Eksistensialisme Sartre: Ontologi, Kebebasan, dan Ketidakotentikan dalam Kehidupan Manusia











Dalam eksistensialisme ada banyak pemikir seperti Albert Camus dan Karl Jaspers. Tetapi tokoh yang paling eksplisit menyebut filsafatnya sebagai “eksistensialisme” adalah Jean-Paul Sartre. Nama Sartre sering diplesetkan dalam pengucapan—orang Prancis menyebutnya dengan aksen khas; orang Indonesia menyebut “Sartre”; bahkan ada candaan tentang orang Sunda dan Flores yang melafalkannya secara berbeda.

Sartre wafat pada akhir tahun 1970-an. Ia adalah mahasiswa brilian di Sorbonne. Pasangan intelektualnya, Simone de Beauvoir, juga sama cerdasnya. Sejak awal, keduanya tertarik pada Marxisme dan pada fenomenologi Husserl. Sartre mempelajari fenomenologi secara mendalam, termasuk belajar di Jerman. Marxisme dan fenomenologi inilah yang menjadi kerangka dasar berpikirnya.

Sejak kecil Sartre ingin menjadi sastrawan—menulis novel, drama, dan puisi. Dan memang, ia menghasilkan banyak karya drama, novel, kritik sastra, bahkan kritik seni rupa. Bagi Sartre, sastra adalah salah satu cara berfilsafat. Pada masa eksistensialisme, seni memang menjadi medium filsafat; seni dipakai untuk membicarakan kebenaran eksistensial manusia.


Tokoh lain yang memakai sastra sebagai media filsafat antara lain Albert Camus, yang namanya kadang diucapkan “Kamus” karena pengaruh tradisi tertentu. Ada juga Samuel Beckett di dunia teater. Dalam dunia film, figur eksistensial yang penting adalah Ingmar Bergman—bukan Ingrid Bergman, aktris film, tetapi ayahnya yang merupakan sutradara besar. Karya-karya seni ini menunjukkan bahwa seni bukan hanya bicara keindahan, tetapi kebenaran dan dilema hidup manusia.

Seperti banyak filsuf Prancis, Sartre pernah mengajar di lycée (setingkat SMA) dan menjalani wajib militer. Banyak filsuf besar memiliki pengalaman serupa. Wittgenstein bahkan pernah mengajar di sekolah dasar, meski cara mengajarnya terlalu abstrak bagi anak-anak dan menimbulkan masalah. Sartre juga mengalami masa perang dan ikut serta dalam Revolusi Mahasiswa 1968 yang menentang kapitalisme, industrialisme, dan kemapanan sosial. Revolusi ini melahirkan banyak arus pemikiran baru, termasuk tokoh-tokoh seperti Badiou dan Baudrillard.

Karya-karya Sartre sangat banyak, tetapi dua yang paling penting adalah “Ada dan Ketiadaan” (L’Être et le Néant) dan “Kritik atas Nalar Dialektis” (Critique de la Raison Dialectique). Berikut uraian inti dari kedua karya tersebut.

Bagian pertama adalah “Ada dan Ketiadaan”. Persoalan yang dibahas pertama adalah soal kesadaran. Dalam fenomenologi, kesadaran adalah tema pokok. Sartre mengkritik Husserl yang terkesan menyamakan kesadaran dengan fenomena. Pada Husserl, ada kecenderungan bahwa “ada” adalah apa yang tampak. Sartre menolak ini. Menurutnya, “ada” bersifat transfenomenal—mengatasi fenomena dan menjadi syarat bagi sesuatu untuk tampak, tetapi tidak identik dengan tampakannya.

Ia juga mengkritik Descartes. Cogito “saya berpikir” menurut Descartes adalah kesadaran diri yang tertutup. Sartre menolak gagasan ini. Baginya, kesadaran pertama-tama adalah kesadaran prareflektif—kesadaran yang membonceng pengalaman kita tentang dunia. Ketika saya melihat kursi, berbicara, atau membaca, di situ sudah ada subjek, tetapi tidak dalam bentuk refleksi. Kesadaran hadir secara implisit.

Sartre mengambil intensionalitas dari Husserl—kesadaran selalu tentang sesuatu. Tetapi ia menarik kesimpulan berbeda: karena kesadaran selalu tertuju ke luar, maka kesadaran bukanlah dunia itu sendiri. Perbedaan inilah yang kemudian melahirkan ontologi khas Sartre.


Sartre membedakan dua jenis “ada”.

Pertama, ada-dalam-dirinya (être-en-soi). Sifatnya: “it is what it is”. Ini berlaku untuk benda-benda, baik organik maupun anorganik, yang tidak dapat mengubah dirinya melalui kehendak. Kursi adalah kursi. Benda tidak dapat menegasi dirinya, tidak dapat memilih menjadi lain.


Kedua, ada-bagi-dirinya (être-pour-soi). Sifatnya: “it is not what it is”. Ini berlaku untuk manusia. Manusia dapat mengambil jarak dari dirinya, menolak identitas tertentu, dan selalu dapat menjadi lain. Saya sedang menulis, tetapi saya bukan identik dengan “penulis”. Saya bisa berhenti menulis, berbicara, berjalan. Manusia tidak pernah fix. Manusia dapat menegasi diri, dan kemampuan menegasi inilah yang oleh Sartre disebut sebagai ketiadaan yang melekat pada manusia. Justru karena ada “ketiadaan” inilah manusia bebas.


Kemampuan menegasi berarti manusia bebas. Kebebasan ini berat. Karena kita selalu harus memilih, dan pilihan itu sepenuhnya tanggung jawab kita. Kebebasan ini bukan hadiah, tetapi beban. Sartre menyebutnya “manusia terkutuk untuk bebas”. Tidak ada patokan absolut. Kita sendiri yang menanggung konsekuensi.

Sartre memberi contoh: seorang penjudi bisa saja berhenti kapan pun karena ia bebas. Seseorang berdiri di tepi jurang; ia harus menahan dirinya agar tidak terjun. Kebebasan membuka kemungkinan, dan kemungkinan itu menghasilkan kecemasan. Orang yang memegang pisau bisa saja tiba-tiba bergerak; tidak ada jaminan selain kehendaknya sendiri. Inilah “angst” eksistensial.

Karena kebebasan menimbulkan kecemasan, manusia sering menghindarinya. Inilah yang disebut Sartre sebagai “bad faith” (mauvaise foi). Ada dua bentuk utama.


Pertama, orang mengidentikkan diri secara kaku: “Saya sudah dari sononya begini.” “Saya memang orang seperti ini.” Ini membuat manusia menjadi seperti benda—padahal seharusnya ia adalah makhluk yang terus berubah.


Kedua, semangat serius (esprit de sérieux). Orang menganggap nilai, norma, atau hukum sebagai objektif dan mutlak: “Sains sudah bilang begitu.” “Agama sudah menetapkan begitu.” “Aturan masyarakat begitu.” Menganggap nilai sebagai objektif berarti menghindar dari kebebasan, padahal manusia sendirilah yang memberi makna.

Jika ingin menjadi otentik, manusia harus menjadikan hidup sebagai proyek pribadi. Bukan hidup berdasarkan tekanan luar (heteronom), tetapi berdasarkan dorongan internal (otonom). Ini mengingatkan pada gagasan Kant, tetapi dalam kerangka eksistensial. Menjadi otentik berarti menciptakan nilai dan makna sendiri, bukan sekadar mengikuti perintah dari luar.


Inilah makna terkenal dari eksistensialisme: “eksistensi mendahului esensi”. Manusia tidak lahir dengan hakikat tertentu. Ia membentuk dirinya melalui tindakan. Kursi dibuat berdasarkan konsep kursi; manusia tidak demikian. Ia menjadi sesuatu melalui apa yang ia lakukan.


Karena manusia berada dalam tegangan antara keinginan untuk menjadi sesuatu dan ketidakmungkinan untuk menyelesaikan proses menjadi itu, hidup terasa melelahkan. Sartre menyebut hidup sebagai “a useless passion”—gairah yang tidak pernah selesai. Camus menyebutnya “absurd”, seperti Sisyphus yang mendorong batu ke atas gunung hanya untuk melihatnya jatuh kembali, berulang-ulang.


Dalam “Kritik atas Nalar Dialektis”, Sartre melihat bahwa tindakan individu tidak berdiri sendiri. Ada kondisi objektif yang terbentuk dari tindakan manusia lalu mengeras menjadi sistem yang menekan manusia itu sendiri. Ia menyebutnya “practico-inert field”. Contohnya adalah korupsi struktural. Pada awalnya dilakukan individu, tetapi lama-lama menjadi sistem. Bila seseorang tidak ikut arus, ia justru tersingkir. Dalam situasi demikian, manusia perlu membentuk kelompok untuk mengubah sistem.


Pemikiran abad ke-20 dan awal abad ke-21 cenderung anti-esensialisme. Sepanjang sejarah, manusia telah didefinisikan sebagai zoon politikon, animal symbolicum, homo faber, dan homo ludens. Semua definisi benar dalam konteksnya, tetapi tidak ada yang menjadi esensi final. Bahasa dan kebudayaan pun menunjukkan sifat arbitrer simbol. Larangan, makna suci, nama hewan—semuanya sering tidak memiliki alasan inheren. Seperti kata Saussure, simbol bersifat arbitrer. Masyarakat memberi makna, merasionalisasi, dan kemudian menganggapnya objektif, padahal tidak.




:::

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar Filsafat - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Filsafat Kontemporer - Bambang I. Sugiharto

Apa Itu Filsafat?... - Pengantar Filsafat 01 - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Pemikiran Modern - Bambang I. Sugiharto

METAFISIKA KEBUDAYAAN - Bambang I. Sugiharto

Filsafat Ilmu - Bambang I. Sugiharto

Nietzsche & Keberanian Jadi Diri Sendiri

Postmodernisme

HERMENEUTIK - Bambang I. Sugiharto

Écrits dan Arsitektur Kajian Subjek - Lacan