Evolusi Kesadaran, Relasionalitas, dan Pergeseran Sikap terhadap Kebenaran dalam Perspektif Sains, Filsafat, dan Pengalaman Manusia




Terakhir kita sebenarnya sedang membahas teori kebenaran. Tapi sebelum ke sana, mungkin kita ngobrol dulu soal film. Ngobrol santai saja. What the bleep? Do you know? Nah, di situ ada implikasi yang menurut saya menarik sekali. Orang-orang fisika sering kali tahu fisika kuantum sebagai teori—mereka bisa menghitung, bisa mengerjakan rumus—tetapi konsekuensinya terhadap cara berpikir itu sering tidak terlalu disadari. Padahal, implikasi cara berpikir ini penting. 

Mungkin sebagian memang bentukan kita sendiri, tetapi pertanyaannya: apakah semuanya sepenuhnya bentukan kita sendiri? Dari sudut itu, menarik melihat bagaimana kinerja sel-sel, dengan atau tanpa kesadaran, seolah-olah menentukan cara berpikir kita dan apa yang mesti kita lakukan. Tapi bukankah sebaliknya juga mungkin? Bahwa pikiran dan pilihan kita justru menentukan kinerja seluler itu sendiri? Dalam film itu, kesannya memang seakan-akan semuanya dikendalikan, tetapi di sisi lain juga ditunjukkan bahwa pikiran dan pilihan kita dapat mengubah realitas.

Yang terlintas setelah menonton film itu adalah gagasan bahwa setiap makhluk, setiap entitas organik, menciptakan dunianya sendiri—sebuah proses yang disebut autopoietic. Kita sebenarnya selalu menyeleksi, meskipun kita berhadapan dengan realitas yang sama. Misalnya, Anda semua sekarang menghadapi perkuliahan yang sama, tetapi masing-masing menyeleksi apa yang relevan, apa yang menarik, dan apa yang tidak menarik. Setiap orang memiliki dunianya sendiri. Karena seleksi itulah, tafsiran kita berbeda-beda, dan kelak hasil atau “work” yang muncul dari pengalaman itu pun akan berbeda pada setiap orang. 

Dalam fisika sendiri, selalu ada chaos karena begitu banyak unsur yang saling berinteraksi; semuanya sekaligus sebab dan akibat. Apa yang muncul dari interaksi itu tidak pernah identik bagi semua orang. Hidup setiap orang pada dasarnya adalah emergence—sesuatu yang muncul dari cara masing-masing mencerna dan menatap pengalamannya sendiri, mempersepsi apa yang penting dan tidak penting, lalu melahirkan dunia pengalaman masing-masing. Itulah yang dimaksud dengan autopoiesis: mencipta, menjadikan ada sesuatu dari yang sebelumnya tidak ada. Dalam arti tertentu, setiap makhluk menciptakan dirinya sendiri.

Penciptaan itu bisa berlangsung di luar kesadaran, bisa juga disertai kehendak atau naluri, tergantung tingkatannya. Pada level tumbuhan, mungkin hampir seluruhnya tidak sadar; pada binatang, kesadaran mulai muncul; dan pada manusia, kesadaran menjadi sangat sentral. Realitas yang Anda alami hari ini sesungguhnya juga Anda ciptakan melalui keputusan-keputusan Anda. Anda memutuskan untuk studi S3, maka kita bertemu di sini dan seluruh proses itu terjadi. 

Yang menarik, keputusan individual—terutama dalam dunia manusia—sering berdampak pada keputusan kolektif. Tokoh-tokoh besar, para pemikir, bahkan para nabi, sering kali bermula dari satu individu, tetapi kemudian membentuk kesadaran kolektif dan pola hidup bersama. Banyak dari mereka semasa hidupnya miskin, tidak dipahami orang, bahkan merasa teorinya diabaikan, tanpa tahu bahwa setelah kematiannya gagasan itu menjadi gelombang besar. Keputusan individu memang dapat melahirkan realitas kolektif yang tidak sepenuhnya bisa kita kuasai.

Di era media dan teknologi informasi sekarang, peluang itu bahkan terbuka lebih luas. Setiap orang, sekecil apa pun suaranya, berpotensi memengaruhi orang lain jika momennya tepat. Memang ada penguasaan media, sensor, dan pengarahan opini publik, tetapi yang unik adalah suara personal pun kini bisa berdampak besar. Orang menjadi semakin waspada terhadap konsep takdir, karena di satu sisi kita melihat adanya desain, tetapi di sisi lain juga melihat kebebasan yang nyata. Sulit membayangkan bahwa bunuh diri, kegagalan pernikahan, atau keputusan-keputusan ekstrem lainnya sepenuhnya ditakdirkan secara kaku. 

Kalau takdir sudah sepenuhnya fix, lalu apa gunanya berdoa, berusaha, atau berjuang? Kenyataannya, hidup justru menarik karena ketidakjelasan itu—perpaduan antara desain dan kebebasan. Kalau semuanya jelas, kita akan menjadi robot. Jangan-jangan Tuhan sendiri juga “berdebar” bersama kita, bahkan bersifat playful dan humoris, bukan sosok kaku dan menakutkan seperti yang sering digambarkan.

Dalam diri setiap orang juga ada banyak dimensi, termasuk dimensi biologis yang tidak sepenuhnya kita pahami. Kita bisa tiba-tiba kaget saat terkena penyakit serius, karena banyak proses dalam “masyarakat sel” tubuh kita yang tidak kita mengerti. Hal yang sama berlaku pada masyarakat kolektif: kita sering baru sadar ada sesuatu yang salah atau sedang terjadi ketika muncul peristiwa ekstrem. 

Realitas, dalam film itu, digambarkan seperti layar-layar berbeda yang ditangkap oleh mata individual, tetapi mungkin juga sedang diamati oleh “observer” yang lebih besar. Seluruh realitas seakan berada di satu layar raksasa, diproyeksikan oleh Tuhan, sementara kita juga memainkan proyektor kecil kita masing-masing. Ini mengingatkan pada Matrix: mana yang lebih real, dunia di dalam program atau di luar program? Bisa jadi apa yang kita anggap real hanyalah fragmen kecil dari realitas yang jauh lebih besar.

Dari sini, sains tentang kemungkinan-kemungkinan justru membuka ruang bagi berbagai perspektif lain. Berbagai tradisi—mulai dari yoga, meditasi, seni gerak, hingga praktik spiritual yang tampak bertentangan—ternyata sama-sama “nyambung” dengan realitas. Ada ribuan aliran, cara, dan metode, yang sering kali saling bertabrakan secara teori, tetapi sama-sama menghasilkan efek nyata. Pada akhirnya, semua itu bisa dilihat sebagai siasat untuk mendayagunakan pikiran dan kesadaran.

Masuk ke pembahasan kebenaran, kita tidak lagi hanya bicara teori, tetapi sikap terhadap kebenaran. Sikap paling purba adalah absolutisme: kebenaran itu satu dan mutlak. Intuisi ini sangat kuat, terutama dalam agama. Namun, sikap ini mulai terguncang oleh sejarah, sosiologi, bahasa, dan akhirnya fisika modern. 

Sejarah menunjukkan bahwa banyak hal yang dulu dianggap benar ternyata keliru. Ilmu sosial menunjukkan bahwa nilai dan keyakinan berbeda-beda antar budaya, dengan rasionalitas dan spiritualitasnya sendiri. Bahasa membentuk cara berpikir, dan filsafat hermeneutika menegaskan bahwa tidak ada kehidupan manusia tanpa tafsir. Bahkan fisika kuantum menunjukkan bahwa apa yang terlihat sangat ditentukan oleh cara kita mengamati.

Semua ini memang menggelisahkan, karena mengaburkan kepastian dan objektivitas. Reaksi keras pun muncul, terutama dari agama, dalam bentuk konservatisme. Namun relativitas ini sebenarnya sejalan dengan kedewasaan: semakin dewasa, kita semakin sadar bahwa dunia tidak hitam-putih. Relativitas bukan berarti semuanya serba asal, melainkan kesadaran akan kompleksitas. 

Tahap mutakhirnya bukan lagi relativitas, melainkan relasionalitas: makna, identitas, dan kebenaran muncul dalam relasi dan konteks. Seseorang bisa tampil sangat berbeda tergantung dengan siapa ia berhubungan. Setiap relasi memunculkan sisi yang berbeda, dan itu bukan kemunafikan, melainkan kenyataan relasional.

Dalam konteks ini, objektivitas filosofis emang sulit dipertahankan, tetapi objektivitas operasional masih mungkin melalui kesepakatan intersubjektif dan sikap menahan diri dari penilaian tergesa-gesa. Pengetahuan kita selalu bersifat disclosure—penyingkapan bertahap. Semakin banyak yang tersingkap, semakin luas wilayah yang bisa kita lihat. 

Dari sudut ini, zaman sekarang sebenarnya lebih arif, meski kurang memberikan kepastian. Orang mulai lelah dengan ideologi-ideologi yang mengklaim kebenaran mutlak dan justru menghasilkan kekerasan. Barangkali yang lebih masuk akal adalah melangkah selangkah demi selangkah, belajar dari penderitaan yang sudah terjadi, dan tidak lagi berdebat mati-matian soal kebenaran yang mana.


Seri Kuliah Filsafat Ilmu - Bagian 18
Pemateri Bapak Bambang I. Sugiharto

[00:00] Diskusi Film & Realitas Kuantum
Membuka sesi dengan diskusi mengenai sebuah film (kemungkinan What the Bleep Do We Know!?) dan kaitannya dengan fisika kuantum. Dijelaskan bagaimana pikiran dan pilihan kita dapat mempengaruhi atau bahkan membentuk realitas seluler dan biologis tubuh kita.

[03:27] Autopoiesis: Menciptakan Dunia Sendiri
Membahas konsep autopoiesis, di mana setiap makhluk hidup menyeleksi dan mencerna pengalamannya sendiri dari realitas yang ada, sehingga seolah-olah menciptakan "dunia" khasnya masing-masing.

[07:31] Individu Membentuk Kesadaran Kolektif
Uraian mengenai bagaimana keputusan dan pemikiran satu individu (seperti Marx, Newton, atau para Nabi) dapat menciptakan gelombang besar yang membentuk kesadaran dan pola hidup kolektif masyarakat luas.

[12:15] Dialektika Takdir dan Kebebasan
Diskusi tentang ketegangan antara takdir (desain yang sudah ada) dan kebebasan manusia. Hidup menjadi menarik justru karena adanya ketidakpastian (never ending suspense) di antara kedua hal tersebut.

[24:30] Sikap Terhadap Kebenaran: Absolutisme
Masuk ke topik inti perkuliahan mengenai perkembangan sikap manusia terhadap kebenaran. Sikap paling purba adalah Absolutisme, yaitu pandangan bahwa kebenaran itu tunggal, mutlak, dan hanya milik satu pihak (seringkali dalam konteks agama).

[26:59] Relativitas Historis
Munculnya kesadaran bahwa apa yang dianggap benar bisa berubah seiring waktu (sejarah). Contohnya perubahan pandangan dari bumi datar menjadi bulat, atau perubahan persepsi sejarah terhadap peristiwa tertentu.

[28:35] Relativitas Sosiologis
Kesadaran yang tumbuh dari ilmu sosial bahwa nilai-nilai kebenaran, moral, dan etika bisa sangat berbeda antar budaya dan masyarakat. Apa yang dianggap biadab di satu tempat bisa dianggap mulia atau sakral di tempat lain.

[31:48] Relativitas Linguistik
Pemahaman bahwa bahasa tidak hanya alat komunikasi, tetapi juga menentukan cara manusia berpikir dan menyusun logika. Struktur bahasa yang berbeda menghasilkan cara pandang dunia yang berbeda.

[32:50] Relativitas Hermeneutis
Puncak dari relativitas di abad ke-20, di mana segala sesuatu dipahami sebagai tafsiran. Tidak ada fakta telanjang tanpa interpretasi, bahkan dalam sains (seperti fisika kuantum) sekalipun.

[41:09] Era Relasionalitas (Jejaring)
Pergeseran dari sekadar relativitas menuju kesadaran akan relasionalitas. Identitas dan kebenaran seseorang tidak berdiri sendiri, melainkan bergantung pada konteks hubungan (jejaring/network) di mana ia berada. Kita bisa menampilkan sisi berbeda pada orang atau konteks yang berbeda.

[47:27] Objektivitas Inter-Subjektif
Menjawab pertanyaan apakah objektivitas masih mungkin di tengah lautan tafsir. Dijelaskan bahwa objektivitas ilmiah saat ini lebih dimaknai sebagai kesepakatan inter-subjektif (konsensus para ahli) dan sikap untuk tidak terburu-buru menghakimi (menunda subjektivitas emosional).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar Filsafat - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Filsafat Kontemporer - Bambang I. Sugiharto

Apa Itu Filsafat?... - Pengantar Filsafat 01 - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Pemikiran Modern - Bambang I. Sugiharto

METAFISIKA KEBUDAYAAN - Bambang I. Sugiharto

Filsafat Ilmu - Bambang I. Sugiharto

Nietzsche & Keberanian Jadi Diri Sendiri

Postmodernisme

HERMENEUTIK - Bambang I. Sugiharto

Écrits dan Arsitektur Kajian Subjek - Lacan