Dekonstruksi Makna dan Ketidakfinalan Tafsir dalam Hermeneutika Kontemporer
Kita kini memasuki jalur terakhir dalam pembahasan hermeneutika, yakni jalur yang sering disebut sebagai jalur dekonstruksionis. Jalur ini berangkat dari satu gagasan dasar yang sederhana namun berdampak luas: makna tidak bersifat intensional, melainkan intertekstual. Artinya, makna sebuah teks tidak berasal dari niat tunggal penulis atau dari satu sumber final, tetapi selalu terbentuk melalui relasinya dengan teks-teks lain.
Dalam tradisi ini, makna dipahami sebagai hasil dari sistem perbedaan. Sebuah kata atau kalimat memperoleh arti bukan karena menunjuk langsung pada sesuatu yang tetap, melainkan karena posisinya di antara kata-kata lain. Ketika kita membuka kamus dan mencoba menjelaskan sebuah kata, kita selalu menggunakan kata lain. Kata-kata itu, jika ditelusuri lagi, dijelaskan dengan kata lain lagi—dan proses ini tidak pernah berakhir. Makna, dengan demikian, selalu bergerak, selalu merujuk, dan tidak pernah benar-benar selesai.
Karena itulah, setiap tindakan menafsir pada dasarnya adalah tindakan mengaitkan satu teks dengan teks lain. Ketika seseorang membaca sebuah kalimat lalu berkata dalam batinnya, “oh, maksudnya begini”, sesungguhnya ia sedang menghadirkan kalimat-kalimat lain yang sudah ada di kepalanya. Tidak ada sesuatu yang sepenuhnya baru; yang ada adalah pertautan baru antar-teks. Inilah sebabnya makna tidak pernah stabil. Ia selalu bisa bergerak ke arah yang berbeda, tergantung teks apa yang dijadikan rujukan dan kerangka berpikir apa yang digunakan.
Konsekuensinya sangat penting: kita selalu bisa berdebat tentang sebuah teks. Dua orang membaca buku yang sama, tetapi menghasilkan tafsir yang berbeda, karena mereka mengaitkan bacaan itu dengan jaringan teks dan pengalaman yang berbeda pula. Hal ini berlaku pada semua teks, termasuk kitab suci. Makna kalimat-kalimat dalam kitab suci tidak pernah benar-benar final; ia selalu polivalen, selalu multitafsir.
Makna juga selalu bersifat referensial. Setiap tafsir bergantung pada rujukan tertentu—teks lain, tradisi tertentu, atau kerangka berpikir tertentu. Karena itu, makna tidak pernah berdiri sendiri dan tidak pernah tetap. Dari sinilah muncul sikap kritis terhadap klaim bahwa seseorang bisa memahami secara pasti dan tuntas makna esensial kitab suci.
Pemikir seperti John Dominic Crossan menggunakan cara berpikir ini ketika membaca kitab suci Kristiani. Menurutnya, kita tidak bisa bersikap seperti sebagian teolog yang merasa memiliki pemahaman pasti tentang makna esensial teks suci. Yang kita tangkap sebenarnya hanyalah struktur-struktur permukaan—bentuk-bentuk bahasa yang selalu bisa dimainkan ulang dan ditafsirkan kembali. Yang penting bukan klaim bahwa kita “menangkap isi Tuhan”, melainkan efek teks itu bagi pembaca.
Contoh yang sering dibahas adalah perumpamaan atau parabel. Bagi pendekatan dekonstruktif, isi literal parabel sering kali bukan yang terpenting. Parabel justru berfungsi sebagai strategi ikonoklasme—strategi untuk menghancurkan pemastian-pemastian makna yang telah membeku dan berubah menjadi berhala. Simbol-simbol yang dipastikan secara kaku justru menjadi berbahaya, karena membuat manusia merasa telah menguasai makna ilahi.
Karena itu, parabel-parabel dalam Injil sering membalik logika umum: yang terakhir menjadi yang pertama, yang berdosa justru diterima, sementara yang merasa saleh ditantang. Fungsi utama parabel bukan memberi kepastian moral, melainkan mengacak pola berpikir konvensional, bersifat subversif, dan memaksa pembaca keluar dari rasa puas diri.
Dengan cara ini, iman tidak dibiarkan membeku. Parabel mendorong umat beriman untuk terus berjalan, terus mencari, dan tidak menyamakan ukuran-ukuran manusia dengan ukuran-ukuran ilahi. Apa yang kita anggap dosa atau kebajikan belum tentu identik dengan cara Tuhan menilai. Justru dengan mengguncang kepastian manusiawi inilah, transendensi ilahi dijaga agar tidak direduksi menjadi kategori-kategori kita sendiri.
Dalam perspektif ini, kekuatan kitab suci tidak terutama terletak pada isi literalnya, melainkan pada bentuk-bentuk bahasanya: ironi, parodi, paradoks, dan kontradiksi. Bentuk-bentuk ini berfungsi menggempur kemapanan mental dan sikap sok tahu yang berbahaya. Ironi dan paradoks menjadi alat untuk mengganggu kenyamanan berpikir, bukan untuk memberi jawaban final.
Namun demikian, ini tidak berarti isi sepenuhnya tidak penting. Bentuk dan isi bekerja secara komplementer. Bentuk menjadi efektif karena isi, dan isi menjadi berdampak karena bentuk. Seperti dalam seni, konflik-konflik yang sebenarnya sederhana bisa menggugah kesadaran karena disajikan dalam bentuk yang tidak biasa. Bentuklah yang membuat isi “menendang”.
Masih dalam jalur dekonstruksi, muncul pula pemikir lain seperti Max Taylor, yang menekankan bahwa dekonstruksi bukan penghancuran, melainkan pengingat bahwa kita sering kali menafsir tafsiran atas tafsiran. Interpretasi selalu berlapis. Kita jarang berhadapan langsung dengan teks “asli”; yang kita hadapi adalah pantulan demi pantulan makna.
Taylor membedakan antara refleksi sebagai renungan mendalam dan refleksi sebagai pantulan permukaan. Dalam dekonstruksi, yang ditekankan adalah permainan pantulan antar-teks—bagaimana makna menyembul ketika satu teks dipertautkan dengan teks lain. Dari situ terlihat bahwa banyak hal yang dulu dianggap mutlak ternyata bersifat fiktif atau ilusoris.
Dekonstruksi, dalam arti ini, adalah penyaliban makna-makna baku. Tujuannya bukan merusak iman, melainkan mencegah wahyu berubah menjadi pembenaran diri. Ketika makna dibekukan, iman menjadi beku. Dekonstruksi justru berfungsi seperti olahraga bagi tubuh: mengguncang agar kehidupan tetap mengalir.
Iman, seperti tubuh, akan mati jika tidak digerakkan. Karena itu, dekonstruksi dipandang perlu—meski mengguncang dan menggemparkan—selama ia tidak berhenti pada pembongkaran semata, melainkan membuka kemungkinan perakitan ulang yang lebih rendah hati. Dengan cara ini, ketidakpastian bukan ancaman, melainkan bagian dari iman yang hidup.
Komentar
Posting Komentar