.
Pada kesempatan ini, saya menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada Profesor James H. Woods dari Universitas Harvard atas apresiasinya yang hangat, yang mendorong saya untuk menyelesaikan rangkaian tulisan ini serta membacakan sebagian besar isinya di Universitas Harvard. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Tuan Ernest Rhys atas kebaikannya dalam memberikan saran, membantu revisi, dan menelaah cetak percobaan naskah ini.
Satu kata perlu ditambahkan mengenai pelafalan Sādhanā: tekanan suara jatuh dengan tegas pada ā pertama, yang memiliki bunyi lebar dari huruf tersebut.
-Rabindranath Tagore.
HUBUNGAN INDIVIDU DENGAN SEMESTA
Peradaban Yunani kuno tumbuh dan dibesarkan di balik tembok-tembok kota. Bahkan hingga hari ini, hampir semua peradaban modern lahir dari buaian yang sama—bata dan semen.
Tembok-tembok itu tidak hanya membentuk kota, tetapi juga membentuk cara manusia memandang dunia. Perlahan, ia menanamkan prinsip “memecah dan menguasai” dalam kesadaran kita. Segala sesuatu yang ditaklukkan harus diamankan, dipisahkan, dan dibentengi. Bangsa dipisahkan dari bangsa, pengetahuan dari pengetahuan, manusia dari alam. Dari sini tumbuh kebiasaan mencurigai apa pun yang berada di luar batas-batas buatan kita, seolah-olah yang asing selalu mengancam dan harus membuktikan diri sebelum diterima.
Keadaan yang sangat berbeda dijumpai ketika para Arya pertama kali tiba di India. Saat itu, India terbentang sebagai hamparan hutan yang luas. Alih-alih membangun tembok, para pendatang ini justru hidup berdampingan dengan alam. Hutan memberi mereka naungan dari terik matahari dan badai tropis, menyediakan padang penggembalaan bagi ternak, kayu untuk api kurban, serta bahan untuk membangun pondok-pondok sederhana.
Klan-klan Arya, dipimpin oleh para kepala keluarga patriarkal, menetap di kawasan hutan yang berbeda-beda—dipilih bukan karena tembok pertahanan, melainkan karena perlindungan alamiah, kelimpahan air, dan kecukupan pangan.
Dengan demikian, di India peradaban lahir di tengah hutan, dan dari asal-usul inilah ia memperoleh wataknya yang khas. Peradaban ini tumbuh dikelilingi oleh kehidupan alam yang luas—diberi makan dan pakaian olehnya—serta menjalin hubungan yang akrab dan terus-menerus dengan berbagai wujud alam yang selalu berubah.
Kehidupan semacam ini mungkin tampak, bagi sebagian orang, sebagai sesuatu yang melemahkan kecerdasan manusia dan menurunkan dorongan untuk maju. Namun pengalaman India kuno justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Hidup di hutan tidak menaklukkan pikiran manusia dan tidak mengeringkan energinya; ia hanya mengarahkannya ke tujuan yang berbeda. Karena terus hidup berdampingan dengan pertumbuhan alam yang hidup, manusia tidak terdorong untuk memperluas kekuasaan dengan membangun batas-batas dan tembok di sekeliling miliknya. Tujuannya bukan untuk memiliki, melainkan untuk mewujudkan; bukan untuk menguasai, melainkan untuk memperluas kesadaran dengan tumbuh bersama dan menyatu dengan lingkungannya.
Dari pengalaman ini tumbuh keyakinan bahwa kebenaran bersifat menyeluruh, bahwa tidak ada satu pun yang sungguh-sungguh terpisah dalam keberadaan. Kebenaran hanya dapat didekati melalui saling-menembusnya keberadaan kita dengan segala sesuatu yang ada. Mewujudkan keselarasan agung antara roh manusia dan roh dunia—itulah yang menjadi laku dan cita-cita para resi penghuni hutan India kuno.
Pada masa-masa berikutnya, datanglah zaman ketika hutan-hutan purba berganti dengan ladang-ladang pertanian, dan kota-kota makmur tumbuh di berbagai tempat. Kerajaan-kerajaan besar berdiri dan menjalin hubungan dengan kekuatan-kekuatan dunia. Namun bahkan di puncak kemakmuran materialnya, hati India tidak pernah benar-benar berpaling dari asal-usulnya. Dengan penuh hormat, ia terus menoleh pada cita-cita awal tentang perwujudan diri yang tekun dan martabat hidup sederhana para pertapa hutan. Dari sanalah India selalu menarik ilham terbaiknya.
Barat kerap membanggakan diri dengan gagasan bahwa manusia sedang menaklukkan alam—seolah-olah kita hidup di dunia yang bermusuhan, dan harus merebut apa yang kita perlukan dari tatanan yang asing dan enggan. Cara pandang ini lahir dari kebiasaan hidup di balik tembok-tembok kota. Dalam kehidupan kota, manusia cenderung memusatkan seluruh perhatiannya pada dirinya sendiri dan pada hasil karyanya. Tanpa disadari, ini menciptakan jarak buatan antara manusia dan Alam Semesta, padahal ia sesungguhnya hidup di dalam pangkuannya.
India memandang dunia dengan cara yang berbeda. Dunia dan manusia dirangkul sebagai satu kebenaran besar. Penekanan diletakkan pada keselarasan antara yang individual dan yang universal. India merasakan bahwa kita tidak mungkin memiliki hubungan apa pun dengan lingkungan jika lingkungan itu sepenuhnya asing bagi kita. Memang, manusia harus berusaha untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi usaha itu tidak sia-sia. Setiap hari ia menuai hasil, dan dari situlah tampak bahwa ada hubungan yang rasional antara manusia dan alam. Kita tidak pernah benar-benar dapat memiliki sesuatu kecuali apa yang memang memiliki hubungan dengan diri kita.
Sebuah jalan dapat dipandang dengan dua cara. Ia bisa dilihat sebagai pemisah antara kita dan tujuan, sehingga setiap langkah terasa sebagai paksaan yang melelahkan. Namun ia juga bisa dipandang sebagai jalan yang menuntun kita menuju tujuan—sehingga jalan itu sendiri sudah menjadi bagian dari pencapaian. Dengan menempuhnya, kita tidak memaksa apa pun, melainkan menerima apa yang memang ditawarkannya. Cara pandang inilah yang diambil India terhadap alam. Bagi India, kenyataan yang paling mendasar adalah keselarasan: manusia dapat berpikir karena pikirannya selaras dengan benda-benda; ia dapat memanfaatkan kekuatan alam karena kekuatannya selaras dengan kekuatan yang universal; dan pada akhirnya, tujuan hidup manusia tidak pernah bertentangan dengan tujuan yang bekerja melalui alam itu sendiri.
Di Barat, pandangan yang umum adalah bahwa alam sepenuhnya milik benda-benda tak bernyawa dan dunia hewan, sementara pada titik tertentu—yang terasa tiba-tiba dan sulit dijelaskan—kodrat manusia dimulai. Dalam cara pandang ini, segala sesuatu yang berada di tingkat bawah kehidupan disebut alam, sedangkan apa pun yang memuat kesempurnaan, baik intelektual maupun moral, dianggap sebagai wilayah manusia. Pemisahan ini serupa dengan memisahkan kuncup dan bunga ke dalam dua kategori yang bertentangan, lalu mengaitkan keindahan masing-masing pada prinsip yang berbeda. Pikiran India tidak pernah menerima pemutusan semacam ini; ia dengan tenang mengakui kekerabatannya dengan alam dan hubungannya yang tak terputus dengan seluruh keberadaan.
Bagi India, kesatuan mendasar ciptaan bukan sekadar gagasan filsafat, melainkan tujuan hidup yang harus diwujudkan. Keselarasan agung itu diupayakan dalam perasaan dan tindakan sehari-hari—melalui meditasi, pengabdian, dan pengaturan hidup. Dengan cara ini, kesadaran dipupuk hingga segala sesuatu memperoleh makna spiritual. Bumi, air, dan cahaya; buah-buahan dan bunga-bunga—semuanya bukan sekadar gejala fisik untuk dimanfaatkan lalu ditinggalkan. Mereka diperlukan dalam pencapaian kesempurnaan, sebagaimana setiap nada diperlukan agar sebuah simfoni menjadi utuh.
India secara intuitif merasakan bahwa fakta-fakta paling mendasar dari dunia ini memiliki makna yang hidup bagi manusia. Kita dipanggil bukan hanya untuk mengamatinya, melainkan untuk hidup sepenuhnya di dalamnya dan menjalin hubungan yang sadar dengannya. Hubungan ini tidak digerakkan oleh rasa ingin tahu ilmiah semata atau oleh hasrat akan keuntungan material, melainkan oleh semangat simpati—oleh rasa sukacita dan kedamaian yang luas.
Ilmu pengetahuan memang mengetahui, dalam satu segi, bahwa dunia bukanlah sekadar apa yang tampak bagi indra. Ia memahami bahwa bumi dan air adalah permainan kekuatan-kekuatan yang menampakkan diri sebagai bumi dan air, meskipun cara kerjanya hanya sebagian yang dapat dijelaskan. Namun manusia yang mata rohaninya terbuka melangkah lebih jauh. Ia mengetahui bahwa kebenaran terdalam tentang bumi dan air terletak pada penghayatan akan kehendak abadi yang bekerja di dalam waktu dan mengambil bentuk dalam kekuatan-kekuatan yang kita jumpai. Ini bukan sekadar pengetahuan, melainkan persepsi jiwa oleh jiwa.
Persepsi semacam ini tidak memberi kita kekuasaan, melainkan sukacita—sukacita yang lahir dari persatuan hal-hal yang seasal. Orang yang hubungannya dengan dunia tidak melampaui apa yang diberikan oleh ilmu pengetahuan saja, tidak akan memahami apa yang dialami oleh manusia bermata rohani dalam gejala-gejala alam. Bagi manusia semacam ini, air tidak hanya membersihkan tubuh, tetapi juga menyucikan hati; karena ia menyentuh jiwanya. Bumi tidak hanya menopang tubuh, tetapi menggembirakan pikiran; sebab sentuhannya adalah kehadiran yang hidup.
Selama seseorang tidak menyadari kekerabatannya dengan dunia, ia hidup seakan-akan di dalam rumah penjara, dengan dinding-dinding yang terasa asing dan dingin. Namun ketika ia mengenali roh abadi dalam segala sesuatu, saat itulah ia terbebaskan. Ia menemukan makna sepenuhnya dari dunia tempat ia dilahirkan. Pada saat itu, ia berada dalam kebenaran yang utuh, dan keselarasan antara dirinya dan keseluruhan pun ditegakkan.
Di India, manusia diajak untuk senantiasa terjaga akan kenyataan bahwa dirinya berada dalam hubungan yang paling erat dengan segala sesuatu di sekelilingnya—tubuh dan jiwa sekaligus. Matahari pagi, air yang mengalir, dan bumi yang berbuah disambut bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai perwujudan dari kebenaran hidup yang sama yang juga merangkul keberadaan manusia.
Karena itulah, teks meditasi harian kami adalah Gayatri, sebuah bait yang dianggap sebagai sari dari seluruh Veda. Melalui doa ini, manusia berusaha mewujudkan kesatuan hakiki antara dunia dan jiwa yang sadar. Di dalamnya, kami belajar menangkap bahwa satu Roh Abadi yang sama menciptakan bumi, langit, dan bintang-bintang, sekaligus menyinari pikiran kita dengan cahaya kesadaran—kesadaran yang hidup, bergerak, dan terus bersambung tanpa putus dengan dunia luar.
India tidak pernah berusaha meniadakan perbedaan nilai di antara berbagai hal, karena ia tahu bahwa tanpa perbedaan, hidup tidak mungkin berlangsung. Rasa akan keunggulan manusia dalam tatanan ciptaan tidak pernah absen. Namun India memiliki pandangan sendiri tentang di mana keunggulan itu sejatinya berada: bukan pada kekuasaan untuk memiliki, melainkan pada kemampuan untuk bersatu.
Karena itulah tempat-tempat ziarah di India dipilih di lokasi-lokasi di mana alam menyingkapkan keagungan atau keindahan yang istimewa. Di sanalah pikiran manusia ditarik keluar dari dunia kebutuhan yang sempit dan diingatkan akan tempatnya di dalam yang tak terbatas. Dari kesadaran inilah tumbuh peristiwa yang unik dalam sejarah manusia: suatu bangsa yang dahulu memakan daging, secara sadar meninggalkan makanan hewani demi menumbuhkan simpati universal terhadap kehidupan.
India memahami bahwa ketika manusia, dengan penghalang-penghalang fisik dan mental, memisahkan dirinya secara keras dari kehidupan alam yang tak berkesudahan; ketika ia menjadi sekadar manusia yang terkurung, bukan manusia-di-dalam-semesta—ia mulai menciptakan persoalan-persoalan yang membingungkan. Setelah menutup sumber pemecahannya sendiri, ia lalu mencoba berbagai jalan buatan, yang masing-masing hanya melahirkan kesulitan baru tanpa akhir.
Ketika manusia meninggalkan tempat istirahatnya di alam yang universal, dan berjalan hanya di atas tali sempit kemanusiaannya sendiri, hidup baginya menjadi pertaruhan antara tarian dan kejatuhan. Ia harus menegangkan setiap saraf dan otot untuk menjaga keseimbangan. Dan di sela-sela keletihan itu, ia melampiaskan amarahnya pada Penyelenggaraan Ilahi, sambil diam-diam memelihara kebanggaan pahit karena merasa diperlakukan tidak adil oleh seluruh tatanan keberadaan.
Namun keadaan ini tidak mungkin berlangsung selamanya. Manusia pada akhirnya harus menyadari keutuhan keberadaannya—tempatnya di dalam yang tak terbatas. Ia harus memahami bahwa betapapun keras usahanya, ia tidak akan pernah mampu menciptakan madunya sendiri di dalam sel-sel sarangnya, sebab sumber abadi dari kehidupan berada di luar dinding-dinding itu.
Ketika manusia menutup dirinya dari sentuhan yang menghidupkan dan menyucikan dari yang tak terbatas, lalu kembali hanya kepada dirinya sendiri untuk mencari pemeliharaan dan penyembuhan, ia justru mendorong dirinya ke dalam kegilaan. Ia mencabik-cabik dirinya sendiri dan hidup dengan memakan substansinya sendiri. Tanpa latar keseluruhan, kemiskinan kehilangan satu-satunya kebesaran yang dimilikinya—kesederhanaan—dan berubah menjadi kekumuhan yang memalukan. Kekayaan pun kehilangan kemurahan hatinya dan merosot menjadi sekadar penumpukan yang berlebihan.
Nafsu-nafsu tidak lagi melayani kehidupan dengan setia pada tujuannya. Ia berubah menjadi tujuan itu sendiri—membakar kehidupan, dan memainkan biola di bawah cahaya api yang ia nyalakan sendiri.
Pada saat itulah, ekspresi diri manusia tidak lagi bertujuan untuk menarik hati, melainkan untuk mengejutkan. Dalam seni, kita mengejar keaslian dan justru kehilangan pandangan akan kebenaran yang tua namun selalu baru. Dalam sastra, gambaran utuh tentang manusia—yang sederhana sekaligus agung—perlahan menghilang. Manusia tampil bukan sebagai pribadi yang utuh, melainkan sebagai persoalan psikologis, atau sebagai ledakan gairah yang ekstrem karena keanehannya, dipertontonkan di bawah sorotan cahaya yang keras dan buatan.
Ketika kesadaran manusia menyempit dan hanya berputar di sekitar lingkungan terdekat dari kemanusiaannya sendiri, akar-akar terdalam kodratnya tidak lagi menemukan tanah yang subur. Rohnya hidup di ambang kelaparan, dan sebagai pengganti kekuatan yang sehat, ia menukar dirinya dengan rangkaian rangsangan. Pada titik ini, manusia kehilangan perspektif batinnya. Ia mulai mengukur kebesaran dari ukuran, bukan dari keterhubungannya yang hidup dengan yang tak terbatas; menilai aktivitas dari gerak semata, bukan dari ketenteraman kesempurnaan—ketenteraman yang hadir di langit berbintang, dalam tarian ritmis ciptaan yang terus mengalir.
Penyerbuan pertama ke India memiliki padanan yang jelas dalam penaklukan Amerika oleh para pemukim Eropa. Mereka pun berhadapan dengan hutan-hutan purba dan perjuangan sengit melawan suku-suku asli. Namun di sana, pergulatan antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam, berlangsung tanpa pernah mencapai pendamaian. Di India, hutan-hutan yang dahulu menjadi hunian kaum barbar perlahan berubah menjadi tempat suci para resi. Di Amerika, sebaliknya, katedral-katedral hidup alam yang agung itu tidak pernah memperoleh makna rohani yang mendalam. Hutan-hutan tersebut menghadirkan kekayaan dan kekuasaan, kadang keindahan, bahkan ilham bagi penyair yang menyendiri; tetapi ia tidak menjadi ruang sakral tempat jiwa manusia bertemu dengan jiwa dunia.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa sejarah seharusnya berjalan dengan cara yang lain. Justru akan menjadi pemborosan besar bila sejarah harus mengulang dirinya secara seragam di setiap tempat. Demi pertukaran rohani umat manusia, yang terbaik adalah bila bangsa-bangsa yang berbeda membawa hasil yang berbeda pula ke dalam perbendaharaan kemanusiaan—hasil-hasil yang saling melengkapi dan saling dibutuhkan. Yang hendak saya tegaskan hanyalah bahwa India, pada awal perjalanannya, bertemu dengan perpaduan keadaan yang khas, dan ia tidak menyia-nyiakannya. Sesuai dengan peluang yang dimilikinya, India berpikir dan merenung, berjuang dan menderita, menyelam ke kedalaman keberadaan, dan mencapai sesuatu yang kiranya memiliki nilai bagi bangsa-bangsa lain yang menempuh jalan sejarah yang sama sekali berbeda. Demi pertumbuhan yang utuh, manusia memerlukan seluruh unsur kehidupan yang membentuk keberadaannya; itulah sebabnya makanannya harus diolah di ladang-ladang yang berbeda dan berasal dari sumber-sumber yang berlainan.
Peradaban adalah cetakan yang dengan tekun dibentuk oleh setiap bangsa untuk menempa laki-laki dan perempuan sesuai dengan cita-cita terbaiknya. Lembaga-lembaga, hukum-hukum, ukuran pujian dan kecaman, ajaran yang disadari maupun yang tersembunyi—semuanya diarahkan ke tujuan itu. Peradaban modern Barat, dengan segala organisasinya yang rapi, berusaha membentuk manusia yang sempurna dalam efisiensi fisik, intelektual, dan moral. Energi besar bangsa-bangsa dikerahkan untuk memperluas kekuasaan manusia atas lingkungannya. Mereka bersatu untuk memiliki, memanfaatkan, dan menaklukkan segala sesuatu yang dapat dijangkau. Alam dan bangsa-bangsa lain dilatih untuk dihadapi sebagai lawan; persenjataan semakin dahsyat, mesin dan organisasi berlipat ganda dengan kecepatan yang mencengangkan. Ini adalah pencapaian yang gemilang—sebuah perwujudan luar biasa dari penguasaan diri manusia yang mengejar supremasi atas segala sesuatu.
Peradaban India kuno memiliki cita-cita kesempurnaannya sendiri. Tujuannya bukanlah kekuasaan. Ia tidak mengarahkan seluruh tenaganya pada pengembangan kemampuan hingga batas maksimal, pada pengorganisasian manusia untuk tujuan pertahanan dan penyerangan, atau pada perebutan kekayaan serta keunggulan politik dan militer. Cita-cita India justru menuntun manusia-manusia terbaiknya ke dalam kehidupan kontemplatif. Kekayaan rohani yang dipersembahkannya kepada umat manusia—hasil dari penembusan misteri kenyataan—harus dibayar mahal dengan keterbatasan keberhasilan duniawi. Namun ini pun merupakan pencapaian yang luhur: sebuah perwujudan tertinggi dari aspirasi manusia yang tidak mengenal batas, yang tujuan akhirnya adalah perwujudan Yang Tak Terbatas.
Di India ada orang-orang berbudi luhur, para bijak dan pemberani; ada negarawan, raja-raja, dan kaisar-kaisar. Namun di antara semua golongan itu, siapakah yang akhirnya dipandang dan dipilihnya sebagai wakil tertinggi kemanusiaan?
Mereka itulah para rishi. Siapakah para rishi itu?
Mereka adalah orang-orang yang, setelah mencapai Jiwa Tertinggi melalui pengetahuan, dipenuhi oleh kebijaksanaan; yang setelah menemukan-Nya dalam penyatuan batin hidup selaras dengan diri sejatinya; yang setelah mewujudkan-Nya di dalam hati terbebas dari dorongan egoistis; dan yang setelah mengalami-Nya dalam seluruh aktivitas dunia mencapai ketenangan. Para rishi adalah mereka yang, setelah menjangkau Tuhan dari segala arah, menemukan kedamaian yang menetap, menjadi satu dengan segalanya, dan masuk ke dalam kehidupan Semesta.
Dengan demikian, di India, kesadaran akan keterhubungan kita dengan segala sesuatu—dan kemampuan untuk memasuki segala sesuatu melalui penyatuan dengan Tuhan—dipandang sebagai tujuan akhir dan pemenuhan sejati kemanusiaan.
Manusia memang dapat menghancurkan dan merampas, memperoleh dan menimbun, mencipta dan menemukan. Namun ia menjadi sungguh-sungguh agung hanya ketika jiwanya mampu merangkul segalanya. Kehancuran yang paling mengerikan menimpanya ketika ia membungkus jiwanya dalam cangkang kebiasaan-kebiasaan yang mati, ketika kerja yang buta berputar di sekelilingnya seperti badai debu yang menutup cakrawala. Yang benar-benar mati pada saat itu bukanlah tubuhnya, melainkan roh pemahamannya.
Pada hakikatnya, manusia bukanlah budak—baik bagi dirinya sendiri maupun bagi dunia. Ia adalah seorang pencinta. Kebebasan dan pemenuhannya terletak pada cinta, yang tidak lain adalah nama lain dari pemahaman yang sempurna. Melalui pemahaman inilah seluruh keberadaannya meresap ke dalam kehidupan, dan ia bersatu dengan Roh yang meresapi segalanya—Roh yang juga merupakan napas jiwanya sendiri. Namun ketika seseorang berusaha mengangkat dirinya dengan mendorong dan menyingkirkan orang lain, demi keistimewaan yang membuatnya merasa lebih unggul, saat itulah ia terasing dari Roh tersebut.
Inilah sebabnya Upanishad menyebut manusia yang telah mencapai tujuan hidupnya sebagai praçantāh—yang damai—dan yuktātmānah—yang menyatu dengan Tuhan. Artinya, mereka berada dalam keselarasan yang utuh dengan sesama manusia dan dengan alam, dan karena itu hidup dalam persatuan yang tak terganggu dengan Tuhan.
Kita menemukan kilasan kebenaran yang sama dalam ajaran Yesus ketika ia berkata bahwa lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga. Ungkapan ini menyiratkan bahwa apa pun yang kita simpan hanya untuk diri sendiri akan memisahkan kita dari sesama. Kepemilikan kita adalah batas kita. Orang yang terobsesi menimbun kekayaan, dengan ego yang terus menggelembung, tidak mampu melewati gerbang pemahaman rohani—gerbang keselarasan. Ia terkurung dalam tembok sempit dari miliknya sendiri.
Karena itu, roh ajaran Upanishad sederhana sekaligus radikal: untuk menemukan-Nya, engkau harus merangkul segalanya. Dalam pengejaran kekayaan semata, manusia justru melepaskan keseluruhan demi beberapa bagian kecil saja. Jalan itu bukanlah jalan menuju Dia yang adalah kepenuhan.
Sebagian filsuf modern Eropa—yang secara sadar atau tidak berutang pada Upanishad—menganggap Brahma India sebagai sekadar abstraksi, seolah Yang Tak Terbatas hanya dapat ditemukan dalam spekulasi metafisis. Pandangan semacam ini mungkin pernah hidup di kalangan tertentu, tetapi ia tidak mewakili roh sejati pemikiran India. Justru sebaliknya: upaya untuk mewujudkan dan menegaskan kehadiran Yang Tak Terbatas di dalam segala sesuatu telah menjadi sumber ilhamnya yang tak pernah padam.
Içāvāsyamidam sarvam yat kiñcha jagatyāñ jagat
Segala sesuatu yang ada di dunia ini diliputi oleh Tuhan.
Dan karena itu doa pun mengalir dengan kesadaran yang hidup:
Yo dēvō'gnau y'ōpsu y'ō viçvambhuvanamāvivēça ya ōshadhishu yō vanaspatishu tasmai dēvāya namōnamah
Aku bersujud berulang-ulang kepada Tuhan yang hadir di dalam api dan di dalam air, yang meresapi seluruh dunia, yang hidup dalam tanaman semusim dan pepohonan yang berumur panjang.
Di sinilah inti kebijaksanaan para rishi: bukan melarikan diri dari dunia, melainkan tinggal sepenuhnya di dalamnya—dengan mata yang melihat kesatuan, dengan hati yang damai, dan dengan jiwa yang telah pulang ke asalnya.
Dapatkah semua ini disebut sebagai Tuhan yang diabstraksikan dari dunia? Justru sebaliknya. Yang dimaksud di sini bukan sekadar melihat Tuhan di dalam segala sesuatu, melainkan memberi hormat kepada-Nya melalui seluruh kenyataan dunia. Dalam pandangan Upanishad, sikap manusia yang benar-benar sadar akan Tuhan terhadap semesta adalah sikap pemujaan yang mendalam. Objek pemujaannya hadir di mana-mana. Dialah satu kebenaran hidup yang menjadikan segala sesuatu sungguh nyata.
Kebenaran ini bukan hanya wilayah pengetahuan, melainkan juga wilayah bakti.
Namonamah—kami bersujud kepada-Nya di mana pun, dan berulang-ulang.
Kesadaran inilah yang meledak dalam luapan jiwa seorang resi, yang tiba-tiba menyapa seluruh dunia dengan ekstase sukacita:
Çrinvantu viçve amritasya putrā
ā ye divya dhāmāni tasthuh
vedāhametam purusham mahāntam
āditya varņam tamasah parastāt
“Dengarkanlah aku, wahai anak-anak dari roh yang tak fana,
wahai kalian yang berdiam di kediaman surgawi;
aku telah mengenal Pribadi Tertinggi
yang cahayanya bersinar dari balik kegelapan.”
Tidakkah di sini terasa kenikmatan yang meluap dari suatu pengalaman yang langsung dan positif—tanpa sedikit pun bayangan kekaburan atau kepasifan?
Buddha, yang mengembangkan sisi praktis dari ajaran Upanishad, menyampaikan kebenaran yang sejalan. Ia mengajarkan agar manusia memelihara hubungan kasih yang tak terbatas terhadap segala sesuatu—yang di atas maupun yang di bawah, yang jauh maupun yang dekat, yang tampak maupun yang tak tampak—tanpa permusuhan dan tanpa keinginan untuk melukai. Hidup dalam kesadaran seperti itu, baik ketika berdiri atau berjalan, duduk atau berbaring, hingga tertidur, itulah Brahma-vihāra: hidup, bergerak, dan bersukacita di dalam roh Brahma.
Apakah roh itu? Upanishad menjawab dengan tegas:
Yaçchāyamasminnākāçē
tējōmayō'mritamayah purushah
sarvānubhūh
Makhluk yang hakikatnya adalah cahaya dan kehidupan dari segala sesuatu, yang memiliki kesadaran dunia, itulah Brahma.
Merasakan segalanya, menyadari segalanya—itulah rohnya. Kita terbenam di dalam kesadarannya, tubuh dan jiwa sekaligus. Melalui kesadaran yang sama matahari menarik bumi; melalui kesadaran itu pula gelombang cahaya dipancarkan dari planet ke planet.
Dan Upanishad menegaskan lagi:
Yaçchāyamasminnātmani
tējōmayō'mritamayah purushah
sarvānubhūh
Bukan hanya di dalam ruang, tetapi cahaya dan kehidupan ini—keberadaan yang merasakan segalanya—juga hadir di dalam jiwa kita. Ia sepenuhnya sadar di dalam ruang, dunia keluasan; dan ia sepenuhnya sadar pula di dalam jiwa, dunia kedalaman.
Dengan demikian, untuk mencapai kesadaran-dunia, kita harus menyatukan perasaan kita dengan perasaan tak terbatas yang meresapi segalanya. Sesungguhnya, satu-satunya kemajuan manusia yang sejati berjalan seiring dengan meluasnya jangkauan perasaan ini. Seluruh puisi, filsafat, ilmu pengetahuan, seni, dan agama kita bekerja ke arah yang sama: memperluas cakrawala kesadaran menuju wilayah yang lebih tinggi dan lebih luas. Hakikat kemanusiaan tidak berkembang melalui penguasaan ruang yang lebih besar, juga bukan melalui sikap lahiriah semata. Hak-hak manusia meluas hanya sejauh dirinya sungguh nyata, dan ukuran kenyataan itu adalah keluasan kesadarannya.
Namun kebebasan kesadaran ini tidak diperoleh tanpa harga. Apakah harga itu? Penyerahan diri. Jiwa hanya dapat mewujudkan dirinya secara sejati dengan meniadakan klaim-klaimnya yang sempit. Upanishad menyatakannya dengan singkat dan tajam:
Tyaktēna bhuñjīthāh
Engkau akan memperoleh dengan memberi,
Mā gridhah
Engkau tidak boleh serakah.
Dalam Gita, kita diajak bekerja tanpa pamrih, melepaskan keterikatan pada hasil. Banyak orang menyimpulkan secara keliru bahwa sikap tanpa pamrih ini berakar pada pandangan bahwa dunia tidak nyata. Yang benar justru sebaliknya. Manusia yang menjadikan pembesaran egonya sebagai tujuan utama justru meremehkan segala sesuatu yang lain. Di hadapan egonya, dunia menjadi tidak nyata. Maka, agar seseorang dapat sungguh-sungguh sadar akan kenyataan segala sesuatu, ia harus membebaskan dirinya dari belenggu hasrat pribadi.
Disiplin inilah yang mempersiapkan kita untuk tugas-tugas sosial: untuk ikut memikul beban sesama manusia. Setiap usaha menuju kehidupan yang lebih luas menuntut kita untuk “memperoleh dengan memberi” dan “tidak serakah”. Dengan cara inilah, perjuangan umat manusia bergerak—memperluas secara perlahan kesadaran akan kesatuan diri dengan segala sesuatu.
Yang Tak Terbatas di India bukanlah kehampaan yang tipis, bukan ketiadaan yang kosong dari isi. Para rishi India menegaskannya tanpa ragu:
Iha chēt avēdit atha satyamasti,
nachēt iha avēdit mahatī vinaṣṭiḥ
“Mengenal-Nya dalam kehidupan ini adalah kebenaran; tidak mengenal-Nya dalam kehidupan ini adalah kehancuran besar.”
Lalu bagaimana cara mengenal-Nya?
Bhūtēṣu bhūtēṣu vichintva
“Dengan mewujudkan-Nya di dalam masing-masing dan di dalam semuanya.”
Bukan hanya di alam, tetapi juga di dalam keluarga, masyarakat, dan negara. Semakin kita mewujudkan Kesadaran-Dunia di dalam segala hubungan kehidupan, semakin kita bertumbuh. Gagal melakukannya berarti memalingkan wajah menuju kehancuran.
Kesadaran ini memenuhi saya dengan sukacita yang dalam dan harapan yang besar bagi masa depan kemanusiaan, ketika saya mengingat bahwa pernah ada suatu masa, jauh di masa lampau, saat para penyair-nabi kita berdiri di bawah sinar matahari India yang berlimpah dan menyapa dunia dengan pengakuan penuh kegembiraan akan kekerabatan. Ini bukan halusinasi antropomorfis—bukan memproyeksikan wajah manusia ke mana-mana, bukan pula melihat drama manusia dipentaskan dalam skala kosmik. Ini adalah keberanian untuk melampaui batas-batas individu, menjadi lebih dari sekadar manusia, dan menyatu dengan Yang Semua.
Ini bukan permainan khayalan, melainkan pembebasan kesadaran dari segala mistifikasi dan pembesaran diri yang palsu. Para peramal kuno ini merasakan, dalam keheningan terdalam batin mereka, bahwa energi yang sama yang bergetar dan mengalir dalam bentuk-bentuk dunia yang tak berujung itu juga mewujud sebagai kesadaran di dalam diri kita. Tidak ada pemutusan dalam kesatuan ini.
Bagi mereka, bahkan kematian pun bukanlah jurang dalam kenyataan. Mereka berkata:
Yasya chhāyāmṛitam yasya mṛityuḥ
“Bayangan-Nya adalah kematian sekaligus keabadian.”
Mereka tidak melihat pertentangan hakiki antara hidup dan mati, dan dengan keyakinan penuh menyatakan:
Prāṇo mṛityuḥ
“Hidup itu sendiri adalah kematian.”
Dan dengan ketenangan yang sama penuh sukacita, mereka memberi salam kepada kehidupan dalam seluruh iramanya:
Namō astu āyatē namō astu parāyatē.
Prāṇē ha bhūtam bhavyañcha
Salam bagi kehidupan dalam kemunculannya dan dalam kepergiannya—
bagi yang telah lampau dan yang akan datang,
yang semuanya tersembunyi di dalam kehidupan itu sendiri.
Sebab kemunculan dan lenyap hanyalah gejala permukaan, seperti gelombang di lautan. Kehidupan yang kekal tidak berkurang dan tidak rusak.
Yadidan kiñcha prāṇa ejati nihsṛitam
Segala sesuatu telah memancar dari kehidupan yang tak fana dan bergetar dengan kehidupan,
Prāṇo virāt
sebab kehidupan itu maha luas.
Inilah warisan luhur dari para leluhur kita yang menanti untuk kita klaim sebagai milik kita sendiri: cita-cita tentang kebebasan tertinggi kesadaran. Ia bukan semata-mata bersifat intelektual atau emosional; ia memiliki dasar etis, dan harus diterjemahkan ke dalam tindakan. Dalam Upanishad dikatakan,
Sarvavyāpī sa bhagavān tasmāt sarvagataḥ śivaḥ
Yang Maha Ada meresapi segalanya; karena itu Ia adalah kebaikan yang melekat di dalam semua.
Untuk sungguh-sungguh bersatu dalam pengetahuan, cinta, dan pelayanan dengan semua makhluk, dan dengan demikian mewujudkan diri di dalam Tuhan yang meresapi segalanya—itulah hakikat kebaikan, dan inilah nada dasar ajaran Upanishad:
Prāṇo virāt
Hidup itu maha luas!
KESADARAN JIWA
Kita telah melihat bahwa cita-cita India kuno adalah hidup, bergerak, dan bersukacita di dalam Brahma—Roh yang maha sadar dan meresapi segalanya—dengan memperluas medan kesadaran hingga mencakup seluruh dunia. Namun mungkin timbul keberatan: bukankah tugas ini mustahil bagi manusia? Jika perluasan kesadaran dipahami sebagai gerak ke luar yang tak berujung, ia tampak seperti upaya menyeberangi samudra dengan menyendoki airnya. Dalam usaha mewujudkan segalanya, seseorang justru berisiko tidak mewujudkan apa pun.
Namun sebenarnya, hal ini tidak seabsurd seperti yang terlihat. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia terus-menerus berhadapan dengan persoalan memperluas wilayah kerjanya dan menata beban yang dipikulnya. Beban itu sering terasa terlalu banyak, terlalu berat. Tetapi manusia tahu bahwa dengan menemukan suatu sistem, beban itu dapat diringankan. Setiap kali hidup terasa terlalu rumit dan tak tertangani, penyebabnya bukan karena terlalu banyak hal, melainkan karena belum ditemukannya prinsip yang menempatkan semuanya pada tempatnya dan membagi beban secara seimbang.
Pencarian akan sistem ini, pada hakikatnya, adalah pencarian akan kesatuan—akan sintesis. Ia merupakan usaha batin untuk menyelaraskan keragaman unsur lahiriah melalui penataan di dalam diri. Dalam proses ini, kita perlahan menyadari bahwa menemukan Yang Satu berarti meraih Yang Semuanya. Di sanalah sesungguhnya hak istimewa manusia yang tertinggi: berpijak pada hukum kesatuan yang, ketika dipahami, menjadi kekuatan yang menetap. Prinsip hidupnya adalah daya yang terkandung dalam kebenaran—kebenaran tentang kesatuan yang mencakup kemajemukan.
Fakta-fakta memang banyak, tetapi kebenaran itu satu. Kecerdasan hewani hanya berurusan dengan fakta; pikiran manusia memiliki kemampuan untuk menangkap kebenaran. Apel jatuh dari pohon, hujan turun ke bumi—kita dapat terus menimbun ingatan dengan fakta-fakta semacam ini tanpa pernah mencapai akhir. Tetapi ketika kita memahami hukum gravitasi, kita tidak lagi perlu mengumpulkan fakta tanpa batas. Kita telah menyentuh satu kebenaran yang mengatur tak terhitung banyaknya fakta.
Penemuan kebenaran semacam ini membawa sukacita yang murni—ia adalah pembebasan pikiran. Fakta belaka ibarat jalan buntu: ia hanya mengarah pada dirinya sendiri dan tidak memiliki “seberang”. Kebenaran, sebaliknya, membuka cakrawala luas dan menuntun kita menuju yang tak terbatas. Itulah sebabnya ketika seorang seperti Charles Darwin menemukan satu kebenaran umum yang sederhana dalam biologi, penemuan itu tidak berhenti pada bidang asalnya. Ia menyebar seperti pelita, menerangi wilayah kehidupan dan pemikiran manusia jauh melampaui tujuan awalnya. Dengan demikian, kebenaran—meskipun meresapi semua fakta—bukanlah sekadar kumpulan fakta; ia melampaui semuanya dan menunjuk pada kenyataan yang tak terbatas.
Sebagaimana dalam ranah pengetahuan, demikian pula dalam ranah kesadaran. Manusia perlu mewujudkan dengan jelas suatu kebenaran pusat yang memberinya pandangan seluas mungkin. Inilah tujuan yang hendak dicapai Upanishad ketika ia berkata: Kenalilah jiwamu sendiri. Artinya, wujudkan prinsip besar kesatuan yang hadir dalam diri setiap manusia.
Segala dorongan egoistis dan hasrat mementingkan diri mengaburkan pandangan kita terhadap jiwa. Semua itu hanya menandai diri kita yang sempit. Ketika kita sungguh menyadari jiwa kita, kita menemukan suatu keberadaan batin yang melampaui ego dan memiliki keterkaitan yang lebih dalam dengan Yang Semua.
Anak-anak yang mulai belajar huruf-huruf abjad satu per satu sering kali tidak merasakan kegembiraan, karena mereka belum melihat tujuannya. Selama huruf-huruf berdiri sendiri dan menuntut perhatian hanya pada dirinya masing-masing, mereka melelahkan. Huruf-huruf baru menjadi sumber kegembiraan ketika mereka bergabung menjadi kata dan kalimat, lalu menyampaikan makna.
Demikian pula jiwa manusia. Ketika ia dipisahkan dan dipenjarakan dalam batas-batas sempit suatu diri, ia kehilangan maknanya. Padahal hakikatnya adalah kesatuan. Jiwa hanya menemukan kebenarannya ketika ia menyatukan dirinya dengan yang lain, dan di sanalah ia menemukan kegembiraannya. Manusia hidup dalam kegelisahan dan ketakutan selama ia belum menemukan keselarasan hukum yang bekerja di alam; sampai saat itu dunia terasa asing baginya.
Hukum yang akhirnya ia temukan adalah keselarasan antara rasio—yang berakar pada jiwa manusia—dan cara kerja dunia. Inilah ikatan yang menyatukan manusia dengan dunia tempat ia hidup. Ketika ikatan ini disadari, muncullah sukacita yang meluap, karena pada saat itu manusia mewujudkan dirinya di dalam lingkungannya. Memahami sesuatu berarti menemukan di dalamnya sesuatu yang juga merupakan bagian dari diri kita. Dan justru penemuan diri kita di luar diri kitalah yang menghadirkan kegembiraan.
Pemahaman ini memang bersifat parsial. Tetapi cinta bersifat menyeluruh. Dalam cinta, rasa keterpisahan lenyap, dan jiwa manusia mencapai tujuannya yang sejati. Ia melampaui batas-batas dirinya dan melangkah ke dalam yang tak terbatas. Karena itu, cinta adalah kebahagiaan tertinggi yang dapat dicapai manusia—sebab melaluinya ia menyadari bahwa dirinya lebih dari sekadar dirinya sendiri, dan bahwa ia menyatu dengan Yang Semua.
Prinsip kesatuan yang dimiliki manusia di dalam jiwanya ini senantiasa aktif, membangun hubungan luas melalui sastra, seni, dan ilmu pengetahuan, masyarakat, kenegaraan, dan agama. Para Penyingkap agung kita adalah mereka yang memanifestasikan makna sejati jiwa dengan mengorbankan diri demi cinta kepada umat manusia. Mereka menghadapi fitnah dan penganiayaan, kekurangan dan kematian, dalam pengabdian cinta mereka. Mereka menghidupi kehidupan jiwa, bukan kehidupan diri; dan dengan demikian mereka membuktikan kepada kita kebenaran terakhir tentang kemanusiaan. Kita menyebut mereka Mahātmā, “manusia berjiwa agung”.
“Bukan karena engkau menginginkan anakmu maka engkau mencintainya, melainkan karena engkau menginginkan jiwamu sendiri maka engkau mencintainya.”
Maknanya adalah bahwa siapa pun yang kita cintai, di dalam dirinya kita menemukan jiwa kita sendiri dalam arti yang paling tinggi. Kebenaran akhir dari keberadaan kita terletak di sini. Paramātmā, jiwa tertinggi, ada di dalam diriku, sebagaimana juga di dalam anakku; dan kegembiraanku dalam anakku adalah perwujudan kebenaran ini. Hal ini telah menjadi fakta yang amat lazim, namun tetap menakjubkan untuk direnungkan, bahwa suka dan duka orang-orang yang kita kasihi adalah suka dan duka kita—bahkan lebih dari itu. Mengapa demikian? Karena di dalam mereka kita menjadi lebih besar; di dalam mereka kita menyentuh kebenaran agung yang mencakup seluruh semesta.
Sering kali terjadi bahwa cinta kita kepada anak-anak, sahabat, atau orang-orang terkasih lainnya menghalangi perwujudan jiwa kita yang lebih lanjut. Cinta itu memang memperluas jangkauan kesadaran kita, namun sekaligus menetapkan batas bagi pengembangannya yang paling bebas. Kendati demikian, itulah langkah pertama, dan seluruh keajaiban terletak justru pada langkah pertama ini. Ia memperlihatkan kepada kita hakikat sejati jiwa kita. Dari sanalah kita mengetahui dengan pasti bahwa kegembiraan tertinggi kita terletak pada hilangnya diri egoistis dan pada penyatuan dengan yang lain. Cinta ini memberi kita kekuatan baru, wawasan baru, dan keindahan batin sejauh batas-batas yang kita tetapkan di sekelilingnya; namun ia berhenti melakukannya bila batas-batas itu kehilangan kelenturannya dan justru melawan roh cinta itu sendiri. Maka persahabatan kita menjadi eksklusif, keluarga kita menjadi egoistis dan tertutup, bangsa-bangsa kita menjadi sempit dan secara agresif memusuhi ras lain. Keadaannya seperti menempatkan cahaya yang menyala di dalam ruang tertutup rapat, yang bersinar terang sampai gas beracun menumpuk dan memadamkan nyala api. Namun sebelum padam, ia telah membuktikan kebenarannya dan menyingkapkan sukacita kebebasan dari cengkeraman kegelapan—buta, hampa, dan dingin.
Menurut Upanishad, kunci menuju kesadaran kosmis, menuju kesadaran akan Tuhan, terletak pada kesadaran jiwa. Mengenal jiwa kita terlepas dari diri-ego adalah langkah pertama menuju perwujudan pembebasan tertinggi. Kita harus mengetahui dengan kepastian mutlak bahwa pada hakikatnya kita adalah roh.
Hal ini dapat kita capai dengan menguasai diri, dengan bangkit melampaui segala kesombongan, keserakahan, dan ketakutan, dengan menyadari bahwa kerugian duniawi dan kematian jasmani tidak dapat merampas kebenaran dan kebesaran jiwa kita. Anak ayam mengetahui, ketika ia memecah keterasingan egosentris cangkang telurnya, bahwa selubung keras yang begitu lama menutupinya sesungguhnya bukan bagian dari hidupnya.
Cangkang itu adalah benda mati; ia tidak bertumbuh, tidak memberi sekilas pun gambaran tentang keluasan yang terbentang di luar dirinya. Betapapun indah, sempurna, dan membulat bentuknya, cangkang itu harus dipukul, harus dipecahkan, agar kebebasan cahaya dan udara diraih, dan tujuan lengkap kehidupan burung tercapai.
Dalam bahasa Sanskerta, burung disebut “yang dilahirkan dua kali.” Demikian pula manusia yang telah melalui upacara disiplin pengendalian diri dan pemikiran luhur selama sekurang-kurangnya dua belas tahun; yang keluar darinya dengan kebutuhan yang sederhana, hati yang murni, dan kesiapan memikul seluruh tanggung jawab hidup dengan kelapangan jiwa tanpa pamrih. Ia dianggap telah mengalami kelahiran kembali dari selubung buta diri-ego menuju kebebasan kehidupan jiwa; telah menjalin hubungan hidup dengan lingkungannya; telah menjadi satu dengan Yang Semua.
Saya telah memperingatkan para pendengar saya, dan sekali lagi harus memperingatkan mereka, terhadap anggapan bahwa para guru India mengajarkan penyangkalan dunia dan diri yang hanya berujung pada kekosongan penafian. Tujuan mereka adalah perwujudan jiwa, atau dengan kata lain, meraih dunia dalam kebenaran yang sempurna. Ketika Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan mewarisi bumi,” yang dimaksudkannya adalah hal ini. Ia mewartakan kebenaran bahwa ketika manusia menyingkirkan kesombongan dirinya, ia masuk ke dalam warisan sejatinya. Ia tidak lagi harus berjuang keras untuk merebut posisinya di dunia; posisinya aman di mana-mana oleh hak jiwa yang tak fana. Kesombongan diri mengganggu fungsi sejati jiwa, yakni mewujudkan dirinya dengan menyempurnakan persatuannya dengan dunia dan Tuhan dunia.
Dalam khotbahnya kepada Sādhu Simha, Buddha berkata, “Benar, Simha, bahwa aku mengecam perbuatan, tetapi hanya perbuatan yang menuntun pada kejahatan dalam kata, pikiran, atau tindakan. Benar, Simha, bahwa aku mengajarkan pemadaman, tetapi hanya pemadaman kesombongan, hawa nafsu, pikiran jahat, dan ketidaktahuan, bukan pemadaman pengampunan, cinta, derma, dan kebenaran.”
Ajaran pembebasan yang diajarkan Buddha adalah kebebasan dari belenggu Avidyā. Avidyā adalah ketidaktahuan yang menggelapkan kesadaran kita dan cenderung membatasinya dalam batas-batas diri pribadi. Avidyā inilah—ketidaktahuan ini, pembatasan kesadaran ini—yang menciptakan keterpisahan keras ego, dan dengan demikian menjadi sumber segala kesombongan, keserakahan, dan kekejaman yang menyertai pencarian diri. Ketika seseorang tidur, ia terkurung dalam aktivitas sempit kehidupan jasmaninya. Ia hidup, tetapi tidak mengetahui ragam hubungan hidupnya dengan lingkungannya—karena itu ia tidak mengenal dirinya sendiri.
Demikian pula, ketika seseorang menjalani hidup Avidyā, ia terkungkung di dalam dirinya. Itu adalah tidur rohani; kesadarannya belum sepenuhnya terjaga terhadap kenyataan tertinggi yang mengitarinya, karena itu ia tidak mengenal kenyataan jiwanya sendiri. Ketika ia mencapai Bodhi, yakni kebangkitan dari tidur diri menuju kesempurnaan kesadaran, ia menjadi Buddha.
Suatu ketika saya bertemu dua pertapa dari suatu sekte keagamaan di sebuah desa di Bengal.
“Dapatkah kalian memberi tahu saya,” tanya saya, “apa ciri khusus agama kalian?”
Salah seorang dari mereka ragu sejenak dan menjawab, “Sulit untuk mendefinisikannya.” Yang lain berkata, “Tidak, itu sangat sederhana. Kami berpendapat bahwa pertama-tama kita harus mengenal jiwa kita sendiri di bawah bimbingan guru rohani, dan setelah itu kita dapat menemukan Dia, Jiwa Tertinggi, di dalam diri kita.”
“Mengapa kalian tidak mewartakan ajaran kalian kepada seluruh manusia di dunia?” tanya saya.
“Siapa pun yang merasa haus akan datang sendiri ke sungai,” jawabnya.
“Tetapi apakah kalian mendapati demikian? Apakah mereka datang?”
Orang itu tersenyum lembut, dan dengan keyakinan yang sama sekali tanpa sedikit pun nada ketidaksabaran atau kegelisahan, ia berkata, “Mereka pasti akan datang, satu per satu.”
Ya, ia benar, pertapa sederhana dari Bengal pedesaan ini. Manusia memang mengembara untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang baginya lebih penting daripada makanan dan pakaian. Ia berangkat untuk menemukan dirinya sendiri. Sejarah manusia adalah sejarah perjalanannya menuju yang tak dikenal demi mewujudkan diri abadi—jiwanya. Melalui bangkit dan runtuhnya imperium; melalui penumpukan kekayaan raksasa dan penyebarannya secara kejam ke debu; melalui penciptaan tubuh simbol yang besar yang memberi bentuk pada mimpi dan aspirasinya, lalu pembuangannya seperti mainan masa kanak-kanak yang telah usang; melalui penempaan kunci-kunci ajaib untuk membuka rahasia ciptaan, dan melalui pembuangan kerja berabad-abad itu untuk kembali ke bengkel dan mengolah bentuk baru—ya, melalui semuanya itu manusia melangkah dari zaman ke zaman menuju perwujudan jiwanya yang paling penuh—jiwa yang lebih besar daripada benda-benda yang ia kumpulkan, perbuatan yang ia capai, teori-teori yang ia bangun; jiwa yang laju perjalanannya tak pernah terhenti oleh kematian atau pelarutan.
Kesalahan dan kegagalan manusia sama sekali bukan hal kecil; semuanya menaburi jalannya dengan puing-puing raksasa; penderitaannya amat besar, laksana sakit bersalin bagi seorang anak raksasa; semuanya adalah pendahuluan bagi suatu pemenuhan yang cakupannya tak terbatas. Manusia telah dan masih mengalami kemartiran dalam berbagai cara, dan lembaga-lembaganya adalah altar-altar yang ia bangun tempat ia mempersembahkan kurban hariannya, menakjubkan dalam ragam dan dahsyat dalam jumlah. Semua ini akan sepenuhnya tanpa makna dan tak tertahankan jika sejak awal ia tidak merasakan sukacita terdalam jiwa di dalam dirinya, yang menguji kekuatan ilahinya melalui penderitaan dan membuktikan kekayaannya yang tak habis melalui pengorbanan. Ya, mereka sedang datang—para peziarah itu, satu dan semua—datang menuju warisan sejati dunia; mereka senantiasa memperluas kesadarannya, senantiasa mencari kesatuan yang lebih tinggi dan lebih tinggi, senantiasa mendekat ke satu Kebenaran pusat yang mencakup segalanya.
Kemiskinan manusia amat dalam, kebutuhannya tak berujung, hingga ia sungguh-sungguh sadar akan jiwanya. Hingga saat itu, dunia baginya berada dalam keadaan terus berubah—sebuah fantasma yang ada dan tiada. Bagi manusia yang telah mewujudkan jiwanya, terdapat pusat semesta yang pasti, tempat segala sesuatu menemukan kedudukannya yang tepat; dan hanya dari sanalah ia dapat menarik dan menikmati keberkahan hidup yang selaras.
Ada suatu masa ketika bumi hanyalah massa berkabut, partikel-partikelnya tercerai-berai jauh oleh daya pemuaian panas; ketika ia belum mencapai kejelasan bentuk dan tidak memiliki keindahan maupun tujuan, melainkan hanya panas dan gerak. Perlahan-lahan, ketika uap-uapnya memadat menjadi suatu keseluruhan bulat yang menyatu oleh daya yang berusaha membawa segala materi yang tercerai-berai di bawah kendali sebuah pusat, ia menempati tempatnya yang tepat di antara planet-planet tata surya, laksana liontin zamrud pada kalung berlian. Demikian pula dengan jiwa kita. Ketika panas dan gerak dorongan-dorongan buta dan nafsu-nafsu mengoyaknya ke segala arah, kita tidak dapat memberi maupun menerima apa pun secara sungguh-sungguh. Namun ketika kita menemukan pusat kita di dalam jiwa melalui kekuatan pengendalian diri, melalui daya yang menyelaraskan semua unsur yang bertikai dan menyatukan yang tercerai-berai, maka semua kesan terpisah kita mereduksi diri menjadi kebijaksanaan, dan semua dorongan sesaat hati kita menemukan kepenuhannya dalam cinta; maka segala rincian kecil hidup kita menyingkapkan tujuan yang tak terbatas, dan seluruh pikiran serta perbuatan kita menyatu tak terpisahkan dalam harmoni batin.
Upanishad mengatakan dengan penekanan yang kuat,
Tamēvaikam jānatha ātmānam
Kenalilah Yang Esa, Jiwa itu.
Amṛitasyaisha sētuḥ
Dialah jembatan yang menuntun menuju Yang Tak Fana.
Inilah tujuan akhir manusia: menemukan Yang Esa yang ada di dalam dirinya; yang merupakan kebenarannya, yang merupakan jiwanya; kunci untuk membuka gerbang kehidupan rohani, kerajaan surgawi. Hasrat manusia beraneka ragam, dan dengan liar ia berlari mengejar beragam objek dunia, sebab di sanalah ia mengira hidup dan pemenuhannya berada. Namun yang esa di dalam dirinya senantiasa mencari kesatuan—kesatuan dalam pengetahuan, kesatuan dalam cinta, kesatuan dalam tujuan kehendak; kegembiraan tertingginya tercapai ketika ia mencapai Yang Tak Terbatas yang esa di dalam kesatuan kekalnya. Karena itu Upanishad berkata,
Hanya mereka yang berjiwa tenang—dan bukan yang lain—yang mencapai kebahagiaan abadi, dengan mewujudkan di dalam jiwanya Sang Ada yang menampakkan satu hakikat dalam beragam bentuk.
Melalui segala keberagaman dunia, yang esa di dalam diri kita merajut jalannya menuju yang esa di dalam segala sesuatu; inilah kodratnya dan inilah kegembiraannya. Namun melalui jalan berliku itu ia takkan pernah mencapai tujuannya jika tidak memiliki cahayanya sendiri, yang dengannya ia dapat menangkap seketika apa yang dicarinya. Penglihatan akan Yang Maha Esa di dalam jiwa kita adalah intuisi yang langsung dan seketika, tidak bergantung pada penalaran atau pembuktian apa pun. Mata kita secara alami melihat suatu objek sebagai keseluruhan, bukan dengan memecahnya menjadi bagian-bagian, melainkan dengan menyatukan semua bagian itu ke dalam satu kesatuan dengan diri kita. Demikian pula intuisi kesadaran-jiwa kita, yang secara alami dan utuh mewujudkan kesatuannya di dalam Yang Maha Esa.
Sang Dewa ini, yang memanifestasikan dirinya dalam aktivitas-aktivitas semesta, senantiasa berdiam di dalam hati manusia sebagai Jiwa Tertinggi. Mereka yang mewujudkan-Nya melalui persepsi langsung hati mencapai keabadian.
Ia adalah Viśvakarmā; yakni, dalam kemajemukan bentuk dan daya terletak manifestasi lahiriah-Nya di alam; tetapi manifestasi batin-Nya di dalam jiwa kita adalah yang ada dalam kesatuan. Karena itu, pencarian kita akan kebenaran di ranah alam berlangsung melalui analisis dan metode-metode bertahap ilmu pengetahuan, tetapi penangkapan kita akan kebenaran di dalam jiwa bersifat seketika dan melalui intuisi langsung. Kita tidak dapat mencapai Jiwa Tertinggi melalui penambahan pengetahuan setahap demi setahap, bahkan sepanjang keabadian, karena Ia adalah satu—Ia tidak tersusun dari bagian-bagian; kita hanya dapat mengenal-Nya sebagai hati dari hati kita dan jiwa dari jiwa kita; kita hanya dapat mengenal-Nya dalam cinta dan kegembiraan yang kita rasakan ketika kita melepaskan diri-ego dan berdiri di hadapan-Nya muka dengan muka.
Doa terdalam dan paling sungguh-sungguh yang pernah bangkit dari hati manusia telah diucapkan dalam bahasa kuno kita:
Āvirāvīr mayēdhi
Wahai Yang Menyingkapkan Diri, singkapkanlah diri-Mu di dalam diriku.
Kita berada dalam kesengsaraan karena kita adalah makhluk diri—diri yang kaku dan sempit, yang tidak memantulkan cahaya, yang buta terhadap yang tak terbatas. Diri kita riuh oleh hiruk-pikuk sumbangnya sendiri—ia bukanlah kecapi yang selaras, yang senarnya bergetar seiring musik yang kekal. Keluhan ketidakpuasan dan letih oleh kegagalan, penyesalan sia-sia atas masa lalu dan kecemasan akan masa depan mengusik hati kita yang dangkal, karena kita belum menemukan jiwa kita dan roh yang menyingkapkan diri belum menampakkan diri di dalam diri kita. Karena itu jeritan kita,
Rudra yat tē dakṣiṇam mukham tēna mām pāhi nityam
Wahai Yang Dahsyat, selamatkanlah aku dengan senyum rahmat-Mu, kini dan selamanya.
Sebuah kafan maut yang menyesakkan—itulah pemuasan diri, ketamakan yang tak pernah puas, kesombongan kepemilikan, keterasingan hati yang pongah. Rudra, wahai Yang Dahsyat, koyakkanlah selubung gelap ini dan biarkan sinar penyelamat dari senyum rahmat-Mu menembus malam kelam ini dan membangunkan jiwaku.
Dari yang tak nyata tuntunlah aku menuju yang nyata, dari kegelapan menuju cahaya, dari kematian menuju keabadian.
Namun bagaimana mungkin berharap doa ini dikabulkan? Sebab tak terukur jarak antara kebenaran dan ketidakbenaran, antara kematian dan ketiadaan-maut. Namun jurang tanpa batas ini dijembatani seketika ketika Yang Menyingkapkan Diri menyingkapkan diri-Nya di dalam jiwa. Di sanalah mukjizat terjadi, sebab di sanalah tempat perjumpaan yang fana dan yang tak fana.
Viśvāni dēva savitar duritāni parāsuva
Wahai Tuhan, wahai Bapa, hapuskanlah sepenuhnya segala dosa-dosaku!
Sebab dalam dosa manusia berpihak pada yang fana melawan yang tak terbatas yang ada di dalam dirinya. Itu adalah kekalahan jiwa oleh diri-ego. Sebuah permainan berbahaya yang merugi, ketika manusia mempertaruhkan segalanya demi memperoleh sebagian. Dosa adalah pengaburan kebenaran yang mengeruhkan kemurnian kesadaran kita. Dalam dosa kita menginginkan kenikmatan bukan karena ia sungguh layak diinginkan, melainkan karena cahaya merah hasrat kita membuatnya tampak diinginkan; kita merindukan hal-hal bukan karena kebesarannya yang sejati, melainkan karena ketamakan kita membesarkannya dan membuatnya tampak besar. Pembesaran dan pemalsuan perspektif inilah yang merusak harmoni hidup kita di setiap langkah; kita kehilangan ukuran nilai yang benar dan terpecah oleh tuntutan-tuntutan palsu dari beragam kepentingan hidup yang saling berebut. Kegagalan membawa seluruh unsur kodrat kita ke dalam kesatuan dan kendali Yang Maha Esa inilah yang membuat manusia merasakan pedih keterpisahannya dari Tuhan dan melahirkan doa yang sungguh-sungguh,
Viśvāni dēva savitar duritāni parāsuva
Wahai Tuhan, wahai Bapa, hapuskanlah sepenuhnya segala dosa kami.
Yad bhadram tan na āsuva
Anugerahkanlah kepada kami apa yang baik—kebaikan yang merupakan roti harian bagi jiwa kami.
Dalam kenikmatan kita terkurung pada diri sendiri; dalam kebaikan kita dibebaskan dan menjadi milik semua. Sebagaimana seorang anak di dalam rahim ibunya memperoleh pemeliharaan melalui penyatuan hidupnya dengan hidup ibunya yang lebih besar, demikian pula jiwa kita hanya dipelihara melalui kebaikan—yakni pengakuan akan kekerabatan batinnya—saluran perhubungannya dengan Yang Tak Terbatas yang mengelilingi dan memberinya makan. Karena itu dikatakan, “Berbahagialah mereka yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” Sebab kebenaran adalah makanan ilahi jiwa; hanya inilah yang dapat mengenyangkannya, membuatnya hidup dalam kehidupan yang tak terbatas, dan menolongnya bertumbuh menuju yang kekal.
Namah sambhavāya
Kami bersujud kepada-Mu, dari-Mu datang segala kenikmatan hidup kami.
Namah śaṅkarāya ca
Kami juga bersujud kepada-Mu, dari-Mu datang kebaikan jiwa kami.
Namah śivāya ca, śivatarāya ca
Kami bersujud kepada-Mu yang adalah kebaikan, kebaikan tertinggi,
di dalam-Mu kami dipersatukan dengan segala sesuatu—
yakni dalam damai dan harmoni, dalam kebaikan dan cinta.
Seruan manusia adalah mencapai perwujudan dirinya yang paling penuh. Hasrat akan perwujudan diri inilah yang mendorongnya mencari kekayaan dan kekuasaan. Namun ia harus menemukan bahwa penimbunan bukanlah perwujudan. Yang menyingkapkan dirinya adalah cahaya batin, bukan hal-hal lahiriah. Ketika cahaya ini dinyalakan, seketika itu pula ia mengetahui bahwa pewahyuan tertinggi manusia adalah pewahyuan Tuhan sendiri di dalam dirinya. Dan seruannya tertuju pada hal ini—penampakan jiwanya, yang adalah penampakan Tuhan di dalam jiwanya. Manusia menjadi manusia yang sempurna, mencapai perwujudan penuhnya, ketika jiwanya mewujudkan dirinya di dalam Yang Tak Terbatas yang adalah Āvih, yang hakikatnya sendiri adalah perwujudan.
Kesengsaraan sejati manusia terletak pada kenyataan bahwa ia belum sepenuhnya keluar dari dirinya, bahwa ia tertutup oleh diri-ego, tersesat di tengah hasrat-hasratnya sendiri. Ia tak dapat merasakan dirinya melampaui lingkungan pribadinya; diri besarnya terhapus, kebenarannya belum terwujud. Maka doa yang bangkit dari segenap keberadaannya adalah,
Āvirāvīr mayēdhi
Engkau, Roh perwujudan, nyatakanlah diri-Mu di dalam diriku.
Kerinduan akan perwujudan diri yang sempurna ini bersemayam lebih dalam pada manusia daripada lapar dan dahaga akan pemeliharaan jasmani, daripada nafsu akan kekayaan dan kedudukan. Doa ini bukan sekadar doa yang lahir secara individual darinya; ia berada di kedalaman segala sesuatu, ia adalah dorongan tanpa henti di dalam dirinya dari Āvih, roh perwujudan yang kekal. Penyingkapan Yang Tak Terbatas di dalam yang terbatas—yang merupakan motif seluruh ciptaan—tidak tampak dalam kesempurnaannya di langit berbintang atau dalam keindahan bunga-bunga. Ia tampak di dalam jiwa manusia. Sebab kehendak mencari perwujudannya di dalam kehendak, dan kebebasan mengejar ganjaran akhirnya dalam kebebasan penyerahan diri.
Karena itu, diri manusia adalah wilayah yang oleh Raja Agung semesta tidak dinaungi oleh singgasana-Nya—Ia membiarkannya bebas. Dalam organisme fisik dan mentalnya, di mana manusia berhubungan dengan alam, ia harus mengakui pemerintahan Rajanya; tetapi di dalam dirinya ia bebas untuk menyangkal-Nya. Di sanalah Tuhan harus memenangkan jalan masuk-Nya. Di sana Ia datang sebagai tamu, bukan sebagai raja, dan karena itu Ia menunggu sampai diundang. Dari diri manusia inilah Tuhan menarik perintah-perintah-Nya, sebab di sanalah Ia datang untuk meminang cinta kita. Pasukan bersenjatanya—hukum-hukum alam—berdiri di luar gerbangnya; hanya keindahan, utusan cinta-Nya, yang mendapat izin masuk ke wilayah itu.
Hanya di ranah kehendak inilah anarki diizinkan; hanya di dalam diri manusia pertikaian ketidakbenaran dan ketidakadilan berkuasa; dan keadaan dapat menjadi sedemikian rupa sehingga kita berseru dalam kepedihan, “Ketiadaan hukum sedemikian takkan mungkin terjadi jika ada Tuhan!” Sesungguhnya, Tuhan berdiri menyisih dari diri kita, di mana kesabaran-Nya yang berjaga tak berbatas, dan di mana Ia tak pernah memaksa membuka pintu jika tertutup bagi-Nya. Sebab diri kita ini harus mencapai makna akhirnya—yakni jiwa—bukan melalui paksaan kuasa Tuhan, melainkan melalui cinta, dan dengan demikian bersatu dengan Tuhan dalam kebebasan.
Ia yang rohnya telah menjadi satu dengan Tuhan berdiri di hadapan manusia sebagai bunga tertinggi kemanusiaan. Di sanalah manusia menemukan dengan sungguh apa dirinya; sebab di sanalah Āvih disingkapkan kepadanya di dalam jiwa manusia sebagai pewahyuan Tuhan yang paling sempurna baginya; sebab di sanalah kita melihat persatuan kehendak tertinggi dengan kehendak kita, cinta kita dengan cinta yang kekal.
Karena itu, di negeri kami, ia yang sungguh mencintai Tuhan menerima penghormatan dari manusia yang di Barat akan dianggap hampir menghujat. Kita melihat di dalam dirinya kehendak Tuhan terpenuhi, rintangan tersulit bagi penyingkapan-Nya disingkirkan, dan sukacita sempurna Tuhan mekar sepenuhnya di dalam kemanusiaan. Melalui dirinya kita mendapati seluruh dunia manusia diliputi kehangatan ilahi. Hidupnya, yang menyala oleh cinta Tuhan, membuat seluruh cinta duniawi kita bercahaya. Semua pertautan akrab hidup kita, seluruh pengalaman suka dan dukanya, berkumpul mengelilingi peragaan cinta ilahi ini, dan dari drama yang kita saksikan di dalam dirinya. Sentuhan misteri yang tak terbatas melintas atas yang remeh dan yang akrab, membuatnya meletup menjadi musik yang tak terkatakan. Pepohonan dan bintang-bintang dan perbukitan biru tampil bagi kita sebagai lambang-lambang yang sarat makna yang tak pernah dapat diucapkan dengan kata-kata. Kita seakan menyaksikan Sang Tuan dalam tindakan penciptaan sebuah dunia baru, ketika jiwa manusia menyingkirkan tirai berat dirinya, ketika selubungnya terangkat dan ia berhadapan muka dengan muka dengan kekasihnya yang kekal.
Namun keadaan apakah ini? Ia laksana pagi musim semi, beragam dalam hidup dan keindahannya, namun satu dan utuh. Ketika hidup manusia yang terselamatkan dari gangguan menemukan kesatuannya di dalam jiwa, maka kesadaran akan Yang Tak Terbatas menjadi seketika itu juga langsung dan alami baginya, sebagaimana cahaya bagi nyala api. Segala konflik dan pertentangan hidup didamaikan; pengetahuan, cinta, dan tindakan diselaraskan; kenikmatan dan penderitaan menjadi satu dalam keindahan, menikmati dan melepaskan diri setara dalam kebaikan; jurang antara yang terbatas dan yang tak terbatas terisi oleh cinta dan meluap; setiap saat membawa pesannya tentang yang kekal; yang tak berbentuk menampakkan diri kepada kita dalam bentuk bunga dan buah; yang tak berbatas merangkul kita sebagai seorang ayah dan berjalan di sisi kita sebagai seorang sahabat. Hanya jiwa—Yang Esa di dalam diri manusia—yang oleh kodratnya sendiri mampu melampaui segala batas dan menemukan afinitasnya dengan Yang Maha Esa. Selama kita belum mencapai harmoni batin dan keutuhan keberadaan, hidup kita tetaplah hidup kebiasaan. Dunia masih tampak bagi kita sebagai sebuah mesin—untuk dikuasai ketika berguna, untuk diwaspadai ketika berbahaya—dan tak pernah dikenal dalam persekutuan penuhnya dengan kita, baik dalam kodrat fisiknya maupun dalam kehidupan rohani dan keindahannya.
MASALAH KEJAHATAN
Pertanyaan mengapa kejahatan ada dalam keberadaan pada dasarnya sama dengan pertanyaan mengapa ketidaksempurnaan ada—atau, dengan kata lain, mengapa penciptaan itu sendiri terjadi. Kita perlu menerimanya sebagai sesuatu yang tak terelakkan: bahwa penciptaan tidak mungkin hadir sebagai kesempurnaan sejak awal, melainkan harus tumbuh secara bertahap. Karena itu, mempertanyakan mengapa dunia tidak sempurna sama artinya dengan mempertanyakan mengapa kita ada.
Namun, inilah pertanyaan yang sesungguhnya layak diajukan: apakah ketidaksempurnaan ini merupakan kebenaran terakhir? Apakah kejahatan bersifat mutlak dan final? Sebuah sungai memang memiliki batas dan tepi, tetapi apakah sungai hanyalah tepinya? Apakah tepi-tepi itu fakta terakhir tentang sungai? Justru batas-batas itulah yang memberi air arah dan gerak ke depan.
Demikian pula tali penarik yang mengikat perahu. Apakah maknanya semata-mata keterikatan? Ataukah justru melalui ikatan itulah perahu ditarik maju menuju tujuannya?
Arus dunia memang memiliki batas-batas; tanpa batas, ia bahkan tidak akan memiliki bentuk dan keberadaan. Namun tujuan arus itu tidak ditentukan oleh batas-batas yang menahannya, melainkan oleh geraknya—gerak yang selalu menuju kesempurnaan. Keajaiban dunia bukanlah kenyataan bahwa di dalamnya ada rintangan dan penderitaan, melainkan bahwa ada hukum dan keteraturan, keindahan dan sukacita, kebaikan dan cinta. Dan di atas semuanya, gagasan tentang Tuhan yang hidup di dalam kesadaran manusia adalah keajaiban dari segala keajaiban.
Di kedalaman hidupnya, manusia merasakan bahwa apa yang tampak tidak sempurna sesungguhnya adalah perwujudan dari yang sempurna. Seperti seseorang yang memiliki kepekaan musikal: ia menangkap keutuhan sebuah lagu, meskipun yang sampai ke telinganya hanyalah rangkaian nada satu per satu. Dari sini manusia menemukan sebuah paradoks besar—bahwa yang terbatas tidak benar-benar terkurung oleh batasnya. Ia senantiasa bergerak, dan melalui gerak itulah ia terus-menerus melampaui kefanaannya. Ketidaksempurnaan bukanlah penyangkalan atas kesempurnaan, dan keterbatasan tidak bertentangan dengan ketakterhinggaan. Keduanya adalah kepenuhan yang menampakkan diri secara bertahap: yang tak terbatas hadir di dalam batas.
Rasa sakit—yang muncul dari kesadaran akan kefanaan kita—bukanlah sesuatu yang menetap dalam kehidupan. Ia bukan tujuan, sebagaimana sukacita juga bukan tujuan itu sendiri. Mengalami rasa sakit justru menyadarkan kita bahwa ia tidak memiliki tempat dalam keberlanjutan sejati penciptaan. Ia mirip dengan kesalahan dalam kehidupan intelektual. Sejarah ilmu pengetahuan penuh dengan kekeliruan yang pernah diyakini pada masanya. Namun tak seorang pun menganggap ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk melestarikan kesalahan. Yang penting dalam sejarah ilmu bukanlah banyaknya kekeliruan, melainkan kemajuan kebenaran yang terus ditegakkan.
Kesalahan, oleh kodratnya, tidak pernah menetap. Ia tidak dapat hidup berdampingan dengan kebenaran. Seperti seorang pengembara, ia harus pergi begitu ia tak lagi mampu “membayar ongkosnya”. Yang bertahan dan berlanjut bukanlah kesalahan, melainkan kebenaran yang perlahan menyingkapkan dirinya.
Sebagaimana kesalahan intelektual, demikian pula kejahatan dalam bentuk apa pun: hakikatnya adalah ketidakmenetapan. Ia tidak dapat bertahan karena tidak pernah selaras dengan keseluruhan. Setiap saat ia dikoreksi oleh totalitas kehidupan dan karena itu terus berubah wajah. Kita kerap melebih-lebihkan pentingannya dengan membayangkannya sebagai sesuatu yang berhenti dan menetap.
Seandainya kita menyusun statistik tentang besarnya kematian dan pembusukan yang terjadi setiap detik di bumi ini, kita tentu akan terperanjat. Namun kejahatan senantiasa bergerak. Dengan seluruh besarnya yang tampak mengerikan, ia tidak pernah benar-benar menyumbat arus kehidupan. Tanah tetap subur, air tetap jernih, dan udara tetap segar bagi makhluk hidup. Kehidupan terus berjalan.
Statistik sendiri adalah upaya untuk membekukan sesuatu yang pada hakikatnya bergerak. Dalam proses itu, berbagai hal memperoleh bobot dalam pikiran kita yang sesungguhnya tidak mereka miliki. Karena itulah, seseorang yang pekerjaannya berkutat pada satu aspek tertentu kehidupan sering kali cenderung membesarkan proporsinya. Dengan menekan fakta-fakta secara berlebihan, ia justru kehilangan pegangan pada kebenaran. Seorang detektif, misalnya, dapat mempelajari kejahatan secara rinci, tetapi sekaligus kehilangan rasa tentang tempat kejahatan itu dalam keseluruhan tatanan sosial.
Hal yang sama terjadi ketika ilmu pengetahuan menghimpun fakta-fakta tentang perjuangan hidup di alam. Ia dapat membangkitkan gambaran tentang “alam yang merah oleh gigi dan cakar”. Namun dalam gambaran mental semacam ini, kita memberi kekokohan pada warna dan bentuk yang sejatinya bersifat sementara. Itu seperti menghitung tekanan udara pada setiap inci tubuh kita untuk membuktikan bahwa udara seharusnya menghimpit kita sampai mati—padahal justru udara itulah yang memungkinkan kita bernapas dan hidup.
Namun pada setiap beban selalu ada penyesuaian, dan kita menanggung beban itu dengan ringan. Dengan perjuangan untuk bertahan hidup di alam terdapat timbal balik. Ada cinta kepada anak-anak dan kepada kawan-kawan; ada pengorbanan diri yang bersumber dari cinta; dan cinta inilah unsur positif dalam kehidupan. Jika kita menyorotkan lampu pengamatan kita semata-mata pada fakta kematian, dunia akan tampak seperti rumah mayat raksasa; namun dalam dunia kehidupan, pikiran tentang kematian, kita dapati, memiliki cengkeraman sekecil mungkin atas benak kita. Bukan karena ia paling tak tampak, melainkan karena ia adalah aspek negatif kehidupan; sebagaimana, meski kita menutup kelopak mata setiap detik, yang dihitung adalah terbukanya mata. Kehidupan sebagai keseluruhan tidak pernah menganggap kematian dengan sungguh-sungguh. Ia tertawa, menari, dan bermain; ia membangun, menimbun, dan mencintai di hadapan kematian.
Hanya ketika kita memisahkan satu fakta tentang kematian dari keseluruhan kehidupan, barulah kita melihat kehampaannya dan menjadi gentar. Kita kehilangan pandangan akan keutuhan hidup, yang di dalamnya kematian hanyalah satu bagian. Keadaannya seperti memandang sehelai kain melalui mikroskop: ia tampak seperti jaring berlubang, dan kita terfokus pada lubang-lubang itu hingga imajinasi kita gemetar. Padahal kebenarannya, kematian bukanlah kenyataan terakhir. Ia tampak hitam, sebagaimana langit tampak biru; tetapi ia tidak menghitamkan keberadaan, sebagaimana langit tidak meninggalkan noda pada sayap burung yang melintasinya.
Ketika kita menyaksikan seorang anak belajar berjalan, yang pertama-tama kita lihat adalah kegagalannya yang tak terhitung, sementara keberhasilannya hanya sesekali. Jika pengamatan kita dibatasi pada rentang waktu yang sempit, pemandangan itu akan terasa kejam. Namun kita segera menyadari bahwa, meskipun jatuh berulang kali, ada dorongan sukacita dalam diri anak itu yang menopangnya menghadapi tugas yang tampak mustahil. Ia tidak terlalu memikirkan jatuhnya, melainkan kegembiraan singkat saat ia berhasil menjaga keseimbangan.
Demikian pula dalam hidup kita. Kita menjumpai penderitaan dalam berbagai bentuk setiap hari—tanda ketidaksempurnaan dalam pengetahuan kita, dalam daya yang kita miliki, dan dalam cara kita menerapkan kehendak. Seandainya semua itu hanya menyingkapkan kelemahan kita, kita akan tenggelam dalam keputusasaan. Namun kehidupan sendiri mendorong kita untuk melihat lebih luas. Ketika kita terpaku pada satu bagian kecil dari pengalaman, kegagalan dan kesengsaraan tampak membesar. Tetapi kehidupan menuntun kita melampaui pandangan sempit itu dengan menghadirkan cita-cita kesempurnaan yang terus memanggil kita maju.
Di dalam diri manusia hidup suatu harapan yang selalu berjalan di depan pengalaman sempit kita saat ini. Itulah iman yang tak pernah padam akan yang tak terbatas di dalam diri kita. Ia menolak menerima ketidakmampuan sebagai kenyataan akhir, menolak menetapkan batas bagi jangkauannya sendiri, dan berani menegaskan bahwa manusia memiliki kesatuan dengan Tuhan. Karena itu, apa yang tampak sebagai mimpi-mimpi liar hari ini, perlahan-lahan menjadi kenyataan setiap hari.
Kita menangkap kebenaran ketika pikiran kita diarahkan kepada yang tak terbatas. Cita-cita kebenaran tidak terletak pada masa kini yang sempit, bukan pula pada sensasi-sensasi sesaat yang segera kita alami, melainkan pada kesadaran akan keseluruhan—kesadaran yang memberi kita rasa tentang apa yang seharusnya ada di dalam apa yang memang telah kita miliki. Secara sadar atau tidak, dalam hidup ini kita membawa perasaan akan Kebenaran yang selalu lebih besar daripada penampakannya. Sebab kehidupan kita menghadap ke yang tak terbatas, dan karena itu ia senantiasa bergerak. Aspirasi kita selalu melampaui pencapaian kita; dan setiap kali kita melangkah, tidak ada satu pun perwujudan kebenaran yang membuat kita terhenti di padang pasir finalitas. Setiap pencapaian justru membawa kita ke wilayah di seberangnya. Kejahatan tidak pernah mampu sepenuhnya menghentikan arus kehidupan atau merampas hak miliknya.
Kejahatan, pada akhirnya, harus berlalu. Ia harus bertumbuh menjadi kebaikan, karena ia tidak mampu berdiri tegak dan menantang Yang Semua. Seandainya kejahatan sekecil apa pun dapat berhenti dan menetap selamanya, ia akan menembus hingga ke akar keberadaan dan menghancurkannya. Namun kenyataannya tidak demikian. Manusia, dalam batinnya yang terdalam, tidak pernah sungguh-sungguh percaya pada kejahatan sebagai kenyataan final—sebagaimana ia tidak dapat percaya bahwa senar biola diciptakan semata-mata untuk menghasilkan siksaan indah dari nada-nada sumbang. Meskipun statistik dapat membuktikan bahwa kemungkinan ketidakselarasan jauh lebih besar daripada keselarasan, dan bahwa untuk satu orang yang mampu memainkan biola ada ribuan yang tidak, kita tetap yakin bahwa tujuan sejati alat musik itu adalah harmoni.
Potensi kesempurnaan selalu melampaui kontradiksi-kontradiksi yang tampak dalam kenyataan. Memang ada orang-orang yang menyatakan bahwa keberadaan ini adalah kejahatan mutlak. Namun manusia tidak pernah benar-benar dapat menanggapi pandangan itu dengan serius. Pesimisme semacam itu lebih menyerupai sikap atau gaya—entah intelektual maupun sentimental—daripada keyakinan yang sungguh hidup. Kehidupan itu sendiri bersifat optimistis: ia ingin terus berjalan. Pesimisme adalah sejenis mabuk mental; ia menolak gizi yang menyehatkan, memanjakan diri dengan minuman keras kecaman, dan menciptakan kemurungan buatan yang selalu menuntut dosis yang lebih kuat.
Jika keberadaan memang merupakan kejahatan, ia tidak memerlukan seorang filsuf untuk membuktikannya. Ia akan menyingkapkan dirinya sendiri tanpa perantara. Menghukum keberadaan sebagai kejahatan serupa dengan menghukum seseorang atas bunuh diri, sementara ia berdiri di hadapan kita dalam keadaan hidup. Fakta bahwa keberadaan terus hadir dan bergerak sudah cukup untuk membuktikan bahwa ia tidak mungkin merupakan kejahatan.
Ketidaksempurnaan yang tidak sepenuhnya mandek, melainkan menyimpan kesempurnaan sebagai cita-citanya, harus terus bergerak menuju perwujudan. Karena itu, tugas intelek kita adalah mewujudkan kebenaran melalui penyingkiran ketidakbenaran. Pengetahuan tidak lain adalah proses pembakaran kesalahan yang tak henti-hentinya, agar cahaya kebenaran semakin terbebaskan.
Demikian pula dengan kehendak dan watak kita. Keduanya hanya dapat mencapai kesempurnaan dengan terus-menerus mengatasi kejahatan—baik yang ada di dalam diri kita, di luar diri kita, maupun yang muncul dari keduanya. Kehidupan jasmani mempertahankan dirinya dengan mengonsumsi bahan-bahan tubuh setiap saat untuk menjaga api kehidupan tetap menyala. Kehidupan moral pun bekerja dengan cara yang serupa: ia memiliki “bahan bakar” yang harus dibakar agar hidup tetap bergerak ke arah yang lebih tinggi.
Proses kehidupan ini sedang berlangsung. Kita mengetahuinya, kita merasakannya. Dan meskipun kita sering menjumpai contoh-contoh individual yang tampak berlawanan, kita tetap memiliki iman yang kokoh bahwa arah perjalanan kemanusiaan bergerak dari kejahatan menuju kebaikan. Sebab kita merasakan bahwa kebaikan adalah unsur positif dalam kodrat manusia. Di setiap zaman dan di setiap tempat, yang paling dihargai manusia selalu cita-cita tentang kebaikan. Kita telah mengenalnya, mencintainya, dan memberikan penghormatan tertinggi kepada mereka yang dalam hidupnya berhasil mewujudkannya.
Lalu muncul pertanyaan: apakah sebenarnya kebaikan itu? Apa makna kodrat moral kita? Jawaban saya adalah ini: seorang manusia mulai menyadari kodrat moralnya ketika pandangannya tentang diri sendiri meluas—ketika ia menyadari bahwa dirinya jauh lebih besar daripada yang tampak saat ini. Pada saat itu, ia menjadi peka terhadap apa yang kelak dapat ia capai. Keadaan yang belum dialaminya justru terasa lebih nyata daripada keadaan yang sedang ia alami sekarang. Maka perspektif hidupnya pun berubah.
Dalam perubahan itu, kehendak mulai mengambil alih tempat keinginan. Sebab kehendak adalah ungkapan tertinggi dari kehidupan yang lebih besar—kehidupan yang sebagian besar masih berada di luar jangkauan kita saat ini, dan yang tujuan-tujuannya belum sepenuhnya tampak. Dari sinilah lahir pertentangan batin: antara manusia kecil dan manusia besar di dalam diri kita; antara keinginan-keinginan sesaat dan kehendak yang lebih dalam; antara hasrat yang menyentuh indra dan tujuan yang berdiam di dalam hati.
Pada titik inilah kita mulai belajar membedakan antara apa yang segera kita inginkan dan apa yang sungguh-sungguh baik bagi kita.
Yang baik adalah apa yang kita kehendaki bagi diri kita yang lebih besar. Karena itu, rasa tentang kebaikan lahir dari pandangan hidup yang lebih benar—pandangan yang terhubung dengan keseluruhan medan kehidupan. Pandangan ini tidak hanya memperhitungkan apa yang hadir di depan mata, tetapi juga apa yang belum hadir, bahkan mungkin tak akan pernah sepenuhnya hadir bagi manusia. Orang bijak memelihara kehidupan dirinya yang masih akan datang; ia merasakannya lebih kuat daripada kehidupan yang sedang dijalaninya sekarang. Karena itulah ia bersedia mengorbankan kecenderungan sesaat demi masa depan yang belum terwujud. Di sinilah kebesaran manusia tampak, karena di sanalah ia mewujudkan kebenaran.
Bahkan untuk menjadi egois secara efektif pun, seseorang pada akhirnya harus mengakui kebenaran ini dan menahan dorongan-dorongan seketika—dengan kata lain, ia harus bersikap moral. Fakultas moral kita adalah kemampuan yang membuat kita menyadari bahwa hidup bukanlah kumpulan fragmen yang terputus dan tanpa arah. Rasa moral bukan hanya menyingkapkan kesinambungan diri kita di dalam waktu, tetapi juga menyadarkan kita bahwa kita keliru bila membatasi diri hanya pada diri kita sendiri. Kita lebih luas daripada fakta kita saat ini. Kita sesungguhnya juga milik orang-orang lain—bahkan mereka yang tidak termasuk dalam lingkaran pribadi kita, dan mungkin takkan pernah kita jumpai.
Sebagaimana kita memiliki perasaan tentang diri kita di masa depan yang melampaui kesadaran saat ini, demikian pula kita memiliki perasaan tentang diri kita yang lebih besar, yang melampaui batas-batas kepribadian. Tidak ada manusia yang sepenuhnya asing terhadap perasaan ini: hampir semua orang pernah mengorbankan hasrat egoistis demi orang lain, atau merasakan kepuasan batin ketika menanggung kehilangan dan kesusahan demi kebahagiaan sesama. Ini menyingkapkan suatu kebenaran mendasar—bahwa manusia bukan makhluk yang terisolasi. Ia memiliki sisi universal; dan ketika ia menyadari sisi ini, ia menjadi besar.
Bahkan egoisme yang paling jahat pun, pada akhirnya, harus mengakui kebenaran ini jika ia ingin memiliki daya. Ia tidak dapat sepenuhnya menyingkirkan kebenaran dan tetap kuat. Karena itu, demi meraih kekuatan, egoisme terpaksa meminjam unsur ketidakegoisan. Sekelompok perampok, misalnya, harus memiliki moral internal agar dapat bertahan sebagai kelompok: mereka boleh merampok dunia luar, tetapi tidak satu sama lain. Agar maksud yang tidak bermoral berhasil, sebagian dari sarana yang digunakannya justru harus bermoral.
Bahkan sering kali, kekuatan moral kitalah yang paling efektif dipakai untuk berbuat jahat—untuk mengeksploitasi orang lain atau merampas hak-hak mereka. Hidup seekor hewan tidak bermoral karena ia hanya hidup dalam kesadaran akan masa kini yang segera. Hidup manusia, sebaliknya, bisa menjadi tidak bermoral—dan justru di situlah tampak bahwa ia memiliki dasar moral. Yang tidak bermoral adalah moral yang belum sempurna, sebagaimana yang salah adalah kebenaran dalam kadar kecil—atau ia sama sekali takkan dapat menjadi salah.
Tidak melihat adalah kebutaan; melihat secara keliru adalah penglihatan yang belum sempurna. Keegoisan manusia, pada tahap awalnya, sebenarnya sudah menandai adanya penglihatan akan keterkaitan dan tujuan hidup. Bertindak menurut keegoisan itu pun menuntut pengendalian diri dan pengaturan perilaku. Seorang egois rela menanggung kesusahan demi dirinya sendiri; ia menjalani kepahitan dan kekurangan tanpa banyak keluhan, karena ia tahu bahwa apa yang tampak sebagai penderitaan dalam jangka pendek dapat berubah menjadi keuntungan bila dilihat dari perspektif yang lebih luas. Maka, apa yang merugikan manusia kecil justru menguntungkan manusia yang lebih besar—dan sebaliknya.
Namun bagi manusia yang hidup demi suatu gagasan, demi bangsanya, atau demi kebaikan kemanusiaan, hidup memperoleh makna yang jauh lebih luas. Sejauh itu pula rasa sakit kehilangan kepentingannya. Menghidupi kebaikan berarti menghidupi kehidupan semua. Kenikmatan bersifat pribadi; kebaikan berkaitan dengan kebahagiaan seluruh umat manusia dan untuk jangka waktu yang melampaui satu kehidupan. Dari sudut pandang kebaikan, kenikmatan dan penderitaan tidak lagi bernilai mutlak. Kenikmatan bisa ditinggalkan, penderitaan bisa dipilih, bahkan kematian pun dapat diterima bila ia memberi makna yang lebih tinggi bagi kehidupan.
Sejarah para martir membuktikan hal ini, dan dalam skala kecil kita membuktikannya setiap hari melalui kemartiran-kemartiran sederhana. Mengangkat seember air dari laut terasa berat; tetapi ketika kita menyelam ke dalam laut, ribuan ember air mengalir di atas kepala kita tanpa terasa menekan. Selama kita memikul “kendi diri” dengan kekuatan kita sendiri, kenikmatan dan penderitaan menekan sepenuhnya. Tetapi ketika kita bergerak di bidang moral, tekanannya mereda. Mereka yang telah mencapainya tampak hampir melampaui manusia biasa—begitu sabar menghadapi penderitaan, begitu lapang menghadapi penganiayaan.
Menghidupi kebaikan secara sempurna berarti mewujudkan kehidupan dalam ketakterhinggaan. Inilah pandangan hidup paling menyeluruh yang dapat kita capai melalui daya bawaan kita: penglihatan moral atas keutuhan hidup. Ajaran Buddha bertujuan menumbuhkan daya moral ini hingga tingkat tertinggi, dengan menyadarkan kita bahwa medan tindakan kita tidak terbatas pada diri yang sempit. Inilah pula penglihatan tentang Kerajaan Surga menurut Yesus.
Ketika kita mencapai kehidupan universal—kehidupan moral—kita dibebaskan dari belenggu kenikmatan dan penderitaan. Ruang yang sebelumnya dipenuhi oleh ego kini diisi oleh sukacita yang tak terkatakan, yang memancar dari cinta tanpa batas. Dalam keadaan ini, aktivitas jiwa bukan melemah, melainkan justru meningkat; hanya saja penggeraknya bukan lagi hasrat, melainkan sukacita batin itu sendiri. Inilah makna Karma-yoga dalam Bhagavad Gita: jalan untuk bersatu dengan aktivitas yang tak terbatas melalui pengamalan kebaikan tanpa pamrih.
Ketika Buddha berbicara tentang jalan membebaskan umat manusia dari cengkeraman derita, ia sampai pada kebenaran ini: bahwa ketika manusia mencapai tujuan tertingginya dengan meleburkan yang individual ke dalam yang universal, ia terbebas dari belenggu penderitaan. Marilah kita pertimbangkan hal ini lebih jauh.
Seorang murid saya pernah menceritakan pengalamannya saat terjebak dalam badai. Ia mengeluh bahwa sepanjang waktu ia dihantui perasaan seolah-olah gejolak besar alam itu memperlakukannya tak lebih dari segenggam debu—bahwa dirinya sebagai pribadi, dengan kehendak sendiri, sama sekali tidak berarti apa-apa di hadapan kekuatan alam.
Saya menjawab kepadanya, “Justru sebaliknya. Jika pertimbangan terhadap individualitas kita mampu membelokkan alam dari jalannya, maka individu-individulah yang akan paling menderita.”
Namun ia masih ragu. Ia mengatakan bahwa ada satu fakta yang tak dapat disangkal: perasaan ‘aku ada’. ‘Aku’ di dalam diri kita, katanya, menuntut suatu hubungan yang bersifat personal dan individual.
Saya menjelaskan bahwa setiap hubungan ‘aku’ selalu terarah kepada sesuatu yang ‘bukan-aku’. Karena itu, harus ada suatu medium yang sama yang memungkinkan keduanya berhubungan. Dan kita harus sungguh yakin bahwa medium itu sama bagi ‘aku’ maupun bagi ‘bukan-aku’.
Inilah hal yang perlu kita tegaskan kembali. Individualitas kita, oleh kodratnya sendiri, justru terdorong untuk mencari yang universal. Tubuh hanya akan mati jika ia mencoba memakan substansinya sendiri, dan mata kehilangan maknanya bila ia hanya memandang dirinya sendiri.
Sebagaimana kita mengetahui bahwa semakin kuat imajinasi seseorang, semakin sedikit ia bersifat khayalan semata dan semakin dekat ia pada kebenaran, demikian pula dengan individualitas. Semakin kuat individualitas seseorang, semakin luas ia mengembang menuju yang universal. Sebab kebesaran sebuah kepribadian tidak terletak pada dirinya semata, melainkan pada kandungan universal yang hidup di dalamnya—sebagaimana kedalaman sebuah danau tidak diukur dari lebar cekungannya, melainkan dari dalamnya air yang mengisinya.
Jika benar bahwa kerinduan terdalam kodrat kita tertuju pada kenyataan, dan bahwa kepribadian kita tidak mungkin bahagia di dalam semesta khayalan ciptaannya sendiri, maka jelaslah bahwa yang terbaik bagi kita adalah menerima kenyataan ini: kehendak kita hanya dapat berurusan dengan segala sesuatu dengan mengikuti hukumnya, bukan dengan memperlakukannya sesuka hati. Kepastian realitas yang tak dapat ditawar ini sering kali berbenturan dengan kehendak kita, bahkan tak jarang membawa kita pada penderitaan—sebagaimana kekokohan tanah selalu melukai anak yang terjatuh ketika belajar berjalan.
Namun justru kekokohan itulah yang akhirnya memungkinkan anak itu berjalan. Pernah suatu ketika, saat perahu saya melintas di bawah sebuah jembatan, tiangnya tersangkut pada salah satu balok. Seandainya tiang itu mau melengkung sedikit, atau jembatan itu bersedia mengangkat punggungnya seperti kucing yang menguap, atau sungai itu mengalah, tentu masalahnya selesai. Tetapi tak satu pun dari semuanya memedulikan ketidakberdayaan saya. Dan justru karena keteguhan itulah saya dapat berlayar di atas sungai dengan bantuan tiang, dan karena itulah pula, ketika arus menjadi ganas, saya dapat mengandalkan kekuatan jembatan.
Segala sesuatu adalah sebagaimana adanya. Kita harus mengenalnya jika ingin berurusan dengannya. Pengetahuan tentang dunia hanya mungkin karena kehendak kita bukanlah hukum bagi dunia itu. Dan justru pengetahuan inilah yang memberi kita sukacita, sebab pengetahuan adalah salah satu jalur hubungan kita dengan apa yang berada di luar diri kita. Dengan mengenalnya, kita menjadikannya bagian dari diri kita, dan dengan itu batas-batas diri kita pun meluas.
Dalam setiap langkah hidup, kita selalu harus memperhitungkan pihak lain selain diri kita sendiri. Sebab hanya dalam kematianlah manusia benar-benar sendirian. Seorang penyair menjadi penyair sejati ketika ia mampu membuat gagasan pribadinya menggembirakan semua orang. Hal itu mustahil tercapai jika tidak ada medium bersama yang dapat menjembatani dirinya dan para pendengarnya. Bahasa bersama itu memiliki hukumnya sendiri—hukum yang harus ditemukan dan ditaati. Dengan kesetiaan pada hukum itulah penyair menjadi benar, dan dari sanalah ia memperoleh keabadian puitiknya.
Dengan demikian, kita melihat bahwa individualitas manusia bukanlah kebenaran tertingginya. Di dalam dirinya ada sesuatu yang bersifat universal. Seandainya manusia dipaksa hidup di dunia di mana hanya dirinya sendiri yang harus diperhitungkan, dunia itu akan menjadi penjara paling kejam baginya. Sebab sukacita terdalam manusia terletak pada pertumbuhan—menjadi semakin besar melalui persatuan yang kian luas dengan keseluruhan kehidupan.
Pertumbuhan semacam ini tidak mungkin terjadi tanpa adanya hukum yang sama bagi semua. Hanya dengan menemukan hukum itu dan hidup selaras dengannya kita menjadi besar dan mewujudkan yang universal. Sebaliknya, selama hasrat individual kita bertentangan dengan hukum universal, kita akan menderita dan hidup menjadi sia-sia.
Ada masa ketika manusia berdoa memohon pengecualian—berharap hukum alam ditangguhkan demi kenyamanan pribadinya. Kini kita memahami dengan lebih matang bahwa hukum tidak dapat disisihkan. Justru dalam pengetahuan inilah kita menjadi kuat. Sebab hukum itu bukan sesuatu yang asing atau terpisah dari kita; ia adalah bagian dari diri kita sendiri. Daya universal yang bekerja melalui hukum universal adalah satu dengan daya kita. Ia menggagalkan kita ketika kita kecil—ketika kita melawan arus keseluruhan—tetapi ia menolong kita ketika kita besar, ketika kita hidup selaras dengannya.
Karena itu, melalui ilmu pengetahuan, semakin kita mengenal hukum-hukum alam, semakin besar pula kekuatan kita. Kita mulai memperoleh semacam “tubuh universal”. Organ penglihatan, alat gerak, dan kekuatan jasmani kita meluas melampaui batas-batas tubuh fisik. Uap dan listrik menjadi saraf dan otot kita; jarak dan keterbatasan ruang mulai ditaklukkan oleh pemahaman.
Kita pun menyadari bahwa sebagaimana di dalam tubuh kita terdapat prinsip keterhubungan yang memungkinkan kita menyebut seluruh tubuh sebagai milik kita dan menggunakannya sebagai satu kesatuan, demikian pula di dalam semesta terdapat prinsip keterhubungan yang tak terputus. Prinsip inilah yang memungkinkan kita menyebut dunia sebagai tubuh kita yang diperluas dan berelasi dengannya secara bermakna.
Di zaman ilmu pengetahuan ini, usaha manusia adalah menegakkan sepenuhnya klaimnya atas diri-dunia ini. Kita mulai memahami bahwa sebagian besar kemiskinan dan penderitaan kita bersumber dari kegagalan mewujudkan klaim yang sah tersebut—kegagalan untuk hidup selaras dengan yang universal. Sesungguhnya, tidak ada batas mutlak bagi kekuatan manusia, sebab kita tidak berada di luar daya universal yang bekerja melalui hukum-hukum alam itu sendiri.
Karena itulah kita bergerak menuju pengendalian penyakit dan kematian, penaklukan penderitaan dan kemiskinan. Melalui pengetahuan ilmiah, kita terus mewujudkan yang universal dalam aspek fisiknya. Dan seiring kemajuan itu, kita semakin memahami bahwa penderitaan, penyakit, dan kemiskinan bukanlah kenyataan yang absolut, melainkan gejala ketidakselarasan antara diri individual dan diri universal yang melahirkannya.
Hal yang sama berlaku dalam kehidupan rohani kita. Ketika manusia individual di dalam diri kita berbenturan dengan manusia universal, kita mengecil secara moral dan tak terelakkan mengalami penderitaan. Dalam keadaan seperti itu, keberhasilan justru berubah menjadi kegagalan terbesar, dan pemenuhan hasrat malah membuat kita semakin miskin. Kita mengejar keuntungan khusus bagi diri sendiri, menginginkan keistimewaan yang tidak dapat dibagikan dengan siapa pun.
Namun segala sesuatu yang sepenuhnya bersifat khusus harus terus-menerus berkonflik dengan yang umum. Dalam “perang saudara” batin ini, manusia hidup di balik barikade. Dalam peradaban yang egoistis, rumah-rumah kita bukan lagi tempat tinggal yang sejati, melainkan pagar-pagar buatan untuk melindungi diri. Lalu kita mengeluh tidak bahagia, seolah-olah penderitaan itu berasal dari kodrat dunia, padahal akarnya ada dalam cara kita hidup.
Roh universal sesungguhnya siap menganugerahi kita kebahagiaan, tetapi roh individual kita menolaknya. Kehidupan yang berpusat pada ego inilah yang melahirkan konflik dan kerumitan di mana-mana, merusak keseimbangan masyarakat, dan menumbuhkan berbagai bentuk penderitaan. Ia membawa kita ke titik di mana, demi menjaga ketertiban, kita merasa perlu menciptakan paksaan-paksaan buatan, tirani yang terorganisasi, serta menoleransi lembaga-lembaga yang mengerikan—yang terus-menerus merendahkan martabat manusia.
Kita telah melihat bahwa agar menjadi kuat, kita harus tunduk pada hukum-hukum daya universal dan menjadikannya bagian dari hidup kita. Demikian pula, agar menjadi bahagia, kita harus menundukkan kehendak individual kepada kehendak universal, hingga kita sungguh merasakannya sebagai kehendak kita sendiri. Ketika penyesuaian antara yang fana dalam diri kita dan yang tak fana menjadi sempurna, penderitaan pun berubah makna. Ia tidak lagi semata beban, melainkan menjadi ukuran yang membantu kita menilai nilai sejati dari sukacita.
Pelajaran terpenting dalam hidup manusia bukanlah bahwa penderitaan ada di dunia ini, melainkan bahwa manusia diberi kemampuan untuk mengolah penderitaan itu—mengubahnya menjadi sesuatu yang bernilai, bahkan menjadi sumber sukacita.
Pelajaran ini tidak pernah sepenuhnya hilang dari kita. Tidak ada seorang pun yang dengan rela mau dirampas haknya untuk menderita, sebab di sanalah terletak haknya untuk menjadi manusia.
Suatu hari, istri seorang buruh miskin mengeluh dengan sangat sedih kepada saya. Anak sulungnya akan dikirim ke rumah seorang kerabat kaya selama beberapa bulan dalam setahun. Niatnya baik—untuk meringankan bebannya—namun justru itulah yang melukai hatinya. Penderitaan seorang ibu adalah miliknya sendiri, lahir dari hak cinta yang tak dapat dicabut, dan ia tidak akan menyerahkannya demi pertimbangan kenyamanan apa pun.
Kebebasan manusia tidak pernah terletak pada terbebas dari penderitaan, melainkan pada kebebasan untuk memikul penderitaan demi kebaikannya sendiri—menjadikannya bagian dari sukacitanya. Hal ini hanya mungkin ketika kita menyadari bahwa diri individual bukanlah makna tertinggi dari keberadaan kita. Di dalam diri kita hidup manusia-dunia yang abadi, yang tidak gentar terhadap kematian maupun penderitaan, dan yang memandang rasa sakit sebagai sisi lain dari sukacita.
Ia yang menyadari kebenaran ini memahami bahwa penderitaan justru merupakan kekayaan sejati kita sebagai makhluk yang belum sempurna. Penderitaanlah yang menumbuhkan, mematangkan, dan membuat kita layak berdampingan dengan yang sempurna. Ia tahu bahwa kita bukan pengemis kehidupan. Segala sesuatu yang bernilai—kekuatan, kebijaksanaan, dan cinta—harus dibayar dengan harga yang tidak ringan. Di dalam penderitaan tersimpan kemungkinan kesempurnaan yang tak terbatas, sekaligus penyingkapan sukacita yang kekal. Sebaliknya, manusia yang kehilangan kemampuan memberi makna pada penderitaan akan semakin tenggelam dalam kemiskinan batin dan kehinaan.
Penderitaan berubah menjadi kejahatan hanya ketika kita memaksanya melayani kepuasan diri. Pada saat itulah ia seakan membalas penghinaan tersebut dengan menyeret kita ke dalam kesengsaraan. Pada hakikatnya, penderitaan bukanlah musuh, melainkan penjaga yang setia—dipersembahkan untuk melayani kesempurnaan yang abadi. Ketika ia ditempatkan pada kedudukannya yang sejati, di hadapan Yang Tak Terbatas, penderitaan menanggalkan selubung gelapnya dan menyingkapkan wajahnya sebagai pewahyuan tentang sukacita yang tertinggi.
MASALAH DIRI
Pada satu kutub keberadaanku, aku menyatu dengan kayu dan batu. Di sana aku tunduk pada kekuasaan hukum universal. Di sanalah dasar keberadaanku berpijak—di kedalaman yang paling bawah. Kekuatan kutub ini terletak pada kenyataan bahwa ia terikat erat dalam pelukan dunia yang menyeluruh, dalam kebersamaan penuh dengan segala sesuatu yang ada.
Namun pada kutub lain dari keberadaanku, aku terpisah dari semuanya. Di sana aku menembus lingkaran kesetaraan dan berdiri sendiri sebagai individu. Aku sepenuhnya unik; aku adalah aku, tak tergantikan. Seluruh beban semesta tak mampu menghancurkan individualitas ini. Aku mempertahankannya bahkan ketika ada tarikan dahsyat yang ingin menyeretku kembali menjadi debu. Ia tampak kecil, tetapi sesungguhnya besar—karena ia sanggup bertahan menghadapi kekuatan-kekuatan yang hendak merampas keistimewaannya.
Inilah bangunan atas dari diri: menjulang dari kedalaman dasar yang gelap dan tak terumuskan ke ruang terbuka, bangga akan keterpisahannya, bangga karena memberi bentuk pada satu gagasan individual dari Sang Arsitek yang tak memiliki duplikat di seluruh semesta. Jika individualitas ini runtuh, meskipun tak satu atom pun musnah dan tak ada materi yang hilang, sukacita kreatif yang mengkristal di dalamnya akan lenyap. Kita menjadi benar-benar bangkrut jika dirampas dari kekhasan ini—dari individualitas, satu-satunya hal yang sungguh dapat kita sebut milik kita sendiri; dan kehilangannya bukan hanya kerugian bagi kita, melainkan juga bagi dunia. Justru karena ia tidak universal, individualitas itu menjadi amat bernilai.
Dan hanya melalui keunikan inilah kita dapat meraih semesta dengan lebih sungguh—lebih daripada jika kita sekadar terbaring pasif dalam pangkuannya tanpa kesadaran akan diri kita. Yang universal senantiasa mencari penyempurnaannya di dalam yang unik. Hasrat kita untuk menjaga keunikan itu sejatinya adalah hasrat semesta yang bekerja melalui diri kita. Sukacita kita akan yang tak terbatas di dalam diri kitalah yang menumbuhkan sukacita akan diri kita sendiri.
Bahwa keterpisahan diri ini dipandang manusia sebagai milik paling berharga tampak dari penderitaan yang ia tanggung dan bahkan dari dosa-dosa yang ia lakukan demi mempertahankannya. Kesadaran akan keterpisahan itu lahir dari memakan buah pengetahuan. Ia telah menuntun manusia pada rasa malu, kejahatan, dan kematian; namun tetap saja, keterpisahan itu lebih dicintai daripada surga mana pun—tempat diri mungkin aman dan tenteram, terlelap dalam kepolosan sempurna di rahim ibu alam.
Mempertahankan keterpisahan diri adalah perjuangan yang terus-menerus, dan karenanya juga sumber penderitaan. Justru penderitaan inilah yang mengukur nilainya. Nilai itu memiliki dua sisi. Yang pertama adalah pengorbanan, yang menunjukkan seberapa besar harga yang harus dibayar. Yang kedua adalah pencapaian, yang menunjukkan seberapa besar makna yang diperoleh. Jika diri tidak memberikan apa pun selain rasa sakit dan pengorbanan, maka ia tidak akan bernilai bagi kita, dan kita takkan rela menanggung pengorbanan tersebut. Dalam keadaan demikian, tak diragukan lagi bahwa tujuan tertinggi kemanusiaan hanyalah pemusnahan diri.
Namun jika pengorbanan itu berujung bukan pada kehampaan, melainkan pada kepenuhan; jika penderitaan membuka jalan menuju makna yang lebih besar, maka kualitas-kualitas yang tampak negatif—rasa sakit dan pengorbanan—justru menambah nilainya. Bahwa hal ini benar telah dibuktikan oleh mereka yang memahami makna positif dari diri: mereka yang dengan penuh semangat menerima tanggung jawabnya, dan menjalani pengorbanan tanpa gentar.
Dengan pengantar ini, saya dapat menjawab pertanyaan yang pernah diajukan oleh salah seorang pendengar: apakah pemusnahan diri pernah dipandang di India sebagai tujuan tertinggi kemanusiaan?
Pertama-tama, kita harus mengingat bahwa manusia hampir tidak pernah bersikap harfiah dalam mengungkapkan gagasan-gagasannya—kecuali dalam hal-hal yang paling sepele. Sering kali kata-kata manusia bukanlah bahasa yang utuh, melainkan sekadar isyarat bunyi dari sesuatu yang tak terkatakan. Kata-kata itu mungkin menunjuk, tetapi tidak sepenuhnya mengungkapkan pikiran. Semakin hidup dan mendalam suatu gagasan, semakin besar pula peran konteks kehidupan dalam menjelaskannya.
Mereka yang mencoba memahami makna hanya dengan bantuan kamus memang mungkin mencapai “rumah” suatu ajaran, tetapi berhenti di tembok luarnya dan tak pernah menemukan pintu masuk ke dalam. Inilah sebabnya ajaran para nabi terbesar kerap menimbulkan perdebatan tanpa akhir, ketika dipahami semata-mata dari kata-katanya, bukan dari perwujudannya dalam hidup. Orang-orang yang terkutuk oleh kebiasaan berpikir harfiah adalah mereka yang sibuk merapikan jala, tetapi lupa menangkap ikan.
Bukan hanya dalam Buddhisme dan agama-agama India, tetapi juga dalam Kekristenan, cita-cita tanpa-diri dikhotbahkan dengan penuh semangat. Dalam tradisi yang terakhir, lambang kematian digunakan untuk menyatakan pembebasan manusia dari kehidupan yang tidak sejati. Maknanya sepadan dengan Nirvāṇa—lambang padamnya pelita: bukan kehancuran makna, melainkan berakhirnya api yang keliru agar cahaya yang sejati dapat muncul.
Dalam pemikiran khas India, pembebasan sejati manusia dipahami sebagai pembebasan dari avidyā—dari ketidaktahuan. Bukan dengan menghancurkan sesuatu yang positif dan nyata, karena hal itu mustahil, melainkan dengan menyingkirkan yang negatif: segala sesuatu yang menghalangi penglihatan kita akan kebenaran. Ketika penghalang ini disingkirkan, kelopak mata terangkat; dan itu bukanlah kehilangan bagi mata, melainkan awal dari penglihatan yang sejati.
Ketidaktahuanlah yang membuat kita mengira bahwa diri kita, sebagai diri individual, adalah kenyataan yang lengkap dan cukup pada dirinya sendiri. Karena pandangan yang keliru ini, kita mencoba hidup dengan menjadikan diri sebagai tujuan akhir kehidupan. Maka kekecewaan pun tak terelakkan—seperti orang yang berharap mencapai tujuannya dengan menggenggam debu jalan yang dilaluinya.
Diri kita tidak memiliki daya untuk menopang kita, sebab kodratnya sendiri adalah sementara dan berlalu. Dengan berpegang pada benang diri yang terus bergerak di alat tenun kehidupan, kita tidak mungkin memaksanya melayani tujuan kain yang sedang ditenun. Seseorang yang dengan persiapan rumit mengatur kenikmatan dirinya sendiri ibarat menyalakan api tanpa adonan untuk membuat roti: api itu menyala-nyala, menghabiskan dirinya sendiri, lalu padam. Ia seperti makhluk yang memakan dirinya sendiri dan binasa karenanya.
Dalam bahasa yang belum kita pahami, kata-kata dapat tampil secara tiranik. Mereka menghentikan kita, tetapi tidak sungguh mengatakan apa-apa. Untuk dibebaskan dari belenggu kata-kata semacam ini, kita harus menyingkirkan avidyā—ketidaktahuan kita—agar pikiran menemukan kebebasannya dalam gagasan batin. Namun akan keliru jika dikatakan bahwa ketidaktahuan tentang bahasa hanya dapat dihapus dengan menghancurkan kata-kata itu sendiri. Tidak demikian. Ketika pengetahuan yang utuh datang, kata-kata tetap berada di tempatnya; hanya saja mereka tidak lagi mengikat kita. Kata-kata itu justru menuntun kita melampaui dirinya, menuju gagasan yang membebaskan.
Dengan demikian, avidyā-lah yang menjadikan diri sebagai belenggu: ia membuat kita mengira bahwa diri adalah tujuan pada dirinya sendiri, dan menutup mata kita dari kenyataan bahwa di dalam diri itu terkandung makna yang melampaui batas-batasnya.
Karena itulah orang bijak datang dan berkata: “Bebaskanlah dirimu dari avidyā. Kenalilah jiwamu yang sejati, dan lepaskanlah dirimu dari cengkeraman diri yang memenjarakanmu.”
Kita meraih kebebasan ketika kita mencapai kodrat kita yang paling sejati. Seorang seniman menemukan kebebasan artistiknya saat ia menemukan cita-cita seninya sendiri. Pada saat itu ia terbebas dari upaya meniru yang melelahkan dan dari cambukan hasrat akan pengakuan populer. Demikian pula, fungsi agama bukanlah menghancurkan kodrat manusia, melainkan memenuhinya.
Kata Sanskerta dharma, yang sering diterjemahkan sebagai religion, memiliki makna yang lebih dalam dalam tradisi kami. Dharma adalah kodrat terdalam—esensi dan kebenaran tersirat—dari segala sesuatu. Ia adalah tujuan tertinggi yang bekerja dari dalam diri. Ketika terjadi kesalahan, kita mengatakan dharma dilanggar; artinya, kita telah mengkhianati kodrat sejati kita sendiri.
Namun dharma ini tidak selalu tampak, justru karena ia melekat di dalam diri. Dari sini lahir anggapan bahwa keberdosaan adalah kodrat manusia, dan bahwa hanya melalui rahmat khusus seseorang dapat diselamatkan. Anggapan ini serupa dengan mengatakan bahwa kodrat benih adalah tetap terlipat di dalam cangkangnya, dan bahwa hanya melalui mukjizat ia bisa tumbuh menjadi pohon. Padahal kita tahu, penampakan benih justru bertentangan dengan kodrat sejatinya. Jika benih dianalisis secara kimia, kita mungkin menemukan karbon, protein, dan unsur-unsur lain—tetapi tidak gagasan tentang pohon yang bercabang dan berdaun.
Barulah ketika pohon mulai bertumbuh dan mengambil bentuk, dharma-nya menjadi nyata. Pada saat itu kita dapat mengatakan tanpa ragu bahwa benih yang dibuang dan dibiarkan membusuk di tanah telah digagalkan dalam dharma-nya—dalam pemenuhan kodrat sejatinya. Dalam sejarah kemanusiaan, kita menyaksikan benih kehidupan di dalam diri manusia bertunas. Kita melihat tujuan-tujuan besar mengambil bentuk dalam hidup manusia-manusia agung, dan dari sana kita memperoleh keyakinan: meskipun banyak kehidupan individual tampak tak berdaya, dharma mereka bukanlah mandul, melainkan memecahkan selubungnya, menjelma menjadi tunas rohani yang kuat, tumbuh ke udara dan cahaya, lalu bercabang ke segala arah.
Kebebasan benih terletak pada tercapainya dharma-nya—pada kodrat dan takdirnya untuk menjadi pohon. Kegagalan mencapai itu adalah penjaranya. Maka pengorbanan yang mengantar sesuatu pada pemenuhannya bukanlah pengorbanan yang berakhir pada kematian; ia adalah pelepasan belenggu yang justru memenangkan kebebasan.
Ketika kita memahami cita-cita kebebasan tertinggi manusia, saat itulah kita memahami dharma-nya—esensi kodratnya dan makna sejati keberadaannya. Pada pandangan pertama, manusia kerap mengira kebebasan sebagai keadaan di mana ia memiliki peluang tak terbatas untuk memuaskan dan membesarkan diri. Namun sejarah dengan tegas menyangkal anggapan ini. Para pewahyu terbesar umat manusia justru adalah mereka yang menjalani kehidupan pengorbanan diri. Kodrat manusia yang lebih tinggi selalu mencari sesuatu yang melampaui dirinya, namun sekaligus merupakan kebenaran terdalamnya—sesuatu yang menuntut seluruh pengorbanannya, tetapi menjadikan pengorbanan itu sendiri sebagai ganjaran. Inilah dharma manusia; inilah agama manusia. Dan diri manusia adalah bejana yang membawa pengorbanan itu ke altar kehidupan.
Kita dapat memandang diri dalam dua cara. Pertama, diri yang berusaha menampilkan dirinya: ia ingin menjadi besar, berdiri di atas tumpukan miliknya, dan mempertahankan segalanya bagi dirinya sendiri. Kedua, diri yang melampaui dirinya: justru dengan melampaui itulah ia menyingkapkan maknanya. Untuk menyingkapkan dirinya, ia menyerahkan apa yang dimilikinya—seperti bunga yang mekar dari kuncup, menuangkan seluruh kemanisannya tanpa sisa.
Pelita menyimpan minyaknya dengan cermat, menggenggamnya erat agar tak setetes pun hilang. Dalam keadaan itu, ia terpisah dari sekelilingnya dan bersifat kikir. Tetapi ketika dinyalakan, pelita menemukan maknanya. Ia menjalin hubungan dengan segala sesuatu—yang dekat maupun yang jauh—dan dengan sukarela mengorbankan persediaan minyaknya untuk memberi makan nyala api.
Demikian pula diri kita. Selama kita menimbun dan menjaga milik kita, kita membiarkan diri tetap gelap; tindakan kita justru berlawanan dengan tujuan sejatinya. Namun ketika pencerahan datang, diri seketika melupakan dirinya sendiri, mengangkat cahaya tinggi-tinggi, dan melayaninya dengan segala yang dimiliki. Di sanalah penyingkapan dirinya terjadi.
Inilah kebebasan yang diajarkan Buddha. Ia meminta pelita itu menyerahkan minyaknya—tetapi bukan penyerahan tanpa arah. Penyerahan tanpa tujuan hanya akan berakhir pada kemiskinan yang lebih gelap. Pelita harus menyerahkan minyaknya kepada cahaya; dengan begitu, tujuan yang terkandung dalam penimbunan itu dibebaskan. Itulah pembebasan sejati. Jalan yang ditunjukkan Buddha bukan sekadar penyangkalan diri, melainkan pelebaran cinta. Di sanalah makna terdalam ajarannya.
Ketika kita memahami bahwa keadaan Nirvāṇa yang diajarkan Buddha dicapai melalui cinta, kita pun mengerti bahwa Nirvāṇa adalah puncak tertinggi dari cinta itu sendiri. Cinta adalah tujuan pada dirinya sendiri. Segala hal lain menuntut pertanyaan “mengapa?”, dan kita memerlukan alasan untuknya. Tetapi ketika kita berkata, “Aku mencinta,” pertanyaan “mengapa” lenyap—sebab cinta adalah jawaban terakhir itu sendiri.
Benar, bahkan keegoisan pun dapat mendorong seseorang untuk memberi. Namun pemberian semacam itu lahir dari paksaan. Ia seperti memetik buah yang masih mentah: harus direbut dari pohon, melukai dahan, dan merusak proses kematangannya. Cinta sejati, sebaliknya, memberi seperti buah yang matang—jatuh dengan sendirinya, tanpa paksaan, tanpa luka.
Namun ketika seseorang mencinta, memberi justru menjadi sumber kegembiraan—seperti pohon yang dengan ringan menyerahkan buahnya yang telah masak. Kepemilikan biasanya terasa berat karena terus ditarik oleh hasrat egoistis; kita sulit melepaskannya. Ia tampak menyatu dengan kodrat kita sendiri, melekat seperti kulit kedua, hingga kita merasa seolah berdarah ketika berpisah darinya. Tetapi ketika cinta menguasai kita, arahnya berbalik. Apa yang tadinya melekat kehilangan bobot dan daya lekatnya, dan kita menyadari bahwa semua itu bukanlah diri kita. Memberi, jauh dari kehilangan, justru kita alami sebagai pemenuhan keberadaan.
Di sinilah kita menemukan kebebasan diri dalam cinta yang sempurna. Hanya tindakan yang dilakukan demi cinta yang sungguh bebas, betapapun besar rasa sakit yang menyertainya. Karena itu, bekerja demi cinta adalah kebebasan dalam tindakan. Inilah makna ajaran tentang kerja tanpa pamrih dalam Bhagavad Gita.
Gītā menegaskan bahwa tindakan adalah keniscayaan, sebab hanya melalui tindakan kodrat kita menampakkan diri. Namun penampakan ini belum sempurna selama tindakan kita belum bebas. Kerja yang digerakkan oleh paksaan kebutuhan atau ketakutan justru menutupi kodrat sejati kita. Seorang ibu menyingkapkan dirinya dalam pengabdian kepada anak-anaknya; demikian pula kebebasan sejati bukanlah kebebasan dari tindakan, melainkan kebebasan di dalam tindakan—yang hanya mungkin dalam kerja cinta.
Penyingkapan Tuhan hadir dalam karya penciptaan-Nya. Dalam Upanishad dikatakan:
Svābhāvikī jñāna bala kriyā ca
Pengetahuan, daya, dan tindakan adalah kodrat-Nya—bukan sesuatu yang dikenakan dari luar.
Karena itu karya-Nya adalah kebebasan-Nya; dalam penciptaan Ia mewujudkan diri-Nya. Di tempat lain dinyatakan:
Dari sukacita segala ciptaan lahir; oleh sukacita ia dipelihara; menuju sukacita ia bergerak; dan ke dalam sukacita ia kembali.
Artinya, penciptaan Tuhan tidak bersumber pada keharusan, melainkan pada kepenuhan sukacita-Nya. Cinta-Nyalah yang mencipta; maka dalam penciptaan terdapat penyingkapan diri-Nya sendiri.
Seorang seniman yang dipenuhi sukacita oleh gagasan seninya mengobjektifikasikannya—memberi bentuk—dan justru dengan itu meraihnya lebih utuh, karena ia menempatkannya pada jarak. Sukacitalah yang melepaskan kita dari diri yang sempit, lalu memberi bentuk pada ciptaan-ciptaan cinta agar menjadi milik kita secara lebih sempurna.
Karena itu, pemisahan memang perlu—bukan pemisahan karena penolakan, melainkan karena cinta. Penolakan hanya memiliki satu unsur: pemutusan. Cinta memiliki dua: unsur pemisahan yang bersifat penampakan, dan unsur penyatuan yang merupakan kebenaran terakhir. Seperti ayah yang melemparkan anaknya ke udara dari pelukan—tampak menolak, padahal justru sedang merangkul.
Maka makna diri tidak ditemukan dalam keterpisahannya dari Tuhan dan sesama, melainkan dalam perwujudan yoga yang terus-menerus—persatuan. Bukan pada sisi kanvas yang kosong, melainkan pada sisi tempat gambar sedang dilukis.
Itulah sebabnya keterpisahan diri digambarkan para filsuf sebagai māyā—ilusi—karena ia tidak memiliki realitas hakiki pada dirinya sendiri. Ia tampak berbahaya: meninggikan keterasingannya hingga memusingkan, melemparkan bayangan hitam ke wajah indah keberadaan; tampak sebagai perpecahan mendadak, memberontak dan merusak; pongah, dominatif, sewenang-wenang; siap merampas kekayaan dunia demi kerakusan sesaat; merenggut dengan tangan ceroboh bulu-bulu burung ilahi keindahan untuk menghias keburukannya sehari. Namun semua ini tetaplah māyā—selubung avidyā; ia kabut, bukan matahari; asap hitam yang menandai api cinta.
Bayangkan seseorang yang, dalam ketidaktahuan, mengira kertas uang memiliki daya magis. Ia menimbunnya, menyembunyikannya, memperlakukannya secara absurd, lalu—lelah—menyimpulkan bahwa semuanya tak bernilai dan hanya layak dibakar. Orang bijak tahu bahwa kertas uang itu seluruhnya adalah māyā hingga diserahkan ke bank; sebelum itu, ia sia-sia. Demikian pula, hanya avidyā—ketidaktahuan—yang membuat kita percaya bahwa keterpisahan diri berharga pada dirinya sendiri. Bertindak atas keyakinan itu justru membuat diri menjadi miskin. Ketika avidyā disingkirkan, diri yang sama datang kepada kita dengan kekayaan yang tak ternilai.
Ānandarūpam amṛtam yad vibhāti
Sebab Ia menyingkapkan diri-Nya dalam bentuk-bentuk yang diambil oleh sukacita-Nya.
Bentuk-bentuk ini terpisah dari-Nya, dan nilai yang dimilikinya hanyalah apa yang dianugerahkan oleh sukacita-Nya. Ketika kita mengembalikan bentuk-bentuk ini ke dalam sukacita asal itu, yaitu cinta, barulah kita mencairkannya di bank dan menemukan kebenarannya.
Ketika kebutuhan semata mendorong manusia bekerja, pekerjaannya bersifat kebetulan dan sementara. Ia menjadi sekadar pengaturan darurat—ditinggalkan dan runtuh begitu kebutuhan berubah arah. Tetapi ketika pekerjaan lahir dari sukacita, bentuk-bentuk yang dihasilkannya mengandung unsur keabadian. Yang abadi di dalam diri manusia menganugerahkan keteguhan pada karyanya.
Diri kita, sebagai wujud dari sukacita Tuhan, tidak mengenal maut. Sebab sukacita-Nya bersifat amṛtam—kekal. Inilah unsur dalam diri kita yang membuat kita meragukan kematian, bahkan ketika fakta kematian tak terbantahkan. Dalam mendamaikan pertentangan ini, kita sampai pada pemahaman bahwa dalam dualitas hidup dan mati terdapat suatu keharmonisan. Kehidupan jiwa—terbatas dalam perwujudannya namun tak terbatas dalam prinsipnya—harus melewati gerbang kematian dalam perjalanannya mewujudkan yang tak terbatas.
Kematian bersifat monistik: ia tidak memuat kehidupan di dalamnya. Kehidupanlah yang dualistik: ia memiliki penampakan sekaligus kebenaran. Kematian adalah penampakan itu—māyā—yang menjadi pendamping tak terpisahkan dari kehidupan. Agar hidup, diri harus terus-menerus berubah dan bertumbuh; inilah “kematian yang berkelanjutan” sekaligus “kehidupan yang berkelanjutan”.
Justru kita mengundang kematian ketika kita menolak menerima kematian—ketika kita ingin membekukan diri dalam bentuk yang tak berubah; ketika diri berhenti terdorong untuk tumbuh melampaui batasnya; ketika ia memperlakukan batas-batasnya sebagai final dan bertindak seolah-olah demikian. Maka datanglah panggilan guru kita: mati terhadap kematian—bukan panggilan menuju pemusnahan, melainkan menuju kehidupan kekal. Ia seperti pelita yang padam dalam cahaya pagi; bukan penghapusan matahari. Sesungguhnya, panggilan ini mengajak kita secara sadar mewujudkan hasrat terdalam yang bersemayam di lubuk kodrat kita.
Di dalam diri kita ada dua perangkat hasrat yang perlu diselaraskan. Pada wilayah kodrat fisik, ada hasrat-hasrat yang selalu kita sadari: keinginan akan makan dan minum, kenikmatan dan kenyamanan jasmani. Hasrat-hasrat ini berpusat pada diri dan bekerja masing-masing. Bahkan, keinginan lidah sering bertentangan dengan apa yang dapat ditoleransi oleh perut.
Namun kita memiliki perangkat hasrat lain, yang jarang kita sadari: hasrat dari sistem fisik kita sebagai suatu keseluruhan. Inilah hasrat akan kesehatan. Ia bekerja tanpa henti—menambal yang rusak, menyesuaikan diri ketika terjadi gangguan, dan memulihkan keseimbangan yang tergoyahkan. Hasrat ini tidak peduli pada pemuasan jasmani yang segera; ia melampaui saat kini. Ia adalah prinsip keutuhan tubuh, yang mengaitkan hidup kita dengan masa lalu dan masa depan, serta menjaga kesatuan seluruh bagian. Orang bijak mengenali prinsip ini dan menyelaraskan hasrat-hasrat jasmaninya yang lain dengannya.
Demikian pula, kita memiliki tubuh yang lebih besar lagi: tubuh sosial. Masyarakat adalah suatu organisme, dan kita di dalamnya hanyalah bagian-bagian yang memiliki keinginan individual. Kita menginginkan kesenangan dan kebebasan pribadi; kita ingin membayar lebih sedikit dan memperoleh lebih banyak daripada orang lain. Dari sinilah lahir persaingan dan pertikaian. Namun di balik semua itu, ada hasrat lain yang bekerja lebih dalam—hasrat akan kesejahteraan masyarakat. Hasrat ini tidak terikat pada kepentingan sesaat dan pribadi; ia melampaui diri dan berpihak pada yang lebih luas, pada yang tak terbatas.
Orang bijak berusaha menyelaraskan keinginan yang mencari pemuasan diri dengan hasrat akan kebaikan sosial. Hanya dengan jalan inilah diri yang lebih tinggi dapat diwujudkan.
Dalam aspek terbatasnya, diri sadar akan keterpisahannya dan menjadi keras dalam mengejar keistimewaan pribadi. Tetapi dalam aspek tak terbatasnya, hasrat diri justru mengarah pada harmoni—pada kesempurnaan—bukan sekadar pembesaran ego.
Karena itu, pembebasan kodrat fisik terletak pada kesehatan; pembebasan keberadaan sosial terletak pada kebaikan; dan pembebasan diri yang paling dalam terletak pada cinta. Yang terakhir inilah yang oleh Buddha disebut sebagai “pemadaman”—bukan pemadaman hidup, melainkan pemadaman keegoisan. Pemadaman ini bukan menuju kegelapan, melainkan menuju pencerahan. Inilah bodhi, kebangkitan sejati: tersingkapnya sukacita tak terbatas dalam diri kita melalui cahaya cinta.
Perjalanan diri manusia bergerak dari ke-diri-an yang terpisah menuju jiwa yang harmonis. Harmoni ini tidak pernah bisa dicapai melalui paksaan. Karena itu kehendak kita, dalam sejarah pertumbuhannya, harus terlebih dahulu melewati tahap kemandirian bahkan pembangkangan, sebelum sampai pada penyempurnaan terakhir. Kita harus mengenal kebebasan negatif—kebebasan sebagai izin berbuat sesuka hati—sebelum mampu mencapai kebebasan positif, yakni kebebasan sebagai cinta.
Kebebasan negatif ini, kebebasan kehendak-diri, memang dapat menyimpang dari tujuan tertingginya. Namun ia tidak pernah dapat sepenuhnya memutuskan diri darinya, sebab jika itu terjadi, ia akan kehilangan maknanya sendiri. Kehendak-diri hanya bebas sampai batas tertentu: ia dapat menyimpang, tetapi tidak dapat menyimpang tanpa akhir. Kejahatan tidak tak terbatas, dan ketidakharmonisan tidak pernah bisa menjadi tujuan final.
Kehendak diberi kebebasan justru agar ia menemukan bahwa arah sejatinya adalah menuju kebaikan dan cinta. Sebab kebaikan dan cinta bersifat tak terbatas, dan hanya dalam yang tak terbatas itulah kebebasan dapat terwujud sepenuhnya. Kebebasan tidak menemukan pemenuhannya dengan melawan dirinya sendiri. Ia tidak dapat membelenggu diri dan tetap disebut kebebasan; ia tidak dapat bunuh diri dan tetap hidup.
Karena itu kebebasan sejati bukanlah kebebasan untuk meniadakan diri, melainkan kebebasan untuk melampaui diri menuju kebenaran dan cinta—menuju yang tak terbatas, tempat kebebasan menemukan maknanya yang paling utuh.
Karena itu, di dalam kebebasan kehendak manusia terdapat suatu dualisme antara penampakan dan kebenaran. Kehendak-diri hanyalah penampakan kebebasan, sedangkan cinta adalah kebenaran kebebasan itu sendiri. Ketika kita mencoba menjadikan penampakan ini berdiri sendiri, terlepas dari kebenarannya, usaha itu niscaya melahirkan penderitaan dan pada akhirnya membuktikan kesia-siaannya.
Segala sesuatu memiliki dualisme māyā dan satyam, penampakan dan kebenaran. Kata-kata adalah māyā ketika ia berhenti sebagai bunyi yang terbatas; ia menjadi satyam ketika ia menyingkapkan gagasan yang tak terbatas. Diri kita adalah māyā ketika ia berhenti pada keindividualannya, ketika ia menganggap keterpisahan sebagai sesuatu yang mutlak; tetapi ia menjadi satyam ketika ia mengenali esensinya di dalam yang universal dan tak terbatas—dalam diri tertinggi, dalam paramātman.
Inilah makna terdalam dari sabda Kristus: “Sebelum Abraham ada, Aku ada.” Yang berbicara di sini bukanlah ego individual, melainkan “Aku Ada” yang kekal, yang berbicara melalui “aku ada” yang hadir dalam diri kita. “Aku” yang individual mencapai tujuannya yang sempurna ketika ia mewujudkan kebebasan yang harmonis di dalam “Aku” yang tak terbatas. Pada saat itulah ia mencapai mukti—pembebasan dari perbudakan māyā, dari penampakan yang bersumber pada avidyā, ketidaktahuan. Pembebasan ini adalah śāntam śivam advaitam: ketenteraman sempurna dalam kebenaran, aktivitas sempurna dalam kebaikan, dan persatuan sempurna dalam cinta.
Bukan hanya dalam diri manusia, tetapi juga dalam alam semesta, terdapat apa yang oleh para filsuf India disebut sebagai māyā—yakni keterpisahan dari Tuhan yang tidak berdiri sendiri dan tidak membatasi ketakterhinggaan-Nya dari luar. Keterpisahan ini adalah kehendak Tuhan sendiri. Ia menetapkan batas-batas bagi diri-Nya, seperti seorang pemain catur yang dengan sukarela tunduk pada aturan permainan.
Sang pemain justru menemukan kegembiraan kekuasaannya melalui pembatasan-pembatasan itu. Bukan karena ia tidak mampu menggerakkan bidak sesuka hati, melainkan karena jika ia melakukannya, maka permainan itu sendiri lenyap. Jika Tuhan sepenuhnya mengerahkan kemahakuasaan-Nya tanpa batas, maka penciptaan akan berakhir, dan kekuasaan-Nya kehilangan makna. Agar daya sungguh menjadi daya, ia harus bekerja dalam batas-batas. Air Tuhan harus tetap menjadi air; tanah Tuhan harus tetap menjadi tanah. Hukum yang menjadikannya demikian adalah hukum-Nya sendiri. Dengan hukum itulah Ia memisahkan permainan dari pemain, dan di sanalah terletak kegembiraan ilahi.
Sebagaimana alam terpisah dari Tuhan oleh batas-batas hukum alam, demikian pula diri manusia terpisah dari-Nya oleh batas-batas egoisme. Batas-batas ini bukan paksaan, melainkan pemberian sukarela. Tuhan memberi manusia suatu wilayah kebebasan, suatu “dunia kecil” yang dapat ia kuasai sendiri. Keadaan ini serupa dengan seorang ayah yang memberi uang saku kepada anaknya: di dalam batas itu sang anak bebas, meskipun uang itu tetap bagian dari kekayaan ayahnya.
Alasannya jelas: kehendak hanya menemukan kegembiraannya dalam perjumpaan dengan kehendak bebas lainnya. Kehendak cinta tidak dapat memuaskan dirinya melalui paksaan; ia hanya dapat bersatu melalui kebebasan. Karena itu, keterpisahan—baik dalam diri manusia maupun dalam alam—bukanlah penyangkalan cinta, melainkan syarat bagi terwujudnya cinta itu sendiri.
Seorang tiran yang membutuhkan budak memandang mereka semata-mata sebagai alat bagi tujuannya. Kesadaran akan ketergantungannya sendiri mendorongnya menghancurkan kehendak para budak itu demi mengamankan kepentingannya secara mutlak. Kepentingan diri semacam ini tidak dapat mentolerir sedikit pun kebebasan pada yang lain, sebab pada dasarnya ia sendiri tidak bebas. Sang tiran justru bergantung pada budaknya; karena itu ia berusaha menjadikan mereka sepenuhnya berguna dengan menundukkan mereka secara total pada kehendaknya.
Berbeda dari itu, seorang pecinta memerlukan dua kehendak agar cintanya dapat terwujud. Sebab puncak cinta bukanlah penguasaan, melainkan harmoni—harmoni antara kebebasan dan kebebasan.
Karena itu, cinta Tuhan—dari mana diri kita mengambil bentuk—membuat diri itu terpisah dari Tuhan; dan cinta Tuhan pula yang kembali menegakkan rekonsiliasi, menyatukan Tuhan dan diri melalui keterpisahan itu sendiri. Inilah sebabnya diri kita harus mengalami pembaruan tanpa henti. Dalam karier keterpisahannya, diri tidak dapat berhenti selamanya; sebab keterpisahan adalah keterhinggaan, dan keterhinggaan selalu menemukan batas-batasnya, untuk kemudian kembali, berulang kali, ke sumbernya yang tak terbatas.
Diri kita harus terus-menerus menanggalkan usianya—berulang kali meluruhkan batas-batasnya melalui kelupaan dan kematian—agar dapat mewujudkan masa muda abadinya. Kepribadiannya harus berkali-kali menyatu ke dalam yang universal, bahkan pada setiap saat, supaya kehidupan individualnya senantiasa diperbarui. Ia harus mengikuti ritme abadi, menyentuh kesatuan dasar di setiap langkah, sehingga keterpisahannya tetap terjaga dalam keseimbangan keindahan dan kekuatan.
Permainan hidup dan mati ini kita saksikan di mana-mana—dalam perubahan yang lama menjadi yang baru. Setiap pagi hari datang kepada kita telanjang dan putih, segar seperti bunga yang baru mekar. Namun kita tahu bahwa hari itu tua—ia adalah usia itu sendiri. Ia adalah hari purba yang sama yang dahulu mengangkat bumi yang baru lahir dalam pelukannya, menyelimutinya dengan cahaya putih, dan mengutusnya berziarah di antara bintang-bintang.
Namun kakinya tak pernah letih dan matanya tak pernah redup. Ia membawa jimat emas keabadian masa muda; dengan sentuhannya, segala keriput lenyap dari dahi penciptaan. Di inti terdalam jantung dunia berdiri masa muda yang abadi. Kematian dan pembusukan hanya melintas sebagai bayangan sesaat di wajahnya, lalu berlalu tanpa meninggalkan jejak. Kebenaran tetap segar dan muda.
Hari tua bumi ini terlahir kembali setiap pagi. Ia kembali pada refrain asal musiknya. Andaikata perjalanannya berupa garis lurus tanpa akhir, tanpa jeda terjun ke dalam kegelapan dan kelahiran kembali yang berulang, ia akan perlahan mengotori kebenaran dengan debu langkahnya sendiri dan menebarkan keletihan yang tak berkesudahan di bumi. Setiap saat akan menumpuk beban keausan, dan kepikunan akan bersemayam di takhta lumpur keabadian yang palsu.
Namun setiap pagi, hari lahir kembali di antara bunga-bunga yang baru mekar, membawa pesan yang sama dan memperbarui jaminan yang sama: bahwa kematian tidak pernah berkuasa secara mutlak; bahwa kegaduhan hanyalah riak di permukaan; dan bahwa di bawahnya terbentang lautan ketenteraman yang tak terukur. Tirai malam tersibak, dan kebenaran muncul—tanpa setitik debu pada pakaiannya, tanpa satu garis usia pada wajahnya.
Kita menyadari bahwa Dia yang ada sebelum segala sesuatu tetap sama hingga hari ini. Setiap nada dalam nyanyian penciptaan lahir segar dari suara-Nya. Alam semesta bukanlah sekadar gema yang memantul dari langit ke langit, seperti pengembara tanpa rumah—bukan pantulan nyanyian lama yang dinyanyikan sekali di awal zaman lalu ditinggalkan begitu saja. Setiap saat, dunia ini lahir kembali dari hati Sang Guru, dihembuskan terus-menerus dalam napas-Nya.
Karena itulah semesta membentang laksana pikiran yang menjelma menjadi puisi: ia memiliki bentuk, tetapi tidak runtuh oleh bobotnya sendiri. Dari sini lahir kejutan-kejutan yang tak berkesudahan, variasi tanpa henti, dan arak-arakan individu yang terus mengalir—masing-masing unik, tanpa bandingan. Seperti pada awal, demikian pula hingga akhir: permulaan tak pernah usai. Dunia ini senantiasa tua, dan sekaligus senantiasa baru.
Tugas diri kita adalah menyadari bahwa kita pun harus dilahirkan kembali setiap saat dalam hidup. Kita harus menembus ilusi-ilusi yang membungkus diri dengan kerak kebiasaan, yang membuat kita tampak tua dan membebani kita dengan rasa kematian. Sebab hidup pada hakikatnya adalah masa muda yang abadi; ia menolak usia yang membeku dan menghambat geraknya—usia yang bukan milik hidup sejati, melainkan hanya bayangan yang mengikutinya.
Hidup kita, seperti sungai, menabrak tepiannya bukan untuk terkurung, melainkan untuk mengingatkan dirinya bahwa selalu ada keterbukaan menuju laut. Ia seperti puisi yang menandai metrum di setiap barisnya bukan untuk dibelenggu oleh aturan, melainkan untuk mengekspresikan kebebasan batin melalui harmoni. Batas-batas bukanlah penjara; ia adalah sarana agar kebebasan dapat menemukan bentuknya.
Batas individualitas kita, di satu sisi, mendorong kita kembali ke dalam diri; namun di sisi lain, justru menuntun kita menuju yang tak terbatas. Hanya ketika kita mencoba menjadikan batas-batas ini mutlak—seolah-olah ia dapat menggantikan keseluruhan—kita terjatuh ke dalam kontradiksi yang tak mungkin diselesaikan dan merayu kegagalan yang menyakitkan.
Dari sinilah lahir revolusi-revolusi besar dalam sejarah manusia. Setiap kali suatu bagian menolak keseluruhan dan berusaha berjalan sendiri, tarikan dahsyat dari kesatuan menghentikannya dengan keras dan menjatuhkannya ke debu. Setiap kali individu mencoba membendung arus kekuatan dunia yang terus mengalir dan memenjarakannya demi kepentingan pribadi, bencana pun menyusul. Betapapun kuat seorang raja, ia tak dapat mengangkat panji pemberontakan melawan sumber kekuatan yang sejati—yakni kesatuan—dan tetap bertahan dalam kekuasaannya.
Telah dikatakan,
Adharmēnaidhatē tāvat tatō bhadrāṇi paśyati
tataḥ sapatnān jayati samūlastu vinaśyati
Dengan ketidakbenaran, seseorang mungkin tampak berhasil: ia bisa berkembang, meraih apa yang diinginkannya, bahkan menaklukkan musuh-musuhnya. Namun keberhasilan semacam itu rapuh. Pada akhirnya ia tercabut hingga ke akar dan binasa, karena ia tidak berpijak pada kebenaran yang menopang kehidupan.
Agar kepribadian kita sungguh menjadi besar, akar diri kita harus menembus jauh ke dalam yang universal. Tujuan akhir diri bukanlah menegakkan keakuan, melainkan menemukan persatuan. Ia harus belajar menundukkan kepala dalam cinta dan kerendahan hati, dan berdiri di titik di mana yang besar dan yang kecil saling berjumpa. Di sanalah manusia memperoleh dengan cara kehilangan, dan bangkit justru melalui penyerahan diri.
Permainan seorang ayah akan berubah menjadi kengerian bagi seorang anak bila ia tak pernah bisa kembali ke pelukan ibunya. Demikian pula, kebanggaan kita akan kepribadian akan berubah menjadi kutukan bila kita tak mampu melepaskannya dalam cinta. Kita harus menyadari bahwa hanya penyingkapan Yang Tak Terbataslah yang senantiasa baru dan abadi indah di dalam diri kita—dan hanya darinya diri kita memperoleh makna yang sejati.
PERWUJUDAN DALAM CINTA
Kini kita sampai pada persoalan abadi tentang keberadaan bersama antara Yang Tak Terbatas dan yang terbatas, antara Wujud Tertinggi dan jiwa manusia. Di sini tersimpan sebuah paradoks besar di akar keberadaan. Kita tak pernah benar-benar dapat mengitarinya, sebab kita tak mungkin berdiri di luar persoalan ini untuk menilainya dari sudut pandang lain. Namun paradoks ini sesungguhnya hanya membingungkan dalam ranah logika; dalam kenyataan hidup, ia tidak menimbulkan kesulitan apa pun.
Secara logis, jarak antara dua titik—betapapun dekatnya—dapat dianggap tak terhingga, karena ia selalu dapat dibagi tanpa akhir. Namun dalam hidup nyata, kita menyeberangi “ketakterhinggaan” itu di setiap langkah. Kita berjumpa dengan yang kekal di setiap detik. Karena itu, sebagian filsuf India mengatakan bahwa keterbatasan tidak sungguh-sungguh ada; ia hanyalah māyā, penampakan. Yang sungguh nyata adalah Yang Tak Terbatas, sementara keterbatasan tampak ada karena māyā. Namun kata māyā sendiri bukanlah penjelasan, melainkan sekadar penamaan. Ia hanya menyatakan bahwa bersama kebenaran selalu hadir penampakan yang seolah-olah berlawanan dengannya—tanpa mampu menjelaskan bagaimana keduanya dapat hadir sekaligus.
Dalam tradisi Sanskerta dikenal istilah dvandva, pasangan-pasangan yang berlawanan dalam ciptaan: positif dan negatif, tarik dan tolak, sentripetal dan sentrifugal. Tetapi semua istilah ini pun hanyalah nama, bukan jawaban. Ia sekadar cara untuk menyatakan bahwa dunia ini pada dasarnya adalah rekonsiliasi dari kekuatan-kekuatan yang tampak saling berlawanan. Kekuatan-kekuatan itu, laksana tangan kiri dan tangan kanan Sang Pencipta, bergerak dari arah yang berbeda, namun bekerja dalam keselarasan yang sempurna.
Sebagaimana kedua mata kita bekerja bersama dalam satu pandangan, demikian pula di alam terdapat kesinambungan yang tak terputus antara panas dan dingin, terang dan gelap, gerak dan diam—seperti nada bass dan treble dalam sebuah musik. Karena itulah pertentangan-pertentangan ini tidak melahirkan kekacauan, melainkan harmoni. Seandainya dunia ini hanyalah medan konflik, kita akan melihat kekuatan-kekuatan itu saling menghancurkan. Namun alam semesta tidak berjalan di bawah hukum darurat yang sewenang-wenang. Tak ada satu kekuatan pun yang mengamuk tanpa kendali atau bergerak tanpa batas seperti penjahat yang memutus hubungan dengan sekitarnya. Setiap kekuatan, seberapa pun jauhnya ia melangkah, harus kembali melalui lengkungnya sendiri menuju keseimbangan.
Gelombang-gelombang laut bangkit satu demi satu, seolah bersaing untuk mencapai ketinggian tertinggi, tetapi selalu berhenti pada batasnya masing-masing. Dari situ kita mengetahui adanya ketenangan samudra yang menjadi ukuran bagi semuanya—dan ke sanalah semua gelombang akhirnya kembali, dalam irama yang menakjubkan indahnya.
Sesungguhnya, naik dan turunnya gelombang kehidupan ini bukanlah hasil gerak liar unsur-unsur yang tercerai-berai. Semuanya adalah tarian yang berirama. Dan ritme tidak pernah lahir dari kekacauan atau pertempuran acak. Prinsip dasarnya selalu kesatuan—bukan pertentangan.
Prinsip kesatuan ini adalah misteri dari segala misteri. Begitu kita menyadari adanya dualitas, pikiran kita segera gelisah dan bertanya, lalu mencari jawabannya dalam Yang Satu. Ketika akhirnya kita menemukan hubungan antara keduanya—dan melihat bahwa yang dua itu sesungguhnya satu dalam hakikat—kita merasa telah menyentuh kebenaran. Pada saat itulah kita berani mengucapkan paradoks yang paling mengejutkan: bahwa Yang Satu menampakkan diri sebagai yang banyak; bahwa penampakan seolah-olah berlawanan dengan kebenaran, namun tak pernah terpisah darinya.
Anehnya, ada orang-orang yang justru kehilangan rasa misteri—padahal misteri inilah sumber terdalam kenikmatan rohani—ketika mereka menemukan keseragaman hukum di balik keragaman alam. Seakan-akan hukum gravitasi tidak lebih misterius daripada jatuhnya sebuah apel; seakan-akan evolusi dari satu tingkat keberadaan ke tingkat lain sepenuhnya setara dengan sekadar rangkaian peristiwa mekanis. Kekeliruannya terletak di sini: kita sering berhenti pada hukum-hukum itu seolah-olah itulah tujuan akhir pencarian kita. Padahal, hukum semata belum mulai membebaskan jiwa. Ia hanya memuaskan intelek; dan karena tidak menyentuh seluruh keberadaan kita, ia justru berisiko mematikan rasa kita akan Yang Tak Terbatas.
Sebuah puisi besar, jika dibedah secara analitis, hanyalah rangkaian bunyi yang terpisah-pisah. Namun pembaca yang menangkap maknanya—yakni medium batin yang menyatukan bunyi-bunyi lahiriah itu—akan menemukan suatu hukum yang sempurna bekerja di dalamnya: hukum perkembangan gagasan, hukum musik, hukum bentuk. Hukum itu hadir di mana-mana dan tak pernah dilanggar.
Namun hukum, pada dirinya sendiri, tetaplah batas. Ia hanya menyatakan bahwa sesuatu tidak mungkin lain dari apa adanya. Ketika seseorang sepenuhnya terpesona oleh rantai sebab-akibat, pikirannya tunduk pada tirani hukum demi melarikan diri dari tirani fakta. Dalam mempelajari bahasa, kita memang maju ketika dari kata-kata kita sampai pada hukum kata-kata. Tetapi bila kita berhenti di situ—bila kita hanya terpukau pada tata bahasa dan aturan pembentukan—kita belum sampai pada tujuan. Tata bahasa bukanlah sastra, dan prosodi bukanlah puisi.
Barulah ketika kita memasuki sastra, kita menemukan sesuatu yang lain: meskipun sastra tunduk pada aturan tata bahasa, ia tetap merupakan ruang sukacita dan kebebasan. Keindahan puisi terikat oleh hukum-hukum yang ketat, namun justru dengan itulah ia melampaui hukum. Hukum menjadi sayapnya—bukan beban yang menekannya ke bawah, melainkan daya yang mengangkatnya menuju kebebasan.
Bentuk puisi berada di dalam hukum, tetapi rohnya hidup dalam keindahan. Hukum adalah langkah pertama menuju kebebasan; keindahan adalah pembebasan yang sempurna, yang berdiri di atas tumpuan hukum. Di dalam keindahan, batas dan yang melampaui batas, hukum dan kebebasan, diperdamaikan dalam satu kesatuan yang hidup.
Dalam puisi besar dunia, penemuan hukum-hukum ritmenya—pengukuran pemuaian dan penyusutannya, gerak dan jedanya, penelusuran evolusi bentuk serta wataknya—adalah pencapaian sejati akal budi. Namun kita tidak boleh berhenti di sana. Semua itu ibarat sebuah stasiun: penting sebagai persinggahan, tetapi peronnya bukanlah rumah kita. Hanya mereka yang mencapai kebenaran terakhir yang mengetahui bahwa seluruh dunia pada akhirnya adalah ciptaan dari sukacita.
Kesadaran inilah yang membuat hubungan antara hati manusia dan alam tampak begitu misterius. Di dunia luar yang penuh aktivitas, alam memperlihatkan satu wajah; tetapi ketika ia memasuki dunia batin manusia, wajah itu berubah sepenuhnya.
Ambillah contoh sederhana: bunga pada sebatang tanaman. Betapapun halus dan indah rupanya, di alam ia memikul tugas besar. Warna dan bentuknya bukan sekadar hiasan, melainkan disesuaikan dengan pekerjaannya. Ia harus menghasilkan buah; bila tidak, kesinambungan hidup tanaman terputus, dan bumi akan menjadi tandus. Aroma dan warna bunga memiliki tujuan yang jelas. Begitu pembuahan terjadi dan masa berbuah tiba, bunga menanggalkan kelopak indahnya; sebuah ekonomi alam yang keras memaksanya melepaskan keharumannya. Ia tak punya waktu untuk memamerkan perhiasan, karena terlalu sibuk bekerja.
Dilihat dari luar, kebutuhan tampak sebagai satu-satunya hukum yang menggerakkan alam. Kuncup menjadi bunga, bunga menjadi buah, buah menjadi biji, biji kembali menjadi tanaman—rantai kerja berlangsung tanpa henti. Bila terjadi gangguan, tak ada toleransi: yang gagal bergerak diberi cap “tak layak” dan harus lenyap. Dalam kantor besar alam terdapat tak terhitung departemen dengan pekerjaan tanpa jeda. Bunga indah yang tampak seperti pesolek harum itu, jika dilihat dari sudut pandang ini, lebih mirip buruh yang bekerja keras di panas dan hujan—dituntut hasil, tanpa ruang untuk bermain.
Namun ketika bunga yang sama memasuki hati manusia, wajahnya berubah. Kesibukan praktisnya lenyap. Ia menjadi lambang senggang, ketenteraman, dan keindahan murni. Objek yang sama yang di luar adalah perwujudan aktivitas tanpa henti, di dalam hati menjelma menjadi ekspresi kedamaian yang paripurna.
Ilmu pengetahuan mungkin memperingatkan kita bahwa kita keliru—bahwa tujuan bunga hanyalah fungsi biologisnya, dan bahwa keindahan serta keharuman yang kita rasakan hanyalah ciptaan imajinasi kita sendiri. Tetapi hati manusia menjawab dengan keyakinan yang tak tergoyahkan: kita tidak keliru. Di alam, bunga datang membawa semacam sertifikat sebagai pekerja yang sangat berguna; tetapi ketika ia mengetuk pintu hati kita, ia membawa surat pengantar yang sama sekali berbeda. Di sana, satu-satunya kualifikasinya adalah keindahan.
Di satu tempat ia hadir sebagai pelayan, di tempat lain sebagai makhluk merdeka. Mengapa kita harus mempercayai rekomendasi yang pertama dan menolak yang kedua? Bahwa bunga terikat dalam rantai sebab-akibat alam adalah kebenaran yang tak terbantahkan—tetapi itu hanyalah kebenaran lahiriah. Kebenaran batinnya adalah ini:
“Sesungguhnya, dari sukacita yang kekal segala sesuatu dilahirkan.”
Karena itu, bunga tidak hanya memiliki satu fungsi di alam, tetapi juga fungsi lain yang tak kalah agung di dalam batin manusia. Apakah fungsi itu? Di alam ia bekerja seperti seorang pelayan yang harus hadir tepat waktu; tetapi di hati manusia ia datang sebagai utusan Sang Raja.
Dalam kisah lama, ketika Sītā—yang dipisahkan secara paksa dari kekasihnya—meratapi nasibnya di istana emas Rāvaṇa, datanglah seorang utusan membawa cincin dari Rama. Sekali pandang, Sītā mengetahui kebenaran pesan itu. Cincin tersebut meyakinkannya bahwa ia belum dilupakan, bahwa cinta masih hidup, dan bahwa pembebasan sedang dipersiapkan.
Demikian pula bunga: ia adalah tanda rahasia bahwa di balik kerja keras alam, tersembunyi pesan sukacita—pesan dari Yang Tak Terbatas kepada hati manusia.
Demikianlah bunga—utusan dari Kekasih Agung kita. Dikelilingi kemegahan duniawi yang dapat disamakan dengan istana emas Rāvaṇa, kita tetap hidup dalam pengasingan. Roh kemakmuran yang angkuh menggoda kita dengan rayuan, mengklaim kita sebagai miliknya. Pada saat itulah bunga datang membawa pesan dari seberang dan berbisik lembut:
“Aku datang. Ia mengutusku. Aku adalah utusan keindahan, Dia yang jiwanya adalah kebahagiaan cinta. Pulau keterasingan ini telah Ia jembatani. Ia tak melupakanmu dan bahkan kini tengah menyiapkan pembebasanmu. Ia akan menarikmu kepada-Nya dan menjadikanmu milik-Nya. Ilusi ini takkan mengekangmu selamanya.”
Jika kita terjaga, kita bertanya, “Bagaimana kami tahu engkau sungguh datang dari-Nya?”
Utusan itu menjawab, “Lihatlah! Aku membawa cincin dari-Nya. Betapa indah warna dan pesonanya.”
Ah, tanpa ragu itu memang milik-Nya—bahkan cincin pernikahan kita sendiri. Segala yang lain seketika memudar dari ingatan. Yang tersisa hanyalah simbol manis sentuhan cinta kekal, yang memenuhi hati dengan kerinduan mendalam. Kita pun sadar bahwa istana emas tempat kita berada tidak pernah sungguh menjadi milik kita. Pembebasan kita berada di luar sana—dan di sanalah cinta berbuah serta hidup menemukan kepenuhannya.
Apa yang bagi lebah di alam hanyalah warna dan aroma, sekadar penunjuk jalan menuju madu, bagi hati manusia menjelma menjadi keindahan dan sukacita yang bebas dari belenggu kebutuhan. Bunga membawa surat cinta ke dalam hati kita, ditulis dengan tinta beraneka warna.
Karena itu dapat kukatakan: betapapun sibuknya kodrat aktif kita secara lahiriah, selalu ada ruang rahasia di dalam hati, tempat segala sesuatu datang dan pergi dengan bebas, tanpa perhitungan dan rancangan. Di sana api bengkel kerja berubah menjadi lampu perayaan; kebisingan pabrik terdengar seperti musik. Rantai besi sebab-akibat berdentang berat di luar, tetapi di dalam hati manusia terdengar sebagai senar emas kecapi yang lembut.
Sungguh menakjubkan bahwa alam memiliki dua wajah ini sekaligus, dan begitu bertentangan: yang satu wajah perbudakan, yang lain wajah kebebasan. Dalam bentuk, bunyi, warna, dan rasa yang sama, terdengar dua nada berbeda—kebutuhan dan sukacita. Di luar, alam tampak sibuk dan gelisah; di dalam, ia hening dan damai. Di satu sisi ada jerih payah, di sisi lain ada senggang. Kita melihat belenggunya ketika memandang dari luar; tetapi di kedalaman hatinya tersimpan keindahan yang tak berbatas.
Seorang peramal berkata:
“Dari sukacita semua makhluk dilahirkan, oleh sukacita mereka dipelihara, menuju sukacita mereka bergerak, dan ke dalam sukacita mereka kembali.”
Ia tidak menutup mata terhadap hukum. Perenungannya tentang sukacita yang tak terbatas bukanlah hasil mabuk oleh pemikiran abstrak. Ia sepenuhnya mengakui hukum alam yang tak terelakkan, dan berkata:
“Api membakar karena takut kepada-Nya; matahari bersinar karena takut kepada-Nya; dan karena takut kepada-Nya angin, awan, dan kematian menjalankan tugasnya.”
Ini adalah pemerintahan dengan aturan besi, yang tak segan menghukum pelanggaran sekecil apa pun. Namun, di tengah ketertiban yang keras itu, sang penyair tetap melantunkan nyanyian kegembiraan:
“Dari sukacita semua makhluk dilahirkan…”
Yang Abadi menampakkan diri sebagai sukacita. Segala manifestasi-Nya dalam ciptaan bersumber dari kepenuhan sukacita-Nya sendiri. Hakikat sukacita yang melimpah adalah dorongan untuk mewujudkan diri dalam bentuk—dan bentuk inilah yang kita kenal sebagai hukum. Sukacita yang tak berbentuk tidak dapat tinggal diam; ia harus mencipta, harus menerjemahkan dirinya ke dalam rupa yang dapat dihadirkan. Sukacita seorang penyanyi menjelma menjadi lagu, sukacita seorang penyair menjadi puisi. Demikian pula manusia, sebagai makhluk pencipta, senantiasa melahirkan bentuk-bentuk dari limpahan sukacitanya.
Sukacita ini—yang juga kita sebut cinta—pada hakikatnya memerlukan dualitas agar dapat terwujud. Ketika seorang penyanyi memperoleh ilham, ia seakan membelah dirinya: di dalam dirinya muncul seorang pendengar, dan para pendengar di luar hanyalah perpanjangan dari pendengar batin itu. Sang kekasih pun mencari “diri lain”-nya dalam yang dicintai. Sukacitalah yang menciptakan pemisahan ini, bukan untuk memisahkan secara mutlak, melainkan agar persatuan dapat dicapai melalui jarak dan rintangan.
Kebahagiaan abadi telah menjadikan diri-Nya dua. Jiwa manusia adalah yang dikasihi—diri lain dari Yang Ilahi. Kita memang terpisah; tetapi bila pemisahan ini bersifat mutlak, dunia hanya akan dipenuhi kesengsaraan dan kejahatan tanpa harapan. Kita takkan pernah mencapai kebenaran dari ketidakbenaran, atau kesucian dari dosa. Segala pertentangan akan membeku selamanya. Tak akan ada bahasa, pemahaman, perjumpaan hati, atau kerja sama hidup. Namun kenyataannya tidak demikian. Kita justru melihat bahwa keterpisahan di dunia ini bersifat cair. Individualitas berubah, saling bertemu, saling melebur. Bahkan sains bergerak menuju metafisika, materi kehilangan batas tegasnya, dan makna kehidupan kian sulit dipastikan secara kaku.
Jiwa individual memang terpisah dari Jiwa Tertinggi, tetapi pemisahan ini bukan akibat keterasingan, melainkan lahir dari kepenuhan cinta. Karena itu ketidakbenaran, penderitaan, dan kejahatan tidak pernah menjadi akhir segalanya. Jiwa manusia memiliki kemampuan untuk melawannya, melampauinya, bahkan mengubahnya menjadi sumber kekuatan dan keindahan yang baru.
Seperti penyanyi yang menerjemahkan sukacitanya ke dalam bunyi, demikian pula pendengar harus menerjemahkan kembali bunyi itu ke dalam sukacita asalnya. Ketika proses ini terjadi, persekutuan antara penyanyi dan pendengar menjadi utuh. Sukacita yang tak terbatas mewujudkan dirinya dalam beragam bentuk dan mengikatkan diri pada hukum-hukum. Dan manusia memenuhi takdirnya ketika ia kembali dari bentuk menuju sukacita, dari hukum menuju cinta—ketika ia melepaskan simpul keterbatasan dan kembali menyimak Yang Tak Terbatas.
Jiwa manusia sedang menempuh perjalanan dari hukum menuju cinta, dari disiplin menuju pembebasan, dari tataran moral menuju tataran spiritual. Buddha mengajarkan disiplin pengendalian diri dan kehidupan moral sebagai langkah awal—sebagai penerimaan penuh terhadap hukum. Namun hukum tidak dimaksudkan sebagai tujuan akhir. Justru dengan menguasainya sepenuhnya, manusia memperoleh kemampuan untuk melampauinya. Inilah kembalinya jiwa kepada Brahma, kepada cinta yang tak terbatas, yang menampakkan diri melalui hukum-hukum yang terbatas. Buddha menyebut keadaan ini Brahma-vihāra: hidup dan berdiam dalam Brahma.
Menurut Buddha, orang yang hendak mencapai keadaan ini tidak boleh menipu siapa pun, tidak menyimpan kebencian terhadap siapa pun, dan tidak pernah berniat menyakiti makhluk lain karena amarah. Ia harus membentangkan cinta tanpa batas kepada semua makhluk, sebagaimana seorang ibu mencintai anak tunggalnya dan melindunginya dengan nyawanya sendiri. Ke atas, ke bawah, dan ke segala arah, cinta itu harus mengalir tanpa rintangan, bebas dari permusuhan dan kekerasan. Dalam berdiri, duduk, berjalan, berbaring, hingga tertidur, pikiran harus tetap hidup dalam niat baik universal.
Ketiadaan cinta adalah sejenis kebal hati. Sebab cinta adalah kesempurnaan kesadaran. Kita tidak mencintai karena kita tidak memahami—atau lebih tepatnya, kita tidak memahami karena kita tidak mencintai. Cinta adalah makna terakhir dari segala sesuatu di sekitar kita. Ia bukan sekadar perasaan, melainkan kebenaran itu sendiri: sukacita yang menjadi akar seluruh ciptaan, cahaya kesadaran murni yang memancar dari Brahma.
Karena itu, untuk menjadi satu dengan Yang sarvānubhūh—yang merasakan segalanya, baik di langit luar maupun di kedalaman jiwa—kita harus mencapai puncak kesadaran itu, yakni cinta:
“Siapakah yang dapat bernapas atau bergerak, jika langit tidak dipenuhi oleh sukacita—oleh cinta?”
Dengan meninggikan kesadaran kita menjadi cinta, dan membentangkannya ke seluruh dunia, kita memasuki Brahma-vihāra, persekutuan dengan sukacita yang tak terbatas.
Cinta secara spontan mengalir dalam anugerah yang tak berkesudahan. Namun anugerah itu kehilangan makna terdalamnya bila kita berhenti pada pemberian dan tidak sampai pada cinta yang memberikannya. Karena itu, cinta harus lebih dulu hidup di dalam hati kita. Orang yang tidak memiliki cinta hanya menilai pemberian berdasarkan kegunaannya. Padahal kegunaan selalu sementara dan parsial: ia hanya menyentuh satu titik kebutuhan, dan setelah kebutuhan itu terpenuhi, ia bahkan dapat menjadi beban. Sebaliknya, tanda yang paling sederhana pun memiliki nilai abadi bila diterima dalam cinta. Sebab ia bukan untuk kegunaan tertentu. Ia adalah tujuan pada dirinya sendiri—ditujukan bagi seluruh keberadaan kita, dan karena itu tak pernah menjemukan.
Pertanyaannya adalah: bagaimana kita menerima dunia ini, yang merupakan anugerah sukacita yang sempurna? Sudahkah kita menerimanya di dalam hati kita, tempat kita menyimpan hal-hal yang bernilai abadi bagi kita? Kita sibuk dengan panik memanfaatkan kekuatan alam semesta untuk memperoleh semakin banyak kekuasaan; kita makan dan berpakaian dari persediaannya, kita berebut kekayaannya, dan dunia pun menjadi medan persaingan yang sengit bagi kita. Tetapi apakah kita dilahirkan untuk ini, untuk memperluas hak milik kita atas dunia dan menjadikannya komoditas dagangan? Ketika seluruh pikiran kita hanya tertuju pada pemanfaatan dunia ini, ia kehilangan nilai sejatinya bagi kita. Kita merendahkannya oleh hasrat-hasrat kita yang rendah; dan hingga akhir hayat kita hanya mencoba memakannya dan kehilangan kebenarannya, seperti anak serakah yang merobek halaman-halaman buku berharga dan mencoba menelannya.
Di negeri-negeri tempat kanibalisme merajalela, manusia memandang manusia lain sebagai makanan. Di negeri semacam itu peradaban tak mungkin berkembang, sebab di sana manusia kehilangan nilai luhurnya dan benar-benar menjadi sesuatu yang murahan. Namun ada bentuk-bentuk kanibalisme lain, mungkin tidak sekasar itu, tetapi tidak kurang keji, yang tidak perlu kita cari jauh-jauh. Di negeri-negeri yang lebih tinggi tingkat peradabannya, kadang-kadang manusia dipandang semata-mata sebagai tubuh, diperjualbelikan di pasar hanya berdasarkan harga dagingnya. Kadang pula ia hanya bernilai sejauh ia berguna; ia dijadikan mesin, dan diperdagangkan oleh pemilik modal untuk memperoleh lebih banyak uang.
Dengan demikian, nafsu kita, keserakahan kita, kecintaan kita pada kenyamanan, berakibat pada perendahan nilai manusia ke titik terendahnya. Ini adalah penipuan diri dalam skala besar. Hasrat-hasrat kita membutakan kita dari kebenaran yang ada dalam diri manusia, dan ini adalah kesalahan terbesar yang kita lakukan terhadap jiwa kita sendiri. Ia mematikan kesadaran kita, dan merupakan metode bunuh diri spiritual yang berlangsung perlahan. Ia menimbulkan borok-borok buruk dalam tubuh peradaban, melahirkan gubuk-gubuk kumuh dan rumah-rumah pelacuran, hukum pidana yang pendendam, sistem penjara yang kejam, serta metode terorganisasi untuk mengeksploitasi bangsa-bangsa lain hingga melukai mereka secara permanen dengan merampas disiplin pemerintahan sendiri dan sarana pertahanan diri.
Tentu saja manusia berguna bagi manusia. Tubuhnya adalah mesin yang menakjubkan, pikirannya alat dengan efisiensi luar biasa. Namun manusia bukan hanya itu. Ia juga adalah roh, dan roh ini hanya dapat dikenal secara utuh melalui cinta. Ketika kita mendefinisikan manusia semata-mata dari nilai pasar jasa yang dapat kita peroleh darinya, kita mengenalnya secara timpang. Dengan pengetahuan yang sempit ini, menjadi mudah bagi kita untuk berlaku tidak adil, bahkan merasa puas diri ketika—berkat keunggulan yang kejam di pihak kita—kita mampu memeras darinya jauh lebih banyak daripada yang kita bayarkan. Tetapi ketika kita mengenalnya sebagai roh, kita menyadari bahwa ia adalah bagian dari diri kita sendiri. Kekejaman terhadapnya berarti kekejaman terhadap diri kita; merendahkannya berarti merampas kemanusiaan kita sendiri. Dan ketika kita mencoba memanfaatkannya semata demi keuntungan pribadi, kita mungkin memperoleh uang atau kenyamanan, tetapi kita membayarnya dengan kehilangan kebenaran.
Suatu sore aku berada di sebuah perahu di Sungai Gangga. Musim gugur sedang indah. Matahari baru saja tenggelam, dan langit dipenuhi keheningan yang sarat kedamaian dan keindahan yang sulit diucapkan. Air sungai terbentang luas tanpa riak, memantulkan segala nuansa cahaya senja yang terus berubah. Gosong-gosong pasir yang sepi membentang bermil-mil, seperti makhluk purba amfibi dari zaman awal dunia, dengan sisik-sisiknya berkilau dalam warna-warna lembut. Ketika perahu kami meluncur perlahan di sepanjang tebing sungai yang terjal, penuh lubang sarang burung, tiba-tiba seekor ikan besar melompat ke permukaan air lalu menghilang kembali. Dalam sekejap, tubuhnya memantulkan seluruh warna langit senja, seakan menyingkap tirai berwarna-warni menuju dunia sunyi yang penuh sukacita kehidupan. Ia muncul dari kedalaman misteriusnya dengan gerak tari yang indah, menambahkan satu nada hidup ke dalam simfoni senyap hari yang sekarat. Aku merasa seolah dunia asing itu menyapaku dalam bahasanya sendiri, dan hatiku disentuh oleh kilatan kegembiraan.
Namun tiba-tiba orang yang memegang kemudi berseru dengan nada penyesalan, “Ah, ikan yang besar!” Dalam benaknya, ikan itu seketika telah berubah menjadi santapan makan malam. Ia hanya mampu melihatnya melalui hasratnya, dan dengan itu kehilangan seluruh kebenaran keberadaan makhluk itu.
Tetapi manusia tidak sepenuhnya binatang. Ia merindukan penglihatan spiritual—penglihatan akan kebenaran yang utuh. Inilah sumber kenikmatan tertingginya, karena di sanalah ia menemukan harmoni terdalam antara dirinya dan lingkungannya. Hasrat-hasrat kitalah yang membatasi jangkauan realisasi diri kita, yang menyempitkan kesadaran kita, dan yang melahirkan dosa. Sebab dosa bukan sekadar perbuatan tertentu, melainkan sikap hidup yang menganggap tujuan kita terbatas, yang menjadikan diri sebagai kebenaran tertinggi, dan yang menyangkal kesatuan hakiki antara kita dengan yang lain.
Karena itu aku ulangi: kita tidak akan pernah memiliki pandangan yang benar tentang manusia tanpa cinta kepadanya. Peradaban harus dinilai bukan dari seberapa besar kekuasaan yang mampu dihimpunnya, melainkan dari seberapa jauh ia mengembangkan dan mengekspresikan cinta kepada kemanusiaan melalui hukum dan lembaga-lembaganya. Pertanyaan paling mendasar yang harus dijawab setiap peradaban adalah ini: sejauh mana ia mengakui manusia sebagai roh, bukan sekadar mesin?
Setiap kali peradaban-peradaban besar runtuh dalam sejarah, penyebabnya selalu sama: kebal hati dan perendahan nilai manusia. Ketika negara atau kelompok yang kuat mulai memandang manusia semata sebagai alat kekuasaan; ketika bangsa-bangsa yang lebih lemah diperbudak dan ditindas, fondasi kebesaran manusia sendiri dihancurkan—yakni cinta akan kebebasan dan keadilan. Tak ada peradaban yang dapat bertahan di atas kanibalisme dalam bentuk apa pun. Sebab yang menjadikan manusia sungguh manusia hanya dapat dipelihara oleh cinta dan keadilan.
Apa yang berlaku bagi manusia, berlaku pula bagi alam semesta. Ketika kita memandang dunia melalui selubung hasrat kita, kita menyempitkannya dan gagal menangkap kebenaran penuhnya. Memang dunia melayani kita dan memenuhi kebutuhan kita, tetapi hubungan kita dengannya jauh lebih dalam daripada sekadar kegunaan. Jiwa kita tertarik kepadanya. Cinta kita pada kehidupan pada dasarnya adalah keinginan untuk mempertahankan hubungan kita dengan dunia yang agung ini. Hubungan itu adalah hubungan cinta.
Kita bersukacita karena berada di dalam dunia; kita terikat kepadanya oleh tak terhitung benang halus yang menjulur dari bumi hingga bintang-bintang. Manusia sering mencoba membuktikan superioritasnya dengan membayangkan keterpisahan radikal antara dirinya dan apa yang ia sebut dunia fisik—bahkan kadang menganggapnya sebagai musuh. Namun semakin pengetahuan berkembang, semakin rapuh klaim keterpisahan itu. Batas-batas imajiner yang kita dirikan runtuh satu demi satu.
Setiap kali tanda-tanda keistimewaan mutlak yang kita klaim bagi diri kita sendiri lenyap, kita merasakan guncangan yang merendahkan. Tetapi guncangan itu harus diterima. Jika kesombongan kita menghalangi jalan realisasi diri dan memaksakan pemisahan, cepat atau lambat ia akan digilas oleh roda kebenaran dan hancur menjadi debu.
Tidak, kita tidak dianugerahi keunggulan ganjil yang membuat kita terasing dari segalanya. Akan sungguh merendahkan jika kita harus hidup di dunia yang kualitas jiwanya lebih rendah dari kita—sebagaimana menjijikkan hidup dilayani oleh sekumpulan budak seumur hidup. Sebaliknya, dunia ini adalah sejawat kita. Lebih dari itu: kita sesungguhnya satu dengannya.
Melalui kemajuan sains, keutuhan dunia dan kesatuan kita dengannya semakin terang bagi pikiran. Namun ketika kesadaran akan kesatuan ini tidak lagi berhenti sebagai pemahaman intelektual—ketika ia membuka seluruh keberadaan kita ke dalam kesadaran yang bercahaya tentang Yang Menyeluruh—maka ia berubah menjadi sukacita yang memancar, menjadi cinta yang meliputi segalanya. Roh kita menemukan dirinya yang lebih luas di dalam seluruh dunia, dan di sanalah ia dipenuhi kepastian mutlak akan keabadiannya.
Roh itu memang “mati” seratus kali dalam sekat-sekat diri, sebab keterpisahan ditakdirkan untuk lenyap; ia tak dapat dibuat abadi. Tetapi ia tak pernah mati ketika ia menyatu dengan yang menyeluruh. Di sanalah kebenarannya, di sanalah sukacitanya. Ketika seseorang merasakan denyut ritmis kehidupan-jiwa seluruh dunia bergetar di dalam jiwanya sendiri, saat itulah ia benar-benar bebas. Ia masuk ke dalam rayuan rahasia antara mempelai dunia yang indah—berselubung warna-warni keterbatasan—dan Sang Paramātman, mempelai pria dalam putih yang murni. Ia tahu bahwa dirinya turut ambil bagian dalam perayaan cinta yang agung ini, menjadi tamu terhormat di perjamuan keabadian. Maka ia pun memahami makna nyanyian sang peramal-penyair:
“Dari cinta dunia dilahirkan, oleh cinta ia dipelihara, menuju cinta ia bergerak, dan ke dalam cinta ia masuk.”
Dalam cinta, seluruh pertentangan keberadaan melebur dan lenyap. Hanya dalam cinta kesatuan dan dualitas tidak saling meniadakan. Cinta harus menjadi satu dan dua pada saat yang sama.
Hanya cinta yang sekaligus merupakan gerak dan diam. Hati kita terus berpindah-pindah hingga menemukan cinta, dan di sanalah ia beristirahat. Namun istirahat ini sendiri adalah bentuk aktivitas yang paling intens: titik di mana keheningan total dan energi yang tak henti-hentinya bertemu. Dalam cinta, rugi dan untung diperdamaikan. Dalam neraca cinta, kredit dan debit berada pada kolom yang sama; memberi dihitung sebagai keuntungan. Dalam perayaan agung ciptaan ini—dalam upacara pengorbanan diri Tuhan yang besar ini—Sang Kekasih terus-menerus menyerahkan diri-Nya untuk memperoleh diri-Nya kembali di dalam cinta. Cinta-lah yang mengikat secara tak terpisahkan tindakan melepaskan dan tindakan menerima.
Dalam cinta, pada satu kutub terdapat yang personal, dan pada kutub lain yang impersonal. Pada satu sisi ada penegasan yang kuat: “Inilah aku”; pada sisi lain penyangkalan yang sama kuat: “Aku bukan.” Tanpa ego, apa arti cinta? Namun dengan ego semata, bagaimana cinta mungkin ada?
Keterikatan dan pembebasan tidaklah bertentangan dalam cinta. Sebab cinta adalah yang paling bebas sekaligus yang paling terikat. Jika Tuhan sepenuhnya bebas, takkan ada ciptaan. Yang Tak Terbatas justru mengambil atas diri-Nya misteri keterbatasan. Dan di dalam Dia yang adalah cinta, yang terbatas dan yang tak terbatas menjadi satu.
Karena itu, ketika kita memperdebatkan nilai relatif kebebasan dan ketidakbebasan, sering kali kita hanya bermain kata. Kita tidak hanya menginginkan kebebasan; kita juga merindukan keterikatan. Fungsi luhur cinta adalah menyambut batas-batas dan sekaligus melampauinya. Tak ada yang lebih merdeka daripada cinta—dan di mana lagi kita temukan ketergantungan yang lebih besar? Dalam cinta, keterikatan sama mulianya dengan kebebasan.
Tradisi Waisnawa bahkan dengan berani menyatakan bahwa Tuhan telah mengikatkan diri-Nya kepada manusia, dan di situlah letak kemuliaan terbesar eksistensi manusia. Dalam pesona ritme menakjubkan dari yang terbatas, Ia membelenggu diri-Nya pada setiap langkah, dan melalui pembatasan itulah Ia mencurahkan cinta-Nya dalam musik, dalam lirik-lirik keindahan yang paling sempurna. Keindahan adalah rayuan-Nya kepada hati manusia; ia tak memiliki tujuan lain. Ia berkata kepada kita, di mana-mana, bahwa pertunjukan kekuasaan bukanlah makna terakhir ciptaan. Setiap seberkas warna, setiap nada lagu, setiap keanggunan bentuk adalah panggilan bagi cinta kita.
Kelaparan memang memaksa kita tunduk pada perintahnya, tetapi kelaparan bukanlah kata terakhir bagi manusia. Ada orang-orang yang justru menentangnya untuk menegaskan bahwa jiwa manusia tidak boleh dipimpin semata oleh tekanan kebutuhan dan ancaman penderitaan. Untuk hidup sebagai manusia, kita harus melawan tuntutan itu setiap hari—baik dalam perkara kecil maupun besar.
Namun di sisi lain, keindahan di dunia tak pernah menghina kebebasan kita. Ia tak pernah mengangkat jari untuk memaksa pengakuan. Kita dapat sepenuhnya mengabaikannya tanpa menerima hukuman apa pun. Ia adalah panggilan, bukan perintah. Ia mencari cinta kita—dan cinta tak pernah dapat diperoleh dengan paksaan. Paksaan bukanlah daya tarik terakhir bagi manusia; sukacitalah yang menjadi daya tarik itu.
Sukacita ada di mana-mana: dalam hamparan hijau rumput bumi; dalam keteduhan biru langit; dalam kelimpahan liar musim semi; dalam pantang keras musim dingin yang kelabu; dalam daging hidup yang menghidupkan tubuh kita; dalam keseimbangan sempurna sosok manusia yang luhur dan tegak; dalam hidup; dalam penggunaan semua daya kita; dalam pencarian pengetahuan; dalam perjuangan melawan kejahatan; dalam mati demi keuntungan yang tak pernah dapat kita nikmati sendiri. Sukacita ada di mana-mana; ia berlimpah, tak perlu; bahkan sering kali bertentangan dengan perintah kebutuhan yang paling keras. Ia ada untuk menunjukkan bahwa ikatan hukum hanya dapat dijelaskan oleh cinta; keduanya seperti tubuh dan jiwa. Sukacita adalah perwujudan kebenaran kesatuan—kesatuan jiwa kita dengan dunia dan jiwa-dunia dengan Sang Kekasih Tertinggi.
REALISASI DALAM TINDAKAN
Hanya mereka yang memahami bahwa sukacita mengekspresikan dirinya melalui hukum yang mampu melampaui hukum itu sendiri. Bukan karena hukum berhenti berlaku bagi mereka, melainkan karena hukum berubah menjadi wujud kebebasan yang hidup. Jiwa yang merdeka tidak menolak ikatan-ikatan hukum; justru ia menerimanya dengan gembira. Dalam setiap ikatan, ia merasakan perwujudan energi tak terbatas yang hakikatnya adalah sukacita penciptaan.
Sesungguhnya, di tempat tidak ada ikatan sama sekali—di tempat kebebasan disalahpahami sebagai tanpa batas—jiwa justru kehilangan kebebasannya. Di sanalah luka itu muncul, di sanalah keterpisahannya dari Yang Tak Terbatas, dan di sanalah penderitaan dosa berakar. Setiap kali, karena godaan, jiwa melepaskan diri dari ikatan hukum, ia menjadi seperti anak kecil yang kehilangan sandaran lengan ibunya, lalu menangis ketakutan:
Mā mā himsīḥ
Jangan pukul aku!
“Belenggulah aku,” demikian doa jiwanya, “ikat aku dalam hukum-Mu; ikat aku di dalam dan di luar; genggam aku erat. Biarlah aku terikat bersama sukacita-Mu dalam pegangan hukum-Mu. Lindungi aku dari kelonggaran dosa yang mematikan.”
Sebagaimana ada orang yang mengira hukum adalah lawan dari sukacita lalu menyamakan mabuk dengan kegembiraan, demikian pula banyak orang mengira bahwa tindakan adalah lawan dari kebebasan. Mereka berpikir bahwa aktivitas—karena berlangsung di dunia material—membatasi roh jiwa yang bebas. Namun sesungguhnya, sebagaimana sukacita menemukan bentuknya melalui hukum, demikian pula jiwa menemukan kebebasannya melalui tindakan.
Sukacita tidak dapat tinggal terkurung di dalam dirinya sendiri; ia menuntut bentuk di luar. Demikian pula jiwa tidak dapat menemukan kebebasan hanya dengan berdiam di dalam; ia memerlukan tindakan nyata. Jiwa manusia senantiasa membebaskan dirinya dari lipatan-lipatan batinnya sendiri melalui aktivitas. Tanpa itu, ia bahkan takkan mampu melakukan satu pun perbuatan yang sungguh-sungguh sukarela.
Semakin manusia bertindak dan mewujudkan apa yang masih laten di dalam dirinya, semakin dekat ia membawa yang belum terwujud ke dalam kenyataan. Dalam proses ini, manusia makin menegaskan dirinya dan melihat dirinya dengan lebih jelas dalam berbagai peran dan medan—dalam masyarakat, dalam negara, dalam kehidupan bersama. Kejelasan inilah yang menumbuhkan kebebasan.
Kebebasan bukanlah kegelapan, bukan pula kekaburan. Tak ada belenggu yang lebih menakutkan daripada ketidakjelasan. Untuk melepaskan diri dari ketidakjelasan inilah benih bertunas dan kuncup berjuang mekar. Untuk menyingkirkan selubung kabur inilah gagasan-gagasan dalam pikiran kita mencari bentuk lahiriah. Demikian pula jiwa kita: agar bebas dari kabut ketidakjelasan dan tampil ke ruang terbuka, ia terus menciptakan ladang-ladang tindakan baru, bahkan yang tidak diperlukan bagi kebutuhan jasmani semata. Mengapa? Karena jiwa ingin kebebasan. Ia ingin melihat dan mewujudkan dirinya.
Ketika manusia menebangi hutan belantara yang mematikan dan mengubahnya menjadi taman, keindahan yang ia bebaskan dari kurungan keburukan itu sesungguhnya adalah keindahan jiwanya sendiri. Tanpa membebaskan keindahan di luar, ia tak dapat membebaskannya di dalam. Ketika ia menanamkan hukum dan ketertiban di tengah kekacauan sosial, kebaikan yang ia lepaskan dari belenggu keburukan adalah kebaikan jiwanya sendiri. Tanpa pembebasan di luar, kebebasan batin takkan tercapai.
Demikianlah manusia terus-menerus membebaskan—melalui tindakan—kekuatannya, keindahannya, kebaikannya, bahkan jiwanya sendiri. Dan semakin berhasil ia melakukan pembebasan ini, semakin besar ia mengenal dirinya, semakin luas medan kesadaran dan kebebasannya.
Upanishad berkata:
Kurvannēvēha karmāni jijīviṣet śataṃ samāḥ
Di tengah-tengah aktivitas sajalah engkau hendak hidup seratus tahun.
Ini adalah sabda mereka yang telah sepenuhnya mengecap sukacita jiwa. Mereka yang sungguh merealisasikan jiwa tidak pernah berbicara dengan nada muram tentang kesedihan hidup atau belenggu tindakan. Mereka bukan seperti bunga rapuh yang tangkai penyangganya terlalu lemah sehingga gugur sebelum berbuah. Mereka berpegang pada hidup dengan seluruh kekuatan dan berkata, “Kami takkan melepaskan sebelum buahnya masak.” Dalam sukacita, mereka rindu mengekspresikan diri secara penuh melalui hidup dan karya. Rasa sakit dan duka tidak mengguncang mereka; mereka tidak tersungkur ke debu oleh berat hati mereka sendiri.
Dengan kepala tegak laksana pahlawan pemenang, mereka melangkah melalui hidup, melihat dan memperlihatkan diri dalam kilau jiwa yang kian bertambah—baik melalui suka maupun duka. Sukacita hidup mereka berjalan seirama dengan sukacita energi kosmis yang bermain membangun dan merobohkan di seluruh jagat raya. Sukacita sinar matahari dan sukacita udara bebas berpadu dengan sukacita hidup mereka, menciptakan harmoni yang manis di dalam dan di luar. Merekalah yang berkata: di tengah-tengah aktivitas sajalah engkau hendak hidup seratus tahun.
Sukacita hidup ini—sukacita bekerja ini—pada manusia adalah sepenuhnya nyata. Tak ada gunanya menyebutnya sekadar khayalan dan menyatakan bahwa ia harus disingkirkan demi memasuki jalan realisasi diri. Tidak ada manfaatnya mencoba merealisasikan Yang Tak Terbatas dengan memisahkan diri dari dunia tindakan. Jalan itu buntu.
Tidak benar bahwa manusia bertindak semata-mata karena paksaan. Jika di satu sisi ada keharusan, di sisi lain ada kenikmatan; jika di satu sisi tindakan didorong oleh kebutuhan, di sisi lain ia bergerak menuju pemenuhan alaminya. Itulah sebabnya, seiring kemajuan peradaban, manusia justru menambah kewajiban dan pekerjaan yang ia ciptakan secara sukarela. Alam mungkin telah memberinya cukup pekerjaan untuk menyibukkannya—bahkan mencambuknya oleh lapar dan haus—namun manusia tidak menganggapnya cukup. Ia tidak puas hanya mengerjakan tugas yang alam tetapkan baginya sebagaimana burung dan binatang. Ia harus melampaui semuanya, bahkan dalam aktivitas.
Tak ada makhluk yang bekerja sekeras manusia. Ia terdorong menciptakan ladang tindakan yang luas dalam masyarakat. Di ladang inilah ia terus membangun dan merobohkan, membuat dan membatalkan hukum, menimbun materi, serta tanpa henti berpikir, mencari, dan menderita. Di sinilah ia bertempur dalam pertempuran-pertempuran terbesarnya, memperoleh kehidupan baru berulang kali, memuliakan kematian, dan—jauh dari menghindari kesukaran—dengan rela memikul beban-beban baru. Ia menemukan kebenaran bahwa dirinya tidak lengkap dalam sangkar lingkungan terdekatnya; bahwa ia lebih besar daripada masa kini; dan bahwa meskipun berhenti tampak menenteramkan, penghentian hidup justru menghancurkan fungsi sejati dan tujuan hakiki keberadaannya.
Mahatī vinaṣṭiḥ—kehancuran besar—adalah sesuatu yang tak sanggup ia tanggung. Karena itu ia bekerja dan menderita agar dapat bertumbuh melampaui dirinya yang sekarang, menjadi apa yang belum ia capai. Dalam jerih payah inilah terletak kemuliaan manusia. Dan karena ia mengetahuinya, ia tidak berusaha membatasi medan tindakannya, melainkan terus memperluas batas-batasnya.
Kadang ia mengembara terlalu jauh, hingga pekerjaannya nyaris kehilangan makna dan gerakannya menimbulkan pusaran-pusaran berbahaya—pusaran kepentingan diri dan kesombongan kuasa. Namun selama daya arusnya tidak lenyap, tak ada yang perlu ditakuti. Rintangan dan endapan mati dari aktivitasnya akan terurai dan terbawa pergi; dorongan hidup itu sendiri akan mengoreksi kesalahannya. Bahaya sejati justru muncul ketika jiwa tertidur dalam stagnasi—saat itulah musuh-musuhnya memperoleh kekuatan, dan rintangan menjadi terlalu menyumbat untuk ditembus.
Karena itu para guru kita memperingatkan: untuk bekerja kita harus hidup, dan untuk hidup kita harus bekerja. Hidup dan aktivitas tidak terpisahkan.
Ciri khas kehidupan adalah bahwa ia tidak pernah lengkap di dalam dirinya sendiri; ia selalu menuntut keluar dari dirinya. Kebenaran hidup terletak pada perniagaan yang terus-menerus antara yang di dalam dan yang di luar. Untuk hidup, tubuh harus menjalin relasi dengan cahaya dan udara—bukan hanya untuk memperoleh daya hidup, tetapi untuk mewujudkan hidup itu sendiri. Perhatikan betapa sibuknya tubuh dengan aktivitas batinnya: denyut jantung tak boleh berhenti sedetik pun, lambung dan otak harus bekerja tanpa henti. Namun semua itu belum cukup. Tubuh tetap terdorong ke luar. Hidup menuntunnya pada tarian tanpa akhir antara kerja dan permainan, antara usaha dan petualangan. Ia tidak puas dengan sirkulasi ekonomi internalnya saja; pemenuhan sukacitanya justru ditemukan dalam keterbukaan ke luar.
Demikian pula jiwa. Jiwa tidak dapat hidup dari perasaan dan khayalan batin semata. Ia selalu membutuhkan objek-objek eksternal—bukan hanya untuk menyuburkan kesadaran batinnya, tetapi juga untuk mewujudkan dirinya dalam tindakan; bukan hanya untuk menerima, melainkan juga untuk memberi.
Di sinilah kebenaran mendasarnya: kita tidak dapat hidup dengan membelah Yang Ilahi menjadi dua. Kita harus tinggal di dalam-Nya, baik di dalam maupun di luar. Dalam aspek mana pun kita menafikan-Nya, kita menipu diri sendiri dan menanggung kerugian.
Upanishad menyatakan:
Māham brahma nirākuryyām mā mā brahma nirākarōt
Brahma tidak meninggalkanku; jangan aku meninggalkan Brahma.
Jika kita berkata bahwa kita akan merealisasikan-Nya hanya melalui introspeksi dan menyingkirkan-Nya dari tindakan lahiriah; bahwa kita akan menikmati-Nya dalam cinta batin tetapi tidak menyembah-Nya melalui pelayanan nyata; atau sebaliknya, hanya menekankan satu sisi dari perjalanan hidup—maka dalam kedua kasus itu kita akan terhuyung menuju kejatuhan.
Di dunia Barat, jiwa manusia tampak terutama sibuk memperluas diri ke luar. Medan kuasa dan penguasaan menjadi ladang utamanya. Keberpihakannya begitu kuat pada dunia perluasan hingga medan kesadaran batin—medan pemenuhan—disisihkan, bahkan nyaris tak dipercaya. Mereka telah melangkah sejauh itu sehingga kesempurnaan pemenuhan tampak tak pernah ada. Ilmu pengetahuan mereka berbicara tentang evolusi dunia tanpa akhir; metafisika mereka mulai berbicara tentang evolusi Tuhan itu sendiri. Mereka enggan mengakui bahwa Ia ada; mereka ingin Ia terus menjadi.
Yang gagal mereka sadari adalah ini: sementara Yang Tak Terbatas memang selalu melampaui batas apa pun, Ia sekaligus lengkap. Di satu sisi Brahma tampak berevolusi; di sisi lain Ia adalah kesempurnaan. Di satu aspek Ia esensi, di aspek lain Ia manifestasi—keduanya sekaligus, seperti lagu dan tindakan bernyanyi. Kita mungkin hanya mendengar nyanyian yang sedang berlangsung dan tak pernah sekaligus keseluruhan lagu; namun kita selalu tahu bahwa lagu yang utuh telah hadir dalam jiwa sang penyanyi.
Karena penekanan sepihak pada berbuat dan menjadi inilah lahir mabuk kekuasaan. Hasrat untuk terus menggenggam, menaklukkan, dan menguasai tak mengenal titik penyempurnaan. Kematian tak diberi tempat alaminya; keindahan selesai dan tuntas tak diakui. Yang ada hanyalah dorongan tanpa akhir untuk bergerak.
Namun di negeri kita, bahaya datang dari sisi yang berlawanan. Keberpihakan kita sering jatuh pada dunia batin semata. Medan tindakan, kuasa, dan perluasan dipandang dengan kecurigaan, bahkan penghinaan. Kita ingin merealisasikan Brahma hanya dalam meditasi, hanya dalam aspek kesempurnaan-Nya, dan menolak melihat-Nya dalam perniagaan jagat raya sebagai proses evolutif. Maka pada para pencari sering kita jumpai mabuk rohani beserta kemerosotan yang mengikutinya: iman yang menolak hukum, imajinasi yang melayang tanpa batas, perilaku yang tak mau memberi pertanggungjawaban pada nalar.
Intelek mereka, dalam upaya sia-sia menangkap Brahma tanpa ciptaan-Nya, menjadi kering; hati mereka, yang ingin mengurung-Nya dalam luapan emosi semata, pingsan dalam ekstasi. Mereka kerap gagal mengukur berapa besar kehilangan kekuatan dan karakter yang diderita kemanusiaan ketika ikatan hukum dan tuntutan tindakan di dunia nyata diabaikan.
Padahal spiritualitas sejati, sebagaimana diajarkan dalam kitab-kitab suci kita, berdiri seimbang dan tenang—dalam korelasi antara yang di dalam dan yang di luar. Kebenaran memiliki hukumnya, dan kebenaran juga memiliki sukacitanya. Di satu sisi terdengar kidung:
Bhayād asyāgnis tapati
Karena takut kepada-Nya api menyala;
di sisi lain bergema pula:
Ānandād eva khalv imāni bhūtāni jāyante
Dari sukacita semua makhluk dilahirkan.
Kebebasan tidak mungkin dicapai tanpa ketundukan pada hukum. Sebab Brahma, pada satu aspek, terikat oleh kebenaran-Nya sendiri; dan pada aspek lain, Ia bebas dalam sukacita-Nya.
Di sanalah kehidupan menemukan keseimbangannya: taat tanpa perbudakan, bebas tanpa kekacauan; bekerja tanpa kehilangan jiwa, dan bermeditasi tanpa meninggalkan dunia.
Bagi kita sendiri, hanya ketika kita sepenuhnya tunduk pada ikatan kebenaranlah kita sungguh meraih sukacita kebebasan. Bagaimana hal ini mungkin? Bayangkan dawai yang terikat pada kecapi. Hanya ketika kecapi disetem dengan tepat—ketika tidak ada sedikit pun kelonggaran dalam ikatannya—musik dapat lahir. Dawai itu, dengan melampaui dirinya sendiri dalam melodi, justru menemukan kebebasan sejatinya pada setiap kord. Karena terikat oleh aturan yang keras dan pasti di satu sisi, ia memperoleh jangkauan kebebasan musik di sisi lain. Selama dawai belum tepat nadanya, ia memang hanya terikat; namun melonggarkan ikatan bukanlah jalan menuju kebebasan. Kebebasan hanya tercapai ketika ikatan itu diperketat hingga mencapai nada yang benar.
Demikian pula dawai bas dan trebel dari kewajiban kita. Ia terasa sebagai belenggu selama kita belum mampu menjaganya tetap tersetem menurut hukum kebenaran. Pelonggaran kewajiban ke dalam kehampaan ketidakaktifan bukanlah kebebasan, melainkan kehilangan makna. Karena itu aku katakan: usaha sejati dalam pencarian kebenaran—dharma—bukanlah menghindari tindakan, melainkan menyelaraskan tindakan dengan harmoni abadi. Teks dari usaha ini berbunyi:
Yadyat karma prakurvīta tad brahmani samarpayet
Apa pun pekerjaan yang engkau lakukan, persembahkanlah itu kepada Brahma.
Maknanya jelas: jiwa mendedikasikan dirinya kepada Brahma melalui seluruh aktivitasnya. Dedikasi inilah nyanyian jiwa; di dalamnya terletak kebebasan. Sukacita meraja ketika seluruh pekerjaan menjadi jalan persatuan, ketika jiwa tidak lagi kembali-menerus pada hasratnya sendiri, ketika persembahan diri semakin menguat. Saat itulah ada kepenuhan. Saat itulah ada kebebasan. Saat itulah—di dunia ini juga—Kerajaan Tuhan hadir.
Siapakah yang, duduk di sudut kesendiriannya, berani mengejek ekspresi agung umat manusia ini dalam tindakan—pengudusan diri yang tak henti-hentinya? Siapakah yang menyangka bahwa persatuan Tuhan dan manusia ditemukan dalam kenikmatan tersembunyi dari khayalan pribadi, jauh dari bait besar kemanusiaan yang menjulang ke langit, yang dibangun oleh seluruh umat manusia dengan jerih payah sepanjang zaman—dalam terik dan badai?
Wahai pengembara yang tersesat, wahai sannyasin yang mabuk pemabukan diri—tidakkah engkau mendengar laju jiwa manusia di jalan raya sejarah? Tidakkah engkau merasakan gemuruh kemajuannya, melintasi ladang luas kemanusiaan, dalam kereta capaian yang ditakdirkan menembus batas-batas dunia? Pegunungan terbelah di hadapan panji-panji yang berkibar; kegelapan materi lenyap seperti kabut di hadapan matahari terbit. Rasa sakit, penyakit, dan kekacauan surut selangkah demi selangkah; kebodohan disingkirkan, kebutaan ditembus; dan perlahan tersingkap tanah perjanjian pengetahuan, kesehatan, seni, puisi, dan kebenaran.
Apakah engkau hendak berkata bahwa kereta kemanusiaan ini berjalan tanpa kusir? Bahwa gerak besar sejarah ini tak memiliki tujuan? Siapakah yang begitu bodoh hingga lari dari arak-arakan penuh sukacita ini dan mencari Tuhan dalam kelesuan ketidakaktifan? Siapakah yang begitu terbenam dalam ketidakbenaran hingga berani menyebut semua ini ilusi—peradaban manusia yang mengembang, usaha abadi manusia untuk menang, melalui duka dan suka, melalui rintangan lahir dan batin?
Ia yang menganggap kebesaran ini sebagai penipuan, dapatkah ia sungguh percaya kepada Tuhan yang adalah kebenaran? Ia yang mengira dapat mencapai Tuhan dengan melarikan diri dari dunia—di mana dan kapan ia berharap bertemu dengan-Nya? Sejauh mana ia akan terbang, jika bukan ke dalam kehampaan itu sendiri?
Tidak. Pengecut yang melarikan diri tidak akan menemukan-Nya di mana pun. Kita harus cukup berani untuk berkata: kita sedang mencapai-Nya di sini, sekarang juga. Sebab sebagaimana dalam tindakan kita merealisasikan diri, demikian pula di dalam diri kita merealisasikan Dia—Diri dari segala diri. Kita memperoleh hak untuk mengatakan ini hanya bila kita membersihkan jalan aktivitas kita dari kekacauan dan disharmoni, dan mampu berkata dengan jujur:
“Dalam pekerjaanku ada sukacitaku, dan dalam sukacita itu berdiam sukacita dari sukacitaku.”
Upanishad menyebut orang semacam ini:
Brahmavidām variṣṭhaḥ
yang terunggul di antara para pengenal Brahma,
dan mendefinisikannya sebagai:
Ātmakrīḍha ātmaratiḥ kriyāvān
ia yang bersukacita di dalam Brahma, bermain di dalam Brahma—dan aktif.
Sukacita tanpa permainan bukanlah sukacita; permainan tanpa aktivitas bukanlah permainan. Aktivitas adalah permainan sukacita. Ia yang sukacitanya ada di Brahma, bagaimana mungkin hidup dalam ketidakaktifan? Justru melalui aktivitasnya ia menyediakan tempat bagi sukacita Brahma untuk mengambil bentuk. Karena itu, pengenal Brahma harus menempatkan seluruh hidupnya—makan, bekerja, memberi—di dalam Brahma.
Brahma sendiri mengekspresikan sukacita-Nya demikian:
Melalui aktivitas-Nya yang beraneka, Ia memenuhi kebutuhan batin makhluk-makhluk-Nya.
Kebutuhan batin itu adalah Dia sendiri. Karena itu Ia memberi diri-Nya dalam banyak bentuk. Ia bekerja, sebab tanpa bekerja Ia tak dapat memberi diri-Nya. Sukacita-Nya adalah pemberian yang terus-menerus.
Di sinilah letak makna terdalam kita—dan kemiripan kita dengan Bapa. Kita pun dipanggil untuk memberi diri dalam aktivitas yang beragam. Dalam Weda Ia disebut:
Ātmadā baladā
Pemberi diri-Nya, pemberi kekuatan.
Ia bukan hanya memberi diri-Nya kepada kita, tetapi memberi kita kekuatan untuk memberi diri. Maka resi Upanishad berdoa:
Sa no buddhya śubhayā samyunaktu
Semoga Ia menganugerahkan budi yang membawa kebaikan.
Budi yang membawa kebaikan adalah budi yang melihat bahwa kebutuhan orang lain adalah kebutuhan batin diri kita sendiri; bahwa sukacita kita terletak pada pengarahan kekuatan kita yang beragam bagi karya kemanusiaan.
Ketika kita bekerja dengan budi semacam ini, aktivitas kita menjadi teratur tanpa menjadi mekanis. Ia tidak lahir dari kekurangan, melainkan dari kepenuhan. Ia bukan tiruan buta, bukan kepengecutan mengikuti mode. Dalam kerja semacam inilah kita melihat bahwa Ia ada di awal dan di akhir semesta, dan bahwa pekerjaan kita sendiri bersumber pada-Nya dan kembali kepada-Nya—maka seluruh aktivitas diliputi damai dan sukacita.
Upanishad berkata:
Svābhāvikī jñāna bala kriyā ca
Pengetahuan, kekuatan, dan tindakan adalah sifat-Nya.
Karena sifat ini belum sepenuhnya lahir dalam diri kita, kita memisahkan sukacita dari kerja. Hari kerja bukan hari sukacita; kita membutuhkan hari libur. Sungai menemukan hari liburnya dalam alirannya, api dalam nyalanya, bunga dalam keharumannya—tetapi kita tidak, sebab kita tidak menyerahkan diri sepenuhnya kepada pekerjaan kita. Maka kerja menindas kita.
Wahai Yang Memberi Diri!
Biarlah jiwa kami menyala menuju-Mu seperti api,
mengalir menuju-Mu seperti sungai,
meresapi keberadaan-Mu seperti keharuman bunga.
Berilah kami kekuatan untuk mencintai hidup sepenuhnya—
dalam sukacita dan duka, untung dan rugi, naik dan turun.
Berilah kami keberanian untuk menerima dan memberi.
Singkirkanlah khayalan lemah yang memisahkan sukacita dari tindakan.
Di mana petani membajak tanah keras, di sanalah sukacita-Mu menghijau.
Di mana manusia menata kekacauan menjadi keteraturan, di sanalah damai-Mu turun.
Wahai Pekerja Semesta,
biarlah energi-Mu mengalir seperti angin selatan musim semi,
menyanyikan kembali jiwa kami yang kering,
hingga daya-daya kami berseru menuju pemenuhan tanpa batas—
dalam daun, bunga, dan buah.
PERWUJUDAN KEINDAHAN
Hal-hal yang tidak memberi kita sukacita pada akhirnya hanya memiliki tiga kemungkinan relasi dengan kita. Ia menjadi beban bagi pikiran, sehingga kita ingin menyingkirkannya dengan cara apa pun; atau ia berguna, sehingga hubungannya dengan kita bersifat sementara dan parsial, lalu berubah menjadi beban ketika kegunaannya berakhir; atau ia sekadar melintas, seperti pengembara liar yang singgah sejenak di pinggir kesadaran lalu berlalu tanpa bekas.
Suatu hal sungguh-sungguh menjadi milik kita sepenuhnya hanya ketika ia menjadi sumber sukacita bagi kita.
Sebagian besar dunia, dalam arti ini, seolah-olah tidak ada bagi kita. Namun kita tidak boleh membiarkannya demikian, sebab dengan demikian kita mengecilkan diri kita sendiri. Seluruh dunia telah dianugerahkan kepada kita, dan semua daya yang kita miliki menemukan makna akhirnya dalam keyakinan bahwa, dengan daya-daya itu, kita dipanggil untuk mengambil alih warisan kita.
Di sinilah pertanyaan tentang fungsi rasa keindahan muncul dalam proses perluasan kesadaran ini. Apakah keindahan ada untuk memecah kebenaran menjadi cahaya dan bayangan yang keras, lalu menampilkannya kepada kita sebagai pembedaan mutlak antara indah dan jelek? Jika demikian, maka rasa keindahan justru akan menciptakan perpecahan di alam semesta kita dan mendirikan tembok penghalang di jalan raya komunikasi yang menghubungkan segala sesuatu dengan semua hal.
Namun itu tidak mungkin benar. Selama perwujudan kita belum lengkap, pembelahan antara yang dikenal dan yang tak dikenal, yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan, memang niscaya ada. Tetapi—bertentangan dengan pandangan sebagian filsuf—manusia tidak pernah menerima batas yang sewenang-wenang dan mutlak atas dunia yang dapat diketahuinya. Setiap hari sains menembus wilayah yang dahulu ditandai sebagai tak terjelajahi. Rasa keindahan kita pun melakukan penaklukan yang serupa. Jika kebenaran hadir di mana-mana, maka segala sesuatu berpotensi menjadi objek pengetahuan; dan jika keindahan mahahadir, maka segala sesuatu pun berpotensi menjadi sumber sukacita.
Pada tahap awal sejarah kesadarannya, manusia memandang segala sesuatu sebagai gejala kehidupan. Ilmu tentang kehidupan bermula dengan membedakan secara tajam antara yang hidup dan yang tak hidup. Namun semakin jauh pemahaman itu berkembang, garis pemisah ini kian kabur. Garis kontras yang tajam memang membantu kita pada awalnya, tetapi ketika pengertian kita menjadi lebih matang, garis-garis itu berangsur memudar.
Upanishad mengatakan bahwa segala sesuatu diciptakan dan dipelihara oleh sukacita yang tak terbatas. Untuk mewujudkan prinsip penciptaan ini dalam kesadaran manusia, prosesnya harus dimulai dengan pembelahan—antara yang indah dan yang tidak indah. Penghayatan keindahan datang pertama-tama dengan hentakan kontras yang kuat, membangunkan kesadaran dari kelesuan purbanya. Karena itu, perkenalan awal kita dengan keindahan hadir dalam warna-warna mencolok, garis-garis yang memikat, bahkan dalam kejanggalan dan kecacatan.
Namun ketika pengenalan itu matang, disharmoni yang tampak mulai terurai menjadi modulasi ritme. Pada mulanya kita memisahkan keindahan dari lingkungannya dan menahannya secara eksklusif; tetapi pada akhirnya kita menyadari keselarasan keindahan dengan segalanya. Musik keindahan pun tidak lagi perlu menggugah kita dengan kebisingan. Ia menanggalkan kekerasan dan berbicara dengan suara lembut, menyampaikan kebenaran bahwa kelembutanlah yang mewarisi bumi.
Dalam sejarah, ada masa ketika manusia mendirikan kultus sempit atas keindahan, membatasinya pada lingkaran kecil kaum terpilih. Maka keindahan melahirkan keterlekatan dan ekses pada para pemujanya, sebagaimana pernah terjadi dalam kemerosotan peradaban India ketika penghayatan kebenaran yang lebih tinggi surut dan takhayul tumbuh tanpa kendali.
Namun sejarah estetika juga mengenal masa pembebasan—ketika pengakuan atas keindahan dalam hal-hal besar dan kecil menjadi wajar; ketika keindahan ditemukan bukan terutama dalam keunikan yang mengejutkan, melainkan dalam keselarasan sederhana kehidupan sehari-hari. Kita bahkan melewati fase reaksi, ketika demi pembangkangan terhadap konvensi, kita sengaja menghindari segala yang menyenangkan dan memuliakan kejanggalan secara agresif. Reaksi ini sendiri melahirkan disharmoni, karena setiap reaksi berlebihan selalu demikian.
Tanda-tanda zaman kita menunjukkan bahwa manusia mulai menyadari bahwa hanya kesempitan persepsilah yang membelah medan kesadaran estetik menjadi kejelekan dan keindahan. Ketika seseorang mampu melihat segala sesuatu terlepas dari kepentingan diri dan desakan nafsu indera, barulah ia memperoleh penglihatan sejati akan keindahan yang ada di mana-mana. Ia memahami bahwa apa yang tidak menyenangkan bagi kita tidak dengan sendirinya tidak indah, melainkan memiliki keindahannya sendiri dalam kebenaran.
Mengatakan bahwa keindahan ada di mana-mana tidak berarti menghapus kata kejelekan dari bahasa kita—sebagaimana absurditas mengatakan bahwa kebohongan tidak ada. Kebohongan memang ada, tetapi bukan sebagai prinsip kosmis; ia ada sebagai unsur negatif dalam pemahaman kita. Demikian pula kejelekan: ia adalah ungkapan keindahan yang terdistorsi, lahir dari perwujudan kebenaran yang belum sempurna. Kita dapat melahirkan kejelekan ketika hidup kita melawan hukum keselarasan abadi yang meresapi segala sesuatu.
Melalui rasa kebenaran, kita mewujudkan hukum dalam ciptaan; melalui rasa keindahan, kita mewujudkan harmoni dalam alam semesta. Dengan mengenali hukum alam, kita menguasai daya-daya fisik dan menjadi berdaya; dengan mengenali hukum moral, kita menguasai diri dan menjadi bebas. Demikian pula, semakin kita menyadari harmoni dunia, semakin hidup kita ikut berbagi kegembiraan penciptaan, dan ungkapan keindahan dalam seni menjadi universal. Ketika harmoni itu disadari dalam jiwa, kebahagiaan roh dunia pun menjadi milik semua, dan ungkapan keindahan dalam hidup bergerak dalam kebaikan dan cinta menuju yang tak terbatas.
Inilah tujuan akhir keberadaan kita: menyadari bahwa keindahan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah keindahan; mewujudkan dunia dalam cinta, sebab cinta melahirkannya, memeliharanya, dan mengembalikannya ke pangkuannya. Di sinilah pembebasan hati yang sempurna, yang memberi kita daya untuk berdiri di pusat terdalam segala sesuatu dan merasakan kepenuhan sukacita tanpa pamrih milik Brahma.
Musik adalah bentuk seni yang paling murni—ungkapan keindahan yang paling langsung—karena bentuk dan rohnya nyaris tak terpisahkan dan paling sedikit dibebani unsur asing. Kita seakan merasakan bahwa perwujudan Yang Tak Terbatas dalam bentuk-bentuk terbatas adalah musik itu sendiri—hening dan tampak sekaligus. Langit senja yang berulang-ulang menampilkan rasi bintang seperti anak yang terpesona oleh kata pertamanya sendiri, menggumamkan bunyi yang sama dan mendengarkannya dengan sukacita tak putus.
Pada malam hujan bulan Juli, ketika kegelapan menebal di padang rumput dan tirai demi tirai hujan jatuh di atas bumi yang terlelap, monotoninya terasa seperti kegelapan suara itu sendiri. Deretan pohon yang suram, semak berduri di tanah gersang, bau rumput lembap dan tanah basah, menara kuil yang menjulang di atas massa hitam desa—semuanya tampak seperti nada-nada yang bangkit dari jantung malam dan melebur dalam satu bunyi hujan yang tak henti.
Karena itu para penyair dan peramal lebih memilih bahasa musik untuk mengungkapkan alam semesta. Lukisan memerlukan bahan luar; musik lahir langsung dari hidup. Penyanyi memiliki segalanya di dalam dirinya; gagasan dan ungkapan sering lahir sebagai kembar. Musik menyatakan apa yang tak pernah dapat ditangkap oleh kata-kata, dan karena itu musik dan pemusik tak terpisahkan.
Nyanyian dunia ini tak pernah sekejap pun terpisah dari penyanyinya. Ia bukan hasil bahan luar; ia adalah sukacita-Nya sendiri yang mengambil bentuk tanpa akhir. Setiap nadanya tidak final, namun masing-masing memantulkan Yang Tak Terbatas. Bahasa keindahan adalah belaian yang datang dari jantung dunia dan langsung mencapai hati kita.
Tadi malam, dalam keheningan yang meresapi kegelapan, aku berdiri sendiri dan mendengar suara penyanyi melodi abadi. Ketika aku tertidur, pikiranku menutup hari dengan kesadaran ini: bahwa bahkan dalam lelapku, tarian kehidupan akan terus berlangsung di tubuhku, seirama dengan bintang-bintang—jantung berdetak, darah mengalir, dan jutaan atom hidup bergetar selaras dengan dawai kecapi yang disentuh oleh Sang Maestro.
PERWUJUDAN YANG TAK TERBATAS
Upanishad mengatakan: “Manusia menjadi sungguh-sungguh apabila dalam hidup ini ia dapat menangkap Tuhan; jika tidak, itu adalah malapetaka terbesar baginya.”
Namun, apakah hakikat dari pencapaian Tuhan itu sendiri? Jelaslah bahwa Yang Tak Terbatas bukanlah satu objek di antara banyak objek lain—sesuatu yang dapat diklasifikasikan secara pasti, disimpan di antara milik-milik kita, lalu dipergunakan sebagai sekutu yang secara khusus memihak kita dalam politik, peperangan, pencarian uang, atau persaingan sosial. Tuhan tidak dapat ditempatkan dalam satu daftar bersama rumah peristirahatan musim panas, mobil, atau kredit bank, sebagaimana—secara sadar atau tidak—sering diinginkan oleh banyak orang.
Karena itu kita perlu memahami secara jernih sifat sejati dari hasrat manusia ketika jiwanya merindukan Tuhan. Apakah kerinduan itu berupa keinginan untuk menambah kepemilikan—betapapun berharganya? Sama sekali tidak. Pekerjaan menambahkan sesuatu ke dalam simpanan kita tanpa henti adalah tugas yang melelahkan dan tak pernah selesai. Justru ketika jiwa mencari Tuhan, ia sedang mencari pelarian terakhir dari pengumpulan dan penimbunan yang tak berkesudahan ini.
Yang dicari jiwa bukanlah objek tambahan, melainkan nityo ’nityānām—yang tetap di dalam segala yang fana; rasānām rasatamah—kenikmatan tertinggi yang menetap dan menyatukan segala kenikmatan. Oleh karena itu, ketika Upanishad mengajarkan kita untuk mewujudkan segala sesuatu di dalam Brahma, yang dimaksud bukanlah mencari sesuatu yang ekstra, bukan pula menciptakan sesuatu yang baru.
Īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat
Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini terlingkupi oleh Tuhan.
Tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam
Nikmatilah apa pun yang dianugerahkan-Nya dan jangan memelihara keserakahan dalam pikiranmu terhadap kekayaan yang bukan milikmu.
Ketika engkau menyadari bahwa apa pun yang ada dipenuhi oleh-Nya, dan bahwa apa pun yang engkau miliki adalah pemberian-Nya, maka engkau mewujudkan yang tak terbatas di dalam yang terbatas, dan mengenali Sang Pemberi di dalam segala pemberian. Pada saat itu engkau memahami bahwa setiap fakta realitas memperoleh maknanya semata-mata sebagai perwujudan satu kebenaran, dan bahwa seluruh kepemilikanmu memiliki arti bukan pada dirinya sendiri, melainkan dalam hubungan yang dijalinnya dengan Yang Tak Terbatas.
Karena itu, tidaklah tepat mengatakan bahwa kita menemukan Brahma sebagaimana kita menemukan objek-objek lain. Tidak ada persoalan mencari-Nya di satu hal dan bukan di hal lain, di satu tempat dan bukan di tempat lain. Kita tidak perlu pergi ke toko kelontong untuk memperoleh cahaya pagi; kita cukup membuka mata, dan cahaya itu sudah ada. Demikian pula, kita tidak perlu mencari Brahma ke mana pun—kita hanya perlu menyerahkan diri untuk menyadari bahwa Ia hadir di mana-mana.
Inilah sebabnya Buddha menasihati manusia untuk membebaskan diri dari keterkungkungan kehidupan diri yang sempit. Nasihat ini akan sama sekali tak bermakna jika tidak ada sesuatu yang lain yang menggantikannya—sesuatu yang lebih sempurna dan lebih memuaskan. Tak seorang pun dapat dengan sungguh-sungguh mempertimbangkan, apalagi bersemangat, untuk menyerahkan segala yang dimilikinya demi memperoleh sama sekali tidak ada apa-apa.
Maka ibadah kita sehari-hari kepada Tuhan bukanlah proses memperoleh-Nya sedikit demi sedikit, melainkan proses harian menyerahkan diri: menyingkirkan segala rintangan bagi persatuan, dan memperluas kesadaran kita akan Dia melalui devosi dan pelayanan, melalui kebaikan dan cinta.
Upanishad berkata, “Lenyaplah sepenuhnya di dalam Brahma seperti anak panah yang telah sepenuhnya menembus sasaran.” Kesadaran bahwa diri kita sepenuhnya terlingkupi oleh Brahma bukanlah sekadar tindakan konsentrasi pikiran. Ia harus menjadi tujuan seluruh hidup kita.
Dalam semua pikiran dan perbuatan kita, kita harus sadar akan yang tak terbatas. Biarlah perwujudan kebenaran ini menjadi semakin mudah dari hari ke hari dalam hidup kita, bahwa:
Ko hyevānyāt kaḥ prāṇyāt yadeṣa ākāśa ānando na syāt
Tak seorang pun dapat hidup atau bergerak jika energi sukacita yang meliputi segalanya tidak memenuhi langit.
Dalam semua tindakan kita, marilah kita merasakan dorongan energi tak terbatas itu dan bersukacita.
Mungkin orang berkata bahwa Yang Tak Terbatas berada di luar jangkauan kita, sehingga bagi kita seolah-olah Ia tidak ada. Ya, jika kata “pencapaian” mengandung makna kepemilikan, maka harus diakui bahwa Yang Tak Terbatas memang tidak dapat dicapai. Namun kita perlu mengingat bahwa kenikmatan tertinggi manusia tidak terletak pada memiliki, melainkan pada suatu memperoleh yang sekaligus bukan memperoleh.
Kenikmatan jasmani kita tidak menyisakan ruang bagi yang belum terwujud. Ia, seperti satelit mati bumi, memiliki atmosfer yang sangat tipis. Ketika kita makan dan memuaskan lapar, tindakan itu adalah kepemilikan yang lengkap. Selama lapar belum terpuaskan, makan adalah kenikmatan, sebab pada saat itu kenikmatan menyentuh yang tak terbatas di setiap titik. Tetapi ketika kepenuhan tercapai—ketika hasrat makan mencapai akhir ketakterwujudannya—kenikmatan itu pun mencapai batas akhirnya.
Dalam kenikmatan intelektual, batasnya lebih jauh dan marginnya lebih luas. Namun dalam cinta yang lebih dalam, memperoleh dan tidak memperoleh selalu berjalan sejajar. Dalam salah satu lirik Vaishnava, sang kekasih berkata kepada yang dikasihi: “Aku merasa seakan sejak lahir telah menatap keindahan wajahmu, namun mataku masih lapar; seakan jutaan tahun telah mendekapmu di dadaku, namun hatiku belum puas.”
Ungkapan ini menjelaskan bahwa sesungguhnya yang kita cari dalam kenikmatan adalah Yang Tak Terbatas. Hasrat kita akan kekayaan bukanlah hasrat akan sejumlah uang tertentu, melainkan hasrat yang tak terbatas. Bahkan kenikmatan kita yang paling fana pun hanyalah sentuhan sesaat dari yang abadi. Tragedi kehidupan manusia terletak pada upaya sia-sia untuk merentangkan batas-batas hal-hal yang pada hakikatnya tak pernah dapat menjadi tak terbatas—mencapai Yang Tak Terbatas dengan menambahkan secara absurd anak tangga demi anak tangga pada tangga yang tetap terbatas.
Dengan demikian, jelaslah bahwa hasrat sejati jiwa kita adalah melampaui segala kepemilikan. Dikelilingi oleh benda-benda yang dapat disentuh dan dirasakan, jiwa berseru: “Aku lelah dengan memperoleh; di manakah Dia yang tak pernah dapat diperoleh?”
Sepanjang sejarah manusia, kita melihat bahwa semangat pelepasan adalah kenyataan terdalam jiwa manusia. Ketika jiwa berkata tentang sesuatu, “Aku tidak menginginkannya, sebab aku berada di atasnya,” ia mengucapkan kebenaran tertinggi yang ada di dalam dirinya. Ketika kehidupan seorang gadis melampaui bonekanya—ketika ia menyadari bahwa dalam segala hal ia lebih besar daripada bonekanya—ia pun membuangnya. Justru melalui tindakan memiliki itu sendiri kita mengetahui bahwa kita lebih besar daripada apa yang kita miliki.
Terikat pada hal-hal yang lebih kecil daripada diri kita adalah kesengsaraan yang sempurna. Inilah yang dirasakan Maitreyī ketika suaminya menyerahkan seluruh hartanya pada malam sebelum meninggalkan rumah.
Ia bertanya, “Apakah benda-benda material ini dapat membantu seseorang mencapai yang tertinggi?”—atau, dengan kata lain, “Apakah semua ini lebih berarti bagiku daripada jiwaku?” Ketika suaminya menjawab, “Ini akan membuatmu kaya secara duniawi,” ia segera berkata, “Kalau begitu, apa gunanya semua ini bagiku?”
Hanya ketika seseorang sungguh-sungguh menyadari apa arti kepemilikan, ia terbebas dari ilusi tentangnya. Ia mengetahui bahwa jiwanya jauh melampaui benda-benda itu, dan dengan kesadaran itu ia menjadi bebas dari belenggunya. Dengan demikian, manusia benar-benar mewujudkan jiwanya justru dengan melampaui kepemilikannya; dan kemajuan manusia di jalan hidup abadi berlangsung melalui rangkaian pelepasan.
Bahwa kita tidak dapat secara mutlak memiliki Yang Tak Terbatas bukanlah sekadar proposisi intelektual. Kebenaran ini harus dialami, dan pengalaman itu sendiri adalah kebahagiaan. Burung yang terbang di langit merasakan pada setiap kepakan sayapnya bahwa langit tak berbatas, bahwa sayapnya takkan pernah membawanya melampaui batas itu. Di situlah letak sukacitanya. Di dalam sangkar, langit menjadi terbatas—mungkin cukup untuk memenuhi keperluan hidup burung, tetapi tidak lebih dari sekadar keperluan. Burung tidak dapat bersukacita dalam batas kebutuhan semata. Ia harus merasakan bahwa apa yang dimilikinya jauh melampaui apa pun yang dapat diinginkan atau dipahaminya; barulah ia dapat bersukacita.
Demikian pula jiwa kita: ia harus melayang di dalam Yang Tak Terbatas, dan pada setiap saat merasakan bahwa justru karena ia tidak mampu mencapai akhir dari pencapaiannya, di sanalah terletak sukacita tertinggi dan kebebasan terakhirnya.
Kebahagiaan abadi manusia tidak terletak pada memperoleh sesuatu, melainkan pada menyerahkan diri kepada sesuatu yang lebih besar dari dirinya—kepada gagasan-gagasan yang melampaui hidup individualnya: gagasan tentang tanah air, tentang kemanusiaan, tentang Tuhan. Gagasan-gagasan inilah yang memudahkannya melepaskan segala yang dimilikinya, bahkan nyawanya. Keberadaan manusia menjadi hina dan menyedihkan sampai ia menemukan gagasan besar yang benar-benar dapat menuntut seluruh dirinya—gagasan yang membebaskannya dari segala keterikatan pada kepemilikan.
Buddha dan Yesus, sebagaimana semua nabi besar kita, mewakili gagasan-gagasan besar semacam itu. Mereka membuka di hadapan kita kesempatan untuk menyerahkan segalanya. Ketika mereka mengulurkan mangkuk sedekah ilahi mereka, kita merasa tak dapat tidak memberi; dan dalam memberi itulah kita menemukan sukacita serta pembebasan sejati kita, sebab dengan tindakan itu kita menyatukan diri kita—sejauh itu—dengan Yang Tak Terbatas.
Manusia tidak pernah lengkap; ia selalu masih harus menjadi. Dalam apa yang ia ada sekarang, ia kecil; dan seandainya kita membayangkan ia berhenti di titik itu untuk selama-lamanya, kita akan memperoleh gambaran neraka paling mengerikan yang dapat dibayangkan manusia. Tetapi dalam “akan menjadi”-nya, manusia bersifat tak terbatas; di sanalah terletak surga dan pembebasannya. “Ada”-nya sibuk setiap saat dengan apa yang dapat diperoleh dan diselesaikan; sedangkan “akan menjadi”-nya lapar akan sesuatu yang melampaui segala yang dapat diperoleh—sesuatu yang tak pernah dapat hilang, karena tak pernah dimiliki.
Kutub terbatas dari keberadaan kita memiliki tempatnya sendiri di dunia keharusan. Di sana manusia mencari makanan untuk hidup dan pakaian untuk menghangatkan diri. Di wilayah ini—wilayah alam—fungsinya adalah memperoleh. Manusia alamiah pun sibuk memperluas kepemilikannya.
Namun tindakan memperoleh ini bersifat parsial. Ia terbatas pada kebutuhan-kebutuhan manusia. Kita hanya dapat memiliki sesuatu sejauh kebutuhan kita, sebagaimana bejana hanya dapat menampung air sejauh kekosongannya. Hubungan kita dengan makanan hanya sebatas makan, dengan rumah hanya sebatas tempat tinggal. Kita menyebut sesuatu bermanfaat ketika ia cocok hanya untuk satu kebutuhan tertentu kita. Maka memperoleh selalu berarti memperoleh secara parsial, dan tak mungkin lain. Hasrat akan akuisisi ini milik diri kita yang terbatas.
Namun sisi keberadaan kita yang arahnya menuju Yang Tak Terbatas tidak mencari kekayaan, melainkan kebebasan dan sukacita. Di sana kekuasaan keharusan berakhir; dan fungsi kita bukan lagi memperoleh, melainkan menjadi. Menjadi apa? Menjadi satu dengan Brahma. Sebab wilayah Yang Tak Terbatas adalah wilayah kesatuan. Karena itu Upanishad mengatakan: jika manusia menangkap Tuhan, ia menjadi sungguh. Di sini yang dimaksud adalah menjadi, bukan memiliki lebih banyak. Kata-kata tidak bertambah besar ketika engkau mengetahui maknanya; kata-kata menjadi benar ketika menyatu dengan gagasannya.
Walaupun Barat menerima sebagai gurunya Dia yang dengan berani menyatakan kesatuan-Nya dengan Bapa dan mendorong para pengikut-Nya untuk menjadi sempurna seperti Tuhan, Barat tidak pernah benar-benar berdamai dengan gagasan kesatuan kita dengan Yang Tak Terbatas. Ia mengecam, sebagai hujat, setiap implikasi tentang manusia yang menjadi Tuhan. Ini tentu bukan gagasan yang diajarkan Kristus, dan barangkali bukan pula gagasan para mistikus Kristen; namun tampaknya inilah gagasan yang hidup dan populer di Barat Kristen.
Sebaliknya, kebijaksanaan tertinggi di Timur berpegang bahwa bukanlah fungsi jiwa kita untuk memperoleh Tuhan, apalagi memanfaatkannya bagi tujuan material tertentu. Yang dapat kita cita-citakan hanyalah menjadi semakin menyatu dengan Tuhan. Di wilayah alam—wilayah keberagaman—kita bertumbuh melalui perolehan; tetapi di dunia spiritual—wilayah kesatuan—kita bertumbuh dengan kehilangan diri, dengan bersatu. Memperoleh sesuatu, sebagaimana telah dikatakan, selalu bersifat parsial; ia terbatas pada satu kebutuhan tertentu. Tetapi menjadi bersifat utuh; ia menyangkut keseluruhan keberadaan kita, tidak lahir dari keharusan, melainkan dari afinitas kita dengan Yang Tak Terbatas—prinsip kesempurnaan yang berdiam di dalam jiwa kita.
Ya, kita harus menjadi Brahma. Kita tidak boleh ragu mengakui hal ini. Keberadaan kita tidak bermakna jika kita tak pernah dapat berharap mewujudkan kesempurnaan tertinggi yang ada. Jika kita memiliki tujuan namun tak pernah mungkin mencapainya, maka itu bukan tujuan sama sekali. Namun apakah dengan demikian tidak ada perbedaan antara Brahma dan jiwa individual kita? Tentu perbedaannya nyata. Sebutlah itu ilusi atau ketidaktahuan, atau nama apa pun—ia tetap ada. Engkau dapat menawarkan penjelasan, tetapi engkau tidak dapat meniadakannya. Bahkan ilusi pun sungguh sebagai ilusi.
Brahma adalah Brahma—cita-cita kesempurnaan yang tak terbatas. Tetapi kita bukanlah apa yang sungguh-sungguh kita adalah; kita senantiasa harus menjadi benar, senantiasa harus menjadi Brahma. Ada permainan cinta yang abadi dalam hubungan antara keberadaan dan proses menjadi ini; dan di kedalaman misteri inilah sumber segala kebenaran dan keindahan yang menopang gerak ciptaan yang tak berkesudahan.
Dalam musik arus sungai yang deras terdengar jaminan sukacita: “Aku akan menjadi laut.” Ini bukan anggapan sia-sia; ini adalah kerendahan hati yang sejati, sebab ini adalah kebenaran. Sungai tidak memiliki alternatif lain. Di kedua tepiannya terbentang ladang dan hutan, desa dan kota; ia dapat melayani semuanya dengan berbagai cara—membersihkan dan memberi makan, mengangkut hasil dari tempat ke tempat. Namun hubungannya dengan semua itu selalu parsial. Betapapun lama ia berdiam di antaranya, ia tetap terpisah; ia tak pernah dapat menjadi kota atau hutan.
Namun ia dapat, dan memang harus, menjadi laut. Air yang lebih kecil dan bergerak memiliki afinitas dengan air samudra yang besar dan tenang. Sungai bergerak melewati seribu objek di sepanjang perjalanannya, dan geraknya menemukan finalitas ketika mencapai laut.
Sungai dapat menjadi laut, tetapi ia tak pernah dapat menjadikan laut sebagai bagian dari dirinya. Jika, secara kebetulan, ia mengelilingi suatu hamparan air yang luas dan berpura-pura telah menjadikan laut sebagai bagian dari dirinya, kita segera tahu bahwa itu tidak benar—bahwa arusnya masih mencari peristirahatan di samudra besar yang tak pernah dapat dibatasinya.
Demikian pula, jiwa kita hanya dapat menjadi Brahma sebagaimana sungai menjadi laut. Segala sesuatu yang disentuhnya hanya pada satu titik, lalu ditinggalkan dan dilalui; tetapi Brahma tak pernah dapat ditinggalkan dan dilampaui. Ketika jiwa kita menyadari tujuan peristirahatan terakhirnya di dalam Brahma, semua geraknya memperoleh tujuan. Samudra peristirahatan tak terbatas inilah yang memberi makna pada aktivitas tanpa akhir. Kesempurnaan keberadaan inilah yang menganugerahkan pada ketidaksempurnaan proses menjadi kualitas keindahan yang menemukan ungkapannya dalam semua puisi, drama, dan seni.
Sebuah puisi harus dianimasikan oleh satu gagasan yang utuh. Setiap kalimat di dalamnya menyentuh gagasan itu. Ketika pembaca menyadari gagasan yang meresapi keseluruhan puisi, membacanya menjadi pengalaman yang penuh sukacita; setiap bagian bercahaya oleh makna yang dipantulkan dari keseluruhan. Namun bila sebuah puisi berjalan tanpa akhir, tak pernah menyingkapkan gagasan utamanya, dan hanya melemparkan citra-citra yang terpisah—betapapun indahnya—maka puisi itu menjadi melelahkan dan pada akhirnya tak berguna.
Perjalanan jiwa kita serupa dengan puisi yang sempurna. Ia memiliki gagasan yang tak terbatas yang, ketika disadari, membuat setiap gerak kehidupan menjadi penuh makna dan sukacita. Tetapi bila kita memisahkan gerak-geraknya dari gagasan terakhir itu—bila kita tidak melihat peristirahatan yang tak terbatas dan hanya menyaksikan gerak tanpa akhir—maka keberadaan akan tampak sebagai kejahatan mengerikan yang melaju liar menuju ketiadaan tujuan yang tak berujung.
Aku teringat masa kanak-kanak, ketika kami memiliki seorang guru yang menyuruh kami menghafal seluruh buku tata bahasa Sanskerta, ditulis dalam simbol-simbol, tanpa pernah menjelaskan maknanya. Hari demi hari kami bekerja keras, tetapi menuju apa—kami sama sekali tidak tahu. Dalam pelajaran itu, kami berada dalam posisi pesimis: hanya menghitung aktivitas dunia yang terengah-engah, tanpa mampu melihat peristirahatan tak terbatas dari kesempurnaan yang darinya semua aktivitas memperoleh keseimbangan, kesesuaian, dan harmoni yang mutlak pada setiap saat.
Dengan cara pandang seperti itu, kita kehilangan segala sukacita dalam memandang keberadaan, karena kita kehilangan kebenaran. Kita melihat gestikulasi seorang penari dan mengira bahwa semuanya digerakkan oleh tirani kebetulan yang kejam, sementara kita tuli terhadap musik abadi yang membuat setiap gerak menjadi niscaya, spontan, dan indah. Padahal gerak-gerak itu senantiasa tumbuh menuju musik kesempurnaan tersebut, menyatu dengannya, dan pada setiap langkah mempersembahkan kepada melodi itu beragam bentuk yang terus mereka ciptakan.
Dan inilah kebenaran jiwa kita, sekaligus inilah sukacitanya: bahwa ia harus senantiasa bertumbuh menjadi Brahma; bahwa seluruh geraknya harus dimodulasi oleh gagasan terakhir ini; dan bahwa semua ciptaannya harus dipersembahkan sebagai persembahan kepada roh kesempurnaan yang mahatinggi.
Ada sebuah ucapan yang terkenal dalam Upanishad:
Nāham manye suvedeti no na vedeti vedaca
“Aku tidak berpikir bahwa aku mengenal-Nya dengan baik, atau bahwa aku mengenal-Nya, atau bahkan bahwa aku tidak mengenal-Nya.”
Melalui proses pengetahuan kita tak pernah dapat mengenal Yang Tak Terbatas. Tetapi jika Ia sepenuhnya berada di luar jangkauan kita, maka Ia sama sekali bukan apa-apa bagi kita. Kebenarannya adalah: kita tidak mengenal-Nya, namun kita mengenal-Nya. Hal ini dijelaskan dalam ucapan Upanishad yang lain:
Yato vāco nivartante aprāpya manasā saha ānandaṁ brahmaṇo vidvān na bibheti kutaścana.
“Dari Brahma kata-kata kembali tanpa mampu menjangkau, demikian pula pikiran; tetapi ia yang mengenal-Nya melalui sukacita-Nya terbebas dari segala ketakutan.”
Pengetahuan bersifat parsial, sebab intelek kita hanyalah alat—ia merupakan bagian dari diri kita, bukan keseluruhan. Intelek mampu memberi informasi tentang hal-hal yang dapat dibagi dan dianalisis, tentang sesuatu yang sifat-sifatnya dapat diklasifikasikan bagian demi bagian. Tetapi Brahma adalah sempurna, dan pengetahuan yang parsial tak pernah dapat menjadi pengetahuan tentang Dia.
Namun Dia dapat dikenal melalui sukacita, melalui cinta. Sebab sukacita adalah pengetahuan dalam kepenuhannya: mengetahui dengan seluruh keberadaan kita. Intelek mengenal dengan memisahkan diri dari objek yang diketahui, tetapi cinta mengenal dengan melebur ke dalamnya. Pengetahuan semacam ini bersifat langsung dan tidak menyisakan ruang bagi keraguan. Ia serupa dengan mengenal diri kita sendiri—bahkan lebih mendalam daripada itu.
Karena itu, sebagaimana dikatakan dalam Upanishad, pikiran tak pernah dapat mengenal Brahma, dan kata-kata tak pernah mampu melukiskan-Nya. Ia hanya dapat dikenal oleh jiwa kita—oleh sukacitanya di dalam Dia, oleh cintanya. Dengan kata lain, kita hanya dapat berhubungan dengan-Nya melalui persatuan: persatuan seluruh keberadaan kita. Kita harus menjadi satu dengan Bapa kita; kita harus sempurna sebagaimana Dia sempurna.
Namun bagaimana mungkin hal itu terjadi? Tidak ada tingkatan dalam kesempurnaan yang tak terbatas. Kita tidak dapat menjadi “semakin” Brahma. Ia adalah Yang Absolut; di dalam Dia tidak ada lebih atau kurang.
Sesungguhnya, perwujudan paramātman, jiwa tertinggi, di dalam antarātman kita—jiwa individual batin kita—berada dalam keadaan kelengkapan yang mutlak. Kita tidak dapat memikirkannya sebagai sesuatu yang belum ada dan kemudian bergantung pada daya terbatas kita untuk dibangun secara bertahap. Jika hubungan kita dengan yang ilahi sepenuhnya merupakan hasil buatan kita sendiri, bagaimana kita dapat mengandalkannya sebagai kebenaran, dan bagaimana ia dapat menopang keberadaan kita?
Karena itu, kita harus mengetahui bahwa di dalam diri kita ada suatu wilayah di mana ruang dan waktu berhenti berkuasa, dan di mana mata rantai evolusi melebur ke dalam kesatuan. Di kediaman abadi ātman—jiwa—perwujudan paramātman, jiwa tertinggi, telah lengkap.
Karena itu Upanishad mengatakan:
Satyam jñānam anantam brahma yo veda nihitaṁ guhāyāṁ parame vyoman so’śnute sarvān kāmān saha brahmaṇā vipaściteti.
“Ia yang mengenal Brahman—yang benar, yang mahatahu, dan yang tak terbatas—sebagai tersembunyi di kedalaman jiwa, yang merupakan langit tertinggi (langit batin kesadaran), menikmati semua objek hasrat dalam persatuan dengan Brahman yang mahatahu.”
Persatuan itu telah terlaksana. Paramātman, jiwa tertinggi, telah memilih jiwa kita ini sebagai mempelainya, dan perkawinan itu telah selesai. Mantra yang khidmat telah diucapkan:
Yadetat hṛidayam mama tadastu hṛidayan tava
Biarlah hatimu menjadi seperti hatiku.
Dalam perkawinan ini tidak ada tempat bagi evolusi untuk bertindak sebagai penghulu. Eṣaḥ—yang tak dapat digambarkan dengan sebutan lain selain “Ini”, kehadiran langsung yang tak bernama—senantiasa hadir di kedalaman batin kita yang paling dalam.
“Ini, Ini adalah tujuan tertinggi dari yang lain ini” (Eṣāsya paramā gatiḥ);
“Ini, Ini adalah harta tertinggi dari yang lain ini” (Eṣāsya paramā sampat);
“Ini, Ini adalah kediaman tertinggi dari yang lain ini” (Eṣāsya paramo lokaḥ);
“Ini, Ini adalah sukacita tertinggi dari yang lain ini” (Eṣāsya parama ānandaḥ).
Sebab perkawinan cinta tertinggi itu telah terlaksana dalam waktu yang tak berwaktu. Dan kini berlangsunglah līlā yang tak berkesudahan—permainan cinta. Dia yang telah diraih dalam keabadian kini dikejar dalam waktu dan ruang, dalam sukacita dan duka, di dunia ini dan di dunia-dunia lain. Ketika sang mempelai-jiwa memahami hal ini dengan sungguh, hatinya menjadi bahagia dan tenteram. Ia tahu bahwa ia, seperti sungai, telah mencapai samudra pemenuhannya pada satu ujung keberadaannya, dan pada ujung yang lain ia senantiasa mencapainya; pada satu ujung terdapat peristirahatan dan kelengkapan yang abadi, pada ujung yang lain terdapat gerak dan perubahan yang tak henti.
Ketika ia mengetahui kedua ujung itu sebagai tak terpisahkan, barulah ia mengenal dunia sebagai rumah tangganya sendiri, karena ia mengenal Sang Penguasa dunia sebagai tuannya sendiri. Maka seluruh pelayanannya berubah menjadi pelayanan cinta. Segala kesulitan dan cobaan hidup datang kepadanya sebagai ujian—ditanggung dengan kemenangan untuk membuktikan kekuatan cintanya, dengan senyum untuk memenangkan pertaruhan dari kekasihnya.
Namun selama ia keras kepala tinggal dalam kegelapan—tidak menyingkapkan cadarnya, tidak mengenali kekasihnya, dan hanya mengenal dunia terpisah dari Dia—ia melayani sebagai pembantu di tempat di mana sesungguhnya ia berhak memerintah sebagai ratu. Ia terombang-ambing dalam keraguan, dan menangis dalam duka serta keputusasaan.
Ia berpindah dari kelaparan ke kelaparan, dari kesusahan ke kesusahan, dan dari ketakutan ke ketakutan.
Aku takkan pernah melupakan sepotong lagu yang pernah kudengar pada fajar dini hari, di tengah hiruk-pikuk orang banyak yang berkumpul untuk sebuah perayaan pada malam sebelumnya: “Wahai pengayuh perahu, seberangkan aku ke seberang sana!”
Di tengah kesibukan segala pekerjaan kita, terdengarlah seruan ini: “Seberangkan aku.” Pengangkut gerobak di India bernyanyi sambil mengemudikan gerobaknya, “Seberangkan aku.” Pedagang keliling membagikan dagangannya kepada para pelanggan dan bernyanyi, “Seberangkan aku.”
Apa makna seruan ini? Kita merasa belum mencapai tujuan; dan kita tahu bahwa dengan segala usaha dan jerih payah kita, kita tidak sampai ke ujung, kita tidak meraih sasaran. Seperti anak yang tak puas dengan bonekanya, hati kita berseru, “Bukan ini, bukan ini.” Tetapi apakah yang lain itu? Di manakah pantai seberang?
Apakah ia sesuatu yang lain dari apa yang kita miliki? Apakah ia berada di tempat lain dari tempat kita berada? Apakah itu berarti beristirahat dari semua pekerjaan, dibebaskan dari semua tanggung jawab hidup?
Tidak. Justru di jantung aktivitas kita sendirilah kita mencari tujuan kita. Kita berseru meminta diseberangkan, bahkan di tempat kita berdiri. Maka, sementara bibir kita mengucapkan doa untuk dibawa pergi, tangan kita yang sibuk tak pernah berhenti.
Sesungguhnya, wahai samudra sukacita, pantai ini dan pantai seberang itu adalah satu dan sama di dalam-Mu. Ketika aku menyebut yang ini sebagai milikku, yang lain menjadi terasing; dan karena kehilangan rasa kelengkapan yang ada di dalam diriku, hatiku tanpa henti berseru meminta yang lain. Segala “ini”-ku dan “yang lain” itu menunggu untuk diperdamaikan sepenuhnya di dalam cinta-Mu.
“Aku” yang ini bekerja keras, siang dan malam, demi sebuah rumah yang dikenalnya sebagai miliknya sendiri. Celakalah—takkan ada akhir penderitaannya selama ia belum mampu menyebut rumah ini sebagai milik-Mu. Selama itu pula ia akan terus bergulat, dan hatinya tak henti berseru, “Wahai pengayuh perahu, seberangkan aku.” Ketika rumahku ini menjadi milik-Mu, pada saat itulah ia diseberangkan, bahkan ketika dinding-dinding lamanya masih mengurungnya.
“Aku” ini gelisah. Ia bekerja demi suatu keuntungan yang tak pernah dapat dipersatukan dengan rohnya, yang tak pernah sungguh dapat dipegang dan dipertahankannya. Dalam usahanya merengkuh dengan lengannya sendiri apa yang diperuntukkan bagi semua, ia melukai orang lain dan, pada gilirannya, terluka sendiri—lalu kembali berseru, “Seberangkan aku.” Namun begitu ia mampu berkata, “Segala pekerjaanku adalah milik-Mu,” segalanya tetap sama—hanya saja, semuanya telah diseberangkan.
Di manakah aku dapat menjumpai-Mu selain di rumahku ini yang kujadikan milik-Mu? Di manakah aku dapat bersatu dengan-Mu selain dalam pekerjaanku ini yang kuubah menjadi pekerjaan-Mu? Jika aku meninggalkan rumahku, aku takkan mencapai rumah-Mu; jika aku menghentikan pekerjaanku, aku takkan pernah bersatu dengan-Mu dalam pekerjaan-Mu. Sebab Engkau berdiam di dalam diriku dan aku di dalam Engkau. Engkau tanpa aku, atau aku tanpa Engkau—keduanya adalah ketiadaan.
Karena itu, di tengah rumah dan pekerjaan kita, doa itu bangkit: “Seberangkan aku!” Sebab di sinilah laut bergelora, dan justru di sinilah pantai seberang menanti untuk dicapai—ya, di sinilah kini yang abadi, tidak jauh, tidak di tempat lain.
Kuliah Pengantar Filsafat dari Pa Bambang Sugiharto. Kuliah 6 Pertemuan dari Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan Bandung, Mahasiswa S1. #1. Apa itu Filsafat?... Filsafat pada dasarnya adalah keberanian untuk merenungkan hal-hal paling mendasar dalam hidup dengan cara yang radikal, total, dan rasional. Ia lahir dari pertanyaan-pertanyaan sederhana namun tajam, seperti pertanyaan anak kecil yang tak puas dengan jawaban dangkal: “Kenapa harus makan? Kenapa harus hidup? Apa itu bahagia?” Pertanyaan semacam itu sering kita lupakan ketika dewasa, digantikan rasa takut salah atau kesibukan hidup. Namun dalam situasi-situasi batas—kehilangan orang tercinta, kegagalan besar, atau penderitaan yang mengguncang—pertanyaan itu kembali mendesak: Apa arti hidup? Apa maksud Tuhan? Siapa saya? Di titik inilah filsafat hadir, bukan untuk memberi jawaban final, melainkan untuk menolong manusia menghadapi misteri terdalam kehidupan. Belajar filsafat berarti memasuki dunia yang penuh kemungkina...
01. Pergeseran Paradigma: Dari Filsafat Modern ke Filsafat Kontemporer Kuliah ini berada dalam wilayah yang lazim disebut sebagai sejarah filsafat kontemporer. Istilah ini biasanya merujuk pada perkembangan filsafat setelah Hegel. Meski batasnya tidak selalu tegas—karena ada tokoh-tokoh yang berada di wilayah transisi—secara umum dapat dikatakan bahwa hampir seluruh filsafat kontemporer lahir sebagai reaksi terhadap Hegel. Hegel sendiri umumnya masih ditempatkan dalam kerangka filsafat modern. Untuk memahami filsafat kontemporer, kita tidak bisa langsung masuk ke rincian para filsufnya. Kita perlu terlebih dahulu melihat pergeseran besar paradigma berpikir: peralihan dari pola berpikir modern menuju pola berpikir kontemporer. Dalam literatur, pergeseran ini sering dikaitkan dengan istilah postmodern, meskipun tidak seluruh filsafat kontemporer dapat disamakan dengan postmodernisme. Postmodernisme hanyalah salah satu mazhab di dalam bentangan filsafat kontemporer yang jauh lebih luas. Y...
Seri Kuliah mengenai Pengantar Filsafat bersama narasumber Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto. Mata Kuliah Mahasiswa S1-Universitas Parahyangan Apa Itu Filsafat? Ketika berbicara tentang filsafat, kita tidak perlu langsung sibuk mencari definisi resmi yang baku. Definisi itu banyak sekali, dan setiap filsuf biasanya punya rumusan sendiri. Ada yang bahkan menolak definisi filsafat sebelumnya. Karena itu, lebih baik kita memulai dengan sebuah Working definition (definisi kerja) – sebuah pengertian sementara, yang bisa kita gunakan sebagai pegangan dalam percakapan kita. Sebagai titik berangkat, filsafat bisa dipahami sebagai perenungan mendasar tentang hal-hal pokok dalam hidup manusia. Kata “mendasar” di sini bukan berarti sekadar sederhana, melainkan sesuatu yang radikal, total, dan rasional. Radikal berarti menggali sampai ke akar, menelusuri pertanyaan-pertanyaan yang sering kali tampak naif, namun sebenarnya mendalam. Total berarti menyangkut keseluruhan kehidupan, bukan hanya bag...
01. Pemikiran Modern sebagai Formasi Kultural: Unsur-Unsur Konstitutif dan Inti Modernitas Mata kuliah Pemikiran Modern memang hadir secara khusus dalam kurikulum Fakultas Filsafat, dan keberadaannya sering menimbulkan pertanyaan: apa bedanya dengan Sejarah Filsafat Modern? Perbedaan ini penting. Sejarah filsafat modern berfokus secara ketat pada perkembangan gagasan para filsuf dan sistem filsafatnya, sedangkan pemikiran modern memiliki cakupan yang jauh lebih luas. Ia tidak hanya bergerak di wilayah filsafat, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, kultural, religius, ekonomi, dan psikologis. Dengan kata lain, pemikiran modern menawarkan gambaran menyeluruh tentang bagaimana kemodernan dibentuk dan dialami sebagai suatu kondisi historis dan kultural. Mata kuliah ini lahir dari kesadaran bahwa untuk memahami kemodernan, tidak cukup hanya mempelajari filsafatnya. Memang benar bahwa filsafat memberi fondasi konseptual yang sangat penting, tetapi dunia modern berkembang melampaui batas...
Perkuliahan Metafisika Kebudayaan mengajak kita memahami kebudayaan bukan sekadar sebagai praktik sosial yang tampak, melainkan sebagai struktur makna terdalam yang membentuk cara manusia memahami diri, dunia, dan sejarahnya, dengan menelusuri asumsi-asumsi metafisik yang secara diam-diam mengarahkan nilai, hierarki, dan arah peradaban. Pendekatan ini melampaui penelitian empiris dengan mengajukan pertanyaan tentang hakikat kebudayaan, prinsip-prinsip yang menyatukannya, serta visi besar yang menuntun dinamika sejarah—seperti modernitas yang membentuk gagasan rasionalitas, kemajuan, dan bahkan kolonialisme. Kajian ini dimulai dari Plato sebagai fondasi ontologis filsafat Barat, yang kerangka hierarkisnya memengaruhi cara berpikir tentang kebenaran dan tatanan sosial, lalu menelusuri bagaimana warisan tersebut ditafsirkan, dikritik, dan dibongkar oleh para pemikir modern dan posmodern, sehingga kebudayaan dapat dibaca bukan hanya sebagai rangkaian peristiwa, tetapi sebagai manifestasi h...
Pengantar Filsafat Ilmu: Hakikat Filsafat, Seni Bertanya, dan Relevansinya dalam Pembentukan Nalar Kritis Karena mata kuliah ini adalah Filsafat Ilmu, perlu dilakukan klarifikasi terlebih dahulu mengenai apa yang dimaksud dengan filsafat, meskipun setiap pembaca atau mahasiswa kemungkinan telah memiliki pemahaman awal tersendiri. Terdapat satu persoalan mendasar yang sering kali luput diperhatikan, yaitu perbedaan antara istilah falsafah dan filsafat. Membedakan Falsafah dan Filsafat Istilah falsafah lazim digunakan untuk menunjuk pada suatu sistem pemikiran atau seperangkat gagasan dasar tentang kehidupan yang dihayati sebagai pegangan hidup, serupa dengan ideologi. Dalam konteks ini dikenal, misalnya, ungkapan “Falsafah Jawa” atau falsafah yang berakar pada tradisi keagamaan seperti Islam atau Kristiani. Falsafah merujuk pada sistem nilai yang telah relatif mapan mengenai hakikat manusia, dunia, dan kehidupan, yang dihidupi secara kultural dan diwariskan dalam suatu komunitas t...
Kajian ini membahas pemikiran Friedrich Nietzsche , seorang filsuf besar yang dikenal karena pandangannya yang tajam, provokatif, dan mengguncang tradisi pemikiran Barat. Nietzsche sering diasosiasikan dengan ungkapan kontroversialnya, “Tuhan telah mati” , yang tidak dimaksudkan secara harfiah, melainkan sebagai metafora atas runtuhnya nilai-nilai lama dan krisis makna dalam kehidupan manusia modern. Gagasan-gagasan tentang Nietzsche dalam uraian ini didasarkan pada tafsir dan pembacaan mendalam terhadap karya-karya sang filsuf. Penafsiran tersebut pernah dituangkan dalam sebuah buku berjudul “Gaya Filsafat Nietzsche” (2004), yang kini sudah tidak dicetak ulang dan sulit ditemukan. Meski demikian, terdapat rencana untuk menerbitkan kembali buku tersebut agar dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas. Pembahasan tentang Nietzsche ini disusun dalam tiga bagian utama. Bagian pertama merupakan pengantar yang berfokus pada sosok dan perjalanan hidup Nietzsche, termasuk...
Dari Krisis Makna ke Pencarian Diri. Postmodernisme muncul sebagai respons terhadap kegagalan modernisme dalam menjelaskan kompleksitas realitas manusia. Jika modernisme mengandalkan nalar, sistem, dan klaim kebenaran tunggal, maka postmodernisme justru menggugat semua fondasi itu. Ia menolak bahwa hanya ada satu cara sah memahami dunia—sebaliknya, ia merayakan pluralitas, tafsir, dan hibriditas. Postmodernisme menyadarkan bahwa realitas bukan netral, tetapi dibentuk oleh bahasa, budaya, dan kepentingan. Dari seni hingga filsafat, dari spiritualitas hingga ilmu pengetahuan, postmodernisme membuka ruang untuk menyelami kembali hal-hal yang dulu dianggap irasional atau tak penting—seperti paradoks, perasaan, tubuh, dan pengalaman batin. Ia bukan sekadar dekonstruksi, tapi tawaran untuk melihat kehidupan secara lebih lentur, reflektif, dan manusiawi. Namun di balik kebebasan yang ditawarkan, postmodernisme juga melahirkan paradoks baru. Di satu sisi, ia membongkar kepalsuan-kepalsuan lama...
Dari Tafsir Menuju Paradigma Zaman - Hermeneutik 01 Hermeneutika, yang awalnya dipahami sebagai seni menafsir teks suci, kini berkembang menjadi paradigma zaman yang mengguncang banyak bidang: teologi, sains, seni, hingga budaya. Ia menggeser pusat perhatian dari masa lalu ke masa kini—dalam teologi, misalnya, kitab suci tidak lagi hanya dipahami lewat konteks sejarah, melainkan juga harus bermakna bagi manusia saat ini. Dalam sains, hermeneutika membongkar ilusi objektivitas dengan menunjukkan bahwa setiap observasi selalu ditentukan oleh kerangka teori, prasangka, dan bahkan faktor sosial. Dalam seni dan sastra, makna karya tidak lagi ditentukan tunggal oleh pengarang, tetapi juga oleh pembaca yang menafsir dan menulis ulang teks sesuai latar pengalaman mereka. Kesadaran hermeneutik membawa dampak besar: runtuhnya kepastian makna. Norma-norma yang dulu dianggap mutlak kini dipertanyakan, dan arus informasi yang melimpah hanya menambah pluralitas tafsir. Bagi sebagian orang, ini menim...
Jacques Lacan, melalui Écrits (1966), dalam tiga dekade perjalanan intelektualnya, merumuskan kembali kerangka konseptual yang mengguncang fondasi psikoanalisis modern. Kumpulan esai ini—berjumlah 33 teks yang padat, saling bertaut, dan berlapis referensi lintas disiplin—berfungsi sebagai laboratorium konseptual tempat Lacan membedah, membalik, dan merekonstruksi ulang gagasan-gagasan besar Freud. Di sini psikoanalisis berhenti sekadar menjadi disiplin klinis yang mengamati gejala, dan berubah menjadi sebuah teori struktural tentang bagaimana subjek manusia “diproduksi” oleh bahasa, oleh simbol, dan oleh celah-celah representasi itu sendiri. Écrits tidak hanya memperluas wacana terkait ketidaksadaran; ia membangun arsitektur teoretis baru yang memposisikan psikoanalisis sebagai ilmu tentang struktur penanda, tentang logika hasrat, dan tentang mekanisme yang menghubungkan tubuh dengan tatanan simbolik. Konteks intelektual Prancis pasca-Perang Dunia II juga berperan dalam pembentuka...
Komentar
Posting Komentar