APA ITU FILSAFAT? - Heidegger - Filsafat Lahir dari 'RASA HERAN', Bukan Sekadar Logika | Martin Heidegger

 


Pertanyaan “apa itu filsafat?” tampak sederhana, namun sesungguhnya menyimpan kedalaman yang tak bertepi. Ia bukan sekadar soal memberi definisi, melainkan undangan untuk masuk ke ruang batin manusia, ke inti keberadaan kita sendiri. Heidegger mengingatkan bahwa filsafat tidak boleh dipandang hanya sebagai kumpulan konsep rasional atau emosi sesaat. Ia adalah jalan hidup—cara manusia hadir dengan sungguh-sungguh di hadapan pertanyaan tentang makna.

Filsafat berakar dari kata philosophia, cinta pada kebijaksanaan, yang lahir di Yunani kuno. Dari Sokrates, Plato, Aristoteles, hingga pemikir modern, kita mewarisi sebuah tradisi pertanyaan yang tidak pernah berhenti. Bukan bangsa atau tempat yang melahirkannya, melainkan keberanian untuk menggali hakikat dari yang ada. Dari situlah lahir pula ilmu pengetahuan modern, yang sesungguhnya tak bisa dilepaskan dari akar filsafat yang menyalakan semangat pencarian.

Namun filsafat bukan sekadar warisan sejarah. Ia adalah kesesuaian yang dihayati—suasana batin yang lahir dari keheranan maupun keraguan. Platon dan Aristoteles melihat filsafat sebagai buah dari keterkejutan yang membuka jalan bagi pertanyaan besar. Descartes, sebaliknya, meletakkan keraguan sebagai fondasi baru. Dari dua sumber inilah, jalan filsafat terus bergerak, membentuk warna setiap zaman. Filsafat hidup dalam keheningan dan dalam kata, dalam kegelisahan dan dalam harapan, sebagai percakapan yang tak pernah selesai.


Karena itu, filsafat bukanlah sistem kaku yang menutup pertanyaan, melainkan undangan untuk berjalan bersama dalam percakapan tentang keberadaan. Heidegger mengajak kita tidak sekadar menghafal definisi atau mengulang para pemikir terdahulu, melainkan ikut masuk dalam kegelisahan yang mereka alami. Jawaban sejati atas pertanyaan “apa itu filsafat?” hanya bisa lahir dari keberanian untuk mendengar, bertanya, dan hadir sepenuh hati—sebagai manusia yang merindukan makna dalam segala yang ada.

"Was ist das – die Philosophie?" (Apa itu Filsafat?)" lahir dari sebuah kuliah umum yang disampaikan Martin Heidegger pada 17 Juli 1955 di Cercle Philosophique de la Sorbonne, Paris. Heidegger mengajak kita kembali ke akar pertanyaan filosofis yang paling mendasar: bukan sekadar mencari teori, melainkan memahami hubungan manusia dengan keberadaan itu sendiri. 


Contents: 

00:00 Intro 

01:45 Menemukan Arah Pertanyaan: Apa Itu Filsafat? 

03:22 Jejak Filsafat dalam Zaman Kita 

05:43 Filsafat Sebagai Jalan 

07:08 Kembali ke Akar Kata dan Rasa Ingin Tahu Awal 

10:01 Filsafat dan Tanggung Jawab untuk Melihat Keberadaan 

12:11 Menjawab dengan Cara Berfilsafat 

14:17 Filsafat sebagai Kesesuaian yang Dihayati 

16:10 Keheranan dan Dasar Suasana Batin dalam Filsafat 

18:31 Undangan untuk Mendengarkan Keberadaan



:::

Was ist das – die Philosophie?
Martin Heidegger

Apakah itu—filsafat?

Dengan pertanyaan ini, kita menyentuh suatu tema yang sangat luas. Karena luas, tema ini pun menjadi tidak pasti. Karena tidak pasti, kita bisa membahasnya dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Dan dalam melakukannya, kita mungkin selalu menyentuh sesuatu yang benar. Namun karena semua kemungkinan pandangan itu bercampur aduk saat kita membahasnya, kita berada dalam bahaya bahwa percakapan kita kehilangan arah yang terpusat.

Karena itu, kita harus mencoba menentukan pertanyaannya dengan lebih tepat. Dengan cara ini, kita menuntun percakapan ke suatu arah yang pasti. Percakapan itu kemudian akan bergerak di atas sebuah jalan. Aku berkata: di atas sebuah jalan. Dengan begitu, kita mengakui bahwa jalan ini bukanlah satu-satunya jalan. Bahkan, kita harus membiarkannya terbuka apakah jalan yang akan kutunjukkan ini benar-benar merupakan jalan yang memungkinkan kita untuk mengajukan dan menjawab pertanyaan tersebut.

Anggap saja kita bisa menemukan satu jalan untuk lebih memperjelas pertanyaannya, maka segera muncul keberatan serius terhadap tema pembicaraan kita. Ketika kita bertanya: Apakah itu—filsafat?, maka kita sedang berbicara tentang filsafat. Dengan bertanya demikian, tampaknya kita berada di luar filsafat, seolah-olah kita berdiri di atasnya atau terpisah darinya.

Namun tujuan dari pertanyaan ini adalah justru untuk masuk ke dalam filsafat, tinggal di dalamnya, bersikap menurut caranya—yaitu: berfilsafat. Maka, jalan percakapan kita tidak hanya harus memiliki arah yang jelas, tetapi juga harus menjamin bahwa kita sungguh bergerak di dalam filsafat, bukan hanya berputar-putar di luarnya.

Dengan kata lain, arah dan jenis jalan percakapan kita harus sedemikian rupa sehingga apa yang dibicarakan oleh filsafat benar-benar menyangkut kita, menyentuh kita—menyentuh diri kita dalam kedalaman hakikat kita.

Namun, apakah dengan begitu filsafat menjadi persoalan perasaan, emosi, dan afeksi?

“Andre Gide pernah berkata: ‘Dengan perasaan yang indah, orang menulis sastra yang buruk.’” Ucapan ini berlaku bukan hanya untuk sastra, tapi bahkan lebih lagi untuk filsafat. Perasaan, meskipun yang paling mulia sekalipun, tidaklah termasuk dalam filsafat. Katanya, perasaan itu irasional. Sedangkan filsafat bukan hanya sesuatu yang rasional, tetapi justru penjaga utama dari rasio itu sendiri. Dengan mengatakan hal itu, tanpa sadar kita sudah memutuskan sesuatu tentang apa itu filsafat. Kita telah melangkah terlalu cepat dengan memberikan jawaban sebelum waktunya. Semua orang mungkin menganggap bahwa menyebut filsafat sebagai wilayah rasio itu benar. Tapi bisa jadi, itu adalah jawaban yang tergesa-gesa terhadap pertanyaan: Apa itu—filsafat?

Sebab, kita bisa segera mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru terhadap jawaban tersebut: Apa itu—rasio, akal budi? Di mana dan oleh siapa ditentukan apa itu rasio? Apakah rasio sendiri yang menjadikan dirinya penguasa filsafat? Jika ya, atas dasar apa? Jika tidak, dari mana ia menerima tugas dan peran itu?

Jika apa yang kita sebut sebagai rasio itu ditetapkan pertama kali oleh filsafat sendiri dan hanya dalam rangkaian sejarahnya, maka tak bijak untuk sejak awal sudah menganggap filsafat sebagai urusan rasio.

Namun, jika kita mulai meragukan bahwa filsafat semata-mata adalah aktivitas rasional, maka dengan cara yang sama kita juga tak bisa serta-merta menganggap bahwa filsafat adalah sesuatu yang irasional. Sebab, siapapun yang menyebut filsafat sebagai irasional, masih mengukur segala hal dengan standar rasional, dan secara tak sadar tetap memakai pengertian rasio yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Di sisi lain, bila kita menunjukkan bahwa apa yang menjadi perhatian filsafat itu menyentuh kita sebagai manusia dalam kedalaman jati diri kita, maka bisa jadi—perasaan yang kita bicarakan di sini sama sekali bukanlah perasaan dalam arti emosi biasa, bukan pula irasionalitas dalam pengertian umum.

Dari semua yang telah dikatakan ini, kita dapat menarik satu kesimpulan awal: kita perlu berhati-hati secara luar biasa bila kita hendak memulai sebuah percakapan dengan judul: Apa itu—filsafat?


Jalan Menuju Kata

Hal pertama yang harus kita lakukan adalah berusaha menempatkan pertanyaan ini ke dalam satu arah yang jelas, agar kita tidak terombang-ambing dalam bayangan atau gambaran-gambaran yang acak tentang filsafat. Tapi bagaimana kita bisa menemukan jalan yang memungkinkan kita menentukan pertanyaan ini secara lebih pasti?

Jalan yang ingin kutunjukkan sekarang sebenarnya terhampar tepat di depan kita. Justru karena ia begitu dekat, kita sulit menyadarinya. Namun jika kita berhasil menemukannya, kita pun tetap akan berjalan dengan kikuk di atasnya. Kita bertanya: Apa itu—filsafat? Kita sudah sering mengucapkan kata “filsafat”. Tapi kali ini, mari kita tidak lagi menyebutnya sebagai sekadar gelar usang. Mari kita dengarkan kembali kata “filsafat” dari asalnya. Dalam bentuk asalnya, ia berbunyi: φιλοσοφία (philosophía). Kata “filsafat” kini berbicara dalam bahasa Yunani. Dan sebagai kata Yunani, kata itu sendiri adalah sebuah jalan.

Kata ini berada di hadapan kita, sebab ia telah diucapkan sejak lama. Tetapi juga berada di belakang kita, karena kita telah mendengarnya dan mengucapkannya sejak dulu. Maka kata Yunani φιλοσοφία adalah jalan yang sedang kita lalui. Namun jalan itu masih belum kita kenali dengan jelas, meskipun kita punya banyak pengetahuan sejarah tentang filsafat Yunani yang bisa kita perluas.

Kata φιλοσοφία / philosophia menunjukkan bahwa filsafat adalah sesuatu yang pertama kali membentuk keberadaan bangsa Yunani. Dan lebih dari itu- philosophia juga menentukan corak terdalam dari sejarah dunia Barat dan Eropa. Ungkapan yang sering kita dengar tentang “filsafat Barat-Eropa” sebenarnya adalah sebuah pengulangan yang tak perlu. Mengapa? Karena pada hakikatnya, filsafat itu sendiri bersifat Yunani—dan maksudnya di sini: filsafat, pada dasarnya, dalam hakikat asalnya, hanya mungkin tumbuh di dunia Yunani, dan hanya melalui dunia Yunani ia bisa mulai berkembang.

Namun hakikat Yunani dari filsafat ini, dalam zaman modern, telah dipandu dan bahkan didominasi oleh cara berpikir Kristen, melalui perantara Abad Pertengahan. Tetapi itu tidak berarti bahwa filsafat lalu menjadi Kristen, dalam arti tunduk pada iman atas wahyu atau otoritas Gereja. Pernyataan bahwa filsafat pada dasarnya bersifat Yunani, tidak mengatakan apa-apa selain ini: bahwa Barat dan Eropa—dan hanya keduanya—di dalam arus terdalam sejarahnya, pada dasarnya adalah sejarah yang “filosofis”.


Filsafat Sebagai Warisan Yunani

Hal ini dibuktikan oleh kelahiran dan kekuasaan ilmu pengetahuan modern. Karena ilmu pengetahuan lahir dari kedalaman sejarah filsafat Barat-Eropa, maka ia mampu memberikan corak khusus bagi sejarah umat manusia di seluruh bumi.

Mari kita renungkan sejenak apa artinya ketika satu zaman dunia diberi nama “zaman atom”. Energi atom, yang ditemukan dan dibebaskan oleh ilmu pengetahuan, dibayangkan sebagai kekuatan yang akan menentukan arah sejarah. Tetapi ilmu pengetahuan tidak akan pernah ada, jika sebelumnya tidak didahului oleh filsafat. Dan filsafat adalah: ἡ φιλοσοφία (he philosophia - 'filsafat itu', ;the hilosophy'). Kata Yunani ini menghubungkan percakapan kita dengan sebuah warisan sejarah. Karena warisan ini bersifat unik, maka ia pun memiliki kejelasan yang tak tergantikan.

Warisan yang disebut dengan nama Yunani φιλοσοφία - philosophia, yang berbicara kepada kita dalam kata sejarah itu sendiri, menunjukkan arah bagi kita untuk menanyakan: Apa itu—filsafat? Warisan itu bukanlah beban dari masa lalu yang tak bisa diubah. Warisan—delivrer—berarti: membebaskan, membuka pintu menuju kebebasan untuk berdialog dengan apa yang telah terjadi.

Nama “filsafat” memanggil kita—jika kita mendengarkan kata itu dengan sungguh-sungguh dan merenungkannya—ke dalam sejarah asal-usul Yunani dari filsafat. Kata φιλοσοφία - philosophia seakan tercatat di akta kelahiran sejarah kita sendiri. Bahkan bisa dikatakan: tercatat pula di akta kelahiran dari zaman dunia kita sekarang, yang disebut “zaman atom”.

Karena itu, kita hanya bisa mengajukan pertanyaan: Apa itu—filsafat? jika kita bersedia membuka diri dalam percakapan dengan pemikiran Yunani.

Namun tidak hanya isi pertanyaannya—yakni filsafat—yang bersifat Yunani. Cara kita bertanya pun bersifat Yunani.

Kita bertanya: Apa itu...? Dalam bahasa Yunani, ini berbunyi: τί ἐστιν - ti estin - apa itu. Pertanyaan “apa itu?” pun memiliki banyak arti. Kita bisa bertanya: “Apa itu di sana, yang terlihat jauh?” Kita bisa menjawab: “Itu pohon.” Di sini, jawaban berupa penamaan terhadap sesuatu yang belum jelas.

Tetapi kita bisa bertanya lebih jauh: “Apa itu yang kita sebut ‘pohon’?” Dengan pertanyaan seperti ini, kita sudah berada dekat dengan τί ἐστιν yang diajukan para filsuf Yunani seperti Sokrates, Platon, dan Aristoteles. Mereka bertanya, misalnya: Apa itu keindahan? Apa itu pengetahuan? Apa itu alam? Apa itu gerak?

Namun kita perlu menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan itu tidak hanya bermaksud mendefinisikan istilah secara lebih akurat, tetapi juga secara bersamaan memikirkan apa arti dari “apa” itu sendiri—apa makna dari τί, atau dalam istilah Latin: quid est, quidditas, hakikat dari sesuatu. Tapi quidditas ini dipahami secara berbeda oleh berbagai zaman dalam sejarah filsafat.

Filsafat Platon, misalnya, adalah cara memahami τί sebagai ἰδέα. Tapi itu tidaklah mutlak. Aristoteles memiliki pemahaman lain, begitu juga Kant dan Hegel. Maka, ketika kita bertanya tentang filsafat dengan kalimat “Apa itu...?”, kita sesungguhnya sedang mengajukan pertanyaan Yunani yang paling mendasar.

Kita perlu mengingat baik-baik: baik isi pertanyaannya—yakni “filsafat”—maupun cara bertanyanya—yakni “apa itu...?”—keduanya berasal dari tradisi Yunani. Kita sendiri termasuk dalam warisan itu, bahkan ketika kita tidak menyebut kata “filsafat”. Kita telah dipanggil kembali oleh warisan itu, diminta untuk kembali—dari dalam dan oleh warisan itu sendiri—begitu kita sungguh merenungkan arti dari pertanyaan: Apa itu—filsafat?



Filsafat Sebagai Jalan

Jika kita benar-benar menyelami makna penuh dan asal dari pertanyaan: Apa itu—filsafat?, maka pertanyaan kita telah memperoleh arah menuju masa depan yang berpijak pada sejarah. Kita telah menemukan satu jalan. Pertanyaan itu sendiri adalah jalan. Jalan itu membawa kita dari keberadaan Yunani kuno menuju kita sekarang—atau bahkan melampaui kita. Kita berada—selama kita setia dalam pertanyaan itu—di tengah-tengah jalan yang telah terarah. Namun, meskipun demikian, itu tidak berarti kita sudah mampu berjalan dengan benar di jalan itu. Kita bahkan belum tahu pasti, di bagian mana dari jalan itu kita kini berdiri.

Sejak lama, pertanyaan “apa itu sesuatu” dipahami sebagai pertanyaan tentang hakikat. Dan pertanyaan tentang hakikat selalu muncul saat sesuatu yang ditanyakan itu telah menjadi gelap dan membingungkan, saat hubungan manusia dengan yang ditanyakan menjadi goyah, atau bahkan terguncang.

Pertanyaan kita adalah tentang hakikat filsafat. Jika pertanyaan ini lahir dari suatu kegentingan, dan bukan sekadar percakapan basa-basi, maka itu berarti filsafat—sebagai filsafat—telah menjadi sesuatu yang pantas dipertanyakan. Apakah benar demikian? Jika ya, dalam arti apa filsafat kini menjadi sesuatu yang layak dipertanyakan bagi kita?

Namun kita hanya bisa menjawab pertanyaan itu bila kita telah memiliki sekilas pemahaman tentang filsafat. Dan untuk itu, kita harus lebih dulu tahu: apa itu filsafat? Maka kita seperti terjebak dalam sebuah lingkaran. Dan bisa jadi, filsafat itu sendiri adalah lingkaran itu.


Logos dan Cinta pada Yang Bijak

Andaikan kita tidak bisa langsung keluar dari lingkaran itu, setidaknya kita masih bisa memandangnya. Ke mana harus kita arahkan pandangan itu? Kata Yunani φιλοσοφία menunjukkan arahnya.

Di sini, perlu ditegaskan sesuatu yang mendasar. Ketika kini dan nanti kita mendengarkan kata-kata dari bahasa Yunani, kita sedang memasuki satu wilayah yang istimewa. Perlahan-lahan, kita mulai menyadari bahwa bahasa Yunani bukan sekadar bahasa seperti bahasa Eropa lainnya. Bahasa Yunani—dan hanya bahasa Yunani—adalah λόγος - logos.

Akan tiba waktunya kita harus membahas lebih dalam tentang hal ini. Tapi untuk saat ini, cukup kita pahami bahwa dalam bahasa Yunani, apa yang dikatakan bukan hanya bermakna sesuatu, tetapi ia juga menyatakan apa yang sedang disebutkan. Jika kita mendengar kata Yunani dengan cara Yunani, kita mengikuti λέγειν-nya -legein, yaitu pengungkapan langsung. Dan apa yang diungkapkan adalah sesuatu yang hadir. Melalui kata Yunani, kita langsung dibawa pada hal yang hadir itu sendiri—bukan hanya pada makna katanya.

Kata φιλοσοφία-philosophia berasal dari kata φιλόσοφος-philosophos. Kata ini mula-mula adalah kata sifat, seperti φιλάργυρος (pecinta perak), atau φιλότιμος (pecinta kehormatan). Kata φιλόσοφος-philosophos kemungkinan besar pertama kali digunakan oleh Herakleitos. Artinya: pada masa Herakleitos, belum ada φιλοσοφία-philosophia. Seorang ἀνὴρ φιλόσοφος-aner philosophos-laki-laki filsuf bukanlah “orang filsafat” seperti dalam pengertian modern. Kata sifat Yunani φιλόσοφος-philosophos menyatakan sesuatu yang sangat berbeda dari kata “filosofis” dalam bahasa modern. Seorang ἀνὴρ φιλόσοφος-aner philosophos adalah orang yang mencintai yang bijak (ὃς φιλεῖ τὸ σοφόν). Kata φιλεῖν-philein-—mencintai—dalam konteks Herakleitos berarti: berbicara selaras dengan Logos, yaitu berbicara sejalan dengan kebenaran Logos. Kesesuaian ini adalah harmoni—ἁρμονία-harmonia.

Orang yang mencintai kebijaksanaan—yang mencintai τὸ σοφόν-to sophon—menurut Herakleitos, mencintai kesatuan segala sesuatu: Ἕν πάντα, “Yang Satu adalah Semua.” “Semua” di sini berarti: seluruh yang ada. Sedangkan “Yang Satu” berarti: yang menyatukan segalanya, dan itu adalah keberadaan—Sein. Maka τὸ σοφόν-to sophon menyatakan: semua yang ada adalah dalam keberadaan. Lebih tegasnya: keberadaanlah yang memungkinkan segala yang ada menjadi ada. Keberadaan mengumpulkan semua yang ada—itulah λόγος-logos.

Semua yang ada berada dalam keberadaan. Mungkin terdengar biasa saja, atau bahkan mengganggu telinga kita yang modern. Tapi justru kenyataan bahwa yang ada adalah ada, dan tampil dalam terang keberadaan—itulah yang dulu mengherankan bagi orang Yunani. Yang mengherankan dari segala yang mengherankan.

Namun bahkan bagi orang Yunani sendiri, keheranan ini harus dijaga dari ancaman akal cerdas para sofis, yang selalu menawarkan penjelasan dangkal untuk segala hal dan menjajakan di pasar gagasan.

Menjaga keheranan itu berarti: ada sekelompok orang yang mulai menempuh jalan menuju hal yang mengherankan itu—yakni τὸ σοφόν. Mereka inilah yang menjadi pencari kebijaksanaan. Mereka membangkitkan kerinduan pada kebijaksanaan dalam diri orang lain. Maka mencintai kebijaksanaan—yang sebelumnya berarti keselarasan dengan τὸ σοφόν-to sophon—menjadi satu kerinduan dan pencarian terhadapnya. Cinta pada kebijaksanaan berubah menjadi pencarian aktif: inilah awal dari φιλοσοφία-philosophia. Pencarian ini dibimbing oleh Eros.

Dan pencarian inilah yang menjadi pertanyaan: Apa itu yang ada, sejauh ia adalah? Pikiran kini menjadi filsafat. Herakleitos dan Parmenides belumlah “filsuf”. Mengapa? Karena mereka lebih besar. Lebih besar di sini bukan dalam arti prestasi, melainkan dalam dimensi berpikir: mereka masih hidup dalam keselarasan dengan Logos—dengan Ἕν πάντα - Hen Panta.

Langkah menuju φιλοσοφία, yang telah disiapkan oleh kaum sofis, akhirnya benar-benar dijalankan oleh Sokrates dan Platon. Aristoteles, sekitar dua abad setelah Herakleitos, menyatakan langkah ini dalam kalimat berikut:

"Dan memang sejak dahulu dan hingga kini serta kelak, apa yang selalu dicari dan tak kunjung terjangkau oleh filsafat adalah pertanyaan: Apa itu yang ada? (τί τὸ ὄν)"


Definisi Aristoteles dan Perubahannya.

Filsafat mencari jawaban atas apa itu yang ada, sejauh ia adalah. Filsafat sedang menuju pada keberadaan dari yang ada—yaitu, memandang yang ada dalam kaitannya dengan keberadaan. Aristoteles menjelaskan hal ini dengan melanjutkan pertanyaan τί τὸ ὄν (apa itu yang ada) melalui penjelasan: τοῦτό ἐστι τίς ἡ οὐσία; -Apa hakikat itu-, yang berarti: pertanyaan tentang apa itu yang ada berarti bertanya: apa hakikat dari yang ada?

Keberadaan dari yang ada berpijak pada hakikat keberadaannya. Dan hakikat ini—yang dalam bahasa Yunani disebut οὐσία-ousia—oleh Platon ditafsirkan sebagai ἰδέα-idea, dan oleh Aristoteles sebagai ἐνέργεια-energeia.

Untuk saat ini, belum perlu dijelaskan lebih rinci apa maksud ἐνέργεια-energeia menurut Aristoteles, dan bagaimana οὐσία-ousia bisa dipahami melalui ἐνέργεια-energeia. Yang penting sekarang adalah memperhatikan bagaimana Aristoteles mendefinisikan filsafat dalam esensinya. Dalam buku pertama Metafisika, Aristoteles menyebut filsafat sebagai:

ἐπιστήμη τῶν πρώτων ἀρχῶν καὶ αἰτιῶν θεωρητική. - “Ilmu teoritis tentang prinsip-prinsip pertama dan sebab-sebab pertama.”

Sering kali ἐπιστήμη diterjemahkan sebagai “ilmu pengetahuan”. Namun terjemahan ini menyesatkan, sebab kita mudah terjebak pada pengertian modern tentang “sains”. Bahkan jika kita memahami “ilmu pengetahuan” dalam arti filosofis sebagaimana yang dipakai oleh Fichte, Schelling, dan Hegel, terjemahan itu tetap kurang tepat.

Kata ἐπιστήμη-episteme berasal dari bentuk partisip ἐπιστάμενος-epistamenos, yang berarti: seseorang yang memiliki kecakapan dan tanggung jawab terhadap sesuatu (kecakapan dalam arti appartenance—kepemilikan yang menyatu dengan sesuatu).

Maka filsafat adalah satu jenis tanggung jawab, θεωρητική - theoretike—yaitu, suatu kemampuan untuk melihat, memandang sesuatu, mengambilnya dalam pandangan, dan menjaganya dalam pandangan. Filsafat adalah satu bentuk tanggung jawab yang melihat.

Tapi apa yang dipandang oleh filsafat?

Aristoteles menjawabnya dengan menyebut: πρῶται ἀρχαὶ καὶ αἰτίαι -protai arkhai kai aitiai—yakni, “asas-asas pertama dan penyebab-penyebab pertama” dari yang ada. Asas dan penyebab pertama inilah yang membentuk keberadaan dari segala yang ada.

Maka patut kita renungkan, setelah lebih dari dua milenium, apa sebenarnya hubungan antara keberadaan dari yang ada dengan hal-hal seperti “asas” dan “penyebab”. Dalam arti apa keberadaan bisa dipahami melalui “penyebab” dan “asal”?

Namun untuk sekarang, marilah kita arahkan perhatian pada hal lain. Kutipan dari Aristoteles tadi menunjukkan kepada kita ke mana filsafat bergerak sejak Platon. Kutipan itu memberi kita satu pengertian tentang apa itu filsafat. Filsafat adalah satu bentuk tanggung jawab, yang memampukan kita untuk memandang yang ada—yakni dalam hubungannya dengan keberadaannya.

Pertanyaan yang hendak memberi percakapan kita arah yang subur dan menggugah, yaitu: apa itu filsafat?, telah dijawab oleh Aristoteles. Maka apakah percakapan kita ini menjadi tak perlu? Apakah telah selesai bahkan sebelum dimulai?

Orang bisa saja langsung berkata bahwa penjelasan Aristoteles tentang filsafat bukanlah satu-satunya jawaban atas pertanyaan kita. Dalam kasus terbaik, itu hanyalah salah satu dari sekian banyak jawaban. Dengan menggunakan definisi Aristoteles, kita memang bisa menjelaskan pemikiran-pemikiran sebelum dirinya—seperti Herakleitos dan Platon—dan juga sesudahnya.

Namun kita juga harus jujur mengakui bahwa filsafat, mulai dari Aristoteles hingga Nietzsche, terus berubah di sepanjang sejarahnya. Dan melalui perubahan-perubahan itulah, justru tampak adanya benang merah yang menghubungkan semuanya. Perubahan-perubahan itu justru menjadi jaminan adanya kesamaan dalam sesuatu yang tetap.

Pernyataan ini tidak berarti bahwa definisi Aristoteles berlaku mutlak. Bahkan dalam sejarah pemikiran Yunani pun, definisi itu hanyalah satu interpretasi khusus dari warisan pemikiran Yunani, dan dari tugas yang dipercayakan kepadanya. Definisi itu tidak bisa diterapkan kembali ke pemikiran Herakleitos atau Parmenides. Namun demikian, definisi tersebut bisa dipahami sebagai hasil bebas dari pemikiran awal, sekaligus sebagai penutup dari satu zaman.

Aku menyebutnya “hasil bebas” karena tidak ada alasan yang bisa membuktikan bahwa satu filsafat atau zaman filsafat tertentu secara niscaya harus muncul dari yang sebelumnya, sebagaimana dalam satu proses dialektika.



Menjawab dengan Kesesuaian

Apa yang bisa kita simpulkan dari semua ini, dalam upaya kita untuk menjadikan pertanyaan Apa itu—filsafat? sebagai bahan percakapan?

Pertama-tama: kita tidak boleh hanya terpaku pada definisi Aristoteles.

Kedua: kita perlu menghadirkan kembali definisi-definisi filsafat lainnya, baik yang lebih awal maupun yang lebih belakangan.

Lalu bagaimana? Kita bisa mencoba, melalui perbandingan abstrak, menyusun inti dari semua definisi itu—apa yang menjadi kesamaan dari semua pemahaman tentang filsafat.

Dan setelah itu? Kita akan sampai pada satu rumusan kosong, yang bisa dipakai untuk menjelaskan segala macam jenis filsafat.

Dan kemudian? Maka kita justru akan berada sejauh-jauhnya dari jawaban yang sesungguhnya terhadap pertanyaan kita.

Mengapa bisa seperti itu?

Karena dalam pendekatan yang baru saja disebutkan—yaitu mengumpulkan dan membandingkan definisi-definisi dari sejarah filsafat—kita hanya bergerak dalam ranah sejarah. Kita bisa melakukan semua itu dengan ketekunan ilmiah, dan menghasilkan banyak pengetahuan yang luas, teliti, dan bahkan berguna mengenai bagaimana filsafat telah didefinisikan dalam sejarahnya.

Namun dengan cara itu, kita takkan pernah sampai pada satu jawaban yang sejati—yakni jawaban yang sah dan wajar—atas pertanyaan: Apa itu—filsafat? Jawaban yang sejati hanya bisa berupa jawaban yang berfilsafat—yakni, jawaban yang di dalam dirinya sendiri sedang berfilsafat.

Tapi apa maksudnya? Bagaimana mungkin satu jawaban, sebagai jawaban, bisa berfilsafat?

Aku akan mencoba menjelaskannya secara tentatif lewat beberapa isyarat awal. Dan apa yang dimaksud ini akan terus mengusik percakapan kita. Bahkan, ini akan menjadi batu ujian: apakah percakapan kita layak disebut sebagai percakapan filosofis yang sejati. Dan ini bukanlah sesuatu yang berada di bawah kuasa kita.

Kapan jawaban terhadap pertanyaan Apa itu—filsafat? bisa disebut sebagai jawaban yang berfilsafat?

Kapan kita benar-benar berfilsafat?

Tampaknya, hanya ketika kita benar-benar berdialog dengan para filsuf. Dan itu berarti: ketika kita ikut membicarakan apa yang sedang mereka bicarakan.

Berbicara bersama tentang hal yang menjadi perhatian mereka yang terdalam—itulah yang disebut berdialog, dalam arti λέγειν - legein sebagai διαλέγεσθαι - dialege-sthai. Berbicara yang sejati sebagai dialog. Apakah dialog ini harus selalu bersifat dialektis, dan dalam bentuk seperti apa, itu kita biarkan terbuka.

Ada perbedaan besar antara sekadar mencatat dan melaporkan pendapat para filsuf—dan sungguh berbicara bersama mereka tentang apa yang mereka katakan, dan yang lebih penting: tentang apa yang mereka katakan itu.

Andaikan para filsuf benar-benar telah tersapa oleh keberadaan dari yang ada—sehingga mereka terdorong untuk menyatakan apa itu yang ada, sejauh ia adalah—maka percakapan kita dengan mereka pun harus ikut tersapa oleh keberadaan yang sama.

Kita sendiri harus menyambut apa yang sedang dituju oleh filsafat dengan pemikiran kita. Cara berbicara kita pun harus menjawab (entsprechen) apa yang telah menyapa para filsuf.

Jika kita berhasil menjawab dengan cara ini, maka kita sungguh telah menjawab pertanyaan: Apa itu—filsafat?

Kata Jerman antworten (menjawab) sebenarnya berarti: menyesuaikan diri, merespons secara selaras. Maka jawaban atas pertanyaan kita bukanlah sekadar satu pernyataan—bukan sekadar sebuah “jawaban” (reponse). Jawaban itu adalah: correspondance—kesesuaian dengan keberadaan dari yang ada.

Namun kita langsung tergoda untuk bertanya: apa yang menjadi ciri khas dari jawaban yang bersifat kesesuaian seperti ini?

Tapi sebelum membahas itu, yang lebih penting adalah: kita harus terlebih dahulu masuk ke dalam kesesuaian itu sendiri, sebelum menyusun teori tentangnya.

Jawaban terhadap pertanyaan Apa itu—filsafat? adalah: kita menyesuaikan diri dengan arah ke mana filsafat bergerak. Dan arah itu adalah: keberadaan dari yang ada.

Dengan menyesuaikan diri seperti itu, kita sudah sejak awal mendengarkan apa yang telah dikatakan filsafat kepada kita—yakni filsafat yang dipahami menurut makna aslinya dalam kata Yunani φιλοσοφία.

Oleh karena itu, kita hanya bisa sampai pada jawaban terhadap pertanyaan kita—yaitu jawaban yang merupakan kesesuaian sejati—dengan cara: tetap berada dalam percakapan dengan arah yang telah ditunjukkan oleh tradisi filsafat. Tradisi itu tidak mengikat kita secara kaku pada masa lalu, tetapi justru membebaskan kita untuk bertemu dengan yang telah ada dan yang terus berbicara.

Kita tidak akan bisa menjawab pertanyaan tentang filsafat dengan benar jika kita hanya mengandalkan catatan sejarah tentang definisi-definisi filsafat. Kita hanya bisa menjawabnya melalui percakapan dengan keberadaan dari yang ada, seperti yang diwariskan kepada kita.


Destruksi dan Disposisi.

Jalan menuju jawaban atas pertanyaan kita bukanlah sebuah penolakan terhadap sejarah, bukan pula pengingkaran terhadapnya, melainkan justru bentuk pengambilan-alih dan pengolahan kembali atas warisan itu. Pengambilan-alih seperti ini disebut oleh istilah: destruksi. Arti dari istilah ini telah dijelaskan secara jelas dalam Sein und Zeit (§6). Destruksi bukan berarti penghancuran, melainkan membongkar, melepaskan, dan menyisihkan—yaitu menyisihkan pandangan-pandangan sejarah yang hanya bersifat luaran terhadap sejarah filsafat.

Destruksi berarti: membuka telinga kita, membebaskannya agar dapat mendengarkan apa yang disampaikan kepada kita melalui warisan sebagai keberadaan dari yang ada. Dengan mendengarkan suara warisan itu, kita masuk ke dalam kesesuaian.

Namun bahkan ketika kita menyampaikan ini, sudah muncul satu keberatan: Haruskah kita sungguh-sungguh berusaha untuk memasuki kesesuaian dengan keberadaan dari yang ada? Bukankah, sebagai manusia, kita selalu sudah berada dalam kesesuaian itu—dan bukan hanya secara faktual, tetapi memang dari hakikat kita?

Memang benar demikian. Jika memang seperti itu keadaannya, maka kita sebenarnya tak bisa lagi berkata bahwa kita perlu masuk ke dalam kesesuaian itu. Namun kita tetap dapat mengatakan demikian, dan dengan benar. Sebab meskipun kita selalu dan di mana pun berada dalam kesesuaian itu, kita jarang sekali benar-benar memperhatikan panggilan dari keberadaan.

Kesesuaian dengan keberadaan dari yang ada memang merupakan tempat tinggal kita yang hakiki. Tetapi hanya sesekali saja kesesuaian itu menjadi sebuah sikap yang benar-benar kita hayati dan kembangkan secara sadar. Hanya jika hal itu terjadi, barulah kita sungguh-sungguh menyesuaikan diri dengan arah di mana filsafat bergerak—yakni, ke arah keberadaan dari yang ada.

Kesesuaian dengan keberadaan dari yang ada adalah filsafat. Namun ia baru benar-benar menjadi filsafat jika kesesuaian itu dijalankan secara sadar, dikembangkan, dan dibentuk menjadi satu jalan kehidupan. Kesesuaian ini terjadi dalam berbagai bentuk, tergantung bagaimana keberadaan itu bersuara, apakah ia terdengar atau tidak, apakah yang terdengar itu diucapkan atau tetap diam.

Percakapan kita ini mungkin dapat menjadi kesempatan untuk merenungkan hal-hal tersebut.

Untuk saat ini, aku hanya sedang mencoba mengucapkan sebuah kata pendahuluan bagi percakapan ini. Aku ingin mengaitkan kembali apa yang telah dijelaskan sebelumnya dengan pernyataan Andre Gide tentang “perasaan yang indah”.

Φιλοσοφία adalah kesesuaian yang dijalankan secara sadar, yang berbicara karena ia memperhatikan sapaan dari keberadaan dari yang ada. Kesesuaian ini mendengarkan suara panggilan itu. Apa yang berbicara kepada kita sebagai suara dari keberadaan—itulah yang menentukan cara kita menyesuaikan diri.

“Menyesuaikan diri” (Entsprechen) berarti: ditentukan, être disposé, yaitu ditentukan oleh keberadaan dari yang ada. Disposition berarti secara harfiah: diletakkan dalam keterbukaan, diterangi, dan dengan begitu ditempatkan ke dalam relasi dengan segala yang ada.

Yang ada sebagai yang ada, menentukan cara kita berbicara, sedemikian rupa sehingga ucapan kita menyesuaikan diri (s’accorder) dengan keberadaan dari yang ada. Kesesuaian ini tidak pernah bersifat kebetulan, melainkan selalu dan niscaya merupakan sesuatu yang terbunyi—yakni berada dalam suatu suasana batin (Gestimmtheit).

Dan hanya di atas dasar suasana batin inilah, ucapan yang menyesuaikan diri mendapatkan ketepatan dan kejelasannya.

Sebagai sesuatu yang terbentuk dari suasana batin dan ditentukan olehnya, kesesuaian itu selalu berlangsung dalam satu disposisi. Dan dari sinilah, sikap kita sebagai manusia pun terarah ke satu cara tertentu. Disposisi yang dimaksud di sini bukanlah perasaan-perasaan emosional yang datang dan pergi secara acak, yang hanya mendampingi proses kesesuaian itu.

Ketika kita menyebut filsafat sebagai kesesuaian yang terbentuk dalam disposisi, bukan berarti kita menjadikan pemikiran tunduk pada fluktuasi suasana hati. Sebaliknya, kita hanya ingin menegaskan bahwa setiap ketepatan ucapan dalam filsafat berakar dalam satu disposisi kesesuaian—yakni dalam perhatian terhadap sapaan itu.


Rasa ingin tahu sebagai Pangkal Filsafat.

Dan yang terpenting: penyebutan suasana batin sebagai dasar kesesuaian bukanlah penemuan modern. Para pemikir Yunani—Platon dan Aristoteles—telah menegaskan bahwa filsafat dan kegiatan berfilsafat selalu berada dalam dimensi eksistensial manusia yang disebut sebagai suasana batin (dalam arti Gestimmtheit dan Bestimmtheit).

Platon berkata (Theaitetos 155d):

"Sungguh, keheranan ini adalah suasana batin seorang filsuf; tak ada asal mula lain bagi filsafat selain yang ini."

Keheranan, sebagai πάϑος - pathos, adalah ἀρχή - arkhe dari filsafat. Kata Yunani ἀρχή - arkhe harus kita pahami dalam seluruh kekuatannya. Ia menyatakan titik asal dari mana sesuatu muncul. Tetapi titik asal ini tidak ditinggalkan begitu saja setelah sesuatu itu mulai. Sebaliknya, ἀρχή - arkhe menjadi apa yang disebut oleh kata kerja ἄρχειν - arkhein: yang memimpin, yang menguasai. Keheranan sebagai πάϑος - pathos bukan sekadar permulaan seperti cuci tangan sebelum operasi. Ia menopang dan menguasai seluruh perjalanan filsafat.

Aristoteles berkata hal yang sama (Metafisika A 2, 982b12):

"Melalui keherananlah manusia, dahulu dan kini, memulai berfilsafat."

Keheranan adalah jalan masuk menuju filsafat—bukan hanya pada awal, tetapi juga sebagai yang senantiasa memimpin geraknya.

Sungguh keliru jika kita mengira bahwa Platon dan Aristoteles hanya ingin menyatakan bahwa keheranan adalah sebab dari filsafat. Bila mereka berpikir demikian, maka artinya: suatu saat, manusia merasa heran terhadap yang ada, terhadap kenyataan bahwa segala sesuatu ada, dan bagaimana adanya.

Lalu karena dorongan keheranan itu, mereka mulai berfilsafat. Dan begitu filsafat mulai berjalan, keheranan itu pun kehilangan perannya, dan bisa disingkirkan. Ia dianggap hanya sebagai dorongan awal, semacam pemicu, yang tak lagi dibutuhkan setelah proses dimulai.

Namun sesungguhnya: keheranan adalah ἀρχή -arkhe—ia tidak hanya berada di awal, tetapi memimpin dan menembus seluruh langkah filsafat. Keheranan adalah πάϑος - pathos. Kata Yunani πάϑος - pathos biasa diterjemahkan sebagai gairah, emosi, gejolak perasaan. Tapi ia terkait erat dengan kata kerja πάσχειν - paskhein, yang berarti: menderita, menanggung, memikul, membiarkan diri terbawa, dan membiarkan diri ditentukan oleh sesuatu.

Maka, seperti biasa, ketika kita menerjemahkan πάϑος sebagai “suasana batin” (Stimmung), kita menyadari bahwa ini adalah pilihan yang berani—namun perlu. Sebab hanya dengan cara inilah kita tidak jatuh pada pemahaman modern-psikologis terhadap πάϑος - pathos.

Hanya bila kita memahami πάϑος - pathos sebagai suasana batin (disposition), barulah kita bisa menggambarkan θαυμάζειν -thaumázein —keheranan—secara lebih tepat. Dalam keheranan, kita menahan diri (être en arrêt). Kita seakan mundur sejenak di hadapan yang ada—di hadapan kenyataan bahwa ia ada, dan bahwa ia begitu adanya. Tapi keheranan tidak berhenti hanya sebagai mundur itu saja. Sebaliknya: sebagai penahanan diri dan mundur, ia juga berarti tertarik dan terikat pada apa yang sedang kita hadapi. Maka keheranan adalah disposisi—suasana batin—di dalam dan melalui mana keberadaan dari yang ada membuka diri.

Keheranan adalah suasana batin di dalam mana para filsuf Yunani mengalami kesesuaian dengan keberadaan dari yang ada. Namun, sangat berbeda adalah suasana batin yang menyertai awal dari filsafat modern—suasana yang menyusun cara baru dalam bertanya: apa itu yang ada, sejauh ia adalah? Dan dengan cara bertanya yang baru ini, muncul pula zaman baru bagi filsafat.

Descartes, dalam Meditationes, tidak bertanya seperti para pemikir Yunani: τί τὸ ὄν—apa itu yang ada, sejauh ia adalah. Ia bertanya: apa itu satu-satunya hal yang sungguh pasti, ens certum, yang benar-benar ada?

Kini, makna dari certitudo telah berubah. Dalam pemikiran Abad Pertengahan, certitudo bukan berarti kepastian dalam arti subjektif, tetapi berarti batas yang kokoh dan jelas tentang apa itu sesuatu, yakni: esensi. Dalam konteks itu, certitudo berarti: essentia.

Tetapi bagi Descartes, makna itu berubah. Yang benar, yang sungguh ada, adalah apa yang pasti tanpa bisa diragukan. Maka, keraguan menjadi suasana batin utama, di mana pikiran diarahkan pada yang pasti—ens certum. Dari ketaktersangkalan pernyataan cogito (ergo) sum—aku berpikir, maka aku ada—muncul kesimpulan bahwa ego adalah satu-satunya yang pasti. Dengan begitu, ego menjadi subyek yang sejati, dan untuk pertama kalinya, hakikat manusia masuk ke dalam wilayah subjektivitas dalam arti egoitas.

Dari suasana batin yang diarahkan pada certitudo inilah, cara bicara Descartes memperoleh kepastiannya—yaitu: clare et distincte percipere—menangkap sesuatu dengan jelas dan terbedakan.

Maka suasana batin keraguan menjadi dasar positif bagi kepastian. Sejak saat itu, kepastian menjadi bentuk utama dari kebenaran. Suasana batin yang mendasari kepercayaan terhadap kemungkinan mutlak bagi pengetahuan yang benar dan pasti—itulah yang menjadi πάϑος - pathos, menjadi ἀρχή - arkhe (pangkal penggerak) dari filsafat modern.


Menuju Keberadaan yang Berbicara

Tapi di mana letak τέλος - telos—penyempurnaan—dari filsafat modern itu, bila memang ada?

Apakah kita harus mencarinya dalam sistem Hegel? Atau baru dalam filsafat akhir Schelling? Bagaimana dengan Marx dan Nietzsche? Apakah mereka sudah melangkah keluar dari jalur filsafat modern? Jika belum, dari posisi manakah kita harus memahami mereka?

Sekilas, semua ini mungkin tampak seperti pertanyaan sejarah. Namun sesungguhnya, kita sedang merenungkan hakikat masa depan filsafat. Kita sedang mencoba mendengarkan suara keberadaan. Tapi, dalam suasana batin apakah suara itu kini menggugah pikiran kita?

Pertanyaan ini hampir tidak bisa dijawab dengan satu cara yang pasti. Mungkin, saat ini ada satu suasana batin mendasar yang sedang bekerja—tapi ia belum terlihat dengan jelas. Dan jika benar begitu, maka itu adalah tanda bahwa pemikiran kita hari ini belum menemukan jalannya yang pasti.

Yang bisa kita temukan sekarang hanyalah: berbagai macam suasana batin dari pemikiran. Ada keraguan dan keputusasaan di satu sisi, dan di sisi lain ada obsesi buta terhadap prinsip-prinsip yang belum pernah diuji secara sungguh-sungguh. Ketakutan dan kecemasan bercampur dengan harapan dan keyakinan.

Sering kali, tampaknya pemikiran kita, dalam bentuk berpikir yang kalkulatif dan representasional, bebas sepenuhnya dari suasana batin. Namun bahkan dinginnya perhitungan, bahkan keringnya perencanaan yang prosais, adalah juga penanda dari satu suasana batin. Bahkan rasio, yang tampaknya netral dan terbebas dari segala pengaruh emosi, tetap saja digerakkan oleh keyakinan diam-diam terhadap kejelasan dan kepastian logika-matematis dari prinsip-prinsip dan aturannya.

Kesesuaian yang sungguh dijalankan dan berkembang, yang merespons panggilan dari keberadaan dari yang ada—itulah filsafat. Apa itu filsafat, hanya bisa kita pahami bila kita mengalami bagaimana filsafat itu.

Filsafat adalah kesesuaian yang menyelaraskan diri dengan suara keberadaan dari yang ada.

Dan kesesuaian ini adalah satu bentuk berbicara. Ia berada dalam pelayanan terhadap bahasa.

Apa artinya ini?

Sulit bagi kita, di zaman sekarang, untuk memahami hal itu. Sebab pengertian umum kita tentang bahasa telah mengalami perubahan-perubahan yang aneh. Dalam pandangan umum hari ini, bahasa dianggap hanya sebagai alat ekspresi. Maka dikatakan: bahasa adalah alat bagi pikiran—bukan sebaliknya, bahwa berpikir sebagai kesesuaian berada dalam pelayanan bahasa.

Namun pemahaman modern ini sangat jauh dari pengalaman Yunani akan bahasa.

Bagi orang Yunani, hakikat bahasa terungkap dalam λόγος - logos. Tapi apa sebenarnya λόγος - logos dan λέγειν - legein?

Kita baru mulai hari ini mencoba menembus berbagai tafsir modern terhadap λόγος - logos untuk kembali melihat makna asalnya yang Yunani. Kita tidak bisa kembali secara utuh kepada hakikat awal bahasa itu, juga tidak bisa sekadar mengambilnya begitu saja. Tapi kita perlu memasuki percakapan dengan pengalaman Yunani tentang bahasa sebagai λόγος - logos.

Mengapa?

Karena tanpa merenungkan bahasa secara memadai, kita takkan pernah sungguh-sungguh tahu apa itu filsafat—sebagai kesesuaian yang berbicara, sebagai satu bentuk istimewa dari ucapan.

Dan karena puisi, dibandingkan dengan pemikiran, berada dalam pelayanan bahasa yang sangat berbeda dan khas, maka percakapan kita tentang filsafat pada akhirnya akan mengarah pula ke soal hubungan antara berpikir dan memikirkan—antara berpikir dan berpuisi.

Di antara keduanya—berpikir dan berpuisi—berlangsung satu kekerabatan tersembunyi. Keduanya menyerahkan diri sepenuhnya bagi bahasa dan demi bahasa. Namun di antara keduanya juga terdapat jarak yang besar. Sebab, seperti yang dikatakan: mereka “tinggal di dua gunung yang paling terpisah.”

Maka seseorang bisa saja menuntut dengan sangat masuk akal: bahwa percakapan kita seharusnya hanya membatasi diri pada pertanyaan tentang filsafat saja. Dan batasan itu memang sah—bahkan perlu—jika ternyata dalam percakapan ini kita sampai pada kesimpulan bahwa filsafat bukanlah seperti yang telah kita gambarkan: yakni sebagai satu bentuk kesesuaian, yang membawa panggilan dari keberadaan dari yang ada ke dalam bahasa.

Dengan kata lain: percakapan kita ini bukan dimaksudkan sebagai satu program tetap yang harus diselesaikan. Ia hanyalah satu undangan. Namun, semoga ia bisa menjadi undangan bagi semua yang ikut serta—agar bersedia memusatkan diri, dalam satu keterbukaan, untuk disapa oleh apa yang kita sebut: keberadaan dari yang ada.

Dan ketika kita menyebut hal itu, kita teringat pada pernyataan Aristoteles:

“Yang ada itu disebut dalam banyak cara.”

(τὸ ὂν λέγεται πολλαχῶς)







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengantar Filsafat - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Filsafat Kontemporer - Bambang I. Sugiharto

Apa Itu Filsafat?... - Pengantar Filsafat 01 - Bambang I. Sugiharto

Sejarah Pemikiran Modern - Bambang I. Sugiharto

METAFISIKA KEBUDAYAAN - Bambang I. Sugiharto

Filsafat Ilmu - Bambang I. Sugiharto

Nietzsche & Keberanian Jadi Diri Sendiri

Postmodernisme

HERMENEUTIK - Bambang I. Sugiharto

Écrits dan Arsitektur Kajian Subjek - Lacan