TENTANG WAKTU & ADA - Martin Heidegger









Pendahuluan
oleh Joan Stambaugh.

Buku On Time and Being memuat beberapa teks penting Martin Heidegger, yaitu:
- kuliah berjudul “Time and Being”, ringkasan enam sesi seminar yang membahas kuliah tersebut,
- sebuah kuliah lain berjudul “The End of Philosophy and the Task of Thinking”,
- serta sebuah tulisan reflektif singkat tentang hubungan Heidegger dengan fenomenologi.

Pendahuluan dari Joan Stambaugh bertujuan untuk menelusuri dan menjelaskan secara singkat jalan pemikiran Heidegger, khususnya perjalanan dari karya besarnya Being and Time menuju kuliah “Time and Being”.

Jika dilihat sepintas dari luar, “Time and Being” tampak seperti kebalikan langsung dari Being and Time. Judulnya saja sudah seperti dibalik. Namun, jalan yang ditempuh Heidegger dari karya awal ke karya ini jauh lebih halus dan kompleks daripada sekadar pembalikan konsep. Kita tidak bisa mengatakan bahwa Heidegger hanya menukar posisi “Ada” dan “Waktu”.

Yang terjadi sebenarnya adalah perubahan yang sangat mendalam dalam cara memahami kedua konsep tersebut, tanpa meninggalkan niat filosofis dasarnya sejak awal.

Dalam Being and Time, Heidegger memulai dari analisis fenomenologis dan hermeneutik tentang manusia—tentang bagaimana manusia ada di dunia—lalu bergerak menuju apa yang ia sebut sebagai ontologi fundamental, yaitu pemikiran tentang makna Ada itu sendiri.

Di sana, Heidegger membongkar berbagai lapisan pengalaman manusia: benda-benda alam yang sekadar “ada” begitu saja, alat-alat atau benda pakai yang hadir dalam konteks kegunaan, dan inti keberadaan manusia yang ia pahami melalui struktur dasar yang disebut Sorge (kepedulian atau keterlibatan eksistensial).

Ketiganya membentuk satu kesatuan yang tak terpisahkan: ada-di-dalam-dunia (being-in-the-world). Gagasan ini jelas berakar pada fenomenologi Husserl, terutama pada konsep kesadaran sebagai intensionalitas—bahwa setiap kesadaran selalu merupakan kesadaran tentang sesuatu.

Karena itu, Heidegger menolak gagasan tentang subjek yang terpisah dari dunia, seperti res cogitans pada Descartes. Tidak ada subjek yang berdiri sendiri tanpa dunia. Sebaliknya, tidak ada dunia (dalam makna fenomenologis) tanpa manusia.

Sifat paling dasar dari manusia bisa disebut sebagai kesadaran yang peduli terhadap keberadaannya sendiri di dunia. Dari kepedulian terhadap keberadaan dirinya inilah manusia lalu mampu peduli dan berhubungan dengan makhluk-makhluk lain.

Ketika Heidegger mengatakan bahwa waktu adalah syarat kemungkinan bagi Sorge (care), ia sebenarnya masih bergerak dalam kerangka pemikiran Kant. Ini adalah kerangka yang selalu bertanya: “Apa yang membuat sesuatu menjadi mungkin?”

Waktu, bagi Heidegger awal, dipahami sebagai kesatuan tiga dimensi: masa lalu, masa kini, dan masa depan, yang bersama-sama membentuk keterbukaan manusia terhadap dunia. Keterbukaan ini membuat manusia berbeda dari makhluk lain—ia transparan terhadap dirinya sendiri, sementara makhluk lain tetap “tertutup”.

Namun, di bagian akhir Being and Time, Heidegger membuat langkah yang sangat menentukan. Ia mengatakan bahwa temporalisasi (waktu sebagai struktur keberadaan manusia) mungkin adalah horizon dari Ada itu sendiri.

Dengan pernyataan ini, Heidegger secara implisit melepaskan cara berpikir kausal dan fondasional. Ia tidak lagi mencari sebab atau dasar terakhir, melainkan bergerak menuju pengatasan metafisika tradisional.

“Horizon” bukanlah sebab. Horizon menunjuk pada arah, keterbukaan, dan medan kemungkinan. Karena itu, setelah Being and Time, Heidegger tidak lagi membedakan secara tegas antara metafisika, ontologi, dan teologi. Ketiganya ia pahami sebagai satu tradisi yang sama: onto-teologi, yakni filsafat yang selalu mencari dasar tertinggi, entah itu Tuhan, sebab pertama, atau realitas absolut.

Jenis filsafat inilah yang ingin Heidegger tinggalkan, bukan sekadar “dikalahkan”. Maka ketika ia berbicara tentang “akhir filsafat”, itu bukan berarti akhir dari berpikir. Justru sebaliknya: berpikir harus melangkah mundur dari metafisika dan mulai memperhatikan sejarah Ada serta apa yang ia sebut sebagai Appropriation (Ereignis)—sesuatu yang sepenuhnya non-metafisik.

Kuliah “Time and Being” berfokus pada pertanyaan: apa yang terjadi pada konsep waktu dan Ada ketika keduanya dipikirkan di luar kerangka metafisika?

Menurut Heidegger, sepanjang sejarah filsafat Barat, Ada hampir selalu dipahami sebagai kehadiran (presence). Bentuk kehadiran ini memang berubah-ubah sepanjang zaman, tetapi perubahannya tidak mengikuti logika kemajuan yang teratur seperti pada Hegel. Ia terjadi dalam lompatan-lompatan zaman (epochal) yang tidak bisa diprediksi.

Karena itu, Heidegger menunjukkan berbagai cara historis manusia memahami Ada: sebagai Yang Satu, Logos, Idea, ousia, energeia, substansi, aktualitas, persepsi, monad, objektivitas, kehendak rasional, cinta, roh, kekuasaan, hingga kehendak untuk berkehendak dalam kekekalan pengulangan yang sama.

Baik waktu maupun Ada memiliki sejarah metafisik yang panjang sejak Plato. Bahkan, menurut Heidegger, metafisika bermula ketika Plato memisahkan ranah Ada (Idea) dari ranah waktu (menjadi).

Karena itu, tugas Heidegger sangat berat: mengambil dua konsep yang justru mendefinisikan metafisika, lalu memikirkan keduanya secara non-metafisik.

Bagaimana mungkin kita memikirkan Ada bukan sebagai sesuatu yang tetap dan tak berubah?... Bagaimana mungkin kita memikirkan waktu bukan sebagai sesuatu yang fana dan terus berlalu?...

Di titik inilah pendahuluan ini berhenti, dan selanjutnya hanya akan menunjukkan langkah-langkah awal Heidegger dalam “melangkah mundur” dari metafisika.


Bagian 1:
Kuliah: Time and Being


Bayangkan jika saat ini kita diperlihatkan dua lukisan karya Paul Klee—dalam versi aslinya—yang ia lukis pada tahun kematiannya: sebuah cat air berjudul Saints from a Window, dan sebuah lukisan tempera di atas kain goni berjudul Death and Fire. Kemungkinan besar kita ingin berdiri lama di depan lukisan-lukisan itu, memandanginya dengan sabar, tanpa menuntut agar semuanya langsung bisa dipahami.

Atau bayangkan jika sekarang kita mendengarkan puisi Georg Trakl berjudul Septet of Death, bahkan mungkin dibacakan langsung oleh penyairnya. Kita tentu ingin mendengarnya berulang kali, dan lagi-lagi, kita akan dengan tenang melepaskan tuntutan agar maknanya segera terang benderang.

Atau bayangkan Werner Heisenberg menjelaskan pemikiran-pemikiran terbarunya dalam fisika teoretis—tentang rumus kosmik yang sedang ia cari. Mungkin hanya dua atau tiga orang di ruangan ini yang bisa benar-benar mengikutinya. Yang lain akan mendengarkan tanpa protes, tanpa menuntut pemahaman instan.

Namun anehnya, tidak demikian halnya dengan filsafat.

Filsafat sering diharapkan memberikan “kebijaksanaan praktis”, bahkan kadang dipandang sebagai “jalan menuju hidup yang bahagia”. Tetapi boleh jadi, hari ini filsafat justru berada pada posisi yang menuntut jenis pemikiran yang sama sekali berbeda—pemikiran yang jauh dari kebijaksanaan praktis sehari-hari.

Mungkin kini kita memerlukan suatu cara berpikir yang memikirkan hal-hal paling mendasar, bahkan lebih mendasar daripada apa yang menentukan lukisan, puisi, atau fisika matematika. Jika demikian, kita juga harus siap melepaskan tuntutan untuk langsung mengerti.

Namun tetap, kita harus mendengarkan.

Karena kita dipanggil untuk memikirkan sesuatu yang tak terelakkan, meskipun masih bersifat awal dan belum tuntas.

Karena itu, jangan terkejut jika sebagian besar pendengar merasa keberatan dengan kuliah ini. Apakah ada beberapa orang—sekarang atau di kemudian hari—yang terdorong untuk berpikir lebih jauh karenanya, itu tidak bisa diramalkan.

Yang ingin saya lakukan di sini adalah mencoba memikirkan Ada (Being) tanpa selalu mengaitkannya dengan makhluk-makhluk yang ada (beings). Upaya ini menjadi perlu, sebab jika tidak, tampaknya kita tidak lagi mampu melihat secara jelas Ada dari segala sesuatu yang kini tersebar di seluruh bumi, apalagi menentukan secara memadai hubungan manusia dengan apa yang selama ini disebut “Ada”.

Izinkan saya memberi sedikit petunjuk tentang cara mendengarkan kuliah ini. Intinya bukanlah mendengarkan rangkaian pernyataan atau tesis, melainkan mengikuti gerak penyingkapan—bagaimana sesuatu diperlihatkan sedikit demi sedikit.

Apa yang mendorong kita untuk menyebut waktu dan Ada secara bersamaan?

Sejak awal pemikiran Barat hingga hari ini, Ada hampir selalu berarti “kehadiran” (presence). Kehadiran ini berbicara tentang “yang kini hadir”. Dalam cara berpikir sehari-hari, masa kini, masa lalu, dan masa depan bersama-sama membentuk apa yang kita sebut waktu.

Dengan kata lain, Ada ditentukan oleh waktu, karena Ada dipahami sebagai kehadiran. Fakta ini saja sebenarnya sudah cukup untuk mengusik pemikiran kita secara mendalam. Kegelisahan ini semakin kuat ketika kita mulai bertanya: Dalam hal apa, dengan cara bagaimana, dan dari mana waktu memiliki peran dalam menentukan Ada?

Mengapa sesuatu seperti waktu bisa “berbicara” dalam Ada?...  Setiap usaha untuk memikirkan hubungan antara Ada dan waktu dengan memakai pengertian-pengertian biasa yang kabur tentang keduanya, hampir pasti akan terjerat dalam kebingungan yang tak terpecahkan.

Kita biasa berkata: setiap hal memiliki waktunya. Artinya: segala sesuatu yang benar-benar ada datang dan pergi pada waktunya, bertahan selama jatah waktunya, lalu berlalu. Tetapi muncul pertanyaan mendasar: Apakah Ada itu suatu “hal”? Apakah Ada seperti benda-benda yang ada di dalam waktu?

Jika Ada memang “ada” seperti benda, maka kita seharusnya bisa menemukannya di antara benda-benda lain. Ruang kuliah ini ada. Ruang ini terang. Kita langsung mengenali ruang ini sebagai sesuatu yang ada. Tetapi di mana “ada”-nya ruang itu? Di bagian mana dari ruang ini kita bisa menemukan “Ada”? Kita tidak pernah menemukan Ada sebagai suatu benda.

Segala sesuatu memiliki waktunya. Tetapi Ada bukanlah sesuatu, bukan benda, dan karena itu tidak berada di dalam waktu. Namun anehnya, Ada sebagai kehadiran tetap ditentukan oleh waktu.

Apa yang berada dalam waktu dan ditentukan oleh waktu kita sebut sebagai yang temporal. Ketika seseorang meninggal, kita berkata: waktunya telah tiba. Waktu dan yang temporal berarti sesuatu yang fana, yang berlalu.

Namun bahasa kita bahkan lebih tajam: kita mengatakan bahwa waktu itu sendiri berlalu. Tetapi justru dengan terus berlalu, waktu tetap hadir sebagai waktu. Bertahan berarti tidak lenyap—berarti hadir.

Jadi waktu pun tampaknya ditentukan oleh suatu cara “Ada”.

Di sini kita tiba pada keanehan besar: Ada bukan benda, bukan sesuatu yang temporal, namun ditentukan oleh waktu sebagai kehadiran. Waktu bukan benda, bukan sesuatu yang “ada”, namun tetap hadir dengan caranya sendiri. Ada dan waktu saling menentukan, tetapi tidak dengan cara yang memungkinkan salah satunya direduksi menjadi yang lain.

Filsafat mengenal satu jalan keluar yang mudah dari kontradiksi seperti ini: dialektika. Kontradiksi dibiarkan, bahkan dipertajam, lalu disatukan dalam satu kesatuan yang lebih tinggi. Namun bagi Heidegger, jalan ini justru menghindari persoalan sebenarnya. Ia tidak sungguh-sungguh berhadapan dengan Ada, waktu, maupun relasi keduanya.

Pertanyaannya bukan: apakah Ada dan waktu bisa digabungkan?... melainkan: apakah keduanya menunjuk pada satu “perkara” yang sama, dari mana Ada dan waktu justru berasal.

Lalu bagaimana kita bisa benar-benar masuk ke dalam persoalan yang disebut oleh judul “Time and Being”?

Jawabannya sederhana tetapi menuntut kesabaran: dengan berpikir secara hati-hati. Berpikir hati-hati berarti tidak menyerbu persoalan dengan konsep-konsep siap pakai, melainkan membiarkan persoalan itu sendiri menuntun kita.

Ada dan waktu bukanlah “objek”. Tetapi keduanya adalah perkara utama bagi pemikiran. Karena itu kita tidak berkata: “Ada itu ada”, atau “waktu itu ada”, melainkan: “ada Ada” dan “ada waktu”—es gibt Sein, es gibt Zeit.

Ungkapan ini bukan sekadar gaya bahasa. Ia membuka jalan untuk memikirkan pemberian: bahwa Ada dan waktu diberikan.

Untuk memahami apa arti “ada Ada” dan “ada waktu”, kita harus mulai bertanya: Apa arti “Ada” yang diberikan? Apa arti “waktu” yang diberikan? Dan apa “yang memberi”?

Karena itu, langkah selanjutnya adalah: Memikirkan Ada sebagai kehadiran (presencing) Memikirkan waktu bukan sebagai deretan “sekarang”, melainkan sebagai cara pemberian kehadiran Dan akhirnya, memikirkan apa yang Heidegger sebut sebagai Ereignis (Peristiwa-Peng-alaman / Appropriation)

Sampai pada titik ini, kita mulai merasakan bahwa pembicaraan tentang Ada dan waktu membawa kita ke wilayah yang tidak biasa. Di satu sisi, Ada bukanlah sesuatu, bukan benda, bukan makhluk. Namun di sisi lain, kita juga tidak bisa berbicara tentang apa pun tanpa terlebih dahulu mengandaikan Ada. Karena itu, cara kita berbicara harus diubah secara sangat hati-hati. Kita tidak lagi mengatakan “Ada itu ada” atau “waktu itu ada”, melainkan mengatakan “ada Ada” dan “ada waktu”. Dalam bahasa Jerman, Heidegger menggunakan ungkapan es gibt Sein dan es gibt Zeit, yang secara harfiah berarti “itu memberi Ada” dan “itu memberi waktu”.

Sekilas, perubahan ini tampak sepele, seolah hanya pergeseran gaya bahasa. Namun sebenarnya, di sinilah arah pemikiran Heidegger mulai benar-benar berbelok. Dengan mengatakan “ada Ada”, perhatian kita tidak lagi tertuju pada Ada sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan pada kenyataan bahwa Ada itu diberikan. Maka pertanyaan mendasar pun berubah: bukan lagi “apa itu Ada?”, melainkan “apa arti pemberian ini?”, “apa yang diberikan?”, dan yang paling sulit, “apa atau siapa yang memberi?”.

Untuk mendekati persoalan ini, Heidegger mengajak kita melangkah secara bertahap. Pertama-tama, kita harus memikirkan Ada itu sendiri, bukan sebagai konsep abstrak, melainkan sebagaimana ia dialami. Ada, yang menandai semua makhluk sebagai makhluk, berarti kehadiran. Memikirkan Ada berarti memikirkan bagaimana sesuatu hadir. Namun kehadiran di sini bukan sekadar “ada di depan mata”. Kehadiran berarti sesuatu dibiarkan hadir. Karena itu, kehadiran menunjukkan dirinya sebagai membiarkan-kehadiran.

Membiarkan-kehadiran bukan sikap pasif. Ia berarti menyingkap, membuka, membawa sesuatu ke dalam keterbukaan. Menghadirkan berarti membuka apa yang sebelumnya tersembunyi. Di dalam penyingkapan ini, selalu ada pemberian. Ada diberikan sebagai kehadiran. Dengan demikian, ketika kita berbicara tentang Ada sebagai kehadiran, kita sebenarnya sedang berbicara tentang suatu pemberian yang memungkinkan sesuatu tampil sebagai yang hadir.

Namun justru di sini muncul kesulitan terbesar. Pemberian itu sendiri, dan “yang memberi” itu, tidak pernah tampil secara jelas. Untuk memikirkan Ada secara sungguh-sungguh, kita harus melepaskan kebiasaan lama metafisika, yakni memahami Ada sebagai dasar atau fondasi bagi makhluk-makhluk. Selama Ada dipahami sebagai dasar, kita masih terjebak dalam cara berpikir metafisik. Heidegger meminta kita melakukan langkah radikal: meninggalkan Ada sebagai fondasi, dan mulai memikirkan pemberian yang tersembunyi di dalam penyingkapan itu sendiri.

Dengan langkah ini, Ada tidak lagi dipahami sebagai sumber, bukan pula sebagai sebab, melainkan sebagai yang diberikan. Sebagai pemberian, Ada tidak berdiri sendiri dan tidak terpisah dari pemberian itu. Ia milik pemberian itu sendiri. Karena itu Heidegger sampai pada pernyataan yang terdengar ganjil namun menentukan: Ada bukan. Yang ada adalah pemberian Ada. Ada tidak “ada” seperti benda; Ada diberikan.

Jika kita melihat kembali sejarah filsafat, kita akan menemukan bahwa Ada selalu dipahami secara berbeda-beda: sebagai Yang Satu, Logos, Idea, substansi, aktualitas, objektivitas, kehendak, kekuasaan, dan seterusnya. Sekilas, ini tampak seperti sejarah konsep Ada. Namun Heidegger menegaskan bahwa ini bukan sejarah dalam pengertian biasa. Ada tidak memiliki sejarah seperti kota atau bangsa. Yang historis di sini adalah cara pemberian itu berlangsung, cara “yang memberi” menyingkapkan Ada dalam berbagai zaman.

Sejak awal pemikiran Yunani, Ada sudah dipikirkan, tetapi “yang memberi” belum pernah sungguh-sungguh dipikirkan. Parmenides mengatakan “Ada itu ada”. Namun bagi Heidegger, pernyataan ini justru menyimpan sesuatu yang belum terpikirkan hingga hari ini. Ketika kita mengatakan “Ada itu ada”, kita secara diam-diam memperlakukan Ada sebagai sesuatu yang ada, sebagai makhluk. Padahal Ada bukan makhluk. Di balik pernyataan itu tersembunyi kenyataan bahwa Ada diberikan, tetapi pemberinya tetap tidak dipikirkan.

Pemberian yang hanya memberi tetapi sekaligus menarik diri, tidak menampakkan dirinya, oleh Heidegger disebut sebagai pengutusan. Ada, sebagai yang diberikan, adalah yang diutus. Cara Ada tampil dalam setiap zaman bukanlah hasil kebetulan, melainkan hasil dari pengutusan ini. Inilah yang disebut Heidegger sebagai takdir Ada. Setiap zaman filsafat adalah suatu cara penyingkapan Ada, di mana yang memberi selalu menahan diri di balik yang diberikan. Karena itu Heidegger menyebut zaman-zaman ini sebagai epoch, bukan sekadar periode waktu, melainkan penahanan diri dari pemberian itu sendiri.

Sampai di sini, kita mulai melihat gambaran besarnya. Ada hadir sebagai yang diberikan. Pemberian itu berlangsung sebagai pengutusan. Dan yang memberi selalu menarik diri. Namun satu pertanyaan besar masih menggantung: dari mana pemberian ini berasal? Apa yang memungkinkan Ada hadir sebagai kehadiran? Di sinilah Heidegger mulai mengarahkan perhatian kita ke waktu. Jika Ada dipahami sebagai kehadiran, dan kehadiran selalu berkaitan dengan “kini”, maka waktu tampaknya memainkan peran yang sangat menentukan. Karena itu, langkah berikutnya adalah memikirkan waktu bukan sebagai jam, bukan sebagai urutan detik dan menit, melainkan sebagai cara pemberian kehadiran itu sendiri.


Setelah kita memikirkan Ada sebagai kehadiran yang diberikan, perhatian kita kini diarahkan pada waktu. Dugaan awalnya adalah ini: jika Ada dipahami sebagai kehadiran, dan kehadiran selalu berkaitan dengan “yang kini”, maka waktu tampaknya memiliki peran mendasar dalam menentukan Ada. Karena itu, sekarang kita mencoba memikirkan waktu itu sendiri.

Waktu adalah sesuatu yang sangat akrab bagi kita, sama seperti Ada. Kita setiap hari berbicara tentang waktu, menghitungnya, mengaturnya, bahkan merasa dikejar olehnya. Namun justru karena kedekatan ini, waktu juga tetap asing. Begitu kita mencoba menjelaskan apa yang khas dari waktu itu sendiri, kita segera menemui kesulitan.

Ketika kita tadi memikirkan Ada, kita sampai pada kesimpulan bahwa yang khas dari Ada bukanlah sesuatu yang memiliki sifat “Ada”, melainkan sesuatu yang terletak pada pemberian—pada “ada” sebagai yang-diberikan. Dengan cara yang sama, jika kita ingin memikirkan waktu secara sungguh-sungguh, kita juga harus bersedia meninggalkan ciri-ciri waktu sebagaimana biasanya kita pahami.

Judul Time and Being memberi kita petunjuk arah: waktu harus dipahami dalam terang apa yang telah dikatakan tentang Ada. Ada berarti kehadiran, membiarkan-hadir, kehadiran sebagai presence. Kita sering menggunakan kata “kehadiran” dalam bahasa sehari-hari. Kita berkata, misalnya, bahwa suatu perayaan berlangsung “dengan kehadiran banyak tamu”. Kita juga bisa mengatakan hal yang sama dengan cara lain: “banyak tamu hadir”.

Namun begitu kita menyebut “yang hadir”, kita langsung tergoda untuk memikirkan “yang kini”, now. Di sinilah perbedaan penting muncul. Kehadiran dalam arti presence tidak identik dengan “kini” dalam arti titik waktu. Kita tidak pernah berkata bahwa suatu perayaan berlangsung “dalam kini banyak tamu”. Ini terdengar tidak masuk akal.

Akan tetapi, ketika filsafat berbicara tentang waktu, ia hampir selalu memahaminya melalui “kini”. Masa kini dibedakan dari “yang tidak lagi kini” (masa lalu) dan “yang belum kini” (masa depan). Bahkan Aristoteles mengatakan bahwa yang sungguh-sungguh ada dari waktu adalah “kini”, sementara masa lalu dan masa depan adalah sesuatu yang “tidak ada”, meskipun bukan ketiadaan mutlak.

Dengan cara ini, waktu dipahami sebagai rangkaian titik-titik kini yang saling menyusul. Setiap “kini” segera lenyap menjadi “yang barusan”, dan segera dikejar oleh “yang akan datang”. Inilah waktu yang kita ukur, hitung, dan kelola. Inilah waktu jam dan kalender.

Namun justru di sini Heidegger mengajukan pertanyaan yang mengganggu: di manakah waktu itu sendiri? Kita bisa melihat jam, jarum jam, atau mekanisme kronometer yang paling canggih, tetapi di mana waktu berada? Tidak ada satu bagian pun dari jam yang bernama “waktu”. Semakin teknis dan akurat alat pengukur waktu, semakin sedikit kita terdorong untuk memikirkan hakikat waktu itu sendiri.

Karena itu, kita kembali bersikap hati-hati dan mengatakan: ada waktu. Kita tidak mengatakan “waktu itu ada” sebagai sesuatu, melainkan bahwa waktu diberikan. Untuk memahami apa yang diberikan ini, kita kembali menoleh pada kehadiran dalam arti presence.

Kehadiran sebagai presence sangat berbeda dari “kini” sebagai titik waktu. Kehadiran berarti berlangsung, bertahan, berdiam. Namun kita sering terlalu cepat memahami “bertahan” sebagai sekadar durasi—sebagai rentang waktu dari satu kini ke kini berikutnya. Heidegger meminta kita untuk lebih jeli. Kehadiran sebagai presence berarti sesuatu yang mendatangi kita, yang menyentuh kita, yang menyangkut kita.

Yang hadir bukan sekadar sesuatu yang ada di depan mata, melainkan sesuatu yang, dengan keberlangsungannya, menyangkut keberadaan manusia. Manusia adalah makhluk yang selalu berada dalam jangkauan kehadiran. Kita didekati oleh yang hadir, dan karena itulah kita sendiri bisa hadir dengan cara kita sebagai manusia.

Namun kehadiran tidak hanya terjadi dalam bentuk “yang kini hadir”. Kita juga selalu berurusan dengan ketiadaan-kehadiran, yakni apa yang tidak lagi hadir dan apa yang belum hadir. Apa yang telah berlalu tidak sekadar lenyap. Masa lalu hadir dengan caranya sendiri: sebagai “yang telah ada” dan masih menyangkut kita. Demikian pula masa depan. Apa yang belum hadir juga hadir dengan caranya sendiri, sebagai sesuatu yang mendatangi kita.

Dengan demikian, ketidakhadiran bukanlah kebalikan mutlak dari kehadiran. Ketidakhadiran juga merupakan suatu cara hadir. Yang telah berlalu hadir sebagai yang-telah-ada. Yang akan datang hadir sebagai yang-mendekat. Kehadiran masa kini, kehadiran masa lalu, dan kehadiran masa depan saling berhubungan.

Hubungan inilah yang menentukan hakikat waktu. Waktu bukan rangkaian titik kini, melainkan kesatuan saling-memberi antara masa depan, masa lalu, dan masa kini. Masa depan, dengan cara menahan kehadiran kini, memungkinkan masa lalu tampil sebagai yang-telah-ada. Masa lalu, dengan menolak kembali menjadi kini, membuka ruang bagi masa depan. Dari hubungan timbal balik inilah kehadiran masa kini muncul.

Kesatuan ini bukan terjadi “pada saat yang sama”, karena ungkapan itu sendiri sudah meminjam pengertian waktu yang keliru. Kesatuan ini adalah cara saling-menjangkau. Masa depan, masa lalu, dan masa kini saling menyerahkan diri satu sama lain melalui kehadiran yang mereka berikan.

Kesatuan saling-menjangkau inilah yang oleh Heidegger disebut sebagai ruang-waktu sejati. Ruang-waktu di sini tidak lagi berarti jarak antara dua titik waktu yang bisa dihitung, melainkan keterbukaan tempat segala kehadiran bisa berlangsung. Dari keterbukaan inilah ruang dalam arti biasa baru mungkin muncul.

Waktu sejati, dengan demikian, bersifat berdimensi banyak. Bukan hanya tiga dimensi, melainkan empat. Dimensi keempat ini bukan tambahan kuantitatif, melainkan pemberian itu sendiri—cara saling-mendekatkan masa depan, masa lalu, dan masa kini sambil tetap menjaga jarak di antara mereka. Heidegger menyebutnya sebagai nearing nearness, kedekatan yang mendekatkan justru dengan menahan dan menyangkal kehadiran penuh.

Karena itu Heidegger mengatakan: Yang ada adalah: ada waktu—waktu diberikan.

Dan cara pemberian waktu ini bukan produksi, bukan hasil buatan manusia. Manusia tidak menciptakan waktu, dan waktu tidak menciptakan manusia. Keduanya berada dalam satu relasi pemberian yang lebih asli, yang memungkinkan manusia menjadi manusia karena ia berdiri di dalam bentangan waktu sejati.

Namun di titik ini, persoalan kembali mengerucut pada satu hal: apakah yang memberi waktu dan Ada ini? Kita telah melihat bahwa pemberian Ada berlangsung sebagai pengutusan, dan pemberian waktu berlangsung sebagai pembentangan keterbukaan. Keduanya tampak saling berkaitan. Tetapi “yang memberi” itu sendiri tetap belum disebutkan secara langsung.

Di sinilah Heidegger mengarahkan kita menuju apa yang ia sebut Ereignis—peristiwa pemilikan atau peng-ada-an—yang akan menjadi pusat pembahasan berikutnya.


Kita sekarang kembali pada ungkapan yang sejak awal terus membimbing pemikiran ini: “ada Ada” dan “ada waktu”. Ketika kita mengatakan “ada”, kita tidak sedang menunjuk pada suatu benda, juga bukan pada suatu makhluk. Kita menunjuk pada pemberian. Namun segera timbul bahaya: ketika kita mengatakan “itu memberi Ada” dan “itu memberi waktu”, kita tergoda untuk membayangkan suatu “sesuatu” yang memberi, seakan-akan ada kekuatan tersembunyi yang berdiri di belakang semua pemberian itu.

Bahaya ini harus dihindari. Selama kita tetap berpegang pada apa yang telah ditunjukkan oleh cara pemberian itu sendiri, kita tidak akan terjatuh pada anggapan tentang suatu kekuatan samar atau sebab tertinggi. Pemberian Ada telah tampak sebagai pengutusan: Ada diberikan dalam berbagai bentuk kehadiran sepanjang zaman, sementara yang mengutus selalu menarik diri. Pemberian waktu telah tampak sebagai pembentangan: suatu pembukaan yang menjangkau, yang memungkinkan masa lalu, masa kini, dan masa depan saling berhubungan dalam satu kesatuan.

Jika kita memperhatikan dengan saksama, tampak bahwa ketiadaan-kehadiran memainkan peran yang menentukan. Apa yang telah berlalu hadir justru dengan menolak kembali menjadi kini. Apa yang akan datang hadir dengan menahan kehadiran penuh. Bahkan kehadiran masa kini sendiri selalu ditandai oleh penahanan dan penolakan. Dengan kata lain, pemberian waktu berlangsung melalui penyangkalan dan penahanan.

Karena itu, waktu bukan sesuatu yang mengalir begitu saja. Waktu bukan rangkaian titik-titik kini. Waktu adalah cara keterbukaan terjadi—cara kehadiran diberikan melalui penahanan dan penyangkalan. Maka Heidegger menegaskan: waktu bukan. Yang ada adalah: ada waktu, waktu diberikan.

Namun di manakah waktu itu diberikan? Pertanyaan ini tampak wajar, tetapi sebenarnya menyesatkan. Pertanyaan tentang “di mana” mengandaikan ruang sebagai sesuatu yang sudah tersedia. Padahal, keterbukaan yang disebut waktu sejati justru lebih asli daripada ruang. Waktu sejati adalah wilayah pra-ruang yang pertama-tama memungkinkan adanya “di mana”.

Sejak lama, filsafat menyatakan bahwa tidak ada waktu tanpa manusia. Tetapi apa arti “tidak tanpa”? Apakah manusia pencipta waktu? Ataukah manusia sekadar pengguna waktu? Heidegger menolak kedua kemungkinan ini. Waktu sejati telah menjangkau manusia sedemikian rupa sehingga manusia hanya dapat menjadi manusia dengan berdiri di dalam pembentangan waktu itu. Manusia bukan pembuat waktu, dan waktu bukan hasil produksi manusia. Yang ada hanyalah pemberian.

Kini persoalan kembali pada ungkapan “itu memberi”. Apakah “itu” ini dapat ditentukan sebagai waktu? Pada pandangan pertama, tampaknya demikian. Sebab waktu, sebagai pembentangan keterbukaan, memungkinkan segala kehadiran. Bahkan ketidakhadiran pun merupakan suatu cara hadir. Masa lalu dan masa depan sama-sama memberi kehadiran melalui penahanan.

Namun kesimpulan ini harus segera ditarik kembali. Waktu sendiri tetap merupakan pemberian. Waktu bukan “yang memberi” dalam arti terakhir. Maka “itu” tetap belum dapat ditentukan secara langsung. Yang dapat kita lakukan hanyalah memikirkan ‘itu’ dari cara pemberiannya.

Ketika kita memeriksa lebih jauh, kita melihat bahwa pemberian Ada dan pemberian waktu saling berkaitan secara hakiki. Pengutusan Ada berlangsung di dalam pembentangan waktu. Pembentangan waktu, pada gilirannya, membuka ruang bagi kehadiran Ada. Keduanya tidak berdiri sendiri, tetapi saling-memiliki.

Di sinilah Heidegger memperkenalkan nama bagi apa yang mempersatukan keduanya: Ereignis. Kata ini biasanya diterjemahkan sebagai peristiwa atau pemilikan, tetapi Heidegger memakainya dalam arti yang sangat khusus. Ereignis bukan suatu kejadian yang berlangsung pada waktu tertentu. Ia bukan peristiwa di antara peristiwa-peristiwa lain. Ia adalah apa yang memungkinkan segala peristiwa.

Ereignis adalah apa yang memper-milik-kan Ada dan waktu pada hakikatnya masing-masing, sekaligus memper-milik-kan keduanya satu sama lain. Ia bukan relasi yang ditambahkan belakangan antara Ada dan waktu. Ia adalah perkara itu sendiri—apa yang sejak awal menahan dan menjaga keterkaitan keduanya.

Karena itu, ketika kita mengatakan “itu memberi Ada” dan “itu memberi waktu”, yang dimaksud dengan “itu” adalah Ereignis. Namun pernyataan ini sekaligus benar dan menyesatkan. Ia benar sejauh menunjuk pada perkara yang dipikirkan. Ia menyesatkan sejauh kita membayangkan Ereignis sebagai sesuatu yang hadir seperti benda atau kekuatan.

Ereignis tidak dapat ditempatkan di hadapan kita sebagai objek. Ia tidak dapat dijelaskan dengan kalimat definisi. Bahkan pertanyaan “apa itu Ereignis?” sudah terlalu cepat, karena ia menuntut suatu esensi yang hadir, sementara yang sedang kita pikirkan justru kehadiran sebagai kehadiran.

Apa yang dapat dikatakan hanyalah ini: dalam pengutusan Ada dan dalam pembentangan waktu, terjadi suatu penarikan-diri. Yang memberi tidak menampilkan dirinya, melainkan menjaga keterbukaan dengan menahan dirinya. Penarikan-diri ini bukan kekurangan, melainkan cara pemberian itu sendiri.

Karena itu, Ereignis bukanlah penguasaan, melainkan penyerahan. Ia menyerahkan Ada kepada kehadiran dan menyerahkan waktu kepada keterbukaan, sambil tetap menarik diri. Dengan cara inilah manusia juga termasuk ke dalam Ereignis: manusia menjadi manusia sejauh ia menerima kehadiran dan berdiri di dalam pembentangan waktu.

Di sini kita sampai pada batas apa yang dapat dikatakan dalam kuliah ini. Apa yang paling khas dari Ereignis justru adalah bahwa ia menarik diri dari pengungkapan penuh. Berpikir hanya dapat mengikuti jejak-jejaknya, tanpa pernah menguasainya.


Apa yang kini mulai tampak adalah bahwa baik Ada maupun waktu hanya dapat dipikirkan dari dalam Ereignis. Ada hadir sebagai kehadiran karena ia diberikan. Waktu terbentang sebagai keterbukaan karena ia diberikan. Keduanya bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan milik peristiwa pemilikan itu sendiri. Karena itu, hubungan antara Ada dan waktu bukanlah relasi yang ditambahkan belakangan, melainkan sesuatu yang sejak awal dipersatukan oleh Ereignis.

Namun di sinilah muncul kesalahpahaman yang harus dihindari. Ketika kita menyebut Ereignis sebagai “yang memberi”, kita tidak boleh membayangkannya sebagai suatu entitas yang hadir, suatu kekuatan, atau suatu sebab tertinggi. Cara berpikir seperti itu justru akan menarik kita kembali ke dalam metafisika. Ereignis tidak hadir seperti makhluk. Ia juga bukan dasar bagi Ada dan waktu. Ia adalah perkara itu sendiri, sejauh perkara ini memper-milik-kan Ada dan waktu pada hakikatnya masing-masing.

Jika kita mencoba bertanya secara langsung, “Apa itu Ereignis?”, kita segera terjebak. Pertanyaan ini menuntut suatu jawaban berupa definisi, suatu penentuan esensi. Tetapi apa yang sedang dipikirkan di sini justru menolak cara berbicara semacam itu. Ereignis tidak dapat dipahami sebagai sesuatu yang “ada” dengan cara kehadiran biasa. Maka pertanyaan “apa” harus dilepaskan, atau setidaknya ditangguhkan.

Yang dapat kita perhatikan hanyalah cara Ereignis berlangsung. Cara itu telah ditunjukkan sebelumnya: sebagai pengutusan dalam sejarah Ada, dan sebagai pembentangan dalam waktu sejati. Dalam kedua cara ini, satu ciri yang sama selalu tampak, yakni penarikan-diri. Yang memberi tidak pernah sepenuhnya menampakkan diri. Ia justru memberi dengan cara menarik diri.

Dalam pengutusan Ada, yang mengutus menahan dirinya agar yang diutus—berbagai bentuk kehadiran Ada—dapat tampil. Dalam pembentangan waktu, kehadiran masa lalu dan masa depan diberikan justru melalui penolakan dan penahanan kehadiran penuh. Dengan demikian, penarikan-diri bukanlah kekurangan, melainkan cara pemberian itu sendiri.

Karena penarikan-diri ini, Ereignis tidak dapat kita tempatkan di hadapan kita sebagai objek. Kita tidak bisa menguasainya, tidak bisa menunjuknya secara langsung. Berpikir hanya dapat mengikuti jejaknya, mengikuti cara pemberian yang berlangsung dalam Ada dan waktu. Inilah sebabnya mengapa pemikiran yang sekadar menjelaskan, mendefinisikan, dan memberi laporan tidak lagi memadai di sini.

Dalam kaitan ini, manusia juga memperoleh tempatnya. Manusia bukan penguasa Ada dan waktu. Manusia juga bukan pencipta keduanya. Manusia adalah manusia sejauh ia diikutsertakan dalam Ereignis. Manusia menjadi manusia karena ia menerima kehadiran dan berdiri di dalam pembentangan waktu sejati. Dengan kata lain, manusia adalah makhluk yang dipermilikkan oleh Ereignis.

Karena itu, manusia tidak berada di luar peristiwa pemilikan ini. Ia juga tidak dapat menempatkan Ereignis di hadapannya sebagai sesuatu yang terpisah. Hubungan manusia dengan Ereignis bukan hubungan subjek–objek. Ia adalah suatu kepemilikan timbal balik, di mana manusia menjadi miliknya sejauh ia dibiarkan berada dalam keterbukaan Ada dan waktu.

Namun justru karena itulah, Ereignis tidak pernah sepenuhnya dapat dipikirkan secara tuntas. Apa yang paling khas darinya adalah bahwa ia menarik diri dari pengungkapan total. Ia memperlihatkan dirinya hanya sejauh ia sekaligus menyembunyikan dirinya. Pemikiran yang setia pada perkara ini harus belajar tinggal dalam ketegangan tersebut.

Di titik inilah kuliah ini berakhir. Bukan dengan kesimpulan dalam arti biasa, bukan dengan jawaban final, melainkan dengan suatu penunjukan arah. Arah itu bukan menuju suatu teori baru, melainkan menuju cara berpikir yang lain—cara berpikir yang tidak lagi berusaha menguasai, melainkan membiarkan, mengikuti, dan menanggapi apa yang memberi dirinya sendiri dengan cara menarik diri.


The End of Philosophy and the Task of Thinking.

Ketika Heidegger berbicara tentang akhir filsafat, yang ia maksud bukanlah berhentinya aktivitas berpikir. Ia juga tidak sedang mengumumkan berakhirnya filsafat, apalagi menutup kemungkinan berpikir di masa depan. Yang ia maksud dengan “akhir” di sini adalah penyelesaian suatu jalan sejarah tertentu—yakni jalan metafisika Barat.

Filsafat, sejak awalnya di Yunani hingga bentuk-bentuknya yang paling mutakhir, telah menempuh satu lintasan yang relatif konsisten. Ia selalu berusaha memahami makhluk sebagai makhluk, dan pada saat yang sama mencari dasar tertinggi bagi keseluruhan makhluk itu. Dalam perjalanan ini, filsafat berkembang menjadi metafisika. Dan metafisika, dalam bentuk akhirnya, mencapai penyelesaiannya dalam sains modern dan teknologi.

Dengan demikian, “akhir filsafat” bukanlah suatu peristiwa akademik, melainkan peristiwa sejarah dunia. Filsafat berakhir bukan karena ia gagal, tetapi justru karena ia berhasil sepenuhnya. Tujuan metafisika—menyediakan dasar bagi pengetahuan tentang makhluk—telah tercapai dalam bentuk sains positif yang menguasai dunia secara teknologis.

Di dalam sains dan teknologi modern, pemahaman metafisis tentang Ada sebagai kehadiran yang dapat dihitung, diukur, dan dikendalikan, menemukan realisasinya yang paling konsekuen. Segala sesuatu kini dipahami sebagai objek yang dapat direpresentasikan, direncanakan, dan dimanipulasi. Dalam arti ini, metafisika telah sampai pada titik akhirnya.

Namun justru di sini muncul pertanyaan yang menentukan: jika filsafat telah berakhir, apakah berpikir juga berakhir?

Heidegger menjawab dengan tegas: tidak. Akhir filsafat justru membuka kemungkinan bagi tugas berpikir yang lain—suatu cara berpikir yang tidak lagi bersifat metafisis.

Berpikir yang dimaksud Heidegger bukanlah kegiatan teoritis yang menghasilkan sistem, konsep, atau teori baru. Berpikir ini juga bukan refleksi ilmiah, dan bukan pula filsafat dalam pengertian tradisional. Ia adalah berpikir yang melangkah mundur—melangkah keluar dari metafisika, bukan untuk menolaknya, melainkan untuk melihat batas dan asal-usulnya.

Langkah mundur ini bukan kemunduran intelektual. Ia adalah suatu gerak yang memungkinkan kita memandang kembali sejarah Ada—cara bagaimana Ada, sepanjang sejarah Barat, menyingkapkan dirinya sebagai kehadiran.

Selama metafisika, Ada selalu dipahami dari sudut pandang makhluk: sebagai sebab, sebagai dasar, sebagai nilai tertinggi, sebagai kehendak, sebagai objektivitas. Bahkan ketika metafisika tampak berbeda-beda—Plato, Aristoteles, Descartes, Kant, Hegel, Nietzsche—semuanya tetap bergerak dalam satu horizon yang sama: Ada dipikirkan sebagai kehadiran yang dapat ditentukan.

Berpikir yang kini dituntut Heidegger bukan lagi berpikir tentang makhluk, melainkan berpikir tentang Ada itu sendiri. Tetapi berpikir tentang Ada ini tidak berarti menjadikannya objek. Sebaliknya, berpikir ini berarti membiarkan Ada datang ke dalam bahasa sebagaimana ia menyingkapkan dirinya.

Karena itu, tugas berpikir setelah akhir filsafat adalah mendengarkan, bukan menguasai. Ia bukan produksi konsep, melainkan tanggapan. Berpikir menjadi suatu bentuk responding—menjawab panggilan Ada.

Dalam konteks ini, bahasa memperoleh peran yang menentukan. Bahasa bukan alat yang dikuasai manusia untuk mengekspresikan pikiran. Sebaliknya, manusia berada di dalam bahasa, dan berpikir terjadi sejauh manusia tinggal dalam bahasa. Bahasa adalah rumah Ada. Di dalam bahasa, Ada datang ke kata, dan berpikir berarti menjaga keterbukaan ini.

Karena itu, berpikir tidak lagi dapat dipahami sebagai representasi. Ia bukan pencerminan realitas oleh subjek. Berpikir adalah peristiwa kebahasaan, tempat Ada menyapa manusia dan manusia menanggapi.

Inilah sebabnya mengapa Heidegger mengatakan bahwa tugas berpikir bukanlah membangun sistem baru, melainkan menjaga jalan terbuka bagi penyingkapan Ada. Berpikir tidak memberi hasil dalam bentuk pengetahuan yang dapat digunakan. Ia tidak praktis dalam pengertian teknis. Namun justru karena itulah, berpikir ini lebih asli.

Berpikir semacam ini menuntut kesabaran. Ia tidak menjanjikan kepastian, tidak menawarkan pegangan final. Ia tinggal dalam keterbukaan, dalam ketaktertuntasan, dalam kemungkinan bahwa Ada selalu dapat menyingkapkan dirinya secara lain.

Di titik ini, berpikir juga harus melepaskan klaim otoritas. Ia tidak lagi berdiri di atas sains, tidak pula mengatur kebudayaan. Berpikir hanyalah satu cara berada di dunia—namun cara yang menjaga agar pertanyaan tentang Ada tetap terbuka.

Dengan demikian, akhir filsafat bukanlah akhir dari pemikiran yang serius. Ia adalah awal dari tugas berpikir yang lebih sunyi, yang tidak lagi mencari fondasi, tetapi bersedia tinggal dekat dengan apa yang memberi dirinya sendiri, tanpa pernah sepenuhnya menampakkan diri.


Jika filsafat—sebagai metafisika—telah mencapai akhirnya dalam sains dan teknologi modern, maka berpikir yang kini dituntut tidak boleh lagi mengambil bentuk filsafat lama. Berpikir tidak lagi berusaha memberikan dasar, penjelasan terakhir, atau sistem menyeluruh. Berpikir tidak bersaing dengan sains, dan juga tidak berusaha mengoreksi atau melengkapinya. Ia bergerak pada bidang yang sama sekali lain.

Bidang ini bukan wilayah makhluk, melainkan wilayah Ada. Namun berpikir tentang Ada tidak berarti menjadikannya objek. Ada tidak dapat ditangkap sebagai sesuatu yang hadir di hadapan subjek. Karena itu, berpikir yang dimaksud Heidegger tidak bersifat representasional. Ia tidak menggambarkan, tidak mencerminkan, dan tidak memproduksi gambaran tentang realitas.

Sebaliknya, berpikir ini adalah mendengarkan. Ia mendengarkan bagaimana Ada menyingkapkan dirinya sepanjang sejarah, dan bagaimana dalam penyingkapan itu Ada sekaligus menarik diri. Berpikir menjadi suatu kesiapsiagaan untuk menerima apa yang datang, tanpa memaksakannya ke dalam kerangka konsep yang sudah tersedia.

Dalam pengertian ini, berpikir bukan aktivitas kehendak. Ia tidak dipandu oleh niat untuk menguasai, mengamankan, atau memastikan. Ia juga bukan bentuk tindakan yang bertujuan menghasilkan efek. Berpikir justru menuntut pembiaran—membiarkan Ada menjadi sebagaimana ia menyingkapkan dirinya.

Karena itu, berpikir yang dimaksud Heidegger memiliki kedekatan yang khas dengan bahasa. Bahasa bukan sarana yang netral untuk menyampaikan hasil berpikir. Bahasa adalah tempat terjadinya penyingkapan. Di dalam bahasa, Ada datang ke kata. Dan berpikir berarti tinggal di dalam bahasa sedemikian rupa sehingga kata-kata tidak menutup, melainkan membuka.

Dalam tradisi metafisika, bahasa dipahami sebagai alat representasi. Kata-kata dipandang sebagai tanda yang menunjuk pada objek. Namun dalam berpikir yang kini dituntut, bahasa tidak lagi dilihat sebagai alat. Bahasa adalah peristiwa. Ia adalah tempat di mana Ada menyapa manusia.

Karena itu, tugas berpikir juga berarti menjaga bahasa dari pereduksian teknis. Dalam dunia yang dikuasai oleh sains dan teknologi, bahasa cenderung dipersempit menjadi sarana informasi, perintah, dan kalkulasi. Di sini, kata kehilangan daya membuka. Berpikir bertugas menjaga agar bahasa tetap mampu menampung penyingkapan Ada.

Heidegger menegaskan bahwa berpikir semacam ini tidak menghasilkan pengetahuan yang dapat dipakai. Ia tidak menyediakan petunjuk praktis, tidak memberi program, dan tidak menawarkan solusi. Justru karena itu, berpikir ini sering tampak tidak berguna. Namun ketidakbergunaan ini bukan kelemahan, melainkan ciri hakikinya.

Sains dan teknologi bergerak dalam wilayah kegunaan dan efektivitas. Berpikir yang dimaksud Heidegger bergerak dalam wilayah makna. Ia menjaga agar manusia tidak sepenuhnya larut dalam penguasaan atas makhluk, sehingga lupa pada pertanyaan yang lebih asal: pertanyaan tentang Ada.

Dalam arti ini, berpikir tidak berada di atas sains, dan juga tidak berada di bawahnya. Ia berada di sampingnya, namun dengan arah yang berbeda. Ia tidak menilai, tidak menghakimi, dan tidak mengendalikan. Ia hanya menjaga keterbukaan.

Karena itu, tugas berpikir setelah akhir filsafat bukanlah membangun metafisika baru. Ia juga bukan kritik metafisika dalam pengertian polemis. Tugas berpikir adalah mengingat—mengingat apa yang terlupakan dalam sejarah metafisika: penyingkapan Ada itu sendiri.

Mengingat di sini bukan aktivitas psikologis, melainkan sikap eksistensial. Ia berarti tinggal dekat dengan apa yang memberi dirinya sendiri, tanpa menuntut kepastian dan tanpa menutup kemungkinan lain. Berpikir menjadi suatu bentuk kesetiaan pada keterbukaan.

Dengan demikian, akhir filsafat bukanlah kehampaan. Ia adalah peralihan. Dari filsafat sebagai metafisika menuju berpikir sebagai penjagaan. Dari pencarian dasar menuju kesiapsiagaan. Dari sistem menuju jalan.

Di jalan inilah berpikir berjalan—tanpa peta, tanpa jaminan, tanpa tujuan akhir yang dapat ditentukan sebelumnya. Tetapi justru di situ, berpikir tetap setia pada apa yang paling layak dipikirkan.


Berpikir yang dimaksud di sini tidak dapat dipelajari seperti suatu metode. Ia juga tidak dapat dijamin keberhasilannya. Tidak ada aturan yang memastikan bahwa berpikir akan “berhasil” atau menghasilkan sesuatu yang dapat dipastikan. Justru karena itu, berpikir ini menuntut sikap yang berbeda dari kebiasaan akademik dan ilmiah. Ia menuntut kesediaan untuk menunggu, dan kesabaran untuk tinggal dekat dengan apa yang belum jelas.

Dalam sejarah metafisika, filsafat selalu berusaha memastikan kebenaran. Kebenaran dipahami sebagai kesesuaian antara pernyataan dan objek. Dalam sains modern, pemahaman ini mencapai bentuknya yang paling efektif: kebenaran sebagai ketepatan perhitungan dan keberhasilan prediksi. Namun berpikir yang kini dituntut Heidegger bergerak di luar pengertian kebenaran semacam ini.

Kebenaran yang menjadi perhatian berpikir bukanlah ketepatan representasi, melainkan ketaktersembunyian. Kebenaran berarti bahwa sesuatu tersingkap, keluar dari tersembunyi. Dalam pengertian ini, kebenaran selalu menyertakan penyembunyian. Apa yang tersingkap selalu menyisakan sesuatu yang tetap tersembunyi. Berpikir harus menjaga hubungan ini, bukan meniadakannya.

Karena itu, berpikir tidak boleh memaksakan kejelasan total. Kejelasan yang mutlak justru akan menutup apa yang hendak dipikirkan. Berpikir harus belajar menerima ketaktertuntasan, dan mengakui bahwa yang paling penting sering kali hadir justru dengan cara menarik diri.

Dalam kaitan ini, Heidegger menekankan bahwa berpikir tidak dapat dipisahkan dari sejarah. Namun sejarah yang dimaksud bukanlah rangkaian peristiwa masa lalu. Sejarah di sini adalah sejarah Ada—cara bagaimana Ada menyingkapkan dirinya dalam berbagai zaman, dan bagaimana penyingkapan itu selalu sekaligus merupakan penahanan.

Metafisika, sejak awal hingga bentuk akhirnya, adalah bagian dari sejarah ini. Ia bukan kesalahan yang harus disesali, melainkan suatu jalan yang memang harus ditempuh. Karena itu, melangkah keluar dari metafisika tidak berarti menolaknya atau menghapusnya. Ia berarti mengingat dan mengakui apa yang telah terjadi.

Berpikir yang melangkah keluar dari metafisika tidak menempatkan dirinya di atas metafisika. Ia tidak mengklaim posisi yang lebih tinggi. Ia hanya mengambil jarak yang memungkinkan pandangan kembali. Jarak ini bukan jarak penilaian, melainkan jarak yang membuka kemungkinan melihat asal-usul.

Dalam jarak inilah, tugas berpikir menjadi jelas. Berpikir tidak lagi memproduksi pengetahuan tentang makhluk, melainkan menjaga keterbukaan bagi penyingkapan Ada. Ia tidak memberi jawaban akhir, tetapi menjaga pertanyaan tetap hidup.

Heidegger menegaskan bahwa tugas ini tidak spektakuler. Ia tidak menarik perhatian, tidak memberikan kekuasaan, dan tidak menjanjikan pengaruh. Berpikir semacam ini bahkan sering tampak sunyi dan tidak berarti. Namun justru dalam kesunyian ini, berpikir setia pada apa yang paling layak dipikirkan.

Akhirnya, Heidegger menutup dengan penegasan bahwa berpikir yang dimaksud bukanlah suatu prestasi manusia. Ia bukan hasil kecerdasan atau kehendak. Berpikir terjadi sejauh manusia dipanggil untuk berpikir. Manusia tidak menguasai panggilan ini; ia hanya dapat menanggapinya.

Dengan demikian, tugas berpikir setelah akhir filsafat bukanlah proyek baru, melainkan cara berada. Cara berada yang menerima, menunggu, dan menjaga keterbukaan. Dalam cara berada inilah, manusia tetap tinggal dekat dengan Ada, tanpa mengklaim pemahaman final, dan tanpa menutup kemungkinan bahwa Ada akan menyingkapkan dirinya secara lain.


Pada titik ini, menjadi jelas bahwa berpikir yang dimaksud Heidegger tidak dapat diukur dengan standar keberhasilan filsafat atau sains. Ia tidak menghasilkan teori, tidak membangun sistem, dan tidak menawarkan pandangan dunia baru. Berpikir ini juga tidak menempatkan dirinya sebagai penentu arah kebudayaan. Ia justru melepaskan peran semacam itu.

Filsafat, sepanjang sejarahnya sebagai metafisika, selalu berusaha memberi orientasi: tentang apa yang ada, apa yang benar, apa yang bernilai. Dalam bentuk akhirnya, orientasi ini terwujud dalam dunia teknologis, di mana segala sesuatu diatur, direncanakan, dan dikendalikan. Di sini, filsafat telah menyelesaikan tugas historisnya.

Namun berpikir yang kini dituntut tidak lagi memberi orientasi dalam pengertian tersebut. Ia tidak mengatakan ke mana manusia harus pergi atau apa yang harus dilakukan. Ia tidak memberikan pedoman tindakan. Berpikir ini hanya menjaga agar manusia tidak sepenuhnya kehilangan hubungan dengan asal-usul makna.

Karena itu, berpikir tidak dapat dipaksakan. Ia tidak dapat dijadikan program pendidikan, metode penelitian, atau agenda kebudayaan. Ia terjadi hanya sejauh manusia bersedia mendengarkan dan menanggapi. Dalam hal ini, berpikir lebih dekat dengan sikap menanti daripada dengan aktivitas menghasilkan.

Heidegger menegaskan bahwa sikap menanti ini bukan sikap pasif. Menanti di sini berarti kesiapsiagaan—kesiapsiagaan untuk menerima penyingkapan Ada, sekaligus kesiapsiagaan untuk menerima bahwa penyingkapan itu selalu tidak lengkap. Apa yang datang selalu datang bersama penarikan-diri.

Dalam kerangka ini, berpikir juga tidak dapat dilepaskan dari kesunyian. Kesunyian bukan ketiadaan kata, melainkan ruang di mana kata dapat muncul secara tepat. Berpikir yang setia pada tugasnya tidak berbicara terlalu cepat. Ia tidak tergesa-gesa menamai, menjelaskan, atau menguasai. Ia memberi ruang bagi apa yang hendak dikatakan oleh Ada itu sendiri.

Dengan demikian, tugas berpikir setelah akhir filsafat adalah menjaga kesunyian yang memungkinkan bahasa berbicara secara lebih asli. Bukan manusia yang pertama-tama berbicara, melainkan Ada yang berbicara melalui bahasa. Berpikir adalah tanggapan yang hati-hati terhadap pembicaraan ini.

Heidegger menutup dengan menunjukkan bahwa jalan berpikir semacam ini tidak menjanjikan apa pun. Ia tidak menjamin keselamatan, tidak menjanjikan kemajuan, dan tidak memberi harapan dalam pengertian biasa. Namun justru karena itu, berpikir ini bebas dari tuntutan utilitas dan efektivitas.

Berpikir tetap tinggal dekat dengan apa yang paling sederhana dan sekaligus paling sulit: bahwa Ada ada sejauh ia menyingkapkan dan menyembunyikan dirinya. Menjaga keterbukaan terhadap gerak ini—itulah tugas berpikir.

Dengan demikian, akhir filsafat bukanlah kehampaan, melainkan peralihan menuju suatu cara berpikir yang lebih sunyi, lebih sederhana, dan lebih menuntut. Berpikir ini tidak menguasai, tidak menjelaskan, dan tidak menutup. Ia hanya menjaga agar pertanyaan tentang Ada tetap terbuka.

Di sanalah berpikir berada.


My Way To Phenomenology. 

Jalan saya menuju fenomenologi tidak bermula dari sebuah rencana filosofis yang jelas. Ia juga tidak lahir dari keputusan teoritis yang matang. Jalan itu terbentuk secara perlahan, melalui pengalaman belajar, membaca, dan bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan yang pada awalnya belum sepenuhnya saya pahami sebagai pertanyaan filosofis.

Ketika saya mulai belajar filsafat, fenomenologi belum hadir sebagai aliran yang mapan. Nama Edmund Husserl memang sudah dikenal, tetapi arti sebenarnya dari apa yang ia kerjakan belum jelas bagi saya. Yang pertama-tama menarik perhatian saya bukanlah suatu metode, melainkan cara bertanya yang berbeda dari tradisi filsafat sebelumnya.

Fenomenologi memperlihatkan kemungkinan untuk kembali kepada apa yang tampak, kepada apa yang hadir sebagaimana ia hadir. Bukan kepada teori tentang sesuatu, melainkan kepada sesuatu itu sendiri sebagaimana ia menyingkapkan dirinya. Namun pada tahap awal ini, makna ungkapan “kembali kepada benda-benda itu sendiri” masih jauh dari jelas bagi saya.

Pengaruh yang paling menentukan pada masa awal studi saya bukan langsung Husserl, melainkan filsafat Yunani, khususnya Aristoteles. Dalam membaca Aristoteles, saya menemukan suatu cara berpikir yang tidak memaksakan konsep dari luar, tetapi berusaha mengikuti apa yang dibicarakan itu sendiri. Di sini, persoalan being—Ada—mulai muncul sebagai pertanyaan yang mendesak.

Namun, pemahaman tentang Aristoteles pada masa itu masih berada dalam kerangka skolastik dan neo-Kantian. Ada dipahami sebagai kategori atau konsep umum. Saya belum melihat bahwa pertanyaan tentang Ada menuntut suatu cara berpikir yang sama sekali lain.

Pertemuan yang lebih menentukan dengan fenomenologi terjadi ketika saya mulai membaca karya Husserl secara lebih serius, terutama Logical Investigations. Di sini, saya menemukan analisis yang ketat dan sabar tentang pengalaman, tentang bagaimana sesuatu tampak bagi kesadaran. Fenomenologi Husserl membuka kemungkinan untuk membebaskan filsafat dari asumsi-asumsi metafisik yang tidak dipertanyakan.

Namun sekaligus, semakin jelas bagi saya bahwa fenomenologi Husserl masih bergerak dalam horizon tertentu. Kesadaran tetap menjadi pusat. Fenomena dipahami sebagai apa yang hadir bagi kesadaran. Dengan demikian, pertanyaan tentang Ada sebagai Ada masih belum disentuh secara radikal.

Jalan saya menuju fenomenologi, dengan demikian, bukanlah penerimaan tanpa sisa atas ajaran Husserl. Ia adalah suatu dialog kritis. Fenomenologi memberi saya alat untuk melihat, tetapi pertanyaan yang hendak saya kejar mendorong saya melampaui batas fenomenologi kesadaran.


Pertanyaan itu adalah: apa arti Ada itu sendiri?

Bukan Ada sebagai objek kesadaran, bukan Ada sebagai kategori, melainkan Ada sebagai apa yang memungkinkan sesuatu tampak dan bermakna.

Di titik inilah, fenomenologi mulai berubah bagi saya. Ia tidak lagi sekadar metode deskriptif, melainkan jalan menuju pertanyaan yang lebih asal. Fenomenologi menjadi cara untuk membiarkan Ada menyingkapkan dirinya, bukan melalui konstruksi teori, melainkan melalui perhatian yang sabar terhadap apa yang tampak.

Namun jalan ini tidak lurus dan tidak bebas dari kesulitan. Setiap langkah selalu diiringi oleh bahaya kembali jatuh ke dalam metafisika lama—ke dalam cara berpikir yang mengobjektifikasi, yang mencari dasar, yang ingin memastikan.

Karena itu, fenomenologi yang saya tempuh bukanlah fenomenologi sebagai disiplin akademik. Ia adalah suatu latihan berpikir—latihan untuk menahan diri, untuk tidak segera menamai, dan untuk membiarkan pertanyaan tetap terbuka.

Fenomenologi, dalam pengertian ini, bukanlah tujuan akhir. Ia adalah jalan. Sebuah jalan yang membawa saya dari analisis kesadaran menuju pertanyaan tentang Ada, dari deskripsi pengalaman menuju sejarah penyingkapan Ada itu sendiri.


Seiring berjalannya waktu, semakin jelas bagi saya bahwa fenomenologi tidak boleh dipahami sebagai cabang psikologi, dan juga tidak sebagai teori tentang pengalaman batin. Fenomenologi tidak meneliti keadaan-keadaan kesadaran, melainkan berusaha memperlihatkan bagaimana sesuatu menyingkapkan dirinya. Karena itu, fenomenologi sejak awal menuntut pembebasan dari segala bentuk subjektivisme.

Fenomena bukanlah apa yang berada “di dalam” subjek. Fenomena adalah apa yang tampak dari dirinya sendiri, sejauh ia memperlihatkan dirinya. Dalam pengertian ini, fenomenologi tidak berangkat dari subjek, melainkan dari penyingkapan itu sendiri. Namun untuk memahami ini secara sungguh-sungguh, diperlukan pemutusan yang tegas dari cara berpikir modern yang selalu menjadikan subjek sebagai pusat.

Di sinilah perbedaan jalan saya dengan Husserl menjadi semakin jelas. Husserl berusaha menemukan dasar yang pasti bagi filsafat melalui analisis kesadaran transendental. Ia ingin mencapai suatu fondasi yang tak tergoyahkan. Saya, sebaliknya, semakin menyadari bahwa pencarian fondasi semacam itu justru mengulang kembali proyek metafisika.

Fenomenologi yang saya tempuh tidak mencari dasar terakhir. Ia justru berusaha membiarkan dasar itu tidak dijadikan dasar. Artinya, ia tidak lagi bertanya tentang apa yang menopang segala sesuatu, melainkan tentang bagaimana penyingkapan itu sendiri berlangsung.

Karena itu, fenomenologi berubah makna. Ia bukan lagi metode yang dapat diajarkan sebagai teknik. Ia bukan seperangkat langkah-langkah analisis. Fenomenologi adalah cara tinggal bersama apa yang menyingkapkan dirinya, tanpa memaksanya masuk ke dalam skema yang sudah ditentukan.

Dalam proses ini, bahasa mulai menampakkan perannya yang menentukan. Fenomena tidak “ditangkap” oleh kesadaran, melainkan datang ke dalam bahasa. Apa yang tampak, tampak sejauh ia dapat dikatakan. Karena itu, fenomenologi tidak dapat dipisahkan dari perhatian terhadap bahasa.

Namun bahasa yang dimaksud bukan bahasa teknis atau bahasa ilmiah. Ia adalah bahasa yang mendengarkan, bahasa yang membiarkan kata muncul dari perkara itu sendiri. Di sinilah kedekatan fenomenologi dengan puisi menjadi tampak. Puisi bukan hiasan, melainkan salah satu cara paling murni bagaimana sesuatu dapat menyingkapkan dirinya dalam kata.

Dengan demikian, jalan saya menuju fenomenologi membawa saya semakin jauh dari fenomenologi sebagai aliran filsafat. Ia membawa saya ke suatu pemikiran yang lebih luas, yang kemudian saya sebut sebagai pemikiran tentang sejarah Ada. Fenomenologi, dalam pengertian ini, menjadi langkah awal yang kemudian harus ditinggalkan—bukan ditolak, melainkan dilampaui.

Melampaui fenomenologi berarti tetap setia pada tuntutan dasarnya: membiarkan apa yang tampak tampak dari dirinya sendiri. Namun kesetiaan ini justru menuntut agar fenomenologi tidak dibekukan menjadi doktrin. Ia harus tetap sebagai jalan yang terbuka.

Karena itu, jalan saya menuju fenomenologi tidak pernah berakhir pada fenomenologi itu sendiri. Jalan itu terus bergerak, mengikuti tuntutan pertanyaan tentang Ada. Fenomenologi bukan tujuan, melainkan lintasan yang memungkinkan pertanyaan itu muncul dan bertahan.

Di titik inilah saya memahami bahwa pemikiran tidak dapat dipisahkan dari jalannya sendiri. Ia tidak menuju suatu hasil akhir yang dapat diringkas dalam rumus. Ia adalah perjalanan yang dibentuk oleh apa yang menyingkapkan dirinya sepanjang jalan itu.


Pada akhirnya, jalan saya menuju fenomenologi justru memperlihatkan bahwa fenomenologi itu sendiri tidak dapat dijadikan pegangan terakhir. Ia tidak boleh dibakukan sebagai sistem, metode, atau aliran. Begitu fenomenologi diperlakukan sebagai sesuatu yang sudah mapan, ia justru kehilangan daya asalinya.

Fenomenologi, sebagaimana saya memahaminya, hanya bermakna sejauh ia tetap setia pada apa yang menuntut untuk dipikirkan. Kesetiaan ini menuntut kesiapan untuk melepaskan fenomenologi itu sendiri, ketika ia mulai menghalangi jalan menuju perkara yang hendak disingkapkan. Karena itu, fenomenologi tidak pernah menjadi tujuan akhir pemikiran saya.

Jalan yang saya tempuh menunjukkan bahwa pemikiran tidak bergerak dari satu teori menuju teori lain, melainkan dari satu pengalaman penyingkapan menuju pengalaman penyingkapan berikutnya. Apa yang memandu jalan ini bukanlah metode, melainkan perkara itu sendiri—apa yang, dalam setiap tahap, menuntut untuk dipikirkan.

Dengan demikian, apa yang sering disebut sebagai “jalan saya menuju fenomenologi” sebenarnya adalah jalan menuju suatu cara berpikir yang lebih asal. Fenomenologi hanya menjadi satu bagian dari jalan itu, sebuah lintasan yang perlu dilalui, tetapi juga perlu ditinggalkan. Ia membuka mata, tetapi tidak boleh menggantikan apa yang hendak dilihat.

Pemikiran, dalam pengertian ini, bukanlah penguasaan atas fenomena. Ia adalah keterlibatan dalam penyingkapan. Ia menuntut kesabaran, kehati-hatian, dan kesiapan untuk menerima bahwa apa yang paling penting sering kali menampakkan diri justru dengan cara menarik diri.

Karena itu, saya tidak pernah memahami fenomenologi sebagai doktrin yang dapat diwariskan begitu saja. Ia adalah suatu latihan berpikir yang hanya dapat dijalani secara pribadi, dalam tanggapan terhadap apa yang menyingkapkan dirinya. Setiap orang yang berpikir harus menempuh jalannya sendiri, meskipun jalan-jalan itu mungkin saling bersinggungan.

Jika ada satu hal yang dapat dikatakan sebagai hasil dari jalan ini, maka itu bukanlah suatu ajaran, melainkan suatu sikap: membiarkan apa yang tampak tampak dari dirinya sendiri, tanpa memaksanya masuk ke dalam kerangka yang telah ditentukan sebelumnya.

Dalam sikap inilah, pemikiran tetap setia pada tugasnya. Bukan dengan menjawab semua pertanyaan, melainkan dengan menjaga agar pertanyaan yang paling asal tetap terbuka.



:::

Untuk lebih detail isi buku bisa periksa disini: https://blogs.sussex.ac.uk/sussexphenomenology/files/2013/05/Martin-Heidegger-Joan-Stambaugh-Translator-On-Time-and-Being-1977.pdf


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar Filsafat - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Filsafat Kontemporer - Bambang I. Sugiharto

Apa Itu Filsafat?... - Pengantar Filsafat 01 - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Pemikiran Modern - Bambang I. Sugiharto

METAFISIKA KEBUDAYAAN - Bambang I. Sugiharto

Filsafat Ilmu - Bambang I. Sugiharto

Nietzsche & Keberanian Jadi Diri Sendiri

Postmodernisme

HERMENEUTIK - Bambang I. Sugiharto

Écrits dan Arsitektur Kajian Subjek - Lacan