Roh Postmodern dalam Filsafat Ilmu: Kritik terhadap Kebenaran Mutlak, Paradigma Sains, dan Problem Kesadaran
Sekarang kita masuk ke era postmodern. Awalnya situasinya ditandai oleh skeptisisme intelektual, lalu berkembang menjadi sikap kritis terhadap modernitas. Dari yang semula hanya muncul sebagai gaya dalam seni dan arsitektur, lama-kelamaan ia berubah menjadi mazhab filsafat, bahkan menjadi sebuah gelombang besar: sikap kritis terhadap modernisme dan modernitas itu sendiri. Di dalam situasi posmodern ini terdapat berbagai tendensi yang saling bertabrakan, tetapi salah satu yang paling penting adalah kecenderungan untuk melakukan kritik internal: hampir semua sistem mulai mengkritik dirinya sendiri. Agama mengkritik agama, ilmu mengkritik ilmu, dan di dalam sains muncul para filsuf ilmu yang justru mengkritik sains dari dalam.
Salah satu tokoh penting di sini adalah Karl Popper. Ia terkenal dengan gagasan falsifikasi. Selama ini dunia sains banyak berpegang pada prinsip verifikasi, yaitu membenarkan teori dengan mencari fakta-fakta yang mendukungnya. Masalahnya, kata Popper, verifikasi sering kali hanya menjadi pembenaran diri. Manusia secara alamiah cenderung memilih fakta-fakta yang menguatkan keyakinannya dan menyingkirkan fakta yang mengganggu. Akibatnya, ilmu tidak berkembang secara progresif, melainkan hanya berputar dalam lingkaran pembenaran. Karena itu, yang diperlukan bukan verifikasi, melainkan falsifikasi: keberanian untuk meruntuhkan teori lama. Sebuah tesis justru bernilai ilmiah jika ia cukup spesifik, cukup berani, dan cukup terbuka untuk disangkal. Semakin spesifik dan prediktif sebuah teori, semakin mudah ia diuji, dan semakin besar peluangnya untuk benar-benar memajukan ilmu. Pernyataan yang terlalu umum, ambigu, dan tidak bisa disalahkan, tidak ilmiah, karena tidak mungkin dibantah.
Bagi Popper, kebenaran mutlak tidak pernah bisa kita capai. Yang bisa kita lakukan hanyalah mendekati kebenaran sedikit demi sedikit, dengan belajar dari kesalahan. Dalam politik, agama, dan ideologi apa pun, kita sebaiknya tidak sibuk mengklaim diri paling benar, tetapi belajar dari apa yang salah, dari apa yang menimbulkan penderitaan. Inilah yang ia sebut sebagai masyarakat terbuka (open society): masyarakat yang rendah hati, mau belajar dari kegagalan, dan tidak memaksakan satu kebenaran tunggal.
Tokoh lain yang sangat penting adalah Thomas Kuhn dengan konsep “paradigma”. Paradigma adalah teori induk atau kerangka besar yang dijadikan pegangan oleh komunitas ilmiah. Dalam keadaan normal, paradigma hampir tidak pernah dipertanyakan. Para ilmuwan hanya bekerja memecahkan “puzzle” kecil di dalam kerangka itu. Namun, ketika muncul banyak anomali yang tidak bisa dijelaskan oleh paradigma lama, barulah terjadi krisis dan akhirnya pergeseran paradigma. Pergeseran ini jarang berlangsung secara halus; biasanya bersifat revolusioner, seperti konversi keyakinan. Karena itu, peralihan paradigma sering kali mirip dengan pergantian agama: sulit, emosional, dan penuh konflik.
Kuhn juga menegaskan bahwa diterimanya sebuah paradigma tidak semata-mata ditentukan oleh kebenaran objektif, tetapi juga oleh faktor psikologis, sosiologis, dan kultural: jaringan pertemanan, otoritas profesor, strategi persuasi, bahkan cara presentasi. Dunia ilmu tidak pernah sepenuhnya steril dari unsur manusiawi.
Kritik terhadap sains berlanjut pada tokoh-tokoh yang lebih radikal, seperti Paul Feyerabend, yang menunjukkan bahwa banyak penemuan ilmiah besar justru tidak lahir secara metodis, tetapi intuitif, imajinatif, bahkan kadang dibantu oleh tradisi non-ilmiah seperti astrologi. Ia mengingatkan bahwa sains tidak boleh berubah menjadi tirani baru yang menyingkirkan semua bentuk pengetahuan lain. Sains pernah membebaskan manusia dari tirani agama, tetapi jangan sampai ia sendiri menjadi penjajah baru.
Seiring perkembangan zaman, arah sains juga bergerak semakin “ke dalam”. Dari fisika yang mengkaji dunia luar, ke kimia dan biologi yang mengkaji kehidupan, ke ilmu sosial yang mengkaji masyarakat, ke psikologi yang mengkaji pikiran, hingga kini menuju wilayah paling dalam dan paling misterius: kesadaran. Maka lahirlah cognitive science, ilmu hibrida yang menggabungkan neurosains, psikologi, filsafat, biologi, dan komputasi untuk memahami apa itu kesadaran.
Di sinilah terjadi benturan besar antara materialisme dan non-materialisme. Kaum materialis menganggap kesadaran, jiwa, diri, bahkan Tuhan hanyalah ilusi, produk samping dari proses elektrokimia di otak, seperti pelangi yang hanya efek cahaya, atau bunyi yang hanya efek benturan benda. Semua kebudayaan, agama, dan nilai dianggap sebagai rekayasa gen dan neuron demi kelangsungan hidup. Tokoh-tokoh seperti Dawkins, Harris, dan Hitchens mempopulerkan pandangan ini, dan sangat memikat generasi muda karena terdengar rasional dan berani.
Namun pandangan ini mendapat tantangan kuat. Dalam pengalaman sehari-hari justru sering terlihat kebalikannya: kesadaran memengaruhi tubuh, bukan sebaliknya. Efek placebo, penyakit psikosomatis, dan pengaruh stres terhadap kesehatan menunjukkan bahwa pikiran bisa membentuk proses biologis. Belum lagi fenomena near-death experience, out-of-body experience, dan kesadaran pada orang koma, yang memberi kesan bahwa kesadaran tidak sepenuhnya bergantung pada otak. Ada pula pengalaman mistik dan religius yang singkat, tetapi mampu mengubah seluruh arah hidup seseorang secara radikal, sesuatu yang terlalu sederhana jika hanya disebut sebagai ilusi.
Karena itu, memahami kesadaran tidak sama dengan memahami neuron. Sama seperti memahami huruf abjad tidak otomatis membuat kita memahami makna sebuah buku. Kesadaran adalah wilayah makna, bukan sekadar mekanisme. Ia jauh lebih dalam, lebih kompleks, dan lebih misterius.
Keseluruhan narasi ini menunjukkan roh posmodern: keberanian untuk meragukan klaim kebenaran mutlak, kerendahan hati dalam mengakui keterbatasan pengetahuan, keterbukaan terhadap berbagai bentuk pengalaman manusia, dan kesadaran bahwa pengetahuan berkembang bukan lewat kesombongan, tetapi lewat kesediaan untuk salah, dikritik, dan diperbaiki sedikit demi sedikit.
Seri Kuliah Filsafat Ilmu - Bagian 15
Pemateri Bapak Bambang I. Sugiharto
[
Uraian ini membahas munculnya era postmodern yang ditandai dengan skeptisisme intelektual dan sikap kritis terhadap narasi besar modernitas, yang berkembang dari sekadar gaya seni menjadi mazhab filsafat yang mempertanyakan sistem-sistem mapan.
[
Membahas pemikiran Karl Popper yang mengkritik metode "verifikasi" (pembenaran diri) dalam sains. Popper mengajukan prinsip "falsifikasi" (penyangkalan), di mana teori ilmiah yang baik harus berani mengambil risiko, bersifat spesifik, dan prediktif sehingga memungkinkan untuk diuji salah, bukan sekadar mencari pembenaran.
[
Penerapan prinsip falsifikasi dalam ranah sosial-politik menuju Open Society. Kemajuan masyarakat dicapai bukan melalui utopia besar, melainkan melalui proses piecemeal (sedikit demi sedikit) dengan belajar dari kesalahan, penderitaan, dan hal-hal yang tidak dikehendaki.
[
Penjelasan mengenai konsep "Paradigma" sebagai teori induk yang menjadi pegangan sains normal. Kuhn menyatakan bahwa pergeseran paradigma (revolusi sains) sering kali terjadi secara radikal—seperti konversi agama—ketika anomali-anomali kecil menumpuk, dan dipengaruhi juga oleh faktor sosiologis serta psikologis ilmuwan, bukan semata-mata objektivitas.
30:07 - Dilthey
-Naturwissenschaften (IPA) - Erklaren (menjelaskan) - hukum alam
-Geisteswissenschaft (IPS) - Verstehen (memahami) - makna
[
Membahas Paul Feyerabend yang mengkritik dominasi metode ilmiah yang dianggap kaku (tirani baru). Feyerabend menyoroti bahwa banyak penemuan sains justru bersifat intuitif dan non-metodis, serta memperingatkan agar sains tidak menindas bentuk pengetahuan lain seperti kearifan lokal.
[48:19] - Evolusi Ilmu
[
Diskusi beralih ke sains kognitif yang mencoba membedah misteri kesadaran (consciousness). Bagian ini mengulas pandangan materialis (seperti Richard Dawkins dan Daniel Dennett) yang menganggap kesadaran, agama, dan budaya hanyalah produk sampingan evolusi biologis ("memetika") atau ilusi neurologis semata.
[
Pemaparan fakta-fakta yang menantang pandangan materialis, seperti efek placebo (di mana kesadaran/sugesti menyembuhkan tubuh), Near Death Experience (NDE), dan pengalaman mistis. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran mungkin bersifat independen dan lebih dalam daripada sekadar kinerja elektro-kimiawi otak.
Komentar
Posting Komentar