APOLOGY - Plato

 




APOLOGY - Karya Plato

Ditulis sekitar tahun ± 399 SM

Tema utama: Pembelaan Socrates terhadap hidup filosofis, integritas moral, dan pencarian kebenaran


17

Wahai orang-orang Athena, aku tidak tahu pasti bagaimana perasaan kalian setelah mendengar para penuduhku berbicara. Tetapi, jujur saja, bahkan aku sendiri hampir saja lupa siapa diriku karena cara mereka berbicara begitu meyakinkan (pithanos: persuasif). Padahal, sesungguhnya, hampir tidak ada satu pun dari apa yang mereka katakan itu benar.

Namun dari semua kebohongan mereka, ada satu hal yang paling membuatku heran: yaitu ketika mereka memperingatkan kalian agar berhati-hati supaya tidak tertipu olehku, karena katanya aku ini pandai berbicara (deinos legein).

Aku merasa aneh karena mereka tidak malu mengucapkan hal itu — padahal sebentar lagi mereka akan terbukti berbohong di hadapan kalian, sebab sama sekali tidak akan tampak bahwa aku ini pandai berbicara (deinos legein) seperti yang mereka katakan.

Sungguh, menurutku, itu adalah hal paling tidak tahu malu (anaisxuntotaton) dari semua ucapan mereka—kecuali kalau jika yang mereka maksud dengan “pandai berbicara” itu sebagai “orang yang berkata benar” (alēthē legein).

Kalau itu yang mereka maksud, maka aku akan setuju bahwa aku memang pandai berbicara—tapi bukan dalam pengertian mereka.

Jadi, seperti yang kukatakan, mereka hampir tidak mengucapkan satu pun hal yang benar. Sedangkan dariku, kalian akan mendengar seluruh kebenaran (pasan tēn alētheian)—meskipun, demi Zeus, wahai orang-orang Athena, kalian tidak akan mendengarnya dalam kata-kata yang indah dan dihias-hias seperti gaya para orator (rhetor).

Kata-kataku tidak akan dipoles dengan keindahan bahasa (kekalliēpēmenoi logoi) atau dihiasi dengan susunan yang rumit (ke kosmēmenoi), tetapi kalian akan mendengarnya sebagaimana adanya, dengan kata-kata yang kebetulan terlintas di pikiranku.

Aku percaya bahwa apa yang kukatakan adalah benar dan adil (dikaia). Jadi janganlah ada di antara kalian yang mengharapkan sesuatu yang lain dariku.

Tidaklah pantas, wahai orang-orang Athena, bagi seseorang yang sudah tua sepertiku untuk datang ke hadapan kalian seperti anak muda (meirakion) yang memoles kata-katanya agar terdengar manis.

Karena itu, aku mohon satu hal ini kepada kalian: jika nanti dalam pembelaanku, aku berbicara dengan cara yang sama seperti yang biasa kulakukan di pasar (agora), di dekat meja-meja tempat banyak dari kalian pernah mendengarku berbicara, atau di tempat lain, maka janganlah kalian heran atau membuat keributan karenanya.

Beginilah keadaannya: ini adalah pertama kalinya aku berdiri di hadapan pengadilan (dikastērion), dan usiaku kini telah tujuh puluh tahun. Maka sungguh, aku asing (xenos) terhadap cara berbicara di tempat seperti ini.


18

Kalau seandainya aku sungguh-sungguh adalah orang asing (xenos) bagi kalian, tentu kalian akan memaklumi bila aku berbicara dengan logat dan gaya yang biasa kupakai di negeri tempat aku dibesarkan. Maka sekarang pun, aku memohon sesuatu yang menurutku adil (dikaion)—biarkanlah saja caraku berbicara, entah itu lebih buruk atau lebih baik menurut kalian. Yang penting, perhatikanlah apa yang kukatakan, bukan bagaimana aku mengatakannya: tapi perhatikanlah: apakah yang kukatakan itu benar dan adil (dikaia) atau tidak.

Sebab, keutamaaan (aretē) seorang hakim (dikastēs) adalah mendengarkan dengan adil; sedangkan keutamaan seorang pembicara (rhētōr) adalah mengatakan kebenaran (alēthē legein).

Karena itu, wahai orang-orang Athena, pertama-tama aku merasa perlu membela diri terhadap tuduhan-tuduhan lama yang telah diarahkan kepadaku sejak dulu, juga terhadap para penuduh yang pertama; baru setelah itu terhadap tuduhan-tuduhan baru dan para penuduh yang datang belakangan.

Sebab, sudah sejak lama aku memiliki banyak penuduh—mereka telah menjelek-jelekkan aku di hadapan kalian selama bertahun-tahun, dan tidak satu pun dari ucapan mereka benar. Justru merekalah yang paling aku takuti, lebih daripada kelompok Anytus, meskipun mereka juga tangguh (deinoi). 

Tapi yang lebih berbahaya adalah mereka yang sejak kalian masih anak-anak (paides), telah menanamkan kebohongan tentang diriku—mereka yang membuat kalian percaya bahwa ada seseorang bernama Socrates yang katanya adalah “orang bijak” (sophos anēr), yang meneliti hal-hal di langit (ta meteōra phrontistēs), menyelidiki segala sesuatu yang ada di bawah tanah (ta hypo gēs), dan membuat argumen yang lemah menjadi tampak lebih kuat (ton hēttō logon kreittō poiein).

Orang-orang inilah, wahai warga Athena, yang telah menyebarkan reputasi itu tentangku—mereka inilah penuduh yang paling berbahaya. Sebab, siapa pun yang mendengar hal-hal semacam itu pasti berpikir, bahwa orang yang menyelidiki hal-hal tersebut tidak mungkin percaya pada para dewa (theous nomizein).

Selain itu, para penuduh ini sudah banyak jumlahnya, sudah lama menebar tuduhan, dan mereka melakukannya pada masa ketika kalian masih muda, bahkan sebagian dari kalian mungkin masih anak-anak atau remaja (meirakia). Mereka menuduhku tanpa aku bisa membela diri, sebab aku bahkan tidak tahu siapa mereka sebenarnya. Dan yang paling tidak masuk akal adalah: aku bahkan tidak bisa menyebut nama-nama mereka, kecuali kalau seseorang di antara mereka kebetulan adalah penulis komedi (kwmōidopoios).

Semua orang yang, karena iri hati (phthonos) dan fitnah (diabolē), telah berhasil memengaruhi kalian—dan mereka yang sudah terpengaruh lalu menyebarkannya lagi kepada orang lain—mereka semua sungguh sulit dihadapi. Sebab, aku tidak bisa memanggil satu pun dari mereka untuk naik ke sini, tidak bisa memeriksa mereka satu per satu; akhirnya aku seperti bertarung melawan bayangan (skia-machein)—berusaha membela diri dan membuktikan kebenaranku, tetapi tanpa ada siapa pun yang menjawab.

Karena itu, aku mohon kalian memahami bahwa aku kini menghadapi dua jenis penuduh (dittoi kategoroí): yang pertama adalah mereka yang baru saja berbicara di depan kalian hari ini; yang kedua, mereka yang sudah sejak lama menyebarkan fitnah tentang diriku.

Dan anggaplah bahwa aku harus terlebih dahulu menjawab tuduhan dari kelompok yang lama itu—sebab kalian sudah lebih dulu mendengar tuduhan mereka, dan jauh lebih lama pula dibandingkan tuduhan dari para penuduh yang baru ini.



19.

Baiklah. Jadi sekarang, wahai orang-orang Athena, aku memang harus membela diri (apologēteon) dan berusaha membersihkan diriku dari fitnah (diabolē) yang telah kalian dengar begitu lama—dan kini harus aku jawab dalam waktu yang begitu singkat.

Aku sungguh berharap hal ini bisa terjadi dengan cara yang baik, baik untuk kalian maupun untukku sendiri, dan semoga kata-kataku benar-benar bisa membantu menjelaskan keadaanku. Tapi aku tahu, ini bukan hal yang mudah—aku sadar betul betapa sulitnya menghapus kesan yang sudah lama tertanam.

Namun biarlah semuanya berjalan sebagaimana dikehendaki oleh dewa (theos); tugasku hanyalah mematuhi hukum (nomos) dan mengemukakan pembelaanku (apologia).

Mari kita mulai dari awal, dari tuduhan pertama yang melahirkan fitnah terhadapku, tuduhan yang bahkan membuat Meletus berani menulis dakwaan ini.

Baiklah, apa sebenarnya yang dikatakan oleh mereka yang menjelek-jelekkan aku (hoi diaballontes)?

Jika ini pengadilan resmi, kita bisa membacakan semacam “sumpah penuduh” (antōmosia), tapi aku akan mengulanginya dengan kata-kataku sendiri:

“Socrates bersalah karena terlalu ingin tahu (periergazetai), ia menyelidiki hal-hal yang berada di bawah bumi dan di langit (ta hypo gēs kai ourania), membuat argumen yang lemah tampak lebih kuat (ton hēttō logon kreittō poiein), dan mengajarkan hal yang sama kepada orang lain.”

Nah, tuduhan semacam itulah yang beredar luas—dan kalian sendiri tentu pernah melihatnya dalam komedi karya Aristophanes, di mana muncul sosok yang disebut “Socrates”, berjalan-jalan di udara (aerobatein) sambil berbicara banyak omong kosong (phlyarían).

Padahal, wahai orang-orang Athena, aku sama sekali tidak tahu apa-apa—tidak sedikit pun—tentang hal-hal seperti itu, baik besar maupun kecil.

Dan aku mengatakan ini bukan karena ingin merendahkan ilmu semacam itu; tidak sama sekali. Jika memang ada seseorang yang sungguh bijak (sophos) dalam bidang-bidang seperti itu, aku menghormatinya—asal jangan sampai Meletus nanti menuduhku lagi karena dianggap menghina orang lain!

Tapi yang jelas, aku tidak punya urusan apa pun (metechein) dengan hal-hal semacam itu, wahai orang-orang Athena.

Sebagai bukti, aku menghadirkan kalian sendiri sebagai saksi (martyres). Aku meminta kalian saling mengingatkan—siapa pun di antara kalian yang pernah mendengar aku berbicara (dialegomenos)—dan banyak di antara kalian pasti pernah mendengarnya.


Coba tanyakan satu sama lain: “Pernahkah ada di antara kita yang mendengar Socrates berbicara tentang hal-hal semacam itu, baik sedikit maupun banyak?”

Kalau kalian jujur menjawab, kalian akan tahu bahwa semua hal lain yang dikatakan orang banyak tentang diriku pun sama—tidak benar adanya.

Dan bukan hanya itu. Jika kalian juga pernah mendengar kabar bahwa aku ini berusaha “mendidik orang” (paideuein anthrōpous) dan meminta bayaran (chrēmata prattesthai) untuk itu, ketahuilah bahwa itu pun tidak benar.

Padahal, aku justru menganggap hal itu indah (kalon) dan terpuji—andaikan saja seseorang sungguh mampu melakukannya—seperti yang dilakukan oleh Gorgias dari Leontinoi, Prodikos dari Keos, dan Hippias dari Elis.

Mereka memang ahli dan dihormati karena mengajar banyak orang dengan keahlian mereka.


20.

Setiap orang dari mereka, wahai orang Athena, mampu pergi ke kota mana pun dan meyakinkan para pemuda di sana—yang bebas memilih dengan siapa mereka ingin bergaul—untuk meninggalkan pergaulan dengan warga mereka sendiri dan justru mengikuti dirinya, sambil membayar uang (chrēmata didontas) dan bahkan berterima kasih padanya.

Sebab, ada juga seorang pria dari Paros yang bijak (sophos), bernama Euenos. Aku mengetahui bahwa ia sedang berada di kota ini. Kebetulan aku berbicara dengan Callias, putra Hipponikos—orang yang telah mengeluarkan lebih banyak uang kepada para sofis (sophistai) dibanding siapa pun. 

Maka aku bertanya kepadanya—karena ia memiliki dua anak laki-laki—“Wahai Callias,” kataku, “andaikan kedua putramu ini adalah anak kuda atau anak sapi, tentu kita bisa mencari seorang pelatih (epistatēs) untuk mereka, yang dapat kita sewa agar membuat mereka menjadi baik dan unggul (kalos kagathos) sesuai dengan keutamaan mereka. Pelatih itu tentu seorang ahli kuda atau petani.

Tetapi sekarang, karena mereka adalah manusia (anthrōpoi), siapa yang akan menjadi pelatih mereka? Siapa yang mengetahui keutamaan yang sesuai bagi manusia dan bagi warga negara (aretē anthrōpinē kai politikē)? Aku yakin kau telah memikirkannya karena kau memiliki anak.”

“Sudah tentu,” jawab Callias.

“Siapa orang itu,” tanyaku lagi, “dan dari mana asalnya, serta berapa ia menagih untuk mengajar?”

“Euenos,” jawabnya, “orang Paros, dengan bayaran lima mina (pente mnai).”

Aku pun berkata, “Sungguh berbahagia (makarios) Euenos, jika memang ia benar-benar memiliki keterampilan itu dan dapat mengajarkannya dengan baik. Kalau aku pun bisa melakukannya, aku pasti akan merasa bangga dan hidup dengan penuh kemegahan. Tetapi aku tidak bisa, wahai warga Athena.”


Barangkali seseorang di antara kalian akan bertanya:

“Tetapi, wahai Socrates, apa sebenarnya yang kau lakukan? Dari mana datangnya semua fitnah (diabolē) terhadapmu ini? Sebab tidak mungkin reputasi sebesar itu muncul jika kau tidak melakukan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan orang.”

Orang yang berkata demikian, menurutku, berbicara dengan adil. Karena itu aku akan mencoba menjelaskan kepada kalian apa sebenarnya yang membuatku mendapatkan nama (onoma) dan tuduhan ini. Dengarkanlah. Mungkin nanti sebagian dari kalian mengira aku sedang bergurau, tetapi ketahuilah—aku akan mengatakan seluruh kebenaran (alētheia).

Wahai warga Athena, aku memperoleh sebutan ini tidak karena apa pun, melainkan karena suatu bentuk kebijaksanaan (sophia).

Kebijaksanaan seperti apa? Mungkin semacam kebijaksanaan manusia (anthrōpinē sophia). Sebab sungguh, aku kira hanya itu kebijaksanaan yang kumiliki.

Sedangkan mereka yang kusebutkan tadi, mungkin memiliki kebijaksanaan yang lebih besar dari manusia biasa (meizōn tis ē kat’ anthrōpon sophia), atau entahlah—aku tidak tahu. Yang pasti, aku sendiri tidak mengerti hal itu. Siapa pun yang berkata bahwa aku tahu, ia berdusta dan hanya menambah fitnah terhadapku.

Karena itu, wahai warga Athena, janganlah ribut, jangan pula tersinggung bila aku tampak berkata sesuatu yang besar. Sebab perkataan yang akan kusampaikan bukanlah kata-kataku sendiri, melainkan aku akan memanggil sebagai saksi (martus) seseorang yang pantas dipercaya: yaitu dewa di Delphi (theos en Delphois).

Kalian tentu mengenal Chaerephon, sahabatku.

Chaerephon adalah sahabatku sejak muda, dan juga sahabat bagi banyak dari kalian. Ia ikut mengungsi bersama kalian dalam masa pengasingan dan kembali bersama kalian pula. Kalian tentu tahu bagaimana wataknya—ia selalu bersemangat dan keras dalam apa pun yang diinginkannya.

Suatu ketika, ia bahkan berani pergi ke Delphi dan menanyakan hal yang luar biasa ini—dan aku mohon, wahai warga Athena, janganlah ribut mendengarnya. Ia bertanya kepada Pythia: adakah orang yang lebih bijak (sophōteros, σοφώτερος) dari Socrates? Dan sang Pythia menjawab bahwa tidak ada seorang pun yang lebih bijak dariku.

Tentang hal ini, saudaranya—yang hadir di sini—dapat menjadi saksi bagi kalian, sebab Chaerephon sendiri telah meninggal dunia.

Sekarang, pertimbangkanlah mengapa aku menceritakan hal ini. Aku akan menjelaskan bagaimana asal mula semua fitnah yang menimpaku. 

Setelah mendengar jawaban dari dewa itu, aku merenung:

“Apa maksud perkataan dewa ini? Apa yang ingin disiratkannya?”

Sebab aku sadar bahwa aku sendiri tidak merasa mengetahui apa pun—tidak besar, tidak pula kecil (oute mega oute smikron). Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud sang dewa ketika mengatakan bahwa aku adalah yang paling bijak (sophōtatos)? Dewa tentu tidak mungkin berbohong—sebab hal itu mustahil baginya (ou gar themis autō).


Aku berpikir lama dan bingung akan maknanya, hingga akhirnya dengan susah payah aku memutuskan untuk menyelidikinya (zētēsis). Maka aku pergi menemui seseorang yang dianggap bijak (sophos), berpikir bahwa di sana aku bisa membuktikan nubuat itu keliru—bahwa orang itu lebih bijak dariku, bukan aku, sebagaimana yang disebut sang dewa.

Aku tidak perlu menyebutkan namanya; ia adalah salah satu dari kalangan politikus (politikoi). Ketika aku berbicara dan berdialog (dialegesthai) dengannya, aku mengalami hal yang menarik, wahai warga Athena: orang ini tampak bijak bagi banyak orang, bahkan terutama bagi dirinya sendiri, namun ternyata tidak demikian adanya.

Aku lalu mencoba menunjukkan padanya bahwa meskipun ia mengira dirinya bijak, sebenarnya ia tidaklah demikian. Akibatnya, aku membuatnya marah—dan juga banyak dari orang-orang yang hadir. Tetapi ketika aku pergi dan merenung sendiri, aku menyadari:

“Aku tampaknya lebih bijak (sophōteros) dari orang ini—bukan karena aku mengetahui sesuatu yang besar, sebab kami berdua sama-sama tidak tahu apa pun yang baik dan yang luhur (kalon kagathon). Tetapi ia mengira tahu sesuatu padahal tidak tahu, sedangkan aku, karena tidak tahu, juga tidak mengira bahwa aku tahu.”

Maka, jika boleh dikatakan, aku memang sedikit lebih bijak darinya—yakni dalam hal ini: bahwa aku tahu bahwa aku tidak tahu (oida hoti ouk oida).

Setelah itu, aku pergi kepada orang lain yang dianggap lebih bijak daripada yang pertama, tetapi aku mendapati hal yang sama. Maka aku membuat marah bukan hanya orang itu, tetapi juga banyak orang lain yang mendengarnya.

Meskipun aku sadar bahwa hal itu membuatku dibenci (apechthomenos) dan merasa tidak nyaman, aku tetap merasa bahwa aku harus menaruh rasa hormat tertinggi pada perintah dewa (to tou theou). Karena itu, aku merasa wajib melanjutkan penyelidikan itu—menguji (skopein) sabda sang dewa dengan menemui siapa pun yang tampak tahu sesuatu (dokoūntas eidenai).


22

Demi anjing suci (nē ton kuna), wahai warga Athena — sebab memang kepada kalian aku harus berbicara dengan jujur (ta alēthē legein) — aku benar-benar mengalami sesuatu yang aneh. Ternyata mereka yang paling terkenal dan yang dihormati, jika diukur menurut pandangan ilahi (kata ton theon), hampir tidak memiliki kebijaksanaan yang sejati; sedangkan orang lain yang tampak lebih sederhana justru tampak lebih bijak dan waras dalam berpikir (phronimōs echein). Maka aku merasa harus menunjukkan kepada kalian bagaimana kesesatanku ini berjalan, seperti seseorang yang menempuh sebuah perjalanan berat (ponous tinas ponountos), agar ramalan (manteia) dari dewa itu terbukti benar dan tak terbantahkan.

Setelah para politikus, aku pergi kepada para penyair (poiētai)—baik penulis tragedi, dithyrambos, maupun yang lain—dengan harapan bahwa di sana aku akan mendapati diriku lebih bodoh dari mereka. Aku mengambil karya-karya mereka yang tampak paling serius, lalu bertanya kepada mereka tentang makna yang mereka maksudkan, supaya aku bisa belajar langsung dari mereka. 

Tetapi, wahai warga Athena, aku malu untuk mengatakannya, meskipun aku harus berkata jujur: hampir semua yang hadir di situ bisa berbicara lebih baik tentang karya-karya itu daripada para penyairnya sendiri.

Dari situ aku memahami bahwa para penyair tidak mencipta karena kebijaksanaan (sophia), melainkan karena suatu dorongan alami (physis) dan karena keadaan diilhami dewa (enthousiasmos), seperti para peramal (theomanteis) dan penyampai wahyu (chrēsmōidoi). Mereka mengucapkan banyak hal yang indah dan agung, tetapi tidak memahami apa yang mereka katakan. 

Para penyair, menurutku, mengalami keadaan yang sama—mereka mengira, karena bisa membuat puisi indah, maka mereka juga paling bijak dalam segala hal. Padahal tidak demikian. Maka aku pun pergi dari sana dengan kesimpulan yang sama seperti ketika meninggalkan para politikus.

Akhirnya, aku mendatangi para pengrajin (cheirotechnai)—sebab aku sadar bahwa aku nyaris tidak menguasai apa pun, sementara mereka pasti tahu banyak hal yang indah dan berguna. Dan memang, aku tidak keliru: mereka sungguh memahami banyak hal yang aku tidak tahu, dan dengan itu mereka lebih bijak dariku. 

Namun, wahai warga Athena, mereka pun memiliki kesalahan yang sama seperti para penyair dan politikus: karena mereka ahli dalam satu bidang (technē), mereka mengira bahwa mereka juga bijak dalam segala hal. Justru kesombongan itulah yang menutupi kebijaksanaan sejati (sophia) mereka.

Maka aku bertanya kepada diriku sendiri, demi ramalan sang dewa, manakah yang lebih baik: apakah aku ingin tetap seperti diriku sekarang — tidak bijak dalam kebijaksanaan mereka, tetapi juga tidak bodoh dalam kebodohan mereka — atau menjadi seperti mereka, yang memiliki keduanya. Dan aku menjawab kepada diriku sendiri dan kepada orakel itu: lebih baik bagiku untuk tetap seperti aku sekarang.


23.

Dari penyelidikan (exetasis) ini, wahai warga Athena (ō andres Athēnaioi), timbullah terhadapku banyak kebencian (apekhthiai), dan bukan kebencian biasa, melainkan yang paling keras dan paling berat; dari situlah muncul pula banyak fitnah (diabolai). Maka muncullah nama itu, bahwa aku disebut “bijak” (sophos einai). Sebab setiap kali aku membuktikan seseorang salah, para pendengar menyangka bahwa akulah yang bijak dalam hal itu.

Namun sebenarnya, wahai warga Athena, tampaknya sang dewa (ho theos) memang benar-benar bijak (sophos einai), dan melalui orakel itu ia hendak mengatakan bahwa kebijaksanaan manusia (anthrōpinē sophia) hampir tidak bernilai sama sekali — atau bahkan tidak ada nilainya. Dan tampaknya, ia menggunakan namaku (tō emō onomati) hanya sebagai contoh, seakan-akan ia berkata:

“Di antara kalian, wahai manusia, yang paling bijak (sophōtatos) adalah dia yang, seperti Sōkratēs, menyadari bahwa dalam kebenaran ia sama sekali tidak layak dianggap bijak (oudenos axios estin tē alētheia pros sophian).”

Maka sampai sekarang pun aku masih berkeliling (periōn), mencari dan meneliti (zētō kai ereunō kata ton theon), baik di antara warga kota (astoi) maupun orang asing (xenoi), kalau-kalau kutemukan seseorang yang tampak bijak. Dan apabila ternyata ia tidak demikian, maka dengan menuruti kehendak dewa (tō theō boēthōn), aku berusaha menunjukkan (endeiknumai) bahwa orang itu tidak bijak.

Karena kesibukan (ascholia) seperti ini, aku tidak punya waktu (scholē) untuk mengurus urusan negara (tōn tēs poleōs) maupun kepentingan rumah tanggaku sendiri (tōn oikeiōn). Maka aku hidup dalam kemiskinan yang amat besar (penia myria), demi pengabdian kepada dewa (dia tēn tou theou latreian).

Selain itu, para pemuda yang memiliki banyak waktu luang — terutama mereka yang berasal dari keluarga kaya — dengan sukarela mengikutiku. Mereka senang mendengarkan ketika aku menguji (exetazomenōn) orang-orang, dan mereka sendiri sering meniruku (mimountai), mencoba menguji orang lain. Dan tampaknya mereka menemukan banyak “kelimpahan” (aphthonia): banyak orang yang mengira tahu sesuatu, padahal tahu sedikit atau tidak tahu apa-apa.

Dari sanalah muncul kemarahan terhadapku (orgizontai). Orang-orang yang diperiksa oleh para pemuda itu marah kepadaku, bukan kepada diri mereka sendiri. Mereka berkata bahwa ada seorang Sōkratēs yang sangat bejat (miarōtatos) dan merusak para pemuda (diaphtheirei tous neous).

Dan ketika seseorang bertanya kepada mereka, “Dengan cara apa dia merusak mereka? Apa yang diajarkannya?”, mereka tidak dapat menjawab (ouk echousin eipein), karena tidak tahu (agnoousin). 

Namun agar tidak tampak bingung, mereka mengulang tuduhan-tuduhan lama yang biasa diarahkan kepada semua filsuf (ta kata pantōn tōn philosophountōn): bahwa mereka berbicara tentang hal-hal di langit (ta meteōra), tentang apa yang ada di bawah bumi (ta hypo gēs), bahwa mereka tidak mempercayai para dewa (theous mē nomizein), dan bahwa mereka membuat argumen yang lemah menjadi lebih kuat (ton hēttō logon kreittō poiein).

Namun sebenarnya, aku kira mereka tidak mau mengatakan yang sebenarnya — sebab jika mereka mengatakannya, mereka akan tampak jelas sebagai orang yang berpura-pura tahu (prospoioumenoi men eidenai), padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa (eidotes de ouden). Dan karena mereka ini ambisius (philótimoi), keras kepala (sphodroi), dan banyak jumlahnya (polloi), serta pandai berbicara dengan meyakinkan (pithanōs legontes peri emou), mereka telah memenuhi telinga kalian sejak lama dengan fitnah-fitnah yang sengit (sphodrōs diaballontes).


24.

Dari sebab-sebab itulah, Meletos, Anytos, dan Lykon mengajukan tuduhan terhadapku — Meletos mewakili para penyair (poiētai), Anytos mewakili para pengrajin (dēmiourgoi) dan politisi (politikoi), sementara Lykon mewakili para orator (rhētores). Maka, seperti yang sudah kukatakan sejak awal, aku akan sangat heran jika aku mampu membersihkan nama dari fitnah (diabolē) yang sudah begitu lama dan begitu kuat mengakar, hanya dalam waktu sesingkat ini.

Itulah, wahai warga Athena, kebenaran yang sesungguhnya; aku tidak menyembunyikan apa pun dari kalian, baik yang besar maupun yang kecil, dan aku tidak menahan diri untuk mengatakannya. Aku tahu dengan pasti bahwa justru karena kejujuranku inilah banyak yang membenciku—dan itulah bukti (tekmerion) bahwa aku berkata benar, serta bahwa inilah sumber fitnah terhadapku dan sebab-sebabnya. Jika kalian menyelidikinya sekarang atau nanti, kalian akan menemukannya tetap demikian.

Maka, tentang tuduhan dari para penuduh lamaku, biarlah pembelaan ini dianggap cukup. Sekarang, terhadap Meletos yang “mulia” dan “cinta tanah air”, seperti katanya sendiri, serta para penuduh berikutnya, aku akan mencoba membela diri lagi. Mari kita mulai kembali dengan sumpah tuduhan mereka (antōmosia). 

Tuduhan itu berbunyi demikian:

“Sokrates bersalah karena merusak (diaphtheirein) kaum muda, dan karena tidak mengakui (nomizein) para dewa (theoi) yang diakui oleh kota, melainkan memperkenalkan roh-roh ilahi yang baru (daimonia kaina).”

Demikianlah bunyi tuduhannya. Mari kita periksa satu per satu.

Meletos mengatakan bahwa aku bersalah karena merusak kaum muda. Tetapi aku, wahai warga Athena, justru mengatakan bahwa Meletoslah yang bersalah — karena ia dengan pura-pura serius, tapi sebenarnya mempermainkan hal penting ini; dengan mudah ia menyeret orang ke pengadilan, berpura-pura peduli pada urusan-urusan yang sesungguhnya tak pernah ia perhatikan sedikit pun. Aku akan mencoba menunjukkan hal ini kepada kalian.

Mendekatlah, wahai Meletos, dan jawablah aku: Bukankah engkau sangat peduli agar kaum muda menjadi sebaik mungkin?

“Tentu saja,” jawabnya.

Baiklah, katakanlah kepada kami, siapa yang menjadikan mereka lebih baik? Engkau tentu tahu, sebab engkau menganggap hal ini penting. Engkau telah menemukan orang yang merusak mereka—yakni aku—dan membawaku ke pengadilan. Maka sebutkanlah juga siapa yang menjadikan mereka lebih baik.

Tidakkah engkau merasa malu, dan tidakkah ini menjadi bukti cukup kuat atas apa yang kukatakan, bahwa engkau sebenarnya tidak pernah benar-benar peduli? Tetapi jawablah, wahai orang baik: siapa yang membuat kaum muda menjadi lebih baik?

“Para hukum (nomoi),” katanya.

Aku tidak bertanya itu, wahai yang terbaik di antara manusia, melainkan siapa manusia (anthrōpos) yang mengetahui dan memahami hukum-hukum itu?

“Para hakim (dikastai),” jawabnya.

Apa maksudmu, wahai Meletos? Apakah para hakim ini benar-benar mampu mendidik (paideuein) kaum muda dan menjadikan mereka lebih baik?

“Benar sekali,” katanya.

Apakah semuanya, atau hanya sebagian dari mereka saja?

“Semuanya,” jawabnya.

“Bagus sekali, demi Hera!” kataku. “Betapa melimpahnya orang-orang yang berguna bagi pendidikan kaum muda!”


25

“Bagaimana dengan ini,” kataku, “apakah para pendengar (akroatai) juga membuat kaum muda menjadi lebih baik atau tidak?”

“Ya, mereka juga,” jawab Meletos.

“Bagaimana dengan para anggota dewan (bouleutai)? Apakah mereka juga menjadikan kaum muda lebih baik?”

“Ya, para anggota dewan juga,” katanya.

“Apakah mungkin, wahai Meletos, bahwa mereka yang hadir di majelis rakyat (ekklēsia), yakni para warga yang berkumpul di sidang umum (ekklēsiastai), justru merusak kaum muda? Atau apakah mereka semua juga menjadikan mereka lebih baik?”

“Mereka juga,” jawabnya.

“Jadi, tampaknya semua orang Athena menjadikan kaum muda baik dan berbudi (kaloi kagathoi), kecuali aku sendiri — aku satu-satunya yang merusak mereka. Begitukah maksudmu?”

“Ya, betul sekali,” jawab Meletos.

“Sungguh besar nasib malang yang kau tuduhkan padaku!” kataku. “Katakanlah padaku, apakah menurutmu hal yang sama berlaku bagi kuda (hippoi)? Apakah semua orang menjadikan kuda menjadi lebih baik, dan hanya satu orang yang merusaknya? Atau justru sebaliknya — bahwa hanya satu atau sedikit orang yang mampu memperbaiki mereka, yakni para ahli kuda (hippikoi), sedangkan kebanyakan orang, jika bergaul dan memperlakukan kuda itu, justru merusaknya?”

“Bukankah begitu keadaannya, wahai Meletos, baik dalam hal kuda maupun dalam hal semua makhluk hidup (zōia) lainnya?”

“Tentu saja begitu,” lanjutku, “entah engkau atau Anytos mengakuinya atau tidak. Akan menjadi kebahagiaan besar (eudaimonia) bagi kaum muda, jika memang hanya satu orang yang merusak mereka, sedangkan semua orang lain justru memperbaiki mereka.”

“Tetapi engkau, wahai Meletos,” kataku, “telah menunjukkan dengan cukup jelas bahwa engkau tidak pernah peduli sedikit pun terhadap kaum muda; engkau dengan gamblang memperlihatkan kelalaianmu (ameleia) sendiri, karena tidak pernah sungguh-sungguh memperhatikan hal-hal yang kini kau tuduhkan padaku.”

“Sekarang jawab aku lagi, demi Zeus, wahai Meletos — manakah yang lebih baik: hidup di tengah warga negara yang baik (chrēstoi) atau di antara mereka yang jahat (ponēroi)?”

“Yang baik, tentu saja,” katanya.

“Dan bukankah orang jahat selalu berbuat jahat kepada mereka yang paling dekat dengannya, sedangkan orang baik berbuat baik?”

“Tentu saja.”

“Apakah ada seseorang yang ingin dirugikan (blaptesthai) oleh orang-orang yang hidup bersamanya, daripada diuntungkan (ōpheleisthai)?”

“Tidak, tentu saja tidak,” jawab Meletos.

“Baiklah,” kataku, “apakah engkau menuduh aku di sini karena dengan sengaja (hekōn) merusak kaum muda, atau karena tidak sengaja (akōn)?”

“Dengan sengaja,” jawabnya.

“Bagaimana mungkin, wahai Meletos?” kataku. “Apakah engkau begitu jauh lebih bijaksana (sophōteros) daripada aku — padahal usiamu masih muda — sehingga engkau tahu bahwa orang jahat selalu merugikan orang-orang yang paling dekat dengannya, sedangkan orang baik selalu memberi manfaat, dan aku, sebaliknya, begitu bodoh (amathia) hingga tidak tahu hal itu? Sehingga aku, dengan sadar, menjadikan orang-orang di sekitarku jahat (mochthēroi), padahal aku tahu bahwa mereka yang jahat akan membalas dengan kejahatan terhadapku — dan aku melakukannya secara sengaja, seperti yang kau katakan?”

“Tidak, wahai Meletos,” lanjutku, “aku tidak mempercayai tuduhanmu itu — dan aku kira, tidak ada seorang pun manusia yang mempercayainya. Maka hanya ada dua kemungkinan: entah aku tidak merusak (diaphtheirein) sama sekali, atau jika aku memang merusak, aku melakukannya tanpa sengaja (akōn). Jadi dalam kedua hal, engkau berdusta (pseudesthai).

Dan jika aku melakukannya tanpa sengaja, maka menurut hukum (nomos), orang tidak boleh dibawa ke pengadilan karena kesalahan yang dilakukan tanpa niat (akousia hamartēmata); melainkan seharusnya diajari (didaskein) dan diperingatkan (nouthetein) secara pribadi. Sebab jelas, jika aku telah belajar, aku tentu akan berhenti melakukan hal itu.

Namun engkau, wahai Meletos, tidak mau datang kepadaku untuk berbicara dan mengajar, tetapi justru menyeretku ke pengadilan — tempat di mana seharusnya dibawa mereka yang memerlukan hukuman (kolasis), bukan mereka yang memerlukan pengajaran (mathēsis).

Namun demikian, wahai warga Athena, sekarang telah jelas apa yang kukatakan sejak awal: bahwa Meletos tidak pernah peduli sedikit pun, terhadap hal-hal ini.

Meski begitu, katakan padaku, wahai Meletos — bagaimana engkau mengatakan aku merusak kaum muda? Bukankah menurut surat tuduhanmu (graphē), engkau menuduhku mengajarkan mereka untuk tidak mengakui (nomizein) para dewa (theoi) yang diakui oleh negara, melainkan memperkenalkan roh-roh ilahi yang baru (daimonia kaina)? Apakah itu yang kau maksud ketika mengatakan bahwa aku mengajar dan dengan demikian merusak?”

“Benar sekali,” jawab Meletos.


26.

“Baiklah, wahai Meletos,” kataku, “demi para dewa (theoi) yang menjadi pokok pembicaraan kita ini, jelaskanlah dengan lebih terang — baik kepadaku maupun kepada para hadirin di sini — apa sebenarnya maksud tuduhanmu.

Apakah engkau mengatakan bahwa aku mengajarkan orang untuk percaya bahwa memang ada para dewa (theoi)? Jika demikian, maka aku sendiri juga mengakui adanya para dewa, dan berarti aku sama sekali bukan seorang yang tidak beriman (atheos), dan dengan demikian tidak bersalah dalam hal itu — hanya saja aku tidak mengakui dewa-dewa yang sama seperti yang diakui oleh negara (polis), melainkan dewa-dewa yang lain (heteroi). Dan karena itulah, mungkin, engkau menuduhku: karena aku mempercayai dewa yang berbeda.

Atau apakah maksudmu bahwa aku sama sekali tidak mengakui keberadaan dewa mana pun, dan juga mengajarkan hal itu kepada orang lain?”

“Itulah maksudku,” jawab Meletos, “aku mengatakan bahwa engkau sama sekali tidak mengakui adanya dewa (theoi).”

“Wahai Meletos yang luar biasa!, mengapa engkau berkata demikian? Apakah maksudmu aku bahkan tidak menganggap matahari (hēlios) dan bulan (selēnē) sebagai dewa, seperti orang lain pada umumnya?”

“Demi Zeus, wahai para hakim (dikastai),” lanjutku, “Meletos mengatakan bahwa aku berpendapat matahari hanyalah batu (lithos), dan bulan hanyalah tanah (gē)!”

“Apakah engkau mengira, wahai sahabatku Meletos, bahwa engkau sedang menuduh Anaxagoras dari Klazomenai (Anaxagoras ho Klazomenios)? Apakah engkau begitu meremehkan para hadirin di sini, dan menganggap mereka sedemikian buta huruf (apeiroi grammaton), sehingga mereka tidak tahu bahwa buku-buku (biblia) karya Anaxagoras penuh dengan gagasan semacam itu?

Apakah engkau benar-benar mengira bahwa kaum muda (neoi) mempelajari ajaran-ajaran itu dariku — hal-hal yang dapat mereka dengar di teater (orchēstra), dengan hanya membayar satu drachma, dan kemudian menertawakan Sokrates bila ia berpura-pura seolah itu ajarannya sendiri — hal-hal yang bahkan bagi nalar umum sudah tampak begitu ganjil (atopa)?

Namun, demi Zeus, apakah benar engkau menganggap aku sama sekali tidak mengakui adanya dewa (theos)?

Tidak, demi Zeus, tidak sedikit pun!” kataku.

“Engkau sungguh tidak dapat dipercaya (apistos), wahai Meletos — bahkan terhadap dirimu sendiri, tampaknya. Sebab menurutku, wahai warga Athena, Meletos ini benar-benar orang yang sombong (hybristēs) dan tak tahu kendali (akolastos); dan sungguh, ia menulis surat tuduhan (graphē) ini semata karena kesembronoan, keserampangan, dan kebodohan masa mudanya (neotēs).


27.

Sebab tuduhan ini tampak bagiku seperti sebuah teka-teki (ainigma), seakan-akan ia ingin mengujiku: apakah Socrates yang bijak (Sōkratēs ho sophos) akan mampu memahami gurauan dan kontradiksi yang dikatakannya sendiri, atau apakah ia akan menipu aku dan juga kalian yang mendengarkan. Sebab, dalam tulisannya, tampaknya ia mengatakan dua hal yang berlawanan (enantia legein) tentang hal yang sama, seolah berkata: “Socrates bersalah karena tidak meyakini para dewa (theoi), tetapi di sisi lain meyakini para dewa (theous nomizōn).” Padahal jelas, itu hanyalah permainan kata (paizontos).

Maka sekarang, wahai tuan-tuan, mari kita perhatikan bersama bagaimana tampaknya ia berkata demikian; dan engkau, wahai Meletos, jawablah kepada kami. Dan kalian, seperti yang telah aku minta di awal, janganlah membuat keributan jika aku berbicara dengan cara yang biasa kulakukan.

Adakah, wahai Meletos, seseorang di antara manusia yang mengakui adanya hal-hal manusiawi (anthrōpeia) tetapi tidak mengakui keberadaan manusia (anthrōpous)? Jawablah, wahai pria yang mulia, dan jangan membuat kegaduhan. 

Adakah orang yang tidak mengakui keberadaan kuda (hippous), namun percaya pada hal-hal yang berkaitan dengan kuda (hippika pragmata)? Atau seseorang yang tidak percaya ada peniup seruling (aulētas), namun percaya pada hal-hal yang berkaitan dengan permainan seruling (aulētika pragmata)? Tidak mungkin, wahai yang terbaik di antara manusia. Jika engkau enggan menjawab, aku akan menjawab sendiri untukmu dan untuk yang lain di sini.

Sekarang jawablah ini: adakah orang yang mengakui keberadaan hal-hal daimonik (urusan yang bersifat ruhani, daimonia pragmata), tetapi tidak mengakui adanya para daimon (ruh-ruh ilahi, daimones)? “

“Tidak ada.”

“Ah, betapa baiknya jawabanmu, meskipun kau hanya menjawab karena terpaksa oleh orang-orang ini. Maka, menurutmu sendiri, aku meyakini dan mengajarkan hal-hal yang bersifat daimonik (daimonia), entah yang baru ataupun yang lama. Jadi, berdasarkan kata-katamu sendiri, aku meyakini hal-hal daimonik; bahkan engkau bersumpah demikian dalam tuduhanmu. Maka jika aku meyakini hal-hal daimonik, tentu aku juga harus meyakini keberadaan para daimon, bukan? Benar. Aku menganggap engkau setuju, karena engkau tidak menjawab.

Dan bukankah para daimon itu dianggap sebagai para dewa (theoi), atau sebagai anak-anak para dewa (theōn paides)? Engkau setuju, bukan?”

“ Ya, tentu.” 

“Maka, jika aku mengakui keberadaan para daimon, seperti yang engkau katakan, dan jika para daimon itu adalah dewa, maka ini tampaknya seperti yang kumaksudkan ketika mengatakan bahwa engkau berbicara seperti sedang bermain-main (ainittesthai kai charientizesthai): engkau menuduhku tidak percaya pada dewa, padahal aku mengakuinya kembali, sebab aku mengakui keberadaan para daimon.

Tetapi jika para daimon itu adalah anak-anak para dewa, meski mungkin anak yang lahir dari nimfa (nymphai) atau dari makhluk lain seperti yang diceritakan, maka siapa di antara manusia yang dapat menganggap bahwa anak-anak para dewa ada, namun para dewa itu sendiri tidak ada? Bukankah itu sama anehnya dengan seseorang yang percaya bahwa ada anak-anak kuda (paidas hippōn) atau keledai, yakni bagal (hēmionous), namun tidak percaya bahwa ada kuda atau keledai?

Tidak mungkin, wahai Meletos. Engkau jelas menulis tuduhan ini tanpa sungguh-sungguh mengujiku, atau karena engkau bingung sendiri terhadap tuduhan yang kau buat. Tetapi bagaimana mungkin engkau dapat meyakinkan siapa pun yang memiliki sedikit saja akal (noûn), bahwa hal-hal yang daimonik (daimonia) dan yang ilahi (theia) tidak berasal dari hal yang sama, atau bahwa seseorang bisa tidak mempercayai baik para daimon, maupun para dewa, maupun para pahlawan (hērōas)? Itu benar-benar mustahil.



28.

Namun sungguh, wahai orang-orang Athena, bahwa aku tidak bersalah sesuai dengan tuduhan Meletos, aku rasa tidak memerlukan pembelaan yang panjang; yang sedikit pun sudah cukup. Namun seperti yang telah kukatakan sebelumnya, bahwa aku telah menimbulkan banyak kebencian (apekhtheia) di hati banyak orang — kalian tahu bahwa itu benar adanya. Dan inilah, kalau memang aku harus binasa, yang akan menjatuhkanku — bukan Meletos, bukan pula Anytos, melainkan fitnah (diabolē) dan kedengkian (phthonos) orang banyak. Dua hal inilah yang telah membinasakan banyak orang baik sebelumnya, dan, aku yakin, akan membinasakan lebih banyak lagi di masa mendatang. Dan andai itu terjadi padaku, tidaklah mengherankan.

Mungkin seseorang akan berkata: “Tidakkah engkau malu, wahai Socrates, menjalani suatu cara hidup yang membuatmu kini berada di ambang kematian?” 

Kepada orang itu aku akan menjawab dengan alasan yang benar: “Engkau tidak berbicara dengan baik, wahai manusia, jika engkau mengira seseorang harus menimbang bahaya hidup dan mati ketika ia melakukan sesuatu yang berguna, sekecil apa pun manfaatnya. Yang seharusnya dipertimbangkan hanyalah: apakah yang ia lakukan itu adil (dikaia) atau tidak adil (adika), apakah perbuatan itu pantas bagi seorang baik (agathos) atau buruk (kakos).”

Sebab, menurut pikiranmu, mereka yang gugur di Troya akan tampak sebagai orang-orang bodoh — para pahlawan setengah dewa (hēmitheoi), dan terutama putra Thetis (Thētidos huios). Ia sama sekali tidak menghiraukan bahaya maut demi menghindari aib. Sebab ketika ibunya, yang seorang dewi (theos), memperingatkannya saat ia hendak membunuh Hector (Hektōr), katanya kira-kira begini:

“Wahai anakku, jika engkau menuntut balas atas kematian Patroklos (Patroklos), sahabatmu, dan membunuh Hector, maka engkau sendiri pun akan mati; sebab segera setelah Hector gugur, takdir (potmos) kematianmu telah siap menanti.”

Namun ia, setelah mendengar itu, mengabaikan kematian dan bahaya, lebih takut hidup dalam kehinaan dan tidak membela sahabatnya. Maka ia berkata: “Biar aku mati segera setelah menuntut keadilan bagi yang bersalah, agar aku tidak tinggal di sini menjadi bahan ejekan di dekat kapal-kapal berujung perak, beban di atas bumi.”

Apakah menurutmu ia memikirkan soal mati dan bahaya?

Begitulah kenyataannya, wahai warga Athena. Di mana pun seseorang menempatkan dirinya, atau ditempatkan oleh seorang pemimpin (archōn) karena dianggap yang terbaik, di situlah ia harus berdiri teguh (menonta kindyneuein), tidak memperhitungkan mati atau apa pun selain kehinaan (aischron).

Karena itu, aku akan menjadi orang yang tercela, wahai warga Athena, jika ketika para pemimpin yang kalian pilih menempatkanku — di Potidaia (Poteidaia), di Amphipolis (Amphipolis), dan di Delion (Dēlion) — aku tetap di tempatku seperti orang lain dan siap mati menghadapi bahaya; namun ketika kini yang memerintahku adalah Tuhan (ho theos) sendiri, sebagaimana aku yakini dan pahami, bahwa tugasku adalah hidup dalam filsafat (philosophein), meneliti (exetazein) diri sendiri dan orang lain, lalu aku justru takut — entah takut mati, atau takut hal lain — dan meninggalkan tugasku.


29.

Akan menjadi sesuatu yang benar-benar mengerikan (deinon), dan sungguh adil bila seseorang menyeretku ke pengadilan (dikastērion), jika aku ternyata tidak mempercayai para dewa (theoi) — yakni bila aku menentang perintah wahyu (manteia), takut akan kematian (thanatos), dan mengira diri bijak (sophos) padahal tidak. Sebab, wahai tuan-tuan, takut akan kematian tidak lain hanyalah merasa bijak padahal tidak. Itu artinya mengira tahu sesuatu yang sesungguhnya tidak diketahui.

Sebab tak seorang pun tahu apa itu kematian, atau apakah mungkin kematian justru merupakan kebaikan terbesar (megiston tōn agathōn) bagi manusia. Namun orang-orang takut, seolah mereka tahu pasti bahwa kematian adalah keburukan terbesar (megiston tōn kakōn). Bukankah itu adalah bentuk ketidaktahuan (amathia) yang paling tercela — yakni berpikir tahu sesuatu yang sebenarnya tidak diketahui?

Aku sendiri, wahai orang-orang sekalian, barangkali dalam hal inilah aku berbeda dari kebanyakan manusia. Dan jika aku boleh menganggap diriku sedikit lebih bijak (sophōteros) daripada seseorang, maka alasannya hanya ini: bahwa aku tidak tahu apa pun tentang apa yang terjadi di alam bawah (en Haidou), dan aku sadar bahwa aku tidak tahu. Tetapi aku tahu dengan pasti bahwa berbuat tidak adil (adikein) dan menentang yang lebih baik — entah itu ilahi atau manusiawi — adalah sesuatu yang jahat (kakon) dan memalukan (aischron).

Maka, terhadap hal-hal yang aku tahu pasti sebagai kejahatan, aku akan menghindarinya. Tapi terhadap hal-hal yang tidak kuketahui — bahkan mungkin merupakan kebaikan — aku tidak akan takut atau lari menjauhinya. Karena itu, sekalipun kalian sekarang membebaskanku, meski menolak kata-kata Anytos yang berkata bahwa aku seharusnya tidak pernah datang ke tempat ini, atau jika sudah datang, tak mungkin tidak dibunuh — sebab katanya, jika aku lolos, anak-anak kalian akan rusak oleh ajaranku — maka andaikata kalian berkata padaku:

“Socrates, kami tidak akan mengikuti Anytos; kami akan membebaskanmu, tetapi dengan syarat engkau harus berhenti menanyakan hal-hal seperti ini dan berhenti berfilsafat (philosophein). Jika engkau tertangkap melakukannya lagi, engkau akan mati.”

Kalau begitu, seperti yang telah kukatakan, jika kalian membebaskanku dengan syarat seperti itu, aku akan berkata:

“Wahai orang-orang Athena, aku menghormati dan mencintai kalian, tetapi aku akan menaati dewa (theos) lebih daripada kalian. Selama aku masih bernapas dan sanggup berbicara, aku tidak akan berhenti berfilsafat — menasihati dan menunjukkan kepada siapa pun yang kutemui, dengan cara yang biasa kulakukan — dengan mengatakan:

‘Wahai manusia terbaik, engkau orang Athena, warga kota yang besar dan termasyhur karena kebijaksanaan (sophia) dan kekuatan (ischys). Tidakkah engkau malu hanya sibuk mengusahakan sebanyak mungkin harta (chrēmata), kehormatan (timē), dan kemasyhuran (doxa), tetapi tidak peduli terhadap kebijaksanaan (phronēsis), kebenaran (alētheia), dan bagaimana menjadikan jiwamu (psychē) sebaik mungkin (aristē)?’”

Dan jika ada di antara kalian yang menyangkal dan berkata bahwa ia memperhatikan hal itu, aku tidak akan langsung pergi atau membiarkannya begitu saja, melainkan akan bertanya, memeriksa (exetazō), dan menguji (elenchō) dia. Jika ternyata bagiku ia tidak memiliki kebajikan (aretē), meski mengira dirinya memilikinya, aku akan menegurnya (oneidizō), karena menilai hal-hal yang paling berharga sebagai hal remeh, dan hal-hal yang sepele sebagai yang paling penting.

Hal ini akan kulakukan kepada siapa pun yang kutemui — baik muda maupun tua, warga asing (xenos) maupun warga kota (astōs) — terutama kepada warga kota, sebab kalianlah yang paling dekat denganku. 

Ketahuilah baik-baik: ini adalah perintah dari Tuhan (ho theos), dan aku percaya tidak ada kebaikan (agathon) yang lebih besar bagi kota ini daripada pelayananku kepada-Nya.

Sebab aku tidak melakukan apa pun selain berkeliling, meyakinkan setiap orang — tua maupun muda — agar tidak lebih dahulu dan tidak berlebihan memedulikan tubuh (sōma) atau harta (chrēmata), tetapi jiwa (psychē), supaya menjadi sebaik-baiknya (aristē). 

Aku selalu berkata: bukan dari kekayaan lahir keutamaan (aretē), melainkan dari keutamaanlah datang kekayaan dan segala kebaikan lainnya — bagi setiap orang, baik secara pribadi maupun bagi kota.

Jika karena perkataan semacam ini aku dianggap merusak kaum muda, maka sungguh, inilah yang disebut merusak. Tetapi jika ada yang menuduhku mengatakan hal lain selain ini, ia tidak mengatakan kebenaran. Maka, terhadap hal ini, wahai warga Athena, aku hanya akan berkata: apakah kalian menuruti Anytos atau tidak, apakah kalian membebaskanku atau tidak, ketahuilah — aku tidak akan pernah berhenti melakukan hal ini, sekalipun aku harus mati berkali-kali.


30.

Jangan ribut, wahai orang-orang Athena, tetaplah tenang sebagaimana telah kuminta dari kalian: jangan membuat keributan atas apa yang kukatakan, tetapi dengarkanlah. Sebab, menurutku, kalian akan memperoleh manfaat (onēsis) dengan mendengarkan. Aku akan mengatakan beberapa hal lagi, dan mungkin ada di antaranya yang akan membuat kalian berseru keras, tetapi tolong jangan lakukan itu.

Ketahuilah dengan baik: jika kalian membunuh aku yang seperti ini, sebagaimana aku jelaskan, kalian tidak akan mencelakai aku lebih besar daripada mencelakai diri kalian sendiri. Sebab Meletos maupun Anytos tidak dapat benar-benar menyakiti aku—mereka bahkan tidak mampu. Aku tidak percaya bahwa mungkin (themiton) bagi orang yang lebih buruk (cheirōn) bisa merugikan orang yang lebih baik (ameinōn).

Mereka mungkin bisa membunuhku, mengasingkanku (exelasseien), atau mencabut kehormatanku (atimōseien), dan mereka mungkin menganggap hal-hal itu sebagai kejahatan besar (megala kaka). Tetapi aku tidak berpikir demikian. Menurutku, melakukan hal seperti yang mereka lakukan sekarang—berusaha membunuh seseorang dengan cara yang tidak adil (adikōs)—adalah kejahatan yang jauh lebih besar.

Jadi sekarang, wahai orang-orang Athena, aku tidak sedang berbicara untuk membela diriku sendiri, seperti yang mungkin kalian sangka, melainkan untuk membela kalian—agar kalian tidak berbuat salah terhadap pemberian dewa (theos) kepada kalian dengan menjatuhkan vonis terhadap diriku.

Sebab jika kalian membunuhku, kalian tidak akan mudah menemukan orang lain sepertiku lagi. Aku katakan ini, walau mungkin terdengar lucu, bahwa aku telah ditempatkan oleh dewa bagi kota ini seperti seekor lalat pengusik (myōps) bagi seekor kuda besar yang kuat dan mulia (hippos megas kai gennaios), tetapi karena ukurannya yang besar, ia menjadi lamban dan membutuhkan seseorang untuk membangunkannya.

Demikianlah aku, menurut keyakinanku, telah ditempatkan oleh dewa bagi kota ini untuk mengusik, membangunkan, menasihati, dan menegur (oneidizōn) setiap orang di antara kalian, dan aku tidak pernah berhenti melakukannya, sepanjang hari, di mana pun aku berada.


31.

Orang seperti aku ini, wahai orang-orang Athena, tidak akan mudah kalian temukan lagi. Karena itu, jika kalian mau mendengarkanku, jagalah aku—jangan terburu-buru menyingkirkanku. Tapi aku tahu, mungkin kalian akan merasa jengkel, seperti orang yang sedang tertidur lalu dibangunkan. Kalian bisa saja, karena marah, menepuk dan membunuhku dengan mudah—seperti yang disarankan oleh Anytos—lalu setelah itu hidup kalian akan berjalan dalam tidur panjang, kecuali dewa (theos) mengutus orang lain untuk menggugah kalian lagi, karena masih peduli pada kalian.

Dan bahwa aku ini benar-benar dikirim oleh dewa untuk kota ini, bisa kalian pahami dari hal ini: tidak masuk akal kalau seorang manusia mau mengabaikan urusan pribadinya begitu lama, membiarkan keluarganya terbengkalai, dan malah menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengurus urusan kalian. Aku mendatangi kalian satu per satu, seperti seorang ayah atau saudara tua, menasihati agar kalian memperhatikan keutamaan (aretē).

Kalau aku melakukan semua ini demi bayaran (misthos), mungkin aku punya alasan. Tapi kalian sendiri tahu, bahkan para penuduhku yang tanpa malu menuduh banyak hal lain, tak pernah bisa menunjukkan satu pun saksi bahwa aku pernah menerima atau meminta upah. Bukti paling kuat justru kemiskinanku (penia); itu saja sudah cukup membuktikan bahwa aku jujur.

Kalian mungkin heran: kenapa aku berkeliling memberi nasihat secara pribadi, tapi tidak pernah tampil di depan umum untuk berbicara kepada seluruh rakyat (dēmos)? Alasannya adalah sesuatu yang sering kalian dengar dariku—suara ilahi (daimonion) yang datang padaku. Suara itu, yang juga disebut oleh Meletos dalam dakwaannya, sudah kudengar sejak masa kanak-kanak. Setiap kali suara itu muncul, ia selalu melarangku melakukan sesuatu yang hendak kulakukan, tapi tak pernah menyuruhku melakukan apa pun.

Suara itu pulalah yang menahanku untuk terlibat dalam urusan politik (ta politika)—dan menurutku, itu benar adanya. Sebab, percayalah, wahai orang-orang Athena, seandainya aku sejak dulu ikut campur dalam politik, aku pasti sudah mati sejak lama. Dan kalau itu terjadi, aku tak akan sempat bermanfaat bagi kalian maupun bagi diriku sendiri.

Jangan tersinggung kalau aku berkata jujur: tidak ada manusia yang bisa selamat jika ia sungguh-sungguh menentang mayoritas dan berusaha mencegah berbagai ketidakadilan (adikia) dan pelanggaran hukum (paranomia) yang terjadi di kota. Satu-satunya cara bagi orang yang sungguh memperjuangkan kebenaran (to dikaion) untuk tetap hidup—meskipun hanya sebentar—adalah dengan menjauh dari politik, dan memilih hidup sebagai pribadi biasa (idiōtēs), bukan sebagai tokoh publik (dēmosieuein).


32.

Aku akan memberi kalian bukti yang jelas tentang semua yang kukatakan—bukan lewat kata-kata (logoi), tapi lewat tindakan (erga), hal-hal yang kalian sendiri hormati lebih tinggi. Dengarkan baik-baik apa yang pernah terjadi padaku, agar kalian tahu bahwa aku tidak akan pernah tunduk pada siapa pun dengan cara yang tidak adil (para to dikaion), bahkan kalau itu berarti kematian (thanatos). Aku lebih memilih mati daripada melakukan sesuatu yang melanggar keadilan.

Aku akan berbicara terus terang—mungkin terdengar kasar dan seperti urusan pengadilan (dikanika)—tetapi ini adalah kebenaran. Wahai orang-orang Athena, aku tidak pernah memegang jabatan (archē) resmi di kota ini, tapi aku pernah menjadi anggota dewan (boulē). Waktu itu kebetulan suku kami, Antiochis, sedang bertugas sebagai dewan utama (prytaneuousa). Saat itulah kalian memutuskan untuk mengadili para jenderal (strategoi) yang gagal mengangkat jenazah prajurit setelah pertempuran laut. Kalian ingin mengadili mereka sekaligus, padahal itu melanggar hukum (paranomos)—dan seperti yang kemudian kalian sadari sendiri, keputusan itu memang salah.

Ketika semua orang setuju untuk melanggar hukum, aku satu-satunya yang menolak. Aku berdiri dan menentang keputusan itu. Aku memilih suara yang berlawanan (enantia psephisamēn) karena aku tahu tidak boleh ada keputusan yang bertentangan dengan hukum (nomos). Para orator (rhētores) siap menyeretku ke pengadilan, banyak dari kalian berteriak memaksaku tunduk. Tapi aku tetap pada pendirianku: lebih baik menanggung bahaya (diakindyneuein) demi kebenaran daripada bersama-sama kalian membuat keputusan yang tidak adil karena takut dipenjara atau dibunuh.

Itu terjadi saat kota masih di bawah pemerintahan demokrasi (dēmokratia). Tapi setelah kekuasaan jatuh ke tangan oligarki (oligarchia), para Tiga Puluh (Triakonta) memanggilku—aku termasuk satu dari lima orang yang dipanggil ke ruang dewan (tholos). Mereka memerintahkan kami untuk membawa Leon dari Salamis (Leōn ho Salaminios), agar ia dihukum mati, seperti yang juga mereka lakukan terhadap banyak orang lain, demi menambah korban.

Tapi kali ini aku membuktikan, bukan lewat kata-kata melainkan lewat perbuatan, bahwa aku tidak takut mati. Kalau boleh jujur, aku sama sekali tidak menganggap kematian penting. Yang penting bagiku hanyalah satu hal: jangan pernah melakukan apa pun yang tidak adil (adikon) atau tidak suci (anosion).

Kekuasaan itu, sekuat apa pun, tidak bisa memaksaku berbuat salah. Setelah kami keluar dari tholos, empat orang lainnya pergi ke Salamis dan membawa Leon. Aku sendiri tidak ikut—aku pulang ke rumah. Mungkin saja aku sudah mati karena hal itu, kalau kekuasaan mereka tidak cepat runtuh. Dan untuk semua ini, banyak di antara kalian bisa menjadi saksi (martyres).

Sekarang pikirkanlah, apakah kalian kira aku bisa hidup selama ini jika aku benar-benar ikut aktif dalam urusan negara (ta dēmosia), dan berani membela yang benar (ta dikaia) seperti seharusnya dilakukan oleh orang baik (anēr agathos)? Jelas tidak, wahai orang-orang Athena. Tak ada seorang pun di antara manusia yang akan bisa bertahan hidup jika ia sungguh-sungguh melawan ketidakadilan yang terjadi di kota ini.


33.

Selama hidupku, baik dalam urusan publik (dēmosia) maupun pribadi (idia), aku selalu sama—kalian akan melihat bahwa aku tidak pernah, kepada siapa pun, mengalah dalam hal yang bertentangan dengan keadilan (para to dikaion). Aku tidak pernah memberi kelonggaran, baik kepada orang lain maupun kepada siapa pun di antara mereka yang menuduhku sekarang, yang katanya adalah murid-muridku (mathētai).

Tapi sejujurnya, aku tak pernah menjadi guru (didaskalos) siapa pun. Jika ada yang ingin mendengarku berbicara atau melihat bagaimana aku hidup, entah ia muda atau tua, aku tak pernah melarang atau membedakan siapa pun. Aku tidak pernah menuntut bayaran (chrēmata), dan tidak pula berbicara hanya untuk orang yang membayar. 

Aku berbicara kepada siapa saja—baik kaya maupun miskin (plousios kai penēs)—yang ingin bertanya kepadaku, dan aku bersedia menjawab mereka yang ingin mendengarkan apa yang kukatakan.

Kalau kemudian dari mereka ada yang menjadi orang baik (chrēstos) atau tidak, aku sama sekali tidak bisa dipersalahkan. Sebab aku tak pernah berjanji mengajarkan apa pun, dan tak pernah memberi pelajaran tertentu (mathēma) kepada siapa pun. Dan jika ada yang mengatakan bahwa ia pernah belajar sesuatu dariku yang tidak juga didengar oleh orang lain, ketahuilah dengan pasti bahwa orang itu tidak berkata benar.

Jika demikian, mengapa ada orang-orang yang senang menghabiskan banyak waktu bersamaku (diatribōn)? Kalian, wahai orang-orang Athena, sudah mendengar alasannya: karena mereka senang mendengar ketika aku menguji (exetazō) mereka yang menyangka diri bijak (sophoi), padahal sebenarnya tidak. Dan mendengarkan hal semacam itu tidaklah membosankan—bahkan bisa menghibur.

Aku percaya bahwa pekerjaan ini diperintahkan kepadaku oleh dewa (theos): aku menjalankannya sesuai dengan perintah ilahi, baik lewat ramalan (manteia), mimpi (enypnia), maupun dengan segala cara lain yang bisa ditempuh manusia bila memang itu ditetapkan oleh kehendak ilahi (theia moira). Semua yang kukatakan ini, wahai orang-orang Athena, adalah benar dan dapat diuji kebenarannya.

Sebab jika benar aku merusak (diaphtheirō) para pemuda, atau telah merusak mereka di masa lalu, maka sewajarnya, ketika mereka sudah dewasa dan menyadari bahwa aku dulu pernah menyesatkan mereka, merekalah yang seharusnya berdiri di sini untuk menuduhku dan menuntut balas. 

Dan jika mereka sendiri tidak mau, maka tentu keluarga mereka—ayah, saudara, atau kerabat dekat—akan datang sekarang untuk mengingat dan menuntut keadilan, bila memang aku telah mencelakai orang-orang yang mereka kasihi.

Namun lihatlah—banyak dari mereka kini hadir di sini, dan aku melihat mereka sendiri. Pertama, Crito, teman seumuranku dan warga dari deme yang sama denganku, ayah dari Critoboulos ini. Lalu Lysanias dari Sphettos, ayah dari Aischines yang duduk di sini. Kemudian Antiphon dari Kephisia, ayah dari Epigenes.

Juga ada yang lainnya, mereka yang saudara-saudaranya dahulu sering bersamaku: Nikostratos, putra Theozotides, saudara dari Theodotos—meski Theodotos sudah meninggal, jadi tentu ia tak bisa lagi bersaksi. Dan di sini juga ada Paralos, putra Demodokos, saudara dari Theages; serta Adeimantos, putra Ariston, yang saudara laki-lakinya adalah orang yang kalian kenal, Plato. Dan juga Aiantodoros, saudara dari Apollodoros yang duduk di sini.


34.

Masih banyak lagi orang lain yang bisa kusebut, wahai orang-orang Athena. 

Di antara mereka, sebenarnya Meletos seharusnya memanggil salah satu sebagai saksi ketika menuduhku. Jika waktu itu dia lupa, sekarang pun aku mempersilahkannya—biarlah ia berdiri dan bersaksi, kalau memang ada orang yang bisa mengatakan bahwa aku telah melakukan hal seperti yang dituduhkan. 

Tapi kalian akan melihat justru sebaliknya: semua orang itu bersedia membelaku, aku yang disebut telah merusak (diaphtheirō) mereka, justru mereka berdiri di pihakku. Mereka yang katanya telah kusesatkan (kakourgōn), justru berpihak pada orang yang dituduh mencelakakan keluarga mereka—seperti yang dikatakan Meletos dan Anytos.

Kalau memang aku benar-benar telah merusak mereka, tentu mereka yang telah rusak itu sendiri punya alasan untuk membelaku. Tapi mereka yang tidak rusak, yang sekarang sudah dewasa dan berpikiran matang—mengapa mereka harus berpihak padaku, kecuali karena mereka tahu kebenaran (alētheia): bahwa Meletos berdusta (pseudesthai), sedangkan aku berkata benar (alētheuein)?

Baiklah, wahai orang-orang Athena, hampir semua hal yang ingin kusampaikan telah kukatakan. Mungkin masih ada beberapa hal lain yang serupa, tapi intinya sama saja. Mungkin saja ada di antara kalian yang merasa kesal, teringat pada dirinya sendiri: “Kenapa,” mungkin dia berpikir, “ketika aku dulu dihadapkan pada sidang yang lebih ringan dari ini, aku memohon dengan air mata kepada para hakim, membawa anak-anakku agar dikasihani, menghadirkan keluarga dan teman-temanku untuk memohon bersama—tapi Sokrates ini, meski menghadapi bahaya paling besar, tidak melakukan hal semacam itu?”

Mungkin karena itu ada yang menilai aku bersikap keras kepala (authadēs) atau sombong, dan karena marah lalu menjatuhkan suara dengan emosi. Jika ada di antara kalian yang berpikir begitu—meskipun aku berharap tidak—aku ingin menjawab dengan cara yang tenang dan pantas.

Sahabatku yang terbaik, aku juga manusia seperti kalian. Aku bukan lahir dari batu atau pohon, seperti kata Homer. Aku juga berasal dari manusia, maka tentu saja aku punya keluarga. Dan, wahai orang-orang Athena, aku punya tiga anak laki-laki: satu sudah remaja (meirakion), dua lainnya masih kecil (paidia). Tetapi aku tidak akan membawa mereka ke sini untuk memohon belas kasihan kalian agar membebaskanku.

Kalian mungkin bertanya-tanya, mengapa aku tidak melakukannya? Bukan karena aku sombong, wahai orang-orang Athena, dan bukan karena aku meremehkan kalian. Soal apakah aku berani menghadapi kematian atau tidak, itu urusan lain. Tetapi menurutku, demi kehormatan (doxa)—baik bagi diriku sendiri, bagi kalian, maupun bagi kota ini—tidak pantas bagiku, di usia setua ini, dengan nama yang telah kukenal sebagai Sokrates, untuk melakukan hal seperti itu.

Entah nama itu sungguh berarti atau tidak, setidaknya banyak orang beranggapan bahwa Sokrates berbeda (diapherein) dari kebanyakan manusia (hoi polloi anthrōpoi).


35.

Kalau begitu, seandainya di antara kalian yang dianggap unggul—entah dalam kebijaksanaan (sophia), keberanian (andreia), atau dalam keutamaan (aretē) lainnya—ternyata bersikap seperti itu, tentu sangat memalukan. Sebab aku sering melihat orang-orang yang ketika diadili tampak seperti seseorang yang penting, namun melakukan hal-hal yang benar-benar menyedihkan, seolah-olah sesuatu yang mengerikan akan menimpa mereka bila mereka mati—seakan mereka akan menjadi makhluk abadi jika kalian tidak menghukum mereka mati. 

Orang-orang seperti itu, menurutku, mencoreng kehormatan kota ini (polis), hingga membuat orang asing berpikir bahwa mereka yang unggul di antara orang Athena dalam hal kebajikan—yang kalian sendiri pilih untuk memegang jabatan dan kehormatan—ternyata tidak berbeda dengan perempuan dalam hal keberanian.

Hal seperti itu, wahai orang Athena, tidak sepantasnya kalian lakukan, terutama bagi kalian yang menganggap diri kalian istimewa dalam cara apa pun. Dan bila kami melakukannya, kalian pun tidak seharusnya mengizinkannya. Sebaliknya, kalian harus menunjukkan dengan jelas bahwa kalian akan lebih memilih menjatuhkan suara hukuman bagi orang yang membawa tontonan menyedihkan semacam itu dan mempermalukan kota, ketimbang bagi orang yang menjalani hidup dengan tenang (hēsychia).

Selain soal pandangan umum itu, wahai orang-orang Athena, aku juga berpikir bahwa tidaklah adil bagi seseorang untuk memohon belas kasihan kepada para hakim (dikastai), atau berusaha selamat dengan permohonan seperti itu. Hakim tidak duduk di situ untuk menyenangkan orang dalam urusan keadilan, tetapi untuk menilai yang benar dan yang salah. Ia telah bersumpah untuk tidak berbuat menurut kesenangannya sendiri, melainkan mengadili sesuai hukum (nomoi). 

Karena itu, tak pantas bila kami membuat kalian terbiasa melanggar sumpah (epiorkein), dan kalian pun tak pantas terbiasa melakukannya. Sebab bila itu terjadi, tak satu pun dari kita akan tetap saleh (eusebēs).

Janganlah kalian, wahai orang Athena, meminta aku melakukan hal-hal yang tidak kuanggap indah (kalon), tidak adil (dikaion), dan tidak suci (hosion). Terlebih lagi, demi Zeus, aku sedang berusaha menghindari tuduhan tak beriman (asebeia) yang diajukan oleh Meletos ini. Sebab jelas, jika aku membujuk kalian dan dengan permohonan memaksa kalian yang telah bersumpah untuk melanggar sumpah itu, maka aku sesungguhnya mengajarkan bahwa kalian tidak harus menghormati para dewa. Dengan begitu, aku sendiri akan menuduh diriku sebagai orang yang tidak mempercayai keberadaan dewa-dewa.

Namun keadaan jauh dari itu. Aku percaya, wahai orang-orang Athena, bahwa tidak satu pun dari para penuduhku yang benar. Dan kini aku menyerahkan sepenuhnya keputusan ini kepada kalian dan kepada Tuhan—biarlah Ia memutuskan bagaimana hasilnya akan menjadi yang terbaik, baik bagiku maupun bagi kalian.


36

Mengenai kenyataan bahwa kalian telah menjatuhkan vonis bersalah kepadaku, wahai orang-orang Athena, sebenarnya aku tidak merasa marah. Ada banyak hal yang membuatku bisa menerima keputusan ini, dan peristiwa ini pun sama sekali tidak mengejutkanku. Yang justru membuatku heran adalah selisih jumlah suara itu sendiri.

Aku sama sekali tidak menyangka hasilnya akan sedekat ini. Kukira aku akan kalah dengan selisih yang jauh lebih besar. Nyatanya, jika hanya tiga puluh suara saja berpindah ke pihakku, aku akan bebas. Bahkan, menurut penilaianku, aku sebenarnya sudah lolos dari tuntutan Meletos. Dan bukan hanya lolos—hal ini jelas bagi siapa pun—bahwa jika Anytos dan Lycon tidak ikut maju sebagai penuduh, Meletos bahkan tidak akan memperoleh seperlima suara, dan ia sendiri harus membayar denda seribu drachma.

Namun demikian, orang itu menuntut hukuman mati bagiku. Baiklah. Sekarang pertanyaannya: hukuman balasan apa yang patut kuajukan kepada kalian, wahai orang-orang Athena? Tentu hukuman yang setimpal dengan apa yang layak kuterima.

Lalu, apa sebenarnya yang pantas kuterima—baik sebagai penderitaan maupun sebagai balasan—mengingat bagaimana aku menjalani hidupku? Aku tidak hidup dengan diam dan nyaman. Aku justru mengabaikan hal-hal yang biasanya dikejar oleh kebanyakan orang: mencari uang, mengurus harta rumah tangga, mengejar jabatan militer, berpidato demi kekuasaan, menduduki jabatan-jabatan publik, ikut bersekongkol, atau terlibat dalam pertikaian politik yang terjadi di kota ini.

Aku sadar bahwa jika aku menempuh jalan seperti itu, aku tidak akan selamat—bukan hanya tidak berguna bagi kalian, tetapi juga bagi diriku sendiri. Karena itu aku memilih jalan lain: mendatangi setiap orang secara pribadi, dan di situlah aku merasa telah memberikan jasa yang paling besar, setidaknya menurut penilaianku sendiri. Aku berusaha meyakinkan setiap dari kalian agar tidak lebih dulu mengurus harta, jabatan, atau kepentingan apa pun sebelum mengurus diri sendiri—agar menjadi manusia yang sebaik dan sebijaksana mungkin. Demikian pula, aku mengingatkan agar kalian tidak lebih dulu mengurus urusan negara sebelum benar-benar memperhatikan kebaikan negara itu sendiri, dan hal yang sama berlaku untuk segala sesuatu yang lain.

Dengan cara hidup seperti itu, apa yang pantas kuterima? Sesuatu yang baik, wahai orang-orang Athena—jika memang keadilan benar-benar diberikan berdasarkan nilai yang sebenarnya. Dan kebaikan itu haruslah sesuatu yang layak bagiku.

Lalu, apa yang pantas bagi seorang yang miskin, tetapi telah berjasa, dan yang membutuhkan waktu luang agar bisa terus mendorong dan menasihati kalian? Tidak ada yang lebih pantas—wahai orang-orang Athena—selain bahwa orang seperti itu diberi makan di Prytaneion (balai kehormatan negara). Bahkan jauh lebih pantas daripada seseorang yang menang lomba kuda, kereta, atau pacuan di Olimpiade.

Sebab pemenang Olimpiade hanya membuat kalian tampak bahagia, sedangkan aku berusaha membuat kalian benar-benar bahagia. Dan lagi, mereka tidak membutuhkan nafkah dari negara—sementara aku membutuhkannya.


37.

Jika memang aku harus diberi balasan sesuai dengan keadilan dan nilai diriku yang sebenarnya, maka balasan itulah yang kupilih: diberi makan di Prytaneion.

Mungkin dengan mengatakan ini aku tampak berbicara dengan nada yang sama seperti ketika orang memohon belas kasihan—seolah-olah keras kepala dan menantang. Tetapi bukan itu maksudku, wahai orang-orang Athena. Keadaannya justru seperti ini: aku sungguh yakin bahwa aku tidak pernah dengan sengaja berbuat tidak adil kepada siapa pun. Hanya saja, keyakinan ini tidak sempat kuyakinkan kepada kalian, karena waktu kita berdialog terlalu singkat.

Seandainya kalian memiliki hukum—seperti yang dimiliki bangsa lain—bahwa perkara hukuman mati tidak diputuskan hanya dalam satu hari, melainkan dalam beberapa hari, aku yakin kalian akan terbujuk. Tetapi sekarang, dalam waktu sesingkat ini, tidak mudah menghapus tuduhan dan fitnah yang begitu besar.

Karena aku yakin tidak pernah berbuat tidak adil, maka aku sama sekali tidak mau berbuat tidak adil kepada diriku sendiri dengan mengakui bahwa aku pantas menerima hukuman buruk, lalu menjatuhkan hukuman itu atas diriku sendiri. Apa yang sebenarnya kutakuti? Apakah aku harus takut menerima hukuman yang dituntut Meletos—sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu apakah itu baik atau buruk? Lalu sebagai gantinya, haruskah aku memilih hukuman yang jelas-jelas aku tahu sebagai keburukan?

Apakah aku harus memilih penjara? Dan hidup terkurung di sana, menjadi tawanan kekuasaan yang terus berganti, di bawah kendali para pejabat? Atau denda uang, lalu ditahan sampai aku membayarnya? Itu pun sama saja, karena aku tidak memiliki uang untuk membayar denda itu.

Ataukah aku harus mengusulkan hukuman pengasingan? Mungkin saja kalian akan menjatuhkan hukuman itu kepadaku. Tetapi sungguh, wahai orang-orang Athena, aku akan sangat mencintai hidup secara berlebihan jika aku sebodoh itu—jika aku tidak mampu berpikir bahwa kalian, yang adalah sesama wargaku, saja tidak sanggup menanggung cara hidup dan perkataanku, bahkan menganggapnya berat dan menyebalkan hingga ingin menyingkirkanku—lalu aku mengira orang-orang di kota lain akan dengan mudah menerimanya. Itu sama sekali tidak masuk akal.

Apakah hidup yang baik bagiku, pada usia setua ini, harus kujalani dengan berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, terusir dan diusir? Aku tahu betul, ke mana pun aku pergi, anak-anak muda akan mendengarkan aku berbicara, seperti yang terjadi di sini. Dan jika aku mengusir mereka, merekalah yang akan mengusirku dengan membujuk orang-orang tua. Tetapi jika aku tidak mengusir mereka, maka para ayah dan keluarga mereka akan melakukannya, demi anak-anak itu.

Mungkin ada yang berkata:

“Kalau begitu, Socrates, tidakkah engkau bisa hidup dengan diam dan tenang saja setelah meninggalkan kota ini?”

Nah, justru inilah hal yang paling sulit dari semuanya—meyakinkan sebagian dari kalian tentang itu.



38.

Sebab jika aku mengatakan bahwa hidup diam dan tenang berarti tidak menaati perintah Tuhan, dan karena itu mustahil bagiku untuk hidup seperti itu, kalian tidak akan mempercayaiku—kalian akan mengira aku hanya sedang bersikap sinis atau bermain kata-kata. Tetapi jika aku mengatakan bahwa justru inilah kebaikan terbesar bagi manusia: setiap hari berbicara tentang kebajikan, membicarakan hal-hal yang selama ini kalian dengar dariku, berdialog sambil menguji diriku sendiri dan orang lain—dan bahwa hidup yang tidak diperiksa, hidup yang tidak direnungkan, tidak layak dijalani oleh manusia—maka kalian akan semakin tidak mempercayaiku.

Padahal kenyataannya memang demikian, wahai orang-orang Athena. Namun meyakinkan kalian bukanlah perkara mudah. Dan aku sendiri juga tidak terbiasa menuntut hukuman buruk apa pun atas diriku.

Seandainya aku memiliki harta, tentu aku akan mengusulkan denda sebesar yang mampu kubayar, karena itu tidak akan merugikanku. Tetapi kenyataannya aku tidak memilikinya—kecuali jika kalian bersedia menjatuhkan hukuman denda sebesar yang benar-benar sanggup kubayar. Barangkali aku sanggup membayar satu mina perak. Maka sebesar itulah aku mengusulkan dendaku.

Namun Plato yang hadir di sini—bersama Kriton, Kritoboulos, dan Apollodoros—mendesakku untuk mengusulkan denda tiga puluh mina, dan mereka sendiri bersedia menjadi penjaminnya. Maka aku mengusulkan denda sebesar itu, dan mereka inilah yang akan menjamin pembayaran peraknya, orang-orang yang dapat dipercaya.

Tetapi ketahuilah, wahai orang-orang Athena, bahwa tidak lama lagi kalian akan memperoleh nama dan reputasi buruk di mata mereka yang ingin mencela kota ini: mereka akan berkata bahwa kalian telah membunuh Socrates, seorang bijak. Mereka pasti akan menyebutku bijak—meskipun mungkin aku tidak demikian—demi mempermalukan kalian. Padahal jika kalian mau menunggu sedikit lebih lama saja, hal itu akan terjadi dengan sendirinya. Kalian dapat melihat sendiri usiaku: aku sudah jauh melangkah dalam hidup dan sangat dekat dengan kematian.

Aku mengatakan hal ini bukan kepada kalian semua, melainkan khusus kepada mereka yang menjatuhkan suara hukuman mati atasku. Dan kepada orang-orang yang sama itu, aku ingin mengatakan satu hal lagi.

Mungkin kalian mengira aku kalah karena kehabisan kata-kata—seolah-olah aku tidak menemukan argumen yang bisa membujuk kalian, seandainya aku mau mengatakan dan melakukan apa saja demi lolos dari hukuman. Sama sekali tidak demikian. Aku memang kalah, tetapi bukan karena kekurangan kata-kata, melainkan karena aku tidak memiliki keberanian untuk bersikap lancang dan tidak tahu malu—karena aku tidak mau mengatakan hal-hal yang paling ingin kalian dengar: meratap, menangis, memohon, dan melakukan serta mengucapkan banyak hal yang menurutku tidak pantas bagiku, sebagaimana biasa kalian dengar dari terdakwa lainnya.

Baik dulu maupun sekarang, aku tidak pernah menganggap pantas melakukan sesuatu yang tidak bermartabat demi menyelamatkan diri dari bahaya. Dan sekarang pun aku tidak menyesal telah membela diri dengan cara seperti ini. Bahkan, aku jauh lebih memilih mati setelah berbicara seperti ini, daripada hidup dengan cara yang lain.



39.

Sebab baik dalam pengadilan maupun di medan perang, tidak seharusnya siapa pun—baik aku maupun orang lain—merancang segala cara hanya untuk lolos dari kematian. Dalam peperangan pun sering terlihat jelas bahwa seseorang sebenarnya bisa menghindari kematian: cukup dengan membuang senjata dan berlari memohon belas kasihan kepada musuh yang mengejarnya. Ada banyak cara dalam setiap bahaya untuk menyelamatkan diri dari maut, jika seseorang berani melakukan dan mengatakan apa saja.

Tetapi bukan itulah yang paling sulit, wahai orang-orang Athena. Yang jauh lebih sulit adalah menghindari kejahatan dan keburukan. Sebab kejahatan berlari lebih cepat daripada kematian.

Sekarang ini, aku—karena lamban dan sudah tua—tertangkap oleh yang lebih lambat, yaitu kematian. Sementara para penuduhku—karena cekatan dan tajam—tertangkap oleh sesuatu yang jauh lebih cepat: keburukan. Maka kini aku pergi dari hadapan kalian dengan hukuman mati, sedangkan mereka pergi dengan hukuman dari kebenaran itu sendiri: kebusukan dan ketidakadilan. Aku menerima bagianku, dan mereka pun menerima bagiannya. Dan barangkali memang beginilah seharusnya keadaannya, dan menurutku semuanya terjadi secara wajar.

Sesudah ini, ada satu hal lagi yang ingin kusampaikan sebagai semacam nubuat kepada kalian yang menjatuhkan hukuman mati atasku. Sebab manusia biasanya bernubuat paling sungguh-sungguh ketika mereka berada di ambang kematian. Aku katakan kepada kalian—wahai orang-orang yang telah membunuhku—bahwa hukuman akan datang kepada kalian segera setelah kematianku, dan hukuman itu, demi Zeus, akan jauh lebih berat daripada hukuman yang kalian jatuhkan kepadaku.

Sebab kalian melakukan ini dengan keyakinan bahwa kalian akan terbebas dari keharusan mempertanggungjawabkan cara hidup kalian. Namun yang akan terjadi justru sebaliknya, seperti yang kukatakan. Akan muncul lebih banyak orang yang menguji dan menegur kalian—orang-orang yang selama ini kutahan tanpa kalian sadari. Dan mereka akan lebih keras lagi, karena mereka lebih muda, dan kalian akan semakin kesal menghadapinya.

Jika kalian mengira dengan membunuh orang-orang kalian bisa menghentikan celaan bahwa hidup kalian tidak benar, maka kalian keliru. Jalan itu bukanlah jalan keluar yang mungkin, dan juga bukan jalan yang baik. Jalan yang paling baik, paling indah, dan paling mudah bukanlah membungkam orang lain, melainkan mempersiapkan diri sendiri agar menjadi manusia sebaik mungkin.

Itulah nubuat yang kusampaikan kepada kalian yang menjatuhkan hukuman mati atasku. Dengan itu, aku mengakhiri kata-kataku kepada kalian.

Namun kepada kalian yang memilih membebaskanku, aku dengan senang hati ingin berbincang tentang peristiwa yang baru saja terjadi ini—selagi para pejabat masih sibuk dan waktunya belum tiba bagiku untuk pergi ke tempat di mana aku harus mati. Maka tetaplah di sini sebentar, wahai orang-orang Athena; tidak ada yang menghalangi kita untuk saling bercakap-cakap selama waktu masih mengizinkan.



40.

Kepada kalian—sebagai sahabat—aku ingin menjelaskan apa sebenarnya arti dari peristiwa yang kini menimpaku. Sebab bagiku, wahai para hakim—dan memang pantas aku menyebut kalian hakim—telah terjadi sesuatu yang sungguh menakjubkan.

Tanda ilahi yang biasa menyertaiku, suara batin yang bersifat menegur itu, selama hidupku selalu muncul dengan sangat sering dan pada hal-hal yang kecil sekalipun, setiap kali aku hendak melakukan sesuatu yang tidak benar. Namun sekarang, dalam peristiwa yang kalian lihat sendiri—peristiwa yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai puncak dari segala keburukan—tanda ilahi itu sama sekali tidak menentangku.

Ketika aku keluar dari rumah pagi-pagi tadi, tanda itu tidak muncul. Ketika aku melangkah menuju pengadilan ini, tanda itu juga tidak muncul. Bahkan ketika aku berbicara di sini dan hendak mengucapkan apa pun, tidak sekali pun ia menghentikanku. Padahal, dalam banyak kesempatan sebelumnya, ia sering menahanku di tengah-tengah pembicaraan. Tetapi kali ini, baik dalam tindakan maupun dalam ucapan, sama sekali tidak ada penentangan darinya.

Lalu, apa penyebabnya, menurutku? Aku akan mengatakannya kepada kalian. Bisa jadi—dan sangat mungkin—bahwa apa yang menimpaku ini justru adalah sesuatu yang baik. Dan tampaknya kita keliru ketika menganggap kematian sebagai sesuatu yang buruk.

Ini menjadi tanda yang sangat kuat bagiku. Sebab tidak mungkin suara batin itu diam, jika aku sedang melangkah menuju sesuatu yang buruk. Kenyataannya, ia sama sekali tidak menegurku.

Mari kita pertimbangkan pula dengan cara lain, bahwa ada harapan besar bahwa kematian itu memang baik. Sebab kematian hanya mungkin berarti salah satu dari dua hal.

Yang pertama: kematian adalah ketiadaan total—tidak ada apa pun, tidak ada kesadaran, tidak ada perasaan apa pun bagi orang yang telah mati.

Yang kedua: seperti yang banyak dikatakan orang, kematian adalah suatu perubahan, suatu perpindahan jiwa dari tempat ini menuju tempat lain.

Jika kematian adalah ketiadaan kesadaran—seperti tidur nyenyak tanpa mimpi sedikit pun—maka kematian adalah keuntungan yang luar biasa. Sebab, menurutku, jika seseorang diminta memilih satu malam di mana ia tidur begitu lelap hingga tidak bermimpi sama sekali, lalu membandingkan malam itu dengan seluruh hari dan malam dalam hidupnya, dan diminta menilai berapa banyak hari dan malam yang benar-benar lebih baik dan lebih menyenangkan daripada malam itu, aku yakin bukan hanya orang biasa, bahkan raja yang paling agung sekalipun akan menemukan jumlahnya sangat sedikit.

Jika demikian hakikat kematian, maka aku mengatakan bahwa kematian adalah sebuah keuntungan. Sebab seluruh rentang waktu tampaknya tidak lebih dari satu malam saja.

Namun jika kematian adalah sebuah perjalanan—perpindahan dari dunia ini ke tempat lain—dan jika benar apa yang dikatakan bahwa semua orang yang telah mati berada di sana, kebaikan apa yang bisa lebih besar daripada itu, wahai para hakim?



41.

Sebab jika seseorang tiba di dunia bawah, di Hades, dan terbebas dari para “hakim” di sini yang hanya mengaku-ngaku sebagai hakim, lalu bertemu dengan para hakim yang benar-benar sejati—mereka yang memang dikatakan mengadili di sana: Minos, Rhadamanthys, Aiakos, Triptolemos, dan para setengah dewa lain yang hidup adil semasa hidupnya—apakah perjalanan seperti itu bisa disebut buruk?

Atau lagi, berjumpa dengan Orfeus, Musaios, Hesiodos, dan Homer—berapa besar di antara kalian yang tidak rela membayar apa pun untuk bisa mengalami pertemuan seperti itu? Bagiku sendiri, aku akan berkali-kali rela mati jika semua itu benar. Sebab bagiku, kehidupan di sana akan sungguh menakjubkan: bertemu Palamedes, Ajax putra Telamon, dan siapa pun dari orang-orang zaman dahulu yang mati karena pengadilan yang tidak adil, lalu membandingkan penderitaanku dengan penderitaan mereka—menurutku, itu sama sekali tidak akan menyakitkan.

Dan yang paling utama: aku bisa terus melakukan hal yang sama seperti di sini—memeriksa dan menguji orang-orang di sana, menanyai siapa yang sungguh bijaksana dan siapa yang hanya mengira dirinya bijaksana padahal tidak. Betapa berharganya kesempatan itu, wahai para hakim, untuk menguji orang yang memimpin pasukan besar ke Troya, atau Odysseus, atau Sisyphos, dan ribuan lelaki serta perempuan lainnya—berdialog, hidup bersama mereka, dan menguji mereka. Itu akan menjadi kebahagiaan yang tak terbayangkan.

Dan tentu saja, orang-orang di sana tidak akan membunuh seseorang karena hal-hal seperti itu. Sebab dalam banyak hal, mereka yang ada di sana lebih berbahagia daripada mereka yang masih hidup di sini, dan untuk selanjutnya mereka bahkan bersifat abadi—jika memang apa yang dikatakan itu benar.

Karena itu, kalian pun, wahai para hakim, patut memiliki harapan baik terhadap kematian. Peganglah satu hal ini sebagai kebenaran: tidak ada keburukan apa pun yang dapat menimpa orang yang baik, baik ketika ia hidup maupun setelah ia mati, dan kehidupan orang seperti itu tidak pernah diabaikan oleh para dewa.

Apa yang menimpaku sekarang pun bukanlah kebetulan belaka. Jelas bagiku bahwa mati sekarang dan terbebas dari segala urusan dunia justru lebih baik bagiku. Itulah sebabnya tanda ilahi itu sama sekali tidak menghalangiku. Dan karena itu pula, aku tidak menyimpan kebencian yang besar terhadap mereka yang menjatuhkan hukuman mati atasku, maupun terhadap para penuduhku.

Meski demikian, mereka memang tidak bertindak dengan maksud seperti ini; mereka mengira telah mencelakaiku. Itulah satu-satunya hal yang pantas disesalkan dari mereka.

Namun ada satu permintaan terakhir yang kusampaikan kepada kalian. Jika kelak anak-anakku telah dewasa, hukumlah mereka dengan cara yang sama seperti aku menyusahkan kalian: tegurlah mereka jika kalian melihat mereka lebih mengutamakan uang atau hal lain apa pun daripada kebajikan. Dan jika mereka mengira diri mereka penting padahal sebenarnya tidak, cela dan sadarkanlah mereka, sebagaimana aku mencela dan menyadarkan kalian—bahwa mereka tidak memperhatikan apa yang seharusnya diperhatikan, dan mengira diri mereka bernilai padahal tidak layak demikian.


42.

Dan jika kalian melakukan semua itu, maka aku akan merasa telah menerima keadilan dari kalian—baik aku sendiri maupun anak-anakku.

Namun kini waktunya telah tiba untuk berpisah. Aku pergi menuju kematian, sementara kalian kembali menjalani kehidupan. Siapa di antara kita yang menuju keadaan yang lebih baik, tidaklah diketahui oleh siapa pun—kecuali oleh Tuhan.



TEKS YUNANI:

1

17

17a

ὅτι μὲν ὑμεῖς, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, πεπόνθατε ὑπὸ τῶν ἐμῶν κατηγόρων, οὐκ οἶδα· ἐγὼ δʼ οὖν καὶ αὐτὸς ὑπʼ αὐτῶν ὀλίγου ἐμαυτοῦ ἐπελαθόμην, οὕτω πιθανῶς ἔλεγον. καίτοι ἀληθές γε ὡς ἔπος εἰπεῖν οὐδὲν εἰρήκασιν. μάλιστα δὲ αὐτῶν ἓν ἐθαύμασα τῶν πολλῶν ὧν ἐψεύσαντο, τοῦτο ἐν ᾧ ἔλεγον ὡς χρῆν ὑμᾶς εὐλαβεῖσθαι μὴ ὑπʼ ἐμοῦ ἐξαπατηθῆτε

17b

ὡς δεινοῦ ὄντος λέγειν. τὸ γὰρ μὴ αἰσχυνθῆναι ὅτι αὐτίκα ὑπʼ ἐμοῦ ἐξελεγχθήσονται ἔργῳ, ἐπειδὰν μηδʼ ὁπωστιοῦν φαίνωμαι δεινὸς λέγειν, τοῦτό μοι ἔδοξεν αὐτῶν ἀναισχυντότατον εἶναι, εἰ μὴ ἄρα δεινὸν καλοῦσιν οὗτοι λέγειν τὸν τἀληθῆ λέγοντα· εἰ μὲν γὰρ τοῦτο λέγουσιν, ὁμολογοίην ἂν ἔγωγε οὐ κατὰ τούτους εἶναι ῥήτωρ. οὗτοι μὲν οὖν, ὥσπερ ἐγὼ λέγω, ἤ τι ἢ οὐδὲν ἀληθὲς εἰρήκασιν, ὑμεῖς δέ μου ἀκούσεσθε πᾶσαν τὴν ἀλήθειαν—οὐ μέντοι μὰ Δία, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, κεκαλλιεπημένους γε λόγους, ὥσπερ οἱ τούτων,

17c

ῥήμασί τε καὶ ὀνόμασιν οὐδὲ κεκοσμημένους, ἀλλʼ ἀκούσεσθε εἰκῇ λεγόμενα τοῖς ἐπιτυχοῦσιν ὀνόμασιν—πιστεύω γὰρ δίκαια εἶναι ἃ λέγω—καὶ μηδεὶς ὑμῶν προσδοκησάτω ἄλλως· οὐδὲ γὰρ ἂν δήπου πρέποι, ὦ ἄνδρες, τῇδε τῇ ἡλικίᾳ ὥσπερ μειρακίῳ πλάττοντι λόγους εἰς ὑμᾶς εἰσιέναι. καὶ μέντοι καὶ πάνυ, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, τοῦτο ὑμῶν δέομαι καὶ παρίεμαι· ἐὰν διὰ τῶν αὐτῶν λόγων ἀκούητέ μου ἀπολογουμένου διʼ ὧνπερ εἴωθα λέγειν καὶ ἐν ἀγορᾷ ἐπὶ τῶν τραπεζῶν, ἵνα ὑμῶν πολλοὶ ἀκηκόασι, καὶ ἄλλοθι, μήτε

17d

θαυμάζειν μήτε θορυβεῖν τούτου ἕνεκα. ἔχει γὰρ οὑτωσί. νῦν ἐγὼ πρῶτον ἐπὶ δικαστήριον ἀναβέβηκα, ἔτη γεγονὼς ἑβδομήκοντα· ἀτεχνῶς οὖν ξένως ἔχω τῆς ἐνθάδε λέξεως.


18

ὥσπερ οὖν ἄν, εἰ τῷ ὄντι ξένος ἐτύγχανον ὤν, συνεγιγνώσκετε δήπου ἄν μοι εἰ ἐν ἐκείνῃ τῇ φωνῇ τε καὶ τῷ τρόπῳ

18

18a

ἔλεγον ἐν οἷσπερ ἐτεθράμμην, καὶ δὴ καὶ νῦν τοῦτο ὑμῶν δέομαι δίκαιον, ὥς γέ μοι δοκῶ, τὸν μὲν τρόπον τῆς λέξεως ἐᾶν—ἴσως μὲν γὰρ χείρων, ἴσως δὲ βελτίων ἂν εἴη—αὐτὸ δὲ τοῦτο σκοπεῖν καὶ τούτῳ τὸν νοῦν προσέχειν, εἰ δίκαια λέγω ἢ μή· δικαστοῦ μὲν γὰρ αὕτη ἀρετή, ῥήτορος δὲ τἀληθῆ λέγειν.

πρῶτον μὲν οὖν δίκαιός εἰμι ἀπολογήσασθαι, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, πρὸς τὰ πρῶτά μου ψευδῆ κατηγορημένα καὶ τοὺς πρώτους κατηγόρους, ἔπειτα δὲ πρὸς τὰ ὕστερον καὶ τοὺς

18b

ὑστέρους. ἐμοῦ γὰρ πολλοὶ κατήγοροι γεγόνασι πρὸς ὑμᾶς καὶ πάλαι πολλὰ ἤδη ἔτη καὶ οὐδὲν ἀληθὲς λέγοντες, οὓς ἐγὼ μᾶλλον φοβοῦμαι ἢ τοὺς ἀμφὶ Ἄνυτον, καίπερ ὄντας καὶ τούτους δεινούς· ἀλλʼ ἐκεῖνοι δεινότεροι, ὦ ἄνδρες, οἳ ὑμῶν τοὺς πολλοὺς ἐκ παίδων παραλαμβάνοντες ἔπειθόν τε καὶ κατηγόρουν ἐμοῦ μᾶλλον οὐδὲν ἀληθές, ὡς ἔστιν τις Σωκράτης σοφὸς ἀνήρ, τά τε μετέωρα φροντιστὴς καὶ τὰ ὑπὸ γῆς πάντα ἀνεζητηκὼς καὶ τὸν ἥττω λόγον κρείττω

18c

ποιῶν. οὗτοι, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, οἱ ταύτην τὴν φήμην κατασκεδάσαντες, οἱ δεινοί εἰσίν μου κατήγοροι· οἱ γὰρ ἀκούοντες ἡγοῦνται τοὺς ταῦτα ζητοῦντας οὐδὲ θεοὺς νομίζειν. ἔπειτά εἰσιν οὗτοι οἱ κατήγοροι πολλοὶ καὶ πολὺν χρόνον ἤδη κατηγορηκότες, ἔτι δὲ καὶ ἐν ταύτῃ τῇ ἡλικίᾳ λέγοντες πρὸς ὑμᾶς ἐν ᾗ ἂν μάλιστα ἐπιστεύσατε, παῖδες ὄντες ἔνιοι ὑμῶν καὶ μειράκια, ἀτεχνῶς ἐρήμην κατηγοροῦντες ἀπολογουμένου οὐδενός. ὃ δὲ πάντων ἀλογώτατον, ὅτι οὐδὲ τὰ

18d

ὀνόματα οἷόν τε αὐτῶν εἰδέναι καὶ εἰπεῖν, πλὴν εἴ τις κωμῳδοποιὸς τυγχάνει ὤν. ὅσοι δὲ φθόνῳ καὶ διαβολῇ χρώμενοι ὑμᾶς ἀνέπειθον—οἱ δὲ καὶ αὐτοὶ πεπεισμένοι ἄλλους πείθοντες—οὗτοι πάντες ἀπορώτατοί εἰσιν· οὐδὲ γὰρ ἀναβιβάσασθαι οἷόν τʼ ἐστὶν αὐτῶν ἐνταυθοῖ οὐδʼ ἐλέγξαι οὐδένα, ἀλλʼ ἀνάγκη ἀτεχνῶς ὥσπερ σκιαμαχεῖν ἀπολογούμενόν τε καὶ ἐλέγχειν μηδενὸς ἀποκρινομένου. ἀξιώσατε οὖν καὶ ὑμεῖς, ὥσπερ ἐγὼ λέγω, διττούς μου τοὺς κατηγόρους γεγονέναι, ἑτέρους μὲν τοὺς ἄρτι κατηγορήσαντας, ἑτέρους δὲ

18e

τοὺς πάλαι οὓς ἐγὼ λέγω, καὶ οἰήθητε δεῖν πρὸς ἐκείνους πρῶτόν με ἀπολογήσασθαι· καὶ γὰρ ὑμεῖς ἐκείνων πρότερον ἠκούσατε κατηγορούντων καὶ πολὺ μᾶλλον ἢ τῶνδε τῶν ὕστερον.


19

εἶεν· ἀπολογητέον δή, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, καὶ ἐπιχειρητέον

19

19a

ὑμῶν ἐξελέσθαι τὴν διαβολὴν ἣν ὑμεῖς ἐν πολλῷ χρόνῳ ἔσχετε ταύτην ἐν οὕτως ὀλίγῳ χρόνῳ. βουλοίμην μὲν οὖν ἂν τοῦτο οὕτως γενέσθαι, εἴ τι ἄμεινον καὶ ὑμῖν καὶ ἐμοί, καὶ πλέον τί με ποιῆσαι ἀπολογούμενον· οἶμαι δὲ αὐτὸ χαλεπὸν εἶναι, καὶ οὐ πάνυ με λανθάνει οἷόν ἐστιν. ὅμως τοῦτο μὲν ἴτω ὅπῃ τῷ θεῷ φίλον, τῷ δὲ νόμῳ πειστέον καὶ ἀπολογητέον.

ἀναλάβωμεν οὖν ἐξ ἀρχῆς τίς ἡ κατηγορία ἐστὶν ἐξ ἧς

19b

ἡ ἐμὴ διαβολὴ γέγονεν, ᾗ δὴ καὶ πιστεύων Μέλητός με ἐγράψατο τὴν γραφὴν ταύτην. εἶεν· τί δὴ λέγοντες διέβαλλον οἱ διαβάλλοντες; ὥσπερ οὖν κατηγόρων τὴν ἀντωμοσίαν δεῖ ἀναγνῶναι αὐτῶν· Σωκράτης ἀδικεῖ καὶ περιεργάζεται ζητῶν τά τε ὑπὸ γῆς καὶ οὐράνια καὶ τὸν ἥττω λόγον κρείττω

19c

ποιῶν καὶ ἄλλους ταὐτὰ ταῦτα διδάσκων. τοιαύτη τίς ἐστιν· ταῦτα γὰρ ἑωρᾶτε καὶ αὐτοὶ ἐν τῇ Ἀριστοφάνους κωμῳδίᾳ, Σωκράτη τινὰ ἐκεῖ περιφερόμενον, φάσκοντά τε ἀεροβατεῖν καὶ ἄλλην πολλὴν φλυαρίαν φλυαροῦντα, ὧν ἐγὼ οὐδὲν οὔτε μέγα οὔτε μικρὸν πέρι ἐπαΐω. καὶ οὐχ ὡς ἀτιμάζων λέγω τὴν τοιαύτην ἐπιστήμην, εἴ τις περὶ τῶν τοιούτων σοφός ἐστιν—μή πως ἐγὼ ὑπὸ Μελήτου τοσαύτας δίκας φεύγοιμι— ἀλλὰ γὰρ ἐμοὶ τούτων, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, οὐδὲν μέτεστιν.

19d

μάρτυρας δὲ αὖ ὑμῶν τοὺς πολλοὺς παρέχομαι, καὶ ἀξιῶ ὑμᾶς ἀλλήλους διδάσκειν τε καὶ φράζειν, ὅσοι ἐμοῦ πώποτε ἀκηκόατε διαλεγομένου—πολλοὶ δὲ ὑμῶν οἱ τοιοῦτοί εἰσιν— φράζετε οὖν ἀλλήλοις εἰ πώποτε ἢ μικρὸν ἢ μέγα ἤκουσέ τις ὑμῶν ἐμοῦ περὶ τῶν τοιούτων διαλεγομένου, καὶ ἐκ τούτου γνώσεσθε ὅτι τοιαῦτʼ ἐστὶ καὶ τἆλλα περὶ ἐμοῦ ἃ οἱ πολλοὶ λέγουσιν.

ἀλλὰ γὰρ οὔτε τούτων οὐδέν ἐστιν, οὐδέ γʼ εἴ τινος ἀκηκόατε ὡς ἐγὼ παιδεύειν ἐπιχειρῶ ἀνθρώπους καὶ χρήματα

19e

πράττομαι, οὐδὲ τοῦτο ἀληθές. ἐπεὶ καὶ τοῦτό γέ μοι δοκεῖ καλὸν εἶναι, εἴ τις οἷός τʼ εἴη παιδεύειν ἀνθρώπους ὥσπερ Γοργίας τε ὁ Λεοντῖνος καὶ Πρόδικος ὁ Κεῖος καὶ Ἱππίας ὁ Ἠλεῖος.


20

τούτων γὰρ ἕκαστος, ὦ ἄνδρες, οἷός τʼ ἐστὶν ἰὼν εἰς ἑκάστην τῶν πόλεων τοὺς νέους—οἷς ἔξεστι τῶν ἑαυτῶν πολιτῶν προῖκα συνεῖναι ᾧ ἂν βούλωνται—τούτους πείθουσι

20

20a

τὰς ἐκείνων συνουσίας ἀπολιπόντας σφίσιν συνεῖναι χρήματα διδόντας καὶ χάριν προσειδέναι. ἐπεὶ καὶ ἄλλος ἀνήρ ἐστι Πάριος ἐνθάδε σοφὸς ὃν ἐγὼ ᾐσθόμην ἐπιδημοῦντα· ἔτυχον γὰρ προσελθὼν ἀνδρὶ ὃς τετέλεκε χρήματα σοφισταῖς πλείω ἢ σύμπαντες οἱ ἄλλοι, Καλλίᾳ τῷ Ἱππονίκου· τοῦτον οὖν ἀνηρόμην—ἐστὸν γὰρ αὐτῷ δύο ὑεῖ— ὦ Καλλία, ἦν δʼ ἐγώ, εἰ μέν σου τὼ ὑεῖ πώλω ἢ μόσχω ἐγενέσθην, εἴχομεν ἂν αὐτοῖν ἐπιστάτην λαβεῖν καὶ μισθώσασθαι ὃς

20b

ἔμελλεν αὐτὼ καλώ τε κἀγαθὼ ποιήσειν τὴν προσήκουσαν ἀρετήν, ἦν δʼ ἂν οὗτος ἢ τῶν ἱππικῶν τις ἢ τῶν γεωργικῶν· νῦν δʼ ἐπειδὴ ἀνθρώπω ἐστόν, τίνα αὐτοῖν ἐν νῷ ἔχεις ἐπιστάτην λαβεῖν; τίς τῆς τοιαύτης ἀρετῆς, τῆς ἀνθρωπίνης τε καὶ πολιτικῆς, ἐπιστήμων ἐστίν; οἶμαι γάρ σε ἐσκέφθαι διὰ τὴν τῶν ὑέων κτῆσιν. ἔστιν τις, ἔφην ἐγώ, ἢ οὔ; πάνυ γε, ἦ δʼ ὅς. τίς, ἦν δʼ ἐγώ, καὶ ποδαπός, καὶ πόσου διδάσκει; Εὔηνος, ἔφη, ὦ Σώκρατες, Πάριος, πέντε μνῶν. καὶ ἐγὼ τὸν Εὔηνον ἐμακάρισα εἰ ὡς ἀληθῶς

20c

ἔχοι ταύτην τὴν τέχνην καὶ οὕτως ἐμμελῶς διδάσκει. ἐγὼ γοῦν καὶ αὐτὸς ἐκαλλυνόμην τε καὶ ἡβρυνόμην ἂν εἰ ἠπιστάμην ταῦτα· ἀλλʼ οὐ γὰρ ἐπίσταμαι, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι.

ὑπολάβοι ἂν οὖν τις ὑμῶν ἴσως· ἀλλʼ, ὦ Σώκρατες, τὸ σὸν τί ἐστι πρᾶγμα; πόθεν αἱ διαβολαί σοι αὗται γεγόνασιν; οὐ γὰρ δήπου σοῦ γε οὐδὲν τῶν ἄλλων περιττότερον πραγματευομένου ἔπειτα τοσαύτη φήμη τε καὶ λόγος γέγονεν, εἰ μή τι ἔπραττες ἀλλοῖον ἢ οἱ πολλοί. λέγε οὖν ἡμῖν τί

20d

ἐστιν, ἵνα μὴ ἡμεῖς περὶ σοῦ αὐτοσχεδιάζωμεν. ταυτί μοι δοκεῖ δίκαια λέγειν ὁ λέγων, κἀγὼ ὑμῖν πειράσομαι ἀποδεῖξαι τί ποτʼ ἐστὶν τοῦτο ὃ ἐμοὶ πεποίηκεν τό τε ὄνομα καὶ τὴν διαβολήν. ἀκούετε δή. καὶ ἴσως μὲν δόξω τισὶν ὑμῶν παίζειν· εὖ μέντοι ἴστε, πᾶσαν ὑμῖν τὴν ἀλήθειαν ἐρῶ. ἐγὼ γάρ, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, διʼ οὐδὲν ἀλλʼ ἢ διὰ σοφίαν τινὰ τοῦτο τὸ ὄνομα ἔσχηκα. ποίαν δὴ σοφίαν ταύτην; ἥπερ ἐστὶν ἴσως ἀνθρωπίνη σοφία· τῷ ὄντι γὰρ κινδυνεύω ταύτην εἶναι σοφός. οὗτοι δὲ τάχʼ ἄν, οὓς ἄρτι

20e

ἔλεγον, μείζω τινὰ ἢ κατʼ ἄνθρωπον σοφίαν σοφοὶ εἶεν, ἢ οὐκ ἔχω τί λέγω· οὐ γὰρ δὴ ἔγωγε αὐτὴν ἐπίσταμαι, ἀλλʼ ὅστις φησὶ ψεύδεταί τε καὶ ἐπὶ διαβολῇ τῇ ἐμῇ λέγει. καί μοι, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, μὴ θορυβήσητε, μηδʼ ἐὰν δόξω τι ὑμῖν μέγα λέγειν· οὐ γὰρ ἐμὸν ἐρῶ τὸν λόγον ὃν ἂν λέγω, ἀλλʼ εἰς ἀξιόχρεων ὑμῖν τὸν λέγοντα ἀνοίσω. τῆς γὰρ ἐμῆς, εἰ δή τίς ἐστιν σοφία καὶ οἵα, μάρτυρα ὑμῖν παρέξομαι τὸν θεὸν τὸν ἐν Δελφοῖς. Χαιρεφῶντα γὰρ ἴστε που.


21

οὗτος

21

21a

ἐμός τε ἑταῖρος ἦν ἐκ νέου καὶ ὑμῶν τῷ πλήθει ἑταῖρός τε καὶ συνέφυγε τὴν φυγὴν ταύτην καὶ μεθʼ ὑμῶν κατῆλθε. καὶ ἴστε δὴ οἷος ἦν Χαιρεφῶν, ὡς σφοδρὸς ἐφʼ ὅτι ὁρμήσειεν. καὶ δή ποτε καὶ εἰς Δελφοὺς ἐλθὼν ἐτόλμησε τοῦτο μαντεύσασθαι—καί, ὅπερ λέγω, μὴ θορυβεῖτε, ὦ ἄνδρες—ἤρετο γὰρ δὴ εἴ τις ἐμοῦ εἴη σοφώτερος. ἀνεῖλεν οὖν ἡ Πυθία μηδένα σοφώτερον εἶναι. καὶ τούτων πέρι ὁ ἀδελφὸς ὑμῖν αὐτοῦ οὑτοσὶ μαρτυρήσει, ἐπειδὴ ἐκεῖνος τετελεύτηκεν.

21b

σκέψασθε δὴ ὧν ἕνεκα ταῦτα λέγω· μέλλω γὰρ ὑμᾶς διδάξειν ὅθεν μοι ἡ διαβολὴ γέγονεν. ταῦτα γὰρ ἐγὼ ἀκούσας ἐνεθυμούμην οὑτωσί· τί ποτε λέγει ὁ θεός, καὶ τί ποτε αἰνίττεται; ἐγὼ γὰρ δὴ οὔτε μέγα οὔτε σμικρὸν σύνοιδα ἐμαυτῷ σοφὸς ὤν· τί οὖν ποτε λέγει φάσκων ἐμὲ σοφώτατον εἶναι; οὐ γὰρ δήπου ψεύδεταί γε· οὐ γὰρ θέμις αὐτῷ. καὶ πολὺν μὲν χρόνον ἠπόρουν τί ποτε λέγει· ἔπειτα μόγις πάνυ ἐπὶ ζήτησιν αὐτοῦ τοιαύτην τινὰ ἐτραπόμην. ἦλθον ἐπί τινα τῶν δοκούντων σοφῶν εἶναι, ὡς

21c

ἐνταῦθα εἴπερ που ἐλέγξων τὸ μαντεῖον καὶ ἀποφανῶν τῷ χρησμῷ ὅτι οὑτοσὶ ἐμοῦ σοφώτερός ἐστι, σὺ δʼ ἐμὲ ἔφησθα. διασκοπῶν οὖν τοῦτον—ὀνόματι γὰρ οὐδὲν δέομαι λέγειν, ἦν δέ τις τῶν πολιτικῶν πρὸς ὃν ἐγὼ σκοπῶν τοιοῦτόν τι ἔπαθον, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, καὶ διαλεγόμενος αὐτῷ—ἔδοξέ μοι οὗτος ὁ ἀνὴρ δοκεῖν μὲν εἶναι σοφὸς ἄλλοις τε πολλοῖς ἀνθρώποις καὶ μάλιστα ἑαυτῷ, εἶναι δʼ οὔ· κἄπειτα ἐπειρώμην αὐτῷ δεικνύναι ὅτι οἴοιτο μὲν εἶναι σοφός, εἴη δʼ οὔ.

21d

ἐντεῦθεν οὖν τούτῳ τε ἀπηχθόμην καὶ πολλοῖς τῶν παρόντων· πρὸς ἐμαυτὸν δʼ οὖν ἀπιὼν ἐλογιζόμην ὅτι τούτου μὲν τοῦ ἀνθρώπου ἐγὼ σοφώτερός εἰμι· κινδυνεύει μὲν γὰρ ἡμῶν οὐδέτερος οὐδὲν καλὸν κἀγαθὸν εἰδέναι, ἀλλʼ οὗτος μὲν οἴεταί τι εἰδέναι οὐκ εἰδώς, ἐγὼ δέ, ὥσπερ οὖν οὐκ οἶδα, οὐδὲ οἴομαι· ἔοικα γοῦν τούτου γε σμικρῷ τινι αὐτῷ τούτῳ σοφώτερος εἶναι, ὅτι ἃ μὴ οἶδα οὐδὲ οἴομαι εἰδέναι. ἐντεῦθεν ἐπʼ ἄλλον ᾖα τῶν ἐκείνου δοκούντων σοφωτέρων εἶναι καί

21e

μοι ταὐτὰ ταῦτα ἔδοξε, καὶ ἐνταῦθα κἀκείνῳ καὶ ἄλλοις πολλοῖς ἀπηχθόμην.

μετὰ ταῦτʼ οὖν ἤδη ἐφεξῆς ᾖα, αἰσθανόμενος μὲν καὶ λυπούμενος καὶ δεδιὼς ὅτι ἀπηχθανόμην, ὅμως δὲ ἀναγκαῖον ἐδόκει εἶναι τὸ τοῦ θεοῦ περὶ πλείστου ποιεῖσθαι—ἰτέον οὖν, σκοποῦντι τὸν χρησμὸν τί λέγει, ἐπὶ ἅπαντας τούς τι

22

22a

δοκοῦντας εἰδέναι.


καὶ νὴ τὸν κύνα, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι— δεῖ γὰρ πρὸς ὑμᾶς τἀληθῆ λέγειν—ἦ μὴν ἐγὼ ἔπαθόν τι τοιοῦτον· οἱ μὲν μάλιστα εὐδοκιμοῦντες ἔδοξάν μοι ὀλίγου δεῖν τοῦ πλείστου ἐνδεεῖς εἶναι ζητοῦντι κατὰ τὸν θεόν, ἄλλοι δὲ δοκοῦντες φαυλότεροι ἐπιεικέστεροι εἶναι ἄνδρες πρὸς τὸ φρονίμως ἔχειν. δεῖ δὴ ὑμῖν τὴν ἐμὴν πλάνην ἐπιδεῖξαι ὥσπερ πόνους τινὰς πονοῦντος ἵνα μοι καὶ ἀνέλεγκτος ἡ μαντεία γένοιτο. μετὰ γὰρ τοὺς πολιτικοὺς ᾖα ἐπὶ τοὺς ποιητὰς τούς τε τῶν τραγῳδιῶν καὶ τοὺς τῶν

22b

διθυράμβων καὶ τοὺς ἄλλους, ὡς ἐνταῦθα ἐπʼ αὐτοφώρῳ καταληψόμενος ἐμαυτὸν ἀμαθέστερον ἐκείνων ὄντα. ἀναλαμβάνων οὖν αὐτῶν τὰ ποιήματα ἅ μοι ἐδόκει μάλιστα πεπραγματεῦσθαι αὐτοῖς, διηρώτων ἂν αὐτοὺς τί λέγοιεν, ἵνʼ ἅμα τι καὶ μανθάνοιμι παρʼ αὐτῶν. αἰσχύνομαι οὖν ὑμῖν εἰπεῖν, ὦ ἄνδρες, τἀληθῆ· ὅμως δὲ ῥητέον. ὡς ἔπος γὰρ εἰπεῖν ὀλίγου αὐτῶν ἅπαντες οἱ παρόντες ἂν βέλτιον ἔλεγον περὶ ὧν αὐτοὶ ἐπεποιήκεσαν. ἔγνων οὖν αὖ καὶ περὶ τῶν ποιητῶν ἐν ὀλίγῳ τοῦτο, ὅτι οὐ σοφίᾳ ποιοῖεν

22c

ἃ ποιοῖεν, ἀλλὰ φύσει τινὶ καὶ ἐνθουσιάζοντες ὥσπερ οἱ θεομάντεις καὶ οἱ χρησμῳδοί· καὶ γὰρ οὗτοι λέγουσι μὲν πολλὰ καὶ καλά, ἴσασιν δὲ οὐδὲν ὧν λέγουσι. τοιοῦτόν τί μοι ἐφάνησαν πάθος καὶ οἱ ποιηταὶ πεπονθότες, καὶ ἅμα ᾐσθόμην αὐτῶν διὰ τὴν ποίησιν οἰομένων καὶ τἆλλα σοφωτάτων εἶναι ἀνθρώπων ἃ οὐκ ἦσαν. ἀπῇα οὖν καὶ ἐντεῦθεν τῷ αὐτῷ οἰόμενος περιγεγονέναι ᾧπερ καὶ τῶν πολιτικῶν.

τελευτῶν οὖν ἐπὶ τοὺς χειροτέχνας ᾖα· ἐμαυτῷ γὰρ

22d

συνῄδη οὐδὲν ἐπισταμένῳ ὡς ἔπος εἰπεῖν, τούτους δέ γʼ ᾔδη ὅτι εὑρήσοιμι πολλὰ καὶ καλὰ ἐπισταμένους. καὶ τούτου μὲν οὐκ ἐψεύσθην, ἀλλʼ ἠπίσταντο ἃ ἐγὼ οὐκ ἠπιστάμην καί μου ταύτῃ σοφώτεροι ἦσαν. ἀλλʼ, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, ταὐτόν μοι ἔδοξαν ἔχειν ἁμάρτημα ὅπερ καὶ οἱ ποιηταὶ καὶ οἱ ἀγαθοὶ δημιουργοί—διὰ τὸ τὴν τέχνην καλῶς ἐξεργάζεσθαι ἕκαστος ἠξίου καὶ τἆλλα τὰ μέγιστα σοφώτατος εἶναι—καὶ αὐτῶν αὕτη ἡ πλημμέλεια ἐκείνην τὴν σοφίαν

22e

ἀποκρύπτειν· ὥστε με ἐμαυτὸν ἀνερωτᾶν ὑπὲρ τοῦ χρησμοῦ πότερα δεξαίμην ἂν οὕτως ὥσπερ ἔχω ἔχειν, μήτε τι σοφὸς ὢν τὴν ἐκείνων σοφίαν μήτε ἀμαθὴς τὴν ἀμαθίαν, ἢ ἀμφότερα ἃ ἐκεῖνοι ἔχουσιν ἔχειν. ἀπεκρινάμην οὖν ἐμαυτῷ καὶ τῷ χρησμῷ ὅτι μοι λυσιτελοῖ ὥσπερ ἔχω ἔχειν.


23


ἐκ ταυτησὶ δὴ τῆς ἐξετάσεως, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι,

23

23a

πολλαὶ μὲν ἀπέχθειαί μοι γεγόνασι καὶ οἷαι χαλεπώταται καὶ βαρύταται, ὥστε πολλὰς διαβολὰς ἀπʼ αὐτῶν γεγονέναι, ὄνομα δὲ τοῦτο λέγεσθαι, σοφὸς εἶναι· οἴονται γάρ με ἑκάστοτε οἱ παρόντες ταῦτα αὐτὸν εἶναι σοφὸν ἃ ἂν ἄλλον ἐξελέγξω. τὸ δὲ κινδυνεύει, ὦ ἄνδρες, τῷ ὄντι ὁ θεὸς σοφὸς εἶναι, καὶ ἐν τῷ χρησμῷ τούτῳ τοῦτο λέγειν, ὅτι ἡ ἀνθρωπίνη σοφία ὀλίγου τινὸς ἀξία ἐστὶν καὶ οὐδενός. καὶ φαίνεται τοῦτον λέγειν τὸν Σωκράτη, προσκεχρῆσθαι δὲ

23b

τῷ ἐμῷ ὀνόματι, ἐμὲ παράδειγμα ποιούμενος, ὥσπερ ἂν εἰ εἴποι ὅτι οὗτος ὑμῶν, ὦ ἄνθρωποι, σοφώτατός ἐστιν, ὅστις ὥσπερ Σωκράτης ἔγνωκεν ὅτι οὐδενὸς ἄξιός ἐστι τῇ ἀληθείᾳ πρὸς σοφίαν. ταῦτʼ οὖν ἐγὼ μὲν ἔτι καὶ νῦν περιιὼν ζητῶ καὶ ἐρευνῶ κατὰ τὸν θεὸν καὶ τῶν ἀστῶν καὶ ξένων ἄν τινα οἴωμαι σοφὸν εἶναι· καὶ ἐπειδάν μοι μὴ δοκῇ, τῷ θεῷ βοηθῶν ἐνδείκνυμαι ὅτι οὐκ ἔστι σοφός. καὶ ὑπὸ ταύτης τῆς ἀσχολίας οὔτε τι τῶν τῆς πόλεως πρᾶξαί μοι σχολὴ γέγονεν ἄξιον λόγου οὔτε τῶν οἰκείων, ἀλλʼ ἐν

23c

πενίᾳ μυρίᾳ εἰμὶ διὰ τὴν τοῦ θεοῦ λατρείαν.

πρὸς δὲ τούτοις οἱ νέοι μοι ἐπακολουθοῦντες—οἷς μάλιστα σχολή ἐστιν, οἱ τῶν πλουσιωτάτων—αὐτόματοι, χαίρουσιν ἀκούοντες ἐξεταζομένων τῶν ἀνθρώπων, καὶ αὐτοὶ πολλάκις ἐμὲ μιμοῦνται, εἶτα ἐπιχειροῦσιν ἄλλους ἐξετάζειν· κἄπειτα οἶμαι εὑρίσκουσι πολλὴν ἀφθονίαν οἰομένων μὲν εἰδέναι τι ἀνθρώπων, εἰδότων δὲ ὀλίγα ἢ οὐδέν. ἐντεῦθεν οὖν οἱ ὑπʼ αὐτῶν ἐξεταζόμενοι ἐμοὶ ὀργίζονται, οὐχ αὑτοῖς,

23d

καὶ λέγουσιν ὡς Σωκράτης τίς ἐστι μιαρώτατος καὶ διαφθείρει τοὺς νέους· καὶ ἐπειδάν τις αὐτοὺς ἐρωτᾷ ὅτι ποιῶν καὶ ὅτι διδάσκων, ἔχουσι μὲν οὐδὲν εἰπεῖν ἀλλʼ ἀγνοοῦσιν, ἵνα δὲ μὴ δοκῶσιν ἀπορεῖν, τὰ κατὰ πάντων τῶν φιλοσοφούντων πρόχειρα ταῦτα λέγουσιν, ὅτι τὰ μετέωρα καὶ τὰ ὑπὸ γῆς καὶ θεοὺς μὴ νομίζειν καὶ τὸν ἥττω λόγον κρείττω ποιεῖν. τὰ γὰρ ἀληθῆ οἴομαι οὐκ ἂν ἐθέλοιεν λέγειν, ὅτι κατάδηλοι γίγνονται προσποιούμενοι μὲν εἰδέναι, εἰδότες δὲ οὐδέν. ἅτε οὖν οἶμαι φιλότιμοι

23e

ὄντες καὶ σφοδροὶ καὶ πολλοί, καὶ συντεταμένως καὶ πιθανῶς λέγοντες περὶ ἐμοῦ, ἐμπεπλήκασιν ὑμῶν τὰ ὦτα καὶ πάλαι καὶ σφοδρῶς διαβάλλοντες.


24


ἐκ τούτων καὶ Μέλητός μοι ἐπέθετο καὶ Ἄνυτος καὶ Λύκων, Μέλητος μὲν ὑπὲρ τῶν ποιητῶν ἀχθόμενος, Ἄνυτος δὲ ὑπὲρ τῶν δημιουργῶν καὶ

24

24a

τῶν πολιτικῶν, Λύκων δὲ ὑπὲρ τῶν ῥητόρων· ὥστε, ὅπερ ἀρχόμενος ἐγὼ ἔλεγον, θαυμάζοιμʼ ἂν εἰ οἷός τʼ εἴην ἐγὼ ὑμῶν ταύτην τὴν διαβολὴν ἐξελέσθαι ἐν οὕτως ὀλίγῳ χρόνῳ οὕτω πολλὴν γεγονυῖαν. ταῦτʼ ἔστιν ὑμῖν, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, τἀληθῆ, καὶ ὑμᾶς οὔτε μέγα οὔτε μικρὸν ἀποκρυψάμενος ἐγὼ λέγω οὐδʼ ὑποστειλάμενος. καίτοι οἶδα σχεδὸν ὅτι αὐτοῖς τούτοις ἀπεχθάνομαι, ὃ καὶ τεκμήριον ὅτι ἀληθῆ λέγω καὶ ὅτι αὕτη ἐστὶν ἡ διαβολὴ ἡ ἐμὴ καὶ τὰ αἴτια

24b

ταῦτά ἐστιν. καὶ ἐάντε νῦν ἐάντε αὖθις ζητήσητε ταῦτα, οὕτως εὑρήσετε.

περὶ μὲν οὖν ὧν οἱ πρῶτοί μου κατήγοροι κατηγόρουν αὕτη ἔστω ἱκανὴ ἀπολογία πρὸς ὑμᾶς· πρὸς δὲ Μέλητον τὸν ἀγαθὸν καὶ φιλόπολιν, ὥς φησι, καὶ τοὺς ὑστέρους μετὰ ταῦτα πειράσομαι ἀπολογήσασθαι. αὖθις γὰρ δή, ὥσπερ ἑτέρων τούτων ὄντων κατηγόρων, λάβωμεν αὖ τὴν τούτων ἀντωμοσίαν. ἔχει δέ πως ὧδε· Σωκράτη φησὶν ἀδικεῖν τούς τε νέους διαφθείροντα καὶ θεοὺς οὓς ἡ πόλις

24c

νομίζει οὐ νομίζοντα, ἕτερα δὲ δαιμόνια καινά. τὸ μὲν δὴ ἔγκλημα τοιοῦτόν ἐστιν· τούτου δὲ τοῦ ἐγκλήματος ἓν ἕκαστον ἐξετάσωμεν.

φησὶ γὰρ δὴ τοὺς νέους ἀδικεῖν με διαφθείροντα. ἐγὼ δέ γε, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, ἀδικεῖν φημι Μέλητον, ὅτι σπουδῇ χαριεντίζεται, ῥᾳδίως εἰς ἀγῶνα καθιστὰς ἀνθρώπους, περὶ πραγμάτων προσποιούμενος σπουδάζειν καὶ κήδεσθαι ὧν οὐδὲν τούτῳ πώποτε ἐμέλησεν· ὡς δὲ τοῦτο οὕτως ἔχει, πειράσομαι καὶ ὑμῖν ἐπιδεῖξαι. καί μοι δεῦρο, ὦ Μέλητε, εἰπέ· ἄλλο τι ἢ

24d

περὶ πλείστου ποιῇ ὅπως ὡς βέλτιστοι οἱ νεώτεροι ἔσονται;

ἔγωγε.

ἴθι δή νυν εἰπὲ τούτοις, τίς αὐτοὺς βελτίους ποιεῖ; δῆλον γὰρ ὅτι οἶσθα, μέλον γέ σοι. τὸν μὲν γὰρ διαφθείροντα ἐξευρών, ὡς φῄς, ἐμέ, εἰσάγεις τουτοισὶ καὶ κατηγορεῖς· τὸν δὲ δὴ βελτίους ποιοῦντα ἴθι εἰπὲ καὶ μήνυσον αὐτοῖς τίς ἐστιν. —ὁρᾷς, ὦ Μέλητε, ὅτι σιγᾷς καὶ οὐκ ἔχεις εἰπεῖν; καίτοι οὐκ αἰσχρόν σοι δοκεῖ εἶναι καὶ ἱκανὸν τεκμήριον οὗ δὴ ἐγὼ λέγω, ὅτι σοι οὐδὲν μεμέληκεν; ἀλλʼ εἰπέ, ὠγαθέ, τίς αὐτοὺς ἀμείνους ποιεῖ;

οἱ νόμοι.

24e

ἀλλʼ οὐ τοῦτο ἐρωτῶ, ὦ βέλτιστε, ἀλλὰ τίς ἄνθρωπος, ὅστις πρῶτον καὶ αὐτὸ τοῦτο οἶδε, τοὺς νόμους;

οὗτοι, ὦ Σώκρατες, οἱ δικασταί.

πῶς λέγεις, ὦ Μέλητε; οἵδε τοὺς νέους παιδεύειν οἷοί τέ εἰσι καὶ βελτίους ποιοῦσιν;

μάλιστα.

πότερον ἅπαντες, ἢ οἱ μὲν αὐτῶν, οἱ δʼ οὔ;

ἅπαντες.

εὖ γε νὴ τὴν Ἥραν λέγεις καὶ πολλὴν ἀφθονίαν τῶν ὠφελούντων.


25


τί δὲ δή; οἱ δὲ ἀκροαταὶ βελτίους ποιοῦσιν

25

25a

ἢ οὔ;

καὶ οὗτοι.

τί δέ, οἱ βουλευταί;

καὶ οἱ βουλευταί.

ἀλλʼ ἄρα, ὦ Μέλητε, μὴ οἱ ἐν τῇ ἐκκλησίᾳ, οἱ ἐκκλησιασταί, διαφθείρουσι τοὺς νεωτέρους; ἢ κἀκεῖνοι βελτίους ποιοῦσιν ἅπαντες;

κἀκεῖνοι.

πάντες ἄρα, ὡς ἔοικεν, Ἀθηναῖοι καλοὺς κἀγαθοὺς ποιοῦσι πλὴν ἐμοῦ, ἐγὼ δὲ μόνος διαφθείρω. οὕτω λέγεις;

πάνυ σφόδρα ταῦτα λέγω.

πολλήν γέ μου κατέγνωκας δυστυχίαν. καί μοι ἀπόκριναι· ἦ καὶ περὶ ἵππους οὕτω σοι δοκεῖ ἔχειν; οἱ μὲν

25b

βελτίους ποιοῦντες αὐτοὺς πάντες ἄνθρωποι εἶναι, εἷς δέ τις ὁ διαφθείρων; ἢ τοὐναντίον τούτου πᾶν εἷς μέν τις ὁ βελτίους οἷός τʼ ὢν ποιεῖν ἢ πάνυ ὀλίγοι, οἱ ἱππικοί, οἱ δὲ πολλοὶ ἐάνπερ συνῶσι καὶ χρῶνται ἵπποις, διαφθείρουσιν; οὐχ οὕτως ἔχει, ὦ Μέλητε, καὶ περὶ ἵππων καὶ τῶν ἄλλων ἁπάντων ζῴων; πάντως δήπου, ἐάντε σὺ καὶ Ἄνυτος οὐ φῆτε ἐάντε φῆτε· πολλὴ γὰρ ἄν τις εὐδαιμονία εἴη περὶ τοὺς νέους εἰ εἷς μὲν μόνος αὐτοὺς διαφθείρει, οἱ δʼ ἄλλοι

25c

ὠφελοῦσιν. ἀλλὰ γάρ, ὦ Μέλητε, ἱκανῶς ἐπιδείκνυσαι ὅτι οὐδεπώποτε ἐφρόντισας τῶν νέων, καὶ σαφῶς ἀποφαίνεις τὴν σαυτοῦ ἀμέλειαν, ὅτι οὐδέν σοι μεμέληκεν περὶ ὧν ἐμὲ εἰσάγεις.

ἔτι δὲ ἡμῖν εἰπέ, ὦ πρὸς Διὸς Μέλητε, πότερόν ἐστιν οἰκεῖν ἄμεινον ἐν πολίταις χρηστοῖς ἢ πονηροῖς; ὦ τάν, ἀπόκριναι· οὐδὲν γάρ τοι χαλεπὸν ἐρωτῶ. οὐχ οἱ μὲν πονηροὶ κακόν τι ἐργάζονται τοὺς ἀεὶ ἐγγυτάτω αὑτῶν ὄντας, οἱ δʼ ἀγαθοὶ ἀγαθόν τι;

πάνυ γε.

25d

ἔστιν οὖν ὅστις βούλεται ὑπὸ τῶν συνόντων βλάπτεσθαι μᾶλλον ἢ ὠφελεῖσθαι; ἀποκρίνου, ὦ ἀγαθέ· καὶ γὰρ ὁ νόμος κελεύει ἀποκρίνεσθαι. ἔσθʼ ὅστις βούλεται βλάπτεσθαι;

οὐ δῆτα.

φέρε δή, πότερον ἐμὲ εἰσάγεις δεῦρο ὡς διαφθείροντα τοὺς νέους καὶ πονηροτέρους ποιοῦντα ἑκόντα ἢ ἄκοντα;

ἑκόντα ἔγωγε.

τί δῆτα, ὦ Μέλητε; τοσοῦτον σὺ ἐμοῦ σοφώτερος εἶ τηλικούτου ὄντος τηλικόσδε ὤν, ὥστε σὺ μὲν ἔγνωκας ὅτι οἱ μὲν κακοὶ κακόν τι ἐργάζονται ἀεὶ τοὺς μάλιστα πλησίον

25e

ἑαυτῶν, οἱ δὲ ἀγαθοὶ ἀγαθόν, ἐγὼ δὲ δὴ εἰς τοσοῦτον ἀμαθίας ἥκω ὥστε καὶ τοῦτʼ ἀγνοῶ, ὅτι ἐάν τινα μοχθηρὸν ποιήσω τῶν συνόντων, κινδυνεύσω κακόν τι λαβεῖν ὑπʼ αὐτοῦ, ὥστε τοῦτο τὸ τοσοῦτον κακὸν ἑκὼν ποιῶ, ὡς φῂς σύ;


26


ταῦτα ἐγώ σοι οὐ πείθομαι, ὦ Μέλητε, οἶμαι δὲ οὐδὲ ἄλλον ἀνθρώπων οὐδένα· ἀλλʼ ἢ οὐ διαφθείρω, ἢ εἰ διαφθείρω,

26

26a

ἄκων, ὥστε σύ γε κατʼ ἀμφότερα ψεύδῃ. εἰ δὲ ἄκων διαφθείρω, τῶν τοιούτων καὶ ἀκουσίων ἁμαρτημάτων οὐ δεῦρο νόμος εἰσάγειν ἐστίν, ἀλλὰ ἰδίᾳ λαβόντα διδάσκειν καὶ νουθετεῖν· δῆλον γὰρ ὅτι ἐὰν μάθω, παύσομαι ὅ γε ἄκων ποιῶ. σὺ δὲ συγγενέσθαι μέν μοι καὶ διδάξαι ἔφυγες καὶ οὐκ ἠθέλησας, δεῦρο δὲ εἰσάγεις, οἷ νόμος ἐστὶν εἰσάγειν τοὺς κολάσεως δεομένους ἀλλʼ οὐ μαθήσεως.

ἀλλὰ γάρ, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, τοῦτο μὲν ἤδη δῆλον

26b

οὑγὼ ἔλεγον, ὅτι Μελήτῳ τούτων οὔτε μέγα οὔτε μικρὸν πώποτε ἐμέλησεν. ὅμως δὲ δὴ λέγε ἡμῖν, πῶς με φῂς διαφθείρειν, ὦ Μέλητε, τοὺς νεωτέρους; ἢ δῆλον δὴ ὅτι κατὰ τὴν γραφὴν ἣν ἐγράψω θεοὺς διδάσκοντα μὴ νομίζειν οὓς ἡ πόλις νομίζει, ἕτερα δὲ δαιμόνια καινά; οὐ ταῦτα λέγεις ὅτι διδάσκων διαφθείρω;

πάνυ μὲν οὖν σφόδρα ταῦτα λέγω.

πρὸς αὐτῶν τοίνυν, ὦ Μέλητε, τούτων τῶν θεῶν ὧν νῦν ὁ λόγος ἐστίν, εἰπὲ ἔτι σαφέστερον καὶ ἐμοὶ καὶ τοῖς ἀνδράσιν

26c

τουτοισί. ἐγὼ γὰρ οὐ δύναμαι μαθεῖν πότερον λέγεις διδάσκειν με νομίζειν εἶναί τινας θεούς—καὶ αὐτὸς ἄρα νομίζω εἶναι θεοὺς καὶ οὐκ εἰμὶ τὸ παράπαν ἄθεος οὐδὲ ταύτῃ ἀδικῶ —οὐ μέντοι οὕσπερ γε ἡ πόλις ἀλλὰ ἑτέρους, καὶ τοῦτʼ ἔστιν ὅ μοι ἐγκαλεῖς, ὅτι ἑτέρους, ἢ παντάπασί με φῂς οὔτε αὐτὸν νομίζειν θεοὺς τούς τε ἄλλους ταῦτα διδάσκειν.

ταῦτα λέγω, ὡς τὸ παράπαν οὐ νομίζεις θεούς.

26d

ὦ θαυμάσιε Μέλητε, ἵνα τί ταῦτα λέγεις; οὐδὲ ἥλιον οὐδὲ σελήνην ἄρα νομίζω θεοὺς εἶναι, ὥσπερ οἱ ἄλλοι ἄνθρωποι;

μὰ Δίʼ, ὦ ἄνδρες δικασταί, ἐπεὶ τὸν μὲν ἥλιον λίθον φησὶν εἶναι, τὴν δὲ σελήνην γῆν.

Ἀναξαγόρου οἴει κατηγορεῖν, ὦ φίλε Μέλητε; καὶ οὕτω καταφρονεῖς τῶνδε καὶ οἴει αὐτοὺς ἀπείρους γραμμάτων εἶναι ὥστε οὐκ εἰδέναι ὅτι τὰ Ἀναξαγόρου βιβλία τοῦ Κλαζομενίου γέμει τούτων τῶν λόγων; καὶ δὴ καὶ οἱ νέοι ταῦτα παρʼ ἐμοῦ μανθάνουσιν, ἃ ἔξεστιν ἐνίοτε εἰ πάνυ πολλοῦ δραχμῆς

26e

ἐκ τῆς ὀρχήστρας πριαμένοις Σωκράτους καταγελᾶν, ἐὰν προσποιῆται ἑαυτοῦ εἶναι, ἄλλως τε καὶ οὕτως ἄτοπα ὄντα; ἀλλʼ, ὦ πρὸς Διός, οὑτωσί σοι δοκῶ; οὐδένα νομίζω θεὸν εἶναι;

οὐ μέντοι μὰ Δία οὐδʼ ὁπωστιοῦν.

ἄπιστός γʼ εἶ, ὦ Μέλητε, καὶ ταῦτα μέντοι, ὡς ἐμοὶ δοκεῖς, σαυτῷ. ἐμοὶ γὰρ δοκεῖ οὑτοσί, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, πάνυ εἶναι ὑβριστὴς καὶ ἀκόλαστος, καὶ ἀτεχνῶς τὴν γραφὴν ταύτην ὕβρει τινὶ καὶ ἀκολασίᾳ καὶ νεότητι γράψασθαι.


27

27a

ἔοικεν γὰρ ὥσπερ αἴνιγμα συντιθέντι διαπειρωμένῳ ἆρα γνώσεται Σωκράτης ὁ σοφὸς δὴ ἐμοῦ χαριεντιζομένου καὶ ἐναντίʼ ἐμαυτῷ λέγοντος, ἢ ἐξαπατήσω αὐτὸν καὶ τοὺς ἄλλους τοὺς ἀκούοντας; οὗτος γὰρ ἐμοὶ φαίνεται τὰ ἐναντία λέγειν αὐτὸς ἑαυτῷ ἐν τῇ γραφῇ ὥσπερ ἂν εἰ εἴποι· ἀδικεῖ Σωκράτης θεοὺς οὐ νομίζων, ἀλλὰ θεοὺς νομίζων. καίτοι τοῦτό ἐστι παίζοντος.

συνεπισκέψασθε δή, ὦ ἄνδρες, ᾗ μοι φαίνεται ταῦτα λέγειν· σὺ δὲ ἡμῖν ἀπόκριναι, ὦ Μέλητε. ὑμεῖς δέ, ὅπερ

27b

κατʼ ἀρχὰς ὑμᾶς παρῃτησάμην, μέμνησθέ μοι μὴ θορυβεῖν ἐὰν ἐν τῷ εἰωθότι τρόπῳ τοὺς λόγους ποιῶμαι.

ἔστιν ὅστις ἀνθρώπων, ὦ Μέλητε, ἀνθρώπεια μὲν νομίζει πράγματʼ εἶναι, ἀνθρώπους δὲ οὐ νομίζει; ἀποκρινέσθω, ὦ ἄνδρες, καὶ μὴ ἄλλα καὶ ἄλλα θορυβείτω· ἔσθʼ ὅστις ἵππους μὲν οὐ νομίζει, ἱππικὰ δὲ πράγματα; ἢ αὐλητὰς μὲν οὐ νομίζει εἶναι, αὐλητικὰ δὲ πράγματα; οὐκ ἔστιν, ὦ ἄριστε ἀνδρῶν· εἰ μὴ σὺ βούλει ἀποκρίνεσθαι, ἐγὼ σοὶ λέγω καὶ τοῖς ἄλλοις τουτοισί. ἀλλὰ τὸ ἐπὶ τούτῳ γε ἀπόκριναι·

27c

ἔσθʼ ὅστις δαιμόνια μὲν νομίζει πράγματʼ εἶναι, δαίμονας δὲ οὐ νομίζει;

οὐκ ἔστιν.

ὡς ὤνησας ὅτι μόγις ἀπεκρίνω ὑπὸ τουτωνὶ ἀναγκαζόμενος. οὐκοῦν δαιμόνια μὲν φῄς με καὶ νομίζειν καὶ διδάσκειν, εἴτʼ οὖν καινὰ εἴτε παλαιά, ἀλλʼ οὖν δαιμόνιά γε νομίζω κατὰ τὸν σὸν λόγον, καὶ ταῦτα καὶ διωμόσω ἐν τῇ ἀντιγραφῇ. εἰ δὲ δαιμόνια νομίζω, καὶ δαίμονας δήπου πολλὴ ἀνάγκη νομίζειν μέ ἐστιν· οὐχ οὕτως ἔχει; ἔχει δή· τίθημι γάρ σε ὁμολογοῦντα, ἐπειδὴ οὐκ ἀποκρίνῃ. τοὺς δὲ

27d

δαίμονας οὐχὶ ἤτοι θεούς γε ἡγούμεθα ἢ θεῶν παῖδας; φῂς ἢ οὔ;

πάνυ γε.

οὐκοῦν εἴπερ δαίμονας ἡγοῦμαι, ὡς σὺ φῄς, εἰ μὲν θεοί τινές εἰσιν οἱ δαίμονες, τοῦτʼ ἂν εἴη ὃ ἐγώ φημί σε αἰνίττεσθαι καὶ χαριεντίζεσθαι, θεοὺς οὐχ ἡγούμενον φάναι με θεοὺς αὖ ἡγεῖσθαι πάλιν, ἐπειδήπερ γε δαίμονας ἡγοῦμαι· εἰ δʼ αὖ οἱ δαίμονες θεῶν παῖδές εἰσιν νόθοι τινὲς ἢ ἐκ νυμφῶν ἢ ἔκ τινων ἄλλων ὧν δὴ καὶ λέγονται, τίς ἂν ἀνθρώπων θεῶν μὲν παῖδας ἡγοῖτο εἶναι, θεοὺς δὲ μή; ὁμοίως γὰρ

27e

ἂν ἄτοπον εἴη ὥσπερ ἂν εἴ τις ἵππων μὲν παῖδας ἡγοῖτο ἢ καὶ ὄνων, τοὺς ἡμιόνους, ἵππους δὲ καὶ ὄνους μὴ ἡγοῖτο εἶναι. ἀλλʼ, ὦ Μέλητε, οὐκ ἔστιν ὅπως σὺ ταῦτα οὐχὶ ἀποπειρώμενος ἡμῶν ἐγράψω τὴν γραφὴν ταύτην ἢ ἀπορῶν ὅτι ἐγκαλοῖς ἐμοὶ ἀληθὲς ἀδίκημα· ὅπως δὲ σύ τινα πείθοις ἂν καὶ σμικρὸν νοῦν ἔχοντα ἀνθρώπων, ὡς οὐ τοῦ αὐτοῦ ἔστιν καὶ δαιμόνια καὶ θεῖα ἡγεῖσθαι, καὶ αὖ τοῦ αὐτοῦ μήτε

28

28a

δαίμονας μήτε θεοὺς μήτε ἥρωας, οὐδεμία μηχανή ἐστιν.


28


ἀλλὰ γάρ, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, ὡς μὲν ἐγὼ οὐκ ἀδικῶ κατὰ τὴν Μελήτου γραφήν, οὐ πολλῆς μοι δοκεῖ εἶναι ἀπολογίας, ἀλλὰ ἱκανὰ καὶ ταῦτα· ὃ δὲ καὶ ἐν τοῖς ἔμπροσθεν ἔλεγον, ὅτι πολλή μοι ἀπέχθεια γέγονεν καὶ πρὸς πολλούς, εὖ ἴστε ὅτι ἀληθές ἐστιν. καὶ τοῦτʼ ἔστιν ὃ ἐμὲ αἱρεῖ, ἐάνπερ αἱρῇ, οὐ Μέλητος οὐδὲ Ἄνυτος ἀλλʼ ἡ τῶν πολλῶν διαβολή τε καὶ φθόνος. ἃ δὴ πολλοὺς καὶ ἄλλους καὶ ἀγαθοὺς

28b

ἄνδρας ᾕρηκεν, οἶμαι δὲ καὶ αἱρήσει· οὐδὲν δὲ δεινὸν μὴ ἐν ἐμοὶ στῇ.

ἴσως ἂν οὖν εἴποι τις· εἶτʼ οὐκ αἰσχύνῃ, ὦ Σώκρατες, τοιοῦτον ἐπιτήδευμα ἐπιτηδεύσας ἐξ οὗ κινδυνεύεις νυνὶ ἀποθανεῖν; ἐγὼ δὲ τούτῳ ἂν δίκαιον λόγον ἀντείποιμι, ὅτι οὐ καλῶς λέγεις, ὦ ἄνθρωπε, εἰ οἴει δεῖν κίνδυνον ὑπολογίζεσθαι τοῦ ζῆν ἢ τεθνάναι ἄνδρα ὅτου τι καὶ σμικρὸν ὄφελός ἐστιν, ἀλλʼ οὐκ ἐκεῖνο μόνον σκοπεῖν ὅταν πράττῃ, πότερον δίκαια ἢ ἄδικα πράττει, καὶ ἀνδρὸς ἀγαθοῦ ἔργα ἢ κακοῦ. φαῦλοι

28c

γὰρ ἂν τῷ γε σῷ λόγῳ εἶεν τῶν ἡμιθέων ὅσοι ἐν Τροίᾳ τετελευτήκασιν οἵ τε ἄλλοι καὶ ὁ τῆς Θέτιδος υἱός, ὃς τοσοῦτον τοῦ κινδύνου κατεφρόνησεν παρὰ τὸ αἰσχρόν τι ὑπομεῖναι ὥστε, ἐπειδὴ εἶπεν ἡ μήτηρ αὐτῷ προθυμουμένῳ Ἕκτορα ἀποκτεῖναι, θεὸς οὖσα, οὑτωσί πως, ὡς ἐγὼ οἶμαι· ὦ παῖ, εἰ τιμωρήσεις Πατρόκλῳ τῷ ἑταίρῳ τὸν φόνον καὶ Ἕκτορα ἀποκτενεῖς, αὐτὸς ἀποθανῇ—αὐτίκα γάρ τοι, φησί, μεθʼ Ἕκτορα πότμος ἑτοῖμος —ὁ δὲ τοῦτο ἀκούσας τοῦ μὲν θανάτου καὶ τοῦ κινδύνου ὠλιγώρησε, πολὺ δὲ μᾶλλον

28d

δείσας τὸ ζῆν κακὸς ὢν καὶ τοῖς φίλοις μὴ τιμωρεῖν, αὐτίκα, φησί, τεθναίην, δίκην ἐπιθεὶς τῷ ἀδικοῦντι, ἵνα μὴ ἐνθάδε μένω καταγέλαστος παρὰ νηυσὶ κορωνίσιν ἄχθος ἀρούρης. ὴ αὐτὸν οἴει φροντίσαι θανάτου καὶ κινδύνου;

οὕτω γὰρ ἔχει, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, τῇ ἀληθείᾳ· οὗ ἄν τις ἑαυτὸν τάξῃ ἡγησάμενος βέλτιστον εἶναι ἢ ὑπʼ ἄρχοντος ταχθῇ, ἐνταῦθα δεῖ, ὡς ἐμοὶ δοκεῖ, μένοντα κινδυνεύειν, μηδὲν ὑπολογιζόμενον μήτε θάνατον μήτε ἄλλο μηδὲν πρὸ τοῦ αἰσχροῦ. ἐγὼ οὖν δεινὰ ἂν εἴην εἰργασμένος, ὦ ἄνδρες

28e

Ἀθηναῖοι, εἰ ὅτε μέν με οἱ ἄρχοντες ἔταττον, οὓς ὑμεῖς εἵλεσθε ἄρχειν μου, καὶ ἐν Ποτειδαίᾳ καὶ ἐν Ἀμφιπόλει καὶ ἐπὶ Δηλίῳ, τότε μὲν οὗ ἐκεῖνοι ἔταττον ἔμενον ὥσπερ καὶ ἄλλος τις καὶ ἐκινδύνευον ἀποθανεῖν, τοῦ δὲ θεοῦ τάττοντος, ὡς ἐγὼ ᾠήθην τε καὶ ὑπέλαβον, φιλοσοφοῦντά με δεῖν ζῆν καὶ ἐξετάζοντα ἐμαυτὸν καὶ τοὺς ἄλλους, ἐνταῦθα δὲ φοβηθεὶς ἢ θάνατον

29

29a

ἢ ἄλλʼ ὁτιοῦν πρᾶγμα λίποιμι τὴν τάξιν.


29


δεινόν τἂν εἴη, καὶ ὡς ἀληθῶς τότʼ ἄν με δικαίως εἰσάγοι τις εἰς δικαστήριον, ὅτι οὐ νομίζω θεοὺς εἶναι ἀπειθῶν τῇ μαντείᾳ καὶ δεδιὼς θάνατον καὶ οἰόμενος σοφὸς εἶναι οὐκ ὤν. τὸ γάρ τοι θάνατον δεδιέναι, ὦ ἄνδρες, οὐδὲν ἄλλο ἐστὶν ἢ δοκεῖν σοφὸν εἶναι μὴ ὄντα· δοκεῖν γὰρ εἰδέναι ἐστὶν ἃ οὐκ οἶδεν. οἶδε μὲν γὰρ οὐδεὶς τὸν θάνατον οὐδʼ εἰ τυγχάνει τῷ ἀνθρώπῳ πάντων μέγιστον ὂν τῶν ἀγαθῶν, δεδίασι δʼ ὡς εὖ εἰδότες

29b

ὅτι μέγιστον τῶν κακῶν ἐστι. καίτοι πῶς οὐκ ἀμαθία ἐστὶν αὕτη ἡ ἐπονείδιστος, ἡ τοῦ οἴεσθαι εἰδέναι ἃ οὐκ οἶδεν; ἐγὼ δʼ, ὦ ἄνδρες, τούτῳ καὶ ἐνταῦθα ἴσως διαφέρω τῶν πολλῶν ἀνθρώπων, καὶ εἰ δή τῳ σοφώτερός του φαίην εἶναι, τούτῳ ἄν, ὅτι οὐκ εἰδὼς ἱκανῶς περὶ τῶν ἐν Ἅιδου οὕτω καὶ οἴομαι οὐκ εἰδέναι· τὸ δὲ ἀδικεῖν καὶ ἀπειθεῖν τῷ βελτίονι καὶ θεῷ καὶ ἀνθρώπῳ, ὅτι κακὸν καὶ αἰσχρόν ἐστιν οἶδα. πρὸ οὖν τῶν κακῶν ὧν οἶδα ὅτι κακά ἐστιν, ἃ μὴ οἶδα εἰ καὶ ἀγαθὰ ὄντα τυγχάνει οὐδέποτε φοβήσομαι οὐδὲ φεύξομαι· ὥστε οὐδʼ εἴ

29c

με νῦν ὑμεῖς ἀφίετε Ἀνύτῳ ἀπιστήσαντες, ὃς ἔφη ἢ τὴν ἀρχὴν οὐ δεῖν ἐμὲ δεῦρο εἰσελθεῖν ἤ, ἐπειδὴ εἰσῆλθον, οὐχ οἷόν τʼ εἶναι τὸ μὴ ἀποκτεῖναί με, λέγων πρὸς ὑμᾶς ὡς εἰ διαφευξοίμην ἤδη ἂν ὑμῶν οἱ ὑεῖς ἐπιτηδεύοντες ἃ Σωκράτης διδάσκει πάντες παντάπασι διαφθαρήσονται, —εἴ μοι πρὸς ταῦτα εἴποιτε· ὦ Σώκρατες, νῦν μὲν Ἀνύτῳ οὐ πεισόμεθα ἀλλʼ ἀφίεμέν σε, ἐπὶ τούτῳ μέντοι, ἐφʼ ᾧτε μηκέτι ἐν ταύτῃ τῇ ζητήσει διατρίβειν μηδὲ φιλοσοφεῖν· ἐὰν δὲ

29d

ἁλῷς ἔτι τοῦτο πράττων, ἀποθανῇ —εἰ οὖν με, ὅπερ εἶπον, ἐπὶ τούτοις ἀφίοιτε, εἴποιμʼ ἂν ὑμῖν ὅτι ἐγὼ ὑμᾶς, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, ἀσπάζομαι μὲν καὶ φιλῶ, πείσομαι δὲ μᾶλλον τῷ θεῷ ἢ ὑμῖν, καὶ ἕωσπερ ἂν ἐμπνέω καὶ οἷός τε ὦ, οὐ μὴ παύσωμαι φιλοσοφῶν καὶ ὑμῖν παρακελευόμενός τε καὶ ἐνδεικνύμενος ὅτῳ ἂν ἀεὶ ἐντυγχάνω ὑμῶν, λέγων οἷάπερ εἴωθα, ὅτι ὦ ἄριστε ἀνδρῶν, Ἀθηναῖος ὤν, πόλεως τῆς μεγίστης καὶ εὐδοκιμωτάτης εἰς σοφίαν καὶ ἰσχύν, χρημάτων μὲν οὐκ αἰσχύνῃ ἐπιμελούμενος ὅπως σοι ἔσται ὡς πλεῖστα,

29e

καὶ δόξης καὶ τιμῆς, φρονήσεως δὲ καὶ ἀληθείας καὶ τῆς ψυχῆς ὅπως ὡς βελτίστη ἔσται οὐκ ἐπιμελῇ οὐδὲ φροντίζεις;


30


καὶ ἐάν τις ὑμῶν ἀμφισβητήσῃ καὶ φῇ ἐπιμελεῖσθαι, οὐκ εὐθὺς ἀφήσω αὐτὸν οὐδʼ ἄπειμι, ἀλλʼ ἐρήσομαι αὐτὸν καὶ ἐξετάσω καὶ ἐλέγξω, καὶ ἐάν μοι μὴ δοκῇ κεκτῆσθαι ἀρετήν,

30

30a

φάναι δέ, ὀνειδιῶ ὅτι τὰ πλείστου ἄξια περὶ ἐλαχίστου ποιεῖται, τὰ δὲ φαυλότερα περὶ πλείονος. ταῦτα καὶ νεωτέρῳ καὶ πρεσβυτέρῳ ὅτῳ ἂν ἐντυγχάνω ποιήσω, καὶ ξένῳ καὶ ἀστῷ, μᾶλλον δὲ τοῖς ἀστοῖς, ὅσῳ μου ἐγγυτέρω ἐστὲ γένει. ταῦτα γὰρ κελεύει ὁ θεός, εὖ ἴστε, καὶ ἐγὼ οἴομαι οὐδέν πω ὑμῖν μεῖζον ἀγαθὸν γενέσθαι ἐν τῇ πόλει ἢ τὴν ἐμὴν τῷ θεῷ ὑπηρεσίαν. οὐδὲν γὰρ ἄλλο πράττων ἐγὼ περιέρχομαι ἢ πείθων ὑμῶν καὶ νεωτέρους καὶ πρεσβυτέρους μήτε σωμάτων

30b

ἐπιμελεῖσθαι μήτε χρημάτων πρότερον μηδὲ οὕτω σφόδρα ὡς τῆς ψυχῆς ὅπως ὡς ἀρίστη ἔσται, λέγων ὅτι οὐκ ἐκ χρημάτων ἀρετὴ γίγνεται, ἀλλʼ ἐξ ἀρετῆς χρήματα καὶ τὰ ἄλλα ἀγαθὰ τοῖς ἀνθρώποις ἅπαντα καὶ ἰδίᾳ καὶ δημοσίᾳ. εἰ μὲν οὖν ταῦτα λέγων διαφθείρω τοὺς νέους, ταῦτʼ ἂν εἴη βλαβερά· εἰ δέ τίς μέ φησιν ἄλλα λέγειν ἢ ταῦτα, οὐδὲν λέγει. πρὸς ταῦτα, φαίην ἄν, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, ἢ πείθεσθε Ἀνύτῳ ἢ μή, καὶ ἢ ἀφίετέ με ἢ μή, ὡς ἐμοῦ οὐκ

30c

ἂν ποιήσαντος ἄλλα, οὐδʼ εἰ μέλλω πολλάκις τεθνάναι.

μὴ θορυβεῖτε, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, ἀλλʼ ἐμμείνατέ μοι οἷς ἐδεήθην ὑμῶν, μὴ θορυβεῖν ἐφʼ οἷς ἂν λέγω ἀλλʼ ἀκούειν· καὶ γάρ, ὡς ἐγὼ οἶμαι, ὀνήσεσθε ἀκούοντες. μέλλω γὰρ οὖν ἄττα ὑμῖν ἐρεῖν καὶ ἄλλα ἐφʼ οἷς ἴσως βοήσεσθε· ἀλλὰ μηδαμῶς ποιεῖτε τοῦτο. εὖ γὰρ ἴστε, ἐάν με ἀποκτείνητε τοιοῦτον ὄντα οἷον ἐγὼ λέγω, οὐκ ἐμὲ μείζω βλάψετε ἢ ὑμᾶς αὐτούς· ἐμὲ μὲν γὰρ οὐδὲν ἂν βλάψειεν οὔτε Μέλητος οὔτε Ἄνυτος—οὐδὲ γὰρ ἂν δύναιτο—οὐ γὰρ οἴομαι θεμιτὸν

30d

εἶναι ἀμείνονι ἀνδρὶ ὑπὸ χείρονος βλάπτεσθαι. ἀποκτείνειε μεντἂν ἴσως ἢ ἐξελάσειεν ἢ ἀτιμώσειεν· ἀλλὰ ταῦτα οὗτος μὲν ἴσως οἴεται καὶ ἄλλος τίς που μεγάλα κακά, ἐγὼ δʼ οὐκ οἴομαι, ἀλλὰ πολὺ μᾶλλον ποιεῖν ἃ οὑτοσὶ νῦν ποιεῖ, ἄνδρα ἀδίκως ἐπιχειρεῖν ἀποκτεινύναι. νῦν οὖν, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, πολλοῦ δέω ἐγὼ ὑπὲρ ἐμαυτοῦ ἀπολογεῖσθαι, ὥς τις ἂν οἴοιτο, ἀλλὰ ὑπὲρ ὑμῶν, μή τι ἐξαμάρτητε περὶ τὴν τοῦ

30e

θεοῦ δόσιν ὑμῖν ἐμοῦ καταψηφισάμενοι. ἐὰν γάρ με ἀποκτείνητε, οὐ ῥᾳδίως ἄλλον τοιοῦτον εὑρήσετε, ἀτεχνῶς—εἰ καὶ γελοιότερον εἰπεῖν—προσκείμενον τῇ πόλει ὑπὸ τοῦ θεοῦ ὥσπερ ἵππῳ μεγάλῳ μὲν καὶ γενναίῳ, ὑπὸ μεγέθους δὲ νωθεστέρῳ καὶ δεομένῳ ἐγείρεσθαι ὑπὸ μύωπός τινος, οἷον δή μοι δοκεῖ ὁ θεὸς ἐμὲ τῇ πόλει προστεθηκέναι τοιοῦτόν τινα, ὃς ὑμᾶς ἐγείρων καὶ πείθων καὶ ὀνειδίζων ἕνα ἕκαστον

31

31a

οὐδὲν παύομαι τὴν ἡμέραν ὅλην πανταχοῦ προσκαθίζων.


31


τοιοῦτος οὖν ἄλλος οὐ ῥᾳδίως ὑμῖν γενήσεται, ὦ ἄνδρες, ἀλλʼ ἐὰν ἐμοὶ πείθησθε, φείσεσθέ μου· ὑμεῖς δʼ ἴσως τάχʼ ἂν ἀχθόμενοι, ὥσπερ οἱ νυστάζοντες ἐγειρόμενοι, κρούσαντες ἄν με, πειθόμενοι Ἀνύτῳ, ῥᾳδίως ἂν ἀποκτείναιτε, εἶτα τὸν λοιπὸν βίον καθεύδοντες διατελοῖτε ἄν, εἰ μή τινα ἄλλον ὁ θεὸς ὑμῖν ἐπιπέμψειεν κηδόμενος ὑμῶν. ὅτι δʼ ἐγὼ τυγχάνω ὢν τοιοῦτος οἷος ὑπὸ τοῦ θεοῦ τῇ πόλει δεδόσθαι, ἐνθένδε

31b

ἂν κατανοήσαιτε· οὐ γὰρ ἀνθρωπίνῳ ἔοικε τὸ ἐμὲ τῶν μὲν ἐμαυτοῦ πάντων ἠμεληκέναι καὶ ἀνέχεσθαι τῶν οἰκείων ἀμελουμένων τοσαῦτα ἤδη ἔτη, τὸ δὲ ὑμέτερον πράττειν ἀεί, ἰδίᾳ ἑκάστῳ προσιόντα ὥσπερ πατέρα ἢ ἀδελφὸν πρεσβύτερον πείθοντα ἐπιμελεῖσθαι ἀρετῆς. καὶ εἰ μέν τι ἀπὸ τούτων ἀπέλαυον καὶ μισθὸν λαμβάνων ταῦτα παρεκελευόμην, εἶχον ἄν τινα λόγον· νῦν δὲ ὁρᾶτε δὴ καὶ αὐτοὶ ὅτι οἱ κατήγοροι τἆλλα πάντα ἀναισχύντως οὕτω κατηγοροῦντες τοῦτό γε οὐχ οἷοί τε ἐγένοντο ἀπαναισχυντῆσαι

31c

παρασχόμενοι μάρτυρα, ὡς ἐγώ ποτέ τινα ἢ ἐπραξάμην μισθὸν ἢ ᾔτησα. ἱκανὸν γάρ, οἶμαι, ἐγὼ παρέχομαι τὸν μάρτυρα ὡς ἀληθῆ λέγω, τὴν πενίαν.

ἴσως ἂν οὖν δόξειεν ἄτοπον εἶναι, ὅτι δὴ ἐγὼ ἰδίᾳ μὲν ταῦτα συμβουλεύω περιιὼν καὶ πολυπραγμονῶ, δημοσίᾳ δὲ οὐ τολμῶ ἀναβαίνων εἰς τὸ πλῆθος τὸ ὑμέτερον συμβουλεύειν τῇ πόλει. τούτου δὲ αἴτιόν ἐστιν ὃ ὑμεῖς ἐμοῦ πολλάκις ἀκηκόατε πολλαχοῦ λέγοντος, ὅτι μοι θεῖόν τι καὶ

31d

δαιμόνιον γίγνεται φωνή, ὃ δὴ καὶ ἐν τῇ γραφῇ ἐπικωμῳδῶν Μέλητος ἐγράψατο. ἐμοὶ δὲ τοῦτʼ ἔστιν ἐκ παιδὸς ἀρξάμενον, φωνή τις γιγνομένη, ἣ ὅταν γένηται, ἀεὶ ἀποτρέπει με τοῦτο ὃ ἂν μέλλω πράττειν, προτρέπει δὲ οὔποτε. τοῦτʼ ἔστιν ὅ μοι ἐναντιοῦται τὰ πολιτικὰ πράττειν, καὶ παγκάλως γέ μοι δοκεῖ ἐναντιοῦσθαι· εὖ γὰρ ἴστε, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, εἰ ἐγὼ πάλαι ἐπεχείρησα πράττειν τὰ πολιτικὰ πράγματα, πάλαι ἂν ἀπολώλη καὶ οὔτʼ ἂν ὑμᾶς ὠφελήκη

31e

οὐδὲν οὔτʼ ἂν ἐμαυτόν. καί μοι μὴ ἄχθεσθε λέγοντι τἀληθῆ· οὐ γὰρ ἔστιν ὅστις ἀνθρώπων σωθήσεται οὔτε ὑμῖν οὔτε ἄλλῳ πλήθει οὐδενὶ γνησίως ἐναντιούμενος καὶ διακωλύων πολλὰ ἄδικα καὶ παράνομα ἐν τῇ πόλει γίγνεσθαι, ἀλλʼ

32

32a

ἀναγκαῖόν ἐστι τὸν τῷ ὄντι μαχούμενον ὑπὲρ τοῦ δικαίου, καὶ εἰ μέλλει ὀλίγον χρόνον σωθήσεσθαι, ἰδιωτεύειν ἀλλὰ μὴ δημοσιεύειν.



μεγάλα δʼ ἔγωγε ὑμῖν τεκμήρια παρέξομαι τούτων, οὐ λόγους ἀλλʼ ὃ ὑμεῖς τιμᾶτε, ἔργα. ἀκούσατε δή μοι τὰ συμβεβηκότα, ἵνα εἰδῆτε ὅτι οὐδʼ ἂν ἑνὶ ὑπεικάθοιμι παρὰ τὸ δίκαιον δείσας θάνατον, μὴ ὑπείκων δὲ ἀλλὰ κἂν ἀπολοίμην. ἐρῶ δὲ ὑμῖν φορτικὰ μὲν καὶ δικανικά, ἀληθῆ δέ. ἐγὼ γάρ, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, ἄλλην μὲν ἀρχὴν οὐδεμίαν

32b

πώποτε ἦρξα ἐν τῇ πόλει, ἐβούλευσα δέ· καὶ ἔτυχεν ἡμῶν ἡ φυλὴ Ἀντιοχὶς πρυτανεύουσα ὅτε ὑμεῖς τοὺς δέκα στρατηγοὺς τοὺς οὐκ ἀνελομένους τοὺς ἐκ τῆς ναυμαχίας ἐβουλεύσασθε ἁθρόους κρίνειν, παρανόμως, ὡς ἐν τῷ ὑστέρῳ χρόνῳ πᾶσιν ὑμῖν ἔδοξεν. τότʼ ἐγὼ μόνος τῶν πρυτάνεων ἠναντιώθην ὑμῖν μηδὲν ποιεῖν παρὰ τοὺς νόμους καὶ ἐναντία ἐψηφισάμην· καὶ ἑτοίμων ὄντων ἐνδεικνύναι με καὶ ἀπάγειν τῶν ῥητόρων, καὶ ὑμῶν κελευόντων καὶ βοώντων, μετὰ τοῦ

32c

νόμου καὶ τοῦ δικαίου ᾤμην μᾶλλόν με δεῖν διακινδυνεύειν ἢ μεθʼ ὑμῶν γενέσθαι μὴ δίκαια βουλευομένων, φοβηθέντα δεσμὸν ἢ θάνατον. καὶ ταῦτα μὲν ἦν ἔτι δημοκρατουμένης τῆς πόλεως· ἐπειδὴ δὲ ὀλιγαρχία ἐγένετο, οἱ τριάκοντα αὖ μεταπεμψάμενοί με πέμπτον αὐτὸν εἰς τὴν θόλον προσέταξαν ἀγαγεῖν ἐκ Σαλαμῖνος Λέοντα τὸν Σαλαμίνιον ἵνα ἀποθάνοι, οἷα δὴ καὶ ἄλλοις ἐκεῖνοι πολλοῖς πολλὰ προσέταττον, βουλόμενοι ὡς πλείστους ἀναπλῆσαι αἰτιῶν. τότε μέντοι ἐγὼ

32d

οὐ λόγῳ ἀλλʼ ἔργῳ αὖ ἐνεδειξάμην ὅτι ἐμοὶ θανάτου μὲν μέλει, εἰ μὴ ἀγροικότερον ἦν εἰπεῖν, οὐδʼ ὁτιοῦν, τοῦ δὲ μηδὲν ἄδικον μηδʼ ἀνόσιον ἐργάζεσθαι, τούτου δὲ τὸ πᾶν μέλει. ἐμὲ γὰρ ἐκείνη ἡ ἀρχὴ οὐκ ἐξέπληξεν, οὕτως ἰσχυρὰ οὖσα, ὥστε ἄδικόν τι ἐργάσασθαι, ἀλλʼ ἐπειδὴ ἐκ τῆς θόλου ἐξήλθομεν, οἱ μὲν τέτταρες ᾤχοντο εἰς Σαλαμῖνα καὶ ἤγαγον Λέοντα, ἐγὼ δὲ ᾠχόμην ἀπιὼν οἴκαδε. καὶ ἴσως ἂν διὰ ταῦτα ἀπέθανον, εἰ μὴ ἡ ἀρχὴ διὰ ταχέων κατελύθη. καὶ

32e

τούτων ὑμῖν ἔσονται πολλοὶ μάρτυρες.

ἆρʼ οὖν ἄν με οἴεσθε τοσάδε ἔτη διαγενέσθαι εἰ ἔπραττον τὰ δημόσια, καὶ πράττων ἀξίως ἀνδρὸς ἀγαθοῦ ἐβοήθουν τοῖς δικαίοις καὶ ὥσπερ χρὴ τοῦτο περὶ πλείστου ἐποιούμην; πολλοῦ γε δεῖ, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι· οὐδὲ γὰρ ἂν ἄλλος

33

33a

ἀνθρώπων οὐδείς.


33


ἀλλʼ ἐγὼ διὰ παντὸς τοῦ βίου δημοσίᾳ τε εἴ πού τι ἔπραξα τοιοῦτος φανοῦμαι, καὶ ἰδίᾳ ὁ αὐτὸς οὗτος, οὐδενὶ πώποτε συγχωρήσας οὐδὲν παρὰ τὸ δίκαιον οὔτε ἄλλῳ οὔτε τούτων οὐδενὶ οὓς δὴ διαβάλλοντες ἐμέ φασιν ἐμοὺς μαθητὰς εἶναι. ἐγὼ δὲ διδάσκαλος μὲν οὐδενὸς πώποτʼ ἐγενόμην· εἰ δέ τίς μου λέγοντος καὶ τὰ ἐμαυτοῦ πράττοντος ἐπιθυμοῖ ἀκούειν, εἴτε νεώτερος εἴτε πρεσβύτερος, οὐδενὶ πώποτε ἐφθόνησα, οὐδὲ χρήματα μὲν λαμβάνων διαλέγομαι

33b

μὴ λαμβάνων δὲ οὔ, ἀλλʼ ὁμοίως καὶ πλουσίῳ καὶ πένητι παρέχω ἐμαυτὸν ἐρωτᾶν, καὶ ἐάν τις βούληται ἀποκρινόμενος ἀκούειν ὧν ἂν λέγω. καὶ τούτων ἐγὼ εἴτε τις χρηστὸς γίγνεται εἴτε μή, οὐκ ἂν δικαίως τὴν αἰτίαν ὑπέχοιμι, ὧν μήτε ὑπεσχόμην μηδενὶ μηδὲν πώποτε μάθημα μήτε ἐδίδαξα· εἰ δέ τίς φησι παρʼ ἐμοῦ πώποτέ τι μαθεῖν ἢ ἀκοῦσαι ἰδίᾳ ὅτι μὴ καὶ οἱ ἄλλοι πάντες, εὖ ἴστε ὅτι οὐκ ἀληθῆ λέγει.

ἀλλὰ διὰ τί δή ποτε μετʼ ἐμοῦ χαίρουσί τινες πολὺν

33c

χρόνον διατρίβοντες; ἀκηκόατε, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, πᾶσαν ὑμῖν τὴν ἀλήθειαν ἐγὼ εἶπον· ὅτι ἀκούοντες χαίρουσιν ἐξεταζομένοις τοῖς οἰομένοις μὲν εἶναι σοφοῖς, οὖσι δʼ οὔ. ἔστι γὰρ οὐκ ἀηδές. ἐμοὶ δὲ τοῦτο, ὡς ἐγώ φημι, προστέτακται ὑπὸ τοῦ θεοῦ πράττειν καὶ ἐκ μαντείων καὶ ἐξ ἐνυπνίων καὶ παντὶ τρόπῳ ᾧπέρ τίς ποτε καὶ ἄλλη θεία μοῖρα ἀνθρώπῳ καὶ ὁτιοῦν προσέταξε πράττειν. ταῦτα, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, καὶ ἀληθῆ ἐστιν καὶ εὐέλεγκτα. εἰ γὰρ δὴ ἔγωγε τῶν νέων

33d

τοὺς μὲν διαφθείρω τοὺς δὲ διέφθαρκα, χρῆν δήπου, εἴτε τινὲς αὐτῶν πρεσβύτεροι γενόμενοι ἔγνωσαν ὅτι νέοις οὖσιν αὐτοῖς ἐγὼ κακὸν πώποτέ τι συνεβούλευσα, νυνὶ αὐτοὺς ἀναβαίνοντας ἐμοῦ κατηγορεῖν καὶ τιμωρεῖσθαι· εἰ δὲ μὴ αὐτοὶ ἤθελον, τῶν οἰκείων τινὰς τῶν ἐκείνων, πατέρας καὶ ἀδελφοὺς καὶ ἄλλους τοὺς προσήκοντας, εἴπερ ὑπʼ ἐμοῦ τι κακὸν ἐπεπόνθεσαν αὐτῶν οἱ οἰκεῖοι, νῦν μεμνῆσθαι καὶ τιμωρεῖσθαι. πάντως δὲ πάρεισιν αὐτῶν πολλοὶ ἐνταυθοῖ οὓς ἐγὼ ὁρῶ, πρῶτον μὲν Κρίτων οὑτοσί, ἐμὸς ἡλικιώτης

33e

καὶ δημότης, Κριτοβούλου τοῦδε πατήρ, ἔπειτα Λυσανίας ὁ Σφήττιος, Αἰσχίνου τοῦδε πατήρ, ἔτι δʼ Ἀντιφῶν ὁ Κηφισιεὺς οὑτοσί, Ἐπιγένους πατήρ, ἄλλοι τοίνυν οὗτοι ὧν οἱ ἀδελφοὶ ἐν ταύτῃ τῇ διατριβῇ γεγόνασιν, Νικόστρατος Θεοζοτίδου, ἀδελφὸς Θεοδότου—καὶ ὁ μὲν Θεόδοτος τετελεύτηκεν, ὥστε οὐκ ἂν ἐκεῖνός γε αὐτοῦ καταδεηθείη—καὶ Παράλιος ὅδε, ὁ Δημοδόκου, οὗ ἦν Θεάγης ἀδελφός· ὅδε δὲ

34

34a

Ἀδείμαντος, ὁ Ἀρίστωνος, οὗ ἀδελφὸς οὑτοσὶ Πλάτων, καὶ Αἰαντόδωρος, οὗ Ἀπολλόδωρος ὅδε ἀδελφός.


34


καὶ ἄλλους πολλοὺς ἐγὼ ἔχω ὑμῖν εἰπεῖν, ὧν τινα ἐχρῆν μάλιστα μὲν ἐν τῷ ἑαυτοῦ λόγῳ παρασχέσθαι Μέλητον μάρτυρα· εἰ δὲ τότε ἐπελάθετο, νῦν παρασχέσθω—ἐγὼ παραχωρῶ—καὶ λεγέτω εἴ τι ἔχει τοιοῦτον. ἀλλὰ τούτου πᾶν τοὐναντίον εὑρήσετε, ὦ ἄνδρες, πάντας ἐμοὶ βοηθεῖν ἑτοίμους τῷ διαφθείροντι, τῷ κακὰ ἐργαζομένῳ τοὺς οἰκείους αὐτῶν, ὥς φασι Μέλητος καὶ

34b

Ἄνυτος. αὐτοὶ μὲν γὰρ οἱ διεφθαρμένοι τάχʼ ἂν λόγον ἔχοιεν βοηθοῦντες· οἱ δὲ ἀδιάφθαρτοι, πρεσβύτεροι ἤδη ἄνδρες, οἱ τούτων προσήκοντες, τίνα ἄλλον ἔχουσι λόγον βοηθοῦντες ἐμοὶ ἀλλʼ ἢ τὸν ὀρθόν τε καὶ δίκαιον, ὅτι συνίσασι Μελήτῳ μὲν ψευδομένῳ, ἐμοὶ δὲ ἀληθεύοντι;

εἶεν δή, ὦ ἄνδρες· ἃ μὲν ἐγὼ ἔχοιμʼ ἂν ἀπολογεῖσθαι, σχεδόν ἐστι ταῦτα καὶ ἄλλα ἴσως τοιαῦτα. τάχα δʼ ἄν τις

34c

ὑμῶν ἀγανακτήσειεν ἀναμνησθεὶς ἑαυτοῦ, εἰ ὁ μὲν καὶ ἐλάττω τουτουῒ τοῦ ἀγῶνος ἀγῶνα ἀγωνιζόμενος ἐδεήθη τε καὶ ἱκέτευσε τοὺς δικαστὰς μετὰ πολλῶν δακρύων, παιδία τε αὑτοῦ ἀναβιβασάμενος ἵνα ὅτι μάλιστα ἐλεηθείη, καὶ ἄλλους τῶν οἰκείων καὶ φίλων πολλούς, ἐγὼ δὲ οὐδὲν ἄρα τούτων ποιήσω, καὶ ταῦτα κινδυνεύων, ὡς ἂν δόξαιμι, τὸν ἔσχατον κίνδυνον. τάχʼ ἂν οὖν τις ταῦτα ἐννοήσας αὐθαδέστερον ἂν πρός με σχοίη καὶ ὀργισθεὶς αὐτοῖς τούτοις θεῖτο ἂν μετʼ

34d

ὀργῆς τὴν ψῆφον. εἰ δή τις ὑμῶν οὕτως ἔχει—οὐκ ἀξιῶ μὲν γὰρ ἔγωγε, εἰ δʼ οὖν—ἐπιεικῆ ἄν μοι δοκῶ πρὸς τοῦτον λέγειν λέγων ὅτι ἐμοί, ὦ ἄριστε, εἰσὶν μέν πού τινες καὶ οἰκεῖοι· καὶ γὰρ τοῦτο αὐτὸ τὸ τοῦ Ὁμήρου, οὐδʼ ἐγὼ ἀπὸ δρυὸς οὐδʼ ἀπὸ πέτρης πέφυκα ἀλλʼ ἐξ ἀνθρώπων, ὥστε καὶ οἰκεῖοί μοί εἰσι καὶ ὑεῖς γε, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, τρεῖς, εἷς μὲν μειράκιον ἤδη, δύο δὲ παιδία· ἀλλʼ ὅμως οὐδένα αὐτῶν δεῦρο ἀναβιβασάμενος δεήσομαι ὑμῶν ἀποψηφίσασθαι. τί δὴ οὖν οὐδὲν τούτων ποιήσω; οὐκ αὐθαδιζόμενος, ὦ ἄνδρες

34e

Ἀθηναῖοι, οὐδʼ ὑμᾶς ἀτιμάζων, ἀλλʼ εἰ μὲν θαρραλέως ἐγὼ ἔχω πρὸς θάνατον ἢ μή, ἄλλος λόγος, πρὸς δʼ οὖν δόξαν καὶ ἐμοὶ καὶ ὑμῖν καὶ ὅλῃ τῇ πόλει οὔ μοι δοκεῖ καλὸν εἶναι ἐμὲ τούτων οὐδὲν ποιεῖν καὶ τηλικόνδε ὄντα καὶ τοῦτο τοὔνομα ἔχοντα, εἴτʼ οὖν ἀληθὲς εἴτʼ οὖν ψεῦδος, ἀλλʼ οὖν δεδογμένον

35

35a

γέ ἐστί τῳ Σωκράτη διαφέρειν τῶν πολλῶν ἀνθρώπων.


35


εἰ οὖν ὑμῶν οἱ δοκοῦντες διαφέρειν εἴτε σοφίᾳ εἴτε ἀνδρείᾳ εἴτε ἄλλῃ ᾑτινιοῦν ἀρετῇ τοιοῦτοι ἔσονται, αἰσχρὸν ἂν εἴη· οἵουσπερ ἐγὼ πολλάκις ἑώρακά τινας ὅταν κρίνωνται, δοκοῦντας μέν τι εἶναι, θαυμάσια δὲ ἐργαζομένους, ὡς δεινόν τι οἰομένους πείσεσθαι εἰ ἀποθανοῦνται, ὥσπερ ἀθανάτων ἐσομένων ἂν ὑμεῖς αὐτοὺς μὴ ἀποκτείνητε· οἳ ἐμοὶ δοκοῦσιν αἰσχύνην τῇ πόλει περιάπτειν, ὥστʼ ἄν τινα καὶ τῶν ξένων

35b

ὑπολαβεῖν ὅτι οἱ διαφέροντες Ἀθηναίων εἰς ἀρετήν, οὓς αὐτοὶ ἑαυτῶν ἔν τε ταῖς ἀρχαῖς καὶ ταῖς ἄλλαις τιμαῖς προκρίνουσιν, οὗτοι γυναικῶν οὐδὲν διαφέρουσιν. ταῦτα γάρ, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, οὔτε ὑμᾶς χρὴ ποιεῖν τοὺς δοκοῦντας καὶ ὁπῃοῦν τι εἶναι, οὔτʼ, ἂν ἡμεῖς ποιῶμεν, ὑμᾶς ἐπιτρέπειν, ἀλλὰ τοῦτο αὐτὸ ἐνδείκνυσθαι, ὅτι πολὺ μᾶλλον καταψηφιεῖσθε τοῦ τὰ ἐλεινὰ ταῦτα δράματα εἰσάγοντος καὶ καταγέλαστον τὴν πόλιν ποιοῦντος ἢ τοῦ ἡσυχίαν ἄγοντος.

χωρὶς δὲ τῆς δόξης, ὦ ἄνδρες, οὐδὲ δίκαιόν μοι δοκεῖ

35c

εἶναι δεῖσθαι τοῦ δικαστοῦ οὐδὲ δεόμενον ἀποφεύγειν, ἀλλὰ διδάσκειν καὶ πείθειν. οὐ γὰρ ἐπὶ τούτῳ κάθηται ὁ δικαστής, ἐπὶ τῷ καταχαρίζεσθαι τὰ δίκαια, ἀλλʼ ἐπὶ τῷ κρίνειν ταῦτα· καὶ ὀμώμοκεν οὐ χαριεῖσθαι οἷς ἂν δοκῇ αὐτῷ, ἀλλὰ δικάσειν κατὰ τοὺς νόμους. οὔκουν χρὴ οὔτε ἡμᾶς ἐθίζειν ὑμᾶς ἐπιορκεῖν οὔθʼ ὑμᾶς ἐθίζεσθαι· οὐδέτεροι γὰρ ἂν ἡμῶν εὐσεβοῖεν. μὴ οὖν ἀξιοῦτέ με, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, τοιαῦτα δεῖν πρὸς ὑμᾶς πράττειν ἃ μήτε ἡγοῦμαι καλὰ εἶναι μήτε

35d

δίκαια μήτε ὅσια, ἄλλως τε μέντοι νὴ Δία πάντως καὶ ἀσεβείας φεύγοντα ὑπὸ Μελήτου τουτουΐ. σαφῶς γὰρ ἄν, εἰ πείθοιμι ὑμᾶς καὶ τῷ δεῖσθαι βιαζοίμην ὀμωμοκότας, θεοὺς ἂν διδάσκοιμι μὴ ἡγεῖσθαι ὑμᾶς εἶναι, καὶ ἀτεχνῶς ἀπολογούμενος κατηγοροίην ἂν ἐμαυτοῦ ὡς θεοὺς οὐ νομίζω. ἀλλὰ πολλοῦ δεῖ οὕτως ἔχειν· νομίζω τε γάρ, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, ὡς οὐδεὶς τῶν ἐμῶν κατηγόρων, καὶ ὑμῖν ἐπιτρέπω καὶ τῷ θεῷ κρῖναι περὶ ἐμοῦ ὅπῃ μέλλει ἐμοί τε ἄριστα εἶναι καὶ ὑμῖν.


36


2

35e

τὸ μὲν μὴ ἀγανακτεῖν, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, ἐπὶ τούτῳ

36

36a

τῷ γεγονότι, ὅτι μου κατεψηφίσασθε, ἄλλα τέ μοι πολλὰ συμβάλλεται, καὶ οὐκ ἀνέλπιστόν μοι γέγονεν τὸ γεγονὸς τοῦτο, ἀλλὰ πολὺ μᾶλλον θαυμάζω ἑκατέρων τῶν ψήφων τὸν γεγονότα ἀριθμόν. οὐ γὰρ ᾠόμην ἔγωγε οὕτω παρʼ ὀλίγον ἔσεσθαι ἀλλὰ παρὰ πολύ· νῦν δέ, ὡς ἔοικεν, εἰ τριάκοντα μόναι μετέπεσον τῶν ψήφων, ἀπεπεφεύγη ἄν. Μέλητον μὲν οὖν, ὡς ἐμοὶ δοκῶ, καὶ νῦν ἀποπέφευγα, καὶ οὐ μόνον ἀποπέφευγα, ἀλλὰ παντὶ δῆλον τοῦτό γε, ὅτι εἰ μὴ ἀνέβη Ἄνυτος καὶ Λύκων κατηγορήσοντες ἐμοῦ, κἂν ὦφλε

36b

χιλίας δραχμάς, οὐ μεταλαβὼν τὸ πέμπτον μέρος τῶν ψήφων.

τιμᾶται δʼ οὖν μοι ὁ ἀνὴρ θανάτου. εἶεν· ἐγὼ δὲ δὴ τίνος ὑμῖν ἀντιτιμήσομαι, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι; ἢ δῆλον ὅτι τῆς ἀξίας; τί οὖν; τ τί ἄξιός εἰμι παθεῖν ἢ ἀποτεῖσαι, ὅτι μαθὼν ἐν τῷ βίῳ οὐχ ἡσυχίαν ἦγον, ἀλλʼ ἀμελήσας ὧνπερ οἱ πολλοί, χρηματισμοῦ τε καὶ οἰκονομίας καὶ στρατηγιῶν καὶ δημηγοριῶν καὶ τῶν ἄλλων ἀρχῶν καὶ συνωμοσιῶν καὶ στάσεων τῶν ἐν τῇ πόλει γιγνομένων, ἡγησάμενος ἐμαυτὸν

36c

ῷ ὄντι ἐπιεικέστερον εἶναι ἢ ὥστε εἰς ταῦτʼ ἰόντα σῴζεσθαι, ἐνταῦθα μὲν οὐκ ᾖα οἷ ἐλθὼν μήτε ὑμῖν μήτε ἐμαυτῷ ἔμελλον μηδὲν ὄφελος εἶναι, ἐπὶ δὲ τὸ ἰδίᾳ ἕκαστον ἰὼν εὐεργετεῖν τὴν μεγίστην εὐεργεσίαν, ὡς ἐγώ φημι, ἐνταῦθα ᾖα, ἐπιχειρῶν ἕκαστον ὑμῶν πείθειν μὴ πρότερον μήτε τῶν ἑαυτοῦ μηδενὸς ἐπιμελεῖσθαι πρὶν ἑαυτοῦ ἐπιμεληθείη ὅπως ὡς βέλτιστος καὶ φρονιμώτατος ἔσοιτο, μήτε τῶν τῆς πόλεως, πρὶν αὐτῆς τῆς πόλεως, τῶν τε ἄλλων οὕτω κατὰ τὸν

36d

αὐτὸν τρόπον ἐπιμελεῖσθαι—τί οὖν εἰμι ἄξιος παθεῖν τοιοῦτος ὤν; ἀγαθόν τι, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, εἰ δεῖ γε κατὰ τὴν ἀξίαν τῇ ἀληθείᾳ τιμᾶσθαι· καὶ ταῦτά γε ἀγαθὸν τοιοῦτον ὅτι ἂν πρέποι ἐμοί. τί οὖν πρέπει ἀνδρὶ πένητι εὐεργέτῃ δεομένῳ ἄγειν σχολὴν ἐπὶ τῇ ὑμετέρᾳ παρακελεύσει; οὐκ ἔσθʼ ὅτι μᾶλλον, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, πρέπει οὕτως ὡς τὸν τοιοῦτον ἄνδρα ἐν πρυτανείῳ σιτεῖσθαι, πολύ γε μᾶλλον ἢ εἴ τις ὑμῶν ἵππῳ ἢ συνωρίδι ἢ ζεύγει νενίκηκεν Ὀλυμπίασιν· ὁ μὲν γὰρ ὑμᾶς ποιεῖ εὐδαίμονας δοκεῖν εἶναι, ἐγὼ δὲ

36e

εἶναι, καὶ ὁ μὲν τροφῆς οὐδὲν δεῖται, ἐγὼ δὲ δέομαι.



εἰ οὖν δεῖ με κατὰ τὸ δίκαιον τῆς ἀξίας τιμᾶσθαι, τούτου

37

37a

τιμῶμαι, ἐν πρυτανείῳ σιτήσεως.

ἴσως οὖν ὑμῖν καὶ ταυτὶ λέγων παραπλησίως δοκῶ λέγειν ὥσπερ περὶ τοῦ οἴκτου καὶ τῆς ἀντιβολήσεως, ἀπαυθαδιζόμενος· τὸ δὲ οὐκ ἔστιν, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, τοιοῦτον ἀλλὰ τοιόνδε μᾶλλον. πέπεισμαι ἐγὼ ἑκὼν εἶναι μηδένα ἀδικεῖν ἀνθρώπων, ἀλλὰ ὑμᾶς τοῦτο οὐ πείθω· ὀλίγον γὰρ χρόνον ἀλλήλοις διειλέγμεθα. ἐπεί, ὡς ἐγᾦμαι, εἰ ἦν ὑμῖν νόμος, ὥσπερ καὶ ἄλλοις ἀνθρώποις, περὶ θανάτου μὴ μίαν ἡμέραν

37b

μόνον κρίνειν ἀλλὰ πολλάς, ἐπείσθητε ἄν· νῦν δʼ οὐ ῥᾴδιον ἐν χρόνῳ ὀλίγῳ μεγάλας διαβολὰς ἀπολύεσθαι. πεπεισμένος δὴ ἐγὼ μηδένα ἀδικεῖν πολλοῦ δέω ἐμαυτόν γε ἀδικήσειν καὶ κατʼ ἐμαυτοῦ ἐρεῖν αὐτὸς ὡς ἄξιός εἰμί του κακοῦ καὶ τιμήσεσθαι τοιούτου τινὸς ἐμαυτῷ. τί δείσας; ἦ μὴ πάθω τοῦτο οὗ Μέλητός μοι τιμᾶται, ὅ φημι οὐκ εἰδέναι οὔτʼ εἰ ἀγαθὸν οὔτʼ εἰ κακόν ἐστιν; ἀντὶ τούτου δὴ ἕλωμαι ὧν εὖ οἶδά τι κακῶν ὄντων τούτου τιμησάμενος; πότερον δεσμοῦ;

37c

καὶ τί με δεῖ ζῆν ἐν δεσμωτηρίῳ, δουλεύοντα τῇ ἀεὶ καθισταμένῃ ἀρχῇ, τοῖς ἕνδεκα; ἀλλὰ χρημάτων καὶ δεδέσθαι ἕως ἂν ἐκτείσω; ἀλλὰ ταὐτόν μοί ἐστιν ὅπερ νυνδὴ ἔλεγον· οὐ γὰρ ἔστι μοι χρήματα ὁπόθεν ἐκτείσω. ἀλλὰ δὴ φυγῆς τιμήσωμαι; ἴσως γὰρ ἄν μοι τούτου τιμήσαιτε. πολλὴ μεντἄν με φιλοψυχία ἔχοι, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, εἰ οὕτως ἀλόγιστός εἰμι ὥστε μὴ δύνασθαι λογίζεσθαι ὅτι ὑμεῖς μὲν ὄντες πολῖταί μου οὐχ οἷοί τε ἐγένεσθε ἐνεγκεῖν τὰς ἐμὰς

37d

διατριβὰς καὶ τοὺς λόγους, ἀλλʼ ὑμῖν βαρύτεραι γεγόνασιν καὶ ἐπιφθονώτεραι, ὥστε ζητεῖτε αὐτῶν νυνὶ ἀπαλλαγῆναι· ἄλλοι δὲ ἄρα αὐτὰς οἴσουσι ῥᾳδίως; πολλοῦ γε δεῖ, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι. καλὸς οὖν ἄν μοι ὁ βίος εἴη ἐξελθόντι τηλικῷδε ἀνθρώπῳ ἄλλην ἐξ ἄλλης πόλεως ἀμειβομένῳ καὶ ἐξελαυνομένῳ ζῆν. εὖ γὰρ οἶδʼ ὅτι ὅποι ἂν ἔλθω, λέγοντος ἐμοῦ ἀκροάσονται οἱ νέοι ὥσπερ ἐνθάδε· κἂν μὲν τούτους ἀπελαύνω, οὗτοί με αὐτοὶ ἐξελῶσι πείθοντες τοὺς πρεσβυτέρους·

37e

ἐὰν δὲ μὴ ἀπελαύνω, οἱ τούτων πατέρες δὲ καὶ οἰκεῖοι διʼ αὐτοὺς τούτους.

ἴσως οὖν ἄν τις εἴποι· σιγῶν δὲ καὶ ἡσυχίαν ἄγων, ὦ Σώκρατες, οὐχ οἷός τʼ ἔσῃ ἡμῖν ἐξελθὼν ζῆν; τουτὶ δή ἐστι πάντων χαλεπώτατον πεῖσαί τινας ὑμῶν.


38


ἐάντε γὰρ λέγω ὅτι τῷ θεῷ ἀπειθεῖν τοῦτʼ ἐστὶν καὶ διὰ τοῦτʼ ἀδύνατον

38

38a

ἡσυχίαν ἄγειν, οὐ πείσεσθέ μοι ὡς εἰρωνευομένῳ· ἐάντʼ αὖ λέγω ὅτι καὶ τυγχάνει μέγιστον ἀγαθὸν ὂν ἀνθρώπῳ τοῦτο, ἑκάστης ἡμέρας περὶ ἀρετῆς τοὺς λόγους ποιεῖσθαι καὶ τῶν ἄλλων περὶ ὧν ὑμεῖς ἐμοῦ ἀκούετε διαλεγομένου καὶ ἐμαυτὸν καὶ ἄλλους ἐξετάζοντος, ὁ δὲ ἀνεξέταστος βίος οὐ βιωτὸς ἀνθρώπῳ, ταῦτα δʼ ἔτι ἧττον πείσεσθέ μοι λέγοντι. τὰ δὲ ἔχει μὲν οὕτως, ὡς ἐγώ φημι, ὦ ἄνδρες, πείθειν δὲ οὐ ῥᾴδιον. καὶ ἐγὼ ἅμα οὐκ εἴθισμαι ἐμαυτὸν ἀξιοῦν κακοῦ

38b

οὐδενός. εἰ μὲν γὰρ ἦν μοι χρήματα, ἐτιμησάμην ἂν χρημάτων ὅσα ἔμελλον ἐκτείσειν, οὐδὲν γὰρ ἂν ἐβλάβην· νῦν δὲ οὐ γὰρ ἔστιν, εἰ μὴ ἄρα ὅσον ἂν ἐγὼ δυναίμην ἐκτεῖσαι, τοσούτου βούλεσθέ μοι τιμῆσαι. ἴσως δʼ ἂν δυναίμην ἐκτεῖσαι ὑμῖν που μνᾶν ἀργυρίου· τοσούτου οὖν τιμῶμαι.

Πλάτων δὲ ὅδε, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, καὶ Κρίτων καὶ Κριτόβουλος καὶ Ἀπολλόδωρος κελεύουσί με τριάκοντα μνῶν τιμήσασθαι, αὐτοὶ δʼ ἐγγυᾶσθαι· τιμῶμαι οὖν τοσούτου, ἐγγυηταὶ δὲ ὑμῖν ἔσονται τοῦ ἀργυρίου οὗτοι ἀξιόχρεῳ.

3

38c

οὐ πολλοῦ γʼ ἕνεκα χρόνου, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, ὄνομα ἕξετε καὶ αἰτίαν ὑπὸ τῶν βουλομένων τὴν πόλιν λοιδορεῖν ὡς Σωκράτη ἀπεκτόνατε, ἄνδρα σοφόν—φήσουσι γὰρ δὴ σοφὸν εἶναι, εἰ καὶ μή εἰμι, οἱ βουλόμενοι ὑμῖν ὀνειδίζειν— εἰ γοῦν περιεμείνατε ὀλίγον χρόνον, ἀπὸ τοῦ αὐτομάτου ἂν ὑμῖν τοῦτο ἐγένετο· ὁρᾶτε γὰρ δὴ τὴν ἡλικίαν ὅτι πόρρω ἤδη ἐστὶ τοῦ βίου θανάτου δὲ ἐγγύς. λέγω δὲ τοῦτο οὐ

38d

πρὸς πάντας ὑμᾶς, ἀλλὰ πρὸς τοὺς ἐμοῦ καταψηφισαμένους θάνατον. λέγω δὲ καὶ τόδε πρὸς τοὺς αὐτοὺς τούτους. ἴσως με οἴεσθε, ὦ ἄνδρες Ἀθηναῖοι, ἀπορίᾳ λόγων ἑαλωκέναι τοιούτων οἷς ἂν ὑμᾶς ἔπεισα, εἰ ᾤμην δεῖν ἅπαντα ποιεῖν καὶ λέγειν ὥστε ἀποφυγεῖν τὴν δίκην. πολλοῦ γε δεῖ. ἀλλʼ ἀπορίᾳ μὲν ἑάλωκα, οὐ μέντοι λόγων, ἀλλὰ τόλμης καὶ ἀναισχυντίας καὶ τοῦ μὴ ἐθέλειν λέγειν πρὸς ὑμᾶς τοιαῦτα οἷʼ ἂν ὑμῖν μὲν ἥδιστα ἦν ἀκούειν— θρηνοῦντός τέ μου καὶ ὀδυρομένου καὶ ἄλλα ποιοῦντος καὶ

38e

λέγοντος πολλὰ καὶ ἀνάξια ἐμοῦ, ὡς ἐγώ φημι, οἷα δὴ καὶ εἴθισθε ὑμεῖς τῶν ἄλλων ἀκούειν. ἀλλʼ οὔτε τότε ᾠήθην δεῖν ἕνεκα τοῦ κινδύνου πρᾶξαι οὐδὲν ἀνελεύθερον, οὔτε νῦν μοι μεταμέλει οὕτως ἀπολογησαμένῳ, ἀλλὰ πολὺ μᾶλλον αἱροῦμαι ὧδε ἀπολογησάμενος τεθνάναι ἢ ἐκείνως ζῆν.


39


οὔτε γὰρ ἐν δίκῃ οὔτʼ ἐν πολέμῳ οὔτʼ ἐμὲ οὔτʼ ἄλλον οὐδένα δεῖ

39

39a

τοῦτο μηχανᾶσθαι, ὅπως ἀποφεύξεται πᾶν ποιῶν θάνατον. καὶ γὰρ ἐν ταῖς μάχαις πολλάκις δῆλον γίγνεται ὅτι τό γε ἀποθανεῖν ἄν τις ἐκφύγοι καὶ ὅπλα ἀφεὶς καὶ ἐφʼ ἱκετείαν τραπόμενος τῶν διωκόντων· καὶ ἄλλαι μηχαναὶ πολλαί εἰσιν ἐν ἑκάστοις τοῖς κινδύνοις ὥστε διαφεύγειν θάνατον, ἐάν τις τολμᾷ πᾶν ποιεῖν καὶ λέγειν. ἀλλὰ μὴ οὐ τοῦτʼ ᾖ χαλεπόν, ὦ ἄνδρες, θάνατον ἐκφυγεῖν, ἀλλὰ πολὺ χαλεπώτερον πονηρίαν·

39b

θᾶττον γὰρ θανάτου θεῖ. καὶ νῦν ἐγὼ μὲν ἅτε βραδὺς ὢν καὶ πρεσβύτης ὑπὸ τοῦ βραδυτέρου ἑάλων, οἱ δʼ ἐμοὶ κατήγοροι ἅτε δεινοὶ καὶ ὀξεῖς ὄντες ὑπὸ τοῦ θάττονος, τῆς κακίας. καὶ νῦν ἐγὼ μὲν ἄπειμι ὑφʼ ὑμῶν θανάτου δίκην ὀφλών, οὗτοι δʼ ὑπὸ τῆς ἀληθείας ὠφληκότες μοχθηρίαν καὶ ἀδικίαν. καὶ ἐγώ τε τῷ τιμήματι ἐμμένω καὶ οὗτοι. ταῦτα μέν που ἴσως οὕτως καὶ ἔδει σχεῖν, καὶ οἶμαι αὐτὰ μετρίως ἔχειν.

39c

τὸ δὲ δὴ μετὰ τοῦτο ἐπιθυμῶ ὑμῖν χρησμῳδῆσαι, ὦ καταψηφισάμενοί μου· καὶ γάρ εἰμι ἤδη ἐνταῦθα ἐν ᾧ μάλιστα ἄνθρωποι χρησμῳδοῦσιν, ὅταν μέλλωσιν ἀποθανεῖσθαι. φημὶ γάρ, ὦ ἄνδρες οἳ ἐμὲ ἀπεκτόνατε, τιμωρίαν ὑμῖν ἥξειν εὐθὺς μετὰ τὸν ἐμὸν θάνατον πολὺ χαλεπωτέραν νὴ Δία ἢ οἵαν ἐμὲ ἀπεκτόνατε· νῦν γὰρ τοῦτο εἴργασθε οἰόμενοι μὲν ἀπαλλάξεσθαι τοῦ διδόναι ἔλεγχον τοῦ βίου, τὸ δὲ ὑμῖν πολὺ ἐναντίον ἀποβήσεται, ὡς ἐγώ φημι. πλείους ἔσονται ὑμᾶς

39d

οἱ ἐλέγχοντες, οὓς νῦν ἐγὼ κατεῖχον, ὑμεῖς δὲ οὐκ ᾐσθάνεσθε· καὶ χαλεπώτεροι ἔσονται ὅσῳ νεώτεροί εἰσιν, καὶ ὑμεῖς μᾶλλον ἀγανακτήσετε. εἰ γὰρ οἴεσθε ἀποκτείνοντες ἀνθρώπους ἐπισχήσειν τοῦ ὀνειδίζειν τινὰ ὑμῖν ὅτι οὐκ ὀρθῶς ζῆτε, οὐ καλῶς διανοεῖσθε· οὐ γάρ ἐσθʼ αὕτη ἡ ἀπαλλαγὴ οὔτε πάνυ δυνατὴ οὔτε καλή, ἀλλʼ ἐκείνη καὶ καλλίστη καὶ ῥᾴστη, μὴ τοὺς ἄλλους κολούειν ἀλλʼ ἑαυτὸν παρασκευάζειν ὅπως ἔσται ὡς βέλτιστος. ταῦτα μὲν οὖν ὑμῖν τοῖς καταψηφισαμένοις μαντευσάμενος ἀπαλλάττομαι.

39e

τοῖς δὲ ἀποψηφισαμένοις ἡδέως ἂν διαλεχθείην ὑπὲρ τοῦ γεγονότος τουτουῒ πράγματος, ἐν ᾧ οἱ ἄρχοντες ἀσχολίαν ἄγουσι καὶ οὔπω ἔρχομαι οἷ ἐλθόντα με δεῖ τεθνάναι. ἀλλά μοι, ὦ ἄνδρες, παραμείνατε τοσοῦτον χρόνον· οὐδὲν γὰρ κωλύει διαμυθολογῆσαι πρὸς ἀλλήλους ἕως ἔξεστιν.


40


ὑμῖν

40

40a

γὰρ ὡς φίλοις οὖσιν ἐπιδεῖξαι ἐθέλω τὸ νυνί μοι συμβεβηκὸς τί ποτε νοεῖ. ἐμοὶ γάρ, ὦ ἄνδρες δικασταί—ὑμᾶς γὰρ δικαστὰς καλῶν ὀρθῶς ἂν καλοίην—θαυμάσιόν τι γέγονεν. ἡ γὰρ εἰωθυῖά μοι μαντικὴ ἡ τοῦ δαιμονίου ἐν μὲν τῷ πρόσθεν χρόνῳ παντὶ πάνυ πυκνὴ ἀεὶ ἦν καὶ πάνυ ἐπὶ σμικροῖς ἐναντιουμένη, εἴ τι μέλλοιμι μὴ ὀρθῶς πράξειν. νυνὶ δὲ συμβέβηκέ μοι ἅπερ ὁρᾶτε καὶ αὐτοί, ταυτὶ ἅ γε δὴ οἰηθείη ἄν τις καὶ νομίζεται ἔσχατα κακῶν εἶναι· ἐμοὶ δὲ

40b

οὔτε ἐξιόντι ἕωθεν οἴκοθεν ἠναντιώθη τὸ τοῦ θεοῦ σημεῖον, οὔτε ἡνίκα ἀνέβαινον ἐνταυθοῖ ἐπὶ τὸ δικαστήριον, οὔτε ἐν τῷ λόγῳ οὐδαμοῦ μέλλοντί τι ἐρεῖν. καίτοι ἐν ἄλλοις λόγοις πολλαχοῦ δή με ἐπέσχε λέγοντα μεταξύ· νῦν δὲ οὐδαμοῦ περὶ ταύτην τὴν πρᾶξιν οὔτʼ ἐν ἔργῳ οὐδενὶ οὔτʼ ἐν λόγῳ ἠναντίωταί μοι. τί οὖν αἴτιον εἶναι ὑπολαμβάνω; ἐγὼ ὑμῖν ἐρῶ· κινδυνεύει γάρ μοι τὸ συμβεβηκὸς τοῦτο ἀγαθὸν γεγονέναι, καὶ οὐκ ἔσθʼ ὅπως ἡμεῖς ὀρθῶς ὑπολαμβάνομεν,

40c

ὅσοι οἰόμεθα κακὸν εἶναι τὸ τεθνάναι. μέγα μοι τεκμήριον τούτου γέγονεν· οὐ γὰρ ἔσθʼ ὅπως οὐκ ἠναντιώθη ἄν μοι τὸ εἰωθὸς σημεῖον, εἰ μή τι ἔμελλον ἐγὼ ἀγαθὸν πράξειν.

ἐννοήσωμεν δὲ καὶ τῇδε ὡς πολλὴ ἐλπίς ἐστιν ἀγαθὸν αὐτὸ εἶναι. δυοῖν γὰρ θάτερόν ἐστιν τὸ τεθνάναι· ἢ γὰρ οἷον μηδὲν εἶναι μηδὲ αἴσθησιν μηδεμίαν μηδενὸς ἔχειν τὸν τεθνεῶτα, ἢ κατὰ τὰ λεγόμενα μεταβολή τις τυγχάνει οὖσα καὶ μετοίκησις τῇ ψυχῇ τοῦ τόπου τοῦ ἐνθένδε εἰς ἄλλον τόπον. καὶ εἴτε δὴ μηδεμία αἴσθησίς ἐστιν ἀλλʼ

40d

οἷον ὕπνος ἐπειδάν τις καθεύδων μηδʼ ὄναρ μηδὲν ὁρᾷ, θαυμάσιον κέρδος ἂν εἴη ὁ θάνατος—ἐγὼ γὰρ ἂν οἶμαι, εἴ τινα ἐκλεξάμενον δέοι ταύτην τὴν νύκτα ἐν ᾗ οὕτω κατέδαρθεν ὥστε μηδὲ ὄναρ ἰδεῖν, καὶ τὰς ἄλλας νύκτας τε καὶ ἡμέρας τὰς τοῦ βίου τοῦ ἑαυτοῦ ἀντιπαραθέντα ταύτῃ τῇ νυκτὶ δέοι σκεψάμενον εἰπεῖν πόσας ἄμεινον καὶ ἥδιον ἡμέρας καὶ νύκτας ταύτης τῆς νυκτὸς βεβίωκεν ἐν τῷ ἑαυτοῦ βίῳ, οἶμαι ἂν μὴ ὅτι ἰδιώτην τινά, ἀλλὰ τὸν μέγαν βασιλέα εὐαριθμήτους

40e

ἂν εὑρεῖν αὐτὸν ταύτας πρὸς τὰς ἄλλας ἡμέρας καὶ νύκτας—εἰ οὖν τοιοῦτον ὁ θάνατός ἐστιν, κέρδος ἔγωγε λέγω· καὶ γὰρ οὐδὲν πλείων ὁ πᾶς χρόνος φαίνεται οὕτω δὴ εἶναι ἢ μία νύξ. εἰ δʼ αὖ οἷον ἀποδημῆσαί ἐστιν ὁ θάνατος ἐνθένδε εἰς ἄλλον τόπον, καὶ ἀληθῆ ἐστιν τὰ λεγόμενα, ὡς ἄρα ἐκεῖ εἰσι πάντες οἱ τεθνεῶτες, τί μεῖζον ἀγαθὸν τούτου εἴη ἄν, ὦ ἄνδρες δικασταί;


41


εἰ γάρ τις

41

41a

ἀφικόμενος εἰς Ἅιδου, ἀπαλλαγεὶς τουτωνὶ τῶν φασκόντων δικαστῶν εἶναι, εὑρήσει τοὺς ὡς ἀληθῶς δικαστάς, οἵπερ καὶ λέγονται ἐκεῖ δικάζειν, Μίνως τε καὶ Ῥαδάμανθυς καὶ Αἰακὸς καὶ Τριπτόλεμος καὶ ἄλλοι ὅσοι τῶν ἡμιθέων δίκαιοι ἐγένοντο ἐν τῷ ἑαυτῶν βίῳ, ἆρα φαύλη ἂν εἴη ἡ ἀποδημία; ἢ αὖ Ὀρφεῖ συγγενέσθαι καὶ Μουσαίῳ καὶ Ἡσιόδῳ καὶ Ὁμήρῳ ἐπὶ πόσῳ ἄν τις δέξαιτʼ ἂν ὑμῶν; ἐγὼ μὲν γὰρ πολλάκις ἐθέλω τεθνάναι εἰ ταῦτʼ ἔστιν ἀληθῆ. ἐπεὶ

41b

ἔμοιγε καὶ αὐτῷ θαυμαστὴ ἂν εἴη ἡ διατριβὴ αὐτόθι, ὁπότε ἐντύχοιμι Παλαμήδει καὶ Αἴαντι τῷ Τελαμῶνος καὶ εἴ τις ἄλλος τῶν παλαιῶν διὰ κρίσιν ἄδικον τέθνηκεν, ἀντιπαραβάλλοντι τὰ ἐμαυτοῦ πάθη πρὸς τὰ ἐκείνων—ὡς ἐγὼ οἶμαι, οὐκ ἂν ἀηδὲς εἴη—καὶ δὴ τὸ μέγιστον, τοὺς ἐκεῖ ἐξετάζοντα καὶ ἐρευνῶντα ὥσπερ τοὺς ἐνταῦθα διάγειν, τίς αὐτῶν σοφός ἐστιν καὶ τίς οἴεται μέν, ἔστιν δʼ οὔ. ἐπὶ πόσῳ δʼ ἄν τις, ὦ ἄνδρες δικασταί, δέξαιτο ἐξετάσαι τὸν ἐπὶ Τροίαν ἀγαγόντα

41c

τὴν πολλὴν στρατιὰν ἢ Ὀδυσσέα ἢ Σίσυφον ἢ ἄλλους μυρίους ἄν τις εἴποι καὶ ἄνδρας καὶ γυναῖκας, οἷς ἐκεῖ διαλέγεσθαι καὶ συνεῖναι καὶ ἐξετάζειν ἀμήχανον ἂν εἴη εὐδαιμονίας; πάντως οὐ δήπου τούτου γε ἕνεκα οἱ ἐκεῖ ἀποκτείνουσι· τά τε γὰρ ἄλλα εὐδαιμονέστεροί εἰσιν οἱ ἐκεῖ τῶν ἐνθάδε, καὶ ἤδη τὸν λοιπὸν χρόνον ἀθάνατοί εἰσιν, εἴπερ γε τὰ λεγόμενα ἀληθῆ.

ἀλλὰ καὶ ὑμᾶς χρή, ὦ ἄνδρες δικασταί, εὐέλπιδας εἶναι πρὸς τὸν θάνατον, καὶ ἕν τι τοῦτο διανοεῖσθαι ἀληθές, ὅτι

41d

οὐκ ἔστιν ἀνδρὶ ἀγαθῷ κακὸν οὐδὲν οὔτε ζῶντι οὔτε τελευτήσαντι, οὐδὲ ἀμελεῖται ὑπὸ θεῶν τὰ τούτου πράγματα· οὐδὲ τὰ ἐμὰ νῦν ἀπὸ τοῦ αὐτομάτου γέγονεν, ἀλλά μοι δῆλόν ἐστι τοῦτο, ὅτι ἤδη τεθνάναι καὶ ἀπηλλάχθαι πραγμάτων βέλτιον ἦν μοι. διὰ τοῦτο καὶ ἐμὲ οὐδαμοῦ ἀπέτρεψεν τὸ σημεῖον, καὶ ἔγωγε τοῖς καταψηφισαμένοις μου καὶ τοῖς κατηγόροις οὐ πάνυ χαλεπαίνω. καίτοι οὐ ταύτῃ τῇ διανοίᾳ κατεψηφίζοντό μου καὶ κατηγόρουν, ἀλλʼ οἰόμενοι βλάπτειν·

41e

τοῦτο αὐτοῖς ἄξιον μέμφεσθαι. τοσόνδε μέντοι αὐτῶν δέομαι· τοὺς ὑεῖς μου, ἐπειδὰν ἡβήσωσι, τιμωρήσασθε, ὦ ἄνδρες, ταὐτὰ ταῦτα λυποῦντες ἅπερ ἐγὼ ὑμᾶς ἐλύπουν, ἐὰν ὑμῖν δοκῶσιν ἢ χρημάτων ἢ ἄλλου του πρότερον ἐπιμελεῖσθαι ἢ ἀρετῆς, καὶ ἐὰν δοκῶσί τι εἶναι μηδὲν ὄντες, ὀνειδίζετε αὐτοῖς ὥσπερ ἐγὼ ὑμῖν, ὅτι οὐκ ἐπιμελοῦνται ὧν δεῖ, καὶ οἴονταί τι εἶναι ὄντες οὐδενὸς ἄξιοι.


καὶ ἐὰν

42

42a

ταῦτα ποιῆτε, δίκαια πεπονθὼς ἐγὼ ἔσομαι ὑφʼ ὑμῶν αὐτός τε καὶ οἱ ὑεῖς. ἀλλὰ γὰρ ἤδη ὥρα ἀπιέναι, ἐμοὶ μὲν ἀποθανουμένῳ, ὑμῖν δὲ βιωσομένοις· ὁπότεροι δὲ ἡμῶν ἔρχονται ἐπὶ ἄμεινον πρᾶγμα, ἄδηλον παντὶ πλὴν ἢ τῷ θεῷ.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar Filsafat - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Filsafat Kontemporer - Bambang I. Sugiharto

Apa Itu Filsafat?... - Pengantar Filsafat 01 - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Pemikiran Modern - Bambang I. Sugiharto

METAFISIKA KEBUDAYAAN - Bambang I. Sugiharto

Filsafat Ilmu - Bambang I. Sugiharto

Nietzsche & Keberanian Jadi Diri Sendiri

Postmodernisme

HERMENEUTIK - Bambang I. Sugiharto

Écrits dan Arsitektur Kajian Subjek - Lacan