Cognitive Science 6 - Bambang I. Sugiharto

Autopoiesis dan Ruh Kehidupan: Mencari Jejak Kesadaran
Dalam kuliah ini, Bambang I. Sugiharto mengajak kita menyelami kompleksitas kesadaran melalui kritik terhadap pandangan materialistik yang mereduksi kesadaran menjadi sekadar hasil kerja otak atau gen. Ia menyoroti pandangan Susan Greenfield, seorang farmakolog yang justru menolak penyederhanaan semacam itu meskipun memahami mekanisme neurokimia secara rinci. Greenfield berpendapat bahwa kesadaran tetap merupakan fenomena subjektif yang misterius dan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh fungsi otak atau perilaku. Bahkan, fenomena-fenomena seperti pengalaman mati suri atau kesadaran tanpa tindakan menjadi bukti bahwa kesadaran jauh melampaui perilaku teramati dan tidak bisa direduksi menjadi reaksi biologis semata.
Lebih jauh, melalui pemikiran Fritjof Capra, Humberto Maturana, dan Francisco Varela, kuliah ini memperkenalkan sintesis baru yang menggabungkan tiga pilar sistem kehidupan: autopoiesis (kemampuan mencipta diri), struktur disipatif (struktur yang terus diperbaharui), dan proses kognisi (kemampuan mengenali dan merespons). Dari sel terkecil hingga tatanan masyarakat dan ekosistem, semua menunjukkan pola yang sama: jejaring yang hidup, cerdas, dan saling mempengaruhi. Kesadaran, dalam kerangka ini, bukanlah ilusi atau produk tunggal otak, melainkan pancaran dari kehidupan itu sendiri yang menyatu dengan tubuh, lingkungan, dan pengalaman. Dengan pandangan ini, manusia dipahami bukan sebagai mesin biologis, melainkan makhluk sadar yang berada dalam jalinan kehidupan yang luas, penuh makna, dan layak dihargai.
Contents:
[00:00:01] Pendahuluan: Membahas Daniel Dennett dan Pandangan Materialis
Pengantar tentang Daniel Dennett dan pandangannya sebagai fisikalis/materialis, termasuk konsep "Zombie hunch" dan "Qualia" yang dianggap omong kosong oleh kaum materialis. Pembahasan mengenai kesadaran sebagai kinerja otak semata bagi kaum materialis.
[00:01:54] Pandangan Susan Greenfield tentang Kesadaran
Susan Greenfield, seorang farmakolog, memiliki kesimpulan berbeda meskipun memahami kinerja sel otak. Kesadaran sebagai hal yang misterius dan fenomena yang tetap subjektif, sulit untuk dirumuskan pertanyaannya, apalagi didefinisikan.
[00:06:58] Korelasi dan Indeks dalam Studi Kesadaran
Kemungkinan hanya dapat melihat korelasi atau "indeks" (isyarat/indikator) dari kesadaran.
Contoh penggunaan obat bius (anestesia) untuk melihat korelasi antara obat dan tingkat kesadaran.
Mengukur perubahan otak secara kuantitatif dari waktu ke waktu, terutama dalam praktik anestesia.
[00:09:40] Kesadaran Bukan Sekadar Kimia, Gen, atau Wilayah Otak Tertentu
Kesadaran tidak terikat pada wilayah otak tertentu (korteks) atau identik dengan unsur kimiawi tertentu. Kesadaran tidak terkait pada perilaku gen, berlawanan dengan pandangan genetikisme seperti Daniel Dennett dan Richard Dawkins. Kesadaran adalah "sesuatu yang lebih" dari sekadar unsur-unsur material.
[00:17:11] Kesadaran dan Jaringan Neural (Neural Networks)
Kesadaran ada di "neural networks" atau jejaring saraf, yang merupakan indikator kinerja kesadaran. Penelitian menunjukkan bahwa kesadaran tidak semata-mata didikte dan dideterminasi oleh otak.
[00:37:16] Kritik terhadap Determinisme dan Implikasi Sosial-Moral
Jika semua ditentukan oleh gen, maka konsep seperti pilihan bebas (free will) dan moralitas menjadi tidak relevan. Tidak ada tanggung jawab moral, dan tidak dibutuhkan penjara atau pengadilan jika tindakan hanya ditentukan oleh gen.
[00:44:00] Teori Struktur Disipatif (Dissipative Structure)
Pengenalan konsep "dissipative structure" dari Ilya Prigogine, menjelaskan sistem yang mempertahankan diri dengan mengalirkan energi dan materi dengan lingkungannya.
Pembahasan bagaimana living systems (sistem hidup) selalu menciptakan ulang "pattern" dan "structure" secara terus-menerus.
[01:18:24] Self-Organization dan Contohnya
Konsep "self-organization" (organisasi diri) dalam sistem disipatif. Contoh dari alam: badai dan formasi sarang lebah sebagai bentuk self-organization dari chaos menjadi order.
[01:21:40] Struktur Disipatif dalam Tubuh dan Pertumbuhan
Tubuh manusia sebagai dissipative structure, yang terus-menerus membuang dan meregenerasi sel serta strukturnya. Perubahan tubuh dari kecil hingga dewasa, di mana struktur lama "dilepas" dan diganti dengan yang baru.
[01:32:00] Komunikasi dalam Sistem Disipatif (Sel dan Masyarakat) Bagaimana sel-sel dalam tubuh berkomunikasi dan saling terhubung (interconnected). Analogi dengan perubahan dalam masyarakat: ketika ada kontrol dan protes (misalnya terhadap korupsi), sistem berubah dari "chaos" ke "order" atau sebaliknya.
[01:42:00] Order, Chaos, dan Titik Kritis
Prigogine: Chaos akan membentuk order sampai titik tertentu, dan order akan menjadi kaotik lagi karena terus bergerak dinamis. Pertanyaan tentang "titik kritis" dalam masyarakat.
[01:52:00] Kesimpulan: Struktur Disipatif dan Eksistensi
Penjelasan kembali tentang dissipative structure sebagai sesuatu yang tetap ada meskipun ada aliran masuk dan keluar materi. Hubungan dengan sel hidup yang terus-menerus mengganti komponennya namun tetap menjadi sel itu sendiri, serta interaksinya dengan lingkungan luar.
:::
1. Misteri Kesadaran dan Kritik terhadap Materialisme
Dalam dunia ilmu saraf dan filsafat pikiran, Daniel Dennett dikenal sebagai tokoh yang mewakili pendekatan materialis dan fisikalis. Ia berpendapat bahwa kesadaran hanyalah hasil dari kerja otak, dan konsep-konsep seperti subjektivitas atau qualia (pengalaman batin yang khas) dianggapnya sebagai hal yang tidak nyata. Gagasan ini didukung oleh analogi “zombie filosofis” — makhluk yang secara fisik sama seperti manusia tetapi tanpa kesadaran subjektif.
Namun, Susan Greenfield, seorang ahli farmakologi yang sangat memahami kerja sel-sel otak secara rinci, justru mengambil posisi berbeda. Meskipun mengetahui mekanisme biologis secara mendalam, ia menolak pandangan ekstrem materialisme. Menurutnya, kesadaran tetap merupakan fenomena subjektif yang misterius, yang bahkan sulit didefinisikan atau dirumuskan dalam pertanyaan ilmiah yang tepat.
2. Kesadaran dan Korelasi Neurokimia
Greenfield menunjukkan bahwa yang bisa dilakukan ilmu pengetahuan sejauh ini hanyalah menemukan korelasi, bukan penjelasan kausal. Ia menggunakan istilah indeks atau indikator untuk menyebut sinyal-sinyal tertentu yang berkaitan dengan tingkat kesadaran. Misalnya, bagaimana obat-obatan anestesi dapat memengaruhi kesadaran seseorang. Dari pengamatan tersebut, ia menemukan bahwa kesadaran tidak terletak di wilayah otak tertentu atau senyawa kimia spesifik, melainkan berada “di antara” — dalam jaringan saraf (neural networks) — yang menjadi pusat dinamika kompleks otak.
3. Kesadaran Bukan Sekadar Perilaku
Bagi Greenfield, kesadaran tidak dapat direduksi hanya pada perilaku atau tindakan. Bahkan seseorang yang berdiam diri, merenung, atau melamun, tetap sadar. Ia menentang pandangan kaum fungsionalis yang menyamakan kesadaran dengan aktivitas seperti penglihatan, pemikiran logis, atau pemecahan masalah. Kesadaran, menurutnya, jauh lebih luas dari sekadar hasil tindakan. Hal ini terlihat dalam penolakannya terhadap klaim bahwa robot canggih seperti Aibo atau Curio yang mampu melakukan banyak hal sudah mendekati kesadaran manusia.
4. Kompleksitas Otak dan Proporsi Kesadaran
Greenfield tetap mengakui bahwa kesadaran berkait erat dengan kerja otak. Ia menyebut bahwa semakin besar dan rumit struktur otak — khususnya dalam lipatan-lipatan korteks (convolutions) — maka semakin besar potensi kesadaran. Maka, binatang dengan struktur otak yang sederhana juga mungkin memiliki kesadaran, tetapi dalam tingkat yang rendah. Kesadaran, bagi Greenfield, bersifat proporsional terhadap tingkat kompleksitas otak.
5. Kritik terhadap Determinisme dan Ilusi Kehendak Bebas
Greenfield juga mengkritisi determinisme biologis yang mengklaim bahwa semua keputusan manusia telah ditentukan oleh gen atau aktivitas otak. Ia menanggapi eksperimen Benjamin Libet — yang menunjukkan bahwa otak "memutuskan" sesuatu sebelum kita sadar membuat keputusan — sebagai sesuatu yang terlalu dilebih-lebihkan. Ia menyindir, jika benar demikian, maka seharusnya kita tidak bisa memilih makanan di restoran, melainkan menyalahkan gen kita atas setiap keputusan. Pandangan ini, menurutnya, berbahaya karena bisa menghapus konsep tanggung jawab moral, hukum, bahkan pendidikan, digantikan oleh kontrol genetik melalui obat-obatan.
6. Kesadaran dan Potensi Spiritual
Greenfield menekankan bahwa meskipun ia tak bisa membayangkan kesadaran terlepas dari otak, ia tidak menutup kemungkinan itu. Ia bersikap terbuka terhadap kemungkinan hidup setelah mati atau kesadaran tanpa tubuh, meskipun hal itu belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Sebagai ilmuwan, ia mengakui batas-batas pengetahuan dan pentingnya kerendahan hati dalam menghadapi misteri kesadaran.
7. Sintesis Baru: Autopoiesis, Struktur, dan Proses
Di bagian akhir, Bambang memperkenalkan pendekatan sintesis baru dari Fritjof Capra, yang terinspirasi dari Humberto Maturana dan Francisco Varela. Capra menggabungkan tiga elemen kunci dari sistem kehidupan: pola organisasi (pattern), struktur fisik (structure), dan proses yang terus-menerus berubah (process). Dalam sistem kehidupan, struktur disebut sebagai disipatif — yaitu struktur yang terus memperbaharui diri dengan membuang bagian-bagian lama dan membentuk yang baru. Pola organisasi disebut autopoiesis — sistem yang menciptakan dan mengatur dirinya sendiri. Sedangkan proses utamanya adalah kognisi, yang berlangsung bahkan di tingkat sel.
8. Menuju Pandangan Holistik tentang Kehidupan dan Kesadaran
Dengan pendekatan ini, Capra menawarkan cara pandang holistik terhadap kehidupan. Ia melihat bahwa bahkan di tingkat sel pun ada semacam "kecerdasan" dan kemampuan mengenali, berkomunikasi, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Seluruh tubuh manusia merupakan jaringan sel-sel yang membentuk sebuah masyarakat kompleks, dan kesadaran muncul dari dinamika kolektif ini. Konsep ini memungkinkan kita memahami bahwa otak bukan satu-satunya pusat kognisi, melainkan hanya bagian dari sistem tubuh yang lebih besar.
9. Autopoiesis dan Dinamika Kehidupan
Konsep autopoiesis atau “penciptaan-diri” menjelaskan bahwa sistem kehidupan selalu memperbarui dirinya secara terus-menerus. Dalam sistem ini, setiap komponen memiliki fungsi untuk memproduksi atau mentransformasi komponen lain, sehingga jejaring itu mempertahankan dirinya secara otonom. Hal ini berbeda dengan sistem mati seperti batu atau sepeda yang komponennya tetap dan tidak memperbaharui diri. Sistem hidup bersifat aktif, dinamis, dan kreatif, bukan reaktif terhadap lingkungan semata.
Dengan kata lain, struktur dalam sistem kehidupan bersifat disipatif — artinya, ia membuang elemen yang usang atau rusak, dan meregenerasi yang baru. Misalnya, tubuh manusia selalu mengganti sel-sel yang mati dengan sel-sel baru. Bahkan wajah seseorang pun berubah seiring waktu akibat proses biologis ini. Ini adalah gambaran nyata bahwa proses kehidupan itu bukan stagnan, tapi terus-menerus mengalir dan mencipta ulang.
10. Jejaring Sosial sebagai Cerminan Proses Biologis
Menariknya, konsep autopoiesis ini juga dapat diterapkan dalam jejaring sosial. Masyarakat tidaklah statis. Setiap individu dan relasinya berubah dari waktu ke waktu. Ketika tekanan sosial meningkat — misalnya lewat pengawasan publik, hukum, atau kampanye antikorupsi — para individu dalam sistem pemerintahan pun perlahan menyesuaikan perilakunya. Pola otoriter mungkin tergantikan dengan pola yang lebih melayani. Maka, perubahan sosial merupakan hasil dari jejaring relasi yang saling memengaruhi, menciptakan struktur dan nilai-nilai baru — seperti halnya sistem seluler dalam tubuh.
11. Sel sebagai Miniatur Masyarakat
Bambang mengajak kita melihat sebuah sel — unit kehidupan terkecil — sebagai miniatur masyarakat yang kompleks. Di dalam sel terdapat nukleus (pusat kendali), pusat energi, gudang penyimpanan, sistem daur ulang, hingga sistem komunikasi. Semua bagian ini berinteraksi seperti sistem sosial manusia. Ini menunjukkan bahwa pada level paling mikro, kehidupan pun sudah dibentuk oleh jaringan kerja yang rumit, yang tak bisa direduksi hanya pada unsur-unsur kimiawi.
Jika ditarik lebih luas, pola-pola ini terjadi dari tingkat sel hingga ke tingkat planet. Baik mikrokosmos maupun makrokosmos menunjukkan pola yang mirip: ada struktur disipatif, proses kognisi, dan pola organisasi yang membentuk sistem hidup. Dari satu sel, hingga tubuh manusia, masyarakat, bahkan planet — semuanya bisa dipahami sebagai jejaring yang saling mempengaruhi.
12. Proses dan Kesadaran: Dari Kognisi Seluler hingga Spiritualitas
Dalam pandangan ini, kognisi tidak hanya terjadi di otak, tetapi di seluruh sel tubuh. Setiap sel memiliki kecerdasan lokal yang memungkinkan proses pengenalan, seleksi, dan adaptasi. Maka, otak bukanlah pusat satu-satunya dari pemikiran dan kesadaran, tetapi lebih merupakan pengolah dari informasi yang dikumpulkan oleh tubuh secara keseluruhan.
Ini membuka ruang untuk pemahaman baru tentang kesadaran, bukan hanya sebagai produk kimiawi, tetapi sebagai fenomena holistik yang muncul dari jaringan interaksi kompleks seluruh tubuh. Bahkan, ada indikasi bahwa kesadaran bisa melampaui tubuh fisik — seperti dalam pengalaman mati suri, di mana orang tetap memiliki ingatan dan persepsi meskipun otaknya tidak aktif.
13. Melampaui Materialisme: Kesadaran dan Spiritualitas
Bambang menutup refleksi ini dengan menggarisbawahi bahwa pendekatan yang terlalu materialistik terhadap kesadaran sering kali menyisihkan dimensi spiritual dan subjektif. Padahal, pengalaman manusia sehari-hari justru penuh dengan nilai, makna, dan pilihan moral. Jika semua dijelaskan sebagai kerja gen dan sel, maka tak ada ruang lagi untuk tanggung jawab, kebebasan, atau bahkan keadilan.
Oleh karena itu, ia menyambut baik pendekatan seperti yang ditawarkan oleh Fritjof Capra, Humberto Maturana, dan Francisco Varela yang memperkenalkan sintesis baru: kesadaran dipahami sebagai bagian dari sistem kehidupan yang kompleks, dinamis, dan kreatif — bukan hanya sebagai produk otak, tetapi sebagai pancaran kehidupan itu sendiri.
14. Sintesis Baru: Autopoiesis, Struktur Disipatif, dan Kognisi
Fritjof Capra dalam The Web of Life menyusun pendekatan sintesis yang memadukan tiga konsep besar: autopoiesis (pola kehidupan yang mencipta dirinya sendiri), struktur disipatif (struktur yang terus berubah dan memperbarui diri), dan kognisi (proses mengenali dan merespons lingkungan). Tiga konsep ini membentuk fondasi dari sistem kehidupan: sebuah organisme hidup adalah sistem yang mampu mempertahankan dirinya melalui pembaharuan diri dan interaksi aktif dengan lingkungan.
Autopoiesis, seperti yang dijelaskan Maturana dan Varela, adalah jejaring kerja di mana setiap komponen saling menopang dan memperbaharui. Struktur disipatif, menurut Ilya Prigogine, adalah struktur yang terbentuk dari ketidakseimbangan dan chaos, tetapi justru memunculkan keteraturan baru. Sementara itu, kognisi dilihat sebagai proses aktif yang tidak hanya terjadi di otak, tapi juga di seluruh sel tubuh.
15. Dari Sel ke Alam Semesta: Pola yang Sama di Segala Tingkat
Kapra mengajak kita untuk melihat bahwa pola-pola yang berlaku di satu sel juga berlaku di sistem yang lebih besar: tubuh manusia, masyarakat, bahkan planet dan semesta. Semua sistem hidup memperlihatkan ciri jejaring, autopoietik, disipatif, dan kognitif. Ini adalah pola universal yang menyatukan makro dan mikro, spiritual dan material.
Satu sel bukan sekadar kumpulan molekul, tapi merupakan "masyarakat kecil" dengan pembagian kerja yang kompleks — ada pusat kendali, pusat energi, tempat penyimpanan, sistem daur ulang, dan sebagainya. Dan seperti sel, manusia juga hidup dalam jejaring masyarakat, dan bumi sendiri merupakan jejaring ekosistem yang saling tergantung. Dari sini, kita mulai menyadari bahwa kehidupan bukanlah mesin, tetapi jaringan yang hidup dan cerdas.
16. Implikasi Eksistensial dan Etis
Gagasan ini mengarah pada refleksi yang mendalam: bahwa kita sebagai manusia bukan sekadar objek biologis, tapi bagian dari jejaring kehidupan yang luas dan saling mempengaruhi. Maka, tanggung jawab moral, spiritualitas, dan nilai-nilai bukanlah ilusi, tetapi justru merupakan ekspresi dari kesadaran yang tumbuh dalam jaringan ini.
Jika kita mengabaikan dimensi ini, dan semata-mata memahami manusia secara reduksionis — sebagai hasil kerja gen atau otak saja — maka kita kehilangan makna terdalam dari eksistensi. Moralitas, keadilan, dan spiritualitas bukan sekadar konsekuensi sosial, tetapi cerminan dari kesadaran yang sadar akan dirinya dan jaringannya.
17. Penutup: Menuju Pandangan yang Lebih Luas dan Bijak
Pada akhirnya, Bambang menyampaikan bahwa pendekatan seperti milik Susan Greenfield dan Capra membuka ruang untuk melihat kesadaran sebagai fenomena yang belum sepenuhnya bisa dijelaskan. Kita baru berada pada permulaan dalam memahami hubungan antara otak dan kesadaran. Dunia ilmu saraf belum menemukan hukum besar seperti dalam fisika. Yang ada hanyalah serpihan pengetahuan, data, dan anekdot yang saling berserakan.
Namun justru karena itu, kita perlu membuka diri terhadap sintesis yang lebih luas, yang tidak hanya mencakup data material, tetapi juga pengalaman subjektif, nilai, dan keterhubungan dengan dunia. Pendekatan ini tidak sekadar menjelaskan, tapi juga menyentuh, menggugah, dan menghormati kompleksitas kehidupan. Itulah sebabnya, dalam lautan euforia ilmiah yang cenderung simplistis, suara seperti Greenfield menjadi penting — sebagai pengingat bahwa kesadaran tetaplah misteri yang patut dihormati, bukan ditaklukkan.
Komentar
Posting Komentar