Berpikir sebagai Penyingkapan: Gelassenheit dan Kritik atas Kehendak Menguasai - Martin Heidegger
Latar
belakang:
Teks utama dalam buku ini berakar pada sebuah pidato peringatan yang
disampaikan Heidegger pada tahun 1955 di kota kelahirannya, Messkirch, dalam
rangka mengenang komponis Conradin Kreutzer. Pidato tersebut kemudian
dikembangkan bersama sebuah percakapan filosofis menjadi buku Gelassenheit,
yang diterbitkan dalam bahasa Jerman pada tahun 1959. Bentuknya yang
tidak konvensional—memadukan pidato dan dialog—mencerminkan sikap Heidegger
sendiri: berpikir tidak selalu harus hadir sebagai teori yang tertutup,
melainkan sebagai proses yang hidup, terbuka, dan dialogis.
Di dalam Gelassenheit, Heidegger memperkenalkan
gagasan tentang releasement atau sikap “melepas”—yakni sikap membiarkan
yang-ada hadir sebagaimana adanya, tanpa dorongan untuk segera menguasai atau
memanfaatkannya. Gagasan ini sekaligus merupakan tanggapan kritis terhadap
dominasi teknologi modern, yang menurut Heidegger bukan sekadar alat, melainkan
cara tertentu manusia memahami dunia. Gelassenheit tidak menolak
teknologi, tetapi mengajak manusia membangun hubungan yang lebih bebas dan
tidak diperbudak olehnya.
Untuk Detil isi buku bisa periksa disini: https://www.holybooks.com/wp-content/uploads/Discourse-on-Thinking.pdf
GELASSENHEIT (DISCOURSE ON THINKING)
Penulis: Martin Heidegger
Diterjemahkan dari: Edisi Inggris oleh John M. Anderson & E. Hans
Freund
Kata Pengantar (Ringkasan)
Buku
Discourse on Thinking karya Martin Heidegger yang diterjemahkan di sini pertama
kali diterbitkan pada tahun 1959. Karya ini memuat pernyataan yang ringkas
namun sangat penting mengenai sudut pandang pemikiran Heidegger pada masa
akhirnya (later thought). Karena pemikiran Heidegger pada periode akhir ini
telah membangkitkan minat besar—bukan hanya di kalangan filsuf, tetapi juga
para teolog—maka menjadi penting untuk menyediakan contoh-contoh yang
representatif dalam bahasa Inggris. Discourse on Thinking dipilih karena selain
tergolong karya akhir, bentuk dan gayanya sangat cocok sebagai pintu masuk
menuju pemikiran Heidegger yang lebih matang.
Karya ini
terdiri dari dua bagian utama. Bagian pertama adalah sebuah Pidato Peringatan
(Memorial Address) yang disampaikan Heidegger untuk menghormati komponis Jerman
Conradin Kreutzer. Pidato ini ditujukan kepada khalayak umum, sehingga
bahasanya relatif lugas. Bagian kedua berupa sebuah percakapan atau dialog
(Conversation), di mana tema yang diperkenalkan dalam pidato tersebut
dikembangkan secara lebih mendalam dan filosofis. Dialog ini disusun
berdasarkan catatan yang lebih panjang dari sebuah percakapan yang terjadi pada
tahun 1944–1945 antara tiga tokoh: seorang guru, seorang ilmuwan, dan seorang
cendekiawan.
Secara
keseluruhan, buku ini berfungsi sebagai pengantar ke pemikiran akhir Heidegger,
terutama melalui gagasannya tentang berpikir meditatif (meditative thinking).
Konsep ini diperkenalkan dengan cara yang cukup mudah dipahami dalam Memorial
Address. Dalam pidato tersebut, Heidegger menegaskan keprihatinannya terhadap
berpikir meditatif, meskipun tanpa menguraikan secara rinci hakikat dasarnya.
Namun demikian, pidato ini dengan jelas menunjukkan bagaimana Heidegger
memahami hubungan antara berpikir meditatif dan kehidupan manusia modern, serta
klaimnya bahwa cara berpikir ini memiliki peran yang sangat penting bagi
kehidupan kita hari ini.
Selain itu,
gaya bahasa Memorial Address sangat khas: jelas, tanpa istilah teknis filsafat
yang rumit, dan memiliki nada puitis (poetic tone) yang menyampaikan
kesungguhan dan kedalaman persoalan yang dibahas. Gaya ini membantu pembaca
merasakan bobot eksistensial dari tema yang diangkat, tanpa harus terlebih
dahulu menguasai terminologi filsafat yang berat.
Bagian
percakapan yang menyusul berfungsi sebagai jembatan pengantar menuju
kompleksitas filsafat Heidegger. Karena disajikan dalam bentuk dialog, pembaca
dapat melihat bagaimana karakter para tokoh berkaitan dengan gagasan-gagasan
yang mereka diskusikan. Tujuan pembahasan tercermin dalam sikap para pembicara,
dan nada bicara yang bebas serta puitis menekankan makna manusiawi dari seluruh
usaha berpikir ini. Meski demikian, dialog ini tidak bisa dikatakan mudah
dipahami. Namun setidaknya, pembaca akan mampu melihat mengapa proyek pemikiran
Heidegger itu penting, dan sekaligus memahami mengapa upaya untuk mewujudkannya
begitu luar biasa sulit.
Bagi
pembaca yang sudah akrab dengan kerumitan pemikiran Heidegger, bagian
percakapan ini mungkin terasa menyegarkan karena menyajikan salah satu gagasan
fundamental Heidegger secara lebih konkret. Perpaduan antara alur berpikir dan
argumentasi, penggunaan kata dan metafora yang bebas, serta ringkasan-ringkasan
puitis, membuka sudut pandang baru terhadap argumen yang biasanya sangat
abstrak. Semua ini membantu memperkaya pemahaman kita tentang visi Heidegger
mengenai posisi manusia dalam Ada (Being).
Sementara
itu, bagi filsuf atau teolog yang belum mengenal pemikiran Heidegger, Memorial
Address dan dialog dalam buku ini dapat menjadi semacam “cicipan yang menggoda”
terhadap sebuah filsafat yang telah mendapatkan tempat penting dalam sejarah
pemikiran.
Akhir kata,
para penerjemah menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Profesor Glenn
Gray atas berbagai saran berharga yang secara signifikan meningkatkan kualitas
terjemahan ini. Mereka juga mengucapkan terima kasih atas bantuan lainnya dalam
keseluruhan proyek ini, serta kepada Central Fund for Research dari
Pennsylvania State University atas dukungan dana yang memungkinkan penyelesaian
karya ini.
— John M.
Anderson
— E. Hans
Freund
Pendahuluan (Ringkasan)
Tidak
sedikit orang yang menolak jenis filsafat tertentu. Bagi mereka, filsafat
terasa sulit dinikmati, terlalu abstrak, dan tampak tidak memiliki nilai
praktis yang nyata. Ia dianggap kabur, gelap, bahkan sekadar omong kosong.
Sikap semacam ini bukan hal baru; sejak berbagai zaman dalam sejarah manusia,
selalu ada orang-orang yang berpikir demikian. Namun, pada saat yang sama,
selalu pula ada mereka yang justru melihat pemikiran spekulatif (speculative
thinking) sebagai sesuatu yang sangat penting dan menentukan.
Perbedaan
cara pandang ini sudah tampak sejak awal sejarah pemikiran manusia. Dalam
filsafat Hindu kuno, misalnya, perbedaan itu tercermin jelas antara dongeng
binatang dalam Panchatantra dan ajaran-ajaran mistik dalam Upanishad.
Dongeng-dongeng Panchatantra menggambarkan suatu “ilmu bertahan hidup”:
pandangan hidup yang kalkulatif (calculative), realistis, tanpa
sentimentalisme, dan berorientasi pada keuntungan serta kelangsungan hidup.
Sebaliknya, Upanishad berbicara dengan cara yang jauh lebih gelap dan misterius,
berusaha menyingkap hakikat terdalam dari kenyataan itu sendiri—bukan sekadar
cara hidup yang efektif, melainkan makna terdalam dari keberadaan.
Perbedaan
yang sama juga muncul dalam pemikiran Yunani awal. Dongeng-dongeng Aesop
memberikan pelajaran tentang perhitungan dan kecerdikan praktis, sementara
mitos dan kisah dalam Theogony karya Hesiod mengarah pada persoalan yang lebih
mendasar dan lebih sukar dipahami: asal-usul, tatanan kosmos, dan makna yang
melampaui kepentingan praktis manusia.
Perbedaan
pandangan yang sangat tua inilah yang menjadi latar bagi Pidato Peringatan
(Memorial Address) Martin Heidegger untuk menghormati komponis Jerman Conradin
Kreutzer. Heidegger melihat bahwa cara pandang “dongeng binatang” itu kini
hidup kembali dalam masyarakat modern melalui berpikir kalkulatif (calculative
thinking)—cara berpikir khas ilmu pengetahuan modern dan teknologi terapan.
Cara berpikir ini tajam, efisien, dan realistis, tetapi sekaligus dingin dan
tanpa kedalaman makna. Ia cepat memanfaatkan keadaan demi tujuan tertentu,
tetapi jarang bertanya tentang makna terdalam dari apa yang dilakukan.
Sebagai
tandingan, Heidegger memperkenalkan jenis berpikir lain yang ia sebut berpikir
meditatif (meditative thinking). Berpikir jenis ini, menurut Heidegger,
sesungguhnya sudah terkandung dalam kodrat manusia, meskipun sulit dijalankan.
Ia bukan sekadar kemampuan intelektual, melainkan suatu sikap eksistensial.
Salah satu tujuan utama pidato Heidegger adalah membangkitkan keberanian dan
ketekunan yang dibutuhkan agar manusia mau dan mampu berpikir dengan cara ini.
Namun
berpikir meditatif menuntut dua sikap yang tidak lazim dan jarang dimiliki
manusia modern. Heidegger menyebutnya kelepasan terhadap benda-benda
(releasement toward things / Gelassenheit) dan keterbukaan terhadap misteri
(openness to the mystery). Kedua sikap ini tidak mudah, bahkan terasa asing,
karena menuntut manusia untuk melepaskan dorongan menguasai, menghitung, dan
mengendalikan.
Heidegger
berusaha mengurangi kesan gelap dan misterius dari gagasan-gagasan ini dengan
menunjukkan relevansinya bagi kehidupan manusia konkret. Ia menegaskan bahwa
keutuhan manusia (integrity), bahkan keterikatan manusia pada tanah dan
asal-usulnya (autochthony), bergantung pada kemampuan untuk berpikir secara
meditatif. Lebih jauh lagi, Heidegger menyatakan bahwa bahkan makna terdalam
dari berpikir kalkulatif dan pencapaian sains modern hanya dapat dipahami
melalui berpikir meditatif. Dengan kata lain, berpikir meditatif bukan pelarian
dari dunia modern, melainkan kunci untuk memahami makna terdalamnya.
Namun pada
tingkat paling mendasar, Heidegger sebenarnya sedang mengajak pembacanya menuju
suatu transformasi diri (transmutation of oneself). Ia mendorong manusia untuk
keluar dari keterikatan pada apa yang jelas, efektif, dan dangkal, menuju
sesuatu yang lebih hakiki—meskipun itu gelap, sulit, dan tidak segera berguna.
Menariknya,
dalam Memorial Address dan dialog yang menyertainya, Heidegger hampir tidak
menggunakan istilah teknis filsafat. Ia terkenal sebagai filsuf yang sering
menciptakan istilah baru, tetapi dalam karya ini hanya ada beberapa istilah
kunci: releasement, in-dwelling (kediaman batin), dan that-which-regions
(yang-mewilayah / yang-membentang). Makna istilah-istilah ini tidak dijelaskan
secara definisional, melainkan perlahan-lahan disingkap melalui keseluruhan
konteks pembahasan.
Bahasa yang
digunakan Heidegger di sini sederhana, dekat dengan pengalaman sehari-hari, dan
sarat metafora alam: tanah, ladang, jalan setapak, pertumbuhan. Nada puitis ini
bukan sekadar hiasan gaya, melainkan cara untuk mendekatkan pembaca pada
sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh bahasa teknis semata. Dalam hal ini,
Heidegger menulis dengan semangat yang mirip para mistikus seperti Meister
Eckhart—menggunakan kata-kata untuk membawa pembaca melampaui yang biasa menuju
yang hakiki.
Pertanyaan
besar yang kemudian muncul adalah: apakah pendekatan Heidegger dalam
karya-karya akhirnya ini lebih berhasil dibandingkan pendekatannya dalam Being
and Time? Dalam karya awalnya itu, Heidegger berusaha memahami Ada (Being)
melalui analisis struktur pengalaman manusia (Dasein). Namun banyak pembaca
menilai bahwa proyek tersebut tidak pernah benar-benar selesai.
Dalam
karya-karya akhirnya, termasuk Discourse on Thinking, Heidegger tampaknya
menempuh jalan lain. Tujuannya tetap sama—membangkitkan kembali pertanyaan
tentang Ada—tetapi jalannya berbeda. Bukan lagi melalui analisis teknis
struktur pengalaman, melainkan melalui berpikir meditatif sebagai cara manusia
berelasi langsung dengan Ada.
Di sinilah
letak inti perubahan pemikiran Heidegger: bukan sekadar mengganti teori,
melainkan mengubah cara berpikir itu sendiri. Bagi Heidegger, yang bertahan
dalam pemikiran bukanlah suatu posisi final, melainkan jalan (der Weg). Dan
Discourse on Thinking adalah salah satu upaya paling jernih untuk mengajak kita
berjalan di jalan itu.
— John M. Anderson
— E. Hans
Freund
(saduran)
PIDATO PERINGATAN
Izinkan
kata publik pertamaku di kampung halamanku menjadi sebuah ungkapan terima
kasih.
Aku
berterima kasih kepada tanah kelahiranku atas segala yang telah
dianugerahkannya kepadaku sepanjang jalan hidupku. Hakikat dari anugerah ini
pernah kucoba jelaskan dalam beberapa halaman berjudul “Der Feldweg”, yang
pertama kali terbit pada tahun 1949 dalam sebuah buku untuk mengenang seratus
tahun wafatnya Conradin Kreutzer. Aku berterima kasih kepada Wali Kota Schühle
atas sambutan hangatnya. Dan secara khusus aku bersyukur atas kehormatan untuk
menyampaikan pidato peringatan pada upacara hari ini.
Para Tamu
Terhormat, Sahabat dan Tetangga sekalian! Kita berkumpul untuk mengenang sang
komponis Conradin Kreutzer, putra daerah kita. Jika kita hendak menghormati
seseorang yang panggilannya adalah berkarya secara kreatif, maka pertama-tama
dan terutama kita harus menghormati karyanya. Dalam hal seorang musikus,
penghormatan itu terwujud melalui pementasan karya-karyanya.
Karya-karya
Conradin Kreutzer hari ini kembali bergema—dalam nyanyian dan koor, dalam opera
dan musik kamar. Dalam bunyi-bunyi itu, sang seniman sendiri hadir; sebab
kehadiran sang maestro di dalam karyanya adalah satu-satunya kehadiran yang
sejati. Semakin besar sang maestro, semakin lenyap pribadinya di balik
karyanya.
Para
musikus dan penyanyi yang ambil bagian dalam perayaan hari ini menjadi jaminan
bahwa karya Conradin Kreutzer sungguh akan terdengar pada kesempatan ini.
Namun,
apakah itu saja sudah cukup untuk disebut sebuah peringatan? Peringatan berarti
kita menoleh ke belakang, berarti kita berpikir. Tetapi apa yang seharusnya
kita pikirkan dan katakan dalam sebuah peringatan yang dipersembahkan bagi
seorang komponis? Bukankah keistimewaan musik justru terletak pada kemampuannya
untuk “berbicara” melalui bunyi nada, sehingga ia tidak memerlukan bahasa
sehari-hari—bahasa kata-kata? Begitulah yang sering dikatakan. Namun pertanyaan
itu tetap tinggal: apakah bermain dan bernyanyi saja sudah menjadikan perayaan
kita sebuah perayaan yang penuh pemikiran—sebuah perayaan di mana kita sungguh
berpikir? Kiranya belum!
Karena itu,
sebuah “pidato peringatan” dimasukkan ke dalam susunan acara. Pidato ini
dimaksudkan untuk menolong kita menoleh ke belakang—kepada sang komponis yang
kita hormati dan kepada karya-karyanya. Kenangan-kenangan itu menjadi hidup
segera setelah kita mengisahkan perjalanan hidup Conradin Kreutzer, serta
menyebutkan dan menggambarkan karya-karyanya.
Melalui
kisah semacam itu, kita dapat menemukan banyak hal yang menggembirakan maupun
menyedihkan, banyak yang mendidik dan patut diteladani. Namun pada akhirnya,
kita sekadar membiarkan diri kita terhibur oleh uraian tersebut. Dalam
mendengarkan kisah semacam itu, hampir tak dibutuhkan pemikiran apa pun, tak
dituntut permenungan atas apa yang menyentuh setiap dari kita secara langsung
dan terus-menerus dalam keberadaan kita sendiri. Maka, bahkan sebuah pidato
peringatan pun tidak menjamin bahwa kita sungguh akan berpikir dalam sebuah
perayaan peringatan.
Mari kita
jangan menipu diri sendiri. Kita semua—termasuk mereka yang seolah-olah
berpikir secara profesional—sering kali miskin pemikiran; kita semua terlalu
mudah menjadi tanpa-pikir. Ketidakberpikiran adalah tamu yang ganjil, yang
datang dan pergi ke mana-mana di dunia hari ini. Sebab kini kita menyerap
segala sesuatu dengan cara yang paling cepat dan paling murah, hanya untuk
melupakannya kembali dengan kecepatan yang sama, seketika itu juga. Maka satu
pertemuan menyusul pertemuan lain. Perayaan-perayaan peringatan pun makin lama
makin miskin pemikiran. Peringatan dan ketidakberpikiran berjalan berdampingan.
Namun
bahkan ketika kita tidak berpikir, kita tidak kehilangan kemampuan untuk
berpikir. Kita justru menggunakan kemampuan itu secara tersirat, meski dengan
cara yang aneh: dalam ketidakberpikiran, kita membiarkannya terbiar. Tetapi
yang bisa dibiarkan terbiar hanyalah sesuatu yang pada dirinya sendiri
merupakan tanah bagi pertumbuhan—seperti ladang. Jalan tol, tempat tak ada apa
pun yang tumbuh, tidak mungkin menjadi ladang bera. Sebagaimana kita hanya bisa
menjadi tuli karena kita pada dasarnya dapat mendengar; sebagaimana kita hanya
bisa menjadi tua karena kita pernah muda; demikian pula kita hanya bisa menjadi
miskin pemikiran, bahkan tanpa-pikir, karena manusia pada inti keberadaannya
memiliki kemampuan untuk berpikir—memiliki “roh dan akal”—dan ditakdirkan untuk
berpikir. Kita hanya dapat kehilangan, atau—meminjam ungkapan yang
lazim—terlepas dari, sesuatu yang secara sadar atau tak sadar sudah kita
miliki.
Karena itu,
ketidakberpikiran yang kian meluas pasti bersumber dari suatu proses yang
menggerogoti sumsum manusia dewasa ini: manusia zaman sekarang sedang melarikan
diri dari berpikir. Pelarian dari berpikir inilah dasar dari ketidakberpikiran.
Namun bagian dari pelarian itu adalah bahwa manusia tidak mau melihatnya,
apalagi mengakuinya. Manusia hari ini bahkan akan menyangkal secara
terang-terangan bahwa ia sedang melarikan diri dari berpikir. Ia justru akan
menyatakan kebalikannya. Ia akan berkata—dan memang benar—bahwa belum pernah
ada rencana-rencana yang sedemikian luas jangkauannya, begitu banyak
penyelidikan di begitu banyak bidang, dan penelitian yang dijalankan dengan
gairah sebesar hari ini. Tentu saja. Dan pertunjukan kecerdikan serta pertimbangan
ini memiliki kegunaannya sendiri yang besar. Pemikiran semacam itu tetap tak
tergantikan. Namun—tetap benar pula bahwa ini adalah pemikiran dari jenis
tertentu.
Kekhasannya
terletak pada kenyataan bahwa setiap kali kita merencanakan, meneliti, dan
mengorganisasi, kita selalu memperhitungkan kondisi-kondisi yang telah
diberikan. Kita mempertimbangkannya dengan maksud terhitung agar semuanya
melayani tujuan-tujuan tertentu. Dengan demikian, kita dapat mengandalkan
hasil-hasil yang pasti. Perhitungan inilah ciri dari semua pemikiran yang
merencanakan dan menyelidiki. Pemikiran semacam ini tetaplah perhitungan,
sekalipun ia tidak bekerja dengan angka-angka, tidak menggunakan mesin hitung
atau komputer. Pemikiran kalkulatif menghitung. Ia menghitung
kemungkinan-kemungkinan yang senantiasa baru, senantiasa lebih menjanjikan,
sekaligus lebih ekonomis. Pemikiran kalkulatif berlari dari satu prospek ke
prospek berikutnya. Ia tak pernah berhenti, tak pernah mengumpulkan diri.
Pemikiran kalkulatif bukanlah pemikiran meditatif—bukan pemikiran yang
merenungkan makna yang meraja dalam segala yang ada.
Maka, ada
dua jenis pemikiran, masing-masing sah dan diperlukan dengan caranya sendiri:
pemikiran kalkulatif dan pemikiran meditatif.
Pemikiran
meditatif inilah yang kita maksud ketika kita mengatakan bahwa manusia
kontemporer sedang melarikan diri dari berpikir. Namun barangkali Anda akan
menyanggah: pemikiran meditatif semata melayang-layang tanpa sadar di atas
kenyataan. Ia kehilangan pijakan. Ia tidak berguna untuk mengurus urusan-urusan
mutakhir. Ia tidak memberi keuntungan apa pun dalam menjalankan perkara-perkara
praktis.
Dan
barangkali Anda akhirnya akan berkata bahwa pemikiran meditatif
semata—permenungan yang tekun—berada “di atas” jangkauan pemahaman orang
kebanyakan. Dalam keberatan ini, hanya satu hal yang benar: pemikiran meditatif
memang tidak terjadi dengan sendirinya, sama seperti demikian pula pemikiran
kalkulatif. Pada saat-saat tertentu, pemikiran meditatif bahkan menuntut usaha
yang lebih besar. Ia menuntut latihan yang lebih tekun. Ia membutuhkan
perawatan yang jauh lebih halus daripada keterampilan sejati mana pun. Namun ia
juga harus mampu menunggu—menunggu seperti seorang petani—apakah benih itu akan
tumbuh dan matang.
Namun
setiap orang dapat menapaki jalan pemikiran meditatif dengan caranya sendiri
dan dalam batas-batasnya masing-masing. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk
yang berpikir—yakni makhluk yang bermeditasi. Karena itu, pemikiran meditatif
sama sekali tidak harus “melangit.” Cukuplah jika kita berdiam pada apa yang
dekat dan merenungkan apa yang paling dekat: apa yang menyentuh kita,
masing-masing dari kita, di sini dan sekarang; di sini, di sebidang tanah
kampung halaman ini; sekarang, pada jam sejarah yang sedang berlangsung.
Apa yang
disarankan perayaan ini kepada kita, jika kita siap untuk bermeditasi? Maka
kita akan menyadari bahwa sebuah karya seni telah mekar dari tanah kampung
halaman kita. Ketika fakta sederhana ini kita hayati, kita segera teringat
bahwa selama dua abad terakhir, para penyair dan pemikir besar telah lahir dari
tanah Swabia. Dengan berpikir lebih jauh, segera menjadi jelas bahwa Jerman
Tengah juga merupakan tanah semacam itu, demikian pula Prusia Timur, Silesia,
dan Bohemia.
Kita
menjadi lebih merenung dan bertanya: bukankah mekarnya setiap karya sejati
bergantung pada akar-akarnya di tanah asal? Johann Peter Hebel pernah menulis: “Kita adalah tumbuhan yang—entah kita mau mengakuinya atau tidak—harus dengan
akar kita tumbuh keluar dari bumi agar dapat mekar di eter dan berbuah.”
Yang hendak
dikatakan sang penyair adalah ini: agar suatu karya manusia yang sungguh
menggembirakan dan menyelamatkan dapat berkembang, manusia harus mampu naik
dari kedalaman tanah asalnya menuju eter. Eter di sini berarti udara bebas dari
langit yang tinggi—ranah terbuka dari roh.
Kita
menjadi semakin merenung dan bertanya: apakah klaim Johann Peter Hebel ini
masih berlaku hari ini? Apakah manusia masih berdiam dengan tenang di antara
langit dan bumi? Apakah semangat meditatif masih meraja di atas tanah ini?
Apakah masih ada kampung halaman yang menghidupkan, yang di dalam tanahnya
manusia dapat berdiri berakar—yakni, menjadi sungguh asli, autochthony?
Banyak
orang Jerman telah kehilangan kampung halaman mereka, terpaksa meninggalkan
desa dan kota, diusir dari tanah kelahiran. Tak terhitung pula mereka yang
kampung halamannya terselamatkan, namun tetap saja mengembara. Mereka terseret
ke dalam hiruk-pikuk kota-kota besar dan bermukim kembali di tanah-tanah tandus
kawasan industri. Kini mereka menjadi orang asing bagi kampung halaman mereka
sendiri. Dan mereka yang tetap tinggal di kampung halaman? Sering kali mereka
justru lebih tidak berumah daripada mereka yang diusir dari tanah asalnya.
Jam demi
jam, hari demi hari, mereka terbelenggu oleh radio dan televisi. Minggu demi
minggu, film-film menyeret mereka ke wilayah imajinasi yang tidak lazim—namun
sering kali justru sangat biasa—dan memberi ilusi tentang sebuah dunia yang
sejatinya bukan dunia. Majalah bergambar tersedia di mana-mana. Segala sesuatu
yang dengannya teknik-teknik komunikasi modern merangsang, menyerbu, dan
menggerakkan manusia—semuanya kini jauh lebih dekat kepada manusia daripada
ladang-ladangnya di sekitar rumah tani; lebih dekat daripada langit di atas
bumi; lebih dekat daripada pergantian malam dan siang; lebih dekat daripada
adat dan kebiasaan desanya; daripada tradisi dunia asalnya.
Kita menjadi semakin merenung dan bertanya: apa yang sesungguhnya sedang terjadi di sini—baik pada mereka yang diusir dari kampung halaman maupun pada mereka yang tinggal? Jawabannya: keterakaran. Keterakaran (autochthony) manusia pada hari ini terancam sampai ke inti keberadaannya!
Bahkan
lebih dari itu: hilangnya keterakaran bukan semata-mata disebabkan oleh keadaan
dan nasib, juga bukan hanya bersumber dari kelalaian serta kedangkalan cara
hidup manusia. Kehilangan keterakaran itu bersemi dari roh zaman tempat kita
semua dilahirkan.
Kita
menjadi semakin merenung dan bertanya: jika demikian halnya, masihkah
manusia—masihkah karya manusia—di masa depan dapat diharapkan tumbuh subur di
tanah kampung halaman yang subur dan menjulang ke eter, ke bentangan langit dan
roh? Ataukah kini segala sesuatu akan jatuh sepenuhnya ke dalam cengkeraman
perencanaan dan perhitungan, pengorganisasian dan otomatisasi?
Jika kita
merenungkan apa yang disarankan oleh perayaan hari ini, kita mesti menyadari
hilangnya keterakaran manusia yang mengancam zaman kita. Lalu kita bertanya:
apa yang sebenarnya sedang terjadi pada zaman kita? Oleh apa zaman ini
ditandai?
Zaman yang
kini sedang bermula akhir-akhir ini disebut zaman atom. Lambang yang paling
mencolok darinya adalah bom atom. Namun itu hanyalah lambang yang paling
kasatmata; sebab segera disadari bahwa energi atom juga dapat digunakan untuk
tujuan-tujuan damai. Para fisikawan nuklir di seluruh dunia sibuk dengan
rencana-rencana besar untuk mewujudkan pemanfaatan damai energi atom.
Perusahaan-perusahaan industri raksasa di negara-negara terkemuka—terutama
Inggris—telah menghitung bahwa energi atom dapat berkembang menjadi bisnis yang
sangat besar.
Melalui
bisnis atom ini, sebuah era kebahagiaan baru dibayangkan. Ilmu nuklir pun tidak
tinggal diam. Ia secara terbuka memaklumkan era kebahagiaan ini. Maka pada
bulan Juli tahun ini, di Danau Konstanz, delapan belas peraih Hadiah Nobel
menyatakan dalam sebuah proklamasi: "Ilmu pengetahuan—dan yang dimaksud di sini
adalah ilmu alam modern—merupakan jalan menuju kehidupan manusia yang lebih
bahagia.”
Apa makna
pernyataan ini? Apakah ia lahir dari permenungan? Apakah ia pernah merenungkan
makna zaman atom? Tidak! Sebab jika kita merasa cukup dengan pernyataan semacam
itu dari ilmu pengetahuan, kita justru menjauh sejauh mungkin dari pemahaman
reflektif tentang zaman kita. Mengapa? Karena kita lupa merenung. Karena kita
lupa bertanya: apakah dasar yang memungkinkan teknologi modern menemukan dan
membebaskan energi-energi baru di alam?
Hal ini
disebabkan oleh sebuah revolusi dalam konsep-konsep penuntun yang telah
berlangsung selama beberapa abad terakhir, dan yang menempatkan manusia dalam
sebuah dunia yang berbeda. Revolusi radikal dalam cara pandang ini lahir dalam
filsafat modern. Dari sinilah muncul hubungan yang sepenuhnya baru antara
manusia dan dunia serta tempat manusia di dalamnya. Dunia kini tampil sebagai
objek yang terbuka bagi serangan pemikiran kalkulatif—serangan yang diyakini
tak lagi dapat ditahan oleh apa pun. Alam berubah menjadi sebuah pompa bensin
raksasa, sumber energi bagi teknologi dan industri modern.
Hubungan
manusia dengan dunia semacam ini—pada dasarnya hubungan teknis—pertama-tama
berkembang pada abad ketujuh belas dan hanya di Eropa. Ia lama tidak dikenal di
benua-benua lain, dan sepenuhnya asing bagi zaman-zaman serta sejarah-sejarah
sebelumnya.
Daya yang
tersembunyi dalam teknologi modern menentukan hubungan manusia dengan segala
yang ada. Daya ini menguasai seluruh bumi. Bahkan, manusia kini mulai melangkah
melampaui bumi menuju angkasa luar. Dalam waktu kurang dari dua puluh tahun,
melalui penemuan energi atom, sumber-sumber daya yang begitu raksasa telah
dikenal, sehingga di masa depan yang dapat diperkirakan, kebutuhan energi dunia
dalam bentuk apa pun akan terjamin selamanya. Perolehan energi-energi baru itu
kelak tidak lagi terikat pada negara atau benua tertentu, seperti halnya batu
bara, minyak, dan kayu. Di masa depan yang dapat diperkirakan, pembangkit
tenaga atom akan dapat dibangun di mana saja di bumi.
Dengan
demikian, pertanyaan yang menentukan bagi ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa
ini bukan lagi: di mana kita menemukan bahan bakar dalam jumlah yang cukup?
Pertanyaan yang menentukan kini berbunyi: dengan cara apa kita dapat
menjinakkan dan mengarahkan jumlah energi atom yang tak terbayangkan besarnya
itu, sehingga umat manusia terlindungi dari bahaya bahwa energi-energi raksasa
ini tiba-tiba—bahkan tanpa tindakan militer—meledak di suatu tempat, “lepas
kendali,” dan menghancurkan segalanya?
Jika
penjinakan energi atom berhasil—dan ia akan berhasil—maka sebuah era
perkembangan teknis yang sepenuhnya baru akan dimulai. Apa yang kini kita kenal
sebagai teknologi film dan televisi, transportasi—terutama transportasi
udara—pelaporan berita, serta teknologi medis dan gizi, barangkali hanyalah
sebuah permulaan yang kasar. Tak seorang pun dapat meramalkan
perubahan-perubahan radikal yang akan datang. Namun kemajuan teknologi akan
bergerak semakin cepat dan tak pernah dapat dihentikan. Di semua ranah keberadaannya,
manusia akan semakin rapat dikepung oleh kekuatan-kekuatan teknologi.
Kekuatan-kekuatan
ini—yang di mana-mana dan setiap saat menuntut, membelenggu, menyeret, menekan,
dan memaksakan diri kepada manusia dalam rupa perangkat teknis apa
pun—kekuatan-kekuatan ini, karena tidak diciptakan oleh manusia, telah lama
bergerak melampaui kehendaknya dan melampaui kapasitasnya untuk mengambil
keputusan.
Namun ini
pula yang menjadi ciri khas dunia teknologi yang baru: capaian-capaiannya
dengan sangat cepat diketahui dan dikagumi secara publik. Maka hari ini setiap
orang dapat membaca apa yang dikatakan pidato ini tentang teknologi dalam
majalah bergambar yang dikelola secara kompeten, atau mendengarnya melalui
radio. Tetapi—satu hal adalah mendengar dan membaca sesuatu, yakni sekadar
mencatatnya; hal lain adalah memahami apa yang telah kita dengar dan baca,
yakni merenungkannya.
Pertemuan
internasional para peraih Hadiah Nobel kembali berlangsung pada musim panas
tahun 1955 di Lindau. Di sana, ahli kimia Amerika, Stanley, mengatakan: “Saatnya
hampir tiba ketika kehidupan akan ditempatkan di tangan ahli kimia, yang akan
mampu mensintesis, membelah, dan mengubah substansi hidup sesuka hatinya.” Kita
mencatat pernyataan semacam itu. Kita bahkan mengagumi keberanian riset
ilmiah—tanpa memikirkannya. Kita tidak berhenti untuk mempertimbangkan bahwa
sebuah serangan dengan sarana teknologi sedang dipersiapkan terhadap kehidupan
dan kodrat manusia, yang bila dibandingkan dengannya, ledakan bom hidrogen
berarti sangat kecil.
Sebab
justru jika bom-bom hidrogen itu tidak meledak dan kehidupan manusia di bumi
tetap lestari, sebuah perubahan yang mengerikan sedang mendekat ke dunia kita.
Namun yang
sungguh mengerikan bukanlah kenyataan bahwa dunia menjadi sepenuhnya teknis.
Yang jauh lebih mengerikan adalah bahwa kita tidak siap menghadapi transformasi
ini, ketidakmampuan kita untuk menyongsong secara meditatif apa yang
sesungguhnya sedang merekah pada zaman ini.
Tak seorang
pun, tak sekelompok manusia pun, tak satu komisi yang terdiri dari negarawan,
ilmuwan, dan teknisi terkemuka, tak satu konferensi para pemimpin perdagangan
dan industri pun dapat mengerem atau mengarahkan laju sejarah di zaman atom.
Tak ada organisasi yang semata-mata bersifat manusiawi yang mampu menguasainya.
Apakah
manusia, dengan demikian, hanyalah korban yang tak berdaya dan kebingungan,
berada di bawah belas kasihan kekuatan teknologi yang tak tertandingi? Ia akan
menjadi demikian, jika manusia hari ini melepaskan niat untuk dengan tegas
memperhadapkan pemikiran meditatif terhadap pemikiran yang semata-mata
kalkulatif. Namun begitu pemikiran meditatif terbangun, ia harus bekerja tanpa
henti dan pada setiap kesempatan—maka juga, di sini dan sekarang, dalam
peringatan ini. Sebab di sinilah kita sedang mempertimbangkan apa yang secara
khusus terancam pada zaman atom: keterakaran karya-karya manusia.
Maka kini
kita bertanya: sekalipun keterakaran lama sedang lenyap pada zaman ini,
mungkinkah sebuah dasar dan fondasi baru kembali dianugerahkan kepada
manusia—sebuah dasar dan fondasi dari mana hakikat manusia dan seluruh karyanya
dapat bertumbuh dengan cara yang baru, bahkan di zaman atom?
Apakah
dasar dan fondasi bagi keterakaran yang baru itu? Barangkali jawaban yang kita
cari justru berada sangat dekat—sedekat tangan kita sendiri—hingga kita terlalu
mudah mengabaikannya. Sebab jalan menuju yang dekat selalu merupakan jalan
terpanjang, dan karenanya yang paling sukar bagi kita manusia. Jalan itu adalah
jalan pemikiran meditatif. Pemikiran meditatif menuntut kita untuk tidak
melekat secara sepihak pada satu gagasan saja, juga tidak berlari di atas rel
tunggal pemikiran. Pemikiran meditatif menuntut kita untuk melibatkan diri
dengan apa yang pada pandangan pertama sama sekali tidak tampak saling cocok.
Marilah
kita mencobanya. Bagi kita semua, pengaturan, perangkat, dan mesin
teknologi—dalam kadar tertentu—memang tak terelakkan. Akanlah bodoh jika kita
menyerang teknologi secara membabi buta. Akanlah picik jika kita mengutuknya
sebagai karya iblis. Kita bergantung pada perangkat teknis; bahkan
perangkat-perangkat itu menantang kita untuk terus maju lebih jauh. Namun
tiba-tiba, tanpa kita sadari, kita mendapati diri kita terbelenggu begitu kuat
oleh perangkat-perangkat teknis itu, sehingga kita jatuh ke dalam perbudakan
terhadapnya.
Padahal
kita masih dapat bertindak lain. Kita dapat menggunakan perangkat teknis, namun
dengan penggunaan yang tepat tetap menjaga diri kita bebas darinya, sehingga
kapan pun kita mampu melepaskannya. Kita dapat menggunakan perangkat teknis
sebagaimana mestinya, sekaligus membiarkannya begitu saja sebagai sesuatu yang
tidak menyentuh inti batin dan hakiki kita. Kita dapat mengatakan “ya” pada
penggunaan perangkat teknis yang tak terhindarkan, dan pada saat yang sama
mengatakan “tidak” pada haknya untuk menguasai kita, untuk membengkokkan,
mengacaukan, dan merusak hakikat kita.
Namun
bukankah mengatakan “ya” dan “tidak” sekaligus kepada teknologi akan membuat
hubungan kita dengannya menjadi ambigu dan tidak aman? Justru sebaliknya!
Hubungan kita dengan teknologi akan menjadi sangat sederhana dan lapang. Kita
membiarkan perangkat teknis masuk ke dalam kehidupan sehari-hari kita, dan pada
saat yang sama membiarkannya tetap di luar—artinya, membiarkannya begitu
saja—sebagai sesuatu yang tidak mutlak, melainkan tetap bergantung pada sesuatu
yang lebih tinggi. Sikap terhadap teknologi yang mengatakan “ya” dan sekaligus
“tidak” ini, dengan sebuah kata lama, ingin kusebut sebagai keterlepasan
terhadap benda-benda.
Dengan
sikap semacam ini, kita tidak lagi memandang benda-benda semata-mata secara
teknis. Kita memperoleh kejernihan pandang dan menyadari bahwa sekalipun
produksi dan penggunaan mesin menuntut dari kita suatu relasi yang berbeda
dengan benda-benda, relasi itu bukanlah relasi yang tanpa makna. Pertanian dan
pengolahan tanah, misalnya, kini telah berubah menjadi industri pangan
bermesin. Dengan demikian, di sini—sebagaimana di tempat lain—sedang
berlangsung suatu perubahan yang mendalam dalam hubungan manusia dengan alam
dan dengan dunia. Namun makna yang meraja dalam perubahan ini tetap gelap.
Karena itu,
di dalam semua proses teknis terdapat suatu makna—bukan kita yang
menciptakannya—yang menuntut apa yang manusia lakukan maupun yang ia biarkan
tak dilakukan. Kita tidak mengetahui arti dari dominasi teknologi atom yang
kian menggentarkan itu. Makna yang meresapi teknologi menyembunyikan diri.
Namun jika kita secara sadar dan terus-menerus memperhatikan kenyataan bahwa
makna yang tersembunyi ini menyentuh kita di mana-mana dalam dunia teknologi,
maka seketika itu juga kita berdiri di dalam ranah dari sesuatu yang
menyembunyikan diri dari kita—dan justru menyembunyikan diri dengan cara
mendekati kita. Yang menampakkan diri sekaligus menarik diri inilah ciri hakiki
dari apa yang kita sebut sebagai misteri. Sikap yang memungkinkan kita tetap
terbuka terhadap makna yang tersembunyi dalam teknologi ini aku sebut “keterbukaan
terhadap misteri”.
Keterlepasan
terhadap benda-benda dan keterbukaan terhadap misteri saling terkait. Keduanya
memberi kita kemungkinan untuk berdiam di dunia dengan cara yang sama sekali
berbeda. Keduanya menjanjikan kepada kita sebuah dasar dan fondasi baru, di
atas mana kita dapat berdiri dan bertahan dalam dunia teknologi tanpa terancam
olehnya.
Keterlepasan
terhadap benda-benda dan keterbukaan terhadap misteri memberi kita pandangan
tentang suatu keterakaran baru yang suatu hari nanti bahkan mungkin sanggup
merangkum kembali keterakaran lama yang kini dengan cepat menghilang—dalam
bentuk yang telah berubah.
Namun untuk
sementara ini—kita tidak tahu untuk berapa lama—manusia berada dalam situasi
yang genting. Mengapa? Apakah karena perang dunia ketiga bisa pecah
sewaktu-waktu dan membawa kehancuran total umat manusia serta pemusnahan bumi?
Tidak. Di zaman atom yang sedang merekah ini, bahaya yang jauh lebih besar
justru mengancam—tepat pada saat bahaya perang dunia ketiga telah disingkirkan.
Sebuah pernyataan yang aneh! Memang aneh, selama kita belum mau bermeditasi.
Dalam
pengertian apakah pernyataan yang baru saja dikemukakan itu berlaku? Pernyataan
itu berlaku dalam arti bahwa gelombang revolusi teknologi yang sedang mendekat
di zaman atom dapat begitu memikat, mempesona, menyilaukan, dan memperdaya
manusia, sehingga suatu hari pemikiran kalkulatif diterima dan dijalankan
sebagai satu-satunya cara berpikir.
Bahaya
besar apa yang kemudian dapat datang menghampiri kita? Saat itu, kecerdikan
terbesar dalam perencanaan dan penemuan yang bersifat kalkulatif bisa berjalan
seiring dengan sikap acuh terhadap pemikiran meditatif—dengan ketidakberpikiran
yang total. Lalu apa yang terjadi? Manusia akan menyangkal dan membuang hakikat
khasnya sendiri: bahwa ia adalah makhluk yang bermeditasi. Karena itu, yang
dipertaruhkan adalah penyelamatan hakikat manusia. Karena itu pula, yang
dipertaruhkan adalah menjaga agar pemikiran meditatif tetap hidup.
Namun
keterlepasan terhadap benda-benda dan keterbukaan terhadap misteri tidak pernah
terjadi dengan sendirinya. Keduanya tidak datang secara kebetulan. Keduanya
hanya bertumbuh melalui pemikiran yang tekun dan berani.
Barangkali
perayaan peringatan hari ini dapat mendorong kita ke arah itu. Jika kita
menanggapi dorongan tersebut, kita mengenang Conradin Kreutzer dengan
memikirkan asal-usul karyanya, kekuatan-kekuatan yang menghidupkan dari tanah
kelahirannya di Heuberg. Dan kitalah yang sungguh berpikir, jika kita mengenali
diri kita di sini dan sekarang sebagai manusia-manusia yang harus menemukan dan
menyiapkan jalan menuju zaman atom—menyusurinya, melaluinya, dan melampauinya.
Jika
keterlepasan terhadap benda-benda dan keterbukaan terhadap misteri terbangun di
dalam diri kita, maka kita akan sampai pada sebuah jalan yang menuntun ke dasar
dan fondasi yang baru. Di atas dasar itulah kreativitas yang melahirkan
karya-karya yang bertahan lama dapat menumbuhkan akar-akar yang baru.
Dengan
demikian, dalam cara yang berbeda dan dalam zaman yang telah berubah, kebenaran
dari apa yang dikatakan Johann Peter Hebel akan diperbarui kembali:
“Kita
adalah tumbuhan yang—entah kita mau mengakuinya atau tidak—harus dengan akar
kita tumbuh keluar dari bumi, agar dapat mekar di eter dan berbuah.”
PERCAKAPAN DI SEBUAH JALAN PEDESAAN:
TENTANG BERPIKIR
Ilmuwan: Menjelang akhir tadi Anda mengatakan bahwa
pertanyaan tentang hakikat manusia bukanlah pertanyaan tentang manusia.
Guru: Saya hanya mengatakan bahwa pertanyaan tentang
hakikat manusia membuat pertimbangan apakah hal itu benar menjadi tak
terelakkan.
Ilmuwan: Meski begitu, tetap menjadi teka-teki bagi
saya bagaimana hakikat manusia bisa ditemukan dengan justru memalingkan
pandangan dari manusia.
Guru: Itu juga teka-teki bagi saya; karena itu saya
berusaha menjernihkan sejauh mana hal itu mungkin—atau bahkan perlu.
Ilmuwan: Memandang hakikat manusia tanpa memandang
manusia!
Guru: Mengapa tidak? Jika berpikir adalah yang
membedakan hakikat manusia, maka hakikat dari hakikat itu—yakni hakikat
berpikir—tentu hanya dapat dilihat dengan memalingkan pandangan dari berpikir
itu sendiri.
Sarjana: Namun berpikir, dalam pengertian tradisional
sebagai menghadirkan-kembali (re-presenting), adalah sejenis kehendak; Immanuel
Kant pun memahaminya demikian ketika ia mencirikan berpikir sebagai
spontanitas. Berpikir adalah menghendaki, dan menghendaki adalah berpikir.
Ilmuwan: Maka pernyataan bahwa hakikat berpikir
adalah sesuatu yang lain daripada berpikir berarti bahwa berpikir adalah
sesuatu yang lain daripada menghendaki.
Guru: Dan itulah sebabnya, ketika Anda bertanya apa
yang sungguh saya maksudkan dari permenungan kita tentang hakikat berpikir,
saya menjawab: saya menghendaki ketidak-menghendaki.
Ilmuwan: Sementara itu, rumusan ini terbukti ambigu—
Sarjana: Ketidak-menghendaki, pertama-tama, berarti
suatu kehendak yang melibatkan penyangkalan—bahkan jika penyangkalan itu
diarahkan pada kehendak itu sendiri dan menolaknya. Jadi ketidak-menghendaki
berarti: dengan kehendak, melepaskan kehendak. Dan istilah ketidak-menghendaki
juga berarti apa yang sepenuhnya berada di luar segala jenis kehendak.
Ilmuwan: Sehingga ia tak pernah dapat dilaksanakan
atau dicapai oleh kehendak apa pun.
Guru: Namun barangkali kita mendekatinya melalui
kehendak dalam pengertian pertama dari ketidak-menghendaki.
Sarjana: Jadi Anda melihat dua pengertian
ketidak-menghendaki itu berada dalam suatu relasi tertentu satu sama lain.
Guru: Bukan hanya saya melihat relasi itu; saya
mengakui bahwa sejak saya mencoba merenungkan apa yang menggerakkan percakapan
kita, relasi ini telah menuntut perhatian saya—bahkan menantang saya.
Ilmuwan: Apakah saya tepat jika merumuskan relasi
pengertian pertama ketidak-menghendaki dengan yang kedua sebagai berikut? Anda
menghendaki ketidak-menghendaki dalam arti pelepasan dari kehendak, agar
melalui itu kita dapat membebaskan—atau setidaknya menyiapkan diri untuk
dibebaskan—menuju hakikat berpikir yang dicari, yakni berpikir yang bukan
kehendak.
Guru: Anda bukan hanya tepat, tetapi—demi para dewa!
sebagaimana akan saya katakan jika mereka belum meninggalkan kita—Anda telah
menyingkap sesuatu yang esensial.
Sarjana: Saya hampir tergoda untuk mengatakan bahwa,
dalam penafsiran Anda atas pembicaraan yang ambigu tentang ketidak-menghendaki,
Anda telah melampaui kami berdua—bahkan diri Anda sendiri—andaikata ada yang
berhak membagi pujian dan andaikata itu tidak bertentangan dengan gaya
percakapan kita.
Ilmuwan: Bahwa saya berhasil melakukannya bukan
karena diri saya, melainkan karena malam yang telah turun, yang tanpa memaksa
justru menuntut pemusatan.
Sarjana: Malam memberi kita waktu untuk bermeditasi
dengan memperlambat langkah kita.
Guru: Itulah sebabnya kita masih jauh dari pemukiman
manusia.
Ilmuwan: Semakin terbuka saya mulai mempercayai
penuntun yang tak mencolok ini, yang menggandeng kita—atau lebih tepatnya,
menuntun kita dengan kata—dalam percakapan ini.
Sarjana: Kita memerlukan tuntunan ini, sebab
percakapan kita menjadi semakin sulit.
Guru: Jika dengan “sulit” Anda maksudkan tugas yang
tak biasa, yakni membiasakan diri untuk melepaskan diri dari kehendak.
Sarjana: Anda mengatakan “kehendak,” bukan sekadar
“menghendaki.”
Ilmuwan: …
Guru: Dan dengan demikian, Anda mengajukan tuntutan
yang menggugah—namun dengan cara yang terlepas.
Sarjana: Seandainya saja Anda telah memiliki
keterlepasan yang tepat itu, maka Anda akan segera terbebas dari tugas untuk
“menyapih” diri ini.
Guru: Sejauh kita mampu menyapih diri dari kehendak,
sejauh itu pula kita ikut menyumbang pada kebangkitan keterlepasan.
Guru: Katakanlah lebih tepat: berjaga agar
keterlepasan tetap terjaga.
Sarjana: Mengapa tidak dikatakan saja: menuju
kebangkitannya?
Guru: Karena dengan kekuatan kita sendiri, kita tidak
membangkitkan keterlepasan dalam diri kita.
Ilmuwan: Jadi keterlepasan itu datang dari tempat
lain.
Guru: Bukan dihasilkan, melainkan dibiarkan masuk.
Sarjana: Terus terang, aku belum tahu apa arti kata keterlepasan
itu; namun aku seperti merasakan lebih dulu bahwa keterlepasan terbangun ketika
hakikat kita dibiarkan masuk ke dalam pergaulan dengan sesuatu yang bukan
kehendak.
Ilmuwan: Anda terus-menerus berbicara tentang
membiarkan-ada, dan memberi kesan seolah yang dimaksud adalah sejenis
kepasifan. Namun demikian, saya paham bahwa ini sama sekali bukan soal
membiarkan segala sesuatu meluncur dan hanyut dengan lemah.
Sarjana: Barangkali dalam keterlepasan tersembunyi
suatu tindakan yang lebih tinggi daripada semua tindakan di dalam dunia dan
seluruh siasat umat manusia.
Guru: …
tindakan yang lebih tinggi itu, namun, bukanlah suatu aktivitas.
Ilmuwan: Maka keterlepasan berada—jika boleh kita
gunakan kata berada—melampaui pembedaan antara aktivitas dan kepasifan.
Sarjana: …
karena keterlepasan tidak termasuk ke dalam wilayah kehendak.
Ilmuwan: Peralihan dari kehendak menuju keterlepasan
itulah yang terasa sulit bagi saya.
Guru: Dan semakin sulit lagi, karena hakikat
keterlepasan itu sendiri masih tersembunyi.
Sarjana: Terlebih karena keterlepasan masih bisa
dipikirkan sebagai berada dalam wilayah kehendak—sebagaimana tampak pada para
maestro pemikiran lama seperti Meister Eckhart.
Guru: Dari siapa pun, bagaimanapun, banyak hal dapat
dipelajari.
Sarjana: Tentu; tetapi apa yang kita sebut
keterlepasan ini jelas bukan berarti menanggalkan keegoisan yang berdosa dan
melepaskan kehendak-diri demi kehendak ilahi.
Guru: Bukan, bukan itu.
Ilmuwan: Dalam banyak hal, jelas bagi saya apa yang tidak
dimaksud oleh kata keterlepasan bagi kita. Namun pada saat yang sama, saya
justru semakin tidak tahu apa yang sedang kita bicarakan. Kita sedang berusaha
menentukan hakikat berpikir. Apa hubungan keterlepasan dengan berpikir?
Guru: Tidak ada, jika kita memahami berpikir secara
tradisional sebagai menghadirkan-kembali. Namun mungkin hakikat berpikir yang
kita cari justru berdiam di dalam keterlepasan.
Ilmuwan: Dengan segenap niat baik, saya tidak mampu
menghadirkan-dalam-pikiran hakikat berpikir semacam itu.
Guru: Tepat karena kehendak Anda itu—dan cara
berpikir Anda sebagai menghadirkan-kembali—menghalanginya.
Ilmuwan: Kalau begitu, apa yang harus saya lakukan?
Sarjana: Saya pun menanyakan hal yang sama pada diri
saya.
Guru: Kalian tidak perlu melakukan apa pun selain
menunggu.
Sarjana: Itu penghiburan yang miskin.
Guru: Miskin atau tidak, kita tidak seharusnya
menunggu penghiburan—sebab itu pun masih merupakan suatu perbuatan, bahkan
ketika kita menjadi putus asa.
Ilmuwan: Lalu apa yang harus kita tunggu? Dan di mana
kita harus menunggu? Saya hampir tidak tahu lagi siapa dan di mana diri saya.
Guru: Tak satu pun dari kita mengetahuinya, begitu
kita berhenti menipu diri sendiri.
Sarjana: Namun kita masih memiliki jalan kita?
Guru: Tentu saja. Tetapi dengan terlalu cepat
melupakannya, kita menyerah pada berpikir.
Ilmuwan: Lalu apa yang masih perlu kita pikirkan,
agar kita dapat beralih—dan masuk—ke dalam hakikat berpikir yang hingga kini
belum kita kenal?
Guru: Tentang apa lagi kalau bukan tentang sesuatu
yang darinya saja peralihan semacam itu dapat terjadi.
Sarjana: Itu berarti Anda tidak menyingkirkan
pandangan tradisional tentang hakikat berpikir?
Guru: Apakah Anda lupa apa yang saya katakan dalam
percakapan kita sebelumnya tentang apa yang disebut revolusioner?
Ilmuwan: Kelupaan memang tampaknya menjadi bahaya
yang khas dalam percakapan-percakapan semacam ini.
Sarjana: Jadi sekarang, jika saya memahami dengan
benar, kita diminta untuk memandang apa yang kita sebut keterlepasan dalam
hubungannya dengan hakikat berpikir yang sedang dibicarakan—meskipun kita
hampir tidak mengenalnya, dan terlebih lagi belum mampu menempatkannya secara
tepat.
Guru: Itulah tepatnya yang saya maksud.
Ilmuwan: Sebelumnya, kita telah sampai pada pemahaman
berpikir dalam bentuk menghadirkan-kembali yang bersifat
transendental-horisontal.
Sarjana: Menghadirkan-kembali ini, misalnya,
menempatkan di hadapan kita apa yang khas dari sebuah pohon, sebuah kendi,
sebuah mangkuk, sebuah batu, tumbuhan, dan hewan—yakni sebagai pandangan yang
ke dalamnya kita menatap ketika satu hal menghadang kita dalam penampakan
sebagai pohon, hal lain sebagai kendi, yang ini sebagai mangkuk, beragam hal
sebagai batu, banyak hal sebagai tumbuhan, dan banyak pula sebagai hewan.
Ilmuwan: Anda kembali menggambarkan horizon yang
melingkupi pandangan atas suatu benda—medan penglihatan.
Guru: Ia melampaui penampakan benda-benda.
Sarjana: Sama seperti transendensi yang melampaui
persepsi atas benda-benda.
Guru: Maka kita menentukan apa yang disebut horizon
dan transendensi melalui tindakan melampaui dan melewati ini.
Sarjana: …
yang semuanya merujuk kembali pada benda-benda dan pada cara kita
menghadirkan-kembali benda-benda itu.
Guru: Dengan demikian, horizon dan transendensi
dialami dan ditentukan hanya dalam kaitannya dengan benda-benda dan dengan cara
kita merepresentasikannya.
Sarjana: Mengapa Anda menekankan hal ini?
Guru: Untuk menyiratkan bahwa dengan cara demikian,
apa yang memungkinkan horizon menjadi apa adanya sama sekali belum kita jumpai.
Ilmuwan: Apa yang Anda maksud dengan pernyataan itu?
Guru: Kita mengatakan bahwa kita memandang ke dalam
horizon. Karena itu, medan penglihatan adalah sesuatu yang terbuka. Namun
keterbukaannya bukanlah akibat dari pandangan kita.
Sarjana: Demikian pula, kita tidak menempatkan
penampakan benda-benda—yang ditawarkan pandangan dalam medan penglihatan—ke
dalam keterbukaan itu…
Ilmuwan: …
melainkan justru keterbukaan itulah yang menyongsong kita.
Guru: Maka yang tampak dari horizon hanyalah sisi
yang menghadap kepada kita dari suatu keterbukaan yang mengelilingi kita; suatu
keterbukaan yang dipenuhi oleh pandangan-pandangan atas penampakan apa yang,
bagi representasi kita, adalah benda-benda.
Ilmuwan: Dengan demikian, horizon masih merupakan
sesuatu yang lain selain horizon. Namun setelah semua yang dikatakan, “sesuatu
yang lain” ini adalah sisi lain dari dirinya sendiri, dan karena itu sama
dengan dirinya. Anda mengatakan bahwa horizon adalah keterbukaan yang
mengelilingi kita. Tetapi apakah keterbukaan itu pada dirinya sendiri, jika
kita mengabaikan fakta bahwa ia juga dapat menampakkan diri sebagai horizon
dari representasi kita?
Guru: Yang terlintas bagi saya adalah sesuatu seperti
sebuah wilayah—sebuah wilayah yang memesona—di mana segala sesuatu yang
termasuk di dalamnya kembali kepada apa yang menjadi tempat ia beristirahat.
Sarjana: Saya tidak yakin saya memahami apa yang Anda
katakan sekarang.
Guru: Saya pun tidak memahaminya, jika dengan
“memahami” Anda maksudkan kemampuan untuk menghadirkan-kembali apa yang
diletakkan di hadapan kita seolah-olah ia terlindungi di dalam yang sudah akrab
dan karenanya terjamin. Sebab saya sendiri pun kekurangan yang akrab itu,
tempat untuk menaruh apa yang saya coba katakan tentang keterbukaan sebagai
sebuah wilayah.
Ilmuwan: Itu barangkali memang mustahil di sini,
setidaknya karena—kiranya—apa yang Anda sebut wilayah justru adalah sesuatu
yang sendirilah memungkinkan segala bentuk perlindungan.
Guru: Kurang lebih seperti itu; namun bukan hanya
itu.
Sarjana: Anda berbicara tentang “sebuah” wilayah di
mana segala sesuatu kembali kepada dirinya sendiri. Secara ketat, wilayah bagi
segala sesuatu bukanlah satu wilayah di antara banyak wilayah, melainkan
wilayah dari semua wilayah.
Guru: Anda benar; yang sedang dipertanyakan adalah wilayah
itu sendiri.
Ilmuwan: Dan pesona wilayah ini barangkali adalah
pemerintahan hakikatnya—pewilayahan-nya, jika saya boleh menyebutnya
demikian.
Sarjana: Tampaknya sebuah wilayah menampung apa yang
datang menyongsong kita; tetapi tentang horizon pun tadi kita katakan bahwa
dari pandangan yang dilingkupinya, penampakan benda-benda datang menyongsong
kita. Jika kini kita memahami horizon melalui wilayah, maka kita mengambil
wilayah itu sendiri sebagai yang datang menyongsong kita.
Guru: Dengan cara itu, memang kita akan mencirikan
wilayah melalui relasinya dengan kita—sebagaimana tadi kita lakukan pada
horizon—padahal kita sedang mencari hakikat, pada dirinya sendiri, dari
keterbukaan yang mengelilingi kita. Jika kini kita menyebut keterbukaan itu
sebagai wilayah, dan menyebutnya dengan makna yang baru saja kita berikan, maka
kata itu harus menamai sesuatu yang lain.
Ilmuwan: Lagipula, “datang menyongsong kita” sama
sekali bukan ciri dasar wilayah—apalagi ciri yang paling dasar. Lalu apa yang
disiratkan oleh kata itu?
Sarjana: Dalam bentuk lamanya, kata itu adalah Gegnet,
yang berarti bentangan terbuka. Dapatkah dari sini kita mempelajari sesuatu
tentang hakikat dari apa yang kini kita sebut wilayah?
Guru: Wilayah menghimpun—seolah-olah tak terjadi
apa-apa—yang satu kepada yang lain dan yang satu kepada semuanya, ke dalam
suatu yang menetap, sambil beristirahat di dalam dirinya. Pewilayahan
adalah penghimpunan dan pelindungan-kembali bagi suatu peristirahatan yang
meluas di dalam yang menetap.
Sarjana: Jadi wilayah itu sendiri sekaligus adalah
bentangan dan yang menetap. Ia menetap ke dalam bentangan peristirahatan. Ia
membentang ke dalam kemenetapan dari apa yang dengan bebas berpaling kepada
dirinya sendiri. Dengan penggunaan kata seperti ini, kita juga dapat mengatakan
“yang-mewilayahkan” sebagai ganti kata lazim “wilayah.”
Guru: Yang-mewilayahkan adalah bentangan yang menetap
yang, dengan menghimpun segala sesuatu, membuka dirinya sendiri, sehingga di
dalamnya keterbukaan dihentikan dan ditahan, membiarkan segala sesuatu menyatu
dalam peristirahatan masing-masing.
Ilmuwan: Saya kira saya melihat bahwa
yang-mewilayahkan justru menarik diri, alih-alih datang menyongsong
kita…
Sarjana: …sehingga hal-hal yang menampak di dalam
yang-mewilayahkan tidak lagi memiliki watak sebagai objek.
Guru: Mereka bukan hanya tidak lagi berdiri
berhadapan dengan kita; mereka bahkan tidak lagi “berdiri” sama sekali.
Ilmuwan: Apakah mereka lalu “berbaring”, atau
bagaimana kita harus memahaminya?
Guru: Mereka berbaring, jika yang kita maksud
dengan itu adalah peristirahatan yang barusan kita bicarakan.
Ilmuwan: Namun di mana hal-hal itu beristirahat?
Apakah hakikat peristirahatan itu?
Guru: Mereka beristirahat dalam kembalinya mereka ke
kemenetapan dari bentangan keterikatan-diri mereka.
Sarjana: Tetapi dalam kembalinya itu—yang
bagaimanapun juga adalah suatu gerak—masih mungkinkah ada peristirahatan?
Guru: Justru ada, jika peristirahatan adalah tempat
duduk dan pemerintahan dari segala gerak.
Ilmuwan: Saya harus mengakui bahwa saya tidak sungguh
mampu menghadirkan-dalam-pikiran semua yang Anda katakan tentang wilayah,
bentangan, dan kemenetapan, tentang kembali dan beristirahat.
Sarjana: Barangkali memang tak dapat
dihadirkan-dalam-pikiran sama sekali, sejauh dalam menghadirkan-dalam-pikiran
segala sesuatu telah menjadi objek yang berdiri berhadapan dengan kita di dalam
suatu horizon.
Ilmuwan: Jadi kita tidak benar-benar dapat
mendeskripsikan apa yang telah kita namai itu?
Guru: Tidak. Setiap deskripsi akan membendakannya.
Sarjana: Namun demikian, ia membiarkan dirinya
dinamai; dan dengan dinamai, ia dapat dipikirkan—
Guru: …
hanya jika berpikir tidak lagi merupakan menghadirkan-kembali.
Ilmuwan: Kalau begitu, apa lagi yang dapat menjadi
berpikir?
Guru: Barangkali sekarang kita sudah dekat untuk
dilepaskan ke dalam hakikat berpikir—
Sarjana: …
melalui menunggu hakikatnya.
Guru: Menunggu—ya; tetapi jangan menantikan.
Sebab menantikan sudah mengikatkan diri pada menghadirkan-kembali dan pada apa
yang dihadirkan-kembali itu.
Sarjana: Menunggu, sebaliknya, justru melepaskan
semua itu; atau lebih tepatnya, menunggu membiarkan menghadirkan-kembali
sepenuhnya sendirian. Menunggu sungguh-sungguh tidak memiliki objek.
Ilmuwan: Namun jika kita menunggu, kita selalu
menunggu sesuatu.
Sarjana: Tentu. Tetapi begitu kita
menghadirkan-dalam-pikiran dan menetapkan apa yang kita tunggu, sesungguhnya
kita tidak lagi menunggu.
Guru: Dalam menunggu, kita membiarkan terbuka apa
yang kita tunggu.
Sarjana: Mengapa?
Guru: Karena menunggu melepaskan dirinya ke dalam
keterbukaan …
Sarjana: … ke dalam bentangan kejauhan …
Guru: … di dalam kedekatannya, menunggu menemukan
kemenetapan tempat ia berdiam.
Ilmuwan: Tetapi berdiam adalah suatu kembali.
Sarjana: Keterbukaan itu sendiri kiranya adalah apa
yang hanya dapat kita tunggu—tanpa melakukan apa pun.
Ilmuwan: Namun keterbukaan itu sendiri adalah
yang-mewilayahkan …
Guru: … ke dalamnya kita dilepaskan melalui menunggu,
ketika kita berpikir.
Ilmuwan: Maka berpikir adalah datang-ke-dalam
kedekatan dari kejauhan.
Sarjana: Itu definisi yang berani tentang
hakikatnya—yang kita temukan secara kebetulan.
Ilmuwan: Saya hanya merangkai apa yang telah kita
namai, tanpa menghadirkan apa pun ke dalam pikiran saya.
Guru: Namun Anda telah memikirkan sesuatu.
Ilmuwan: Atau, sesungguhnya, saya menunggu sesuatu
tanpa mengetahui apa yang ditunggu.
Sarjana: Tetapi bagaimana bisa Anda tiba-tiba mampu
menunggu?
Ilmuwan: Kini saya melihat lebih jelas: sepanjang
percakapan kita, saya telah menunggu kedatangan hakikat berpikir. Namun
menunggu itu sendiri kini menjadi lebih jelas bagi saya, dan bersamaan dengan
itu juga menjadi jelas bahwa barangkali kita semua menjadi semakin mampu
menunggu sepanjang jalan kita.
Guru: Dapatkah Anda menjelaskan bagaimana hal itu
terjadi?
Ilmuwan: Dengan senang hati saya mencoba—asal saya
tidak harus mengambil risiko Anda segera mematok saya pada kata-kata tertentu.
Guru: Dalam percakapan-percakapan kita, biasanya kita
tidak melakukan itu.
Sarjana: Justru kita menjaga agar dapat bergerak
bebas di ranah kata-kata.
Guru: Karena sebuah kata tidak—dan tidak pernah
dapat—menghadirkan sesuatu; melainkan menandai sesuatu, yakni menunjukkan
sesuatu sebagai menetap di dalam jangkauan keterungkapannya.
Ilmuwan: Jika saya harus mengatakan mengapa saya
sampai menunggu dan bagaimana saya berhasil menjernihkan hakikat berpikir: saya
berusaha melepaskan diri dari segala menghadirkan-kembali, sebab menunggu
bergerak ke dalam keterbukaan tanpa menghadirkan apa pun. Dan, setelah terlepas
dari menghadirkan-kembali, saya mencoba melepaskan diri secara murni kepada
yang-mewilayahkan, karena yang-mewilayahkan adalah pembukaan dari keterbukaan.
Guru: Jika saya memahaminya dengan benar, maka Anda
mencoba membiarkan diri masuk ke dalam keterlepasan.
Ilmuwan: Terus terang, saya tidak memikirkan hal itu
secara khusus—meskipun barusan kita membicarakan keterlepasan. Peristiwa yang
membawa saya untuk membiarkan diri menunggu dengan cara itu lebih merupakan
alur percakapan ini sendiri daripada representasi objek-objek tertentu yang
kita bicarakan.
Sarjana: Kita hampir tak mungkin sampai pada
keterlepasan dengan cara yang lebih tepat selain melalui peristiwa membiarkan
diri masuk.
Guru: Terlebih ketika peristiwa itu begitu tak
mencolok seperti alur sunyi sebuah percakapan yang menggerakkan kita.
Sarjana: Itu berarti percakapan membawa kita ke jalan
yang tampaknya tak lain adalah keterlepasan itu sendiri—
Guru: …
yang serupa dengan peristirahatan.
Sarjana: Pada titik ini, bagaimana gerak muncul dari
peristirahatan dan tetap dibiarkan tinggal di dalam peristirahatan, tiba-tiba
menjadi lebih jelas bagi saya.
Guru: Maka keterlepasan bukan hanya sebuah jalan,
melainkan juga suatu gerak.
Sarjana: Ke manakah jalan yang ganjil ini menuju?
Apakah gerak yang khas baginya berdiam?
Guru: Ke mana lagi kalau bukan ke dalam
yang-mewilayahkan—yang terhadapnya keterlepasan adalah apa adanya.
Ilmuwan: Akhirnya, saya harus kembali bertanya:
sejauh mana sebenarnya keterlepasan yang saya coba masuki itu?
Sarjana: Pertanyaan ini membuat kita sangat kikuk.
Guru: Kekikukan yang sejak awal terus kita alami
sepanjang jalan kita.
Ilmuwan: Bagaimana bisa?
Guru: Karena apa yang kita tandai dengan sebuah kata
tidak pernah membawa kata itu melekat padanya seperti papan nama.
Ilmuwan: Apa pun yang kita tandai sebelumnya tidak
bernama; demikian pula halnya dengan apa yang kita namai keterlepasan. Lalu apa
yang menjadi ukuran kita untuk menilai apakah dan sejauh mana nama itu memadai?
Sarjana: Atau apakah setiap penandaan tetap merupakan
tindakan yang serba sewenang-wenang terhadap yang tak bernama?
Guru: Tetapi apakah benar-benar telah diputuskan
bahwa yang tak bernama itu ada? Banyak hal yang sering tidak dapat kita
katakan—namun hanya karena nama yang dimilikinya tidak terlintas pada kita.
Sarjana: Melalui penamaan macam apa sesuatu itu
memperoleh namanya?
Guru: Barangkali nama-nama itu bukan hasil dari suatu
penunjukan. Nama-nama itu terutang pada sebuah penamaan—di mana
yang-dapat-dinamai, nama, dan yang-dinamai hadir bersama-sama.
Ilmuwan: Apa yang baru saja Anda katakan tentang
penamaan masih belum jelas bagi saya.
Sarjana: Mungkin itu berkaitan dengan hakikat
kata-kata.
Ilmuwan: Namun, apa yang Anda catat tentang
penunjukan—dan tentang kenyataan bahwa tidak ada yang sungguh tak bernama—lebih
jelas bagi saya.
Sarjana: Karena kita dapat mengujinya dalam kasus
nama keterlepasan.
Guru: Atau bahkan telah mengujinya.
Ilmuwan: Bagaimana maksudnya?
Guru: Apa sebenarnya yang Anda tunjuk dengan nama keterlepasan
itu?
Ilmuwan: Jika boleh saya katakan, bukan saya,
melainkan Anda yang menggunakan nama itu.
Guru: Saya—sama seperti Anda—tidak melakukan
penunjukan itu.
Sarjana: Lalu siapa yang melakukannya? Tidak seorang
pun dari kita?
Guru: Tampaknya demikian. Sebab di wilayah tempat
kita berada, segala sesuatu berada dalam keteraturan yang paling baik justru
ketika ia bukan hasil perbuatan siapa pun.
Ilmuwan: Sebuah wilayah yang misterius—di mana tidak
ada sesuatu pun yang harus dipertanggungjawabkan.
Guru: Karena itulah wilayah kata, yang hanya
bertanggung jawab pada dirinya sendiri.
Sarjana: Bagi kita, yang tersisa hanyalah
mendengarkan jawaban yang menjadi hak kata itu sendiri.
Guru: Itu sudah cukup—bahkan ketika apa yang kita
tuturkan hanyalah penuturan ulang dari jawaban yang kita dengar…
Ilmuwan: …dan ketika tak lagi penting apakah ada
penuturan pertama atau siapa yang melakukannya; terlebih karena sering kali
kita bahkan tidak tahu kisah siapa yang sedang kita tuturkan ulang.
Sarjana: Jadi mari kita tidak berselisih tentang
siapa yang pertama kali memperkenalkan nama keterlepasan. Marilah kita
memerhatikan saja apa yang kita namai dengan kata itu.
Ilmuwan: Dan itu adalah menunggu, sebagaimana
ditunjukkan oleh pengalaman yang saya sebutkan.
Guru: Maka itu bukan sesuatu yang tak bernama,
melainkan sesuatu yang sudah ditandai. Apakah menunggu itu?
Ilmuwan: Sejauh menunggu berhubungan dengan
keterbukaan, dan keterbukaan adalah yang-mewilayahkan, kita dapat mengatakan
bahwa menunggu adalah suatu relasi dengan yang-mewilayahkan.
Guru: Barangkali bahkan relasi itu
sendiri—sejauh menunggu melepaskan dirinya kepada yang-mewilayahkan, dan dengan
demikian membiarkan yang-mewilayahkan berkuasa murni sebagai apa adanya.
Sarjana: Maka suatu relasi terhadap sesuatu akan
menjadi relasi yang sejati jika ia dipegang dalam hakikatnya sendiri oleh apa
yang menjadi rujukannya.
Guru: Relasi terhadap yang-mewilayahkan adalah
menunggu. Dan menunggu berarti: melepaskan diri ke dalam keterbukaan dari
yang-mewilayahkan.
Sarjana: Jadi: masuk ke dalam yang-mewilayahkan.
Ilmuwan: Itu terdengar seakan-akan sebelumnya kita
berada di luar yang-mewilayahkan.
Guru: Memang demikian—dan sekaligus tidak. Sejauh
kita sebagai makhluk yang berpikir (yakni makhluk yang sekaligus
menghadirkan-kembali secara transendental) tinggal di dalam horizon
transendensi, kita tidak—dan tidak pernah bisa—berada di luar yang-mewilayahkan.
Namun horizon hanyalah sisi dari yang-mewilayahkan yang berpaling ke arah
representasi kita. Yang-mewilayahkan mengelilingi kita dan menyingkapkan diri
kepada kita sebagai horizon.
Sarjana: Tampaknya, justru sebagai horizon ia malah
menyembunyikan dirinya.
Guru: Benar. Namun demikian, kita berada di dalam
yang-mewilayahkan ketika—dengan menghadirkan-kembali secara transendental—kita
melangkah keluar ke dalam horizon. Dan sekaligus, kita masih belum sungguh
berada di dalamnya, sejauh kita belum melepaskan diri bagi yang-mewilayahkan
sebagai apa adanya.
Ilmuwan: Sesuatu yang terjadi dalam menunggu.
Guru: Seperti yang Anda katakan, dalam menunggu kita
dilepaskan dari relasi transendental kita terhadap horizon.
Ilmuwan: Pelepasan-dari ini adalah aspek pertama dari
keterlepasan; namun ia belum tepat menyentuh hakikatnya, apalagi
menghabiskannya.
Sarjana: Mengapa tidak?
Guru: Karena keterlepasan yang sejati dapat terjadi
tanpa harus didahului oleh pelepasan-dari transendensi horisontal semacam itu.
Sarjana: Jika keterlepasan sejati adalah relasi yang
semestinya dengan yang-mewilayahkan, dan jika relasi ini ditentukan semata-mata
oleh apa yang menjadi rujukannya, maka keterlepasan sejati harus berlandaskan
pada yang-mewilayahkan dan menerima dari sanalah gerak menuju kepadanya.
Guru: Keterlepasan muncul dari yang-mewilayahkan,
karena di dalam keterlepasan manusia tinggal-terlepas kepada
yang-mewilayahkan—dan memang melalui hal itu sendiri. Ia terlepas kepadanya
dalam keberadaannya, sejauh sejak awal ia memang menjadi miliknya. Ia menjadi
miliknya sejauh ia sejak mula diapropriasi kepada yang-mewilayahkan—dan melalui
hal itu sendiri.
Sarjana: Sesungguhnya—jika kita andaikan bahwa
menunggu adalah yang esensial, yakni yang menentukan segalanya—maka menunggu
sesuatu berlandaskan pada kenyataan bahwa kita memang menjadi milik dari
apa yang kita tunggu.
Guru: Dari pengalaman akan—dan relasi dengan—menunggu
semacam itu, yakni menunggu pembukaan dari yang-mewilayahkan, muncullah cara
berbicara tentang menunggu sebagai keterlepasan.
Sarjana: Dengan demikian, menunggu atas
yang-mewilayahkan dinamai secara memadai.
Ilmuwan: Namun jika selama ini hakikat yang berkuasa
dari berpikir adalah menghadirkan-kembali transendental-horisontal—yang darinya
keterlepasan, karena kebermilikannya pada yang-mewilayahkan, melepaskan
diri—maka dalam keterlepasan berpikir berubah dari menghadirkan-kembali semacam
itu menjadi menunggu atas yang-mewilayahkan.
Guru: Akan tetapi, hakikat dari menunggu ini adalah
keterlepasan kepada yang-mewilayahkan. Dan karena yang-mewilayahkanlah yang
kemudian membiarkan keterlepasan menjadi miliknya—dengan berdiam di
dalamnya—maka hakikat berpikir terletak, jika boleh saya katakan demikian, pada
pewilayahan keterlepasan oleh yang-mewilayahkan.
Sarjana: Berpikir adalah keterlepasan kepada
yang-mewilayahkan, karena hakikatnya berdiam dalam pewilayahan keterlepasan.
Guru: Namun dengan itu Anda mengatakan bahwa hakikat
berpikir tidak ditentukan oleh berpikir itu sendiri—dan karenanya bukan oleh
menunggu sebagai demikian—melainkan oleh yang-lain-daripada-dirinya, yakni oleh
yang-mewilayahkan, yang sebagai pewilayahan pertama-tama melahirkan hakikat
itu.
Ilmuwan: Saya dapat mengikuti—sekadar
mengikuti—segala yang telah kita katakan tentang keterlepasan,
yang-mewilayahkan, dan pewilayahan; namun tetap saja saya tidak dapat
menghadirkan apa pun darinya ke dalam pikiran saya.
Sarjana: Memang tidak seharusnya—jika Anda memikirkan
apa yang dikatakan itu sesuai dengan hakikatnya.
Ilmuwan: Maksud Anda, kita menunggunya sesuai dengan
hakikat berpikir yang telah berubah.
Sarjana: Artinya, menunggu pewilayahan dari
yang-mewilayahkan, agar pewilayahan itu melepaskan hakikat kita ke dalam
yang-mewilayahkan, dan dengan demikian ke dalam kebermilikannya.
Guru: Tetapi bukankah kita memang sudah sejak awal
diapropriasi kepada yang-mewilayahkan?
Ilmuwan: Apa gunanya itu bagi kita jika kita belum
sungguh-sungguh diapropriasi?
Sarjana: Maka kita ada—dan kita tidak ada.
Ilmuwan: Lagi-lagi kegelisahan bolak-balik antara ya
dan tidak.
Sarjana: Seakan-akan kita tergantung di antara
keduanya.
Guru: Namun sikap berdiri kita di dalam ke-antara-an
itu adalah menunggu.
Sarjana: Itulah hakikat keterlepasan, ke dalam mana
pewilayahan dari yang-mewilayahkan mewilayahkan manusia. Kita mulai merasakan
lebih dulu hakikat berpikir sebagai keterlepasan.
Guru: Hanya saja—kita segera melupakan keterlepasan
itu kembali.
Ilmuwan: Sesuatu yang saya sendiri alami sebagai
menunggu.
Guru: Kita harus mengingat bahwa berpikir sama sekali
bukan keterlepasan yang berdiri sendiri. Keterlepasan kepada yang-mewilayahkan
adalah berpikir hanya sejauh ia merupakan pewilayahan keterlepasan—sebuah
pewilayahan yang melepaskan keterlepasan ke dalam yang-mewilayahkan.
Sarjana: Namun yang-mewilayahkan juga membuat hal-hal
bertahan dalam bentangan yang menetap. Apa yang harus kita sebut pewilayahan
dari yang-mewilayahkan berkenaan dengan benda-benda?
Ilmuwan: Itu tidak mungkin pewilayahan berkenaan
dengan manusia; sebab itu adalah relasi yang-mewilayahkan dengan
keterlepasan—dan keterlepasan dikatakan menaungi dalam dirinya hakikat
berpikir—sedangkan benda-benda sendiri tidak berpikir.
Guru: Jelaslah bahwa benda-benda adalah benda-benda
melalui pewilayahan dari yang-mewilayahkan—sebagaimana telah ditunjukkan oleh
percakapan kita sebelumnya tentang kemenetapan kendi dalam bentangan
yang-mewilayahkan. Namun pewilayahan dari yang-mewilayahkan tidak menyebabkan
atau menghasilkan benda-benda; sama sedikitnya seperti yang-mewilayahkan
“menghasilkan” keterlepasan. Yang-mewilayahkan dalam pewilayahannya bukanlah
horizon keterlepasan; juga bukan horizon benda-benda—entah kita mengalaminya
hanya sebagai objek, atau kita memahaminya sebagai “benda-pada-dirinya” di
samping objek-objek.
Sarjana: Apa yang Anda katakan sekarang terasa begitu
menentukan sehingga saya ingin mencoba mengukuhkannya dalam istilah-istilah
ilmiah. Tentu saya tahu bahwa terminologi semacam itu bukan hanya membekukan
pemikiran, tetapi sekaligus membuatnya ambigu—dengan ambiguitas yang tak
terelakkan melekat pada terminologi sehari-hari.
Guru: Setelah peringatan ilmiah itu, Anda tidak perlu
ragu untuk berbicara secara ilmiah.
Sarjana: Seperti yang Anda nyatakan, relasi antara
yang-mewilayahkan dan keterlepasan bukanlah hubungan sebab-akibat, juga bukan
relasi transendental-horisontal. Dinyatakan lebih singkat dan lebih umum:
relasi antara yang-mewilayahkan dan keterlepasan—jika ia masih dapat disebut
relasi—tidak dapat dipikirkan baik sebagai ontik maupun sebagai ontologis.
Guru:
…melainkan hanya sebagai pewilayahan.
Ilmuwan:
Demikian pula, relasi antara yang-mewilayahkan dan benda bukanlah hubungan
sebab-akibat, juga bukan relasi transendental-horisontal; karenanya ia bukan
relasi ontik maupun ontologis.
Sarjana:
Namun jelas bahwa relasi yang-mewilayahkan terhadap benda juga bukan
pewilayahan dengan hormat pada hakikat manusia.
Guru:
Lalu apa sebutan bagi relasi yang-mewilayahkan terhadap benda, jika
yang-mewilayahkan membiarkan benda berdiam di dalam dirinya?
Ilmuwan:
Ia menentukan benda—sebagai benda.
Sarjana:
Karena itu, sebutan yang paling tepat adalah penentuan.
Ilmuwan:
Namun penentuan bukanlah pembuatan atau pengadaan; juga bukan pemungkinan dalam
pengertian transendental.
Guru:
…melainkan semata-mata penentuan.
Ilmuwan:
Kita terlebih dahulu harus belajar memikirkan apa itu penentuan…
Guru:
…dengan belajar menjadi sadar akan hakikat berpikir—
Sarjana:
…yakni dengan menunggu penentuan dan pewilayahan berkenaan dengan manusia.
Ilmuwan:
Namun demikian, penamaan semacam ini juga membantu—bahkan sekarang—untuk
membawa kejernihan tertentu ke dalam ragam relasi ini. Meski begitu, justru
relasi yang paling mengusik saya tetap belum terjelaskan: relasi manusia dengan
benda.
Sarjana:
Mengapa Anda begitu bersikeras pada relasi ini?
Ilmuwan:
Tadi kita memulai dengan menerangi relasi antara ego dan objek melalui relasi
faktual pemikiran dalam ilmu-ilmu fisika terhadap alam. Relasi ego-objek—yang
kerap disebut relasi subjek-objek dan saya anggap paling umum—ternyata hanyalah
satu variasi historis dari relasi manusia dengan benda, sejauh benda-benda
dapat menjadi objek—
Guru:
…bahkan telah menjadi objek sebelum mencapai hakikatnya sebagai benda.
Sarjana:
Hal yang sama berlaku bagi perubahan historis yang bersesuaian pada manusia
menjadi ego—
Guru:
…yang juga muncul sebelum hakikat manusia dapat kembali kepada dirinya sendiri—
Ilmuwan:
…andaikata kita tidak menganggap pemunculan manusia sebagai animal rationale
sebagai yang final—
Sarjana:
…yang, setelah percakapan hari ini, kiranya sulit dipertahankan.
Ilmuwan:
Saya ragu untuk memutuskan hal itu secepat ini. Namun ada hal lain yang menjadi
jelas bagi saya: dalam relasi ego-objek tersembunyi sesuatu yang
historis—sesuatu yang termasuk dalam sejarah hakikat manusia.
Guru:
Hanya sejauh hakikat manusia tidak menerima capnya dari manusia sendiri,
melainkan dari apa yang kita sebut yang-mewilayahkan dan pewilayahannya,
barulah sejarah yang Anda bayangkan itu menjadi sejarah yang-mewilayahkan.
Ilmuwan:
Sejauh itu saya belum dapat mengikuti Anda. Saya sudah cukup puas bila sebagian
kegelapan dalam relasi ego-objek tersingkap bagi saya melalui wawasan akan
wataknya yang historis. Sebab ketika saya memihak pada tipe analisis
metodologis dalam ilmu-ilmu fisika, Anda mengatakan bahwa cara pandang itu
bersifat historis.
Sarjana:
Anda saat itu menentang pernyataan tersebut dengan kuat.
Ilmuwan:
Kini saya mengerti maksudnya. Program matematika dan eksperimen berakar pada
relasi manusia sebagai ego terhadap benda sebagai objek.
Guru:
Bahkan, keduanya turut membentuk relasi itu dan menghamparkan watak
historisnya.
Ilmuwan:
Jika setiap telaah yang memusatkan perhatian pada sesuatu yang merupakan bagian
dari sejarah disebut historis, maka analisis metodologis dalam fisika memang
bersifat historis.
Sarjana:
Di sini, konsep “historis” menandai suatu modus mengetahui dan dipahami secara
luas.
Guru:
Dipahami, kiranya, sebagai terarah pada suatu sejarah yang tidak terdiri dari
peristiwa dan tindakan dunia—
Sarjana:
—juga bukan dari capaian-capaian kultural manusia.
Ilmuwan:
Lalu dari apa?
Guru:
Yang historis berdiam di dalam yang-mewilayahkan, dan dalam apa yang terjadi
sebagai yang-mewilayahkan. Ia berdiam dalam apa yang, dengan terjadi pada
manusia, mewilayahkan manusia ke dalam hakikatnya.
Sarjana:
Suatu hakikat yang nyaris belum kita alami—andaikata ia belum terealisasi dalam
rasionalitas hewan.
Ilmuwan:
Dalam situasi semacam ini, kita tak dapat berbuat apa-apa selain menunggu
hakikat manusia.
Guru:
Menunggu dalam keterlepasan—melalui mana kita menjadi milik yang-mewilayahkan,
yang masih menyembunyikan hakikatnya sendiri.
Sarjana:
Kita merasakan lebih dulu keterlepasan kepada yang-mewilayahkan sebagai hakikat
berpikir yang kita cari.
Guru:
Ketika kita membiarkan diri masuk ke dalam keterlepasan kepada
yang-mewilayahkan, kita menghendaki ketidak-menghendaki.
Ilmuwan:
Keterlepasan memang merupakan pelepasan diri dari representasi transendental,
dan dengan itu pelepasan kehendak atas horizon. Pelepasan semacam ini tidak
lagi bersumber dari kehendak—kecuali bahwa peristiwa yang mendorong kita
melepaskan diri ke dalam kebermilikan pada yang-mewilayahkan masih menuntut
jejak kehendak. Namun jejak itu lenyap selama pelepasan diri berlangsung dan
sepenuhnya padam dalam keterlepasan.
Sarjana:
Namun dengan cara apa keterlepasan berhubungan dengan apa yang bukan kehendak?
Guru:
Setelah semua yang kita katakan tentang ketahanan bentangan yang menetap,
tentang membiarkan beristirahat dalam kembali, tentang pewilayahan
yang-mewilayahkan, hampir tak mungkin berbicara tentang yang-mewilayahkan
sebagai kehendak.
Sarjana:
Tentu, fakta bahwa—di satu sisi—pewilayahan berkenaan dengan manusia dan
penentuan oleh yang-mewilayahkan, dan—di sisi lain—segala pengadaan dan
sebab-akibat, saling meniadakan secara hakiki, menunjukkan betapa asingnya
yang-mewilayahkan terhadap apa pun yang berkenaan dengan kehendak.
Guru:
Sebab setiap kehendak ingin mewujudkan, dan menjadikan keaktualan sebagai
unsurnya.
Ilmuwan:
Seseorang yang mendengar kita dapat dengan mudah berkesan bahwa keterlepasan
melayang di ranah ketidaknyataan—bahkan ketiadaan—dan, karena tak memiliki daya
bertindak, hanyalah suatu pembiaran tanpa kehendak atas segala sesuatu, pada
dasarnya sebuah penyangkalan kehendak untuk hidup!
Sarjana:
Apakah Anda menganggap perlu untuk menangkis kesalahpahaman yang mungkin ini
dengan menunjukkan dalam hal apa suatu daya bertindak dan ketegasan juga
berkuasa di dalam keterlepasan?
Ilmuwan:
Ya, saya menganggapnya perlu—meskipun saya sadar bahwa semua sebutan semacam
itu segera menyesatkan keterlepasan dengan menafsirkannya seolah-olah ia
berkaitan dengan kehendak.
Sarjana: Maka, misalnya, kita perlu memahami
“keteguhan” (resolve) sebagaimana dipahami dalam Being and Time:
sebagai pembukaan keberadaan manusia—yang secara khas diupayakan olehnya—menuju
keterbukaan …
Guru: … yang kita pikirkan sebagai yang-mewilayahkan.
Sarjana: Jika, sejalan dengan kisah dan pemikiran
Yunani, kita menyadari hakikat kebenaran sebagai penyingkapan dan pemulihan,
maka yang-mewilayahkan mengingatkan kita—barangkali—sebagai kemunculan
tersembunyi dari hakikat itu.
Ilmuwan: Maka hakikat berpikir—yakni keterlepasan
kepada yang-mewilayahkan—akan menjadi suatu keteguhan bagi kemunculan hakikat
kebenaran.
Guru: Di dalam keterlepasan bisa tersembunyi suatu
keteguhan yang berdiam sederhana pada kenyataan bahwa keterlepasan makin
menjernihkan hakikat batinnya sendiri dan, dengan keteguhan itu, berdiri di
dalamnya.
Sarjana: Itu akan menjadi perilaku yang tidak berubah
menjadi gaya pamer, melainkan menghimpun diri dan senantiasa tinggal sebagai
ketenangan keterlepasan.
Guru: Keterlepasan yang teguh dan terhimpun demikian
akan menjadi penerimaan atas pewilayahan dari yang-mewilayahkan.
Ilmuwan: Keteguhan yang terhimpun ini—tempat hakikat
keterlepasan beristirahat—barangkali dapat dikatakan sepadan dengan kehendak
tertinggi; tetapi tidak demikian. Istirahat-dalam-dirinya dari
keterlepasan—yang membiarkannya menjadi milik pewilayahan yang-mewilayahkan
berkenaan dengan manusia—
Guru: … dan, dengan cara tertentu, juga berkenaan
dengan penentuan—
Ilmuwan: … keteguhan sebagai kebermilikan pada
yang-mewilayahkan yang beristirahat dalam dirinya—masih belum bernama.
Sarjana: Barangkali kata berdiam-di-dalam (in-dwelling)
dapat menamai sebagian darinya. Di rumah seorang sahabat, aku pernah membaca
beberapa baris yang ia salin dari entah di mana. Isinya masih kuingat:
Berdiam-di-dalam:
Tak pernah satu kebenaran saja;
Menerima utuh
Kemunculan hakikat kebenaran
Sebagai balasan atas keteguhan tanpa batas:
Menanamkan hati yang berpikir
Dalam kesabaran rendah hati
Dari kenangan-kenangan luhur
Yang tunggal dan mulia.
Guru: Maka berdiam-di-dalam keterlepasan kepada
yang-mewilayahkan akan menjadi hakikat sejati dari spontanitas berpikir.
Sarjana: Dan, mengikuti baris-baris itu, berpikir
akan menjadi peringatan—sekerabat dengan yang mulia.
Guru: Berdiam-di-dalam keterlepasan kepada
yang-mewilayahkan akan menjadi kemuliaan batin itu sendiri.
Ilmuwan: Tampaknya malam yang tak terbayangkan ini
menggoda kalian berdua untuk bersukacita.
Guru: Benar—jika yang Anda maksud adalah sukacita
dalam menunggu; melalui itu kita menjadi lebih mampu menunggu dan semakin
kosong.
Sarjana: Tampak lebih kosong, namun lebih kaya oleh
kemungkinan.
Ilmuwan: Kalau begitu, tolong jelaskan juga—dalam
kekosongan yang ganjil ini—dalam hal apa keterlepasan dapat sepadan dengan yang
mulia.
Sarjana: Yang mulia adalah yang berakar pada
asal-usul.
Guru: Bukan hanya itu, tetapi juga berdiam di dalam
asal-usul hakikatnya.
Ilmuwan: Maka keterlepasan sejati terdiri dari ini:
bahwa manusia, dalam hakikatnya sendiri, menjadi milik yang-mewilayahkan—yakni,
ia dilepaskan kepadanya.
Sarjana: Bukan sesekali, melainkan—bagaimana
mengatakannya—mendahului segala sesuatu.
Ilmuwan: Yang “mendahului” itu—yang sungguh tak dapat
kita pikirkan …
Guru: … karena hakikat berpikir bermula di sana.
Ilmuwan: Jadi hakikat manusia dilepaskan kepada
yang-mewilayahkan dalam apa yang mendahului pemikiran.
Sarjana: Itulah sebabnya kita segera menambahkan: dan
memang melalui yang-mewilayahkan itu sendiri.
Guru: Ia mengapropriasi hakikat manusia bagi
pewilayahannya sendiri.
Ilmuwan: Dengan demikian kita telah menjelaskan
keterlepasan. Namun kita mengabaikan satu hal—yang segera mengusik saya—mengapa
hakikat manusia diapropriasi oleh yang-mewilayahkan.
Sarjana: Tampaknya hakikat manusia dilepaskan kepada
yang-mewilayahkan karena yang-mewilayahkan demikian esensial menjadi miliknya,
sehingga tanpa manusia ia tak dapat menjadi kemunculan segala hakikat,
sebagaimana adanya.
Ilmuwan: Ini nyaris tak terpikirkan.
Guru: Ia memang tak dapat dipikirkan selama kita
ingin menghadirkannya-kembali—yakni memaksa menghadirkan di hadapan kita suatu
relasi objektif antara sebuah “objek” bernama “manusia” dan sebuah “objek”
bernama “yang-mewilayahkan”.
Ilmuwan: Mungkin demikian. Namun sekalipun kita
waspada akan hal itu, bukankah tetap ada kesulitan yang tak teratasi dalam
pernyataan tentang relasi esensial antara hakikat manusia dan
yang-mewilayahkan? Barusan kita mencirikan yang-mewilayahkan sebagai hakikat kebenaran
yang tersembunyi. Jika, demi singkatnya, kita mengatakan “kebenaran”
menggantikan “yang-mewilayahkan”, maka pernyataannya menjadi: hakikat manusia
diserahkan kepada kebenaran, karena kebenaran membutuhkan manusia. Padahal ciri
pembeda kebenaran—terutama dalam relasinya dengan manusia—bukankah justru
independensinya dari manusia?
Sarjana: Di sini Anda memang menyentuh kesulitan yang
baru dapat kita bicarakan setelah kita menjelaskan hakikat kebenaran itu
sendiri dan lebih menegaskan hakikat manusia.
Guru: Kini kita baru berada di jalan menuju keduanya.
Namun, agar lebih jelas apa yang perlu kita renungkan bila relasi ini
dipertimbangkan pada dirinya sendiri, saya ingin memparafrasekan pernyataan
tentang relasi kebenaran dengan manusia.
Ilmuwan: Untuk sementara, maka, apa yang akan Anda
katakan hanyalah sebuah penegasan.
Guru: Benar. Yang saya maksud adalah ini: hakikat
manusia dilepaskan kepada yang-mewilayahkan dan dipergunakan
olehnya—semata-mata karena manusia, dari dirinya sendiri, tidak memiliki kuasa
atas kebenaran, dan kebenaran tetap independen darinya. Hakikat kebenaran dapat
muncul secara independen dari manusia hanya karena hakikat manusia (sebagai
keterlepasan kepada yang-mewilayahkan) dipergunakan oleh yang-mewilayahkan
dalam pewilayahannya—baik berkenaan dengan manusia maupun untuk menopang
penentuan. Jelaslah bahwa independensi kebenaran dari manusia adalah sebuah
relasi dengan hakikat manusia—relasi yang berdiam pada pewilayahan hakikat
manusia ke dalam yang-mewilayahkan.
Sarjana: Jika demikian, maka manusia—sebagai
berdiam-di-dalam keterlepasan kepada yang-mewilayahkan—akan berdiam pada
asal-usul hakikatnya; yang karenanya dapat kita parafrasekan: manusia adalah
dia yang dipergunakan bagi hakikat kebenaran. Dan dengan berdiam pada
asal-usulnya, manusia tertarik pada kemuliaan dalam hakikatnya. Ia memiliki
firasat akan kebesaran batin.
Ilmuwan: Firasat itu hampir tak mungkin selain menunggu,
sebab berdiam-di-dalam keterlepasan telah dipikirkan sebagai menunggu.
Sarjana: Maka jika yang-mewilayahkan adalah bentangan
yang menetap, kesabaran menjangkau paling jauh—hingga bentangan
kemenetapan—karena ia dapat menunggu paling lama.
Guru: Kemuliaan batin yang sabar akan menjadi
istirahat-dalam-dirinya dari kehendak yang, dengan melepaskan kehendak, telah
menyerahkan diri kepada yang bukan kehendak.
Sarjana: Kemuliaan batin akan menjadi hakikat
berpikir—dan karenanya juga hakikat berterima kasih.
Guru: Yakni terima kasih yang tidak perlu berterima
kasih atas sesuatu, melainkan hanya berterima kasih karena diperkenankan
berterima kasih.
Sarjana: Dalam hakikat berpikir yang dipahami
demikian, barangkali kita telah menemukan apa yang kita cari.
Ilmuwan: Dengan asumsi bahwa kita telah menemukan
tempat di mana segala sesuatu dalam percakapan kita tampak beristirahat:
hakikat yang-mewilayahkan.
Guru: Karena ini baru asumsi, marilah kita tambahkan
bahwa sejak beberapa waktu—sebagaimana mungkin Anda perhatikan—kita mengatakan
segala sesuatu hanya dalam modus asumsi.
Ilmuwan: Namun demikian, saya tak dapat lagi menahan
pengakuan bahwa sementara hakikatnya terasa mendekat, yang-mewilayahkan itu
sendiri justru terasa semakin jauh dari sebelumnya.
Sarjana: Maksud Anda: Anda dekat pada hakikatnya,
namun jauh dari yang-mewilayahkan itu sendiri?
Ilmuwan: Padahal yang-mewilayahkan dan hakikatnya tak
mungkin dua hal yang berbeda—jika kita boleh berbicara tentang “hal” di sini.
Sarjana: Diri yang-mewilayahkan kiranya adalah
hakikatnya dan identik dengan dirinya.
Guru: Maka barangkali kita dapat mengungkapkan
pengalaman kita selama percakapan ini dengan mengatakan bahwa kita mendekat—dan
sekaligus tetap berjarak—dari yang-mewilayahkan; meskipun “tetap” itu, tentu
saja, adalah suatu kembali.
Sarjana: Yang dinamai dalam ungkapan Anda hanyalah
hakikat menunggu dan keterlepasan.
Ilmuwan: Lalu apa gerangan kedekatan dan kejauhan
itu—di mana yang-mewilayahkan membuka diri dan menyelubungi diri, mendekat dan
menarik diri?
Sarjana: Kedekatan dan kejauhan ini tak mungkin
berada di luar yang-mewilayahkan.
Guru: Karena yang-mewilayahkan mewilayahkan segala
sesuatu—menghimpun semuanya dan membiarkan semuanya kembali kepada dirinya
sendiri, beristirahat dalam identitasnya sendiri.
Ilmuwan: Maka yang-mewilayahkan itu sendiri adalah mendekat
dan menjauh.
Sarjana: Yang-mewilayahkan itu sendiri adalah kedekatan
dari kejauhan dan kejauhan dari kedekatan …
Ilmuwan: … suatu ciri yang tidak boleh dipikirkan
secara dialektis.
Guru: Melainkan bagaimana?
Ilmuwan: Sejalan dengan hakikat berpikir sejauh ia
ditentukan semata-mata oleh yang-mewilayahkan.
Sarjana: Dan karenanya melalui menunggu—melalui
berdiam-di-dalam keterlepasan.
Guru: Namun lalu, apakah hakikat berpikir itu jika
yang-mewilayahkan adalah kedekatan dari kejauhan?
Sarjana: Barangkali hal ini memang tak lagi dapat
diucapkan dalam satu kata. Namun aku mengetahui sebuah kata yang—hingga
kini—terasa tepat bagiku untuk menamai hakikat berpikir, dan dengan itu juga
hakikat mengetahui.
Ilmuwan: Aku ingin mendengar kata itu.
Sarjana: Itu adalah sebuah kata yang sudah terlintas
dalam benakku sejak percakapan pertama kita. Kata itulah yang kumaksud ketika
di awal percakapan hari ini aku mengatakan bahwa aku berutang sebuah isyarat
berharga pada percakapan pertama kita di jalan pedesaan. Beberapa kali
sepanjang percakapan hari ini aku hampir mengusulkannya; namun setiap kali pula
kata itu terasa semakin kurang cocok dengan apa yang kian mendekat kepada kita
sebagai hakikat berpikir.
Ilmuwan: Cara Anda berbicara terdengar
misterius—seakan Anda tak ingin mengungkapkan penemuan Anda terlalu dini.
Sarjana: Kata yang kumaksud bukanlah penemuanku; ia
hanyalah sebuah pemikiran ilmiah.
Ilmuwan: Jadi, jika boleh saya katakan, sebuah
pengingatan historis?
Sarjana: Jika Anda ingin menyebutnya demikian. Ia
juga cocok dengan gaya percakapan hari ini, sebab di dalamnya kita sering
menyelipkan kata-kata dan kalimat dari pemikiran Yunani. Namun kini kata itu
tak lagi memadai untuk menamai dengan satu kata apa yang sedang kita coba
ungkapkan.
Guru: Anda maksudkan hakikat berpikir—yakni berdiam-di-dalam
keterlepasan kepada yang-mewilayahkan—yang merupakan relasi manusiawi yang
esensial dengan yang-mewilayahkan; sesuatu yang kita rasakan lebih dulu sebagai
kedekatan dari kejauhan.
Ilmuwan: Sekalipun kata itu tak lagi memadai, Anda
boleh mengungkapkannya di akhir percakapan ini; toh kita kembali mendekati
pemukiman manusia dan, bagaimanapun, harus mengakhiri perbincangan kita.
Guru: Dan sekalipun kata itu—yang dahulu Anda anggap
sebagai isyarat berharga—kini tak lagi cocok, ia tetap dapat memperjelas bahwa
sementara ini kita telah berhadapan dengan sesuatu yang tak terkatakan.
Sarjana: Kata itu adalah kata milik Heraclitus.
Ilmuwan: Dari fragmen yang mana Anda mengambilnya?
Sarjana: Kata itu menarik perhatianku karena berdiri
sendiri. Ia adalah kata yang, sendirian, membentuk Fragmen 122.
Ilmuwan: Aku tidak mengenal fragmen terpendek
Herakleitos itu.
Sarjana: Ia nyaris tak diperhatikan orang lain juga,
sebab sulit melakukan apa pun dengan satu kata saja.
Ilmuwan: Bagaimana bunyi fragmen itu?
Sarjana: ἄγχιβασίη.
Ilmuwan: Apa artinya?
Sarjana: Kata Yunani itu dapat diterjemahkan sebagai
“menuju ke dekat”.
Ilmuwan: Aku menganggap kata ini sangat baik untuk
menamai hakikat pengetahuan; sebab di dalamnya terungkap dengan jelas watak
bergerak maju dan mendekati objek.
Sarjana: Aku pun merasakannya demikian. Barangkali
itulah sebabnya kata itu terlintas dalam percakapan pertama kita, ketika kita
membahas tindakan, pencapaian, dan kerja yang melekat pada pengetahuan ilmiah
modern—terutama pada penelitian.
Ilmuwan: Bahkan, kata Yunani ini bisa dipakai untuk
menjelaskan bahwa penelitian ilmiah adalah sejenis serangan terhadap alam,
namun serangan yang sekaligus membiarkan alam berbicara. ἄγχιβασίη—“menuju ke dekat”:
aku bisa membayangkan kata Herakleitos ini sebagai kata kunci sebuah esai
tentang hakikat ilmu pengetahuan modern.
Sarjana: Justru karena itu aku ragu mengucapkannya
pada titik ini; sebab ia tidak tepat menyentuh hakikat berpikir yang kita duga
sepanjang perjalanan kita.
Ilmuwan: Memang, menunggu tampaknya hampir merupakan
gerak yang berlawanan dengan “menuju ke”.
Sarjana: Bahkan bisa dikatakan: sebuah istirahat
yang berlawanan.
Guru: Atau sekadar istirahat. Namun, apakah
sudah pasti bahwa kata itu berarti “menuju ke”?
Sarjana: Jika diterjemahkan secara harfiah, ia
berarti “bergerak ke dekat”.
Guru: Barangkali kita juga bisa memikirkannya
sebagai: “bergerak-masuk-ke-kedekatan”.
Ilmuwan: Anda memaksudkannya secara harfiah—sebagai
“membiarkan-diri-bergerak-masuk-ke-kedekatan”?
Guru: Kurang lebih begitu.
Sarjana: Kalau demikian, kata itu mungkin adalah
nama—bahkan mungkin nama terbaik—bagi apa yang telah kita temukan.
Guru: Yang hakikatnya, bagaimanapun, masih kita cari.
Sarjana: “Bergerak-masuk-ke-kedekatan.” Kini
tampaknya kata itu lebih tepat menjadi nama bagi perjalanan kita hari ini di
jalan pedesaan ini.
Guru: Yang menuntun kita jauh ke dalam malam …
Ilmuwan: … yang kian berkilau cemerlang …
Sarjana: … dan meliputi bintang-bintang …
Guru: … karena ia mendekati kejauhan mereka di
ketinggian langit …
Ilmuwan: … setidaknya bagi pengamat yang naif, meski
tidak bagi ilmuwan yang presisi.
Guru: Bagi anak di dalam diri manusia, malam selalu
bertetangga dengan bintang-bintang.
Sarjana: Ia merajut semuanya tanpa jahitan, tanpa
tepi, tanpa benang.
Ilmuwan: Ia bertetangga—karena ia bekerja hanya
dengan kedekatan.
Sarjana: Jika ia bekerja—dan bukan sekadar
beristirahat.
Guru: Sambil bertanya-tanya pada kedalaman
ketinggian.
Sarjana: Maka, apakah keheranan dapat membuka apa
yang terkunci?
Ilmuwan: Melalui menunggu …
Guru: … jika ini dilepaskan …
Sarjana: … dan jika hakikat manusia tetap
diapropriasi kepada …
Guru: … asal tempat kita dipanggil.

Komentar
Posting Komentar