Pluralitas Bahasa Pengetahuan dan Problem Kebenaran dalam Dominasi Sains Modern
Kita masih melanjutkan sedikit soal aneka logika di hadapan dominasi sains. Waktu itu yang terakhir kita bicarakan adalah soal soft of science: pengetahuan, tapi mengapa justru pengetahuan ilmiah yang mesti dijadikan tolok ukur segalanya. Padahal, sebenarnya ini problem. Setiap klaim mengenai realitas selalu berawal dari persepsi. Titik awalnya adalah persepsi indera. Masalahnya, persepsi indera—baik ilmiah maupun tidak—selalu sepotong-sepotong, temporer, tidak permanen, karena selalu dibatasi oleh ruang dan waktu.
Di atas keterbatasan itu, manusia kemudian bekerja dengan ingatan dan abstraksi. Binatang memang punya ingatan, tetapi sangat terbatas. Tubuh manusia sendiri relatif rapuh dibanding binatang—mudah sakit, konsumsi tubuhnya lemah—namun ia memiliki otak yang lebih kompleks. Dari situ lahir bahasa, yang mengompensasi kelemahan tubuh, dan memungkinkan kemampuan berabstraksi. Bahasa dan imajinasi memungkinkan manusia membayangkan apa saja, bahkan membentuk dunia berdasarkan bayangan-bayangan itu.
Dari sinilah muncul sistem-sistem representasi tentang realitas. Sistem representasi paling dasar adalah bahasa umum. Namun bahasa umum pun beragam: bahasa Indonesia, Inggris, Sunda, Cina, dan ribuan bahasa lain di dunia. Setiap bahasa membawa cara sendiri dalam menamai benda, pengalaman, dan dunia. Bahasa umum bekerja di ranah pengalaman sehari-hari, common experience: logika sederhana seperti “saya minum kopi, kopi masuk ke perut, dan bereaksi di tubuh”. Logika-logika sederhana ini sangat terkait dengan bahasa.
Bahasa sendiri punya karakter kultural. Bahasa Sunda, misalnya, kaya nuansa relasional; sementara bahasa Barat sangat menekankan definisi, kategori, dan substansi. Dalam bahasa Cina, relasi dan konteks bahkan lebih dominan lagi: segala sesuatu bisa dirumuskan berbeda tergantung situasinya. Dunia Barat membutuhkan standar yang jelas—tinggi, pendek, benar, salah—sementara banyak kebudayaan lain lebih lentur dan kontekstual.
Ketika kita masuk ke level yang lebih dalam, ke misteri-misteri kehidupan, bahasa umum tidak lagi memadai. Maka manusia menciptakan bahasa-bahasa khusus: bahasa mistik, bahasa moral, bahasa seni, bahasa politik, dan juga bahasa ilmiah. Semua ini adalah bahasa khusus yang mencoba merumuskan realitas yang melampaui penginderaan biasa. Bahasa ilmiah adalah salah satu di antaranya, sejajar dengan bahasa pengetahuan tradisional seperti primbon, akupunktur, feng shui, dan sebagainya.
Masalahnya muncul ketika bahasa ilmiah diposisikan sebagai satu-satunya bahasa yang sahih. Padahal, secara kerangka, bahasa ilmiah seharusnya dikembalikan sebagai salah satu bahasa khusus di antara banyak bahasa pengetahuan lain. Pengetahuan selalu jamak. Realitas selalu ditangkap melalui berbagai cara.
Ketika kita berbicara tentang pluralisme atau demokrasi pengetahuan, muncul persoalan epistemologis: bukankah kebenaran seharusnya satu dan mutlak? Jika benar itu satu, mungkinkah ia berwajah banyak? Bahkan dalam fisika modern—termasuk fisika kuantum—realitas pada level terdalam tampil berbeda-beda. Materi bisa dilihat sebagai partikel, gelombang, energi, bahkan seperti pikiran. Fakta ilmiah sendiri sangat bergantung pada alat dan lensa yang digunakan. Pada level terdalam, fakta menjadi sesuatu yang artifisial, bukan sepenuhnya natural.
Maka dunia sains pun menghadapi kebingungan. Bahkan di dalam sains sendiri, realitas tampil beragam. Pertanyaannya: jika di dalam satu bahasa pengetahuan saja realitas bisa ditangkap berbeda-beda, bagaimana kita memaksakan satu kebenaran tunggal?
Ini mirip dengan dunia silat atau meditasi: banyak aliran, banyak teknik, dan semuanya bisa efektif. Secara intuitif, manusia sebenarnya sadar bahwa jalan tidak pernah hanya satu. Ketakutan terhadap perbedaan sering kali lahir dari doktrin, bukan dari pengalaman hidup itu sendiri.
Masalah berikutnya adalah: apa yang harus dilakukan dengan keragaman ini? Apakah dibiarkan saja, atau diintegrasikan? Masalahnya, bahasa-bahasa pengetahuan tidak selalu bisa diterjemahkan satu sama lain. Bahasa feng shui, misalnya, tidak selalu bisa diterjemahkan ke bahasa fisika, meskipun keduanya bicara tentang kesejahteraan dan harmoni.
Ada yang pesimis dan mengatakan bahwa perbedaan bahasa ini tidak mungkin dijembatani, sehingga yang kuat akan selalu menang. Namun ada juga pandangan lain: semua bahasa bisa dipelajari, seperti kita belajar bahasa asing. Proses ini memang penuh tegangan—ada risiko kehilangan identitas—tetapi justru di situlah kemungkinan saling memahami muncul.
Keragaman pengetahuan bisa dibayangkan seperti pasar malam atau expo: setiap pengetahuan punya stan. Jika tidak ada yang datang, mungkin masalahnya bukan pada dunia, tetapi pada cara pengemasan dan presentasinya. Ini bukan sekadar soal marketing, tetapi juga soal substansi dan relevansi universal.
Jika suatu pengetahuan memiliki relevansi universal, ia akan diadopsi tanpa harus dipaksakan. Gamelan, misalnya, secara tonal “salah” menurut standar musik Barat, tetapi ketika terbukti menurunkan stres dan agresivitas, ia dipakai di penjara-penjara Eropa. Relevansi universal membuatnya diterima.
Namun, kita juga harus sadar bahwa ada power—kekuatan ekonomi, politik, dan teknologi—yang ikut menentukan mana pengetahuan yang hidup dan mana yang disingkirkan. Energi alternatif sulit berkembang bukan karena tidak mungkin, tetapi karena kekuatan ekonomi besar yang menguasai energi fosil.
Interaksi kebudayaan sendiri tidak selalu hegemonik. Banyak adopsi budaya terjadi karena kebutuhan, bukan penindasan. Bahasa Indonesia menyerap banyak bahasa asing dengan sukarela. Jadi teori konflik atau darwinisme sosial tidak selalu cukup untuk menjelaskan interaksi kebudayaan.
Masalah besar lainnya adalah obsesi modern terhadap kebenaran. Dunia sains dan filsafat modern terlalu fokus pada kebenaran, sampai lupa bahwa hidup manusia juga ditopang oleh nilai-nilai lain: keadilan, kesejahteraan, kebahagiaan, makna, dan keindahan. Sains bisa benar, tetapi belum tentu adil atau membahagiakan.
Dalam sejarah filsafat, kebenaran sendiri punya banyak makna:
- Korespondensi: benar itu sesuai dengan kenyataan.
- Koherensi: benar itu masuk akal dan tidak kontradiktif.
- Pragmatis: benar itu berguna.
- Performatif: benar itu mengubah realitas (janji, proklamasi).
- Eksistensial: benar itu bermakna bagi hidup.
- Disclosive: benar itu mencerahkan, menyingkap sesuatu yang sebelumnya tak terlihat.
Dalam pengalaman nyata, semua makna ini sering tumpang tindih. Itulah sebabnya kebenaran begitu kompleks, namun ironisnya justru sering menjadi sumber pertikaian. Padahal, perbedaan itu sendiri adalah nilai: keindahan, kebaruan, dan kemungkinan melihat dunia dengan cara lain.
Mungkin memang tidak ada kebetulan. Yang kita sebut kebetulan bisa jadi adalah kebenaran yang tersingkap perlahan dalam perjalanan hidup.
Seri Kuliah Filsafat Ilmu - Bagian 17
Pemateri Bapak Bambang I. Sugiharto
[
Pembuka kuliah yang mengulas kembali materi sebelumnya mengenai dominasi logika sains. Dijelaskan bahwa setiap klaim realitas berawal dari persepsi indra yang sifatnya terbatas, sepotong-sepotong, dan temporer.
[
Manusia memiliki fisik yang lemah dibanding hewan, namun hal ini dikompensasi oleh otak yang kompleks, bahasa, dan kemampuan abstraksi. Bahasa memungkinkan manusia membentuk representasi realitas yang melampaui fisik.
[
Selain bahasa umum (common language) untuk pengalaman sehari-hari, manusia menciptakan "bahasa khusus" untuk merumuskan misteri kehidupan yang lebih dalam (melampaui indra). Contoh bahasa khusus ini meliputi bahasa mistik, moral, seni, dan juga bahasa ilmiah (sains).
[
Sains modern (yang sering diasosiasikan dengan Barat) seharusnya dilihat sebagai "salah satu" dari sekian banyak bahasa pengetahuan, bukan satu-satunya kebenaran mutlak. Ia setara statusnya dengan sistem pengetahuan lain (misal: pengobatan tradisional) sebagai upaya merumuskan realitas.
[
Menggugat anggapan bahwa kebenaran harus tunggal. Bahkan dalam fisika kuantum, realitas bisa tampil berbeda (sebagai partikel, gelombang, atau energi) tergantung alat dan cara pandangnya. Fakta ilmiah pun pada level terdalam seringkali bersifat artifisial karena ketergantungan pada alat.
[
Diskusi mengenai implikasi peradaban dari beragamnya "wajah kebenaran". Apakah sistem pengetahuan yang berbeda (misal: sains vs primbon) harus saling "perang" (baku hantam), atau bisa saling mempelajari seperti mempelajari bahasa asing?
[
Analogi "Pasar Malam/Expo": Pengetahuan tradisional seringkali kalah bukan karena salah, tapi karena kalah strategi pengemasan (marketing) dan presentasi dibandingkan sains modern. Pengetahuan lokal perlu menunjukkan relevansi universalnya agar bisa diterima luas (seperti akupunktur atau musik gamelan untuk terapi).
[
Dominasi satu sistem pengetahuan tidak lepas dari faktor kekuasaan, sejarah, dan teknologi. Barat dan Jepang menjadi dominan karena penguasaan teknologi ("pikiran"), bukan sekadar karena kebenaran substansinya.
[
Sains terlalu fokus pada nilai "kebenaran", padahal hidup memiliki nilai penting lain seperti keadilan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan keindahan (estetika). Terkadang kebenaran ilmiah mengabaikan keadilan (misal: medikalisasi yang memojokkan peran perempuan) atau kebahagiaan.
[
Mulai masuk ke pembahasan teknis filsafat mengenai definisi "benar".
Korespondensi [
]: Benar adalah jika pernyataan sesuai dengan kenyataan (fakta).01:11:54 Koherensi [
]: Benar adalah jika logis, masuk akal, dan tidak mengandung kontradiksi internal (sering dipakai dalam logika matematika atau metafisika).01:13:49
[
Pragmatis (Amerika) [
]: Benar adalah apa yang berguna atau berfungsi efektif. Tidak peduli teori metafisikanya, selama solusinya bekerja, itu benar.01:15:55 Performatif (Inggris) [
]: Kata "benar" seringkali hanya alat retorika untuk meyakinkan orang lain, atau ucapan yang mengubah realitas/status (seperti janji pernikahan atau proklamasi).01:18:20
[
Komentar
Posting Komentar