Konsep Arete dan Struktur Jiwa dalam Pemikiran Platon | A. Setyo Wibowo
A. Setyo Wibowo:
Hari ini saya akan memberikan presentasi umum mengenai pemikiran Platon. Minggu depan saya akan mencoba mengajak Anda masuk lebih dalam ke teks Platon, yaitu Politeia atau The Republic, sebuah teks yang sangat penting dalam filsafat politik dan sering dibahas.
Presentasi hari ini pada dasarnya mengikuti presentasi yang sudah saya buat dalam buku saya berjudul “Arete: Hidup Sukses Menurut Platon.” Jadi kita akan berbicara tentang kesuksesan—bagaimana mencapai hidup yang sukses—meskipun istilah “sukses” ini saya gunakan sebagai judul agar mudah dipahami oleh orang yang mungkin tidak belajar filsafat.
Nama saya Seyo Wibowo. Saya mengajar di STF Driyarkara sejak 2007—belum terlalu lama. Spesialisasi saya lebih pada filsafat Yunani, sehingga saya mengajar tentang Platon, Aristoteles, dan Plotinos. Disertasi saya tentang Plotinos di Universitas Sorbonne, Paris. Sehari-hari saya mengajar filsafat Yunani dan mendampingi mahasiswa yang ingin mendalaminya.
Beberapa hal yang sudah saya tulis antara lain sebuah buku singkat yang memberikan topografi pemikiran Platon. Saya juga telah menerjemahkan dua teks kecil Platon, yaitu tentang persahabatan (Lysis)—apa itu persahabatan menurut Platon—dan tentang keberanian (Laches)—apa itu keutamaan keberanian menurut Platon.
Platon menulis banyak buku—puluhan—dan tidak mudah dipahami. Karena itu saya berjanji pada diri sendiri untuk mulai menerjemahkan teks-teks yang kecil terlebih dahulu, teks-teks sokratik tentang persahabatan, keberanian, atau tentang sofrosyne—moderasi. Mungkin suatu saat nanti saya akan menerjemahkan teks tentang kesalehan, atau apa itu piety. Baru setelah saya cukup akrab dengan teks-teks Platon, saya akan mulai mengerjakan Politeia, yang merupakan teks sangat besar dan sulit, sehingga saya harus sangat hati-hati sebelum berani menerjemahkannya.
Pembahasan Buku “Arete: Hidup Sukses Menurut Platon”
Saya akan mengikuti pola dari buku ini: mulai dari hal-hal umum, lalu perlahan masuk ke pemikiran Platon. Buku ini memberikan gambaran umum mengenai pandangan Platon tentang manusia dan bagaimana manusia dapat meraih keutamaan (arete). Arete berarti keutamaan dalam bahasa Yunani.
Keutamaan dalam arti moral—seperti kebaikan, kesucian, atau kejujuran—memang termasuk di dalamnya. Tetapi dalam tradisi Yunani (dan juga Jawa) istilah “manusia utama” tidak hanya berarti baik secara moral, melainkan optimal secara keseluruhan—bahwa seluruh potensi manusia berfungsi dengan baik dan maksimal.
Misalnya:
Arete sebuah pisau adalah kemampuannya mengiris.
Bila sebuah pisau tidak bisa mengiris, maka jangan sebut itu pisau.
Arete sebuah balllpoint adalah kemampuannya menulis.
Arete seekor kuda adalah kemampuannya berlari cepat, membawa beban, berperang, dan mengikuti komando.
Bila seekor kuda hanya tidur-tiduran, mungkin itu bukan kuda—mungkin keledai.
Arete berarti optimalitas fungsi. Karena itu saya mengatakan bahwa arete memiliki dimensi moral sekaligus dimensi keunggulan: hidup yang berfungsi secara penuh, manusia yang sungguh-sungguh menjadi manusia.
Platon berbicara mengenai manusia dan bagaimana manusia mencapai keunggulan ini. Ia membahas filsafat, jiwa, kebaikan itu sendiri, dan akhirnya pendidikan untuk mencapai arete. Jadi kata “sukses” di sini hanyalah istilah umum untuk menggambarkan kehidupan yang optimal dan unggul menurut Platon.
Manusia Menurut Platon: Jiwa dan Rasio
Bagi Platon, manusia adalah jiwanya. Karena itu, ketika kita berbicara tentang kesuksesan atau kehidupan yang utama, fokusnya harus pada jiwa yang optimal. Inti jiwa manusia adalah rasio.
Namun rasio Platon bukanlah rasio matematis atau kalkulatif. Ia lebih mirip rasio intuitif yang memiliki dimensi ilahi dalam pengertian Yunani—yaitu kemampuan menangkap kebenaran yang lebih tinggi.
Ketika manusia mengoptimalkan bagian paling inti dari jiwanya yaitu rasio, itulah hidup rasional, dan menurut Platon itulah sumber kebahagiaan: eudaimonia. Kata ini berasal dari eu (baik) dan daimon (roh pembimbing).
Dalam bahasa sekarang, “daimon” dapat dipahami sebagai hati nurani. Socrates sering digambarkan sebagai orang yang mengikuti daimon-nya—yakni bisikan batin yang menuntunnya pada tindakan yang benar.
Kesuksesan Menurut Masyarakat Modern
Dalam kehidupan sehari-hari, kesuksesan sering dipahami sebagai: memiliki harta benda, terkenal, diikuti banyak orang (follower), mempunyai citra elegan, halus, tampan, wangi, memiliki status sosial tinggi.
Jika seseorang memiliki semua itu, masyarakat menganggap ia bahagia.
Padahal kebahagiaan hanya efek samping, bukan sesuatu yang bisa dikejar secara langsung. Kebahagiaan muncul karena sesuatu, bukan sesuatu yang kita raih begitu saja. Sama seperti frustrasi.
Masyarakat tunduk pada simbol-simbol material: pakaian elegan, mobil mewah, gengsi, kekuasaan. Banyak orang memuja hal ini, termasuk penjaga keamanan, petugas layanan, dan warga biasa.
Namun apakah orang-orang kaya dan terkenal itu bahagia? Banyak orang berasumsi demikian, tetapi asumsi itu sering keliru.
Uang, Popularitas, dan Perbudakan Halus
Dalam dunia modern, kesuksesan direduksi menjadi empat hal: uang, ketenaran, kekuasaan, dan status. Namun kebijaksanaan menunjukkan bahwa apa yang kita anggap sarana dapat dengan mudah berubah menjadi tuan yang memperbudak kita.
Ketika uang atau nama besar mulai menguasai diri kita, maka seperti kata Benjamin Franklin: “Success has ruined many men.”
Banyak orang yang berniat baik pada awalnya—mencari uang untuk keluarga, ingin dikenal agar bisa berkarya lebih luas—namun akhirnya justru menjadi budak dari uang dan ketenaran itu sendiri.
Ketenaran harus dipelihara, uang mengikuti logikanya sendiri, dan keduanya dapat mengendalikan hidup manusia.
Kisah Tolstoy
Leo Tolstoy dalam Confession menceritakan bahwa ketika ia sudah memiliki semuanya—uang, ketenaran, keluarga, kenyamanan—ia justru dilanda pertanyaan besar: “Untuk apa semua ini?”
Ketika segala hal eksternal sudah diperoleh, tetapi batin kosong, yang muncul adalah depresi, bukan kebahagiaan.
Platon dan Kritik atas Kesuksesan Eksternal
Platon secara tegas mengkritik pemahaman kesuksesan yang hanya berfokus pada uang, ketenaran, kekuasaan, dan status. Dalam buku ini saya ingin memaparkan tawaran pemikiran Platon yang rasional tentang kesuksesan sejati, yang menurutnya akan otomatis menghasilkan kebahagiaan.
Tentu teori ini diperdebatkan—karena dalam kenyataannya kita melihat banyak orang tidak adil justru tampak bahagia, sementara orang baik sering kali sengsara.
Tantangan Glaukon dalam “Politeia”
Dalam Politeia, Glaukon menantang Socrates:
- Banyak orang tidak adil tampak bahagia.
- Orang tidak adil biasanya kaya dan bisa membeli hakim, pengacara, bahkan teman-teman.
- Mereka bahkan bisa membeli “surga,” karena para dewa dianggap lebih senang dengan persembahan besar daripada burung kecil dari orang miskin.
Sebaliknya, orang adil:
- Tidak mencari status
- Tidak membela diri dari gosip
- Tidak mempersoalkan fitnah
- Akhirnya ditinggalkan, dihukum, bahkan dipenjara atau dibunuh
Glaukon meminta bukti bahwa orang adil hidupnya lebih bahagia. Buku Politeia—yang tebal dan sulit—sebenarnya adalah upaya Platon untuk menjawab tantangan itu.
Penutup
Platon berusaha menunjukkan bagaimana menjadi manusia adil dan bagaimana membentuk negara yang adil. Politeia adalah salah satu karya filsafat politik paling berpengaruh sepanjang sejarah, termasuk dalam tradisi pemikiran Islam seperti tulisan-tulisan Ibn Rushd.
Komentar
Posting Komentar