Kerangka Pemikiran Habermas: Dari Kritik Marxisme ke Rasionalitas Komunikatif









Dalam kuliah ini, pembahasan tentang Habermas difokuskan pada garis-garis besarnya saja. Jika ada yang berminat mendalami lebih jauh, tentu bisa melihat penjelasan rinci dalam karya-karya aslinya. Di sini, kita cukup memahami struktur utama pemikirannya dan konteks kritik yang ia tujukan terhadap Marxisme klasik.

Habermas memulai dengan menunjukkan bahwa Marxisme masih sangat melekat pada pondasi Hegelian. Meskipun Marx mengklaim telah “membalikkan Hegel”—menempatkan praksis dan perubahan realitas sosial sebagai inti filsafat—Habermas menilai bahwa kerangka metafisik Hegel tetap tersimpan secara tersembunyi dalam Marxisme. Karena itu, menurut Habermas, bila ingin betul-betul konsisten dan ingin benar-benar mengubah masyarakat, filsafat tidak perlu lagi memulai dari kritik atas Hegel atau metafisika lainnya. Filsafat harus berangkat langsung dari kritik empiris atas kondisi masyarakat, bukan dari bangunan metafisik.

Kritik kedua Habermas menyasar gagasan Marxis tentang subjek revolusi. Ia mengikuti kecenderungan yang sudah tampak sejak Horkheimer dan Adorno: subjek revolusi bukan lagi proletariat. Kondisi buruh modern tidak lagi sesuai dengan gambaran Marx pada abad ke-19. Kini manajemen perusahaan jauh lebih kompleks, dan di beberapa negara seperti Jepang, buruh senior bahkan memiliki hak saham sehingga turut menjadi pemilik perusahaan. Banyak buruh bisa hidup relatif sejahtera, memiliki mobil, bahkan vila. Mereka tidak lagi “menderita seumur hidup” sebagaimana dibayangkan Marx.

Selain itu, mobilitas sosial dalam masyarakat modern sangat tinggi: siapa pun bisa masuk kelas sosial mana pun. Seorang insinyur bisa menjadi bankir, lulusan kedokteran bisa bekerja di perusahaan telekomunikasi, dan seterusnya. Karena itu, teori kelas yang jelas seperti “pemilik modal vs buruh” menjadi tidak relevan. Struktur sosial modern tidak lagi kaku, sehingga teori kelas tidak dapat dipakai sebagaimana dulu.

Habermas juga mengkritik pemisahan antara negara dan masyarakat. Dalam kenyataannya, keduanya saling terkait erat. Masyarakat adalah produk negara, dan negara pun dapat dilihat sebagai produk masyarakat. Tetapi dalam praktik modern, terutama dalam konteks kapitalisme, sangat sulit memisahkan keduanya. Pemilihan presiden pun ditentukan oleh kekuatan kapital, terutama di negara demokratis besar seperti Amerika. Kapitalisme dan negara saling terhubung secara mendalam.

Namun, Habermas juga mengakui bahwa fenomena baru bermunculan—misalnya jejaring sosial—yang membuat masyarakat dalam banyak hal tidak lagi bergantung sepenuhnya pada negara. Contoh paling jelas adalah revolusi di Timur Tengah yang dipicu oleh jejaring sosial, dimulai dari seorang pedagang buah di Tunisia. Melalui jaringan digital, kesadaran kolektif tumbuh dan akhirnya menggulingkan rezim otoriter. Ini menunjukkan bahwa masyarakat dapat bergerak melampaui batas negara.

Contoh lain tampak dalam kehidupan sehari-hari: perkawinan tidak lagi dibatasi suku atau ras; sensor negara semakin tidak efektif karena media digital menembus batas regulasi. Di era digital, sensor buku, film, atau konten dewasa hampir tidak lagi berarti apa-apa. Hal-hal ini belum dikenal pada masa Habermas, tetapi memperkuat arah kritiknya.

Dari seluruh kritik itu, Habermas menyimpulkan bahwa revolusi atau emansipasi—istilah yang digunakan di tradisi Frankfurt—harus didasarkan pada kajian ilmiah yang mengungkap syarat-syarat objektif dalam masyarakat. Karena subjek revolusi kini adalah para ilmuwan, maka yang pertama harus dikritik adalah dunia ilmu pengetahuan itu sendiri. Habermas melanjutkan gagasan Horkheimer dan Adorno bahwa ilmu pengetahuan tidak netral: selalu ada kepentingan (interesse) di balik produksi pengetahuan.

Dalam penyelidikan awalnya, Habermas menunjukkan bahwa di balik ilmu pengetahuan empiris terdapat kepentingan dominan: kepentingan penguasaan. Ilmu alam—yang kemudian menjadi model bagi ilmu sosial pada awal perkembangannya—berfokus pada penguasaan hukum alam agar dapat memprediksi dan memanipulasi fenomena. Ketika ilmu sosial meniru pola ini, masyarakat modern akhirnya dipenuhi logika penguasaan. Karena logika penguasaan ini mendominasi seluruh ranah kehidupan, masyarakat sulit sekali mencapai kebebasan dan selalu menghasilkan korban serta penderitaan.

Oleh sebab itu, Habermas menawarkan alternatif. Kepentingan baru yang harus menjadi dasar ilmu pengetahuan adalah kepentingan komunikatif—kepentingan bukan untuk menguasai, tetapi untuk saling memahami (mutual understanding). Kepentingan komunikatif ini tidak berjalan dengan logika teknis ilmu alam, tetapi dengan logika interaksi atau logika hermeneutik, yaitu logika yang berlandaskan pemahaman antara subjek.

Tujuan kepentingan komunikatif adalah menciptakan suasana dialogis yang sehat, di mana orang dapat mencapai kesepakatan mengenai tujuan bersama yang lebih manusiawi. Habermas membayangkan ruang dialog semacam agora Yunani, tempat warga bebas berdiskusi, berdebat, dan membangun pemahaman bersama. Dari sini lahirlah konsep rasionalitas komunikatif, sebagai tandingan dari rasionalitas instrumental yang berlandaskan penguasaan.

Habermas juga menawarkan alternatif kedua: kepentingan kritis-emansipatoris, yang terutama diinspirasi psikoanalisis. Di sini, tugas ilmuwan adalah mengidentifikasi unsur-unsur represif dalam masyarakat—apa yang menindas, menekan, atau menimbulkan penderitaan. Ini sejalan dengan pemikiran Adorno: menemukan unsur negatif yang dialami manusia modern. Melalui pendekatan ini, Habermas mengembangkan lebih lanjut teori tindakan komunikatif dan teori tindak tutur (speech act), yang sangat kompleks, namun pada akhirnya diarahkan untuk merumuskan etika diskursus.

Etika diskursus menyatakan bahwa sesuatu dapat dianggap etis bila dihasilkan melalui proses yang melibatkan sebanyak mungkin aspirasi dari bawah: suara masyarakat, termasuk kelompok paling lemah. Dalam perdebatan terbuka, nilai terbaik akan muncul. Demokrasi yang sesuai dengan kerangka ini disebut demokrasi deliberatif: demokrasi yang dibangun melalui pertimbangan bersama, diskusi rasional, dan keterlibatan publik.

Habermas memang rumit, banyak istilah teknis, dan sering berdebat panjang dengan pemikir-pemikir sebelumnya. Tetapi bila peta besarnya dipahami, isinya sebenarnya tidak terlalu asing: demokrasi, dialog, musyawarah, pembebasan dari dominasi. Dalam istilah sehari-hari, apa yang ia sebut “etika diskursus” dan “demokrasi deliberatif” sebenarnya tidak jauh dari musyawarah bersama untuk menentukan nilai yang paling baik.

Namun begitulah tradisi filsafat Barat: setiap filsuf membangun istilahnya sendiri, merumuskan rute berpikir yang rumit, dan harus berdialog dengan tradisi sebelumnya. Karena itu pembaca sering terjebak dalam teknis-teknis akademik sebelum menemukan inti pemikiran yang sebenarnya sederhana. Habermas, sebagai penerus Sekolah Frankfurt, tetap meninggalkan warisan pemikiran yang luas: teori tindakan komunikatif, etika diskursus, dan gagasan demokrasi deliberatif yang hingga kini masih berpengaruh kuat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar Filsafat - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Filsafat Kontemporer - Bambang I. Sugiharto

Apa Itu Filsafat?... - Pengantar Filsafat 01 - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Pemikiran Modern - Bambang I. Sugiharto

METAFISIKA KEBUDAYAAN - Bambang I. Sugiharto

Filsafat Ilmu - Bambang I. Sugiharto

Nietzsche & Keberanian Jadi Diri Sendiri

Postmodernisme

HERMENEUTIK - Bambang I. Sugiharto

Écrits dan Arsitektur Kajian Subjek - Lacan