Permainan, Simbol, dan Kebenaran: Rekonstruksi Hermeneutik atas Pemahaman
Seni, Permainan, Bahasa, dan Pemahaman
(Paradigma Hermeneutika)
Sebagaimana telah diuraikan di awal, pembahasan ini berkaitan dengan seni—khususnya estetika—dan posisinya sebagai paradigma pemahaman. Yang dimaksud di sini adalah bahwa seni, terutama pengalaman estetik, dijadikan model atau kerangka untuk memahami proses pemahaman itu sendiri. Ini merupakan pembalikan dari tradisi lama, di mana sains biasanya dijadikan paradigma utama pemahaman.
Dalam buku Truth and Method, Gadamer justru mempersoalkan dominasi paradigma sains. Ia bertanya: mengapa selama ini pemahaman begitu didominasi oleh sains? Apa kelemahannya? Jawaban yang muncul adalah bahwa paradigma sains terlalu bertumpu pada relasi subjek–objek. Subjek dipahami sebagai pengamat aktif, sementara objek dipahami sebagai sesuatu yang pasif dan dikuasai.
Hermeneutika menawarkan pembalikan: bukan sains, melainkan seni yang dijadikan paradigma pemahaman. Model yang dipakai untuk memahami tafsir dan pengertian bukan lagi relasi subjek–objek ala sains, tetapi pengalaman seni. Mengapa? Karena seni justru bekerja di tengah-tengah interaksi antara subjek dan objek.
Seni, Kebenaran, dan Kesalahpahaman Estetika
Seni sering dipahami secara keliru. Lama sekali dalam tradisi filsafat Barat, estetika dan seni direduksi menjadi urusan keindahan (beauty) dan kesenangan (pleasure). Setiap kali orang berbicara tentang seni, yang muncul hampir selalu dua kata kunci itu: keindahan dan kenikmatan.
Padahal, bagi Gadamer, seni bukan terutama soal kesenangan atau pengalaman indrawi belaka. Seni berada pada jalur kebenaran (truth). Dalam pengalaman estetik, yang dipertaruhkan bukan sekadar rasa suka atau tidak suka, melainkan cara realitas menyingkapkan dirinya. Estetika, dalam pengertian ini, adalah soal kebenaran—meskipun kebenaran itu tidak hadir seperti kebenaran sains.
Permainan sebagai Inti Pemahaman
Seni menjadi paradigma pemahaman karena di dalamnya terdapat unsur play (permainan). Permainan selalu berada di tengah-tengah relasi subjek dan objek. Ia tidak pernah sepenuhnya subjektif, tetapi juga tidak pernah sepenuhnya objektif.
Dalam menikmati karya seni, kita tidak bisa mengatakan bahwa makna sepenuhnya berasal dari subjek. Namun kita juga tidak bisa mengatakan bahwa makna sepenuhnya melekat secara objektif pada karya. Karena itu, ketika ada pertanyaan seperti, “Kalau begitu tafsir itu subjektif dong?”, pertanyaan itu muncul dari kacamata sains yang masih terjebak pada dikotomi subjek–objek.
Dalam paradigma permainan, pemahaman adalah interaksi. Yang penting bukan subjek atau objeknya, melainkan apa yang muncul di antara keduanya. Seperti dalam permainan sepak bola: yang tampil bukan sekadar pemain sebagai subjek, dan bukan pula bola sebagai objek, melainkan peristiwa permainan itu sendiri.
Simbol dan Kebenaran yang Tidak Pernah Selesai
Gadamer—dan juga Heidegger—menekankan bahwa kebenaran selalu hadir melalui simbol. Namun simbol tidak pernah memanifestasikan kebenaran secara total dan habis-habisan. Simbol selalu sekaligus mengungkapkan dan menyembunyikan. Selalu ada sesuatu yang luput.
Karena itu, kebenaran tidak pernah final. Ia tidak pernah bisa dirumuskan secara definitif sekali untuk selamanya. Setiap kali kebenaran dirumuskan dalam simbol, kita selalu menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih dari rumusan itu. Maka kebenaran selalu terbuka, selalu bisa dirumuskan ulang dalam simbol-simbol baru.
Ini bisa disebut sebagai “kutukan” manusia: kita harus merumuskan realitas agar bisa memahaminya, tetapi setiap perumusan selalu terasa tidak cukup. Tanpa perumusan, realitas tidak bisa dimengerti. Namun begitu dirumuskan, kita sadar bahwa rumusan itu tidak pernah sepenuhnya menangkap realitas.
Membaca, Bermain, dan Kebenaran yang Terus Muncul
Karena itu, pemahaman bersifat playful. Ketika kita membaca sebuah teks, pembacaan pertama menghasilkan pemahaman tertentu. Pembacaan kedua menghasilkan pemahaman lain. Pembacaan ketiga memunculkan sisi baru lagi. Kebenaran selalu muncul kembali secara baru.
Hal yang sama terjadi ketika kita menonton atau terlibat kembali dalam suatu permainan. Setiap keterlibatan ulang memunculkan dimensi baru dari kebenaran itu sendiri.
Historisitas dan Sejarah yang Efektif
Pemahaman selalu bersifat historis. Setiap pemahaman dibentuk oleh masa lalu. Namun sejarah yang dimaksud bukan sekadar masa lalu yang sudah berlalu, melainkan sejarah yang efektif (effective history): sejarah yang terus bekerja dan membentuk cara kita memahami dunia saat ini.
Sejarah tidak pernah benar-benar selesai. Ia membentuk horizon kita, perspektif kita, dan cara kita memandang realitas. Bahkan pemikir-pemikir yang sudah lama wafat tetap hidup dalam cara kita berpikir hari ini.
Bahasa dan Pemahaman
Bahasa memiliki posisi sentral dalam pemahaman. Bukan berarti dunia hanya terdiri dari bahasa, melainkan bahwa dunia tampil bagi kita melalui bahasa. Segala pengertian yang ingin dipahami, dipertukarkan, dan dikomunikasikan selalu melewati bahasa.
Namun bahasa tidak hanya verbal. Bahasa dapat diperluas: bahasa tubuh, bahasa gambar, bahasa ekspresi, bahasa simbol. Dalam pengalaman konkret, kita memahami banyak hal melalui berbagai bentuk bahasa ini.
Meski demikian, pemahaman sering kali baru menjadi jelas ketika dipaksa masuk ke dalam bahasa verbal, terutama melalui diskusi. Contohnya, setelah menonton film, kita sering merasa “mengerti”, tetapi baru benar-benar tahu apa yang kita mengerti setelah mendiskusikannya dengan orang lain.
Mengerti, Mengetahui, dan Mengalami
Ada perbedaan antara mengetahui tentang dan mengerti dari pengalaman. Seseorang bisa mengetahui teori tentang sesuatu tanpa sungguh-sungguh mengalaminya. Pengetahuan teoretis tidak selalu identik dengan pemahaman eksistensial.
Karena itu, pemahaman memiliki banyak lapisan. Tidak semua pemahaman langsung bisa atau perlu diverbalkan. Namun dalam ranah diskursus—filsafat, ilmu, dan komunikasi—pemahaman memang perlu diwacanakan.
Bahasa sebagai Sistem dan Proses
Dalam pembahasan ini juga muncul kritik terhadap strukturalisme. Bagi strukturalisme, bahasa dipahami sebagai struktur diferensial: makna muncul dari perbedaan antar unsur bahasa. Namun pendekatan ini cenderung mengabaikan unsur intensionalitas dan proses penggunaan bahasa.
Bahasa bukan hanya sistem, tetapi juga wacana. Struktur tanpa proses adalah mati; proses tanpa struktur adalah kacau. Bahasa selalu menjadi mediasi antara aku dan sesama (komunikasi), aku dan dunia (referensi), serta aku dan diriku sendiri (refleksi).
Teks, Mimesis, dan Transformasi
Ketika wacana lisan menjadi teks, terjadi transisi yang dijelaskan Ricoeur melalui tiga tahap mimesis:
Prafigurasi – peristiwa masih dialami sebagai peristiwa.
Konfigurasi – peristiwa diolah menjadi narasi melalui seleksi dan pembentukan alur.
Transfigurasi – teks bertemu dengan pembaca dan mengalami peleburan horizon.
Pada tahap ketiga inilah terjadi transformasi timbal balik. Teks berubah maknanya melalui pembacaan, dan pembaca pun berubah oleh teks. Membaca teks pada akhirnya adalah membaca diri sendiri.
Dalam kearifan Sunda, ini dikenal sebagai ngaji diri: mempelajari dunia untuk memahami diri.
Otonomi Teks dan Dunia Kemungkinan
Ketika teks menjadi publik, ia menjadi otonom: lepas dari pengarang, lepas dari konteks asli, dan terbuka bagi publik baru. Bahasa membawa memori kolektif dan ketidaksadaran kolektif yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan oleh pengarang.
Karena itu, setiap teks selalu menjadi tawaran kemungkinan baru untuk memahami hidup kita sendiri. Dunia teks menginterupsi dan memperkaya dunia kita, membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi pemahaman dan tindakan.
Komentar
Posting Komentar