In The Swarm - Byung-Chul Han
Tragedi di Era Digital - Ketika hilangnya kedalaman eksistensial Manusia
Di tengah gelombang media digital yang melanda, kita sebagai manusia seolah mati rasa. Perangkat-perangkat digital merombak cara kita bertindak, merasa, berpikir, dan hidup bersama, namun kita seringkali tidak menyadarinya. Byung-Chul Han berpendapat bahwa salah satu korban utama dari revolusi digital ini adalah rasa hormat. Secara harfiah, hormat berarti "melihat ke belakang," yang menyiratkan pertimbangan dan jarak. Jarak ini penting untuk menciptakan ruang publik yang beradab. Namun, di era digital, jarak ini runtuh. Urusan pribadi dipamerkan di ruang publik, dan media sosial menjadi ruang pameran bagi hal-hal yang sangat intim. Kita kehilangan ruang pribadi yang bebas dari sorotan kamera.
Selain itu, anonimitas yang difasilitasi oleh media digital secara massal mengikis rasa hormat. Shitstorms yang sering terjadi di media sosial adalah manifestasi dari kurangnya rasa hormat dan berakar pada anonimitas. Shitstorms ini berbeda dengan surat pembaca zaman dulu yang masih terikat dengan nama, yang membutuhkan jeda waktu dan pertimbangan untuk menulisnya. Media digital memungkinkan pelepasan emosi secara instan dan impulsif. Akibatnya, hierarki dan kekuasaan tradisional terkikis. Shitstorms menunjukkan pergeseran kekuasaan dalam komunikasi politik dan berkembang biak di tempat-tempat di mana hierarki telah merata. Kekuasaan, seperti halnya rasa hormat, membutuhkan jarak dan menciptakan ruang. Bagi Han, penguasa sejati di era digital adalah mereka yang dapat mengendalikan Shitstorms di internet.
Han membedakan antara "kerumunan" (crowd) klasik dan "gerombolan" (swarm) digital. Kerumunan memiliki jiwa, semangat, atau kesatuan kolektif yang menyatukan individu-individu di dalamnya. Gerombolan digital, sebaliknya, terdiri dari individu-individu yang terisolasi dan tidak memiliki "kita". Gerombolan digital tidak memiliki koherensi internal dan tidak berbicara dengan satu suara, sehingga suara mereka seringkali hanya dianggap sebagai "kebisingan".
Berbeda dengan individu yang terserap ke dalam kerumunan (crowd), individu dalam gerombolan digital justru berusaha untuk menonjolkan diri. Mereka adalah "seseorang" yang anonim, terus-menerus mengoptimalkan profil mereka dan bersaing untuk mendapatkan perhatian. Mereka tidak berkumpul secara fisik dan kekurangan "interioritas perkumpulan" yang menghasilkan rasa "kita". Gerombolan digital cenderung bersifat volatil dan tidak stabil, seperti gerombolan hewan. Karenanya, mereka tidak memiliki energi politik yang mampu mempertanyakan hubungan kekuasaan yang dominan. Sebaliknya, mereka cenderung menyerang individu, mengekspos mereka, atau menjadikannya subjek skandal.
Han juga mengkritik gagasan bahwa globalisasi telah menciptakan "multitude" (banyaknya) yang mampu melawan "kekaisaran" (empire). Menurutnya, masyarakat kontemporer dicirikan oleh solitude (kesendirian), bukan multitude. Egoisme dan atomisasi yang meningkat membuat ruang untuk tindakan kolektif menyusut. Solidaritas menghilang, dan privatisasi merasuk hingga ke kedalaman jiwa. Subjek neoliberal mengeksploitasi dirinya sendiri hingga kolaps, menjadi pelaku dan korban pada saat yang sama. Eksploitasi ini menjadi lebih efisien karena dilakukan dengan perasaan bebas, namun kenyataannya kita terjebak dalam siklus kerja tanpa henti yang merusak diri sendiri.
Media digital adalah medium kehadiran (presence) yang beroperasi dalam waktu sekarang yang instan. Komunikasi digital meniadakan perantara, membuat representasi dan mediasi terlihat sebagai hambatan. Fenomena ini disebut sebagai demediatisasi. Akibatnya, semua orang ingin hadir secara pribadi dan langsung, menyampaikan pendapat tanpa perantara. Demediatisasi ini mengancam prinsip representasi secara umum, termasuk dalam demokrasi perwakilan, di mana politisi kini dianggap sebagai penghalang daripada perwakilan rakyat.
Dunia digital adalah dunia yang sangat transparan. Keinginan untuk memamerkan diri ini menciptakan masyarakat panoptikon digital. Kita secara sukarela memberikan informasi tentang diri kita, membuat kontrol lebih efisien daripada panoptikon tradisional yang mengandalkan isolasi. Kontrol dan kebebasan menjadi tidak dapat dibedakan lagi. Perusahaan-perusahaan seperti Facebook dan Google berfungsi layaknya dinas rahasia, memetakan kehidupan kita untuk mengubah data menjadi modal. Di era ini, kepercayaan digantikan oleh kontrol.
Di tengah lautan informasi, kita mengalami kelelahan informasi (information fatigue), yang gejalanya mirip dengan depresi. Subjek yang narsisistik dan terbebani oleh dirinya sendiri tenggelam dalam dirinya sendiri, hanya mendengar gema dari dirinya sendiri. Kelelahan ini juga ditandai dengan ketidakmampuan untuk memikul tanggung jawab. Byung-Chul Han menyebut era ini sebagai psikopolitik digital, di mana kekuasaan mengendalikan dan memengaruhi manusia bukan dari luar, melainkan dari dalam. Melalui penambangan data, perilaku kolektif dapat terlihat, yang oleh Han disebut sebagai ketidaksadaran digital. Dengan akses langsung ke ketidaksadaran kolektif ini, masyarakat pengawasan digital mengambil alih karakteristik totaliter.
Buku "In the Swarm" menggambarkan bagaimana janji-janji kebebasan dan keterhubungan dari media digital secara paradoks berubah menjadi alat kontrol, isolasi, dan kelelahan mental, mengikis fondasi masyarakat yang dibangun di atas rasa hormat dan kebersamaan.
Untuk isi lebih lengkap, bukunya bisa diperiksa disini:
https://a.co/d/4UjIt51
Video Ringkasan Buku Per Bab:
Contents:
00:00 Pengantar
00:56 Hilangnya Penghormatan
03:01 Outrage Society
04:43 In the Swarm
07:10 Demediatisasi
09:40 Clever Hans
11:44 Pelarian ke dalam Citra
14:02 Peralihan dari Tangan ke Jari
16:42 Dari Bertani ke Berburu
19:26 Dari Subjek ke Proyek
21:56 Nomos Bumi
24:06 Hantu Digital
26:02 Kelelahan Informasi
27:45 Krisis Representasi
29:35 Dari Warga Negara ke Konsumen
31:33 Hidup yang Direkam
33:28 Big Data
35:17 Teror Dasein
36:52 Kesimpulan
:::
.jpg)
Komentar
Posting Komentar