Kritik Horkheimer atas Rasionalitas Positivistik dalam Masyarakat Modern



Max Horkheimer mengawali kritiknya terhadap apa yang ia sebut sebagai perspektif tradisional ilmu pengetahuan. Dalam pandangan tradisional—yang sangat dipengaruhi positivisme—ilmu pengetahuan dianggap harus murni, objektif, dan tanpa kepentingan (disinterested). Ilmu dipahami hanya sebagai upaya membangun sistem prinsip-prinsip yang netral, terlepas dari politik dan kehidupan masyarakat. Karena dianggap netral, bentuk pengetahuan seperti ini dengan mudah, secara de facto, mendukung status quo dan kekuasaan, sebab ia menjadi sekadar alat yang bisa dipakai siapa pun.

Bagi Horkheimer, pandangan semacam itu keliru. Ia menegaskan bahwa pengetahuan selalu berhubungan dan dipengaruhi oleh kondisi masyarakat, bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ini sejalan dengan cara berpikir Marx: cara kita memahami dunia selalu terkait erat dengan struktur sosial masyarakat.

Salah satu contoh penting datang dari Max Weber. Weber menunjukkan bahwa perkembangan kapitalisme—termasuk cara berpikir, perilaku, bahkan teknologi—tidak hanya didorong oleh fakta ekonomi, tetapi juga oleh nilai-nilai tertentu, seperti etika Protestan. Artinya, apa yang dianggap sebagai “fakta” dalam sains pun sebenarnya terhubung dengan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Dengan kata lain: values dan facts tidak bisa sepenuhnya dipisahkan.

Berangkat dari sini, Horkheimer menegaskan bahwa pengetahuan harus memiliki tujuan konkret: yakni membantu mengubah masyarakat dan mendorong emansipasi. Emansipasi berarti membebaskan manusia dari berbagai hubungan sosial yang menindas dan memperbudak. Jadi, pengetahuan tidak seharusnya pura-pura netral; ia memang harus berdampak, terutama dalam membebaskan masyarakat dari penindasan.

Walaupun terinspirasi Marx, Horkheimer berbeda dalam hal subjek perubahan sosial. Jika Marx melihat proletariat sebagai motor revolusi, Horkheimer berpendapat bahwa dalam konteks modern, kaum intelektual dan ilmuwan justru menjadi subjek utama perubahan sosial. Tugas mereka adalah mengidentifikasi dan mengartikulasikan tendensi-tendensi negatif yang tersembunyi dalam masyarakat, yang sering kali tidak disadari publik. Dengan mengungkap hal-hal ini, mereka membantu proses emansipasi masyarakat.

Gagasan ini berkembang lebih tajam dalam karya besarnya, The Eclipse of Reason (Gerhana Nalar). Di sini, Horkheimer memberikan kritik mendalam terhadap apa yang ia sebut rasio instrumental. Rasio, yang seharusnya luas dan mampu menyelidiki makna, nilai, dan tujuan hidup manusia, dipersempit menjadi sekadar alat untuk memanipulasi alam dan mengatur kehidupan. Rasio instrumental adalah ciri rasionalitas modern dan positivistik, yang menilai segala sesuatu hanya berdasarkan kebermanfaatan teknisnya.

Masalahnya, rasionalitas model ini mengandalkan verifikasi empiris sebagai ukuran utama kebenaran. Padahal, banyak aspek kehidupan manusia—nilai, makna, keadilan, kebebasan—tidak bisa diverifikasi secara faktual. Pernyataan moral seperti “keadilan dan kebebasan lebih baik daripada ketidakadilan dan penindasan” tidak memiliki basis faktual yang bisa diverifikasi. Namun jelas kalimat itu bermakna dan penting. Upaya positivisme untuk menilai makna hanya melalui fakta empiris membuat dunia nilai dianggap tidak bermakna, dan hasilnya justru menjadi absurd.

Menurut Horkheimer, pemaksaan verifikasi empiris terhadap semua aspek kehidupan membuat rasionalitas modern perlahan berubah menjadi irasional. Apa yang mula-mula disebut rasional justru menghancurkan kemampuan manusia memahami makna yang lebih dalam. Pemikiran-pemikiran ini dibahas secara luas—salah satunya dalam tulisan-tulisan Sindhunata yang menjelaskan bagaimana rasionalitas modern yang lahir sebagai pencerahan justru berubah menjadi bentuk irasionalitas baru.



:::

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar Filsafat - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Filsafat Kontemporer - Bambang I. Sugiharto

Apa Itu Filsafat?... - Pengantar Filsafat 01 - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Pemikiran Modern - Bambang I. Sugiharto

METAFISIKA KEBUDAYAAN - Bambang I. Sugiharto

Filsafat Ilmu - Bambang I. Sugiharto

Nietzsche & Keberanian Jadi Diri Sendiri

Postmodernisme

HERMENEUTIK - Bambang I. Sugiharto

Écrits dan Arsitektur Kajian Subjek - Lacan